ABSTRACT
Drian Warih Endro Gunanto (2008). The Descriptive Study Self Esteem Woman Vocalist Solo Organ. Yogyakarta : Departement of Psychology ; Sanata Dharma University.
Solo organ is a musical that became popular because of the consumerism need. The essence of the solo organ was the way the singer perform the song on stage. Meanwhile, the self esteem is an individual judgment given to someone that is resulted from interaction with other people and there surroundings, self esteem categorized into two:high self esteem and low self esteem.
The research involves a descriptive study which analysis of Javanese woman’s self esteem who have job as solo organ singers. The population for the study comprised 47 female solo organ singers in Ambarawa who were in the age 18 to 25 years old, the data were collected through scales which consist of 22 valid items in r = 0.796.
ABSTRAK
Drian Warih Endro Gunanto (2008). Studi Deskriptif Harga Diri Penyanyi Wanita Solo Organ. Yogyakarta : Fakultas Psikologi ; Jurusan Psikologi ; Universitas Sanata Dharma.
Solo organ adalah sebuah musik yang menjadi populer karena kebutuhan masyarakat. Dalam solo organ yang menjadi hal terpenting adalah penampilan penyanyi yang menyanyi di atas panggung. Sementara itu harga diri adalah penilaian individu yang diberikan kepada dirinya yang merupakan hasil interaksi individu dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya, harga diri dibagi menjadi dua kategori yaitu harga diri tinggi dan harga diri rendah.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana harga diri wanita jawa yang berprofesi sebagai penyanyi solo organ. Penelitian dilakukan di lingkungan Ambarawa dengan jumlah subjek 47 penyanyi wanita solo organ dengan batasan usia antara 18-25 tahun, dan berdomisili di Ambarawa. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran skala harga diri yang terdiri dari 22 item valid dengan r = 0.796.
STUDI DESKRIPTIF HARGA DIRI PENYANYI WANITA SOLO ORGAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Nama : Drian Warih Endro Gunanto NIM : 019114121
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
MOTTO
Or a n g y a n g ber h a r a p k ep a d a K u ak a n k u ber k a t i sel a l u (Y er em i a 17 : 7)
Sebab untuk Allah tidak ada yang mustahil (L ukas 1 : 37)
A ku mengasihi engkau dan it u sudah cukup unt ukmu; sebab kuasaKu j ust ru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah
( 2 Korint us 12 : 9)
PERSEMBAHAN
-
Yesus Kristus Juru Selamatk u-
Keluargak u terk asih, Bapak , Ibu, dan Kak ak -k ak ak k uABSTRACT
Drian Warih Endro Gunanto (2008). The Descriptive Study Self Esteem Woman Vocalist Solo Organ. Yogyakarta : Departement of Psychology ; Sanata Dharma University.
Solo organ is a musical that became popular because of the consumerism need. The essence of the solo organ was the way the singer perform the song on stage. Meanwhile, the self esteem is an individual judgment given to someone that is resulted from interaction with other people and there surroundings, self esteem categorized into two:high self esteem and low self esteem.
The research involves a descriptive study which analysis of Javanese woman’s self esteem who have job as solo organ singers. The population for the study comprised 47 female solo organ singers in Ambarawa who were in the age 18 to 25 years old, the data were collected through scales which consist of 22 valid items in r = 0.796.
ABSTRAK
Drian Warih Endro Gunanto (2008). Studi Deskriptif Harga Diri Penyanyi Wanita Solo Organ. Yogyakarta : Fakultas Psikologi ; Jurusan Psikologi ; Universitas Sanata Dharma.
Solo organ adalah sebuah musik yang menjadi populer karena kebutuhan masyarakat. Dalam solo organ yang menjadi hal terpenting adalah penampilan penyanyi yang menyanyi di atas panggung. Sementara itu harga diri adalah penilaian individu yang diberikan kepada dirinya yang merupakan hasil interaksi individu dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya, harga diri dibagi menjadi dua kategori yaitu harga diri tinggi dan harga diri rendah.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana harga diri wanita jawa yang berprofesi sebagai penyanyi solo organ. Penelitian dilakukan di lingkungan Ambarawa dengan jumlah subjek 47 penyanyi wanita solo organ dengan batasan usia antara 18-25 tahun, dan berdomisili di Ambarawa. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran skala harga diri yang terdiri dari 22 item valid dengan r = 0.796.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas rahmat dan kasihNya hingga penulisan Tugas Akhir Sarjana Strata Satu dengan judul “Studi Deskriptif Harga Diri Penyanyi Wanita Solo Organ” ini dapat terselesaikan. Tugas akhir ini merupakan salah satu prasyarat dalam mencapai tingkat Sarjana Satu (S1), pada Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Banyak sekali bantuan dan dukungan yang diperoleh penulis selama mengerjakan tugas akhir ini, maka dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak dan Ibu Kahono, untuk segala cinta, doa dan pengorbanan yang telah diberikan dan boleh terima hingga saat ini.
2. Mas Whisnu atas kebersamaan dalam tawa dan sedih selama ini serta mendukung untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Mas Bayu dan Mbak Desi serta Amrta yang selalu memberiku motivasi agar aku cepat lulus.
4. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si., selaku dekan fakulatas Psikologi Universitas Sanata Dharma serta dosen wali studi yang telah memberikan saran selama aku belajar di USD.
6. Ibu Agnes Indar Etikawati. S.Psi., M.Si., Psi. dan Ibu Passchedona Henrietta P.D.A.D.S., S.Psi. selaku penguji yang telah memberikan saran maupun kritikan.
7. Karyawan fakultas Psikologi di Sekertariat Psikologi (Bu Nanik, Mas Gandung, Pak Gik) dan di Lab Fakultas Psikologi (Mas Muji ‘n Mas Doni) serta karyawan perpustakaan. Terima kasih atas segala bantuan dan kerjasamanya selama ini.
8. Kepada segenap penyanyi solo organ yang sudi meluangkan waktu untuk mengisi angket penelitian ini.
9. My beloved person, Ika Angga Kurniasari. Makasih Chayank buat perhatian dan kasih sayang yang selama ini aku terima, selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Makasih buat kisah yang sudah terjalin dengan tulus dan indah.
10. Keluarga basar Eko Rusjanto yang seakan akan sudah menganggap penulis sebagai keluarga sendiri, memberikan dukungan dan kasih sayang, dan perhatian dan doa kepada penulis.
11. Sahabat yang sudah aku anggap sebagai kaka sendiri : Nugroho Agung alias Bang Kebo yang selalu membrikan dukungan untuk menyaelesaikan skripsi.
13. Best friend “Olep and Ahonk”, terima kasih buat kebersamaan kita selama ini dan dukungan untuk menyeleseikan skripsi ini.
14. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan tugas akhir ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... v
ABSTRACT ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... xi
DAFTAR ISI ... xii
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Diri ... 15
B. MASA DEWASA AWAL... 17
1. Pengertian Dewasa Awal ... 17
D. AKTIFITAS PENYANYI SOLO ORGAN... 27
E. HARGA DIRI PENYANYI SOLO ORGAN ... 28
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
A. JENIS PENELITIAN ... 30
B. VARIABEL PENELITIAN ... 30
C. DEFINISI OPERASIONAL ... 31
D. SUBJEK PENELITIAN ... 32
E. PENGEMBANGAN ALAT PENGUMPULAN DATA... 33
F. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR ... 38
1. Uji Validitas ... 38
2. Seleksi Item ... 38
3. Uji Reliabilitas Alat Ukur ... 39
G. METODE PENGUMPULAN DATA ... 40
H. ANALISIS DATA... 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 43
A. ALAT PENELITIAN ... 43
1. Pelaksanaan Uji Coba Penelitan... 43
2. Hasil Uji Coba Alat Penelitian ... 43
B. PELAKSANAAN PENELITIAN ... 44
C. ANALISIS DATA STATISTIK ... 46
1. Uji Normalitas ... 46
2. Deskripsi Data Penelitian... 47
3. Data Deskripsi Harga Diri ... 48
D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN... 49
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 52
A. KESIMPULAN ... 52
B. SARAN... 52
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Skor item favourabel ... 36
Tabel 2 : Skor item unfavourabel... 36
Tabel 3 : Blueprint skala harga diri sebelumtryout... 37
Tabel 4 : Blueprint skala harga diri sesudahtryout... 37
Tabel 5 : Nomor item yang sahih dan gugur ... 39
Tabel 6 : Nomer item yang sahih dan gugur ... 44
Tabel 7 : Kategori jumlah subjek berdasarkan usia ... 45
Tabel 8 : Deskripsi data penelitian... 47
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Angket harga diritryout... 56
Lampiran 2 : Angket penelitian harga diri ... 60
Lampiran 3 : Data mentahtryout harga diri ... 63
Lampiran 4 : Uji validitas dan reliabilitastryout harga diri ... 72
Lampiran 5 : Data mentah angket penelitian harga diri ... 76
Lampiran 6 : Uji validitas dan reliabilitas angket harga diri ... 85
Lampiran 7 : Data mentah angket harga diri sesudah valid ... 88
Lampiran 8 : Kategorisasi berdasarkan percentile ... 97
Lampiran 9 : Uji normalitas... 100
Lampiran 10: Uji anova... 102
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang “pria” dan “wanita”, lebih daripada sekedar perbincangan mengenai konsep sex atau jenis kelamin. Lebih jauh, pembicaraan tentang “pria” dan “wanita” selalu dikaitkan dengan type-type yang menyertainya. Misalnya, wanita digambarkan sebagai seorang “ibu” yang merefleksikan dirinya sebagai “sosok yang memelihara”, sedangkan pria digambarkan sebagai pekerja keras, penakluk, gemar berekspansi dan mempunyai sifat agresivitas yang tinggi. Sementara, setiap budaya mempunyai gagasan, premis, atau konsep yang berbeda tentangtype-type yang menyertai kedua jenis kelamin itu, terutama berkaitan dengan konsep diri, orang lain, dan hubungan antara diri dengan orang lain (Matsumoto, 2004).
wanita. Banyak dari tugas kultural yang ada dalam budaya Amerika saat ini dirancang dan diseleksi, melalui sejarah, untuk mendorong terbentuknya independensi atau ketidaktergantungan masing-masing diri yang terpisah. Dengan adanya tugas-tugas kultural seperti ini, pengertian orang Amerika tentang harga diri atau nilai diri pun mengambil bentuk yang khas. Ketika seorang pria atau wanita berhasil menjalin tugas-tugas kultural ini, mereka akan sangat puas terhadap dirinya sendiri. Hal ini berdampak pada meningkatnya harga diri mereka. Di bawah konsep independen tentang diri ini, pria dan wanita cenderung memusatkan perhatian pada sifat-sifat diri untuk selanjutnya diekspresikan dalam ruang publik dengan mendasarkan serta mengkonfirmasikan sifat-sifat ini secara privat melalui perbandingan sosial.
Hal-hal ini adalah tugas-tugas kultural yang dirancang dan terseleksi lewat sejarah suatu kelompok budaya untuk mendorong terjadinya interdependensi antara diri dengan orang lain (Matsumoto, 2004).
Contoh kebudayaan non-Barat dalam penelitian ini adalah Budaya Jawa. Tujuan hidup tertinggi orang jawa adalah kesatuan abdi dan Tuhan (manunggaling kawula Gusti), yang hanya dapat dicapai melalui penaklukan dunia lahir dan pengembangan dunia batin. Penaklukan ini dapat dicapai oleh manusia dengan olah roso, penghalusan, dan pendalaman terus-menerus. Tuhan hanya ditemukan oleh individu yang sudah mampu menaklukan dirinya, yang artinya memasuki dunia batin. Dunia batin adalah kenyataan dalam diri manusia yang secara hakiki bersifat halus. Tolak ukur arti pandangan orang jawa adalah untuk mencapai keharmonisan, ketenangan, ketentraman,dan keseimbangan batin (Handayani dan Novianto, 2004).
dalam masyarakat. Sementara itu, peran utama wanita walaupun telah mengalami redefinisi dan transformasi, esensi dari sebagian nilai yang terkandung dalam ideologi tersebut tetap eksis dalam masyarakat Jawa masa kini. Secara ideal masih terdapat anggapan bahwa peran utama wanita ada di sekitar rumah tangga atau tugas-tugas domestik. “Kewanitaan” atau “feminitas” wanita ditentukan oleh peran mereka di sektor-sektor domestik. Konsep wanita sebagai ibu dan isteri merupakan tema sentral dalam pembicaraan tentang wanita yang seolah-olah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan wanita. Aktivitas wanita dalam sektor lain, yaitu peran publik yang hanya sebatas tugas sekunder. Ideologi tersebut disosialisasikan dan berusaha diwujudkan dalam setiap kegiatan dan institusi-institusi sosial yang formal. Dalam hal ini, harga diri wanita tidak dapat dilepaskan dari peranannya sebagai ibu dan isteri, wanita dianggap sebagai mahluk sosial dan budaya yang utuh apabila telah memainkan kedua peranan yang disebut oleh Abdullah (1997) sebagai fenomena “housewifization”. Di mana wanita adalah sebagai ibu rumah tangga yang harus memberikan tenaga dan perhatiannya demi kepentingan keluarga tanpa boleh mengharapkan imbalan, prestise, serta kekuasaan.
konfigurasi, paradigma dan makna kebudayaan Jawa tersebut maka sosok wanita Jawa dari tinjauan budaya secara pokok dapat digambarkan sebagai wanita yang memiliki jati diri, terikat, fungsional dan dinamik (Abdullah, 1997). Sebagai suatu konstruk psikologis, budaya Jawa yang dianut oleh sekelompok orang yang mengaku dirinya sebagai “orang Jawa” dalam suatu rangkaian sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku.
Dari uraian tersebut salah satu contoh peran publik yang dijalankan wanita untuk membantu memenuhi kebutuhan adalah sebagai penyanyi solo organ. Solo organ merupakan suatu kesenian yang lahir dari suatu kebutuhan konsumerisme. Pemaknaan kesenian solo organ terletak pada sosok biduan dalam cara-cara membawakan suatu lagu di atas panggung. Oleh karena kesenian ini berasal dari kebutuhan konsumerisme, tidak jarang pihak pimpinan solo organ memberikan batasan usia pada para penyanyinya. Menurut penuturan pihak manajemen yang berhasil diperoleh dari hasil pra penelitian, pemberian batasan usia dilakukan untuk menjaga konsistensi penyanyi maupun penonton, karena umumnya penonton (yang sebagian besar pria) lebih menyukai penyanyi yang berusia muda. Hal ini menjadi alasan bagi sejumlah penyanyi yang memiliki bakat, hanya menjadikan solo organ sebagai batu loncatan. Sementara, bagi penyanyi dengan bakat yang kurang menonjol, menjadikan aktivitas di solo organ hanya sebagai kegiatan sebelum “akhirnya” mereka menikah.
menggunakan penyanyi dengan latar belakang budaya Jawa. Dalam hal ini analisis akan dikaitkan dengan konteks cultural dan histories. Tanpa pertimbangan terhadap konteks budaya dan sejarah, maka analisis dalam penelitian ini dapat menyesatkan dan bersifat parsial. Hal ini mengarahkan penulis untuk melakukan suatu kajian secara komprehensif mengenai ”studi deskriptif harga diri penyanyi wanita solo organ”.
Uraian sebelumnya terlihat masyarakat di Jawa termasuk dalam tradisi patriarkat, menurut Field (2003) tradisi masyarakat patriarkat telah mewariskan banyak pertanyaan dan masalah. Selama berabad-abad, kekuasaan pribadi kaum wanita telah dikerdilkan dan peran mereka telah dijadikan marginal dalam suatu kultur yang hanya mengutamakan energi maskulin (mental dan fisik) serta mengerdilkan energi feminim (emosional dan spiritual). Pudjijogyanti (1985) menyatakan bahwa perbedaan peran seksual yang kurang menguntungkan peran wanita mengakibatkan wanita selalu bersikap negatif terhadap dirinya. Wanita juga kurang percaya diri apabila dia diminta menunjukkan seluruh kemampuannya. Adanya perasaan kurang percaya terhadap kemampuan, tingkat aspirasi yang rendah dan locus of control eksternaltelah menunjukkan bahwa wanita bersikap negatif terhadap dirinya sendiri. Martono (2000) mengatakan penilaian umum seseorang mengenai diri, pengalaman dan kemampuannya disebut juga harga diri.
harga diri itu terkait erat dengan kepercayaan diri, hal itu juga akan berpengaruh pada problem solving atau kemampuannya menyelesaikan masalah. Hal ini jelas terlihat bahwa harga diri wanita sangat penting.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Bagaimana harga diri penyanyi wanita solo organ?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini, yaitu untuk mengetahui tingkat harga diri penyanyi wanita solo organ.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berharga, baik secara praktis maupun teoritis.
1. Manfaat teoritis
2. Manfaat praktis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Harga diri
1. Pengertian Harga diri
Coopersmith (dalam Handayani, 2002) mendefinisikan harga diri sebagai evaluasi yang dibuat individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat keyakinan bahwa dirinya sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga. Dengan kata lain harga diri merupakan suatu penilaian pribadi terhadap perasaan berharga yang diekspresikan di dalam sikap-sikap yang dipegang oleh individu tersebut. Walaupun tampak mengacu pada pengalaman subjektif, harga diri akan muncul dalam perilaku yang dapat diamati.
Branden (2001) mengartikan harga diri sebagai pengalaman intim yang berada dalam inti kehidupan. Harga diri adalah apa yang dipikirkan dan rasakan tentang diri sendiri, bukanlah apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain tentang siapa diri kita sebenarnya.
seseorang dapat membina hubungan yang sehat dengan orang lain, melihat diri mereka sebagai orang yang berhasil dan memperlakukan orang lain tanpa kekerasaan.
Calhoun (1990) berpendapat bahwa harga diri merupakan hasil dari salah satu dimensi dari konsep diri, yang dimaksud adalah penilaian terhadap diri sendiri melawan apa yang dirasakan dapat dilakukan dan harus dapat dilakukan. Jadi evaluasi diri merupakan penilaian terhadap diri yang nyata dan yang dicita-citakan. Hasil dari penilaian ini menunjukkan tingkat harga diri seseorang. Maslow melihat harga diri sebagai sesuatu yang merupakan kebutuhan setiap orang dan terasa mulai dari tingkat yang rendah hingga tinggi. Kebutuhan untuk dihargai ini di dalam kehidupan bermasyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku seseorang dan mendorong untuk melakukan bermacam-macam hal demi mendapatkan penghargaan dari orang lain
Menurut Tambunan (2001) harga diri itu sendiri mengandung arti suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap–sikap yang dapat bersifat positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari–hari. Harga diri yang positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini.
yang mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat keyakinan bahwa dirinya sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga. Dengan kata lain harga diri merupakan suatu penilaian pribadi terhadap perasaan berharga yang diekspresikan di dalam sikap-sikap yang dipegang oleh individu tersebut. Walaupun tampak mengacu pada pengalaman subjektif, harga diri akan muncul dalam perilaku yang dapat diamati.
2. Karakteristik Harga Diri
Coopersmith (1976) membedakan dua jenis harga diri menurut karakteristik individu, yaitu rendah dan tinggi. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah :
a. Karakteristik harga diri tinggi
1. Aktif dan dapat mengekspresikan dirinya dengan baik.
2. Berhasil dalam bidang akademik, terlebih dalam mengadakan hubungan sosial.
3. Dapat menerima kritik dengan baik.
4. Tidak terpaku pada dirinya atau tidak hanya memikirkan kesulitannya sendiri.
6. Tidak terpengaruh pada penilaian dari orang lain tentang sifat atau kepribadiannya, baik itu positif ataupun negatif.
7. Akan menyesuaikan diri dengan mudah pada suatu lingkungan yang belum jelas.
8. Akan lebih banyak menghasilkan suasana yang berhubungan dengan kesukaan sehingga tercipta tingkat kecemasan dan perasaan tidak aman yang rendah serta memiliki daya pertahanan yang seimbang.
b. Karateristik harga diri rendah 1. Memilki perasaan inferior.
2. Takut dan mengalami kegagalan dalam mengadakan hubungan sosial.
3. Terlihat sebagai orang yang putus asa dan depresi. 4. Merasa diasingkan dan tidak diperhatikan.
5. Kurang dapat mengekspresikan diri. 6. Tidak konsisten.
7. Secara positif akan selalu mengikuti apa yang ada dilingkungannya.
8. Menggunakan banyak taktik pertahanan diri. 9. Mudah mengakui kesalahan.
a. Harga Diri Tinggi
1. Bertindak mandiri. Ia akan membuat pilihan dan mengambil keputusan tentang masalah seperti pemanfaatan waktu, uang, pekerjaan, pikiran, dan lain-lain. Ia akan mencari teman dan kesenangannya sendiri.
2. Menerima tanggung jawab. Ia akan bertindak dengan segera dan penuh keyakinan dan kadang-kadang menerima tanggung jawab untuk tugas atau kebutuhan sehari-hai.
3. Merasa bangga akan prestasinya. Ia akan menerima pengakuan terhadap prestasi yang dicapainya dengan gembira dan kadang-kadang memuji dirinya sendiri.
4. Mendekati tantangan baru dengan penuh antusias. Tugas yang belum diketahui, belajar dan melakukan aktifitas baru, menarik perhatiannya dan ia mau melibatkan dirinya dengan penuh percaya diri.
5. Menunjukkan sederet perasaan dan emosi yang luas. Ia mampu tertawa, berteriak, menangis, mengungkapkan kasih sayangnya secara spontan dan secara umum, mengalami berbagai perasaan, emosi tanpa menyadarinya.
7. Merasa mampu mempengaruhi orang lain. Ia merasa percaya diri akan kesan yang diperolehnya dan mampu mempengaruhi anggota keluarga, teman bahkan para pemimpin seperti guru, mentor, direktur dan lain-lain.
b. Harga Diri Rendah
1. Meremehkan bakatnya sendiri. Ia akan mengatakan “saya tidak bisa melakukan ini atau itu……..saya tidak tau bagaimana……..., saya tidak pernah belajar itu”
2. Merasa bahwa orang lain tidak menghargainya. Ia akan merasa tidak yakin dan selalu bersikap negatif terhadap dukungan dan kasih sayang orang tuanya atau teman.
3. Merasa tidak berdaya. Kurang percaya diri atau bahkan ketidakberdayaannya akan tampak dalam sikap dan tindakan. Ia tidak mau berusaha keras menghadapi tantangan atau masalah. 4. Mudah dipengaruhi orang lain. Gagasan dan perilakunya sering
kali berubah mengikuti orang banyak bergaul dengannya. Seringkali ia dimanipulasi orang yang berkepribadian kuat.
6. Menghindari situasi yang menimbulkan kecemasan. Toleransi yang rendah terhadap stess terutama rasa takut, amarah, lingkungan yang menimbulkan kekacauan.
7. Menjadi defensif dan mudah frustasi.ia akan mudah tersinggung tidak mempu menerima kritikan atau perintah yang tidak diduga dan slalu mempunyai dalih mengapa ia tidak dapat melaksanakannya.
8. Menyalahkan orang lain karena kesalahannya sendiri. Ia jaranag mau mengakui kesalahannya atau kelemahannya dan kerap kali menyalahkan orang lain atau keadaaan yang tidak menguntungkan sebagai penyebab kesulitannya.
Karakteristik harga diri mengacu pada teori Coopersmith dimana hanya dijelaskan dalam dua tingkat harga diri, yaitu harga diri tinggi dan rendah. Harga diri tinggi misalnya berhasil di bidang akademik, lebih mampu mengadakan hubungan sosial termasuk dalam hubungan keluarga, dan dapat mengekspresikan dirinya dengan baik, sedangkan harga diri rendah misalnya mengalami ketakutan akan kegagalan dalam hubungan sosial, memiliki tingkat kecemasan tinggi sehingga merasa diasingkan dan tidak diperhatikan, juga kurang dapat mengkspresikan dirinya.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga diri
a. Jenis Kelamin
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja putri mudah terkena gangguan terhadap bentuk tubuh dibanding dengan kelompok usia lainnya. Secara khusus harga diri mereka cenderung rendah. Penyebabnya adalah sangat bermaknanya harga diri fisik agar dapat diterima oleh kelompoknya.
b. Kelas Sosial
Penelitian menunjukkan bahwa kelas sosial remaja yang ditandai oleh pekerjaan, pendidikan dan penghasilan orang tua merupakan penentu yang penting dari harga diri, khususnya individu yang berpindah dari tahap remaja mengarah keremaja akhir. Pada umumnya, dengan kelas sosial menengah memiliki harga diri yang lebih tinggi dibanding kelompok menengah kebawah.
c. Pengasuhan
B. Masa Dewasa Awal
1. Pengertian Dewasa Awal
Istilah adult berasal dari kata kerja latin yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Akan tetapi kata “adult” berasal dari bentuk lampau dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa”. Orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya, masa dewasa muda dimulai pada umur 18 tahun sampai 40 tahun, disaat perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan produktif (Hurlock,1999).
Hurlock (1999) berpendapat bahwa individu disebut dewasa bila telah memiliki kekuatan tubuh secara maksimal, siap bereproduksi dan memilki kesiapan kognitif, afektif, dan psikomotor serta diharapkan dapat memainkan perannya bersama dengan individu-individu lain dalam masyarakat.
Salah satu ciri-ciri perkembangan masa dewasa awal menurut Hurlock (1999) adalah masa dewasa awal sebagai masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dimana seorang pada masa dewasa awal sedang melakukan penyesuaian terhadap pola peran seks atas dasar persamaan derajat yang menggantikan pola tradisional serta pola baru dalam kehidupan keluarga.
2. Tugas Perkembangan Dewasa Awal
Havigurst (Hurlock,1999) membagi tugas–tugas sebagai berikut, mulai bekerja, memilih pasangan hidup, belajar hidup dengan tunangan, mulai membina keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab sebagai warga negara, dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
3. Fase-Fase Kognitif Dewasa
Fase-fase kognitif masa dewasa menurut Schaie (dalam Santrock, 1995) adalah:
a. Fase mencapai prestasi (Achieving Stage)
Fase dimasa dewasa awal yang menurut Schaie (1977), melibatkan penerapan inteletualitas pada situasi yang memiliki konsekuensi besar dalam mencapai tujuan jangka panjang, seperti pencapaian karier dan pengetahuan. Solusi ini harus diintegrasikan dalam rencana hidup yang mencakup masa depan.
b. Fase tanggung jawab (The Responsibility Stage)
Fase yang terjadi ketika keluarga terbentuk dan perhatian diberikan kepada keperluan-keperluan pasangan dan keturunan. Fase tanggung jawab sering dimulai pada masa dewasa awal dan terus berlanjut ke masa dewasa tengah.
c. Fase eksekutif (The executive Stage)
Fase yang terjadi di masa dewasa tengah dimana seseorang bertanggung jawab pada sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial.
d. Fase reintegratif (The reintregrative Stage)
Terjadi pada bagian akhir dewasa fase terakir dimana orang dewasa yang lebih tua memilih untuk memfokuskan tenaga mereka pada tugas dan kegiatan yang bermakna bagi mereka.
bekerja atau menjalin hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Karena itu masa dewasa awal merupakan masa yang sangat penting karena pada masa ini seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi menjalin masa depannya. Pada masa ini seseorang akan menghadapi dilemma antara kerja dan keluarga, mereka sudah mulai menerima dan memikul tanggung jawab yang lebih berat. Masa dewasa awal disebut juga golden age dimana pada masa ini semangat hidup seorang wanita tidak dapat ditunggu lagi. Pada usia emas ini hidup harus diputuskan saat ini demi mewujudkan citi-citanya (Prasetyadi, 2008)
C. Eksistensi Wanita Dalam Budaya Jawa
Menurut Handayani dan Novianto (2004) kata wanita dalam masyarakat Jawa lebih dipilih daripadaperempuan, sebab berdasarkan pemaknaan, kata “wanita” lebih dekat dengan kesadaran praktis masyarakat Jawa, dalam artian ‘Wanita” berasal dari kata wani (berani) dan tata (diatur), artinya seorang wanita adalah sosok yang berani ditata dan diatur.
Analisis terhadap status dan peran wanita Jawa, terutama dalam hubungannya dengan pola pembagian kerja menghasilkan dua kesimpulan yang bertolak belakang. Hal tersebut menurut Kusujiarti (dalam Abdullah, 1997) disebabkan adanya perbedaan persepsi dan pendekatan yang digunakan dalam mencermati hubungan gender dan dinamika interaksi yang terjadi dalam hubungan gender pada masyarakat Jawa.
maupun keluarga. Posisi tersebut dicapai perempuan antara lain karena adanya struktur keluarga yang bilateral, anggapan umum yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan atau suami-istri adalah dua mahluk yang saling melengkapi, serta sumbangan perempuan yang cukup besar dalam ekonomi keluarga yang dicapai melalui partisipasi aktif mereka dalam kegiatan produktif (Handayani dan Novianto, 2004).
Menurut Koentjaraningrat (1984) peranan penting perempuan juga ditunjukkan dengan adanya kenyataan bahwa di sebagian besar rumah tangga Jawa, perempuanlah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Selain itu, perempuan juga berperan penting dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan dan status perempuan di negara-negara berkembang lainnya, seperti Banglades, India, dan Cina, bahkan di antara kelompok masyarakat lain di wilayah Indonesia. Faktor-faktor itu menunjukkan bahwa perempuan mempunyai akses yang cukup besar terhadap berbagai jenis sumber daya, baik yang ada dalam keluarga maupun masyarakat. Sedangkan kemampuan dan kesempatan untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya ekonomi, sosial, dan kultural merupakan faktor-faktor yang sangat penting dalam menentukan status dan peranan perempuan
keluarga dan juga dituntut untuk menyelesaikan sebagian besar pekerjaan domestik, sehingga mereka harus membagi waktu dan sumber daya untuk memenuhi kedua kewajiban tersebut secara bersamaan (Murniati, 1998).
Menurut Mukmin (1980) wanita Indonesia memiliki berbagai macam motivasi yang mendorong mereka untuk bekerja diluar rumah, antara lain ekonomi material, misalnya untuk menambah penghasilan keluarga, motivasi mental spiritual, yaitu untuk mempraktekkan ilmu pengetahuan yang diperoleh guna meningkatkan karier dan kepuasan mental atuapun hanya sekedar keisengan yaitu bekerja sebagai suatu hoby tanpa tujuan tertentu hanya untuk mengisi waktu luang saja. Pada umumnya motivasi wanita Indonesia bekerja adalah karena adanya motivasi ekomoni dan spiritual. Wanita memandang pekerjaan hanya sebagai hal sampingan sedangkan pria memandang pekerjaan sebagai hal pokok bahkan mereka mengidentifikasikan diri dengan pekerjaan.
mengingat posisinya di wilayah privat sehingga ia cenderung bebas dan lebih jernih untuk mengemukakan pendapatnya . (Handayani dan Novianto, 2004).
Dari dua analisis tersebut dapat diketahui bahwa kondisi kekuasaan dan peran perempuan Jawa dalam masyarakat dan keluarga merupakan kenyataan semu yang masih membutuhkan kajian yang lebih kritis. Para penganut analisis kedua berpendapat bahwa sistem patriarki merupakan halangan terbesar bagi perempuan Jawa untuk mendapatkan status dan peran yang setara dengan laki-laki. Sistem patriarki dengan nilai-nilai yang mengutamakan laki-laki ini, mempengaruhi cara perempuan dan laki-laki dalam mempersepsikan status dan peranannya dalam keluarga dan masyarakat serta menentukan citra masing-masing jenis kelamin dalam tatanan masyarakat (Budiman, 1985).
Kedua analisis tersebut, meskipun nampaknya sangat berlawanan, namun sesungguhnya merupakan perspektif yang saling melengkapi. Di satu pihak, perempuan Jawa, khususnya perempuan Jawa yang berada di pedesaan menempati posisi yang penting dalam keluarga dan masyarakat. Namun, di pihak lain perempuan tidak mendapatkan prestise, kesempatan, dan kekuasaan yang sebanding dengan laki-laki. Ideologi gender yang hegemonis, ideologi familialisme, yang menekankan peranan perempuan sebagai ibu dan istri, merasuk dan mempengaruhi cara pandang maupun persepsi perempuan dan laki-laki terhadap pengalaman kesehariannya. Kedua analisis tersebut berguna untuk menganalisis status dan peranan perempuan Jawa dalam masyarakat dan keluarga.
konspiratif bersepakat, serempak, dan sadar berusaha menempatkan perempuan pada posisi yang tidak menguntungkan (Budiman, 1985).
Hubungan gender dan analisis terhadap hubungan tersebut harus dikaitkan dengan konteks kultural dan historis. Tanpa pertimbangan terhadap konteks budaya dan sejarah dari hubungan tersebut, analisis hubungan gender dapat menyesatkan dan bersifat parsial. Kaitan antarbudaya serta wacana-wacana yang hegemonik serta kenyataan faktual dalam kehidupan sehari-hari perlu dipandang sebagai dua hal yang saling berinteraksi secara dinamik dan dialektika. Praktek hubungan gender yang secara nyata dapat diamati sehari-hari berkaitan dan mempengaruhi wacana dan ideologi yang dominan, begitu pula sebaliknya (Budiman, 1985).
jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan dan masyarakat. Dengan demikian perempuan dianggap sebagai mahluk yang sekunder atau the second sex, sehingga perempuan dianggap perlu mendapatkan perlindungan dan pengarahan dari laki-laki (Abdullah, 1997).
Status dan peran perempuan dalam masyarakat Jawa sangat ditentukan oleh status laki-laki atau suaminya, karena perempuan mendapatkan perlindungan, pengarahan dan status dari laki-laki maka sebagai imbalannya perempuan harus tunduk dan memenuhi kebutuhan laki-laki, serta mendukung keinginan dan kepentingan laki-laki. Dalam masyarakat feodal yang aristokratik, ideologi ini sangat penting untuk mendukung kelestarian suatu dinasti. Kesetiaan dan ketundukan perempuan dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan keturunan dan mendapatkan kepastian bahwa keturunan yang ada adalah pewaris yang sah dari raja yang berkuasa (Abdullah, 1997).
Konsep perempuan sebagai ibu dan istri merupakan tema sentral dalam pembicaraan tentang perempuan. Kedua konsep tersebut seolah-olah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan perempuan. Ideology familialisme (ideology of familialism) atau ibuisme melingkupi kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Ideologi tersebut disosialisasikan dan berusaha diwujudkan dalam setiap kegiatan dan institusi-institusi yang formal. Kedirian perempuan tidak dapat dilepaskan dari peranannya sebagai ibu dan istri, perempuan dianggap sebagai mahluk sosial dan budaya yang utuh apabila telah memainkan kedua peranan tersebut dengan baik (Abdullah, 1997).
D. Aktivitas Penyanyi Wanita Solo Organ
Solo organ adalah salah satu kesenian yang termasuk dalam budaya pop. Budaya pop adalah suatu budaya yang diproduksi secara komersial dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa tampaknya budaya pop akan berubah dimasa yang akan datang. Namun, dinyatakan bahwa audience pop menciptakan makna mereka sendiri melalui teks budaya pop dan melahirkan kompetensi budaya dan sumber daya diskursif mereka sendiri. Budaya pop dipandang sebagai makna dan praktik yang dihasilkan oleh audien pop pada saat konsumsi dan studi tentang budaya pop terpusat pada bagaimana dia digunakan (Barker, 2005).
lanjut, dikatakan pula bahwa budaya pop adalah tempat di mana hegemoni budaya dimapankan atau ditentangkan.
E. Harga Diri Penyanyi Wanita Solo Organ
Dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya kita mengenal dua jenis kelamin yaitu pria dan wanita. Pria digambarkan sebagai sosok pekerja keras yang memiliki sifat agresifitas yang tinggi, sedangkan wanita digambarkan sebagai sosok yang memelihara. Secara umum kita juga mengenal dua budaya yang berbeda yaitu budaya barat dan timur. Wanita jawa termasuk dalam budaya timur, dalam penelitian ini wanita jawa yang dalam kehidupan sehari-harinya dipengaruhi oleh adat jawa yang berlaku misalnya wanita jawa tunduk pada suami, tidak keluar malam, juga berpenampilan yang anggun.
Wanita dikatakan sebagai makluk sosial yang utuh apabila mampu melakukan kedua perannya yaitu peran domestik dan peran publik. Peran domestik dalam budaya jawa misalnya peran wanita dalam rumah tangga seperti memasak, melayani suami, mengatur pendapatan, mengasuh anak. Namun wanita juga memiliki peran publik yang tidak kalah penting, misalnya hubungan dengan masyarakat sekitar untuk bersosialisasi (nyumbang, biasanya dilakukan oleh ibu-ibu) dan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan menggunakan metode deskriptif. Mardalis (1990), penelitian deskrptif merupakan penelitian yang bertujuan mendiskripsikan, mencatat, menganalisis dan mengintepretasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi. Soemanto (1999) berpendapat penelitian diskriptif berusaha mendiskripsikan dan mengintepretasikan apa yang ada atau dapat mengenai kondisi yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau kecenderungan yang tengah berlangsung. Penelitian ini tidak menggunakan hipotesa tetapi hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai variabel yang diteliti. Penelitian ini berusaha menggambarkan fenomena yang terjadi tentang masalah harga diri penyanyi wanita solo organ di Ambarawa.
B. Variabel Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah studi deskriptif karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel. Variabel dalam penelitian ini adalah harga diri wanita penyanyi solo organ.
C. Definisi Operasional
Pada penelitian ini dirumuskan batasan operasional untuk variabel yang ada. Hal ini bertujuan untuk memperoleh pengertian yang jelas mengenai variabel-variabel yang dipakai dalam penelitian ini serta menghindari salah pengertian dan penafsiran. Harga diri sebagai evaluasi yang dibuat subjek mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat keyakinan bahwa dirinya sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga. Dengan kata lain harga diri merupakan suatu penilaian pribadi terhadap perasaan berharga yang diekspresikan di dalam sikap-sikap yang dipegang oleh subjek tersebut. Walaupun tampak mengacu pada pengalaman subjektif, harga diri akan muncul dalam perilaku yang dapat diamati.
D. Subyek Penelitian
Menurut Hadi (1996) sampel penelitian adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti, yang menjadi sumbangan data sebenarnya. Subjek penelitian ini adalah wanita dewasa awal yang mempunyai profesi sebagai penyanyi solo organ khususnya yang ada di kota Ambarawa. Karakteristik subyek yang mejadi sasaran dalam penelitian ini adalah:
1. Penyanyi perempuan solo organ dengan latar belakang budaya Jawa. 2. Penyanyi perempuan solo organ yang masih menjalani profesinya.
3. Penyanyi perempuan solo organ yang berumur antara 18 sampai 25 tahun (dewasa awal).
penyanyi perempuan solo organ di Ambarawa cukuplah banyak. Oleh karena itu, tidak mungkin semua individu penyanyi perempuan solo organ dipakai sebagai subyek penelitian.
Subjek penelitian dipilih melalui teknik sampling Snowball. Teknik Snowball yaitu peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan dapat mmberikan data yang diperlukan, kemudian selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya, maka peneliti dapat menetapkan sampel lain, yang dipertimbangkan akan memberikan data yang lebih lengkap (Sugiyono, 2002).
E. Pengembangan Alat Pengumpulan Data
Suatu instrumen adalah alat pengungkuran pengetahuan, ketrampilan, perasaan, kecerdasaan, atau sikap individu dan kelompok. Instrumen dapat berupa tes, angket, wawancara, dan sebagainya (Soemanto, 1999).
Dalam penelitian ini alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah skala yang diberikan pada subjek penelitian. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Harga Diri. Skala ini diadaptasi dari skala harga diri yang dibuat Coopersmith (dalam Azwar, 1999) yang berisi item-item yang menyajikan pernyataan-pernyataan harga diri dengan reabilitas skala versi bahasa Indonesia adalah 0,530.
Dasar anggapan digunakannya metode skala ini, seperti yang dikemukakan Hadi (2000) yaitu:
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada peneliti adalah benar dapat dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subjek tentang pernyataan-pernyataan yang diajukan kepadanya sama dengan yang dimaksud oleh peneliti.
Dalam penelitian ini digunakan skala langsung. Skala langsung menurut Hadi (2000) yaitu bahwa skala tersebut secara langsung diberikan kepada orang yang dimintai pendapat atas keyakinannya untuk menceritakan tentang keadaan dirinya sendiri.
Kelebihan menggunakan metode skala (Suryabrata, 1998) adalah sebagai berikut:
1. Tidak membutuhkan waktu yang relatif lama
2. Dapat dilakukan terhadap banyak subjek pada waktu yang bersamaan 3. Biaya relatif murah
4. Untuk pelaksanaannya tidak dibutuhkan keahlian mengenai lapangan yang sedang diselidiki.
Meskipun begitu metode skala ini juga memiliki kelemahan (Hadi, 2000) antara lain:
1. Unsur-unsur yang tidak disadari kurang bisa terungkap
2. Besar kemungkinan jawaban-jawaban yang diberikan dipengaruhi oleh keinginan pribadi, tidak apa adanya
Untuk mengatasi kelemahan tersebut Hadi mengatakan bahwa perlu mengupayakan penyusunan skala tersebut seperti di bawah ini: 1. Menggunakan bahasa yang sederhana sehingga subjek mengerti hal-hal
yang ditanyakan
2. Subjek tidak diwajibkan menuliskan namanya, sehingga subjek tidak perlu kuatir dan takut hal-hal yang ada pada dirinya akan diketahui oleh orang lain
3. Jawaban terdiri dari beberapa pilihan dan subjek tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan dirinya sehingga subjek tidak perlu merumuskan sendiri jawabanya.
Metode penskalaan yang digunakan adalah metodesummated ratings, dengan menggunakan skala Likert. Selain itu, skala ini disusun dengan menggunakan format respon dua pilihan jawaban yakni ya dan tidak. Skor jawaban ya itemfavorable bernilai 1, dan jawaban tidak bernilai 0. Sedangkan itemunfavorable jawaban ya bernilai 0 dan jawaban tidak bernilai 1.
Dengan adanya kategori pemberian skor tersebut maka pernyataan-pernyataan yang akan disajikan mendapat skor atau nilai dari 0 sampai 1 berdasarkan kategori pernyataan. Ada dua alternatif jawaban yang disajikan dalam penelitian ini, yaitu ya dan tidak. Berikut tabel yang akan menjelaskan:
Tabel 1 Skor Item Favorabel
Pernyataan Skor
Ya 1
Tidak 0
Tabel 2
Skor Item Unfavorabel
Pernyataan Skor
Ya 0
Tidak 1
sikap-sikap yang dipegang oleh individu tersebut. Walaupun tampak mengacu pada pengalaman subjektif, harga diri akan muncul dalam perilaku yang dapat diamati.
Distribusi atau penyebaran pada skala Harga Diri tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3
Blue Print Skala Harga Diri Sebelum Try Out
Pernyataan No. Item Jumlah Prosentase
Favorabel 4,5,8,10,14,19,20,24 8 32
Unfavorabel 1,2,3,6,7,9,11,12,13,15,16,17, 18,21,22,23,25
17 68
25 100 %
Tabel 4
Blue Print Skala Harga Diri Sesudah Try Out
Pernyataan No. Item Jumlah Prosentase
Favorabel 4,5,8,10,13,17,18,21 8 36
Unfavorabel 1,2,3,6,7,9,11,12,14,15,16, 19,20,22
14 64
F. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
1. Uji Validitas
Validitas merupakan kesahihan suatu alat ukur. Menurut Hadi (1996) suatu alat pengukuran disebut jitu jika alat ukur tersebut jitu mengenai sasarannya. Dalam penelitian ini, skala harga diri diadaptasi dari skala Self Esteem Coopersmith dengan validitas 0,60 (dalam Azwar, 2002).
2. Seleksi Item
Seleksi ini pertama diambil dari data hasil uji coba item pada obyek yang memiliki karakteristik setara dengan obyek yang akan diteliti. Item-item tersebut dievaluasi dengan analisis butir menggunakan parameter daya beda item. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana item-item tersebut bisa membedakan antara individu atau kelompok individu yang mempunyai dan yang tidak mempunyai atribut yang hendak diukur (Azwar, 2000). Uji coba (Try Out) dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 27 sampai 30 Agustus 2007 di kota Ambarawa. Skala setelah uji coba kemudian diberikan kepada para wanita yang memeiliki profesi sebagai penyanyi solo organ, yang berumur antara 18 sampai 25 tahun dan bertempat tinggal di kota Ambarawa yag telah memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian.
terpilih menjadi 22 item yang dianggap baik berdasarkan 0.3 artinya item diatas 0.3 dianggap baik dan dibawah 0.3 dianggap buruk dan tidak terpakai. Batasan ini diperoleh dengan melihat table koefisien korelasi yang berasal dari penghitungan jumlah subjek yaitu 40 orang menghasilkan batasan untuk mendapatkan item yang baik adalah berdasarkan taraf signifikasi 5 %.
Berikut ini adalah tabel nomor item yang sahih dan nomor item yang gugur:
Tabel 5
Tabel Nomor item Yang Sahih dan Gugur
Nomor Item
Hasil pengujian terhadap 25 item menunjukkan bahwa terdapat 22 item yang sahih. 22 item yang sahih tersebut akan digunakan sebagai skala penelitian.
3. Uji Reliabilitas Alat Ukur
dariCronbach. Dalam penelitian ini digunakan koefisienAlpha dengan alasan koefisien dapat mengatasi kelemahan belah dua dan mengestimasi rata-rata korelasi belah dua dari semua pembagian tes yang mungkin dilakukan. Selain itu, pendekatan ini juga mempunyai nilai praktis dan efisien yang tinggi, karena hanya dilakukan sekali pada sekelompok obyek (Azwar, 2000). Nilai reliabilitas skala dianggap memuaskan bila koefisien Alpha ( ) lebih besar atau sama dengan 0,90 karena berarti perbedaan (variasi) yang tampak pada skor tersebut mampu mencerminkan 90% dari variasi yang terjadi pada skor murni obyek, dan hanya 10% dari perbedaan skor yang tampak disebabkan oleh variasierror pengukuran (Azwar, 2000).
Reliabilitas dalam penelitian ini adalah 0,796 dalam hal ini nilai reliabilitas dapat dikatakan baik karena hampir mendekati nilai satu.
G. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan prosedur pengambilan data dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Uji Coba (Try Out)
a. Peneliti mempersiapkan uji coba dengan terlebih dahulu menentukan jumlah dan kriteria item pada skala.
b. Membuat skala harga diri dengan metode summated rating skala diadaptasi dari skala penelitian Coopersmith.
d. Melaksanakan try out
e. Menganalisis data untuk menentukan tingkat kesahihan item (validitas item). Item yang memenuhi kriteria keasahiahan item yang dibutuhkan tidak dipakai sebagai item pada penelitian kepada subjek yang sesungguhnya.
2. Penelitian
a. Menyusun skala penelitian dengan menggunakan item-item penelitian yang memenuhi kriteria kesahihan item pada uji coba penelitian.
b. Memberikan skala kepada subjek penelitian yang telah ditentukan
c. Menganalisis data dengan analisis diskriptif untuk memberikan gambaran mengnai subjek penelitian.
d. Membuat kesimpulan berdasarkan analisis tersebut.
e. Menyajikan kesimpulan dan seluruh hasil penelitian dalam bentuk sajian diskriptif.
H. Analisis Data
mean, standar deviasi, nilai maksimum serta nilai minimum, perhitungan frekuensi dan prosentase.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Alat Penelitian
1. Pelaksanaan Uji Coba Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan peneliti telah melakukan uji coba (tryout) kepada 40 orang wanita yang termasuk dalam usia dewasa awal yaitu berusia antara 18 sampai 25 tahun dengan membagikan angket yang disebarkan, peneliti melakukan uji coba ini untuk melihat apakah kalimat-kalimat dalam penyataan setiap angket mampu dipahami dan sesuai dengan apa yang dimasudkan peneliti.
Beberapa pertimbangan yang mendasari peneliti melakukan uji coba penelitian di Ambarawa karena lokasi penelitian ini mudah dijangkau oleh peneliti dan mengenal kondisi tempat penelitian sehingga memudahkan dalam memberikan keefesienan waktu dalam melakukan penelitian.
2. Hasil Uji Coba Alat Penelitian
Seleksi item terhadap 25 item dalam angket Harga Diri menghasilkan 22 item valid sedangkan untuk item yang gugur berjumlah 3 item. Hal ini dikarenakan 3 item tersebut memiliki koefisien validitas < 0,30 Penjelasan item valid dan gugur dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 6
Tabel Nomor item Yang Sahih dan Gugur
Nomor Item Total
Pernyataan
Sahih Gugur Sahih Gugur Jumlah
Favorable 4,5,8,10,14,19,20,24 8 8
Unfavorable
1,2,3,6,7,9,11,13,
15,16,17,22,23,25
12,18,21 14 3 17
Total 22 3 22 3 25
Uji reliabilitas dilakukan setelah item-item yang tidak valid dibuang. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dibantu dengan bantuan komputer statistical Packages for Social Sciece (SPSS) version 15.0 for windows.
B. Pelaksanaan Penelitian
itu peneliti kembali mendatangi subjek dan kembali meminta skala tersebut. Dengan cara mendatangi satu per satu subjek peneliti mendapat informasi tentang teman-teman subjek yang juga berprofesi sebagai penyanyi solo organ, hal tersebut memudahkan peneliti untuk mencari sampel penelitian.
Penelitian dan pengambilan data dilakukan di Ambarawa yang ditujukan kepada penyanyi solo organ dengan batasan usia antara 18 sampai 25 tahun. Jumlah sampel adalah 47 orang, dimana penyanyi solo organ dengan jenis kelamin wanita yang berdomosili di kota Ambarawa. Selain pertimbangan waktu pengambilan data dilakukan di Ambarawa dikarenakan belum pernah diadakan penelitian mengenai tingkat harga diri penyanyi wanita solo ogan di Ambarawa yang mana sebagian besar masyarakatnya masih memegang teguh adat jawa yang berlaku.
Tabel 7
Kategori jumlah subjek berdasarkan usia
Usia Keterangan
18 19 20 21 22 23 24 25 Total
Jumlah 6 7 11 2 3 8 8 2 47
yang membawa skala penelitian itu pulang dan mengembalikan kurang lebih satu sampai dua hari kemudian. Setelah semua skala terkumpul, tidak terdapat skala yang terlewati atau tidak terisi, jadi jumlah skala yang dianalisis sebanyak 47 lembar.
C. Analisis Data Statistik
1. Uji Normalitas
Sebelum data dianalisis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yaitu normalitas untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari sebuah distribusi normal. Dalam hal ini uji normalitas dilakukan dengan teknikKolmogorov-Smirnov yang menyatakan bahwa jika nilai signifikasi lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) maka sebarannya normal. Normal dalam arti bahwa sampel atau data berasal dari distribusi normal atau populasi yang normal sedangkan tidak normal berarti sampel atau data tidak pantas untuk dijadikan sampel (Yonita, 2004).
2. Deskripsi Data Penelitian
Berikut ini disajikan tabel yang berisi data penelitian dengan bantuan komputer statistical Packages for Social Sciece (SPSS) version 15.0for windows.
Tabel 8
Tabel Deskripsi Data Penelitian
N 47
Skor minimum teoritik 0 Skor minimum empiric 1 Skor maksimum teoritik 22 Skor maksimum empiric 22
Mean teoritik 11,5
Mean empiric 15,1277
Median 14
Modus 18
Standart deviasi 4,3967
Keterangan :
N adalah jumlah subjek
Skor minimum teoritik adalah skor paling rendah yang mungkin diperoleh subjek
Skor minimum empiric adalah skor paling rendah yang diperoleh subjek dalam penelitian
Skor maksimum empirik adalah skor paling tinggi yang diperoleh subjek dalam penelitian
Mean teoritik adalah rata-rata teoritik dari skor maksimum dan skor minimum yang merupakan titik tengah dari range
Mean empirik adalah rata-rata dari skor subjek penelitian, jika mean empirik menunjukkan lebih besar dari mean teoritik maka dapat dikatakan bahwa harga diri subjek tergolong tinggi.
Median adalah nilai tengah yang dihasilkan
Modus adalah Skor subjek yang paling sering muncul
Standart deviasi adalah suatu statistic yang digunakan untuk menggambarkan variabilitas dalam suatu distribusi
3. Data Deskripsi Harga Diri
Tabel 9
Tabel Deskripsi Harga Diri
N Rendah Tinggi
yang berprofesi sebagai penyanyi solo organ dengan harga diri tinggi berjumlah 20 orang atau dengan prosentase sebesar 43%.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Mengacu pada norma kategorisasi untuk skala Harga Diri dan dari data yang ada, didapatkan bahwa subjek memiliki harga diri yang rendah sampai dengan harga diri yang tinggi. Subjek yang termasuk dalam kategori skor tinggi berjumlah 20 orang dengan prosentase 43%. Harga diri tinggi menurut Tambunan (2001) mengarah pada rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini.
Didukung dengan apa yang dikatakan Coopersmith dimana subjek yang memiliki harga diri tinggi akan mampu mengekspresikan dirinya dengan baik, keyakinan akan berhasil di bidang akademik maupun sosial karena kemampuannya dan kualitasnya yang tinggi, dapat menerima kritik dengan baik, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, dan akhirnya menghasilkan suasana yang nantinya akan tercipta tingkat kecemasan yang rendah.
dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang bersifat positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-hari. Harga diri yang rendah seperti juga yang dikatakan Coopersmith jika seseorang memiliki perasaan inferior, takut dan mengalami kegagalan dalam mengadakan hubungan sosial, terlihat sebagai orang yang mudah putus asa dan mengalami depresi, merasa diasingkan dan tidak diperhatikan, kurang dapat mengekspresikan dirinya, tidak konsisten, selalu mengikuti apa yang ada dilingkungannya, menggunakan banyak pertahanan diri dan mudah mengakui kesalahan.
Latar belakang budaya yang masih sangat kental dan daerah tempat tinggal yang kebanyakan berada di desa juga dapat dikatakan memiliki peran yang tidak sedikit dalam pembentukan harga diri wanita dewasa awal khususnya mereka yang berprofesi sebagai penyanyi solo organ di Ambarawa. Banyak dari lingkungan juga masyarakat yang menganggap profesi sebagai penyanyi solo organ sebagai suatu yang kurang dapat diperhitungkan sampai akhirnya pendapat-pendapat negatif yang muncul dan sangat beragam akan sangat mempengaruhi seorang khususnya penyanyi solo organ tersebut menilai dirinya sendiri tidak dapat dibanggakan dan tidak berharga.
dan kepuasan mental, ataupun bekerja sebagai suatu hoby atau kesenangan. Dalam melakukan suatu pekerjaan apapun itu termasuk wanita dewasa awal dengan profesi sebagai penyanyi solo organ di Ambarawa dilakukan dengan mengarah pada tujuan yang jelas disertai dengan motivasi-motivasi seperti yang telah disebutkan oleh Mukmin diatas, kemungkinan tingkat harga diri yang rendah tidak akan terjadi mereka. Bahkan tidak menutup kemungkinan tingkat harga diri yang tingi akan dirasakannya dan nantinya akan sangat membantunya mencapai pekerjaan yang sukses dan tidak hanya berlangsung sesaat sehingga rencana hidup untuk mencapai masa depan yang lebih baik sesuai harapan menurut fase mencapai prestasi oleh Piaget dapat diwujudkan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian tentang harga diri penyanyi wanita solo organ yang ada di Ambarawa dapat disimpulkan bahwa 57% penyanyi wanita tersebut memiliki harga diri yang rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian, yang diambil dari 47 orang, terdapat 57 % yang masuk kategori rendah dan 43 % termasuk dalam kategori tinggi. Pada penelitian ini, tinggi rendahnya harga diri tidak dipengaruhi oleh faktor usia, hal ini kemungkinan besar disebakan karena sampel usia yang diambil hanya berumur 18 tahun sampai dengn 25 tahun, padahal rentan usia yang masuk kategori dewasa awal dari usia 18 tahun sampai dengan 40 tahun.
B. Saran
1. Bagi Penyanyi Solo Organ di Ambarawa
secara professional mampu melanjutkan ke jenjang karier yang lebih baik misalnya rekaman dan membuat album.
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, I. 1997.Sangkan Peran Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. 1999.Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
2000.Reliabilitas dan Validitas.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Barker, C. 2005. Cultural Studies : Teori dan Praktek. Cetakan kedua. Diterjemahan oleh Nurhadi. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Berne dan Savary. 1988. Harga Diri Pada Remaja Obesitas.
http://www.library.usu.ac.id.
Branden. 2001.Harga Diri.http://www.library.usu.ac.id.
Budiman, A. 1985. Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Calhoun, J.F.& Acocella.J.R. 1990. Psikologi tentang Penyesuaian dan HubunganKemanusiaan (3r ed). Semarang : IKIP Semarang Press.
Chaplin, J.P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Clemes, Ph D. 1995. Bagaimana meningkatkan Harga Diri Remaja. Jakarta : Binarupa Aksara.
Coopersmith. 1976. Harga Diri Pada Remaja Obesitas.
http://www.library.usu.ac.id.
Dusek. 1996.Harga Diri Pada Remaja Obesitas.http://www.library.usu.ac.id. Field, Lynda. 2003.Self Esteem For Women. Bandung : PT. Kaifa.
Hadi, S. 1996.Statistik 2. Yogyakarta : Andi Offset.
Hall, C.S & Lindzey, G. 2001 Teori-Teori Psikodinamik : Klinis. Yogyakarta : Kanisius.
Handayani, S. dan Novianto, A. 2004.Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta : LKIS. Hurlock, E.B. 1999. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Mardalis. 1990.Metodologi Penelitian. Bandung : Airlangga.
Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Buku Teks Utama Dalam Kelas Psikologi Lintas Budaya Tingkat Awal. Diterjemahkan oleh Anindita. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mukmin, H. 1980. Beberapa Aspek Perjuangan Wanita Di Indonesia (Suatu Pendekatan Deskriptif Komparatif). Bandung : Bina Cipta.
Murniati, 1998 Gerakan Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan. Yogyakarta : Kanisius.
Pudjijogyanti, Clara. 1985.Konsep Diri Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penelitian Unika Atma Jaya.
Rini, J.F. 2001. 2002. Konsep Diri.http://www.epsikologi.com.
Santoso, S. 2001.Latian SPSS Statistik Parametik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Santrock, J.W. 1995.Life Span Development : Perkembangan Masa Hidup. Jilid kedua. Jakarta : Erlangga.
Sugiyono. 2002. Statistical Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta. Soemanto. 1999.Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta :
Andi Offset.
Tambunan. R. 2001.Harga Diri Remaja. http://www.epsikologi.com.
LAMPIRAN 1
ANGKET HARGA DIRI
ANGKET PENEL ITIAN
Angket ini diajukan dalam rangka penulisan skripsi kepada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta guna memenuhi salah satu dari persyaratan-persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi.
Identitas diri: Nama / Inisial :
Usia :
Petunjuk Pengisian:
1. Baca dan pahami baik-baik setiap pernyataan. Anda diminta untuk menjawab pernyataan-pernyataan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda.
2. Berilah tanda (
P
) dalam kotak di salah satu pilihan jawaban yang tersedia dengan pilihan sebagai berikut:Y : Bila pernyataan tersebutsesuai dengan Anda. T : Bila pernyataan tersebuttidak sesuai dengan Anda.
3. Semua pernyataan dimohon untuk diisi, usahakan agar jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan dan jangan lupa untuk mengembalikan isian ini kembali.
No. Pernyataan Y T
1. Saya sering membayangkan diri saya sebagai orang lain. 2. Saya merasa sangat sulit untuk berbicara di depan orang
banyak.
3. Sekiranya mungkin, banyak hal dalam diri saya yang ingin saya ubah.
4. Saya dapat mengambil keputusan tanpa banyak kesulitan. 5. Orang senang dengan saya.
6. Saya mudah jengkel bila berada bersama keluarga.
7. Saya membutuhkan waktu yang lama untuk membiasakan diri dalam hal-hal yang baru.
8. Saya populer diantara teman-teman sepergaulan.
9. Saya merasa keluarga saya mengharapkan terlalu banyak dari diri saya.
10. Saya merasa keluarga saya memahami perasaan saya. 11. Saya mudah putus asa.
12. Tidak menyenangkan menjadi orang seperti saya. 13. Segalanya dalam kehidupan saya sangat sulit. 14. Orang-orang biasanya mengikuti gagasan saya. 15. Saya merasakan banyak kekurangan dalam diri saya.
No. Pernyataan Y T
17. Saya sering merasa jengkel dengan pekerjaan yang saya lakukan.
18. Penampilan saya tidak semenarik orang lain.
19. Jika saya mempunyai sesuatu yang saya ingin katakan, saya biasanya langsung mengatakannya.
20. Saya merasa kawan-kawan sepergaulan dan lingkungan dapat memahami saya.
21. Saya merasa orang lain lebih disukai daripada saya.
22. Saya merasa seolah-olah kawan sekerja saya memaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak saya senangi.
23. Saya seringkali tidak yakin akan berhasil terhadap sesuatu yang saya lakukan.
24. Biasanya saya tidak mudah terganggu dalam menghadapi hal-hal sepele.
25. Saya tidak dapat diandalkan.
LAMPIRAN 2
ANGKET HARGA DIRI
ANGKET PENEL ITIAN
Angket ini diajukan dalam rangka penulisan skripsi kepada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta guna memenuhi salah satu dari persyaratan-persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi.
Identitas diri: Nama / Inisial :
Usia :
Petunjuk Pengisian:
4. Baca dan pahami baik-baik setiap pernyataan. Anda diminta untuk menjawab pernyataan-pernyataan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda.
5. Berilah tanda (
P
) dalam kotak di salah satu pilihan jawaban yang tersedia dengan pilihan sebagai berikut:Y : Bila pernyataan tersebutsesuai dengan Anda. T : Bila pernyataan tersebuttidak sesuai dengan Anda.
6. Semua pernyataan dimohon untuk diisi, usahakan agar jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan dan jangan lupa untuk mengembalikan isian ini kembali.
No. Pernyataan Y T
1. Saya sering membayangkan diri saya sebagai orang lain. 2. Saya merasa sangat sulit untuk berbicara di depan orang
banyak.
3. Sekiranya mungkin, banyak hal dalam diri saya yang ingin saya ubah.
4. Saya dapat mengambil keputusan tanpa banyak kesulitan. 5. Orang senang dengan saya.
6. Saya mudah jengkel bila berada bersama keluarga.
7. Saya membutuhkan waktu yang lama untuk membiasakan diri dalam hal-hal yang baru.
8. Saya populer diantara teman-teman sepergaulan.
9. Saya merasa keluarga saya mengharapkan terlalu banyak dari diri saya.
10. Saya merasa keluarga saya memahami perasaan saya. 11. Saya mudah putus asa.
12. Segalanya dalam kehidupan saya sangat sulit. 13. Orang-orang biasanya mengikuti gagasan saya. 14. Saya merasakan banyak kekurangan dalam diri saya.
No. Pernyataan Y T
17. Jika saya mempunyai sesuatu yang saya ingin katakan, saya biasanya langsung mengatakannya.
18. Saya merasa kawan-kawan sepergaulan dan lingkungan dapat memahami saya.
19. Saya merasa seolah-olah kawan sekerja saya memaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak saya senangi.
20. Saya seringkali tidak yakin akan berhasil terhadap sesuatu yang saya lakukan.
21. Biasanya saya tidak mudah terganggu dalam menghadapi hal-hal sepele.
22. Saya tidak dapat diandalkan.
LAMPIRAN 3
DATA MENTAH
ANGKET HARGA DIRI
LAMPIRAN 4
UJI VALIDITAS dan RELIABILITAS
ANGKET HARGA DIRI
Reliability
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Items N of Items
.887 .884 25
Item Statistics
Mean Std. Deviation N
butir_1 .7750 .42290 40
butir_2 .6000 .49614 40
butir_3 .6250 .49029 40
butir_4 .7250 .45220 40
butir_5 .7750 .42290 40
butir_6 .5500 .50383 40
butir_7 .7500 .43853 40
butir_8 .6000 .49614 40
butir_9 .6250 .49029 40
butir_10 .5250 .50574 40
butir_11 .7500 .43853 40
butir_12 .7500 .43853 40
butir_13 .7500 .43853 40
butir_14 .6000 .49614 40
butir_15 .6250 .49029 40
butir_16 .7000 .46410 40
butir_21 .7750 .42290 40
butir_22 .5250 .50574 40
butir_23 .7500 .43853 40
butir_24 .8000 .40510 40
butir_25 .5750 .50064 40
Item-Total Statistics
butir_1 16.3750 33.369 .361 . .885
butir_2 16.5500 31.485 .643 . .878
butir_3 16.5250 31.743 .602 . .879
butir_4 16.4250 33.276 .351 . .885
butir_5 16.3750 33.369 .361 . .885
butir_6 16.6000 33.169 .325 . .886
butir_7 16.4000 33.118 .396 . .884
butir_8 16.5500 31.485 .643 . .878
butir_9 16.5250 31.743 .602 . .879
butir_10 16.6250 31.830 .565 . .880
butir_11 16.4000 32.759 .470 . .882
butir_12 16.4000 34.246 .170 . .889
butir_13 16.4000 33.118 .396 . .884
butir_14 16.5500 31.485 .643 . .878
butir_15 16.5250 31.743 .602 . .879
butir_16 16.4500 33.279 .339 . .886
butir_17 16.2000 34.318 .365 . .885
butir_18 16.4750 33.794 .234 . .888
butir_19 16.3500 32.849 .495 . .882
butir_20 16.5750 31.276 .676 . .877
butir_21 16.3750 35.215 -.017 . .893
butir_22 16.6250 31.830 .565 . .880
butir_23 16.4000 32.759 .470 . .882
butir_24 16.3500 32.849 .495 . .882
butir_25 16.5750 31.276 .676 . .877
Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
LAMPIRAN 5
DATA MENTAH
39 1 0 1 1 0 1 0
Var008 Var009 Var010 Var011 Var012 Var013 Var014
28 1 1 1 1 1 1 1
Var015 Var016 Var017 Var018 Var019 Var020 Var021