• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TEORI PENUNJANG. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TEORI PENUNJANG. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

2. TEORI PENUNJANG

2.1. Manajemen Risiko

Menurut Goldberg & Palladini (2010), manajemen risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan atas harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko. Proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha, aktivitas perusahaan, maupun perorangan. Suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman;

suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan atau pengelolaan sumber daya.

Manajemen risiko dan asuransi memiliki akar yang sama, yaitu pemikiran pelaku dunia usaha maupun pribadi untuk menghindari ketidakpastian. Oleh karena itu, asuransi jiwa merupakan bagian dari manajemen risiko, karena asuransi jiwa merupakan suatu bentuk pengalihan nilai ekonomi seseorang kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung dengan memberikan premi dari tertanggung yang telah mengalihkan nilai ekonominya (Singapore College of Insurance, 2009).

2.2. Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa merupakan wadah atau wahana yang memberikan kesempatan pada setiap orang untuk memupuk sejumlah dana secara berangsur guna mengatasi resiko finansial yang akan terjadi bila sumber finansial keluarga meninggal dunia sebelum usia lanjut atau menjalani usia tua (Module of Certified Financial Planner, 2007). Menurut Triandaru & Budisantoso (2006), asuransi jiwa adalah suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan jiwa atau meninggalnya seorang yang dipertanggungkan.

Dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian menyebutkan bahwa usaha asuransi jiwa adalah usaha yang menyelenggarakan

(2)

jasa penanggulangan risiko yang memberikan pembayaran kepada pemegang polis, tertanggung, atau pihak lain yang berhak dalam hal tertanggung meninggal dunia atau tetap hidup, atau pembayaran lain kepada pemegang polis, tertanggung, atau pihak lain yang berhak pada waktu tertentu yang diatur dalam perjanjian, yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Berdasarkan Buku 1 Bab X Pasal 302 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), jiwa sesorang dapat diasuransikan untuk keperluan orang yang berkepentingan, baik untuk selama hidupnya maupun untuk waktu yang ditentukan dalam perjanjian. Setiap orang dapat mengasuransikan jiwanya, asuransi jiwa bahkan dapat diadakan untuk kepentingan pihak ketiga.

Berdasarkan penjelasan tersebut, unsur yuridis dari suatu asuransi menurut Saliman (2014) adalah sebagai berikut:

a. Adanya pihak tertanggung b. Adanya pihak penanggung c. Adanya perjanjian asuransi d. Adanya pembayaran premi

e. Adanya kerugian, kerusakan, kehilangan keuntungan yang diderita oleh tertanggung

f. Adanya suatu peristiwa yang tidak pasti terjadinya

Menurut Keown (2013), asuransi jiwa dibutuhkan oleh : 1. Seseorang yang memiliki anak atau tanggungan

2. Seseorang yang sudah menikah dengan penghasilan tunggal namun tidak memiliki anak

3. Seorang yang memiliki bisnis sendiri

Namun , asuransi jiwa tidak dibutuhkan oleh:

1. Seorang lajang dan tidak memiliki tanggungan

2. Seorang yang sudah menikah dan kedua orang tersebut berpenghasilan, serta tidak memiliki anak

3. Seorang yang sudah menikah namun tidak bekerja 4. Seorang pensiun

(3)

Berdasarkan hal tersebut, tidak semua orang dapat dikategorikan memerlukan asuransi jiwa.

2.3. Manfaat Asuransi Jiwa

Manfaat dari asuransi jiwa menurut Sudargo (2014) antara lain:

1. Memberikan jaminan perlindungan dari resiko kerugian yang diderita

2. Pemerataan biaya yaitu cukup dengan mengeluarkan biaya dengan jumlah tertentu dan tidak perlu mengganti atau membayar sendiri kerugian yang timbul dengan jumlah yang tidak menentu.

3. Meningkatkan efisiensi karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan atau pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu, dan biaya.

4. Sebagai tabungan karena jumlah yang dibayarkan kepada pihak asuransi akan dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar, hal ini khusus berlaku untuk asuransi jiwa.

5. Menutup loss earning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak bekerja lagi.

Selain itu menurut Jack R. Kapoor (2012) terdapat 10 manfaat asuransi jiwa yang dapat digunakan untuk:

1. Melunasi hipotek rumah atau utang lainnya jika tertanggung meninggal dunia.

2. Menyediakan pembayaran lump-sum untuk anak ketika mereka mencapai usia tertentu.

3. Memberikan pendidikan atau pendapatan untuk anak.

4. Membiayai biaya pengobatan dan pemakaman tertanggung.

5. Membuat warisan amal (charitable bequests).

6. Memberikan pendapatan pensiun bagi tertanggung.

7. Mengakumulasi tabungan.

8. Membangun penghasilan tetap bagi keluarga yang ditinggalkan jika tertanggung meninggal dunia.

9. Mengatur sebuah perencanaan warisan.

10. Membuat pembayaran pajak warisan dan kematian tertanggung.

(4)

2.4. Jenis Asuransi Jiwa

Secara umum asuransi jiwa dibagi menjadi 2, yaitu asuransi jiwa tradisional dan asuransi jiwa modern atau unitlink (Hendro & Rahardja, 2014).

Asuransi jiwa tradisional terbagi lagi menjadi 3 jenis yaitu asuransi jiwa berjangka (term life insurance), asuransi jiwa seumur hidup (whole life insurance), dan asuransi jiwa dwiguna (endowment life insurance).

2.4.1. Term Life Insurance (Asuransi Jiwa Berjangka)

Bentuk asuransi yang paling sederhana dan yang mungkin juga paling murni adalah asuransi jiwa berjangka. Dalam bentuk yang paling sederhana, asuransi jiwa berjangka adalah proteksi terhadap resiko kematian dalam jangka waktu tertentu. Polis ini akan memberikan suatu jumlah yang tertera pada polis tersebut kepada ahli waris jika tertanggung meninggal dalam jangka waktu tertentu. Asuransi berjangka hanya menawarkan proteksi saja dan tidak memiliki nilai tunai . Premi pada asuransi ini juga paling murah di antara asuransi lainnya.

Jenis – jenis umum polis asuransi berjangka, yaitu :

a. Asuransi berjangka tetap (level term insurance) adalah yang termudah dan merupakan jenis polis asuransi jiwa yang langsung pada sasaran. Polis dengan jangka tetap, kedua manfaat, kematian dan premi, tetap selama jangka waktu polis berlaku. Kegunaan jenis polis asuransi berjangka tetap, yaitu:

1. Membantu anak-anak jika orang tua meninggal sebelum anak mandiri dalam hal keuangan.

2. Memenuhi kebutuhan nasabah yang memerlukan tingkat proteksi tinggi tetapi mempunyai anggaran terbatas.

b. Asuransi berjangka menurun (decreasing term insurance) polis dimana proteksi atau manfaatnya dibayarkan secara menurun selama polis berlaku.

Manfaat kematian mulai pada jumlah tertentu dan kemudian perlahan menurun menjadi nol di akhir jangka waktu polis. Kegunaan polis asuransi berjangka menurun, yaitu:

1. Untuk membayar kembali saldo hutang pribadi yang menurun bersama dengan berjalannya waktu, seperti pinjaman pembelian mobil sehingga

(5)

jumlah properti yang ditinggalkan almarhum bagi tanggungannya tidak dikurangi jumlah sisa pinjaman setelah kematiannya.

2. Untuk menyelesaikan pembayaran pinjaman dengan angunan rumah jika peminjam meninggal sebelum pinjaman tersebut terbayar penuh.

c. Asuransi berjangka meningkat (increasing term insurance) merupakan asuransi jiwa berjangka yang akan meningkatkan nilai pertanggungan seiring dengan berjalannya waktu. Polis ini dirancang untuk memberikan proteksi terhadap biaya hidup yang terus meningkat karena inflasi.

d. Polis asuransi berjangka diperbaharui setiap tahun (yearly renewable term insurance) adalah polis asuransi berjangka selama satu tahun. Polis ini memperbolehkan pemegang polis memperbaharui polis dengan jangka waktu satu tahun berikunya sampai batas usia tertentu, umurnya 65 atau 70.

Premi polis ini meningkat setiap kali diperbarui. Kegunaan jenis polis ini untuk memenuhi kebutuhan orang yang tidak pasti berapa lama memerlukan perlindungan.

e. Polis asuransi berjangka yang dapat dikonversikan yaitu polis yang memiliki ketentuan konversi yang memberikan pemegang polis hak untuk memilih mengkonversikan polis berjangkanya menjadi polis lain seperti jenis polis dwiguna atau seumur hidup tanpa harus menyerahkan dokumen kelayakan asuransi.

2.4.2. Whole Life Insurance (Asuransi Jiwa Seumur Hidup)

Asuransi jiwa seumur hidup juga yang dikenal sebagai asuransi permanen atau tetap dirancang untuk memberikan proteksi asuransi selama hidup tertanggung dengan syarat tertanggung menjaga polisnya tetap aktif dengan terus membayar premi. Seperti asuransi berjangka, asuransi ini seringkali diterbitkan dengan melekatkan manfaat cacat total tetap. Polis ini menyediakan perlindungan menyeluruh. Baik manfaat maupun premi tetap selama polis berlaku. Manfaat polis ini dibayarkan jika tertanggung meninggal atau dibayarkan bertahap atau sekaligus jika tertanggung menderita cacat total tetap tergantung besarnya uang pertanggungan. Tidak ada batas waktu untuk proteksi kematian. Namun, proteksi cacat total tetap akan berakhir jika tertanggung mencapai usia tertentu (biasanya

(6)

pasa usia tertanggung yang ke 60). Selain perlindungan jiwa dan cacat total tetap, polis ini juga memiliki elemen tabungan yang dikenal sebagai nilai tunai yang timbul karena sistem premi tetap.

Karakteristik dari asuransi seumur hidup (Module of Certified Financial Planner, 2009), yaitu:

1. Memberikan pertanggungan seumur hidup kepada tertanggung selama polis masih in-force.

2. Memberikan pertanggungan asuransi dan mengandung tabungan dalam bentuk cash value (nilai tunai).

3. Memberikan pertanggungan seumur hidup dengan level premium rate (tarif premi tetap) yang tidak meningkat sejalan dengan bertambahnya usia tertanggung.

4. Memberikan fleksibilitas kepada pemegang polis untuk mengubah isi selama polis masih berlaku.

5. Pemegang polis dapat menggunakan nilai tunai sebagai jaminan untuk pinjaman polis, dan berhak menarik dana dari nilai tunai polis, jika sudah terbentuk.

Jenis – jenis asuransi seumur hidup yang umum adalah :

1. Polis Jiwa Langsung (Straight Life Policy) dikenal juga sebagai polis jiwa biasa (ordinary life policy). Premi yang dibayarkan tetap sampai tertanggung meninggal atau sampai tertanggung meninggal atau sampai usia 90 atau 100.

2. Polis Jiwa Seumur Hidup dengan Pembayaran Terbatas (Limited-payment Whole Life Policy) dirancang untuk orang yang ingin memiliki proteksi seumur hidup yang ditawarkan oleh polis seumur hidup tetapi tidak mau membayar premi seumur hidup. Di polis ini, tertanggung dapat membayar premi dalam jangka waktu tertentu saja atau sampai ia berusia, misalnya 55 tahun. Namun, perlindungan asuransi berlanjut seumur hidup.

Polis asuransi jiwa seumur hidup berguna untuk situasi berikut:

a. Ketika kebutuhan proteksi penghasilan menjadi hal yang bersifat tetap seperti dana untuk memenuhi pengeluaran biaya akhir seseorang

(7)

(misalnya, biaya penguburan, biaya pengobatan sebelum tertanggung meninggal, dan seterusnya).

b. Ketika seseorang berharap mendapatkan pertumbuhan modal pokok investasinya.

c. Ketika seseorang berharap untuk proteksi jiwa dan pada saat bersamaan juga ingin mengakumulasi dana tabungan yang dapat digunakan untuk memenuhi keadaan darurat keuangan jika hal ini timbul.

2.4.3. Endowment Life Insurance (Asuransi Jiwa Dwiguna)

Asuransi dwiguna terdiri dari dua elemen yaitu proteksi jiwa dan elemen tabungan. Elemen proteksi jiwa melindungi kematian, cacat total tetap dan penyakit kritis. Di polis ini elemen tabungan lebih tinggi sehingga polis ini sesuai untuk tujuan menabung. Perlindungan untuk polis ini bisa untu jangka waktu tertentu (misalnya 10 tahun) atau bisa juga sampai usia tertentu (misalnya 55 tahun). Di akhir jangka waktu tersebut, polis disebut telah jatuh tempo.

Karakteristik dari asuransi jiwa dwiguna (Module of Certified Financial Planner, 2009), yaitu:

1. Memberikan suatu jumlah manfaat tertentu apakah tertanggung hidup sampai akhir jangka waktu pertanggungan atau meninggal selama jangka waktu pertanggungan.

2. Memiliki marturity date (tanggal jatuh tempo) dimana tanggal pembayaran uang pertanggungan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis jika tertanggung masih hidup.

3. Dapat menghasilkan nilai tunai dengan lebih cepat.

4. Tarif premi biasanya tetap.

Jenis asuransi dwiguna yang umum adalah :

1. Asuransi Dwiguna Murni (Pure Endowment Insurance) memberikan pembayaran atas suatu jumlah hanya jika tertanggung masih hidup di akhir jangka waktu tertentu. Tidak ada pembayaran jika tertanggung meninggal selama polis berlangsung. Polis ini tidak dijual sebagai polis mandiri kecuali dalam beberapa kasus sub standar dimana underwriter akan mengevaluasi kembali polis ini karena sejarah kesehatan tertanggung.

Kebanyakan penanggung mengkombinasikan polis ini dengan asuransi

(8)

berjangka dan memasarkannya sebagai polis asuransi dwiguna yang telah dibahas sebelumnya.

2. Asuransi Dwiguna Terantisipasi (Anticipated Endowment) sama seperti polis dwiguna murni kecuali satu perbedaan dasar yaitu polis ini memberikan pembayaran tunai (persentase uang pertanggungan) kepada tertanggung dengan jangka waktu tertentu (bisa 2 tahun, 3 tahun atau 5 tahun) selama jangka waktu polis. Fitur yang menarik dari polis ini adalah manfaat meninggal tidak terpengaruh oleh pembayaran tunai berkala.

Dengan kata lain, jika tertanggung meninggal setelah menerima pembayaran tunai, jumlah uang pertanggungan akan tetap dibayarkan kepada ahli warisnya.

Polis asuransi jiwa dwiguna akan berguna dalam situasi berikut:

a. Untuk menyediakan pendidikan anak, seringkali perlindungan adalah atas jiwa anak dengan orang tua atau wali sebagai pemegang polis.

b. Untuk menabung dengan tujuan khusus pemegang polis (misalnya membeli rumah, menyediakan dana pensiun, dan sebagainya) dan pada saat yang sama memberikan proteksi bagi tanggunganya terhadap dampak keuangan jika terjadi kematian dini atas tertanggung.

Dari segi proteksi yang diberikan term insurance memiliki elemen proteksi yang pertama dibandingkan dengan whole life insurance dengan endowment insurance. Term insurance memiliki proteksi kematian (death benefit) dan proteksi cacat total dan permanen (total dan permanent disability benefit (TPD). Lalu diikuti dengan whole life insurance yaitu memberikan proteksi kematian dan cacat total dan permanen, sedangkan endowment insurance hanya memberikan proteksi lump sum untuk kebutuhan di masa depan (Singapore College of Insurance, 2005).

2.4.4. Unit Linked

Selain ketiga jenis polis asuransi tradisional di atas, dalam bisnis asuransi jiwa ada juga polis asuransi jiwa modern atau dikenal polis asuransi unit linked.

Sedikit berbeda dengan asuransi tradisional dimana memiliki unsur investasi yaitu, asuransi jiwa unit linked. Asuransi ini memiliki tiga tujuan yaitu proteksi,

(9)

tabungan dan investasi. Asuransi jiwa unit linked memiliki beberapa perbedaan dengan polis asuransi jiwa traditional (Singapore College of Insurance, 2005):

1. Nilai polis secara langsung terkait dengan nilai aset yang bersangkutan, 2. Alokasi premi untuk biaya manfaat asuransi dan investasi tidak menjadi

satu dan transparan,

3. Proteksi meninggal dalam jenis polis ini sangat kecil sehingga polis ini lebih melayani keperluan investasi perorangan dibandingkan dengan memberikan proteksi kematian, dan,

4. Polis ini terkena peraturan yang berbeda dari pemerintah dibandingkan peraturan bagi produk asuransi tradisional.

Asuransi Unit linked dapat diklasifikasikan berdasarkan frekuensi pembayaran premi atau berdasarkan fitur produk (Singapore College of Insurance, 2005).

1. Berdasarkan pembayaran premi

a. Premi tunggal hanya membayarkan premi satu kali saja untuk membeli unit suatu dana. Penekanannya adalah pada tabungan dan investasi jangka panjang. Namun, bisa saja program ini digunakan untuk proteksi meskipun bukan hal umum terjadi pada program premi tunggal. Pilihan untuk melakukan Top-up biasanya tersedia.

b. Premi berkala membayarkan premi secara teratur. Program premi berkala biasanya dibeli untuk tujuan proteksi. Selain proteksi asuransi jiwa, cacat total dan tetap, penyakit kritis dan bentuk lain proteksi juga tersedia. Dalam polis ini biasanya diperbolehkan untuk melakukan cuti premi, penarikan sebagian, dan top-up sesuai dengan peraturan administrasi penanggung.

2. Berdasarkan fitur produk

a. Unit linked seumur hidup, asuransi ini sama dengan program asuransi jiwa seumur hidup polis tradisional karena dirancang untuk memberikan proteksi seumur hidup. Untuk program premi berkala, pemegang polis dapat memilih untuk memvariasikan tingkat proteksi asuransinya.

b. Unit linked dwiguna, asuransi ini biasanya jangka waktunya tetap. Jangka waktu dapat untuk periode tertentu, misalnya 5 tahun, atau usia tertentu, misalnya jatuh tempo pada usia 62. Ketika program jatuh tempo, unit

(10)

dikonversikan menjadi nilai tunai sesuai dengan harga unit pada saat itu.

Beberapa program menyediakan pilihan merubah unit menjadi tunai pada tanggal tertentu setelah jatuh tempo.

Program unit linked dwiguna yang umum adalah program jaminan modal pokok jangka pendek. Di program ini pemegang polis memiliki komitmen hanya untuk jangka pendek saja. Selain mempunyai proteksi asuransi jiwa selama polis berlangsung dan pada saat jaminan modal pokok jatuh tempo, pemegang polis bisa menikmati potensi penghasilan investasi dari kenaikan harga unit.

c. Unit linked anuitas, dalam program ini, pemegang polis membayar premi berkala untuk membeli unit. Ketika pemegang polis pensiun, sejumlah unit tetap dapat dijadikan tunai pada serangkaian waktu yang telah ditentukan untuk menjadikan penghasilan. Penghasilan akan berfluktuasi tergantung pada harga unit saat pengambilan tunai dilakukan, tetapi dalam jangka panjang nilai unit diharapkan meningkat. Jadi, pemegang polis akan menikmati keuntungan perlindungan terhadap inflasi. Sebaliknya, jika nilai unit terlalu berfluktuasi maka penghasilan pemegang polis akan terpengaruh. Namun, pembayaran anuita dapat dilakukan berdasarkan jumlah tetap. Keuntungan bagi pemegang polis adalah dapat menerima penghasilan tetap. Kelemahannya, karena nilai polis tergantung pada harga unit, unit yang digunakan untuk pengurangan pembayaran bisa terkikis selama kondisi ekonomi memburuk.

2.5. Nilai Pertanggungan Kematian

Setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta dalam program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Jaminan Kematian adalah manfaat uang tunai yang diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia dan bukan akibat kecelakaan

(11)

Nilai pertanggungan kematian merupakan sejumlah nilai uang yang dibayarkan oleh perusahaan pemberi kerja kepada penerima manfaat (ahli waris) apabila terjadi risiko meninggal dunia, maka uang pertanggungan kematian dari perusahaan yang diterima ahli waris akan berfungsi menggantikan sementara penghasilan pencari nafkah utama apabila terjadi risiko kematian. Nilai pertanggungan kematian dari perusahaan merupakan perlindungan atas risiko kematian bukan merupakan akibat kecelakaan kerja, mengakibatkan terputusnya penghasilan oleh pencari nafkah, serta sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu, diperlukan nilai pertanggungan kematian dalam upaya meringankan beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang.

2.5.1. Cara Menghitung Nilai Pertanggungan

Menurut Manurung dan Rizky (2009), nilai pertanggungan merupakan sejumlah uang yang tercantum dalam polis yang akan dibayarkan oleh penanggung kepada pemegang polis yang ditunjuk sesuai dengan yang diperjanjikan. Yang berarti nilai ini merupakan kesepakatan antara pemegang polis (orang yang mengasuransikan tertanggung) dengan penanggung (perusahaan asuransi jiwa), dalam hal jika terjadi resiko terhadap tertanggung maka penanggung wajib membayar sejumlah uang tertentu yang telah disepakati dalam kontrak yang tercantum dalam ketentuan polis asuransi kepada pemegang polis.

2.5.2. Konsep Perhitungan Nilai Pertanggungan Asuransi Jiwa

Menurut Keown (2013), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperhitungan besaran nilai pertanggungan asuransi jiwa yang dibutuhkan yaitu, status diri (martial status), status pekerjaan (employment status), level pekerjaan (employment level), usia (age) dan jumlah tanggungan (number of dependents) seperti:

1. Status Diri

Kebutuhan asuransi jiwa yang dibutuhkan seorang lajang, menikah, duda, dan janda berbeda. Status diri sesorang berpengaruh pada banyaknya jumlah tanggungan sehingga jumlah kebutuhan yang harus disediakan juga berbeda.

2. Status Pekerjaan

(12)

Seorang yang menjadi sumber penghasilan bagi sebuah keluarga membutuhkan sebuah asuransi jiwa untuk mengcover jika terjadi sebuah kematian, untuk menggantikan posisinya secara finansial, namun seorang pengangguran dimana ia tidak berpenghasilan, maka ia tidak memerlukan sebuah asuransi jiwa.

3. Level Pekerjaan

Level pekerjaan seseorang berpengaruh pada penghasilan yang didapatkan. Penghasilan seorang individu pasti berbeda dengan yang lain, dimana hal tersebut akan berpengaruh pada pengeluaran dan prioritas hidup.

4. Usia

Usia sesorang berpengaruh pada jumlah pertanggungan yang dibutuhkan.

Kebutuhan asuransi jiwa seorang wanita dengan usia 25 tahun berbeda dengan seorang wanita dengan usia 35 tahun, selain itu usia tanggungan juga berpengaruh seberapa lama tanggungan tersebut masih bergantung kepada sumber penghasilan sehingga berpengaruh pada kebutuhan dana yang harus disediakan.

5. Jumlah Tanggungan

Kebutuhan sebuah keluarga dengan keluarga lain akan berbeda-beda sesuai dengan jumlah tanggungan.

2.5.3. Menghitung Besaran Nilai Pertanggungan

Asuransi dapat memberikan perlindungan penuh hanya ketika nilai pertanggungan tersebut cukup sesuai kebutuhan, baik ketika asuransi tersebut dibeli untuk pertama kalinya atau ketika terjadi pembaharuan untuk menyesuaikan kembali dengan kebutuhan yang diperlukan. Kecukupan nilai pertanggungan sangat penting bagi tertanggung, sehingga hal ini perlu diperhatikan agar tidak terjadi under insurance maupun over insurance (Qaiser, 2008).

a) Under insurance berarti terjadi penetapan nilai pertanggungan yang terlalu rendah dan jika terjadi klaim yang besar, tertanggung hanya akan menerima penyelesaian yang secara substansial kurang dari penyelesaian klaim sehingga tidak sesuai dengan tujuan kebutuhan yang ingin dicover oleh asuransi.

(13)

b) Over insurance hanya berarti terjadi pembayaran premi yang lebih besar. Tidak ada manfaat yang akan bertambah pada saat terjadi klaim. Oleh karena itu terjadi pembayaran yang besar tanpa manfaat yang sesuai.

Untuk menghindari terjadinya kedua hal tersebut, sebelum membeli polis asuransi, sebaiknya tentukanlah besar uang perlindungan yang dibutuhkan. Di dalam ilmu perencanaan keuangan, ada tiga metode yang dapat digunakan, yaitu nilai perlindungan berdasarkan nilai ekonomis (human life value), nilai perlindungan berdasarkan penghasilan (income based value), nilai perlindungan dari survival (survival based value) (Manurung, 2009).

a. Human Life Value

Human life value memperhitungkan total kebutuhan asuransi jiwa sesorang berdasarkan pada besar penghasilan bulanan atau besar pengeluaran bulanan dikalikan dengan lama kebutuhan asuransi tersebut diperlukan. Dengan konsep dasar human live value inilah polis asuransi yang konsumen beli benar- benar dilakukan berdasarkan kebutuhan. Dangan kata lain, human live value dapat memperhitungkan besar harga nyawa atau suatu nilai ekonomis dari seseorang yang harus dilindungi. Metode ini digunakan untuk tertanggung dengan satu sumber penghasilan dan nilai pertanggungan yang diberikan untuk mengcover gaya hidup yang sama seperti sebelumnya.

(2.1.) b. Income Based Value

Income based value merupakan metode perhitungan kebutuhan asuransi (nilai proteksi/nilai perlindungan) dihitung berdasarkan besar kebutuhan bulanan yang diperlukan serta seberapa besar dana tunai yang dibutuhkan yang apabila dana tersebut ditempatkan ke dalam instrumen investasi bebas resiko (risk free asset) dan dapat memberikan penghasilan bulanan yang cukup untuk menutupi kebutuhan bulanannya.

Instrumen investasi bebas resiko yang ideal digunakan adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Memang tidak ada satu instrumen pun yang 100% bebas

Human Life Value = Penghasilan / Pengeluaran kotor per bulan x 12 x Waktu pertanggungan

(14)

resiko. Investasi yang memiliki resiko paling kecil adalah pada instrumen yang dikeluarkan atau dijamin oleh pemerintah, dalam hal ini pemerintah Indonesia.

(2.2.) c. Survival Based Value

Survival Based Value merupakan metode perhitungan yang memperhitungkan berapa besar kewajiban yang harus dilindungi (dibayar) beserta berapa besar kekurangan dari penghasiloan (income) yang harus ditutupi sampai survival dapat kembali bekerja secara penuh. Penghasilan yang harus dipenuhi juga meliputi selisih dari penghasilan yang ditinggalkan (suami/istri) dikurangi biaya hidup kelak. Metode ini digunakan untuk dua sumber penghasilan atau suami istri sama-sama bekerja, dimana nilai pertanggungan yang dihasilkan dari metode tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saja tatapi juga untuk mempertahankan standar hidup.

(2.3.) Untuk menghitung besarnya dana darurat yaitu (Hananto, nd, para.4):

a. Sudah menikah = 6 x Pengeluaran Bulanan b. Memiliki 1 anak/tanggungan = 9 x Pengeluaran Bulanan c. Memiliki 2 anak/tanggungan = 12 x Pengeluaran Bulanan d. Memiliki 3 anak/tanggungan = 15 x Pengeluaran Bulanan e. Memiliki 4 anak/tanggungan = 18 x Pengeluaran Bulanan f. Memiliki 5 anak/tanggungan = 21 x Pengeluaran Bulanan

2.6. Penghasilan

Penghasilan memiliki pengertian yang bermacam-macam tergantung dari sisi mana untuk meninjau pengertian penghasilan tersebut. Salah satu jenis penghasilan yang paling umum adalah penghasilan karyawan perusahaan (take home pay). Menurut Nuriyanto (2013), penghasilan karyawan (take home pay) adalah pembayaran dari perusahaan yang murni diterima oleh karyawan setelah

Income Based Value = Penghasilan kotor per bulan : ((SBI)/12)

Survival Based Value = Human Live Value - (pengeluaran per bulan tertanggung*12) + hutang-hutang +dana darurat – aset lancar

(15)

hak karyawan dan dikurangi dengan hal-hal yang sudah diatur baik oleh pemerintah maupun kebijakan dari perusahaan dimana karyawan tersebut bekerja misalnya BPJS Ketenagakerjaan, pajak penghasilan (PPh 21), dan potongan lainnya. Pendapatan rutin adalah sejumlah komponen salary yang berisi transaksi tetap dan biasanya sudah diperjanjikan atau dituangkan dalam perjanjian tertulis berupa nominal yang didapat secara rutin oleh karyawan setiap bulannya misalnya gaji pokok, tunjangan jabatan, tunjangan pulsa, dll. Selain pendapatan rutin juga ada pendapatan isidentil yaitu pendapatan yang setiap bulannya tidak tentu didapatkan oleh karyawan dikarenakan sifatnya yang bergantung pada aktivitas karyawan misalnya lembur, tunjangan harian, insentif/bonus (berdasarkan pencapaian karyawan) dan THR (Tunjangan Hari Raya) yang diberikan setiap tahun kepada karyawan yang beragama.

(2.4.) 2.7. Pengetahuan Manajemen Risiko

Pengetahuan manajemen risiko adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan serta keahlian untuk mengelola sumber daya keuangan agar tercapai kesejahteraan jika terjadi risiko finansial akibat kematian atau cacat tetap dari sang pencari nafkah utama dengan cara membeli produk asuransi jiwa (Welly, Kardinal, & Juwita, 2015).

Menurut Bhushan & Medury (2013) pengetahuan manajemen risiko sangat penting karena beberapa alasan.”Pertama, konsumen yang memiliki literasi bisa melalui masa-masa keuangan yang sulit karena faktanya bahwa mereka mungkin memiliki akumulasi tabungan, membeli asuransi dan diversifikasi investasi mereka. Kedua, literasi juga secara langsung berkorelasi dengan perilaku keuangan yang positif seperti pembayaran tagihan tepat waktu, angsuran pinjaman, tabungan sebelum habis dan menggunakan kartu kredit secara bijaksana. Maka dari itu, setiap orang dituntut untuk memiliki pengetahuan manajemen risiko yang mumpuni agar terhindar dari risiko finansial akibat hilangnya sumber penghasilan dari pencari nafkah utama.

Take Home Pay = (Pendapatan Rutin + Pendapatan Isidentil) - (Iuran BPJS Ketenagakerjaan + PPh 21 + potongan lainnya)

(16)

2.8. Hubungan Antar Konsep

2.8.1. Pengaruh Penghasilan terhadap Kebutuhan Asuransi Jiwa

Semakin tinggi penghasilan seseorang maka akan mendorong seseorang untuk memiliki sejumlah dana dan tabungan yang cukup, untuk memenuhi standar hidup tanggungannya dan dirinya dimasa depan ketika sudah tidak dapat lagi bekerja menghasilkan uang serta jika terjadi diluar dugaan seperti meninggal atau kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap dan tentunya mengakibatkan risiko finansial.

Menurut Jacobs (2007), mengemukakan bahwa teori dasar kebutuhan terhadap asuransi jiwa digambarkan secara sistematis dan pasti bagaimana tingkat kekayaan, harga polis asuransi, kemungkinan kejadian sakit, kehilangan karena pengeluaran pembiayaan pada saat sakit serta pemanfaatan maksimal, mempengaruhi keputusan seseorang untuk membeli asuransi jiwa, sehingga semakin tinggi penghasilan maka semakin tinggi pula keputusan seseorang untuk membeli produk asuransi jiwa karena kebutuhan-kebutuhan asuransi jiwa tersebut.

Berdasarkan penelitian Yanti (2013), penghasilan yang tinggi tentunya akan membuat seseorang memiliki sejumlah dana lebih dan tentunya bisa dialokasikan untuk keperluan yang lebih banyak lagi, salah satunya untuk kebutuhan asuransi jiwa. Semakin tinggi penghasilan yang diterima dalam suatu rumah tangga akan memperbesar peluang untuk membeli produk asuransi jiwa.

2.8.2. Pengaruh Pengetahuan Manajemen Risiko terhadap Kebutuhan Asuransi Jiwa

Pengetahuan manajemen risiko akan membuat individu lebih memahami persoalan finansial, sehingga mampu mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan persoalan finansial yang dihadapi maupun dalam menyusun perencanaan finansialnya. Memiliki pengetahuan manajemen risiko yang tinggi seseorang mampu memikirkan manfaat yang bisa didapatkan dari asuransi jiwa.

Manfaat yang dimaksud adalah peralihan resiko finansial jika terjadi sesuatu terhadap pencari nafkah utama seperti kematian atau cacat permanen (Oktavianty, 2015). Penelitian terdahulu menegaskan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan manajemen risiko akan mengerti manfaat asuransi jiwa dan sadar

(17)

Dalam penelitian Lin dan Chen (2006) mengukur pengetahuan tentang pemahaman manajemen risiko dalam penggunaan asuransi jiwa. Menurutnya untuk memahami perilaku konsumen, pengetahuan akan produk memainkan peran penting karena pengetahuan konsumen menentukan keputusan pembelian dan pada akhirnya secara langsung berimbas pada niat membeli, yang dalam konteks ini adalah asuransi jiwa.

2.8.3. Pengaruh Pertanggungan Kematian Terhadap Kebutuhan Asuransi Jiwa

Sutrisno (2014, p.88) berpendapat bahwa tunjangan adalah upaya kebijaksanaan yang ditujukan kepada tenaga kerja, terutama yang berada dan bekerja dilingkungan perusahaan dalam hal penyelenggaraan, perlindungan dengan interaksi kerja yang saling menguntungkan kedua belah pihak (tenaga kerja dan pengusaha). Salah satu contoh tunjangan yang diberikan kepada tenaga kerja yaitu pertanggungan kematian. Pemberian pertanggungan kematian kepada tenaga kerja, dapat menekan kebutuhan asuransi jiwa, sehingga tenaga kerja tidak perlu untuk membeli produk asuransi jiwa selain pertanggungan kematian yang telah disediakan oleh perusahaan.

2.9. Kerangka Berpikir

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Penelitian ini akan meneliti pengaruh penghasilan, nilai pertanggungan kematian dari perusahaan, dan pengetahuan manajemen risiko terhadap kebutuhan asuransi jiwa pada level middle manager dan top manager PT. X beserta perbedaannya.

Penghasilan

Pengetahuan Manajemen Risiko

Nilai pertanggungan kematian

Kebutuhan Asuransi Jiwa - Middle Manager - Top Manager

(18)

2.10. Hipotesis

Menurut Purwanto & Sulistyastuti (2007) hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penghasilan berpengaruh signifikan terhadap kebutuhan asuransi jiwa pada level middle manager dan top manager PT. X.

2. Pengetahuan manajemen risiko berpengaruh signifikan terhadap kebutuhan asuransi jiwa pada level middle manager dan top manager PT. X.

3. Nilai pertanggungan kematian yang diberikan oleh perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebutuhan asuransi jiwa pada level middle manager dan top manager PT. X.

4. Terdapat perbedaan kebutuhan asuransi jiwa pada level middle manager dan top manager PT. X.

Referensi

Dokumen terkait

Polis : Dokumen perjanjian asuransi jiwa baik dalam bentuk hardcopy maupun softcopy antara penanggung dengan pemegang polis, sebagaimana dalam syarat-syarat umum

dokumen perjanjian asuransi antara Perusahaan dengan Pemegang Polis atau Tertanggung, termasuk namun tidak terbatas pada Ketentuan Umum Polis, Ketentuan Khusus

Virgin Cake & Bakery mengusahakan penyimpanan pada bahan baku diletakkan di atas pallet kayu bertujuan untuk pencegahan terjadinya kontaminasi atau cemaran pada bahan baku

Proses manajemen data adalah proses dimana admin dapat menambah (create), melihat (read), mengubah (update) dan menghapus (delete) data-data pada sistem, seperti

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah efektifitas penggunaan VCO terhadap pencegahan

Selama kurang lebih 4 tahun menjadi pengurus Bank Sampah Saraswati, kami bisa menyimpulkan beberapa alasan warga khususnya perempuan yang bisa dikatakan tidak

SPAJ, Ikhtisar Pertanggungan, Ketentuan Umum Polis, Ketentuan Khusus Polis, Ketentuan Tambahan Polis, Perubahan Polis dan/atau dokumen lain sehubungan dengan Polis,

Hasil yang diperoleh dalam penulisan ini ialah perlindungan hukum pemegang polis asuransi dalam prespektif kepailitan kreditur pemegang polis hanya sebagai kreditur