BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
atau gedung yang dapat menampung kegiatan-kegiatan sosial budaya seperti keagamaan, kematian dan pernikahan.
Selain itu, dari data tingkat pernikahan, talak dan ceria Kota Medan tahun 20017-2011 oleh Dinas Kementrian Agama Kota Medan menunjukkan bahwa tingkat pernikahan di kota Medan yang setiap tahunnya selalu meningkat.
Potensi kekurangan itu juga bisa dilihat dari data Medan Dalam Angka Tahun 2014 oleh BPS kota Medan, dimana menunjukkan jumlah penduduk yang berpotensi untuk mengadakan pernikahan (umur 20 s/d 34 tahun) baik laki-laki dan perempuan berkisar 29% dari total penduduk, di tambah potensi untuk megadakan acara kematian (minimal umur 65 tahun) adalah sebesar 4% dari total penduduk.
Di kota Medan memang sudah memiliki beberapa gedung dengan fungsi sebagai tempat pertemuan dan acara sosial budaya, akan tetapi seturut dengan perkembangan yang ada maka kegiatan penyewaan gedung di kota Medan semakin meningkat dan Medan masih kekurangan tempat bagi masyarakat yang membutuhkan gedung untuk tempat pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut.
I. 2 Alasan Pemilihan Topik Permasalahan
Kehidupan masyarakat Batak adalah kehidupan yang sangat menjujunjung tinggi adatnya. Bahkan sebelum lahir ke dunia pun sudah melakoni adat, sampai seorang Batak tersebut meninggal dan menjadi tulang belulang masih ada serangkian adat.
Dari seluruh kegiatan adat yang ada terdapat 2 kegiatan yang paling diperhatikan yaitu upacara pernikahan dan kematian. Dimana di ke 2 acara adat ini menjadi penentu berubahnya status seseorang ke jenjang berikut dalam hidupnya serta di dalam ke 2 acara tersebut lebih melibatkan banyak pihak/orang.
Selain itu bagi masyarakat Batak, migrasi atau yang sering disebut merantau telah menjadi kebiasaan. Meskipun suku Batak merantau dari kampung halaman di kawasan Danau Toba ke kota salah satunya ke kota Medan ini, mereka tetap memegang teguh serta terikat pada budaya Dahlian Na Tolu dan tetap melaksanakan acar adat Batak Toba baik itu acara pernikahan, kematian dan lain-lain. Selain itu di tanah perantauannya suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya, dengan mencari serta mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung (punguan) dengan tujuan untuk menjalankan adat budayanya tadi.
melaksanakan kegiatan adat dilaksanakan di harangan/halaman huta/perkampungan namun di perkotaan tempat untuk melaksankan kegiatan itu dilaksanakan disuatu gedung yang sering disebut sopo godang/wisma.
Banyaknya kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan di wisma seperti pernikahan, acara kematian, acara punguan marga (ulang tahun, bona tahun), dll yang oleh masyarakat Batak disebut dengan ‘Pesta’ menjadikan wisma menjadi suatu kebutuhan yang penting bagi masyarakat suku Batak di kota Medan ini. Kebutuhan akan tempat ini menjadikan semakin banyaknya tempat-tempat yang difungsikan seperti itu.
Masyarakat Batak Toba di kota Medan merasakan kurangnya tempat atau gedung untuk menyelenggarakan acara adat (pesta) untuk masyarakat Batak. Hal ini terlihat dari sebuah ungkapan yang berlaku di masyarakat Batak di kota Medan yaitu ‘pesta di tentukan oleh gedung’. Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa masyarakat Batak yang ada di kota Medan ini mengalami kekurangan tempat ataupun gedung untuk mengadakan acara adat baik itu berupa acara perkawinan, kematian ataupun acara ulang tahun dan acara bona tahun perkumpulan (pungguan) marga mereka.
fasilitas yang kurang untuk mewadahi gaya hidup modern masyarakat Batak di kota yang tentu saja berbeda dengan yang dikampung halamannya.
I. 3 Perumusan Masalah
Adapun masalah yang dihadapi dalam tesis desain ini adalah :
1. Bagaimana menerapkan tema dalam perencanaan dan perancangan kasus. 2. Bagaimana mendesain sebuah tempat kegiatan budaya yang juga berfungsi
sebagai ikon budaya Batak Toba.
3. Bagaimana menciptakan suatu sarana yang dapat mewadahi aktivitas dalamnya yang berhubungan dengan adat budaya yang juga masih memungkinkan dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan lainnya dengan berbagai permasalahannya seperti menyediaan ruang-ruang pengelolaan sirkulasi, akustika, pencahayaan dalam suatu gedung pertemuan.
I.4 Tujuan
Tujuan dalam perancangan ini adalah untuk mendesain bangunan yang berfungsi sebagai gedung pertemuan, khususnya acara adat suku Batak Toba di kota Medan yang sesuai ritual adat sekaligus dapat memenuhi segala kebutuhan gaya hidup masyarakat kota.
Diharapkan dari tesis secara akademis menjadi refrensi metode dan proses perancangan bangunan dengan tema Neo Vernakluar. Dari segi praktis sebagai perencana, tesis ini diharapkan menjadi refrensi aspek-aspek dari wujud bangunan pesta. Selain itu juga diharpakan tesis ini bisa menjadi panduan/guidelines dalam kebijakan pemerintah untuk gedung pesta.
I.6 Keluaran
Keluaran dalam perancangan ini adalah suatu desain bangunan gedung pesta yang sesuai dengan kebutuhan dan tata peradatan suatu tempat pesta masyarakat Batak di kota Medan yang bercirikan arsitektur tradisioanal Batak Toba.
I.7 Metodologi
Gambar 1.1 Kerangka Berfikir DESAIN LATAR BELAKANG
* Masyarakat Kota Medan masih terikat pada adat dan budaya. * Terjadi peningkatan pernikahan setiap tahunnya di kota Medan
* ‘Gedung menentukan Pestar’ suatu idiom atas kurangnya gedung pesta di kota
Medan
* Masyarakat Batak Toba di kota Medan mempunyai gaya hidup yang berbeda terhadap acara adat budayanya.
PERMASALAHAN
* Bagaimana menerapkan tema dalam perencanaan dan perancangan kasus.
* Bagaimana mendesain sebuah tempat kegiatan budaya yang juga berfungsi sebagai ikon budaya Batak Toba.
* Bagaimana menciptakan suatu sarana yang dapat mewadahi aktivitas dalamnya yang berhubungan dengan adat budaya yang juga masih memungkinkan dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan lainnya dengan berbagai permasalahannya seperti menyediaan ruang-ruang pengelolaan sirkulasi, akustika, pencahayaan dalam suatu gedung pertemuan.
MAKSUD DAN TUJUAN
* Mendesain gedung tempat pelaksanaan acara adat Batak Toba di kota Medan. * Menjadi rujukan dan refrensi dalam mendesain bangunan dengan tema dan fungsi
sejenis,
* Memperdalam kecintaan akan budaya lokal itu sendiri.