MARKET BRIEF: SIRIP IKAN HIU
Atase Perdagangan Tokyo
[KBRI TOKYO, 5-2-9, Higashi Gotanda, Shinagawa-ku, Tokyo]
Daftar Isi
Kata Pengantar 2
Peta Jepang 3
I. Pendahuluan 4
1.1 Pemilihan Produk 4
1.2 Profil Jepang 7
II. Potensi Pasar Jepang 9
2.1 Ekspor Impor Produk Sirip Ikan Hiu Jepang - Dunia 9
2.2 Potensi Pasar Produk Sirip Ikan Hiu di Jepang 10
2.3 Kebijakan Impor Produk Sirip Ikan Hiu di Jepang 12
2.4 Saluran Distribusi Produk Sirip Ikan Hiu di Jepang 14
2.5 Hambatan Lainnya 16
III. Peluang dan Strategi 18
3.1 Peluang 18
3.2 Strategi 20
IV. Informasi Penting 24
Referensi 27
Kata Pengantar
Dengan ucapan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, laporan yang
berjudul "Market Brief Sirip Ikan Hiu" telah selesai disusun. Laporan ini
memberikan gambaran potensi pasar produk sirip ikan hiu di Jepang dengan
mengacu pada "Outline Market Brief" yang telah ditetapkan.
Adapun latar belakang dibuatnya laporan ini adalah adanya dinamika
perkembangan pasar dimana tingkat persaingan sesama negara-negara
pemasok menjadi semakin kompetitif. Oleh karena itu, agar Indonesia dapat
meningkatkan daya saing dan mengatur strategi bagi peningkatan ekspor produk
sirip kan hiu maka diperlukan informasi terkini terkait kondisi terkini di pasar
tujuan ekspor khsusunya Jepang.
Semoga laporan market brief ini dapat bermanfaat bagi para pemangku
kepentingan, pelaku bisnis khususnya yang bergerak di bidang hasil laut serta
pihak terkait dalam menentukan strategi pemasaran dan pengambilan kebijakan
terkait ekspor produk sirip ikan hiu ke pasar Jepang sehingga diharapkan
nantinya ekspor produk ikan secara keseluruhan dapat meningkat.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pemilihan Produk
Sirip ikan hiu adalah komoditas perikanan yang memiliki sejarah yang
panjang di Jepang. Dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012, sirip ikan hiu
menggunakan kode HS 0305.71.00.00. Kode ini adalah kode yang baru
ditetapkan pada tahun 2012. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 2010
menggunakan kode HS 0305.59.10.00 untuk sirip ikan hiu.
Di Jepang, produk ini dikenal dengan sebutan fukahire, dan sudah dikenal
sebagai komoditas ekspor Jepang ke negeri China sejak zaman Edo (1603-1868).
Pada zaman Edo, pedagang Jepang yang bertransaksi dengan pedagang China
dapat menggunakan fukahire sebagai alat pembayaran pengganti emas, perak,
dan perunggu.
Yang disebut fukahire adalah sirip ikan hiu yang sudah diambil kulit, daging
dan tulangnya. Seperti dapat dilihat pada Gambar 1.1, hanya bagian yang seperti
serat dari sirip ikan hiu ini yang diambil sebagai fukahire. Bagian ini kaya dengan
kandungan kolagen dan kondroitin yang baik untuk kesehatan tubuh manusia.
Gambar 1.2 menunjukkan gambar ikan hiu dan bagian-bagian siripnya.
Sirip ekor dan sirip punggung memiliki harga yang mahal. Sirip dada memiliki
harga yang lebih murah dibanding sirip punggung. Sirip-sirip lainnya yang lebih
Gambar 1.1 Sirip ikan hiu yang sudah diambil kulit, daging dan tulangnya
Gambar 1.2 Ikan Hiu dan Bagian-Bagian Siripnya
Jepang merupakan produsen sirip ikan hiu. Hasil penangkapan ikan hiu di
Jepang diperkirakan sekitar 34.000 ton sampai 38.000 ton per tahunnya sejak
tahun 2005. Jenis ikan hiu yang banyak ditangkap di Jepang dan diambil siripnya
adalah ikan hiu dengan spesies Lamna Ditropis (bahasa Inggris: Salmon Shark)
Daerah di Jepang yang terkenal sebagai daerah produsen fukahire atau
sirip ikan hiu ini adalah daerah Kesennuma, daerah yang terkena tsunami pada
bulan Maret 2011 yang lalu. Produksi fukahire di Kesennuma sempat terhenti
total, namun telah dimulai kembali sejak akhir tahun 2011.
Permintaan sirip ikan hiu di dalam negeri Jepang semakin tinggi,
sementara jumlah penangkapan ikan hiu di Jepang tidaklah bertambah, sehingga
pasar impor untuk sirip ikan hiu ini semakin terbuka.
Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki lautan yang sangat luas
merupakan negara produsen ikan hiu terbesar di dunia dengan jumlah
penangkapan ikan hiu sebesar lebih dari 100.000 ton per tahun. Dari 250 lebih
jenis spesies ikan hiu yang ada di dunia, setidaknya ada 29 jenis spesies ikan hiu
yang ditemukan di Indonesia. Spesies Prionace Glauca (lihat Gambar 1.3) yang
umum diambil siripnya untuk fukahire di Jepang juga banyak ditemukan di
Indonesia. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi
untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar di Jepang.
Gambar 1.3 Ikan Hiu spesies Prionace Glauca
Bea cukai di Jepang menggunakan kode HS 0305.71 untuk sirip ikan hiu.
Menurut data statistik perdagangan dan kementerian finansial di Jepang, market
share Indonesia untuk produk sirip ikan hiu di Jepang pada tahun 2012 adalah
sebesar 21,47%. Analisa mengenai produk sirip ikan hiu di pasar Jepang akan
disampaikan pada Bab II.
1.2 Profil Jepang
Jepang adalah negara kepulauan yang juga memiliki julukan sebagai
negara Matahari Terbit dan negeri Sakura. Jepang yang beribukota di Tokyo
merupakan negara industri dengan GDP terbesar ke-3 setelah Amerika Serikat
dan China. Sistem pemerintahan Jepang adalah monarki konstitusional dengan
sistem parlementer, dengan kaisar (tennō heika) sebagai kepala negara, dan
perdana menteri sebagai kepala pemerintahan yang dipilih oleh parlemen.
Parlemen di Jepang terdiri dari dua majelis: Majelis Rendah Jepang (House of
Representatives) dan Majelis Tinggi Jepang (House of Councillors).
Menurut Geospatial Information Authority of Japan, luas negara Jepang
yang berpenduduk 126 juta (menurut sensus tahun 2012) ini adalah sebesar
377.959km2. Jepang memiliki 6.800 pulau, dengan 4 pulau terbesar yaitu
Hokkaidō, Honshū, Shikoku, dan Kyūshū. Jepang secara geografis terletak di
kawasan Asia timur yang terpisah dari benua Asia, dan berada di sebelah barat
Samudera Pasifik. Adapun batas-batas negara Jepang adalah sebagai berikut:
utara adalah Laut Okhotsk, timur adalah Samudera Pasifik, selatan adalah Laut
Cina timur dan Laut Filipina, dan barat adalah Laut Jepang dan Selat Korea.
Jepang memiliki mata uang Yen (¥). Kegiatan ekonomi utama Jepang
adalah industri, pertanian, perikanan, pertambangan, perhubungan, dan
perdagangan. Rasio swasembada pangan di Jepang adalah 40%, sehingga
Jepang sangat tergantung pada impor bahan makanan dari luar negeri. Kota-kota
perdagangan utama di Jepang adalah Tokyo, Osaka, dan Nagoya. Tokyo adalah
BAB II
POTENSI PASAR JEPANG
2.1 Ekspor Impor Produk Sirip Ikan Hiu Jepang - Dunia
Jepang merupakan negara produsen dan pengekspor produk sirip ikan hiu
ke berbagai negara di dunia. Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.1, negara
tujuan utama ekspor produk sirip ikan hiu adalah Hongkong (56,78%), China
(13,7%), Singapura (11,53%), Afrika Selatan (9,3%), dan Spanyol (7,69%).
Indonesia juga merupakan tujuan ekspor Jepang dan berada di peringkat ke-7
dunia dan peringkat ke-2 ASEAN dengan pangsa pasar sebesar (0,01%). Pada
Tabel 2.2 Impor Sirip Ikan Hiu Jepang dari Dunia
Catatan: n/a digunakan bila data tidak tersedia.
Dibanding dengan nilai ekspor sirip ikan hiu Jepang ke dunia, nilai impor
Jepang dari dunia lebih tinggi sekitar 26%. Dari Tabel 2.2, dapat dilihat bahwa
total impor sirip ikan hiu Jepang pada tahun 2012 adalah sebesar US$ 6,389 juta.
Lima negara utama pengekspor sirip ikan hiu ke Jepang adalah China (42,31%),
Indonesia (21,47%), Peru (17,26%), Brasil (9,19%), dan Spanyol (3,77%).
Negara ASEAN lainnya yang tercatat mengekspor produk sirip ikan hiu ke
Jepang adalah Singapura (1,52%).
2.2 Potensi Pasar Ekspor Sirip Ikan Hiu ke Jepang
Perbedaan nilai ekspor dan impor sirip ikan hiu Jepang dengan dunia pada
tahun 2012 walau secara nilai hanya berbeda sekitar 26%, namun bila dilihat
secara kuantitas (total berat) ekspor dan impor sirip ikan hiu Jepang dengan
Tabel 2.3 Perbandingan Ekspor dan Impor Sirip Ikan Hiu Jepang dengan Dunia Tahun 2012
Total Nilai (ribu US$) Total Berat (kg)
Ekspor
ikan hiu yang memiliki nilai rendah, dan mengimpor sirip ikan hiu yang memiliki
nilai tinggi. Hal ini mengindikasikan potensi pasar ekspor produk sirip ikan hiu ke
Jepang untuk produk berkualitas tinggi.
Tabel 2.4 memperlihatkan lebih rinci potensi ekspor Indonesia untuk
produk sirip ikan hiu ini. Dengan kapasitas ekspor sirip ikan hiu Indonesia ke
dunia sebesar US$ 6 juta, dan nilai impor Jepang dari dunia sebesar US$ 6,389
juta, maka terlihat bahwa Indonesia masih memiliki potensi sebesar US$ 4,628
juta untuk mengekspor sirip ikan hiu ke Jepang.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa potensi Indonesia mereguk
pasar/share yang lebih besar untuk produk sirip ikan hiu di Jepang masih sangat
terbuka.
Tabel 2.4 Potensi Ekspor Sirip Ikan Hiu Indonesia ke Jepang tahun 2012
HS code Produk Impor Jpn dr Ina Ekspor Ina ke Dunia Impor Jpn dr Dunia
Potensi Perdagangan
Ina
0305.59.10.00 Sirip Ikan Hiu 1,372 6 6,389 4,628
2.3 Kebijakan Impor Sirip Ikan Hiu di Jepang
Untuk impor produk sirip ikan hiu, regulasi yang berlaku di Jepang adalah
Food Sanitation Act dan Custom Law. Berdasarkan Food Sanitation Law,
komponen kimia yang tercantum pada Tabel 2.5 tidak boleh melebihi batas
maksimum residu yang ditetapkan oleh Ministry of Health, Labour and Welfare di
Jepang. Selain itu, komponen kimia Hydrogen Peroxide tidak boleh terdeteksi
pada produk sirip ikan hiu. Untuk kandungan bakteri, total viable count (TVC)
bakteri tidak boleh melebihi 3000 per gram, dan bakteri E. coli harus terdeteksi
negatif.
Selain sanitasi, kebijakan impor lainnya yang perlu mendapat perhatian
adalah tarif bea masuk untuk impor sirip ikan hiu ini. HS 0305.71 termasuk dalam
kategori X dalam perjanjian ekonomi bilateral Indonesia dan Jepang (Indonesia -
Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), yang berarti termasuk produk
yang tidak dimasukkan untuk pengurangan dan peniadaan tarif bea masuk. Tarif
bea masuk yang diaplikasikan untuk impor sirip ikan hiu dari Indonesia adalah
tarif MFN, yaitu sebesar 10,5%. Tarif yang sama dikenakan untuk negara-negara
asal impor lainnya yang tertera pada Tabel 2.2.
Selain kebijakan impor yang berlaku, untuk penjualan di dalam negeri
Jepang berlaku JAS Law yang mengatur standarisasi label yang mewajibkan
Tabel 2.5 Batas residu maksimum (MRL) komponen zat kimia pada sirip ikan hiu
Agricultural Chemical MRLs(ppm) Agricultural Chemical MRLs(ppm) Agricultural Chemical MRLs(ppm)
ALDRIN and
DIELDRIN 0.1
DIPROPYL
ISOCINCHOMERONA TE
0.004 METOCLOPRAMIDE 0.005
ALTRENOGEST 0.003 DIQUAT 0.1 NAFCILLIN 0.005
AMOXICYLLIN 0.05 DIURON 2 NEOMYCIN 0.5
AMPICILLIN 0.05 EMAMECTIN BENZOATE 0.0005 NORGESTOMET 0.0001
BENZOCAINE 0.05 ENDOSULFAN 0.004 ORMETOPRIM 0.1
BENZYLPENICILLIN 0.05 ENDRIN 0.005 OXACILLIN 0.3
BETAMETHASONE 0.0003 ERYTHROMYCIN 0.2 OXOLINIC ACID 0.05
BRODIFACOUM 0.001 ETHOXYQUIN 1 PINDONE 0.001
BROMIDE 50 EUGENOL 0.05 PIPERAZINE 0.05
BROTIZOLAM 0.001 FAMPHUR 0.02 PREDNISOLONE 0.0007
BUTYLHYDROXYANI
SOL 0.5 FENAMIPHOS 0.005 SIMAZINE 10
CANTHAXANTHIN 0.1 FENITROTHION 0.002 SODIUM
NIFRUSTYRENATE 0.05
CARFENTRAZONE-E
THYL 0.3 FENPYROXIMATE 0.005 SPECTINOMYCIN 0.3
CHLORDANE 0.05 FLORFENICOL 0.2 SULFADIMETHOXIN
E 0.1
CHLORMADINONE 0.002 FLUMEQUINE 0.6 SULFAMONOMETHO
XINE 0.1
CLENBUTEROL N.D. (Not
Detected) FLUMETHRIN 0.005 SULFISOZOLE 0.1
CLORSULON 0.02 FLURIDONE 0.5 SULFOSULFURON 0.005
CLOSTEBOL 0.0005 GLYCALPYRAMIDE 0.03 TEFLUTHRIN 0.001
CLOXACILLIN 0.3 GLYPHOSATE 0.3 TETRACONAZOLE 0.0003
CYPERMETHRIN 0.01 HEPTACHLOR 0.05 THIABENDAZOLE 0.02
CYPRODINIL 0.0004 HEXACHLOROBENZ
ENE 0.1
PHOSPHIDE 0.01 TRICHLORFON 0.01
DANOFLOXACIN 0.1 IMAZAPYR 1 TRICLOPYR 3
DDT 3 ISOEUGENOL 100 TRIFLURALIN 0.001
DELTAMETHRIN and
TRALOMETHRIN 0.01 LASALOCID 0.005 TRIMETHOPRIM 0.05
DEXAMETHASONE N.D. LINCOMYCIN 0.1 TYLOSIN 0.1
DIBUTYLHYDROXYT
OLUENE 10 LINDANE 1 WARFARIN 0.001
DICLOXACILLIN 0.3 MALATHION 0.5 ZERANOL 0.002
DIPHENYLAMINE 0.0004 METHIDATHION 0.001
2.4 Saluran Distribusi Produk Sirip Ikan Hiu di Jepang
Gambar 2.1 mendeskripsikan alur distribusi produk sirip ikan hiu dari
nelayan, lalu diekspor dan sampai ke tangan konsumen.
Nelayan yang menangkap ikan hiu menjual sirip ikan hiu kepada
pedagang/broker yang kemudian memasok sirip ikan hiu tersebut kepada
eksportir. Sirip ikan hiu yang masuk ke Jepang ada yang didistribusikan ke
perusahaan pengolah makanan (industri) yang akan membuat produk kalengan
atau produk lainnya (lihat Gambar 2.2). Sirip ikan hiu yang masuk ke restoran,
dihidangkan kepada konsumer sebagai masakan sup fukahire, fukahire ramen,
dan sebagainya (lihat Gambar 2.3).
Primary Wholesaler Importer
Fishermen
Exporter Local Broker
Industry Secondary Wholesaler
Retailers, Restaurants
(a) Ramen Instan dengan Fukahire (b) Sup Fukahire
Gambar 2.2 Contoh produk yang menggunakan Fukahire
(a) Sup Fukahire (b) Nasi Goreng Fukahire
(c) Fukahire Ramen (d) Fukahire Sugatani
2.5 Hambatan Lainnya
Beberapa hal yang dapat menghambat peningkatan ekspor HS 0714 ke
Jepang adalah sebagai berikut.
(a) Tarif bea masuk. Tarif bea masuk yang dikenakan untuk impor sirip ikan hiu
dari Indonesia adalah 10,5%. Negara-negara ASEAN berikut ini belum
tercatat sebagai eksportir sirip ikan hiu ke Jepang, namun memiliki potensi
untuk mengekspor sirip ikan hiu ke Jepang dan memiliki keuntungan dalam
hal tarif bea masuk dibanding Indonesia. Kamboja bebas tarif bea masuk.
Thailand dikenakan tarif bea masuk hanya 2,6%, Vietnam 3,5%, dan Filipina
3,9%. Negara-negara ASEAN ini akan menjadi pesaing bila mulai menggarap
pasar sirip ikan hiu di Jepang.
(b) Kontrol kualitas. Dalam berita pelanggaran impor produk makanan yang
dikeluarkan oleh Ministry of Health, Labour and Welfare di Jepang, sirip ikan
hiu dari Indonesia pernah tercatat terdeteksi mengandung bakteri E. Coli atau
Hydrogen Peroxide, sehingga produk tersebut harus dibuang. Pada
Desember 2012 yang lalu, tercatat sirip ikan hiu dari Indonesia terpaksa
harus dibuang karena total viable count bakterinya melebihi batas yang
ditentukan. Kontrol kualitas ini perlu diperhatikan untuk mendapatkan pangsa
pasar yang lebih besar di Jepang.
(c) Pembatasan penangkapan ikan hiu spesies tertentu. Konvensi perdagangan
internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam (CITES) dalam
Kelima spesies ikan hiu tersebut adalah spesies Carcharhinus longimanus
(bahasa Indonesia: hiu samudra berujung putih), spesies Lamna nasus
(bahasa Indonesia: hiu gergaji), dan spesies Sphyrma lewini, Sphyrma
mokarran, Sphyrna zigaena (di Indonesia, ketiganya dikenal dengan sebutan
hiu martil). Jenis-jenis ikan hiu yang dibatasi perdagangannya ini juga
ditemukan di Indonesia sehingga tentunya akan mengurangi produksi sirip
ikan hiu Indonesia. Di sisi lain, pembatasan penangkapan ikan hiu ini
memang perlu dilaksanakan untuk melestarikan spesies-spesies ikan hiu ini
supaya tidak punah.
(d) Kendala bahasa/komunikasi. Ada kendala bahasa/komunikasi antara
pengusaha produk sirip ikan hiu di Indonesia dengan importir Jepang karena
keterbatasan pihak Jepang dalam penggunaan bahasa Inggris, dan hal ini
dapat menghambat proses transaksi.
(e) Pemasaran dan promosi. Masih sangat sedikit promosi produk sirip ikan hiu
dari Indonesia kepada masyarakat Jepang. Pengusaha produk sirip ikan hiu
BAB III
PELUANG DAN STRATEGI
3.1 Peluang
a. Bentuk Kerjasama
Dengan hubungan bilateral yang terbina baik antara Indonesia dan Jepang,
Indonesia memiliki keuntungan untuk mengundang lebih banyak investor dari
Jepang untuk mengembangkan produksi sirip ikan hiu di Indonesia.
b. Harga Per Unit
Tabel 3.1 memaparkan secara rinci harga per kilogram komoditi sirip ikan
hiu dan selisih harga dari eksportir utama yaitu China. Peru adalah satu-satunya
eksportir yang mempunyai harga satuan di bawah China yaitu 13.070 JPY per
kilogram, atau 120 JPY lebih murah. Harga komoditi sirip ikan hiu dari Indonesia
sebesar 18.125 JPY, atau lebih mahal 4.935 JPY dari China. Sementara itu,
harga komoditi sirip ikan hiu dari Brasil dan Spanyol jauh lebih mahal
dibandingkan dengan Indonesia. Brasil dan Spanyol secara total memegang
hampir 13% pangsa pasar di Jepang. Dengan demikian, Indonesia memiliki
peluang untuk memperbesar pangsa pasar di Jepang bila dapat mengatur
strategi pasar yang lebih agresif untuk merebut pangsa pasar yang dimiliki Brasil
dan Spanyol. Pada saat yang bersamaan, perlu tetap memperhatikan dinamika
pasar agar posisi Indonesia tidak tergeser oleh Peru yang saat ini berada di posisi
Tabel 3.1 Harga Invoice Rata-Rata Impor Sirip Ikan Hiu Jepang dari Dunia Per Kilogram Tahun 2012
Rank Eksportir Harga per kg
(dalam Yen)
Sumber: Trade Statistics of Japan
c. Hubungan bilateral Jepang dengan negara pesaing
Sejak tahun 2012, hubungan bilateral Jepang dengan China tidaklah baik.
Kondisi ini sedikit banyak menimbulkan keengganan dari perusahaan-
perusahaan Jepang untuk bertransaksi dengan China. Kondisi ini merupakan
momentum yang baik bagi Indonesia untuk lebih mereguk pasar/share yang lebih
besar.
d. Kualitas yang diakui
Dari Tabel 3.1, dapat dilihat bahwa walaupun nilai per unit sirip ikan hiu
dari Indonesia lebih mahal dibandingkan Peru dan Singapura, namun pada tahun
2012, Indonesia dapat memegang posisi kedua. Hal ini mengindikasikan adanya
pengakuan atas kualitas sirip ikan hiu dari Indonesia. Pada Bab 2 bagian 2, telah
disampaikan bahwa Tabel 2.3 mengindikasikan potensi pasar ekspor produk sirip
3.2 Strategi
Dengan melihat fenomena secara umum dan mempertimbangkan
peluang-peluang yang tertera di atas, hal-hal berikut direkomendasikan bagi
dunia usaha Indonesia untuk dapat meningkatkan pangsa pasar untuk produk
sirip ikan hiu di Jepang.
a. Berpartisipasi dalam pameran dagang di Jepang. Pameran yang terkait
produk sirip ikan hiu dilaksanakan setiap tahunnya di Jepang. Para
pengusaha produk sirip ikan hiu di Indonesia kiranya dapat proaktif untuk
berpartisipasi mengikuti pameran sehingga keberadaan produk sirip ikan hiu
dari Indonesia dapat semakin dikenal di Jepang.
b. Proaktif dengan Perwakilan Dagang di Jepang. Para pengusaha produk sirip
ikan hiu di Indonesia diharapkan dapat secara proaktif menghubungi
perwakilan dagang luar negeri Indonesia di Jepang (Tokyo dan Osaka) untuk
meminta informasi pameran dan perkembangan terkait produk sirip ikan hiu
ini, maupun untuk bantuan prasarana kerjasama dengan pihak Jepang.
c. Membina terus hubungan yang baik dengan pembeli dari Jepang. Bila
berhasil bertransaksi dengan importir Jepang, pengusaha produk sirip ikan
hiu di Indonesia harus berusaha untuk terus menjaga kualitas produk
sehingga tetap terjalin hubungan saling percaya yang baik dengan importir
Jepang tersebut. Melalui hubungan yang baik dengan pembeli dari Jepang,
pengusaha Indonesia juga dapat meminta bantuan pembeli dari Jepang
d. Memberikan penyuluhan kepada para nelayan. Pengusaha di Indonesia perlu
aktif untuk mengajak pemerintah bekerja sama dalam memberikan
penyuluhan kepada para nelayan. Nelayan perlu diberikan penyuluhan untuk
dapat membedakan spesies yang langka dengan yang tidak langka,
sehingga nelayan tidak sembarang menangkap ikan hiu. Penyuluhan secara
teknologi juga perlu diberikan sehingga nelayan dapat meningkatkan
produktifitas penangkapan ikan hiu.
e. Mengembangkan bisnis pembudidayaan ikan hiu. Saat ini Indonesia memiliki
penangkaran ikan hiu di Pulau Menjangan Besar (Jawa Tengah) yang
menangkar ikan hiu spesies Carcharhinus melanopterusm (lihat Gambar 3.1),
dan di Pulau Nusa Keramba (Kepulauan Seribu) (lihat Gambar 3.2). Namun,
penangkaran ikan hiu ini hanya memelihara ikan-ikan hiu yang masih kecil
dan kemudian dilepas setelah agak besar. Penangkaran yang ada tidak
diproyeksikan untuk mengembangbiakkan ikan hiu, dan lebih digunakan
sebagai sarana pariwisata. Di tengah adanya tekanan dari pecinta lingkungan
untuk menghentikan penangkapan ikan hiu, pengembangan bisnis
pengembangbiakan ikan hiu untuk konsumsi perlu dipikirkan, sehingga
produksi sirip ikan hiu tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada hasil
tangkapan alam. Walaupun Indonesia memiliki wilayah lautan yang sangat
luas, pembudidayaan ikan hiu tentunya tidak akan dapat terlaksana tanpa
dukungan dari pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan
Perikanan, serta pemerintah daerah. Perencanaan dan pelaksanaannya pun
Gambar 3.1 Penangkaran ikan hiu di Pulau Menjangan Besar
Gambar 3.2 Penangkaran ikan hiu di Pulau Nusa Keramba
f. Pendayagunaan bagian lain dari ikan hiu selain sirip ikan hiu itu sendiri. Salah
satu hal yang terjadi di lapangan yang menjadi sorotan kelompok yang
menentang penangkapan ikan hiu adalah adanya kecenderungan nelayan
yang menangkap ikan hiu hanya memotong sirip ikan hiu dan kemudian
sirip ikan hiu perlu dipikirkan dengan baik. Sebagai contoh, daerah
Kesennuma yang terkenal dengan produk fukahire ini juga mengembangkan
industri yang menggunakan kulit ikan hiu. Gambar 3.3 memperlihatkan
contoh produk-produk yang dibuat dari kulit ikan hiu. Produk-produk ini dijual
dengan harga yang relatif tidak murah. Pengembangan industri yang
menggunakan bagian lain dari ikan hiu ini akan membantu pengembangan
bisnis pembudidayaan ikan hiu, yang tentunya akan berhubungan dengan
produksi sirip ikan hiu.
BAB IV INFORMASI PENTING
1. Perwakilan Jepang di Indonesia
Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Duta Besar: Mr. Yoshinori Katori
Jl. M.H. Thamrin Kav.24, Jakarta Pusat 10350, Indonesia Phone: (021) 3192-4308
Fax: (021) 3192-5460
Website: www.id.emb-japan.go.jp
Kantor Konsuler Jepang di Makassar
Kepala Kantor Konsuler: Mr. Shingo Higashimoto Jl. Jenderal Sudirman No.31, Makassar, Indonesia Phone: (0411) 871-030, 872-323
Fax: (0411) 853-946
Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya Konsul Jenderal: Mr. Noboru Nomura Jl. Sumatera No. 93, Surabaya, Indonesia Phone : (031) 503-0008
Fax : (031) 503-0037, 502-3007
Website : www.surabaya.id.emb-japan.go.jp
Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar Konsul Jenderal: Mr. Minoru Shirota
Jl. Raya Puputan No.170, Renon, Denpasar, Bali, Indonesia Phone : (0361) 227-628
Fax : (0361) 265-066
Website : www.denpasar.id.emb-japan.go.jp
Konsulat Jenderal Jepang di Medan Konsul Jenderal: Mr. Yūji Hamada Wisma BII, 5th floor
2. Kamar Dagang Jepang
The Tokyo Chamber of Commerce & Industry
Head Office: 3-2-2, Marunouchi, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0005, Japan Phone: +81-3-3283-7523
Fax: +81-3-3216-6497 Website: www.tokyo-cci.or.jp
3. Asosiasi Terkait Produk Sirip Ikan Hiu di Jepang
Japan Fisheries Association Sankaido Bld.,
1-9-13, Akasaka, Minato-ku, Tokyo-107-0052, Japan Phone: +81-3-3585-6681
Fax: +81-3-3582-2337
Webiste: http://www.suisankai.or.jp
4. Daftar Pameran Terkait Produk HS 0714 di Jepang
FOODEX
Website: www3.jma.or.jp/foodex Phone: +81-3-3434-3453
Gourmet & Dining Style Show
Website: www.gourmetdiningstyleshow.com Phone: +81-3-3843-9850
International Hotel & Restaurant Show Website: www.jma.or.jp/hcj
Phone: +81-3-3434-1377
International Food Expo UTAGE in Osaka Website: www.shokuhaku.gr.jp
Phone: +81-6-7688-0377
5. Perwakilan Indonesia di Jepang
KBRI Tokyo
Duta Besar: Bpk. Muhammad Lutfi
Atase Perdagangan: Ibu Julia Gustaria Silalahi
5-2-9, Higashi Gotanda, Shinagawa-ku, Tokyo 141-0022, Japan Phone: +81-3-3441-4201
Fax: +81-3-3447-1697 E-mail: [email protected] Website: kbritokyo.jp
KJRI Osaka
Konsul Jenderal: Bpk. Ibnu Hadi Resona Senba Building 6th Floor
4-4-21, Minami Senba, Chuo-ku, Osaka 542-0081, Japan Phone: +81-6-6252-9826
Fax: +81-6-6252-9872
E-mail: [email protected] Website: www.indonesia-osaka.org
ITPC Osaka
Kepala: Ibu Rosiana Christina Frederick Wakil Kepala: Bpk. Eko Priyantoro
ITM 4-J-8, Asia and Pacific Trade Center
2-1-10, Nanko Kita, Suminoe-ku, Osaka 559-0034, Japan Phone: +81-6-6615-5350
REFERENSI
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 2010.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Buku Tarif Kepabeanan Indonesia Tahun 2012.
Fisheries Research Agency. http://www.fra.affrc.go.jp
International Trade Center. http://www.trademap.org
Japan Customs, January 2013, http://www.customs.go.jp
JETRO, Handbook for Agricultural and Fishery Products Import Regulations 2009, published on February 2010 by Japan External Trade Organization.
The Japan Food Chemical Research Foundation. http://www.ffcr.or.jp
Konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam (CITES). http://www.cites.org
Nurdin Manik. Mengenal Beberapa Jenis Hiu, Oseana, Volume XXIX, Nomor 1, pp. 9-17, 2004
Trade Statistics of Japan, Ministry of Finance. http://www.customs.go.jp/toukei/info/index_e.htm