BAB II
LANDASAN TEORI
A. Psychological Well-Being 1. Definisi psychological well-being
Teori psychological well-being pertama kali dikembangkan oleh Carol D. Ryff pada tahun 1989. Menurut Bradburn (dalam Ryff & Keyes, 1995), psychological well-being merujuk pada suatu konsep yang berkaitan dengan apa yang dirasakan individu mengenai aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Psychological well-being juga berkaitan dengan pengungkapan perasaan-perasaan pribadi atas apa yang dirasakan oleh individu atas pengalaman hidupnya. Dengan kata lain, segala aktivitas yang dilakukan oleh individu yang berlangsung setiap hari dimana dalam proses tersebut kemungkinan mengalami fluktuasi pikiran dan perasaan yang dimulai dari kondisi mental negatif sampai pada kondisi mental positif, misalnya dari trauma sampai penerimaan hidup, dinamakan psychological well-being.
Selanjutnya, Ryff (dalam Ryff & Keyes, 1995) menambahkan bahwa psychological well-being merupakan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi positif dengan orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan lingkungan, dan terus bertumbuh secara personal. Konsep Ryff tersebut berawal dari adanya keyakinan bahwa kesehatan yang positif tidak sekedar tidak adanya penyakit fisik saja, namun juga terdiri dari adanya kebutuhan untuk merasa baik secara psikologis.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa psychological well-being adalah suatu keadaan dimana individu dapat menggali potensi yang dimilikinya pada setiap aktivitas dan pengalaman hidupnya, apakah individu tersebut memilih bersikap pasrah atau berusaha untuk memperbaiki kondisi kehidupannya.
2. Dimensi psychological well-being
Menurut Ryff (dalam Ryff & Keyes, 1995), pondasi untuk diperolehnya psychological well-being adalah kondisi psikologis individu yang dapat berfungsi secara positif (positive psychological functioning), antara lain:
a. Penerimaan diri (self-acceptance)
Ryff (1989) menandakan psychological well-being yang tinggi. Individu yang memiliki tingkat penerimaan diri yang baik ditandai dengan bersikap positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek yang ada dalam dirinya baik positif maupun negatif, dan memiliki pandangan positif terhadap masa lalu. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang memiliki tingkat penerimaan diri yang kurang baik memunculkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri, merasa kecewa dengan pengalaman masa lalu, dan mempunyai pengharapan untuk tidak menjadi dirinya saat ini.
b. Hubungan positif dengan orang lain (positive relationships with others)
Dimensi ini berulang kali ditekankan sebagai dimensi yang penting dalam konsep psychological well-being. Ryff menekankan pentingnya menjalin hubungan saling percaya dan hangat dengan orang lain. Dimensi ini juga menyebutkan adanya kemampuan lain yang merupakan salah satu komponen kesehatan mental, yaitu kemampuan untuk mencintai orang lain. Individu yang tinggi atau baik dalam dimensi ini ditandai dengan adanya hubungan yang hangat, memuaskan, dan saling percaya dengan orang lain. Selain itu, ia juga mempunyai rasa afeksi dan empati yang kuat. Sebaliknya, individu yang hanya mempunyai sedikit hubungan dengan orang lain, sulit untuk bersikap hangat dan enggan untuk mempunyai ikatan dengan orang lain, menandakan bahwa ia kurang baik dalam dimensi ini.
c. Otonomi (autonomy)
Apabila seseorang mampu untuk menolak tekanan sosial agar berpikir dan bertingkah laku dengan cara-cara tertentu, serta dapat mengevaluasi diri sendiri dengan standar personal, menandakan bahwa ia baik dalam dimensi ini. Sebaliknya, individu yang kurang baik dalam dimensi otonomi akan memperhatikan harapan dan evaluasi dari orang lain, membuat keputusan berdasarkan penilaian orang lain, dan cenderung bersikap konformis.
d. Penguasaan lingkungan (environmental mastery)
Individu dengan psychological well-being yang baik memiliki kemampuan untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi fisik dirinya. Dengan kata lain, ia mempunyai kemampuan dalam menghadapi kejadian-kejadian di luar dirinya. Hal inilah yang dimaksud dalam dimensi ini mampu untuk memanipulasi keadaan sehingga sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadi yang dianutnya dan mampu untuk mengembangkan diri secara kreatif melalui aktivitas fisik maupun mental. Sebaliknya individu yang kurang baik dalam dimensi ini akan menampakkan ketidakmampuan untuk mengatur kehidupan sehari-hari dan kurang memiliki kontrol terhadap lingkungan luar.
e. Tujuan hidup (purpose in life)
mempunyai dimensi tujuan hidup yang baik. Sebaliknya, seseorang yang kurang baik dalam dimensi ini mempunyai perasaan bahwa tidak ada tujuan yang ingin dicapai dalam hidup, tidak melihat adanya manfaat dalam masa lalu kehidupannya, dan tidak mempunyai kepercayaan yang dapat membuat hidup lebih berarti.
f. Pertumbuhan pribadi (personal growth)
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being
Melalui berbagai penelitian yang dilakukannya, Ryff menemukan bahwa faktor-faktor sosiodemografis dapat mempengaruhi psychological well-being seseorang. Faktor-faktor tersebut, antara lain:
a. Usia
Ryff (1989) menemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada individu dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan, terlihat profil yang meningkat seiring dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia seseorang, semakin ia dapat mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Dengan demikian, individu tersebut juga semakin mampu mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan keadaan dirinya. b. Jenis kelamin
lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan dengan orang lain.
c. Status sosial ekonomi
Ryff dkk. (dalam Ryan & Deci, 2001) mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status sosial ekonomi rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik dari dirinya (Ryff dalam Snyder & Lopez, 2002). Individu dengan tingkat penghasilan yang tinggi, status menikah, dan mempunyai dukungan sosial tinggi pada umumnya akan memiliki tingkat psychological well-being yang lebih tinggi.
d. Tingkat pendidikan
Ryff, Magee, Kling, & Wling (dalam Snyder & Lopez, 2002) menemukan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap psychological well-being seorang individu. Individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik biasanya akan memiliki psychological well-being yang lebih baik pula.
e. Budaya
timur yang menjunjung tinggi kolektivisme memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.
B. Problem-Solving Therapy
Problem-solving therapy merupakan salah satu bentuk intervensi yang menggunakan pendekatan cognitive-behavioral therapy (CBT) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu dalam mengatasi berbagai kesulitan di dalam hidupnya. Asumsi dasar dari pendekatan CBT ini adalah adanya simptom-simptom psikopatologi yang seringkali merupakan konsekuensi-konsekuensi negatif dari coping yang maladaptif dan tidak efektif (Nezu & Nezu, 2009).
1. Definisi problem-solving therapy
Problem-solving therapy adalah suatu intervensi klinis pendekatan positif yang berfokus pada pelatihan untuk membangun sikap dan keterampilan pemecahan masalah. Problem-solving therapy dapat digunakan untuk mengurangi dan/atau mencegah gejala psikopatologis dan meningkatkan kesejahteraan yang positif dengan membantu individu untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya di dalam kehidupan secara efektif (D‟Zurilla & Nezu, 2010).
Metode problem-solving bertujuan untuk melatih individu agar mampu berpikir logis dalam usaha menemukan solusi-solusi yang tepat atas permasalahan yang dihadapinya. Secara lebih terperinci, D‟Zurilla & Nezu (2010) menyatakan
mengurangi orientasi-orientasi negatif individu; (c) membantu individu agar mampu menggunakan pemecahan masalah secara rasional; (d) mengurangi kecenderungan individu menghindari pemecahan masalah; dan (e) meminimalisir kecenderungan individu untuk bertindak impulsif dan tidak peduli.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa problem-solving therapy adalah suatu metode intervensi yang digunakan untuk mengurangi dan/atau mencegah gejala psikopatologis dan meningkatkan kesejahteraan individu dengan cara menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.
2. Konsep teori problem-solving therapy
Problem-solving therapy merupakan salah satu bentuk dari cognitive behavioral therapy. Teori yang mendasari problem-solving therapy ini terdiri atas dua model konseptual yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu:
a. The social problem-solving model
yang dapat mempertahankan keberhasilan suatu intervensi (D‟Zurilla & Nezu, 2010).
Ada tiga konsep utama dalam teori social problem-solving, yakni: (1) social problem-solving, (2) masalah, dan (3) solusi. ”Social problem-solving”
adalah proses untuk mengarahkan diri baik perilaku maupun kognitif yang dilakukan oleh seorang individu, pasangan, ataupun kelompok dalam upaya mengidentifikasi atau menemukan solusi atas suatu masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. ”Masalah” (atau situasi masalah) merupakan ketidakseimbangan atau kesenjangan antara keinginan untuk mengatasi masalah secara adaptif dengan ketersediaan respon yang efektif. Sementara itu, ”solusi”
adalah respon dalam menghadapi suatu situasi atau pola respon yang merupakan hasil dari proses pemecahan masalah yang digunakan ketika suatu masalah terjadi (D‟Zurilla & Nezu, 2010).
Berbagai penelitian membuktikan bahwa bila individu memiliki kemampuan social problem-solving, baik berdiri sendiri maupun disertai dengan dukungan sosial, dapat mengurangi ataupun meminimalisir dampak dari stress yang dialami oleh individu tersebut (Dubow & Tisak, Dubow dkk., D‟Zurilla &
b. The relational/problem-solving model of stress and well-being
Dalam problem-solving therapy, simptom-simptom psikopatologi dapat dipahami dan dicegah atau ditangani secara efektif apabila simptom-simptom tersebut dianggap sebagai perilaku coping yang tidak efektif atau maladaptif dan menyebabkan munculnya konsekuensi-konsekuensi negatif baik secara psikologis maupun sosial, seperti kecemasan, depresi, harga diri yang rendah, dan terganggunya keberfungsian interpersonal. Oleh karena itu, teori problem-solving therapy juga didasari pada relational/problem-solving model of stress and well-being dimana konsep social problem-solving berperan penting sebagai strategi coping yang utama dan serbaguna. Strategi tersebut bertujuan meningkatkan fungsi adaptif dan well-being (kesejahteraan), atau dengan kata lain mengurangi dan mencegah dampak negatif stress terhadap well-being dan penyesuaian (adjustment) individu (D‟Zurilla & Nezu, 2010).
Model relational/problem-solving menggabungkan model stress yang dikemukakan oleh Lazarus dengan model social problem-solving yang telah dikemukakan sebelumnya (Bell & D‟Zurilla, 2009; D‟Zurilla & Nezu, 2010).
”Stressful life events” merupakan pengalaman-pengalaman hidup yang
dialami seorang individu dan membutuhkan penyesuaian baik secara pribadi, sosial, maupun biologis. Ada dua jenis stressful life events, yakni major negative event (kejadian besar yang bersifat negatif) dan daily problems (masalah dalam kehidupan sehari-hari). ”Major negative event” merupakan pengalaman hidup yang mempengaruhi keseluruhan aspek kehidupan seorang individu sehingga memerlukan banyak penyesuaian di dalam kehidupannya (misalnya: perceraian, kematian orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, penyakit yang dialami). Sebaliknya ”daily problems” merupakan kejadian-kejadian di dalam kehidupan
yang sifatnya lebih spesifik. Meskipun terjadinya major negative event dan daily problems tidak bersamaan, kedua hal tersebut bisa saling berkaitan. Misalkan major negative event, seperti perceraian, biasanya menyebabkan daily problems yang dapat menyebabkan stress (misalnya: ketidakmampuan membayar tagihan, harus memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan anak-anak). Sebaliknya, akumulasi dari daily problems yang tidak dapat diselesaikan (misalnya: konflik rumah tangga, masalah pekerjaan, penggunaan alkohol yang berlebihan) juga dapat menyebabkan major negative event seperti perceraian (Bell & D‟Zurilla, 2009; D‟Zurilla & Nezu, 2010).
”Emotional stress” merupakan respon emosi individu terhadap peristiwa
yang dialami oleh individu. Emosi negatif biasanya mendominasi ketika individu menilai kejadian yang dialaminya sebagai hal yang mengancam kesejahteraannya, meragukan kemampuannya untuk melakukan coping secara efektif, dan coping yang dilakukan tidak efektif, maladaptif, atau berlawanan dengan diri sendiri. Sebaliknya emosi positif mendominasi ketika individu menganggap peristiwa yang dialaminya sebagai suatu tantangan atau kesempatan untuk maju, yakin bahwa ia mampu mengatasi masalahnya, dan melakukan respon coping yang efektif, adaptif, dan sesuai dengan diri sendiri (D‟Zurilla & Nezu, 2010).
Konsep yang paling penting pada model relational/problem-solving adalah ”problem-solving coping”, yakni proses yang menghubungkan semua penilaian
kognitif dan aktivitas coping dengan menggunakan kerangka social problem-solving secara umum. Seseorang dikatakan mampu menerapkan strategi coping secara efektif apabila menganggap kejadian yang dialaminya sebagai tantangan atau ”masalah yang harus diselesaikan”, yakin bahwa ia mampu menyelesaikan
masalahnya dengan baik, memahami masalah dan menetapkan tujuan dengan tepat, mampu menentukan berbagai alternatif solusi atau pilihan coping, memilih solusi yang terbaik atau paling efektif, mengimplementasikan solusi secara efektif, dan mengobservasi dan mengevaluasi hasilnya dengan hati-hati (D‟Zurilla & Nezu, 2010).
events yang dialami oleh individu dan well-being individu tersebut (D‟Zurilla; D‟Zurilla & Nezu; Nezu & D‟Zurilla dalam Bell & D‟Zurilla, 2009).
3. Tahapan-tahapan dalam problem-solving therapy
D‟Zurilla & Goldfried (dalam Martin & Pear, 2007) menetapkan enam
tahapan utama dalam problem-solving therapy, yakni: a. Orientasi umum (general orientation)
Klien diarahkan untuk memahami masalah yang dihadapinya dan menyadari bahwa besar kemungkinan mereka mampu mengatasinya secara sistematis tanpa harus bertindak impulsif. Pada saat menghadapi suatu masalah, klien dilatih untuk memikirkan beberapa pernyataan, seperti: ”Aku tahu bahwa aku
bisa apabila aku menyelesaikannya secara bertahap” atau ”Aku yakin aku akan mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik.”
b. Menguraikan masalah (problem definition)
Ketika diminta untuk menjelaskan masalah yang mereka hadapi secara spesifik, kebanyakan klien menjawabnya dengan pernyataan yang kurang jelas (misalnya: ”Belakangan ini aku sangat sedih”). Apabila latar belakang masalah
c. Menentukan berbagai alternatif solusi (generation of alternatives)
Setelah memahami masalah secara tepat, klien diminta untuk memikirkan berbagai solusi yang mungkin digunakan. Klien dibiarkan berpikir bebas dan menemukan solusi sebanyak-banyaknya meskipun solusi tersebut cenderung tidak mungkin untuk digunakan. Misalnya, beberapa solusi yang dipikirkan klien tersebut: (1) pindah, (2) belajar menerima kondisi yang berantakan, (3) berbicara secara asertif dengan teman serumah agar menjaga ruangan tetap rapi, (4) berusaha untuk membuat teman serumah bisa menjaga kerapian, (5) menegosiasikan perjanjian agar menjaga kerapian dengan teman serumah, (6) melempar barang-barang teman serumah lewat jendela, (7) menendang teman serumah keluar lewat jendela.
d. Pengambilan keputusan (decision making)
Pada tahapan ini, klien diajak untuk melihat setiap solusi yang telah dibuatnya secara seksama dan mengeliminasi solusi-solusi yang tidak mungkin digunakan, seperti poin (6) dan (7) di atas. Klien diminta untuk memikirkan apa saja dampak-dampak bila solusi-solusi tersebut digunakan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berdasarkan pertimbangan tersebut, klien diminta untuk memilih solusi mana yang paling tepat dari berbagai alternatif pilihan yang ada.
e. Implementasi (implementation)
memilih poin (5) sebagai solusi terbaik dalam mengatasi masalahnya, maka ia sebaiknya mempelajari dan memahami apa yang dimaksud dengan kontrak perilaku. Rencana-rencana klien seharusnya dibuat dengan langkah-langkah yang terperinci. Agar lebih mudah, klien dapat mengikuti rumus ‟SMART Action Plan’berikut ini (dalam Hatcher, Sharon, Blackett, & Collins, 2014): - Specific (spesifik) setiap aksi atau rencana harus dijabarkan secara
spesifik dan tidak ambigu.
- Measurable (dapat diukur) menetapkan jadwal pelaksanaan aksi atau rencana yang dibuat.
- Achievable (dapat dicapai) rencana harus realistik dan dapat dilakukan. - Relevant to the problem (sesuai dengan masalah) rencana dan solusi
yang dibuat harus benar-benar sesuai dengan masalah yang dihadapi. - Timebound (target waktu) membuat batasan waktu pada setiap rencana
sehingga klien dapat mengukur sejauh mana keberhasilan rencana tersebut. f. Verifikasi (verification)
C. Perceraian
1. Definisi perceraian
Berdasarkan arti harafiahnya, perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan bukan karena disebabkan kematian salah satu pasangan. Menurut Hurlock (1999), perceraian adalah kulminasi dari pernikahan yang buruk dan terjadi bila antara suami dan isteri sudah tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Stinson (dalam Saragih, 2008) menyatakan bahwa perceraian adalah suatu bentuk gangguan hubungan pernikahan yang dialami oleh orangtua dan dapat mempengaruhi hubungan orangtua dan anak. Perceraian dapat meningkatkan stress, berkurangnya waktu dan energi, serta dukungan emosional yang diberikan masing-masing pasangan.
Bhrem (2002) mendefinisikan perceraian sebagai berakhirnya sebuah hubungan pernikahan yang sebenarnya belum saatnya berakhir. Perceraian sering diartikan sebagai sesuatu hal yang dapat menyebabkan kehancuran. Akibat yang ditimbulkan tidak hanya mempengaruhi pasangan yang bercerai, tetapi juga berdampak pada anak. Argyle & Henderson (dalam Saragih, 2008) mengartikan perceraian sebagai terputusnya perjanjian pernikahan yang resmi oleh kedua pasangan.
2. Faktor-faktor penyebab perceraian
Dalam sebuah hubungan pernikahan, perpisahan antara suami isteri dapat disebut sebagai perceraian bila perpisahan tersebut telah disahkan oleh hukum/ undang-undang pernikahan yang berlaku. Menurut Undang-undang Pernikahan No. 1 Tahun 1974 Pasal 19 (dalam Saragih, 2008), perceraian antara suami dan isteri dapat terjadi karena sebab-sebab berikut:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain atau tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah pernikahan.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman/ penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan/ penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri.
f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
suami kurang memuaskan, permasalahan seksual yang disebabkan salah satu pasangan tidak mampu lagi memuaskan pasangannya.
Selanjutnya, sebuah studi yang dilakukan para psikolog dari Universitas Carolina Utara menyatakan bahwa lebih dari setengah pernikahan yang di dalamnya terjadi ketidaksetiaan dan perselingkuhan akan berakhir dengan perceraian. Perselingkuhan dan ketiaksetiaan merupakan penyebab utama terjadinya perceraian. Hasil penelitian Walthall (dalam Saragih, 2008) pada kasus-kasus perceraian di Jepang menunjukkan bahwa perceraian diajukan oleh wanita dikarenakan faktor menolak hidup bersama pasangan yang sudah pensiun dan karena pasangannya tidak memenuhi kriteria idamannya.
3. Tahap-tahap dalam proses perceraian
a. Perceraian finansial (financial divorce)
Perpisahan yang signifikan antara pasangan suami isteri adalah dalam hal keuangan, yakni suami tidak lagi berkewajiban untuk memberi uang belanja keluarga kepada isterinya. Demikian pula isteri tidak lagi memiliki hak untuk meminta jatah uang belanja keluarga, kecuali masalah keuangan yang dipergunakan untuk memelihara anak-anak mereka. Walaupun sudah bercerai, sebagai ayah, ia tetap berkewajiban untuk merawat, membiayai, dan mendidik anak-anaknya. Meski mereka sudah berstatus janda atau duda akibat perceraian, mereka tetap merupakan orangtua biologis bagi anak-anak yang dilahirkan dalam sebuah perkawinan yang sah sebagai anggota keluarga. Adanya fakta tersebut membawa konsekuensi kewajiban yang melekat secara alamiah bagi orangtua untuk tetap memberikan biaya perawatan dan pemeliharaan terhadap anak-anak, sampai mereka sudah mandiri atau menginjak usia tertentu (misalnya: usia 24 tahun, setelah lulus dari pendidikan sarjana).
b. Perceraian koparental (coparental divorce)
pasangan yang sudah bercerai biasanya akan membuat perjanjian-perjanjian yang disepakati bersama agar anak-anak benar-benar merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. Namun dalam kenyataannya, banyak orangtua yang merasa kecewa, terluka, dan depresif. Akibatnya, mereka tidak mampu melaksanakan tugas koparental secara utuh dan berkesinambungan. Peristiwa perceraian selalu membayangi pikiran dan perasaannya sehingga menyebabkan komitmen koparental terbengkalai. Pada akhirnya, anak-anak semakin menjadi korban penelantaran dari orangtua biologis (Satiadarma dalam Gunarsa, 2004). Anak-anak pun semakin terluka, kecewa, sedih, dan sakit hati atas perlakuan tersebut. Mereka tumbuh dan berkembang dalam suasana dan situasi yang tidak menguntungkan sehingga kelak dapat menjadi manusia dewasa yang tidak utuh dan mengalami gangguan keseimbangan jiwa. c. Perceraian hukum (law divorce)
Oleh karena itu, mereka berhak untuk menikah lagi dengan orang lain yang dianggap cocok dengan dirinya. Mereka tidak perlu merasa takut terhadap siapapun dalam mengambil keputusan tersebut karena telah bercerai resmi secara hukum. Dengan kata lain, mereka tidak dianggap berselingkuh apabila berpacaran, bertunangan, maupun menikah dengan orang lain.
d. Perceraian komunitas (community divorce)
yang menimbulkan perceraian tersebut. Setelah itu, barulah pemulihan hubungan dengan komunitas tempat bekerja dapat terjadi.
e. Perceraian secara psikoemosional (psychoemotional divorce)
Sebelum bercerai secara resmi, adakalanya masing-masing individu merasa jauh secara emosional dengan pasangan hidupnya, meskipun mungkin mereka masih tinggal dalam satu rumah. Pertemuan secara fisik, tatap muka, berpapasan, atau hidup serumah, bukan tolok ukur sebagai tanda keutuhan hubungan antara suami dan isteri. Masing-masing mungkin tidak bertegur sapa, berkomunikasi, acuh tak acuh, cuek, tidak saling memperhatikan, dan tidak memberikan kasih sayang. Kehidupan mereka terasa hambar, kaku, tidak nyaman, dan tidak bahagia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa walaupun secara fisik berdekatan, akan tetapi mereka merasa jauh dan tidak ada ikatan emosional sebagai pasangan suami isteri. Pada saat terjadinya perceraian, ikatan emosional yang telah terbentuk sejak jatuh cinta dan berkembang hingga akhirnya masing-masing pasangan mengucapkan ikrar kesetiaan dalam acara ritual perkawinan akhirnya hancur dan masing-masing mencoba untuk menekannya ke dalam alam bawah sadar. Mereka seolah-olah tidak pernah melakukan suatu perkawinan yang resmi atau menganggapnya hanya sebagai sebuah mimpi, sehingga pikiran dan perasaan mereka berusaha untuk meniadakan fakta sejarah perkawinan yang pernah mereka alami.
f. Perceraian secara fisik (physical divorce)
pasangan hidupnya. Masing-masing tinggal di rumah atau tempat yang berbeda. Mereka benar-benar tidak bertemu secara fisik dan tidak lagi berkomunikasi secara intensif. Dengan demikian, mereka tidak memperoleh kesempatan untuk melakukan hubungan seksual lagi dengan mantan pasangan hidupnya. Oleh karena itu, mereka harus menahan diri agar tidak menyalurkan libido seksual dengan siapapun. Perpisahan fisik biasanya terjadi setelah pasangan suami isteri berpisah secara hukum melalui pengadilan. Proses perpisahan secara fisik diawali dengan suatu kondisi psikoemosional yang tidak seimbang dalam diri masing-masing pasangan sehingga mendorong seorang pasangan untuk tidak bertemu muka, tidak berkomunikasi, dan saling mendiamkan pasangan.
4. Dampak perceraian terhadap anak
a. Prasekolah
Pada awal pemeriksaan, kelompok anak prasekolah menunjukkan masalah yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia di atasnya. Masalah utama pada anak kelompok usia ini adalah separation anxiety. Anak menjadi manja, bergantung pada orang lain, dan suka mencari perhatian. Beberapa anak menunjukkan perilaku regresif, seperti mengompol dan bermain kotor-kotoran, mengisap jempol, serta masturbasi.
b. Usia sekolah
Simptom-simptom yang ditunjukkan oleh kelompok anak usia sekolah pasca perceraian orangtua mereka tidak begitu tampak jelas seperti pada anak prasekolah. Namun dampak negatif perceraian tersebut tampak pada menurunnya prestasi di sekolah dan perilaku menarik diri dari lingkungan. Pada umumnya, dampak negatif tersebut lebih banyak dialami oleh anak laki-laki dimana mereka menjadi lebih mudah marah dan agresi.
c. Remaja
rasa empati terhadap orangtua mereka. Sayangnya, sepuluh tahun kemudian gambaran kondisi tersebut berubah. Perceraian yang terjadi memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan mereka. Memasuki usia dewasa, mereka kembali mengingat kenangan yang buruk mengenai keretakan suatu pernikahan. Perasaan sedih, benci, dan kehilangan yang mereka rasakan semakin besar, terutama remaja wanita. Mereka khawatir akan mengalami pernikahan yang tidak bahagia seperti yang dialami oleh orangtua mereka.
D. Problem-Solving Therapy Untuk Meningkatkan Psychological Well-Being Remaja Dari Keluarga Bercerai
Kekacauan keluarga dapat diartikan sebagai pecahnya suatu unit keluarga atau retaknya struktur peran sosial saat satu atau beberapa anggota keluarga tidak dapat menjalankan kewajiban peran secukupnya. Salah satu bentuk kekacauan keluarga adalah perceraian karena terputusnya hubungan keluarga akibat salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan serta berhenti melaksanakan kewajiban perannya (Goode, 2004). Perceraian dapat juga diartikan sebagai tindakan yang diambil oleh pasangan suami isteri untuk memutuskan ikatan pernikahannya, baik secara batin maupun lahir dan disahkan oleh pihak pengadilan sehingga tidak ada lagi tanggung jawab diantara keduanya baik secara lahir maupun batin.
prinsip hidup yang berbeda. Faktor lainnya berupa perbedaan penekanan dan cara mendidik anak, pengaruh dukungan sosial dari pihak luar, tetangga, sanak saudara, sahabat, dan situasi masyarakat yang terkondisi. Semua faktor ini menimbulkan suasana yang keruh dan meruntuhkan kehidupan rumah tangga (Dagun, 2002).
Kondisi setelah bercerai secara tidak langsung dapat mempengaruhi psychological well-being pada anak-anak, seperti yang dikatakan Ryff (1989) bahwa pengalaman hidup dapat mempengaruhi kondisi psychological well-being seseorang. Kondisi keluarga yang penuh konflik dan pertengkaran orangtua yang berakhir pada perceraian dapat menimbulkan kecemasan dan rasa ketidakmampuan menjalani kehidupan pada anak. Anak menjadi sedih karena kehilangan anggota keluarga, sakit hati, marah, menyalahkan diri sendiri, dan pada akhirnya dapat mengancam kondisi psychological well-being mereka. Anak menjadi tidak dapat menerima keadaan apa adanya serta tidak memiliki tujuan hidup yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya (Dariyo, 2007)
Apabila remaja tumbuh di dalam keluarga yang harmonis, ia akan mampu menemukan self-identity dengan baik. Sebaliknya, apabila remaja melihat tidak adanya kedamaian ataupun kerukunan di antara kedua orangtuanya, remaja akan berusaha mencari self-identity mereka dengan cara yang salah. Mereka akan mencari kasih sayang dan perhatian dari pihak lain, seperti melakukan tindakan kenakalan-kenakalan di luar rumah (Dariyo, 2004).
Problem-solving therapy dapat menjadi pendekatan terapi yang efektif bagi individu dalam menghadapi berbagai stressful live events atau kesulitan hidup yang dialaminya (D‟Zurilla & Nezu, 2010). Perceraian sebagai salah satu
bentuk major negative event yang dialami oleh individu jika tidak diselesaikan secara tepat akan memunculkan daily problems yang dapat mempengaruhi pada kesejahteraannya (well-being). Oleh karena itu dibutuhkan suatu upaya untuk mengurangi konsekuensi negatif dari perceraian tersebut, yaitu meningkatkan kemampuan untuk memecahkan suatu masalah.
Dengan kata lain, tujuan dari pemberian problem-solving therapy adalah untuk mengurangi dan/atau mencegah gejala psikopatologis dan meningkatkan kesejahteraan yang positif dengan membantu individu untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya di dalam kehidupan secara efektif (D‟Zurilla & Nezu, 2010). Oleh karena itu, problem-solving therapy diharapkan dapat membantu remaja untuk mengatasi masalah mereka berkaitan dengan perceraian orangtua mereka secara efektif sehingga well-being mereka dapat menjadi lebih positif.
E. Hipotesa Penelitian