• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

1. Tindak Pidana dalam Bidang Perbankan

a. Perkembangan Tindak Pidana Perbankan di Indonesia dan Hubungannya Dengan Teknologi Informasi

Perbankan memiliki peran penting dalam menjalankan kehidupan. Di Indonesia sejarah dunia perbankan dimulai dengan berdirinya De Javashe Bank pada 10 Oktober 1828. Didirikan oleh pemerintah Belanda dengan tugas dan kegiatan antara lain memperoleh hak octrooi (istimewa) mengeluarkan uang kertas, memperdagangkan valuta asing dan menjalankan fungsi sebagai bank umum.

Dalam perkembangannya dunia perbankan memiliki tujuan, fungsi dan kegiatan bank yang berubah sejalan dengan kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sejalan dengan kondisi yang berubah maka regulasi mengenai sistem operasional pun berubah mengikuti perubahan tersebut, Undang-Undang Perbankan pertama adalah Undang-undang No 14 tahun 1967. Dalam perjalanannya kedua Undang-Undang tersebut (Undang-undang tentang Perbankan dan Undang-undang tentang Bank Sentral) telah berhasil mengawal kegiatan perbankan nasional, tercermin dari penggantian Undang-undang Perbankan baru dilakukan pada tahun 1992 dan Undang-undang Bank Sentral/Bank Indonesia pada tahun 1999. Pasal-pasal kedua Undang-undang tersebut juga saling mengisi dan melengkapi, pasal-pasalnya selalu sinkron (tidak ada yang bertentangan). Dalam kurun waktu pelaksanaannya sampai penggantiannya tidak sekalipun dilakukan revisi/amandemen. Berbeda dengan kedua Undang-undang tersebut, Undang-

(2)

undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan telah diamandemen pada tahun 1998 (Farida, 2018:106).

Dalam melaksanakan kegiatan perbankan tentu akan terdapat tindakan yang tidak sesuai dengan aturanya seperti tindak pidana yang terjadi dibidang.

Kemajuan teknologi dan komunikasi membuat tindak pidana dalam bidang perbankan kian berkembang pula. Tindak pidana pada bisnis perbankan ini juga ikut mengimbangi dengan variasi modus operandi, lokasi, dan waktu yang dipilih oleh pelaku. Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pelaku tindak pidana juga dilakukan oleh orang dengan kelas sosial ekonomi tinggi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang dikenal dengan kejahatan kerah putih atau white-collar crime.

Kejahatan di bidang perbankan adalah kejahatan apapun yang menyangkut perbankan, misalnya seseorang merampok bank adalah kejahatan di bidang perbankan, begitu pula pengalihan rekening secara tidak sah adalah kejahatan di bidang perbankan, jadi pengertiannya sangat luas. Sedangkan kejahatan perbankan adalah bentuk perbuatan yang telah diciptakan oleh undang-undang perbankan yang merupakan larangan dan keharusan, misalnya larangan mendirikan bank gelap dan pembocoran rahasia bank. Perbedaan istilah ini menyebabkan atau berpengaruh terhadap penegakan hukum.

Kejahatan perbankan akan ditindak melalui ketentuan pidana yang diatur dalam undang-undang perbankan, sedangkan kejahatan di bidang perbankan ditindak melalui undang-undang di luar undang-undang perbankan. (Setiadi Edi, 2010:12)

Terdapat dua istilah kejahatan perbankan yang seringkali dipakai secara bergantian walaupun maksud dan ruang lingkupnya bisa berbeda. Pertama, adalah “Tindak Pidana Perbankan” dan kedua, “Tindak Pidana di Bidang Perbankan”. Tindak pidana perbankan mengandung pengertian tindak pidana itu semata-mata dilakukan oleh bank atau orang bank, sedangkan tindak pidana di bidang perbankan tampaknya lebih netral dan lebih luas karena dapat

(3)

mencakup tindak pidana yang dilakukan oleh orang di luar dan di dalam bank.

Istilah “tindak pidana di bidang perbankan” dimaksudkan untuk menampung segala jenis perbuatan melanggar hukum yang berhubungan dengan kegiatan- kegiatan dalam menjalankan usaha bank. Tidak ada pengertian formal dari tindak pidana di bidang perbankan. Ada yang mendefinisikan secara popular, bahwa tindak pidana perbankan adalah tindak pidana yang menjadikan bank sebagai sarana (crimes through the bank) dan sasaran tindak pidana itu (crimes against the bank). Sedangkan Tindak Pidana perbankan merupakan tindak pidana yang melibatkan dana masyarakat yang disimpan di bank, oleh karena hal tersebut tindak pidana perbankan akan merugikan kepentingan banyak pihak baik itu bank itu sendiri selaku badan usaha, nasabah selaku penyimpan barang, otoritas perbanakan,sistem perbankan, maupun masyarakat luas dan pemerintah sendiri.

Secara terminologi, istilah tipibank berbeda dengan tindak pidana di bidang perbankan. Tindak pidana di bidang perbankan mempunyai pengertian yang lebih luas, yaitu segala jenis perbuatan melanggar hukum yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan dalam menjalankan usaha bank, sehingga terhadap perbuatan tersebut dapat diperlakukan peraturan-peraturan yang mengatur kegiatan-kegiatan perbankan yang memuat ketentuan pidana maupun peraturan-peraturan Hukum Pidana umum/khusus, selama belum ada peraturan-peraturan Hukum Pidana yang secara khusus dibuat untuk mengancam dan menghukum perbuatan-perbuatan tersebut.

Artinya tindak pidana di bidang perbankan menyangkut perbuatan yang berkaitan dengan perbankan dan diancam dengan pidana, meskipun diatur dalam peraturan lain, atau disamping merupakan perbuatan yang melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Perbankan dan Undang-undang Perbankan Syariah, juga merupakan perbuatan yang melanggar ketentuan di luar Undang- undang Perbankan dan Undang-undang Perbankan Syariah yang dikenakan sanksi berdasarkan antara lain Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),

(4)

Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang, perbuatan dimaksud berhubungan dengan kegiatan menjalankan usaha bank seperti pencucian uang (money laundering) dan korupsi yang melibatkan bank. Sementara itu, tipibank lebih tertuju kepada perbuatan yang dilarang, diancam pidana yang termuat khusus hanya dalam Undang-Undang Perbankan dan Undang-undang Perbankan Syariah.

Untuk saat ini tindak pidana di bidang perbankan memiliki karakteristik yang baru pula berdasarkan berkembangan zaman. Sebelumnya tindak pidana perbankan hananya bisa dijalankan dengan modus konvensional dan secara langsung, namun untuk sekarang kejahatan perbankan juga dapat dilakukan secara online menggunakan perangkan computer seperti dengan adanya carding, skimming, phising dan craking. Saat ini tindak pidana di bidang perbankan terjadi tanpa mengenal waktu

b. Jenis Tindak Pidana Perbankan di Indonesia

Dalam hal tindak pidana perbankan terdapat beberapa macam salah satu tindak pidana di bidang perbankan yang sering terjadi. Terdapat beberapa macam tindak pidana di bidang perbankan secara umum (Sari 2018:12)

a) Fraud terhadap Aset (Asset Misappropriation). Singkatnya, penyalahgunaan aset perusahaan/lembaga, entah itu dicuri atau digunakan untuk keperluan pribadi, tanpa ijin dari perusahaan/lembaga. Seperti kita ketahui, asset perusahaan/Lembaga bisa berbentuk kas (uang tunai) dan non-kas. Sehingga, asset misappropriation dikelompokan menjadi 2 macam

(1) Cash Misappropriation–Penyelewengan terhadap aset yang berupa kas (Misalnya: penggelapan kas, penggelapan cek, menahan cek pembayaran untuk vendor).

(2) Non-cash Misappropriation–Penyelewengan terhadap aset yang berupa non-kas (Misalnya: menggunakan fasilitas perusahaan/lembaga untuk kepentingan pribadi)

b) Fraud terhadap Laporan Keuangan (Fraudulent Statements).

ACFE membagi jenis fraud ini menjadi 2 macam yaitu financial dan non financial. Segala tindakan yang membuat laporan keuangan menjadi tidak seperti yang seharusnya (tidak

(5)

mewakili kenyataan), tergolong kelompok fraud terhadap laporan keuangan. Misalnya:

(a) Memalsukan bukti transaksi

(b) Mengakui suatu transaksi lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya,

(c) Menerapkan metode akuntansi tertentu secara tidak konsisten untuk menaikan atau menurunkan laba

(d) Menerapkan metode pangakuan aset sedemikian rupa sehingga aset menjadi nampak lebih besar dibandingkan yang seharusnya.

(e) Menerapkan metode pangakuan liabilitas sedemikian rupa sehingga liabiliats menjadi nampak lebih kecil dibandingkan yang seharusnya.

Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (selanjutnya disebut Undang-Undang Perbankan) terdapat tiga belas macam tindak pidana yang diatur mulai dari pasal 46 sampai dengan Pasal 50A. Ketiga belas tindak pidana itu dapat digolongkan ke dalam empat macam:

a) Tindak pidana yang Berhubungan dengan perizinan

Tindak pidana di bidang perbankan yang tergolong dalam kelompok ini adalah tindak pidana yang berhubungan dengan perizinan pendirian bank sebagai lembaga keuangan. Setiap orang yang ingin mendirikan bank, tentunya harus memenuhi syarat-syarat atau ketentuan yang terdapat dalam udang-undang, pihak pendiri bank tersebut dapat dikatakan telah melakukan tindak pidana di bidang perbankan kelompok ini dan bank yang telah didirikan tersebut dinamakan bank gelap. Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Pokok- Pokok Perbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa tindak pidana yang termasuk ke dalam jenis tindak pidana yang berkaitan dengan perizinan, terdapat dalam Pasal 46, yang berbunyi

Pasal 46 Ayat (1) :

Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya

(6)

yang dipersamakan dengan itu tanpa izin usaha dari Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Pasal 17, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.

10.000.000.000,-(sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 200.000.000.000,-(duaratus miliar rupiah).

Pasal 46 Ayat (2):

Dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di lakukan oleh badan hukum yang berbentuk perseorangan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi, maka penuntutan terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan itu atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.”

b) Tindak Pidana Bank Terkait Dengan Rahasia Bank

Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Perbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa tindak pidana yang termasuk ke dalam jenis tindak pidana yang berkaitan dengan rahasia bank, terdapat dalam Pasal 47 ayat (1), Pasal 47 ayat (2), dan Pasal 47A.

c) Tindak Pidana yang Berkaitan dengan Pengawasan dan Pembinaan Bank

Untuk menjaga kelangsungan bank, maka setiap bank mempunyai keharusan untuk mematuhi kewajibannya kepada pihak yang bertanggungjawab dalam pengawasan dan pembinaan bank, dalam hal ini Bank Indonesia dan/

atau Otoritas Jasa Keuangan. Hal tersebut mutlak diperlukan karena sebagai lembaga yang mengelola uang masyarakat dalam jumlah yang besar, maka Bank Indonesia perlu mengetahui bagaimana perjalanan kegiatan dan usaha bank yang dituangkan dalam bentuk laporan. Bank yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud diatas, maka telah melakukan tindak pidana di bidang perbankan kelompok ini. Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Pokok-PokokPerbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa tindak pidana yang termasuk ke dalam jenis tindak pidana yang

(7)

berkaitan dengan rahasia bank, terdapat dalam Pasal 48 ayat (1) dan Pasal 48 ayat (2) :

Pasal 48 ayat (1)

Bahwa Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2), diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

Pasal 48 ayat (2)

UU Perbankan menyebutkan bahwa, Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang lalai memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2), diancam dengan pidana kurungan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda sekurang-kurangnya Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

d) Tindak Pidana yang Berkaitan dengan Usaha Bank

Sehubungan dengan semakin banyak dan bervariasinya kegiatan dan usaha suatu bank, maka bank tersebut perlu untuk menjaga kepercayaan masyarakat dengan cara menggunakan dana nasabahnya secara bertanggungjawab yang diwujudkan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban yang akan diumumkan langsung kepada publik melalui media massa, maupun diberikan kepada Bank Indonesia dan/ atau Otoritas Jasa Keuangan.

Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Perbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa tindak pidana yang termasuk ke dalam jenis tindak pidana yang berkaitan dengan rahasia bank. Pasal 49 ayat (1) Undang-undang Perbankan menyebutkan bahwa, Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja:

(1) Membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam

(8)

dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank;

(2) Menghilangkan atau tidak memasukkan atau menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank;

(3) Mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, menghapus, atau menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatubank, atau dengan sengaja mengubah, mengaburkan, menghilangkan, menyembunyikan atau merusak catatan pembukuan tersebut.

2. Pentingnya Penggunaan Data Nasabah di Bidang Perbankan a. Konsep Data Pribadi dan Privasi

Data pribadi merupakan salah satu komponen yang penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan teknologi informasi saat ini, berbagai macam kegiatan baik dalam konteks pemerintahan, transaksi bisnis, komersil ataupun komunikasi berlangsung melalui media elektronik (online). Data atau informasi yang disampaikan melalui media elektronik itu sesungguhnya merupakan hal yang berharga. Selain itu, kegiatan yang berlangsung online tersebut juga memiliki risiko karena dapat menimbulkan masalah apabila data atau informasi tersebut bocor sehingga bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia Data pribadi adalah data yang berkenaan dengan ciri seseorang, nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan kedudukan dalam keluarga. Pengertian lain dari data pribadi adalah data berupa identitas, kode, symbol, huruf atau angka penanda personal seseorang yang bersifat pribadi dan rahasa. (Latumahina, 2014:16) Penggunaan istilah data pribadi pertama kali digunakan di Jerman dan Swedia yang mengatur tentang perlindungan data pribadi pribadi dengan diberlakukan

(9)

aturan berkenaan hal sebuah aturan perundang-undangan yang bersifat sistematis (Dewi, 2012:12). Adanya peraturan yang berkaitan mengenai perlindungan data pribadi tersebut karena pada masa itu alat yang digunakan untuk menyimpan data penduduk adalah komputer untuk keperluan pendataan sensus penduduk. Akan tetapi pada praktiknya sering terjadi banyak penyalahgunaan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta.

Oleh sebab itu diperlukan adanya aturan perundangundangan yang akomodatif dan yang bisa memberikan jaminan dan keamanan terhadap data pribadi sehingga penggunaan data pribadi tersebut tidak dapat disalahgunakan. Setiap Negara menggunakan terminologi yang berbeda beda antara informasi dan data pribadi, Akan tetapi secara substasi kedua istilah tersebut mempunyai definisi yang hampir sama hingga kedua istila tersebut bisa diterapkan secara bergantian. (Latumahina, 2014:16).

Data pribadi mencakup fakta-fakta, komunikasi atau pendapat yang berkaitan dengan individu yang merupakan informasi yang sifatnya rahasia, pribadi atau sensitif sehingga pribadi yang bersangkutan ingin menyimpan atau membatasi orang lain untuk mengoleksi, menggunakan atau menyebarkannya kepada pihak lain.

Menurut pendapat Jerry Kang, data Pribadi merupakan suatu hal yang mendeskripsikan suatu informasi yang erat kaitannya dengan pribadi seseorang yang dapat membedakan karakteristik masing-masing pribadi (Nugraha, 2012:36). Berkenaan dengan konsep data pribadi, di Negara maju terminology yang lebih kerap digunakan adalah privacy/privasi sebagai hak yang seseorang yang harus dilindungi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi dari privasi adalah bebas, kebebasan atau keleluasaan. Hak atas privasi ini juga dimuat dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) / Universal Declaration of Human Rights (UDHR) Pasal 12, yang menyatakan: “No one shall be subjected to arbitrary interference with his privacy, family, home or correspondence, nor to attacks upon his honor and reputation. Everyone has

(10)

the right to the protection of the law against such interference or attacks.”

Privasi merupakan konsep abstrak yang mengandung banyak makna.

Penggambaran populer mengenai privasi antara lain adalah hak individu untuk menentukan apakah dan sejauh mana seseorang bersedia membuka dirinya kepada orang lain atau privasi adalah hak untuk tidak diganggu (Yuwinanto, 2012:1). Konsep privasi sangat erat dengan konsep ruang personal dan teritorialitas. Ruang personal adalah ruang sekeliling individu, yang selalu dibawa kemana saja orang pergi, dan orang akan merasa terganggu jika ruang tersebut diinterfensi. Artinya, ruang personal terjadi ketika orang lain hadir, dan bukan semata-mata ruang personal, tetapi lebih merupakan ruang interpersonal.

Pengambilan jarak yang tepat ketika berinteraksi dengan orang lain merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan akan privasi.

Berdasarkan pemaparan yang telah ditulis dapat disimpulkan bahwasanya istilah berkenaan dengan data dan informasi juga privasi tersebut diatas dapat dipahami bahwa data dan informasi itu berkenaan dengan kehidupan individu dan juga dekat kaitannya dengan konsep kerahasian atau hak privasi seseorang yang harus dijaga dan dilindungi oleh aturan perundang- undangan.

b. Batasan Data Pribadi

Pembahasan mengenai Data Pribadi tidak dibahas secara eksplisit pada Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam UUD 1945 sebenarnya telah menyinggung mengenai konsep privasi yang termaktub dalam Pasal 28 G ayat (1) yang menegaskan bahwasanya setiap orang berhak akan perlindungan diri pribadi, keluarga serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.

Mengenai batasan akan data pribadi sendiri memiliki klasifikasi yang berbeda beda pada setiap regulasinya. Pengertian data pribadi dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2012 tentang

(11)

Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik sebagai data perseorangan tertentu yang disimpan, dirawat, dan dijaga kebenaran serta dilindungi kerahasiaannya. Dalam Peraturan ini juga tidak memberi ulasan secara jelas mengenai batasan data pribadi.

Salah satu batasan data pribadi yang diatur secara jelas terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang

Batasan mengenai data pribadi bersifat fleksibel dalam setiap koridornya. Yang termasuk sebagai data pribadi berbeda-beda sesuai dengan konteks yang dihadapi. Oleh karena itu dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia pun tidak diatur secara tegas mengenai batasan data pribadi. Setiap orang memiliki data yang bersifat pribadi di dalam kehidupannya. Data tersebut bisa merupakan data diri, data ekonomi maupun yang lainnya. Hukum internasional dan hukum nasional sudah mengatur mengenai perlindungan data pribadi, sayangnya di Indonesia pengaturan mengenai data pribadi terbagi menjadi beberapa undang-undang dan belum mengatur secara rigid mengenai data pribadi.

c. Penggunaan Data Pribadi Nasabah Dalam Bidang Perbankan

Perbankan merupakan lembaga keuangan yang dalam melaksanakan kegiatan usahanya yang bertumpu berdasarkan asas kepercayaan. Perbankan merupakan lembaga keuangan yang memiliki fungsi dan peran yang cukup penting sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Karena peran sentral tersebut untuk menjamin kepentingan hukum/perlindungan hukum konsumen diperlukan perlindungan hukum terhadap para nasabah di bidang perbanakan. Menurut Johanes Gunawan, perlindungan hukum atau tanggung jawab bank terhadap nasabah selaku konsumen dapat dilakukan

(12)

pada saat sebelum terjadinya transaksi (pre purchase) atau sesudah terjadinya transaksi (post purchase). (Gunawan, 1999:3)

Pembahasan mengenai pengaturan data pribadi adalah titik awal dalam pemanfaatan data pribadi seperti melakukan hubugan hukum dengan perbankan. Titik awal nasabah memberikan data pribadi yang jelas dan lengkap serta sah seperti an lain-lainnya dalam proses pengisian formulir di loket bank (offline) maupun secara tidak langsung yakni dengan online (Maramis, 2019:99). Bidang perbankan membutuhan data nasabah digunakan untuk keperluan produk perbankan seperti pembukaan deposito, rekening tabungan, dan lain-lain. Perlindungan data pribadi dalam bidang perbankan telah diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Berdasarkan ketentuan tersebut bank wajib merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. Namun demikian, terdapat beberapa pengecualian untuk perlindungan tersebut yaitu : (Sinta Dewi Rosadi, 2018 : 96)

1) Penggunaan dalam bidang perpajakan

2) Pimpinan Bank Indonesia memberikan izin kepada pejabat Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara/Panitia Urusan Piutang Negara untuk memperoleh keterangan dari bank 3) Pimpinan Bank Indonesia memberikan izin kepada polisi,

jaksa, atau hakim untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa pada bank

4) Direksi bank dapat memberitahukan keadaan keuangan nasabahnya kepada bank lain dalam rangka tukar menukar informasi antar bank Atas permintaan, persetujuan atau kuasa dari Nasabah Penyimpanan secara tertulis, bank wajib memberikan keterangan mengenai simpanan Nasabah Penyimpan pada bank yang bersangkutan

5) Dalam hal nasabah Penyimpan telah meninggal dunia, ahli waris yang sah dari Nasabah Penyimpan yang bersangkutan berhak memperoleh keterangan mengenai simpanan Nasabah Penyimpan tersebut

(13)

Penggunaan data pribadi nasabah di bidang perbankan merupakan suatu hal yang harus dilakukan, karena sejatinya seluruh produk perbankan secara online maupun offline akan tetap membutuhkan data pribadi sebagai titik awal terbitnya produk perbankan yang dapat dinikmati oleh para nasabah.

3. Cyber Crime sebagai efek perkembangan teknologi dan informasi a. Pengertian Cyber Crime

Pada dasarnya terdapat beberapa pengertian mengenai cyber crime.

Menurut pendapat Gregory Cybercrime adalah suatu bentuk kejahatan virtual dengan memanfaatkan media komputer yang terhubung ke internet, dan mengekploitasi komputer lain yang terhubung dengan internet juga (Abdul Wahid, 2005:40). Pendapat lain mengatakan “The easy definition of cyber crime is crimes directed at a computer or a computer system. The nature of cyber crime, however, is far more complex. As we will see later, cyber crime can take the form of simple snooping into a computer system for which we have no authorization. It can be the feeing of a computer virus into the wild. It may be malicious vandalism by a disgruntled employee. Or it may be theft of data, money, or sensitive information using a computer system” (Stephenson, 2000:56). Dalam pendapat ini menjalaskan bahwasanya cybercrime merupakan kejahatan yang diarahkan pada komputer maupun sistem komputer. Sifat kejahatan di dunia virtual ini tentu akan menjadi lebih kompleks jika dibandingkan dengan kejahatan konvensional.

Dalam dua dokumen kongres PBB yang dikutip oeh Barda Nawawi Arief, mengenai The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders di Havana Cuba pada tahun 1990 dan di Wina Austria pada tahun 2000, menjelaskan adanya dua istilah yang terkait dengan pengertian Cyber crime, yaitu cyber crime dan computer related crime (Arief, 2007:24). Merujuk dari pengertian diatas dapat ditarik mengenai pengertian umum akan cyber crime.

Cyber crime merupakan salah satu bentuk atau dimensi baru dari kejahatan

(14)

masa kini yang mendapat perhatian luas dunia internasional Dalam arti sempit cybercrime adalah computer crime yang ditujukan terhadap sistem atau jaringan komputer, sedangkan dalam arti luas, cybercrime mencakup seluruh bentuk baru kejahatan yang ditujukan pada komputer, jaringan komputer dan penggunaanya serta bentuk-bentuk kejahatan tradisional yang sekarang dilakukan dengan menggunakan atau dengan bantuan peralatan komputer (computer related crime)

Dari beberapa pengertian diatas, secara ringkas dapat dikatakan bahwa cybercrime dapat didefinisikan adalah suatu tindakan kriminal yang melanggar hukum dengan menggunakan teknologi komputer sebagai alat kejahatannya.

Cyber crime ini terjadi karena ada kemajuan di bidang teknologi komputer atau dunia virtual khususnya media internet.

b. Karakteristik Cyber Crime

Menurut Menurut Abdul Wahid dan M. Labib, cyber crime memiliki beberapa karakteristik yang tertaut di dalamnya seperti perbuatan yang dilakukan secara illegal, tanpa hak atau tindakan etis terjadi diruang/wilayah siber, sehingga tidak dapat dipastikan yuridiksi negara mana yang berlaku terhadapnya (Abdul Wahid, 2005:76)

1) perbuatan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan apapun yang berhubungan dengan internet

2) perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian materiil maupun immaterial yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan kejahatan konvensional;

3) pelakunya adalah orang yang menguasai penggunaan internet dan aplikasinya

4) perbuatan tersebut sering dilakukan secara transnasional.

Selain pendapat yang telah diuraikan diatas cyber crime sendiri sebagai kejahatan yang muncul sebagai akibat adanya komunitas dunia maya di internet, memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kedua model diatas.

Karakteristik unik dari kejahatan di dunia maya tersebut antara lain menyangkut lima hal berikut :

(15)

a) Ruang lingkup kejahatan b) Sifat kejahatan

c) Pelaku kejahatan d) Modus kejahatan

e) Jenis-jenis kerugian yang ditimbulkan

Dari Karakteristik yang telah penulis paparkan diatas untuk mempermudah penangan cyber crime maka cyber crime diklasifikasikan menjadi beberapa yaitu (Maskun 2013:50)

a) Cyberpiracy Penggunaan teknologi computer untuk mencetak ulang software atau informasi, lalu mendistribusikan informasi atau software tersebut lewat teknologi komputer.

b) Cybertrespass Penggunaan teknologi computer untuk meningkatkan akses pada sistem komputer suatu organisasi atau individu.

c) Cybervandalism Penggunaan teknologi computer untuk membuat program yang menganggu proses transmisi elektronik, dan menghancurkan data di komputer.

c. Bentuk – Bentuk Cybercrime

Kejahatan yang berhubungan erat dengan penggunaan teknologi informasi yang berbasis utama komputer dan jaringan telekomunikasi sendiri dikelompokkan dalam beberapa bentuk, antara lain :(Maskun, 2013:51)

1) Unauthorized Access to Computer System and Service

Kejahatan ini dilakukan dengan jalan menyusup ke dalam suatu jaringan komputer secara ilegal tanpa sepengetahuan pemiliki sistem jaringan komputer yang disusupinya dengan tujuan mencuri informasi penting dan rahasia.

2) llegal Contents

Suatu kejahatan siber yang dilakukan dengan memasukkan data atau informasi ke internet yang sifatnya tidak benar, tidak etis, dan termasuk pelanggaran hukum yang sekiranya dapat menganggu ketertiban umum.

3) Data Forgery

Pemalsuan data pada dokumen-dokumen penting yang biasanya ditujukkan pada dokumen-dokumen e-commerce dan tersimpan sebagai scriptless document

(16)

4) Cyber Espionage

Kejahatan ini ditujukan terhadap saingan bisnis yang objeknya sendiri adalah dokumen ataupun data-data penting yang tersimpan dalam suatu sistem komputerisasi dengan cara memata-matai pihak tersebut.

5) Cyber Sabotage and Extortion

Perbuatan yang dilakukan dengan maksud membuat gangguan, kerusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet.

Kejahatan ini biasanya dilakukan melalui sebuah virus yang disusupkan ke dalam jaringan komputer sehingga tidak dapat berjalan dengan semestinya.

6) Offense Against Intellectual Property

Kejahatan ini ditujukan terhadap hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki pihak lain di internet. Misalnya peniruan tampilan web page suatu situs milik orang lain secara ilegal.

7) Infringements of Privacy

Kejahatan ini ditujukan terhadap informasi seseorang yang merupakan hal bersifat sangat pribadi dan rahasia yang apabila diketahu orang lain akan merugikan korban secara materil maupun immateril.

d. Jenis Jenis Cyber Crime

Dalam menjalankan kehidupan kejahatn siber memiliki banyak sekali jenis- jenis baru yang sebelumnya belum ada dalam kejahatan konvensional. Kejahan siber dikelompokan sebagai berikut (Antoni, 2017:264)

1) Carding

Suatu bentuk penyalahgunaan di dunia siber dengan cara berbelanja menggunakan nomor dan identitas kartu kredit orang lain secara ilegal.

2) Hacking

Perbuatan menerobos sistem jaringan komputer atau program komputer milik pihak lain dengan maksud tertentu. Sedangkan kegiatan hacking sendiri dilakukan oleh peretas (hacker). Hacker sendiri adalah orang yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam membuat dan membaca sistem jaringan atau program komputer

3) Cracking

adalah hacking untuk tujuan jahat. Sebutan untuk “cracker” adalah “hacker”

bertopi hitam (black hat hacker). Berbeda dengan “carder” yang hanya mengintip kartu kredit, “cracker” mengintip simpanan para nasabah di berbagai bank atau pusat data sensitif lainnya untuk keuntungan diri sendiri. Meski sama-sama menerobos keamanan komputer orang lain, “hacker” lebih fokus pada prosesnya. Sedangkan “cracker” lebih fokus untuk menikmati hasilnya 4) Defacing

adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain, seperti yang terjadi pada situs Menkominfo dan Partai Golkar, BI baru-baru ini dan situs

(17)

KPU saat pemilu 2004 lalu. Tindakan deface ada yang semata-mata iseng, unjuk kebolehan, pamer kemampuan membuat program, tapi ada juga yang jahat, untuk mencuri data dan dijual kepada pihak lain.

5) Phising

Kejahatan siber yang ditujukan kepada pemakai komputer di Internet (user) dengan cara memancing user melalui situs web (website) yang telah di-deface bertujuan untuk mendapatkan data-data penting dari korban. Kegiatan ini biasanya diarahkan kepada pengguna online banking, isian data pemakai, dan kata sandi yang vital.

6) Spamming

adalah pengiriman berita atau iklan lewat surat elektronik (e-mail) yang tak dikehendaki. Spam sering disebut juga sebagai bulk e-mail atau junk e-mail.

7) Malware

Malware merkelemahan dari suatu software. Umumnya malware diciptakan untuk membobol atau merusak suatu software atau operating system. Malware terdiri dari berbagai macam, yaitu: virus, worm, trojan horse, adware, browser hijacke

(18)

B. Kerangka Berfikir TINDAK PIDANA

PERBANKAN

Tindak Pidana Perbankan Secara Konvensional

Tindak pidana Perbankaan melalui perangkat Komputer (Modren) / Cyber

Crime

Pencegahan dalam tindak pidana

pencuri data nasabah di bidang perbankan Modus Operandi yang

digunakan untuk melakukan kejahatan pencurian data

nasabah di bidang perbankan

Penegakan Hukum

PENGATURAN YANG KOMPERHENSIF MENGENAI TINDAK PIDANA PENCURIAN DATA

NASABAH DALAM BIDANG PERBANKAN SEBAGAI CYBER CRIME

Pengaturan yang mengatur mengenai tindak pidana

pencurian da nasabah di bidang perbankan

(19)

Keterangan

Kemajuan teknologi dan komunikasi di Indonesia mempengaruhi di segala bidang kehidupan salah satunya di bidang perbankan.Sistem sarana dan prasarana perbankan sangat dipengaruhi dengan perkembangan teknologi dan komunikasi.

Perbankan menjadi salah satu bidang yang mendapatkan efek yang cukup signifikan dalam perkembangan teknologi dan komunikasi. Perbankan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi dengan melakukan inovasi dalam produk-produk layanannya.

Dengan perkembangan yang cukup signifikan ini mengakibatkan perkembangan kejahatan yang signifikan pula. Salah satu kejahat dibidang perbankan adalah kejahatan yang dilakukan melalui media virtual atau yang disebut cyber crime. Pengaturan mengenai kasus cyber crime bidang perbankan di Indonesia di atur dalam Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Selain peraturan tersebut terdapat bebrapa aturan yang dijadikan rujukan untuk menyelesaikan persoalan tindak pidana pencurian data nasbah di bidang perbankan seperti Undang – Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang OJK,Undang – Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Dalam peraturan tersebut perlu dalakukan suatu kajian lebih mengenai kejahatan di bidang cyber apakah sudah terakomodasi dengan baik. Dalam penelitian ini akan membahas mengenai pengaturan yang ideal untuk membahas tidak pidana pencurian data nasabah dalam bidang perbangan secara cybercrime.

Referensi

Dokumen terkait

Jadi berdasarkan pendapat tersebut di atas pengertian dari tindak pidana yang dimaksud adalah bahwa perbuatan pidana atau tindak pidana senantiasa merupakan suatu perbuatan yang

Jenis tindak pidana di dunia perbankan adalah yang berkaitan dengan perizinan (tindak pidana bank gelap), rahasia bank, usaha bank, serta pengawasan dan pembinaan bank..

Jenis tindak pidana di dunia perbankan adalah yang berkaitan dengan perizinan (tindak pidana bank gelap), rahasia bank, usaha bank, serta pengawasan dan pembinaan bank..

Berdasarkan pendapat tersebut di atas pengertian dari tindak pidana yang dimaksud adalah bahwa perbuatan pidana atau tindak pidana senantiasa merupakan suatu

Perlindungan eksternal mencakup hubungan antar kelompok, yakni kelompok etnis atau nasional dapat melindungi keberadaan dan identitasnya yang berbeda itu dengan membatasi

Dilihat dari penelitian ini perbankan syariah di Indonesia tidak semua taat dengan sistem atau prinsip syariah, hal ini dibuktikan dengan analisa SCnP yang

Korban darisuatu tindak pidana yang pada dasarnya adalah pihak yang paling menderita pada suatu tindak pidana, justru tidak mendapatkan perlindungan sebanyak yang

perbuatannya berupa perbuatan pasif, misalnya diatur dalam Pasal 224, 304 dan 552 KUHP. 2) Tindak pidana tidak murni adalah tindak pidana yang pada dasarnya berupa tindak