Optimasi Konsentrasi Pulvis
Gummi Arabicum (PGA) sebagai Emulgator Formulasi Emulsi
Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa)
by I.k. Subagia
Submission date: 01-Aug-2019 08:42AM (UTC+0700) Submission ID: 1156636764
File name: 45449-397-119580-1-10-20190730.pdf (370.78K) Word count: 3376
Character count: 18892
19 %
SIMILARITY INDEX
13 %
INTERNET SOURCES
7 %
PUBLICATIONS
14 %
STUDENT PAPERS
1 1 %
2 1 %
3 1 %
4 1 %
5 1 %
6 1 %
7 1 %
8 1 %
Optimasi Konsentrasi Pulvis Gummi Arabicum (PGA) sebagai Emulgator Formulasi Emulsi Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa)
ORIGINALITY REPORT
PRIMARY SOURCES
Submitted to Newbury Park High School
Student Paper
pengolahanpangan.jurnalpertanianunisapalu.com
Internet Source
arlankimran.blogspot.com
Internet Source
oechildsatjhi.blogspot.com
Internet Source
Submitted to Endeavour College of Natural Health
Student Paper
ejournal.unpatti.ac.id
Internet Source
Submitted to Surabaya University
Student Paper
valdisreinaldo.blogspot.com
Internet Source
9 1 %
10 1 %
11 1 %
12 1 %
13 1 %
14 1 %
15 1 %
16 < 1 %
17 < 1 %
18 < 1 %
journal.ipb.ac.id
Internet Source
Submitted to UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Student Paper
repository.unhas.ac.id
Internet Source
Submitted to Universitas Jenderal Achmad Yani
Student Paper
Ellya Sinurat, Diini Fithriani. " Effect of Chopping on the Quality of Fucoidan Extracted from ", IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 2018
Publication
journal.uin-alauddin.ac.id
Internet Source
thecomelfarmasis.blogspot.com
Internet Source
Submitted to National University of Singapore
Student Paper
Submitted to Universitas Sebelas Maret
Student Paper
dokumen.tips
Internet Source
Submitted to Padjadjaran University
19 < 1 %
20 < 1 %
21 < 1 %
22 < 1 %
23 < 1 %
24 < 1 %
25 < 1 %
26 < 1 %
27 < 1 %
28 < 1 %
Student Paper
repository.unpas.ac.id
Internet Source
jast-old.modares.ac.ir
Internet Source
Mahdi Jufri, Asnimar Binu, Julia Rahmawati.
"FORMULASI GAMEKSAN DALAM BENTUK MIKROEMULSI", Majalah Ilmu Kefarmasian, 2004
Publication
docslide.us
Internet Source
Submitted to Universitas Negeri Surabaya The State University of Surabaya
Student Paper
Submitted to Universitas Muslim Indonesia
Student Paper
Submitted to Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada
Student Paper
luminaiik.blogspot.com
Internet Source
tlbio265.blogspot.com
Internet Source
29 < 1 %
30 < 1 %
31 < 1 %
32 < 1 %
33 < 1 %
34 < 1 %
35 < 1 %
36 < 1 %
37 < 1 %
38 < 1 %
repository.ubaya.ac.id
Internet Source
Submitted to Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Student Paper
ml.scribd.com
Internet Source
eprints.poltekkesjogja.ac.id
Internet Source
repository.usd.ac.id
Internet Source
Submitted to Universitas Negeri Makassar
Student Paper
Submitted to Syiah Kuala University
Student Paper
akademifarmasijember.ac.id
Internet Source
Damaranie Dipahayu, Widji Soeratri, Mangestuti Agil. "Formulasi Krim Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas (L.)
Lamk) Sebagai Anti Aging", Pharmaceutical Sciences and Research, 2014
Publication
ejurnal.stikes-bth.ac.id
Internet Source
39 < 1 %
Exclude quotes Off Exclude bibliography Off
Exclude matches Off
Submitted to Universitas Islam Indonesia
Student Paper
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
i
JURNAL FARMASI UDAYANA
INFORMASI BAGI PENULIS DAFTAR ISI
Deskripsi
Pembaca
Editor
Petunjuk Penulisan
DESKRIPSI
Jurnal Farmasi Udayana merupakan jurnal elektronik yang dikelola oleh PS Farmasi FMIPA Udayana. Jurnal ini yang merupakan media publikasi penelitian dan review article pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific. Artikel yang dimuat dalam jurnal ini meliputi penemuan obat, sistem penghantaran obat serta pengembangan obat.
Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia medisinal, farmakologi, farmakokinetika, farmakodinamika, analisis farmasi, sistem penghantaran obat, teknologi farmasi, bioteknolofi farmasi, obat herbal dan komponen aktif tanaman serta evaluasi klinik obat.
PEMBACA
Ilmuwan di bidang kimia medisinal, farmasetika dan biofarmasetika, farmakologi, kimia analisis, farmakologi klinik, mikrobiologi, bioteknologi, kimia dan statistika
Pengarah : Drs. Ida Bagus Made Suaskara, M.Si Penanggung jawab : Drs. I Made Satriya Wibawa, M.Si
Anak Agung Bawa Putra, S.Si., M.Si Drs. I Wayan Santiyasa, M.Si
Dewa Ayu Swastini, S.Farm., M.Farm., Apt Chief in Editor : Cokorda Istri Sri Arisanti, S.Farm., M.Si., Apt Editor Board : Ni Kadek Warditiani, S.Farm., M.Sc., Apt
A A Gede Rai Yadnya Putra S.Farm., M.Si., Apt Putu Sanna Yustiantara, S.Farm., M.Si., Apt Made Ary Sarasmita, S.Farm., M.Farm.Klin., Apt Reviewer Mitra Bestari : Prof. Dr. I Ketut Adnyana Apt (ITB)
Muhammad Aswad, PhD, Apt (UNHAS)
I G N Jemmy Anton P., S.Farm., M.Si., Apt (UNUD) Ni Putu Eka Leliqia S.Farm., M.Si., Apt (UNUD) Dr.rer.nat I Md Agus Gelgel W. M.Si., Apt (UNUD) Ketut Widyani Astuti S.Farm., M.Biomed., Apt (UNUD) EMAIL
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
ii PETUNJUK PENULISAN
PENDAHULUAN
Naskah yang diajukan ke jurnal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) topik artikel akan melewati proses review terlebih dahulu oleh editor, dan (2) artikel belum dipublikasikan atau akan dipublikasikan seluruhnya atau sebagian di jurnal lain atau media publikasi yang lain.
Tipe artikel
Artikel hasil penelitian Review article
Naskah review article harus memuat: judul, abstrak dan kata kunci (3-6 kata), pendahuluan, pembahasan khusus oleh penulis, kesimpulan, ucapan terima kasih, daftar pustaka, gambar dan tabel. Tiap pokok bahasan dari pendahuluan sampai kesimpulan harus diberi nomor. Sub pokok bahasan juga harus dinomori dengan 1.1., 1.2., 1.3., dan seterusnya. Setiap halaman harus diberi nomor dan judul harus diberi halaman 1.
FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN Conflict of interest
Semua penulis wajib menghindari terjadinya Conflict of interest yang meliputi pembiayaan atau hubungan dengan orang lain atau badan paling lama tiga tahun sebelum pengajuan artikel ke jurnal yang dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung penelitian yang bersangkutan
Contoh hal yang potensial menyebabkan Conflict of interest antara lain pekerja, konsultan, kepemilikan bahan, honor, pengajuan registrasi/paten, hibah atau sumber dana yang lain.
Verifikasi Artikel
Artikel yang diajukan ke Jurnal Farmasi Udayana belum pernah dipublikasikan sebelumnya (kecuali dalam bentuk abstrak atau sebagai bagian dari skripsi), tidak dalam posisi akan diterbitkan pada jurnal lain, artikel telah mendapat persetujuan semua penulis yang tercantum di dalam artikel yang bersangkutan dan secara eksplisit telah mendapat persetujuan dari tempat dimana penulis melakukan penelitian dan jika diterima, artikel tidak dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk yang sama dalam bahasa Indonesia atau bahasa lainnya untuk menghindari plagiarisme
Konstribusi
Semua penulis harus berpartisipasi di dalam penelitian dan atau penyipan naskah, sehingga fungsi dari masing-masing penulis harus didefinisikan.
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
iii Kepemilikan artikel
Semua penulis harus memiliki peran penting pada setiap tahap pengajuan artikel yang meliputi: (1) konsep dan desain penelitian, pengolahan data atau menganalisis atau menginterpretasi data, (2) memperbaiki naskah, (3) menyetujui draf akhir yang akan dipublikasikan
Perubahan penulis
Pada jurnal ini dimungkingkan untuk menambahkan, pengurangi, mengubah urutan penulis untuk naskah yang diterima. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain: membuat permintaan untuk dapat menambahkan, mengurangi atau mengubah urutan penulis kepada pengelola jurnal yang diajukan oleh corresponding author yang dicantumkan di dalam naskah yang diajukan dan meliputi: (a) alasan mengapa nama penulis harus ditambahkan, dikurangi atau diubah susunannya (b) konfirmasi tertulis (e-mail, fax, surat) dari semua penulis yang menyatakan persetujuan dengan perubahan tersebut di atas
Bahasa
Penulisan menggunakan bahasa Indonesia sesuai ejaan yang disempurnakan.
PERSIAPAN
Penggunaan program miscrosoft word. File dibuat dalam format asli menggunakan program miscrosoft word. Teks harus dibuat dalam format satu kolom, huruf font Times new roman 11, 1 spasi, ditulis dalam kertas ukuran A4.
Struktur Artikel
Sub pokok bahasan-penomoran
Artikel dibagi menjadi pokok bahasan dengan penomoran yang jelas. Sub pokok bahasan harus diberi nomor 1.1 (kemudian 1.1.1, 1.1.2,...), 1.2 dan seterusnya.
Abstrak tidak dimasukkan dalam sistem penomoran.
Pendahuluan
Nyatakan tujuan dan landasan penelitian, hindari tinjauan pustaka yang terperinci atau kesimpulan dari hasil penelitian
Bahan dan metode
Ungkapkan bahan dan metode secara terperinci untuk kemungkinan keterulangan penelitian. Metode yang umum digunakan cukup menunjukkan sumber pustaka, hanya modifikasi yang relevan yang harus dideskripsikan
Hasil
Pengungkapan hasil harus jelas dan ringkas Pembahasan
Bagian ini harus merupakan kajian mendalam dari hasil penelitian, jangan mengulang pengungkapan hasil. Hindari kutipan dan pembahasan yang berlebihan dari penelitian sebelumnya
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
iv Kesimpulan
Kesimpulan utama dari penelitian sebaiknya ditampilkan dalam kalimat yang singkat dan jelas, yang dapat menjadi bagian tersendiri di dalam pokok bahasan kesimpulan atau menjadi bagian dari pembahasan atau hasil
Appendik
Jika apendik lebih dari satu maka harus dibuat sebagai A, B dan seterusnya.
Persamaan matematika harus diberi nomor terpisah: Pers. (A.1), Pers. (A.2) dan seterusnya. Hal yang sama juga berlaku untuk tabel dan gambar: Tabel A.1;
Gambar. A.1
Informasi penting dalam struktur artikel Judul
Ringkas, jelas dan informatif. Jika dimungkinkan hindari pencantuman persamaan matematika dan singkatan
Nama penulis dan institusi
Ungkapkan institusi tempat bekerja (tempat dimana penelitian dilakukan) di bawah nama penulis. Tunjukkan institusi penulis dengan supercript di belakang nama penulis dan didepan nama institusi. Tuliskan alamat lengkap termasuk kode pos dan nama kota, jika perlu disertakan alamat email masing-masing penulis
Alamat korespondensi
Tunjukkan dengan jelas siapa yang bertanggung jawab terhadap korespondensi semua tahap dari pengajuan, revisi, publikasi maupun sampai pasca publikasi.
Cantumkan nomor telepon disamping alamat email, kode pos. Kontak terperinci harus tetap diperbaharui oleh korespondensi penulis
Alamat penulis
Jika alamat penulis berbeda dibandingkan dengan tempat penelitian semula, maka alamat terbaru atau tetap penulis sebagai catatan kaki dari nama penulis. Alamat dimana penelitian semula dilakukan oleh penulis tetap digunakan sebagai alamat utama. Penulisan catatan kaki untuk alamat terbaru maupun alamat tetap menggunakan supercrip dengan penomoran Arabic
Abstrak
Dibutuhkan abstrak yang jelas, ringkas dan sesuai fakta penelitian. Abstrak harus menunjukan tujuan penelitian secara tegas, hasil yang penting dan kesimpulan umum. Untuk memenuhi persyaratan abstrak ini, disarankan untuk tidak menyertakan tinjauan pustaka, tetapi jika sangat diperlukan wajib mengutip nama penulis dan tahun. Disamping itu dihindari pencantuman singkatan yang tidak umum tetapi jika sangat diperlukan maka harus dijelaskan pada awal abstrak itu sendiri
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
v Gambar
Gambar harus dibuat untuk menyimpulkan isi dari artikel secara jelas untuk dapat menarik perhatian pembaca yang berasal dari berbagai bidang yang berhubungan dengan farmasi. Gambar harus dibuat dalam bagian terpisah dari artikel. Ukuran gambar: sediakan gambar dengan minimal setara 531x1328 pixel atau lebih, tetapi dapat tetap terbaca pada layar 200x500 pixel (pada 91 dpi yang sama dengan 5 x13 cm). Program yang digunakan dapat berupa pdfatau MS Word
Kata kunci
Kata kunci maksimal 6 kata diletakkan langsung di bawah abstrak, hindari penggunaan frase dan penghubung (dan, dari dan sebagainya)
Singkatan
Deskripsikan singkatan yang tidak umum sebagai catatan kaki pada halaman pertama artikel. Singkatan yang menjadi keharusan untuk diungkapkan pada abstrak diwajibkan didefinisikan pada bagian sebelum singkatan tersebut ditulis.
Penulisan singkatan harus konsisten pada seluruh artikel.
Ucapan terima kasih
Cantumkan ucapan terima kasih pada bagian terpisah di bagian akhir artikel sebelum daftar pustaka, hindari penyertaan ucapan terima kasih pada judul, sebagai catatan kaki judul atau bagian artikel lainnya. Buatlah rincian orang yang berkontribusi di dalam penelitian (penerjemah, pengetik atau pembaca dan lain sebagainya)
Unit
Gunakan satuan internasional (SI). Jika satuan diungkapkan dalam unit yang berbeda, sebaikknya diungkapkan kesetaraan dengan SI
Tabel
Penomoran tabel diurut berdasarkan urutan munculnya di dalam artikel. Tabel dibuat dengan tiga garis horisontal, hindari penggunaan garis vertikal dan data yang diungkapkan di dalam tabel tidak diungkapkan berulang pada bagian lain dari artikel
Daftar pustaka
Pastikan daftar pustaka tercantum di dalam artikel. Hasil yang belum dipublikasikan dan personal communication tidak direkomendasikan dimasukkan di dalam daftar pustaka. Pustaka yang ditandai dengan In Press menunjukan bahwa artikel tersebut telah disetujui untuk dipublikasikan dan dapat digunakan sebagai sumber pustaka. Penulisan pustaka mengikuti aturan penulisan pustakan jurnal ini.
Aturan penulisan pustaka
Daftar pustaka harus diurut berdasarkan alfabetis dan kronologi. Jika terdapat lebih dari satu sumber yang berasal dari penulis yang sama pada tahun yang sama, maka harus ditambahkan a, b, c dan seterusnya di belakang tahun terbit.
Penulisan buku
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
vi Penulis, A.A., Penulis, B.B., & Penulis, C.C. (tahun terbit). judul buku: sub judul.
(Edisi [jika bukan edisi pertama}). tempat terbit: penerbit Contoh:
Buku dengan satu penulis
Nama penulis (tanpa singkatan). (tahun terbit). judul buku. Tempat terbit: penerbit Reynords Hadi. (2000). Black pioners. Ringwood,Vic: Penguin
Buku dengan banyak penulis Dua-enam penulis
Dua penulis: kedua penulis. (tahun terbit). judul buku. Tempat terbit: penerbit Gilbert, R., & Gilbert, P. (1998). Maculinity goes to school. St. Leonards, N.S.W.: Allen & Unwin
Lebih dari 6 penulis
Setelah nama dan singkatan nama penulis ke-enam gunakan dkk Buku yang memiliki editor
Broinowski, A. (Ed.) (1990). ASEAN into 1990s. London: Macmillan
Nugent, S.L., Shore, C. (Eds.). (1997). Anthropologyband cultural study. London:
Pluto Press
Buku yang memiliki penulis dan editor
Valery, P. (1957). Oeuvres (J. Hytier, Ed). Paris: Gallimard Bab yang terdapat di dalam buku
Penulis, singkatan nama penulis. (tahun terbit). judul bab:sub judul. editor. judul buku. (hal. x-y). tempat terbit: penerbit
Artikel jurnal
Penulis, singkatan nama penulis. (tahun terbit). judul artikel. singkatan jurnal, volume (issue), halaman
Skipsi/Tesis/Disertasi
Nama penulis, singkatan nama penulis. (tahun terbit). judul. skrispi/tesis/disertasi.
Universitas, kota
Sumber penulisan singkatan jurnal
Index Medicus journal abbreviations: http//www.nlm.nih.gov/tsd/serials/lji.html List of titlle word abbreviations: http//www.issn.org/2-22661-LTWA-online.php CAS (Chemical Abstract Service): http//www.cas.org/sent.html
Submission checklist
Daftar isian di bawah ini dapat digunakan untuk memudahkan pemeriksaan akhir sebelum artikel dikaji oleh editor.
Satu orang penulis ditunjuk sebagai corresponding author:
alamat email
kode pos
nomor telepon atau fax
Semua file yang dibutuhkan telah diupload
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
vii
Kata kunci
Gambar
Tabel (termasuk judul, deskrispi, catatan kaki) Hal selanjutnya yang harus diperhatikan
Gunakan penomoran baris (tiap 5 baris) untuk memudahkan pengkajian naskah
Naskah telah dicek tata bahasa dan pengucapannya
Pustaka telah ditulis sesuao format di dalam jurnal ini
Semua pustaka yang ditulis di dalam daftar pustaka disinggung di dalam teks
Izin telah didapat dari untuk materi yang memiliki hak cipta yang berasal dari sumber lain (termasuk web)
SETELAH ARTIKEL DITERIMA Perbaikan
Naskah yang telah dikoreksi akan dikirimkan kembali dalam bentuk pdf kepada corresponding author (melalui alamat email) sehingga penulis dapat mengunduh untuk keperluan pribadi. Gunakan perbaikan ini untuk mengecek urutan penulisan, mengedit, menyempurnakan dan memperbaiki tulisan, tabel dan gambar. Pengiriman naskah yang telah diperbaiki menyertakan koreksi pertama dari editor ini. Perubahan signifikan dari artikel yang disetujui untuk dipublikasikan dalam jurnal ini harus mendapat persetujuan dari penerbit. Kami akan berusaha untuk mempublikasikan artikel anda akurat dan cepat sehingga diharapkan kami menerima hasil koreksi anda paling lambat 5 hari kerja. Sangat penting koreksi artikel dilakukan dalam satu kali komunikasi sehingga cermati hal-hal yang harus dikoreksi sebelum dikirimkan kembali ke editor jurnal.
Naskah yang dipublikasikan
Artikel akan diberikan kepada corresponding author dalam bentuk pdf melalui email. Penulis akan menerima artikel sesuai format yang terbit di dalam jurnal dan disertai dengan cover jurnal.
INFORMASI UNTUK PENULIS JULI 2019 Vol 8 No 1
viii DAFTAR ISI
hal Halaman Judul ………...
Petunjuk Penulisan ...
Daftar Isi ………...………...
i ii viii 1 Penggunaan Antikoagulan Oral Baru pada Fibrilasi Atrium ………. 1 2 SGLT-2 Inhibitor: Pilihan Terapi Baru untuk Penderita DM Tipe 2 ………. 7 3 Penggunaan Polivinill Pirolidon (PVP) Sebagai Bahan Pengikat Pada Formulasi Tablet
Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) ……… 14 4 Optimasi Konsentrasi Pulvis Gummi Arabicum (PGA) sebagai Emulgator Formulasi Emulsi
Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa) ………. 22 5 Standardisasi Spesifik dan Non-Spesifik Simplisia dan Ekstrak Etanol 96% Rimpang
Kunyit (Curcuma domestica Val.) ……….. 29 6 Uji Aktivitas Analgesik Ekstrak Etanol Daun Jeruk Limau (Citrus amblycarpa (Haskk.)
Ocshe) pada Mencit Jantan Galur Balb/C dengan Metode Hot Plate ………. 36 7 Molecular Docking Terpinen-4-ol pada Protein IKK sebagai Antiinflamasi pada
Aterosklerosis secara In Silico ……… 44 8 Efek Penggunaan Obat Antidiabetes terhadap Luaran Terapi Pasien Diabetes Melitus Tipe
2 Komplikasi Retinopati Diabetik di RSUP Sanglah Denpasar ………. 50
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
22
Optimasi Konsentrasi Pulvis Gummi Arabicum (PGA) sebagai Emulgator Formulasi Emulsi Ekstrak Rimpang Kunyit ( Curcuma longa )
Subagia, I.K.1*, Januarta, I.G.A.1, Arisanti, C.I.S.1, Samirana, P.O. 1
1Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana, Jalan Kampus Unud, Jimbaran, 80364
*E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penyakit maag atau gastritis merupakan suatu keadaan pendarahan atau peradangan mukosa lambung yang bersifat akut maupun kronis. Pengembangan sediaan emulsi ekstrak kunyit sebagai obat maag karena sifat fisiko kimia kurkumin pada ekstrak kunyit bersifat relatif tidak larut dalam air, sehingga dibuat sediaan emulsi untuk meningkatkan kelarutan kurkumin. Penggunaan Pulvis Gummi Arabicum (PGA) sebagai emulgator dapat menghasilkan emulsi yang sangat stabil. Variasi konsentrasi PGA yaitu 20, 25 dan 30%. Ketiga formula yang dibuat memiliki warna coklat, berbau khas aroma mint, dan bertekstur kental yang stabil selama 7 hari penyimpanan. Nilai viskositas pada hari ke-1 dari tertinggi ke terendah yaitu dari F3, F2 dan F1 dengan nilai viskositas masing-masing 1013,33 ± 2,08 cPs, 906,33 ± 0,58 cPs dan 870,67 ± 2,08 cPs. Viskositas pada hari ke-3 dan ke-7 terjadi peningkatan pada ketiga formula. Hasil Pengujian redispersi pada formula 1 2 dan 3 berturut-turut sebanyak 6,67 ± 0,58 kali, 4,33 ± 1,15 kali dan 2,67 ± 1,15 kali pengocokan pada hari ke-1. Selanjutnya terjadi peningkatan jumlah pengocokan pada hari ke-3 dan ke-7 untuk sediaan dapat terdispersi kembali secara homogen. Pengujian tipe emulsi dilakukan dengan metode pengenceran pada ketiga formula menunjukkan tipe minyak dalam air pada ketiga formula dan stabil selama penyimpanan. Pada pengukuran pH hari ke-1 diperoleh pH emulsi yaitu 4,68 ± 0,03, 4,71 ± 0,02 dan 4,79 ± 0,01 berturut turut F1, F2 dan F3. Pada hari berikutnya terjadi penurunan pH pada ketiga formula. Berdasarkan hasil penelitian, bertambahnya konsentrasi emulgator PGA menghasilkan emulsi yang lebih baik yang ditunjukkan dengan konsentrasi PGA 30% menghasilkan emulsi dengan waktu redispersi lebih cepat dibandingkan konsentrasi PGA 20 dan 25%.
Kata kunci: PGA, Emulsi, Curcuma longa, Gastritis
ABSTRACT
Gastritis is a condition of inflammation or bleeding of the gastric mucosa that can be acute or chronic. The development of turmeric extract emulsion preparations as an ulcer medicine because of the physico-chemical properties of curcumin in turmeric extract is relatively insoluble in water, so emulsion preparations are made to increase the solubility of curcumin. The use of Pulvis Gummi Arabicum (PGA) as an emulgator can produce very stable emulsions. PGA concentration variations are 20, 25 and 30%. The three formulas that are made have a brown color, smell of distinctive mint aroma, and have thick, stable texture for 7 days of storage. The viscosity value on day 1 from highest to lowest is from F3, F2 and F1 with viscosity values of 1013,33 ± 2,08 cPs, 906,33 ± 0,58 cPs dan 870,67 ± 2,08 cPs. Viscosity on days 3 and 7 increased in all three formulas. Redispersion test results in formula F1, F2 and F3 respectively 6,67 ± 0,58 times, 4,33 ± 1,15 times and 2,67 ± 1,15 times on the 1st day. Furthermore, an increase in the number of shuffles on days 3 and 7 for the preparation can be dispersed back homogeneously. Emulsion type testing carried out by the dilution method on all three formulas showed the type of oil in water in all three formulas and was stable during storage. On measurement of pH 1 day, the emulsion pH was 4,68 ± 0,03, 4,71 ± 0,02 and 4,79 ± 0,01 respectively F1, F2 and F3. The following day there was a decrease in pH on all three formulas. Based on the results of the study, increasing the
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
23
PGA emulgator concentration resulted in a better emulsion. The 30% PGA concentration produced good emulsions with a faster redispersion time than 20 and 25% PGA concentrations.
Keywords: PGA, Emulsion, Curcuma longa, Gastritis
1. PENDAHULUAN
Penyakit maag atau gastritis merupakan suatu keadaan pendarahan atau peradangan mukosa lambung yang bersifat akut maupun kronis. Gastritis terjadi akibat pola makan yang tidak teratur meliputi frekuensi makan, jumlah dan jenis makanan (Uripi, 2001). Disisi lain, kunci pengobatan penyakit gastritis yaitu dapat mengontrol produksi asam lambung (Wijoyo, 2009). Salah satu pengobatan tradisional untuk penyakit gastritis yaitu bersumber pada Usada Bali. Salah bahan alam dalam usada bali yang dapat mengobati penyakit perut kembung karena masuk angin atau maag adalah kunir warangan atau Kunyit (Nala, 1990).
Tanaman kunyit dengan nama latin Curcuma longa secara tradisional digunakan sebagai pengobatan radang, mencret, sakit kuning, gastritis, ulkus lambung dan sakit perut. Kandungan zat aktif kunyit yaitu kurkuminoid (Hartati, 2013). Yadav et al., (2013) menyatakan kurkumin dapat sebagai agen antiulcer sebagai penanganan gastritis.
Selain itu Santoso (2017) juga menyatakan bahwa pemberian ekstrak kunyit (C. Domestica Val.) mempunyai sifat gastroprotektor sehingga dapat melindungi mukosa lambung tikus. Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian Savaringal dan Sanalkumar (2018) yang mengungkapkan bahwa ekstrak rimpang Curcuma longa memiliki aktivitas anti-ulkus yang signifikan yaitu dosis 500 mg/Kg BB dan 1000 mg/Kg BB pada tikus galur wistar.
Pengembangan sediaan farmasi ekstrak kunyit sebagai obat maag memiliki banyak kekurangan apabila dilihat dari sifat zat aktif yang terdapat dalam ekstrak kunyit yaitu kurkumin. Senyawa kurkumin relatif tidak larut dalam air, sedikit larut dalam benzena dan
kloroform, larut dalam alkohol dan asam asetat glasial (Lina, 2008 ; Parthasarathy et al., 2008).
Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan suatu formulasi sediaan farmasi yang dapat meningkatkan kelarutan kurkumin, salah satunya adalah sediaan emulsi. Pemilihan bentuk sediaan emulsi karena kurkumin bersifat sukar larut dalam air dan lebih mudah larut dalam minyak.
Formulasi sediaan emulsi diperlukan bahan emulgator untuk menstabilkan sediaan emulsi dan fase minyak untuk melarutkan zat aktif kurkumin. Dalam penelitian ini digunakan Pulvis Gummi Arabicum (PGA) sebagai emulgator dan fase minyak berupa olive oil. Penggunaan PGA dapat menghasilkan emulsi yang sangat stabil, tidak terlalu kental, dan dapat meningkatkan stabilitas dengan peningkatan viskositas. Menurut Saifullah dan Aziz (2011), emulsi menggunakan emulgator PGA sebagai bahan pengemulsi memberikan kestabilan emulsi yang tinggi. Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian mengenai optimasi variasi konsentrasi PGA 20, 25 dan 30% dalam formulasi emulsi ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.)
2. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan
a. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi timbangan analitik (Adam AFP-360L), blender (Philips), oven (Binder), Viscometer Brookfield DV-E, pH-meter digital (Mettler Toledo), botol kaca gelap, kertas perkamen, sendok tanduk, mortir dan stamper, kertas saring, batang pengaduk, serta alat gelas (Pyrex).
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
24 b. Bahan
Bahan yang digunakan meliputi serbuk kunyit, olive oil (Bratachem), PGA (Bratachem), aquadest (Bratachem), Sorbitol (Bratachem), Na.
benzoat (Bratachem), etanol 96% (Bratachem), as.
sitrat (Bratachem), dan essence mint (Labor).
PenyiapanEkstrak
Rimpang Kunyit yang diperoleh dari daerah Karangasem dibersihkan terlebih dahulu dengan air, dipotong kecil-kecil, dikeringkan. Rimpang kering diserbukkan dengan blender. Serbuk rimpang kunyit sebanyak 300 g kemudian dimaserasi dengan etanol 96% sebanyak 1800 mL selama tiga hari sambil diaduk. Dilakukan remaserasi sebanyak 2 kali masing-masing selama 1 hari. Maserat yang diperoleh dikumpulkan. Selanjutnya, maserat disaring dan diupakan dengan oven suhu 40-500C hingga diperoleh ekstrak kental.
Rancangan Formula dan Pembuatan Emulsi F1 dan F2
Formula emulsi yang dibuat meliputi zat aktif (ekstrak rimpang kunyit), fase minyak (olive oil), Emulgator (PGA), pemanis (sorbitol), dapar (as. sitrat), Alkalizing agent Tabel 1.Formula Sediaan Emulsi Ekstrak Etanol
Rimpang Kunyit
Bahan Konsentrasi (b/v)
F1 F2 F3
Ekstrak etanol rimpang
kunyit 20 20 20
Olive oil 20 20 20
PGA 20 25 30
Sorbitol 15 15 15
Asam sitrat 0,25 0,25 0,25 Natrium sitrat 0,25 0,25 0,25 Na. benzoat 0,1 0,1 0,1
Ess. mint q.s. q.s. q.s.
Air sampai Ad 100 Ad 100 Ad 100 (Na. sitrat), pengawet (Na. Benzoat), corringen odoris (Ess. Mint) dan pelarut (Air). Pada penelitian ini, emulsi yang mengandung
ekstrak rimpang kunyit dibuat dengan variasi PGA 20, 25 dan 30 % (Tabel 1).
Sediaan emulsi pada penelitian ini menggunakan metode gom basah (4 bagian minyak : 2 bagian gom : 1 bagian air). Pertama olive oil dan ekstrak rimpang kunyit dituang ke dalam mortir, kemudian PGA didispersikan hingga merata dalam minyak. Kemudian diaduk dengan cepat hingga terbentuk korpus emulsi. Sorbitol, as. sitrat, Na. benzoat, na.
sitrat dan essence mint dilarutkan dalam air secukupnya, kemudian secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam korpus emulsi, terakhir ditambahkan air hingga tanda batas (Ansel, 1989).
Evaluasi Sediaan Emulsi a. Uji Organoleptis
Uji organleptis dilakukan dengan mengamati bau, warna, dan bentuk/tekstur sediaan pada hari ke-1, 3 dan 7.
b. Uji Viskositas
Pengukuran dilakukan menggunakan viskometer Brookfield pada pada suhu ruang (27°C) menggunakan spindel no.4 pada kecepatan 100 rpm. Pengukuran dilakukan pada hari ke-1, 3, dan 7 (Febrina dkk., 2007).
c. Uji Redispersi
Sediaan emulsi dimasukkan ke dalam botol 100 ml. Dilakukan pengocokan dengan cara membalikkan botol dengan sudut 1800, dicatat jumlah pengocokan yang diperlukan hingga emulsi terdispersi dengan baik.
Pengukuran dilakukan pada hari ke-1, 3, dan 7 (Febrina dkk., 2007).
d. Uji Tipe Emulsi
Uji tipe emulsi dilakukan dengan melarutkan emulsi ke dalam air. Diamati apakah emulsi tercampur sempurna dengan air, maka emulsi termasuk tipe M/A sedangkan bila emulsi tidak bercampur dengan sempurna
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
25 maka tipe emulsi A/M. Pengukuran dilakukan pada hari ke-1, 3, dan 7 (Martin et al., 1993).
e. Uji pH
Uji pH dilakukan dengan alat pH meter.
Elekroda dikalibrasi dengan larutan pH 4,01 dan 7,00. Selanjutnya elektroda dicelupkan ke dalam sediaan. Dicatat pH yang muncul pada layar. Pengukuran dilakukan pada hari ke-1, 3, dan 7 (Depkes RI, 1995).
3. HASIL
Ekstrak etanol rimpang kunyit yang dihasilkan memiliki warna kuning kecokelatan, tekstur kental dan berbau khas kunyit.
Rendemen yang diperoleh sebesar 24,385 %.
Hasil uji organoleptis ditunjukkan pada Tabel 2 dan Hasil uji viskositas, redispersi, tipe emulsi dan pH tercantum dalam tabel 3.
4. PEMBAHASAN
Pengembangan sediaan farmasi ekstrak kunyit sebagai penanganan penyakit maag diformulasikan kedalam bentuk emulsi.
Namun, Ekstrak kunyit memiliki kekurangan apabila dilihat dari sifat zat aktif di dalam ekstrak kunyit yaitu kurkumin, salah satunya adalah senyawa kurkumin relatif tidak larut dalam air (Lina, 2008). Dipilihnya bentuk emulsi untuk meningkatkan kelarutan kurkumin yang terdapat di dalam ekstrak rimpang kunyit. Sediaan emulsi merupakan sediaan dengan dua fase yang tidak saling campur, dimana salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain dan distabilkan oleh emulgator (Depkes RI, 1995).
Tabel 2. Hasil Uji Organoleptis Emulsi Ekstrak Kunyit
Formula Pemeriksaan Pengamatan Hari Ke-
1 3 7
F1
warna Coklat Coklat Coklat
Bau Mint Mint Mint
Bentuk/
Tekstur Cairan
Kental Cairan
Kental Caira Kental F2 warna Coklat Coklat Coklat
Bau Mint Mint Mint
Bentuk/
Tekstur Cairan
Kental Cairan
Kental Caira Kental
F3
warna Coklat Coklat Coklat
Bau Mint Mint Mint
Bentuk/
Tekstur Cairan
Kental Cairan
Kental Caira Kental
Tabel 3. Hasil Uji Viskositas, Redispersi, Tipe Emulsi dan pH Emulsi Ekstrak Kunyit Pemeriksaan Formula Pengamatan Hari Ke-
(Rata-rata ± SD)
1 3 7
Viskositas (cPs)
F1 870,67
± 2,08 878,33
± 2,52 883,00
± 2,65 F2 906,33
± 0,58 912,67
± 2,52 920,33
± 2,52 F3 1013,33
± 2,08 1019,67
± 2,08 1024,67
± 1,15
Redispersi (X)
F1 6,67 ±
0,58 8,33 ±
0,58 10,67 ± 1,15 F2 4,33 ±
1,15 5,33 ±
0,58 6,00 ± 1,00 F3 2,67 ±
1,15 3,33 ±
0,58 4,00 ± 1,00
Tipe Emulsi
F1 M/A M/A M/A
F2 M/A M/A M/A
F3 M/A M/A M/A
pH
F1 4,68 ±
0,03 4,63 ±
0,03 4,60 ± 002 F2 4,71 ±
0,02 4,71 ±
0,01 4,68 ± 0,01 F3 4,79 ±
0,01 4,78 ±
0,02 4,78 ± 0,01 Keterangan : M/A = Minyak dalam Air
X = Jumlah Kali Pengocokan
Sampel yang digunakan adalah bagian rimpang pada kunyit. Rimpang kunyit dibuat dalam bentuk serbuknya untuk memudahkan dan mengoptimalkan penarikan senyawa kurkumin dari matriksnya. Hal ini dikarenakan dalam bentuk serbuk memungkinkan kontak matriks dengan pelarut semakin besar akibat luas permukaan bahan yang semakin besar (Harbone, J.B, 1967; Tambun dkk., 2016).
Metode yang digunakan dalam tahap ekstraksi ini yaitu Maserasi (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992). Pelarut yang digunakan yaitu etanol
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
26 96%. Metode maserasi ini dilakukan karena prosesnya yang mudah dan sederhana. Bejana maserasi ditutup dengan plastik ikan dan dibungkus dengan lakban hitam sehingga terhindar dari sinar matahari langsung. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya reaksi yang dikatalisis cahaya. Selain itu, pada tahap maserasi dilakukan pengandukan sesekali.
Fungsi pengadukan yaitu meratakan konsentrasi cairan diluar serbuk simplisia, dengan pengadukan dapat menjaga konsentrasi antara larutan di luar sel dengan larutan di dalam sel. Jumlah serbuk kunyit yang digunakan sebanyak 300 gram dan Volume pelarut yang digunakan dalam maserasi pertama adalah 1,8 liter dan dilakukan remaserasi sebanyak 2 kali untuk remaserasi membutuhkan sebanyak 1 liter pelarut.
Perbandingan simplisia yang meningkat terhadap cairan pengekstraksi, memungkinkan memperoleh rendemen yang lebih besar (Voigt, 1995; Dewi dkk., 2016).
Sediaan emulsi pada penelitian ini menggunakan metode gom basah (4 bagian minyak : 2 bagian gom : 1 bagian air). Pertama olive oil dan ekstrak rimpang kunyit dituang ke dalam mortir, kemudian PGA didispersikan hingga merata dalam minyak. Kemudian diaduk cepat hingga terbentuk korpus emulsi.
Sorbitol, as. sitrat, Na. benzoat, na. sitrat dan essence mint dilarutkan dalam air secukupnya, kemudian secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam korpus emulsi, terakhir ditambahkan air hingga tanda batas (Ansel, 1989).
Pada proses emulsifikasi terjadi suatu proses homogenisasi dimana terjadi perubahan ukuran fase terdispersi (globul) yang semakin mengecil sehingga terdispersi baik pada medium pendispersinya. Homogenisasi secara mekanik ternyata mampuu mengurangi ukuran globul sehingga penyebaran PGA secara merata. Prinsip kerja homogenisasi mekanik yaitu dengan cara menggerus partikel besar dengan komponen yang bergerak sehingga menghasilkan partikel berukuran yang lebih
kecil (Intan et al., 2012). Penggunaan natrium benzoate dengan konsentrasi 0,1% bertujuan untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme pada sediaan emulsi, dimana emulsi yang dibuat adalah emulsi tipe minyak dalam air. Air merupakan media yang cepat ditumbuhi mikroorganisme sehingga dipilih natrium benzoate sebagai pengawet yang larut dalam air. Penggunaan asam sitrat dan natrium sitrat pada formula bertujuan sebagai buffer dan alkalizing agent sehingga pH sediaan tetap terkontrol (Rowe et al., 2009).
Viskositas merupakan satuan ukuran resistensi suatu zat cair untuk mengalir.
Pengujian viskositas sediaan emulsi ini menggunakan viskometer brookfield dengan spindle nomor empat kecepatan 100 rpm.
Hasil uji viskositas menunjukkan bahwa pada hari ke-1 viskositas dari tertinggi ke terendah yaitu dari F3, F2 dan F1 dengan nilai viskositas masing-masing 1013,33 ± 2,08 cPs, 906,33 ± 0,58 cPs dan 870,67 ± 2,08 cPs. Viskositas pada hari ke-3 dan ke-7 terjadi peningkatan pada ketiga formula, dimana pada hari ke-7 viskositas sediaan mencapai 883,00 ± 2,65 cPs pada F1, 920,33 ± 2,52 cPs pada F2 dan 1024,67 ± 1,15 cPs pada F3 (Tabel 2.).
Peningkatan viskositas terjadi karena adanya reaksi antara PGA dengan air yang kemudian membentuk polimer-polimer dalam sediaan.
Hasil uji redispersi menunjukkan bahwa formula F1 membutuhkan jumlah pengocokan yang paling banyak untuk dapat terdispersi kembali secara homogen. Sedangkan pada formula F3 jumlah pengocokan semakin sedikit. Dilihat pada hari ke-3 dan ke-7 diperlukan jumlah pengocokan yang lebih banyak dibandingkan hari ke-1 pada uji redispersi. Hal ini disebabkan karena viskositas sediaan pada hari ke-3 dan ke-7 semakin meningkat sehingga akan lebih sulit untuk sediaan terdispersi homogen. Sehingga diperlukan pengocokan yang lebih banyak agar dapat terdispersi kembali secara homogen.
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
27 Uji fisiko kimia sediaan berupa uji tipe emulsi dapat dinilai dari fase yang terbentuk.
Apabila minyak sebagai fase terdispersi dan air sebagai fase pendispersi, maka tipe ini disebut emulsi minyak dalam air (M/A). Sebaliknya, jika air fase terdispersi dan minyak fase pendispersi, maka tipe ini disebut emulsi air dalam minyak (A/M) (Lachman et al., 1994).
Uji tipe emulsi dilakukan dengan cara pengenceran dengan air. Dengan pengenceran dapat dilihat emulsi larut dalam pengencer air maka emulsi yang terbentuk merupakan emulsi minyak di dalam air. Hal ini menandakan memang benar emulsi yang dibuat merupakan emulsi minyak dalam air yang ditunjukkan dengan tipe emulsi sediaan pada ketiga formula adalah tipe minyak dalam air (M/A).
Pengujian selanjutnya yaitu pengujian pH sediaan. Hari ke-1 diperoleh pH emulsi yaitu 4,68 ± 0,03, 4,71 ± 0,02 dan 4,79 ± 0,01 berturut turut F1, F2 dan F3. Pada hari berikutnya terjadi penurunan pH pada ketiga formula. Namun, walaupun demikian ketiga sediaan emulsi ini sudah memenuhi rentang pH yang persyaratkan.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya konsentrasi emulgator PGA menghasilkan emulsi yang lebih baik. Konsentrasi PGA 30% menghasilkan emulsi yang lebih baik dengan waktu redispersi lebih cepat dibandingkan konsentrasi 20 dan 25%.
6. UCAPANTERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing, keluarga penulis, teman-teman dan semua pihak yang telah sangat membantu dalam penelitian ini.
7. DAFTARPUSTAKA
Anief, M. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Ansel, H.C., 1989. Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.
Jakarta: Departeman Kesehatan Republik Indonesia.
Dewi, P. J. N., Amna, H., Sri, M. 2016.
Pengaruh Umur Panen dan Tingkat Maserasi Terhadap Kandungan Kurkumin dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica Val.). Jurnal Rekayasa dan Manajemen Agroindustri. Vol. 4 (2) : 101-111.
Febrina, E., D. Gozali, dan T. Rusdiana. 2007.
Formulasi Sediaan Emulsi Buah Merah (Pandanus Conoideus Lam.) sebagai Produk Antioksidan Alami. Penelitian Peneliti Muda (Litmud) Unpad. Bandung:
Padjajaran.
Harborne JB. 1973. Phytochemical Method.
London: Chapman and Hall, Ltd.
Hartati, S.Y. 2013. Khasiat Kunyit sebagai Obat Tradisional dan Manfaat Lainnya.
Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Vol. 19(2): 5-9.
Intan, K., Hidayat, T., dan Setiabudy, D. 2012.
Pengaruh kondisi homogenisasi terhadap karakteristik fisik dan mutu santan selama penyimpanan. Jurnal Litri.
Vol. 18(1): 34-35.
Kusmardiyani, S. dan A. Nawawi. 1992. Kimia Bahan Alam. Jakarta : Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati.
Lachman, L.; Lieberman, H. A.; Kanig, J. L.
1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Jilid 2. Penerjemah Siti Suyatmi. UI Press. Jakarta.
Lina. 2008. Standarisasi Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.). Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Sanata Darma.
Martin, A., Swarbrick, J., Commarata, A. 1993.
Farmasi Fisik 2. Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press.
Subagia, dkk.
DOI: https://doi.org/10.24843/JFU.2019.v08.i01.p04 pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No 1, Tahun 2019, 22-28
28 Nala, N. 1990. Usada Bali. Denpasar: PT.
Upada Sastra.
Parthasarathy, V. A., Chempakan, B., Zachariah, T. J. 2008. Chemistry of Spices.
CABI : Oxford.
Rowe, R. C., P. J. Sheskey, and M. E. Quinn.
2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients.Sixth Edition. Washington DC: Pharmaceutical Press.
Saifullah M, Aziz MG. 2011. Development Of Orange Flavour Emulsion. Journal Bangladesh Agriculture. Vol. 9(2): 291-296.
Santoso, Joko. 2017. Efektivitas Infusa Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) Sebagai Gastroprotektor Pada Tikus Dengan Model Tukak Lambung. Jurnal Permata Indonesia. Vol. 8(1): 34-44.
Savaringal J. P. dan Sanalkumar K. B. 2018.
Anti-ulcer effect of rhizome of Curcuma longa Linn, by the method ofpyloric
ligation. International Journal of Basic and Clinical Pharmacology. Vol. 7(1): 20-26.
Tambun, R., Harry L., Christika P., dan Ester Manurung. 2016. Pengaruh Ukuran Partikel, Waktu Dan Suhu Pada Ekstraksifenol Dari Lengkuas Merah.
Jurnal Teknik Kimia USU. Vol. 5(4): 53- 56.
Uripi, Vera. 2001. Menu untuk Penderita Hepatitis
& Gangguan Saluran Pencernaan. Jakarta:
Puspa Swara.
Voight, R. 1995. Buku Pengantar Teknologi Farmasi. Edisi V. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Wijoyo. 2009. 15 Ramuan Penyembuh Maag.
Jakarta: Bee Media Indonesia.
Yadav, R. P. and G. Tarun. 2017. Versatility of turmeric: A review the golden spice of life. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry. Vol. 6(1): 41-46