• Tidak ada hasil yang ditemukan

BULETIN VETERINER UDAYANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BULETIN VETERINER UDAYANA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

p-ISSN: 2085-2495 e-ISSN: 2477-2712

BULETIN VETERINER UDAYANA

DITERBITKAN OLEH FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA VOL. 8 NO. 2 AGUSTUS 2016

 Frekuensi Detak Jantung Sapi Bali Kebuntingan Trimester Ke II

 Produksi Antibodi Anti- Dirofilaria immitis Diagnosis Dirofilariasis Anjing

 Frekuensi Pulsus Sapi Bali Pada Masa Kebuntingan Trimester Pertama

 Increasing Farmer Income By Improved Pig Management Systems

 Pemberian Mineral Terhadap Lingkar Dada, Panjang dan Tinggi Tubuh Sapi

 Jenis Otot Dan Lama Penyimpanan Terhadap Nilai Nutrisi Daging Sapi Bali

 Prevalensi Pasteurella multocida Pada Sapi Bali

 Struktur Histologi Dan Histomorfometri Granulosit Pada Sapi Bali

 Pemberian Pakan Tambahan Pada Induk Sapi Bali

 Leukosit Babi Landrace Yang Diberi Pakan Eceng Gondok

Kesembuhan Luka Insisi tikus Yang Diberi Amoksisilin Dan Asam Mefenamat

Uji Alergi Ekstrak Akar Tuba Terhadap Kulit Anak Kucing Lokal

Studi Bio-Molekuler Virus Penyakit Jembrana: Dasar Pengembangan Vaksin

(2)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

E-jurnal:http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet

Terbitan Berkala Ilmiah Ini Kerjasama Antara

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia (ADHPHKI)

Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali

Dicetak oleh UPT. Percetakan Universitas Udayana Isi diluar tanggungjawab percetakan

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

E-jurnal:http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet

Terbitan Berkala Ilmiah Ini Kerjasama Antara

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia (ADHPHKI)

Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali

Dicetak oleh UPT. Percetakan Universitas Udayana Isi diluar tanggungjawab percetakan

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

E-jurnal:http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet

Terbitan Berkala Ilmiah Ini Kerjasama Antara

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia (ADHPHKI)

Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali

Dicetak oleh UPT. Percetakan Universitas Udayana Isi diluar tanggungjawab percetakan

(3)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

Burung Kasuari yaitu salah satu dari dua genus burung didalam suku Casuariidae yang memiliki ukuran sangat besar serta tidak bisa terbang.

Redaksi:

Penanggung Jawab : Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Ketua : Ni Ketut Suwiti. Sekretaris : I Wayan Sudira. Anggota : Iwan Harjono Utama, I Nengah Kerta Besung, Wayan Bebas, I Wayan Nico Fajar Gunawan, Luh Made Sudimartini, Kadek Karang Agustina, AAG Oka Dharmayuda, Made Kardena, Tjok Sari Nindia, I Gusti Ayu Agung Suartini. Tata Usaha: Made Pramodya Hapsari Dewi. Sekretariat : FKH Universitas Udayana. Jalan PB Sudirman Denpasar Telp. (0361) 223791.

Email:[email protected]. Web: http//www.ojs.unud.ac.id/index,php/buletinvet.

Naskah yang dikirim ke redaksi Buletin Veteriner Udayana tidak diperkenankan dipublikasikan lagi secara keseluruhan atau sebagian tanpa seijin Buletin Veteriner Udayana

BULETIN VETERINER UDAYANA

(4)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam, DVM Imunologi Molekuler dan Seluler. Lab. Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

Prof. Dr. Ir. I Gst Nyoman Gde Bidura, MS

Bioteknologi Pakan Fakultas Peternakan Universitas Udayana Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D

Lab. Nutrisi dan Makanan Ternak/Herbivora Fakultas Peternakan Universitas Mataram

drh. Made Sriasih, M. Agr. Sc., Ph.D

Lab. Biotechnology and Immunology Fakultas Peternakan, Universitas Mataram.

Dr. Drh. Tyas Rini Saraswati,M,Kes

Lab. Ilmu Faal dan Kasiat Obat Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Diponegoro

Ir. I Nengah Sujaya , M.Agr.Sc Ph.D

Intestinal Microbiology, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

dr. Ni Nengah Dwi Fatmawati, S.Ked., SpMK, Ph.D

Medicine, Dentistry, and Pharmaceutical. Bag. Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Univesitas Udayana

Prof. Ir. I Made Anom S. Wijaya, M.App.Sc., Ph.D Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Universitas Udayana

Prof. Dr. drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika Lab. Virologi Veteriner Universitas Udayana

Dr. Drh I Wayan Suardana, MSi

Dairy Sciences Lab. Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

MITRA BESTARI BULETIN VETERINER UDAYANA

(5)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

Buletin Veteriner Udayana

Udayana Veterinary Bulletin

Terbit sejak: 1 Pebruari 2009 Naskah asli

Original article

Frekuensi Detak Jantung Sapi Bali Betina Pada Kebuntingan Trimester Ke II

(FREQUENCY OF HEART RATE BALI FEMALE CATTLE IN THE SECOND TRIMESTER OF PREGNANCY)

Tiara L. Rona, I Nyoman Suartha, Made Kota Budiasa...105 Produksi Antibodi Anti-Dirofilaria immitis Untuk Pengembangan Diagnosis

Dirofilariasis Pada Anjing

(THE PRODUCTION OF ANTI-Dirofilaria immitis ANTIBODIES FOR THE DIAGNOSIS DEVELOPMENT OF DIROFILARIASIS IN DOGS)

I Gusti Made Krisna Erawan, Ida Tjahajati, Wisnu Nurcahyo, Widya Asmara ...112 Frekuensi Pulsus Sapi Bali Pada Masa Kebuntingan Trimester Pertama Di Sentra

Pembibitan Sapi Bali, Desa Sobangan, Mengwi Badung

(PULSUS FREQUENCY OF BALI CATTLE IN THE FIRST TRIMESTER OF GESTATION AT BALI CATTLE BREEDING CENTER SOBANGAN VILLAGE, MENGWI BADUNG)

Kristiana Yoaltiva Jinorati, I Nyoman Suartha, I Ketut Gunata ...117 Increasing Farmer Income By Improved Pig Management Systems

(PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK MELALUI PERBAIKAN MANAJEMEN PETERNAKAN BABI)

Kadek Karang Agustina, I Wayan Wirata, Anak Agung Gde Oka Dharmayudha,

I Made Kardena, Nyoman Sadra Dharmawan ...122 Pengaruh Pemberian Mineral Terhadap Lingkar Dada, Panjang dan Tinggi Tubuh

Sapi Bali Jantan

(THE EFFECTS OF MINERALS ON THE CHEST CIRCUMFERENCE, BODY LENGTH AND BODY HEIGHT OF MALE BALI CATTLE)

I Wayan Gunawan, Ni Ketut Suwiti, Putu Sampurna ...128 Pengaruh Perbedaan Jenis Otot Dan Lama Penyimpanan Terhadap Nilai Nutrisi

Daging Sapi Bali

(THE EFFECT OF MUSCLE TYPE AND LONGER STORAGE TO THE NUTRITION VALUE OF BALI CATTLE)

Anjelia Martina Dewi, Ida Bagus Ngurah Swacita, Ni Ketut Suwiti ...135 Prevalensi Pasteurella multocida Pada Sapi Bali Di Bali

(PREVALENCE OF Pasteurella multocida IN BALI CATTLE IN BALI) I Nengah Kerta Besung, Ketut Tono PG, Aida Louis Tenden Rompis,

I Gusti Ketut Suarjana ...145 DAFTAR ISI

(6)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

Struktur Histologi Dan Histomorfometri Granulosit Pada Sapi Bali Pasca Pemberian Mineral

(THE HISTOLOGICAL STRUCTURE AND HISTOMORPHOMETRY OF GRANULOCYTE IN BALI CATTLE POST MINERAL ADMINISTRATION)

Ni Luh Sri Sundari Rahayu, Ni Ketut Suwiti, Putu Suastika ...151 Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Pada Induk Sapi Bali Terhadap Ukuran

Dimensi Panjang Pedet

(THE SUPPLEMENTARY FEEDING EFFECT IN BALI CATTLE TO CALF LENGTH DIMENSION)

Harry Yoga Nugraha, I Putu Sampurna, I Ketut Suatha ...159 Total Dan Diferensial Leukosit Babi Landrace Yang Diberi Pakan Eceng Gondok

(Eichornia crassipes) Dari Perairan Tercemar Timbal (Pb)

(TOTAL AND DIFFERENTIAL LEUCOCYTES OF LANDRACE SWINE WERE GIVEN FEED WATER HYACINTH (Eichornia crassipes) FROM LEAD (PB) POLLUTED WATER) Komang Suciani Paramita, I Gede Mahardika, Nyoman Sadra Dharmawan ...166 Kecepatan Kesembuhan Luka Insisi Yang Diberi Amoksisilin Dan Asam Mefenamat

Pada Tikus Putih

(THE HEALING SPEED OF WOUND INCISION WERE GIVEN AMOXICILLIN AND MEFENAMIC ACID IN WHITE RATS)

I Wayan Fandhi Wibawa Lostapa, A.A. Gde Jaya Wardhita, I Gusti Agung Gde Putra Pemayun, Luh Made Sudimartini ...172 Uji Alergi Ekstrak Akar Tuba Terhadap Kulit Anak Kucing Lokal

(ALLERGY TEST OF TUBA ROOT EXTRACTS ON SKIN OF LOCAL KITTENS)

Siswanto, I Nyoman Sulabda, I Gede Soma ...180 Studi Bio-Molekuler Virus Penyakit Jembrana: Sebagai Dasar Pengembangan Tissue

Culture Vaksin

(BIO-MOLECULAR STUDY OF JEMBRANA VIRUS: AS BASIC DEVELOPMENT OF TISSUE CULTURE VACCINE)

I Wayan Masa Tenaya...187

(7)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

Dr. Sagung Chandra Yowani,S.Si.,Apt.,M.Si

Lab. Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.

Dr. dra. Tyas Rini Saraswati,M.Kes

Lab. Ilmu Faal dan Khasiat Obat Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Diponegoro.

Dra. Ni Luh Watiniasih, M.Sc., Ph.D.

Lab. Ekofisiologi Hewan Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.

Dr. drh. I Nyoman Suartha, MSi.

Lab. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof. Dr. drh. Gusti Ayu Yuniati Kencana, MP.

Lab. Virologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Dr. drh. I Ketut Suatha, MSi

Lab. Anatomi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Dr. drh I Nengah Kerta Besung, MSi

Lab. Bakteriologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Dr.drh. I Gusti Ayu Agung Suartini, MSi.

Lab. Biokimia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Dr. drh. I Gusti Made Krisna Erawan, MSi.

Lab. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Drh. Kadek Karang Agustina, MP.

Lab. Kesmavet, Fakutas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Drh. Made Sudimartini, MP

Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Drh. Wayan Nico Fajar, M.Si

Lab. Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof . Ir. I.G.A.A Ambarawati, MEc. PhD.

Lab. Pengembangan Bisnis Program Studi Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Dra. Ni Made Pharmawati, MSc. PhD.

Lab. Bioteknologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Dr. drh. Maxs U E Sanam.

Lab. Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Cendana.

Prof. Dr. drh. Pudji Astuti

Lab. Fisiologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada.

Prof. Dr.drh. I Nyoman Suarsana, MSi.

Lab. Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof. Dr. drh Ni Ketut Suwiti, MKes,

Lab. Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Dr.drh. Michael Haryadi, MP.

Lab. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Drh. Ni Luh Putu Agustini, MP.

Lab. Bioteknologi Balai Besar Veteriner Denpasar.

Drh. Ni Made Restiati, Mphil.

Klinisi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Bali Dr.drh. AETH Wahyuni, MSi.

Lab. Mikrobiologi , Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada MITRA BESTARI TAMU

(8)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN:

2477-2712

Buletin Veteriner Udayana

Vol. 8 No. 1-2 Tahun 2016

Alergi ...180 amoksisilin.... 172 anak babi ….17 anak kucing ...180 anestesi ….99 anjing ….65 antibody….112

antigen ekskretori-sekretori….112 asam mefenamat ....172

asap cair….93

babi Landrace….1, 166 bagian-bagian kaki ….44 canine parvovirus ….79 coliform ….30, 71 crude ….79 D. immitis….112 daging ….86

daging sapi bali ...135

dataran tinggi dan rendah ….71 daya hidup ….1

daya ikat air….93

diferensial leukosit ….8, 166 dimensi panjang ....159 E. coli ….30, 71 E. coli O157 ….30 E. coli O157:H7 ….30 eceng gondok ...166 ekstrak akar tuba ...180 eritrosit ….99

feses sapi ….30

frekuensi detak jantung...106 frekuensi pulsus...117 frekuensi respirasi ….25 hematokrit ….99 hemoglobin ….99 histopatologi ….65

histomorfometri granulosit ...151 imunoglobulin yolk ….79 income... 122

induk ….44 in vitro .... 187 jenis kelamin ….44 jenis otot ...135

kebuntingan trimester pertama . 117

ketamin ….99

kesembuhan luka ....172 management ... 122 lama penyimpan an ...135 lingkar dada ...128 lipoprotein ….86 longissimus dorsi….93 metacestoda T. saginata ….59 mineral ….8, 52, 71, 128, 151 motilitas ….1

nilai nutrisi ...135 non coliform ….52 panjang tubuh ...128 pasar tradisional ….17 Pasteurella multocida ...145 pedet ….36, 44

pengaruh pemberian pakan ...159 penyimpanan spermatozoa….1 pH ….93

pig ... 122 plasma ….86 plasma nutfah….106 presipitat ….79

prevalensi ….17, 65, 145 protozoa saluran cerna ….17

sapi bali …. 8, 36, 44, 52, 59, 71, 86, 93, 106, 117, 128, 145, 151,159, 187

sapi bali betina ….25 sitokin ... 187 Sobangan ….25 status praesen ….36 struktur histology ...151 suhu ….79

telur T. saginata ….59 timbal (pb) ...166 tinggi tubuh ...128 tipe lahan ….8 total bakteri ….52 total leukosit ....166 tumor kulit ….65

virus penyakit jembrana….187 vitamin E ….1

xilasin ….99

INDEKS SUBJEK

(9)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN: 2477-2712

Buletin Veteriner Udayana

Vol. 8 No. 1-2 Tahun 2016 INDEKS PENULIS

Pramita IDADP….52 Putra IPC….8 Putri PJRA….30 Putriningsih S….79 Rahayu NLSS...151 Rompis ALT ...145 Rona TL ...106

Sampurna IP….44, 52, 71, 128, 159 Sari SRPW….36

Serang PM….25 Setiasih LE….79 Siswanto ....180 Soma IG ...180 Suardana IW….30 Suarjana IGK...145 Suarsana IN….86 Suartini IGAA….79 Suartha IN….36, 106, 117 Suatha IK….25, 44, 159 Sudewi NMAA….17 Sudimartini LM….99, 172 Sudisma IGN….99 Sulabda IN ....180 Supartika IKE….65 Susanta IME….44

Suwiti NK….8, 128, 135, 151 Swacita IBN ...135

Swastika K….59, 151 Tanaya IWM 187 Tjahajati I ....112 Tono PG ...145 Warditha AAGJ ... 172 Wirata IW ...122 Abustam E….93

Agustina KK ….17, 59, 122 Agustini NLP….79

Ali HM….93 Ardana IBK….8, 99 Arjentinia PGY….25 Asmara W....112 Batan IW….36 Bebas W….1

Besung INK….30, 52, 71, 145 Budiasa MK….1, 106

Buyona GL….1 Damriyasa IM….59 Dewantari NRA….71 Dewi AM ...135

Dharmayudha AAGO….17, 122 Dharmawan NS….59, 122, 166 Dwinata IM….59

Erawan IGM ....112 Gaol RL….99 Gunata IK...117 Gunawan W ...128 Jinorati KY ...117 Kardena IM….65, 122 Mahardika IG .... 166 Lostapa IWFW ....172 Mango EE….65 Nugraha ... 159 Nurwidana DL….79 Nurcahyo W ....112 Oka IBM….17, 59 Paramita KS ....166 Pemayun IGAGP ...172

(10)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN: 2477-2712

1. Ketentuan Umum

a. BuletinVeteriner Udayana memuat tulisan ilmiah dalam bidang Kedoteran Hewan dan Peternakan, berupa hasil penelitian, artikel ulas balik (review).

b. Naskah/makalah harus orisinal dan belum pernah diterbitkan. Apabila diterima untuk dimuat dalam Buletin Veteriner Udayana, maka tidak boleh diterbitkan dalam majalah atau media yang lain.

2. Naskah ilmiah dicetak dengan kertas ukuran A4. Naskah diketik dengan spasi menggunakan program olah kata word for windows, huruf Times New Roman ukuran huruf 12.

3. Tata cara penulisan naskah hasil penelitian hendaknya disusun menurut urutan sebagai berikut: Judul, Identitas penulis, Abstrak, Abstract, Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil dan Pembahasan, Simpulan dan Saran, Ucapan terimakasih dan Daftar Pustaka.

Upayakan dicetak hitam putih, dan keseluruhan naskah tidak lebih tidak kurang dari 10-15 halaman.

a. Judul: Singkat dan jelas.

b. Identitas penulis: Nama ditulis lengkap (tidak disingkat) tanpa gelar. Bila penulis lebih dari seorang, dengan alamat, instansi yang berbeda, maka di belakang setiap nama diberi indeks atas angka arab. Alamat penulis ditulis di bawah nama penulis mencakup laboratorium, lembaga, dan alamat lengkap dengan nomer telepon/faksimili dan Email. Indeks tambahan diberikan pada penulis yang dapat diajak berkorespondensi (corresponding author).

c. Abstrak: Ditulis dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu dan bahasa Inggris bila naskah dalam bahasa Indonesia, begitu pula sebaliknya. Abstrak dilengkapi kata kunci (keywords) yang diurut berdasarkan kepentingannya. Abstrak memuat ringkasan naskah, mencakup seluruh tulisan tanpa mencoba merinci setiap bagiannya. Hindari menggunakan singkatan.

d. Pendahuluan: Memuat tentang ruang lingkup, latar belakang tujuan dan manfaat penelitian. Bagian ini hendaknya memberikan latar belakang agar pembaca dapat memahami dan menilai hasil penelitian tanpa membaca laporan-laporan sebelumnya yang berkaitan dengan topik. Manfaatkanlah pustaka yang dapat mendukung pembahasan.

e. Metode Penelitian: Hendaknya diuraikan secara rinci dan jelas mengenai bahan yang digunakan dan cara kerja yang dilaksanakan, termasuk metode statistika.

Cara kerja yang disampaikan hendaknya memuat informasi yang memadai sehingga memungkinkan penelitian dapat diulang dengan berhasil.

f. Hasil dan Pembahasan: Disajikan secara bersama dan membahas dengan jelas hasil-hasil penelitian. Hasil penelitian dapat disajikan dalam bentuk tertulis di dalam naskah, tabel, atau gambar. Kurangi penggunaan grafik jika hal tersebut dapat dijelaskan naskah. Batasi pemakaian foto, sajikan foto yang jelas menggambarkan hasil yang diperoleh. Gambar dan tabel harus diberi nomor dan dikutip dalam naskah. Pembahasan yang disajikan hendaknya memuat tafsir atas hasil yang diperoleh dan bahasan yang berkaitan dengan laporan-laporan sebelumnya. Hindari mengulang pernyataan yang telah disampaikan pada metode, hasil dan informasi lain yang telah disajikan pada pendahuluan.

g. Simpulan dan Saran: Disajikan secara terpisah dari hasil dan pembahasan.

KETENTUAN UNTUK PENULISAN NASKAH

(11)

Volume 8 No. 2 Agustus 2016 p-ISSN : 2085-2495; e-ISSN: 2477-2712

h. Ucapan Terimakasih: Dapat disajikan bila dipandang perlu. Ditujukan kepada yang mendanai penelitian dan untuk memberikan penghargaan kepada Lembaga maupun perseorangan yang telah membantu penelitian atau proses penulisan.

i. DaftarPustaka: Disusun secara alfabetis menurut nama dan tahun terbit.

Singkatan majalah/jurnal berdasarkan tata cara yang dapat dipakai oleh masing- masing jurnal. Proporsi daftar pustaka jurnal/majalah ilmiah sedikitnya 60%, dan teks book 40%. Contoh penulisan daftar pustaka:

Jurnal/majalah

Cowle SM, Horae S, Mosselman S, Parker MG.1997. Estrogen receptor alpha and beta for heterodimeson DNA. J Biol Chem, 272(1):158-162.

Buku

Gordon I. 1997. Controlled reproduction in sheep and goats. Controlled reproductionin farm animal series. 2ndEd. Cab. Internationa. Ireland

Bab dalam Buku

Lukert PD, Saif YM. 1997. Infectious bursal disease. In: Diesease of Pultry. 10th Ed. Calnek BW, Barness HJ, Beard CW, McDaugrad LR, Saif YM. (eds). Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA. Pp. 721-738.

Prosiding

Muzzarelli R. 1990. Chitin and chitosan: Unique cationic polysaccharides, In:

Proceeding Sympotium Towards a Carbohydrate Based Chemistry. Ames, France, 23-26 Oct. 1989. Pp. 199-231.

Disertasi/Tesis

Said S. 2003.Studies on Fertilization of rat soocytes by intra cytoplasmic sperm injection. (Disertation). Okayama: Okayama University.

Website

Gorman C. 1997. The new Hongkong Flue. http://www.pathfinder.com/time/

magazine/1997/dom/971229/heatlh.thenewhong_html

4. Pengiriman naskah dapat dilakukan setiap saat dalam bentuk cetakan (printout) sebanyak dua eksemplar dan satu softcopy kepada:

Redaksi BuletinVeteriner Udayana

Alamat: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Jl.PB Sudirman Denpasar

Telp. (0361) 223791; Fax.(0361) 223791 Email:[email protected]

5. Terhadap naskah/makalah yang dikirim, redaksi berhak untuk: memuat naskah/makalah tanpa perbaikan, memuat naskah/makalah dengan perbaikan, menolak naskah/makalah. Semua keputusan redaksi tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat untuk keperluan itu.

6. Setiap naskah yang dikirim ke redaksi untuk dipublikasikan dalam Buletin Veteriner Udayana akan dipandang sebagai karya asli penulis dan bila diterima, naskah tersebut tidak diperkenankan dipublikasikan lagi secara keseluruhan ataupun sebagian tanpa seijin Buletin Veteriner Udayana.

(12)

Buletin Veteriner Udayana Volume 8 No. 2: 151-158

pISSN: 2085-2495; eISSN: 2477-2712 Agustus 2016

151

Struktur Histologi Dan Histomorfometri Granulosit Pada Sapi Bali Pasca Pemberian Mineral

(THE HISTOLOGICAL STRUCTURE AND HISTOMORPHOMETRY OF GRANULOCYTE IN BALI CATTLE POST MINERAL ADMINISTRATION)

Ni Luh Sri Sundari Rahayu1, Ni Ketut Suwiti2, Putu Suastika2

1Praktisi dokter hewan di Kabupaten Karangasem

2Laboratorium Histologi Veteriner Universitas Udayana, Jln. PB. Sudirman Denpasar-Bali, Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologi dan histomorfometri granulosit pada sapi bali pasca pemberian mineral. Sebanyak 24 sampel darah sapi bali terdiri dari tiga kelompok perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini. Pengambilan sampel darah dilakukan melalui vena jugularis. Apusan darah dibuat dengan menggunakan metode slide kemudian diikuti oleh fiksasi dan pewarnaan Hematoxilin Eosin. Pengukuran granulosit dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 100x, dan dianalisis dengan analisis varian. Struktur histologi analisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mineral dalam pakan tidak berpengaruh nyata terhadap histomorfometri dari neutrofil, eosinofil, dan basofil. Selain itu struktur histologi granulosit sapi bali juga tidak berbeda nyata diantara kelompok perlakuan.

Kata kunci: sapi bali, mineral, struktur histologi, histomorfometri granulosit ABSTRACT

The aims of this study was to describe the histologycal structure and histomorphometry of granulocyte in bali cattle post mineral administration. A total of 24 blood samples of bali cattle consist of three treatment groups were used in this study. Blood sampling was done through the jugular vein. The blood slides were made using slide method performed in the field then followed by fixation and staining Hematoxilin Eosin. Granulocyte measurements performed a microscope using a 100x magnification, and then analyzed by analysis of variant. The structire histological analyzed by qualitative descriptive analysis. The results showed that administration of minerals in the feed has no significant effect for histomorphometry of the neutrophils, eosinophils, and basophils cell. In addition, there was alsos no defference of histological structure of granulocyte in between group.

Keywords: bali cattle, minerals, histological structure, histomorphometry granulocyte PENDAHULUAN

Sapi bali (Bos sondaicus) adalah salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia (Handiwirawan dan Subandriyo, 2004). Sapi bali tidak hanya terdapat di Bali melainkan sudah banyak tersebar di beberapa daerah di Indonesia yakni NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa Timur. Sapi bali ini merupakan plasma nutfah yang perlu dipertahankan

keberadaannya dan dilestarikan karena memiliki beberapa keunggulan spesifik, diantaranya memiliki sifat reproduksi dan kualitas karkas sangat baik, tahan pada kondisi lingkungan tropis dan pakan yang buruk, serta mempunyai fertilitas yang tinggi.

Bagi peternak, sapi bali di Provinsi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani dan memiliki empat

(13)

Buletin Veteriner Udayana Rahayu et al.

152

fungsi penting bagi masyarakat yaitu:

sebagai tenaga kerja pertanian, sebagai sumber pendapatan, sebagai sarana upacara keagamaan, sebagai hiburan, dan objek pariwisata (Nur, 2005). Sapi bali banyak dipelihara oleh masyarakat sebagai tabungan bukan sebagai bisnis yang menjanjikan keuntungan, sehingga peternak sapi bali terkadang tidak memperhatikan kebutuhan pakan sapi tersebut dan hanya memberikan pakan hijauan yang didapat dari lingkungan sekitarnya tanpa ada pakan tambahan (Sariubang dan Surya, 2000).

Pemberian hijauan saja tidak akan mencukupi kebutuhan nutrisi mineral, karena tidak semua unsur mineral yang dibutuhkan sapi bali terdapat pada pakan yang tumbuh di suatu lahan (Dian, 2014).

Dalam hal ini, ketersediaan mineral dipengaruhi oleh lahan atau tanah.

Mineral dalam darah berperan untuk proses fisiologis tubuh, proses enzimatis dan hormon, perbaikan sel, sebagai katalis dan regulator, reproduksi serta untuk kekebalan tubuh yang diperankan oleh sel darah putih (McDonald, 2010).

Suwiti et al. (2012) menyatakan bahwa sapi bali di Bali mengalami defisiensi mineral makro (P, K dan Cl) serta defisiensi mineral mikro (Zn, Mn, Se dan Cu). Walaupun mikro mineral diperlukan dalam jumlah yang sedikit oleh tubuh, namun sangat berperan dalam pembentukan darah, seperti mineral Fe berperan dalam pembentukan sel darah merah, terutama dalam pembentukan hemoglobin (Dharma et al., 2005 ; Arifin, 2008). Sedangkan Zn, Mn, Se, dan Cu sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk sistem kekebalan tubuh, baik secara humoral ataupun seluler (Spears, 1999).

Kebutuhan mineral sangatlah penting dalam sistem pertahanan, terutama proses hematopoiesis. Mineral dapat diberikan dalam berbagai bentuk, seperti mencampurnya dalam pakan. Bentuk pemberian mineral dapat diberikan berupa : bentuk mix dan cetak.

METODE PENELITIAN Materi Penelitian

Sampel berupa darah sapi bali jantan sebanyak 24 ekor yang dipelihara di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli.

Sapi tersebut diberi tiga perlakuan berbeda yaitu : kontrol, bentuk mix, dan cetak. Bahan yang digunakan untuk pembuatan preparat apusan darah dalam penelitian ini adalah methyl alkohol absolut (metanol absolut), pewarna Hematoxilin Eosin, alkohol, aquadest, dan minyak emersi. Sedangkan bahan yang digunakan sebagai perlakuan bentuk mix terdiri dari 500 gram dedak padi, 500 gram jagung kuning, 7,5 gram mineral premix, dan bahan yang digunakan dalam pembuatan bentuk cetak sama dengan bahan bentuk mix hanya saja ditambahkan 30 gram tepung kanji serta 600 liter air. Pakan yang diberikan pada sapi yang menjadi kontrol terdiri dari 70% rumput dan 30% leguminosa (lamtoro, kaliandra, dadap, dan lain-lain).

Alat-alat yang digunakan untuk pembuatan preparat apusan darah berupa : spuit 3 ml, obyek gelas, gelas fiksasi (coplin jar), beaker gelas, rak pewarna, mikroskop, dan lensa ukur sel darah (mikrometer mikroskop). Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk pembuatan bentuk mix dan cetak berupa : timbangan, pencetak pakan, mortar, baskom besar, sendok, panci penangas, spatula, kompor, oven, plastik pembungkus, dan aluminium foil.

Metode Penelitian

Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji palatabilitas. Uji ini dilakukan selama satu minggu yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan sapi bali terhadap formulasi ransum yang akan digunakan sebagai perlakuan, dan secara tidak langsung dapat melakukan adaptasi serta mencari metode yang digunakan selama penelitian.

(14)

Buletin Veteriner Udayana Volume 8 No. 2: 151-158

pISSN: 2085-2495; eISSN: 2477-2712 Agustus 2016

153

Sampel darah diambil setelah tiga bulan pemberian perlakuan mineral bentuk mix dan cetak. Sampel darah dari 24 ekor sapi bali jantan diambil dengan menggunakan spuit 3 ml yang aseptik melalui vena jugularis. Sampel darah tersebut kemudian dibuat apusan darah sebanyak 24 buah sesuai jumlah sampel sapi. Pembuatan sampel apusan darah dan fiksasi langsung dibuat di lahan tempat pemeliharaan sapi. Metode yang digunakan dalam pembuatan sampel apusan darah yaitu dengan metode slide.

Sedangkan proses pewarnaan Hematoxilin Eosin serta pemeriksaan histologi dan histomorfometri dilakukan di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana.

Pengukuran granulosit dilakukan di bawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran lensa obyektif 100x dibantu dengan meneteskan minyak emersi untuk mengurangi terjadinya bias. Pengukuran dilakukan dengan metode mikrometer mikroskop. Proses kerja mikrometer mikroskop yaitu dengan memasang mikrometer okuler di atas lensa okuler mikroskop. Kemudian dilanjutkan dengan memasang mikrometer objektif di bawah lensa objektif yakni di meja benda mikroskop. Langkah berikutnya mencari bayangan skala mikrometer objektif dan mikrometer okuler yang paling jelas.

Kalibrasi dilakukan dengan mensejajarkan kedua bayangan skala, yakni skala mikrometer okuler dan skala mikrometer objektif dengan memutar bagian atas lensa okuler.

Pada penelitian ini skala okuler yang diperoleh yaitu 3,5 skala dan skala objektifnya 5 skala. Jadi skala kalibrasi yang digunakan yaitu 7 µm. Pengukuran dilakukan pada granulosit sapi bali yang masing-masing dihitung lima sel pada setiap preparat lalu ukuran yang didapat dikalikan dengan hasil kalibrasi (7 µm) kemudian dirata-ratakan dan dianalisis.

Analisis Data

Data yang diperoleh berupa ukuran sel darah granulosit dianalisis dengan analisis varian. Sedangkan struktur histologi dianalisis dengan deskriptif kualitatif menggunakan SPSS 17 (Sampurna dan Nindhia, 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Histologi Granulosit (Neutrofil, Eosinofil, Basofil) Sapi Bali

Struktur histologi neutrofil sapi bali kontrol, bentuk mix, dan cetak disajikan pada Gambar 1. Hasil pengamatan struktur histologi granulosit sapi bali pasca pemberian mineral dalam bentuk mix, dan cetak terhadap struktur histologi pada 24 sampel menunjukkan berbagai variasi. Struktur histologi granulosit sapi bali kontrol dengan diberi tambahan mineral dalam bentuk mix dan cetak tidak berbeda. Neutrofil memiliki tiga gelambir dan terlihat jelas.

Pada Gambar 1 terlihat bahwa struktur histologi neutrofil sapi bali kontrol, bentuk mix, dan cetak memberikan berbagai variasi bentuk.

Terlihat pada gambar neutrofil perlakuan bentuk cetak memiliki bentuk gelambir lebih besar dibandingkan dengan gelambir pada neutrofil sapi kontrol dan bentuk mix. Bila dibandingkan dengan neutrofil pada sapi bali yang diberikan perlakuan bentuk mix terlihat gelambirnya sama besar seperti pada kontrol, namun bila dicermati terlihat ada perbedaan pada bagian sitoplasmanya.

Sitoplasma sel netrofil yang diberikan mineral terlihat lebih besar dan jelas dibandingkan dengan kontrol. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor pemberian mineral yang ditambahkan pada pakan. Menurut Suwiti et al. (2012) mineral berpengaruh terhadap struktur sel-sel sistem pertahanan.

(15)

Buletin Veteriner Udayana Rahayu et al.

154

Gambar 1. Variasi struktur histologi neutrofil sapi bali A. kontrol, B. bentuk mix, dan C.

cetak. Panah berwarna putih menunjukkan gambaran nukleus, dan panah berwarna hitam menunjukkan gambaran sitoplasma. Pewarnaan Hematoxilin Eosin dengan pembesaran 100X.

Neutrofil merupakan sel darah granulosit yang paling banyak ditemukan pada kebanyakan hewan. Memiliki granul halus pada sitoplasma, inti bergelambir, inti kromatin terlihat pekat dan bergerombol. Inti neutrofil tidak berbentuk bulat melainkan berlobus yang berjumlah 2-5 lobus bahkan dapat lebih.

Neutrofil memiliki fungsi sebagai garis pertahanan pertama (first line of defense) terhadap serangan mikroorganisme, trauma jaringan atau pemicu sinyal

inflamasi lainnya. Peningkatan neutrofil muda mencerminkan infeksi yang terjadi masih baru (akut), disebut dengan istilah shift to the left (bergeser kekiri).

Peningkatan neutrofil tua yang abnormal dan hiperpigmentasi mencerminkan adanya infeksi kronis atau stress, disebut dengan istilah shift to the right (bergeser ke kanan) (Leslie, 2004). Struktur histologi eosinofil sapi bali kontrol, bentuk mix, dan cetak disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Variasi struktur histologi eosinofil sapi bali D. kontrol, E. bentuk mix, dan F.

cetak. Panah berwarna putih menunjukkan gambaran nukleus, dan panah berwarna hitam menunjukkan gambaran sitoplasma. Pewarnaan Hematoxilin Eosin dengan pembesaran 100X.

Hasil pengamatan terhadap struktur histologi eosinofil yakni memiliki inti bergelambir dua dengan bentuk tidak

beraturan. Struktur histologi eosinofil sapi bali yang diberikan tambahan mineral mix dan cetak disajikan pada

(16)

Buletin Veteriner Udayana Volume 8 No. 2: 151-158

pISSN: 2085-2495; eISSN: 2477-2712 Agustus 2016

155

(Gambar 2). Pada pengamatan struktur histologi eosinofil tidak ditemukan perbedaan antara sapi bali kontrol dengan sapi bali yang diberikan perlakuan mineral bentuk mix dan cetak. Eosinofil pada sapi bali kontrol terlihat memiliki sitoplasma yang besar dan terlihat jelas.

Pada sapi bali kontrol dan dengan perlakuan bentuk mix memiliki benang kromatin yang jelas dan gelambirnya dihubungkan oleh benang kromatin tersebut. Sedangkan pada perlakuan bentuk cetak gelambir eosinofil tidak dipisahkan oleh benang kromatin.

Hasil penelitian ini mendukung hasl yang dilaporkan Harvey (2012) yang menyatakan ukuran, bentuk dan jumlah granul eosinofil berbeda tiap spesies.

Pada sapi dan babi eosinofil memiliki ukuran bentuk dan jumlah granul kecil dibandingkan spesies lainnya. Inti eosinofil mirip dengan inti neutrofil, perbedaanya inti eosinofil memiliki dua lobus. Lobus tersebut biasanya tertutup oleh granul. Granul eosinofil pada ruminansia berwarna orange cerah (Weiss

dan Wardrop, 2010). Struktur histologi basofil sapi bali kontrol, bentuk mix, dan cetak disajikan pada Gambar 3.

Hasil pengamatan terhadap struktur histologi basofil yakni inti terdiri atas dua gelambir dengan bentuk tidak beraturan.

Granul pada sitoplasma berwarna biru tua atau ungu agak cerah dan menutupi inti.

Pada pengamatan struktur histologi basofil (Gambar 3) tidak ditemukan perbedaan antara sapi bali kontrol dengan sapi bali yang diberikan perlakuan mineral bentuk mix dan cetak. Namun ditemukan beberapa variasi pada masing- masing basofil tersebut. Basofil pada sapi bali kontrol terlihat memiliki nukleus yang hampir memenuhi seluruh sel, bahkan ada yang memenuhi seluruh sel sehingga sitoplasmanya tidak terlihat jelas. Sedangkan pada perlakuan bentuk cetak sel terlihat memiliki nukleus lebih kecil dibandingkan dengan basofil kontrol dan perlakuan bentuk mix.

Apabila dicermati terlihat ada perbedaan dari ketiga perlakuan tersebut yaitu nukleusnya terlihat tidak padat.

Gambar 3. Variasi struktur histologi basofil sapi bali G. kontrol, H. bentuk mix, dan I.

cetak. Panah berwarna putih menunjukkan gambaran nukleus, dan panah berwarna hitam menunjukkan gambaran sitoplasma. Pewarnaan Hematoxilin Eosin dengan pembesaran 100X.

Dalam penelitian ini terbukti bahwa pemberian mineral tetap penting dilakukan karena akan mendapatkan persentase granulosit yang normal.

Pemberian mineral dalam bentuk mix dan cetak pada sapi tidak memberikan

pengaruh terhadap struktur histologi granulosit sapi bali, namun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor penyerapan mineral dalam tubuh hewan yang kurang efektif dan pengaruh status kesehatan hewan yang memang tidak

(17)

Buletin Veteriner Udayana Rahayu et al.

156

menunjukkan gejala sakit, sehingga pengaruh mineral tidak terlihat pada struktur histologi granulosit sapi bali tersebut (Pujiastari et al., 2015).

Mineral sangat penting untuk berbagai fungsi tubuh dan sebagian besar mineral dapat diperoleh pada pakan hijauan sapi bali, namun beberapa mineral kandungannya rendah dalam tanah hal ini disebabkan karena faktor geologis dan jenis tanahnya. Pada sapi yang digunakan sebagai perlakuan dalam penelitian ini tidak mengalami defisiensi mineral, hal ini kemungkinan terjadi karena kondisi tanah di Desa Catur Kecamatan Kintamani, Bangli sangat subur terbukti dengan tumbuhnya banyak pakan hijauan seperti leguminosa.

Dimana sumber kalsium banyak diperoleh secara alami yaitu dapat diperoleh dari susu, tanaman berdaun hijau, kacang-kacangan, dan leguminosa (McDonald et al., 2010; Putra et al., 2016).

Histomorfometri granulosit (neutrofil, eosinofil, dan basofil) sapi bali

Hasil penelitian pengaruh pemberian mineral dalam bentuk mix dan cetak terhadap histomorfometri granulosit sapi bali disajikan pada Tabel 1.

Histomorfometri granulosit sapi bali menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara ketiga perlakuan (P>0,05). Rerata histomorfometri neutrofil sapi bali kontrol, diberikan tambahan mineral mix, dan cetak berturut-turut, yaitu 4,31 µm, 4,28 µm, dan 4,13 µm. Rerata histomorfometri eosinofil sapi bali kontrol, diberikan tambahan mineral mix, dan cetak berturut-turut, yaitu 4,19 µm, 4,17 µm, dan 4,08 µm. Rerata histomorfometri basofil sapi bali kontrol, diberikan tambahan mineral mix, dan cetak berturut-turut, yaitu 4,31 µm, 4,40 µm, dan 4,33 µm.

Tabel 1 Rerata histomorfometri (+SD) granulosit pada sapi bali Kelompok Neutrofil Eosinofil Basofil

Kontrol Mix Cetak

4,31+0,28a 4,28+0,28a 4,13+0,37a

4,19+0,28a 4,17+0,33a 4,08+0,30a

4,31+0,46a 4,40+0,47a 4,33+0,22a

Keterangan: huruf yang sama kearah kolom menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05).

Hasil pengamatan terhadap histomorfometri atau ukuran granulosit sapi bali pasca pemberian mineral bentuk mix dan cetak tidak menunjukkan perbedaan (P<0,05. Walaupun ukuran sel granulosit tersebut hampir tidak berbeda nyata secara statistik, namun dengan pengamatan secara lebih detail tampak bahwa ukuran granulosit pada sapi yang diberikan tambahan mineral memiliki ukuran yang bervariatif. Apabila diamati ukuran granulosit (neutrofil, eosinofil, basofil) sapi bali kontrol, bentuk mix,

dan cetak berada pada kisaran 3,5-5,6 µm, 2,8-5,6 µm, dan 2,8-5,6 µm.

Histomorfometri granulosit sapi bali lebih kecil dibandingkan dengan sapi jenis lainnya. Ukuran neutrofil sapi jenis lain berkisar 10-12 µm sedangkan pada sapi bali berkisar 5,6 µm. Ukuran eosinofil sapi bali tergolong kecil yaitu 5,6 µm dengan perbandingan ukuran sapi jenis lain yaitu 10-15 µm.

Ukuran basofil pada sapi jenis lain adalah 10-12 µm sedangkan pada sapi bali hanya 5,6 µm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran granulosit

(18)

Buletin Veteriner Udayana Volume 8 No. 2: 151-158

pISSN: 2085-2495; eISSN: 2477-2712 Agustus 2016

157

sapi bali relatif lebih kecil, hal ini memperlihatkan bahwa ras juga menentukan ukuran dari sel-sel darah.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Simpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini adalah pemberian mineral bentuk mix dan cetak dalam pakan menyebabkan terjadinya variasi struktur histologi granulosit sapi bali, namun secara histomorfometri sel darah granulosit tidak berpengaruh nyata.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian mineral bentuk mix dan cetak terhadap struktur histologi dan histomorfometri sel agranulosit sapi bali, serta hubungannya dengan respon imun.

UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Kemendiknas c.q Hibah Penelitian Kompetitif Nasional MP3EI Tahap III, dan staf Puskeswan Nusa Penida atas kesempatan dan bantuan dalam proses penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin Z. 2008. Beberapa unsur mineral esensial mikro dalam sistem biologi dan metode analisisnya. Jurnal Litbang Pertanian, 27(3): 99-105.

Dharma WA, Sudaryat S, Aryasa KN, Suandi IKG. 2005. Peran Suplementasi Mineral Mikro Seng Terhadap Peran Suplementasi Mineral Mikro Seng Terhadap Kesembuhan Diare. Sari Pediatri, 7(1): 15-18.

Handiwirawan E, Subandriyo. 2004.

Potensi Dan Keragaman

Sumberdaya Genetik Sapi Bali.

Wartazoa, 14(3): 107-115.

Harvey JW. 2012. Veterinary Hematology: A Diagnostic Guide and Color Atlas. Elseiver Inc.

Florida.

Leslie C, Sharkey. Veterinary Clinical Pathology. Veterinary Clin Path, 33(4): 252.

McDonald P, Edward RA, Greenhalgh JFD, Morgan CA, Sinclair LA,Wilkinson RG. 2010. Animal Nutrition. Seventh Edition. Pearson Publishers, England.

Nur CA. 2005. Karakteristik Sumberdaya Genetik Ternak Sapi Bali (Bos-bibos banteng) dan Alternatif Pola Konservasinya. Biodiversitas, 6(1):

70-75.

Pujiastari NNT, Suastika P, Suwiti NK.

2015. Kadar Mineral Kalsium Dan Besi Pada Sapi Bali Yang Dipelihara Di Lahan Persawahan. Bul. Vet.

Udayana, 7(1): 66-72

Putra IPC, Suwiti NK, Ardana IBK.

2016. Suplementasi Mineral Pada Pakan Sapi Bali Terhadap Diferensial Leukosit Di Empat Tipe Lahan. Bul. Vet. Udayana, 8(1): 8-16 Sampurna IP, Nindhia TS. 2008. Analisis Data Dengan SPSS: Dalam Rancangan Percobaan. Udayana University Press. Denpasar.

Sariubang M, Tambing SN. 2000.

Analisis Pola Usaha Pembibitan Sapi Bali Yang Dipelihara Secara Ekstensif Dan Semi Intensif. Proc.

Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, 408-412.

Spears JW. 1999. Reevaluation Of The Metabolic Essentiality Of The Minerals. Asian Aust. J Anim Sci, 6(12): 1002-1008.

Sujani NKS, Piraksa IW, Suwiti NK.

2014. Profil mineral magnesium dan

(19)

Buletin Veteriner Udayana Rahayu et al.

158

tembaga serum darah sapi bali yang dipelihara di lahan tegalan. Buletin Veteriner Udayana, 6(2): 119-123 Suwiti NK, Putra S, Puja N, Watiniasih

NL. 2012. Peningkatan Produksi Sapi Bali Unggul Melalui Pengembangan Model Peternakan Terintegrasi. Laporan Penelitian

Prioritas Nasional (MP3EI) Tahap I.

Pusat Kajian Sapi Bali Universitas Udayana.

Weiss DJ, Wardrop KJ. 2010. Schalm’s Veterinary Hematology, Sixth Edition. Blackwell Publishing.

United State.

(20)
(21)
(22)

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan rasio body surface area dengan jumlah luas washlap yang kontak dengan pembuluh darah perifer yang berbeda antara teknik kompres hangat blok aksila dan

“PENGEMBANGAN SISTEM KEAMANAN BRANKAS MENGGUNAKAN NFC DENGAN OTENTIKASI PASSWORD VIA SMS DILENGKAPI KAMERA CCTV (HARDWARE)” beserta seluruh isinya adalah karya saya

Mukholid (2007 : 34) juga menambahkan bahwa tenis meja merupakan suatu olahraga yang dimainkan dalam gedung (indoor game) oleh dua atau empat pemain.Pada

Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar , (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm.184.. melakukan penilaian, pengawasan dan

Hasil survei dari ZEW-Pusat Penelitian Ekonomi Eropa menunjukkan pada hari Selasa bahwa sentimen ekonomi Jerman meningkat tajam namun kurang dari yang diperkirakan pada bulan Maret

Angka kesembuhan untuk kasus baru BTA(+) mencapai 86%, sedangkan target angka kesembuhan TB Paru BTA(+) yang ingin dicapai sebesar 85%. Di Sulawesi Selatan, menurut laporan

Dapat dilihat di tabel III.17, waktu mulai mulai produksi PT BIENSI adalah tanggal 12 bulan 12 tahun 2016 pukul 09.25, waktu tersebut adalah waktu selesai dari proses pertama

Tujuan dilakukannya kerja praktek ini adalah untuk mempelajari proses produksi mie instan, mengetahui bahan dasar yang digunakan pada kemasan mie instan serta mengetahui