• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERJALANAN REFORMASI BIROKRASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERJALANAN REFORMASI BIROKRASI"

Copied!
288
0
0

Teks penuh

(1)

PERJALANAN REFORMASI BIROKRASI

KEMENTERIAN

KEUANGAN

(2)
(3)
(4)

PERJALANAN

REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN KEUANGAN

Diterbitkan oleh:

Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Gedung Djuanda I lt. 16-17,

Jl. Dr. Wahidin Raya No. 1, Jakarta Pusat, 10710 www.kemenkeu.go.id

ISBN 978-623-91806-5-2

(5)

PERJALANAN

REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN KEUANGAN

Pengarah Heru Pambudi

Penanggung Jawab Produksi Dini Kusumawati

Kepala Produksi Wardjianto Editor Kepala Ria Sartika Azahari Tim Editor

Dodi Purnomo Sidi, Sulistyantini, Yani Kurnia Astuti, Najib Husein, M. Taufik Fauzi Paulina Merie

Fotografer Anas Nur Huda Desain dan Layout Tim Kompas Diterbitkan oleh:

Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Gedung Djuanda I lt. 16-17,

Jl. Dr. Wahidin Raya No. 1, Jakarta Pusat, 10710 www.kemenkeu.go.id

ISBN 978-623-91806-5-2

(6)

SAMBUTAN MENTERI KEUANGAN

Sri Mulyani

Indrawati

(7)

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada Kementerian Keuangan sehingga dapat terus menjalankan amanah untuk menjadi pengelola keuangan negara dalam rangka mewujudkan perekonomian Indonesia yang produktif, kompetitif, inklusif, dan berkeadilan untuk mendukung visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden: ”Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

Saya menyambut gembira atas terbitnya Buku Perjalanan Reformasi Birokrasi dan Buku Perjalanan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi atau Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (ZI-WBK/WBBM) Kementerian Keuangan. Buku ini merupakan inisiatif yang baik untuk mendokumentasikan berbagai tacit knowledge yang ada di Kementerian Keuangan, sehingga Kementerian Keuangan akan mampu melakukan proses transfer of knowledge tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi organisasi publik lain yang ingin sama-sama belajar dalam rangka mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

Melalui buku ini, saya sangat berharap semoga tidak hanya menjadi sebuah catatan sejarah secara tertulis saja yang ditransfer kepada generasi penerus kita, namun lebih dari itu,

(8)

buku ini mampu mereplikasi semangat dan komitmen seluruh pihak yang terlibat dalam proses tersebut sebagai estafet untuk generasi mendatang.

Keputusan untuk melakukan reformasi birokrasi adalah sebuah keputusan besar karena harus membenahi hampir seluruh aspek birokrasi agar menjadi lebih baik dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik melalui pelayanan yang semakin baik kepada stakeholders. Banyak lesson learned yang bisa dipetik dari proses pembenahan SDM, proses bisnis, penataan struktur, maupun aspek lain dari organisasi Kementerian Keuangan.

Ketika kepercayaan publik kepada birokrasi terus menurun, Kementerian Keuangan bangkit melakukan berbagai pembenahan melalui reformasi birokrasi. Ternyata ekspektasi masyarakat, sebagai stakeholder utama, kepada birokrasi terus meningkat seiring dengan dinamika perubahan lingkungan dan perubahan sosial. Itulah mengapa program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan tidak pernah berhenti. Saat ini reformasi birokrasi Kementerian Keuangan masuk dalam periode Kemenkeu Digital. Pandemi Covid-19 yang secara mendadak menerpa dunia telah mengubah cara kita bekerja dan bersosialisasi. Pada masa pandemi tersebut buah reformasi birokrasi Kementerian Keuangan terasa, di mana proses bisnis dapat segera menyesuaikan sehingga kinerja Kementerian Keuangan tetap terjaga. Hal tersebut tidak terlepas dari kuatnya pondasi budaya organisasi yang telah dibangun sejak reformasi birokrasi Kementerian Keuangan dimulai. Kuatnya komitmen pegawai untuk terus mengawal perubahan didukung dengan pembangunan sistem teknologi informasi yang terencana menjadi enabler bagi suatu proses perubahan.

Salah satu upaya dalam meningkatkan kepercayaan publik dilakukan melalui penguatan integritas para birokrat.

Pembangunan ZI-WBK/WBBM di Kementerian Keuangan bukanlah suatu program formalitas, tetapi merupakan keharusan bagi seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Keuangan.

(9)

Yang dikejar bukan semata predikat sebagai WBK ataupun WBBM, tetapi bagaimana seluruh unit kerja Kementerian Keuangan mampu mengimplementasi nilai-nilai Kemenkeu dalam pelaksanaan tugasnya.

Unit kerja Kementerian Keuangan yang memperoleh predikat WBK, bahkan WBBM, sudah cukup banyak, namun ada hal penting, yaitu kita mampu memastikan bahwa seluruh jajaran Kementerian Keuangan tidak ada yang melakukan perbuatan yang mencederai integritas.

Melihat dari para narasumber yang dijadikan rujukan dalam penulisan buku ini, saya memahami mengapa banyak cerita- cerita di balik layar (behind the scene) tersaji dalam buku ini.

Para narasumber merupakan para pelaku sejarah proses reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan yang telah mendedikasikan diri untuk mengawal proses transformasi.

Transformasi memerlukan tekad dan ketekunan untuk mengimplementasikannya. Saya mengucapkan terima kasih kepada para narasumber yang telah bersedia berbagi pengalaman dalam buku ini.

Menguatkan posisi Kementerian Keuangan sebagai

“center of excellence”, saya berharap buku ini dapat memberi manfaat bagi organisasi dan institusi publik lainnya maupun menjadi energi positif untuk terus berkarya bagi seluruh jajaran Kementerian Keuangan.

Jangan pernah lelah mencintai negeri ini, jangan pernah khianati bangsa ini!

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Sri Mulyani Indrawati

(10)

PENGANTAR SEKRETARIS JENDERAL

Heru Pambudi

(11)

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera buat kita semua,

Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan telah berjalan sejak tahun 2002, tentunya berbagai inisiatif telah ditetapkan dan dijalankan yang dalam pelaksanaannya telah terjadi dinamika yang luar biasa dalam rangka menjawab tantangan perubahan lingkungan strategis organisasi Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan telah menjadi pelopor reformasi birokrasi, namun kita tidak pernah berpuas diri dan terus melakukan perbaikan serta berkomitmen untuk terus memunculkan ide-ide kreatif sebagai inovasi untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kinerja organisasi serta menciptakan kepuasan dan kepercayaan pengguna layanan.

(12)

Nilai-nilai Kementerian Keuangan yang lahir pada tahun 2011 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses transformasi Kementerian Keuangan, di mana nilai-nilai tersebut menjadi dasar dan panduan bagi seluruh elemen organisasi Kementerian Keuangan dalam mengabdi, bekerja, dan bersikap.

Salah satu nilai yang harus tertanam di jiwa setiap pegawai Kementerian Keuangan adalah Integritas, yang bermakna bahwa dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak, pimpinan dan seluruh pegawai melakukan dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.

Pada saat pemerintah, melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, mencanangkan Program Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi atau Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (ZI-WBK/WBBM) secara nasional, Kementerian Keuangan secara pro aktif turut berkontribusi dalam mengadopsi dan mengembangkan pembangunan zona integritas tersebut di lingkungan Kementerian Keuangan.

Pembangunan zona integritas pada unit kerja didesain sebagai miniatur program reformasi birokrasi sebuah Kementerian/Lembaga, sehingga program pembangunan zona integritas sejalan dengan proses transformasi yang terus dilakukan Kementerian Keuangan.

Pengalaman panjang pelaksanaan reformasi birokrasi dan dilanjutkan dengan program transformasi kelembagaan Kementerian Keuangan serta proses pembangunan ZI-WBK/

WBBM merupakan sejarah sekaligus knowledge berharga yang perlu didokumentasikan, serta sebagai journey yang perlu diketahui dan dipahami oleh generasi muda Kementerian Keuangan. Capaian saat ini telah diperoleh tentunya tidak dapat

(13)

dilepaskan dari proses yang dilakukan di masa lalu.

Melalui Buku Perjalanan Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan dan Buku Perjalanan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi atau Wilayah Birokrasi Bersih Melayani Kementerian Keuangan ini, kami ingin berbagi pengalaman sekaligus catatan perjalanan reformasi birokrasi Kementerian Keuangan. Harapan kami strategi yang telah diambil maupun proses yang telah dilakukan oleh Kementerian Keuangan dapat menginspirasi Kementerian/Lembaga lain untuk melakukan pengembangan reformasi birokrasi dan pembangunan ZI-WBK/WBBM.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Heru Pambudi

(14)

BAB I

TANGGUH MENGHADAPI PERUBAHAN ZAMAN

Intinya Keteraturan dan Keterbukaan

Terobosan Lebih Besar

Digitalisasi Lembaga

BAB II

MENUJU KEMANDIRIAN TATA KELOLA KEUANGAN NEGARA BERKELAS DUNIA

Indische Comptabiliteitswet

Berkurangnya Wewenang Menkeu

Tubuh Kemenkeu Harus Baik

BAB III

TIGA PILAR PENYOKONG REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN KEUANGAN

Tiga Pilar

Penataan Organisasi

Penyempurnaan Proses Bisnis

Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia

Tantangan dan Apresiasi

BAB IV

DARI RUMAH REFORMASI HINGGA ZONA INTEGRITAS

Percontohan

Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan, Oleh Prof Dr Eko Prasojo

DAFTAR ISI 01

31

65

111

(15)

Zona Integritas

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan, Oleh Eddy Abdurrachman

BAB V

TANTANGAN DI DEPAN MATA, JAWAB DENGAN TRANSFORMASI KELEMBAGAAN

Penyelarasan Nilai

Dimulainya Transformasi Kelembagaan

Digagasnya Inisiatif Strategis

Boks: Quick Wins: Mengurangi Dwelling Time

Pembentukan CTO, Bukti Komitmen

BAB VI

ESTAFET TANGKAS KERJA TRANSFORMASI

Taktik Jitu

Kecepatan Penuh

Boks: Capaian Kinerja Implementasi Transformasi Kelembagaan (2015)

Menerobos Badai

Boks: Kebijakan Transformasi Organisasi Kementerian Keuangan Tahun 2017–2019

BAB VII

KELINDAN TEKNOLOGI DI KEMENTERIAN KEUANGAN

Menjadi Besar pada Masa Depan

Embrio Itu Lahir dari Perpajakan

Boks: Selamat Tinggal Lembaran Kertas

Boks: Belajar dari PINTAR

“Tulang Punggung” Itu adalah SPAN

139

177

203

(16)

Boks: “Milestone” Penting bagi Keuangan Negara

Pengembangan SAKTI

CEISA, Mahakarya Bea Cukai

Menjaga Aset dan Belanja Negara

Paradigma Baru dalam Bekerja

BAB VIII

OPTIMISTIS HADAPI TANTANGAN MASA DEPAN

Menjadi Alat Pembelajaran

Menilik Indikator Keberhasilan RBTK

Pencapaian RBTK Kemenkeu

Merangkul Digitalisasi, Mengejar Kesempurnaan

Menjaga Kesinambungan Transformasi

247

(17)
(18)
(19)

BAB 1

TANGGUH MENGHADAPI PERUBAHAN

ZAMAN

(20)

P

ublik saat itu bertanya, bagaimana kelanjutan denyut reformasi birokrasi yang diinisiasi Sri Mulyani?

Bagaimanapun Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di era kepemimpinan pertama Sri Mulyani dianggap sebagai jantung suatu gagasan besar bernama reformasi birokrasi.

Reformasi birokrasi yang didorong Sri Mulyani adalah anak kandung reformasi 1998. Meski demikian, bukan berarti tekad mulia ini kelahirannya gampang-gampang saja. Sebagai gambaran, embrio reformasi birokrasi mulai terbentuk pada periode 2002-2006. Agar lebih mudah dipahami, kita sebut saja masa ini sebagai Periode I.

Periode I juga tak mungkin dilepaskan dari momentum reformasi nasional akibat krisis ekonomi 1998 yang

Negeri ini pernah tersentak tatkala pada pertengahan 2010, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengundurkan diri dari kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebab, pada masa itu, reformasi birokrasi sedang bergaung kencang di seluruh penjuru Tanah Air.

BAB 1

(21)

menghancurkan perekonomian negara. Era reformasi ini ditandai dengan terbitnya Tap MPR No XI/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN); serta UU No  28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Sekretaris Jenderal Kemenkeu periode 2006-2012, Mulia Nasution, mengungkapkan, salah satu penyebab terjadinya pergantian pemerintahan adalah ambruknya sistem moneter dan sistem perekonomian. Jika berbicara mengenai reformasi birokrasi, sebenarnya pada masa Orde Baru telah dilakukan oleh pemerintah yang dipimpin Presiden Soeharto.

Pada masa itu, kata Mulia, kita mempunyai kementerian dan badan yang khusus mengurus aparatur dan dokumen negara. Dulu juga ada badan yang khusus mengurus dokumen negara. Namun, walaupun secara formal telah dilakukan, upaya untuk memperbaiki pemerintahan terutama menyangkut birokrasi, boleh dikatakan masih jauh dari yang diharapkan jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang administrasinya lebih baik, baik dari segi kinerja maupun dari segi pelayanan.

“Kekurangberhasilan itu dikarenakan tidak sungguh-sungguh.

Jadi, segala sesuatunya secara formal sudah cukup baik, apalagi kita juga dibantu oleh tim-tim ahli dari swasta, dari lembaga luar negeri. Tapi, semasa Orde Baru, pemerintahan kita belum bisa mewujudkan harapan rakyat: memberikan pelayanan yang baik, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kemudian, dari segi pengelolaan keuangan negara, adanya ketergantungan pada pinjaman dan kurang bagus menata sistem perbankan,” ujarnya.

Secara umum, latar belakang dan momentum kemunculan reformasi birokrasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Ini juga merupakan tahapan-tahapan dalam pelaksanaan paket undang-undang (UU) bidang keuangan negara.

“Ketika kami menyusun paket UU bidang keuangan negara, kami sangat menyadari bahwa reformasi yang dilakukan tidak

(22)

hanya dari aspek legal (menyiapkan UU yang baru). Keberhasilan UU yang baru ini harus ditopang oleh birokrasi yang dibangun sesuai UU. Yang sangat penting, didukung SDM yang profesional, bersih, dan berwibawa,” kata Mulia.

Kalau kita kembali melihat proses reformasi birokrasi itu, sebenarnya perjalanan yang cukup panjang sampai akhirnya ia menjadi program yang secara formal memiliki dasar pijakan yang kuat dan didukung kekuatan-kekuatan politik di Indonesia.

Mengapa? Karena reformasi birokrasi di Kemenkeu resmi didukung oleh DPR pada 2007. Baru pada tahun itulah Kemenkeu bisa mencanangkan secara resmi program reformasi birokrasi, termasuk di dalamnya dukungan anggaran untuk memperbaiki kesejahteraan pegawai Kemenkeu yang jumlahnya luar biasa.

“Jadi, mengapa saya katakan melalui rentang waktu yang panjang karena merupakan implementasi reformasi pengelolaan keuangan negara. Sementara reformasi pengelolaan keuangan negara dimulai secara resmi dengan disetujuinya UU di bidang keuangan negara. Disetujuinya UU bidang pengelolaan keuangan negara oleh DPR bukan perjuangan yang mudah. Sebab harus

“Kekurangberhasilan itu dikarenakan tidak sungguh-sungguh. Jadi, segala sesuatunya secara formal sudah cukup baik, apalagi kita juga dibantu oleh tim-tim ahli dari swasta, dari

lembaga luar negeri. Tapi, semasa Orde Baru, pemerintahan kita belum bisa mewujudkan harapan rakyat: memberikan pelayanan yang baik, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.”

Mulia Nasution

(23)

merombak sistem yang sudah berjalan puluhan tahun. Ini merupakan impian setiap pimpinan Kemenkeu untuk membuat UU pengelolaan keuangan negara menggantikan UU peninggalan Belanda,” jelas Mulia.

Namun terlepas dari itu semua, reformasi birokrasi merupakan bagian yang sangat vital. Sebab, tanpa reformasi birokrasi, sebaik apapun UU bidang keuangan negara yang baru ini tidak akan bisa berhasil.

Tiga Pembaharuan pada Periode I

Dalam Periode I, saat itu Kemenkeu dipimpin Boediono, reformasi Kemenkeu ditandai setidaknya dengan tiga pembaharuan. Pertama, penerbitan Paket UU Keuangan Negara yang terdiri atas UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Kedua, memisahkan fungsi penyusunan anggaran dan pelaksanaan anggaran. Ketiga, pembentukan KPP Wajib Pajak Besar atau large tax office (LTO) sebagai bagian dari modernisasi administrasi perpajakan tahap I.

Sejak reformasi 1998 yang kemudian melalui Periode I reformasi Kemenkeu, setidaknya butuh proses sekitar 9 tahun hingga pada 8 Juli 2007, Sri Mulyani menggemakan reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. Masa ini kita sebut sebagai Periode II.

Pada periode ini, Kemenkeu menggulirkan reformasi birokrasi secara intens melalui 3 Pilar Utama. Kepala Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan Setjen Kemenkeu, Dini Kusumawati, menjabarkan pilar tersebut.

(24)

Pertama, Pilar Penataan Organisasi yang di antaranya melakukan penajaman tugas dan fungsi, mengelompokkan tugas-tugas yang koheren, eliminasi tugas yang tumpang tindih, dan modernisasi kantor baik di bidang perpajakan, kepabeanan dan cukai, perbendaharaan, kekayaan negara, maupun fungsi- fungsi keuangan negara lainnya.

Kedua, lanjut Dini, Pilar Penataan Proses Bisnis. Di sini Kemenkeu melakukan penetapan dan penyempurnaan standar operasi prosedur yang memberikan kejelasan dan memuat janji layanan, dilakukannya analisis dan evaluasi jabatan, penerapan sistem peringkat jabatan, dan pengelolaan kinerja berbasis balanced scorecard, serta membangun berbagai sistem Suatu upacara yang diikuti pegawai Kementerian Keuangan

di masa lalu.

(25)

aplikasi e-government.

Ketiga, Pilar Peningkatan Disiplin dan Manajemen SDM. Kemenkeu membentuk postur kepegawaiannya dengan cara meningkatkan disiplin, memba ngun  assessment center, diklat berbasis kompetensi, pelaksanaan merit system, menata SDM, membangun SIMPEG, dan penerapan  reward and punish ment secara konsisten.

Mengubah Bea dan Cukai

Agar gagasan besar ini dapat dipahami lebih lengkap, perlu gambaran seputar latar belakang bergulirnya reformasi birokrasi di Kemenkeu. Ini secara lebih gamblang dijelaskan Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) Tim Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan periode 2007-2009, Marwanto Harjowiryono.

Jabatan terakhir Marwanto di Kemenkeu adalah Dirjen Perbendaharaan. Adapun posisinya sekarang, yakni Widyaiswara Utama BPPK. Marwanto menjadi salah satu konseptor reformasi periode I dan II.

“Di periode tiga, empat, dan seterusnya saya lebih mengimplementasikan (capaiannya) karena (saat itu) sudah menjadi Dirjen Perimbangan Keuangan dan Dirjen Perbendaharaan. Dua tahun saya ke Manila, proses reformasi terjadi. Saya mengikuti dari jauh,” kata Marwanto.

Marwanto kemudian melayangkan ingatannya ke era 1980- an. Menurutnya, reformasi pertama Kemenkeu sebenarnya

“Reformasi pertama Kemenkeu sebenarnya sudah dilakukan saat mengubah kondisi Bea dan Cukai. Saat itu yang menjadi Menkeu adalah Radius Prawiro.”

Marwanto Harjowiryono

(26)

sudah dilakukan saat mengubah kondisi Ditjen Bea dan Cukai.

Saat itu yang menjadi Menkeu adalah Radius Prawiro—Kabinet Pembangunan IV, 1983-1988. Pada waktu itu, kepercayaan masyarakat kepada Kemenkeu, khususnya pelayanan di bidang Bea dan Cukai, sangat rendah. Sampai akhirnya, pelayanan di bidang Bea dan Cukai seolah-olah “distop” kegiatannya dan tugas pengawasan ekspor-impor dikontrakkan kepada lembaga surveyor SGS (Societe General de Surveillance SA) dari Jerman.

Pada titik tersebut, menurut Marwanto, telah terjadi reformasi yang cukup signifikan karena ini akan mengembalikan kepercayaan publik kepada Kemenkeu. “Satu unit Ditjen Bea dan Cukai betul-betul dibersihkan dan sempat dihentikan sementara, lalu dimasukkan dulu pelaksana yang baru, dikontrakkan, kemudian dihidupkan lagi. Itu pengalaman pertama reformasi.”

Beberapa waktu setelahnya, reformasi lebih diarahkan kepada unit Kemenkeu yang pelayanannya sensitif terhadap

(27)

masyarakat. Contohnya periode 2002-2006 yang direformasi adalah layanan perpajakan.

Kenapa? Karena Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai sama- sama mengalami suatu masa saat kepercayaan masyarakat kepada dua institusi ini turun, yang pada gilirannya memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap Kemenkeu. Oleh sebab itu, layanan perpajakan mendapat prioritas utama dalam proses reformasi. Yang cukup terkenal adalah dimasukkannya program teknologi informasi dan pendirian Large Tax Office (LTO).

Lebih jauh ia menjelaskan, pada awal 2000 terjadi sebuah proses saat Kemenkeu secara keseluruhan melakukan reformasi di bidang policy yang dikenal sebagai fiscal reform. Ini ditandai dengan lahirnya tiga undang-undang yang bergerak di bidang Gedung Istana Daendels di masa lampau. Sekarang bangunan ini bernama Gedung AA Maramis.

(28)

keuangan negara, di antaranya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

“UU ini terlahir setelah cukup lama dikerjakan oleh tim, seingat saya sampai tim ke-16, yang pada 2002 menghasilkan konsep dan berhasil dibahas di DPR. UU ini menjadi sangat filosofis dan fenomenal karena menggantikan produk UU kolonial yang sejak era kemerdekaan dipakai. Banyak pemikiran baru yang masuk ke UU ini. Waktu itu, saya ikut memberikan masukan kepada tim teknis sebagai Direktur Penyusunan APBN. Jadi, how to formulate the budget betul-betul berubah 180 derajat,” lanjut Marwanto.

Dulu, prinsip yang dianut adalah anggaran berimbang dan dinamis. Kalau digambar skemanya berbentuk T account, di sebelah kiri adalah pendapatan, di sebelah kanan adalah belanja.

T account selalu seimbang karena total pendapatan sama dengan total belanja. Sisi pendapatan ini termasuk pendapatan yang berasal dari bantuan luar negeri. Di dalam belanja juga terdapat proyek-proyek yang dibiayai oleh luar negeri. Ini berlangsung dari tahun 1966 hingga 1999 dan itulah yang kemudian berhasil membangun Indonesia.

Hal itu secara lebih jelas dipaparkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani. “Sebelum mengubah regulasi keuangan negara pada 2003, pada 2000 sudah mulai ada indikasi mengubah format pola pengelolaan keuangan negara. Pada waktu itu, pertama kalinya kami mengubah format APBN. Sebelumnya, sampai 1999, format APBN kami berbentuk T-account, yaitu debit-kredit. Kami menggunakan format ini untuk menyusun, memantau, dan melaporkan pelaksanaan APBN setiap tahun.”

Pada 2000, imbuh Askolani, Kemenkeu mengubah formatnya menjadi I-account. Perbedaan yang sangat mencolok dari kedua format ini, yaitu standarnya. Kemenkeu mengacu pada internasional atau Government Finance Statistic (GFS) yang disusun IMF. Format ini digunakan oleh banyak negara untuk penyusunan, pemantauan, dan pelaporan APBN setiap tahun.

Dengan format yang baru ini, Kemenkeu mengelompokkannya

(29)

menjadi tiga pos.

Pertama, Pos Pendapatan Negara. Ini adalah uang yang diterima dari hasil pemasukan yang kemudian menambah kekayaan/aset negara. Uang yang diterima dalam bentuk pinjaman bukanlah penerimaan.

Kedua, Pos Belanja. Definisi pos ini jelas sesuai GFS. Semua uang yang dibelanjakan oleh negara akan mengurangi kekayaan negara. Muncullah selisih pendapatan dan penerimaan. Kalau mendapat nilai plus, maka akan surplus. Kalau nilainya negatif, namanya defisit.

Ketiga, Pos Pembiayaan. Ini merupakan transaksi negara yang sifatnya tidak mengubah kekayaan negara. Misalnya, mendapat pinjaman utang. Ini akan masuk ke pembiayaan.

Pemasukan utang tidak akan menambah kekayaan karena kita punya kewajiban membayar. Saat membayar, walau ada uang keluar, itu tidak mengurangi aset karena posisinya besaran utang berkurang. Posisinya nol.

“Jika kita menjual aset, kita akan mendapatkan uang.

Walau begitu, itu tidak dihitung sebagai pendapatan, melainkan pembiayaan. Ketika kita menjual aset, kita justru kehilangan aset, posisinya nol,” ungkap Askolani.

Perubahan tersebut lalu diusulkan kepada Menkeu Bambang Sudibyo—Kabinet Persatuan Nasional, 1999-2000. Sebelum adanya perubahan ini, anggaran negara kita dikenal sebagai traditional and conservational budget. Disebut tradisional karena Kemenkeu belum mengeluarkan government bonds (obligasi pemerintah). Defisit dibiayai dari pinjaman yang berasal dari multilateral atau bilateral. Multilateral dari Bank Dunia, bilateral dari Jepang. Hal ini memang dianggap tidak transparan.

Namun, itu cocok pada masanya karena pada masa itu anggaran menjadi sangat prudent. Kenapa? Karena pinjaman sepenuhnya digunakan untuk capital spending, untuk biaya proyek. Jadi, tidak ada pinjaman yang digunakan untuk operasional. Konsepnya adalah pendonor memberikan uang

(30)

untuk membuat sesuatu. Ini dalam konsep teori fiskal atau makro menjadi sangat prudent. Apa yang dipinjam betul-betul jadi aset.

Pada akhir ‘90-an, konsep itu sebenarnya berubah secara global. Kita mengenal ada teori baru, yaitu new public management. Ada sebuah pendapat yang mengatakan sebaiknya budget disusun secara transparan dan mendekati private sector practice, yakni terdapat pendapatan dan belanja. Kalau belanja lebih besar dari pendapatan, terjadi defisit. Lalu, dari mana defisit itu dibiayai? Pinjaman akan membiayai defisit sehingga publik bisa melihat.

Menteri Sri Mulyani saat mengunjungi stan Pekan Transformasi 2017. (Dok Buku laporan RBTK 2015)

(31)

Prinsip tersebut tidak bisa didikotomi, tetapi merupakan part of the reform.

“Kenapa ada reformasi? Karena secara global, kebijakan fiskal mengarah pada manajeman yang transparan. Ini yang penting. Namun, bukan berarti sistem yang lama menjadi sistem yang kurang baik. Bukan itu konsepnya,” lanjut ujar Marwanto.

Kemudian, kita memiliki Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. UU ini benar- benar mengatur sesuatu yang baru.

Isinya mengatur institusi di dalam eksekutif atau kementerian-lembaga (K/L) untuk mengelola uang yang berasal dari APBN. Ini lebih ke administratif.

Kemudian, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Ini lebih mengatur tentang audit. Uang yang digunakan akan diaudit untuk menilai apakah sudah sesuai dengan tata cara atau aturan compliance yang ada.

Nah, tiga paket UU (UU No 17 Tahun 2003, UU No 1 Tahun 2004, dan UU No 15 Tahun 2004) itulah yang kemudian diselesaikan pada 2003-2004. Sejak itu, kita mempunyai tata cara baru yang kemudian memengaruhi pelaku-pelaku yang akan melaksanakan UU tersebut. Jadi, reformasi yang dilakukan di Kemenkeu, selain untuk meningkatkan social trust, juga untuk melaksanakan tata cara yang baru yaitu paket UU tersebut.

Sebelum kita mempunyai UU No 17 Tahun 2003, secara institusi di Kemenkeu terdapat pembagian tugas pokok dan fungsi yang dirasakan kurang harmonis. Ada eselon I yang

“Jika kita menjual aset, kita akan mendapatkan uang. Walau begitu, itu tidak dihitung sebagai pendapatan, melainkan pembiayaan.

Ketika kita menjual aset, kita justru kehilangan aset, posisinya nol.”

Askolani

(32)

tugasnya membuat budget, melaksanakan budget, dan pada saat yang sama melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

“Satu circle diambil semua oleh sebuah unit. Jadi, pada saat itu, reformasinya adalah menata kelembagaan Kemenkeu dengan melakukan pemisahan, penggabungan, dan refocusing.

Jadilah organisasi yang seperti sekarang,” tutur Marwanto.

Untuk budgeting sekarang sudah dijalankan unit tersendiri di bawah Dirjen Anggaran. Pelaksanaannya dilakukan oleh unit perbendaharaan (treasury). Ini kemudian melahirkan Direktorat Perbendaharaan bersamaan dengan hadirnya UU No 1 Tahun 2004 karena menjadi tugas mereka untuk melaksanakan APBN.

Karakter treasury adalah mengelola liquid asset dan non-liquid di mana ini juga dilakukan di beberapa negara. Namun, karena kebutuhan yang terlalu tinggi untuk pengelolaan hal tertentu, terutama utang dan aset, tugas treasury pun dibagi.

Pertama, treasury yang mengelola kas yang sifatnya liquid (Direktorat Jenderal Perbendaharaan/DJPb). Kedua, treasury yang mengelola aset yang sifatnya non-liquid (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara/DJKN). Ketiga, ada unsur treasury yang mengelola utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang saat ini menjadi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.

“Oleh karena itu, saran para konsultan, suatu hari nanti saat TI telah mendukung, ketiganya itu bisa ditinjau kembali. Pada saat reform pertama, itu dulu yang dikerjakan: organisasi dipisah, tupoksi jelas, tidak ada tumpang tindih. Waktu itu jadi landasan pemikiran,” kata Marwanto.

Intinya Keteraturan dan Keterbukaan

Awal Juli 2007, Menkeu Sri Mulyani pernah berbincang dengan sejumlah pemimpin media massa. Ia menjelaskan

(33)

bahwa reformasi birokrasi yang mulai digulirkan di Departemen Keuangan (Kementerian Keuangan saat ini) bertujuan untuk memperbaiki kualitas layanan kepada publik.

Di samping itu, kata Sri, reformasi ini untuk mengembalikan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada birokrasi. Reformasi birokrasi ini juga untuk menciptakan aparatur yang profesional, bertanggung jawab, dan bersih.

Kepada Kompas (9 Juli 2007), Sri mengungkapkan, intinya adalah keteraturan dan keterbukaan. “Anda semua tahu bahwa citra lembaga publik, termasuk Depkeu, kurang baik. Jadi tujuan utama kami (dengan reformasi birokrasi) adalah membangun trust, kepercayaan.”

Nyatanya, reformasi birokrasi yang masih tergolong muda saat itu langsung mendapat ujian dengan masih terjadinya pelanggaran dan praktik korupsi dengan nilai yang terbilang besar.

Namun, Kemenkeu juga gesit menindak pegawainya yang tak patuh aturan. Pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran berat disanksi berupa penurunan pangkat, pencopotan jabatan, pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan pegawai, hingga pemecatan.

Sri Mulyani mengakui bahwa gagasan reformasi birokrasi tidak bisa berjalan dengan cepat. Sebab, menurut Sri, meski remunerasi pegawai sudah dinaikkan, iming-iming uang suap yang ditawarkan oleh penyuap lebih banyak dibanding jumlah

“Anda semua tahu bahwa citra lembaga publik, termasuk Depkeu, kurang baik. Jadi tujuan utama kami (dengan reformasi birokrasi) adalah membangun trust, kepercayaan.”

Sri Mulyani (Kompas, 9 Juli 2007)

(34)

remunerasi yang diterima pegawai.

Kondisi itu diperparah dengan integritas aparaturnya yang rendah.

Pada rentang waktu Juni hingga November 2007, Sri bahkan telah memecat 15 pegawai di suatu direktorat jenderal. Ini diungkapkannya saat berbicara dalam Seminar Nasional Pencegahan Korupsi Melalui Reformasi Birokrasi yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta. Seminar ini sendiri digelar pada 1 November 2007.

Dalam seminar itu, Sri berbicara panjang lebar. Sebagaimana disarikan dari laporan Kompas, 2 November 2007, Sri mengaku betapa sulit mencari pegawai yang berintegritas tinggi. Ia mengungkapkan, pejabat golongan IIB di suatu direktorat jenderal bisa menerima suap yang jumlahnya cukup besar. Maka dapat dibayangkan seandainya golongan di atasnya juga mau menerima suap.

Langkah konkret lainnya yang ditempuh Sri Mulyani pada masa awal reformasi birokrasi Depkeu, yakni memutasi 1.200 pegawai Ditjen Bea dan Cukai yang bertugas di Pelabuhan Tanjung Priok dan menggantinya dengan 800 pegawai baru. Pegawai baru ini adalah hasil seleksi dari 12.000 pegawai Depkeu.

“Pada awalnya, saya hanya menerima 600 orang yang benar- benar sesuai standar. Namun, Ditjen Bea dan Cukai protes karena biasa dilayani 1.200 orang. Akhirnya, terpaksa saya menurunkan

“Pejabat golongan IIB di suatu direktorat jenderal bisa menerima suap yang jumlahnya cukup besar.

Maka dapat dibayangkan seandainya golongan di atasnya juga mau menerima suap.”

Sri Mulyani (Kompas, 2 November 2007)

(35)

standarnya dan mengambil 200 orang lainnya,” kata Sri kepada Kompas.

Tak hanya itu, keseriusan Sri mengawal reformasi birokrasi di jajarannya, ia tunjukkan dengan menangani sendiri persoalan SDM di Depkeu. Hasilnya, bikin geleng-geleng kepala. Sri menemukan kondisi pusat data yang berantakan. Contohnya saja, ada pegawai yang bolos 10 tahun tapi tercatat hanya mangkir enam bulan.

“Artinya, Depkeu telah menggajinya selama sembilan tahun tanpa kerja apa pun. Jadi, saya harus memecat orang ini, yang sudah tidak bekerja sejak tahun 1997,” ujar Sri pada November 2007.

Kepala Biro SDM periode tahun 2011 Juni Hastoto turut berpendapat, Kemenkeu berhadapan dengan pegawai mulai dari yang baik sampai jelek. Kemudian, Kemenkeu ingin menerapkan nilai-nilai reformasi birokrasi tadi kepada semua warganya. Tentu hal ini tidak bisa diubah orang per orang. Harus menggunakan sistem agar orang-orang yang tidak kompeten itu ikut menjadi baik. Jadi, tidak ada celah untuk berbuat tidak baik.

Contohnya seperti yang disampaikan Sri Mulyani tadi, administrasi kepegawaian saat itu masih buruk sekali. “Kalau lihat tempat (penyimpanan) datanya pegawai Kemenkeu, berantakan sekali. Pegawainya saja (mungkin) nggak betah.

Sekarang, mudah-mudahan tidak seperti itu. Namun, ada aturan yang mengatakan bahwa pegawai tidak masuk selama enam bulan, dia bisa dipecat. Kalau sampai 10 tahun, apa atasannya waktu itu tidak mengontrol?” kata Juni.

Ia melanjutkan, kasus-kasus seperti itu mungkin dulu memang terjadi, tapi sekarang tidak ada. “Jangan lupa, di perbankan juga sama. Kalau dua bulan (pegawai) tidak ada kabar, akan distop gajinya.”

Kemenkeu senantiasa memperbaiki sistem pengelolaan pegawai. Semisal dulu penempatan seseorang dalam jabatan berawal dari usulan direktorat jenderal pegawai bersangkutan,

(36)

maka langsung disetujui. Sekarang tidak. Usulan boleh, tapi masuk ke assessment center. Di dalam assessment center, dia diuji, cocok atau tidak. Kalau tidak cocok, akan ditolak oleh sistem. Semua usulan tidak mesti diterima. Ini bertujuan untuk memotong jalur-jalur yang tidak baik.

Dulu, pegawai di Papua kalau ingin pindah ke Jakarta harus

“sowan” (menghadap) bosnya dengan harapan bisa segera dipindah. Sekarang, semua dipantau melalui assessment center. Kalau pegawai yang

berkinerja baik, dia dipertimbangkan untuk dinaikkan jabatannya atau dipindahkan dari tempat jauh ke tempat yang lebih kompleks. Sekarang, semua sudah diatur oleh sistem. SDM yang mempunyai kompetensi yang lebih tinggi akan otomatis terlihat.

Orang-orang yang punya kompetensi tinggi ini, lanjut Juni, akan “di-grooming”. Terdapat aturan bahwa pegawai bisa menduduki eselon II kalau pangkatnya telah mencapai level tertentu. Hal ini disiasati dengan “memutarkan” orang-orang yang memiliki kompetensi dan berkinerja baik untuk menduduki jabatan tertentu di berbagai unit sehingga bisa lebih cepat memenuhi syarat untuk menempati jabatan tinggi.

“Kami mencari solusi dengan pola mutasi. Yang akan menjadi kepala kantor, dia harus pernah menduduki jabatan 2-3 tahun sebagai kepala seksi di kantornya. Kenapa? Kantor membutuhkan hard competency (pengalaman) di bidang-bidang yang sudah ditentukan,” ungkap Juni.

“Sekarang, semua sudah diatur oleh sistem. SDM yang mempunyai kompetensi yang lebih tinggi akan otomatis terlihat.”

Juni Hastoto

(37)

Lonjakan Remunerasi

Harus diakui semenjak reformasi birokrasi mulai bergulir di Kemenkeu, tampak perubahan signifikan berupa efisiensi waktu pelayanan di berbagai unit layanan. Contohnya, pengurusan pabean jalur prioritas hanya memerlukan waktu 20 menit dari sebelumnya 16 jam. Juga, penyelesaian Nomor Pokok Wajib Pajak di Ditjen Pajak hanya butuh satu hari dari sebelumnya tiga hari.

Dengan perbaikan di sana-sini pada tubuh Kemenkeu, sebenarnya wajar jika negara memberikan tunjangan kinerja untuk para pegawai di lingkungan Kemenkeu. Tunjangan khusus

Salah satu ruang kerja kekinian di Kementerian Keuangan.

(38)

ini memang membuat take home pay pegawai Kemenkeu mengalami lonjakan yang cukup signifikan per bulannya.

Terkait melonjaknya remunerasi ini, Mulia Nasution turut berpendapat bahwa ini sebagai faktor penting keberhasilan melakukan pembenahan di sektor publik, khususnya di Kemenkeu. Di Indonesia, sebenarnya bukan hal baru. Di awal Orde Baru, ketika Pak Harto mengangkat Profesor Ali Wardhana sebagai Menteri Keuangan, Pak Ali mengajukan agar pegawai Kemenkeu diberi kenaikan gaji sembilan kali lipat, walaupun faktanya tidak benar-benar sebanyak itu.

“Pak Ali percaya hanya dengan kesejahteraan yang lebih baik, penegakan disiplin dan pelayanan bisa diutamakan. Tetapi, dalam perjalanannya, publik kecewa. Banyak kasus yang terjadi termasuk di Kemenkeu pada masa Orde Baru. Jadi, tidak sesuai harapan walau gaji sudah lebih baik dibandingkan gaji pegawai di kementerian lain,” ujar Mulia.

Hal yang sama Kemenkeu hadapi ketika mengajukan kembali perbaikan remunerasi kepada DPR. Para senator mengingatkan bahwa penghasilan pegawai Kemenkeu masih lebih baik dibandingkan pegawai kementerian lain. Gaji pegawai di LTO pajak malah lebih diistimewakan.

“Waktu itu kami harus meyakinkan DPR bahwa kami bersungguh-sungguh. Kami menyampaikan bahwa salah satu excuse untuk tidak menegakkan disiplin, yaitu masalah penghasilan yang tidak memadai. Pegawai mencari tambahan

‘obyekan’, tidak disiplin waktu, ‘meminta’ dari yang dilayani, dan sebagainya. Kami berjanji kalau usulan kami disetujui, diberikan take home pay hampir setara dengan yang diterima oleh rekan-rekan di sektor keuangan swasta, kami akan benar- benar menegakkan disiplin. Kami tidak punya alasan lagi untuk berkompromi dengan penegakan disiplin, peningkatan layanan, dan sebagainya. Itulah yang dipegang oleh teman-teman di DPR,”

ungkap Mulia.

Menurut Mulia, setelah usulan peningkatan remunerasi

(39)

pegawai Kemenkeu diamini DPR, tetap tidak ada yang bisa menjamin tak akan terjadi lagi kasus korupsi. Ternyata, itu benar.

Muncul kasus Gayus Tambunan dan Bahasyim Assifie (kasus pencucian uang).

Namun, secara keseluruhan, Kemenkeu bisa menegakkan disiplin. Siapa pun yang melakukan pelanggaran, mendapat sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Jika menyangkut kasus yang bersifat administratif, akan diberikan sanksi administratif.

Kalau tindak pidana atau korupsi, dia akan masuk ranah korupsi maupun pidana.

Terobosan lebih besar

Pada 2010, Presiden Republik Indonesia menetapkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025. Perpres ini kemudian ditindaklanjuti dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014.

Dengan adanya peraturan-peraturan tersebut, reformasi

“Kami menyampaikan bahwa salah satu excuse untuk tidak menegakkan disiplin, yaitu masalah

penghasilan yang tidak memadai. Pegawai mencari tambahan ‘obyekan’, tidak disiplin waktu,

‘meminta’ dari yang dilayani, dan sebagainya.”

Mulia Nasution

(40)

birokrasi dalam tubuh Kemenkeu diintegrasikan dengan reformasi birokrasi nasional yang dilaksanakan melalui 8 Area Perubahan serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

Pada September 2012, lembaga konsultan McKinsey menerbitkan laporan bertajuk The  Archipelago Economy:

Unleashing Indonesia’s Potential. Di sini disebutkan bahwa Indonesia dinilai berpotensi menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia. Indonesia diprediksi akan mengalahkan Jerman dan Inggris dan hanya berada di bawah China, Amerika Serikat, India, Jepang, Brasil, dan Rusia.

Menanggapi hasil riset tersebut, sebagai lembaga utama penggerak pertumbuhan perekonomian, Kemenkeu bertindak cepat. Kemenkeu menilai tantangan ini tidak bisa dilakukan

Reformasi Pengelolaan Keuangan Negara

• Melalui penerbitan 3 UU terkait Keuangan Negara: UU 17/2003, UU 1/2004, UU 15/2004

• Modernisasi administrasi perpajakan (Kantor Modern)

Cetak Biru RBTK:

• 87 inisiatif TK (dalam 5 tema)

• 9 arah kebijakan Transformasi Organisasi

RB secara masif:

• Melalui integrasi 3 pilar Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan dengan 8 area perubahan KemenPAN & RB

(41)

tanpa terobosan yang lebih besar.

Hal itu juga menjadi landasan reformasi birokrasi Kemenkeu periode III. Periode ini ditandai dengan peluncuran program Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan (Tahun 2013-2025). Program ini terdiri atas rumusan 87 inisiatif transformasi yang terbagi dalam lima tema, yaitu perpajakan, penganggaran, perbendaharaan, tema sentral, serta kepabeanan dan cukai.

Selain itu, ditetapkan pula visi Kemenkeu, yaitu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad ke-21.

Pasca kepemimpinan pertama Sri Mulyani, kursi Menteri Keuangan diduduki oleh Agus Martowardojo (2010-2013). Agus Cetak Biru RBTK:

• 87 inisiatif TK (dalam 5 tema)

• 9 arah kebijakan Transformasi Organisasi

Connecting the Dots:

• Penetapan 20 Inisiatif Baru dalam rangka penguatan implementasi program RBTK Kemenkeu

Transformasi Digital

• Dimulai sejak 2019, melalui 11 Program RBTK, selanjutnya berkembang menjadi 15 IS RBTK pada tahun 2020.

(42)

memberi sejumlah catatan terkait transformasi kelembagaan di Kemenkeu.

Menurut Agus, Kemenkeu adalah salah satu kementerian yang paling besar. Pegawainya lebih dari 60 ribu orang dengan kantor lebih dari 1.000 lokasi di seluruh Indonesia. Ketika hendak melakukan reformasi, Kemenkeu harus menggunakan sumber daya dengan optimal.

Sumber daya itu mulai dari pasar, sistem, dan keuangan.

“Sumber daya yang paling utama, yaitu manusia. Jadi, semua kekuatan yang dimiliki harus didayagunakan dan dioptimalkan untuk mencapai satu institusi yang berkinerja tinggi”, kata Agus.

Namun, lanjut Agus, ketika kasus Gayus muncul, itu menandakan SDM Kemenkeu belum terbangun budaya kerja yang dibutuhkan untuk mendukung reformasi birokrasi.

Praktik reformasi birokrasi harus diperkuat dengan melakukan akselerasi reformasi yang disebut transformasi kelembagaan.

Ini harus benar-benar meliputi reformasi pada kinerja bisnis dan budaya Kemenkeu.

“Pada zaman saya, yang namanya mata anggaran ada 24.000.

Bagaimana seorang dirjen mengendalikan mata anggaran yang begitu banyak? Dengan kesibukan yang tinggi, kami harus mencari terobosan. Begitu ditelusuri, kami menyepakati lima hal utama yang ingin dicapai dari transformasi kelembagaan,” jelas Agus.

Kelima hal utama itu, yakni cara menaikkan tax ratio, menaikkan penyerapan anggaran, pengelolaan kekayaan negara dan utang negara, akuntabilitas fiskal, serta pertanggungjawaban keuangan dan integritas fiskal.

Salah satu terobosan yang patut digarisbawahi pada awal kepemimpinan Agus Martowardojo di Kemenkeu adalah pemisahan kewenangan Direktorat Jenderal Pajak dalam pembuatan dan pelaksana regulasi perpajakan.

Saat itu, Agus memasang target bahwa pada kuartal keempat 2010, pemisahan tersebut telah terlaksana. Pemisahan itu terkait

(43)

fungsi untuk membuat aturan dan kebijakan serta fungsi untuk menjalankan administrasinya.

Seperti diwartakan Kompas, 15 September 2010, Agus berharap bahwa aturan pemisahan kewenangan akan disusun sejelas mungkin sehingga tidak menimbulkan konflik baru.

“Saya ingin sampaikan untuk meyakinkan tidak ada satu conflict of interest atau satu pertentangan kepentingan sehingga betul- betul antara yang buat aturan dan yang melaksanakannya bisa dipisah.”

Agus menuturkan, pemisahan itu menjadi salah satu praktik transformasi kelembagaan dalam Kemenkeu yang dilakukan pada lingkungan Ditjen Pajak serta Ditjen Bea dan Cukai. Untuk diketahui, sebelum dipisahkan, pembuat peraturan (regulasi) perpajakan dan pelaksana regulasi sama-sama dilakukan Ditjen Pajak. Ini dinilai berpotensi memicu adanya penyelewengan.

Bagi Agus, reformasi birokrasi yang telah berjalan di Kemenkeu telah menelurkan banyak prestasi. Bukan hanya memperbaiki aspek manusia, proses, dan tata kelola SDM, Kemenkeu juga melakukan asesmen dan analisis beban kerja, deskripsi kerja, meyakinkan kualitas produktivitas, dan menerapkan indikator kinerja utama (KPI). Ini adalah langkah-langkah yang benar untuk melaksanakan reformasi.

“Ketika sudah bisa melakukan langkah reformasi birokrasi yang diatur secara sistematis dan terukur, Kemenkeu merasa berhak memperoleh penyesuaian remunerasi. Namun, di tengah situasi seperti itu, Kemenkeu ‘dipukul’ kasus Gayus Tambunan. Hal itu mengagetkan masyarakat, menjadi tekanan bagi Kemenkeu. Saya meyakini perlu diambil langkah luar biasa untuk menaikkan kembali semangat, moral, dan kebanggaan Kemenkeu yang memiliki peranan strategis,” tutur Agus.

(44)

Digitalisasi Lembaga

Periode IV reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan Kemenkeu berjalan pada 2016- 2018. Dalam periode ini terdapat perubahan mendasar terhadap rumusan inisiatif strategis reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan.

Dalam tahap ini, Kemenkeu menyusun inisiatif strategis untuk mencapai  strategic out- come  Kemenkeu, yakni terjaga­

nya kesinambungan fiskal melalui pendapatan negara yang optimal, belanja negara yang efisien dan efektif, dan pengelolaan keuangan negara yang akuntabel untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkualitas, dan sustainable.

Strategic outcome  Kemenkeu

itu diharapkan bisa tercapai melalui implementasi 20 inisiatif strategis baru pada tema sentral, tema penerimaan, tema perbendaharaan, dan tema penganggaran. Di samping itu, inisiatif yang baru juga bersifat connecting the dots, yaitu fokus pada inisiatif yang memerlukan sinergi antarunit eselon I atau kementerian/lembaga (K/L).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi turut menambah daya gerak reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan Kemenkeu. Kementerian ini mengintegrasikan inisiatif transformasi ke dalam konteks yang lebih modern

“Sumber daya yang paling utama, yaitu manusia.

Jadi, semua kekuatan yang dimiliki harus didayagunakan dan dioptimalkan untuk mencapai satu institusi yang berkinerja tinggi.

Agus Martowardojo

(45)

dengan menerapkan aspek digitalisasi.

Transformasi digital pun menjadi periode V dari program reformasi Kemenkeu. Dalam periode ini, Kemenkeu menggunakan  Enterprise Architecture  (EA) sebagai alat utama menuju Kemenkeu modern yang berbasis digital. EA merupakan alat untuk membantu perencanaan strategis organisasi untuk mencapai visi dan misinya dengan memberikan kemampuan untuk melihat dan melakukan perbaikan pada bisnis, informasi, dan teknologi yang digunakan.

Transformasi digital Kemenkeu merupakan suatu peluang untuk penyempurnaan proses bisnis guna peningkatan value layanan dan mendorong efisiensi proses bisnis Kemenkeu. Capaian utama transformasi digital dilaksanakan sejak 2019 melalui 11 inisiatif strategis.

Inisiatif itu di antaranya uji coba activity based workplace (ABW) yang dilakukan di seluruh UE I untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan ekosistem era revolusi industri 4.0; impleme ntasi  office  automation  modul Nadine (Naskah Dinas Elektronik) pada seluruh UE I Kemenkeu; pengembangan Kemenkeu Learning Center generasi 2 sesuai kebutuhan  user;

uji coba  joint profile  perpajakan; implementasi dan sosialisasi pemakaian Kartu Kredit Pemerintah kepada K/L; dan uji coba implementasi teknologi integrasi dan komunikasi data di 102 pemda menggunakan aplikasi agen SINERGI Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) versi 5.0.0.

Selain mengimplementasikan sebelas inisiatif, melalui framework EA Kemenkeu melakukan analisis gap atas kesebelas inisiatif reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan pada 2019.

Menkeu periode 2013-2014, Chatib Basri, berpendapat, pada masa kepemimpinannya, infrastruktur digital belum sehebat saat ini. Transformasi digital paling luar biasa yang dilakukan Kemenkeu terjadi di era Menteri Sri Mulyani sekarang.

“Namun, di periode saya, Kemenkeu sudah memulai

(46)

transformasi digital. Kemenkeu memperkenalkan e-filling.

Pembayaran pajak pertama kali melalui online pada 2013. Pada waktu itu, (penerapannya) masih babak belur. Coba dilakukan, bandwidth-nya tidak cukup, hang,” ungkap Chatib.

Kemudian, lanjut Chatib, Kemenkeu menyusun e-faktur secara bertahap dalam layanan pajak. Ini juga dilakukan pada Ditjen Bea dan Cukai. Ia berkelakar, dulu kalau mau investasi di Indonesia, investor menjadi religius karena tidak tahu sampai di mana proses permohonannya.

“Hanya bisa berdoa kepada Tuhan sampai nanti akhirnya permohonan di-approve. Untuk itu, saya memperkenalkan online tracking. Kalau kita apply sesuatu, orang bisa melihat dokumennya ada di mana,” ujar Chatib.

Saat ini, situasinya sudah jauh lebih canggih. Di berbagai lini dalam lingkungan Kemenkeu, digitalisasi relatif telah berjalan.

Contoh paling gampang yang bisa dirasakan masyarakat adalah pelaporan SPT secara online. Cukup menggunakan laptop dan sambungan internet, wajib pajak bisa melaporkan SPT-nya dari manapun dan kapanpun.

Reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan Kemenkeu akan terus bergulir seiring zaman. Tantangannya tentu semakin berat. Pandemi Covid-19 yang belum usai, contohnya, menjadi challenge yang meminta perhatian dan energi ekstra.

“Namun, di periode saya, Kemenkeu sudah memulai transformasi digital. Kemenkeu memperkenalkan e-filling. Pembayaran pajak

pertama kali melalui online pada 2013. Pada waktu itu, (penerapannya) masih babak belur.”

Chatib Basri

(47)

Namun, kita percaya lembaga yang dengan kepemimpinan kuat serta didukung SDM yang mumpuni dan berintegritas tentu kian tangguh menghadapi perubahan zaman.

Tangguh Menghadapi Perubahan Zaman

Memulai keteraturan dan keterbukaan Kemenkeu

Modernisasi lembaga Penyesuaian kesejahteraan

pegawai

(48)
(49)

BAB 2

MENUJU KEMANDIRIAN TATA KELOLA KEUANGAN NEGARA BERKELAS

DUNIA

(50)
(51)

I

tulah ikon Kemenkeu. Ada begitu banyak kenangan yang terperam di gedung tua yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini. Gedung AA Maramis memang patut “dikeramatkan”.

Sebab, gedung tiga lantai seluas 12.000 meter persegi dengan fondasi kayu ulin ini menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan kolonial kepada Pemerintah Indonesia.

Bila sedang jalan-jalan atau berolahraga di sekitar Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, atau sedang melintas di Jalan Budi Utomo, perhatikan gedung megah berkelir putih di dalam kompleks Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Bangunan

berlanggam Eropa itu adalah gedung AA Maramis. Kalau dari Jalan Gunung Sahari kemudian masuk ke Jalan Budi Utomo,

gedung tersebut berada di kiri jalan.

BAB 2

(52)

Pembangunan gedung ini atas prakarsa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Penggarapan konstruksinya dimulai pada 7 Maret 1809. Daendels menganggap perlu mendirikan gedung besar ini guna memindahkan istana Batavia yang dinilai mulai terlihat kumuh karena berada di muara Sungai Ciliwung.

Ia juga ingin mendirikan istana serupa di area pusat ibu kota baru Weltevreden. Dilansir dari The White House of Weltevreden (Pusat Dokumentasi Arsitektur, 2005), bangunan ini semula dirancang sebagai pendamping istana Gubernur Jenderal di Bogor (Buitenzorg Paleis). Arsiteknya adalah Insinyur JC Schultze. Weltevreden sendiri artinya tenang dan memuaskan.

Letaknya dalam kekinian berada di sekitar Sawah Besar, Jakarta Pusat, merentang dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah.

Namun, Daendels tak sempat menikmati gedung impiannya jadi, sebab ia keburu dipanggil pulang ke Eropa. Daendels hanya bisa menyaksikan peletakan batu pertamanya saja.

Pendiri Komunitas Jelajah Budaya, Kartum Setiawan, pada Januari 2019 saat Tur Misteri Napoleon, bercerita, gedung ini akan dijadikan Gedung Putih bagi kekuasaan kolonial kala itu.

“Kalau dalam bahasa Belanda, Grote Huis (Rumah Besar). Ini diperuntukkan sebagai istananya Daendels.”

Setelah Daendels kembali ke Eropa, pembangunan gedung ini dilanjutkan oleh suksesornya. Namun, lanjut Kartum, konstruksinya tidak semegah seperti yang dicita-citakan Daendels.

Bahkan pemerintah kolonial mengalami kesulitan biaya.

Akibatnya, banyak material bangunan Istana Daendels ini menggunakan komponen bekas dari bongkaran kota lama (Kota Tua sekarang). Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari Inggris, Thomas Stamford Raffles, sempat melanjutkan proyek ini, tapi juga belum berhasil merampungkannya. Baru setelah Hindia Belanda di bawah kendali LPJ Du Bus de Ghisignies, Istana

(53)

Daendels ini selesai. Ghisignies  meresmikan gedung ini pada 1828.

Stempel keberhasilan pembangunan Istana Daendels tersebut masih ada hingga saat ini. Di atas gerbang terdapat plang yang menyebutkan penanggalan kapan Daendels mulai membangun dan saat Ghisignies menyelesaikannya. Angka tahun-tahun itu menggunakan aksara romawi.

Setelah diresmikan, pemerintah kolonial juga belum keluar dari persoalan keuangan. Akibatnya, gedung besar ini urung menjadi istana melainkan digunakan untuk keperluan kantor besar urusan keuangan dan instansi penting pemerintah kolonial.

Sejak 1828 hingga 1942 kemudian berganti zaman penjajahan Jepang atas Indonesia pada 1942-1945, sampai masa pendudukan NICA 1945-1949, gedung ini tetap kokoh berdiri.

Rumah Besar tersebut akhirnya diserahkan kepada Indonesia pada 1950. Oleh Pemerintah Indonesia, gedung ini dimanfaatkan sebagai kantor Kemenkeu dengan Menteri Keuangan (Menkeu) pertama Alexander Andries (AA) Maramis.

Ibarat puzzle ada begitu banyak kepingan yang saling mengait antara Gedung AA Maramis dengan beragam peristiwa dan tokoh, setidaknya dalam kurun waktu dua abad terakhir. Ini membuat gedung tersebut memiliki arti penting dari sisi sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Oleh sebab itu, sesuai Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Gedung AA Maramis ditetapkan sebagai cagar budaya yang wajib dilindungi, dipelihara, dan dimanfaatkan.

Hal ini sejalan dengan rekomendasi UNESCO tentang bangunan dan lingkungan cagar budaya, yakni saving the past for the future and give a future to the past.

Agar gambar besar puzzle itu kian clear, kita bisa menoleh ke belakang pada masa kemerdekaan. Satu hari setelah Bung Karno-Bung Hatta mengumandangkan Proklamasi, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) segera mengangkat Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama.

(54)

Hari berikutnya atau 19 Agustus 1945, PPKI bersidang kembali untuk membentuk 12 Departemen Negara.

Departemen tersebut yakni Departemen Dalam Negeri;

Departemen Luar Negeri; Departemen Keuangan; Departemen Kemakmuran; Departemen Kesehatan; Departemen Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan; Departemen Sosial; Departemen Pertahanan; Departemen Penerangan; Departemen Perhubungan;

dan Departemen Pekerjaan Umum.

Lantas siapa yang memimpin pertama kali Departemen Keuangan? Media Keuangan edisi Oktober 2017 menyebutkan bahwa PPKI saat itu menunjuk Dr Samsi Sastrowidagdo sebagai Menteri Sri Mulyani beserta jajarannya menunjukkan salah satu aplikasi finansial yang dikembangkan Kementerian Keuangan.

(55)

Menkeu. Secara “teknis” Samsi menjadi Menkeu pertama.

Namun, ia hanya menduduki posisi ini selama dua minggu tanpa sempat menyusun struktur organisasi. Baru pada 2 September 1945, AA Maramis menggantikan posisinya sebagai Menkeu.

Maramis lantas menerbitkan dekrit pada 29 September 1945 yang diikuti dengan penetapan wujud organisasi Kemenkeu. Saat itu dibentuk lima jabatan setingkat eselon I yang disebut dengan pejabatan. Kelimanya adalah Pejabatan Umum, Pejabatan Keuangan, Pejabatan Pajak, Pejabatan Resi Candu dan Garam, serta Pejabatan Pegadaian.

Khusus posisi Pejabatan Umum tersebut, menurut Surat Edaran Nomor SE-3/SJ/2019 tentang Tonggak Sejarah Pembentukan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuang an, pada saat itu menjalankan fungsi kesekreta riatan hingga pada akhirnya berubah nama menjadi Kantor Pusat Kementerian Keuangan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1948 tentang Susunan dan Lapang Pekerjaan Kementerian Keuangan. Pejabatan Umum sekarang kita kenal sebagai Sekretariat Jenderal. Kemenkeu pun menetapkan 2 September 1945 sebagai tonggak sejarah pembentukan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.

Namun, ujian langsung menerjang Republik yang baru lahir beberapa hari. Tekanan pihak kolonial yang enggan mengakui kemerdekaan Indonesia, sistem pemerintahan yang masih lemah, pengasingan Presiden dan Wakil Presiden pertama oleh Belanda, hingga agresi militer Belanda mendorong dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Meski dalam situasi darurat, organisasi Kemenkeu tidak banyak mengalami perubahan. Hingga kemudian terbit Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1948, penyebutan Pejabatan berubah menjadi Jawatan. Tubuh Kemenkeu ikut berubah yang meliputi Kantor Pusat Kementerian, Thesauri Negara, Jawatan Pajak, Jawatan Bea dan Cukai, Jawatan Pajak Bumi, Jawatan Candu dan Garam, Jawatan Pegadaian, serta Kantor Urusan

(56)

Perjalanan.

Pada 1967, merujuk Media Keuangan edisi Oktober 2017, komposisi organisasi Kemenkeu sudah seperti susunan saat ini. Waktu itu, Kemenkeu telah memiliki Sekretariat Jenderal (Setjen), Direktorat Jenderal Anggaran (DJA), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN), Direktorat Jenderal Keuangan Negara, dan Inspektorat Jenderal (Itjen).

Pada 1975, Menkeu baru mendirikan Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan (BPLK) atau sekarang disebut Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Berselang setahun, Kemenkeu membentuk Pusat Analisa Informasi Keuangan (PAIK) dan Badan Pelaksanaan Pasar Modal (Bapepam). Tugas dan fungsi Bapepam ini pada 2011 digantikan oleh Otoritas Jasa Keuangan yang berada di luar Kemenkeu.

Indische Comptabiliteitswet

Selain meninggalkan gedung-gedung megah di beberapa sudut Nusantara, pemerintah kolonial juga mewariskan banyak perangkat aturan yang sebagian tetap digunakan oleh Pemerintah Indonesia sampai tersedia undang-undang penggantinya. Peraturan kolonial pada masanya tentu bertujuan untuk melindungi kepentingan dan aset Pemerintah Hindia Belanda.

Satu hari setelah merdeka, Indonesia telah memiliki Undang- Undang Dasar (UUD). Namun, kala itu kita belum memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur keuangan negara.

Sementara kebutuhan adanya regulasi untuk mengatur kondisi keuangan negara tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Akibatnya, saat itu kita masih menggunakan undang- undang peninggalan pemerintah kolonial yakni Indische

(57)

Comptabiliteitswet (ICW) Staatsblad (Stbl) 1925 No 448. Belanda mengundangkan ICW pada 1925 untuk mengatur tata kelola keuangan di suatu wilayah jajahan, bukan untuk mengelola keuangan suatu negara.

Secara garis besar ICW mengatur pembukuan yang harus dikerjakan oleh para pejabat yang mengurus keuangan di Departemen Keuangan maupun departemen teknis, dan secara khusus mengatur wewenang tentang kebendaharaan.

Contoh ketentuan dalam ICW, melansir artikel “Kedudukan Bendahara Pasca Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara” di Jurnal Indonesian Treasury Review Vol 1 No 3 2016, Pasal 77 ayat (1) mengatur ketentuan tentang bendahara. Isinya seperti berikut

Art. 77 (1): “Behoudens het bepaalde bij art. 67 Zijn de personen en administration van Landswege belast met het ontvangen, bewaren, betalen of afleveren van gelden en geldswaarden en het bij art. 55 bedoelde materieel, comptabel, en als zoodanig verplicht aan de betrokken Algemeene Rekenkamer rekening af te leggen van door hen gevoerd beheer.”

Terjemahannya, Pasal 77 (1): “Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam pasal 67, maka orang-orang dan badan-badan yang oleh negara diserahi tugas penerimaan, penyimpanan, pembayaran atau penyerahan uang, atau surat-surat berharga dan barang-barang termaksud dalam Pasal 55, adalah bendahara dan dengan demikian, berkewajiban untuk mengirim kepada Dewan Pengawas Keuangan perhitungan mengenai pengurusan yang dilakukannya.”

Nah, Indonesia baru memiliki undang-undang (UU) yang mengatur secara khusus keuangan negara pada 2003 atau 58 tahun setelah kemerdekaan. Dalam periode yang begitu panjang ini, setidaknya ada 16 tim yang ikut menyusun Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (UU No 17 Tahun 2003) ini.

Mengikuti UU Keuangan Negara, pada 2004 lahir pula

(58)

Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (UU No 1 Tahun 2004), serta Undang-Undang No 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (UU No 15 Tahun 2004).

Sekretaris Jenderal Kemenkeu periode 2006-2012, Mulia Nasution, yang sempat menjadi Ketua Tim Penyusunan UU Keuangan Negara, pernah mengungkapkan, ICW peninggalan Belanda tidak sesuai dengan kebutuhan negara merdeka. Apalagi jika dikaitkan dengan prinsip otonomi daerah dan perkembangan demokratisasi suatu negara.

Ia melanjutkan, reformasi birokrasi di Kemenkeu yang kemudian bergulir secara nasional memang tidak terlepas dan berkaitan erat dengan reformasi pengelolaan keuangan negara.

Waktu itu, boleh kita katakan milestone-nya adalah terbitnya paket UU di bidang keuangan negara yang terdiri atas tiga UU tadi, yakni UU No 17 Tahun 2003, UU No 1 Tahun 2004, dan UU No 15 Tahun 2004.

Terbitnya ketiga UU tersebut tidak terlepas dari terjadinya perubahan sistem politik di negara kita. Jadi, dengan terjadinya pergantian pemerintahan, di berbagai aspek pemerintahan, muncul keinginan agar cita-cita ataupun tujuan reformasi dapat diwujudkan. Salah satunya adalah mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, memberantas KKN, kemudian membangun sistem pengelolaan keuangan negara yang sehat dan berkesinambungan.

“Kalau kita flash back, saat proses UU Keuangan Negara ini masih dalam pembahasan di DPR yang pada waktu itu masih zaman Pak Boediono sebagai Menkeunya dan Presidennya Ibu Megawati, walaupun belum menjadi paket terpadu dengan reformasi pengelolaan keuangan negara, sudah dilakukan upaya untuk melakukan perbaikan. Terutama pelayanan di bidang perpajakan dan pembentukan large tax office (LTO) di Gambir,”

kisah Mulia.

Ia mengungkapkan, ketika ditanyakan bagaimana kemudian

(59)

proses reformasi birokrasi ini sehingga pada akhirnya mendapat dukungan dari DPR dan secara formal dilaksanakan? Tentu ini tidak terlepas dari leadership, bukan hanya Presiden, tetapi terutama menteri yang memimpin Kemenkeu.

Setelah era Boediono, Kemenkeu dipimpin oleh Jusuf Anwar meski tidak lama. Jusuf benar-benar dalam masa transisi.

Di awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Menteri Bambang Brodjonegoro dalam acara Sosialisasi Nilai-nilai Kementerian Keuangan yang diselenggarakan pada 2 Februari 2012.

(60)

(SBY) pada 2004, Jusuf memimpin selama satu tahun dan waktu itu fokusnya memang tetap pada penataan organisasi. Sesuai dengan amanat UU Keuangan Negara yang menata kembali fungsi pengelolaan keuangan negara yang terkait dengan anggaran, perbendaharaan, pengelolaan utang, pengelolaan kekayaan, dan lain-lain. Itu selesai dilaksanakan, dan pada waktu itu Mulia ditunjuk sebagai Dirjen Perbendaharaan selama dua tahun (2004-2006).

“Bu Sri Mulyani masuk pada pemerintahan Presiden SBY sebagai Menteri Perencanaan Keuangan Nasional merangkap Kepala Bappenas. Kemudian dipercaya menjadi Menteri Keuangan. Waktu itu, saya ditugaskan menjadi Sekjen Kemenkeu pada 2006. Sejak itulah, kami membentuk suatu tim, cikal bakal tim reformasi birokrasi pada tingkat pusat di Kemenkeu,” sebut Mulia.

Mereka kemudian menyusun berbagai langkah yang dituangkan dalam suatu dokumen. Ini kemudian oleh menteri dan pimpinan di Kemenkeu disampaikan kepada Komisi XI sebagai rencana kerja. Setelah melalui penjelasan-penjelasan, walaupun awalnya DPR berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelum nya, kurang percaya bahwa Kemenkeu bisa melakukan perubahan fundamental secara internal.

Terkait lahirnya UU Keuangan Negara, Wakil Menkeu Suahasil Nazara turut berpendapat. Ia mengatakan, kelahiran UU Keuangan Negara pada 2003 itu juga merupakan konsekuensi logis dari rangkaian reformasi. Sejak 1998-1999 kita juga ikut

“Kelahiran uu Keuangan Negara pada 2003 itu juga merupakan konsekuensi logis dari rangkaian reformasi.”

Suahasil Nazara

Referensi

Dokumen terkait

Melakukan manajemen perubahan yang diuraikan dalam kegiatan proses sosialisasi dan internalisasi atas perubahan yang terjadi dengan keluaran

Tacit knowledge ke Tacit knowledge , pada tahap sosialisasi penulis melakukan tahap wawancara dengan para petani untuk mengumpulkan komentar – komentar tentang

“Apabila berbagai hal tersebut dapat dilakukan, saya meyakini birokrasi kita tidak hanya makin baik dari wak- tu ke waktu, namun juga akan menjadi lebih kompetitif dibanding

Secara  garis  besar  proses  pelaksanaan  reformasi  birokrasi  dimulai  dari  pengajuan  usulan  reformasi  birokrasi  oleh  Kementerian/  Lembaga  kepada 

Keterlibatan para warga dan pemangku kepentingan dalam proses kebijakan yang besar sangat penting bukan hanya untuk membuat mereka berempati terhadap kesulitan

 Melakukan analisis jabatan dan penghitungan beban kerja riil organisasi, untuk menentukan jumlah pegawai perjabatan, kompetensi jabatan..  Melakukan seleksi pegawai sesuai

Apabila knowledge telah berubah menjadi tacit, maka knowledge siap digunakan antara lain untuk menghasilkan produk baru dan melakukan pelayanan yang lebih baik,

Melakukan koordinasi dengan satuan-satuan organisasi/unit-unit kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan program dan kegiatan penataan sistem