• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Dia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Dia"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN

Pada Tn. S dengan Diagnosa Medis Hemorroid Grade III (Pre Op) Di Ruang Bedah kelas III (Seruni) RSUD Pare

Kabupaten Kediri

Disusun oleh : Hernuning Asprilia

Ahmad Riyanto Irpan Mustakim

Ita Yuliani Putri Azizatun Nikmah Uyung Romadhon Nur

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK JL. Dr. Soetomo No. 5 Telp. (0355) 791293 KodePos 66312

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Diagnosa Medis Hemorroid Grade III (Pre Op)

Di Ruang Bedah Kelas III (Seruni) RSUD Pare Kabupaten Kediri

Disahkan pada : Tanggal : 29 November 2014

Oleh : Clinical Instructure Ruang Seruni RSUD Pare

Mengetahui,

Clinical Instructure Ruang Seruni,

(3)

LAPORAN PENDAHULUAN

Masalah Kesehatan : Hemorroid

Area Keperawatan : Masalah Sistem Pencernaan Ruang : Seruni

I. Definisi Kasus

Hemoroid adalah kumpulan dari pelebaran satu sekmen atau lebih vena hemoroidalis di daerah anorektal.Hemproid bukan sekedar pelebaran vena hemoradialis,tetapi bersifat lebih kompleks.yakni melibatkan beberapa unsur berupa pembuluih darah,jaringan lunak dan otot disekitar anorektal (kanalis anus). (Felix 2006)

Hemoroid merupakan dilatasi varises pleksus vena sub mukosa anus dan peri anus.Dilatasi ini sering terjadi setelah usia 50 tahun yang berkaitan dengan peningkatan tekanan vena di dalam pleksus hemoradialis (Robbins,2007).

II. Fisiologi Rektum dan Anus

Fungsi utama dari rectum dan kanalis anal ialah untuk mengeluarkan massa fesus yang terbentuk di tempat yang lebih tinggi dan melakukan hal tersebut dengan cara yang terkontrol.

Rektum dan kanalis anal tidak begitu berperan dalam proses pencernaan,selain hanya menyerap sedikit cairan.Selain itu sel-sel goblet mukosa mengeluarkan mucus yang berfungsi sebagai pelican untuk keluarnya massa feses.

(4)

Pada dasarnya hemoroid dibagi menjadi 2 klasifkasi,yaitu : 1. Hemoroid Interna

Gejala dari hemoroid interna adalah perdarahan tanpa rasa sakit karena tak adanya serabut rasa sakit pada daerah ini.Hemoroid interna dibagi menjadi :

 Derajat 1

Timbul perdarahan varises prolapsi atau tonjolan mukosa tidak melalui anus dan hanya dapat di temukan dengan protoskopi.  Derajat 2

Terdapat trombus didalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat defekasi,tapi setelah defekasi selesai tonjolan tersebut dapat masuk dengan sendirinya.

 Derajat 3

Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan sendirinya tetapi harus didorong.

 Derajat 4

Suatu saat timbul keadaan akut dimana varises yang keluar pada saat defekasi tidak dapat dimasukkan lagi.biasanya pada derajat ini timbul thrombus dan di ikuti infeksi dan kadang timbul perlingkaran anus,sering disebut dengan hemoral inkarserata karena seakan-akan ada yang menyempit hemoroid yang keluar itu.

2. Hemoroid Eksterna

Merupakan perluasan dari hemoroid interna yang di bagi menjadi dua yaitu :

a. Akut

Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan dan sebenarnya adalah hematom.Walaupun disebut dengan Trombus Eksterna Akut.

Tanda dan gejala yang sering timbul:  Sering rasa sakit dan nyeri  Rasa gatal pada daerah hemoroid

(5)

b. Kronik

(6)

III. Patofisiologi 1) WOC

Faktor Penyebab

Peningkatan tekanan intra abdomen

Drainage anorektal terganggu

Peningkatan tekanan pd vena superior + inferior

Gangguan aliran balik

Bendungan vleksus vena hemoroidalis

Varises

Thrombus & strangulasi prolapse pecah

Inflamasi & edema kurang info kontaminasi keluar Dg udara skitar lendir

Nyeri kesulitan anus

Akut gerak gatal

Resti infeksi

iritasi

Px takut gangguan kurang kulit

BAB pola pengetahuan skitar

Tidur anus

Konstipasi ansietas

Kerusakan integritas Jaringan kulit

perdarahan

gangguan keseimbangan Hb menurun cairan < kebutuhan

oksigen inadekuat

intoleransi aktivitas

(7)

2) Uraian

Hemoroid disebabkan oleh bendungan di dalam vena pada pleksus hemorodalis yang disebabkan oleh factor penyebab dan factor pencetus seperti kongestif vena hemoroidalis,tekanan abdomen kelebihan,(konstipasi,sering mengejan,kehamilan),duduk terlalu lama,tumor rectum,obesitas,hubungan seksualitas melalui anus,tidak adanya katub secara struktural didalam vena hemoradialis sehingga drainase dari daerah anorektal terganggu akibat peningkatan tekanan intra abdomen juga meningkatkan tekanan pada vena hemoroidalis yang menimbulkan varises yang beresiko pecah dan menimbuklkan perdarahan. pasien akan mengeluh keluar darah dari anus kadang-kadang disertai nyeri dan prolaps,yang paling berat kadang-kadang-kadang-kadang mengeluh sangat nyeri karena sudah terjadi trombus dan strangulasi.

IV. Etiologi

a. Mengedan pada BAB yang sulit

b. Pola BAB yang salah (penggunaan jamban duduk

c. Peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor (tumor udud,tumor abdomen)

d. Kehamilan e. Usia tua

f. Konstipasi kronik g. Diare kronik

h. Diare akut berlebihan i. Hubungan seks peranal j. Kurang minum air

k. Kurang makanan berserat l. Kurang olahraga / imobilisasi

V. Manifestasi Klinis

a. Timbul rasa gatal dan nyeri

b. Pedarahan berwarna merah terang saat defekasi c. Pembengkaan pada daerah anus

(8)

VI. Penatalaksanaan a. Medis

1) Farmakologis

 Menggunakan obat untuk melunakkan feses / psillium akan mengurangi sembelit dan terlalu mengedan saat defekasi, dengan demikian resiko terkena hemoroid berkurang.

 Menggunakan obat untuk mengurangi/menghilangkan keluhan rasa sakit, gatal, dan kerusakan pada daerah anus. Obat ini tersedia dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk supositoria untuk hemoroid interna, dan dalam bentuk krim / salep untuk hemoroid eksterna.

 Obat untuk menghentikan perdarahan, banyak digunakan adalah campuran diosmin (90%) dan hesperidin (10%)

2) Nonfarmakologis

 Perbaiki pola hidup (makanan dan minum): perbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat (buah dan sayuran) kurang lebih 30 gram/hari, serat selulosa yang tidak dapat diserap selama proses pencernaan makanan dapat merangsang gerak usus agar lebih lancar, selain itu serat selulosa dapat menyimpan air sehingga dapat melunakkan feses. Mengurangi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam. Menghindari makanan yang sulit dicerna oleh usus. Tidak mengkonsumsi alkohol, kopi, dan minuman bersoda. Perbanyak minum air putih 30-40 cc/kg BB/hari.

 Perbaiki pola buang air besar : mengganti closet jongkok menjadi closet duduk. Jika terlalu banyak jongkok otot panggul dapat tertekan kebawah sehingga dapat menghimpit pembuluh darah.

 Penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan lokal daerah anus dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit tiga kali sehari. Selain itu penderita disarankan untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur, lebih baik banyak berjalan.

3) Tindakan minimal invasif

Dilakukan jika pengobatan farmakologi dan non farmakologi tidak berhasil, tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah :

 Skleroskopi hemoroid, dilakukan dengan cara menyuntikkan obat langsung kepada benjolan / prolaps hemoroidnya.

 Ligasi pita karet, dilakukan dengan cara mengikat hemoroid. Prolaps akan menjadi layu dan putus tanpa rasa sakit.

(9)

 Disinari sinar infra red.

 Dialiri arus listrik (elektrokoagulasi)  Hemoroideolysis. (www.fkuii.org, 2006)

b. Pembedahan

Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit prolaps, trombosis, atau hemoroid yang besar dengan perdarahan berulang. Pilihan pembedahan adalah hemoroidektomi secara terbuka, secara tertutup, atau secara submukosa. Bila terjadi komplikasi perdarahan, dapat diberikan obat hemostatik seperti asam traneksamat yang terbukti secara bermakna efektif menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang. (www.suaramerdeka.com, 2005)

Terapi medikal hanya digunakan untuk kasus ringan, hemoroid tanpa komplikasi dengan manifestasi ringan. Pengobatan meliputi :

1) Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal yang baik.

2) Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi. 3) Diit tinggi serat.

4) Pemberian laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati anus. 5) Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung anastesi. 6) Tirah baring.

7) indakan non operatif seperti : fotokoagulasi infra merah, diatermi bipolar dan terapi laser.

8) Injeksi larutan sklerosan untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. 9) Tindakan bedah konservasif hemoroid internal adalah prosedur ligasi

pita-karet.

10) Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid dengan cara membekukan jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis.

(10)

VII. Pengkajian Fokus pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.

2. Keluhan utama

Klien biasanya datang dengna keluhan nyeri pada waktu BAB disertai dengan keluarnya daging kecil dari anus dan disertai darah segar. darah dapat menetes keluar dari anus beberapa saat sesudah BAB. pengeluaran lendir dialami oelh beberapa pasien yang menderita hemoroid prolapsus. 3. Riwayat penyakit sekarang

Dikembangkan dari keluha utama dengan memakai rumus PQRST. 4. Riwayat kesehatan dahulu

5. Riwayat kesehatan keluarga

6. Data aspek biologis a. Aktivitas sehari – hari

 Pola nutrisi

Kebiasaan makan sehari-hari, jam makan, frekuensi makan, porsi dan jenis makana yang disukai dan tidak disukai, diet, alergi terhadap makanan.

Cairan : jenis minuman, frekuensi, kehilangan cairan yang berlebih, asupaan makanan, minum, infuse.

 Pola eliminasi

Kebiasaan BAB, BAK, frekuensi, warna, bau, konsistensi, jumlah.  Pola istirahat tidur

Kebiasaan tidur sehari -hari, jam tidur, lama tidur, sering bangun waktu tidur, masalah yang berhubungan dengan tidur.

 Personal hygine

Kebiasaan mandi, cuci rambut, ganti pakaian, gunting kuku, gosok gigi.

b. Penampilan umum

Klien dengan hemoroid biasanya tampak lemah. c. Penampilan fisik

(11)

Pola napas yang cepat dipengaruhi oleh adanya nyeri,dan ditemukan perubahan frekuensi pernafasan akibat adanya nyeri.

 System kardiovaskuler anus. Frekuensi BAB, peristaltic usus.

 System musculoskeletal

Kemungkinan dijumpai kelemahan otot, kelelahan, keletihan, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

 System genitourinaria

Frekuensi BAB/BAK perhari, konsistensi, adakah benjolan sekitar genetalia, jenis pekerjaan

 System integument

Kaji suhu, turgor kulit, tekstur, bersisik atautidak, adakah luka memar atau tidak, ada lesi atau tidak, keadaan rambut, penyebaran rambut, mudah dicabut atau tidak.

 System neurosensori

Pada hemoroid kemungkinanpasien mengeluh pusimg karena adanya perdarahan. Kaji adanya trenior, gangguan bicara/ tida, pemglihatan klien, nilai GCS, fungsi saraf cranial,

 System endokrin

Kaji adakah pembesaran tyroid, kelenjar getah bening. Apakah mempunyai penyakit DM.

7. Data aspek psikososial, social, spiritual a. Aspek psikososial

Dampak psikososial dari pasien mungkin dihadapkan rasa cemas, akibat ketidak tahuan pasien adanya lika pada anus.

b. Aspek social

o Pola interaksi

(12)

Meliputi keyakinan nilai – nilai ketuhanan yang dianut, keyakinan dan harapan akan kesembuhan/ kesehatannya.

VIII. Masalah Keperawatan a. Nyeri akut

b. Konstipasi c. Resiko infeksi d. PK anemia

e. Kerusakan integritas kulit f. Intoleransi aktivitas

IX. Masalah Kolaboratif a. Perdarahan b. Thrombosis

c. Hemoroidal strangulasi ( Luksman’s,1997:1085)

X. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan Colok Dubur

b. Anorektoskopi (untuk melihat kelainan anus dan rectum). (www. Suaramerdeka. Com,2005).

c. Pemeriksaan rectal atau palpasi digital.

d. Proctocopy dan kohonoskopi ( untuk menunjukkan hemoroid intervena) ( Reeves,1999: 162)

XI. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut b/d iritasi kulit/Jaringan di daerah anus

2. Gangguan eliminasi bowel :Konstipasi b/d nyeri pada saat defekasi 3. Resti infeksi b/d prolaps anus dan terbentuknya jaringan keluar

anus.

(13)

XII. Intervensi Diagnosa 1

Tujun : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah keperawatan nyeri dapat diatasi.

KH :

 Paien mampu mengontrol nyeri

 Pasien melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan manajemen nyeri  Pasien mmampu mengenali nyeri

 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

1) Dorong pasien untuk melaporkan nyeri.

R/: mencoba untuk mentoleransi nyeri dari pada meminta analgetik

2) Kaji laporan nyeri, cacat lokasi, lamanya intensitas ( skala 0-10) selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.

R/ : Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan terjadinya komplikasi seperti perforasi,toksik.

3) Catat petunjuk non verbal seperti gelisah menolak untuk berhati – hati, selidiki perbedaan petunjuk verbal dan non verbal.

R/ : bahwa tubuh / petunjuk nonverbal dapat secara psikologis dan fisiologis dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasikan luas/ beratnya masalah.

4) Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi,

R/: meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembaliperhatian atau meningkatkan kemampuan koping .

5) Berikan arena rectal dengan sabun ringan dan air lap setelah defekasi perawatan kulit seperti jeli, minyak.

R /: Melimdungi kulit dari asam usus, mencegah eksklorasi 6) Berikan rendam duduk dengan tepat.

R/ : meningkatkan kebersihan dan kenyamanan.

7) Kolaborasi dengan tim gizi dalam memodifikasi diet sesuai dengan kebutuhan misalnya makanan tinggi serat.

R/ : makanan tinggi serat membantu melembekkan feses sehingga feses mudah dikeluarkan

8) Kolaborasi dalam pemberian obat

(14)

R/ : Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penangananuntuk memudahkan istirahat adekuat dan penyembuhan R/ : Menjelaskan otot rectal menurunkan nyeri spasme

Diagnosa 2:

Tujuan : setelah dilakukan tidakan keperawatan diharapkan masalah keperawatan konstipasi dapat diatasi.

KH :

 Mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari  Bebas dari ketidaknyamanan dan konstipasi

 Mengedintifikasi indikasi untuk mencegah konstipasi  Feses lunak dan berbentuk

1) Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltic usus

R/; distensi dan hilangnya peristaltic usus merupakm tanda bahwa fungsi defekasi hilang yang kemungkinan b/d kehilangan syaraf parasimpatik usus besar dengan tiba – tiba .

2) Anjurkan minum 2000-2500 ml/hr kecuali bila ada kontra indikasi R/ : membantu memperbaiki konstipasi feses bila ada kontra indikasi 3) Berikan diet rendah sisa, tinggi serat, lunak sesuai toleransi

R/: makanan rendah sisa serat tinggi membantu memperbaiki konsistensi feses 4) Kolaborasi dalam pemberian pelunak feses, anjurkan defekasi segara mungkin

bila dorongan terjadi.

R /: mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi .

Diagnosa 3:

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah keperawatan resiko infeksi tidak terjadi.

KH :

 Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi  Menunjukkan perilaku hidup sehat

(15)

 Tidak didapatkan tanda- tanda infeksi (rubbor,dolor,kalor,tumor,fungsiolaisa)

1) Pantau TTV ,perhatikan peningkatan suhu tubuh

R/: adanya peningkatan suhu tubuh adalah karakteristik infeksi

2) Kaji TTV dengan sering , catat tidak membaiknya atau berkelanjutannnya hipotensi

R/: tanda adanya syok septic, endotoksin/ sirkulasi menyebabkan vasodilatasi ,kehilangan cairan dari sirkulasi dan rendahnya status curah jantung

3) Laksanakan pencucian tangan yang baik dan perawatan prolaps aseptiks . berikan perawatan paripurna

R/: menurunkan resiko infeksi (penyebaran infeksi)

4) Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/ orang terdekat.

R/: pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas.

5) Kolaborasi dalam pemberian antibiotic sesuai indikasi

R/: mungkin diberikan secara profilaksis atau menurunkan jumlah organism,e (pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhan bakteri.

Diagnosa 4

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah keperawatan gangguan keseimbangan cairan kurang kebutuhan dapat diatasi. KH :

 Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB

 Tidak ada tanda –tanda dehidrasi ,elastistas turgor kulit baik, ,membrane mukosa lembab ,tidak ada rasa haus yang berlebihan .

1) Pantau TTV

R/: hipotensi ,takikardia, peningkatan pernafasan ,mengidentifikasi kan cairan uni povolemia) turgor dan kelemahan kulit

2) Observasi dan catat frekuensi serta volum perdarahan

(16)

3) Pantau suhu kulit ,palpasi denyut porifer dan warna konjungtiva

R/ : kulit yang dingin atau lembab ,denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk mengganti cairan tambahan

4) Pantau perkembangan hasil laboratorium misalnya Hb , Ht dan warna konjungtiva

R/ : indikasi hidrasi /volume sirkulasi

(17)

XIII. Daftar Pustaka

Nurarif,a.h dan Kusuma,h.(2003).aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis & nanda edisi revisi jilid 1. Yogyakarta: Medication.

Anonym,2009.Hemoroid.http://

medinux.blogspot.com/2009/02/hemoroid.html (diakses : 16 November 2014)

(18)

FORMAT PENGKAJIAN DATA – DATA KEPERAWATAN

I. BIODATA

Nama : Tn. S

Jenis kelamin : Laki-laki

Umur : 66 th

Status perkawinan : kawin Pekerjaan : pedagang

Agama : islam

Pendidikan terakhir : SD

Alamat : Ploso Lor

Tanggal MRS / Jam : 10-11-2014 / 14.00 WIB Tanggal Pengkajian / jam : 17-11-2014 / 11.00 WIB

II. DIAGNOSA MEDIS : Hemorroid Grade III

III. KELUHAN UTAMA :

Pasien mengatakan khawatir dengan penyakit ambien akan muncul perdarahan lagi.

IV. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :

(19)

V. RIWAYAT PENYAKIT MASA LALU

Pasien mengatakan belum pernah MRS atau opname di Puskesmas sebelumnya. Pasien mengatakan paling sering sakit flu batuk biasa dan periksa ke puskesmas. Pasien mengatakan 1 bulan ini memiliki keluhan pada jantung. Pasien mengatakan sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit menular ataupun menurun seperti DM, Stroke, hipertensi dan hemorrhoid.

VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

Pasien mengatakan orang tua ataupun saudaranya tidak ada yang memiliki penyakit hemorrhoid dan penyakit menurun seperti Hipertensi, kardiovaskuler (penyakit jantung), stroke, DM.

Genogram :

Keterangan :

: laki-laki : perkawinan

: perempuan : keturunan

: meninggal : pasien

--- : tinggal serumah

VII. POLA AKTIVITAS SEHARI-HARI  Makan dan Minum

 Di rumah

Pasien mengatakan makan 3x1 hari @ 1 piring penuh, dengan menu nasi, sayur santan, sayur bening, mie (sebagai selingan), lauk ikan, tahu, tempe.

(20)

 Di RS

Pasien mengatakan makan 3x1 hari , 1 porsi dari tim gizi habis. Menu khusus dari instalasi gizi RSUD Kab. Kediri (TKTP) seperti nasi, sayur, ikan ayam, daging.

Pasien mengatakan minum air putih rata-rata 1 liter/24 jam, pasien tidak minum teh/ kopi slama di RS.

 Pola Eliminasi  Di Rumah

Pasien mengatakan BAB 1 x sehari di pagi hari setelah bangun tidur, konsistensi lunak disertai darah segar menetes.

Pasien mengatakan BAK 4 x 300 cc / 24 jam. Dengan konsistensi encer, warna kuning jernih.

 Di RS

Pasien mengatakan BAB 1 x sehari di pagi hari setelah bangun tidur, konsistensi lunak dan tidak disertai pengeluaran darah segar, vena hemoridalis keluar dari anus saat BAB, dan kembali ke dalam apabila didorong.

Pasien mengatakan BAK 4 x 300 cc/ 24 jam, dengan konsistensi encer, warna kuning jernih, spontan.

 Pola Istirahat Tidur  Di Rumah

Pasien mengatakan tidur siang jarang.

Pasien mengatakan tidur malam jam 22.00 – 04.30 WIB

 Di RS

Pasien mengatakan tidur siang jam 12.00 – 13.30 WIB Pasien mengatakan tidur malam jam 21.00 – 05.00 WIB

 Kebersihan Diri  Di Rumah

Pasien mengatakan mandi 3 x sehari dan kramas 1 x / minggu.  Di RS

(21)

Keadaan rambut beruban, kulit lembab, nafas tidak berbau, keringat tidak berbau.

VIII. RIWAYAT PSIKOSOSIAL

Pasien mengatakan dirinya adalah seorang penjual ketela bahan tape. Pasien mengatakan resah setiap akan BAB, dan sebenarnya ragu bahwa dirinya bisa aktivitas seperti dulu. Pasien mengatakan selama 1 minggu lebih di RS membua pasien tidak dapat menghasilkan uang, pasien berharap penyakit dapat sembuh tanpa harus tindakan operasi, dan pasien bisa beraktivitas kembali. Skala kecemasan sedang (skor 16), pasien banyak diam, pasien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya dan sering bertanya tentang penyakitnya.

IX. PEMERIKSAAN FISIK a. Keadaan Umum

Kesadaran : kuantitatif : GCS 456, Kualitatif : compos mentis.

k/u : pasien bedrest, terpasang infus RL 20 tpm, pasien pucat, gelisah, pasien lemas, pasien gemetaran saat berdiri, pasien duduk dengan hati-hati, pasien terlihat bingung.

b. Tanda – tanda Vital TD : 140/90 mmHg N : 95 x / menit S : 36,5 0 C RR: 24 x / menit

c. Pemeriksaan kepala dan leher

Inspeksi : bentuk kepala normochepalik, muka simetris, mukosa bibir lembab, pasien pucat, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupil miosis, tidak terdapat luka pada kepala dan leher, tidak ada pembesaran goiter.

(22)

d. Pemeriksaan Integumen

Inspeksi : tidak ada tanda decubitus pada kulit, tidak ada tanda cyanosis, rambut beruban dan penyebaran tidak merata, tidak terdapat luka, tidak terjadi clubbing finger.

Palpasi : kulit lembab, turgor kembali dalam 1 detik, CRT kembali dalam 1 detik.

e. Pemeriksaan Dada / Thoraks

Inspeksi : tidak terdapat luka / jaringan parut/ bekas operasi, tidak terdapat retraksi intercosta.

Palpasi : vocal fremitus normal (getaran sama antara paru-paru kanan dan kiri), frekuensi denyut jantung 24 x / menit dengan irama regular dan denyut cukup kuat.

Perkusi : suara paru sonor, suara jantung pekak.

Auskultasi : suara jantung 1 “ lup” , suara jantung 2 “dup”, suara nafas vesikuler pada seluruh lapang paru, bronchial pada trachea dan bronkho vesikuler pada percabangan bronkus. Tidak suara nafas tambahan sperti ronchi, wheezing, cracles, friction rub.

f. Pemeriksaan Payudara

Inspeksi : payudara simetris, tidak ada benjolan, tidak ada luka/jaringan parut/bekas oprasi.

Palpasi : tidak terdapat benjolan, tidak terdapat nyeri tekan.

g. Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : bentuk perut datar, tidak terdapat luka/bekas jahitan/jaringan parut, tidak terlihat vena, tidak terlihat sarang laba-laba (tanda asites). Auskultasi : bising usus 5 x / menit

Perkusi : tympani

Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada titik Mc. Bourney dan seluruh lapang abdoment, tidak ada pembesaran hepar, tidak terdapat massa di bawah peritoneum, tidak terdapat asites.

h. Genetalia

(23)

dengan tidak adanya prolapse vena di luar anus apabila dilakukan pemeriksaan secara inspeksi, tidak ada perdarahan pada daerah anus.

i. Ekstremitas

Pasien mengatakan tidak ada kelemahan gerak , dan gampang lelah jika dibuat ke kamar mandi.

Inspeksi : kekuatan otot 5 5 5 5

Pasien duduk dengan pelan-pelan dan hati-hati.

X. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

a. N I – N XII tidak terdapat kelainan b. Reflek fisiologis :

bisep (fleksi jika diberi rangsangan) trisep (ekstensi jika diberikan rangsangan)

abdominal (perut kontraksi saat diberikan rangsangan) brakhiradialis (ekstensi jika diberikan rangsangan) c. Reflek patologis

Babinski (tidak ada respon saat diberi rangsangan)

(24)

Albumin 3,7 g/dl L BILD2 0,32 mg/dl H BUN 11 mg/ dl Bill Indirect 0,74

b. DL (18/11/2014)

Hb 11,9 gr/dl Leukosit 6,0 103 /ml Hematocrit 37,6 % Trombosit 306 103 /ml c. Elektrolit (19/11/2014)

K 3,83 mmol/L Na 141,30 mmol/L Cl 106 mmol/ L

XII. PENATALAKSANAAN (TERAPI PENGOBATAN) a. Injeksi IV

Furosemid 1x1 amp (@40 mg / 2 cc)

b. Oral

Spironolakton 25 mg 0-1-0 Digoxin 0,25 mg 1-0-0 Amlodipine 10 mg 1-0-0 Noperten 10 mg 0-1-0 Valsartan 80 mg 0-0-1

Trenggalek, 17 November 2014

(25)

ANALISA DATA

NAMA PASIEN : Tn. S

UMUR : 66 th

NO. REGITER : 22407

RUANG : SERUNI

NO. DATA MASALAH ETIOLOGI

1. DS :

- Pasien mengatakan khawatir penyakit ambiennya muncul perdarahan lagi. - Pasien mengatakan

resah setiap akan BAB.

- Pasien mengatakan dirinya ragu untuk bisa melakukan aktivitas seperti saat di rumah.

- Pasien mengatakan 1 minggu dirawat di RS menyebabkan pasien

tidak bisa

menghasilkan uang.

DO :

- Pasien banyak diam. - Pasien duduk dengan

hati-hati. - Pasien gelisah.

- TTV :

(26)

TD : 140/90 mmHg N : 95

S : 36,5 °C RR : 24

Skala kecemasan sedang (skor 16)

2. DS :

- Pasien mengatakan tidak mempedulikan penyakit ambien yang sudah muncul sejak 20 tahun yang lalu. - Pasien berharap

penyakit ambien sembuh tanpa operasi. - Pasien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya. DO:

- Pasien sering menanyakan tentang kondisinya kepada perawat.

- Pasien terlihat bingung.

Kurang pengetahuan Kurangnya informasi

(27)

NAMA PASIEN : Tn. S

UMUR : 66 th

NO. REGITER : 22407

RUANG : SERUNI

NO. TANGGAL

MUNCUL

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TANGGAL TERATASI

TANDA TANGAN 1. 17 – 11- 2014 Ansietas b/d Kurangnya Informasi

2. 17 – 11 - 2014 Kurang Pengetahuan b/b Kurangnya informasi

(28)

NAMA : Tn. S UMUR : 66 th

I 1) Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa penyakit hemoroid dapat menimbulkan perdarahan ulang jika tidak diatur pola hidup sehari-hari, seperti menghindari valsava maneuver. Penyakit hemmoroid disebabkan oleh adanya tekanan seperti mengejan, kerja berat, makanan kurang serat, dll.

2) Menyarankan kepada keluarga untuk memberikan dukungan psikologis kepada pasien untuk tetap kuat dengan penyakitnya dan tetap tenang.

3) Mengobservasi kecemasan pasien

4) Menjelaskankan kepada pasien bahwa jika pola hidup pasien baik, kemungkinan besar penyakit hemmoroid tidak akan kambuh.

(29)

12.30

II

RR :24 x/ menit S: 37 0 C

1) Memberikan penjelasan tentang derajat keparahan penyakit hemoroid Tn. S 2) Memberikan penjelasan

kepada pasien bahwa hemoroid nya sudah masuk ke derajat 3 yang harus dilakukan pembedahan.

3) Menyarankan kepada

pasien untuk

menghindari mengedan dan tertawa berlebih. 4) Melakukan kolaborasi

dengan tim gizi untuk memberikan diet TKTP dan tinggi serat.

2. 18-11-2014 11.00

I 1) Mengkaji perkembangan suasana hati pasien.

2) Memberikan support kepada pasien apabila pola aktivitas baik, maka kemungkinan kecil untuk timbul kekambuhan. 3) Menyarankan kepada

(30)

12.30

II

1) Mengkaji perkembangan pengetahuan pasien tentang penyakitnya. 2) Memberikan dukungan

kepada pasien untuk menerima tindakan medis yang diberikan dan menjelaskan tujuan dari setiap tindakan.

3) Mengingatkan kepada pasien agar tetap komplikasi perdarahan lagi

1) Mengkaji perkembangan pengetahuan pasien tentang penyakitnya. 2) Memberikan penjelasan

(31)

12.30

3) Mengingatkan kepada pasien agar menghindari mengedan,batuk dan tertawa berlebihan.

4) Memberikan diit TKTP dan tinggi serat

EVALUASI

NAMA : Tn. S UMUR : 66 th

(32)

NO. - Pasien mengatakan

masih resah saat

A : Masalah belum teratasi P : Intervensi 3-6 dilanjutkan

S:

- Pasien mengatakan mulai sedikit faham tentang penyakitnya - Pasien mengatakan

(33)

pulang

- Pasien terlihat bingung

A :Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi 3-7

I terkadang kawatir dengan perdarahan ulang

- Pasien mengatakan resah berkurang saat

P : Intervensi 3-6 dilanjutkan

S:

- Pasien mengatakan memahami derajat ambien yang dia derita.

(34)

operasi

O:

- Pasien sering bertanya kapan bisa segera pulang.

- Kebingungan pasien tentang pasien berkurang.

A :Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi 3-7

I 20-11-2014 Ansietas b/d

Kurangnya Informasi

Kurang pengetahuan

S : - Pasien mengatakan kekhawatiran berkurang - Pasien mengatakan

resah berkurang saat BAB

O : - Gelisah pasien berkurang

- TTV :

TD : 130/90 mmHg N : 85

S : 36,8 °C RR : 21

- Skala kecemasan ringan (13)

A : Masalah Ansietas Teratasi Sebagian

(35)

II b/d kurangnya informasi

S:

- Pasien mengatakan memahami derajat ambien yang dia derita dan dampak jika tidak dilakukan tindakan

pembedahan.

- Pasien mengatakan masih perlu mempertimbangkan untuk tindakan operasi.

O:

- Pasien sering bertanya kapan bisa segera pulang

- Kebingungan pasien tentang pasien berkurang

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan : pasien terdiagnosa nyeri akut b.d diskontinuitas jaringan herniotomy, resiko infeksi b.d agen injury asing, kurangnya pengetahuan b.d

Dari hasil penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, bisa disimpulkan bahwa dalam penatalaksanaan infark miokard akut diperlukan perhatian yang lebih, baik dari semua

Tujuan : Tujuan umum dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan keluarga dengan masalah utama otitis media akut di desa

Demam Tifoid (entric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna, dengan gejala demam kurang lebih dari satu minggu, gangguan

dalam batas normal (36 derajat celsius sampai 37 derajat celsius), dan tujuan khususnya adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama tiga kali kunjungan

Pielonefritis akut biasanya lebih singkat dan sering terjadi infeksi berulang karena terapi yang tidak sempurna atau infeksi baru. 20% dari infeksi yang berulang terjadi dua

Pada diagnosa keperawatan yang ketiga yaitu hambatan mobilitas fisik b.d nyeri akut antara tinjaun pustaka dengan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena pada tinjauan pustaka

Sedaangkan pada kasus nyata pelaksanaan telah disusun dan direlasasikan pada pasien dan ada pendokumentasikan intervensi 4.4.1 Implementasi diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan