• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tn"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIK A. KONSEP DASAR MEDIK 1.1 Latar Belakang

1.1 Latar Belakang

Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan melindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. melindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menyediakan Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menyediakan  permukaan

 permukaan untuk untuk kaitan kaitan otot-otot otot-otot kerangka. kerangka. Oleh Oleh karena karena fungsi fungsi tulang tulang yangyang sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah tulang atau dislokasi tulang. Bentuk kaku (rigid) dan kokoh antar rangka yang tulang atau dislokasi tulang. Bentuk kaku (rigid) dan kokoh antar rangka yang membentuk tubuh dihubungkan oleh berbagai jenis sendi. Adanya penghubung membentuk tubuh dihubungkan oleh berbagai jenis sendi. Adanya penghubung tersebut memungkinkan satu pergerakan antar tulang yang demikian fleksibel dan tersebut memungkinkan satu pergerakan antar tulang yang demikian fleksibel dan nyaris tanpa gesekan. Tulang dan sendi dipakai untuk melindungi berbagai organ nyaris tanpa gesekan. Tulang dan sendi dipakai untuk melindungi berbagai organ vital di bawahnya disamping fungsi pergerakan (

vital di bawahnya disamping fungsi pergerakan (locomotor locomotor )/perpindahan makhluk)/perpindahan makhluk hidup. Sendi merupakan satu organ yang kompleks dan tersusun atas berbagai hidup. Sendi merupakan satu organ yang kompleks dan tersusun atas berbagai komponen yang spesifik satu dengan lainnya. Pada umumnya sendi terdiri dari air komponen yang spesifik satu dengan lainnya. Pada umumnya sendi terdiri dari air dan tersusun atas serabut kolagen, proteoglikan, glikoprotein lain serta lubrikan dan tersusun atas serabut kolagen, proteoglikan, glikoprotein lain serta lubrikan asam hialuronat, struktur yang kompleks di atas memungkinkan suatu pergerakan asam hialuronat, struktur yang kompleks di atas memungkinkan suatu pergerakan sendi yang luas (fungsi

sendi yang luas (fungsi locomotor locomotor ),),  frictionless frictionless  dan tidak mengakibatkan  dan tidak mengakibatkan kerusakan besar dalam jangka panjang.

kerusakan besar dalam jangka panjang.

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi sendi). Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi  bahu

(2)
(3)

itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, 2nalgesi-ligamennya biasanya menjadi kendor.

mengalami dislokasi, 2nalgesi-ligamennya biasanya menjadi kendor.

Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi. Dislokasi terjadi saat Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi. Dislokasi terjadi saat 2nalgesi memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari 2nalgesi memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari  posisinya

 posisinya yang yang normal normal di di dalam dalam sendi. sendi. Dislokasi Dislokasi dapat dapat disebabkan disebabkan oleh oleh 2nalge2nalge  penyakit

 penyakit atau atau trauma trauma karena karena dapatan dapatan ((acquired acquired ) atau karena sejak lahir) atau karena sejak lahir ((kongenital kongenital ).).

1.2

1.2 Rumusan MasalahRumusan Masalah 1.2.1

1.2.1 Apa pengertian dislokasi sendi?Apa pengertian dislokasi sendi? 1.2.2

1.2.2 Apa etiologi dislokasi sendi?Apa etiologi dislokasi sendi? 1.2.3

1.2.3 Apa saja jenis-jenis dislokasi sendi?Apa saja jenis-jenis dislokasi sendi? 1.2.4

1.2.4 Apa saja manifestasi klinis dislokasi sendi?Apa saja manifestasi klinis dislokasi sendi? 1.2.5

1.2.5 Bagaimana patofisiologi dislokasi sendi?Bagaimana patofisiologi dislokasi sendi? 1.2.6

1.2.6 Apa saja komplikasi dislokasi sendi?Apa saja komplikasi dislokasi sendi? 1.2.7

1.2.7 Apa saja pemeriksaan penunjang untuk dislokasi sendi?Apa saja pemeriksaan penunjang untuk dislokasi sendi? 1.2.8

1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan untuk dislokasi sendi?Bagaimana penatalaksanaan untuk dislokasi sendi?

1.3

1.3 TujuanTujuan 1.3.1

1.3.1 Mengetahui pengertian dislokasi sendiMengetahui pengertian dislokasi sendi 1.3.2

1.3.2 Mengetahui etiologi dislokasi sendiMengetahui etiologi dislokasi sendi 1.3.3

1.3.3 Mengetahui jenis-jenis dislokasi sendiMengetahui jenis-jenis dislokasi sendi 1.3.4

1.3.4 Mengetahui manifestasi klinis dislokasi sendiMengetahui manifestasi klinis dislokasi sendi 1.3.5

1.3.5 Mengetahui patofisiologi dislokasi sendiMengetahui patofisiologi dislokasi sendi 1.3.6

1.3.6 Mengetahui komplikasi dislokasi sendiMengetahui komplikasi dislokasi sendi 1.3.7

1.3.7 Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk dislokasi sendiMengetahui pemeriksaan penunjang untuk dislokasi sendi 1.3.8

(4)

1.4

1.4 ManfaatManfaat

Mahasiswa mengetahui tentang dislokasi sendi serta cara penanganannya, Mahasiswa mengetahui tentang dislokasi sendi serta cara penanganannya, kemudian dapat diterapkan dalam layanan asuhan keperawatan pada pasien yang kemudian dapat diterapkan dalam layanan asuhan keperawatan pada pasien yang menderita dislokasi sendi.

(5)

BAB II BAB II TINJAUAN TEORI TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian 2.1 Pengertian

Dislokasi adalah keluarnya bongkol sendi dari mangkok sendi, Keadaan Dislokasi adalah keluarnya bongkol sendi dari mangkok sendi, Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi) (Brunner & Suddarth, 2002). Dislokasi anatomis (tulang lepas dari sendi) (Brunner & Suddarth, 2002). Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera (Arif merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera (Arif Mansyur, dkk. 2000). Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan Mansyur, dkk. 2000). Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lain (Sjamsuhidajat, 2011). tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lain (Sjamsuhidajat, 2011). Dislokasi sendi adalah menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko Dislokasi sendi adalah menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko tinggi untuk mengalami perubahan posisi tulang dari posisinya pada sendi tinggi untuk mengalami perubahan posisi tulang dari posisinya pada sendi (Carpenito, 2000). Dislokasi adalah deviasi hubungan normal antara rawan yang (Carpenito, 2000). Dislokasi adalah deviasi hubungan normal antara rawan yang satu dengan rawan yang lainnya sudah tidak menyinggung satu dengan lainnya satu dengan rawan yang lainnya sudah tidak menyinggung satu dengan lainnya (Price & Wilson, 2006).

(Price & Wilson, 2006).

2.2 Etiologi 2.2 Etiologi

Dislokasi terjadi saat 4nalgesi rnemberikan jalan sedemikian rupa sehingga Dislokasi terjadi saat 4nalgesi rnemberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normal didalam sendi. Dislokasi dapat tulang berpindah dari posisinya yang normal didalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh 4nalge penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau disebabkan oleh 4nalge penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital). Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi karena sejak lahir (kongenital). Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis-lokasi. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya dislokasi sendi antara lain sebagai lokasi. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya dislokasi sendi antara lain sebagai  berikut.

 berikut. a.

a. Cedera olah raga biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola danCedera olah raga biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki serta olahraga yang beresiko jatuh, misalnya: terperosok akibat hoki serta olahraga yang beresiko jatuh, misalnya: terperosok akibat  bermain

 bermain ski, ski, senam, senam, volley, volley, basket, basket, dan dan pemain pemain sepak sepak bola bola paling paling seringsering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.

(6)

 b. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi, terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin.

c. T

erjadinya ‘tear’ ligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen

vital penghubung tulang.

d. Terjatuh.

2.3 Jenis-Jenis Dislokasi Sendi

Dislokasi sendi dapa dibedakan sebagai berikut. a. Dislokasi congenital

Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.  b. Dislokasi patologik

Terjadi akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. Misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Hal ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.

c. Dislokasi traumatic

Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat edema (karena mengalami pengerasan) terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.

Berdasarkan tipe kliniknya dibagi sebagai berikut. a. Dislokasi Akut

Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip serta disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi.

 b. Dislokasi Berulang.

Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang  berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang.

Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint. Dislokasi  biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/ fraktur yang disebabkan

(7)

 berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

Berdasarkan tempat terjadinya : a. Dislokasi Sendi Rahang

Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena menguap atau terlalu lebar serta terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya penderita tidak dapat menutup mulutnya kembali.

 b. Dislokasi Sendi Bahu

Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral berada di anterior dan medial glenoid (dislokasi anterior), di posterior (dislokasi posterior), dan di  bawah glenoid (dislokasi inferior).

c. Dislokasi Sendi Siku

Mekanisme cederanya biasanya jatuh pada tangan yang dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior dengan siku jelas berubah bentuk dengan kerusakan sambungan tonjolan-tonjolan tulang siku.

d. Dislokasi Sendi Jari

Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah telapak tangan atau punggung tangan.

e. Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal dan Interphalangeal

Merupakan dislokasi yang disebabkan oleh hiperekstensi-ekstensi  persendian.

f. Dislokasi Panggul

Bergesernya caput femur dari sendi panggul, berada di posterior dan atas acetabulum (dislokasi posterior), di anterior acetabulum (dislokasi anterior), dan caput femur menembus acetabulum (dislokasi sentra).

g. Dislokasi Patella

Dislokasi patella paling sering terjadi ke arah lateral. Reduksi dicapai dengan memberikan tekanan ke arah medial pada sisi lateral patella sambil mengekstensikan lutut perlahan-lahan. Apabila dislokasi dilakukan  berulang-ulang diperlukan stabilisasi secara bedah. Dislokasi biasanya

(8)

sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh  berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus

atau kontraksi otot dan tarikan.

2.4 Manifestasi Klinis a.  Nyeri akut.

 b. Perubahan kontur sendi.

c. Perubahan panjang ekstremitas. d. Kehilangan mobilitas normal.

e. Perubahan sumbu tulang yag mengalami dislokasi. f. Deformitas pada persendiaan

Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah.

g. Gangguan gerakan Otot-otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.

h. Pembengkakan

Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas.

i. Rasa nyeri sering terdapat pada dislokasi

Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.  j. Kekakuan.

2.5 Patofisiologi

Penyebab terjadinya dislokasi sendi ada tiga hal yaitu karena kelainan congenital yang mengakibatkan kekenduran pada 7nalgesi sehingga terjadi  penurunan stabilitas sendi. Dari adanya traumatic akibat dari gerakan yang  berlebih pada sendi dan dari patologik karena adanya penyakit yang akhirnya

terjadi perubahan struktur sendi. Dari tiga hal tersebut, menyebabkan dislokasi sendi. Dislokasi mengakibatkan timbulnya trauma jaringan dan tulang,  penyempitan pembuluh darah, perubahan panjang ekstremitas sehingga terjadi  perubahan struktur. Dan yang terakhir terjadi kekakuan pada sendi.

(9)

2.6 Komplikasi a. Komplikasi dini

1. Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera, pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut.

2. Cedera pembuluh darah : arteri aksilla dapat rusak. 3. Fraktur disloksi.

3 Komplikasi lanjut.

1. Kekakuan sendi bahu:I immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral secara otomatis membatasi abduksi.

2. Dislokasi yang berulang: terjadi kalau labrum glenoid robek. 3. Kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid.

4. Kelemahan otot.

2.7 Pemeriksaan Penunjang a. Sinar-X (Rontgen)

Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan diagnosa medis. Pada pasien dislokasi sendi ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan sendi berwarna  putih.

b. CT scan

CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih canggih dengan bantuan komputer, sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan dapat dibuat gambaran secara 3 dimensi. Pada psien dislokasi ditemukan gambar 3 dimensi dimana sendi tidak berada pada tempatnya.

c. MRI

MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang magnet dan frekuensi radio tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh (terutama jaringan lunak) dengan lebih detail.

(10)

Seperti halnya CT-Scan, pada pemeriksaan MRI ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi.

4 Penatalaksanaan

Dislokasi dapat direposisi tanpa anastesi, misalnya pada sendi bahu atau siku. Reposisi dapat diadakan dengan gerakan atau perasat yang barlawanan dengan gaya trauma dan kontraksi atau tonus otot. Reposisi tidak boleh dilakukan dengan kekuatan karena 9nal mengakibatkan patah tulang. Untuk mengendurkan kontraksi dan spasme otot perlu diberikan anastesi setempat atau umum. Kekenduran otot memudahkan reposisi.

a. Reposisi

1. Lakukan reposisi segera.

2. Dengan manipulasi secara hati-hati permukaan sendi diluruskan kembali. Tindakan ini sering dilakukan anestesi umum untuk melemaskan otot-ototnya.

3. Dislokasi sendi :

1. Dislokasi sendi kecil dapat direposisi ditempat kejadian tanpa anestesi. Misalnya dislokasi jari ( pada fase shock ), dislokasi siku, dislokasi bahu. 2. Dislokasi sendi besar. Misalnya panggul memerlukan anestesi umum 3. Fisioterapi harus segera mulai untuk mempertahankan fungsi otot dan

latihan yang aktif dapat diawali secara dini untuk mendorong gerakan sendi yang penuh, khususnya pada sendi bahu.

4. Tindakan pembedahan harus dilakukan bila terdapat tanda-tanda gangguan neumuskular yang berat atau jika tetap ada gangguan vaskuler setelah reposisi tertutup berhasil dilakukan secara lembut. Pembedahan terbuka mungkin diperlukan, khususnya kalau jaringan lunak terjepit diantara permukaan sendi.

5. Persendian tersebut disangga dengan pembedahan, dengan pemasangan gips, misalnya pada sendi panngkal paha, untuk memberikan kesembuhan pada ligamentum yang teregang.

(11)

6. Dislokasi reduksi: dikembalikan ke tempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.

7. Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.

8. Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil.

9. Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi.

10. Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa  penyembuhan.

2. Penatalaksanaan Medis

a. Farmakologis : pemberian obat-obatan : 10nalgesic non narkotik

1. Analsik yang berfungsi untuk mengatasi nyeri otot, sendi, sakit kepala, nyeri pinggang. Efek samping dari obat ini adalah agranulositosis. Dosis: sesudah makan, dewasa: sehari 3×1 kapsul, anak: sehari 3×1/2 kapsul. 2. Bimastan yang berfungsi untuk menghilangkan nyeri ringan atau sedang,

kondisi akut atau kronik termasuk nyeri persendian, nyeri otot, nyeri setelah melahirkan. Efek samping dari obat ini adalah mual, muntah, agranulositosis, aeukopenia. Dosis: dewasa; dosis awal 500mg lalu 250mg tiap 6 jam.

5 Pembedahan

6 Operasi ortopedi

Operasi ortopedi merupakan spesialisasi medis yang mengkhususkan  pada pengendalian medis dan bedah para pasien yang memiliki kondisi-kondisi arthritis yang mempengaruhi persendian utama, pinggul, lutut dan bahu melalui bedah invasif minimal dan bedah penggantian sendi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan meliputi Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Interna atau disingkat ORIF (Open Reduction and Fixation). Berikut dibawah ini jenis-jenis pembedahan ortopedi dan indikasinya yang lazim dilakukan :

(12)

a. Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan  pemajanan tulang yang patah.

 b. Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku dan pin logam.

c. Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.

d. Amputasi : penghilangan bagian tubuh.

e. Artroplasti: memperbaiki masalah sendi dengan artroskop(suatu alat yang memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan sendi terbuka.

f. Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.

g. Penggantian sendi: penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintetis.

h. Penggantian sendi total: penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendidengan logam atau sintetis.

7  Non medis

a. Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.

RICE 8 R : Rest (istirahat)

I : Ice (kompres dengan es)

C : Compression (kompresi/ pemasangan pembalut tekan) E : Elevasi (meninggikan bagian dislokasi)

 b. Pencegahan

1. Cedera akibat olahraga

a. Gunakan peralatan yang diperlukan seperti sepatu untuk lari.  b. Latihan atau exercise.

(13)

2. Trauma kecelakaan 1. Kurangi kecepatan.

2. Memakai alat pelindung diri seperti helm, sabuk pengaman. 3. Patuhi peraturan lalu lintas

(14)

B. ASUHAN KEPERAWATAN 4.1 Pengkajian

a. Identitas Klien

Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,asuransi golongan darah ,nomor registrasi, tanggal dan jam masuk rumah sakit (MRS), dan diagnosis medis. Dengan fokus ,meliputi:

1. Umur. Pada pasien lansia terjadi pengerasan tendon tulang sehingga menyebabkan fungsi tubuh bekerja secara kurang normal dan dislokasi cenderung terjadi pada orang dewasa dari pada anak-anak, biasanya klien  jatuh dengan keras dalam keadaan strecth out.

2. Pekerjaan. Pada pasien dislokasi biasanya di akibatkan oleh kecelakaan yang mengakibatkan trauma atau ruda paksa, biasaya terjadi pada klien yang mempunyai pekrjaan buruh bangunan. Seperti terjatuh , atupun kecelakaan di tempat kerja , kecelakaan industri dan atlit olahraga, seperti  pemain basket , sepak bola dll

3. Jenis kelamin. Dislokasi lebih sering di temukan pada anak laki

 – 

laki dari  pada perempuan karna cenderung dari segi aktivitas yang berbeda.

 b. Keluhan Utama

Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan adalah nyeri, kelemahan dan kelumpuhan ekstermitas, nyeri tekan otot, dan deformitas pada daerah trauma, untuk mendapatkan pengkajian yang lengkap mengenai nyeri klien dapat menggunakan metode PQRS.

c. Riwayat Penyakit Sekarang

Kaji adanya riwayat trauma akibat kecelakaan pada lalu lintas, kecelekaan industri, dan kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau bangunan, pengkajian yang di dapat meliputi nyeri, paralisis extermitras bawah, syok .

d. Riwayat Penyakit Dahulu

Penyakit yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit, seperti osteoporosis, dan osteoaritis yang memungkinkan terjadinya kelainan, penyakit lainnya seeperti hypertensi, riwayat cedera, diabetes milittus, penyakit jantung,

(15)

anemia, obat-obat tertentu yang sering di guanakan klien, perlu ditanyakan pada keluarga klien.

e. Pemeriksaan Fisik

Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan klien  pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung pengkajian anamnesis sebaiknya dilakukan persistem B1-B6 dengan fokus pemeriksaan B3( brain ) dan B6 (bone).

1. Keadaan umum

Klien yang yang mengalami cedera pada umumnya tidak mengalami  penurunan kesadaran ,periksa adanya perubahan tanda-tanda vital ,yang

meliputi brikardia ,hipotensi dan tanda-tanda neurogenik syok. 2. Kepala

a) Tingkat kesedaran pada pasien yang mengalami dislokasi adalah kompos mentis

 b) Pemeriksaan fungsi selebral

c) Status mental: observasi penampilan ,tingkah laku gaya bicara ,ekspresi wajah aktivitas motorik klien

d) Pemeriksaan saraf kranial

e) Pemeriksaan refleks .pada pemeriksaan refleks dalam ,reflecs achiles menghilang dan refleks patela biasanya meleamh karna otot hamstring melemah

3. Muskuloskeletal

a) Paralisis motorik ekstermitas terjadi apabila trauma juga mengompresi sekrum gejala gangguan motorik juga sesuai dengan distribusi segmental dan saraf yang terkena

 b) Look, pada insfeksi parienum biasanya di dapatkan adanya pendarahan,  pembengkakan dan deformitas

c) Fell, kaji adanya derajat ketidakstabilan daerah trauma dengan palpasi  pada ramus dan simfisi fubis

d) Move, disfungsi motorik yang paling umum adalah kelemahan dan kelumpuhan pada daerah ekstermitas.

(16)

4.2 Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan diskontinuitas ja ringan.  b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat

mobilisasi.

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel dar ah merah.

d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

e. Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.

4.3 Intervensi Keperawatan Diagnosa Tujuan dan

Kriteria Hasil Intervensi Rasional Gangguan rasa nyaman nyeri  berhubunga n dengan diskontinuit as jaringan. Rasa nyeri teratasi. Kriteria hasil: 1. Klien tampak tidak meringis lagi. 2. Klien tampak rileks.

1. Kaji skala nyeri 2. Berikan posisi

relaks pada pasien 3. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi 4. Berikan lingkungan yang nyaman, dan aktifitas hiburan 5. Kolaborasi  pemberian analgesik  1. Mengetahui intensitas nyeri. 2. Posisi relaksasi

 pada pasien dapat mengalihkan focus pikiran  pasien pada nyeri. 3. Tehnik relaksasi dan distraksi dapat mengurangi rasa nyeri. 4. Meningkatkan relaksasi pasien 5. Analgesic Mengurangi nyeri Gangguan Memberikan 1. Kaji tingkat 1. menunjukkan

(17)

mobilitas fisik  berhubunga n dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi. kenyamanan dan melindungi sendi selama masa  penyembuhan. Kriteria hasil: 1. melaporkan  peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) 2. menunjukkan  penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi,  pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal mobilisasi pasien 2. Berikan latihan ROM 3. Anjurkan  penggunaan alat  bantu jika diperlukan 4. Monitor tonus otot 5. Membantu pasien untuk imobilisasi  baik dari perawat maupun keluarga tingkat mobilisasi  pasien dan menentukan intervensi selanjutnya. 2. Memberikan latihan ROM kepada klien untuk mobilisasi 3. Alat bantu memperingan mobilisasi pasien 4. Agar mendapatkan data yang akurat 5. Dapat membnatu  pasien untuk imobilisasi Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubunga n dengan kegagalan Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria hasil: 1. Menunujukka n peningkatan /mempertahan kan berat  badan dengan 1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai 2. Observasi dan catat masukkan makanan pasien 3. Timbang berat 1.Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi 2.Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan

(18)

untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk  pembentuka n sel darah merah. nilai laboratorium normal. 2. Tidak mengalami tanda mal nutrisi. 3. Menununjukk  an perilaku,  perubahan  pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahank  an berat badan yang sesuai.

 badan setiap hari. 4. Berikan makan

sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan

5. Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang  berhubungan 6. Berikan dan

Bantu hygiene mulut yang baik, sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk

 penyikatan yang lembut. Berikan  pencuci mulut

yang di encerkan  bila mukosa oral

luka.

7. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. 8. Kolaborasi ;  pantau hasil konsumsi makanan 3.Mengawasi  penurunan berat  badan atau efektivitas intenvensi nutrisi 4.Menurunkan kelemahan, meningkatkan  pemasukkan dan mencegah distensi gaster 5.Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia)  pada organ. 6.Meningkatkan nafsu makan dan  pemasukkan oral. Menurunkan  pertumbuhan  bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik  perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila  jaringan rapuh/luka/perdar 

(19)

 pemeriksaan laboraturium 9. Kolaborasi;

 berikan obat sesuai indikasi

ahan dan nyeri  berat.

7.Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual 8.Meningkatakan efektivitas  program  pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan. 9.Kebutuhan

 penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. Ansietas  berhubunga n dengan kurangnya  pengetahuan tentang  penyakit kecemasan pasien teratasi. Kriteria hasil: 1. klien tampak rileks 2. klien tidak tampak  bertanya

 – 

tanya 1. kaji tingkat ansietas klien 2. Bantu  pasien mengungk  apkan rasa cemas atau takutnya 3. Kaji pengetahuan Pasien tentang 1. mengetahui tingakat kecemasan pasien dan menentukan intervensi selanjutnya. 2. Mengali  pengetahuan dari

(20)

prosedur yang akan dijalaninya. 4. Berikan informasi

yang benar

tentang prosedur yang akan dijalani  pasien

 pasien dan mengurangi

kecemasan pasien 3. agar perawat tau

seberapa tingkat  pengetahuan  pasien dengan  penyakitnya 4. Agar pasien mengerti tentang  penyakitnya dan

tidak cemas lagi

Gangguan  bodi image  berhubunga n dengan deformitas dan  perubahan  bentuk tubuh. Pasien bisa mengatasi body image pasien

1. Kaji konsep diri  pasien 2. Kembangkan BHSP dengan  pasien 3. Bantu pasien mengungkapkan masalahnya 4. Bantu pasien mengatasi masalahnya. 1. Dapat mengetahui  pasien 2. Menjalin saling  percaya pada  pasien 3. Menjadi tempat  bertanya pasien untuk mengungkapkan masalah nya 4. mengetahui masalah pasien dan dapat memecahkannya

(21)

4.4 Implementasi Keperawatan

Diagnosa Implementasi

Gangguan rasa nyaman nyeri

 berhubungan dengan diskontinuitas  jaringan.

1. Telah dilakukan pengkajian skala nyeri

2. Telah diberikan posisi relaks pada  pasien

3. Telah diajarkan teknik distraksi dan relaksasi

4. Telah diberikan lingkungan yang nyaman, dan pemberian aktifitas hiburan

5. Telah dilakukan tindakan kolaborasi dalam pemberian analgesic

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat

mobilisasi

1. Telah dilakukan pengkajian tingkat mobilisasi pasien

2. Telah diberikan latihan ROM 3. Telah dianjurkan penggunaan alat

 bantu

4. Telah dilakukan monitoring tonus otot

5. Telah dilakukan tindakan

membantu pasien untuk imobilisasi  baik dari perawat maupun keluarga Perubahan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk

 pembentukan sel darah merah

1. Telah dilakukan pengkajian riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai

2. Telah dilakukan observasi dan  pencatatan masukkan makanan  pasien

(22)

3. Telah dilakukan timbang berat  badan setiap hari.

4. Telah diberikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan 5. Telah dilakukan observasi dan

 pencatatan kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang  berhubungan

6. Telah diberikan dan dibantu

hygiene mulut yang baik, sebelum dan sesudah makan dengan

menggunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Telah diberikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka.

7. Telah dilakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk rencana diet.

8. Telah dilakukan kolaborasi dengan memantau hasil  pemeriksaan laboraturium 9. Telah dilakukan kolaborasi

dengan memberikan obat sesuai indikasi

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang  penyakit

1. Telah dilakukan pengkajian tingkat ansietas klien

2. Telah dilakukan membantu  pasien mengungkapkan rasa

(23)

3. Telah dilakukan pengkajian  pengetahuan pasien tentang  prosedur yang akan dijalaninya 4. Telah diberikan informasi yang

 benar tentang prosedur yang akan dijalani pasien

Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan  bentuk tubuh.

1. Telah dilakukan pengkajian konsep diri pasien

2. Telah diajarkan pola BHSP dengan pasien

3. Telah dilakukan tindakan

membantu pasien mengungkapkan masalahnya

4. Telah dilakukan tindakan membantu pasien mengatasi masalahnya.

4.5 Evaluasi Keperawatan

Diagnosa Evaluasi

Gangguan rasa nyaman nyeri  berhubungan dengan discontinuitas  jaringan

S:

Pasien mengatakan “Sus, saat ini

saya merasa lebih rileks dan bisa

tidur dengan nyenyak”.

O: Pasien tidak terlihat meringis nyeri A: Masalah dapat teratasi

P: Intervensi dihentikan Gangguan mobilitas fisik berhubungan

dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi.

S: Pasien berkata bahwa ia sudah bisa  jalan-jalan dengan kruk.

O: Tekanan darah 120/80 mmHg A: Masalah teratasi sebagian P: Intervensi dilanjutkan

(24)

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah

S:

Pasien mengatakan “makanan saya

 pagi ini sudah saya habiskan, Sus”.

O: Adanya peningkatan berat badan A: Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi dilanjutkan

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang  penyakit

S:

Pasien mengatakan “Saya sudah

tidak merasa cemas dengan

 penyakit ini”.

O: Pasien terlihat tenang A: Masalah teratasi sebagian P: Intervensi dilanjutkan Gangguan bodi image berhubungan

dengan deformitas dan perubahan  bentuk tubuh.

S:

Pasien mengatakan “saya sudah

dapat menerima kondisi saya saat

ini”.

O: Pasien mulai nampak percaya diri dengan kondisi saat ini.

A: Masalah teratasi sebagian P: Intervensi dilanjutkan

(25)

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. S A. IDENTITAS KLIEN

1.  Nama : Tn. S

2. Umur : 90 tahun

3. Jenis kelamin : Laki-laki

4. Suku : Jawa

5. Agama : Islam

6. Pendidikan : S3

7. Status perkawinan : Duda

8. Tanggal pengkajian : 29 Mei 2017

9. Alamat : Komplek Taman Raflesia Blok B no 11 Bandung

10. Tanggal masuk YPAB : 03 Maret 2012

B. IDENTITAS KELUARGA/PENANGGUNG JAWAB

1.  Nama : Ny. T

2. Umur : 48 tahun

3. Pendidikan : S1

4. Pekerjaan : Notaris

5. Agama : Islam

6. Alamat : Sukarno Hatta

7. Telepon :

-8. Hubungan dengan klien : Anak C. RIWAYAT PEKERJAAN

1. Status pekerjaan saat ini/sebelumnya

Pernah menjadi guru fisika dan ilmu pasti di SMP dan SMA 5 Bandung.

2. Sumber-sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan Didapat dari ny.T (anak), sebesar Rp 100.000

(26)

D. RIWAYAT LINGKUNGAN HIDUP 1. Tipe tempat tinggal

Perumahan 2. Jumlah kamar

4 (empat) kamar

3. Jumlah orang yang tinggal dirumah tersebut Hanya dengan orang tua (bapak dan ibu) E. RIWAYAT REKREASI 1. Hobi/minat Jalan-jalan 2. Keanggotaan organisasi Tidak ada 3. Liburan/perjalanan

Klien mengatakan suka pergi ke Yogyakarta.

F. RIWAYAT KESEHATAN KLIEN 1. Keluhan utama

Kesulitan berjalan

2. Riwayat kesehatan sekarang

Menurut klien 1 (satu) bulan yang lalu jatuh dari kamar panti dan  bagian pinggul sebelah kiri kadang terasa sakit, ditambah lutut kiri

susah untuk digerakkan secara maksimal sehingga sampai saat ini klien kesulitan berjalan dan memerlukan bantuan dengan

menggunakan tongkat.

3. Riwayat kesehatan masa lalu

a. Gangguan kesehatan yang pernah dialami : dari usia muda klien sudah terkena Hipertensi

 b. Perawatan di RS : belum pernah

c. Operasi yang pernah dijalani : belum pernah

d. Riwayat trauma/kecelakaan : ada, 8 tahun yang lalu  jatuh karena tersandung yang mengakibatkan kerusakan pada sendi

lutut kaki kiri.

e. Riwayat kemoterapi : tidak pernah

f. Riwayat obstetrik : tidak ada

4. Riwayat kesehatan keluarga

(27)

G. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan umum

a. Kelelahan : ada, setelah

 beraktivitas

 b. Perubahan BB dalam 1 tahun terakhir : ada, dari 52kg turun menjadi 45.5kg

c. Perubahan nafsu makan : tidak ada

d. Demam : tidak pernah

e. Keringat malam : tidak ada

f. Kesulitan tidur : tidak ada

g. Sering pilek/infeksi : tidak ada

h. Kemampuan melakukan ADL : masih bisa mandiri i. Penilaian diri terhadap status kesehatan : selama dipanti

tidak pernah sakit. 2. Tanda-tanda vital

a. Tekanan darah : 180/90 mmHg, di lengan tangan kanan  b. Suhu :

36◦

 C, peraxilla

c.  Nadi : 92 x/menit di arteri radialis, teratur d. Pernafasan : 20 x/menit

e. TB : 157 cm

f. BB : 45.5 kg, IMT : 18,4 katagori kurus 3. Pemeriksaan kepala

a. Rambut : tidak merata, warna putih menyeluruh, keadaan bersih

 b. Mudah rontok/berkutu : tidak ada

c. Lesi : tidak ada

d. Trauma masa lalu : tidak ada 4. Pemeriksaan hidung/sinus

a. Rinorea : tidak ada

 b. Epistaksis : tidak ada

c. Alergi : tidak ada

d. Riwayat infeksi : tidak ada

e. Penilaian diri pada kemampuan olfaktori : klien mampu mempersepsikan bau-bauan secara benar

5. Pemeriksaan penglihatan

a. Perubahan penglihatan : tidak ada

 b. Kacamata/kontak lens : kacamata minus

c. Ukurannya : tidak tahu

d.  Nyeri : tidak ada

(28)

f. Bengkak sekitar mata : tidak ada

g. Pandangan kabur : tidak ada

h. Riwayat infeksi : tidak ada

i. Tanggal terakhir pemeriksaan mata : tidak tahu  j. Pemeriksaan glaukoma dan katarak : tidak pernah 6. Pemeriksaan telinga

a. Perubahan pendengaran : tidak ada

 b. Tinitus : tidak ada

c. Vertigo : tidak ada

d. Penggunaan alat bantu : tidak ada

e. Riwayat infeksi : tidak ada

f. Tanggal pemeriksaan terakhir : tidak ada

g. Kebiasaan perawatan telinga : setelah mandi pagi 7. Pemeriksaan mulut dan tenggorokan

a. Hygiene rongga mulut, gigi, lidah : tampak bersih

 b. Sakit tenggorokan : tidak ada

c. Kesulitan menelan : tidak ada

d. Perubahan suara : tidak ada

e. Riwayat infeksi/sariawan/lesi : tidak ada f. Ada karies, radang gusi : tidak ada

g. Radang mukosa : tidak ada

h. Alat protesa/gigi palsu : ada

i. Pola menggosok gigi : 3 kali sesudah makan  j. Masalah, kebiasaan membersihkan gigi palsu : tidak pernah dilepas 8. Pemeriksaan dada (payudara)

a. Benjolan/massa : tidak ada

 b.  Nyeri/nyeri tekan : tidak ada

c. Bengkak : tidak ada

d. Perubahan pada puting susu : tidak ada e. Pola pemeriksaan payudara sendiri : tidak pernah

f. Tanggal dan hasil mammmogram : tidak pernah periksa 9. Pernafasan

a. Batuk : tidak ada

 b. Kesulitan mengeluarkan dahak : tidak ada

c. Sesak nafas : tidak ada

d. Riwayat pneumonia, PPOM : tidak ada

e. Bentuk thorax : tidak ada

f. Adanya sputum/sekret : tidak ada g. Ada alergi pernafasan/asma : tidak ada

(29)

h. Tanggal dan hasil pemeriksaan thorax foto terakhir : tidak pernah diperiksa

10. Jantung/kardiovaskuler

a.  Nyeri/ketidak nyamanan dada : tidak ada

 b. Peningkatan TD : ada

c. Riwayat penyakit jantung koroner : tidak ada

d. Palpitasi : tidak ada

e. Sesak nafas : tidak ada

f. Murmur : tidak ada

g. Varises : tidak ada

11. Pemeriksaan abdomen/Gastrointestinal

a. Disfagia : tidak ada

 b.  Nyeri ulu hati : tidak ada

c. Mual/muntah : tidak ada

d. Hematemisis : tidak ada

e. Perubahan nafsu makan : tidak ada f. Intoleran makanan : tidak ada g.  Neri tekan pada abdomem : tidak ada h. Perubahan kebiasaan defekasi : tidak ada i. Diare/konstipasi : tidak ada  j. Perdarahan rectum : tidak ada

k. Hemoroid : tidak ada

12. Sistem perkemihan

a. Disuria : tidak ada

 b. Frekuensi berkemih : tidak ada

c. Hematuria : tidak ada

d. Poliuria/oliguria : tidak ada

e.  Nokturia : tidak ada

f.  Nyeri saat berkemih : tidak ada

g. Inkontinentia : tidak ada

13. Sistem persyarafan

a. Sakit kepala : tidak ada

 b. Vertigo : tidak ada

c. Sinkope/serangan jatuh : tidak ada d. Paralisis/parese : tidak ada e. Masalah koordinasi : tidak ada f. Cidera kepala : tidak ada 14. Sistem muskuloskeletal

a.  Nyeri persendian : tidak ada

(30)

c. Pembengkakan sendi : tidak ada

d. Deformitas : ada,pada lutut kiri

e. Spasme/kram : tidak ada

f. Kelemahan otot : tidak ada

g. Masalah cara berjalan : klien menggunakan alat bantu jalan yaitu tongkat tiga kaki.

h. Pemeriksaan ekstremitas : atas-bawah

1) Edema : tidak ada

2) Rentang gerak : terbatas 3) Kekuatan otot :

5 5

5 3

4) Kaji ekstremitas atas : bahu, siku, pergelangan tangan, jari-jari : tidak ada masalah

15. Sistem endokrin

a. Intoleransi terhadap panas/dingin : tidak ada

 b. Goiter : tidak ada

c. Meningkatnya BB : tidak ada

d. Palpitasi, tremor : tidak ada

e. Hilangnya atau meningkatnya nafsu makan : tidak ada

f. Riwayat DM : tidak ada

16. Sistem reproduksi wanita a. Genetalia eksterna :

 b. Pengeluaran cairan/secret yang tidak lazim : c.  Nyeri pelviks :

d. Riwayat infeksi :

e. Riwayat penyakit kelamin : f. Riwayat menstruasi :

g. Riwayat menopause : -17. Genetalia pria

a. Lesi : tidak ada

 b. Masalah prostat : tidak ada c. Penyakit kelamin : tidak ada d. Perubahan hasrat seksual : tidak dikaji

e. Impotensi : tidak dikaji

18. Sistem integument

a. Lesi/luka : tidak ada

(31)

c. Perubahan pigmentasi : ada, tugor kulit menurun

d. Perubahan tekstur : ada

e. Perubahan nevi : tidak ada

f. Sering memar : tidak ada

g. Perubahan rambut : ada,rambut menjadi memutih

h. Perubahan kuku : ada

i. Pemajanan lama terhadap matahari : tidak ada  j. Pola penyembuhan lesi/memar : tidak ada H. Pengkajian psiko-sosial dan spiritual

1. Psikososial

a. Kemampuan sosialisasi klien pada saat ini

Kurang, klien jarang berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya.

 b. Sikap klien terhadap orang lain

Klien jarang terbuka sehingga kurang ramah terhadap orang disekitarnya.

c. Harapan klien dalam melakukan sosialisasi Klien mengatakan tidak tahu

d. Kendala klien dalam bersosialisasi

Klien mengatakan tidak tahu harus berbicara apa. e. Kepuasan klien dalam bersosialisasi

Klien mengatakan biasa saja. 2. Emosional

a. Klien tidak mengalami gangguan tidur.  b. Klien tidak mengalami gelisah.

c. Klien tidak pernah murung atau menangis sendiri. d. Klien tidak merasa was-was.

3. Spiritual

a. Kegiatan agama yang ditekuni klien : kadang melakukan sholat dikamar

 b. Konsep keyakinan klien tentang kematian : menurut klien sudah siap bila dipanggil Tuhan

c. Harapan-harapan klien tentang spiritual : klien mengatakan tidak tahu

(32)

Pengkajian Fungsional Klien 1. KATZ Indeks

Klien termasuk dalam kategori : Mandiri dalam makan, kontinen (BAK, BAB), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah, dan mandi.

2. Modifikasi dari Barthel Indeks

No Kriteria Dengan

Bantuan

Mndiri Keterangan

1 Makan 5 10 Frekuensi : 3x/hari

Jumlah : 1 porsi Jenis : padat

2 Minum 5 10 Frekuensi : 4x/hari

Jumlah : 800 cc Jenis : air putih 3 Berpindah dari kursi ke tempat tidur, sebaliknya 5-10 15 4 Personal hygine (cuci muka, menyisir rambut, menggosok gigi) 0 5 Frekuensi : 2x/hari 5 Keluar masuk toilet (mencuci  pakaian, menyeka tubuh) 5 10

6 Mandi 5 15 Frekuensi : sehari

sekali 7 Jalan di  permukaan datar 0 15 8 Naik turun tangga 5 10 9 Mengenakan  pakaian 5 10 10 Kontrol bowel (BAB) 5 10 Frekuensi : 1x/hari Konsistensi : lembek- padat 11 Kontrol bladder (BAK) 5 10 Frekuensi : 5x/hari

12 Olahraga/latihan 5 10 Klien mampu

mengikuti senam pagi  pada posisi duduk

(33)

Pengkajian Status Mental

1. Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan mengguanakan Short Portabel Mental Status Questioner (SPMSQ)

Benar Salah No Pertanyaan

1 Tanggal berapa hari ini?

2 Hari apa sekarang?

3 Apa nama tempat ini?

4 Dimana alamat anda?

5 Berapa umur anda?

6 Kapan anda lahir?

7 Siapa presiden Indonesia sekarang?

8 Siapa presiden Indonesia

sebelumnya?

9 Siapa nama ibu anda?

10 Kurang 3 dari 20, kemudian tetap

 pengurangan 3 dari setiap angka baru, semua secara berurutan.

9 1 Jumlah Ket : fungsi intelektual utuh

2. Indetifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan Mini Mental Status Exam (MMSE)

No Aspek Kognitif Nilai Maksimal Nilai Klien Kriteria

1 Orientasi waktu 5 4 Menyebut dengan benar :

 Tahun  Musim  Tanggal  Hari  Bulan 2 Orientasi tempat

5 5 Dimana sekarang kita

 berada :

  Negara Indonesia  Provinsi Jawa Barat  Kota

 Wisma Lansia J. S.

 Nasution

3 Registrasi 5 5 Sebutkan nama 3 objek

selama 1 detik kemudian 13 Reaksi

 pemanfaatan waktu luang

5 10

(34)

klien mengulang nama objek tersebut  topi  gelas  meja 4 Perhatian dan kalkulasi

5 5 Minta klien untuk memulai

dari angka 100 kemudian dikurangi 7 sampai 5 tahap :

 93  86  79  72  65 5 Mengingat kembali

5 5 Minta klien untuk

menyebutkan atau

mengulang ketiga objek  pada no 2

6 Bahasa 9 9 Tunjukkan pada klien suatu

 benda, tanyakan namanya :

 sisir  gelang

Minta klien untuk

mengikuti perintah berikut :

“tak ada, jika, dan

atau

tetapi” (bila benar nilai 1)

Minta klien untuk

mengikuti perintah berikut :

 Ambil kertas di tangan

anda

 Lipat dua

 Taruh di lantai/meja

Perintahkan klien untuk hal  berikut (bila aktivitas sesuai  perintah nilai 1)

Tutup mata anda

Perintahkan pada klien menilai satu kalimat dan menyalin gambar:

 Tulis satu kalimat  Menyalin gambar

TOTAL NILAI 33

3. Skala Depresi pada Lansia

No Pilihlah jawaban yang sesuai sebagaimana yang anda rasakan dalam seminggu terakhir

(35)

1 Pada dasarnya puaskah anda dengan hidup anda saat ini?

2 Apakah anda membatalkan banyak dari rencana kegiatan/minat anda?

3 Apakah anda merasakan hidup anda ini hampa?

4 Seringkah anda merasakan kebosanan?

5 Apakah anda terganggu dengan meikirkan kesuliatan anda tanpa jalan keluar?

6 Apakah anda seringkali merasa bersemangat?

7 Apakah anda memikirkan sesuatu hal buruk yang akan

menimpa anda?

8 Apakah anda seringkali merasa gembira?

9 Apakah anda seringkali merasa tak terbantukan?

10 Apakah anda sering merasa resah dan gelisah?

11 Apakah anda lebih menyukai tinggal di rumah daripada

keluar rumah dan melakukan sesuatu yang baru?

12 Apakah anda lebih menyukai tinggal di rumah daripada keluar rumah dan melakukan sesuatu yang baru?

13 Apakah anda seringkali mengkhawatirkan masa depan anda?

14 Apakah anda berpikir/ bersyukur masih hidup saat ini?

15 Apakah anda seringkali merasa kelabu dan berputus

asa?

16 Apakah anda merasa tidak berguna saat ini?

17 Apakah anda sering menyesalkan masa lalu anda?

18 Apakah menurut anda hidup ini penuh dengan

tantangan yang menyenangkan?

19 Apakah anda merasa kesulitan mengawali suatu kegiatan tertentu?

20 Apakah anda merasa penuh daya (energi)?

21 Apakah menurut anda keadaan yang dihadapi tanpa

harapan?

22 Apakah menurut anda keadaan orang lain lebih baik dari anda?

23 Apakah anda seringkali marah hanya karena alasan sepele?

24 Apakah anda sering merasa bagaikan menangis?

25 Apakah anda sulit berkonsentrasi?

26 Apakah anda bangun pagi dengan perasaan menyenangkan?

27 Apakah anda lebih suka menghindari acara/sosialisasi?

28 Apakah mudah bagi anda dalam mengambil keputusan?

29 Apakah anda berpikiran jernih sebagaimana biasanya?

(36)

4. Pengkajian Keseimbanagn untuk Lansia Komponen

utama dalam  bergerak

Langkah-langkah Kriteria Nilai

A. Perubahan  posisi/gera kan keseimban gan 1. Bangun dari kursi

Tidak bangun dari tempat tidur dengan satu gerakan, tetapi mendorong tubuhnya ke atas dengan tangan atau  bergerak ke depan kursi

terlebih dahulu, tidak stabil  pada saat berdiri pertama

kali.

1

2. Duduk ke kursi

Menjatuhkan diri ke kursi, tidak duduk di tengah kursi

0 3. Menahan dorongan  pada sternum Pemeriksa mendorong sternum (perlahan-lahan sebanyak 3 kali). Klien menggerakan kaki, memegang objek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh sisi-sisinya.

0

Mata ditutup (keterangan : kursi keras tanpa lengan)

4. Bangun dari kursi

Kriteria sama dengan kriteria mata terbuka

1 5. Duduk ke

kursi

Kriteria sama dengan kriteria mata terbuka

0 6. Menahan

dorongan  pada sternum

Kriteria sama dengan kriteria mata terbuka

0

7. Perputaran leher

Menggerakan kaki, memegang objek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh sisi-sisinya, keluhan vertigo, pusing atau keadaan tidak stabil

0

8. Gerakan menggapai sesuatu

Tidak mampu untuk

menggapai sesuatu dengan  bahu fleksi max, sementara  berdiri pada ujung-ujung jari

kaki tidak stabi, memegang sesuatu untuk dukungan

0

(37)

untuk mengambil objek-objek kecil dari lantai,

memegang objek untuk bisa  berdiri, memerlukan

usaha-usaha multiple untuk bangun. B. Gaya  berjalan untuk  bergerak 10. Minta klien untuk berjalan ke tempat yang ditentukan Ragu-ragu tersandung, memegang objek untuk dukungan

1

11. Ketinggian langkah kaki (saat berjalan)

Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten

(menggeser/menyeret kaki), mengangkat kaki terlalu tinggi (> 50cm)

0

12. Kontinuitas langkah kaki

Setelah langkah-langkah awal, langkah tidak menjadi konsisten, mulai mengangkat satu kaki sementara yang lain menyentuh tanah (di

observasi dari samping klien) 0

13. Kesimetrisan langkah

Tidak berjalan apda garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi, (di observasi dari samping klien)

0

14. Penyimpanga n jalur pada saat berjalan

Tidak berjalan pada garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi, (di observasi dari samping klien)

0

15. Berbalik Berhenti sebelum berbalik,  jalan sempoyongan,

 bergoyang, memegang objek untuk dukungan

1

Jumlah Total 5

ANALISA DATA

Data (DS/DO) Etiologi Masalah

DS : - klien mengatakan kesulitan untuk berjalan

- Klien mengatakan  baru beberapa  bulan memakai

tongkat

DO : - klien memakai

Adanya kekakuan pada lutut kaki sebelah kiri

Gangguan mobilisasi fisik

(38)

tongkat untuk bantuan  jalan - TD : 150/80 mmHg -  Nadi : 80x/mnt DS : -DO : - Klien tampak  berjalan dengan bantuan

- Klien tampak  berjalan lambat - Kekuatan motorik 5 5 5 3 Penurunan fungsi motorik Resiko cedera

NURSING CARE PLANNING (NCP)  N

o

Diagnosa Keperawatan

Perencanaan

Tujuan Intervensi Rasional

1 2 Gangguan mobilisasi fisik  berhubungan dengan adanya kekakuan pada sendi lutut Resiko cedera  berhubungan dengan  penurunan fungsi motorik tidak terjadi ganggu an fisik Setelah dilakuk  an tindaka n kepera watan, klien mampu menjag a dirinya 1. Pertahankan  posisi yang nyaman 2. Lakukan latihan pasif dan aktif 3. Tingkatkan aktivitas sesuai  batas toleransi 4. Pantau TTV 1. Modifikasi lingkungan yang aman untuk pasien 2. Hindarkan lingkungan yang berbahaya 3. Libatkan  penghuni

wisma lain dan

1.Mempertahankan keamanan klien

2.Mencegah kontraktur

3.Memaksimalkan mobilisasi 4.Melihat kelainan yang terjadi

1. Mengurangi resiko terjadinya jatuh

2. Mengurangi atau mencegah resiko jatuh klien dengan

menciptakan

lingkungan yang aman 3. Petugas dan lansia

terdekat dengan klien yang dapat membantu

(39)

dari  jatuh  petugas panti dalam mengawasi klien saat melakukan aktivitas

atau mengawasi klien dalam mencegah jatuh

IMPLEMENTASI  No Diagnosa

Keperawatan

Tanggal/Jam Kegiatan Paraf

1 Gangguan mobilisasi fisik  berhubungan dengan adanya kekakuan pada sendi lutut 29-05-2017 07.30WIB 08.30 WIB 11.30 WIB 13.00 WIB 1. Mengikuti kegiatan olahraga pagi 1. Melakukan  pengenalan 2. Membina trust 3. Melakukan  pengkajian 1. Mendampingin klien makan siang 2. Mengukur tanda-tanda vital 1. Membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya 30-05-2017 07.00 WIB 07.40 WIB 09.40 WIB 1. membantu membereskan tempat tidur klien

2. Memotong kuku tangan dan kaki klien

3. Mendampingi klien saat melakukan senam pagi sambil duduk

1. Menemani klien jalan santai di lingkungan sekitar panti

menggunakan tongkat

2. Melakukan latihan  pasif dan aktif 1. Mengukur

(40)

11.30 WIB

13.00 WIB

2. Memberikan latihan  berhitung dan daya

ingat

1. Menemani klien makan siang

2. Melanjutkan latihan  pasif dan aktif  1. Membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya 2 Resiko cedera  berhubungan dengan 31-05-2017 10.00WIB 11.30 WIB 01-06-2017 07.00 WIB 12.00 WIB 29-05-2017 07.30WIB 1. mengajak jalan-jalan sekitar panti dengan menggunakan tongkat 2. melengkapi pengkajian 3. mengukur tanda-tanda vital 1. Menemani klien makan siang 2. Melanjutkan latihan  pasif dan aktif

1. Mengukur tanda-tanda vital

2. Menemani klien untuk olahraga pagi sambil berjemur 1. Memberikan latihan  berjalan tanpa menggunakan tongkat 2. Melakukan rendam kaki dengan air hangat

1.Mengikuti kegiatan olahraga pagi

(41)

 penurunan motorik 08.30 WIB 11.30 WIB 13.00 WIB 30-05-2017 07.00 WIB 07.40 WIB 09.40 WIB 11.30 WIB 13.00 WIB 31-05-2017 10.00WIB 1.Melakukan pengenalan 2.Membina trust 3.Melakukan pengkajian 1.Mendampingin klien makan siang 2.Mengukur tanda-tanda vital

1.Membuat kontrak untuk  pertemuan selanjutnya

1. membantu membereskan tempat tidur klien

2. Memotong kuku tangan dan kaki klien

3. Mendampingi klien saat melakukan senam pagi sambil duduk

1.Menemani klien jalan santai di lingkungan sekitar  panti menggunakan tongkat

2.Melakukan latihan pasif dan aktif

1.Mengukur tanda-tanda vital

2.Memberikan latihan  berhitung dan daya ingat

1.Menemani klien makan siang

2.Melanjutkan latihan pasif dan aktif

1.Membuat kontrak untuk  pertemuan selanjutnya

1. mengajak jalan-jalan sekitar panti dengan menggunakan tongkat

(42)

11.30 WIB 01-06-2017 07.00 WIB 12.50 WIB 2. melengkapi pengkajian 3. mengukur tanda-tanda vital

1.Menemani klien makan siang

2.Melanjutkan latihan pasif dan aktif

1.Mengukur tanda-tanda vital

2.Menemani klien untuk olahraga pagi sambil  berjemur

1.Memberikan latihan

 berjalan tanpa menggunakan tongkat

2.Melakukan rendam kaki dengan air hangat

CATATAN PERKEMBANGAN

 No No DK Tanggal/Jam Perkembangan Paraf

1 1 30-05-2017 S : klien mengatakan masih kesulitan berjalan tanpa  bantuan

O : klien berjalan dengan menggunakan tongkat TD : 150/80 mmHg  Nadi : 80 x/mnt

RR : 20 x/mnt A : masalah gangguan mobilisasi fisik belum teratasi

(43)

2 2 S :

-O : klien tampak berjalan lambat

A : masalah resiko cedera tidak terjadi

P : intervensi dilanjutkan 1 1 31-05-2017 S : klien mengatakan masih

kesulitan berjalan tanpa  bantuan

O : klien berjalan dengan menggunakan tongkat TD : 150/80 mmHg  Nadi : 80 x/mnt

RR : 20 x/mnt A : masalah gangguan mobilisasi fisik belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan

2 2 S :

-O : klien tampak berjalan lambat

A : masalah resiko cedera tidak terjadi

P : intervensi dilanjutkan 1 1 01-06-2017 S : klien mengatakan masih

kesulitan berjalan tanpa  bantuan

O : klien berjalan dengan menggunakan tongkat TD : 150/80 mmHg  Nadi : 80 x/mnt

RR : 20 x/mnt A : masalah gangguan mobilisasi fisik belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan Follow up

2 2 S :

-O : klien tampak berjalan lambat

A : masalah resiko cedera tidak terjadi

P : intervensi dilanjutkan Follow up

(44)

TANDA-TANDA VITAL HARIAN TN. S Tanggal Hasil Tanda-tanda Vital 29 Mei 2017 TD : 180/90 mmHg  Nadi : 92 x/menit RR : 20 x/menit 30 Mei 2017 TD : 150/80 mmHg  Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit 31 Mei 2017 TD : 140/80 mmHg  Nadi : 84 x/menit RR : 23 x/menit 01 Juni 2017 TD : 180/90 mmHg  Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit 02 Juni 2017 TD : 150/80 mmHg  Nadi : 88 x/menit RR : 20 x/menit

(45)

BAB IV PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lain (Sjamsuhidajat, 2011). Dislokasi terjadi saat ligamen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normal didalam sendi. Penyebab terjadinya dislokasi sendi ada tiga hal yaitu karena kelainan congenital yang mengakibatkan kekenduran  pada ligamen sehingga terjadi penurunan stabilitas sendi. Dari adanya traumatic

akibat dari gerakan yang berlebih pada sendi dan dari patologik karena adanya  penyakit yang akhirnya terjadi perubahan struktur sendi. Dislokasi mengakibatkan timbulnya trauma jaringan dan tulang, penyempitan pembuluh darah, perubahan  panjang ekstremitas sehingga terjadi perubahan struktur. Dan yang terakhir terjadi

kekakuan pada sendi. Dislokasi dapat direposisi tanpa anastesi, misalnya pada sendi bahu atau siku. Reposisi dapat diadakan dengan gerakan atau perasat yang barlawanan dengan gaya trauma dan kontraksi atau tonus otot. Reposisi tidak boleh dilakukan dengan kekuatan karena bisa mengakibatkan patah tulang. Untuk mengendurkan kontraksi dan spasme otot perlu diberikan anastesi setempat atau umum.

5.2 Saran

Pengetahuan seorang perawat tentang konsep dasar sebuah penyakit dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Seorang perawat yang telah mampu menguasai konsep dasar penyakit maka kemungkinan akan lebih mudah dalam melaksanakan asuhan keperawatannya. Selain mempermudah  perawat atau dalam menyusun asuhan keperawatan, memahami konsep dasar sebuah penyakit juga dapat membantu perawat dalam memberikan edukasi kepada pasien. Dalam hal ini perawat dapat membantu memberikan pengetahuan

(46)

kesehatan tentang dislokasi sendi pada pasien. Sehingga pasien dapat melakukan  pencegahan dini terhadap kemungkinan munculnya penyakit dislokasi sendi ini.

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Baughman C. Diane (2000).  Keperawatan Medikal Bedah. Penerbit Buku  Kedokteran ECG, Jakarta.

Brashers, Valentina L.  Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan & Manajemen,  Ed. 2. Alih bahasa oleh Kuncara. Jakarta: EGC.

Brooker, Chris. 2009.  Ensiklopedia Keperawatan. Alih bahasa oleh Hartono, dkk. Jakarta: EGC.

Brunner, Suddarth. 2001.  Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3. EGC : Jakarta

Corwin Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta.

Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC

Doenges, Marilynn E, dkk. 2000.  Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa  Keperawatan. EGC : Jakarta.

Mansjoer Arif, dkk (2000).  Kapita Selekta Kedokteran Edisi III jilid II. Penerbit  Buku Aesculapius Fakultas Kedokteran VI, Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Pengkajian dilakukan terhadap Tn.T pada tanggal 02 juni 2014 dan ditemukan prioritas masalah dengan kebutuhan dasar aman dan nyaman nyeri berhubungan dengan trauma fisik dengan

Cidera kepala adalah kerusakan neurologi yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (sylvia

Gali bersama pasien tentang teknik yang berhasil dan tidak berhasil. menurunkan ansietas di

dalam keluarga 3 Ketidak mampuan mengambil keputusan dalam hal pengobatan DM berhubungan dengan kurangnya pengetahuan Ditujukan kepada Tn.H dan keluarga Setelah dilakukan

Masalah keperawatan itu diantaranya adalah nyeri akut berhubungan dengan faktor fisiologis (kerusakan jaringan sendi), resiko kesepian berhubungan dengan ketidakefektifan

Jadi, trauma medulla spinalis adalah kerusakan fungsi neurologis akibat trauma langsung atau tidak langsung pada medulla spinalis sehingga mengakibatkan gangguan

Pada implemetasi diagnosa pertama gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, nyeri dibutuhkan pelaksanaan selama tiga hari yaitu pada

Pada pemeriksaan B6 Bone tinjauan kasus didapatkan data inspeksi yaitu kulit kering , tidak terdapat dislokasi, tidak ada oedema, tidak terdapat fraktur, kemampuan pergerakan sendi dan