• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan praktikum batuan beku non fragme

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "laporan praktikum batuan beku non fragme"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

COVER

LAPORAN PRAKTIKUM PETROLOGI

ACARA : BATUAN BEKU

NON FRAGMENTAL

Disusun Oleh : Wahyu Prasetyo 21100113120011

LABORATORIUM MINERALOGI DAN PETROLOGI

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Petrologi, acara Batuan Beku Non Fragmental yang disusun oleh praktikan bernama Wahyu Prasetyo ini telah disahkan pada:

hari :

tanggal :

pukul :

Sebagai tugas laporan praktikum Petrologi mata kuliah Petrologi.

Semarang, 09 April 2014

Asisten Acara, Praktikan,

Tri Omega Pahlawan Wahyu Prasetyo

(3)

DAFTAR ISI

I.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum...1

BAB II DASAR TEORI...2

BAB III HASIL DESKRIPSI...3

III.1 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 34...3

III.2 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 17...5

III.3 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 24...7

III.4 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 1...9

III.5 Deskripsi Peraga Batuan Nomor EF 3...11

III.6 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 13...13

BAB IV PEMBAHASAN...15

IV.1 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 34...15

IV.2 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 17...18

IV.3 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 24...20

IV.4 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 1...23

IV.5 Pembahasan Peraga Batuan Nomor EF 3...25

IV.6 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 13...28

BAB V PENUTUP...31

V.1 Kesimpulan...31

V.2 Saran...32

(4)
(5)
(6)
(7)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Maksud

Mengetahui tekstur dan struktur pada batuan beku non fragmental

Mengetahui mineral – mineral yang terdapat pada batuan beku non fragmental

Mengetahui penamaan batuan beku non fragmental berdasarkan

klasifikasi yang tersedia (Russell B. Travis, 1988)

I.2 Tujuan

Dapat mengetahui tekstur dan struktur pada batuan beku non fragmental

Dapat mengetahui mineral mineral yang terdapat pada batuan beku non fragmental

Dapat menamakan batuan beku non fragmental berdasarkan klasifikasi

yang tersedia (Russell B. Travis, 1988)

I.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum

Praktikum pertama:

Hari : Jumat

Tanggal : 21 Maret 2014 Waktu : 16. 30 – selesai

Tempat : Lab. Mineralogi dan Petrologi, Gd Pertamina Sukowati Lt. 3 Teknik Geologi, Universitas Diponegoro, Semarang Praktikum kedua:

Hari : Selasa

Tanggal : 25 Maret 2014 Waktu : 16. 00 – selesai

(8)
(9)

BAB III

HASIL DESKRIPSI

III.1 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 34

No. Urut : 1

No. Peraga Batuan : 34

Hari / Tanggal : Jumat 21 Maret 2014

Jenis Batuan : Batuan beku non fragmental

Deskripsi Megaskopis Warna : Hitam

Struktur : Masif

Tekstur :

Kristalinitas :Holokristalin

Ukuran Kristal : Halus, <1mm (WTG, 1954)

Granularitas : Inequigranular porfiroafanitik

Bentuk Kristal : Subhedral

Deskripsi Komposisi

Piroksen : Warna hijau kehitaman, kilap kaca, kekerasan 6, cerat putih, transparansi tidak transparant.

Biotit : Warna abu – abu, kliap tanah, anhedral, ukuran halus (1mm), penyebaran merata, kekerasan 2-3, cerat putih.

Kuarsa : Warna putih kebeningan, kekerassan 7, tanpa belahan, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal, kelimpahan 5%

Massa dasar berupa afanit (mineral yang bersifat basa)

Kelimpahan Mineral:

Mineral Kelimpahan (%)

Piroksen 50 %

Biotit 20%

(10)

Masa Dasar 25%

Petrogenesa

Batuan ini memiliki tekstur holokristalin, Granularitas pada batuan ini adalah Inequigranular porfiroafanitik. Pada Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat basa yaitu bisa pada daerah MOR, Islands arc, back arc basin dan oceanic Islands, sehingga warnanya gelap. Membeku secara lambat sehingga terbentuk mineral-mineral piroksen, biotit, dan kuarsa Serta massa dasar yang afanit. Mempunyai struktur massif dan merupakan batuan beku plutonik sehingga bentuk kristal sempurna (Derajat kristalisainya termasuk holokristalin).

Foto Batuan

Gambar 3.1 Porfiri Basalt

(11)

III.2 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 17

No. Urut : 2

No. Peraga Batuan : 17

Hari / Tanggal : Jum’at 21 Maret 2014

Jenis Batuan : Batuan beku non fragmental

Deskripsi Megaskopis

 Warna : Hitam kehijauan

 Struktur : Masif

 Tekstur :

a. Kristalinitas :Holokristalin

b. Ukuran : Kasar, >5mm (WTG, 1954) c. Granularitas : Inequigranular Fanero porfiritik

 Bentuk Kristal : Subhedral

Deskripsi Komposisi

Kuarsa : Warna putih kebeningan, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal Plagioklas : Warna putih susu, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih,

Kilap kaca,Transparansi opaque. (Massa Dasar)

Piroksen : Warna hitam. Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap non logam, Transparansi opaque.

(12)

Batuan ini memiliki tekstur holokristalin, Granularitas pada batuan ini adalah inequigranular, fanero porfiritik. Pada Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat basa yaitu bisa pada daerah MOR, Islands arc, back arc basin dan oceanic Islands, sehingga warnanya gelap. Membeku secara lambat sehingga terbentuk mineral-mineral piroksen, plagioklas sebagai massa dasar, kuarsa. Mempunyai struktur massif dan merupakan batuan beku plutonik sehingga bentuk kristal sempurna (Derajat kristalisainya termasuk holokristalin).

Foto Batuan

Gambar 3.2 Porfiri Gabro

(13)

III.3 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 24

No. Urut : 3

No. Peraga Batuan : 24

Hari / Tanggal : Jumat 21 Maret 2014

Jenis Batuan : Batuan beku non fragmental

Deskripsi Megaskopis

Warna : kuning keputihan hingga putih kecoklatan

Struktur : Masif

Tekstur :

a. Kristalinitas :Holokristalin

b. Ukuran : Sedang, 1mm – 5mm (WTG, 1954) c. Granularitas : Inequigranular Fanero porfiritik,

 Bentuk Kristal : Subhedral

Deskripsi Komposisi

Kuarsa : Warna putih kebeningan, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal Plagioklas : Warna putih susu, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih,

Kilap kaca,Transparansi opaque. (Masa Dasar) Biotit : Warna abu – abu, kliap tanah, anhedral, ukuran halus

(1mm), kekerasan 2-3, cerat putih.

Orthoklas :Warnamerah daging, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap non logam. Transparansi opaque

(14)

Petrogenesa

Batuan ini memiliki tekstur holokristalin, Granularitas pada batuan ini adalah inequigranular. Berdasarkan warna batuan yang berwarna kuning keputihan hingga putih kecoklatan. Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat asam yaitu bisa pada daerah subduksi, continental rift zone, sehingga warnanya terang. Membeku secara lambat sehingga terbentuk mineral-mineral orthoklas, biotit, plagioklas, kuarsa. Mempunyai struktur massif dan merupakan batuan beku plutonik sehingga bentuk kristal sempurna (Derajat kristalisainya termasuk holokristalin).

Foto Batuan

Gambar 3.3 Porfiri Granit

(15)

III.4 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 1

No. Urut : 4

No. Peraga Batuan : 1

Hari / Tanggal : Jumat 21 Maret 2014

Jenis Batuan : Batuan beku non fragmental

Deskripsi Megaskopis c. Granularitas : Inequigranular porfiroafanitik

 Bentuk Kristal : Subhedral

Deskripsi Komposisi

Kuarsa : Warna putih bening, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal.

Plagioklas: Warna putih susu, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap kaca,Transparansi opaque.

Massa dasar berupa afanit (mineral yang bersifat intermediet)

Kelimpahan Mineral:

(16)

dari pembekuan magma yang bersifat intermediet yaitu bisa pada daerah subduksi sehingga warnanya terang agak gelap. Membeku secara lambat sehingga terbentuk mineral-mineral kuarsa dan palgioklas. Mempunyai struktur massif dan merupakan batuan beku plutonik sehingga bentuk kristal sempurna (Derajat kristalisainya termasuk holokristalin).

Foto Batuan

Gambar 3.4 Porfiri Dasit

(17)

III.5 Deskripsi Peraga Batuan Nomor EF 3

No. Urut : 5

No. Peraga Batuan : EF 3

Hari / Tanggal : Selasa, 25 Maret 2014

Jenis Batuan : Batuan beku non fragmental

Deskripsi Megaskopis

Warna : kuning keputihan hingga putih kecoklatan

Struktur : Masif

Tekstur :

 Kristalinitas :Holokristalin

 Ukuran : Sedang, 1mm- 5mm (WTG, 1954)

 Granularitas : Inequigranular Faneroporfiritik

Bentuk Kristal : Subhedral

Deskripsi Komposisi

Kuarsa : Warna putih bening, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal.

Plagioklas : Warna putih susu, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap kaca, Transparansi opaque. (Massa Dasar)

(18)

Batuan ini memiliki tekstur holokristalin, Granularitas pada batuan ini adalah equigranular, fanerik, euhedral. Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat asam yaitu pada daerah subduksi, continental rift. sehingga warnanya terang. Membeku secara lambat sehingga terbentuk mineral-mineral biotit, plagioklas dan kuarsa. Mempunyai struktur massif dan merupakan batuan beku plutonik sehingga bentuk kristal sempurna (Derajat kristalisainya termasuk holokristalin).

Foto Batuan

Gambar 3.5 Porfiri Diorit Kwarsa

(19)

III.6 Deskripsi Peraga Batuan Nomor 13

No. Urut : 6

No. Peraga Batuan : 13

Hari / Tanggal : Selasa, 25 Maret 2014

Jenis Batuan : Batuan beku non fragmental

Deskripsi Megaskopis

Warna : Coklat Kehitaman

Struktur : Masif tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal.

Hornblende: Warna hitam, Kekerasan 5,5 – 6 skalamohs, Cerat hitam, Kilap kaca, Transparansi opaque.

Biotit : Warna hitam, Kekerasan 3 skala mohs, Cerat putih, Kilap non logam, Transparansi opaque.

Piroksen : Warna hitam. Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap non logam, Transparansi opaque.

(20)

Masa Dasar 30%

Petrogenesa

Batuan ini memiliki tekstur holokristalin, Granularitas pada batuan ini adalah Inequigranular porfiroafanitik. Pada Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat intermediet yaitu pada daerah subduksi, sehingga warnanya gelap. Membeku secara lambat sehingga terbentuk mineral-mineral piroksen, horndblende, biotit, kuarsa. Mempunyai struktur massif dan merupakan batuan beku plutonik sehingga bentuk kristal sempurna (Derajat kristalisainya termasuk holokristalin).

Foto Batuan

(21)

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada praktikum petrologi acara batuan beku non fragmental yang dilaksanakan pada hari jumat 21 Maret 2014 dan selasa 25 Maret 2014 praktikan mendeskripsi 6 batuan beku non fragmental. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan secara megaskopis dengan tujuan untuk menganalisis kemudian melakukan pemberian nama batuan berdasarkan klasifikasi Russel B. Travis (1988), berikut hasil deskripsinya:

IV.1 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 34

Kenampakan secara megaskopis, batuan beku nomor 34 ini berwarna hitam gelap. Dilihat dari warna batuannya, batuan ini bersifat mafik karena warnanya cenderung gelap. Struktur batuan ini bersifat keras dan tidak terlihat adanya lubang-lubang maupun retakan pada permukaan batuan tesebut sehingga struktur batuan ini adalah massif. Tekstur batuan ini adalah holokristalin karena batuan ini tersusun seluruhnya oleh massa kristal. Tekstur holokristalin pada batuan ini dapat terbentuk karena proses pembekuan magma yang lambat dan lama pada batuan ini sehingga mineral pada batuan ini terbentuk kristal secara sempurna. Hubungan antar kristal pada batu peraga ini adalah inequigranular porfiroafanitik, dikarenakan mineral fenokris dikelilingi oleh masa dasar yang bersifat afanit. Ukuran kristalnya berukuran halus, dimana ukurannya kurang dari 1mm. Dan bentuk butirnya berupa subhedral yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna karena batas-batas antar mineral yang kurang jelas.

(22)

dasar yang afanit dengan kelimpahan 25%. Pada batuan peraga ini komposisi Feldspar plagioklasnya >2/3 dari seluruh feldspar.

(23)

(c)

Gambar 4.1 a. MOR, b. Back arc Basin, c. Island Arc

Untuk melakukan pemberian nama batuan, kelimpahan mineral yang diperhatikan adalah kuarsa dan k-feldspar. Pada batuan ini kelimpahan mineral kuarsa kurang dari 10%, sedangkan jumlah feldspar plagioklase lebih dari 2/3 dari jumlah semua mineral feldspar. Jadi berdasarkan ciri-ciri yang telah tertera di atas dan setelah dimasukkan ke dalam klasifikasi Russell B. Travis batuan peraga No. 34 merupakan Porfiri Basalt (Travis, 1988).

IV.2 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 17

(24)

pembekuan magma yang lambat dan lama pada batuan ini sehingga mineral pada batuan ini terbentuk kristal secara sempurna. Hubungan antar kristal pada batu peraga ini adalah inequigranular, yaitu besar mineral yang tak sama, yang berjenis fanero porfiritik, karena batu ini memiliki struktur porfiritik yaitu tersusun atas fenokris dan massa dasar, pada batu ini massa dasrnya diketahui. Ukuran kristalnya berukuran sedang dan dapat terlihat oleh mata. Dan bentuk butirnya berupa subhedral yaitu bentuk kristal yang tidak begitu sempurna karena batas-batas antar mineral yang tidak begitu jelas. Tekstur fanero porfiritik ini menjelaskan terjadinya dua waktu pembekuan yang berlangsung. Pada fenokris yang terlihat mineral mineralnya itu terbentuk terlebih dahulu secara lambat sehingga membentuk kristal yang sempurna, kemudian di ikuti oleh masa dasar yang terbentuk setelahnya

(25)

hubungan antar kristalnya yang inequigranular faneroporfiritik, dapat diinpretasikan bahwa mineral penyusunnya berukuran besar dan massa dasarnya dari mineral plagioklas. Berdasarkan komposisi mineralnya maka sifat batuan ini adalah basa dimana magma yang membentuk juga bersifat basa (mafik), dan kemungkinan magma tersebut terbentuk dari proses melting antara lempeng samudra yang bersifat basa di daerah MOR, batuan ini bisa juga terbentuk di daerah Islands arc, ataupun back arc basin. Hal ini dikarenakan dari ketiga zona tersebut memungkinkan terbentuknya batuan yang bersifat basa dikarenakan magma penyusunnya yang bersifat basa.

Gambar 4.2 a. MOR, b. Back arc Basin, c. Island Arc

(26)

IV.3 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 24

(27)

Tekstur fanero porfiritik ini menjelaskan terjadinya dua waktu pembekuan yang berlangsung. Pada fenokris yang terlihat mineral mineralnya itu terbentuk terlebih dahulu secara lambat sehingga membentuk kristal yang sempurna, kemudian di ikuti oleh masa dasar yang terbentuk setelahnya

Komposisi mineral pada batuan peraga ini adalah biotite dengan warna hitam, kilap kaca, subhedral, ukuran sedang 1- 5mm, penyebaran 15%. Kuarsa warna putih kebeningan, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal, kelimpahan 20 %. orthoklas warna hitam, kilap kaca, bentuk prismatik, belahan dua arah, pecahan uneven 15%. Dengan masa dasar berupa plagioklas warna abu – abu, kliap tanah, anhedral, ukuran halus (1mm), penyebaran merata 45 %. Pada batuan ini komposisi K.Feldspar > 2/3 Seluruh Feldspar. Diman pada batuan ini yang menjadi massa dasar adalah plagioklas dengan komposisi Na lebih banyak daripada Ca.

Proses pembentukan batuan ini adalah melalaui proses pembekuan magma yang lambat memungkinkan magma untuk membentuk kristalin yang biasanya terjadi di dalam kerak bumi, proses pembekuan berlangsung di zona plutonik, sehingga mineral mengkristal dengan sempurna dan termasuk holokristalin kristalinitasnya. Dalam pembentukan batuan fenokris terbentuk lebih dahulu yang kemudian fenokris tersebut terselimuti oleh suatu massa dasar. Pada batu peraga ini massa dasarnya dapat diketahui mineralnya dikarenakan proses pembekuannya yang tidak terlalu dalam, letaknya dari permukaan bumi dan waktunya pun tidak lama, yaitu massa dasarnya mineral plagioklas. Dan sifat kimia batu ini adalah asam dimana magma yang membentuk juga bersifat asam, dan kemungkinan magma tersebut terbentuk dari proses melting antara dua lempeng benua yang bersifat asam (daerah continental rift). sehingga terbentuk sifat asam. Hal ini dikarenakan lempeng benua mengandung mineral Al dan SiO2 yang sifatnya asam. Namun dapat

(28)

Gambar 4.3 Continental Rift Zone dan Zona Subduksi

(29)

IV.4 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 1

(30)

Komposisi mineral pada batuan peraga ini adalah Plagioklas 60% dengan Warna putih susu, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap kaca,Transparansi opaque. Kuarsa 20% warna putih keruh, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan choncoidal. Dan massa dasar yang afanit dengan kelimpahan 20%. Pada batuan pergan ini kelimpahan feldspar plagioklasnya >2/3 dari seluruh feldspar. Dan terdapat mineral kwarsa yang intensitasnya lebih dari 10%.

Proses pembentukan batuan ini adalah melalaui proses pembekuan magma yang lambat dan lama memungkinkan magma untuk membentuk kristalin yang biasanya terjadi di dalam kerak bumi atau plutonik, dimana proses pembekuan berlangsung di zona plutonik yang jauh dari permukaan bumi sehingga kristalinitasnya holokristalin. Strukturnya yang bersifat masif dapat diinpretasikan bahwa batuan ini sewaktu membeku tidak ada bekas – bekas lubang atau aliran bekas keluarnya gas ketika pembekuan. Dari hubungan antar kristalnya yang inequigranular afanitik, dapat diinpretasikan bahwa mineral penyusunnya berukuran kecil – kecil dan massa dasarnya yang afanit. Berdasarkan komposisi mineralnya maka sifat batuan ini adalah intermediet dimana magma yang membentuk juga bersifat intermediet dan kemungkinan magma tersebut terbentuk di daerah zona subduksi. Terbentuk dari pertemuan lempeng benua dengan lempeng samudra dimana lempeng samudra menyusup ke

(31)

Magma tersebut membeku di sekitar daerah plutonik di bawah permukaan bumi dan akhirnya batuan ini naik ke permukaan akibat gaya endogen yang berlangsung pada daerah tersebut (uplift) atau karena erupsi dari gunung api. Untuk melakukan pemberian nama batuan, kelimpahan mineral yang diperhatikan adalah kuarsa dan k-feldspar. Pada batuan ini kelimpahan mineral kuarsa lebih dari 10%, sedangkan jumlah plagioklase lebih dari 2/3 dari jumlah semua mineral feldspar. Jadi berdasarkan ciri-ciri yang telah tertera di atas dan setelah dimasukkan ke dalam klasifikasi Russell B. Travis batuan peraga No. 1 merupakan batuan Porfiri Dasit (Travis, 1988).

IV.5 Pembahasan Peraga Batuan Nomor EF 3

(32)

terbentuk karena proses pembekuan magma yang lambat pada batuan ini sehingga pada tubuh batuan ini terbentuk kristal secara sempurna. Hubungan antar kristal pada batuan peraga ini adalah inequigranular, yaitu besar mineral yang tak sama, yang berjenis fanero porfiritik, karena batuan ini memiliki struktur porfiritik yaitu tersusun atas fenokris dan massa dasar, pada batuan ini massa dasrnya diketahui. Ukuran kristalnya berukuran sedang dan dapat terlihat oleh mata. Dan bentuk butirnya berupa subhedral yaitu bentuk kristal yang tidak begitu sempurna karena batas-batas antar mineral yang tidak begitu jelas. Tekstur fanero porfiritik ini menjelaskan terjadinya dua waktu pembekuan yang berlangsung. Pada fenokris yang terlihat mineral mineralnya itu terbentuk terlebih dahulu secara lambat sehingga membentuk kristal yang sempurna, kemudian di ikuti oleh masa dasar yang terbentuk setelahnya

Komposisi mineral pada batuan peraga ini adalah biotite dengan warna hitam, kilap kaca, subhedral, ukuran sedang 1- 5mm, penyebaran 30%. Kuarsa warna coklat bening, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal, kelimpahan 30%. Plagioklas 60% dengan Warna putih agak kecoklatan, Kekerasan 6 skala mohs, Cerat putih, Kilap kaca, Transparansi opaque. Dalam hal ini plagioklas sebagai massa dasarnya. Pada batuan ini Feldspar plagioklasnya >2/3 dari seluruh feldsparnya dan terdapat kuarsa dengan intensitas >10%. Plagioklas terbentuk sebagai massa dasar dapat diinpretasikan bahwa mineral ini terbentuknya sesudah mineral biotit atau mineral kuarsa terbentuk.

(33)

plagioklas. Dan sifat kimia batu ini adalah asam dimana magma yang membentuk juga bersifat asam, dan kemungkinan magma tersebut terbentuk dari proses melting antara dua lempeng benua yang bersifat asam (daerah continental rift). sehingga terbentuk sifat asam. Hal ini dikarenakan lempeng benua mengandung mineral Al dan SiO2 yang sifatnya asam. Namun dapat

memungkinkan juga terbentuk di daerah subduksi dimana keluanya magma tersebut lebih dominan batuan felsik sehingga terjadi asimilasi magma yang awalnya intermediet kemudian menjadi asam karena proses tersebut.

Gambar 4.5 Continental Rift Zone dan Zona Subduksi

(34)

IV.6 Pembahasan Peraga Batuan Nomor 13

(35)

Komposisi mineral pada batu peraga ini adalah kuarsa 5 % dengan warna putih bening, kekerassan 7, tanpa belahan, bentuk tabular, kilap kaca, cerat putih, pecahan concoidal. Hornblende 20% dengan warna hitam, kekerasan 5,5 – 6 skala mohs, cerat hitam, kilap kaca, transparansi opaque. Biotit 15% dengan warna hitam, kekerasan 3 skala mohs, cerat putih, kilap non logam, transparansi opaque. Piroksen 30% warna hitam kekerasan 6 skala mohs, cerat putih, kilap non logam, transparansi opaque. Serta massa dasar yang afanit dengan kelimpahan 30%.

Proses pembentukan batuan ini adalah melalaui proses pembekuan magma yang lambat dan lama memungkinkan magma untuk membentuk kristalin yang biasanya terjadi di dalam kerak bumi atau plutonik, dimana proses pembekuan berlangsung di zona plutonik yang jauh dari permukaan bumi sehingga kristalinitasnya holokristalin. Strukturnya yang bersifat masif dapat diinpretasikan bahwa batuan ini sewaktu membeku tidak ada bekas – bekas lubang atau aliran bekas keluarnya gas ketika pembekuan. Dari hubungan antar kristalnya yang inequigranular afanitik, dapat diinpretasikan bahwa mineral penyusunnya berukuran kecil – kecil dan massa dasarnya yang afanit. Berdasarkan komposisi mineralnya maka sifat batuan ini adalah intermediet dimana magma yang membentuk juga bersifat intermediet dan kemungkinan magma tersebut terbentuk di daerah zona subduksi. Terbentuk dari pertemuan lempeng benua dengan lempeng samudra dimana lempeng samudra menyusup ke

bawah menuju astenosfer. Gejala ini biasanya di perlihatkan oleh jajaran gunung api di atas lempeng benua sebagai akibat dari dorongan arus konveksi dari selubung. Produk magma yang dihasilkan adalah

(36)
(37)

BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

 Pada batuan no peraga 34, menurut tabel Russell B. Travis merupakan

batuan beku Porfiri Basalt dengan struktur massif, tekstur holokristalin, Inequigranular poriroafanitikbentu kristal subhedral dan kandungan mineral piroksen (50%), massa dasar afanit (25%), biotit (20%) serta kuarsa (5%).

 Pada batuan no peraga 17, menurut tabel Russell B. Travis merupakan

batuan beku Porfiri Gabroin dengan struktur massif, tekstur holokristalin inequigranular, fanero porfiritik, subhedral dan kandungan mineral kuarsa (5%), piroksen (35%) serta plagioklas sebagai massa dasar (40%).

 Pada batuan no peraga 24, menurut tabel Russell B. Travis merupakan batuan beku Porfiri Granit dengan struktur massif, tekstur holokristalin inequigranular, faneroporfiritk dan kandungan mineral plagioklas sebagai massa dasar (45%), orthoklas 20%, kuarsa 20%, dan biotit 15%.

 Pada batuan no peraga 1, menurut tabel Russell B. Travis merupakan batuan beku Porfiri Dasit dengan struktur massif, tekstur holokristalin inequigranular, porfiroafanitik dan kandungan mineral plagioklas (60%), kuarsa (20%) serta massa dasar yang afanit 20%.

 Pada batuan no peraga EF 3, menurut tabel Russell B. Travis

merupakan batuan beku Porfiri Diorit Kwarsa dengan struktur massif, tekstur holokristalin inequigranular, fanerik, dan kandungan biotite (30%), plagioklas sebagai massa dasar (40%), dan kuarsa (30%).

 Pada batuan no peraga 13, menurut tabel Russell B. Travis merupakan

(38)

mineral biotite (15%), kuarsa (5%), hornblende (20%), piroksen (30%) serta massa dasar yang afanit sebesar 30%.

V.2 Saran

 Jika bisa praktikum diberi animasi animasi yang berhubungan dengan acara batuan beku non fragmental atau busur busur magmatisme agar praktikan lebih mengerti.

 Praktikan harus lebih jeli lagi dalam mendeskripsi mineral.

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Tim Asisten Petrologi 2012. Buku Panduan Petrologi 2012. Semarang : Jurusan Teknik Geologi, Universitas Diponegoro.

http://elangnaga.wordpress.com/2014/01/22/petrografi-batuan-beku/

(Diakses pada hari Senin 7 April 2014 pukul 22.34 WIB)

http://febryirfansyah.wordpress.com/2009/08/13/petrologi-batuan-beku/

(Diakses pada hari Senin 7 April 2014 pukul 22.34 WIB)

http://zullogist.blogspot.com/2013/05/7-busur-magmatisme.html

Gambar

Gambar 3.1 Porfiri Basalt
Gambar 3.2 Porfiri Gabro
Gambar 3.3 Porfiri Granit
Gambar 3.4 Porfiri Dasit
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada tekstur subofitik, kenampakan khas yang ditunjukkan berupa mineral piroksen yang seolah-olah dikelilingi oleh mineral plagioklas karena ukuran plagioklas

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma.. Berdasarkan teksturnya

Warna batuan beku berkaitan erat dengan komposisi mineral dan waktu serta tempat pembekuan batuan tersebut. Semakin terang warna batuan tersebut,

BATUAN BEKU Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari pendinginan magma baik diatas permukaan bumi maupun di bawah permukaan bumi Batuan beku terbagi atas dua jenis yaitu batuan

Pengertian Batuan Beku Batuan beku atau batuan igneus dari Bahasa Latin: ignis, "api" adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa

STRUKTUR BATUAN BEKU LAVA BONGKAH DAN LAVA BERBENTU TALI LAVA BONGKAH DAN LAVA BERBENTU TALI 1 2 STRUKTUR ALIRAN : Goresan berupa garis-garis sejajar, warna beda, tekstur beda

Deskripsi Mineral Plagioklas Oligoklas, Labradorite K-feldspar Kuarsa Piroksen Klorit Mineral Opaque Biotit Epidote Mineral Lempung Warna Colourless Colourless Colourless Abu-abu

Tekstur ini karakteristik pada batuan beku, yang memperlihatkan adanya butiran kristal yang tidak seragam inequigranular, dimana butiran yang besar, disebut sebagai fenokris