Ruang publik online sebuah dimensi baru

Teks penuh

(1)

Ruang publik online: sebuah dimensi baru dalam proses pembuatan kebijakan? (Studi kasus penggunaan Twitter di Indonesia)

Ujang Fahmi1, Canggih Puspo Wibowo2

Abstrak

Ruang publik memberikan kesempatan kepada publik atau dalam hal ini masyarakat untuk dapat terlibat dalam pengelolaan sebuah negara. Dalam konteks kebijakan, ruang publik juga penting agar kebijakan tidaknya hanya bersifat top-down, tapi juga bottom-up. Jika di masa lampau ruang publik ada di tempat di mana orang bisa berkumpul dan mendiskusikan masalah politik dan atau kebijakan seperti kafe, atau tempat lain sejenisnya, saat ini ada yang disebut ruang maya. Ruang ini hadir berkat kemajuan dibidang teknologi internet, yang kemudian disusul dengan hadirnya berbagasi media sosial. Melalui sosial media ini publik bisa melakukan apa yang dahulu dilakukan di kafe dan sejenisnya untuk mendiskusikan jalannya roda pemerintahan. Sementara pembuatan kebijakan publik membutuhkan sarana dan prasarana, misalnya untuk menyampaikan atau mensosialisasikan kebijakan, mendapat feedback dari masyarakat, dan juga membutuhkan data. Persinggungan antara proses pembuatan kebijakan publik dengan kehadiran media sosial inilah yang kemudian akan dibahas dalam tulisan ini. Dengan mengacu pada siklus kebijakan (policy cycle) peluang pemanfaatan internat yang dalam hal ini difokuskan pada media sosial Twitter sebagai salah satu ruang publik online dalam proses pembuatan kebijakan dapat diidentifikasi dan disimpulkan dalam artikel ini.

Katakunci: ruang publik, ruang publik online, pembuatan kebijakan, media sosial

1. Pendahuluan

Membangun transparansi dan partisipasi masyarakat dalam kebijakan menjadi salah satu isu utama yang dihadapi bukan hanya oleh pemerintah Indonesia, tapi juga hampir seluruh negara di dunia. Di masa lampau partisipasi masyarakat umum atau kemudian disebut publik dalam proses pembuatan kebijakan tercipta melalui ruang publik. Mengacu pada definisi yang diberikan Habermas, ruang publik adalah sebuah ruang di antara state dan citizens yang berisi individu-individu yang saling mendiskusikan isu-isu yang ada dilingkungannya (Habermas, 1991). Lebih jauh lagi, Habermas (1991) mengungkapkan beberapa karakteristik ruang publik, yaitu: (1) Akses yang mudah terhadap informasi; (2) Tidak ada perlakuan istimewa (privilege) terhadap peserta diskusi (partisipan); (3) Peserta/partisipan mengemukakan alasan rasional dalam berdiskusi.

Sistem yang demokratis membutuhkan ruang publik yang sehat (Levasseur & Carlin,

1

Mahasiswa S2 Manajemen dan Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada,

ujang.fahmi@mail.ugm.ac.id 2

(2)

2001). Di mana salah satu indikasi sehat atau tidaknya ruang publik adalah keterpenuhan tiga kriteria yang disebutkan sebelumnya. Dalam konteks ini, di era modern di mana dunia sudah jauh berubah dari apa yang dilukiskan Habermas tentang ruang publik, saat ini muncul internet yang memfasilitasi media sosial. Media sosial inilah yang kemudian di anggap sebagai salah satu bentuk ruang publik alternatif dengan karakteristik yang kurang lebih sama, di mana setiap orang yang ada di dalamnya memiliki hak dan kesempatan yang sama.

Untuk itu pula kemudian banyak pembahasan yang dilakukan oleh akademisi tentang media sosial yang juga diketahui memiliki pengaruh dalam kehidupan nyata. Pengaruh media sosial dapat dilihat mulai dari pemanfaatannya untuk kampanye hingga media komunikasi yang memungkinkan terjadinya revolusi melati di beberapa negara di Afrika Utara. Di sektor publik, media sosial juga sering digunakan sebagai media komunikasi (Bertot, Jaeger, & Hansen, 2012), sebagai upaya meningkatkan transparansi (Bertot, Jaeger, & Grimes, 2012), dan bahkan sudah ada yang menggunakannya untuk membuat keputusan dalam sektor tertentu (lihat Sideri, Filippopoulou, Rouvalis, Kalloniatis, & Gritzalis, 2017).

Di antara sekian banyak media sosial yang ada saat ini Facebook dan Twitter merupakan yang paling banyak digunakan sekaligus juga paling banyak dikaji. Hal ini dilatari oleh adanya opini publik dalam media tersebut. Terkait dengan opini publik, atau Dahlgren (2012, 2013) mengistilahkannya sebagai public intelectual, Geremia (1978) mengatakan bahwa hanya pemerintahan yang paranoid saja yang tidak memperlakukan publik sebagai aset yang berharga dalam pembangunan dan pembuatan kebijakan. Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menggalakkan penggunaan sosial media bagi seluruh instansi pemerintah baik pusat dan daerah sebagai wadah komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat (Kurniawan, 2016).

Selagi masih terdapat perdebatan dalam pendefinisian internet sebagai ruang publik, online public sphere dianggap sebagai sebuah istilah perantara hingga pendefinisian dapat dilakukan (Dahlgren, 2012). Hal ini kemudian diperkuat dengan fakta bahwa penggunaan internet dan media sosial terus meningkat di berbagai negara termasuk di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia (132 juta jiwa) kini telah terhubung ke internet (Widiartanto, 2016). Pengguna media sosial berbanding lurus dengan pertumbuhan pengguna internet, di mana khusus pengguna Twiter, CEO Twitter Dick Costolo, pada tahun 2015 jumlah pengguna Twitter di Indonesia ada 50 juta (Hasibuan, 2015).

(3)

dalam proses pembuatan kebijakan di Indonesia. Sejauh ini persinggungan antara media sosial dengan proses pembuatan kebijakan di Indonesia belum banyak dibahas. Padahal, hampir semua kementerian yang ada sudah memiliki akun media sosial resmi dan sudah terverifikasi. Untuk itu pula artikel ini juga bertujuan untuk mencari bukti tentang kemungkinan penggunaan media sosial dalam proses pembuatan kebijakan. Secara spesifik, artikel ini akan mengkaji apa yang bisa dilakukan dan didapat dari media sosial Twitter dalam siklus pembuatan kebijakan atau policy cycle.

Pembahasan akan dimulai dengan melakukan observasi pada akun media sosial yang dimiliki oleh beberapa kementerian dan mengidentifikasi potensi apa saja yang dapat digunakan dalam proses pembuatan kebijakan yang lebih akuntabel dan delibratif. Hal ini dilakukan guna meningkatkan transparansi dan pelibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan di Indonesia di mana di internet dianggap dapat mendukung untuk melakukannya (McIvor, McHugh, & Caden, 2002). Bahkan McIvor, dkk (2002) lebih jauh mengatakan bahwa organisasi sektor publik yang tidak dapat menggunakan teknologi dengan tepat akan terus memiliki masalah dalam hal efisiensi, pemenuhan kebutuhan masyarakat dan penganggarannya.

2. Pendekatan penelitian

Secara metodologis, artikel ini berdasar pendekatan interdisiplin yang mengombinasikan pendekatan kebijakan publik dan data science. Tujuannya adalah agar persinggungan antara media sosial dan atau secara spesifik yang dibahas dalam artikel ini adalah Twitter dengan proses pembuatan kebijakan publik dapat diidentifikasi, di mana pada umumnya masing-masing teori berjalan sendiri atau terisolasi. Data yang digunakan adalah data dari Twitter yang diambil berdasarkan beberapa metode sampling di media sosial, yaitu berdasarkan akun, berdasarkan mention, serta berdasarkan hashtag/tagar dan atau kata tertentu yang merepresentasikan sebuah kebijakan. Data tersebut kemudian digunakan untuk mencari peluang pemanfaatannya dalam siklus kebijakan.

3. Kajian Pustaka 3.1 Media Sosial

(4)

tersebut masih ada banyak platform seperti Youtube, Blog, dan lain sebagainya (Costa et al., 2016b). Misalnya, Kasun Ubayasiri (2006) dalam Chen (2013) mengatakan bahwa platform Youtube dengan fasilitas kolom komentar dapat menjadi tempat mensosialisasikan dan berinteraksi sama seperti dua media sosial yang disebut di awal.

Terlepas dari definisinya yang masih banyak diperdebatkan, media sosial memiliki ciri utama yang juga sering dianggap sebagai definisinya, yaitu sebuah platform yang memfasilitasi pertukaran informasi antar penggunanya (Kaplan & Haenlein, 2010). Untuk itu pula kemudian sosial media dianggap menampung opini publik yang dapat dijadikan sebagai objek studi akademis (Costa et al., 2016a). Studi pada umumnya dilakukan dari sudut pandang ilmu komunikasi dan teknologi informasi. Namun studi tentang media sosial terus berkembang termasuk dalam bidang kebijakan publik.

Sebagai contoh, Twitter sebagai platform microblogging memungkinkan penggunanya untuk membagikan informasi dan juga menganalisis sentimen publik terhadap sebuah produk. Dalam konteks ini, produk organisasi publik yaitu pelayanan dianggap dapat dikaji dari kalimat-kalimat yang dituangkan pengguna Twitter yang selanjutnya disebut tweet. Tweet inilah dianggap sebagai opini publik atau dalam istilah lain juga disebut sebagai public sphere atau ruang publik (Braun, 2012).

Opini publik ini selanjutnya dikaji secara mendalam dan memunculkan istilah yang kemudian disebut text mining. Text mining inilah yang kemudian juga akan dilakukan penulis dalam artikel ini baik sebagai media komunikasi. Di mana pada umumnya organisasi publik menggunakan media sosial sebagai media komunikasi yang menghubungkannya dengan orang yang mereka layani. Selain itu media sosial, juga dapat menjadi tempat bagi penerima kebijakan atau layanan untuk dapat menilai secara langsung kualitas pelayanan yang mereka dapatkan. Selain itu, secara umum media sosial juga memiliki potensi untuk membuat publik lebih dapat terlibat dalam proses pembuatan kebijakan.

3.2 Policy Cycle dan e-Policy Cycle

(5)

kondisi ideal sebuah kebijakan seharusnya merepresentasikan kebutuhan publiknya. Namun dalam realitas, pembuatan kebijakan merupakan sebuah proses yang sangat kompleks.

Tidak heran jika kemudian konsep siklus kebijakan pun mendapat banyak kritik. Everett (2003) seperti dikutip oleh Höchtl, et.al (2016) mengatakan bahwa kebijakan terlalu menekankan pada proses dibanding pada kualitas dan kinerja kebijakan. Untuk itu pula kemudian Höchtl, et.al (2016) mengenalkan dan mengusulkan untuk melakukan revisi terhadap siklus kebijakan dan mengaitkannya dengan big data. Menurut Höchtl, et.al (2016) keberadaan internet dan berbagai media berbasis web 2.0, seperti media sosial di mana publik dapat secara langsung menyampaikan opininya dapat dimanfaatkan dalam seluruh tahapan siklus kebijakan. Konsep e-policy cycle seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Perbandingan Policy Cycle dengan e-Policy Cycle

Konsep utama dari e-policy cycle adalah menggunakan data yang bisa dapat dari internet dari berbagai platform termasuk di media sosial dalam proses pembuatan kebijakan publik. Perbedaan utamanya adalah penghilangan elemen evaluasi yang umumnya pada siklus kebijakan konvensional di lakukan di akhir setelah proses lainnya selesai. Namun dalam e-policy cycle, evaluasi dapat dilakukan untuk masing-masing tahap secara terus menerus.

(6)

terhadap kebijakan dan program pemerintah; (6) menggali aspirasi, opini, dan masukan masyarakat terhadap kebijakan dan program pemerintah (Kemenpan-rb, 2012).

Twtter atau media sosial microblogging pada umumnya menampung banyak hal termasuk opini penggunanya. Dalam hal ini opini yang berupa teks tersebut merupakan data tidak terstruktur yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan kebijakan. Höchtl, et.al (2016) secara khusus menggaris bawahi bawah media sosial dapat digunakan untuk melihat apa yang bicarakan publik, dan apa yang menjadi preferensinya. Dalam konteks ini, setidaknya data dari Twitter dapat dimanfaatkan dalam tahapan agenda setting, policy discussion dan policy acceptance (Höchtl et al., 2016). Dalam artikel ini kami akan mengkaji untuk salah satu di antaranya, yaitu untuk tahap agenda setting.

4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil

(7)

Gambar 2. Kata-kata yang paling sering muncul dalam tweet yang diposting akun @KemenDesa dari tanggal ... sampai ...

Dari kata-kata tersebut selanjutnya penulis mencoba untuk membangun topik yang kemungkinan dapat dikembangkan dari setiap tweet yang disampaikan melalui akun tersebut. Di mana kata desa, menteri, dan dana merupakan beberapa kata yang cukup mendominasi dengan frekuensi kemunculannya lebih dari 300 kali dalam dokumen yang dijadikan sampel dengan cara mencari asosiasinya dengan kata lain. Di sini didapat bahwa kata “desa” berasosiasi dengan kata “dana” dan “pendamping” sebanyak 0.33 dan 0.28. Sedangkan kata “menteri” berasosiasi sebesar 0.28 dengan “marwan”. Kata “dana” berasosiasi dengan kata “desa” dan “penggunaan”. Untuk kata pembangunan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Asosiasi kata "pembangunan" dalam timeline akun @KemenDesa

(8)

kementerian terkait merupakan kata populer dan sering disampaikan melalui Twitter. Terkait dengan dana desa isu tentang penggunaannya juga sering disampaikan atau menjadi topik yang disampaikan melalui Twitter. Sedangkan terkait pembangunan, kita juga dapat mengetahui bahwa kata pembangunan berasosiasi dengan percepatan, dan beberapa kata lainnya yang dapat dipahami sebagai kebutuhan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Kata tersebut di antaranya adalah infrastruktur dan irigasi.

Untuk melihat respons masyarakat atau dalam konteks ini lebih sering disebut sebagai netizens, selanjutnya kami mencoba untuk membuat kategori tweet yang disampaikan berserta dengan jumlah retweet, reply, dan favorite. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Gambar 3. Persentase respons netizen terhadap tweet @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 - 31 Juni 2017

Secara keseluruhan, terdapat 4529 tweet yang diposting akun @KemenDesa dalam kurun waktu yang disebutkan di atas. Dari jumlah tweet tersebut kemudian dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu tweet kategori 1, di mana di dalamnya berisi foto kegiatan, tweet kategori 2 yang di dalamnya mengandung tautan berita baik dari website institusi sendiri maupun berita dari media online lainnya. Tweet kategori 1 mendapat favorite, reply, dan retweet masing-masing sebanyak 1296, 843, dan 1398 kali. Sedangkan tweet kategori 2 difavoritkan 834 kali, mendapat balasan 521 kali, dan di retweet 1009 kali. Untuk tweet yang kami kategorikan sebagai kategori 3 sebenarnya masih dapat dibagi lagi menjadi beberapa kategori, karena di dalamnya ada yang berupa kultwit dan tweet informasi.

0 20 40 60 80 100 120

favorite reply retweet

(9)

Dalam jangka waktu yang sama, akun @Kemendesa mendapat sebanyak 9253 tweet dari netizen yang ditujukan ke akun tersebut dengan cara mereply langsung dan atau memention akun @DemenDesa. Dari tweet yang ditujukan oleh netizen tersebut beberapa kata populernya dapat dilihat pada gambar 4 berikut.

Gambar 4. Wordcloud dari tweet yang memention akun @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 sampai 30 Juni 2017

Dari gambar 4 diketahui bahwa kata desa cukup mendominasi, disusul dengan kata “dana”, “pendamping” dan “mohon”. Kata “mohon” cukup banyak di gunakan umumnya untuk meminta informasi tentang hal yang berikatan dengan dana, pendamping desa dan program Kemendesa lainnya seperti dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan data tweet yang ditujukan kepada akun @KemenDesa tersebut selanjutnya dapat dibangun sebuah topik atau isu berdasarkan kata-kata yang memiliki keterkaitan atau berasosiasi satu sama lain. Secara sederhana hal tersebut misalnya dapat menggunakan packages “topicmodels” dalam Rstudio.

Tabel 2. Asosiasi kata "mohon" dalam tweet yang ditujukan pada akun @KemenDesa

(10)

yang disampaikan oleh akun @KemenDesa melalui twitter dengan kata populer yang kurang lebih sama seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 5. Frekuensi lima belas kata yang paling sering digunakan untuk memention akun @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 sampai 30 Juni 2017

4.2 Pembahasan

(11)

Hal ini terbukti dengan adanya respons dan juga topik yang dapat diekstrak dari data yang diambil dari media sosial twitter. Sebagaimana diketahui, dalam sampel data yang digunakan baik topik yang diambil dari akun @KemenDesa maupun topik yang di ambil dari tweet sebagai responsnya memiliki kemiripan. Hal ini sejalan dengan tujuan agenda setting di mana organisasi publik harus mengetahui apa yang dibutuhkan oleh publik sementara di sisi lain, publik juga mencoba untuk memberikan masukkan terkait dengan apa yang dibutuhkannya.

Terkait dengan hal tersebut, dari kajian yang dilakukan dapat diketahui bahwa publik banyak membutuhkan informasi terkait dengan kegiatan atau kebijakan yang dilaksanakan oleh organisasi publik terkait. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan kata “mohon” yang berkorelasi dengan kata seperti “info”, “infonya”, “informasi”, “pendamping”, dan “petunjuk”. Topik seperti itu dapat menjadi salah satu petunjuk bagi sebuah organisasi publik untuk membuat sebuah kebijakan. Misalnya, terkait dengan pemberian informasi tentang sebuah kegiatan melalui berbagai media.

Sebagaimana dikatakan oleh Höchtl et al., (2016) bahwa media sosial bisa menjadi salah satu media alternatif dalam agenda setting, di mana pada umumnya diperankan oleh media konvensional. Namun kelebihan yang didapat dengan menggunakan data dari media sosial adalah sifatnya yang terbuka dan bisa menjamin semua orang ikut berpartisipasi. Dalam konteks ini, walaupun data dari media sosial juga masih memiliki pertanyaan besar terkait representasinya, tapi setidaknya hal ini bisa menjadi early warning system bagi organisasi publik yang bisa didapat dari ruang publik online dengan cepat.

4. Simpulan

(12)

5. Keterbatasan dan penelitian lanjutan

Penelitian ini hanya menggunakan satu sampel sumber data yaitu twitter dari dan ke akun @KemenDesa sehingga masih membutuhkan konfirmasi dari data yang bersumber dari akun lain dan media sosial serta sumber teks online lainnya. Namun walaupun demikian, artikel ini setidaknya telah menunjukkan apa yang bisa dilakukan dan didapat untuk kasus yang spesifik dari sebuah organisasi publik. Selain itu juga bisa menjadi masukan bagi organisasi publik untuk mendapatkan feedback dari masyarakat dalam rangka membuat kebijakan yang lebih akuntabel dan deliberatif.

Penelitian tentang sentimen publik di media sosial menjadi salah satu penelitian yang dapat dilakukan di masa depan. Hal ini kemudian juga bisa menjadi ukuran bagaimana tingkat penerimaan masyarakat terkait sebuah kebijakan spesifik atau juga terkait dengan kinerja sebuah organisasi publik tertentu. Penelitian yang lebih mendalam untuk mengeksplorasi data tidak terstruktur yang bersumber dari media online juga tentu masih harus dilakukan untuk mengetahui manfaatnya dalam setiap tahap siklus kebijakan yang ada atau digunakan di sebuah sistem pemerintahan. Pemanfaatan data twitter sendiri bisa dikaji lebih jauh dengan mengumpulkan data yang di bagikan melalui twitter untuk lebih mendalami tentang apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Referensi

Bakshy, E., Hofman, J., Mason, W., & Watts, D. (2011). Everyone’s an influencer: quantifying influence on twitter. Proceedings of the Fourth ACM International Conference on Web Search and Data Mining SE - WSDM ’11, 65–74. https://doi.org/doi: 10.1145/1935826.1935845

Bertot, J. C., Jaeger, P. T., & Grimes, J. M. (2012). Promoting transparency and accountability through ICTs, social media, and collaborative e-government. Transforming Government: People, Process and Policy, 8(2), 283–308. https://doi.org/doi:10.1108/TG-08-2013-0026

Bertot, J. C., Jaeger, P. T., & Hansen, D. (2012). The impact of polices on government social media usage: Issues, challenges, and recommendations. Government Information Quarterly, 29(1), 30–40. https://doi.org/10.1016/j.giq.2011.04.004

(13)

Costa, E., Haynes, N., Mcdonald, T., Sinanan, J., Spyer, J., Venkatraman, S., & Wang, X. (2016a). Academic studies of social media Book. In How the World Changed Social Media. UCL Press. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/j.ctt1g69z35.9

Costa, E., Haynes, N., Mcdonald, T., Sinanan, J., Spyer, J., Venkatraman, S., & Wang, X. (2016b). What is social media? In How the World Changed Social Media (pp. 0–8). UCL Press. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/j.ctt1g69z35.8%0AJSTOR

Dahlgren, P. (2012). Public Intellectuals, Online Media, and Public Spheres: Current Realignments. International Journal of Politics, Culture, and Society, 25(4), 301–318. https://doi.org/10.1007/s

Dahlgren, P. (2013). The Political Web: Media, Participation and Alternative Democracy. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Geremia, R. J. (1978). Public Affairs and Policy Impact. Southern Review of Public Administration, 2(2), 208–220.

Habermas, J. (1991). The Structural Transformatin of the Public Sphere. Massachusetts: MIT Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Hasibuan, N. (2015). Jumlah Pengguna Twitter di Indonesia Akhirnya Terungkap. Retrieved July 19, 2017, from http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150326141025-185-42076/jumlah-pengguna-twitter-di-indonesia-akhirnya-terungkap/

Höchtl, J., Parycek, P., & Schöllhammer, R. (2016). Big data in the policy cycle: Policy decision making in the digital era. Journal of Organizational Computing and Electronic Commerce, 26(1–2), 147–169. https://doi.org/10.1080/10919392.2015.1125187

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business Horizons, 53(1), 59–68. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2009.09.003

Kemenpan-rb. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pemanfaatan Media Sosial Instansi Pemerintah, Pub. L. No. 83 (2012). Indonesia.

Kurniawan, J. (2016). Transformasi Partisipasi Publik dalam Perumusan Kebijakan di Era. Retrieved July 31, 2017, from http://setkab.go.id/transformasi-partisipasi-publik-dalam-perumusan-kebijakan-di-era-reformasi/

Levasseur, D. G., & Carlin, D. B. (2001). Egocentric Argument and the Public Sphere: Citizen Deliberations on Public Policy and Policymakers. Rhetoric and Public Affairs, 4(3), 407– 431. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/41940589

(14)

in the public sector. International Journal of Public Sector Management, 15(3), 170–187. https://doi.org/10.1108/09574090910954864

Sideri, M., Filippopoulou, A., Rouvalis, G., Kalloniatis, C., & Gritzalis, S. (2017). Social Media Use for Decision Making Process in Educational Settings: The Greek Case for Leadership’s Views and Attitude in Secondary and Tertiary Education. In Proceedings of the 50th Hawaii International Conference on System Science (HICSS-50). https://doi.org/http://hdl.handle.net/10125/41503

Widiartanto, Y. H. (2016). 2016, Pengguna Internet di Indonesia Capai 132 Juta. Kompas.com,

1. Retrieved from

Figur

Gambar 1. Perbandingan Policy Cycle dengan e-Policy Cycle

Gambar 1.

Perbandingan Policy Cycle dengan e-Policy Cycle p.5
Tabel 1. Asosiasi kata "pembangunan" dalam timeline akun @KemenDesa

Tabel 1.

Asosiasi kata "pembangunan" dalam timeline akun @KemenDesa p.7
Gambar 3. Persentase respons netizen terhadap tweet @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 - 31 Juni 2017

Gambar 3.

Persentase respons netizen terhadap tweet @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 - 31 Juni 2017 p.8
Tabel 2. Asosiasi kata "mohon" dalam tweet yang ditujukan pada akun @KemenDesa

Tabel 2.

Asosiasi kata "mohon" dalam tweet yang ditujukan pada akun @KemenDesa p.9
Gambar 5. Frekuensi lima belas kata yang paling sering digunakan untuk  memention akun @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 sampai 30 Juni 2017

Gambar 5.

Frekuensi lima belas kata yang paling sering digunakan untuk memention akun @KemenDesa dari 20 Oktober 2014 sampai 30 Juni 2017 p.10

Referensi

Memperbarui...