• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Internasional Perkembangan dan Per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hukum Internasional Perkembangan dan Per"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Ruth Hanna Simatupang Page 1 INISIASI 1

HUKUM INTERNASIONAL: PERKEMBANGAN DAN ISTILAH

1

Pada inisiasi pertama ini akan dibahas tentang perkembangan dan berbagai peristilahan

yang dipergunakan dan dibahas oleh para ahli Hukum Internasional di dunia dan Indonesia. Isi

dari inisiasi pertama ini diambil dari berbagai buku, artikel dan tulisan-tulisan terkait serta dari

modul 1 Hukum Internasional. Bahan ajar ini merupakan tambahan dan/atau pelengkap dari

modul serta sebagai dasar untuk memahami materi Hukum Internasional secara keseluruhan.

Mengetahui dan memahami batasan serta sejarah perkembangan Hukum Internasional

merupakan langkah awal untuk memahami tujuan, isi dan bentuk Hukum Internasional.

Pemahaman tersebut diperlukan untuk dapat memahami segala aspek Hukum Internasional yang

ada.

Dari batasan-batasan yang dituliskan oleh berbagai ahli hukum, dapat dikatakan bahwa

Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau

persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara:2 a. Negara dengan negara;

b. Negara dengan subjek hukum lain yang bukan negara atau hubungan antar subjek

hukum bukan negara.

Namun sebelum mencapai kesepakatan atas istilah dan batasan Hukum Internasional

tersebut, kita sebaiknya memahami perjalanan perkembangan Hukum Internasional itu sendiri.

Hal ini diperlukan agar kita mendapat gambaran yang lebih rinci dan lengkap mengapa para ahli

hukum akhirnya mencapai pada suatu kesamaan dalam melihat permasalahan Hukum

Internasional yang berbeda dengan hukum perdata internasional.

1Rangkuman dari berbagai sumber dan modul Hukum Internasional. 2

(2)

Ruth Hanna Simatupang Page 2

1. Sejarah Perkembangan Hukum Internasional

Perkembangan Hukum Internasional dibagi dalam beberapa zaman yang masing-masing

ditandai sesuai dengan perkembangan masyarakat internasional itu sendiri. Sejarah

perkembangan hukum internasional dibagi dalam beberapa rentang masa:

A. Masa Sebelum Masehi:

Kira-kira 2100 SM terdapat sebuah perjanjian perdamaian yang dibuat oleh Penguasa

Lagash, Ennatum, sebagai pihak yang menang perang dengan sebuah negara kota,

yang dipimpin oleh Umma, di Mesopotamia. Dalam perjanjian perdamaian tersebut

pengertian negara bagi kedua belah pihak masih sangat sederhana, namun perjanjian

tersebut merupakan bukti adanya kesepakatan tentang garis batas negara/wilayah

yang diakui diantara kedua pihak tersebut.3

Pada perkembangan selanjutnya perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat lebih

dari seribu tahun kemudian yang dibuat oleh Ramses II dari Mesir dan Raja Hittites

untuk perdamaian dan persahabatan. Perkembangan selanjutnya juga ditemukan

sebuah perjanjian lain yang dibuat di Kadesh sebelah Utara Damaskus di mana telah

diakui adanya penghormatan untuk integritas wilayah, menghentikan agresi dan

membuat aliansi pertahanan.4

Sejak itu banyak perjanjian serupa dibuat oleh negara-negara yang di Timur Tengah

termasuk Israel yang menyumbangkan ide pada perkembangan Hukum Internasional

saat ini.

B. Masa klasik: (di India, Mesir, Cina, Yunani, Romawi)

Dari catatan sejarah, diketahui bahwa India menyumbangkan aturan mengenai

hubungan antar raja, dimana diatur kedudukan dan hak-hak istimewa bagi para utusan

raja, membuat perjanjian antar kerajaan dan aturan berperang.5 Pada abad yang sama China juga menyumbangkan pemikiran mengenai pembentukan sistem kekuasaan

negara yang bersifat regional tributary state.6 Pembentukan perserikatan

3

Malcolm N Shaw, International Law, Cambridge: Grotius Publications Limited, 1986, hal. 13.

4

Ibid.

5

Mochtar Kusumaatmadja, Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Alumni, 2003, hal. 26.

6

(3)

negeri-Ruth Hanna Simatupang Page 3

negara Tiongkok melalui jaringan perdagangan yang dicanangkan oleh Kong Hu Cu.

Di samping itu china juga mengenalkan sistem arbitrase. Di belahan dunia lain,

Yunani kuno memperkenalkan hukum intermunicipal, yaitu kaidah-kaidah

kebiasaan yang berlaku dalam menjalankan hubungan antar negara-negara kota,

antara lain: aturan mengenai utusan, pernyataan perang dan perbudakan atas

tawanan-tawanan perang.7

Sumbangan bangsa Romawi yang cukup besar hingga kini terhadap hukum adalah

konsep the Corpus Juris Civilis yang diperkenalkan pada masa Kaisar Justinianus,

antara lain: occupation, servitut, bona fides, pacta sunt servanda.8

C. Masa abad pertengahan:

Abad pertengahan disebut sebagai the Dark Age (masa kegelapan), dimana hukum

alam mengalami kemajuan kembali melalui transformasi di bawah gereja. Peran

keagamaan mendominasi sektor-sektor sekuler. Sistem kemasyarakatan di Eropa

pada waktu itu terdiri dari beberapa negara yang berdaulat yang bersifat feodal dan

diatur sepenuhnya oleh Tahta Suci. Pada masa ini peran gereja terlalu besar sehingga

perkembangan Hukum Internasional tidak begitu besar dan berarti. Namun

negara-negara yang berada di luar jangkauan peran gereja hukum internasional terus

menunjukkan perkembangan, seperti adanya traktat-traktat yang dibuat oleh negara

untuk mengatur peperangan, perdamaian, gencatan senjata dan

persekutuan-persekutuan lainnya. Pada masa ini pula dikenal konsep perang adil sesuai dengan

ajaran kristen yang dicetuskan oleh Bartolo. Tokoh lain yang juga menyumbangkan

konsep tentang penguasaan dan pendudukan negara adalah Fransisco De Vittoria.

Menurutnya konsep ius inter gentes (hukum bangsa-bangsa) harus diberlakukan bagi

seluruh umat manusia. Tokoh lainnya adalah Alberico Gentili, yang menjelaskan

hukum perang, doktrin perang adil, pembentukan traktat, hak-hak budak dan

negeri penghasil sumber daya. Tujuan utamanya adalah kekuasaan dan ekonomi. Dengan adanya hubungan perdagangan maka negara-negara lain mengakui keberadaan negara China. (Disarikan dari berbagai sumber).

7

J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, diterjemahkan oleh Bambang Iriana, Jakarta, Sinar Grafika, hal. 9.

8

(4)

Ruth Hanna Simatupang Page 4

kebebasan di laut 9 Gentili membahas 6 persoalan penting dalam Hukum Internasional, yaitu:

a. Persoalan perang adil dalam hal ini dipersoalkan kapan suatu perang ini

dianggap adil serta sah menurut hukum dan kapan tidak sah dan tidak adil

menurut hukum.

b. Persoalan hukum perjanjian.

c. Persoalan perwakilan diplomatik.

d. Persoalan netralitas.

e. Persoalan hukum laut.

f. Persoalan perwasitan.

Penulis-penulis pelopor lainnya, adalah: Hugo De Groot atau Grotius, Vittoria

(1480-1546), Belli (1502-1575), Brunus (1491-1563), Fernando Vasgues de Menchaca

(1512-1569), dan Ayala (1548-1617). Karya-karya mereka yang penting adalah

hukum perang antar negara, dan dalam kaitan dengan negara-negara di Eropa, mereka

menggunakan satuan tentara tetap. Hal tersebut menyebabkan adanya praktik

peperangan yang seragam diantara negara tersebut. Sumbangan pemikiran Grotius

bagi perkembangan hukum internasional yang fenomenal adalah pembedaan antara

hukum alam dengan hukum bangsa-bangsa. Menurutnya hukum bangsa-bangsa

berdiri sendiri terlepas dari hukum alam. Hukum bangsa-bangsa mendapatkan

kekuatan mengikatnya dari kehendak negara-negara yang terlibat di dalamnya.

Grotius juga mengembangkan konsep hukum internasional moderen dengan

membedakan antara perang adil dan tidak adil, pengakuan atas hak-hak dan

kebebasan-kebebasan individu, netralitas terbatas, gagasan tentang perdamaian,

konferensi-konferensi periodik antara pengusa-penguasa negara serta kebebasan di

laut.10 Hal tersebut terlihat pada praktiknya saat ini dimana konsep laut bebas (open

sea) yang tidak dapat dijadikan subjek kedaulatan bagi satu negara pantai diterima

dalam Hukum Internasional.

9

Ibid, 35-36.

10

(5)

Ruth Hanna Simatupang Page 5

D. Masa moderen, sekitar abad 17 sampai kini.

Perkembangan Hukum Internasional di amsa moderen sangat dipengaruhi oleh

adanya perjanjian perdamaian Westphalia. Menurut Mochtar Kusumaatmaja,

perdamaian Westphalia dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah hukum

internasional moderen dan meletakkan dasar-dasar masyarakat moderen saat ini.

Bentuk negara tidak lagi berdasarkan kerajaan tetapi didasarkan atas

negara-negara nasional, serta adanya pemisahan antara gereja dengan urusan pemerintahan.11 Pada abad ke 17 dan 18, Cornelis Van Bynkershoek (1673-1743), mengemukakan

pentingnya actual practice dari negara-negara dari pada hukum alam. Sumbangan

pemikiran lainnya adalah teori tentang hak dan kewajiban negara netral terhadap

negara-negara yang berperang.

Pemikir-pemikir lainnya adalah:12

a. Christian Wolf (1632-1694), dengan teori Civitas Maxima yang menyatakan

bahwa sebagai negara dunia maka harus meliputi negara-negara dunia;

b. Emmerich De Vattel (1714-1767) memperkenalkan prinsip persamaan antar

negara-negara.

Pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19, yang ditandai dengan adanya revolusi

Perancis dan gerakan di wilayah jajahan negara Eropa di Amerika. Pada masa ini

terjadi pergeseran dari kekuasaan absolut negara bergeser kepada kekuasaan ditangan

rakyat dan dicanangkannya konsep demokrasi dalam bentuk yang modern. Pada

permulaan abad ke-19, Napoleon berkuasa di Prancis dan menobatkan dirinya sebagai

Kaisar. Kemudian Napoleon dikalahkan pada tahun 1814-1815. Kongres Wina yang

mengakhiri kekuasaan Napoleon meletakkan dasar adanya perimbangan kekuasaan di

Eropa. Hukum Internasional menjadi Eropa sentris, yang menganggap Eropa sebagai

negara yang civilised, negara yang didasarkan pada agama kristen. Negara-negara di

luar itu hanya dapat menjadi anggota dengan syarat yang ditetapkan oleh penguasa

barat (western power).

Di Eropa timbullah gerakan dari kerajaan-kerajaan di Eropa yang ingin

menghilangkan pengaruh kekuasaan dari Napoleon dan mempertahankan kekuasaan

11

Ibid, hal. 34.

12

(6)

Ruth Hanna Simatupang Page 6

absolut dari raja-raja dan mendirikan Persekutuan Suci (Holly Alliance). Tujuan dari

pendirian Holy Alliance itu adalah ingin mengembalikan hegemoni kekuasaan

hegemoni kerajaan-kerajaan Eropa. Usaha ini mengalami kegagalan karena

daerah-daerah jajahan kerajaan Eropa yang terletak di daratan Amerika hendak melepaskan

diri dari Eropa. Situasi yang demikian menyebabkan anggota Holly Aliance solider

untuk menumpas pemberontakan di daratan Amerika tersebut. Maksud Holly Aliance

mendapat tentangan keras dari Amerika Serikat Presiden Amerika Serikat pada Tahun

1823 mengeluarkan doktrin yang terkenal dengan Doktrine Monroe. Isi dari Doktrin

Monroe itu adalah:

1. Benua Amerika tidak dapat dianggap sebagai jajahan Eropa.

2. Amerika tidak akan ikut campur dalam persoalan Eropa,sebaliknya suatu usaha.

Dari negara-negara Eropa (Holly Alliance) untuk menumpas pemberontakan di

Amerika yang membebaskan diri dari Eropa dianggap sebagai membahayakan

keamanan Amerika Serikat. Pengaruh Doktrine Monroe ini dalam Hukum

Internasional sangat besar yaitu diakuinya prinsip tidak akan ikut campur dalam

urusan negara lain.

Perkembangan yang penting lainnya adalah adanya revolusi industri di Eropa yang

mendorong terciptanya dikotomi ekonomi dari modal dan buruh yang pengaruhnya

meluas ke seluruh dunia. Faktor-faktor ini menambah sejumlah institusi dalam

Hukum Internasional publik ataupun hukum perdata internasional yang

mengakomodasi kemajuan-kemajuan tadi.

Hukum Internasional berkembang sangat pesat seiring dengan adanya

gerakan-gerakan dan timbulnya negara-negara baru tersebut, kemudahan hubungan

komunikasi antar negara, perkembangan teknologi yang dapat menghubungkan

negara-negara dengan lebih singkat dan juga perkembangan peralatan militer. Hal

tersebut mendorong para ahli hukum untuk harus segera membentuk sistem hukum

internasional yang bersifat tegas untuk mengatur hubungan-hubungan internasional

tersebut. Pada abad ini kaidah-kaidah tentang perang dan netralitas serta

penyelesaian perkara-perkara internasional melalui lembaga arbitrase internasional

(7)

Ruth Hanna Simatupang Page 7

terbiasa dengan membuat berbagai traktat untuk mengatur hubungan-hubungan

diantara mereka.13

Para ahli hukum yang terkemuka pada abad 19, antara lain: Henry Wheaton, De

Martens, Kent, Kluber, Philimore, Calvo, Fiore, Hall. Pada abad ini juga tercatat

berdirinya organisasi internasional yang menampung para ahli hukum internasional di

dalam the Law International Association dan Institut De Droit International. Hukum

internasional juga menjadi objek studi dalam skala yang luas dan memungkinkan

penanganan persoalan internasional secara lebih profesional.

Di Abad ke-20, Hukum internasional berkembang lebih luas dan lebih cepat lagi, hal

tersebut terlihat dari dibentuknya Permanent of Court Arbitration pada Konferensi

Hague 1899 dan 1907. Permanent Court of International Justice merupakan

pengadilan yudisial internasional pada tahun 1921 yang diganti menjadi International

Court of Justice pada tahun 1948 hingga sekarang. Pada abad ini juga dibentuk

organisasi internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memiliki fungsi seperti

pemerintahan dunia yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan

dunia. Pada masa ini, para ahli Hukum Internasional mulai mengembangkan konsep

Hukum Internasional berdasarkan praktik dan putusan-putusan pengadilan.14

2. Perkembangan Hukum Internasional Saat ini

Pada beberapa tahun terakhir Hukum Internasional juga mulai mengembangkan berbagai

aturan yang menyangkut hal-hal berikut:

a. Pembatasan penggunaan senjata-senjata penghancur masal seperti nuklir;

b. Bisnis internasional;

c. Pengangkutan internasional (darat, laut dan udara hingga angkasa);

d. Pengawasan lingkungan hidup;

e. Eksplorasi dan eksplotasi sumber-sumber daya alam (darat, laut, terutama yang

berbatasan dengan negara lain);

f. Sistem jaringan informasi;

13

Ibid, hal. 8.

14

(8)

Ruth Hanna Simatupang Page 8

g. Sistem keamanan internasional untuk melawan gerakan terorisme;15

h. Klaim ganti kerugian yang menimpa warga negara asing yang berada di negara lain;

i. Penerimaan dan pengusiran warga negara asing oleh suatu negara;

j. Persoalan nasionalitas;

k. Pemberlakuan extrateritorial beberapa perundangan nasional;

l. Penafsiran berbagai perjanjian internasional;

m. Pemberlakuan perjanjian-perjanjian yang rumit di bidang perdagangan, keuangan,

pengangkutan, penerbangan, energi nuklir oleh sebagian besar negara-negara maju;

n. Pelanggaran hukum internasional yang mengakibatkan terjadinya perang;

o. Human trafficking;

p. Perlucutan senjata; dan

q. Perdagangan senjata ilegal.

3. Kesimpulan

Berdasarkan gambaran di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Hubungan internasional yang diatur dalam Hukum Internasional telah dimulai

sejak 3000 tahun sebelum masehi (SM). Namun Hukum Internasional

berkembang sebagai ilmu pengetahuan baru dimulai pada abad ke-14 dan ke-15.

b. Hukum Internasional modern sebagai suatu sistem hukum yang mengatur

hubungan antar negara nasional.

c. Sejak perjanjian perdamaian Westphalia ditandatangani untuk mengakhiri perang

30 tahun, mulailah timbul negara-negara baru yang berdaulat.

d. Perjanjian Westphalia menempatkan negara-negara di dunia menjadi sama.

e. Karya-karya para ahli Hukum membentuk berbagai pemikiran namun yang

utamanya adalah Hukum Internasional harus mementingkan praktik atau

kebiasaan-kebiasaan masyarakat internasional sebagai sumber hukum dalam

menyelesaikan permasalahan di dalam masyarakat internasional.

f. Hukum internasional berkembang sesuai dengan kebutuhan zamannya, yang

diawali pada masa klasik yang mengenal berbagai bentuk hukum internasional

dari praktik hubungan antar penguasa pada masa itu. Pada masa klasik hingga

15

(9)

Ruth Hanna Simatupang Page 9

abad pertengahan, hukum internasional tidak terlau banyak berkembang. Namun

pada abad ke-16 hingga abad kini, hukum internasional moderen berkembang

secara pesat. Hal tersebut terlihat dari terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa

dan berbagai organisasi internasional lain yang berfungsi sebagai penjaga dan

menciptakan perdamaian dunia.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kajian ini disimpulkan bahwa pengutamaan hukum yang mengatur hubungan hukum antar negara dalam hubungan Internasional, dikenal adanya 2 pandangan, yaitu: (1) Faham

Terjalinnya kerjasama antar negara anggota di bidang politik sehingga dapat mengurangi dampak negatif rivalitas antar negara-negara besar di Eropa yang telah ada

Pertumbuhan imigran dalam jumlah besar setelah Perang Dunia II terjadi di beberapa negara Eropa khususnya di negara-negara Eropa Barat baik yang berasal dari Eropa dan non-Eropa..

HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL ATAS SUMBER DAYA AIR YANG TERLETAK DI PERBATASAN ANTAR NEGARA.. (TRANSBOUNDARY

- Hukum Publik Internasional (Hukum Antar Negara) yaitu hukum yang mengatur hubungan antar negara yang satu dengan negara- negara yang lain dalam hubungan internasional..

Dalam kajian ini disimpulkan bahwa pengutamaan hukum yang mengatur hubungan hukum antar negara dalam hubungan Internasional, dikenal adanya 2 pandangan, yaitu: (1) Faham

Lahir di Jakarta, 06 April 1970, adalah Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, dengan keahlian Hukum Tata Negara, sebagai Ketua P3IH Fakultas Hukum Universitas

Pembahasan Kejahatan Perang dalam Konteks Hukum Humaniter