ANALISIS PRODUKSI SERASAH DAN LAJU DEKOMPOSISI
BERBAGAI JENIS LAMUN DI PERAIRAN PULAU BARRANG LOMPO
SKRIPSI
Oleh :
KRISYE
L11107057
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
ANALISIS PRODUKSI SERASAH DAN LAJU DEKOMPOSISI
BERBAGAI JENIS LAMUN DI PERAIRAN PULAU BARRANG LOMPO
Oleh :
KRISYE
L11107057
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
Pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Hasanuddin
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
ABSTRAK
KRISYE, L111 07 057. “Analisis Produksi Serasah dan Laju Dekomposisi Berbagai Jenis Lamun di Perairan Pulau Barrang Lompo” di bawah bimbingan Ibu Andi Niartiningsih sebagai Pembimbing Utama dan Bapak Supriadi sebagai Pembimbing Anggota.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai bulan September 2011 di perairan Pulau Barrang Lompo dengan tujuan untuk mengetahui produksi serasah dan laju dekomposisi berbagai jenis lamun di perairan Pulau Barrang Lompo.
Sampel pengamatan untuk produksi serasah yaitu lamun jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium dan Halophila ovalis sedangkan sampel pengamatan untuk laju dekomposisi tidak menggunakan lamun E. acoroides dan T.
hemprichii. Stasiun pengamatan yaitu berada di sebelah Barat dan Selatan P. Barrang Lompo. Metode yang digunakan untuk produksi serasah yaitu metode kurungan dimana kurungannya terbuat dari waring dengan mesh size 3 mm dan tinggi 1 – 2 m dan masing-masing sisinya berukuran 50 cm x 50 cm. Setiap 24 jam serasah yang terapung maupun yang tenggelam dikumpulkan dan
dipisahkan menurut jenis lamunnya. Untuk laju dekomposisi, metode yang digunakan yaitu memasukkan daun lamun dengan berat masing-masing lamun 5 g kecuali untuk H. ovalis 1 g, ke dalam 18 kantong untuk tiap jenis dimana kantong terbuat dari waring berukuran 5 cm x 10 cm dengan mesh size 1 mm dan kemudian diinkubasi di dasar perairan. Selain itu dibuat sampel standar dimana hasil akhir berat kering dari sampel standar akan digunakan sebagai rasio pengali untuk mencari berat kering awal sampel. Pengambilan sampel dilakukan setiap 10 hari kecuali untuk H. ovalis 7 hari.
Hasil penelitian produksi serasah di stasiun Barat, produksi serasah tertinggi pada jenis T. hemprichii baik yang terapung maupun tenggelam (0.0031 gbk/tegakan dan 0.0068 gbk/tegakan) sedangkan produksi serasah terendah pada jenis H. ovalis baik yang terapung maupun tenggelam (2.222 x 10-5
gbk/tegakan dan 0 gbk/ tegakan). Di stasiun Selatan, produksi serasah tertinggi pada jenis T. hemprichii baik yang terapung maupun yang tenggelam (0.0005 gbk/tegakan dan 0.0024 gbk/tegakan) sedangkan produksi serasah terendah pada jenis H. ovalis baik yang terapung maupun yang tenggelam dengan nilai yang sama sebanyak 1.754 x 10-5 grbk/tegakan. Hasil penelitian di stasiun Barat
dan Selatan, laju dekomposisi tertinggi untuk C. rotundata (4.47% dan 4.94%), H. uninervis (4.26% dan 4.14%), S. isoetifolium (6.33% dan 7.83%) dan H. ovalis (3.33% dan 3.13%).
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Analisis Produksi Serasah dan Laju Dekomposisi Berbagai Jenis Lamun di Perairan Pulau Barrang Lompo
Nama Mahasiswa : Krisye
No. Pokok : L 111 07 057
Jurusan : Ilmu Kelautan
Skripsi telah diperiksa dan disetujui oleh : Pembimbing Utama,
Prof. Dr. Ir. A ndi Niartiningsih, MP
NIP. 196112011987032002
Pembimbing Anggota,
Supriadi, ST, M.Si
NIP. 196912011995031002 Mengetahui :
Dekan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan,
Prof. Dr. Ir. A ndi Niartiningsih, MP
NIP. 196112011987032002
Ketua Program Studi Ilmu Kelautan,
Dr.Ir. Amir Hamzah Muhiddin, M.Si
NIP. 196311201993031002
RIWAYAT HIDUP
Krisye dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1989 di Ambon, Maluku. Anak pertama dari dua orang bersaudara dari Ayahanda Albertus David Pasanea dan Ibunda Yola Sahalessy.
Penulis memulai pendidikannya pada tahun 1994-1995 di Taman Kanak Kanak Elim, Makassar. Pada tahun 1995-2001 di Sekolah Dasar Inpres Batua I, Makassar. Pada tahun 2001-2004 di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 8 Makassar dan pada tahun 2004-2007 Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Makassar. Di tahun ajaran 2007/2008 penulis diterima sebagai Mahasiswa di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin Makassar melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiwa Baru (SPMB).
Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi asisten pada beberapa mata kuliah diantaranya Dasar-Dasar Komputasi, Fishiologi Hewan Air, Vertebrata Laut, Biologi Laut dan Koralogi. Selain menjadi asisten Penulis juga diangkat menjadi operator di Laboratorium Komputer Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Di bidang keorganisasian penulis pernah menjabat sebagai Ketua Panitia Natal PERMAKRIS Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin tahun 2009. Penulis juga pernah ditugaskan menjadi Liasion Officer (LO) Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIV Universitas Hasannudin Tahun 2011.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur sebesar-besarnya penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan kasih sayang-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Produksi Serasah dan Laju Dekomposisi Berbagai Jenis Lamun di Perairan Pulau Barrang Lompo”.
Penulis sadar bahwa skripsi yang sederhana ini dapat tersusun sedemikian rupa tanpa petunjuk, kritik dan saran serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini tak ada hal yang dapat penulis sampaikan selain ucapan “Terima kasih” yang sebesar-besarnya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada :
1. Kedua orang tua tercinta, Ibunda Yolanda Pasanea-Sahalessy dan Ayahanda Albertus David Pasanea, atas semua yang telah
diberikan. Ananda hanya bisa membalasnya dengan doa serta kasih sayang yang tulus dan tanpa henti.
2. Adikku Marissa Kezia atas doa dan keceriaan yang diberikan. Semoga Kakakmu ini bisa menjadi manusia yang berguna di tengah-tengah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
3. Ibu Prof. Dr. Ir. Hj Andi Niartiningsih, MP. selaku pembimbing utama dan Bapak Supriadi, ST, M.Si selaku pembimbing kedua yang telah meluangkan sedikit waktu, pikiran dan tenaga dalam membimbing penulis selama penelitian hingga penyusunan tugas akhir ini. 4. Para dosen penguji, Bapak Prof. Dr. Ir. Chair Rani, M.Si., Bapak
5. Ibu Prof. Dr. Ir. Andi Niartiningsih, MP., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah Muhiddin, M.Si
selaku ketua jurusan Ilmu Kelautan dan Bapak Drs. Sulaiman Gosalam, M.Si sebagai penasehat akademik, atas segala petunjuk, nasehat dan bimbingan selama masa studi hingga tahap
penyelesaian studi.
6. Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah Muhiddin, M.Si., yang telah memberikan kepercayaan untuk menjadi asisten atau operator di Laboratorium Komputer Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.
7. Ibu Dr. Inayah Yasir, M.Sc., yang selalu memberikan bimbingan dan semangat kepada penulis selama masa studi hingga penyelesaian tugas akhir.
8. Bapak Ir. Marzuki Ukkas, DEA., Bapak Benny A.J. Gosari, S.Kel.,M.Si., Bapak Dr. Ir. Abdul Haris, M.Si. dan Bapak Dr. Ir. Syafiuddin, M.Si yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi panitia penyelesaian tugas akhir penulis.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan : Andi Haerul, S.Kel., Syamsidar Gaffar, S.Kel., Hendra, S.Kel., Hajja Agustina Fahyra S.Kel.,
Ishak S.Kel., Aprizal Junaidi, S.Kel., Ilham Antariksa, Anjelty,
Irwan Jaelani, Rhojim Wahyudi, Melky Rambungan, Nasrum
Nasir, Nova Wahyudi, Satria Budhiardi yang telah memberikan semangat, perhatian, dukungan dan kerjasama dalam masa studi hingga penyelesaian tugas akhir.
Abdy, Taza, Irha, Khiky, Eka, Adri, dan Ulva) atas semua bantuan dan doanya selama ini.
11. Seluruh bapak dan ibu dosen, pegawai dan staf Jurusan Ilmu Kelautan, begitu juga semua dosen, pegawai dan staf se-Unhas atas segala pengetahuan dan bantuan yang telah diberikan selama masa studi penulis.
12. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2007 yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas segala bantuan, motivasi, kebersamaan, perhatian dan dukungannya.
13. Dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam masa studi hingga penyelesaian tugas akhir ini.
Penulis hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangatlah diperlukan penulis untuk perbaikan. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu kelautan. Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja).
Makassar, Februari 2012
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL...xi
DAFTAR GAMBAR...xii
DAFTAR LAMPIRAN...xiv
I. PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian...2
C. Ruang Lingkup Penelitian...2
II. TINJAUAN PUSTAKA...3
A. Pengertian Lamun...3
B. Peranan Lamun...3
C. Produktivitas Lamun...4
D. Sebaran Geografis Lamun...4
E. Faktor Pembatas Lamun...6
1. Kecerahan...6
2. Suhu...7
3. Salinitas...7
4. Kecepatan arus...8
5. Nutrien...8
F. Dekomposisi Serasah Lamun...8
III. METODE PENELITIAN...11
A. Waktu dan Tempat...11
B. Alat dan Bahan...11
C. Prosedur Penelitian...13
D. Analisis Data...18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...21
A. Gambaran Umum Lokasi...21
B. Produksi Serasah Lamun...22
D. Parameter Lingkungan...46
E. Jumlah Bakteri...48
V. SIMPULAN DAN SARAN...49
A. Simpulan...49
B. Saran...49
DAFTAR PUSTAKA...50
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Sebaran geografik beberapa genera lamun (Den Hartog 1969)...6
6. Bagan mekanisme dekomposisi aerobik dari detritus (Fenchel 1977)...10
7. Peta Lokasi Penelitian Pulau Barrang Lompo...11
8. Model Kurungan Untuk Produksi Serasah...13
9. Tata Letak Kantong Serasah...15
10. Produksi Serasah E. acoroides Stasiun a dan b...22
11. Produksi Serasah T. Hemprichii Stasiun a dan b...23
12. Produksi Serasah C. rotundata Stasiun a dan b...24
13. Produksi Serasah H. uninervis Stasiun a dan b...25
14. Produksi Serasah S. Isoetifoilum Stasiun a dan b...26
15. Produksi Serasah H. ovalis Stasiun a dan b...27
16...Produksi Serasah Lamun Yang Terapung dan Tenggelam di Stasiun Barat...28
17...Produksi Serasah Lamun Yang Terapung dan Tenggelam di Stasiun Selatan...29
18. Produksi Serasah Lamun Yang Terapung di Stasiun Barat dan Selatan...30
19. Produksi Serasah Lamun Yang Tenggelam di Stasiun Barat dan Selatan. .31 20. Total Produksi Serasah...32
21. Produksi Serasah Lamun Per Luasan Untuk Tiap Jenis Lamun...36
22. Rata-rata Produksi Serasah Berbagai Jenis Lamun...37
23. Rata-rata Total Produksi Serasah Lamun di Stasiun Barat Per Luasan...38
24. Hubungan Kepadatan Lamun dan Produksi Serasah...39
25. Persen Pengurangan Berat Lamun Stasiun Barat...41
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Produksi Serasah Per Tegakan Stasiun Barat………...53
2. Produksi Serasah Per Tegakan Stasiun Selatan………....55
3. Analisis ANOVA Produksi Serasah Per Tegakan Stasiun Barat………..57
4. Analisis ANOVA Produksi Serasah Lamun Per Tegakan Stasiun Selatan………..58
5. Analisis ANOVA Produksi Serasah Per Tegakan Yang Terapung…………..59
6. Analisis ANOVA Produksi Serasah Per Tegakan Yang Tenggelam………...60
7. Analisis ANOVA Total Produksi Serasah Lamun Per Tegakan………...61
8. Kepadatan Lamun Stasiun Barat………..………62
9. Kepadatan Lamun Stasiun Selatan………...64
10. Data Dekomposisi Stasiun Barat………..66
11. Data Dekomposisi Stasiun Selatan………..67
12. Persen Pengurangan Berat Stasiun Barat………..68
13. Persen Pengurangan Berat Stasiun Selatan………..69
14. Laju Dekomposisi Serasah………70
15. Analisis Regresi Eksponensial………..71
16. Parameter Lingkungan………...72
17. Data Gelombang………...73
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
19. Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang yang dapat tumbuh di lingkungan perairan laut. Menurut Azkab (2000), lamun (seagrass) adalah tumbuhan air berbunga (angiospermae) yang mempunyai kemampuan adaptasi untuk hidup di lingkungan perairan laut. Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan biota laut serta merupakan salah satu ekosistem bahari yang paling produktif (Hutomo dan Azkab, 1987). Peranan penting dari ekosistem lamun ini yaitu sebagai produsen primer, stabilisator dasar perairan, pendaur zat hara, sumber makanan, serta sebagai tempat asuhan dan tempat tinggal.
20. Lamun hidup di perairan dangkal yang berpasir dan ada pula dijumpai di daerah terumbu karang. Lamun ini membentuk suatu komunitas yang lebat sehingga membentuk padang lamun yang cukup luas (Nontji, 2005). Padang lamun ini merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktivitas organiknya. Produktivitas lamun berkisar antara 500-1000 gC/m2/tahun bahkan dapat lebih dua kali lipat (Azkab,
2000).
serasah di dalam air dimanfaatkan oleh organisme penyaring (filter feeder) (Romimohtarto dan Juwana, 2007). Proses dekomposisi menghasilkan bahan organik dari partikel-partikel serasah dan dapat terbawa ke ekosistem sekitarnya dengan bantuan arus sehingga dapat memperkaya ekosistem sekitarnya yang kandungan bahan organiknya sedikit. Oleh karena itu tingkat produksi serasah dan laju dekomposisi pada lamun sangat penting untuk diketahui dalam rangka memahami fungsi ekologi ekosistem lamun (sebagai penyedia nutrien) bagi perairan laut.
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
23. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu
1. Untuk mengetahui produksi serasah pada berbagai jenis lamun di Pulau Barrang Lompo
2. Untuk mengetahui laju dekomposisi pada berbagai jenis lamun di Pulau Barrang Lompo
24. Kegunaan dari penelitian adalah sebagai bahan informasi dan referensi tentang sumberdaya perairan yang berhubungan dengan ekosistem lamun.
C. Ruang Lingkup Penelitian
25. Penelitian ini difokuskan pada pengukuran tingkat produksi dan laju dekomposisi serasah lamun yang dilakukan pada perairan Pulau Barrang Lompo. Selain itu dilakukan juga pengukuran parameter lingkungan perairan yang meliputi kecepatan arus, gelombang, salinitas, suhu, oksigen terlarut, dan melihat jumlah koloni bakteri sebagai data pendukung.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Lamun
27. Lamun (seagrass) adalah tumbuhan air berbunga (Anthophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, berpembuluh,
berimpang, berakar, dan berkembang biak secara generatif (biji) dan vegetatif. Rimpangnya merupakan batang yang beruas-ruas yang tumbuh terbenam dan menjalar dalam substrat pasir, lumpur dan pecahan karang. Padang lamun (seagrass bed) adalah hamparan vegetasi lamun yang menutupi suatu area laut dangkal yang terbentuk oleh satu jenis lamun (monospecific) atau lebih (mixed vegetation) dengan kerapatan tanaman yang padat (dense) atau jarang (sparse). Sedangkan ekosisitem lamun (seagrass ecosystem) adalah suatu sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang di dalamnya terjadi hubungan timbal balik antara komponen abiotik (air dan sedimen) dan biotik (hewan dan tumbuhan) (Azkab, 2006).
28. Ekosistem padang lamun merupakan habitat terpenting di daerah beriklim tropis. Lamun merupakan satu-satunya angiospermae atau tumbuhan berbunga yang memiliki akar, batang dan daun sejati yang telah beradaptasi untuk hidup sepenuhnya di laut.
D. Peranan Lamun
29. Menurut Supriadi (2003), sebagai produsen primer, pada Pulau Barrang Lompo, Makassar produktivitas total lamun Enhalus accoroides mencapai 12,083 g berat kering /m2/hari dan Thalassia
hemprichii 16,391 g berat kering/m2/hari.
dekomposisi menghasilkan bahan organik dari partikel-partikel serasah. Serasah yang mengendap akan dikonsumsi oleh fauna bentik, sedangkan partikel-partikel serasah di dalam air merupakan makanan invertebrata penyaring. Pada gilirannya nanti hewan-hewan tersebut akan menjadi mangsa dari karnivora yang terdiri dari
berbagai jenis ikan dan invertebrata. Selain itu daun yang putus dan tanaman yang tumbang akan dihanyutkan arus ke lingkungan sekelilingnya atau ke sistem sekitarnya seperti ekosistem terumbu karang. Serasah yang diproduksi oleh lamun membantu
meningkatkan kelimpahan fito dan zooplankton diperairan terumbu karang (Hutomo dan Azkab, 1987).
31. Lamun juga berperan penting dalam menstabilkan sedimen dan memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan ombak di daerah pantai sehingga dapat mencegah terjadinya erosi. Lamun juga berfungsi sebagai habitat dan tempat asuhan berbagai organisme laut. Selain itu lamun juga berfungsi sebagai pendaur zat hara seperti fosfor dan nitrogen sehingga dapat dimanfaatkan oleh organisme lain.
E. Produktivitas Lamun
32. Produktivitas yaitu kecepatan produksi yang merupakan hasil dari produksi per satuan waktu (Azkab, 2000). Nilai produksi 500-1000 gC/m2/tahun merupakan tipe area dengan produktivitas tinggi bahkan
memakan langsung material epifit, tetapi umumnya daun-daun yang sudah kering/mati, dan biasanya dikonsumsi sebagai detritus.
F. Sebaran Geografis Lamun
33. Dari 7 genera lamun penghuni perairan tropik, 3 genera termasuk famili Hydrocharitaceae yaitu Enhalus, Thalassia dan Halophila, dan 4 genera termasuk famili Pomatogetonaceae yaitu Halodule,
Cymodecea, Syringodium dan Thalassodendron, semua termasuk subfamili Cymodoceoideae. Meskipun demikian, ada beberapa genera yang mengandung spesies dengan sebaran meluas ke perairan subtropik dan ugahari hangat (warm temperate) misalnya Halophila ovalis dan Syringodium isoetifolium. Selain itu ada spesies-spesies yang sebarannya terbatas di perairan subtropik misalnya Cymodocea nodosa, C. angustata dan Thalassodendron
Laut Tengah dan Australia Selatan. Satu genus, Phyllospadix, terbatas di perairan Pasifik Utara. Sedangkan 2 genera, Heterozostera dan Amphibolis, terbatas pada perairan ugahari di belahan bumi selatan (Kiswara dan Hutomo, 1985).
34. Di Indonesia, sampai saat ini telah tercatat 13 spesies lamun. Dari ketiga belas spesies lamun yang terdapat di perairan Indonesia, beberapa spesies menunjukkan penyebarannya yang sangat khusus seperti Thalassodendron ciliatum, terdapat di Maluku, Nusa Tenggara, Kangean dan Kepulauan Riau. Halophila spinulosa terdapat di Kep. Riau, Anyer (Pulau Jawa), Baluran Utara (Besuki) dan Irian. Halophila decipiens terdapat di Teluk Jakarta (Pulau Jawa), Teluk Motimoti (Sumbawa) dan Kep. Aru (Kiswara dan Hutomo, 1985).
37. Gambar 1. Sebaran geografik beberapa genera lamun (Den Hartog 1969)
G. Faktor Pembatas Lamun
38. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap keberadaan ekosistem padang lamun, antara lain: kecerahan, suhu, salinitas, substrat dan kecepatan arus (Tuwo, 2011).
1. Kecerahan
39. Lamun pada umumnya hidup pada daerah yang dapat ditembus cahaya matahari. Lamun memerlukan intensitas cahaya matahari yang tinggi karena cahaya tersebut dipelukan untuk proses
fotosintesis. Oleh karena itu, Beberapa aktivitas yang meningkatkan muatan sedimentasi pada badan air akan berakibat pada tingginya tingkat kekeruhan sehingga berpotensi untuk mengurangi penetrasi cahaya. Hal ini dapat menggangu produksi primer dari ekosistem padang lamun (Dahuri, 2003). Menurut Kiswara dan Hutomo (1985), Halophila telah didapatkan di kedalaman 90 m karena pada
kedalaman ini tingkat kekeruhan rendah sehingga masih dapat ditembus cahaya matahari
2. Suhu
40. Suhu merupakan faktor yang penting bagi kehidupan organisme di laut karena mempengaruhi aktivitas metabolisme maupun
untuk pertumbuhan lamun berkiasar antara 24-27 0C. Namun menurut
Dahuri (2003), lamun juga dapat tumbuh secara optimal berkisar antara 28-30OC.
3. Salinitas.
41. Lamun dapat hidup di lingkungan perairan yang mengandung kadar garam. Menurut Hemmingga dan Duarte (2000), pada umumnya lamun dapat tumbuh secara optimal dengan salinitas sekitar 35 ‰, ada juga yang dapat bertahan hidup di air payau yang berada dekat muara. Sedangkan menurut Zieman (1987), lamun dapat tumbuh secara optimal berkisar antara 25-35 ‰. Spesies lamun pada umumnya euryhaline tetapi jika terjadi kondisi perairan yang hyposaline (10 ‰) atau hypersaline (45 ‰) maka lamun akan menderita stres dan akhitnya mati (Hemminga dan Duarte 2000).
4. Kecepatan arus
42. Arus bermanfaat untuk membawa unsur hara masuk atau ke luar dari suatu ekosistem. Unsur hara ini sangat diperlukan untuk lamun dalam proses pertumbuhan. Dahuri (2003) menjelaskan bahwa kecepatan arus perairan berpengaruh terhadap produktivitas padang lamun. Arus dengan kecepatan 0,5 m/s masih termasuk kondisi yang baik untuk pertumbuhan lamun.
5. Nutrien
H. Dekomposisi Serasah Lamun
44. Sebagai tumbuhan autotrof, lamun yang menempati trophic level pertama masuk ke dalam jaring makanan melalui dua jalur, yaitu jalur rantai makanan herbivora dan jalur rantai makanan detritus (Supriadi dan Arifin, 2005). Namun jalur melalui herbivora umumnya kurang dari 10% dari total produksi lamun. Barnes dan Hughes (1999)
melaporkan bahwa daun Syringodium yang hilang (tidak dimanfaatkan langsung oleh herbivora) mencapai 92,5% dan
Thalassia mencapai 90,4% dari produktivitas. Dengan demikian, jalur detritus memegang peranan yang cukup penting dalam ekosistem padang lamun. Secara kuantitatif produksi lamun dalam jumlah besar dapat masuk ke jaring makanan melalui dekomposer (Fenchel, 1977). 45. Pada prinsipnya daun dan akar dari tumbuhan berpembuluh yang
mati akan mengalami dua tipe kerusakan (pematahan) yaitu secara mekanik dan secara biokimia (Azkab, 1999), dan secara umum akan melewati tiga fase perombakan (Zieman, 1987), yaitu : hilangnya berat tumbuhan secara cepat oleh pelarut dan autolysis senyawa tumbuhan. Fase ini sangat cepat dan material yang dilepaskan dapat langsung digunakan. Memasuki fase kedua, perombakan akan menjadi lambat dan terjadi pengurangan berat oleh proses
fregmentasi dan degradasi substrat oleh aktivitas mikroba. Pada akhir fase ini, hal tersebut akan sulit untuk dilakukan, serta hilangnya nilai (value) dari bahan makanan. Pada fase ketiga, dekomposisi yang terjadi menjadi lebih lambat oleh banyaknya material residu yang resisten.
sedimen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bakteri dan jamur memegang peranan sebagai dekomposisi primer dari lamun.
48.
49. Gambar 2. Bagan mekanisme dekomposisi aerobik dari detritus (Fenchel 1977)
sehingga kita dapat mengetahui bahwa tingkat ketersediaan oksigen merupakan hal yang penting dalam dekomposisi aerob di alam (Azkab 1999). Ditemukan bahwa Amphipoda (Parhylella) memakan partikel detritus dari Thalassia di wadah percobaan, dimana rasio antara detritus dengan hewan sama dengan yang ada di lapangan. Hasil menunjukkan bahwa penurunan ukuran rata-rata detritus dan penyerapan oksigen oleh mikroba akan naik sampai 100% dalam 92 jam (Klug, 1980).
III.
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
53.
54. Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian Pulau Barrang Lompo
I. Alat dan Bahan
mengukur arus, tiang pasut untuk mengukur gelombang, thermometer untuk mengukur suhu, salinometer untuk mengukur salinitas, DO meter untuk mengukur kadar oksigen, transek kuadran 50 X 50 cm untuk mengukur kepadatan lamun, roll meter untuk mengukur jarak area pengamatan, pelampung sebagai penanda lokasi sampel penelitian, alat selam dasar untuk menyelam, sabak dan alat tulis untuk mencatat data di lapangan.
56. Alat yang digunakan dalam penelitian di laboratorium yaitu timbangan digital untuk menimbang sampel, autoclave dengan tekanan 15 Psi atau 2 atm dengan suhu 121oC untuk mensterilkan alat dan bahan,
incubator 35OC ± 1OC untuk menginkubasi mikroba pada suhu yang
terkontrol, cawan petri untuk sebagai wadah untuk media tempat tumbuhnya bakteri, tabung reaksi sebagai wadah larutan yang digunakan untuk proses pengenceran, Labu Erlenmeyer sebagai wadah untuk menampung larutan atau sampel, kapas sebagai penutup tabung reaksi dan Labu Erlenmeyer, hot plate stirrer dan stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk pembuatan media agar, fortex untuk mengaduk larutan coloni counter mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan petri, Laminar Air Flow (LAF) sebagai tempat bekerja secara aseptis, pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan, oven untuk mengeringkan sampel serasah lamun.
57. Bahan yang digunakan dalam penelitian di lapangan yaitu berbagai jenis daun lamun seperti Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Syringodium
waring pada besi sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian di laboratorium yaitu berbagai jenis daun lamun sama seperti
penelitian di lapangan serta air laut dan sedimen sebagai sampel percobaan untuk melihat total bakteri, tryptone 5 gr, yeast extract 22,5 gr, dextrose 1 gr, agar 15 gr, dan aquades untuk pembuatan media.
J. Prosedur Penelitian
1. Observasi Awal
58. Observasi awal dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis lamun dan sebarannya di Pulau Barrang Lompo untuk memudahkan dalam mengoleksi lamun dan menempatkan kurungan pada saat penelitian serta melihat kondisi/keadaan lingkungan padang lamun yang akan dijadikan stasiun. Semua spesies lamun yang hidup di perairan P. Barrang Lompo terdapat pada bagian Barat dan Selatan oleh karena itu penelitan ini dilakukan pada 2 stasiun yaitu di bagian Barat dan Selatan perairan Pulau Barrang Lompo.
2. Tahap Perlakuan untuk Produksi Serasah
60.
61. Gambar 4 Model Kurungan Untuk Produksi Serasah
62. Sebelum lamun dikurung, substrat dasar dibersihkan dari serasah dan organisme bentos setelah itu dihitung kepadatan lamunnya. Penelitian akan dilakukan selama 3 x 24 jam dimana setiap 24 jam, serasah yang terapung maupun yang jatuh di dasar dikumpulkan, kemudian dipisah menurut jenis lamunnya dan dimasukkan ke dalam kantong sampel untuk dibawa ke laboratorium. Selanjutnya dilakukan pengeringan dengan oven dan sampel kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,001. Jumlah kurungan yang digunakan sebanyak 3 buah kemudian akan ditempatkan pada 3 titik di masing-masing stasiun dan disesuaikan dengan sebaran jenis-jenis lamun.
3. Tahap Perlakuan untuk Laju Dekomposisi
63. Daun tua dan bersih dari jenis lamun yang ada di lokasi penelitian diambil dengan menggunakan pisau. Daun tua pada setiap tunas ditandai dengan warna daun yang hijau tua/hijau kecoklatan dan helaian daun berada di bagian terluar dari tunas. Daun-daun tersebut dimasukkan ke dalam cool box untuk dibawa ke laboratorium.
penempel. Daun kemudian diangin-anginkan beberapa menit sampai air di permukaan daun tersebut habis.
64. Sebelum dilakukan inkubasi di lapangan, terlebih dahulu dibuat sampel standar untuk mengetahui rasio antara berat kering dan berat basah daun masing-masing jenis lamun. Sampel standar ini
digunakan untuk mengetahui berat kering awal dari sampel yang akan diinkubasikan di lapangan berdasarkan berat basahnya. Sampel standar dibuat dengan cara mengambil sebanyak 3 sampel tiap jenis daun lamun kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 60oC sampai didapatkan berat konstan. Rasio antara berat kering
dan berat basah sampel ini digunakan untuk mengetahui berat kering awal sampel yang akan diinkubasikan di lapangan.
65. 66.
67. 5 cm 18 kantong untuk tiap jenis lamun 68. Gambar 5. Tata Letak Kantong Serasah
69. Sebanyak 5 gram (berat basah) sampel tiap jenis lamun kecuali untuk H.ovalis 1 gram karena daunnya yang tipis dan ringan serta
perseberannya yang sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk mengoleksi lamun ini sebanyak 5 gram, kemudian dimasukkan ke
dalam kantong yang terbuat dari waring berukuran 5 cm x 10 cm dengan mesh size 1 mm setelah itu diinkubasikan sebanyak 18 kantong tiap jenis lamun yang diletakkan di dasar perairan dalam padang lamun. Sebanyak 3 kantong dari masing-masing jenis lamun diambil setiap 10 hari sampai hari ke-60 sedangkan untuk jenis H. ovalis baik di stasiun barat maupun selatan, pengambilan sampel dilakukan setiap 7 hari untuk mencegah apabila sampel serasah tersebut habis terdekomposisi sebelum diamati dan pengambilan sampel berakhir sampai hari ke-42. Untuk menyamakan pengambilan sampel setiap 10 hari maka dilakukan ekstraplorasi nilai. Penentuan masa inkubasi di lapangan didasarkan pada hasil penelitian Supriadi dan Arifin (2005). Sampel dibawa ke laboratorium kemudian dicuci dengan air tawar (Juman 2005), dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC sampai didapatkan berat konstan. Sampel kemudian
ditimbang menggunakan timbangan digital untuk mengetahui berat yang tersisa.
4. Kepadatan Lamun
70. Kepadatan lamun diamati dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 1 m x 1 m. Sampling dilakukan secara sistematis dari pantai ke arah luar dengan jarak antar transek 10 meter dimulai dari ditemukannya lamun sampai tidak ditemukannya lamun.
5. Mengukur Arus
71. Menentukan kecepatan arus dengan menggunakan layang-layang arus, yakni dengan menetapkan jarak tempuh layang-layang arus (5 meter) kemudian mengukur waktu tempuh layang-layang arus tersebut dengan menggunakan stopwatch.
72. Mengukur gelombang dengan mengukur tinggi dan lembah ombak yang datang pada tiang skala sebanyak masing-masing 51 kali. Pengukuran ombak ini dilakukan pada waktu pagi hari dan sore hari. 7. Mengukur Suhu dan Salinitas
73. Mengukur suhu dengan cara mencelupkan thermometer ke dalam kolom perairan dan mencatat skala yang ditunjukan sedangkan untuk mengukur salinitas dengan cara mengambil air laut yang dituangkan ke dalam botol ukuran 1,5 L setelah itu memasukan salinometer ke dalam botol lalu membaca skala yang ditunjukan oleh salinometer. 8. Mengukur Kandungan Oksigen (DO)
74. Mengukur kandungan oksigen dengan cara mencelupkan sensor DO meter ke dalam kolom perairan dan mencatat angka yang ditunjukan oleh DO meter.
9. Uji Mikrobiologi Total Bakteri
75. Pembuatan media nutrien agar (plate count agar) dengan cara mencampurkan tryptone sebanyak 5 gr, yeast extract sebanyak 22,5 gr, dextrose sebanyak 1gr, agar sebanyak 15 gr dan aquades sebanyak 500 ml ke dalam Labu Erlenmeyer kemudian panaskan dengan menggunakan hot plate strirrer dan stirrer bar hingga larutan mendidih dan homogen. Setelah itu sterilisasi menggunakan
tingkat pengenceran pertama. Setelah itu siapkan 18 buah tabung reaksi yang sudah steril dan bagi 3 kelompok sehingga terbagi
menjadi 6 buah tabung reaksi untuk masing-masing kelompok dimana kelompok pertama untuk sampel lamun, kelompok kedua untuk sedimen dan kelompok ketiga untuk air laut. Kemudian tabung reaksi untuk masing-masing kelompok diberi label 10-2 sampai 10-7 dengan
tujuan untuk menandakan tingkat pengenceran pada masing-masing tabung reaksi. Setelah itu siapkan cawan petri sebanyak 18 buah yang sebelumnya telah disterilkan pada oven dengan suhu 180OC
selama 2 jam dan bagi 3 kelompok sehingga terbagi menjadi 6 cawan petri untuk masing-masing kelompok dimana kelompok pertama untuk sampel lamun, kelompok kedua untuk sedimen dan kelompok ketiga untuk air laut. Kemudian cawan petri untuk masing-masing kelompok diberi label A10-5 sampai A10-7 dan B10-5 sampai B10-7 dengan tujuan
untuk menandakan tingkat pengenceran pada masing-masing tabung reaksi. Setelah itu pipet 1 ml dari pengenceran 10-1 ke 10-2, lalu
tabung reaksi 10-2 ini di fortex agar larutannya tercampur. Lakukan hal
yang sama sampai tabung reaksi 10-7. Setelah pengenceran selesai,
pipet 2 ml larutan tabung reaksi 10-5 dan masukkan masing-masing 1
ml ke dalam cawan petri A10-5 dan B10-5 setelah itu masukkan
medianya ke masing-masing cawan. Lakukan hal yang sama sampai pada cawan petri A10-7 dan B10-7. Setelah selesai, masukkan cawan
K. Analisis Data
76. Untuk produksi serasah dihitung berdasarkan rumus : 77. P = w/Di/hr
78. dimana :
79. P = Produksi serasah (gram berat kering (gbk)/tgk/hr) 80. W = Berat Serasah (gbk)
81. Di = Kepadatan Lamun jenis i (tgk/m2)
82. Hr = Hari
83. Untuk laju dekomposisi dihitung berdasarkan rumus (Juman, 2005) : 84.
85. R =
IW
−
FW
D
86. dimana :
87. R = Laju dekomposisi (%); 88. IW = Berat awal serasah (%); 89. FW = Berat akhir serasah (%); dan 90. D = Lama inkubasi (10 hari).
91. Untuk kepadatan lamun dihitung berdasarkan rumus (Fachrul, 2006) :
92. Di =
L
¿
93. dimana :94. Di : Kepadatan jenis i (tgk/luas transek) 95. Ni : Jumlah tegakan jenis i
96. L : Luas Transek (m2)
97. 98.
100.
V
=
S
t
; 101. dimana :102. S = Panjang lintasan layang-layang arus (m) 103. t = Waktu tempuh layang-layang arus (detik) 104. V = Kecepatan arus (m/s)
105. Untuk gelombang pengukurannya terdiri atas : 1. Tinggi gelombang :
106. H = (puncak gelombang – lembah
gelombang)
2. Tinggi ombak signifikan (H1/3) :
107. H1/3 = 1/3 rata-rata dari gelombang
terbesar
108. H1/3=
∑
i=1
n/3
Hi
n/3
3. Tinggi rata-rata (H) :
109.
H
=
H
1+
H
2+
H
3+
...
H
NN
4. Periode gelombang (T);
110. T = t/N
5. Periode gelombang signifikan (T1/3) :
111. T1/3 = 1,1 x T
6. Panjang gelombang (Lo);
112. L = 1,56 T2
113. Hb = H1/3 [
0,563
[H1/3 L ]
0,2
]
114. Dimana :
115. T = Periode gelombang (detik)
116. t = Waktu pengamatan
117. N = Banyaknya gelombang
118. Hi = Tinggi gelombang (cm)
119. L = Panjang gelombang (cm)
120. H1/3 = Tinggi gelombang signifikan
121. T1/3 = Periode gelombang signifikan
122. Hb = Tinggi gelombang pecah
123. Untuk melihat perbandingan produksi serasah yang terapung dan tenggelam antara masing-masing jenis lamun maka digunakan Uji Analisis of Variance(ANOVA). Untuk memprediksi proses
dekomposisi pada setiap spesies lamun dianalisis dengan
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi
124. Secara administrasi, Pulau Barrang Lompo merupakan wilayah kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar, Propinsi Sulawesi Selatan. Jarak tempuh perjalanan sampai ke Pulau Barrang Lompo dengan menggunakan speed boat ± 30 menit dan untuk kapal penumpang ± 50 - 60 menit atau ± 11.2 km.
125. Secara garis besar Pulau Barrang Lompo terdiri dari daratan, perairan laut dangkal. Untuk wilayah perairan laut dangkal, Barrang Lompo didominasi berturut-turut oleh penutupan pasir dan diikuti oleh penutupan lamun, karang hidup, campuran (lamun, karang hidup dan karang mati) serta karang mati (Idrus 2001).
126. Dari hasil obeservasi dan identifikasi di lapangan, terdapat 8 jenis lamun yang berada di perairan Pulau Barrang Lompo antara lain Enhalus acoroides,Thallasia hemprichii, Cymodocea rotundata,
Cymodocea serulata, Halodule uninervis, Halodule pinifolia,
Syringodium isoetifolium, dan Halophila ovalis. Jenis lamun yang paling banyak ditemui yaitu E. acoroides dan T. hemprichii. 127.
128.
129.
135.
B. Produksi Serasah Lamun
1. Produksi Serasah Lamun Per Tegakan
136. Untuk jenis E. acoroides, produksi serasah di stasiun Barat (a) yang terapung sebesar 0.0008 gram berat kering (gbk)/tegakan sedangkan yang tenggelam tidak ada. Pada stasiun Selatan (b) produksi serasah yang terapung dan tenggelam sama banyaknya yaitu sebesar 0.0007 gbk/tegakan (Gambar 6). Di stasiun Barat produksi serasah yang terapung lebih banyak dibandingkan yang tenggelam hal ini dikarenakan hanya bagian-bagian kecil dari daun E. acoroides yang sudah tua yang mengalami keguguran dan bagian-bagian kecil dari daun E. acoroides ini memiliki massa jenis yang lebih ringan dibandingkan massa jenis air sehingga lebih mudah untuk terapung sedangkan di stasiun Selatan produksi serasah yang terapung maupun yang tenggelam sama banyaknya hal ini
dikarenakan selain hanya bagian-bagian kecil dari daun lamun yang sudah tua yang mengalami keguguran ada juga pengaruh fisik seperti arus yang membuat bagian-bagian kecil dari daun-daun muda
mengalami keguguran. Daun-daun muda yang gugur ini memiliki massa jenis yang lebih besar dibandingkan massa jenis air sehingga cenderung untuk tenggelam tetapi daun-daun tersebut akan
137. Object 13
Object 15
138. Gambar 6. Produksi Serasah E. acoroides Stasiun a dan b 139. Untuk jenis T. hemprichii, produksi serasah di stasiun Barat yang
terapung hal ini dikarenakan daun-daun dari T. hemprichii yang gugur ini memiliki ukuran yang besar sehingga memiliki massa jenis yang lebih besar dibandingkan massa jenis air sehingga lebih cenderung untuk tenggelam tetapi daun-daun tersebut akan mengalami
dekomposisi sehingga mengurangi berat massa jenisnya dan pada akhirnya akan terapung.
140. Object 17
Object 20
143. Object 22
Object 24
144. Gambar 8. Produksi Serasah C. rotundata Stasiun a dan b 145. Untuk jenis H. uninervis, produksi serasah di stasiun Barat yang
dikarenakan daun-daun H. uninervis yang gugur berukuran kecil dan berumur tua sehingga massa jenisnya lebih ringan dibandingkan massa jenis air sedangkan di stasiun Selatan produksi serasah yang tenggelam lebih banyak dibandingkan yang terapung hal ini
146. Object 26
Object 29
147. Gambar 9. Produksi Serasah H. uninervis Stasiun a dan b 148. Untuk jenis S. isoetifolium, produksi serasah di stasiun Barat yang
terapung sebesar 9.254 x 10-5 gbk/tegakan sedangkan yang
tenggelam 0.0001 gbk/tegakan. Pada stasiun Selatan produksi serasah yang terapung sebesar 5.128 x 10-5 gbk/tegakan dan
149. Object 31
Object 33
150. Gambar 10. Produksi Serasah S. Isoetifoilum Stasiun a dan b 151. Untuk jenis H. ovalis, produksi serasah di stasiun Barat yang
terapung sebesar 2.222 x 10-5 gbk/tegakan sedangkan yang
tenggelam tidak ada. Pada stasiun Selatan produksi serasah yang terapung dan tenggelam sama banyaknya yaitu sebesar 1.754 x 10-5
dikarenakan umur daun dari H.ovalis yang sudah tua serta ukuran daun yang kecil sehingga pada saat gugur massa jenis daunnya lebih ringan dibandingkan massa jenis air oleh karena itu lebih mudah untuk terapung sedangkan di stasiun Selatan produksi serasah yang terapung maupun yang tenggelam sama banyaknya hal ini
dikarenakan selain umur daun lamun yang sudah tua ada juga pengaruh fisik seperti arus yang membuat daun-daun yang lebih muda mulai gugur. Daun-daun muda yang gugur ini memiliki massa jenis yang lebih besar dibandingkan massa jenis air sehingga cenderung untuk tenggelam tetapi daun-daun tersebut akan
152. Object 35
Object 37
153. Gambar 11. Produksi Serasah H. ovalis Stasiun a dan b 154. Produksi serasah tertinggi di stasiun Barat ditemukan pada jenis
produksi serasah terapung sebanyak 2.222 x 10-5 gbk/tegakan dan
tenggelam tidak ada (Gambar 12)
155. Tingginya produksi serasah T. hemprichii diperkuat oleh hasil analisis ragam (ANOVA) yang menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dengan jenis lamun lainnya seperti E. acoroides, C. rotundata, H. uninervis, S. isoetifolium dan H. ovalis. Selain T. hemprichii, produksi serasah jenis lamun lainnya baik yang terapung maupun tenggelam tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (Lampiran 3).
157.
Object 39
158. Gambar 12. Produksi Serasah Lamun Yang Terapung dan Tenggelam di Stasiun Barat
159. Produksi serasah tertinggi di stasiun Selatan ditemukan pada jenis T. hemprichii dimana produksi serasah terapung sebanyak 0.0005 gbk/tegakan dan tenggelam sebanyak 0.0024 gbk/tegakan. Berbeda dengan T. hemprichii, H. ovalis mempunyai produksi serasah
160. Tingginya produksi serasah T. hemprichii diperkuat oleh hasil analisis ragam (ANOVA) yang menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dengan jenis lamun lainnya seperti E. acoroides, C. rotundata, H. uninervis, S. isoetifolium dan H. ovalis. Selain T. hemprichii, produksi serasah jenis lamun lainnya baik yang terapung maupun tenggelam tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (Lampiran 4).
162.
Object 41
163. Gambar 13. Produksi Serasah Lamun Yang Terapung dan Tenggelam di Stasiun Selatan
164. Produksi serasah terapung yang paling tinggi ditemukan pada jenis T. hemprichii dimana jumlah produksi di stasiun Barat sebanyak 0.0031 gbk/tegakan dan stasiun Selatan sebanyak 0.0005
produksi di stasiun Barat 2.222 x 10-5 gbk/tegakan dan stasiun
Selatan sebanyak 1.754 x 10-5 gbk/tegakan (Gambar 14).
165. Tingginya produksi serasah T. hemprichii diperkuat oleh hasil analisis ragam (ANOVA) yang menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dengan jenis lamun lainnya seperti E. acoroides, C. rotundata, H. uninervis, S. isoetifolium dan H. ovalis. Selain T. hemprichii, produksi serasah jenis lamun lainnya baik yang di stasiun Barat maupun stasiun Selatan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (Lampiran 5).
167.
Object 43
168. Gambar 14. Produksi Serasah Lamun Yang Terapung di Stasiun Barat dan Selatan
169. Produksi serasah terapung yang paling tinggi ditemukan pada jenis T. hemprichii dimana jumlah produksi di staisun Barat sebanyak 0.0068 gbk/tegakan dan stasiun Selatan sebanyak 0.0024
produksi di stasiun Barat tidak ada dan stasiun Selatan sebanyak 1.754 x 10-5 gbk/tegakan (Gambar 15).
170. Tingginya produksi serasah T. hemprichii diperkuat oleh hasil analisis ragam (ANOVA) yang menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dengan jenis lamun lainnya seperti E. acoroides, C. rotundata, H. uninervis, S. isoetifolium dan H. ovalis. Selain T. hemprichii, produksi serasah jenis lamun lainnya baik di stasiun Barat maupun stasiun Selatan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (Lampiran 6).
172.
Object 45
173. Gambar 15. Produksi Serasah Lamun Yang Tenggelam di Stasiun Barat dan Selatan
(2.222 x 10-5 gbk/tegakan). Berbeda dengan stasiun Barat, total
produksi serasah di stasiun Selatan setelah T. hemprichii adalah pada jenis E. acoroides (0.0014 gbk/tegakan), C. rotundata (0.0008
gbk/tegakan), H. uninervis (0.0005 gbk/tegakan), S. isoetifolium (5.128 x 10-5 gbk/tegakan) dan H. ovalis (3.509 x 10-5 gbk/tegakan).
175. Tingginya total produksi serasah T. hemprichii diperkuat oleh hasil analisis ragam (ANOVA) yang menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dengan jenis lamun lainnya seperti E. acoroides, C. rotundata, H. uninervis, S. isoetifolium dan H. ovalis (Lampiran 5).
177.
Object 47
178. Gambar 16. Total Produksi Serasah 179.
180. 181.
2. Produksi Serasah Lamun Per Luasan
ditemukannya padang lamun (dalam pembahasan selanjutnya disebut jarak 0 m) dengan kepadatan lamun 68 tegakan/m2 dan terendah
pada jarak 340 m sebesar 0.0008 gbk/m2 dengan kepadatan
sebanyak 1 tegakan/m2. Pada stasiun Selatan, E. acoroides yang
memiliki produksi serasah tertinggi juga terdapat pada jarak 0 m sebesar 0.1624 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 116 tegakan/m2
dan terendah pada jarak 380 sebesar 0.0014gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 1 tegakan/m2 (Gambar 17, Lampiran 8 dan 9).
183. Pada stasiun Barat, T. hemprichii yang memiliki produksi serasah tertinggi (7.9200 gbk/m2) terdapat pada jarak 370 m dengan
kepadatan sebanyak 800 tegakan/m2 dan terendah pada jarak 120 m
dan 210 m sebesar 0.1584 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 16 tegakan/m2. Pada stasiun Selatan, T. hemprichii yang memiliki
produksi serasah tertinggi terdapat pada jarak 140 m dan 310 m sebesar 1.6820 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 580 tegakan/m2
dan terendah pada jarak 40 m sebesar 0.0203 gbk/m2 dengan
kepadatan sebanyak 7 tegakan/m2 (Gambar 17 dan Lampiran 8 dan
9)
184. Pada stasiun Barat, C. rotundata yang memiliki produksi serasah tertinggi (0.3900 gbk/m2) terdapat pada jarak 130 m dengan
kepadatan sebanyak 300 tegakan/m2 dan terendah pada jarak 90 m
sebesar 0.0052 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 4 tegakan/m2.
Pada stasiun Selatan, C. rotundata yang memiliki produksi serasah tertinggi pada jarak 130 m sebesar 0.5760 gbk/m2 dengan kepadatan
sebanyak 720 tegakan/m2 dan terendah pada jarak 310 m dan 320 m
sebesar 0.0032 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 4 tegakan/m2
185. Pada stasiun Barat, H. uninervis hanya terdapat pada jarak 40 m sehingga produksi serasah yang dapat dihasilkan sebesar 0.0560 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 80 tegakan/m2. Sedangkan pada
stasiun selatan, H. uninervis yang memiliki produksi serasah tertinggi terdapat pada jarak 200 m sebesar 0.2300 gbk/m2 dengan kepadatan
sebanyak 460 tegakan/m2 dan terendah pada jarak 100 m sebesar
0.0060 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 12 tegakan/m2 (Gambar
17 dan Lampiran 8 dan 9)
186. Pada stasiun Barat, H. ovalis yang memiliki produksi serasah tertinggi terdapat pada jarak 80 m sebesar 0.0062 gbk/m2 dengan
kepadatan sebanyak 280 tgk/m2 dan terendah pada 100 m sebesar
0.0016 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 70 tgk/m2. Pada stasiun
Selatan, H. ovalis yang memiliki produksi serasah tertinggi terdapat pada jarak 80 m sebesar 0.0052 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak
148 tgk/m2 dan terendah pada titik 400 m sebesar 0.0011 gbk/m2
dengan kepadatan sebanyak 30 tegakan/m2 (Gambar 17 dan
Lampiran 8 dan 9).
187. Pada stasiun Barat, S. isoetifolium yang memiliki produksi serasah tertinggi (0.0520 gbk/m2) terdapat pada jarak 140 m dengan
kepadatan sebanyak 260 tegakan/m2 dan terendah pada jarak 120 m
sebesar 0.0360 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 180 tegakan/m2.
Pada stasiun Selatan, S. isoetifolium yang memiliki produksi serasah tertinggi terdapat pada jarak 160 m sebesar 0.0338 gbk/m2 dengan
kepadatan sebanyak 660 tegakan/m2 dan terendah pada jarak 180 m
sebesar 0.0144 gbk/m2 dengan kepadatan sebanyak 280 tegakan/m2
188. Pola produksi serasah untuk E. acoroides pada di stasiun Barat terlihat datar. Hal ini dikarenakan kepadatan lamun E. acoroides di stasiun Barat kurang lebih sama di setiap jaraknya. Sedangkan di stasiun Selatan produksi terlihat tinggi pada jarak 0 – 60 m dan pada jarak 70 – 340 m terlihat datar. Hal ini dikarenakan kepadatan lamun E. acoroides pada jarak 0 – 60 m (dekat dengan pesisir) tinggi dan pada jarak 70 – 340 m agak rendah dan cenderung sama (Gambar 17).
189. Pola produksi serasah jenis T. hemprichii di stasiun Barat terlihat hampir merata pada jarak 0 – 100 m kemudian turun pada jarak 110 m setelah itu naik pada jarak 170 kemudian turun lagi pada jarak 230 m setelah itu naik pada jarak 240 – 350 m. Hal ini dikarenakan kepadatan lamun T. hemprichii pada jarak 0 – 100 m kurang lebih sama, pada jarak 110 – 230 m kepadatan lamun tidak seragam dan pada jarak 240 – 350 m kepadatan lamunnya semakin tinggi. Sedangkan di stasiun Selatan produksi serasah terlihat sedikit pada jarak 0 – 60 m dan setelah itu meningkat pada jarak 80 - 370 m. Hal ini dikarenakan kepadatan lamun T. hemprichii pada jarak 0 – 60 m (dekat dengan pesisir) kurang dan pada jarak 80 – 370 m kepadatan lamunnya tinggi (Gambar 17).
dan turun pada jarak 70 – 300 m dan cukup tinggi pada jarak 130 m. Hal ini di karenakan kepadatan lamun C. rotundata pada jarak 70 - 300 m tidak sama dan cukup tinggi kepadatannya pada jarak 130 m (Gambar 17).
191. Untuk jenis H. uninervis, H. ovalis dan S. isoetifolium baik di stasiun Barat maupun Selatan tidak memiliki pola karena ketiga jenis lamun tersebut paling sedikit tumbuh dan hanya terdapat pada jarak tertentu (Gambar 17).
192. 193. 194.
Object 49
195. Object 51
196. Object 53
197. Object 55
198. Object 57
200. Object 61
201. Object 63
202. Object 65
203. Object 67
204. Object 69
205. Object 72
206.
207. Gambar 17. Produksi Serasah Lamun Per Luasan Untuk Tiap Jenis Lamun
208. Rata-rata produksi serasah tertinggi adalah jenis T. hemprichii baik di stasiun barat maupun stasiun selatan yakni sebanyak 2.629 gbk/m2 dan 0.8353 gbk/m2 sedangkan rata-rata produksi serasah
terendah adalah jenis H. ovalis baik di stasiun Barat maupun Selatan yakni sebanyak 0.0039 gbk/m2 dan 0.0031 gbk/m2. T. hemprichii
209.
Object 75
210. Gambar 18. Rata-rata Produksi Serasah Berbagai Jenis Lamun 211. Pada stasiun barat, total produksi serasah tertinggi terdapat pada
jarak 380 m sebesar 7.9200 gbk/m2 dengan total kepadatan 800
tegakan/m2 dan terendah pada jarak 260 m sebesar 0.0096 gbk/m2
dengan total kepadatan 12 tegakan/m2 Sedangkan pada stasiun
selatan, total produksi serasah tertinggi terdapat pada jarak 140 m sebesar 1.8804 gbk/m2 dengan total kepadatan 816 tegakan/m2 dan
terendah pada jarak 380 sebanyak 0.0025 gbk/m2 dengan total
total produksi serasah lamun yang lebih tinggi dibandingkan stasiun Selatan. Hal ini dikarenakan faktor fisik arus dan gelombang yang cukup tinggi pada stasiun barat dibandingkan stasiun selatan. Selain itu terjadi juga surut terendah di stasiun Barat yang membuat
sebagian besar lamun terpapar langsung oleh cahaya matahari sedangkan di stasiun Selatan sebagian besar lamun masih tergenang air laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Erftemeijer (1993) dimana lamun yang terpapar pada saat terjadi surut terendah akan terbakar dan menjadi kering oleh cahaya matahari sehingga daun lamun akan mudah terlepas atau patah (Gambar 19 dan Lampiran 8 dan 9)
213.
Object 77
214. Gambar 19. Total Produksi Serasah Lamun di Stasiun Barat Per Luasan
Object 79
Object 82
216. Gambar 20. Hubungan Kepadatan Lamun dan Produksi Serasah 217.
220. 221. 222.
L. Dekomposisi Lamun
1. Rasio Berat Kering / Berat Basah
223. Rasio berat kering untuk C. rotundata sebesar 0.17 grbk, H. uninervis sebesar 0.23 grbk, S isoetifolium sebesar 0.12 grbk, dan H. ovalis sebesar 0.23 sehingga dapat diketahui bahwa jenis-jenis lamun ini memiliki kandungan air yang berbeda-beda dimana kandungan air terbesar adalah untuk jenis S. isoetifolium (Tabel 1).
224. Tabel 1. Rasio Berat Kering dan Berat Basah
297. H. ovalis 298.
4 7
304. 0.6
4 305. 0.14 306. 0.22 309. 0.8
7 310. 0.21 311. 0.24 313. Rata-rata
314. 0.7 5
315. 0.1
7 316. 0.23 317. 0.77
318.
2. Persen Pengurangan Berat
319. Persen pengurangan berat terjadi sesuai dengan waktu-dekomposisi di stasiun barat, dimana dengan bertambahnya hari, maka makin banyak akumulasi pengurangan berat yang terjadi. Stasiun Barat pada hari ke 10 pengamatan, telah terjadi pengurangan berat sebesar 44.71% untuk jenis C.rotundata, 42.61% untuk jenis H. uninervis, 33,33% untuk jenis H. ovalis dan 63.33% untuk jenis S. isoetifolium. Sebagian besar jenis lamun kecuali H. ovalis
320. Object 85
321. Gambar 21. Persen Pengurangan Berat Lamun Stasiun Barat 322. Pada stasiun Selatan pada hari ke 10 pengamatan, telah terjadi
pengurangan berat sebesar 49.41% untuk jenis C.rotundata, 41.45%, untuk jenis H. uninervis, 31.26% untuk jenis H. ovalis dan 78.33% untuk jenis S. isoetifolium. Hampir sama pada stasiun barat, sebagian besar jenis lamun kecuali H. ovalis mendapatkan kehilangan berat awal mendekati 50%, bahkan untuk jenis S. isoetifolium mencapai lebih dari 70% kehilangan berat awal pada 10 hari pertama lebih tinggi 10% di bandingkan stasiun barat. Pada hari ke-20,
untuk jenis H. uninervis, 99.17% untuk jenis S. isoetifolium (Gambar 22 dan Lampiran 13). Pada stasiun selatan ini pengamatan hanya bisa dilakukan sampai hari ke-30 dan hari ke 21 untuk jenis H. ovalis karena untuk pengambilan sampel berikutnya sudah tidak ditemukan atau hilang di lokasi penelitian.
323. Object 87
324. Gambar 22. Persen Pengurangan Berat Lamun Stasiun Selatan 325.
326.
3. Laju Dekomposisi
ke-10 sebesar 6.63 %/hari dan pada stasiun selatan laju dekomposisi tertinggi pada hari ke 10 sebesar 7.83 %/hari. Untuk lamun jenis H. ovalis pada stasiun barat laju dekomposisi tertinggi pada hari ke-10 sebesar 3.33 %/hari dan pada stasiun selatan laju dekomposisi tertinggi pada hari ke-10 sebesar 3.13 %/hari (Gambar 23 dan Lampiran 14).
328. Object 89
329. Object 92
330. Gambar 23. Laju Dekomposisi Serasah (%/hari) Stasiun Selatan dan Barat
331. Untuk keempat jenis lamun pada dua stasiun berbeda, grafik pada gambar 13, dapat dilihat laju dekomposisi pada hari ke-10
proses kolonisasi dari bakteri-bakteri. Memasuki hari ke-20, grafik menunjukkan adanya penurunan laju dekomposisi. Hal ini diduga terjadi karena adanya penurunan aktivitas dari bakteri-bakteri yang terlibat dalam proses dekomposisi. Detritivor-detritivor, utamanya meiofauna akan berdatangan untuk memakan mikroba-mikroba tersebut yang mengakibatkan terjadinya penurunan aktivitas
memakan dari mikroba dan menghambat laju dekomposisi. Aktivitas memakan dari detritivor akan memudahkan fragmentasi daun
sehingga menyebabkan proses peluruhan bahan organik lebih lanjut, hal ini juga mempertinggi aktivitas bakteri yang mengerubungi daun, sebagaimana diketahui bahwa bertambahnya rasio permukaan dan volume mengakibatkan bertambahnya laju dekomposisi (Onate-Pacalioga, 1992) dan dapat terlihat pada hari ke-40 untuk jenis S. isoetifolium stasiun barat, hari ke 60 untuk jenis H. uninervis stasiun barat dan hari ke 30 untuk H.uninervis stasiun selatan. Memasuki hari berikutnya akan terjadi penurunan laju dekomposisi dan diduga hal ini disebabkan oleh semakin kecilnya jumlah material tumbuhan
(serasah) yang dikonsumsi oleh mikroba.
332. Perkiraan hari habisnya serasah berdasarkan regresi
eksponensial yang dibuat (Lampiran 15), memperlihatkan bahwa untuk jenis C. rotundata pada stasiun barat, serasah akan
terdekomposisi secara sempurna pada saat memasuki hari ke-166, dan pada stasiun Selatan akan terdekomposisi secara sempurna pada saat memasuki hari ke-167. Serasah untuk jenis lamun H. uninervis diperkirakan akan habis pada hari ke-134 (Barat) dan hari ke 136 (Selatan). Serasah untuk jenis lamun S. isoetifolium
(Selatan). Serasah untuk jenis lamun H. ovalis baik pada stasiun barat maupun selatan diperkirakan akan habis pada hari ke-127.
333. C.rotundata memiliki waktu yang lama agar dapat terdekomposisi secara sempurna dibandingkan jenis lamun yang lain. Hal ini
dikarenakan, C. rotundata memiliki kandungan kalori lebih besar dibandingkan jenis lamun lainnya (60.62 kCal/g). Kemudian disusul H. uninervis (40.15 kCal/g), S. isoetifolium (38.38 kCal/g) dan H. ovalis (24.08 kCal/g) (Pradheeba, 2010). Walaupun S. isoetifolium memiliki kalori yang lebih besar dibandingkan H. ovalis namun S. isoetifolium memiliki banyak persen kandungan air pada daunnya (Tabel 1), sehingga S. isoetifolium lebih cepat terdekomposisi secara sempurna dibandingkan H. ovalis.
334. Tabel 2. Perkiraan Hari Habisnya Serasah Berdasarkan Uji Regresi Eksponensial
335.
Stasiun 336.Lamun Jenis 337.Regresi Pers. 338.2 R 339.ari H
340. Barat
341. C.
rotundata 342.0.709e-0.03xy = 343..8990 344. 661 346. H.
uninervis 347.1.043e-0.04xy = 348..9690 349. 341 351. S.
isoetifolium 352.0.509e-0.09xy = 353..9470 354. 25 356. H.
ovalis
357. y =
0.225e-0.03x 358..9630 359. 271
360. Selatan
361. C.
rotundata 362.0.730e-0.03xy = 363..8770 364. 671 366. H.
uninervis 367.1.125e-0.04xy = 368..9790 369. 361 371. S.
isoetifolium 372.0.643e-0.15xy = 373..9230 374. 54 376. H.
M. Parameter Lingkungan
381. Faktor Lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi serasah dan laju dekomposisi lamun yang terjadi di alam
382. Oksigen terlarut sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi yang berlangsung dan berhubungan dengan ketersediaan bakteri yang melakukan proses dekomposisi. Dari pengukuran yang dilakukan, masih dalam kisaran normal dimana untuk stasiun barat sebesar 7.2 ppm dan untuk stasiun selatan sebesar 7.6 ppm.
383. Suhu merupakan salah satu faktor yang berperan dalam
kehidupan lamun. Perbedaan suhu yang tinggi akan menyebabkan stress dan gugurnya daun lamun. Dari pengukuran suhu yang dilakukan, didapatkan rata-rata suhu untuk stasiun 1 sebesar 27OC
dan untuk stasiun 2 juga sebesar 27OC. Suhu yang didapatkan masih
dikategorikan normal. Perlu diketahui bahwa pengukuran suhu dilakukan pada jam 8.00 pagi.
384. Nilai salinitas yang didapatkan pada kedua stasiun penelitian adalah sama yaitu 30 ppt. Salinitas ini terbilang normal menurut Atlas (1981) dalam Yahya (2005), untuk pertumbuhan mikroorganisme yakni 20 – 40 ppt dalam melakukan proses dekomposisi
385. Tabel 3. Parameter Lingkungan 386. Parameter
Lingkungan
387. Kisaran 388. Rata-Rata
390. Barat 391. nSelata 392.Barat 393.elatanS 394. DO (ppm) 395. 6.6 -7.5 396.8.47.0 – 397.7.2 398..6 7 399. Suhu (OC) 400. 27 - 27 401. 27
-27
402. 27
403. 2
7
30 30 0 409. Arus (m/s) 410.0.0780.017 - 411.- 0.0460.004 412.0.042 413..023 0
414.
415. Rata-rata kecepatan arus yang didapatkan pada stasiun barat dan selatan adalah 0.042 m/s dan 0.023 m/s. Rata-rata tinggi gelombang pagi hari di stasiun barat dan selatan adalah 4.82 cm dan 3.16 cm sedangkan sore hari adalah 4.39 cm dan 3.56 cm. Hal ini sesuai dengan produksi serasah yang lebih tinggi pada stasiun Barat dibandingkan dengan stasiun Selatan.
416.
417. Tabel 4. Data Gelombang
418.
3.61 460.3.98 461.
3.88 496.4.27 497.
Selata
3.75 568.4.12 569.
571. Keterangan : H (tinggi gelombang), H1/3 (tinggi gelombang signifikan), T (periode gelombang, T1/3 (tinggi gelombang
signifikan), L (panjang gelombang), HB (tinggi gelombang pecah).
N. Jumlah Bakteri
572. Jumlah bakteri yang didapatkan dari hasil pengamatan di laboratorium terhadap bakteri yang diambil pada stasiun barat yaitu dari daun 2.54 x 107 cfu/g, sedimen 1.59 x 107 cfu/g, dan air laut 2.0 x 107 cfu/ml
sedangkan pada stasiun selatan yaitu dari daun 1.7 x 107 cfu/g, sedimen 1.13 x
107 cfu/g dan air laut 1.4 x 107 clu/ml. Jumlah bakteri pada stasiun Barat lebih
tinggi dibandingkan stasiun Selatan. Hal ini sesuai dimana laju dekomposisi lamun di stasiun Barat relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun Selatan. Menurut Yahya (2005), bahwa perbedaan jumlah bakteri pada masing-masing
573. Tabel 5. Jumlah Bakteri Pada Lamun, Sedimen dan Air Laut Pada Berbagai Tingkat Pengenceran
574. S
Barat 594.70 595.100 596.85 597.
V.
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
659. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
1. Produksi serasah tertinggi di Stasiun Barat dan Selatan terdapat pada jenis Thalassia hemprichii baik yang terapung maupun yang tenggelam sedangkan produksi serasah terendah pada jenis Halophila ovalis. 2. Laju dekomposisi tertinggi di Stasiun Barat dan Selatan terdapat pada
jenis Syringodium isoetifolium sedangkan laju dekomposisi terendah pada jenis H. ovalis.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
661...Azkab, M.H. 1999. Dekomposisi Lamun. Oseana, Volume XXV, Nomor 4, 1999 : 11-20. Balitbang Biologi Laut, Pustlibanng Biologi Laut-LIPI, Jakarta.
662..Azkab, M.H. 2000. Produktivitasdi Lamun. Oseana, Volume XXV, Nomor 1, 2000 : 1-11. Balitbang Biologi Laut, Pustlibang Biologi Laut-LIPI, Jakarta.
663...Azkab, M.H. 2006. Ada Apa Dengan Lamun. Oseana, Volume XXXI, Nomor 3, 2006 : 45-55. Balitbang Biologi Laut, Pustlibang Biologi Laut-LIPI, Jakarta.
664.. .Barnes, R. S. K. & R. N. Hughes. 1999. An Introduction to Marine Ecology. Third Edition. Blackwell Science, London.
665. Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut Aset
Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
666...Den Hartog, C. 1969. The Seagrasses of The World. Verhandelingen Der Koninkluke Nederlandse Akademie Van Wetenschappen, Afd. Natuurkunde.
667.. .Erftemeijer, Paul. 1993. Factors Limiting Growth and Production of Tropical Seagrasses: Nutrient Dynamic in Indonesian
Seagrass Beds, Chapter 6 : 99-127. Universiteit Nijmegen, Netherlands.
668...Fachrul, MF. 2006. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta.
669...Fenchel, T. 1977. Aspects of the decomposition of seagrass. In: Seagrass Ecosystems: Scientific Perspective (eds. C. P. McRoy & C. Helfferich). Marcl Dekler Inc., New York.
670...Hemminga, M.A. and Duarte, C.M. 2000. Seagrass Ecology. Cambridge University Press, Cambridge.
671...Hutabarat, Sahala dan Evans. 2006. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia. Jakarta.
672...Hutomo, M.1987. Proses Peningkatan Nutrient Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Lamun. Reef Research Vol. 9 No. 1,
COREMAP. Jakarta
673..Hutomo, M dan Azkab, M.H. 1987. Peranan Lamun Di Lingkungan Laut Dangkal Oseana, Volume XII, Nomor 1, 1987 : 13 – 23.
674.. .Idrus, M., 2001. Pemetaan Perairan Laut Dangkal Pulau Barrang Lompo dan Bone Batang melalui Analisis Citra Landsat TM.
Skripsi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
675.Juman RA. 2005. Biomass, Litterfall and Decomposition Rates for the Fringed Rhizophora mangle Forest Lining the Bon Accord Lagoon, Tobago. Rev. Biol. Trop. (Int. J. Trop. Biol. ISSN-0034-7744) Vol. 53 (Suppl. 1): 207-217.
676...Kirkman, H & D.D. Reid. 1979. A Study Of The Role Of The Seagrass Posidonia australis In The Carbon Budget Of An
Estuary. Aquatic Botani, Volume 7, 1979 : 173-183. Australia. 677...Kiswara, Wawan dan Hutomo, Malikusworo. 1985. Habitat Dan
Sebaran Geografik Lamun. Oseana, Volume X, Nomor 1 : 21- 30. Balitbang Biologi Laut, PustlibangBiologi Laut-LIPI.
678...Kuriandewa, T.E. 2009. Tinjauan Tentang Lamun di Indonesia : Peran Ekosistem Lamun dalam Produktivitas Hayati dan
Meregulasi Perubahan Iklim (Lokakarya Nasional I Pengelolaan Ekosistem Lamun. Sheraton Media Jakarta. Jakarta.
679...Nojima S, Mukai H. 1996. The Rate and Fate of Production of Seagrass Debris in Cages over a Syringodium isoetifolium
(Aschers.) Dandy Meadow in Fiji. Di dalam: Kuo J, Phillips RC, Walker DI, Kirkman H, editor. Seagrass Biology: Proceedings of an International Workshop, Rottnest Island, Western Australia 25-29 Januari 1996.
680...Nontji, Anugerah. 2005. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. 681.Onate-Pacalioga, J.A., 1992. Leaf Litter Decomposition of Enhalus
acoroides (L.f) Royle and Thalassia hemprichii (Ehrenberg) Aschersen in Bais Bay. Third Asean Science and Technology Week Conference Proceeding Volume 6. Marine Science : Living Coastal Resources. National Science and Board, Singapore, Departement of Zoology, National University of Singapore and National Science and Board, Singapore.
682...Pradheeba, M, E. Dilipan, E.P. Nobi, T. Thangradjou and K. Sivakumar. 2010. Evaluation of Seegrasses for Their Nutritional Value. Indian Journal of Geo Marine Sciences. Vol 40(1), February 2011, pp. 105-111.
683....Romimohtarto, K dan Juwanan, S. 2007 Biologi Laut. Djambatan.
Jakarta.