• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata Pada Berbagai Tingkat Salinitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata Pada Berbagai Tingkat Salinitas"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN

Rhizophora mucronata PADA BERBAGAI

TINGKAT SALINITAS

SKRIPSI

Oleh:

INTAN MARLINA GULTOM

041202012/BUDIDAYA HUTAN

DEPARTEMEN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

Judul Penelitian : Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata pada Berbagai Tingkat Salinitas

Nama Mahasiswa : Intan Marlina Gultom

Nim : 041202012

Departemen : Kehutanan

Program Studi : Budidaya Hutan

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yunasfi, M.Si. Dr. Budi Utomo, SP. MP

Ketua Anggota

Mengetahui,

(3)

ABSTRACT

INTAN MARLINA GULTOM. Decomposition Rate of Rhizophora mucronata

Litter Leaf in the Different Salinity Level. Under Academic Supervision of

YUNASFI and BUDI UTOMO.

Mangrove important role in maintaining soil fertility forest, one of the functions of mangrove forest products to maintain soil fertility that came from litter leaf. Litter leaf give the decomposition of organic material and influenced by salinity. The litter leaf produced essence that absorbed by plants and also a source of feed for fish. This is a research in Canang Belawan, Medan.

The objectives of this research were to measure the decomposition rate of

R. mucronata litter leaf at different levels of salinity as well as to determined

composition of carbon (C), nitrogen (N), phosphorus (P) substance that obtained in decomposition of R. mucronata litter leaf on the different levels of salinity.

Research results indicate that the level of salinity >30 ppt decompositiated faster than the levelof salinity <30 ppt. Average decompositiated namely the level at 0-10 ppt salinity is 14,13 grams, salinity 10-20 ppt is 17,5 grams, salinity 20-30 ppt is 21,1 grams, and salinity >30 ppt is 4 grams. Leaf decomposition rate

R. mucronata at the level of salinity 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt, and >30 ppt

are 0,36, 0,30, 0,24, and 0,72. While C elements salinity level that is 0-10 ppt, 10-20 ppt, 10-20-30 ppt, and >30 ppt is 1,38%, 2,42%, 2,5%, 0,32%. N elements in the burly offal leaves R. mucronata on the level of salinity 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt, and >30 ppt is 0,026%, 0,05%, 0,031%, 0,006%, and the P elements at the salinity level of 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt, and >30 ppt is 0,025%, 0,06%, 0,021%, 0,004%.

(4)

ABSTRAK

INTAN MARLINA GULTOM, Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata pada berbagai Tingkat Salinitas, di bawah bimbingan YUNASFI dan BUDI UTOMO.

Mangrove berperan penting dalam mempertahankan kesuburan tanah hutan, salah satu fungsi produk hutan mangrove untuk menjaga kesuburan tanah yang berasal dari serasah. Serasah yang mengalami dekomposisi memberikan sumbangan bahan organik yang merupakan sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan organisme lain di ekosistem mangrove. Proses diantaranya dipengaruhi oleh salinitas, selain menghasilkan bahan organik, serasah juga melepaskan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan dikawasan pesisir.

Tujuan penelitian adalah untuk mengukur laju dekomposisi serasah daun

Rhizophora mucronata pada berbagai tingkat salinitas serta untuk menentukkan

kandungan unsur karbon (C), nitrogen (N) dan fosfor (P) yang terdapat pada serasah daun R. mucronata yang mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serasah daun R. mucronata yang ditempatkan pada tingkat salinitas >30 ppt lebih cepat terdekomposisi daripada tingkat salinitas < 30 ppt. Rata-rata serasah daun R. mucronata yang terdekomposisi yaitu pada tingkat salinitas 0-10 ppt adalah 14,13 gram, salinitas 10-20 ppt adalah 17,5 gram, salinitas 20-30 ppt adalah 21,1 gram, dan salinitas >30 ppt adalah 4 gram. Laju dekomposisi serasah daun R. mucronata pada tingkat salinitas 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt dan >30 ppt adalah 0,36, 0,30, 0,24, dan 0,72 sedangkan unsur hara C serasah daun R. mucronata yaitu tingkat salinitas 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt dan >30 ppt adalah 1,38%, 2,42%, 2,5%, 0,32%. Unsur hara N pada serasah daun R.mucronata yaitu pada tingkat salinitas 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt dan >30 ppt adalah 0,026%, 0,05%, 0,031%, 0,006% serta unsur hara P serasah daun R.mucronata pada tingkat salinitas 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt dan >30 ppt adalah 0,025%, 0,06%, 0,021%, 0,004%.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sibolga pada 18 Januari 1986 dari Bapak J.P. Gultom

dan mama E. Panjaitan. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Tahun 1998 penulis lulus dari SDN 084087 Sibolga, tahun 2001 lulus

dari SMPN 1 Sibolga, tahun 2004 lulus dari SMU Markus Medan. Penulis masuk

Universitas Sumatera Utara Program studi Budidaya Hutan melalui seleksi

penerimaan mahasiswa baru (SPMB).

Pada tahun 2006 bulan Juni, penulis mengikuti Praktek Pengenalan dan

Pengelolaan Hutan (P3H) di hutan pegunungan Sopo Tinjak, hutan mangrove di

Desa Bintuas dan juga Hutan Mandailing Natal di Kabupaten Mandailing Natal

selama 20 hari. Pada tahun 2008 penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan di

Musi Hutan Persada Sumatera Selatan selama dua bulan, mulai dari bulan Juni

sampai bulan Agustus. Penulis melakukan penelitian di kawasan hutan mangrove

di Belawan Canang Medan selama 105 hari.

Penulis mengikuti organisasi kemahasiswaan Unit Kegiatan Mahasiswa

Kebaktian Mahasiswa Kristen USU sebagai anggota di Tim Kehutanan selama

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan berkat dan kasih-Nya pada penulis, sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini membahas tentang Laju

Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata pada Berbagai Tingkat

Salinitas dengan tujuan untuk mengukur laju dekomposisi serasah daun R. mucronata dan mengetahui kandungan unsur karbon (C), nitrogen (N) dan

fosfor (P) yang terdapat pada serasah daun R. mucronata pada berbagai tingkat

salinitas.

Dengan selesainya penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua Orang Tua tercinta, Ayahanda J.P Gultom dan Ibunda E. Panjaitan

dan saudariku Kak Agnes dan Adik Elvina yang telah memberi dukungan.

2. Bapak Dr. Ir. Yunasfi, M.Si. dan Bapak Dr. Budi Utomo, SP. MP. selaku

Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Sahabat-sahabatku (Grace, Lidia, Hotmian, Klara, Febroni, Yopi, Cory).

4. Teman-teman Angkatan 2004 di Departemen Kehutanan Universitas Sumatera

Utara, khususnya teman-teman di Program Studi Budidaya Hutan.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam

pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang kehutanan.

(7)

DAFTAR ISI

Luas dan Penyebaran Hutan Mangrove di Indonesia ... 7

Faktor-faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mangrove 8 Salinitas ... 8

Tanah ... 9

Cahaya ... 10

Curah Hujan ... 10

Suhu ... 11

Unsur-unsur hara yang terkandung didalam serasah daun Rhizophora mucronata ... 11

Keadaan Hidro Oseanografi ... 14

METODOLOGI PENELITIAN ... 17

Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

(8)

Prosedur Penelitian ... 17

Penentuan lokasi berdasarkan tingkat salinitas ... 17

Penempatan kantong serasah daun R. mucronata ... 18

Analisis Serasah Daun R. mucronata ... 19

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

Hasil Penelitian ... 23

Laju Dekomposisi ... 23

Makrobentos ... 25

Kandungan Unsur Hara Karbon, Nitrogen, Fosfor ... 26

Pembahasan ... 30

Laju Dekomposisi ... 30

Faktor lingkungan ... 31

Makrobentos ... 32

Kandungan Unsur Hara ... 33

Karbon ... 33

Nitrogen ... 34

Fosfor ... 35

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 37

Saran ... 37

DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

1. Luas hutan mangrove di Indonesia ... .. 8

2. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove ... ..12

3. Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan di dalam kantong serasah daun

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1. Kerangka pemikiran penelitian ... 4

2. Rata-rata sisa serasah daun Rhizophora mucronata selama 105 hari ... 24

3. Laju dekomposisi serasah daun Rhizophora mucronata selama 105 hari pada berbagai tingkat salinitas ... 24

4. Sisa serasah yang terdekomposisi pada pengamatan hari ke-105 ... 25

5. Makrobentos yang ditemukan di dalam kantong serasah daun R. mucronata. Siput laut (a), (b), (c), cacing (d), (e), kepiting (f).. ... 26

6. Unsur hara karbon pada berbagai tingkat salinitas ... 27

7. Unsur hara nitrogen pada berbagai tingkat salinitas ... 28

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

 

No. Teks Halaman

1. Perhitungan Laju Dekomposisi Metode Olson ... 40

2. Berat awal serasah daun R. mucronata ... 41

3. Berat laju dekomposisi serasah daun R. mucronata ... 42

4.

Makrobentos yang terdapat didalam kantong serasah daun

R. mucronata ... 43

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mangrove merupakan suatu ekosistem dengan fungsi yang unik di

kawasan pesisir. Pengaruh laut dan daratan, di kawasan ekosistem mangrove

menyebabkan terjadi interaksi kompleks antara sifat fisik dan sifat biologi.

Berdasarkan sifat fisik, mangrove dapat berperan sebagai penahan ombak serta

penahan intrusi dan abrasi air laut. Hutan mangrove dapat berperan sebagai

sumber penghasilan masyarakat desa di kawasan pesisir, tempat berkembangnya

biota laut tertentu dan flora fauna pesisir, serta dapat dikembangkan sebagai

wanawisata untuk kepentingan pendidikan dan penelitian (Arief, 2003).

Mangrove berperan penting dalam melindungi pantai dari gelombang

angin dan badai, tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan,

lahan pertanian dari angin kencang dan intrusi air laut. Akar mangrove mampu

mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya mengurangi energi

gelombang dan memperlambat arus. Lingkungan mangrove dapat menyediakan

perlindungan dan sumber makanan berupa bahan-bahan organik bagi organisme

di kawasan pesisir. Mangrove juga berperan penting dalam siklus hidup berbagai

jenis ikan, udang dan moluska serta sebagai pemasok bahan organik sebagai

sumber makanan bagi organisme di perairan (Davies dan Claridge, 1993 diacu

oleh Noor dkk., 1999). Serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan

perairan pesisir (Nontji, 1987 diacu oleh Noor dkk., 1999). Serasah mangrove

(13)

dan digunakan oleh jasad renik di lantai hutan dan sebagian lagi akan terlarut dan

terbawa air surut ke perairan sekitarnya (Suwarno, 1985 diacu oleh Rismunandar,

2000).

Pemanfaatan dan pengalihan hutan mangrove secara berlebihan untuk

berbagai kegiatan dapat menyebabkan hutan mangrove akan rusak dan lahan akan

menjadi terbuka. Akibat dari itu tanah sebagai tempat tumbuh menjadi rusak

sehingga hutan mangrove tidak dapat lagi melanjutkan fungsinya sebagai penahan

dari abrasi pantai, mengganggu tata air, salinitas akan meningkat dan akan

menurunkan kadar keasaman tanah (Soeroyo, 1993).

Salah satu fungsi yang dapat mempertahankan kesuburan tanah hutan

mangrove adalah guguran serasah daun yang berada di lantai hutan yang akan

memberikan sumbangan bahan organik, Bahan organik yang diurai oleh bakteri

dan fungi berasal dari serasah daun R. mucronata. Serasah daun R. mucronata

yang terdapat di lantai hutan akan mengalami dekomposisi sehingga

menghasilkan unsur hara yang berperan dalam mempertahankan kesuburan tanah

serta menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan invertebrata melalui

rantai makanan fitoplankton dan zooplankton.

Proses dekomposisi dimulai dari proses penghancuran yang dilakukan oleh

marobentos terhadap tumbuhan dan sisa bahan organik mati selanjutnya menjadi

ukuran yang lebih kecil. Kemudian dilanjutkan dengan proses biologi yang

dilakukan oleh bakteri dan fungi untuk menguraikan partikel-partikel organik.

(14)

enzim yang dapat menguraikan bahan organik menjadi protein dan karbohidrat

(Sunarto, 2003).

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengukur laju dekomposisi serasah daun Rhizophora mucronata pada

berbagai tingkat salinitas.

2. Untuk mengetahui kandungan unsur karbon (C), nitrogen (N) dan fosfor (P)

yang terdapat pada serasah daun R. mucronata yang mengalami

terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas.

Hipotesis

1. Serasah daun R. mucronata yang ditempatkan pada tingkat salinitas >30 ppt

lebih cepat terdekomposisi.

2. Unsur-unsur karbon (C), nitrogen (N) dan fosfor (P) pada serasah daun

R. mucronata lebih cepat dilepas pada tingkat salinitas > 30 ppt.

Manfaat Penelitian

1. Menentukan kecepatan laju dekomposisi serasah daun R. mucronata

2. Menentukan kecepatan pelepasan berbagai unsur hara C, N, P

3. Bahan acuan untuk menentukan tingkat kesuburan tanah di ekosistem

(15)

Kerangka Pemikiran

Mangrove disebut jenis pohon-pohon yang tumbuh di antara batas air

tertinggi saat air pasang dan batas air terendah diatas rata-rata permukaan laut.

Jenis pohon mangrove yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera,

Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Nypah. Salah satu produk hutan

mangrove adalah daun, daun yang jatuh ke lantai hutan disebut serasah, serasah

daun tersebut akan memberikan sumbangan bahan organik yang akan mengalami

dekomposisi dan dipengaruhi oleh salinitas. Serasah yang mengalami

dekomposisi menghasilkan unsur hara yang digunakan tumbuhan untuk hidup dan

berkembang, serta menjadi sumber pakan bagi jenis ikan dan invertebrata. Secara

rinci kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Defenisi Hutan Mangrove

Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda,

namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Tomlinson (1986) dan

Wightman (1989) diacu oleh Noor dkk. (1999) mendefinisikan mangrove baik

sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai

komunitas. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral

yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung

(Saenger dkk., 1983). Sementara itu Soerianegara (1987) diacu oleh Noor dkk.

(1999) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada

tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang

surut air laut, dan terdiri atas jenis-jenis pohon Avicennia, Sonneratia,

Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras,

Scyphyphora dan Nypah.

Pada dasarnya karakteristik dari ekosistem mangrove adalah berkaitan

dengan keadaan tanah, salinitas, penggenangan, pasang surut, dan kandungan

oksigen. Adapun adaptasi dari tumbuhan mangrove terhadap habitat tersebut

tampak pada fisiologi dan komposisi struktur tumbuhan mangrove (Rismunandar,

2000).

Menurut Arief (2003) Pembagian zonasi juga dapat dilakukan berdasarkan

jenis vegetasi yang mendominasi, dari arah laut kedataran berturut-turut sebagai

(17)

1. Zone Avicennia, terletak pada lapisan paling luar dari hutan mangrove. Pada

zone ini, tanah berlumpur lembek dan berkadar garam tinggi. Jenis Avicennia ini

banyak ditemui berasosiasi dengan Sonneratia spp. Karena tumbuh dibibir laut,

jenis-jenis ini memiliki perakaran yang sangat kuat yang dapat bertahan dari

hempasan ombak laut. Zone ini juga merupakan zone perintis atau pioner, karena

terjadinya penimbunan sedimen tanah akibat cengkeraman perakaran tumbuhan

jenis-jenis ini.

2. Zone Rhizophora, terletak dibelakang zone Avicennia dan Sonneratia. Pada

zone ini, tanah berlumpur lembek dengan kadar garam lebih rendah. Perakaran

tanaman tetap terendam selama air laut pasang.

3. Zone Bruguiera, terletak dibelakang zone Rhizophora. Pada zone ini, tanah

berlumpur agak keras. Perakaran tanaman lebih peka serta hanya terendam pasang

naik dua kali sebulan.

4. Zone Nypah, yaitu zone pembatas antara daratan dan lautan, namun zone ini

sebenarnya tidak harus ada, kecuali jika terdapat air tawar yang mengalir (sungai)

ke laut.

Manfaat Hutan Mangrove

Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan

lingkungan sekitarnya. Bagi masyarakat pesisir, pemanfaatan mangrove untuk

berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. Akhir-akhir ini, peranan mangrove

bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak

(18)

1999). Menurut Departemen Kehutanan (2002) manfaat hutan mangrove terdiri

atas berbagai fungsi lindungan baik bagi lingkungan ekosistem daratan dan lautan

maupun habitat berbagai jenis fauna, diantaranya:

- Sebagai proteksi dari abrasi/erosi, gelombang atau angin kencang

- Pengendali intrusi air laut

- Habitat berbagai jenis fauna

- Sebagai tempat mencari makan, memijah dan berkembang biak berbagai jenis

ikan dan udang

- Pembentukan lahan melalui proses sedimentasi

- Pengontrol penyakit malaria

- Memelihara kualitas air (mereduksi polutan, pencemar air)

- Penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi dibanding tipe hutan lain.

Luas dan Penyebaran Hutan Mangrove di Indonesia

Hutan mangrove yang ada di Indonesia tersebar di daerah pantai yang

terlindungi dan di muara-muara sungai. Indonesia terdiri dari 13,677 pulau memiliki

garis pantai sepanjang lebih kurang 81.000 km (Kusmana dkk., 2008). Data perkiraan

luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui

secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. Meskipun

mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan

dipetakan, kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove

pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (Noor dkk., 1999). Luas

(19)

Tabel 1. Luas hutan mangrove di Indonesia

No. Provinsi UNESCO 1990

(hektar)

INTAG 1993 (hektar)

1 Daerah Istimewah Aceh 50.000 102.969

2 Sumatera Utara 60.000 98.344

3 Sumatera Barat - 4.844

4 Riau 95.000 221.045

5 Jambi - 13.453

6 Sumatera Selatan 195.000 363.424

7 Bengkulu - 2.612

8 Lampung 17.000 49.443

Sumatera 417.000 856.134

10 DKI Jakarta - -

Bali dan Nusa Tenggara 3.700 4.598

20 Kalimantan Barat 40.000 194.288

21 Kalimantan Tengah 10.000 48.733

22 Kalimantan Selatan 75.000 120.782

23 Kalimantan Timur 40.000 775.640

Kalimantan 165.000 1.139.443

25 Sulawesi Utara - 38.135

26 Sulawesi Tengah - 37.640

27 Sulawesi Tenggara 29.000 70.841

28 Sulawesi Selatan 24.000 104.021

Sulawesi 53.000 250.637

29 Maluku 100.000 148.696

30 Irian Jaya 2.943.000 1.326.990

Jumlah Total 3.707.100 3.771.493

Sumber : FAO, 1990 dalam Arief (2003).

Faktor-faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mangrove Salinitas

Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Berbagai

jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda.

(20)

media tumbuhnya, sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan

garam dari kelenjar khusus pada daunnya (Noor, 1999).

Perkembangan salinitas berpengaruh terhadap perkembangan jenis

makrobentos. Adanya masukan air sungai atau hujan akan menurunkan kadar

salinitas, yang akan mengakibatkan kematian beberapa jenis makrobentos tersebut

Kehidupan beberapa makrobentos tergantung pada rendahnya salinitas, tetapi ada

juga sebaliknya. Aktivitas makroorganisme yang tahan terhadap salinitas yang

tinggi dan mikroorganisme membantu dalam proses pendekomposisian bahan

organik dalam tanah. Kadar salinitas jenis tegakan Rhizophora spp berkisar antara

32 ppt-36 ppt, pada saat keadaan air laut tidak pasang/surut (Arief, 2003).

Tanah

Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah

berlumpur, terutama di daerah endapan lumpur terakumulasi. Di Indonesia,

substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan R. mucronata and Avicennia

marina (Kint, 1934).

Hutan mangrove tanahnya selalu basah, mengandung garam, mempunyai

sedikit oksigen dan kaya akan bahan organik. Bahan organik yang terdapat di

dalam tanah, terutama berasal dari sisa tumbuhan yang diproduksi oleh mangrove

sendiri. Serasah secara lambat akan hancur oleh mikroorganisme, seperti bakteri,

jamur dan lainnya. Selain itu juga terjadi sedimen halus atau partikel pasir, bahan

(21)

tanah mangrove kurang membentuk lumpur berlempung dan warnanya bervariasi

dari abu-abu muda dan hitam (Soeroyo, 1993).

Jenis tanah yang mendominasi kawasan mangrove biasanya adalah fraksi

lempung berdebu, akibat rapatnya bentuk perakaran-perakaran yang ada. Fraksi

lempung berpasir hanya dapat dibagian depan (arah pantai). Nilai pH tanah

dikawasan mangrove berbeda-beda, tergantung pada tingkat kerapatan vegetasi

yang tumbuh dikawasan tersebut. Jika kerapatan rendah, tanah akan mempunyai

nilai pH yang tinggi. Nilai pH tidak banyak berbeda, yaitu antara 4,6-6,5 dibawah

tegakan jenis Rhizophora spp. (Arief, 2003).

Cahaya

Cahaya adalah salah satu faktor yang penting dalam proses fotosintesis

dalam melakukan pertumbuhan tumbuhan hijau. Cahaya mempengaruhi respirasi,

transpirasi, fisiologi dan juga struktur fisik tumbuhan. Intensitas cahaya, di dalam

kualitas dan juga lama penyinaran juga merupakan salah satu faktor yang penting

untuk tumbuhan. Umumnya tumbuhan di ekosistem mangrove juga membutuhkan

intensitas cahaya yang tinggi (MacNae, 1968).

Curah Hujan

Menurut Aksornkoae (1993) diacu oleh Rismunandar (2000) menyatakan

bahwa jumlah dan lama pada distribusi curah hujan yang merupakan faktor untuk

dapat mengatur perkembangan dan penyebaran tumbuhan. Curah hujan sangat

(22)

kadar garam air permukaan dan air tanah yang ada pada gilirannya dapat

mempengaruhi kelangsungan hidup spesies-spesies di mangrove. Tumbuhan

mangrove tumbuh dengan baik pada daerah curah hujan dengan kisaran

1500-3000 mm/tahun tetapi tumbuhan mangrove juga dapat ditemukan dengan curah

hujan 4000 mm/tahun, yang tersebar antara 8-10 bulan dalam satu tahun.

Suhu

Pada Rhizophora spp., Ceriops spp., Exocoecaria spp. dan Lumnitzera

spp., laju tertinggi produksi daun baru adalah pada suhu 26-280 C, untuk

Bruguiera spp adalah 270 C dan Avicennia marina memproduksi daun baru pada

suhu 18-200 C (Hutchings dan Saenger, 1987).

Unsur-unsur hara yang terkandung di dalam serasah daun R. mucronata Nitrogen

Unsur N di dalam tanah berasal dari hasil dekomposisi bahan organik

sisa-sisa tanaman maupun binatang, pemupukan (terutama urea dan ammonium nitrat)

dan air hujan. Pengaruh bahan organik terhadap tanah dan terhadap tanaman

tergantung pada laju proses dekomposisi (Hanafiah, 2003).

Nitrogen harus mengalami fiksasi menjadi NH3, NH4 dan NO3. Meskipun

beberapa organisme dapat memanfaatkan nitrogen dalam bentuk gas, akan tetapi

nitrogen di perairan tidak terdapat dalam bentuk gas. Nitrogen berupa nitrogen

(23)

nitrogen (N2) dalam bentuk gas dan nitrogen organik berupa protein, asam amino,

dan urea (Effendi, 2003).

Fosfor (P)

Fosfor merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan

algae, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan dan algae yang

sangat mempengaruhi produktivitas perairan (Effendi, 2003).

Karbon (C)

Karbon dan oksigen yang terdapat di atmosfer berasal pelepasan CO2 dan

H2O. Oksigen secara berangsur terbentuk karena rerata produksi biomassa yang

menghasilkan oksigen melampaui sedikit respirasi yang mengkonsumsi oksigen,

maka CO2 berperan dalam pembentukan iklim. Karbondioksida berperan besar

dalam proses pelapukan secara kimia batuan dan mineral (Notohadiprawiro, 1998).

Hara

Kandungan unsur hara yang terdapat di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove

terdiri dari karbon, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Data

selengkapnya dapat dilihat dalam Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove

Sumber : Laboratorium Fahutan, IPM, 1997

No. Jenis Daun Karbon Nitrogen Fosfor Kalium Kalsium Magnesium

1 Rhizophora 50.83 0.83 0.025 0.35 0.75 0.86

2 Ceriops 49.78 0.38 0.006 0.42 0.74 1.07

3 Avicennia 47.93 0.35 0.086 0.81 0.30 0.49

(24)

Dekomposisi Serasah

Dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun kimiawi yang

sederhana oleh mikroorganisme tanah (bakteri, fungi dan hewan tanah lainnya)

atau sering disebut juga mineralisasi yaitu proses penghancuran bahan organik

yang berasal dari hewan dan tanaman menjadi senyawa-senyawa anorganik

sederhana (Sutedjo dkk., 1991).

Serasah yang jatuh ke lantai hutan tidak langsung mengalami pelapukan oleh

mikroorganisme, tetapi memerlukan bantuan hewan-hewan yang disebut

makrobentos. Makrobentos memiliki peran yang sangat besar dalam penyediaan

hara bagi pertumbuhan dan perkembangan pohon-pohon mangrove maupun bagi

makrobentos itu sendiri. Makrobentos berperan sebagai dekomposer awal yang

bekerja dengan cara mencacah-cacah daun-daun menjadi bagian-bagian kecil,

yang kemudian akan dilanjutkan oleh organisme yang kecil, yakni

mikroorganisme (bakteri dan fungi)  yang menguraikan bahan organik menjadi

protein dan karbohidrat. Pada umumnya keberadaan makrobentos mempercepat

proses dekomposisi (Arief, 2003).

(25)

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak/Posisi

Pelabuhan Belawan berada di dalam Wilayah kota Medan yang terletak

± 27 km dari pusat kota tepatnya pada posisi 03_47’_00” LU;980-42’-00” BT.

Keadaan Hidro Oseanografi

a. Hidrografi

Pelabuhan Belawan di muara sungai Belawan sepanjang pantai tanahnya labil

berlumpur. Tingkat pengendapan/sedimentasi berkisar antara 0,4-0,2 cm/hari dan

sangat dipengaruhi oleh sungai Belawan dan sungai Deli. Alur pelayaran yang

dimiliki adalah sepanjang 13 km dengan lebar 100 m kedalaman 9,50 m LWS.

b. Pasang surut

Air tinggi tertinggi HHWS: 3,30 MLWS

Air tinggi MHWS: 2,40 MLWS

Duduk tengah MSL : 1,50 MLWS

Chart datum MLWS: 0,00 MLWS

Air terendah LWS: 1,80 MLWS

Muka surut : 1,50 MLWS

Waktu tolok : GMT + 07,00

Sifat pasut : harian ganda beraturan

Tinggi air rata-rata pada pasang purnama adalah 192 cm dan saat pasang mati 56

(26)

surut mati kadang-kadang sama sekali tidak arus, sedangkan di saat pasang surut

perdani kadang-kadang terjadi arus keluar ± 1 mil dan arus naik ± 2 mil.

c. Gelombang

Pada daerah kawasan Pelabuhan Belawan dan sekitarnya kecepatan angin

maksimum mencapai 4,3 m/detik. Kondisi ini akan menimbulkan gelombang

setinggi 0,6 m dan umumnya terjadi pada sore hari.

d. Arus

Arus kearah darat sangat dipengaruhi oleh Sungai Belawan dan sungai

Deli, sedangkan arus kearah laut dipengaruhi oleh Selat Malaka. Faktor musim

juga turut mempengaruhi arah arus demikian pula kecepatannya. Disaat pasang

purnama kecepatan arus masuk mencapai 3 knot dengan kecepatan terkecil sekitar

0,2 knot. Kecepatan arus dipantai stasiun yang berada pada posisi 030-49’-18”

LU; 980-44’-04” BT.

e. Angin

1. Desember, Januari, Februari

Angin arah BL/U/TL, kecepatan 04-08 knot, Dominan TL/16 knot.

Gelombang : 0,8-1,0 M

Suhu : 26,10C-29,00 C

Lembab nisbi : 81%-83%

2. Maret, April, Mei

Angin arah TL/BD/BL, kecepatan 04-07 knot, Dominan BL/12 knot.

Gelombang : 0,5-1,0 M

(27)

Lembab nisbi : 79%-80%

3. Juni, Juli, Agustus

Angin arah BD/S/TG, kecepatan 04-07 knot, Dominan BL/22 knot.

Gelombang : 0,5-1,0 M

Suhu : 26,00C-27,50 C

Lembab nisbi : 82%-85%

4. September, Oktober, Nopember

Angin arah TL/BD/BL, kecepatan 04-07 knot, Dominan BL/12 knot.

Gelombang : 0,5-1,0 M

Suhu : 25,40C-26,00 C

Lembab nisbi : 82%-85%

(Data Fasilitas Pelabuhan Belawan, Juni 2006)

Keterangan :

1. HHWS : Highest High Water Spring

2. MHWS : Mean High Water Spring

3. MLWS : Mean Low Water Spring

4. MSL : Mean Sea Level

5. LWS : Low Water Spring

6. Angka-angka MLWS yang dinyatakan pada kondisi umum ketika pasang

surut adalah nilai ketinggian rata-rata pada air ketika pasang surut yang

(28)

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan mangrove Canang Belawan

Medan. Penimbangan serasah dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan

Departemen Kehutanan sedangkan analisis unsur hara Karbon, Nitrogen dan

Fosfor dilakukan di Laboratorium Sentral Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara. Penelitian di lapangan dilaksanakan bulan September 2008

sampai bulan Februari 2009.

Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini adalah serasah

daun R. mucronata yang diambil dari kawasan hutan mangrove Canang Belawan.

Peralatan yang digunakan meliputi: peta kawasan hutan mangrove,

Hand refractormeter dan untuk keperluan berat kering serasah di Laboratorium

dengan alat yang digunakan adalah oven dan timbangan analitik. Kantong serasah

(Litter bag yang berukuran 40 x 30 cm daun yang terbuat dari nylon), kantong

plastik dengan ukuran ¼ kg, tali plastik (rafia), patok bambu, dan amplop sampel.

Prosedur Penelitian

Penentuan lokasi berdasarkan tingkat salinitas

Lokasi yang dijadikan sebagai tempat penelitian diukur tingkat

(29)

ke laut dengan menggunakan alat Hand refractometer. Makin dekat ke arah laut,

maka salinitas akan semakin tinggi. Pengukuran salinitas dilakukan 3 kali yaitu

pagi, siang dan sore hari. Tingkat salinitas yang diukur adalah: 0-10 ppt, 10-20

ppt, 20-30 ppt, > 30 ppt.

Penempatan kantong serasah daun R. mucronata

Serasah daun R. mucronata diambil dari lantai hutan mangrove Canang

Belawan. Serasah daun R. mucronata ditimbang seberat 50 gr dan dimasukkan ke

kantong serasah. Pada tiap salinitas ditempatkan kantong serasah daun sebanyak

33 kantong, kantong tersebut diikat dengan tali rafia yang telah dililitkan ke patok

dan patok dimasukan ke dalam tambak sehingga kantong serasah terendam oleh

air. Patok digunakan sebagai penahan kantong serasah agar tidak terbawa air

pasang.

Setelah kantong serasah ditempatkan pada tingkat salinitas yang digunakan

ke dalam tambak, kantong serasah tersebut diambil sekali dalam 15 hari sebanyak

3 kantong serasah dari tiap tingkat salinitas. Kantong berisi serasah yang diambil

dari semua tingkat salinitas adalah sebanyak 12 kantong. Serasah daun dari

kantong serasah tersebut dikeluarkan dan ditiriskan/dikeringanginkan kemudian

ditimbang bobot basahnya. Selanjutnya dimasukkan kedalam amplop sampel.

Amplop kantong kertas yang berisi serasah daun R. mucronata dimasukan

kedalam oven dengan suhu 1050 C selama 3 x 24 jam, setelah dioven serasah

tersebut ditimbang untuk mengetahui bobot keringnya. Laju dekomposisi serasah

(30)

Analisis serasah daun R. mucronata

Serasah daun dari tiap tingkat salinitas yang telah diketahui berat

dianalisis unsur hara C, N, P. Analisis unsur hara dilakukan 4 kali, yaitu diawal

pengeringan, minggu pertama sampai minggu berikutnya.

Analisis Data

1. Perhitungan Laju Dekomposisi

Laju dekomposisi serasah dihitung dengan menggunakan rumus Olson,

1963 adalah :

Xt/Xo = e –kt

Dimana : Xt = Berat serasah setelah periode pengamatan ke-t

Xo = Berat serasah awal

e = Bilangan logaritma (2,72)

t = Periode Pengamatan

k = Laju Dekomposisi

2. Analisis Unsur Hara Karbon, Nitrogen dan Fosfor

a. Karbon (C)

Ditimbang 2 g daun kering oven, dimasukkan kedalam erlenmeyer 500

cc. Ditambahkan 5 ml K2CrO7 1 N (menggunakan pipet) kemudian goncang

dengan tangan. Ditambahkan 10 ml H2SO4 pekat, kemudian digoncang 3-4 menit,

diamkan selama 30 menit. Ditambahkan 100 ml air suling dan 5 ml H3PO4 85%,

(31)

larutan berwarna biru tua kehijauan kotor. Dititrasikan dengan Fe (NH4)2(SO4)2

0,5 N dari buret hingga warna berubah menjadi hijau terang. Dilakukan kerja ini

lagi (tanpa daun) untuk mendapatkan volume titrasi Fe (NH4)2(SO4)2 0,5 N untuk

blanko

Perhitungan

C

organik

= 5 x (1- ) x 0,003 x

x

keterangan:

T = vol.titrasi Fe (NH4)2(SO4)2 0,5 N dengan daun

S = vol. Titrasi Fe (NH4)2(SO4)2 0,5 N blanko

0,003 = 1 ml K2Cr2O7 1 N + H2SO4 mampu mengoksidasi 0,003 g C-organik

1/0,77 = metode ini hanya 77% C-organik yang dapat dioksidasi.

b. Nitrogen (N)

- Destruksi

Ditimbang 2 gr daun kering oven, dimasukkan ke tabung digester,

Ditambahkan 2 gr katalis campuran dan ditambahkan H2O 10 ml; kemudian

ditambahkan lagi 10 ml campuran H2SO4-asam salisilat. Biarkan 1 malam.

Didestruksi pada alat Digestor (Kjeldhaltherm) dengan suhu rendah dan dinaikan

secara bertahap hingga larutan jernih/putih. (<2000 C) setelah larutan jernih suhu

dinaikkan dan dilanjutkan selama 30 menit. Dinginkan dan encerkan dengan

(32)

- Destilasi

Dimasukan ke tabung destruksi pada alat destilasi, Diambil 25 ml H3BO3 4%,

lalu masukan kedalam erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indikator campuran;

dan dimasukkan kedalam hasil destilasi. Ditambahkan NaOH 40% ± 25 ml ke

tabung destilasi dan langsung di destilasi. Hasil dari destilasi dimasukkan ke

erlenmeyer yang berisi H3BO3. Destilasi dihentikan bila larutan di erlenmeyer

berwarna hijau dan volumenya ±75 ml.

- Titrasi

Dipindahkan erlenmeyer hasil destruksi ke dalam titrasi dengan HCl 0,02 N.

dititik akhir perubahan warna hijau menjadi merah.

Perhitungan:

N(%) =

= mL HCl x 0,014

c. Fosfor (P)

Diambil dengan pipet 5 ml cairan destruksi encer dari ekstraksi destruksi

basah atau cairan dari ekstraksi pengabuan kering dimasukan kedalam tabung

reaksi. Kemudian Ditambahkan 10 ml reagen fosfat B biarkan ± 10 menit.

Kemudian ukur transmitance (absorbance) pada spectronic dengan 660 nm.

Dilakukan pada larutan standar 0-2-4-6-8 dan 10 ppm P, dengan cara mengambil

dengan pipet masing-masing 5 ml dan ditambahkan 10 ml reagen fosfat B,dan

(33)

Perhitungan

Bila cairan didestruksi basah :

P

daun

(%) =

P larut

x

x 10

-4

= P larutan x 0,2

(34)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Laju Dekomposisi

Serasah daun R. mucronata yang mengalami proses dekomposisi mulai

dari hari ke 15 sampai hari ke-105 terjadi penurunan bobot kering. Perubahan

bobot kering serasah daun R. mucronata rata-rata pada berbagai tingkat salinitas

untuk tiap waktu pangamatan disajikan pada Gambar 2.

Perubahan bobot kering serasah daun R. mucronata dari keempat tingkat salinitas

menunjukkan bahwa tingkat salinitas >30 ppt lebih cepat terdekomposisi sehingga

laju dekomposisinya lebih tinggi daripada tingkat salinitas yang lainnya. Nilai laju

dekomposisi serasah daun R. mucronata lebih tinggi pada awal dekomposisi, dan

terjadi grafik yang berbeda-beda pada tingkat salinitasnya setiap dalam

pengambilan data (15 hari). Tingkat salinitas 20-30 ppt menunjukkan nilai laju

dekomposisi terendah dan tingkat salinitas >30 ppt menunjukkan nilai laju

dekomposisi tertinggi.

Laju dekomposisi serasah daun R. mucronata pada tingkat salinitas 0-10

ppt yaitu 0,36, tingkat salinitas 10-20 ppt yaitu 0,30, tingkat salinitas 20-30 ppt

(35)

50

Gambar 2. Rata-rata sisa serasah daun Rhizophora mucronata selama 105 hari.

Gambar 3. Laju dekomposisi serasah daun Rhizophora mucronata selama 105 hari pada berbagai tingkat salinitas.

Sisa serasah dari pengamatan hari ke-15 sampai hari ke-105 mengalami

penurunan bobot basah dan secara penampakan fisiknya menunjukkan cercahan

daun R. mucronata semakin menuju hari ke-105 berubah menjadi partikel yang

lebih kecil dan semakin menurun bobot keringnya. Untuk lebih jelasnya serasah

(36)

Gambar 4. Sisa serasah yang terdekomposisi pada pengamatan hari ke-105.

Makrobentos

Makrobentos termasuk salah satu dekomposer awal yang meremas-remas

atau mencacah sisa-sisa daun yang kemudian dikeluarkan kembali sebagai

kotoran setelah itu dilanjutkan oleh bakteri dan fungi untuk menguraikan bahan

organik menjadi protein dan karbohidrat. Tabel 3 menunjukkan beberapa jenis

(37)

Tabel 3. Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan di dalam kantong serasah daun

R. mucronata.

Kelas Ordo Genus

Gastropoda Mesogastropoda Eubonia, Telescopium

Basammatophora Pupoides

Crustaceae Decapada Chiromantes

Turbellaria Macrostomida Microstonum

Jenis makrobentos yang dapat dilihat dalam Gambar 5. Menunjukkan

bahwa makrobentos berperan dalam mendekomposisikan bahan organik menjadi

sisa-sisa atau partikel yang lebih kecil dan dikeluarkan kembali sebagai kotoran.

a b c

d e f

Gambar 5. Makrobentos yang ditemukan di dalam kantong serasah daun

R. mucronata. Siput laut (a), (b), (c), cacing (d), (e), kepiting (f)

Kandungan Unsur Hara Karbon, Nitrogen, Fosfor

Proses dekomposisi terjadi dari hari ke-15 sampai hari ke-105. Serasah daun

R. mucronata mengandung unsur hara Karbon, Nitrogen dan Fosfor. Kandungan

(38)

Unsur karbon berperan dalam pembentukan iklim dan berperan dalam pelapukan

kimia batuan dan mineral.

Gambar 6. Unsur hara karbon pada berbagai tingkat salinitas.

Nitrogen dapat melibatkan makrobentos dan mikroorganisme. Nitrogen

harus mengalami fiksasi terlebih dahulu menjadi NH3, NH4 dan NO3, sebagian

besar nitrogen terlibat dalam proses biologi yang berasal dari atmosfer dalam

kesetimbangan nitrogen yang dilepaskan oleh mikroorganisme pada proses

dekomposisi. Dalam penelitian dapat dilihat kandungan unsur hara nitrogen pada

(39)

0,

Gambar 7. Unsur hara nitrogen pada berbagai tingkat salinitas.

Kandungan unsur hara fosfor selama proses dekomposisi serasah daun

R. mucronata menurun. Fosfor juga berperan dalam proses metabolisme tanaman,

Fosfor merupakan salah satu unsur hara essensial. Bentuk fosfor selalu berubah,

akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik dan bentuk

anorganik yang dilakukan oleh organisme. Kandungan unsur hara fosfor dapat

(40)

0,

(41)

Pembahasan Laju Dekomposisi

Laju dekomposisi serasah daun R. mucronata selama 105 hari terjadi

perubahan rata-rata bobot kering serasah daun R. mucronata pada berbagai tingkat

salinitas yang berbeda, Hal ini menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh terhadap

proses dekomposisi karena serasah yang ditempatkan di dalam kantong serasah pada

masing-masing tingkat salinitas mengalami penurunan bobot kering serasah daun.

Penurunan bobot kering dan laju dekomposisi serasah daun R. mucronata

yang tertinggi terjadi pada tingkat salinitas >30 ppt dan yang paling lama

terdekomposisi adalah pada tingkat salinitas 20-30 ppt. Setiap minggu terjadi

perubahan bobot serasah daun R. mucronata di dalam kantong serasah, diduga

diakibatkan oleh peranan makrobentos yang membutuhkan bahan makanan

sebagai pendekomposer yang tinggi dan faktor lingkungan yang mempengaruhi

akibat pasang surut air laut.

Rata-rata laju dekomposisi serasah daun R. mucronata menunjukkan

proses pembusukan serasah semakin berkurang pada tingkat salinitas tinggi. Pada

pengamatan hari ke-105 hari yang terdekomposisi semakin sedikit serasah

menurun beratnya, yaitu pada tingkat salinitas 0-10 ppt adalah 14,13 gram, tingkat

salinitas 10-20 ppt adalah 17,5 gram, tingkat salinitas 20-30 ppt adalah 21,1 gram,

dan tingkat salinitas >30 ppt adalah 4 gram. Sementara itu, Beberapa kantong

serasah yang berisi daun R. mucronata mulai berlumut, artinya terjadi proses

humifikasi. Proses humifikasi menunjukkan dipengaruhi oleh keadaan iklim atau

(42)

2000), terjadinya proses humifikasi tergantung pada kondisi tanah, tumbuhan

penutup, aktivitas mikroorganisme tanah dan fauna tanah, pengaruh iklim, serta

aktivitas manusia. Menurut Sunarto (2003) bahwa kecepatan terdekomposisi

mungkin berbeda dari waktu ke waktu tergantung faktor-faktor yang

mempengaruhinya.

Faktor Lingkungan

Oksigen diperlukan dekomposer untuk mendekomposisikan bahan organik

dimana dekomposer ini sangat besar peranannya. Berawal dari anaerobik yang

mencacah bahan organik menjadi partikel kecil kemudian dilanjutkan oleh aerobik

membutuhkan oksigen dan sama-sama melakukan proses dekomposisi.

Bahan organik merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang

sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik

merupakan zat yang penting bagi makrobentos terutama dalam rantai makanan.

Dimana makrobentos memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan.

Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah,

baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah

bahan pemantap agregat tanah yang sangat baik. dan merupakan sumber dari

unsur hara tumbuhan.

Cahaya yang masuk perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan

menjadi energi panas sehingga proses penyerapan cahaya memiliki suhu yang

lebih tinggi. Pasang surut dapat membantu terjadinya proses dekomposisi melalui

(43)

salinitas juga dapat berperan dalam membantu proses dekomposisi karena

salinitas juga dapat menentukan kelimpahan jumlah makrobentos, pada umumnya

makrobentos menyukai lokasi yang bersaline karena dapat dimanfaatkan untuk

pembentukan cangkangnya.

Makrobentos

Makrobentos yang terdapat di dalam kantong serasah yaitu kelas

Gastropoda, Crustaceae, dan Turbellaria (Tabel 3), banyaknya makrobentos di

dalam kantong serasah dipengaruhi oleh tingkat salinitas (Lampiran 4). Laju

dekomposisi serasah dipengaruhi oleh organisme pengurai dalam proses

dekomposisi dimana makroorganisme dan mikroorganisme membantu dalam

penguraian bahan organik. Menurut Notohadiprawiro (1999) bahwa laju

dekomposisi bahan organik ditentukan oleh faktor bahan organik dan lingkungan

yang mempengaruhi aktivitas makroorganisme dimana mikroorganisme

membantu dalam proses perombakan bahan organik dalam tanah. Makrobentos

dapat hidup dan membentuk koloni di hutan mangrove, Kehidupan beberapa

makrobentos tergantung pada rendahnya salinitas, tetapi ada juga sebaliknya.

Menurut Arief (2003) organisme yang hidup di perairan pada umumnya

menghadapi masalah kadar salinitas yang selalu berubah-ubah.

Makrobentos berperan dalam dekomposer awal yang akan mencacah

sisa-sisa bagian pohon. Cacing maupun kepiting dalam kantong serasah yang

memanfaatkan sisa-sisa daun yang kemudian dikeluarkan lagi sebagai kotoran.

(44)

yang telah dihambat oleh perakaran pohon. Selain itu, makrobentos harus mampu

hidup dengan membenamkan diri dalam lumpur di bawah pohon.

Kandungan Unsur Hara

Unsur hara merupakan unsur esensial yang berasal dari bahan organik

mati yang dilakukan oleh aktivitas makroorganisme dan mikroorganisme. Proses

pendekomposisian berkaitan dengan kecepatan arus sekitar 0,2–0,4 m/dtk, dimana

kecepatan arus membantu mempercepat proses penghancuran unsur hara. Sesuai

menurut pendapat Hadiwegono (1990) yang diacu oleh Ansal(2009).

Laju dekomposisi memberikan sumbangan unsur hara yang berperan

dalam pembentukan pertumbuhan dan perkembangan di hutan mangrove.

Menurut Arief (2003), meneliti bahwa unsur hara yang dikandung oleh daun-daun

mangrove adalah karbon, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium.

Karbon

Kandungan unsur hara Karbon (C) pada kondisi awal dari hari ke-15

sampai hari ke-105 mengalami penurunan pada tiap tingkat salinitas 0-10 ppt,

10-20 ppt, 10-20-30 ppt, >30 ppt. Nilai persen (%) karbon semakin berkurang pada

tingkat salinitas yang tinggi >30 ppt. Menurut Effendi (2003) kadar

karbondioksida di perairan dapat mengalami pengurangan akibat proses

fotosintesis dan evaporasi yang terjadi. Karbon yang terdapat di atmosfer dan

perairan diubah menjadi karbon organik melalui proses fotosintesis. Akan tetapi,

(45)

meningkat melebihi kandungan kontrol karena pada saat pengamatan tersebut

intensitas hujan tinggi yang diduga sebagai penyebab dari tingginya kandungan

karbon tersebut juga industri disekitar lokasi yang mendukung. Hal ini sesuai

dengan pendapat Effendi (2003) yang menyatakan bahwa hujan merupakan salah

satu sumber penambahan karbon di perairan karena hujan tersebut mengandung

karbondioksida yang terdapat di atmosfer.

Nitrogen

Nitrogen merupakan unsur yang penting dalam penyusunan asam amino,

asam nukleat, dan protein yang berperan besar dalam metabolisme tanaman.

Kebutuhan unsur hara nitrogen dalam proses dekomposisi mengalami penurunan

pada tiap tingkat salinitas >30 ppt. Hal ini didukung oleh pernyataan Effendi

(2003) dengan bertambahnya waktu, kadar nitrogen organik berkurang karena di

konversi menjadi amonia. Pada pengamatan hari ke-75 dan pada tingkat salinitas

20-30 ppt diperoleh bahwa kandungan nitrogen lebih tinggi dari tingkat salinitas

lainnya karena makrobentos yang ada didalam kantong serasah mengalami

penguraian (mati) dan diduga juga menjadi penyebab naiknya jumlah kandungan

nitrogen dimana makrobentos memanfaatkan nitrogen di perairan dalam jumlah

yang besar. Sesuai dengan pendapat Effendi (2003) menyatakan beberapa jenis

organisme memanfaatkan nitrogen pada daun dan mengeluarkan tinja (kotoran)

dari organisme tersebut. Kotoran itu mengandung amonia yang menempel pada

serasah daun tanaman. Berdasarkan jumlah makrobentos memiliki empat tingkat

(46)

adanya pemupukan. Namun, kenyataanya pada tingkat salinitas >30 ppt diperoleh

kandungan nitrogen yang rendah yang mana hal ini diduga kotoran makrobentos

lebih cepat tercuci karena dipengaruhi pasang surut atau gelombang yang lebih

besar daripada tambak yang lebih tenang.

Fosfor

Kandungan unsur hara fosfor, dilihat pada pengamatan mulai dari hari ke

15 sampai hari ke 105 pada berbagai tingkat salinitas yang berbeda yang

menunjukkan penurunan di hari ke 105. Kandungan unsur hara fosfor pada R.

mucronata dibutuhkan tanaman dalam proses metabolisme. Effendi (2003) di

perairan, bentuk unsur fosfor berubah secara terus-menerus, akibat proses

dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik dan bentuk anorganik yang

dilakukan oleh mikroba. Keberadaan fosfor di perairan alami biasanya relatif

kecil, dengan kadar yang sedikit daripada kadar nitrogen karena sumber fosfor

lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen di perairan. Akan tetapi fosfor

pada tingkat salinitas 10-20 ppt dan 20-30 ppt pada hari ke-105 dan hari ke-45

mengalami peningkatan karena kadar fosfat yang tinggi berasal dari penguraian

senyawa-senyawa organik (hewan, tumbuhan dan sebagainya) disertai dengan

pertumbuhan lumut yang berada di perairan. Menurut Effendi (2003) bahwa

keberadaan fosfor yang berlebihan dapat diakibatkan oleh pertumbuhan alga di

perairan.

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dalam laju dekomposisi serasah

(47)

tingkat salinitas 20-30 ppt dan pada pengamatan ke 105 sebesar 84,33%. Menurut

Hairiah dan Rahayu (2007) bahwa C/N merupakan salah satu indikator untuk

melihat laju dekomposisi bahan organik, dimana semakin tinggi C/N maka akan

(48)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Laju dekomposisi serasah daun R. mucronata didapat dari tingkat salinitas

0-10 ppt adalah 0,36, tingkat salinitas 10-20 ppt adalah 0,30, tingkat salinitas

20-30 ppt adalah 0,24, dan tingkat salinitas >30 ppt adalah 0,72.

2. Unsur hara C yang terdapat pada serasah daun R. mucronata yang

terdekomposisi pada pengamatan hari ke 105, yaitu tingkat salinitas 0-10 ppt

adalah 1,38%, tingkat salinitas 10-20 ppt adalah 2,42%, tingkat salinitas 20-30

ppt adalah 2,5%, tingkat salinitas > 30 ppt adalah 0,32%

3. Unsur hara N yang terdapat pada serasah daun R. mucronata yang

terdekomposisi pada pengamatan hari ke 105, yaitu tingkat salinitas 0-10 ppt

adalah 0,026%, tingkat salinitas 10-20 ppt adalah 0,05%, tingkat salinitas

20-30 ppt adalah 0,031%, dan tingkat salinitas > 20-30 ppt adalah 0,006%.

4. Unsur hara P yang terdapat pada serasah daun R. mucronata yang

terdekomposisi pada pengamatan hari ke 105, yaitu tingkat salinitas 0-10 ppt

adalah 0,025%, tingkat salinitas 10-20 ppt adalah 0,06%, tingkat salinitas

20-30 ppt adalah 0,021%, dan tingkat salinitas > 30 ppt adalah 0,004%.

Saran

Perlu dilakukan identifikasi pada spesies dekomposer di hutan mangrove

yang lebih spesifik untuk mengetahui jenis makrobentos yang berperan dalam

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Ansal. B. 2009. Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Kandungan Karagenan Rumput Laut Kappaphycus striatum. Budidaya Perairan UNHAS. [3 Juni 2009].

Arief, A. 2003. Hutan Mangrove. Penerbit Kanisius. Jakarta

Departemen Kehutanan. 2002. Udang Dibalik Mangrove. Edisi VI. Pusat Standarisasi dan Lingkungan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

http://www.dephut.go.id. [3 September 2008]

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Hariah, K dan S. Rahayu, 2007. Pengukuran Carbon Tersimpan di Berbagai Macam Penggunaan lahan. http//:www. World agroforestry.org (31 Februari 2009)

Hutching, P. And P. Saenger. 1987. Ecology of Mangrove. University of Queensland Press, St. Lucia. Australia

INTAG. 1993. Hasil Penafsiran Luas Areal Hutan dari Citra Landsat MSS Liputan Tahun Direktorat Jenderal Inventarisasi dan Tata Guna Hutan, Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

Kusmana, C. dkk. 2008. Manual Silvikultur Mangrove di Indonesia. Korea International Cooperation Agency (KOICA): The Project Rehabilitation Mangrove Forest and Coastal Area Damaged by Tsunami in Aceh. Jakarta.

Mac Nae, W. 1968, “A General Account of Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forest in The Indowest-Pasific Region.” Dalam: Adv. Mar. Biol.

Noor, Y. R., M. Khazali dan I.N.N. Suryadiputra. 1999, Panduan Pengenalan mangrove di Indonesia. Wetlends Internasional-Indonesia Programe. Bogor.

(50)

Rismunandar, 2000. Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina pada Berbagai Tingkat Salinitas (Studi Kasus di Kawasan Hutan Mangrove Blanakan, RPH Tegal Tangkil, BKPH Ciasem-Pamanukan, KPH Purwakarta, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat)

Saenger, P., E.J. Hegerl & J.D.S. Davie. 1983. Global Status of Mangrove Ecosystems. IUCN Commission on Ecology Paper.

Soerianegara, I. 1987. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. Jakarta.

Soeroyo, 1993. pertumbuhan mangrove dan permasalahannya. Bulletin Ilmiah INSTIPER, Yogyakarta.

Sunarto. 2003. Peranan Dekomposisi dalam Proses Produksi Pada Ekosistem

Laut. Institut Pertanian Bogor. Bogor http://www.google.com. [20 Februari 2009]

Sutedjo, M.M., A. G. Kartasapoetra, Rd. S. Sastroatmodjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. PT Rineka Cipta. Jakarta.

(51)
(52)

Lampiran 1. Perhitungan Laju Dekomposisi Metode Olson

Xt/Xo = e –kt

(53)

3. Xo = 50 gr Xt = 21,1

= 3,48

-3,48 k = ln = ln 0,422

-3,48 k = ln 0,422 = - 0,863

-3, 48 k =

k = 0,248

4. Xo = 50 gr Xt = 4

= 3,48

-3,48 k = ln = ln 0,08 -3,48 k = ln 0,08

= - 2,526

-3, 48 k =

(54)

Lampiran 2. Berat awal serasah daun R. mucronata

Salinitas 15 30 45 60 75 90 105

0 - 10 ppt 1 33 34,2 24,2 27,4 26,8 22,4 15,1

2 28,8 35,4 33,9 29,7 34,6 23,2 31,2

3 30,1 36,2 27,8 18,7 34,1 19,8 9,9

sub total 91,9 105,8 85,9 75,8 95,5 65,4 56,2 rata-rata 30,63 35,27 28,63 25,27 31,83 21,80 18,73 10 - 20 ppt 1 27,9 40,8 26,4 43,8 39,7 23,1 24

2 37,8 26,2 31,8 33 42,5 32,4 25,2

3 32 46,8 31,7 37,3 23,5 23,8 25,7

sub total 97,7 113,8 89,9 114,1 105,7 79,3 74,9 rata-rata 32,57 37,93 29,97 38,03 35,23 26,43 24,97 20 - 30 ppt 1 42,6 45,3 40,9 42,3 38,5 28,6 21,3

2 34,9 48,9 35,5 40,1 41,9 12,3 29,3

3 36,4 29 40 42,1 43,5 22,5 35

sub total 113,9 123,2 116,4 124,5 123,9 63,4 85,6 rata-rata 37,97 41,07 38,80 41,50 41,30 21,13 28,53 > 30 ppt 1 28,7 26,5 4,9 10,4 1,6 19,7 3,5

2 24 17,4 19,8 17,6 20,4 5,9 10,1

3 24,3 18,5 13,8 8,1 15,7 11,8 2,9

sub total 77 62,4 38,5 36,1 37,7 37,4 16,5

(55)

Lampiran 3. Berat laju dekomposisi serasah daun R. mucronata

salinitas 15 30 45 60 75 90 105

0 - 10 ppt 1 31,8 20,9 17,4 20,7 21,8 17,6 12

2 26,9 22,2 22,6 22,8 28,8 18,5 22,4

3 30,1 22 21,8 14,3 28,4 15,7 8

sub total 88,8 65,1 61,8 57,8 79 51,8 42,4

rata-rata 29,60 21,70 20,60 19,27 26,33 17,27 14,13

10 - 20 ppt 1 26,6 31,1 20,4 33,7 33,2 19 16,9

2 36,1 19,5 24,7 25,2 35,1 25,5 15,7

3 29 32,7 24,6 28,2 19,3 18,1 20

sub total 91,7 83,3 69,7 87,1 87,6 62,6 52,6

rata-rata 30,57 27,77 23,23 29,03 29,20 20,87 17,53

20 - 30 ppt 1 38,1 29,3 29,2 32,1 30,8 23,1 15,6

2 33,7 28 26,8 38,1 33,5 9,9 22,7

3 36,4 21,9 33 41,1 35,2 17,8 25,1

sub total 108,2 79,2 89 111,3 99,5 50,8 63,4

rata-rata 36,07 26,40 29,67 37,10 33,17 16,93 21,13

> 30 ppt 1 24,3 14,3 3,8 7,1 1,3 16 2,6

2 21,9 11,6 14,9 12,3 16,1 5 7,2

3 24,3 14,1 10,3 5,6 11,7 7,6 2,2

sub total 70,5 40 29 25 29,1 28,6 12

(56)

Lampiran 4. Makrobentos yang terdapat didalam kantong serasah daun

R. mucronata

nama salinitas kantong minggu jumlah

(57)
(58)

Lampiran 5. Unsur-unsur hara yang terdapat didalam daun R. mucronata

Unsur Hara Karbon

Salinitas 15 45 75 105

Kontrol 4,22 4,22 4,22 4,22

0-10 ppt 4,36 1,98 3,26 1,38

10-20 ppt 2,23 2,46 5,17 2,42

20-30 ppt 3,32 3,73 5,17 0,16

> 30 ppt 1,74 1,00 0,17 0,32

sub total 15,87 13,39 17,99 8,5

rata-rata 3,174 2,678 3,598 1,7

Unsur hara nitrogen

Salinitas 15 45 75 105

Kontrol 0,1 0,1 0,1 0,1

0-10 ppt 0,1 0,04 0,06 0,02

10-20 ppt 0,06 0,03 0,07 0,05

20-30 ppt 0,08 0,09 0,09 0,03

> 30 ppt 0,05 0,02 0,003 0,006

sub total 0,39 0,28 0,323 0,206

rata-rata 0,078 0,056 0,0646 0,0412

unsur hara fosfor

Salinitas 15 45 75 105

Kontrol 0,06 0,06 0,06 0,06

0-10 ppt 0,041 0,02 0,03 0,02

10-20 ppt 0,01 0,04 0,03 0,06

20-30 ppt 0,03 0,06 0,03 0,02

> 30 ppt 0,02 0,01 0,001 0,004

sub total 0,161 0,19 0,151 0,164

rata-rata 0,0322 0,038 0,0302 0,0328

unsur hara C/N

Salinitas 15 45 75 105

Kontrol 40,23 40,23 40,23 40,23

0-10 ppt 43,6 45 53,44 69

10-20 ppt 33,78 63,07 73,85 48,4

20-30 ppt 41,5 41,4 54,4 84,33

> 30 ppt 30,06 47,71 56,6 53,33

sub total 189,17 237,41 278,52 295,29

rata-rata 37,834 47,482 55,704 59,058

Gambar

Tabel 1. Luas  hutan mangrove di Indonesia UNESCO 1990
Tabel 2. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove
Gambar 2.  Rata-rata sisa serasah daun Rhizophora mucronata selama 105 hari.
Gambar 4. Sisa serasah yang terdekomposisi pada pengamatan hari ke-105.
+5

Referensi

Dokumen terkait

Laju dekomposisi yang terjadi pada salinitas 20-30 ppt mengalami proses dekomposisi terbesar dibandingkan dengan tiga salinitas lainnya seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5

Populasi fungi yang terdapat pada serasah daun R.mucronata yang belum dan telah mengalami proses dekomposisi di lingkungan pada berbagai tingkat salinitas. Indeks

Menentukan laju dekomposisi serasah daun Ceriops tagal pada berbagai.

Laju Dekomposisi Serasah Daun Bruguiera gymnorrhiza Pada Berbagai Tingkat Salinitas di Kampung Nypah Desa.. Sei Nagalawan, Kecamatan

Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergilus sp pada Berbagai Tingkat Salinitas [Skripsi].. Identifikasi Nilai Ekonomi Ekosistem

Pemanfaatan berbagai jenis fungi yang diperkirakan berperan dalam proses dekomposisi serasah daun mangove merupakan salah satu usaha yang dapat digunakan untuk

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tingkat salinitas terhadap laju dekomposisi serasah dan mengetahui kandungan unsur hara karbon (C), nitrogen (N) dan

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tingkat salinitas terhadap laju dekomposisi serasah dan mengetahui kandungan unsur hara karbon (C), nitrogen (N) dan