• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Pemilihan Metode Pembelajaran da (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Pemilihan Metode Pembelajaran da (1)"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Makalah Kelompok

PEMILIHAN METODE PEMBELAJARAN

DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PEMILIHAN METODE PEMBELAJARAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Pembelajaran dan Evaluasi Pendidikan IPS

Dosen Pengampu: Dr. SUNARTI, M.Pd

Disusun Oleh:

1. SURYANTI (NIM 12155140023)

2. ZUKY IRIANI (NIM 12155140037) 3. BUDI SANTOSA (NIM 12155140074)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PROGRAM PASCA SARJANA

(2)

KATA PENGANTAR

Semoga berkah dan keselamatan tercurah kepada kita semua. Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan berkah, rahmat, dan karunia-Nya telah menuntun penulis menyelesaikan makalah berjudul “Pemilihan Metode Pembelajaran dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Pembelajaran”. Pembelajaran memiliki peranan vital dalam memberikan pengetahuan, pengalaman belajar dan perubahan perilaku peserta didik. Kegiatan pembelajaran akan lebih terarah, menarik, dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan bilamana guru mengoptimalkan peranannya sebagai fasilitator pembelajaran. Menjadi fasilitator berarti guru memiliki kewenangan yang luas dan fungsional. Sebagai fasilitator pembelajaran guru memiliki peran sebagai learning designer, konduktor, sekaligus evaluator. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat memposisikan guru sebagai learning designer yang harus jeli dan memiliki ketajaman penilaian terhadap segala aspek yang berkaitan dengan pembelajaran.

Secara garis besar makalah ini membahas mengenai perspektif penulis tentang: (1) pentingnya pemilihan metode pembelajaran bagi pelaksanaan pembelajaran di kelas; (2) faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran; dan (3) contoh kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai, yang dikembangkan dari pemikiran dan pengalaman penulis. Penulis juga meyakini bahwa hasil refleksi ini akan memunculan berbagai pandangan dari pihak lain yang justru akan menambah pengetahuan bagi penulis secara pribadi. Penulis berharap agar makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai pemilihan metode pembelajaran dengan menginteraksikan, mengitegrasikan, dan mengkompromikan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengundang saran, kritik, serta masukan dari pembaca sekalian.

(3)

DAFTAR ISI

SAMPUL...i

KATA PENGANTAR...ii

... BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Rumusan Masalah...5

C. Tujuan...5

D. Manfaat...6

BAB II : PEMBAHASAN A. Pentingnya Pemilihan Metode Pembelajaran bagi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas...7

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Pembelajaran...10

C. Contoh Kerangka Pikir dalam Pemilihan Metode Pembelajaran yang Sesuai...22

BAB III : PENUTUP A. Kesimpulan...28

B. Implikasi...29

C. Saran...29

DAFTAR PUSTAKA...30

(4)

A. Latar Belakang Masalah

Paradigma pembelajaran senantiasa mengalami perubahan. Perubahan dimaksudkan untuk perkembangan dan kemajuan pembelajaran yang dapat memberikan hasil yang lebih baik. Paradigma pembelajaran yang berkembang dan diterapkan selalu menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Tidak berlebihan bilamana terdapat anggapan umum, bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari ruang-ruang kelas dalam lingkup pendidikan formal di sekolah. Proses pendidikan merupakan langkah nyata untuk mempersiapkan sumber daya manusia bagi kemajuan bangsa dan negara (human investment).

Salah satu cita-cita pendidikan diantaranya, proses pembelajaran di kelas mampu membentuk sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan kualitas yang dibutuhkan jaman, tanpa meninggalkan karekter humanis yang berkebangsaan. Melihat betapa pentingnya pembelajaran di kelas, sebagai bagian dari human investement, tentu proses pembelajaran di kelas harus memiliki kualitas yang di atas rata-rata. Penentu proses pembelajaran yang berkualitas terletak di tangan guru. Secara sederhana proses pembelajaran di kelas dapat diringkas dalam tiga tahapan utama. Ketiga tahapan tersebut antara lain: (1) persiapan; (2) pelaksanaan; dan, (3) evaluasi.

(5)

persiapan yang dibutuhkan sebelum proses pembelajaran di kelas dilaksanakan, seperti penguasaan materi, penentuan sumber maupun media belajar, menentukan setting belajar (lingkungan yang meliputi situasi dan suasana belajar), dan lain sebagainya.

Kedua, dilihat dari dimensi pelaksanaan pembelajaran di kelas, guru memiliki peran sebagai konduktor. Dalam analogi yang sederhana, guru seolah-olah adalah seorang pemimpin orkestra musik yang banyak melibatkan banyak instrumen dan pemain musik yang beragam. ‘Guru sebagai konduktor’ dalam hal ini adalah guru bertugas memimpin proses pembelajaran. Memimpin proses pembelajaran tidak diartikan guru mendominasi di dalamnya, tetapi guru memastikan rencana pembelajaran (learning design) benar-benar terlaksana dengan baik, dengan berbagai penyesuaian terhadap lingkungan kelas. Sebagai seorang konduktor dalam proses pembelajaran, guru harus mampu mengelola berbagai aspek yang dibutuhkan dalam situasi belajar. Termasuk kemampuan dalam mengelola situasi yang muncul pada saat pembelajaran berlangsung, yang terkadang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Sebagaimana tugas seorang konduktor dalam sebuah orkestra musik yang mampu menggabungkan berbagai macam instrumen musik menjadi sebuah simponi. Demikian halnya dengan pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.

(6)

dan sikap peserta didik yang dapat diamati secara langsung oleh guru dan dicatat dalam lembar penilaian kinerja. Peran guru sebagai seorang evaluator harus dijalankan secara profesional, sistematis, adil, dan terekam. Agar peran tersebut terlaksana secara ideal, guru harus memberikan penilaian sebagaimana telah dirumuskan dalam desain pembelajaran. Penilaian akhir merupakan akumulasi dari pekerjaan dan kinerja.

Proses evaluasi tidak berhenti pada penilaian terhadap proses pembelajaran yang terpusat pada pekerjaan dan kinerja peserta didik saja. Evaluasi intern oleh guru terhadap keseluruhan tahapan utama pembelajaran yang diselenggarakannya pun harus dilakukan. Guru harus melakukan penilaian terhadap keseluruhan proses pembelajaran yang ia rancang dan ia laksanakan. Tujuannya agar guru menemukan kelebihan, kekurangan, maupun kendala-kendala yang dihadapi saat pelaksanaan proses pembelajaran. Guru juga perlu melakukan evaluasi diri dan memberikan tindak lanjut dari keseluruhan evaluasi yang dilakukannya, demi kemajuan kapasitasnya sebagai seorang pendidik.

Pelaksanaan pembelajaran yang meliputi tiga tahapan utama proses pembelajaran di kelas, mutlak memerlukan pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat berbagai macam metode pembelajaran, antara lain: ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, simulasi, sosiodrama, resitasi, karyawisata, dril, problem solving, dan lainnya. Pemilihan metode pembelajaran yang sesuai akan memudahkan guru dan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Di sisi lain, pemilihan metode pembelajaran yang sesuai akan mampu memberikan pengalaman belajar pada peserta didik yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

(7)

keaktifan siswa. Para pakar pendidikan menjadi lebih gencar dalam mensosialisasikan berbagai metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa. Pemerhati pendidikan termasuk guru terdorong untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam merancang metode-metode pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif. Namun tidak dipungkiri pula, bahwa tuntutan ini menjadi sulit dipenuhi oleh guru manakala guru dihadapkan pada kendala-kendala baik yang bersifat internal maupun eksternal. Kendala internal berkaitan dengan kompetensi dan kemauan guru untuk mampu mengimplementasikan metode pembelajaran yang sesuai dalam mata pelajaran yang diampunya. Kendala eksternal berkaitan dengan kondisi sekitar lingkungan belajar, apakah mendukung atau tidak untuk dapat menerapkan suatu metode pembelajaran.

Adanya tuntutan pendidikan di Indonesia, bahwa penyelenggaraan pembelajaran harus mampu membentuk karakter dan nilai-nilai budaya bangsa yang luhur, juga menuntut guru untuk dapat mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, pemilihan metode pembelajaran sebenarnya akan membantu guru mengimplementasikan pembelajaran yang dapat memunculkan nilai-nilai luhur tersebut. Melihat banyaknya tuntutan pelaksanaan pembelajaran yang ideal, untuk menentukan penggunaan suatu metode pembelajaran harus mempertimbangkan banyak hal. Tujuannya, agar metode pembelajaran yang dipilih dapat mencapai hasil yang hendak dicapai, memudahkan interaksi dan kegiatan belajar, memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik secara fungsional, serta ‘membekas’.

(8)

kepercayaan peserta didik akan kemampuan pendidik sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Guru sebagai seorang learning designer, konduktor, sekaligus evaluator harus mampu mengoptimalkan peranan-peranan fungsional tersebut agar keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran, bukan keberhasilan guru seorang, tetapi keberhasilan yang sama-sama diraih beserta peserta didik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan berikut ini:

1. Mengapa pemilihan metode pembelajaran merupakan hal penting dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas?

2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran?

3. Bagaimana contoh kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui pentingnya pemilihan metode pembelajaran bagi pelaksanaan pembelajaran di kelas.

2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran.

3. Mendeskripsikan contoh kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai.

D. Manfaat

(9)

dengan melihat berbagai faktor yang mempengaruhi, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk penulisan dengan topik terkait. Manfaat praktisnya, antara lain:

1. Diharapkan penulisan makalah ini dapat menjadi masukan bagi pemerhati pendidikan khususnya guru, agar mempertimbangkan faktor-faktor pemilihan metode pembelajaran dalam penyusunan learning design. 2. Bagi sekolah, dapat mendorong antusiasme guru dalam mengembangkan

dan mengimplementasikan metode-metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif, dengan mengoptimalkan sarana dan prasarana sekolah.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pentingnya Pemilihan Metode Pembelajaran bagi Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas.

(10)

Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center), faktanya justru kurang memberikan ruang bagi perkembangan peserta didik agar memiliki kecerdasan di tiga ranah penting tersebut. Agar dapat meraih keberhasilan dalam hidup, seseorang tidak cukup berbekal kecerdasan kognitif saja. Pembentukan kapasitas dan kualitas seseorang yang diperoleh di bangku sekolah harus dilakukan dengan cara membangun ketiga ranah tersebut secara bersamaan. Pendekatan pembelajaran yang berbasis student center akan lebih aplikatif jika dituangkan dalam bentuk metode-metode pembelajaran. Berbagai inovasi pembelajaran marak disosialisasikan oleh para pakar pendidikan. Kalangan pendidik pun tidak mau kalah dalam berinovasi menemukan dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran.

Komitmen positif para pemerhati pendidikan tersebut, bukan tanpa alasan. Berbagai problematika yang mewarnai pelaksanaan pembelajaran dipandang sebagai suatu hambatan dalam langkah nyata untuk mengembangkan kecerdasan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Metode pembelajaran memiliki arti penting dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran. Berikut ini adalah alasan pentingnya pemilihan metode pembelajaran bagi pelaksanaan pembelajaran di kelas, yakni:

1. Metode sebagai strategi pembelajaran.

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008: 42) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.

(11)

pada kemampuan menangkap pelajaran berdasarkan audiotori, visual, maupun audio – visual. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan mampu mengatasi perbedaan daya serap tersebut.

2. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran (diunduh dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/08/30/tujuan-pembelajaran-sebagai-komponen-penting-dalam-pembelajaran/, diakses pada Kamis, 27 Maret 2013).

Metode pembelajaran merupakan alat yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan menjadikan kegiatan belajar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dapat diukur dari perubahan perilaku peserta didik setelah proses pembelajaran usai. Dinyatakan sebagai perubahan perilaku, karena perubahan yang terjadi tidak hanya pada tataran pengetahuan peserta didik, tetapi meliputi sikap dan cara pandang peserta didik terhadap realitas disekitarnya.

Pemilihan suatu metode pembelajaran secara individu, maupun kombinasi antara beberapa metode pembelajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang mempengaruhi pembelajaran. Tujuan pembelajaran dikatakan tercapai manakala terjadi perubahan perilaku peserta didik, dan perubahan perilaku tersebut cenderung bertahan lama.

3. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik.

(12)

minat belajar seseorang. Penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran konvensional yang tidak banyak menggunakan metode yang bervariasi dan kurang membuat siswa aktif, akan menimbulkan kebosanan. Siswa akan menjadi pasif, tidak bersemangat, dan antusiame rendah saat mengikuti pelajaran di kelas.

Pemilihan metode belajar yang inovatif dan memberikan ruang yang luas bagi aktualisasi diri siswa akan memunculkan ‘kegembiraan belajar’. Kegembiraan belajar merupakan atmosfer yang perlu diciptakan oleh guru melalui penggunaan metode pembelajaran yang menantang, interaktif, menarik minat, serta mampu memenangkan perhatian siswa. Pemilihan metode pembelajaran harus mampu melibatkan setiap siswa di kelas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan porsi dan peranan yang beragam. Dengan demikian, tidak ada seorang pun peserta didik yang tidak terlibat dalam proses berpikir, memahami, dan melakukan kegiatan belajar secara keseluruhan. Penggunaan metode belajar yang tepat, akan mampu meminimalisir adanya alasan siswa tidak memiliki kesempatan berpartisipasi, alokasi waktu yang kurang, terlalu banyaknya jumlah peserta didik dalam satu kelas, dan berbagai alasan yang menyebabkan siswa merasa bosan dan enggan secara intens melibatkan diri dalam pembelajaran siswa aktif.

(13)

pembelajaran. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran, antara lain:

1. Faktor peserta didik.

a. Perbedaan jenjang pendidikan.

Pemilihan suatu metode pembelajaran, harus menyesuaikan tingkatan jenjang pendidikan siswa. Pertimbangan yang menekankan pada perbedaan jenjang pendidikan ini adalah pada kemampuan peserta didik, apakah sudah mampu untuk berpikir abstrak atau belum. Penerapan suatu metode yang sederhana dan yang kompleks tentu sangat berbeda, dan keduanya berkaitan dengan tingkatan kemampuan berpikir dan berperilaku peserta didik pada setiap jenjangnya.

Sebagai contoh, pemilihan metode pembelajaran untuk anak kelas satu SD biasanya dengan metode belajar yang sederhana dan menyenangkan, karena tingkatan berpikirnya masih kongkret. Misalnya saat membahas mengenai ‘saling berbagi’, guru harus menunjukkan dan mengajak peserta didiknya untuk saling berbagi, dengan cara membagi makanan maupun saling berbagi mainan dengan cara mempraktekannya. Berbeda pada metode pembelajaran yang diterapkan pada anak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, misalnya SMP dan SMA. Saat membahas mengenai ‘saling berbagi’ cukup dengan melakukan diskusi, karena pada tahap ini mereka sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak dan analitis.

Semakin tinggi tingkatan berpikirnya, maka pemilihan metode pembelajaran yang diterapkan dapat semakin kompleks. Ini berkaitan dengan pemahaman siswa, pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya, serta kebutuhan akan aktualisasi diri yang bersifat lebih kompleks. Kebutuhan akan aktualisasi diri yang lebih kompleks menunjuk pada motif peserta didik dalam tingkatan partisipasi pembelajaran yang dilakukan.

(14)

terdorong untuk turut aktif; (3) perasaan segan maupun takut pada guru; (4) karena memang siswa mampu; (5) perasaan senang terhadap guru maupun mata pelajaran tertentu; (6) keinginan untuk mendapatkan nilai lebih sebagai hasil pencapaian belajar. Berbeda dengan motivasi aktualisasi diri pada peserta didik yang tergolong usia remaja dan dewasa, aktualisasi diri selain dimotivasi hal-hal diatas bisa didorong oleh alasan yang bersifat lebih kompleks, seperti: (1) keinginan untuk maju dan meningkatkan kualitas diri; (2) idealisme; (3) sosialisasi ide atau gagasan sebagai hasil pemikiran; serta (4) keinginan untuk mendapatkan respons dari warga belajar atas partisipasinya.

b. Latar belakang peserta didik.

Latar belakang peserta didik dapat ditelusur dari keluarga, pola didik, pola asuh, kondisi-kondisi tertentu (ekonomi, sosial, budaya, anak berkebutuhan khusus, dan lain sebagainya). Prakarsa belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh individual culture yang besangkutan. Individual culture terbentuk dari pola asuh dan pola didik seseorang dalam lingkungan keluarganya yang dipengaruhi oleh berbagai faktor perkembangan individu. Meskipun tidak signifikan, atau pengaruhnya kecil sebagai pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran, namun untuk kondisi-kondisi khusus, latar belakang peserta didik perlu mendapat perhatian yang besar. Contoh, pemilihan metode pembelajaran bagi anak-anak sekolah luar biasa harus memberikan perlakuan khusus, sehingga metode pembelajaran yang digunakan akan mampu mencapai tujuan yang diharapkan. c. Tingkat intelektualitas.

(15)

atau audio – visual. Daya serap, adalah seberapa cepat dan seberapa besar kemampuan siswa dalam menyerap informasi, dan proses pembelajaran secara keseluruhan. Apakah siswa termasuk cepat, lambat, atau tengah – tengah, dalam menyerap pembelajaran.

Dalam satu kelas tidak menutup kemungkinan terdapat rentang yang terlalu lebar terkait gaya belajar dan daya serap peserta didik. Rentang yang terlalu lebar tersebut akan menimbulkan suatu ‘gap’ dalam pelaksanaan pembelajaran. Sebagian siswa mungkin terlalu cepat menangkap informasi namun sebagian yang lain justru sulit dan lamban dalam menangkap informasi. Oleh karenanya, pemilihan metode belajar yang mampu mengatasi ‘gap’ dan menyatukan perbedaan dengan bentangan yang luas menjadi suatu keharusan bagi guru, dalam menentukan metode pembelajaran yang efektif dan efisien.

2. Faktor dinamika kelas. a. Jumlah peserta didik.

Jumlah peserta didik dalam satu kelas perlu menjadi pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan aturan baku mengenai standar jumlah peserta didik dalam satu kelas, namun kenyataannya aturan tersebut masih belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kekurangan jumlah peserta didik dalam satu kelas disebabkan karena minat dan berbagai alasan lain, sehingga terjadi kekurangan siswa. Lain halnya dengan kelas yang jumlah siswanya justru over capasity. Masih banyak sekolah-sekolah yang menerima murid dalam jumlah yang besar namun tidak memiliki kapasitas ruang yang memadai, sehingga dalam satu ruangan kelas dipenuhi oleh jumlah siswa yang melebihi dari 32 orang.

(16)

menjadi lebih sulit karena ketidakseimbangan antara porsi maksimal perhatian dan penanganan yang dapat diberikan guru, dengan kondisi besarnya jumlah siswa yang akan menimbulkan berbagai keruwetan. Kelas yang over capasity, cenderung sulit diatur, gaduh, peserta didik sulit untuk memfokuskan perhatian secara konsisten terhadap pelaksanaan pembelajaran dan berbagai masalah lainnya.

Pemilihan metode yang tepat akan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang memberdayakan. Artinya, dengan penggunaan metode tersebut setiap peserta didik tidak luput dari perolehan peran dan porsi keterlibatan dalam pembelajaran. Sebagai contoh, dalam kelas besar, berisi 43 siswa, tidak terdapat rombel sehingga tidak ada team teaching. Kondisi ini mengharuskan guru benar-benar dalam posisi sebagai ‘single fighter’ menghadapi sekian banyak siswa yang berpotensi menimbulkan kegaduhan. Pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), materi pembelajaran adalah mengenai empat sikap politik, yakni: (1) sikap politik radikal; (2) sikap politik liberal; (3) sikap politik moderat; dan (4) sikap politik status quo. Guru menggunakan metode pembelajaran individual job – grouping in cluster yang ia kembangkan sendiri.

(17)

sejenis, dengan kata lain individual learning dikembangkan menjadi cooperatif learning.

Mengetahui seluk beluk kondisi kelas dan peserta didik tidak hanya sebagai suatu keharusan bagi guru, tetapi harus dijadikan sebagai prisip pelaksanaan pembelajaran yang mantap dan profesional. Dengan demikian guru dapat mengatasi permasalahan yang muncul dalam pembelajaran yang diampunya. Guru memiliki kebebasan dalam mengembangkan ide-ide dan kreatifitasnya demi kemajuan kualitas pembelajaran di kelasnya.

b. Karakter kelas.

Pemilihan metode pembelajaran harus memperhatikan karakter kelas. Karakter kelas menyangkut sifat dan sikap peserta didik dalam tataran umum untuk ruang lingkup kelas. Guru harus memiliki ketajaman pandangan dan mampu menilai karakter yang dimiliki oleh kelas-kelas yang diampunya. Setiap kelas memiliki karakternya masing-masing. Salah satu keterampilan wajib seorang guru adalah dalam hal penguasaan kelas. Penguasaan kelas bukan diartikan guru dominan dan diktatoris, tapi guru sangat mengenali dan memahami secara mendalam karakter kelas yang diampunya.

Mengenali dan memahami karakter kelas memerlukan cara tersendiri. Cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui karakter kelas adalah dari sikap yang paling dominan yang dimiliki kelas tersebut, dimana sikap dominan tersebut merupakan sikap yang mencirikan (membedakan) kelas tersebut dengan kelas lainnya. Ini berarti setiap kelas memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Sikap dominan bisa ditelusur dari indikasi-indikasi seperti yang tampak, antara lain:

1.) Seberapa kooperatifkah warga belajar.

(18)

yang diperlihatkan pada saat pembelajaran berlangsung. Sikap penolakan ini bisa berlangsung sementara atau bahkan akan terus berlangsung, bilamana guru tidak segera berupaya melakukan tindakan-tindakan untuk mengatasinya.

Kelas yang kooperatif adalah kelas yang mampu dan bisa ‘diajak’ bekerjasama. Hal ini tampak dari sebagian besar peserta didik mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, sehingga suasana kelas cenderung kondusif, pembelajaran dapat berjalan dengan sangat baik. Namun jika keadaan sebaliknya, seperti kegaduhan yang melebihi batas, peserta didik malas dan enggan menunjukkan partisipasi yang diharapakan dalam proses pembelajaran, ini tandanya kelas tersebut perlu mendapatkan pendekatan dari guru agar lebih kooperatif.

Menciptakan kelas yang kooperatif menjadi bagian penting dari tugas guru. Tujuan pembelajaran dicapai tidak hanya oleh dan untuk peserta didik saja, tetapi dicapai secara bersama-sama antara guru dan peserta didik.

2.) Adakah kelompok dominan dalam kelas tersebut.

Seorang guru, pasti pernah menjadi murid. Saat menjadi murid, guru pernah mengalami masa-masa di sekolah, dimana di kelas selalu saja ada kelompok teman-teman sekelas yang memiliki ‘power’ sehingga mendominasi kelas. Berbekal pengalaman tersebut, guru harus memiliki kejelian dalam memetakan kondisi siswanya secara individu, maupun secara berkelompok. Mengidentifikasi keberadaan kelompok dominan dalam kelas akan memudahkan guru memegang kendali kelas.

(19)

kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik akan cenderung gaduh, tidak kooperatif, bahkan menunjukkan sikap yang memojokkan guru.

Menghadapi situasi demikian, guru perlu memiliki kemampuan interpersonal dan ketepatan dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan metode belajar yang tepat pada kenyataanya mampu mengatasi masalah dominasi kelompok tertentu dalam lingkup kelas.

3.) Bagaimana performa dan tingkat partisipasinya.

Menelusur karakter kelas, juga dapat dilakukan dengan mengamati performa dan tingkat partisipasi peserta didik baik secara individu maupun berkelompok, dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Guru biasanya akan mudah menilai bagaimana performa dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Penilaian tersebut kemudian akan memunculkan pandangan apakah kelas tersebut termasuk kelas aktif atau kelas pasif. Pemilihan metode pembelajaran untuk kelas aktif tidak akan menyulitkan guru dalam menentukan metode mana yang akan digunakan. Berbeda dengan kelas pasif, guru harus memilih metode mana yang cocok agar dengan metode tersebut mampu mendorong tingkat partisipasi peserta didik dan memunculkan performa mereka. 3. Faktor ketersediaan fasilitas pembelajaran.

(20)

pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Manakala sekolah mengalami keterbatasan dalam penyediaan fasilitas pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran merupakan jalan keluar yang paling relevan agar pembelajaran tetap menarik, menyenangkan, dan dapat memberikan goal yang ingin dicapai. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), peserta didik harus mencari informasi mengenai pandangan masyarakat terhadap aktor-aktor politik di Indonesia. Saat ini banyak sekolah-sekolah yang telah dilengkapi dengan fasilitas internet Wi Fi, sehingga semua warga sekolah dapat mengakses internet dengan mudah. Tetapi tidak sedikit pula sekolah yang belum memiliki kemampuan untuk menyediakan fasilitas ini.

Penggunaan perpustakaan sebagai fasilitas subtitusi (pengganti penggunaan internet) bisa dilakukan. Akan tetapi ada cara yang lebih ‘menghidupkan’ suasana pembelajaran dibandingkan menggunakan perpustakaan. Guru dapat memilih menggunakan metode pembelajaran wawancara. Siswa diminta mewawancarai warga sekolah untuk menjaring informasi mengenai pendapat mereka terhadap aktor-aktor politik di Indonesia. Dalam hal ini ketiadaan fasilitas internet dapat digantikan dengan pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Justru dengan metode ini guru dan peserta didik akan mendapatkan nilai tambah, yakni adanya pola interaksi langsung antara peserta didik dengan masyarakat yang diwawancarai. Disamping menambah kepercayaan diri, serta memupuk keberanian peserta didik. Rasa optimis adalah kunci utama untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas ditengah-tengah kekurangan yang ada.

4. Faktor tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

(21)

pengalaman belajar dan menunjukkan perubahan perilaku, dimana perubahan tersebut bersifat positif dan bertahan lama. Kalimat tersebut dapat dimaknai bahwa pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang tidak hanya akan menambah pengetahuan peserta didik tetapi juga berpengaruh terhadap sikap dan cara pandang peserta didik terhadap realitas kehidupan.

Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan mampu menjadikan peserta didik meraih tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Sebagai contoh, pada mata pelajaran Geografi dirumuskan dua tujuan pembelajaran, antara lain: (1) agar siswa memahami dampak pemanasan global bagi lingkungan; dan (2) agar siswa mampu menunjukkan sikap mencintai lingkungan dan alam. Demi tercapainya kedua tujuan pembelajaran tersebut, guru menggunakan metode resitasi. Dalam tugas resitasi ini guru meminta siswa untuk mengumpulkan informasi mengenai dampak pemanasan global bagi lingkungan, selain itu siswa diminta untuk melakukan aksi nyata kepedulian dan cinta terhadap lingkungan dan alam. Guru menghendaki agar siswa mengumpulkan laporan tugas dan bukti aksi nyata kepedulian dan cinta siswa terhadap lingkungan dan alam.

(22)

Dengan penggunaan metode yang tepat, tujuan pembelajaran yang mencakup pembangunan individu di ketiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan.

5. Faktor materi pembelajaran.

Pada bagian ini, hal yang perlu diperhatikan dalam materi pembelajaran adalah apa materinya (what), seberapa banyak (how much), dan bagaimana tingkat kesulitan (how hard) materi yang hendak dipelajari. Berikut penjelasan masing-masing:

a. ‘What’, apa materi yang hendak dipelajari.

Setiap mata pelajaran memiliki karakternya sendiri-sendiri, salah satunya bisa ditelusur dari materi yang tercakup dalam mata pelajaran tersebut. Secara umum, materi (dalam hal ini menunjuk pada content and substancy) antara mata pelajaran bidang ilmu alam dan bidang ilmu sosial terdapat perbedaan-perbedaan yang jelas. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat salah satunya harus berbasis pada content dan substancy materi pembelajaran.

Misalnya dalam bidang ilmu alam, untuk mempelajari reaksi kimia dipilih pendekatan inquiry. Agar menemukan jawaban sendiri, inquiry dilakukan dengan metode eksperimen dengan melakukan percobaan di laboratorium untuk mengetahui suatu reaksi kimia tertentu. Secara sederhana diilustrasilan dalam alur berikut ini: Mata pelajaran KIMIA  Materi: Reaksi Kimia  Pendekatan: INQUIRY 

Metode: EKSPERIMEN  Uji coba di laboratorium.

Contoh lain, dalam bidang ilmu sosial, untuk mengetahui dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat bencana erupsi gunung Merapi terhadap perekonomian masyarakat di sekitar kawasan bencana, maka dipilih pendekatan inquiry dengan metode penelusuran dokumen melalui pemberitaan di berbagai media massa. Ilustrasi sederhana, dengan alur sebagai berikut: Mata pelajaran EKONOMI 

(23)

INQUIRY  Metode: DOKUMENTASI  Penelusuran dokumen yang bersumber dari media massa, bisa juga dengan pembuatan kliping. b. How much, seberapa banyak materi yang hendak dipelajari.

Jumlah materi yang akan dipelajari menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang akan dipakai. Metode pembelajaran yang dipilih harus efektif, efisien, praktis dalam aplikasinya sehingga cakupan materi yang hendak dipelajari dapat dengan tuntas diselesaikan. Dalam satu kali pertemuan, tidak jarang cakupan materi yang dipelajari jumlahnya kecil maupun besar. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan memudahkan guru dan peserta didik untuk menyelesaikan jumlah materi yang harus ditempuh.

c. How hard, seberapa sulit materi yang hendak dipelajari.

Materi pelajaran memiliki tingkat kedalaman, keluasan, kerumitan yang berbeda-beda. Materi pembelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi biasanya menuntut langkah-langkah analisis dalam tataran yang beragam. Analisis bisa hanya pada tataran dangkal, sedang, maupun analisis secara mendalam. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat mampu memberikan arahan praktis untuk mengatasi tingkat kesulitan suatu materi pembelajaran.

6. Faktor alokasi waktu pembelajaran.

Pemilihan metode pembelajaran yang tepat juga harus memperhitungkan ketersediaan waktu. Rancangan belajar yang baik adalah penggunaan alokasi waktu yang dihitung secara terperinci, agar pembelajaran berjalan dengan dinamis, tidak ada waktu terbuang tanpa arti. Kegiatan pembukaan, inti, dan penutup disusun secara sistematis. Dalam kegiatan inti yang meliputi tahap eksplorasi – elaborasi – konfirmasi, mengambil bagian waktu dengan porsi terbesar dibandingkan dengan kegiatan pembuka dan penutup.

(24)

waktu. Dalam gambaran yang sederhana, suatu materi pembelajaran yang banyak dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif lebih cepat dengan penggunaan metode cooperatif learning dengan berbagai variasi dan pengembangannya.

7. Faktor kesanggupan guru.

Guru memang dituntut untuk selalu menunjukkan performa yang selalu prima dalam setiap pembelajaran yang diampunya. Namun demikian, guru tetaplah manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Memilih suatu metode pembelajaran pun harus menimbang kesanggupan guru. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi dalih pembenaran bagi guru untuk menunjukkan performa yang terlalu apa adanya, dan yang biasa-biasa saja.

Tuntutan untuk senantiasa meningkatkan kapasitas dan kualitas harus selalu diupayakan oleh setiap pendidik. Faktor kesanggupan guru bukanlah suatu pembatas bagi guru untuk memunculkan ide, kreativitas, dan inovasi-inovasi segar yang dapat memunculkan ‘ruh’ dalam pembelajaran yang diselenggarakannya. Dalam paparan sederhana misalnya, guru yang memiliki ‘sense of humor’ banyak disukai muridnya, tetapi guru tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi ‘orang lucu’ di depan muridnya agar ia disukai. Cukup dengan penggunaan metode pembelajaran yang mampu memunculkan antusiasme belajar siswa, maka guru akan menjadi orang yang ‘diterima’ dan disukai peserta didiknya.

Alasan agar disukai murid, juga tidak boleh menjadikan guru terlena, karena hakikatnya tujuan pembelajaran jauh lebih mulia jika dibandingkan alasan tersebut. Guru memiliki tugas mulia menhantarkan peserta didiknya meraih cita-cita di masa depan. Menjadi disukai adalah ‘bonus’ atau kompensasi dari kineja guru yang dilaksanakan secara profesional dan mantap.

(25)

Pemilihan metode belajar yang sesuai maksudnya, dalam menentukan metode pembelajaran guru perlu melakukan penyesuaian dan mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. Tujuannya agar metode pembelajaran yang digunakan tepat dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi, kegiatan memilih metode pembelajaran yang tepat jangan dipikirkan sebagai suatu pekerjaan yang berat dan rumit. Ini sudah menjadi bagian dari tugas guru sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Agar memudahkan tugas guru dalam memilih metode pembelajaran yang hendak diaplikasikan, guru dapat mengembangkan kerangka pikir pemilihan metode menjadi ‘Applicable Learning Method’ (penulis menamainya dengan sebutan ALM).

Penerapan ALM ini tergantung pada setiap guru. ALM dapat diwujudkan dalam bentuk sketsa rencana maupun cukup dalam bentuk abstraksi di dalam pikiran guru saja. Cara mana pun yang dipilih tergantung pada keinginan guru sebagai learning designer-nya. Hakikatnya, semua guru yang membuat perencanaan pembelajaran telah mempraktekkan ALM ini dengan caranya masing-masing.

Kegiatan pemilihan metode pembelajaran tercakup dalam kegiatan perencanaan pembelajaran atau pembuatan learning design. Berikut ini adalah contoh tahapan kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai, yakni:

KERANGKA PIKIR 1:

(26)

Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwasanya dalam mempraktekkan ALM setiap guru memiliki cara dan pengalamannya masing-masing, sehingga penjabaran yang ada disini bukanlah harga mati bagi guru untuk membentuk kerangka pikirnya sendiri dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat.

KERANGKA PIKIR 2:

Interaksi antar faktor-faktor dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Dalam memilih metode pembelajaran, berdasarkan langkah pada kerangka pikir yang kedua dapat dilakukan dengan dua cara yang berbeda, berikut penjelasannya:

(27)

Penggunaan metode pembelajaran dalam sekali tatap muka tidak dibatasi pada penggunaan satu metode saja, guru dapat mengkombinasikan beberapa metode pembelajaran sekaligus, agar pembelajaran berjalan sesuai dengan harapan.

KERANGKA PIKIR 3:

Aplikasi. Pada bagian ini, guru mengintegrasikan kondisi riil faktor-faktor tersebut dalam skema pikiran pada rumus kerangka pikir 2, berikut contoh aplikasinya: di Indonesia + A: Solid team work n respect among others + P: kegiatan yang

(28)

Intinya adalah mengkompromikan antara ide penggunaan suatu metode yang akan dipilih dengan berbagai faktor. Bilamana dalam pengkompromian tersebut banyak kesesuaian, atau selalu ada solusi, maka ide dapat diaplikasikan. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan ide penggunaan metode akan berubah bilamana tidak bisa dikompromikan dengan faktor-faktor yang ada.

INTERAKSI ANTAR FAKTOR (b)_43 peserta didik + gaduh +

sulit diatur + pasif + malas

(c)_tidak ada Wi Fi + reverensi perpustakaan tergolong minim, tetapi banyak warga sekolah yang mampu dan bersedia dijadikan sumber

(d)_guru sanggup dan menginginkan

pembelajaran yang dinamis

(f)_Mapel: PKn, tentang politik figur di Indonesia + kontent banyak + rumit (relatifitas berlaku)

(g)_2 x 45 menit  tidak ada penugasan PR, jadi harus selesai di kelas

(29)

Kedua, berpedoman pada BL:

Kegiatan pemilihan metode pembelajaran oleh guru, merupakan serangkaian kerja pikiran dengan mengintegrasikan, menginteraksikan, dan mengkompromikan metode pembelajaran dengan berbagai faktor-faktor tersebut. Kegiatan ini memang tidak secara tersurat tergambar seperti pada skema kerangka pikir di atas, akan tetapi skema diatas bertujuan untuk mendeskripsikan dan memvisualisasikan kerja pikiran dalam bentuk ilustrasi di atas. Memilih metode pembelajaran yang tepat termasuk dalam kerja perencanaan pembelajaran.

INTERAKSI ANTAR FAKTOR (a)_ SMP (Kelas VIII) + sekolah

(30)

Perencanaan yang matang adalah perencanaan yang sistematis dan melakukan pertimbangan-pertimbangan yang relevan dan proporsional. Produk perencanaan berupa learning design akan menjadi tidak berati manakala guru tidak disiplin dengan perencanaan yang ia susun sendiri. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan learning design akan memudahkan guru dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Adanya kondisi-kondisi lapangan yang berbeda tidak bisa dijadikan suatu alasan bagi guru untuk tidak disiplin menjalankan learning design yang telah ia susun.

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Andri Hakim. Hipnosis In Teaching (Cara Dahsyat Mendidikan dan Mengajar). Jakarta: Visimedia, 2011.

Bobbi De Pcorter. Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 1999.

Dave Meier. The Accelerated Learning (Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan). Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2002. Munif Chatib. Sekolahnya Manusia (Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di

Indonesia). Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2012.

Rusman. Seri Managemen Sekolah Bermutu, Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012.

Wina Senjaya. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.

Sumber Internet:

Anonim. Definisi Model, Pendekatan, dan Strategi Pembelajaran, diunduh dari

http://mkhgfthj.blogspot.com/2012/10/definisi-model-pendekatan-strategi.html, diakses pada Kamis, 27 Maret 2013.

Akhmad Sudrajat. Tujuan Pembelajaran sebagai Komponen Penting dalam

Pembelajaran, diunduh dari

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/08/30/tujuan-pembelajaran-sebagai-komponen-penting-dalam-pembelajaran/, diakses pada Kamis, 27 Maret 2013).

Referensi

Dokumen terkait

Di samping itu, SMK Negeri 2 Karanganyar memiliki manajemen lingkungan sekolah yang bagus, termasuk pengelolaan kelas (tata ruang kelas). Guru harus mampu mengukur

Model pembelajaran di kelas tinggi merupakan model pembelajaran yang gunakan dalam proses pembelajarankelas IV sampai dengan VI .Model ini dimaksudkan agar peserta didik dapat

Setelah membaca teks dan mengamati gambar tentang pekerjaan di pegunungan, siswa mampu membandingkan jenis-jenis pekerjaan yang ada di sekitar mereka dalam bentuk

Strategi ini bertujuan untuk mengarahkan siswa dan memulai kelas dengan atmosfer kelas yang positif. Para siswa dapat memainkan musik perjuangan agar mereka

• Kurikulum dan ruang kelas ditata ulang untuk mendukung murid belajar di ruang kelas yang lebih kecil dan sesuai dengan kecepatan belajar mereka masing masing, serta memastikan

Peserta didik mampu mengemukakan ciri-ciri bangun ruang tabung berdasarkan contoh yang diberikan oleh guru di kelas dengan benar.. Peserta didik mampu menghitung volume

Kemampuan memperkenalkan teman di kelas Siswa mampu menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan teman di kelas dengan mandiri Siswa mampu menyebutkan nama lengkap dan nama

Dari tabel ini dapat kita simpulkan alasan yang paling dominan responden membuat perubahan ruang dalam pada rumah- rumah mereka di Komplek Perumahan Aliyah Shifa adalah alasan