IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan studi pustaka, teori-teori ekonomi makro, dan kerangka logika yang digunakan, terdapat saling keterkaitan antara komponen perekonomian makro dengan komponen indeks pembangunan manusia. Keterkaitan masing masing variabel secara berpasangan maupun secara simultan apabila memiliki prilaku searah bertanda positif atau apabila bertolak belakang bertanda negatif. Atas dasar keterkaitan antar komponen tersebut, dibangun variabel endogen dan variabel eksogen untuk menganalisis dampak kebijakan fiskal sektor pendidikan dan sektor kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia. Variabel-variabel endogen dan eksogen tersebut disusun dalam kerangka pemikiran sesuai dengan Gambar 13.
Gambar 13. Kerangka Pemikiran Hubungan Kebijakan Fiskal dengan Indeks Pembangunan Manusia
Blok Pendapatan: 1. Pajak Daerah 2. Pendapatan Asli Daerah 3. Dana Alokasi Umum 4. Dana Alokasi Khusus 5. Bagi Hasil Pajak dan Non Pajak 6. Pendapatan Lainnya 7. Pendapatan Non Pajak Daerah 8 Total Pendapatan
Blok Belanja: 1. Belanja Sektor Pendidikan 2. Belanja Sektor Kesehatan 3. Belanja Sektor Pertanian 4. Belanja Sektor Industri
5. Belanja Sektor Bangunan dan Infrastruktur 6. Belanja Sektor Lainnya
7. Total Belanja
Blok Indeks Pembangunan Manusia: 1. Angka Harapan Hidup
2. Angka Melek Huruf 3. Rata-Rata Lama Sekolah 4. Daya Beli
5. Tingkat Kemiskinan Desa dan Kota 6. Indeks Pembangunan Manusia
Blok Permintaan Agregat: 1. Konsumsi
2. Investasi 3. Belanja Pemerintah 4. Perubahan Persediaan 5. Net Ekspor
Blok Penawaran Agregat : 1. Sektor Pertanian
2. Sektor Industri 3. Sektor Infrastruktur 4. Sektor Lainnya
Blok Tenaga Kerja: 1. Partisipasi Kerja Sektor Pertanian 2. Partisipasi Kerja Sektor Industri
3. Partisipasi Kerja Sektor Bangunan dan Infrastruktur 4. Partisipasi Kerja Sektor Lainnya
5. Partisipasi Kerja Sektor 6. Angkatan Kerja 7. Pengangguran
Kerangka pemikiran tersebut diurai membentuk model dampak kebijakan fiskal sektor pendidikan dan sektor kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia, sebagaimana dijelaskan pada Gambar 14 dan Tabel 4.
Keterangan: = Variabel Endogen; = Variabel Eksogen
Gambar 14. Model Dampak Kebijakan Fiskal Sektor Pendidikan dan Sektor Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia Di Indonesia
Tabel 4. Nama Variabel Model Dampak Kebijakan Fiskal Sektor Pendidikan dan Sektor Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia
No. Variabel Nama Satuan
1. AHHt Angka harapan hidup tahun t Tahun
2. AKt Angkatan kerja tahun t Orang
3. AMHt Angka melek huruf tahun t Persen
4. APSDt Angka putus sekolah dasar tahun t Persen
5. BHPBPt Bagi hasil pajak dan non pajak tahun t Juta Rupiah
6. BLJt Belanja tahun t Juta Rupiah
7. BSKt Belanja sektor kesehatan tahun t Juta Rupiah
8. BSPt Belanja sektor pendidikan tahun t Juta Rupiah
9. BSPKt Belanja sektor pendidikan dan sektor kesehatan tahun t Juta Rupiah
10. DAKt Dana alokasi khusus tahun t Juta Rupiah
11. DAUt Dana alokasi umum tahun t Juta Rupiah
12. DNPt Dana perimbangan tahun t Juta Rupiah
13. GPSBt Belanja Pemerintah sektor bangunan dan infrastruktur tahun t Juta Rupiah
14. GPSIt Belanja Pemerintah sektor industri tahun t Juta Rupiah
15. GPSLLt Belanja Pemerintah sektor lain-lain tahun t Juta Rupiah
16. GPSTt Belanja Pemerintah sektor pertanian tahun t Juta Rupiah
17. IHLt Indeks hidup layak tahun t -
18. IHPt Indeks hidup panjang tahun t -
19. IPt Indeks pendidikan tahun t -
20. IPMt Indeks pembangunan manusia tahun t -
21. JLHKt Jumlah kendaraan tahun t Buah
22. KRTCAPt Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita tahun t Juta Rupiah
23. KUKt Kredit usaha kecil tahun t Juta Rupiah
24. NPJKDt Pendapatan non pajak daerah tahun t Juta Rupiah
25. NXt Net ekspor tahun t Juta Rupiah
26. PADt Pendapatan asli daerah tahun t Juta Rupiah
27. PATt Pendapatan tahun t Juta Rupiah
28. PDRBEXPt Produk domestik regional bruto sisi pengeluaran tahun t Juta Rupiah
29. PDRBSECt Produk domestik regional bruto sisi penerimaan tahun t Juta Rupiah
30. PJKDt Pajak daerah tahun t Juta Rupiah
31. PKRTt Pengeluaran konsumsi rumah tangga tahun t Juta Rupiah
32. PLAINt Pendapatan lain-lain yang sah tahun t Juta Rupiah
33. PMTBt Pembentukan modal tetap bruto tahun t Juta Rupiah
34. PNSt Pegawai negeri sipil tahun t Orang
35. POPt Populasi penduduk tahun t Ribu orang
36. PPt Perubahan persediaan tahun t Juta Rupiah
37. PPPt Daya beli tahun t Ribu Rupiah
38. RLSt Rata-rata lama sekolah tahun t Tahun
39. RTQSBt Rasio TQSBt dengan PDRBSECt tahun t -
40. TKDKt Tingkat kemiskinan desa dan kota tahun t Persen
41. TKKSBt Angka partisipasi kerja sektor bangunan dan infrastruktur tahun t Orang
42. TKKSLt Angka partisipasi kerja sektor lain-lain tahun t Orang
43. TKSIt Angka partisipasi kerja sektor industri tahun t Orang
44. TKSTt Angka partisipasi kerja sektor pertanian tahun t Orang
45. TQSBt Total produksi sektor bangunan dan infrastruktur tahun t Juta Rupiah
46. TQSIt Total produksi sektor industri tahun t Juta Rupiah
47. TQSLLt Total produksi sektor lain-lain tahun t Juta Rupiah
48. TQSTt Total produksi sektor pertanian tahun t Juta Rupiah
4.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian dibangun dari tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya akan diuji dalam penelitian , yaitu:
1. Kebijakan fiskal melalui belanja Pemerintah di sektor pendidikan dan sektor kesehatan akan meningkatkan indeks pembangunan manusia.
2. Sasaran tujuan pembangunan milenium tahun 2015 dapat dicapai melalui kebijakan fiskal di sektor pendidikan dan sektor kesehatan.
4.3. Sumber Data
Penelitian ini akan menggunakan data sekunder berupa pool data, baik data deret waktu (time series), maupun data cross section dari tahun 2004-2008. Pool data adalah sebagai solusi dari keterbatasan data deret waktu (time series). Data tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), UNDP, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Bappenas, Bappeda Provinsi, dan lembaga-lembaga resmi lainnya. Pool data di atas akan digunakan untuk membangun model ekonometrika, untuk kemudian dilakukan pendugaan parameter dari variabel endogen pada model ekonometrika yang dibangun.
4.4. Spesifikasi Model
Model adalah suatu konsepsi yang menggambarkan keterkaitan variabel- variabel pembentuknya dalam satu sistem berpikir (system thinking), yang kemudian dijadikan dasar untuk mentransformasikan suatu kondisi yang ada (realworld) menjadi kondisi yang diinginkan secara sistematik (systematically disirable condition) dan dapat diterima secara budaya (culturally feasible).
Model ekonometrika menurut Intriligator (1978) merupakan suatu pola khusus dari model aljabar suatu fenomena perekonomian yang bersifat stochastic yaitu mencakup pula satu atau lebih variabel pengganggu. Pola khusus atau model aljabar dari model ekonometrika menjelaskan tentang hubungan satu sama lain dari masing-masing variabel pembentuknya, yang terdiri atas variabel penjelas (explanatory variables) dan variabel endogennya (endogenous variables). Model ekonometrika harus memenuhi: (1) kriteria ekonomi atau harapan teoritis (theoretically meaningful) khususnya yang menyangkut tanda (sign) dan besaran (magnitude) dari parameter persamaan simultan yang terbentuk, (2) kriteria
statistik yang berkaitan dengan derajat ketepatan (goodness of fit), dan (3) kriteria ekonometrika yang menetapkan suatu estimasi memiliki sifat-sifat yang
dibutuhkan seperti unbiasedness, efficiency, sufficiency, dan consistency (Koutsoyiannis, 1977).
Spesifikasi model yang dirumuskan dalam studi ini sangat terkait dengan tujuan penelitian yaitu merumuskan model ekonometrika “Dampak kebijakan fiskal sektor pendidikan dan sektor kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia”. Model yang dibangun adalah model persamaan simultan yang terdiri atas 23 persamaan struktural dan 15 persamaan identitas yang dikelompokkan kedalam 6 blok.
4.4.1. Blok Pendapatan Daerah
1. Pajak Daerah
PJKDt = a10 + a11BLJt + a12PPt + + U1t ... (1) 2. Dana Alokasi Umum
3. Pendapatan Asli Daerah
PADt = PJKDt + NPJKt ... (3) 4. Dana Perimbangan
DNPt = DAUt + DAKt + BHPBPt + PLAINt ... (4) 5. Pendapatan Daerah
PATt = PADt + DNPt ... (5)
dimana: PJKDt : Pajak daerah tahun t (juta Rupiah).
KRTCAPt : Konsumsi rumah tangga per kapita tahun t (juta Rupiah). DAUt : Dana alokasi umum tahun t (juta Rupiah).
POPt : Populasi penduduk tahun t (ribu orang).
IPMt : Indeks Pembangunan Manusia tahun t (antara nol sampai seratus).
PADt : Pendapatan asli daerah tahun t (juta Rupiah). NPJKt : Pendapatan non pajak tahun t (juta Rupiah). DNPt : Dana perimbangan tahun t (juta Rupiah). DAKt : Dana alokasi khusus tahun t (juta Rupiah).
BHPBPt : Bagi hasil pajak dan non pajak tahun t (juta Rupiah). PLaint : Pendapatan lain-lain yang syah tahun t (juta Rupiah). PATt : Pendapatan tahun t (juta Rupiah).
N : Nomor parameter dummy (1 sampai dengan n). M : Nomor provinsi (misal Aceh = 11, Maluku = 81). U1t - U2t : Error term.
Dengan arah dan magnitude dari dugaan parameter yang diharapkan: a11,a12, a21, a22 > 0.
4.4.2. Blok Belanja Daerah
1. Belanja Sektor Pendidikan
BSPt = a30 + a31PATt + a32POPt +dNMt DMt + U3t ...(6) 2. Belanja Sektor Kesehatan
BSKt = a40 + a41PATt + a42PNSt + dNMt DMt + U4t ...(7) 3. Belanja Pemerintah Sektor Pertanian
4. Belanja Pemerintah Sektor Industri
GPSIt = a60 + a61PATt + dNMt DMt +U6t ... (9) 5. Belanja Pemerintah Sektor Bangunan dan Infrastruktur
GPSBt = a70 + a71PATt + dNMt DMt + U7t ... (10) 6. Belanja Pemerintah Sektor Lain-Lain
GPSLLt = a80 + a81PATt + a82BSPKt + dNMt DMt + U8t ... (11) 7. Belanja Sektor Pendidikan dan Sektor Kesehatan
BSPKt = BSPt + BSKt ... (12) 8. Total Belanja
BLJt = GPSTt + GPSIt + GPSBt + GPSLLt ... (13) dimana:
BSPt : Belanja sektor pendidikan tahun t (juta Rupiah). BSKt : Belanja sektor kesehatan tahun t (juta Rupiah).
BSPKt : Belanja sektor pendidikan dan kesehatan tahun t (juta Rupiah). BLJt : Belanja tahun t (juta Rupiah).
PATt : Pendapatan tahun t (juta Rupiah). POPt : Populasi penduduk tahun t (ribu orang). PNSt : Pegawai negeri sipil tahun t (orang).
GPSTt : Belanja Pemerintah sektor pertanian tahun t (juta Rupiah). GPSIt : Belanja Pemerintah sektor industri tahun t (juta Rupiah).
GPSBt : Belanja Pemerintah sek. bangunan dan infrastruktur tahun t (Rp. juta).
GPSLLt : Belanja Pemerintah sektor lain-lain tahun t (juta Rupiah). N : Nomor parameter dummy (1 sampai dengan n).
M : Nomor provinsi (misal Aceh = 11, Maluku = 81). U3t - U8t : Error term.
Dengan arah dan magnitude dari dugaan parameter yang diharapkan adalah: a31, a41, a51, a61, a71, a81,a32,a42, a82 > 0.
4.4.3. Blok Permintaan Agregat
1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
2. Pembentukan Modal Tetap Bruto
PMTBt = a100 + a101PDRBSECt + a102KUKt + dNMt DMt + U10t ...(15) 3. Produk Domestik Regional Bruto Sisi Permintaan
PDRBEXPt = PKRTt + BLJt + PMTBt + NXt ...(16) 4. Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita
KRTCAPt = PKRTt / POPt ...(17) dimana:
PKRTt : Pengeluaran konsumsi rumah tangga tahun t (juta Rupiah). PDRBSECt : Produk domestik regional bruto sektoral tahun t (juta
Rupiah).
PMTBt : Pembentukan modal tetap bruto tahun t (juta Rupiah). KUKt : Kredit usaha kecil tahun t (juta Rupiah).
PDRBEXPt : Produk domestik regional bruto sisi permintaan tahun t (juta Rupiah).
KRTCAPt : Konsumsi rumah tangga per kapita tahun t (juta Rupiah). POPt : Populasi penduduk tahun t (ribu orang).
NXt : Selisih antara ekspor dikurangi impor tahun t (juta Rupiah). U9t -U10t : Error term.
Magnitute dan arah dari dugaan parameter yang diharapkan adalah: a91, a101, a92, a102 > 0.
4.4.4. Blok Penawaran Agregat
1. Total Produksi Sektor Pertanian
TQSTt = a110+a111LOGTKSTt + a112GPSTt ++dNMt DMt+U11t ...(18) 2. Total Produksi Sektor Industri
TQSIt = a120+a121TKSIt + a122GPSIt +dNMt DMt+U12t ...(19) 3. Total Produksi Sektor Bangunan dan Infrastruktur
4. Total Produksi Sektor Lain-Lain
TQSLLt = a140+a141TKKSLt + a142GPSLLt + a143JLHK+dNMt DMt+U14t . (21) 5. Rasio Total Produksi Sektor Bangunan dan Infrastruktur
RTQSBt = TQSBt/PDRBSECt ... (22) 6. Produk Domestik Regional Bruto Sektoral
PDRBSECt = TQSTt + TQSIt + TQSBt + TQSLLt ... (23) dimana:
TQSTt : Total produksi sektor pertanian tahun t (juta Rupiah). TQSIt : Total produksi sektor industri tahun t (juta Rupiah).
TQSBt : Total produksi sektor bangunan dan infrastruktur tahun t (juta Rupiah).
TQSLLt : Total produksi sektor lain-lain tahun t (juta Rupiah). TKSTt : Angka partisipasi kerja sektor pertanian tahun t (orang). GPSTt : Belanja Pemerintah sektor pertanian tahun t (juta Rupiah). TKSIt : Angka partisipasi kerja sektor industri tahun t (orang). GPSIt : Belanja Pemerintah sektor industri tahun t (juta Rupiah).
TTKKSBt : Tren angka partisipasi kerja sektor bangunan dan infrastruktur tahun t
GPSBt : Belanja Pemerintah sektor bangunan dan infrastruktur tahun t (juta Rupiah).
JLHKt : Jumlah kendaraan tahun t (buah).
TKKSLt : Angka partisipasi kerja sektor lain-lain tahun t (orang). GPSLLt : Belanja Pemerintah sektor lain-lain tahun t (juta Rupiah). PDRBSECt : Produk domestik regional bruto sektor tahun t (juta Rupiah). RTQSBt : Rasio TQSBt/PDRBSECt tahun t.
U11t-U14t : Error term.
Magnitute dan arah dari dugaan parameter yang diharapkan adalah: a111, a121, a131, a141, a112, a122, a132, a142, a133; a143 > 0.
4.4.5. Blok Tenaga Kerja
1. Angka Partisipasi Kerja Sektor Pertanian
TKSTt = a150 + a151TQSTt + dNMt DMt + U15t ... (24) 2. Angka Partisipasi Kerja Sektor Industri
3. Angka Partisipasi Kerja Sektor Bangunan dan Infrastruktur
TKKSBt = a170 + a171RTQSBt + dNMt DMt + U17t ...(26) 4. Angka Partisipasi Kerja Sektor Lain-Lain
TKKSLt = a180 + a181TQSLLt + dNMt DMt + U18t ...(27) 5. Angka Partisipasi Kerja Sektor
TKSt = TKSTt + TKSIt + TKKSBt + TKKSLt ...(28) 6. Pengangguran
Ut = AKt - TKSt ...(29) dimana:
TKSTt : Angka partisipasi kerja sektor pertanian tahun t (orang). TKSIt : Angka partisipasi kerja sektor industri tahun t (orang).
TKKSBt : Angka partisipasi kerja sektor bangunan dan infrastruktur tahun t (orang).
TKSLLt : Angka partisipasi kerja sektor lain-lannya tahun t (orang). TQSTt : Total produksi sektor pertanian tahun t (juta Rupiah). TQSIt : Total produksi sektor industri tahun t (juta Rupiah). RTQSBt : Rasio TQSBt/PDRBSECt tahun t.
TQSLLt : Total produksi sektor lain-lain tahun t (juta Rupiah). TKSt : Angka partisipasi kerja sektor tahun t (orang). AKt : Angkatan kerja tahun t (orang).
Ut : Pengangguran tahun t (orang). U15t -U18t : Error term.
Magnitute dan arah dari dugaan parameter yang diharapkan adalah: a151, a161, a171, a181 > 0.
4.4.6. Blok Indeks Pembangunan Manusia
1. Angka Harapan Hidup
AHHt = a190 + a191 BSKt + a192 KRTCAPt + dNMt DMt +U19t ...(30) 2. Angka Melek Huruf
3. Rata-Rata Lama Sekolah
RLSt = a210 + a211 BSPt + a212 KRTCAPt + a213APSD t + dNMt DMt +U21t . (32) 4. Daya Beli
PPPt = a220 + a221Ut + a222KRTCAPt + dNMt DMt +U22t ... (33) 5. Tingkat Kemiskinan Desa dan Kota
TKDKt = a230 + a231PPPt + dNMt DMt +U23t ... (34) 6. Indeks Hidup Panjang
IHPt = {(AHH t -25) / (85-25)} ... (35) 7. Indeks Pendidikan
IPt = (1/3)*(RLSt /15) + (2/3)*(AMHt /100) ... (36) 8. Indeks Hidup Layak
IHLt = {(PPPt - 360) / (732.720 - 300)} ... (37) 9. Indeks Pembangunan Manusia
IPMt = (1/3)*(IHPt + IPt + IHLt)*100 ... (38) dimana:
AHHt : Angka harapan hidup tahun t (tahun). AMHt : Angka melek huruf tahun t (persen). RLSt : Rata-rata lama sekolah tahun t (tahun). PPPt : Daya beli tahun t (ribuan Rupiah).
BSPt : Belanja sektor pendidikan tahun t (juta Rupiah). BSKt : Belanja sektor kesehatan tahun t (juta Rupiah).
KRTCAPt : Konsumsi rumah tangga per kapita tahun t (juta Rupiah). APSDt : Angka putus sekolah dasar tahun t (persen).
Ut : Pengangguran tahun t (orang). IHPt : Indeks hidup panjang tahun t. IPt : Indeks pendidikan tahun t. IHLt : Indeks hidup layak tahun t.
IPMt : Indeks Pembangunan Manusia tahun t (antara nol sampai seratus).
TKDKt : Tingkat kemiskinan desa dan kota tahun t (persen). U19t -U23t : Error term.
Dengan arah dan magnitude dari dugaan parameter yang diharapkan adalah: a191, a201, a211, a192, a202, a212, a222, a213 > 0; a221, a213, a231 < 0.
4.5. Prosedur Analisis Data
4.5.1. Identifikasi Model
Identifikasi model ditentukan berdasarkan “order condition“ sebagai syarat keharusan dan “rank condition“ sebagai syarat kecukupan. Untuk mengidentifikasi model persamaan struktural berdasarkan order condition digunakan rumusan (Koutsoyiannis, 1977):
(K - M) > (G - 1) ... (39) dimana:
K : Total variabel dalam model, yaitu variabel endogen dan variabel eksogen yang telah ditetapkan (predetermined).
M : Jumlah variabel endogen dan variabel eksogen yang termasuk dalam satu persamaan tertentu dalam model.
G : Total persamaan dalam model, yaitu jumlah variabel endogen dalam model.
dengan ketentuan:
(K - M) > (G - 1) : maka persamaan dinyatakan teridentifikasi secara berlebih (overidentified).
(K - M) = (G - 1) : maka persamaan tersebut dinyatakan teridentifikasi secara tepat (exactly identified).
(K - M) < (G - 1) : maka persamaan tersebut dinyatakan tidak teridentifikasi (unidentified).
Hasil identifikasi untuk setiap persamaan struktural haruslah exactly identified atau overidentified untuk dapat menduga parameter-parameternya. Kendati suatu persamaan memenuhi order condition, mungkin saja persamaan tersebut tidak teridentifikasi. Karena itu, dalam proses identifikasi diperlukan suatu syarat perlu sekaligus syarat cukup yang ditentukan oleh rank condition yang menyatakan suatu persamaan teridentifikasi jika dan hanya jika
dimungkinkan untuk membentuk minimal satu determinan bukan nol pada order (G - 1) dari parameter struktural variabel yang tidak termasuk dalam persamaan tersebut (Koutsoyiannis, 1977).
4.5.2. Metode Pendugaan Model
Dari hasil identifikasi model yang menunjukkan bahwa seluruh persamaan teridentifikasi secara berlebih (overidentified) dan mempertimbangkan digunakannya pool data dalam penelitian ini, maka pendugaan/estimasi parameter menggunakan model panel, dengan metode pendugaan/estimasi fixone.
Untuk mengetahui apakah pengaruh secara bersama-sama dari variabel penjelas signifikan atau tidak, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji F. Sedangkan untuk mengetahui signifikan atau tidaknya pengaruh secara sendiri-sendiri dari masing-masing variabel penjelas terhadap variabel endogennya diuji dengan menggunakan uji statistik t pada tingkat signifikansi tertentu.
4.5.3. Validasi Model
Validasi model dimaksudkan untuk mengetahui apakah model yang dirumuskan itu cukup layak atau valid untuk digunakan dalam menganalisis “Dampak kebijakan fiskal sektor pendidikan dan sektor kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia”. Kriteria yang biasa digunakan dalam menilai layak atau valid tidaknya suatu model ekonometrik di antaranya adalah Root Mean Squares Percent Error (RMSPE) dan Theil inequality coefficient (U theil) (Pindick dan Rubinfeld, 1991). Persamaan matematis RMSPE dan Utheil adalah sebagai berikut:
[
]
% 100 x Y Y -Y T 1 = RMSPE∑
T 1 = t 2 a t a t s t ... (40)Dimana, Yts adalah nilai Yt simulasi/prediksi, Yta adalah nilai Yt aktual dan T adalah jumlah observasi dalam simulasi.
(
)
( )
∑
( )
∑
∑
T 1 = t 2 a t T 1 = t 2 s t T 1 = t 2 a t s t Y T 1 + Y T 1 Y -Y T 1 = Utheil ... (41)Dimana U dapat didekomposisi menjadi:
1/N
Σ
(Yts – Yta)2 = (Ys – Ya)2 + (σs – σa)2 + 2(1 – ρ)σsσa ... (42) Dimana Ys dan Ya adalah rata-rata untuk nilai prediksi dan nilai aktual, σs dan σa adalah standar deviasi untuk nilai prediksi dan nilai aktual, ρ adalah koefisien korelasi. Proporsi dari U (proportions of inequality) dapat dinyatakan sebagai berikut:(
)
(
Y -Y)
N 1 Y -Y = U 2 a s 2 a s M∑
... (43)(
)
(
Y -Y)
N 1 -= U 2 a s 2 a s S∑
σ σ ... (44)( )
(
Y -Y)
N 1 -1 2 = U 2 a s a s C∑
σ σ ρ ... (45)dimana, UM adalah proporsi bias yang menjelaskan seberapa jauh rata-rata nilai prediksi menyimpang dari rata-rata nilai aktual dan nilai UM yang diharapkan adalah yang mendekati nol; US adalah proporsi varians yang menjelaskan
seberapa jauh variasi nilai prediksi menyimpang dari nilai variasi nilai aktual dan nilai US yang diharapkan adalah yang mendekati nol; UC adalah proporsi kovarians yang mengukur kesalahan peramalan yang tidak sistematis (unsystematic error). Distribusi ketimpangan (U) yang ideal atas ketiga sumber tersebut adalah UM = US = UC = 1 (Pyndick and Rubinfeld, 1991).
4.5.4. Simulasi Model
Simulasi pada dasarnya merupakan solusi matematis (mathematical solution) dari suatu kumpulan berbagai persamaan secara simultan. Simulasi model dengan demikian menunjuk kepada sekumpulan persamaan tersebut. Simulasi model dilakukan dengan berbagai alasan, misalnya untuk pengujian dan evaluasi model, analisis kebijakan historis dan untuk peramalan (Pindyck and Rubinfeld, 1991).
Dalam studi ini, simulasi model terutama ditujukan untuk menganalisis kebijakan historis yang dapat digunakan sebagai dasar peramalan di masa yang akan datang. Dalam studi ini, analisis kebijakan difokuskan pada “Dampak kebijakan fiskal sektor pendidikan dan sektor kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia”. Simulasi kebijakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Belanja pendidikan dan kesehatan naik 20 persen. 2. Transfer Dana alokasi umum naik 20 persen. 3. Belanja sektor bangunan naik 20 persen.
4. Kombinasi kebijakan belanja pendidikan dan kesehatan naik 20 persen dan belanja sektor bangunan naik 20 persen.
5. Provinsi quantil 1 indeks pembangunan manusia terendah naik dana alokasi umum 40 persen, dan lainnya dana alokasi umum naik 20 persen.
6. Provinsi quantil 1 dan 2 indeks pembangunan manusia terendah naik dana alokasi umum 40 persen, dan lainnya dana alokasi umum naik 20 persen. 7. Provinsi quantil 1 dan 2 indeks pembangunan manusia terendah naik total
belanja 40 persen, dan lainnya belanja naik 20 persen.
8. Provinsi quantil 1 dan 2 indeks pembangunan manusia terendah naik belanja sektor pendidikan dan kesehatan 40 persen, dan lainnya belanja sektor pendidikan dan kesehatan naik 20 persen.