• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

431

Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP)

U R L : h t t p s : / / j i a p . u b . a c . i d / i n d e x . p h p / j i a p

Dinamika Perencanaan Tata Guna Lahan di Kabupaten Kediri

Ninda Adisti Putri a

a

Kantor Pertanahan Kota Kediri, Jawa Timur, Indonesia

———

 Corresponding author. Tel.: +62-812-3445-0607 ; e-mail: [email protected]

I N F O R M A S I A R T IK E L A B S T R A C T

Article history:

Dikirim tanggal: 10 Desember 2019 Revisi pertama tanggal: 26 November 2020 Diterima tanggal: 30 November 2020 Tersedia online tanggal: 14 Desember 2020

The imbalance between the needs with sufficient land, meanwhile, needs to be compared with land requirements. Kediri Regency has the potential for rapid development. This is a challenge to the existing land use planning policy in Kediri Regency. This study aims to predict the dynamics of land use change in Kediri Regency until 2030. The prediction model was built using the Cellular Automata approach based on an analysis of land use change trends from 2009 to 2018 taking into account the weight of the driving factors obtained using the AHP method. The results of modeling validation show an accuracy rate of 96.26%. The result is that in 2030 there will be a significant increase in the use of industrial land and warehousing of 331.56 Ha and settlements of 3650.94 Ha in Kediri Regency. But there are still mismatches between the dynamics of the regional spatial plan to be a challenge going forward in order to achieve the goals of the expected development. Modeling using Cellular Automata can be applied as an alternative to new methods in spatial policy evaluation.

INTISARI

Ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan ketersediaan lahan yang cukup, memicu terjadinya penyesuaian terhadap pemanfaatan sumberdaya lahan. Kabupaten Kediri memiliki potensi perkembangan yang pesat. Hal ini menjadi tantangan terhadap kebijakan perencanaan tata guna lahan yang ada di Kabupaten Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksikan dinamika perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri hingga tahun 2030. Model prediksi dibangun dengan pendekatan Cellular Automata berdasarkan analisis trend perubahan penggunaan lahan Tahun 2009 hingga Tahun 2018 dengan memperhitungkan bobot faktor pendorong yang diperoleh menggunakan metode AHP. Hasil validasi permodelan menujukkan tingkat akurasi sebesar 96,26 %. Hasilnya pada Tahun 2030 akan terjadi peningkatan secara signifikan terhadap penggunaan lahan industri dan pergudangan sebesar 331,56 Ha serta permukiman sebesar 3650,94 Ha di Kabupaten Kediri. Namun masih adanya ketidaksesuaian antara dinamika terhadap rencana tata ruang wilayah menjadi tantangan kedepan demi mencapai tujuan dari pembangunan yang diharapkan. Permodelan menggunakan Cellular Automata dapat diterapkan sebagai alternatif metode baru dalam evaluasi kebijakan tata ruang.

2020 FIA UB. All rights reserved.

Keywords: land use planning, cellular automata, AHP, Kediri Regency

JIAP Vol 6, No 3, pp 431-438, 2020 © 2020 FIA UB. All right reserved ISSN 2302-2698 e-ISSN 2503-2887

(2)

432

1. Pendahuluan

Lahan memiliki nilai penting dan dominan dalam kehidupan setiap manusia. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam amanat pembukaan UUD 1945 pasal 33 ayat (3) dan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Secara tersirat lahan mengandung makna filosofis penting sebagai salah satu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dapat menjadi perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mampu melahirkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Tutuntan pembangunan diiringi dengan laju perkembangan penduduk yang cepat baik melalui migrasi maupun urbanisasi, semakin tidak sebanding dengan jumlah lahan yang tidak pernah bertambah. Kondisi ini menuntut persaingan dalam penggunaan lahan yang akan memicu laju perkembangan daerah dan berakibat pada proses perubahan penggunaan lahan. Perencanaan tata guna lahan (land use planning) menurut Riyadi & Bratakusuma (2004) tidak hanya mengatur rencana terhadap penggunaan lahan namun juga menentukan bagaimana pola tata guna lahan untuk masa yang akan datang dengan mempertimbangkan faktor pendorongnya baik fisik, sosial, budaya maupun ekonomi.

Dinamika aktivitas perkotaan yang diiringi oleh arus urbanisasi tidak hanya berdampak terhadap peningkatan jumlah penduduk tetapi disisi ekonomi juga terjadi perkembangan yang pesat. Hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya pemanfaatan lahan untuk kawasan industri, permukiman serta sarana dan prasarana pendukungnya. Tumbuhnya pusat perkotaan akibat arus urbanisasi ini lambat laun mempengaruhi daerah perdesaan (Putra & Rudianto, 2018). Fenomena seperti inilah yang terjadi di Kabupaten Kediri.

Kabupaten Kediri memiliki jumlah penduduk tertinggi se-Karisidenan sekitar 1.561.392 jiwa dimana sebagian besar dari luas wilayahnya merupakan lahan pertanian dan sejenisnya. Produk ekspor dari Kabupaten Kediri sebagian besar berasal dari pertanian, perkebunan, dan perikanan. Dilain sisi prospek cerah Kediri di Kawasan Mataraman Jawa Timur dan laju urbanisasi yang kian pesat menimbulkan konsekuensi terjadinya perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan fisik lahan. Ekspansi lahan akibat perkembangan kota dan pembangunan dimasa mendatang menjadi sesuatu yang tidak dapat terhindarkan.

Perencanaan pembangunan yang baik dan

implementatif akan sangat membantu keberhasilan suatu pembangunan (Tjokoroamidjojo, 1974). Perencanaan tata guna lahan yang komperhensif diperlukan untuk mengantisipasi dampak pembangunan yang pesat dimasa mendatang. Prediksi perubahan penggunaan lahan dimasa depan penting dilakukan sebagai dasar perencanaan tata guna lahan di Kabupaten Kediri saat ini.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dinamika perencanaan tata guna lahan di Kabupaten Kediri.

2. Teori

2.1 Perencanaan Pembangunan

Tjokroamidjojo (1976, p. 12) dalam bukunya yang

berjudul Perencanaan Pembangunan memberikan

pengertian bahwa perencanaan pembangunan merupakan suatu pengarahan penggunaan sumberdaya pembangunan yang terbatas untuk mencapai tujuan-tujuan keadaan sosial ekonomi yang lebih baik secara lebih efisien dan efektif.

Selain itu menurut Riyadi & Bratakusumah (2004, p. 7) perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai berikut:

Suatu proses perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/ aktifitas kemasyarakatan, baik yang bersifat fisik (material) maupun non fisik (mental/ spiritual), dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik.

Proses disini memiliki arti bahwasanya perencanaan yang baik harus memperhitungkan apa tujuannya, kapan,

bagaimana, kenapa, dimana serta siapa yang

melaksanakan pekerjaan tersebut. Pembangunan tanpa proses perencanaan yang memadai mungkin dapat dilakukan namun hasilnya tidak merata dan terarah, sehingga menimbulkan pemanfaatan yang tidak terbatas dan tidak hanya berakibat pada kerusakan-kerusakan secara fisik, tetapi juga terkikisnya nilai sosial serta budaya masyarakat. Berdasarkan beberapa definisi diatas, secara garis besar perencanaan pembangunan merupakan suatu usaha untuk merumuskan alternatif perubahan yang lebih baik dimasa yang akan datang guna mencapai tujuan yang telah disepakati bersama dengan mempertimbangkan potensi sumber daya yang ada.

2.2 Perencanaan Tata Ruang

Pada pasal 1 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; memaknai ruang sebagai sebuah wadah baik ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain

hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara

kelangsungan hidupnya.

Syaodih (2015, p. 17) mengatakan bahwa sistem perencanaan pembangunan secara garis besar terdiri atas

dua pendekatan, yakni pendekatan perencanaan

pembangunan yang merujuk pada Undang-Undang nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

(3)

433

Pembangunan Nasional dan pendekatan perencanaan tata ruang yang merujuk Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Ini menunjukkan bahwa kegiatan perencanaan tata ruang ruang berkaitan juga dengan perencanaan pembangunan, sehingga dokumen yang dihasilkan dari keduanya sama-sama digunakan untuk memprediksi kegiatan yang akan dilakukan dimasa mendatang. Produk hasil perencanaan tata ruang adalah Rencana Tata Ruang (RTR).

Permasalahan yang harus dihadapi dalam penataan ruang pada umumnya terkait dengan pemanfaatan ruang. Limbong (2014) menyebutkan berbagai masalah yang paling menonjol tersebut diantaranya:

Adanya tumpang tindih peruntukan ruang untuk kegiatan pembangunan sektoral;

a) Perubahan penggunaan ruang yang tidak terkendali; b) Penggunaan ruang yang tidak sesuai dengan potensi

atau kemampuan ruang; dan

c) Penggunaan ruang secara tidak efisien atau tidak sesuai fungsinya sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kerusakan tanah, tanah longsor, banjir, dan kemrosotan produktifitas.

Oleh sebab itu diperlukan manajemen dalam

pembangunan yang bertujuan agar ruang dapat dimanfaatkan secara optimal dan bijaksana, salah satunya melalui penataan ruang.

2.3 Perencanaan Tata Guna Lahan

Perencanaan tata guna lahan (land use planning) merupakan upaya pemerintah dalam menyeimbangkan perekonomian sebagai akibat dari perkembangan suatu wilayah. Pemerintah menetapkan suatu kawasan-kawasan dalam rencana tata ruang berdasarkan hasil prediksi dan kajian ilmiah dengan harapan agar dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang

ingin dicapai sehingga mendorong terciptanya

pembangunan yang berkelanjutan.

Rencana tata guna lahan diibaratkan sebagai rencana dasar, yang harus memperhitungkan apa, kapan, bagaimana, dimana, dan mengapa kegiatan tersebut harus dilakukan. Dan tujuan perencanaan tata guna lahan adalah untuk melakukan penentuan pilihan dan penerapan keputusan terbaik terkait hal tersebut disesuaikan dengan kondisi yang ada, sehingga dapat mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Sebelum melakukan suatu perencanaan tata guna lahan perlu diketahui adanya informasi awal berupa rencana sebelumnya, kondisi awal dari suatu wilayah yang akan direncanakan, serta kajian ilmiah yang sudah pernah dilakukan, hal ini yang diperlukan bagi perencana untuk meprediksikan pembangunan dimasa mendatang agar hasilnya dapat diimplementasikan dengan baik sesuai rencana.

Proses perencanaan tata guna lahan pada umumnya hampir sama dengan konsep proses perencanaan yang

ada. Catanese & Snyder (1988) menggambarkan proses perencanaan tata guna lahan ke dalam sepuluh tahapan seperti pada gambar 1 berikut ini:

3. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kediri yang terbagi dalam 26 kecamatan dengan 343 desa dan satu Kelurahan. Sementara itu, metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui survei data primer dan sekunder. Survei data primer diperoleh dengan cara observasi lapangan terkait penggunaan lahan dan

pembagian kuisioner kepada stakeholder yang

mempunyai kepentingan terkait proses perencanaan pembangunan di Kabupaten Kediri, antara lain pihak pemerintah, akademisi dan masyarakat. Sedangkan

survei data sekunder diperoleh dengan cara

mengumpulkan data dari instansi terkait seperti Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Kabupaten Kediri maupun melalui sarana media online pada website tertentu seperti Google Earth, BPS, dan sebagainya.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deduktif-kuantitatif karena menggunakan analisis berbasis pada numerik yang diproses menggunakan citra satelit dan data spasial untuk menjelaskan dinamika, tantangan dan simulasi prediksi perubahan penggunaan lahan yang terjadi. Dalam proses simulasinya menggunakan software Landusesim 2.3.1 dengan ukuran piksel 30 m x 30 m menyesuaikan dengan luas area penelitian.

Variabel faktor pendorong perubahan penggunaan lahan yang telah ditentukan dalam penelitian ini antara lain kedekatan jarak ke jalan arteri, jarak ke jalan kolektor, jarak ke CBD (Central Bussines District), jarak ke pusat kota, jarak ke sarana kesehatan, jarak ke sarana pendidikan, jarak ke industri dan pergudangan eksisting,

Gambar 1 Proses Perencanaan Tata Guna Lahan Sumber: Catanese & Snyder, 1988

1. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PELUANG-PELUANG 2. PENGUMPULAN INFORMASI 3. ANALISIS INFORMASI 4. PENENTUAN SASARAN 5. MENCIPTAKAN RENCANA ALTERNATIF 6. MEMBANDINGKA N RENCANA ALTERNATIF 7. PEMILIHAN RENCANA 8. MEWUJUDKAN RENCANA MENJADI PROGRAM 9. PELAKSANAAN PROGRAM 10. PEMANTAUAN HASIL DIMANA ANDA? BAGAIMANA UNTUK SAMPAI KE SANA? ANDA HENDAK KEMANA?

(4)

434

jarak ke perdagangan dan jasa eksisting, dan jarak ke permukiman eksisting. Berdasarkan rujukan dari penelitian yang dilakukan oleh Sadewo & Buchori (2018), besarnya pengaruh (bobot) masing-masing variabel faktor pendorong diperoleh menggunakan teknik AHP (Analytical Hierarchy Process).

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1 Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan

Dinamika perkembangan lahan yang terjadi di Kabupaten Kediri selama kurun waktu Tahun

2009-2018, diperoleh berdasarkan analisis tren perubahan penggunaan lahan. Hasil overlay pada peta penggunaan lahan yang diolah secara time series menggunakan software ArcGis 10.4.1 mengungkapkan bahwa dari Tahun 2009 hingga Tahun 2018 terjadi perubahan penggunaan lahan permukiman menjadi industri seluas 31,83 hektar, menjadi peternakan seluas 16,05 hektar, menjadi perdagangan dan jasa seluas 4 hektar (lihat Tabel 1).

Proses perkembangan lahan terbangun juga dialami oleh lahan pertanian, dimana pada Tahun 2018 lebih banyak terkonversi untuk peruntukan lahan sebagai berikut:

 Permukiman seluas 2.826,53 hektar;

 Industri seluas 216,26 hektar;

 Peternakan seluas 110,66 hektar;

 Perdagangan dan jasa seluas 35,63 hektar; dan

 Sarana transportasi seluas 1,49 hektar.

Penggunaan lahan seperti industri dan pergudangan, perdagangan terbesar terjadi di Kecamatan Ngasem. Adanya industri rokok terbesar yang berjarak relatif dekat dengan pusat kota serta berada disepanjang jalan kolektor semakin mempermudah pemasaran dan pendistribusian barang dan jasa. Oleh karena itu permukiman disekitarnya lebih dipilih untuk menjadi industri dan pergudangan serta perdagangan dan jasa karena dianggap dari sisi perusahaan tidak memerlukan perluasan lokasi baru yang lebih jauh dan dari sisi masyarakat juga akan lebih diuntungkan.

Perubahan penggunaan lahan terjadi dari pertanian menjadi industri dan pergudangan serta permukiman dengan luasan yang paling besar terjadi di Kecamatan Pare. Data statistik Kabupaten Kediri menyebutkan bahwa pada Tahun 2018 jumlah penduduk terbesar se-Kabupaten Kediri ada di Kecamatan Pare (BPS Kab. Kediri, 2019). Sebagai pusat kegiatan lokal di Kabupaten Kediri selain Kecamatan Ngasem, adanya Kampung Inggris Pare mendukung tingginya mobilitas penduduk,

sehingga memberi peluang untuk semakin

berkembangnya permukiman. Hal ini didukung oleh adanya kemudahan akses jalan Kediri menuju Malang maupun akses jalan alternatif Kediri menuju Surabaya, yang berdampak pula terhadap perkembangan industri

skala sedang di Kecamatan Pare. Hal ini diperkuat oleh penelitian Gharbia, et al. (2016) bahwa tingkat aksesibilitas yang baik semakin mendorong masyarakat untuk bermukim di wilayah tersebut, sehingga berdampak pada semakin berkurangnya penggunaan lahan pertanian dan semakin meningkatnya lahan permukiman. Perubahan penggunaan lahan pertanian

menjadi perdagangan dan jasa banyak terjadi

di Kecamatan Ngasem. Hal ini dikarenakan pada wilayah ini telah dibangun CBD (Central Bussiness District), yaitu Kawasan Simpang Lima Gumul. Dengan demikian keberadaan CBD tersebut semakin menarik masyarakat untuk menjadikan pertanian menjadi perdagangan dan jasa. Perubahan lahan pertanian menjadi perternakan terjadi di Kecamatan Wates. Potensi sektor peternakan di Wates didukung oleh kondisi wilayahnya di lereng gunung Kelud dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar, sehingga selain pertanian Kecamatan Wates berpotensi untuk berkembangnya peternakan sapi, unggas dan babi.

4.2 Tantangan Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan termasuk dalam kegiatan pemanfaatan ruang. Berdasarkan dinamika perubahan lahan yang terjadi, jika ditinjau dari kesesuaian dengan RTRW Kabupaten Kediri masih

memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara

pemanfaatan dengan regulasi yang ada dikarenakan kekurang akuratan data, pelanggaran tata ruang yang disebabkan oleh faktor kebutuhan pembangunan, masih adanya konflik kepentingan yang mempengaruhi konsep perencanaan pembangunan, masih kurangnya dan/atau terbatasnya komitmen stakeholder terkait dengan perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang, khususnya mengenai fungsi dan kegunaan RTRW Kabupaten Kediri dalam pelaksanaan pembangunan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Yuntoro (2016) bahwa hambatan dalam implementasi perencanaan tata ruang secara umum disebabkan oleh masih adanya konflik kepentingan dalam implementasinya; tidak berfungsinya

perencanaan tata ruang secara optimal untuk

mensinkronkan dan mengintegrasikan berbagai rencana dan program antar sektor; dan terjadinya penyimpangan dari segi pemanfaatan ruang dan norma yang harus ditegakkan. Hal ini menyebabhan oleh adanya inkosistensi kebijakan dalam perencanaan tata ruang serta kelemahan dam kontrol pembangunan. Untuk itu tantangan yang perlu dilakukan adalah melakukan updating data sesuai dengan kondisi eksisting dimana

perencanaan pemanfaatan ruang yang belum

memperhatikan kondisi sebenarnya dapat menghambat pembangunan di Kabupaten Kediri kedepan, tantangan selanjutnya adalah perlu adanya kajian ilmiah mengenai perencanaan tata ruang agar kedepan perencanaan lebih terarah dan terukur.

(5)

435

Tabel 1 Matriks perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri Tahun 2009-2018 Perubahan

Penggunaan Lahan Kabupaten Kediri

Penggunaan Lahan Tahun 2018 (Ha)

Hutan Lindung Hutan Produksi Industri dan Pergudangan Militer Perdagangan

dan Jasa Permukiman Pertanian Peternakan Sungai Transportasi Total (Ha)

P engguna an L aha n T ahun 2009 (Ha ) Hutan Lindung 12619,31 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12619,31 Hutan Produksi 0 4321,58 0 0 0 0 0 0 0 0 4321,58 Industri dan Pergudangan 0 0 168,04 0 0 0 0 0 0 0 168,04 Militer 0 0 0 3,31 0 0 0 0 0 0 3,31 Perdagangan dan Jasa 0 0 0 46,32 0 0 0 0 0 46,32 Permukiman 0 0 31,83 0,00 4,00 28048,11 16,05 0 0,01 28100,00 Pertanian 0 0 216,26 35,63 2826,53 102840,62 110,66 0 1,49 106031,20 Peternakan 0 0 1,31 0 0 0 0 63,02 0 0 64,33 Sungai 0 0 0 0 0 0 0 0 966,54 0 966,54 Transportasi 0 0 0 0 0,00 0 0 0 1,42 1,43 Total (Ha) 12619,31 4321,58 417,44 3,31 85,96 30874,65 102840,62 189,73 966,54 2,93 152322,07

Sumber: Hasil analisis, 2020

4.3 Simulasi dan Prediksi Perubahan Penggunaan

Lahan

4.3.1 Simulasi Perubahan Penggunaan Lahan

Pada penelitian ini sebelum melakukan prediksi, tahapan yang dilakukan saat ini adalah membangun peta simulasi perubahan penggunaan lahan dengan cara menentukan, yaitu sebagai berikut:

a) Laju Pertumbuhan Penggunaan Lahan

Untuk membangun model simulasi perubahan penggunaan lahan terlebih dahulu memperhitungkan laju

perubahan penggunanan lahan. Hasil analisis

penggunaan lahan Tahun 2009 dan 2018 akan digunakan untuk memproyeksikan penggunaan lahan Tahun 2030 mendatang. Pada dinamika perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri terjadi perkembangan penggunaan

lahan diantaranya industri dan pergudangan,

permukiman, perdagangan dan jasa, peternakan, dan

transportasi. Dalam penelitian ini pertumbuhan

penggunaan lahan pada Tahun 2030 dibatasi pada penggunaan lahan yang memiliki sifat dinamis dan dominan menyesuaikan kondisi wilayah penelitian (Sadewo & Buchori, 2018). Dinamis artinya jenis penggunaan lahan akan terus tumbuh dengan tidak adanya intervensi atau sedikit intervensi dari pengambil kebijakan. Sedangkan dominan berarti perubahan luasan jenis penggunaan lahan yang terjadi secara dominan diwilayah penelitian berdasarkan hasil analisis secara time series, yaitu Tahun 2009 dan Tahun 2018 (Sadewo & Buchori, 2018). Berdasarkan hal tersebut, maka pada analisis proyeksi penggunaan lahan Tahun 2030, proses simulasinya dibatasi pada pertumbuhan jenis penggunaan lahan, yaitu industri dan permukiman.

Perlu diketahui bahwa dalam proses simulasi ini menggunakan format data dalam bentuk raster, maka data vektor yang akan digunakan harus dikonversi kedalam format raster. Prosesnya dilakukan menggunakan Tools

Landusesim yang ada dalam software ArcGIS 10.4. Ukuran cell yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 m x 30 m dengan dasar menyesuaikan ukuran cell maksimal pada penggunaan lahan dan hasil. Adapun jika dikonversikan ke dalam luasan dilapangan, setiap cell mewakili luas sebesar 900 m² atau 0,09 Ha. Adapun besar laju pertumbuhan (growth number) terhadap kedua jenis penggunaan lahan yang akan disimulasikan seperti dalam Tabel 2 dibawah ini:

Tabel 2 Laju pertumbuhan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri No Jenis Penggunaan Lahan Laju pertumbuhan lahan (2009-2018) (Cell) Laju pertumbuhan lahan per Tahun (Cell) Laju pertumbuhan lahan dalam kurun waktu 2018-2030 (Cell) 1. Industri dan Pergudangan 2.771 308 3695 2. Permukiman 30.829 3.425 41106

Sumber: Hasil analisis, 2019

b) Faktor Pendorong Perubahan Penggunaan Lahan Terjadinya perubahan penggunaan lahan tentu saja dilatar belakangi oleh beberapa faktor pendorong yang sekaligus menjadi penentu arah perkembangannya. Faktor pendorong pada setiap penggunaan lahan memiliki variabel yang berbeda atau mungkin sama namun tingkat pengaruhnya berbeda. Sesuai pendapat Sadewo & Buchori (2018) bahwa semakin dekat dengan suatu faktor pendorong, dapat pula semakin jauh dengan suatu faktor pendorong berpotensi terjadi perubahan penggunaan lahan tertentu. Istilah ini dinamakan fuzzy set membership. Pada simulasi nanti pengaturan nilai jarak faktor pendorong dilakukan melalui proses fuzzy set agar sesuai dengan kondisi sebenarnya dilapangan.

Selain itu, pada setiap faktor pendorong juga diberikan nilai atau bobot untuk mengetahui seberapa besar hal tersebut mempengaruhi perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kabupaten Kediri. Variabel faktor

(6)

436

pendorong perubahan penggunaan lahan dianalisis menggunakan Tools Euclidean Distance/ Distance of Spatial Factor yang terdapat pada Toolbox Landusesim dalam Software ArcGIS. 10.4. Adapun nilai perhitungan pengaruh (bobot) variabel faktor pendorong seperti dijelaskan sebelumnya dilakukan dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) melalui pembagian kuisioner kepada beberapa stakeholder terpilih yang berperan dalam bidang tata ruang diantaranya pihak akademisi, pemerintah, dan masyarakat di Kabupaten Kediri. Tabel 3 dibawah ini merupakan hasil perhitungan nilai bobot masing-masing variabel faktor pendorong perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri.

Tabel 3 Bobot Faktor Pendorong Perubahan Penggunaan Lahan

Jenis Penggunaan Lahan Faktor Pendorong Bobot

Industri dan Pergudangan

Jaringan Jalan Arteri 0,332 Jaringan Jalan Kolektor 0,283 Permukiman Eksisting 0,056 Perdagangan dan Jasa 0,088 Pusat Kota 0,048 Industri dan Pergudangan 0,194 Permukiman

Jaringan Jalan Arteri 0,058 Jaringan Jalan Kolektor 0,091 Permukiman Eksisting 0,269 Perdagangan &Jasa 0,067 CBD (Central Business District) 0,100 Pusat Kota 0,100 Sarana Pendidikan 0,135 Sarana Kesehatan 0,149 Industri dan Pergudangan 0,032

Sumber: Hasil analisis, 2019

c) Peta Potensi Perkembangan Perubahan Penggunaan Lahan

Pada tahap ini bertujuan untuk memberikan batasan terhadap area yang berpotensi berkembang, yaitu permukiman dan industri dan pergudangan. Area pembatas (zona constraint) yang ditetapkan dengan regulasi diantaranya kawasan lindung (hutan), kawasan rawan bencana, dan kawasan perlindungan setempat (sempadan waduk, sempadan jalan dan sempadan sungai). Selain itu variabel constraint pada penelitian ini diperoleh dari jenis penggunaan lahan itu sendiri seperti misalnya lahan pertanian dan permukiman tidak dapat merubah pengunan lahan industri dan pergudangan serta perdagangan dan jasa. Namun tidak berlaku sebaliknya.

Ukuran dan bentuk neighbourhood yang digunakan pada penelitian ini adalah 3 x 3, dengan filter operasi yaitu operasi penjumlahan (sum). Aturan-aturan transisi ini nantinya akan dapat menentukan proses operasi dari simulasi. Menurut Pratomoatmojo (2018), landusesim merupakan aplikasi berbasis raster yang menggunakan

algoritma celluler automata untuk melakukan simulasi spasial dan memungkinkan pengguna mengontrol semua faktor dalam proses simulasi spasial seperti target pertumbuhan, penentuan faktor pendorong serta membuat beberapa skenario perencanaan baik berbasis target maupun trend.

d) Pengujian Akurasi Model

Proses simulasi penggunaan lahan dilakukan dengan mensimulasikan penggunaan lahan dari Tahun 2009 yang diproyeksikan ke Tahun 2018. Untuk keperluan validasi model hasil simulasi dibandingkan dengan peta eksisting penggunaan lahan Tahun 2018. Prosesnya menggunakan Tools Landusesim, yaitu Map Comparasion. Hasil yang diperoleh adalah tingkat akurasi keseluruhan sebesar 96,26 %; artinya model yang dihasilkan memiliki tingkat akurasi yang ‘best’ atau “sangat baik”. Adapun dalam sebuah pemodelan tingkat nilai akurasi diatas 70,00 %

dapat dikatakan bagus (Pratomoatmojo, 2018).

Karenanya model hasil validasi dapat digunakan untuk simulasi selanjutnya, yaitu prediksi penggunaan lahan Tahun 2030.

4.3.2 Prediksi Perubahan Penggunaan Lahan

Berdasarkan hasil simulasi dan prediksi perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri pada kurun waktu 12 tahun mendatang, yaitu Tahun 2018-2030, diperoleh hasil analisa sebagai berikut:

a) Pada tabel 4 halaman berikut, penggunaan lahan untuk permukiman diperkirakan akan berkembang sebesar 3.650,94 Ha dan penggunaan lahan untuk industri dan pergudangan mengalami peningkatan menjadi 331,56 Ha. Adapun konsekuensi adanya pertumbuhan lahan ini adalah penyusutan terhadap lahan pertanian sebesar 3.981,78 Ha. Konversi lahan pertanian lebih banyak digunakan untuk pembangunan permukiman 3698,28 Ha, dan industri pergudangan sebesar 283,5 Ha. Sementara itu, itu konversi permukiman untuk industri pergudangan diperkirakan 48,06 Ha.

Tabel 4 Perubahan Penggunaan Lahan Kabupaten Kediri Tahun 2018-2030 N o Jenis penggunaan lahan Tahun 2018 Tahun 2030 Perubah an (Ha) Prosent ase (%) 1 Hutan lindung 12622,32 12622,32 0 0% 2 Hutan produksi 4321,08 4321,08 0 0% 3 Industri & pergudangan 416,52 748,08 331,56 80% 4 Militer 3,24 3,24 0 0% 5 Perdagangan & jasa 85,05 85,05 0 0% 6 Permukiman 30837,69 34488,63 3650,94 12% 7 Pertanian 103304,6 99322,83 -3981,78 -4% 8 Peternakan 183,24 182,52 -0,72 0% 9 Sungai 532,26 532,26 0 0% 10 Transportasi 2,88 2,88 0 0%

(7)

437

b) Berdasarkan gambar 2 dibawah, ditemukan fakta menarik dari pembahasan ini adalah ketika hasil prediksi perubahan lahan pada Tahun 2030 mendatang berbeda jauh bila dibandingkan dengan prediksi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kediri 2018-2030. Hal ini membuktikan bahwa perencanaan pembangunan selama ini masih memerlukan penyempurnaan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa perencanaan RTRW Kabupaten Kediri

2010-2030 belum menggunakan kajian-kajian ilmiah mengenai konsep perencanaan yang baik dan terukur.

5. Kesimpulan

a) Dinamika perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kabupaten Kediri berdasarkan trend perubahan penggunaan lahan selama kurun waktu sembilan tahun, yaitu Tahun 2009-2018, menunjukkan bahwa terjadi perubahan lahan yang cukup besar terhadap pertanian yang digunakan untuk permukiman, industri pergudangan, dan peternakan.

b) Berdasarkan dari dinamika yang terjadi, tantangan yang paling menonjol dan harus dihadapi oleh Kabupaten Kediri kedepan adalah sebagai berikut:

 Peningkatan permukiman yang mengkonversi

lahan pertanian, akan mengancam ketahanan pangan, pertumbuhan permukiman yang tidak terkendali menyebabkan dampak penurunan kualitas lingkungan seperti timbulnya permukiman kumuh.

 Peningkatan industri dan pergudangan yang

semakin tinggi berdampak terhadap lingkungan

seperti polusi udara, polusi suara, pencemaran air oleh limbah dan sebagainya.

c) Berdasarkan hasil simulasi prediksi perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Kediri pada Tahun 2030 mendatang menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode Cellular Automata dapat disimpulkan bahwa:

 Dari hasil simulasi Tahun 2009-2018 diperoleh

model prediksi penggunaan lahan dengan tingkat

akurasi keseluruhan sebesar 96,26 % atau berarti model yang dihasilkan dapat digunakan untuk

simulasi prediksi Tahun 2030. Dengan

mempertimbangkan faktor pendorong dan faktor penghambat (constraint), hasil simulasi prediksi perubahan penggunaan lahan hingga Tahun 2030 diperoleh angka pertumbuhan pada penggunaan lahan industri dan pergudangan seluas 331,56 Ha atau meningkat sebesar 80 %; penggunaan lahan permukiman seluas 360,94 Ha atau meningkat sebesar 12%. Sebagai konsekuensinya lahan pertanian mengalami penyusutan seluas 3981,78 Ha atau sekitar 4%.

 Terdapat perbedaan antara hasil simulasi prediksi

Tahun 2030 dengan prediksi rencana pola ruang dalam RTRW Kabupaten Kediri Tahun 2010-2030. Hal ini kemungkinan disebabkan karena data yang digunakan kurang akurat dan terpercaya serta minimnya kapasitas perencanaan pembangunan selama ini, hal tersebut didasarkan bahwa dalam melakukan perencanaan RTRW Kabupaten Kediri 2010-2030 belum menggunakan kajian-kajian Gambar 2 Perbandingan Penggunaan Lahan dalam RTRW Dan Hasil Simulasi Tahun 2030

(8)

438

ilmiah mengenai konsep perencanaan yang baik dan terukur.

Daftar Pustaka

BPS Kabupaten Kediri. (2019). Kabupaten Kediri Dalam Angka Tahun 2018. Kediri: BPS Kab. Kediri. Catanese, Anthony J., & Snyder, James. (1988).

Perencanaan Kota, Cetakan Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Gharbia, S. S., Alfatah, S. A., Gill, L., Johnston, P., & Pilla, F. (2016). Land Use Scenarios and Projections Simulation Using an Integrated GIS Cellular Automata Algorithms. Modeling Earth

Systems and Environment, 2(3), 151-170.

doi:10.1007/s40808-016-0210-y

Limbong, Benhard. (2014). Politik Pertanahan. Jakarta: Margaretha Pustaka.

Pratomoatmojo, N.A. (2018). LanduseSim Algorithm: Land use change modelling by means of Cellular Automata and Geographic Information System. Paper dipresentasikan di IOP Conference Series: Earth and Environmental Science Volume 202. Surabaya: IOP.

Putra, Muhammad Rusdin Rangga., & Rudiarto, Iwan. (2018). Simulasi Perubahan Penggunaan Lahan Dengan Konsep Celluler Automata di Kota Mataram. Jurnal Pengembangan Kota, 6(2), 174-185. DOI: 10.14710/jpk.6.2.174-185

Riyadi., & Bratakusumah, Deddy Supriady. (2005). Perencanaan Pembangunan Daerah (Strategi Menggali Potensi Dalam Mewujudkan Otonomi Daerah). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Sadewo, M. N., & Buchori, I. (2018). Simulasi Perubahan

Penggunaan Lahan Akibat Pembangunan Kawasan Industri Berbasis Celluler Automata. Majalah Geografi Indonesia, 32(2), 142-154.

Syaodih, Ernady. (2015). Manajemen Pembangunan Kabupaten dan Kota. Bandung: Refika Aditama.

Tjokroamidjojo, Bintoro. (1974). Pengantar

Administrasi Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

Tjokroamidjojo, Bintoro. (1976). Perencanaan

Pembangunan. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung. Yuntoro, Agung. (2016). The Role of Coordination in Determining Spatial Planning Policy. (Tesis Tidak Dipublikasikan). Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia.

Gambar

Gambar 1 Proses Perencanaan Tata Guna Lahan  Sumber: Catanese & Snyder, 1988
Tabel 3 Bobot Faktor Pendorong Perubahan  Penggunaan Lahan

Referensi

Dokumen terkait

Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program padat karya pangan dan merumuskan strategi keberlanjutanya di Kabupaten Timor Tengah Utara

Pada DISPERKIM khususnya bidang pertamanan sebagai salah satu OPD yang juga memengaruhi akuntabilitas kinerja Kota Malang, dikaji adanya perencanaan hingga

Hal tersebut dapat berupa timbal balik yang berupa imbalan dan kompensasi atas kinerja/ prestasi yang sudah diberikan untuk mengikuti keinginan instansi (Sopiah,

Universitas Brawijaya sebagai Kampus Inklusif yang memiliki “impian besar” mencapai tingkatan World Class Entrepreneurial University (WCEU) dalam arah pengembangan

Koordinasi Antar Bidang dan Kerjasama Badan Kepegawaian Daerah dengan Organisasi Perangkat Daerah Lainnya di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam Pemutakhiran Data

Untuk regresi multilevel indikator financial self- reliance (kemandirian finansial daerah) terhadap tingkat penghasilan rata-rata rumah tangga menghasilkan temuan bahwa rasio

bidang akuntansi dan aset yang juga memiliki anggaran guna kelancaran jalannya kegiatan. Namun, anggaran yang disediakan untuk kegiatan penyusunan RKBMD berupa anggaran

Instansi pemerintah yang terkait dalam perencanaan pengelolaan tambang pasir besi di Kabupaten Kulon Progo adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kulon Progo,