Abstrak–Sistem pengaman tentu dibutuhkan sebuah industri untuk menjaga kontinuitas pelayanan sistem kelistrikan. Sistem kelistrikan tentunya diikuti dengan proses gangguan-gangguan yang dapat terjadi kapanpun dengan berbagai macam faktor, salah satunya short circuit. Sistem pengaman pada PT.KPI Bontang kondisi eksisting masih memerlukan perbaikan, setting time delay rele tidak sesuai dengan standar perhitungan, belum adanya studi lanjut mengenai energi busur api yang penting untuk pengaturan sistem pengaman. Pada penelitian kali ini akan dilakukan resetting perhitungan busur apimencari incident energy yang dapat digunakan untuk menentukan flash protection boundary serta pada kondisi resetting rele pengaman juga akan berpengaruh pada penurunan kategori busur api atauarc flash.
Kata Kunci—flash protection boundary, incident energy,short circuit, setting time delay;
I. PENDAHULUAN
ISTEM kelistrikan PT.KPI Bontang disuplai dengan sebuah pembangkit dengan kapasitas daya sebesar 6MW. Keperluan daya listrik juga disuplai melaui PT.Kaltim Daya Mandiri (PT.KDM), dalam usaha meningkatkan keandalan dan kontinuitas pelayanan, PT.KDM telah melakukan perubahan sistem kelistrikan pada PT. Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang.
Perubahan yang terjadi adalah penyatuan atau pengintegrasian seluruh sistem pembangkit dilingkungan PT.PKT Bontang. Dengan perubahan ini diperlukan analisis lanjut untuk mengetahui kinerja sistem secara komprehensif serta analisis ulang terhadap kelistrikan PT.KPI terutama dalam hal koordinasi rele sistem pengaman dan menurunkan kategori busur api (arcflash).
II. TEORIPENUNJANG A. Hubung Singkat (Short Circuit)
Gangguan hubung singkat menyebabkan timbulnya aliran arus dengan nilai yang besar menuju ketitik gangguan.Akibatnya tegangan disekitar gangguan dapat menurun secara signifikan.Aliran arus yang besar tersebut merupakan jumlah dari arus kontribusi yang berasal dari generator serta motor induksi.
Gangguan hubung singkat terbagi menjadi dua yaitu simetri dan asimetri, yang termasuk dalam gangguan simetri adalah gangguan tiga fasa, sedangkan yang lain adalah termasuk dalam asimetri. Gangguan ini akan mengakibatkan arus lebih pada fasa yang terganggu dan juga akan mengakibatkan kenaikan tegangan pada fasa yang tidak terganggu.
B. Rele Arus Lebih (OCR)
Rele arus lebih adalah rele yang beroperasi atau mendeteksi adanya gangguan ketka arus yang mengalir melebihi batas yang diijinkan.Penggunaan rele arus lebih ini sangatah luas, tidak hanya pada sistem kelistrikan dengan skala kecil saja, tapi juga digunakan dalam skala besar.
Rele arus lebih merupakan suatu jenis rele yang bekerja berdasarkan besarnya arus masukan melebihi suatu harga tertentu yang dapat diatur(setting) maka rele arus lebihakan bekerja. Dimanaarus kerja yang dinyatakan menurut gulungan sekunder dari transformator arus (CT).
C. Dasar Penyetelan Arus Lebih[7]
Pada dasarnya rele arus lebih berfungsi sebagai pengaman gangguan hubung singkat, tetapi dalam beberapa hal dapat berfungsi sebagai pengaman beban berlebih. Berikut adalah beberapa dasar setting rele overcurrent :
1. Langkah awal mencari arus nominal (In): In = 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘
√3 × 𝑘𝑘𝑘𝑘
2. Kemudian arus yang mengalir sekunder CT : Is = 𝐾𝐾𝐾𝐾𝑘𝑘 𝐾𝐾𝐾𝐾 × 𝐼𝐼𝐼𝐼 Kfk = 1.2; (setting inverse) 1.1; (setting definite) Kd = 1.0; (setting inverse) = 0.7-0.9 (setting definite) Tap = Is × 1 𝐶𝐶𝐶𝐶
3. Menemukan time multiplier setting dengan selisih waktu (∆t) adalah 0.1-0.9 detik :
M = ∆t ×(
𝐼𝐼𝐼𝐼𝐶𝐶𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼 𝐼𝐼𝐼𝐼 −1 )
5.4
4. Kemudian langkah terakhir adalah tieme delay setting rele : ts = 0.14 �ISC minIs �0,02− 1 × 𝑀𝑀 10 (𝐼𝐼𝑠𝑠𝑠𝑠𝐼𝐼𝐾𝐾𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖𝑖𝑖𝑠𝑠𝐼𝐼𝑖𝑖 𝑠𝑠𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖 𝐾𝐾𝑖𝑖𝑑𝑑𝑠𝑠𝑑𝑑)
Studi Koordinasi Rele dan Busur Api pada Sistem
Kelistrikan Industri Tua
Thomas Lugianto Nurdin,Margo Pujiantara, I Made Yulistya Negara
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Email: [email protected], [email protected], [email protected]
ts = 13.5 �ISC minIs � − 1 × 𝑀𝑀 10 (𝑖𝑖𝑖𝑖𝑠𝑠𝑑𝑑 𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖𝑖𝑖𝑠𝑠𝐼𝐼𝑖𝑖 𝑠𝑠𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖 𝐾𝐾𝑖𝑖𝑑𝑑𝑠𝑠𝑑𝑑) ts = 80 �ISC minIs �2− 1 × 𝑀𝑀 10 (𝑖𝑖𝑒𝑒𝑠𝑠𝑠𝑠𝑖𝑖𝐼𝐼𝑖𝑖𝑑𝑑𝑑𝑑 𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖𝑖𝑖𝑠𝑠𝐼𝐼𝑖𝑖 𝑠𝑠𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖 𝐾𝐾𝑖𝑖𝑑𝑑𝑠𝑠𝑑𝑑) ts = 54 �ISC minIs � − 1 × 𝑀𝑀 10 (𝑑𝑑𝑙𝑙𝐼𝐼𝑙𝑙 𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖𝑖𝑖𝑠𝑠𝐼𝐼𝑖𝑖 𝑠𝑠𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖 𝐾𝐾𝑖𝑖𝑑𝑑𝑠𝑠𝑑𝑑) ts = 2 × 10𝑀𝑀 (𝐾𝐾𝑖𝑖𝐾𝐾𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝑠𝑠𝑖𝑖 𝑠𝑠𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖𝑖 𝐾𝐾𝑖𝑖𝑑𝑑𝑠𝑠𝑑𝑑) D. Busur Api (arcflash)
Arc flashadalah peristiwa yangmuncul diakibatkan dari adanya arcing-fault. Arcing-fault sendiri dapat didefiniskan sebagai busur api yang diakibatkan oleh arus gangguan atau dengan kata lain terjadi kontak langsung dengan konduktor (arcing-fault current). Arus tersebut menciptakan sebuah plasma busur listrik dan melepaskan sejumlah energi yang berbahaya. Busur api listrik merupakan bagian dari arus listrik yang besar melalui udara yang terionisasi. Arc-flash diakibatkan dari arcing-fault diantara fase bus-bar atau dengan netral (ground).Selama arc-fault terjadi, udara merupakan konduktor dan biasanya muncul pada tegangan lebih dari 120 volt.Besar arcing-fault current biasanya lebih rendah dari besar arus bolted-fault dan di bawah rating circuit breaker. E. Metode Perhitungan Arc Flash Dengan Menggunakan Standart IEEE 1584-2002[2]
Untuk dapat melakukan perhitungan arc flash menggunakan standart IEEE 1584-2002 hal yang pertama harus dilakukan adalah mencari nilai bolted fault current yang didapat dari short circuit 3 fasa. Setelah itu dilakukan perhitungan arcing current dengan rumus sebagai berikut :
Untuk level tegangan sama dengan 1000 Volt atau lebih kecil :
lg𝐼𝐼𝑠𝑠 = K + 0.662 lg 𝐼𝐼𝑏𝑏𝐾𝐾 + 0.0966 V + 0.000526 G + 0.5588 V (lg 𝐼𝐼𝑏𝑏𝐾𝐾) – 0.00304 G (lg 𝐼𝐼𝑏𝑏𝐾𝐾)(1)
Untuk tegangan lebih dari 1000 Volt menggunakan rumus :
lgIa = 0.00402 + 0.983 lg Ibf(2)
kemudian rumus dari arcing current adalah : Ia = 10lg Ia(3)
dimana : lg = log10
lgIa = arus arcing (kA)
K = -0.153 untuk konfigurasi terbuka dan -0.097 untuk konfigurasi box
lgIbf = bolted fault current pada gangguan tiga fase
(symmetrical RMS) (kA) V = tegangan sistem (kV) G = jarak antar konduktor (mm)
Setelah nilai arcing current diketahui maka nilai dari incident energy dapat dihitung. Pada langkah awal digunakan log10 normalized, berikut adalah rumus yang digunakan :
lgEn = K1 + K2 + 1.081 lg Ia + 0.0011 G(4)
dimana :
En = incident energy (J/cm2) normalized untuk waktu
dan jarak
K1 = –0.792 untuk konfigurasi terbuka (no enclosure) dan
–0.555 untuk konfigurasi box (enclosed equipment) K2 = 0 untuk sistem ungrounded and high-resistance
grounded
–0.113 untuk sistem grounded G = jarak antar konduktor (mm)
Selanjutnya dapat diketahui nilai Enadalah :
En = 10lgEn(5)
Setelah didapatkan nilai En maka dapat dihitung incident
energy dalam kondisi normalized dengan menggunakan rumus berikut : E = 4.184 𝐶𝐶𝐾𝐾𝐸𝐸𝐼𝐼�𝑠𝑠 0.2� � 610𝑒𝑒 𝐷𝐷𝑒𝑒 �(6) dimana : E = incident energy (J/cm2) Cf = faktor pengali
1.0 untuk tegangan diatas 1kV, dan 1.5 untuk tegangan dibawah 1kV En = incident energy normalized
t = waktu arcing (detik)
D = jarak dari kemungkinan titik arcing ke orang (mm) x = jarak exponent
Tabel 1. Tabel Data Eksponen Jarak
Level Tegangan
(kV)
Jenis Peralatan Jarak Antar Konduktor (mm) Jarak x Faktor 0.208 – 1 Open air 10–40 2 Switchgear 32 1.473 MCC and panels 25 1.641 Cable 13 2 > 1 – 5 Open air 102 2 Switchgear 13–102 0.973 Cable 13 2 >5 – 15 Open air 13–153 2 Switchgear 153 0.973 Cable 13 2
Untuk perhitungan flash protection boundary menggunakan Standar IEEE 1584-2002 dapat dilakukan dengan rumus berikut :
DB=�4.184 𝐶𝐶𝐾𝐾𝐸𝐸𝐼𝐼� 𝑠𝑠 0.2� � 610𝑒𝑒 𝐸𝐸𝐵𝐵 �� 1 𝑒𝑒 (8) dimana:
DB = jarak batas dari titik arcing (mm)
Cf = faktor pengali :
1.0 untuk tegangan diatas 1kV, dan 1.5 untuk tegangandibawah 1kV En = incident energy normalized
EB= incident energy in J/cm2 at the boundary distance
t = waktu arcing (detik) x = jarak exponent Ibf = bolted fault current
START Pengumpulan Data dan Literatur
Pemodelan Single Line Diagram Sistem pada Software ETAP Analisis Loadflow
Simulasi dan Analisis Hubung Singkat Simulasi Setting Koordinasi Sistem Proteksi
Setting Koordinasi Aman?
Resetting Rele
Pembuatan Laporan STOP
Tidak Ya
Gambar 1. Flowchart Pengerjaan Tugas Akhir
III. PEMODELANSISTEM
Penelitian ini dilakukan menggunakan software etap7. Langkah awal untuk pemodelan adalah menyamakan desain rating peralatan pengaman dengan keadaan rating sebenarnya, kemudian untuk setiap bus perlu dikoreksi dalamload flow.
Selanjutnya langkah yang paling utama adalah short circuit sistem guna mengetahui jumlah arus yang mengalir saat gangguan terjadi. Masing-masing bus tidak akan memiliki karakter jumlah arus yang sama tergantung dengan besar tegangan serta beban yang ditanggung.
Besar nilai arus yang terjadi saat gangguan terjadi berguna untuk langkah perhitungan selanjutnya. Untuk setting proteksi yang digunakan adalah saat ISCmax atau arus terbesar saat gangguan ½ cycle atau bernilai 0.1 detik dan ISCmin yaitu arus terkecil gangguan saat gangguan sudah mengalami steady state 30 cycle.
Nilai arus terbesar saat gangguan adalah untuk setting proteksi kondisi highset dan nilai arus terkecil saat gangguan adalah untuk setting lowset. Setiap rele atau peralatan bantu pengaman sistem tenaga listrik memiliki karakter jenis perhitungan yang berbeda bergantung dari jenis dan desain manufaktur peralatan.
Berikut pemodelan sistem pengaman PT.KPI Bontang setelah mengalami penambahan beberapa peralatan :
Gambar 2. Simulasi Pemodelan Sistem Kelistrikan
IV. PENGUJIANDANANALISA
Pada paper ini digunakan evaluasi pada tipikal 1 sebagai contoh. Berikut adalah koordinasi sistem pengaman kelistrikan pada kondisi awal :
1. Pada gambar 4.1 merupakan simulasi TCC tipikal 1. Sistem tipikal 1 ini meliputi generator utama SG KDM-1 menuju bus KDM_1 yang ter-interkoneksi dengan power grid kemudian terubung dengan kabel 133-1 menuju bus HSG1-KPI.
Gambar 3. Kurva TCC tipikal 1 kondisi awal
Peralatan pengaman sistem berupa rele dan high voltage circuit breaker (HVCB) dengan rating 11kV. Pada generator SG KDM-1 rele HVCB 1H1 dibantu dengan rele 11 overcurrent untuk perlindungan utama saat gangguan short circuitterjadi dan peralatan dibawahnya tidak mampu
menangani arus gangguan short circuit. Untuk power grid peralatan pengaman berupa HVCB 160 dan rele 10 overcurrent sebagai pelindung utama. Pada bus HSG1_KPI terdapat kabel 133-1 yang diapit dengan rele 103 dan 36 untuk mengamankan dari gangguan short circuit.
Pada kurva TCC tipikal 1 terdapat empat poin yang dilingkari berwarna merah, analisanya yaitu :
1. Setting pick uprele 103 teralu jauh dari kurva arus nominal generator, ini artinya jika terdapat gangguan maka rele akan terlalu cepat menrigger CB untuk open.
2. Setting instantaneousrele 36 terlalu lama 0.7detik dan setting pick up yang terlalu kecil sehingga kemungkinan terjadinya kegagalan dalam mengantisipasi ganggguan sangat besar dan jika ditinjau dari arcflash maka akan menghasilkan energi arcing yang besar.
3. Karakteristik rele 103 tidak terdapat setting instantaneous sehingga untuk setting high voltage terlalu besar dan jika terjadi gangguan maka rele 11 pada generator akan ikut terpicu.
4. Setting time delay instantaneousrele 10 terlalu cepat 0.05 detik yang tidak sesuai dengan standar IEC SIT-A-10PU.
Kemudian dilakukan perhitungan manual sesuai manufaktur rele yang digunakan, terdapat pergantian beberapa rele salah satunya rele 11 yang awalnya menggunakan produk dari SEG extremely inverse diganti menjadi Mitsubishi extremely inverse, dengan perhitungannya sebagai berikut : RELE 11
Manufacture : Mitsubishi
Model : CFP-1
Curve Type : Extremely Inverse 11
CT Ratio : 2000/5
Isc min : 17.9 kA
Time Delay : 0.7 detik
Arus Nominal : In = 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 √3×𝑘𝑘𝑘𝑘 = 34𝑀𝑀𝑀𝑀 √3×11×0.8 = 2230.6 A SettingArus : Is = 𝐾𝐾𝐾𝐾𝑘𝑘 𝐾𝐾𝐾𝐾
× 𝐼𝐼𝐼𝐼
= 1.2 1 × 2230.6 = 2676.8 A I set = 𝐼𝐼𝐼𝐼 × 1 𝐶𝐶𝐶𝐶 = 2676.8 × 5 2000 = 6.69 ASetting TMS (time multiplier setting) rele jika dipilih ∆t= 0.7 detik M = ∆t × 𝐼𝐼𝐼𝐼𝐶𝐶𝑀𝑀𝐼𝐼𝐼𝐼 𝐼𝐼𝐼𝐼 −1 5.4 = 0.7 × 17.9 𝑘𝑘𝑘𝑘 2676 .8−1 5.4 = 8.53
Maka setting waktu untuk rele adalah : t(s) = 80 �ISC minIs �2−1 × 𝑀𝑀 10 = 80 �2676 .814.13�2−1 × 8.53 10 = 2.54 detik.
Sistem proteksi pada tipikal 1 merupakan bagian yang memiliki rating tegangan yang besar. Rele 11 sebagai back up untuk generator SG KDM-1 dan rele 10 untuk melindungi transformator dari power grid memiliki time delay 0.6 detik. Sedangkan rele 103 memiiki karakteristik yang berbeda karena tidak memiliki sifat instantaneousmaka diganti menggunakan rele dari mitsubishi.Setting waktu delay rele 103 dan rele 36 disamakan 0.45 detik karena masih dalam satu line tegangan 11kV.
Gambar 4. Kurva TCC Tipikal 1 etelah Resetting
Proses analisa arcflash yang nantinya bertujuan untuk membandingkan data hasil running simulasi dengan teori perhitungan manual berdasarkan standart IEEE 1584-2002. Beberapa parameter yang dibutuhkan untuk perhitungan manual adalah bolted fault current (Ibf), incident energy, dan protection boundary.
Langkah awal untuk menampilkan arcflash tentu data setting proteksi harus sudah benar.Arcflash akan terjadi setelah settingbus (fault) kemudian running short circuit ½
cycle guna mengetahui arus terbesar yang terjadi pada saat terjadi gangguan yang melewati bus yang telah kita tentukan.
Berikut adalah data hasil running arcflash dari masing-masing bus pada saat short circuit secara keseluruhan dari sistem :
Tabel 2.
Data Arcflash sistem pada bus kondisi awal Bus KDM_1 HSG1_K PI MSG 1 MCC1 A MCC1 B Tegangan (kV) 11 11 6.9 0.525 0.525 Ia (kA) 34.25 24.62 16.46 25.57 27.36 Ibf (kA) 36.07 25.78 17.11 43.5 47.36 Incident Energy (Cal/cm2) 56.18 11.08 7.86 3.756 1.972 Protection Boundary (ft) 156.24 29.47 10.35 3.006 2.030 Kategori Max Exceed 3 2 1 1
Setelah dilakukan resetting pada koordinasi sistem pengaman terdapat perubahan nilai arc flash yang dihasilkan yang bisa dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.
Data Arcflash sistem pada bus setelah Resetting Bus KDM_1 HSG1_KP I MSG 1 MCC1 A MCC1 B Tegangan (kV) 11 11 6.9 0.525 0.525 Ia (kA) 34.25 24.62 16.46 25.58 27.37 Ibf (kA) 36.07 25.78 17.11 43.52 47.01 Incident Energy (Cal/cm2) 48.68 11.44 6.92 1.861 1.972 Protection Boundary (ft) 134.85 30.44 9.08 1.960 2.030 Kategori Max Exceed 3 2 1 1
Setelah menganalisa koordinasi proteksi rele pada sistem maka tujuan penelitian ini juga mengharapkan nilai incident energy arcing pada masing-masing bus akan menurun. Tentunya hal yang mempengaruhi adalah arus gangguan saat terjadi short circuit kemudian waktu untuk rele memicu CB untuk open.
Terjadi perubahan yang signifikan pada energi arcflash setelah resetting.Pada bus KDM_1 yang semula 56.18 cal/cm2 telah berubah menjadi 48.68 cal/cm2.
Berikut adalah perhitungan incident energy dan flash protection boundary berdasarkan standart IEEE 1584-2002 : BUS KDM_1
Langkah awal adalah dengan memabandingkan perhitungan nilai Ia dari nilai Ibf data simulasi:
lg𝐼𝐼𝑠𝑠 = 0.00402 + 0.983 lg 𝐼𝐼𝑏𝑏𝐾𝐾 lg𝐼𝐼𝑠𝑠 = 0.00402 + 0.983 lg 36.07 lg𝐼𝐼𝑠𝑠 = 1.53469
𝐼𝐼𝑠𝑠 = 10lg 1.53469
𝐼𝐼𝑠𝑠 = 34.25 kA
Kemudian langkah kedua adalah perhitungan incident energy : lg𝐸𝐸𝐼𝐼 = K1 + K2 + 1.081 lg 𝐼𝐼𝑠𝑠 + 0.0011 G lg𝐸𝐸𝐼𝐼 = (-0.555) - 0 + 1.081 × log 34.25+ 0.0011× (153) lg𝐸𝐸𝐼𝐼 = -1.27229989 𝐸𝐸𝐼𝐼 = 10lg−1.27229989 𝐸𝐸𝐼𝐼 = 18.71974334 J/𝑐𝑐𝐼𝐼2 E = 4.184 𝐶𝐶𝐾𝐾𝐸𝐸𝐼𝐼(𝑠𝑠 0,2)( 610𝑒𝑒 𝐷𝐷𝑒𝑒 ) E = 4.184 ×1 × 18.71974334 (0.771 0,2 )( 6100.973 (36×2.54×10)0.973) E = 203.6368349 J/𝑐𝑐𝐼𝐼2 E = 203.6368349J/𝑐𝑐𝐼𝐼2x 0.24 cal E = 48.87 cal/𝑐𝑐𝐼𝐼2
Langkah terakhir adalah menghitung protection boundary : 𝐷𝐷𝐵𝐵 = [4.184 𝐶𝐶𝐾𝐾𝐸𝐸𝐼𝐼�0.2𝑠𝑠 � �610 𝑒𝑒 𝐸𝐸𝑩𝑩�] 1 𝑒𝑒 𝐷𝐷𝐵𝐵= [4.184 × 1 × 18.71974334 �0.7710.2 � �610 0.973 5 �] 1 0.973 𝐷𝐷𝐵𝐵 = [78.323440613 × 3.885 × 102.6020233] 1 0.973 𝐷𝐷𝐵𝐵 = 41.27583356 m × 3.28𝐾𝐾𝑠𝑠 𝐷𝐷𝐵𝐵 = 135.38 𝐾𝐾𝑠𝑠 V. KESIMPULAN
1. Pada koordinasi sistem pengaman kondisi existing masih terdapat kesalahan setting pada Low Set dan High set rele
terutama pada pick up rele yang terlalu jauh berada disebelah kiri kurva dari FLA.
2. Setelah terjadi perubahan koordinasi rele perbedaan kurva plot TCC terdapat pada berkurangnya nilai incident energy arcflashpada bus meskipun kategori pada main bus 11kV masih tinggi yaitu kategori >4 (Max) hal ini disebabkan ratingtegangan yang besar dan time delay yang cukup lama 0.6 detik sehingga energy yang dihasilkan juga besar namun masih aman untuk diterapkan.
3. Data hasil analisa perhitungan manual setting time delay rele dengan simulasi pada Etap7 beberapa tidak sama hanya saja perbedaan tidak cukup jauh karena data simulasi manufaktur pada Etap7 memiliki standar yang berbeda.
4. Pada koordinasi sistem pengaman existingjika ditinjau dari bahaya arc flash maka didapat incident energy terbesar yang terjadi pada bus KDM_1 dengan nilai 56.18cal/cm2. Kemudian setelah dilakukan resetting nilai incident energy turun menjadi 34.725 cal/cm2. Hal ini dikarenakan koordinasi yang tepat dapat mengurangi nilai arc clearing time.
.
DAFTARPUSTAKA
[1]. Peter E. Sutherland, Fellow.: “Arc-Flash and Coordination Study
Conflict in an Older Industrial Plant”. IEEE Ind.Appl.Mag.vol 45,
no.2,pp. 569-574,March/April.2009
[2]. IEEE Std 1584-2002. “IEE Guide For Performing Arc Flash Hazard
Calculations.”
[3]. M. Hodder, W. Vilncheck, F. Croyle, and D. McCue, “Practical arc-flash reduction,” IEEE Ind. Appl. Mag.,vol. 12, no.3,pp.22-29,May/Jun.2006.
[4]. Gary Zahalka, P.E. and Hugh Hoagland, “Arc Flash Hazard
Assessment Requirements”, IEEE Transaction, Paper no 07 C5, 1
-4244-1 002-99/07, 2007.
[5]. Agung, Tjok. “Evaluasi Pengaman Kelistrikan Pada PT. Citic Seram
Energy Ltd. Dengan Mempertimbangkan Arcflash.” Jurusan Teknik
Elektro, Surabaya, 2013.
[6]. www.gecalsthomgpc.co.uk/download/R8054J.pdf
[7]. www.mitsubishielektrik.com/produk/protection/relay/melpro-d.pdf [8]. Ibnu Pratama, Bagus. “Pengaturan Ulang Rele Arus Lebih Sebagai
Pengaman Utama Compressor pada Feeder 2FPT. Ajinomoto Mojokerto”, UIN, 2010.
[9]. Penangsang, Ontoseno, “Diktat Kuliah Analisis Sistem Tenaga Jilid 2”, Teknik Elektro ITS, Surabaya, Bab 1, 2006.