• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Campuran Bahan Bakar Premium, Hidrogen dan Etanol 99% terhadap Performansi dan Emisi Gas Buang Mesin Genset Otto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Campuran Bahan Bakar Premium, Hidrogen dan Etanol 99% terhadap Performansi dan Emisi Gas Buang Mesin Genset Otto"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bahan Bakar Hidrogen

Hidrogen (bahasa Latin: hydrogenium, dari bahasa Yunani: hydro: air,

genes: membentuk) adalah unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki simbol H dan nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna,

tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal, dan merupakan gas diatomik

yang sangat mudah terbakar. Dengan massa atom 1,00794 amu, hidrogen adalah

unsur teringan di dunia.

Hidrogen adalah unsur paling melimpah dengan persentase kira-kira 75%

dari total massa unsur alam. Kebanyakan bintang dibentuk oleh hidrogen dalam

keadaan plasma. Di bumi sebanyak 70% ditutupi oleh air, yang dibentuk oleh 2

atom hidrogen dan oksigen (Ranjit, saxena, 2012). Senyawa hidrogen relatif

langka dan jarang dijumpai secara alami di bumi, dan biasanya dihasilkan secara

industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana. Hidrogen juga dapat

dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis, namun proses ini secara komersial

lebih mahal daripada produksi hidrogen dari gas alam.

Isotop hidrogen yang paling banyak dijumpai di alam adalah protium,

yang inti atomnya hanya mempunyai proton tunggal dan tanpa neutron. Senyawa

ionik hidrogen dapat bermuatan positif (kation) ataupun negatif (anion). Hidrogen

dapat membentuk senyawa dengan kebanyakan unsur dan dapat dijumpai dalam

air dan senyawa-senyawa organik. Hidrogen sangat penting dalam reaksi asam

basa yang mana banyak rekasi ini melibatkan pertukaran proton antar molekul

(2)

Tabel 2.1 Sifat Hidrogen dengan bahan bakar lain (Lit 8)

Description Hidrogen Gasoline Methana Etanol LPG Biogas

Density kg/m3 0.081 4.4 0.6512 789 2.24 1.1

Buoyancy: Gas or vapor density relative to air

0.07 2-4% 0.6 1.51 1.51 0.863

Carbon Constituent NA 85-88 75 50-52 82

Hydrogen Constituent 100 12-15% 25 13-15 18

Lower heat of combustion (MJ/kg)

119.93 44.5 50.02 26.9 46

Burning Velocity in air (m/sec)

2.65-3.25 0.37 NA

Specific Heat Ratio of NTP gas

1.383 1.05 1.308 1.303

Diffusion coefficient in NTP air (cm2 /sec)

0.61 0.005 0.16 0.11

Gas hidrogen sangat mudah terbakar dan akan terbakar pada konsentrasi

serendah 4% H2 di udara bebas. Entalpi pembakaran hidrogen adalah -286 kJ/mol.

Hidrogen terbakar menurut persamaan kimia:

(3)

Ketika dicampur dengan oksigen dalam berbagai perbandingan, hidrogen

meledak seketika disulut dengan api dan akan meledak sendiri pada temperatur

560 °C. Lidah api hasil pembakaran hidrogen-oksigen murni memancarkan

gelombang ultraviolet dan hampir tidak terlihat dengan mata telanjang (Ranjit,

Saxena, 2012). Oleh karena itu, sangatlah sulit mendeteksi terjadinya kebocoran

hidrogen secara visual. Kasus meledaknya pesawat Hindenburg adalah salah satu

contoh terkenal dari pembakaran hidrogen.

Karakteristik lainnya dari api hidrogen adalah nyala api cenderung

menghilang dengan cepat di udara, sehingga kerusakan akibat ledakan hidrogen

lebih ringan dari ledakan hidrokarbon. Dalam kasus kecelakaan Hidenburg, dua

pertiga dari penumpang pesawat selamat dan kebanyakan kasus meninggal

disebabkan oleh terbakarnya bahan bakar diesel yang bocor.

H2 bereaksi secara langsung dengan unsur-unsur oksidator lainnya. Ia

bereaksi dengan spontan dan hebat pada suhu kamar dengan klorin dan fluorin,

menghasilkan hidrogen halida berupa hidrogen klorida dan hidrogen fluorida.

Di seluruh alam semesta ini, hidrogen kebanyakan ditemukan dalam

keadaan atomik dan plasma yang sifatnya berbeda dengan molekul hidrogen.

Sebagai plasma, elektron hidrogen dan proton terikat bersama, dan menghasilkan

konduktivitas elektrik yang sangat tinggi dan daya pancar yang tinggi

(menghasilkan cahaya dari matahari dan bintang lain). Partikel yang bermuatan

dipengaruhi oleh medan magnet dan medan listrik. Sebagai contoh, dalam angin

surya, partikel-partikel ini berinteraksi dengan magnetosfer bumi dan

mengakibatkan arus Birkeland dan fenomena Aurora. Hidrogen ditemukan dalam

keadaan atom netral di medium antar bintang. Sejumlah besar atom hidrogen

netral yang ditemukan di sistem Lymanalpha teredam diperkirakan mendominasi

rapatan barionik alam semesta sampai dengan pergeseran merah z=4.

Dalam keadaan normal di bumi, unsur hidrogen berada dalam keadaan gas

diatomik H2. Namun, gas hidrogen sangatlah langka di atmosfer bumi (1 ppm

berdasarkan volume) oleh karena beratnya yang ringan yang menyebabkan gas

hidrogen lepas dari gravitasi bumi. Walaupun demikian, hidrogen masih

(4)

bumi berada dalam keadaan bersenyawa dengan unsur lain seperti hidrokarbon

dan air. Adapun gas hidrogen dapat dihasilkan dengan cara (Putra, 2010):

1. Mengalirkan uap air melalui karbon panas

C(s) + H2O CO(g) + H2 (g)

H2 yang dihasilkan dengan cara ini tidak murni sebab sukar memisahkan

CO.

campuran H2 dan CO disebut gas air. Gas air termasuk bahan bakar

penting dan

mempunyai kalor pembakaran besar.

2. Mengalirkan uap air melalui besi panas

3 Fe(s) + 4 H2O Fe3O4 + 4 H2(g)

3. Pada kilang minyak bumi, hidrogen merupakan hasil samping dari

cracking

hidrokarbon. Gas hidrokarbon dialirkan melalui katalis panas dan terurai

menjadi hidrogen dan hidrokarbon lain. Hidrokarbon yang lebih ringan

seperti

metana (metana dapat juga berasal dari gas alam), dipanaskan dengan suhu

750oC dan tekanan 10 atm,

CH4(g) + H2O(g) CO(g) + 3H2(g)

4. Hidrogen yang sangat murni (99,9%), tetapi mahal, diperoleh dengan cara

elektrolisis air.

2 H2O 2 H2 (g) + O2(g)

(Jumlah hidrogen yang cukup banyak diperoleh juga dari hasil samping

industri klor-alkali, dimana diperoleh Cl2 dan NaOH dari elektrolisis

larutan NaCl).

5. Di laboratorium hidrogen murni diperoleh dari reduksi ion hidrogen

dengan

logam seng (pada prinsipnya dengan logam yang potensial elektodanya

negatif)

Zn(s) + 2 H+ Zn2+ + H2(g)

(5)

2 Al(s) + 2 OH- + 6 H2O 2 Al(OH)4- + 3 H2(g)

Atau CaH2 dengan air

CaH2(s) + 2 H2O Ca2+ + 2 OH- + 2 H2(g

2.2. Elektrolisis Air

Elektrolisis air adalah peristiwa penguraian senyaw2O) menjadi

2) da2) dengan menggunaka

melalui air tersebut. Pada katode, dua molekul air bereaksi dengan menangkap

dua2 dan ion hidrokida (OH-). Sementara itu

pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas2), melepaskan 4

ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+ dan OH- mengalami

netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air. Reaksi keseluruhan

yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan menjadi 2H2O(l) 2H2(g) + O2(g)

Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk

gelembung pada

dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2) yang

dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen. Pada elektrolisis

larutan elektrolit akan dihasilkan zat-zat hasil reaksi yang tergantung pada harga

potensial reduksi ion-ion yang ada dalam larutan dan elektrode yang digunakan.

Jumlah zat hasil elektrolisis bergantung besarnya jumlah listrik yang digunakan,

untuk menghasilkan gas Hidrogen dan gas Oksigen dapat digunakan larutan

elektolit dari Kalium Hidroksida (KOH) atau menggunakan garam sulfat atau

karbonat dari unsur-unsur golongan IA seperti Natrium Sulfat (Na2SO4), Natrium

Karbonat (Na2CO3), Natrium Hidroksida (NaOH) atau garam lain yang mudah

(6)

Gambar 2.1 Proses Elektrolisis air (lit 14)

Reaksi : Elektrolisis larutan KOH dalam air :

Katoda : [2H2O(l) + 2e → 2OH-(aq) + H2(g)] x 2

Anoda : 4OH-(aq) → 2H2O(l) + O2(g) + 4e +

2H2O(l) → 2 H2(g) + O2(g)

Reaksi : Elektrolisis larutan Na2CO3 dalam air :

Katoda : [2H2O(l) + 2e → 2OH-(aq) + H2(g)] x 2

Anoda : 2H2O(l) → 4H+(aq) + O2(g) + 4e +

2H2O(l) → 2 H2(g) + O2(g)

Pada elektrolisis larutan yang mengandung ion-ion golongan IA (Na+, K+),

ion-ion tersebut tidak tereduksi pada katode tetapi air yang mengalami reduksi

karena potensial reduksi air lebih besar dari potensial reduksi ion Natrium atau ion

Kalium (Eo H2O/H2 = - 0,83 volt dan Eo Na+/Na = - 2,71 volt)14.

2.3. Bahan Bakar Etanol

Etanol adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak

berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan

sehari-hari. Senyawa ini merupaka

rekreasi yang paling tua.

Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan

(7)

singkatan dari gugus etil (C2H5).

paling awal yang pernah dilakukan manusia. Efek dari konsumsi etanol yang

memabukkan juga telah diketahui sejak dulu. Pada zaman modern, etanol yang

ditujukan untuk kegunaan industri dihasilkan dari produk sampingan pengilangan

minyak bumi.

Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia

yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada

parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah

pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia

lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar.

Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma

yang khas. Ia terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang

kadang-kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa. Sifat-sifat fisika etanol utamanya

dipengaruhi oleh keberadaan gugus

Gugus

membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya

dengan massa molekul yang sama.

Campuran etanol-air memiliki volume yang lebih kecil daripada jumlah

kedua cairan tersebut secara terpisah. Campuran etanol dan air dengan volume

yang sama akan menghasilkan campuran yang volumenya hanya 1,92 kali jumlah

volume awal. Pencampuran etanol dan air bersifat

sekitar 777 J/mol dibebaskan pada 298 K.

Campuran etanol dan air akan membent

kira-kira 89 mol% etanol dan 11 mol% air. Perbandingan ini juga dapat

dinyatakan sebagai 96% volume etanol dan 4% volume air pada tekanan normal

dan T = 351 K. Komposisi azeotropik ini sangat tergantung pada suhu dan

tekanan. Ia akan menghilang pada temperatur di bawah 303 K.

Ikatan hidrogen menyebabkan etanol murni sangat

sedemikiannya ia akan menyerap air dari udara. Sifat gugus hidroksil yang polar

(8)

hidroksida,

akan menurunka

dengan air yang lebih dari 50% etanol bersifat mudah terbakar dan mudah

menyala. Campuran yang kurang dari 50% etanol juga dapat menyala apabila

larutan tersebut dipanaskan terlebih dahulu. Yang mengartikan semakin banyak

air dalam etanol, larutan akan semakin suslit terbakar, dan sebaliknya.

Etanol dapat dimurnikan dengan memisahkannya dari air dengan cara

destilasi dan dehidrasi. Proses ini menjadikan etanol 96% menjadi etanol 99%

dengan kadar air hanya 1% atau sekitar 91,78% mol etanol dan 2,75% mol air.

Hal ini membuat nilai kalor dari campuran etanol akan naik dikarenakan air yang

sudah dikurangi.

rumus:

C2H5OH(g) + 3 O2(g) → 2 CO2(g) + 3 H2O(l);(ΔHr = −1409 kJ/mol

2.4. Proses Fermentasi

Proses Fermentasi adalah proses biologi dimana gula seperti

dan

membutuhka

etanol digolongkan sebagai

pembuatan

mengembangka

Pada fermentasi etanol selalu menngunakan mikroba sebagai organisme

memberikan enzim. Mikroba yang umum digunakan adalah ragi roti (yeast) yaitu

varnifan. Pada tahap ini, tanaman telah sampai pada titik telah berubah menjadi

gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya

melibatkan penambahan enzim yang diletakkan pada ragi (yeast) agar dapat

bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan

(9)

hidrosilat bahan yang telah di netralkan. Pembuatan etanol dilakukan dengan cara

fermentasi. Pada fermentasi etanol, bahan yang mengandung monosakarida

langsung difermentasi tetapi disakarida, pati ataupun karbohidrat komplek harus

dihidrolisa terlebih dahulu menjadi komponen gula sederhana. Proses fermentasi

memerlukan bantuan enzim yang diletakkan pada ragi agar dapat bekerja pada

suhu optimum sehingga akan menghasilkan etanol dan CO2.

Fermentasi etanol meliputi dua tahap yaitu :

1. Pemecahan rantai karbon dari glukosa dan pelepasan paling sedikit

duapasa ng atom hidrogen melalui jalur EMP

(Embden-Meyerhoff-Parnas), menghasilkan senyawa karbon lainnya yang lebih teroksidasi

dari pada glukosa.

2. Senyawa yang teroksidasi tersebut direduksi kembali oleh atom

hidrogen yang dilepaskan dalam tahap pertama, membentuk

senyawa-senyawa hasil fermentasi yaitu etanol dengan reaksi sebagai berikut :

Gambar 2.2 Reaksi Sederhana Proses Fermentasi Etanol

Persamaan reaksi sederhana proses fermentasi alkohol berdasarkan teori Gay

lussac adalah:

C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2

Glukosa Fermenasi Etanol Karbondioksida

Sesuai dengan persamaan di atas, hasil fermentasi etanol yang ideal adalah 51,1%

Glukosa (C6H12O6) 2CH3COOH

Asam piruvat

2 NAD+ 2 NADH + H+

2 CH3CH2OH

asetaldehid 2 CH3CHO

Etanol

(10)

etanol dan 48,9% karbondioksida. Pada umumnya fermentasi etanol

menggunakan khamir Saccharomyces cereviceae. Produksi etanol dari substrat

gula oleh khamir Saccharomyces cereviceae merupakan proses fermentasi dengan

kinetika sangat sederhana. Disebut sederhana karena hanya melibatkan satu fase

pertumbuhan dan produksi, pada fase tersebut glukosa diubah secara simultan

menjadi biomassa, etanol dan CO2. Fermentasi etanol oleh Saccharomyces

cereviceae dapat dilakukan pada pH 4-5 dengan temperatur 27-35oC, proses ini dapat berlangsung 35-60 jam. Untuk mempertahankan hidup, Saccharomyces

cereviceae memerlukan energi diantaranya ATP (Adenosin Triphospat) dan untuk mendapatkannya maka mengkonsumsi gula yang dapat berupa glukosa dan

fruktosa. Apabila Shaccaromyces cereviceae memiliki oksigen dalam jumlah

banyak, gula- gula tersebut diurai tahap demi tahap menjadi molekul yang lebih

kecil. Akan tetapi, jika oksigen dalam jumlah sedikit atau tidak ada maka

degradasi kimia tidak berjalan dengan sempurna sehingga gula diuraikan menjadi

etanol.

2.5. Proses distilasi dan dehidrasi

Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar

adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah

100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 - 100

C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit

kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume

Pemurnian bioetanol dilakukan dengan zeolit sintetis. Proses pemurnian itu

menggunakan prinsip penyerapan permukaan. Zeolit adalah mineral yang

memiliki pori-pori berukuran sangat kecil. Sampai saat ini ada lebih dari 150 jenis

zeolit sintetis. Di alam, zeolit terbentuk dari abu lahar dan materi letusan gunung

berapi. Zeolit sintetis berbeda dengan zeolit alam. Zeolit sintetis terbentuk setelah

melalui rangkaian proses kimia. Namun, baik zeolit sintetis maupun zeolit alam

berbahan dasar kelompok alumunium silikat yang terhidrasi logam alkali dan

alkali tanah (terutama Na dan Ca). Struktur zeolit berbentuk seperti sarang lebah

dan bersifat negatif. Sifat pori-porinya yang negatif bisa dinetralkan dengan

(11)

2.6. Motor Bensin

Motor bensin atau mesin Otto dari

dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin. Motor bensin dilengkapi

dengan busi dan karburator. Busi berfungsi sebagai penghasil loncatan api yang

akan menyalakan campuran udara dengan bahan bakar, karena hal ini maka motor

bensin disebut juga sebagai Spark Ignition Mesin. Sedangkan karburator

merupakan tempat pencampuran udara dan bahan bakar.

Pada motor bensin, campuran udara dan bahan bakar yang dihisap ke

dalam silinder dimampatkan dengan torak kemudian dibakar untuk memperoleh

tenaga panas. Gas-gas hasil pembakaran dari bahan bakar akan meningkatkan

suhu dan tekanan di dalam silinder, sehingga torak yang berada di dalam silinder

akan bergerak turun-naik (bertranslasi) akibat menerima tekanan yang tinggi.

2.6.1. Cara Kerja Motor Bensin 4 Langkah

Motor bensin dapat dibedakan atas 2 jenis yaitu motor bensin 2-langkah

dan motor bensin 4-langkah. Pada motor bensin 2-langkah, siklus terjadi dalam

dua gerakan torak atau dalam satu putaran poros engkol. Sedangkan motor bensin

4-langkah, pada satu siklus tejadi dalam 4-langkah. Langkah langkah yang terjadi

pada motor bensin 4 langkah dapat dilihat pada gambar 2.3 dibawah ini :

T

Gambar 2.3. P-V dan T-S diagram Siklus Otto Ideal [lit. 1]

(12)

Langkah-langkah yang terjadi pada motor bensin 4 langkah adalah :

Pada motor bensin 4-langkah, poros engkol berputar sebanyak dua putaran penuh

dalam satu siklus dan telah menghasilkan satu tenaga. Cara kerja motor bensin 4

langkah ini dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut:

Gambar 2.4 Cara kerja motor bensin 4 langkah (Lit 17)

1. Langkah isap

Pada langkah isap (0–1), campuran udara

yang telah bercampur pada karburator diisap

ke dalam silinder (ruang bakar). Torak

bergerak turun dari titik mati atas (TMA) ke

titik mati bawah (TMB) yang akan

menyebabkan kehampaan (vacum) di dalam

silinder, maka dengan demikian campuran

udara dan bahan bakar (bensin) akan diisap ke

dalam silinder. Selama langkah torak ini,

katup isap akan terbuka dan katup buang akan

menutup.

(13)

2. Langkah Kompresi

Pada langkah kompresi (1–2), campuran

udara dan bahan bakar yang berada di

dalam silinder dimampatkan oleh torak,

dimana torak akan bergerak dari TMB ke

TMA dan kedua katup isap dan buang

akan tertutup, sedangkan busi akan

memercikan bunga api dan bahan bakar

mulai terbakar akibatnya terjadi proses

pemasukan panas pada langkah 2-3.

Gambar 2.6 Langkah Kompresi

3. Langkah Ekspansi

Pada langkah ekspansi (3–4), campuran udara

dan bahan bakar yang diisap telah

terbakar.Selama pembakaran, sejumlah energi

dibebaskan, sehingga suhu dan tekanan dalam

silinder naik dengan cepat. Setelah mencapai

TMA, piston akan didorong oleh bahan bakar

bertekanan tinggi menuju TMB. Tenaga

mekanis ini diteruskan ke poros engkol.Saat

sebelum mencapai TMB, katup buang terbuka,

hasil pembakaran mengalir keluar dan tekanan

dalam silinder turun dengan cepat.

Gambar 2.7 Langkah Ekspansi

4. Langkah Pembuangan

Pada langkah pembuangan (4–1-0), torak terdorong ke bawah menuju TMB dan

naik kembali ke TMA untuk mendorong ke luar gas-gas yang telah terbakar di

dalam silinder. Selama langkah ini, katup buang membuka sedangkan katup isap

(14)

Gambar 2.8 Langkah Pembuangan

2.6.2. Performansi Motor Bensin

Mesin Otto atau Beau de Roches, merupakan mesin pengonversi energi tak

langsung, yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru

menjadi energi mekanis. Jadi energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan

langsung menjadi energi mekanis. Bahan bakar standar motor bensin adalah

iso-oktan (C8H18). Efisiensi pengkonversian energinya berkisar 30% (ηt = ±30%). Hal

ini karena rugi-rugi 50% rugi panas, gesek/mekanis dan pembakaran tak

sempurna. Sistem kerja mesin otto dibedakan atas mesin otto dua langkah (two

stroke) dan empat langkah (four stroke).

Motor otto mempergunakan beberapa siliinder yang didalamnya terdapat

torak yang bergerak translasi (bolak-balik). Didalam silinder itulah terjadi

pembakaran antara bahan bakar dengan oksigen dari udara. Gas pembakaran yang

dihasilkan oleh proses tersebut mampu menggerakan torak yang oleh batang

penghubung (batang penggerak) dihubungkan dengan poros engkol. Gerak

translasi torak tersebut menyebabkan gerak rotasi pada poros engkol dan

sebaliknya gerak rotasi poros engkol menimbulkan gerak translasi pada torak.

Mesin Otto juga dilengkapi dengan busi dan karbuator. Busi berfungsi

sebagai penghasil percikan bunga api yang akan menyalakan campuran udara

dengan bahan bakar, maka mesin otto disebut juga sebagai spark ignition engine.

Sedangkan karburator merupakan tempat pencampuran udara dan bahan bakar.

Mesin bensin memiliki perbandingan kompresi sekitar 8 : 1 sampai 11 : 1 jauh

lebih rendah dibandingkan dengan mesin diesel yang memiliki perbandingan

(15)

2.6.2.1. Torsi dan Daya

Besarnya torsi yang dihasilkan oleh suatu mesin dapat diukur

menggunakan dynamometer yang dikopel dengan poros output mesin. Oleh

karena itu, sifat dynamometer bertindak seolah-olah seperti sebuah rem dalam

sebuah mesin, maka daya yang dihasilkan poros output ini sering disebut sebagai

daya rem (Brake Power).

�� =2 . 60� . � .�... (2.1) [���. 3 ℎ�� 46]

dimana:

PB = Daya keluaran (Watt)

N = Putaran mesin (rpm)

� = Torsi (N.m)

2.7.2.2. Konsumsi bahan bakar spesifik

Konsumsi bahan bakar spesifik (specific fuel consumption,sfc) adalah

parameter unjuk kerja mesin yang berhubungan langsung dengan nilai ekonomis

sebuah mesin, karena dengan mengetahui hal ini dapat dihitung jumlah bahan

bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah daya dalam selang waktu

tertentu.

Bila daya rem dinyatakan dalam satuan kW dan laju aliran massa bahan

bakar (�)dalam satuan kg/jam, maka :

���= �� . 103

�� ... (2.2)

dimana:

Sfc = Konsumsi bahan bakar spesifik (g/kW.h).

mf = Laju aliran massa bahan bakar (kg/jam)

Besarnya laju aliran massa bahan bakar (mf) dihitung dengan persamaan berikut:

.

.

(16)

mf = �

. �� . 10−3

�� x 3600... (2.3)

dimana:

γ = Spesific gravity bahan bakar

V = Volume bahan bakar yang diuji

�� = Waktu untuk menghabiskan bahan bakar sebanyak volume uji

(detik).

2.6.2.3. Rasio Udara - Bahan Bakar (AFR)

Energi yang masuk kedalam sebuah mesin ��� berasal dari

pembakaran bahan bakar hidrokarbon. Udara digunakan untuk

menyuplai oksigen yang dibutuhkan untuk mendapatkan reaksi kimia

didalam ruang bakar. Agar terjadinya reaksi pembakaran, jumlah oksigen

dan bahan bakar harus tepat. Yang dirumuskan sebagai berikut :

��� =��

�� = ṁ�

ṁ�... (2.4)

�� = ��(��.+��)... (2.5)

Dimana:

�� = massa udara di dalam silinder per siklus

�� = massa bahan bakar di dalam silinder per siklus

ṁ� = laju aliran udara didalam mesin

ṁ� = laju aliran bahan bakar di dalam mesin

�� = tekanan udara masuk silinder

�� = temperatur udara masuk silinder

� = konstanta udara

�� = volume langkah (displacement)

(17)

2.6.2.4. Efisiensi Thermal Brake

Kerja berguna yang dihasilkan selalu lebih kecil dari pada energi yang di

bangkitkan piston karena sejumlah energi hilang akibat adanya kerugian mekanis

(mechanical losses). Dengan alasan ekonomis perlu dicari kerja maksimum yang

dapat dihasilkan dari pembakaran sejumlah bahan bakar. Efisiensi ini sering

disebut sebagai efisiensi termal brake (brake thermal efficiency,

η

b).

�� = �� ... (2.6) [���. 6 ℎ�� 59]

Laju panas yang masuk Q, dapat dihitung dengan rumus berikut:

��� = �̇������... (2.7)

dimana:

�̇� = laju aliran bahan bakar (kg/h)

QHV = Nilai kalor bahan bakar (kJ/kg)

ηc = efisiensi pembakaran (dalam pengujian diambil 0,97)

2.6.3. Pembakaran pada Mesin Otto

Pembakaran didefinisikan sebagai reaksi kimia yang mana oksidan

bereaksi cepat dengan bahan bakar untuk melepaskan energi panas. Pada

aplikasinya, oksidan pada pembakaran adalah oksigen pada udara. Tiga unsur

kimia utama dalam elemen mampu bakar (combustible) pada bahan bakar adalah

karbon (C) dan hidrogen( H ), elemen mampu bakar yang lain namun umumnya

hanya sedikit terkandung dalam bahan bakar adalah sulfur (S). Proses pembakaran

dikatakan sempurna apabila semua karbon dibahan bakar terbakar menjadi karbon

dioksida, hidrogen terbakar menjadi sulfur dioksida, jika kondisi teori

pembakaran tidak memenuhi maka pembakaran tidak sempurna.

Nitrogen adalah gas lembam dan tidak berpartisipasi dalam pembakaran.

Selama proses pembakaran, butiran minyak bahan bakar dipisahkan menjadi

elemen komponennya yaitu hidrogen dan karbon dan masing-masing bergabung

(18)

untuk membentuk air dan karbon bergabung dengan oksigen menjadi karbon

dioksida. Jika oksigen yang tersedia tidak cukup, maka sebagian dari karbon akan

bergabung dengan oksigen dalam bentuk karbon monoksida. Pembentukan karbon

monoksida hanya menghasilkan 30% panas yang dibandingkan panas yang timbul

oleh pembentukan karbon dioksida.

Karburator

Motor otto adalah motor pembakaran yang menggunakan bahan bakar

bensin. Dari hasil pembakaran bensin akan diperoleh energi panas.

Bensin adalah suatu cairan yang mudah disimpan, dipindahkan dan alirannya

mudah dikontrol. Selain itu bensin mempunyai sifat mudah menguap, mudah

menyala dan terbakar. Dalam pemakaiannya pada motor pembakaran, bensin cair

ini terlebih dahulu harus diubah menjadi bentuk uap atau kabut agar mudah

dibakar.

Bensin terdiri dari molekul-molekul hidrokarbon. Bensin yang

mengandung molekul-molekul hidrokarbon dengan titik didih rendah akan

memudahkan motor dihidupkan pada suhu sekeliling yang rendah. Disamping itu

kendaraan dapat dijalankan tanpa pemanasan yang agak lama pada beban yang

rendah. Bila suhu sekeliling cukup tinggi akan mengkibatkan bensin dapat

mendidih dalam pipa yang terletak antara tangki dan karburator, sehingga pompa

bahan bakar tidak dapat berfungsi dengan baik karena bensin mengandung

gelembung-gelembung (kantong uap). Karena itu dianjurkan untuk menggunakan

bensin dengan karakteristik yang sesuai dengan spesifikasi dan kondisi kerja dari

motor pembakaran.

Bensin harus dicampur lebih dahulu dengan udara sebelum dimasukkan

dalam silinder. Campuran udara bahan bakar setelah masuk ke dalam silinder

kemudian dikompresikan dan pada saat akhir kompresi baru dinyalakan.

Pembakaran yang sempurna dapat terjadi bila perbandingan antara campuran

udara dan bahan bakar masih dalam batas yang ditentukan menurut kondisi

tertentu. Perbaandingan campuran bila diperlukan tenaga maksimum adalah

berkisar antara (12-13) : 1. Jadi lebih gemuk dari campuran teoritis yang

(19)

Sekalipun perbandingan campuran sudah bagus, bila sebagian bahan bakar tidak

dapat menguap, maka akan mengakibatkan campuran menjadi kurus, sehingga

tidak dapat terbakar dengan baik. Selain campuran harus baik dan rata, juga

diperlukan posisi atau letak dari busi yang tepat agar terjadi loncatan api yang

sempurna.

Untuk mencampur udara dengan bahan bakar secara otomatis dengan

suatu perbandingan tertentu pada suatu saat dan kondisi tertentu diperlukan

karburator. Jelasnya karburator menyediakan suatu campuran udara bahan bakar

dengan perbandingan yang tetap. Karburator bekerja sangat tepat untuk setiap

kondisi yang berbeda-beda dalam menghasilkan suatu perbandingan campuran

yang baik.

Sesaat setelah motor dihidupkan, suhu motor masih dingin, dan hanya

sekitar (10-20%) dari bensin yang menguap. Pada saat ini kita menggerakkan

katup choke untuk mengurangi jumlah aliran udara sehingga tekanan negatif

menjadi besar dan campuran menjadi cukup gemuk. Karena itu sekalipun bensin

menguap hanya 10% dan campuran cukup gemuk tapi masih dapat menyala.

Setelah itu kita harus segera membuka kembali katup choke bila motor sudah

berjalan stabil. Pada beban rendah dan pembukaan katup throttle yang kecil,

campuran cenderung menjadi kurus, sebab :Penguapan bahan bakar rendah karena

suhu tempat yang dilalui bahan bakar rendah.

Distribusi atau pemberian bahan bakar rendah. Karena itu perbandingan

campuran pada karburator harus dinaikkan atau pemberian bahan bakar harus

diperbanyak. Pada beban menengah menggunakan suatu campuran udara bahan

bakar yang kurus, namun demikian masih dapat menyala dan terbakar dengan

stabil karena suhu dan tekanan masih dalam batas yang memungkinkan untuk

bekerja dengan hasil yang menguntungkan. Jika campuran lebih gemuk dari

campuran stokiometris untuk beban ringan, maka akan menghasilkan suatu

pembakaran yang tidak sempurna. Dalam hal ini selain memboroskan bahan

bakar, juga gas buang akan banyak mengandung karbonmonoksida (CO) dan

hidrokarbon (HC) yang tidak terbakar. Jadi campuran gemuk yang dengan

perbandingan 12 : 1 sangat cocok untuk menghasilkan penyalaan dan pembakaran

(20)

15 : 1 akan menghasilkan efisiensi yang rendah dan mengurangi pemakaian bahan

bakar jika pembakarannnya stabil. Atau dengan kata lain bahwa suhu gas bekas

rendah karena akibat kelebihan udara, sehingga memungkinkan sebagian kecil

panas terbuang. Alasan lain adalah panas spesifik yang kecil dari gas

memungkinkan suhu dan tekanan dari gas untuk naik dengan mudah. Sekalipun

demikian jika campuran terlalu kurus maka proses pembakarannya akan berjalan

lambat dan tidak stabil, sehingga memungkinkan kenaikan pemakaian bahan

bakar.

2.6.4. Penyalaan dengan Bunga Api

Karburator berfungsi untuk mencampur udara dan bahan bakar dengan

perbandingan tertentu dan busi dipasang pada suatu tempat dalam ruang bakar

untuk memberikan bunga api. Bunga api diberikan dalam waktu yang sangat

singkat dan menyalakan campuran udara bahan bakar dalam ruang bakar.

Hal ini berbeda dengan mesin diesel yang penyalaannya terjadi sendiri

akibat udara panas yang dikompresikan dalam ruang bakar. Sekalipun loncatan

bunga api listrik sangat singkat dan total energinya kecil, tapi dengan tegangan

10.000 Volt antara elektroda busi yang mempunyai suhu ribuan derajat Celcius,

akan mampu menimbulkan aliran arus listrik pada molekul-molekul dari

campuran udara bahan bakar yang kerapatannya cukup tinggi. Karena

pembakaran dari campuran udara bahan bakar adalah berupa reaksi ion, maka

sistem penyalaan listrik sangat sesuai untuk mendapatkan suhu yang tinggi, dan

dapat berlangsungnya proses ionisasi.

a. Busi

Busi dihubungkan dengan sebuah kabel pada terminal yang berada di

bagian atas dari busi. Ujung kabel yang lain berhubungan dengan sumber daya

tegangan tinggi. Tegangan tinggi masuk ke busi melalui permukaan elektroda

tengah yang mempunyai isolasi, kemudian melintasi celah busi. Pembakaran akan

dimulai pada saat bunga api melintasi celah busi atau pada saat bunga api

(21)

Bunga api menyalakan campuran yang berada disekitarnya kemudian

menyebar ke seluruh arah dalam ruang bakar. Pembakaran tidak terjadi serentak,

tapi bergerak secara progresif melintasi campuran yang belum terbakar, dan

dimulai di tempat yang paling panas yaitu di dekat busi. Busi tidak boleh terlalu

panas, karena akan memudahkan terbentuknya endapan karbon pada permukaan

isolatornya dan dapat menimbulkan hubungan singkat. Untuk menghindari

kejadian ini suhu isolatornya harus mencapai 700-800 oC agar karbon dapat

terbakar. Tapi bila suhu tinggi isolatornya dapat rusak atau preignition akan

terjadi yaitu penyalaan sebelum terjadi loncatan bunga api pada busi. Jika hal ini

terjadi akan memperpendek umur motor.

Pada motor yang cenderung untuk mudah terjadinya overheating (panas

yang berlebihan) karena pengaruh sistem pendingin, kita harus menggunakan busi

panas, sedangkan pada motor yang cenderung akan terjadi endapan karbon

digunakan busi dingin.

b. Alat pembangkit tegangan tinggi

Tegangan antara 5000 sampai lebih dari 10.000 volt harus diberikan pada

elektroda tengah agar dapat terjadi loncatan bunga api antara celah atau elektroda

busi. Mobil dilengkap dengan sebuah generator dan baterai sebagai sumber

tenaga. Berhubung baterai terlalu berat dan harus diisi bila lama tidak dipakai,

maka umumnya pada motor-motor kecil dipakai magnet. Magnet permanen

ditetapkan pada roda penerus yang dipasang pada poros engkol. Inti besi

ditempatkan sebagai stator. Magnet berputar bersama-sama dengan roda penerus,

dan antara inti besi dengan magnet terdapat suatu celah kecil. Medan magnet

berubah-ubah karena perputaran magnet dan menimbulkan listrik dalam lilitan

primer pada inti besi. Sirkuit dilengkapi dengan titik kontak. Akibat gerakan cam

titik kontak terbuka maka akan terjadi arus tegangan tinggi yang memungkinkan

terjadinya loncatan bunga api pada busi. Kenaikan tegangan pada transformator

yang terdiri dari lilitan primer dan lilitan sekunder, dan tegangan tinggi yang

terjadi pada lilitan sekunder inilah yangdibutuhkan oleh busi. Kapasitor yang

disisipkan dalam sirkuit akan menghindari terjadinya loncatan bunga api pada titik

(22)

Dewasa ini hubungan magnet tidak dipergunakan secara luas, dengan

penggunaan solid state sebagai transistor untuk mengganti alat penahan arus

secara mekanik. Sistem penyalaan solid state mempunyai keuntungan bila

dibandingkan dengan sistem mekanik. Salah satu sistem penyalaan yang tidak

mekanik adalah sistem CDI (Capasitor Discharge Ignition). Magnet CDI prinsip

kerjanya sama dengan magnet roda penerus. Bila magnet berputar bersama-sama

dengan roda penerus yang merupakan satu kesatuan, aus diinduksikan dalam coil

yang stasioner dan kemudian mengisi kapasitor. Bila kapasitor telah diisi, sebuah

isyarat tegangan untuk mengontrol timbulnya penyalaan dalam coil sensor dengan

menggunakan pintu G dari SCR (Silicon Controlled Rectifier) untuk mengalirkan

arus dari A ke K. Kemudian listrik yang dikumpulkan dalam kapasitor disalurkan

pada suatu saat melalui SCR dalam lilitan primer dari coil. Arus ini

membangkitkan tegangan yang lebih tinggi dalam lilitan sekunder, yang

menyebabkan terjadinya loncatan bunga api pada busi.

2.7. Nilai Kalor Bahan Bakar

Reaksi kimia antara bahan bakar dengan oksigen dari udara

menghasilkan panas. Besarnya panas yang ditimbulkan jika satu satuan

bahan bakar dibakar sempurna disebut nilai kalor bahan bakar (Calorific

Value, CV). Bedasarkan asumsi ikut tidaknya panas laten pengembunan

uap air dihitung sebagai bagian dari nilai kalor suatu bahan bakar, maka

nilai kalor bahan bakar dapat dibedakan menjadi nilai kalor atas dan nili

kalor bawah.

Nilai kalor atas (High Heating Value,HHV), merupakan nilai kalor

yang diperoleh secara eksperimen dengan menggunakan kalorimeter

dimana hasil pembakaran bahan bakar didinginkan sampai suhu kamar

sehingga sebagian besar uap air yang terbentuk dari pembakaran

hidrogen mengembun dan melepaskan panas latennya. Secara teoritis,

besarnya nilai kalor atas (HHV) dapat dihitung bila diketahui komposisi

bahan bakarnya dengan menggunakan persamaan Dulong :

HHV = 33950 + 144200 (H2-�2

(23)

Dimana:

HHV = Nilai kalor atas (kJ/kg)

C = Persentase karbon dalam bahan bakar

H2 = Persentase hidrogen dalam bahan bakar

O2 = Persentase oksigen dalam bahan bakar

S = Persentase sulfur dalam bahan bakar

Nilai kalor bawah (low Heating Value, LHV), merupakan nilai kalor

bahan bakar tanpa panas laten yang berasal dari pengembunan uap air.

Umumnya kandungan hidrogen dalam bahan bakar cair berkisar 15 %

yang berarti setiap satu satuan bahan bakar, 0,15 bagian merupakan

hidrogen. Pada proses pembakaran sempurna, air yang dihasilkan dari

pembakaran bahan bakar adalah setengah dari jumlah mol hidrogennya.

Selain berasal dari pembakaran hidrogen, uap air yang terbentuk

pada proses pembakaran dapat pula berasal dari kandungan air yang

memang sudah ada didalam bahan bakar (moisture). Panas laten

pengkondensasian uap air pada tekanan parsial 20 kN/m2 (tekanan yang

umum timbul pada gas buang) adalah sebesar 2400 kJ/kg, sehingga

besarnya nilai kalor bawah (LHV) dapat dihitung berdasarkan persamaan

berikut :

LHV = HHV – 2400 (M + 9 H2)………(2.9)[Lit. 1]

Dimana:

LHV = Nilai Kalor Bawah (kJ/kg)

M = Persentase kandungan air dalam bahan bakar (moisture)

Dalam perhitungan efisiensi panas dari motor bakar, dapat menggunakan

nilai kalor bawah (LHV) dengan asumsi pada suhu tinggi saat gas buang

(24)

juga menggunakan nilai kalor atas (HHV) karena nilai tersebut umumnya

lebih cepat tersedia. Peraturan pengujian berdasarkan ASME (American of

Mechanical Enggineers) menentukan penggunaan nilai kalor atas (HHV),

sedangkan peraturan SAE (Society of Automotive Engineers) menentukan

penggunaan nilai kalor bawah (LHV).

2.8. Generator Set

Generator set atau sering disebut genset adalah sebuah perangkat yang

berfungsi menghasilkan daya listrik. Disebut sebagai generator set dengan

pengertian adalah satu set peralatan gabungan dari dua perangkat berbeda yaitu

mesin dan generator atau alternator. Mesin sebagai perangkat pemutar

sedangkan generator atau alternator sebagai perangkat pembangkit listrik.

Mesin dapat berupa perangkat mesin diesel berbahan bakar solar atau

mesin berbahan bakar bensin, sedangkan generator atau alternator merupakan

kumparan atau gulungan tembaga yang terdiri dari stator (kumparan statis ) dan

rotor (kumparan berputar).

Gambar 2.9 Generator Set

Dalam ilmu fisika yang sederhana dapat dijelaskan bahwa mesin memutar

(25)

stator generator, medan magnit yang timbul pada stator dan berinteraksi dengan

rotor yang berputar akan menghasilkan arus listrik sesuai hukum Lorentz.

Arus listrik yang dihasilkan oleh generator akan memiliki perbedaan

tegangan di antara kedua kutub generatornya sehingga apabila dihubungkan

dengan beban akan menghasilkan daya listrik, atau dalam rumusan fisika sebagai

P dapat diperoleh dengan:

P = V x I (2.10)

2.9. Tipe Generator Set

Genset dapat dibedakan dari jenis mesin penggeraknya, dimana dikenal

tipe-tipe mesin yaitu mesin diesel dan mesin non diesel /bensin. Mesin diesel

dikenali dari bahan bakarnya berupa solar, sedangkan mesin non diesel berbahan

bakar bensin premium.

Di pasaran, genset dengan mesin non diesel atau berbahan bakar premium

biasa diaplikasikan pada genset berkapasitas kecil atau dalam kapasitas

maksimum 10.000 VA atau 10 kVA, sedangkan genset diesel berbahan bakar

solar diaplikasikan pada genset berkapasitas > 10 kVA. Hal terkait dengan tenaga

yang dihasilkan oleh diesel lebih besar daripada mesin non diesel, dimana cara

kerja pembakaran diesel yang lebih sederhana yaitu tanpa busi, lebih hemat dalam

pemeliharaan, lebih responsif dan bertenaga. Selain itu untuk aplikasi industri

dimana bahan bakar diesel (solar) lebih murah daripada bensin (gasoline).

Dalam aplikasi dijumpai bahwa genset terdiri dari genset 1 phasa atau 3

phasa. Pengertian 1 phasa atau 3 phasa adalah merujuk pada kapasitas tegangan

yang dihasilkan oleh genset tersebut. Tegangan 1 phasa artinya tegangan yang

dibentuk dari kutub L yang mengandung arus dengan kutub N yang tidak berarus,

atau berarus No.l atau sering dikenal sebagai Arde atau Ground. Sedangkan

tegangan 3 phase dibentuk dari dua kutub yang bertegangan. Genset tiga phase

menghasilkan tiga kali kapasitas genset 1 phase. Pada sistem kelistrikan PLN,

kapasitas 3 phase yang dihasilkan untuk aplikasi rumah tangga adalah 380 Volt,

(26)

Daya listrik dalam ilmu fisika merupakan besaran vektor, artinya besaran

yang memiliki besar dan arah, tegangan dan arus yang dihasilkan merupakan

gelombang sinusoidal dengan frekuensi tertentu. Di Indonesia, frekuensi tegangan

dan arus ditetapkan sebesar 50 Hz, dimana hal ini mengikuti standar frekuensi di

Belanda atau negara-negara Eropa, sedangkan di negara Amerika Serikat dan

Kanada menggunakan frekuensi 60 Hz.

2.10. Emisi Gas Buang

Emisi gas buang adalah sisa hasil pembakaran bahan bakar di

dalam

dikeluarkan melalu

2.10.1. Sumber

Polutan dibedakan menjadi polutan primer atau sekunder.Polutan

primer seperti nitrogen oksida (NOx) dan hidrokarbon (HC) langsung

dibuangkan ke udara bebas dan mempertahankan bentuknya seperti pada

saat pembuangan. Polutan sekunder seperti ozon (O3) dan peroksiasetil

nitrat (PAN) adalah polutan yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi

fotokimia, hidrolisis atau oksidasi.

2.10.2. Komposisi Kimia

Polutan dibedakan menjadi organik dan inorganik. Polutan organik

mengandung karbon dan hidrogen, juga beberapa elemen seperti oksigen,

nitrogen, sulfur atau fosfor, contohnya : hidrokarbon, keton, alkohol, ester

dan lain-lain. Polutan inorganik seperti : karbon monoksida (CO),

karbonat, nitrogen oksida, ozon dan lainnya.

(27)

Polutan dibedakan menjadi partikulat atau gas. Partikulat dibagi

menjadi padatan dan cairan seperti : debu, asap, abu, kabut dan spray,

partikulat dapat bertahan di atmosfer. Sedangkan polutan berupa gas

tidak bertahan di atmosfer dan bercampur dengan udara bebas.

a.) Partikulat

Polutan partikulat yang berasal dari kendaraan bermotor

umumnya merupakan fasa padat yang terdispersi dalam udara dan

membentuk asap. Fasa padatan tersebut berasal dari pembakaran tak

sempurna bahan bakar dengan udara, sehingga terjadi tingkat ketebalan

asap yang tinggi. Selain itu partikulat juga mengandung timbal yang

merupakan bahan aditif untuk meningkatkan kinerja pembakaran bahan

bakar pada mesin kendaraan.

Apabila butir-butir bahan bakar yang terjadi pada penyemprotan

kedalam silinder motor terlalu besar atau apabila butir–butir berkumpul

menjadi satu, maka akan terjadi dekomposisi yang menyebabkan

terbentuknya karbon–karbon padat atau angus. Hal ini disebabkan karena

pemanasan udara yang bertemperatur tinggi, tetapi penguapan dan

pencampuran bahan bakar dengan udara yang ada di dalam silinder tidak

dapat berlangsung sempurna, terutama pada saat–saat dimana terlalu

banyak bahan bakar disemprotkan yaitu pada waktu daya motor akan

diperbesar, misalnya untuk akselerasi, maka terjadinya angus itu tidak

dapat dihindarkan. Jika angus yang terjadi itu terlalu banyak, maka gas

buang yang keluar dari gas buang motor akan bewarna hitam.

b.) Unburned Hidrocarbon (UHC)

Hidrokarbon yang tidak terbakar dapat terbentuk tidak hanya

karena campuran udara bahan bakar yang gemuk, tetapi bisa saja pada

campuran kurus bila suhu pembakarannya rendah dan lambat serta

(28)

Motor memancarkan banyak hidrokarbon kalau baru saja dihidupkan

atau berputar bebas (idle) atau waktu pemanasan.

Pemanasan dari udara yang masuk dengan menggunakan gas

buang meningkatkan penguapan dari bahan bakar dan mencegah

pemancaran hidrokarbon. Jumlah hidrokarbon tertentu selalu ada dalam

penguapan bahan bakar, di tangki bahan bakar dan dari kebocoran gas

yang melalui celah antara silinder dari torak masuk kedalam poros

engkol, yang disebut dengan blow by gasses (gas lalu).Pembakaran tak

sempurna pada kendaraan juga menghasilkan gas buang yang

mengandung hidrokarbon. Hal ini pada motor diesel terutama

disebabkan oleh campuran lokal udara bahan bakar tidak dapat mencapai

batas mampu bakar.

c.) Karbon Monoksida (CO)

Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senyawa

karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna

dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon

monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada

suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Gas ini akan

dihasilkan bila karbon yang terdapat dalam bahan bakar (kira–kira 85 %

dari berat dan sisanya hidrogen) terbakar tidak sempurna karena

kekurangan oksigen. Hal ini terjadi bila campuran udara bahan bakar

lebih gemuk dari pada campuran stoikiometris, dan terjadi selama idling

pada beban rendah atau pada output maksimum. Karbon monoksida

tidak dapat dihilangkan jika campuran udara bahan bakar gemuk. Bila

Gambar

Tabel 2.1 Sifat Hidrogen dengan bahan bakar lain (Lit 8)
Gambar 2.1 Proses Elektrolisis air (lit 14)
Gambar 2.2 Reaksi Sederhana Proses Fermentasi Etanol
Gambar 2.3. P-V dan T-S diagram Siklus Otto Ideal [lit. 1]
+5

Referensi

Dokumen terkait

Kajian Performansi Mesin Genset Otto 1 Silinder Dengan Bahan Bakar Campuran Premium Dan Super

Berdasarkan hasil pembacaan alat uji emisi Sukyong SY-GA 401 dengan variasi pembebanan jumlah lampu yang sama pada tiap jenis bahan bakar maka didapat kadar O2 terendah terjadi

dari bahan bakar (solar) dan oksidiser (udara) di dalam silinder (ruang bakar). Pembakaran pada mesin diesel dimulai dari kompresi udara dalam ruang bakar.. yang sangat tinggi

Hal ini disebabkan karena pemanasan udara yang bertemperatur tinggi tetapi penguapan dan pencampuran bahan bakar dengan udara yang ada didalam silinder tidak dapat

Dari hasil penelitian ini, dapat dinyatakan bahwa penggunaan hidrogen sebagai campuran bahan bakar premium dapat menigkatkan energi pembakaran pada proses pembakaran

Arus listrik tegangan tinggi dari distributor menimbulkan bunga api dengan temperatur tinggi di antara elektroda tengah dan massa dari busi untuk menyalakan campuran udara dan

dari bahan bakar (solar) dan oksidiser (udara) di dalam silinder (ruang bakar). Pembakaran pada mesin diesel dimulai dari kompresi udara dalam ruang bakar.. yang sangat tinggi

Siklus Udara Pembakaran Siklus rill di dalam silinder motor pembakaran sangat kompleks, dimana udara atau campuran udara / bahan bakar pada motor bensin diproses dan bercampur dengan