9 A. Tinjauan Teori
1. Tinjauan Teori Pengetahuan a. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007, p.139).
b. Proses Adopsi Perilaku
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni: (Notoatmodjo, 2007, p.140).
1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. c. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Pengetahuan yang tercakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2007, p.140).
1. Tahu(Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya. 2. Memahami(Comprehention)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang
telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi(Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi riil (sebenarnya).
4. Analisis(Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis(synthesis)
Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
6. Evaluasi(Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemempuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
d. Factor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan antara lain:
1. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yeng menentukan manusia berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan, pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi (Wawan dan Dewi, 2010, p.16).
2. Pekerjaan
Menurut Thomas, pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan (Wawan dan Dewi, 2010, p.17).
3. Umur
Menurut Elisabeth BH, usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Hurlock semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Wawan dan Dewi, 2010, p.17).
4. Sikap
Sikap berarti social dalam arti kita menyesuaikan dengan orang lain dan kelihatannya sikap itu menuntun perilaku kita sehingga kita bertindak sesuai dengan sikap kita yang kita ekspresikan.
5. Sosial Ekonomi
Keadaan social ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap pemberian makanan pendamping ASI pada bayi. Dalam memenuhi kebutuhan pokok primer maupun sekunder keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah tercukupi dibanding keluarga dengan status ekonomi yang rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan informasi pengetahuan yang masuk kebutuhan sekunder. 6. Pengalaman
Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal bisa diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, misal seseorang mengikuti
kegiatan-kegiatan yang mendidik yaitu seminar, berorganisasi dapat memperluas jangkauan pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan tersebut informasi tentang suatu hal dapat diperoleh. 7. Factor Lingkungan
Menurut Ann Mariner, lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok (Wawan dan Dewi, 2010, p.18).
8. Sosial Budaya
System sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi. Di samping itu ada juga budaya yang sudah turun temurun berlaku di masyarakat, yaitu budaya untuk memberikan makanan pendamping ASI dini pada bayi. Perilaku seperti ini merupakan perilaku turun temurun yang dilihat ibu balita dari ibunya. Budaya seperti ini merupakan unsur budaya yang salah karena pemberian MP-ASI terlalu dini kepada bayi dapat mempengaruhi pencernaan bayi (Wawan dan Dewi, 2010, p.18).
2. Tinjauan Teori Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) a. Pengertian
Makanan pendamping ASI adalah makanan tambahan yang diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 6 bulan sampai bayi
berusia 24 bulan. Peranan makanan pendamping ASI bukan untuk menggantikan ASI melainkan hanya melengkapi ASI (Waryana, 2010, p.85).
b. Tujuan pemberian makanan pendamping ASI
Dalam pemberian makanan pendamping ASI bertujuan untuk:
1) Untuk menambah energi.
2) Membantu dalam proses pertumbuhan bayi. 3) Sebagai makanan pelengkap.
4) Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah, mencium, dan menelan serta melakukan adaptasi pada makanan yang mengandung energi tinggi.
5) Guna melengkapi zat-zat gizi yang belum dipenuhi oleh ASI guna menunjang proses pertumbuhan supaya tetap optimal. c. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan
pendamping ASI kepada bayi antara lain :
1. Makanan bayi harus mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi.
2. Makanan tambahan harus diberikan kepada bayi setelah berusia 6 bulan.
3. Berikan makanan tambahan setelah bayi menyusui.
4. Pada permulaan, makanan tambahan harus diberikan dalam keadaan halus.
5. Porsi makanan yang diberikan jangan terlalu besar, karena kapasitas perutnya masih kecil sehingga anak kecil harus diberikan makan lebih sering dalam sehari dibandingkan dengan orang dewasa.
d. Syarat Makanan Pendamping ASI (Waryana, 2010, p.88) 1. Memiliki nilai energi dan kandungan protein yang tinggi
2. Memiliki nilai suplementasi yang baik serta mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup.
3. Dapat diterima oleh alat pencernaan bayi dengan baik. 4. Harganya relative murah.
5. Bersifat padat gizi.
6. Kandungan serat kasar atau bahan lain yang sukar dicerna dalam jumlah yang sedikit.
e. Jadwal Pemberian Makanan Pendamping ASI Menurut Umur Bayi (Sulistyoningsih, 2011,p 175)
1) Usia 0-6 bulan
Jenis makanan : ASI
Frekuensi pemberian : 10-12 kali sehari 2) Usia 7-9 bulan
Jenis makanan : ASI, buah-buahan, hati ayam, kacang- kacangan, beras merah, ubi, sayuran
3) Usia 9-12 bulan
Jenis makanan : ASI, buah-buahan, bubur/roti,
daging/kacang-kacangan/ayam/ikan,beras
merah/kentang/labu/jagung, kacang tanah, minyak/santan, sari
buah tanpa gula.
Frekuensi pemberian : 4-6 kali sehari. 4) Usia diatas 12 bulan
Jenis makanan : ASI, makanan seperti orang dewasa, termasuk telur dan kuning telur, jeruk.
Frekuensi pemberian : 4-5 kali sehari
f. Dampak pemberian MP-ASI dini (Soetjiningsih, 2002, p.26-27) yaitu :
1. Bayi lebih sering menderita diare. Hal ini disebabkan cara menyiapkan makanan kurang bersih, juga karena pembentukan zat anti oleh usus bayi belum sempurna.
2. Bayi mudah alergi terhadap zat makanan tertentu. Keadaan ini terjadi akibat usus bayi masih permeable, sehingga mudah dilalui oleh protein asing.
3. Terjadi malnutrisi/gangguan pertumbuhan anak. Bila makanan yang diberikan kurang bergizi dapat mengakibatkan anak
menderita KEP (Kurang Energi Protein) dan dapat terjadi sugar baby/obesitas bila makanan yang diberikan mengandung kalori yang terlalu tinggi.
4. Produksi ASI menurun. Karena bayi sudah kenyang dengan MP-ASI tadi, maka frekuensi menyusu menjadi lebih jarang, akibatnya dapat menurunkan produksi ASI.
5. Tingginya solute load dari MP-ASI yang diberikan, sehingga dapat menimbulkan hiperosmolaritas yang meningkatkan beban ginjal.
g. Alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif (Sulistyoningsih, 2011, p.171)
Banyak keuntungan yang diperoleh ketika dilakukan pemberian ASI secara eksklusif, namun sangat sedikit ibu yang melakukan pemberian ASI eksklusif, dengan berbagai sebab diantaranya adalah :
1) ASI dianggap tidak mencukupi
Banyak ibu yang beranggapan bahwa ASI tidak mencukupi sehingga memutuskan untuk menambahkan atau mengganti dengan susu formula. Sebenarnya hampir semua ibu yang melahirkan akan berhasil menyusui bayinya dengan jumlah ASI yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan bayinya. Hal yang harus diperhatikan agar ASI dapat diproduksi dengan
jumlah dan kualitas yang baik adalah teknik menyusui yang benar, asupan gizi ibu, serta frekuensi menyusui.
2) Ibu bekerja di luar rumah
Ibu bekerja harus meninggalakn bayinya seharian penuh sehingga ini menjadi alasan ibu menggantikan dengan susu formula. Sebenarnya seorang ibu yang bekerja masih dapat memberikan ASI eksklusif dengan dukungan pengetahuan yang cukup dan benar dari ibu, perlengkapan memerah ASI, serta dukungan lingkungan keluarga dan juga lingkungan tempat kerja.
3) Beranggapan bahwa susu formula lebih baik dan lebih praktis dari ASI
Gencarnya promosi tentang susu formula serta kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI menyebabkan tidak sedikit ibu yang beranggapan bahwa susu formula sama baiknya atau bahkan lebih baik daripada ASI. Padahal tidak ada satu alasan pun bagi ibu untuk lebih memilih susu formula dibandingkan ASI karena begitu banyak manfaat dan kelebihan ASI dibandingkan susu formula baik dari sisi kesehatan bayi, kesehatan ibu, ataupun dari sisi ekonomi.
4) Kekhawatiran tubuh ibu menjadi gemuk
Ibu biasanya beranggapan bahwa nafsu makan ibu menyusui lebih besar dibandingkan ibu yang tidak menyusui
sehingga timbul kekhawatiran berat badannya akan meningkat. Pendapat ini tidaklah benar, karena produksi ASI tidak hanya terjadi pada pascapersalinan tetapi telah dipersiapkan selama kehamilan. Selama hamil telah dipersiapkan timbunan lemak yang akan dipergunakan selama menyusui, dengan demikian perempuan yang tidak menyusui malah akan lebih sulit untuk menghilangkan lemak ini.
3. Tinjauan Teori ASI a. Pengertian
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI sangat dibutuhkan untuk kesehatan bayi dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal.
ASI eksklusif adalah bayi yang hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air, teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, papaya, bubur, susu, biscuit, bubur nasi dan tim sampai dengan usia 6 bulan (Waryana, 2010, p.78).
ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman, kecuali obat dan vitamin (SK Menteri Kesehatan No. 450/Menkes/SK/IV/2004).
1. Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali keluar, kental dengan warna kekuning-kuningan yang keluar pada hari pertama sampai ke tiga. Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang. Kolostrum lebih banyak mengandung karbohidrat, protein, mineral, dan antibody yang memberikan perlindungan bagi bayi sampai usia 6 bulan. 2. Air susu masa peralihan
ASI peralihan adalah ASI yang keluar dari hari ke empat sampai ke sepuluh, merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur. Kadar protein makin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak semakin meninggi dan volume juga semakin meningkat.
3. Air susu matur
Air susu matur adalah ASI yang keluar pada hari ke sepuluh dan seterusnya, komposisi relative konstan. ASI matur merupakan cairan berwarna putih kekuningan yang diakibatkan warna dari Ca-casein, riboflafin dan karoten yang terdapat didalamnya. Terdapat antimicrobial faktor antara lain: antibody (kekebalan terhadap infeksi), protein dan hormon-hormon.
c. Jenis zat gizi yang utama pada ASI (Sulistyoningsih, 2011, p.168) 1. Lemak
Lemak merupakan sumber kalori utama bagi bayi, sebanyak 50% kalori ASI berasal dari lemak. Walaupun kadar lemak pada ASI lebih tinggi namun lemak pada ASI mudah diserap oleh bayi dibandingkan susu formula. Lemak yang terdapat pada ASI terdiri dari kolesterol dan asam lemak essensial yang sangat penting untuk pertumbuhan otak.
2. Karbohidrat
ASI mengandung laktosa sebagai karbohidrat utama. Selain sebagai sumber kalori, laktosa juga berperan dalam meningkatkan penyerapan kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus yang berperan dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme di saluran pencernaan.
3. Protein
Protein pada ASI lebih baik daripada protein pada susu formula, karena protein yang terdapat pada ASI lebih mudah dicerna, selain itu ASI mengandungsistindantaurinyang tidak terdapat pada susu formula. Sistin dan taurin diperlukan untuk pertumbuhan somatik dan otak.
4. Vitamin
ASI mengandung cukup vitamin yang dibutuhkan bayi, seperti vitamin K, vitamin D, dan vitamin E.
d. Manfaat ASI (Sulistyoningsih, 2011, p.167) Manfaat ASI bagi bayi
1) Mengandung zat gizi yang sesuai bagi bayi
Nilai gizi yang dikandung dalam ASI berbeda dari hari ke hari, tergantung dari fase menyusui atau usia bayi yang disusui. Beberapa jenis zat gizi utama yang ada pada ASI diantaranya adalah lemak, karbohidrat, protein, vitamin.
2) Mengandung zat protektif (kekebalan)
Bayi yang memperoleh ASI biasanya jarang mengalami sakit karena ASI mengandung zat protektif, diantaranya adalah laktobasilus bifidus (menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan diare), laktoferin (menghambat pertumbuhan jamur kandida, E.coli, dan stafilokokus), antibody (mencegah bakteri pathogen dan enterovirus masuk ke dalam mukosa usus), dan tidak menimbulkan alergi.
3) Mempunyai efek psikologis
Kontak langsung antara ibu dan bayi ketika terjadi proses menyusui dapat menimbulkan efek psikologis
sehingga membangun kedekatan ibu dan bayinya. Hal ini sangat penting untuk perkembangan psikis dan emosi bayi. 4) Menyebabkan pertumbuhan yang baik
Bayi yang mendapatkan ASI akan mengalami peningkatan berta badan yang lenih signifikan dan mengurangi resiko obesitas.
5) Mengurangi kejadian karies gigi
Kejadian karies gigi lebih banyak ditemukan pada bayi yang menggunakan susu formula. Hal ini disebabkan adanya kebiasaan menyusui dengan botol sebelum tidur akan menyebabkan kontak gigi dengan sisa susu formula menjadi lebih lama sehingga asam yang terbentuk akan menyebabkan kerusakan pada gigi.
Manfaat bagi ibu
1. Menyusui akan menyebabkan uterus berkontraksi sehingga pengembalian uterus kepada kondisi fisiologis sebelum kehamilan dapat berlangsung lebih cepat.
2. Memperkecil resiko perdarahan setelah melahirkan
Ibu yang menyusui akan mengalami peningkatan kadar hormone oksitosin yang berguna untuk mempercepat penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat terhenti. Jika resiko perdarahan dapat diperkecil maka rsiko anemia juga dapat diperkecil.
3. Mengurangi resiko terkena penyakit kanker, seperti kanker payudara dan kanker indung telur.
4. Menyusui dapat mengurangi kemungkinan untuk hamil karena menyusui menyebabkan kesuburan ibu berkurang untuk beberapa bulan.
B. Kerangka Teori
Gambar 2.1 : Skema Kerangka Teori
Sumber : Mahfoedz (2005) Domain kognitif Tahu Memahami Aplikasi Analisis Sintesis Evaluasi Pengetahuan - Pendidikan - Pekerjaan - Umur - Ekonomi - Social budaya - Sikap - Lingkungan - Definisi MP-ASI - Tujuan pemberian MP-ASI - Dampak pemberian MP-ASI dini - Alasan ibu tidak
memberikan ASI eksklusif
- Definisi ASI eskklusif - Manfaat ASI