• Tidak ada hasil yang ditemukan

WORO UTAMI PRASETIYONINGSIH BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "WORO UTAMI PRASETIYONINGSIH BAB II"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Sistem Bilangan Real

Definisi II.A.1

Sistem bilangan realRmerupakan suatu sistem aljabar yang terhadap operasi penjumlahan dan operasi perkalian mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1. Rmerupakan grup komutatif terhadap operasi penjumlahan.

2. R-{0} merupakan grup komutatif terhadap operasi perkalian.

3. Untuk setiap x,y,zR berlaku x.(yz) x.yx.z.

(Darmawijaya, 2006:19)

Definisi II.A.2

Jika x suatu bilangan real, nilai mutlak (absolute value) x yang dituliskan dengan x didefinisikan sebagai berikut.

Sifat-sifat nilai mutlak padaRadalah:

1. x 0 untuk setiap xR, x 0 jika dan hanya jikax= 0

2. xx untuk setiap xR 0 untuk 

x x

(2)

3. xyx y untuk setiap x,yR, dan

4. ,

y x

y x

y0

5. Untuk a0 berlaku:

a. xaaxa

b. xaxa atau xa

6. x2 x2 dan xx2 untuk setiap xR

7. xyx2  y2

8. xyxyuntuk setiap x,yR.(Ketaksamaan Segitiga)

Akibat dari sifat-sifat nilai mutlak di atas adalah:

y x y x y

x      untuk setiap x,yR

B. Himpunan

Definisi II.B.1

(3)

suatu himpunan disebut element atau anggota (member) himpunan tersebut.

(Darmawijaya, 2006:1)

Definisi II.B.2

Jika I suatu himpunan tertentu dan untuk setiap iI terdapat himpunan Xi, maka keluarga (family) atau koleksi (collection) adalah himpunan yang anggota-anggotanya merupakan himpunan dan ditulis singkat dengan

 

Xi atau

Xi:iI

.

(Darmawijaya, 2006:6)

Definisi II.B.3

Jika A dan B masing-masing dua himpunan yang tak kosong

A dan B

maka himpunan yang didefinisikan dengan :

 

x y x A y B

B

A  , :  & 

disebut himpunan hasil kali kartesius (Cartesian product) himpunan AdenganB.

(Darmawijaya, 2006:6)

1. Himpunan Terbatas

Definisi II.B.1.1

(4)

Diberikan himpunan terurutS dan AS. Himpunan Adikatakan terbatas ke atas jika terdapat suatu pS, sehingga untuk semua

A

x berlaku xp. Jadi,pdisebut batas atas himpunanA. Jika terdapat suatu qS dan untuk semua xA berlaku xq, makaA dikatakan terbatas ke bawah. Jadi,qdisebut batas bawah himpunanA.

(Soemantri, 2000:1.3)

Definisi II.B.1.2

Jika S suatu himpunan terurut, dan AS. Himpunan A terbatas ke atas dan terdapat pS yang memenuhi sifat-sifat berikut:

a. pmerupakan batas atasA, dan b. jikau<pmakaubukan batas atasA

maka p disebut batas atas terkecil atau supremum himpunan A, dan diberikan notasi psupA.

(Soemantri, 2000:1.4)

Definisi II.B.1.3

Batas bawah terbesar atau infimum dari suatu himpunan A yang terbatas ke bawah, didefinisikan sebagai qS dengan sifat bahwaq merupakan batas bawahA dan jikav>qmakav bukan batas bawahA. Untuk batas bawah terbesar himpunanAdiberikan notasi qinf A.

(5)

2. Himpunan Bilangan Real

Definisi II.B.2

Himpunan bilangan real (himpunan bagian di dalam R) yang penulisannya khusus antara lain adalah himpunan-himpunan sebagai berikut. Jika a,bR dan ab, didefinisikan

a.

 

a,b

xR:axb

disebut selang tertutup (closed interval)

b.

  

a,bxR:axb

disebut selang terbuka (open interval)

c.

a,b

 

xR:axb

disebut selang tertutup di kiri atau selang terbuka di kanan

d.

a,b

xR:axb

disebut selang tertutup di kanan atau selang terbuka di kiri

(Darmawijaya, 2006:46-47)

C. Fungsi

Definisi II.C

(6)

fungsi. Lambangy=f(x), xA menyatakan sebuah fungsi dengan aturany= f(x) yang terdefinisi pada himpuanA. Selanjutnyax dinamakan peubah bebas danypeubah tak bebas yang nilainya bergantung darix.

Apabila terdapat suatu fungsi y = f(x), maka daerah asal (domain) fungsi fadalah himpunanA, ditulis ADf , dan daerah nilai fungsifadalah himpunan Rf

f(x):xADf

. Unsur f(x)Bdinamakan nilai fungsi dix. Jika yang diketahui hanyay=f(x), maka domain dan daerah nilai (range) fungsifadalah Df

xR: f(x)R

dan Rf

f(x)R:xDf

.

(Martono, 1999:29)

1. Fungsi Komposisi

Definisi II.C.1

Jika fungsi f dengan domain Df di A dan range Rf di B dan jika fungsi g dengan domain Dg di B dan range Rg di C.

Gambar 1.1 Diagram Panah Fungsif(x) R

R

f

x f(x)

f

R

f

D

f R

R

f

R

f

D

(7)

Komposisi gf (notasi komposisi) adalah fungsi dari A ke C diberikan oleh

 

a c A C b B ab f b c g

f

g  ,   :  dengan ( , ) dan( , )

Jikafdangadalah suatu fungsi dan jika xDf makaf(x) yang dikenai fungsi g dengan f(x)Dg. Domain dari komposisi

f

g adalah himpunan Dgf

xDf : f(x)Dg

. Untuk )

(g f D

x  , nilai dari gf di x yang diberikan oleh

gf

 

xg

f

 

x

. Range dari gf ditunjukkan oleh

himpunan Rgf

g

f(x)

:xDgf

.

(Bartle dan Shelbert, 2000:13)

2. Fungsi Invers

Definisi II.C.2.1

Jika fungsi f dengan domain Df di Adan range Rf diB maka fungsifdikatakan injektif (satu-satu) jika dan hanya jika

Gambar 1.2 Komposisi Fungsi f

f g

D

g

B C

g

D A

f

D

f

R

g

R

f g

(8)

a. f(a) f(a') maka aa'

b. a, a'Df dan aa' maka f(a) f(a')

(Bartle dan Shelbert, 2000:15)

Definisi II.C.2.2

Jika fungsif injektif dengan domain Df di Adan range Rf di B. Jika g

 

b,aBA:

 

a,bf

makag merupakan fungsi injektif dengan DgRf diB dan dengan range RgDf di A. Fungsigdikatakan invers fungsi darifdan dinotasikan f1.

Jika invers fungsi f1 merupakan suatu fungsi maka dikatakan bahwa 1

f adalah fungsi invers.

(Bartle dan Shelbert, 2000:15)

Definisi II.C.2.3

Fungsi f :AB dikatakan fungsi bijektif (korespondensi 1– 1), jika untuk setiap yB terdapat tepat satu xA sehingga

) (x f

y  .

Gambar 1.3 Invers Fungsi

1

f

f

D

a b

f

R f

(9)

Definisi II.C.2.4

Jika fungsi f :AB merupakan fungsi bijektif maka kebalikan fungsi f :AB yaitu g:BA pasti merupakan fungsi invers dari f.

3. Jenis Fungsi

a. Fungsi Eksponen

Bentuk umum fungsi eksponen adalah sebagai berikut:

x

a x

f( ) dengana = bilangan pokok

a0 dan a1

dan x= pangkat

xR

.

(Varberg, dkk, 2010)

b. Fungsi Transenden

Fungsi transenden terdiri dari fungsi-fungsi sebagai berikut:

1) Fungsi logaritma didefinisikan sebagai berikut: fungsi ,

log )

(x x

fa a0, a1, dan x0

2) Fungsi logaritma alami dapat dituliskan f(x)lnx, x0

3) Invers dari ln disebut fungsi eksponen alami dan dinyatakan exp (epangkat). Jadi, xexpyey lnxy, x0

(10)

a)

2 2

, sin

sin 1

 

x x

y y x

b)

2 0

, cos

cos 1    

 

x x y y x

c)

2 2

, tan

tan 1     

 

x x

y y x

d)

2 dan 0

, sec

sec1    

 

x x

x y y x

(Varberg, dkk, 2010:357-359)

4. Fungsi Terbatas

Definisi II.C.4

Fungsi f dikatakan terbatas jika terdapat M > 0 sehingga M

x

f( )  untuk xDf.

(Martono, 1999:38)

Contoh:

a. Fungsi f(x)cos x terbatas karena f(x)  cos x 1 untuk

f

D x 

(11)

D. Limit

1. Limit Fungsi di R

Definisi II.D.1.1

L x f

c x ( )

lim berarti bahwa untuk setiap 0, terdapat 0

yang berpadanan sedemikian rupa sehingga untuk 0 xc

berlaku f(x)L ; yakni, 0 xcf(x)L (Varberg, dkk, 2010:62)

Definisi II.D.1.2

Diberikan fungsi f yang terdefinisi pada interval (c,b). Limit kanan fungsi f di c adalah L (ditulis f x L

c

xlim ( ) atau L

x

f( ) bila xc) jika  0,  0 

  

 

c x f(x) L

0 dan jika diberikan fungsi f yang

terdefinisi pada interval (a,c) dengan limit kiri fungsifdicadalah

L (ditulis f x L

c x

 ( )

lim atau f(x)L bila xc) jika

0 

,  0  0 xcf(x)L

(Martono, 1999:53)

Contoh:

Diberikan fungsi

Tentukan (jika ada):

9 , 2

3  

x x  ) (x f

9 , 3 9

2

  

(12)

a. lim ( )

Sifat-Sifat Limit Fungsi:

Jika n bilangan bulat positif, k konstanta, serta f dan g adalah fungsi-fungsi yang mempunyai limit di c, dengan f x L

c x ( )

lim dan

M x g

c x ( )

lim maka

(13)

e.

f x g x

L M

c

x ( ). ( ) .

lim 

f. , 0

) (

) (

lim  

    

M M

L x g

x f

c x

g. k f x k L

c

x ( ) .

lim 

(Leithold, 1991:99)

Teorema II.D.1.3

Jika f x L

c x ( )

lim , maka f x L

c

x ( ) 

lim

(Martono, 1999:54)

Bukti:

Jika f x L

c x ( )

lim , maka lim f(x) L lim f(x)

c x c

x    .

Diketahui f x L

c x ( )

lim maka f x L

c

x ( ) 

lim . Teorema ini

dibuktikan dengan menggunakan definisi limit dimana L

x f

c x ( )

lim berarti bahwa untuk setiap 0, maka harus

dibuktikan terdapat 0 sehingga

jika 0 xc maka f(x) L

Diketahui bahwa f x L

c x ( )

lim , maka dari definisi limit diperoleh

bahwa untuk 0 terdapat 1 0 sehingga

(14)

Misalkan adalah lebih kecil dari1, maka 1. Karena itu jika 0 xc maka f(x)L

karena f(x) Lf(x)L dan f(x)L maka sesuai dengan sifat ketaksamaan segitiga diperoleh

  

L f x L

x

f( ) ( ) .

2. Limit Fungsi di 2

R

Definisi II.D.2

Fungsifadalah fungsi dua variabel dengan domainDmaka dapat dikatakan bahwa limit dari f(x,y) L dan ditulis

L y x f

b a y

x,lim)( , ) ( , )

( , jika untuk setiap 0 terdapat 0

sedemikian sehingga f(x,y)L bilamana (x,y)D dan

 

 ( , ) ( , )

0 x y a b dengan

 

2

2

) , ( ) ,

(x ya bxayb .

(Purcell dan Varberg, 1999:238)

3. Limit Fungsi di Rn

Definisi II.D.3

Definisi yang telah diungkapkan untuk limit fungsi di R dan di

2

(15)

bahwa limit dari f(x1,x2,...,xn)L dan ditulis L

x x x

f n

x x x x x

x n o o no

 ( , ,..., )

lim 1 2

) ,..., , ( ) ,..., ,

(1 2 1 2

, jika untuk  0, 0

sedemikian sehingga f(x1,x2,...,xn)L bilamana D

x x

x , ,..., n)

( 1 2 dan 0 (x1,x2,...,xn)(x1o,x2o,...,xno)  . (Purcell dan Varberg, 1999:239)

E. Kekontinuan

1. Kekontinuan Fungsi diR

Definisi II.E.1.1

Kekontinuan fungsi di satu titik dapat didefinisikan sebagai berikut dimisalkan f terdefinisi pada suatu interval terbuka yang mengandung c. Dikatakan bahwa f kontinu di c jika

) ( ) (

lim f x f c

c

x  . Jadi, fungsi f dikatakan kontinu di titik c jika memenuhi syarat sebagai berikut :

a. f(c) ada;

b. lim f(x)

c

x ada;

c. lim f(x) f(c)

c

x 

Jika satu atau lebih dari ketiga syarat ini tidak dipenuhi di c, maka fungsifdikatakan tidak kontinu dic.

(16)

Definisi II.E.1.2

Fungsi f terdefinisi pada interval (a,c) maka fungsi f dikatakan kontinu kanan dicjika lim f(x) f(c)

c x

 .

Fungsi f terdefinisi pada interval (c,b) maka fungsi f dikatakan kontinu kiri dicjika lim f(x) f(c)

c x

 .

(Martono, 1999:59)

Definisi II.E.1.3

Fungsi f dikatakan kontinu pada interval terbuka (a,b) jika f kontinu di setiap titik (a,b). Fungsi f kontinu pada interval tertutup [a,b] jika kontinu pada interval terbuka (a,b), kontinu kanan dia, dan kontinu kiri dib.

(Martono, 1999:61)

2. Kekontinuan Fungsi di 2

R

Definisi II.E.2.1

Fungsi f(x,y) dikatakan kontinu di titik (a,b)D, DR2 jika )

, ( ) , ( lim

) , ( ) ,

(xyab f x yf a b . Fungsi f dikatakan kontinu pada

domainDjikaf kontinu di setiap titik (a,b) dalamD.

(17)

Definisi II.E.2.2

Fungsi f(x,y) dikatakan kontinu pada suatu himpunan S, jika f(x,y) kontinu di setiap titik pada himpunanS.

(Purcell dan Varberg, 1999:239)

3. Kekontinuan Fungsi di Rn

Definisi II.E.3

Secara umum, jika fungsi zf(x1,x2,...,xn) dikatakan kontinu di titik (x1o,x2o,...,xno)D, D Rn jika

) ,..., , ( ) ,..., , (

lim 1 2 1 2

) ,..., , ( ) ,..., ,

(1 2 1 2

no o o n

x x x x x

x n o o no f x x x f x x x

 . Fungsi f

dikatakan kontinu pada domain D jika f kontinu di setiap titik )

,..., ,

(x1o x2o xno dalamD.

F. Turunan

1. Turunan Fungsi diR

Definisi II.F.1.1

Jika f fungsi dari [a,b] ke R dan c[a,b] maka L disebut diferensial atau turunan f di c jika  0, 0 sehingga untuk x[a,b] dengan 0 xc berlaku

Gambar 1.4 Himpunan S S

A

(18)

. Jadi, L merupakan turunan darif di c jika

L

(Bartle and Sherbert, 2000:158)

Fungsi f dikatakan mempunyai turunan (diferensiable) di c atau )

Selidiki apakah terdiferensial di

(19)

3

Teorema II.F.1.2

Jika fungsif terdiferensial dicmaka fungsif kontinu dic

(Varberg, dkk, 2010:102)

(20)

Akibatnya:

Jika fungsif tidak kontinu dicmakaf tidak terdiferensial dic.

a. Sifat–Sifat Turunan:

1) f(x)k, k konstan  f'(x)0

2) f(x) xf'(x)1

3) f(x)xn f'(x)n xn1

Jika u'(x) dan v'(x) ada maka:

4) f(x)u(x)v(x) f'(x)u'(x)v'(x)

5) f(x)c.u(x) f'(x)c.u'(x), denganckonstan

6) f(x)u(x).v(x) f'(x)u'(x).v(x)u(x).v'(x)

7)

2

) (

) ( ' . ) ( ) ( . ) ( ' ) ( ' ) (

) ( ) (

x v

x v x u x v x u x f x v

x u x

f    

(Leithold, 1991:199)

b. Turunan Fungsi Komposisi

Jika yf(u) dengan ug(x) dan fungsi g(x) kontinu pada domainnya, maka menurut definisi (aturan rantai) dapat dituliskan sebagi berikut:

dx du du dy dx dy

(21)

Jika yf(u) dengan ug(v) dan vh(x) maka:

dx dv dv du du dy dx dy

y'  . .

(Purcell dan Varberg, 1993:138-139)

c. Turunan Fungsi Trigonometri

1) f(x)sinxf'(x)cosx

2) f(x)cosxf'(x)sinx

3) f(x)tanxf'(x)sec2x

4) f(x)cot xf'(x)csc2x

5) f(x)sec xf'(x)secx.tanx

6) f(x)csc xf'(x)csc x.cotx

(Varberg,dkk, 2010:114-116)

d. Turunan Fungsi Invers Trigonometri

Jika xsiny maka y sin1x

1)

2 1

1 1 ) ( ' sin

) (

x x

f x x

f

  

 

2)

2 1

1 1 )

( ' cos

) (

x x

f x x

f

   

(22)

3) 1 2

e. Turunan Fungsi Logaritma dan Eksponensial

1) Turunan fungsi logaritma ini dapat dituliskan sebagai

berikut: f(x) alogx maka

2) Turunan fungsi logaritma alami dapat dituliskan sebagai

berikut: f(x)lnx maka

x x f'( )1

3) Turunan fungsi eksponensial dapat dituliskan sebagai berikut: f(x)ax maka f'(x)ax.lna

4) Turunan fungsi eksponensial alami dapat dituliskan sebagai berikut: f(x)ex maka f'(x)ex

(23)

f. Turunan Fungsi pada Suatu Interval

Definisi II.F.1.f

Jika fungsi yf(x) terdefinisi pada selang I. Turunan fungsi f pada selang I, ditulis f'(x), adalah suatu fungsi yang aturannya di setiap xI ditentukan oleh

h x f h x f x

f

h

) ( ) ( lim ) ( '

0

  

 , limit ini ada.

Catatan:

1) Lambang lain untuk turunan adalah

) ( , ), ( , ,

' f x D y D f x

dx d dx dy

y x x . Lambang

dx dy

dikenal

sebagai notasiLeibniz.

2) Jika I adalah selang tertutup [a,b], maka f'(a) berarti )

( ' a

f sedangkan f'(b) berarti f'(b).

(Martono, 1999:89)

g. Turunan Tingkat Tinggi

Definisi II.F.1.g

(24)

kedua dari f. Dan jika f '' masih dapat diturunkan lagi maka yang demikian menghasilkan f''', yang disebut turunan ketiga, dan seterusnya.

(Purcell dan Varberg, 1993:141)

2. Turunan Fungsi di n

R

Definisi II.F.2.1

Fungsi f adalah suatu fungsi dua peubahxdany. Jikaydianggap sebagai suatu konstanta, misalnya yy0, maka f(x,y0) menjadi fungsi satu peubahx. Turunan fungsif di xx0 disebut turunan parsial f terhadap x di f(x0,y0) dan dinyatakan sebagai

) , (x0 y0 fx . Jadi,

x

y x f y x x f y

x f

x

x

   

 

) , ( ) , (

lim ) ,

( 0 0 0 0

0 0

0

Demikian pula, turunan parsialfterhadapydi (x0,y0) dinyatakan oleh fy(x0,y0) dan dituliskan sebagai

y

y x f y y x f y

x f

y

y

   

 

) , ( ) ,

( lim ) ,

( 0 0 0 0

0 0

0

Rumus tersebut mencari fx(x,y) dan fy(x,y) dengan menggunakan aturan baku untuk turunan; kemudian mensubstitusikan xx0 dan yy0

(25)

Contoh:

Definisi II.F.2.2

(Turunan Parsial Tingkat Tinggi) Secara umum, karena turunan parsial suatu fungsi x dan y adalah fungsi lain dari dua peubah yang sama, turunan tersebut dapat diturunkan secara parsial terhadap x atau y untuk memperoleh empat buah turunan parsial kedua fungsifyaitu:

(26)

c.

 

(27)

Definisi II.F.2.3

Untuk turunan parsial tingkat tiga dan lebih tinggi didefinisikan dengan cara yang sama dan ditulis dengan cara yang sama. Jadi, jika f suatu fungsi dua peubah x dan y, turunan-parsial ketiga f yang diperoleh dengan menurunkan f secara parsial, pertamakali terhadap x dan kemudian dua kali terhadap y, akan ditunjukkan oleh

(Purcell dan Varberg, 1999:235)

Definisi II.F.2.4

Secara umum, jika f adalah suatu fungsi n peubah yaitu

(28)

Demikian pula, turunan parsial f terhadap x2 di (x1o,x2o,...,xno)

dan dituliskan sebagai

2 yang sama. Jadi, untuk turunan turunan parsial f terhadap xn di

)

dan dituliskan sebagai

n

Definisi II.F.2.5

(29)

G. Integral

1. Integral Tak-Tentu (Anti-Turunan)

Definisi II.G.1.1

Suatu fungsi F disebut suatu anti-turunan f pada interval I jika ) dalamI.

(Varberg, dkk, 2010:196)

Teorema II.G.1.2

Jikanbilangan rasional dengan n1, maka c

(Purcell dan Varberg, 1993:233)

Bukti:

maka akan ditunjukkan

(30)

berarti

f(x)dxF(x)c atau c n

x dx x

n

n

 

11 .

Untuk n0 diperoleh xndx x dx xcxc

0 0011

Jadi,

dxxc

Dari hasil di atas maka dapat dianalogikan untuk integral pada fungsi trigonometri adalah sebagai berikut

a.

sinx dxcosxc

b.

cosx dxsinxc

c.

sec2x dxtanxc

d.

csc2x dxcotxc

e.

secx tanxdxsecxc

f.

cscx cotxdxcscxc

(Martono, 1999:170)

Teorema II.G.1.3

Jika fungsi f dan g mempunyai anti turunan (integral tak-tentu) dariksuatu konstanta maka:

(31)

b.

f(x)g(x)

dx

f(x)dx

g(x)dx

(Purcell dan Varberg, 1993:235)

Bukti:

a.

k f(x)dxk

f(x)dx

f mempunyai anti-turunan misalF+c,

jika

f(x)dxF(x)c artinya ( ( ) ) f(x) dx

c x F

d

misalkan H(x)k F(x) maka

) ( )

( )

( )

(

' k f x

dx c x F d k dx

x F d k x

H    

b.

f(x)g(x)

dx

f(x)dx

g(x)dx

Jika f(x)g(x) mempunyai anti-turunan misal

) ( ) (x G x

F

maka dapat dituliskan

f(x)g(x)

dxF(x)G(x)

dimanaf mempunyai anti-turunan misalFdangmempunyai anti-turunan misalG

jika

f(x)dxF(x)c artinya ( ( ) ) f(x) dx

c x F

d

(32)

jika

g(x)dxG(x)c artinya ( ( ) ) g(x) dx

c x G d

 

maka

f x g x

dx F x G x

f x dx

g x dx

( ) ( )  ( ) ( ) ( )  ( )

Teorema II.G.1.4

Jika g suatu fungsi yang dapat didiferensialkan, dan jika daerah nilai darigadalah suatu selangIdimana ada sebuah fungsifyang didefinisikan pada Idan bahwa F merupakan anti turunan dari f padaI, maka

f

g(x)

g'(x)dx

F(g(x))c

(Leithold, 1991:396)

Bukti:

)) ( ( )) ( (

' g x f g x

F

dan menurut aturan rantai untuk pendiferensialan

F(g(x))

F'(g(x))

g'(x)

dx

d

diperoleh

F(g(x))

F'(g(x))

g'(x)

f(g(x))

g'(x)

dx

d

 

kesimpulanya

g x dx

F g x c x

g

f  

(33)

Teorema II.G.1.5

Jika g suatu fungsi yang dapat didiferensialkan dan n suatu bilangan rasional dengan n1, maka

c

n x g dx x g x g

n

n

 

( ) '( ) ( )1

1

(Purcell dan Varberg, 1993:236)

Bukti:

Jika ug(x) adalah suatu fungsi yang dapat didiferensialkan dan nsuatu bilangan rasional dengan n1, maka

dx du u dx n u d

n n

. 1

1

      

 

atau dalam cara penulisan fungsional,

) ( ' . )) ( ( )) ( ( . )) ( ( 1 )) (

( 1

x g x g dx

x g d x g dx

n x g d

n n

n

 

   

 

 

Teorema II.G.1.6

(Integral Parsial) Jika f dan g fungsi-fungsi yang dapat terdiferensial pada intervalI, maka

udvuv

vdu

(34)

Bukti :

2. Integral Tentu

a. Integral pada Fungsi Satu Variabel

Definisi II.G.2.a.1

Sebuah fungsi f yang didefinisikan pada selang tertutup [a,b]. Himpunan P

ax0,x1,x2,...,xnb

dengan P membagi interval [a,b] menjadi n selang bagian yaitu

x0,x1

 

, x1,x2

 

,..., xn1,xn

dengan panjang selang bagian ke-i

disebut norma (norm) partisi P sehingga dapat dibentuk jumlah Riemann fungsif yang terkait dengan partisiPyaitu

(35)

Suatu jumlah Riemann ditafsirkan sebagai sebuah jumlah aljabar dari luas-luas

3

 

4

    

5 6

Jika suatu fungsi f yang didefinisikan pada selang tertutup

[a,b]. Jika

lim ada, dikatakanf terintegralkan

pada [a,b].

Riemann) f dari a sampai b, diberikan oleh

(Purcell dan Varberg, 1993) y

(36)

Definisi II.G.2.a.2

Jika fR[a,b], fungsi F:[a,b]R dengan rumus

0 ) (a

F dan 

x a

f x

F( ) untuk setiap x(a,b] disebut

primitif (primitive) Riemann fungsif pada [a,b]

Catatan:

Beberapa penulis merumuskan primitif fungsi fR[a,b]

tersebut sebagai berikut  

x a

f a F x

F( ) ( ) .

Hal ini berarti

fF(a)F(a)0

a a

.

(Darmawijaya, 2006:207)

Teorema II.G.2.a.3

Jika fungsi f dapat diintegralkan pada selang tertutup [a,b], [a,c], dan [c,b] maka

 

b c c

a b

a

dx x f dx x f dx x

f( ) ( ) ( )

dengan acb.

(37)

Bukti:

DimisalkanPsuatu partisi dari [a,b]. Dibentuk partisi P' dari [a,b] dengan cara sebagai berikut:

Jikac satu titik dari partisiP, maka P' tepat sama dengan P. Karena itu selang-selang bagian dari partisi P', sama seperti selang-selang bagian dari P, kecuali selang bagian [xi1,xi] dari P yang dibagi menjadi dua selang bagian [xi1,c] dan

] ,

[c xi . Jika P' adalah norm dari P' dan jika P adalah norm dariP, maka P'  P.

Jika di dalam partisi P' selang [a,c] dibagi menjadi rselang bagian dan [c,b] dibagi menjadi (n – r) selang bagian, maka bagian dari partisi P' dari a ke c memberikan jumlah Riemann dalam bentuk

  r

i

i i x

x f f

P S

1

) ( )

, ' (

dan bagian lain dari partisi P', dari c ke b, memberikan jumlah Riemann dalam bentuk

 

  n

r i

i i x

x f f

P S

1

) ( )

, ' (

(38)

P menghasilkan

dengan menerapkan definisi integral tertentu pada ruas kanan persamaan di atas diperoleh

Teorema II.G.2.a.4

(Teorema Dasar Kalkulus). Jika suatu fungsi f kontinu pada selang tertutup [a,b] dan misalkanFsuatu fungsi sedemikian sehinggaF’(x) =f(x) dan untuk semuax di dalam [a,b] maka

(39)

Bukti :

Jika f kontinu pada semua titik di dalam [a,b], F’(x) =f(x), maka dapat dituliskan bahwa

dengan mengambilx=bdanx=a, maka diperoleh

(40)

b. Integral Lipat-Dua Atas Daerah Persegi Panjang

Definisi II.G.2.b.1

Tetapkan D berupa suatu persegi panjang dengan sisi-sisi

sejajar sumbu-sumbu koordinat yakni

x y a x b c y d

D ( , ):   ,   . Bentuk suatu partisi P dari D dengan menggunakan garis-garis sejajar sumbu x dan sumbu y dan membagi D menjadi beberapa persegi panjang kecil, semuanya n buah, yang ditunjukkan dengan

. ,..., 3 , 2 , 1

,k n

Dk  Tetapkan xkdan yk adalah panjang sisi-sisi Dk dan Ak xkyk adalah luasnya. Pada Dk, diambil sebuah titik

xk,yk

dan bentuk jumlahan

n k

k k k y A

x f

1

,

Gambar 1.6 Daerah D

 

x,y:axb,cyd

z

xk,yk

c d

a b

k

D c

D x

(41)

yang berpadanan (jika f(x,y)0) dengan jumlah volume dari n kotak. Dengan membuat partisi semakin halus sehingga semua Dk menjadi lebih kecil dan akan menuju ke konsep yang diinginkan serta dengan ketentuan tambahan bahwa norma dari partisiPyang dinyatakan oleh P adalah panjang diagonal terpanjang dari setiap persegi panjang bagian dalam partisi.

(Purcell dan Varberg, 1999:283)

Definisi II.G.2.b.2

Jika f suatu fungsi dua variabel yang kontinu dan terdefinisi pada persegi panjangD. Jika

 

n k

k k k

P f x y A

1

0 ,

lim

Gambar 1.7 Permukaan zf(x,y)

c d

a b

z

y

x Dk

c D

) , (x y f z

k k k y A

x

f

(42)

ada, maka f terintegral padaD. Nilai limit ini disebut integral ganda-dua dari f padaDdan diberikan oleh:



 

 

D n

k

k k k

P f x ,y A f(x,y)dA

lim

1 0

(Neswan, 2011:3)

Sifat-Sifat Integral Lipat-Dua:

Jika f(x,y),g(x,y) kontinu dan kR maka:

1) Integral lipat-dua adalah linear; yaitu:

a)





D D

dA y x f k dA y x

kf( , ) ( , )

b)







D D

D

dA y x g dA y x f dA y x g y x

f( , ) ( , ) ( , ) ( , )

2) Integral lipat-dua adalah aditif pada persegi panjang dimana D1D2D maka







 

2 1

) , ( )

, ( )

, (

D D

D

dA y x f dA y x f dA y x f

3) Sifat perbandingan berlaku jika f(x,y)g(x,y) untuk semua (x,y) di bidangD,maka





D D

dA y x g dA y x

f( , ) ( , )

(43)

c. Integral Lipat-Dua Atas Daerah Bukan Persegi Panjang

Jika kurva S tertutup dan terbatas di bidang (Gambar 1.8). Kelilingi S oleh suatu persegi panjang D dengan sisinya sejajar sumbu-sumbu koordinat (Gambar 1.9). Jika f (x,y) terdefinisi pada S dan didefinisikan f(x,y) = 0 pada bagian D di luarSmaka dikatakan f dapat diintegralkan pada S jika dapat diintegralkan pada D dan ditulis





D S

dA y x f dA y x

f( , ) ( , )

(Purcell dan Varberg, 1999:295)

d. Perhitungan Integral Lipat-Dua Atas Daerah Bukan Persegi

Panjang

Himpunan dengan batas-batas melengkung dapat menjadi sangat rumit. Untuk itu cukup menganalisis apa yang disebut himpunanx sederhana dan himpunany sederhana. Suatu himpunan y Gambar 1.10 Kurva S:zf(x,y)

f(x,y) = 0

S

Gambar 1.8 KurvaSTertutup

Gambar 1.9

KurvaSDikelilingi oleh Persegi PanjangD S

(44)

sederhana (Gambar 1.11) jika terdapat fungsi-fungsi kontinu g1(x) dan g2(x) pada [a,b] sedemikian sehingga

(x,y):a x b,g1(x) y g2(x)

S    

Suatu himpunan S adalah x sederhana (Gambar 1.12) jika terdapat fungsi yang kontinu h1(y) dan h2(y) pada [c,d] sederhana sehingga

x y h y x h y c y d

S ( , ): 1( )  2( ),  

Jika akan menghitung integral lipat-dua dari suatu fungsi f(x,y) atau suatu himpunan S dengany sederhana. Kita lingkungiS dalam suatu persegi panjang D (Gambar 1.13) dan f(x,y) = 0 di luar S, maka

Gambar 1.12 KurvaxSederhana S

(45)

Secara ringkas

 



  

   

b a

x g

x g S

dx dy y x f dA

y x f

) (

) (

2

1

) , ( )

, (

Untuk integral sebelah kanan, x dipertahankan tetap; jadi pengintegralan itu adalah sepanjang garis tebal (Gambar 1.13). Pengintegralan ini menghasilkan A(x) diintegralkan mulai dari a sampai b. Jika himpunan S adalah x sederhana (Gambar 1.13), penalaran serupa menuju rumus

 



  

   

d d

y h

y h S

dy dx y x f dA

y x f

) (

) (

2

1

) , ( )

, (

(Purcell dan Varberg, 1999:296)

e. Integral Lipat-Dua pada Koordinat Kutub

(46)

permukaan ini dan di atas D (Gambar 1.15) diberikan oleh



D

dA y x f

V ( , ) ... (1)

Dalam koordinat kutub, suatu persegi panjang kutub D berbentuk D

 

r, :arb,

dengan a0 dan

 2 sehingga persamaan permukaannya dapat dituliskan sebagai

) , ( ) sin , cos ( ) ,

(x y f r r F r f

z  

Partisi D dibagi kedalam persegi panjang kutub yang lebih kecil

n

D D

D1, 2,..., dengan menggunakan suatu kisi kutub dan jika rk dan

k

 menunjukkan ukuran kepingan Dk yang khas, seperti diperlihatkan pada Gambar 1.16. Luas A(Dk) diberikan oleh

k k k k r r

D

A( )  

Sumbu kutub D

b

r

a r

Gambar 1.14 Persegi Panjang Kutub

Gambar 1.15 Kurva zf(x,y)F

 

r, D

z

y

x

z = f(x,y) = F(r,)

D Dk

k

k

(47)

dengan rk adalah radius rata-rata Dk. Jadi,

k k k n

k

k

k r r

r F

V

 

1

) , (

Jika diambil limit untuk norma (norm) dari partisi mendekati nol, maka diperoleh volume yang sebenarnya. Limit ini adalah suatu integral ganda-dua.





D D

d dr r r r f d

dr r r F

V ( ,) ( cos, sin) ... (2)

Jadi, dari (1) dan (2) diperoleh dua rumus untukV yaitu:





D D

d dr r r r f dA y x

f( , ) ( cos, sin)

(Purcell dan Varberg, 1999:305)

f. Teorema Fubini

Jika f(x,y) kontinu pada persegi panjang D:axb,cyd,

maka f x y dA f x y dy dx f x y dx dy

d y

c y

b x

a x b

x a x

d y

c y

D

 

 



 

 

 

 

 

       

  

 ( , ) ( , )

) , (

(Neswan, 2011:7)

(48)

1) Jika D

(x,y):axb,g1(x)yg2(x)

. g1 dan g2

Dapat disimpulkan bahwa

 

Gambar

Gambar 1.1 Diagram Panah Fungsi f(x)
Gambar 1.2 Komposisi Fungsi
Gambar 1.3 Invers Fungsi
Gambar 1.4 Himpunan S
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi f disebut fungsi aljabar jika f dapat dinyatakan sebagai jumlahan, selisih, hasil kali, hasil bagi, pangkat, ataupun akar fungsi-fungsi suku banyak. Fungsi yang

Teorema dasar kalkulus dapat membantu kita menghitung integral lipat dua dengan cara melakukan integral secara berulang sebagai berikut: suatu fungsi dua peubah

Jika D suatu daerah di bidang XY dan f(x,y) fungsi yang didefiniskan pada D maka konsep Integral lipat dua dari fungsi f(x,y) pada D adalah4. dimana dA adalah diferensial

2.3 Fungsi Kontinu Selanjutnya akan dibahas mengenai konsep kekontinuan fungsi, meliputi definisi fungsi kontinu di suatu titik dan fungsi kontinu pada himpunan... Jadi, jika N

Sebagaimana terjadi dalam pendekatan metoda Simpson, akurasi hasil perhitungan fungsi integral dengan pendekatan metoda empat persegi panjang akan semakin bertambah jika cacah

Artinya suatu fungsi f(x) disebut kontinu didalam suatu interval, jika fungsi tersebut kontinu disetiap titik dari interval tersebut. Fungsi rasional dari x kontinu

Pada integral Riemann-Stieltjes selalu melibatkan dua fungsi, yaitu fungsi bernilai real f yang terdefinisi pada interval [a,b] dan

Turunan Fungsi Dua Peubah Keterdiferensialan 4.3 Turunan Fungsi Dua Peubah 4.3 Turunan Fungsi Dua Peubah Theorem Jika f mempunyai turunan parsial fx dan fy yang kontinu pada suatu