2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Gudang
Gudang adalah sebuah ruangan atau volume yang tertutup sehingga diperlukan pengaturan penggunaan ruangan itu sedemikian, sehingga didapatkan hasil yang maksimal. Dalam gudang terjadi banyak pemindahan barang mulai dari pemindahan barang yang didapat dari produksi, berhenti dalam rak kemudian berpindah lagi untuk dikirim kepada pelanggan. Karena itu, pertimbangan yang harus ditinjau meliputi aspek :
1.Karakteristik barang tersebut (apakah padat, cair, gas atau apakah lunak, mudah busuk, keras, berat, nilainya tinggi atau rendah ) dan korelasi di antara sifat-sifat tersebut
2.Sumber darimana barang itu diterima dan bagaimana mengantarkannya.
3.Apa yang terjadi atas barang itu di dalam gudang atau tempat dimana barang itu berhenti
Yang terpenting dalam sebuah gudang diusahakan sebagian besar barang harus bergerak. Barang yang bergerak kepada konsumen akan menghasilkan pendapatan, sedang barang yang tidak bergerak tidak akan menghasilkan apa-apa.
Prioritas pertama dalam gudang adalah “usahakan agar barang itu selalu bergerak dan gerakkanlah cepat-cepat”.
Gudang harus dirancang dengan memperhitungkan kecepatan gerak barang. Barang yang bergerak cepat lebih baik diletakkan dekat dengan tempat pengambilan barang, sehingga mengurangi seringnya gerakan bolak-balik. Dalam gudang penyimpanan factor yang pengaruhnya sangat besar terhadap penanganan barang ialah letak dan desain gedung dimana barang itu disimpan.
Tujuan utama dari metode penyimpanan barang adalah : 1. Penggunaan volume bangunan yang maksimum 2. Penggunaan waktu, buruh dan perlengkapan yang baik 3. Kemudahan pencapaian bahan
4. Pengangkutan barang yang cepat dan mudah
5. Identifikasi barang yang baik
6. Pemeliharaan barang yang maksimum 7. Penampilan yang rapi dan tersusun
2.2. Macam Sistem Penyimpanan
Ada beberapa macam sistem penyimpanan yaitu : A. Dedicated Storage Location Policy
Disebut juga fixed slot storage, yang dibagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Part number sequence storage
Jenis ini sering dipakai karena kemudahannya penggunaannya.
Penempatannya semata-mata berdasarkan nomor komponen (part number) yang dapat berubah-ubah tanpa memperdulikan aktivitas.
2.Throughput-based dedicated storage
Merupakan aktivitas lain dari part number sequence, dimana mempertimbangkan perbedaan level aktivitas dan kebutuhan penyimpanan akan produk yang disimpan.
B. Randomized Storage Location Policy
Definisi dari randomized storage policy adalah jika beban datang untuk disimpan, maka diletakkan ke lokasi tedekat yang terlihat dan pengambilannya berdasarkan FIFO. Asumsi yang dipakai adalah tiap tempat kosong mempunyai kemungkinan yang sama untuk dipilih dalam penyimpanan saat proses penyimpanan dilakukan.
C. Class Based dedicated Storage Location Policy
Metode ini sering digunakan dimana di sini produk dibagi menjadi tiga, empat atau lima kelas. Pergerakan yang relatif sedikit cepat dikategorikan sebagai produk kelas satu, kemudian produk kelas dua, kelas tiga dan seterusnya.
D. Shared storage Location Policy
Pada shared storage location policy, tiap-tiap palet disimpan dalam tenggang waktu yang berbeda. Bergantung pada jumlah produk dalam persediaan pada saat kiriman datang, mungkin ada 5 palet disimpan hanya
untuk satu hari, dimana 5 palet lainnya pada pengiriman yang sama akan disimpan selama 20 hari.
2.3. Standar Pendayagunaan Ruang
Efisiensi operasi gudang sebagian tergantung pada cara gudang tersebut diatur. Tata ruang harus dirancang sehingga ruang yang tersedia dapat didayagunakan semaksimum mungkin dan sekaligus menyelenggarakan penanganan bahan secara efektif. Pedoman umum adalah menempatkan produk-produk yang berputar cepat dengan volume yang sangat besar di daerah yang paling mudah dicapai, barang yang berputar lebih lambat disimpan agak jauh dan barang yang berputar paling lambat disimpan di daerah yang paling jauh dari tempat pengiriman barang. Penetapan standar ruang untuk tiap produk memungkinkan untuk mengukur pelaksanaan dan untuk menentukan kapasitas penyimpanan. Dalam hal ini, tingginya tumpukan penyimpanan produk harus diperhatikan.
2.4. Persediaan
2.4.1. Pengertiaan Persediaan
Menurut Chase/Aquilano, “Inventory is the stock of any item or resource used in an organization.” (Chase dan Aquilano, 1995 : 546). Menurut pengertian diatas, dapat diartikan bahwa persediaan adalah cadangan barang atau sumber daya yang digunakan dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Menurut PSAK No. 14, pengertian persediaan adalah sebagai berikut:
“Persediaan adalah aktiva yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal; aktiva dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau aktiva dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakana dalam proses produksi atau pemberian jasa”
Jadi dapat diartikan bahwa persediaan adalah segala jenis barang atau sumber daya yang digunakan oleh perusahaan dalam kegiatan usahanya, termasuk bahan baku, barang dalam proses maupun barang jadi yang disediakan untuk
menjaga kelancaran operasi perusahaan dalam usahanya untuk memenuhi permintaan pelanggan setiap hari.
2.4.2. Manfaat Persediaan
Persediaan yang ada mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi, antara lain berguna untuk dapat : (Chase dan Aquilano, 1995 : 547)
1. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
2. Menghilangkan resiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
4. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi.
5. Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
6. Memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut.
2.4.3. Jenis-jenis Persediaan
Menurut jenisnya, persediaan dapat dibedakan atas : (Sofjan Assauri, 1993 : 222)
1. Persediaan Bahan Baku ( Raw Materials Stock)
Persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang dimana dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari para pemasok. Bahan baku diperlukan oleh pabrik untuk diolah, yang setelah melalui beberapa proses diharapkan menjadi barang jadi (finished goods).
2. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (Purchased parts / komponen stock)
Persediaan barang-barang yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan lain, dapat secara langsung diassembling dengan parts lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya. Jadi bentuk barang yang merupakan parts ini tidak mengalami perubahan dalam operasi.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (supplies stock)
Persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang digunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (Work in process/
Progress stock )
Persediaan barang-barang yang merupakan keluaran atau hasil dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (Finished Goods)
Persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada konsumen atau perusahaan lain.
2.4.4. Biaya-Biaya yang Timbul dari Adanya Persediaan
Secara umum dapat dikatakan bahwa biaya sistem persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang timbul sebagai akibat dari adanya persediaan. Biaya sistem persediaan terdiri dari biaya pembelian, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya kekurangan persediaan.
Ada beberapa biaya yang berhubungan dengan persediaan, yaitu (Sri Joko 2001 : 213) :
1. Biaya pembelian (Purchasing Cost)
Biaya pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang.
Besarnya biaya pembelian ini sangat tergantung pada jumlah barang yang dibeli dan harga satuan barang. Biaya pembelian merupakan faktor penting ketika harga barang yang dibeli tergantung pada ukuran pembelian ( yang biasanya disebut dengan quantity discount).
2. Biaya Pengadaan (Procurement Cost)
Sesuai dengan jenisnya, biaya pengadaan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : biaya pemesanan (ordering cost) bila barang yang dibutuhkan diperoleh dari pihak luar atau supplier dan biaya pembuatan (setup cost) bila barang yang dibutuhkan diperoleh dengan cara memproduksi sendiri.
a. Biaya pemesanan (Ordering Cost) adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari luar. Biaya pemesanan meliputi biaya telepon, fax atau surat-menyurat yang dilakukan dalam rangka memesan barang tersebut, termasuk juga biaya pengangkutan.
b. Biaya Pembuatan (Setup Cost) adalah semua biaya yang timbul dalam rangka mempersiapkan produksi suatu barang. Biaya ini timbul di dalam pabrik, yang meliputi biaya penyusunan peralatan produksi, penyetelan mesin, mempersiapkan gambar kerja.
3. Biaya Penyimpanan (Holding Cost / Carriying Cost)
Biaya penyimpanan adalah biaya yang timbul akibat aktivitas penyimpanan barang yang dilakukan oleh perusahaan. Biaya ini meliputi : biaya modal, biaya sewa gudang atau depresiasi gudang, biaya kerusakan dan penyusutan, biaya asuransi, biaya administrasi dan pemindahan.
4. Biaya Kehabisan atau kekurangan Bahan (Storage Cost)
Biaya kehabisan atau kekurangan bahan adalah biaya yang terjadi karena perusahaan kehabisan barang pada saat permintaan muncul. Keadaan ini akan menimbulkan kerugian karena proses produksi akan terganggu dan perusahaan kehilangan kesempatan mendapat keuntungan atau kehilangan konsumen yang beralih ke tempat lain karena kecewa. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan sulit diperkirakan. Yang termasuk biaya kekurangan atau kehabisan adalah : biaya kehilangan penjualan, biaya kehilangan konsumen, biaya pemesanan khusus dan biaya terganggunya proses produksi.
2.4.5. Cara-cara Penentuan Persediaan
Ada 2 sistam umum yang dikenal dalam menentukan jumlah persediaan pada akhir suatu periode yaitu dengan : (Sofjan Assauri 1993 : 225 )
1. Periodic Sistem, yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara fisik dalam menentukan jumlah persediaan.
2. Perpetual Sistem atau juga disebut Book Inventories, yaitu dalam hal ini dibina catatan administrasi persediaan. Setiap perpindahan dari persediaan sebagai akibat dari pembelian ataupun penjualan dicatat atau dilihat dalam Kartu Administrasi persediaannya. Bila metode ini yang dipakai, maka perhitungan secara fisik hanya dilakukan paling tidak setahun sekali yang biasanya dilakukan untuk keperluan counterchecking antara jumlah persediaan menurut fisik denagn menurut catatan dalam Kartu Administrasi persediaannya.
2.4.6. Pengawasan Persediaan
Setiap perusahaan perlu mengadakan persediaan untuk dapat menjamin kelangsungan hidup usahanya. Oleh sebab itu, setiap perusahaan haruslah dapat mempertahankan suatu jumlah persediaan yang optimum yang dapat menjamin kebutuhan bagi kelancaran kegiatan perusahaan dalam jumlah dan mutu yang tepat serta dengan biaya yang serendah-rendahnya. Persediaan yang terlalu berlebihan (besar) akan merugikan perusahaan, karena ini berarti lebih banyak uang atau modal yang tertanam/ terpendam dan biaya-biaya yang ditimbulkan dengan adanya persediaan tersebut. Sebaliknya suatu persediaan yang terlalu kecil (kurang) akan merugikan perusahaan karena kelancaran dari kegiatan produksi dan distribusi perusahaan terganggu.
2.4.7. Perencanaan Persediaan Barang Jadi
Besarnya barang jadi harus dipertimbangkan secara hati-hati. Setiap perusahaan harus merencanakan jumlah persediaan barang jadi yang cukup.
Persediaan barang jadi yang terlalu besar akan menimbulkan kerugian, antara lain:
1. Biaya simpan yang tinggi. Biaya simpan ini mencakup biaya penyusutan, tenaga kerja dan asuransi.
2. Adanya resiko kerusakan barang dan kehilangan
Sebaliknya persediaan barang jadi yang terlalu kecil akan menimbulkan kerugian antara lain :
1. Perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen, sehingga tidak menunjang kegiatan penjualan.
2. Tingginya setup cost, karena frekuensi produksinya tinggi.
Dengan demikian ada beberapa manfaat denagn adanya jumlah persediaan yang tepat itu, antara lain : (Adisaputro 1992 : 192)
1. Untuk menempatkan perusahaan pada posisi yang selalu siap untuk melayani penjualan, baik pada saat-saat biasa maupun bilamana ada pesanan secara mendadak. Hubungan baik dengan para pelanggan perlu dijaga, karena itu persediaan barang jadi harus cukup agar tidak mengecewakan mereka.
2. Untuk membantu dicapainya kapasitas produksi yang kontinu dan seimbang.
Pada waktu permintaan tinggi perusahaan tidak perlu memaksakan diri sehingga bekerja dengan kapasitas penuh. Sebaliknya pada waktu permintaan rendah, kelebihan-kelebihan produksi disimpan sebagai persediaan.
2.4.8. Pengawasan Persediaan Barang Jadi
Masalah penentuan persediaan barang jadi merupakan masalah yang cukup sulit bagi perusahaan, dan ini menuntut manajer produksi dan manajer gudang untuk dapat mengendalikan berapa besarnya persediaan barang jadi yang harus ada dalam suatu waktu tertentu. Untuk menjamin kelancaran penjualan, maka diperlukan pengawasan persediaan barang jadi. Pengawasan persediaan barang jadi merupakan suatu aktifitas yang bertujuan untuk menentukan berapa jumlah persediaan barang jadi, sehingga seluruh permintaan konsumen dalam suatu periode dapat dipenuhi dengan baik. Adapun pengertian dari pengawasan persediaan adalah : (Sofjan Assauri 1980 : 185)
“ Pengawasan persediaan merupakan suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi daripada persediaan part, bahana baku dan barang hasil atau produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien”
2.5. Peta Kontrol
2.5.1. Pengertian dan Macam dari Peta Kontrol
Metode pengendalian proses secara statistic atau Statistical Process Control (SPC) adalah cara untuk mengolah data-data yang ada melalui metode- metode statistic dengan cara membuat batas-batas kendali dari proses yang ada, sehingga dapat memberikan gambaran tentang proses yang terjadi serta dapat memperbaiki proses agar proses dapat berjalan dengan baik. Untuk memperjelas pengertian Statistical Process Control dapat ditunjukkan dengan mengartikannya per bagian :
*. Statistic : Kumpulan, presentasi dan analisa tentang suatu data secara efektif
*. Process : Aktivitas dalam mengolah suatu input menjadi output
*. Control : Upaya manajemen secara efektif
Dasar dari Statistical Process Control adalah dengan mendeteksi adanya variasi proses dan segera melakukan tindakan antisipasi terhadap variasi proses.
Variasi proses dapat diketahui dengan dengan menggambar plot data dari proses yang ada dan apabila terdapat suatu data yang menyimpang dari batas kendali yang telah dibuat, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi suatu variasi proses.
Variasi proses manufacturing dapat dibagi atas 2 penyebab, yaitu penyebab umum dan penyebab khusus. Penyebab umum adalah penyebab yang selalu ada di dalam proses sepanjang waktu, yang mempengaruhi factor-faktor produksidan keluaran proses. Penyebab khusus adalah penyebab yang tidak selalu ada sepanjang waktu dalam proses atau tidak mempengaruhi setiap factor, tetapi timbul karena factor-faktor khusus misalnya ketidaknormalan mesin, salah dalam set-up mesin, kondisi fisik dan psikologi operator. Untuk melakukan identifikasi terhadap variasi-variasi khusus yang timbul dalam proses maka digunakan metode Statistical process Control. Identifikasi ini dimungkinkan jika dilakukan pengontrolan secara terus-menerus, pengumpulan data dengan cara yang benar yang dilakukan secara terus-menerus dan memperhatikan evaluasi terhadap waktu dari perilaku proses.
Control chart atau peta kendali merupakan tampilan grafis dari karakteristik kualitas yang telah diukur dari setiap data yang telah diambil. Peta kendali yang umum digunakan adalah peta kendali Shewart yang ditemukan oleh Dr. Walter S. Shewart, yang terdiri dari :
1. Peta kendali variable.
Variabel adalah karakteristik yang dapat diukur, contoh : panjang, berat, suhu.
Peta kendali variable adalah peta kendali X bar, peta kendali R dan peta kendali S.
Peta kendali R digunakna ketika ketika ukuran sample relative kecil (n<1).
Apabila ukuran sample relative besar, peta kendali S lebih baik digunakan karena efisiensi metode range dalam mengestimasi standar deviasi turun ketika n bertambah besar.
2. Peta kendali Atribut.
Atribut adalah data yang tidak bisa diukur dengan angka, tetapi hanya bisa digunakan menajdi sesuai dan tidak sesuai. Peta kendali atribut adalah peta kendali p, peta kendali np, peta kendali c dan peta kendali u. Peta kendali p digunakan untuk mengendalikan fraksi cacat. Peta kendali np digunakan untuk mengendalikan jumlah produk cacat. Peta kendali c digunakan untuk mengendalikan jumlah kecacatan. Peta kendali u digunakan untuk mengendalikan jumlah kecacatan per unit.
2.5.2. Peta Kendali X bar
Peta kendali X bar digunakan untuk mengendalikan rata-rata yang telah diukur.
Rumus untuk Peta kendali X bar :
BKA : µ + Z α/2 σx (2.1)
BT : µ (2.2)
BKB : µ - Z α/2 σx (2.3)
2.6. Sejarah Perusahaan
2.6.1. Gambaran Umum Perusahaan
PT. Trias Sentosa, Tbk adalah salah satu perusahaan manufaktur di Indonesia yang didirikan pada tanggal 23 November 1979 dan kegiatan operasi
komersialnya dimulai pada tahun 1984 dengan kapasitas produksi Biaxially- Oriented Polypropylene (BOPP) film sebesar 4500 ton per tahun.
Pada tahun 1989, perseroan menyelesaikan perluasan BOPP film lini II dengan kapasitas 7500 ton per tahun. Dalam bulan Juli 1990, perusahaan menawarkan 3 juta saham kepada masyarakat, dan pada bulan November 1992, perseroan mengeluarkan saham bonus yang berasal dari agio saham sebanyak 32 juta lembar saham, sehingga modal yang ditempatkan dan disetor penuh menjadi 48 juta saham.
Pada bulan Oktober 1993, pemegang saham kembali menyetujui penambahan modal yang ditempatkan dan disetor penuh menjadi 96 juta saham melalui penawaran Umum Terbatas. Dalam tahun 1993, perseroan telah menyelesaikan perluasan proyek BOPP film lini III dengan kapasitas 12000 ton per tahun dan dalam tahun 1995, proyek Polyester film dengan kapasitas 12000 ton per tahun telah diselesaikan.
Pada bulan November 1996, perseroan melakukan pemecahan nilai nominal saham (Stock Split) dari nilai Rp. 1000 menjadi Rp. 500 dan mengeluarkan saham bonus yang berasal dari agio saham sebanyak 96 juta lembar saham, sehingga modal yang ditempatkan dan disetor penuh menjadi 288 juta lembar saham. Dalam tahun 1996, perseroan telah menyelesaikan perluasan proyek BOPP film lini IV dengan kapasitas 16000 ton per tahun.
Pada saat ini PT. Trias Sentosa, Tbk merupakan produsen BOPP film terbesar dan Polyester Film di Indonesia.
1. Produk Perusahaan
Produk utama perusahaan adalah BOPP film dan Polyester film yang digunakan sebagai kertas kaca pengemas untuk bermacam-macam barang.
Jenis dan aplikasi penggunaan BOPP film dan polyester film antara lain sebagai berikut:
1.BOPP Film
1) Heatsetable film
• Bungkus luar produk tembakau / rokok
• Bungkus luar kaset audio / video
• Bungkus luar bahan kosmetik, biscuit,kembang gula, dll 2) Plain film
• Untuk dicetak dan dilaminasi dengan plastik untuk pembungkus bahan makanan, deterjen, biscuit, bumbu masak, dll
• Pembungkus kartu ucapan selamat, bunga, album foto, sampul buku, dll
3) Metallized grade film
• Pembungkus bingkisan bunga, kalender, dekorasi pembungkus makanan, dll
4) Pressure sensitive adhesive tapes film
• Untuk pita perekat 5) Pearlized film
• Untuk pembungkus permen, coklat, es krim, dll.
6) PVdC film
• Untuk pembungkus rokok dan makanan yang memerlukan property halangan tinggi.
2.Polyester Film
• Untuk percetakan laminasi, drafting, isolasi kabel dan stamping foil.
2.6.2 Visi Perusahaan
“Kami, manajemen dan seluruh karyawan PT Trias Sentosa Tbk, mempunyai komitmen untuk menjadi pemasok terkemuka flexible packaging film yang bermutu tinggi di kawasan Asia. Kami akan diakui memberikan produk inovatif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan kami. Kami memiliki karyawan yang berkomitmen tinggi yang beerja sebagai tim yang memberikan produk dan pelayanan terbaik kepada pelanggan kami. Dan pada akhirnya, kami akan meningkatkan shareholder value dan memberikan tingkat pengembalian bersih yang lebih tinggi kepada pemegang saham dibandingkan dengan kelompok industri setara kami”
2.6.3. Misi Perusahaan
“ Manajeman dan seluruh karyawan mempunyai komitmen untuk menetapkan, memelihara, meninjau dan secara terus-menerus menyempurnakan metode kerja, teknologi, dan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dalam mencapai Sasaran Mutu Perusahaan yang difokuskan untuk mencapai dan/atau melampaui persyaratan pelanggan dan harapan pemegang sahan”
2.6.4. Objective Perusahaan : a. Mutu Produk dan Pelayanan
1) Aktivitas ditetapkan dan disempurnakan atas dasar Persyaratan Pelanggan dan Perusahaan untuk menghasilkan produk sesuai dengan persyaratan, standar dan peraturan pemerintah.
2) Pengiriman produk direalisasikan tepat waktu sesuai yang disyaratkan.
b.Produk Inovatif dan Bernilai Tambah
Pengembangan produk inovatif bernilai tambah sebagai pemacu pertumbuhan utama secara khusus dilakukan melalui program pengembangan yang dimonitor secara terus-menerus.
c. Menjadi Produsen Berbiaya Terendah
Dengan diterapkannya sistem manajemen didasarkan pada model proses yang secara terus-menerus disempurnakan, aktivitas yang tidak memberi nilai tambah dan aktivitas yang tidak sesuai disempurnakan untuk :
1. memelihara dan meningkatkan mutu produktivitas dan efisiensi 2. mengurangi biaya serta menyempurnakan harga yang kompetitif 3. mengutamakan rantai pasokan dan mengem\ndalikanmodal kerja d. Eksplorasi Pasar Baru
Peningkatan nilai penjualan dilakukan melalui : 1. memperluas kapasitas produksi secara terencana 2. memperkuat organisasi penjualan dan pemasaran
3. pengendalian operasi, proses dan mutu ditetapkan secara efektif dan efisien, dan secara terus-menerus disempurnakan untuk
memberikan pelayanan dan kepuasan terbaik kepada pelanggan kami.
e. Pemberdayaan dan Penghargaan pada Karyawan
Sumber Daya Manusia dipelihara dan dikembangkan secara efektif supaya mempunyai produktivitas,kompetensi, aneka keahlian dan moral yang tinggi.