71 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian yang telah penulis lakukan sebagai dasar dalam pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh dari tes akhir berdasarkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan koneksi matematis.
A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus s/d 12 Agustus 2017 di kelas VIII2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII3 sebagai kelas kontrol, maka diperoleh data hasil kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik pada pokok bahasan faktorisasi bentuk aljabar. Kelas eksperimen yang menggunakan Model Pembelajaran PBL memperoleh nilai tertinggi pada kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis berturut- turut adalah 95 dan 94, sedangkan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran biasa memperoleh nilai tertinggi pada kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis berturut-turut adalah 90 dan 89. Nilai tes akhir pada kedua kelas sampel dapat dilihat pada Lampiran XVI.
72
Secara deskriptif, hasil tes akhir kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik disajikan pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1
Hasil Deskripsi Tes Akhir
No. Interval Nilai
Kemampuan Pemecahan Masalah
Kemampuan Koneksi Matematis Kelas
Eksperimen
Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
1 ≤ 60 4 8 8 13
2 61-70 9 8 9 6
3 71-80 8 7 5 7
4 81-90 6 7 7 4
5 91-100 3 0 1 0
𝑁 30 30 30 30
𝑥maks 95 90 94 89
𝑥min 56 51 44 39
Persentase Ketuntasan
Tuntas (30%)
Tuntas (23%)
Tuntas (27%)
Tuntas (13%) Tidak
Tuntas (70%)
Tidak Tuntas (77%)
Tidak Tuntas (73%)
Tidak Tuntas (87%)
𝑥 73,83 69,53 68,93 62,43
𝑠2 134,83 147,02 199,79 231,56
𝑠 11,61 12,13 14,13 15,22
dengan:
𝑁 = jumlah peserta didik 𝑥maks = nilai tertinggi 𝑥min = nilai terendah
𝑥 = rata-rata penguasaan peserta didik secara umum 𝑠2 = variansi
𝑠 = standar deviasi
Berdasarkan nilai yang diperoleh dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 80, terlihat bahwa banyaknya peserta didik yang tuntas dan tidak tuntas pada tes kemampuan pemecahan masalah di kelas eksperimen berturut-turut adalah 9 orang dan 8 orang, sedangkan banyaknya peserta didik yang
73
tuntas dan tidak tuntas pada kelas kontrol berturut-turut adalah 21 orang dan 22 orang. Adapun banyaknya peserta didik yang tuntas dan tidak tuntas pada tes koneksi matematis di kelas eksperimen berturut- turut adalah 7 orang dan 4 orang, sedangkan banyaknya peserta didik yang tuntas dan tidak tuntas pada kelas kontrol berturut-turut adalah 23 orang dan 26 orang. Rata-rata nilai tes akhir kemampuan pemecahan masalah di kelas eksperimen dan kelas kontrol berturut-turut yaitu 73,83 dan 68,93; sedangkan rata-rata nilai tes akhir kemampuan koneksi matematis di kelas eksperimen dan kelas kontrol berturut-turut yaitu 69,53 dan 62,43. Hal ini berarti hasil tes akhir kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol.
Standar deviasi kelas kontrol lebih tinggi dari pada kelas eksperimen. Artinya, dari keragaman data masing-masing kelas, maka kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis pada kelas eksperimen hampir seragam jika dibandingkan dengan kelas kontrol.
2. Analisis Data
Analisis data kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik kelas eksperimen yang belajar dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) serta kelas kontrol yang belajar dengan pembelajaran biasa dilakukan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan (diterima atau ditolak). Untuk mengetahui hal
74
tersebut, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi terhadap hasil belajar kedua kelas sampel.
a. Uji normalitas
Menurut Sudjana (2001: 466), uji normalitas sampel dapat dilakukan dengan Uji Liliefors. Sebagai contoh akan disajikan nilai kelas eksperimen dan penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran XVII. Adapun langkah-langkah Uji Liliefors adalah sebagai berikut.
1) Menyusun skor peserta didik dari yang terendah sampai yang tertinggi.
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
No. Nilai
1 56
... ...
30 95
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
No. Nilai
1 44
... ...
30 94
2) Menghitung rata-rata dan simpangan baku dengan rumus
𝑥 = 𝑥𝑛𝑖 dan 𝑠𝑖 = 𝑛 𝑥𝑛 𝑛−1 𝑖2− 𝑥𝑖 2 dengan:
𝑥 = rata-rata kelas ke-𝑖
𝑥𝑖 = skor peserta didik kelas ke-𝑖 𝑛 = jumlah peserta didik
𝑠𝑖 = simpangan baku kelas ke-𝑖
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝑥 =221530
= 73,83 dan
75 𝑠1 = 30 167451 − 2215 2
30 30−1
= 5023530 −4906225 30 29
= 117305870
= 134,83
= 11,61
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝑥 =206830
= 68,93 dan
𝑠1 = 30 148348 − 2068 2 30 30−1
= 4450440 −4276624 30 29
= 173816870
= 199,79
= 14,13
3) Menghitung nilai 𝑧𝑖 dengan rumus 𝑧𝑖 =𝑥𝑖− 𝑥
𝑠 dengan:
𝑥𝑖 = skor ke-𝑖 𝑥 = skor rata-rata
𝑠 = standar deviasi
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝑧1 =56−73,8311,61
= −17,8311,61
= − 1,54
Dengan cara yang sama diperoleh:
𝒙𝒊 𝒛𝒊
56 -1,54 ... ...
95 1,82
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝑧1 =44−68,9314,13
= −24,9314,13
76
= − 1,76
Dengan cara yang sama diperoleh:
𝒙𝒊 𝒛𝒊
50 -1,34 ... ...
94 1,77
4) Untuk setiap bilangan baku dan dengan menggunakan daftar distribusi normal baku hitung peluang
𝐹 𝑧𝑖 = 𝑃 𝑧 ≤ 𝑧𝑖
Berdasarkan perhitungan dalam Walpole (1995: 470) untuk nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝐹 −1,54 = 0,0618
Dengan cara yang sama diperoleh:
𝒛𝒊 𝑭 𝒛𝒊
-1,54 0,0618
... ...
1,82 0,9656
Adapun perhitungan untuk nilai kemampuan koneksi matematis dalam Walpole (1995: 470) diperoleh:
𝐹 −1,76 = 0,0392
Dengan cara yang sama diperoleh:
𝒛𝒊 𝑭 𝒛𝒊
-1,34 0,0901
... ...
1,77 0,9616
5) Hitung proporsi 𝑧1, 𝑧2, 𝑧3, … , 𝑧𝑛 yang lebih kecil atau sama dengan 𝑧𝑖. Proporsi ini dinyatakan dengan 𝑆 𝑧𝑖 dengan rumus
𝑆 𝑧𝑖 =banyaknya 𝑧1, 𝑧2, 𝑧3, … , 𝑧𝑛 yang ≤ 𝑧𝑖 𝑛
Berdasarkan perhitungan diperoleh:
𝑆 𝑍1 =301 = 0,03333
6) Menghitung selisih 𝐹 𝑧𝑖 dan 𝑆 𝑧𝑖 , kemudian menghitung harga mutlaknya. Harga mutlak terbesar dinyatakan dengan 𝐿𝑜.
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
0,0618 − 0,03333 = 0,02847 Dengan cara yang sama diperoleh:
𝑭 𝒛𝒊 𝑺 𝒛𝒊 𝑭 𝒛𝒊 − 𝑺 𝒛𝒊 0,0618 0,06667 0,00487
... ... ...
0,9656 1,00000 0,03440
77
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
0,0392 − 0,03333 = 0,00593 Dengan cara yang sama diperoleh:
𝑭 𝒛𝒊 𝑺 𝒛𝒊 𝑭 𝒛𝒊 − 𝑺 𝒛𝒊 0,0901 0,06667 0,01507
... ... ...
0,9616 1,00000 0,06550 Adapun hipotesis uji normalitas adalah sebagai berikut.
𝐻0 : sampel berdistribusi normal.
𝐻1 : sampel tidak berdistribusi normal.
Kriteria pengujian hipotesis uji normalitas adalah sebagai berikut.
1) Jika 𝐿0 < 𝐿tabel maka 𝐻0 diterima. Artinya, sampel berdistribusi normal.
2) Jika 𝐿0 > 𝐿tabel maka 𝐻0 ditolak. Artinya, sampel tidak berdistribusi normal.
Adapun hasil analisis uji normalitas sampel disajikan dalam Tabel 4.2 berikut (Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran XVII).
Tabel 4.2
Hasil Analisis Uji Normalitas Sampel dengan Uji Liliefors No. Kelas 𝑳𝟎 𝑳tabel Kesimpulan Ket.
1 Eksp. (PM) 0,10 0,16 𝐿0 < 𝐿tabel, terima 𝐻0 Normal 2 Kont. (PM) 0,07 0,16 𝐿0 < 𝐿tabel, terima 𝐻0 Normal 3 Eksp. (KM) 0,12 0,16 𝐿0 < 𝐿tabel, terima 𝐻0 Normal 4 Kont. (KM) 0,07 0,16 𝐿0 < 𝐿tabel, terima 𝐻0 Normal
78
Uji normalitas sampel juga dapat dilakukan dengan menggunakan SPSS. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3
Hasil Analisis Uji Normalitas Sampel dengan SPSS Kelas Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk
Statistics df Sig. Statistics df Sig.
Eksp. (PM) 0,10 30 0,20 0,96 30 0,28 Kont. (PM) 0,10 30 0,20 0,95 30 0,15 Eksp. (KM) 0,15 30 0,10 0,95 30 0,14 Kont. (KM) 0,10 30 0,20 0,95 30 0,20 Berdasarkan tabel di atas, keseluruhan kelas sampel mempunyai tingkat signifikan > 0,05. Hal ini berarti kedua kelas sampel berdistribusi normal.
Uji normalitas juga dapat dilakukan dengan menggunakan uji Q-Q Plot yang disajikan dalam Gambar 4.1-Gambar 4.4 berikut.
Gambar 4.1
Q-Q Plot Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Eksperimen
79
Gambar 4.2
Q-Q Plot Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Kontrol
Gambar 4.3
Q-Q Plot Kemampuan Koneksi Matematis Kelas Eksperimen
80
Gambar 4.4
Q-Q Plot Kemampuan Koneksi Matematis Kelas Kontrol
Berdasarkan gambar-gambar di atas, terlihat bahwa data yang tersebar dari kiri bawah ke kanan atas seakan-akan membentuk suatu garis lurus. Hal ini berarti populasi berdistribusi normal.
b. Uji homogenitas
Uji homogenitas variansi ini bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok data mempunyai variansi yang homogen atau tidak.
Menurut Sudjana (2001: 263-265), uji homogenitas variansi dapat dilakukan dengan melakukan Uji Barlett dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Menghitung variansi masing-masing sampel dengan menggunakan rumus:
81
𝑆𝑖 = 𝑛 𝑥𝑖2 − 𝑥𝑖 2 𝑛 𝑛 − 1
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝑆1 = 30 167451 − 2215 2 30 30−1
= 117305870
= 134,83
= 141,62
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝑆1 = 30 148348 − 2068 2 30 30−1
= 173816870
= 199,79
= 6,99
Hasil analisis pada langkah ini disajikan pada Tabel 4.4.
2) Menghitung variansi gabungan dari semua sampel dengan menggunakan rumus:
𝑠2 = 𝑛𝑖− 1 𝑠𝑖2 𝑛𝑖− 1
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝑠2 = 8173,6358
= 140,92
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝑠2 = 12509,2358
= 215,69
3) Menentukan harga satuan Barlett dengan rumus:
𝐵 = log 𝑠2 𝑛𝑖− 1
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝐵 = log 140,92 58
= 2,15 58
= 124,70
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝐵 = log 215,69 58
82
= 2,34 58
= 135,72
4) Untuk uji Barlett digunakan statistik uji chi-kuadrat dengan rumus:
𝜒2 = ln 10 𝐵 − 𝑛𝑖 − 1 log 𝑠2
Berdasarkan perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah diperoleh:
𝜒2 = ln 10 124,70 − 124,62
= 2,30 0,08
= 0,18
Adapun perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝜒2 = ln 10 135,72 − 135,29
= 2,30 0,43
= 0,99
Kemudian cari harga uji 𝜒2tabel dengan nilai 𝛼 = 0,05 dalam Walpole (1995: 472), sehingga diperoleh:
𝜒2tabel = 𝜒 1−𝛼,𝑘−1 2
= 𝜒 1−0.05;2−1 2
= 𝜒 0,95;1 2
= 3,84
Adapun hipotesis uji homogenitas adalah sebagai berikut.
𝐻0 : sampel mempunyai variansi yang homogen 𝐻1 : sampel mempunyai variansi yang tidak homogen
Kriteria pengujian hipotesis uji homogenitas adalah sebagai berikut.
1) Jika 𝜒2hitung < 𝜒2tabel maka 𝐻0 diterima. Artinya, kedua kelas sampel mempunyai variansi yang homogen.
2) Jika 𝜒2hitung > 𝜒2tabel maka 𝐻0 ditolak. Artinya, kedua kelas sampel mempunyai variansi yang tidak homogen.
83
Berdasarkan hasil perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah dalam Walpole (1995: 472) dengan 𝑑𝑓 = 1 dan 𝛼 = 0,05 diperoleh 𝜒2hitung < 𝜒2tabel (0,18 < 3,84), sedangkan hasil perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis dalam Walpole (1995) dengan 𝑑𝑓 = 1 dan 𝛼 = 0,05 diperoleh 𝜒2hitung < 𝜒2tabel (0,99 < 3,84). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa 𝐻0 diterima atau sampel mempunyai variansi yang homogen (Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran XVIII).
Tabel 4.4
Hasil Analisis Uji Homogenitas Variansi dengan Uji Barlett berdasarkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Kelas 𝒏 − 𝟏 𝑺𝒊 𝑺𝒊𝟐 𝐥𝐨𝐠 𝑺𝒊𝟐 𝒏 − 𝟏 𝑺𝒊𝟐 𝒏 − 𝟏 𝐥𝐨𝐠 𝑺𝒊𝟐
Eksp. (PM) 29 11,61 134,83 3910,17 2,13 61,76 Kont. (PM) 29 12,13 147,02 4263,47 2,17 62,85 Eksp. (KM) 29 14,14 199,79 5793,87 2,30 66,72 Kont. (KM) 29 15,22 231,56 6715,37 2,37 68,58
Uji homogenitas variansi juga dapat dilakukan dengan menggunakan SPSS. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5
Hasil Analisis Uji Homogenitas Sampel berdasarkan Kemampuan Pemecahan Masalah dengan SPSS Kemampuan Levene Statistics df1 df2 Sig.
PM 0,01 1 58 0,91
KM 0,02 1 58 0,90
Berdasarkan kedua tabel di atas, terlihat bahwa nilai signifikan kemampuan pemecahan masalah 0,91 > 0,05; sedangkan nilai signifikan kemampuan koneksi matematis 0,90 > 005. Artinya, kedua kelas sampel memiliki variansi yang homogen.
84 c. Uji hipotesis
Berdasarkan uji normalitas sampel dan uji homogenitas sampel yang telah dilakukan sebelumnya, terlihat bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal dan memiliki variansi yang homogen.
Sehingga, untuk menentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak, maka digunakan uji-𝑡.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai kemampuan pemecahan masalah, diperoleh:
𝑠2 = 𝑛1−1 𝑠𝑛 12+ 𝑛2−1 𝑠22
1+𝑛2−2
= 30−1 134,83+ 30−1 147,02
30+30−2
=3910,17+4263,47
58
=8173,6358
= 140,92 𝑠 = 11,87 dan
𝑡 = 𝑋 −𝑋1 2
𝑠 𝑛 11+1 𝑛 2
= 73,83−69,53 11,87 301+ 301
= 1,82
Selanjutnya, cari 𝑡tabel dengan 𝛼 = 0,05 dan 𝑑𝑓 = 58, maka diperoleh 𝑡tabel = 1,64. Jika dibandingkan, diperoleh 𝑡hitung > 𝑡tabel
(1,82 > 1,64). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas VIII SMP N 28 Padang tahun pelajaran 2017/2018 yang belajar dengan Model Pembelajaran PBL lebih tinggi dari pada pembelajaran biasa.
85
Adapun hasil perhitungan nilai kemampuan koneksi matematis diperoleh:
𝑠2 = 𝑛1−1 𝑠𝑛 12+ 𝑛2−1 𝑠22
1+𝑛2−2
= 30−1 206,34+ 30−1 1215,43
30+30−2
=5983,87+6247,37
58
=12231 ,2358
= 210,88 𝑠 = 14,52 dan
𝑡 = 𝑋 −𝑋1 2
𝑠 𝑛 11+1 𝑛 2
= 68,73−62,43 14,52 301+ 301
= 2,22
Selanjutnya, cari 𝑡tabel dengan 𝛼 = 0,05 dan 𝑑𝑓 = 58, maka diperoleh 𝑡tabel = 1,64. Jika dibandingkan, maka diperoleh bahwa 𝑡hitung > 𝑡tabel (2,22 > 1,64). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan koneksi matematis peserta didik kelas VIII SMP N 28 Padang tahun pelajaran 2017/2018 yang belajar dengan Model Pembelajaran PBL lebih tinggi dari pada pembelajaran biasa.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil deskripsi dan analisis data diperoleh bahwa kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik yang belajar dengan Model Pembelajaran PBL lebih tinggi dari pada yang belajar dengan pembelajaran biasa. Hal ini dikarenakan perbedaan perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen yang belajar dengan
86
Model Pembelajaran PBL, sedangkan kelas kontrol yang belajar dengan pembelajaran biasa.
Berdasarkan langkah-langkah pada Model Pembelajaran PBL (kelas eksperimen), peserta didik diberikan suatu masalah yang terdapat dalam handout yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok dan meminta peserta didik saling bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah tersebut serta bertanya kepada pendidik jika mengalami kesulitan, menyusun laporan hasil diskusi secara rapi, kemudian menyampaikan hasil diskusi di depan kelas.
Pada pertemuan pertama kelas eksperimen, peserta didik diberikan masalah dalam handout mengenai bagaimana caranya seorang ibu menentukan uang saku untuk kedua anaknya dengan berbagai pengeluaran yang telah ditentukan, namun uang tersebut harus memiliki sisa. Adapun materi ini berhubungan dengan aritmatika sosial. Pada awalnya, peserta didik secara kelompok mendiskusikan bentuk model matematika untuk masalah tersebut ke dalam bentuk aljabar dan peserta didik harus menyelesaikan model tersebut secara sistematis. Kemudian, hasil diskusi salah satu kelompok dipresentasikan di depan kelas. Berdasarkan hasil yang telah dibuat oleh salah satu kelompok, penulis menyimpulkan bahwa peserta didik sudah memiliki kemampuan untuk memodelkan dan menyelesaikan soal tersebut walaupun belum mengidentifikasi unsur-
87
unsur tertentu, seperti apa yang diketahui pada soal, apa yang ditanyakan pada soal serta kelengkapan data.
Pada pertemuan kedua kelas eksperimen, peserta didik diberikan masalah dalam handout berupa bagaimanakah cara mencari luas suatu kebun. Adapun materi ini berhubungan dengan penerapan bangun datar.
Pada awalnya, peserta didik secara kelompok mendiskusikan bentuk model matematika untuk masalah tersebut ke dalam bentuk aljabar dan peserta didik harus menyelesaikan model tersebut secara sistematis.
Kemudian, hasil diskusi salah satu kelompok dipresentasikan di depan kelas. Berdasarkan hasil yang telah dibuat oleh salah satu kelompok, penulis menyimpulkan bahwa peserta didik sudah memiliki kemampuan untuk memodelkan dan menyelesaikan soal tersebut walaupun belum mengidentifikasi unsur-unsur tertentu, seperti apa yang diketahui pada soal, apa yang ditanyakan pada soal serta kelengkapan data.
Pada pertemuan ketiga kelas eksperimen, peserta didik diberikan masalah dalam handout berupa bagaimanakah cara menyelesaikan soal dalam waktu yang sangat cepat. Adapun materi ini berhubungan dengan selisih kuadrat suatu bilangan. Pada awalnya, peserta didik secara kelompok mendiskusikan bentuk model matematika untuk masalah tersebut ke dalam bentuk aljabar dan peserta didik harus menyelesaikan model tersebut secara sistematis. Kemudian, hasil diskusi salah satu kelompok dipresentasikan di depan kelas. Berdasarkan hasil yang telah dibuat oleh salah satu kelompok, penulis menyimpulkan bahwa peserta
88
didik sudah memiliki kemampuan untuk memodelkan dan menyelesaikan soal tersebut walaupun belum mengidentifikasi unsur-unsur tertentu, seperti apa yang diketahui pada soal, apa yang ditanyakan pada soal serta kelengkapan data.
Pada pertemuan keempat kelas eksperimen, peserta didik diberikan masalah dalam handout berupa cara mencari luas gabungan sketsa halaman suatu rumah. Adapun materi ini berhubungan dengan penerapan bangun datar. Pada awalnya, peserta didik secara kelompok mendiskusikan bentuk model matematika untuk masalah tersebut ke dalam bentuk aljabar dan peserta didik harus menyelesaikan model tersebut secara sistematis. Kemudian, hasil diskusi salah satu kelompok dipresentasikan di depan kelas. Berdasarkan hasil yang telah dibuat oleh salah satu kelompok, penulis menyimpulkan bahwa peserta didik sudah memiliki kemampuan untuk memodelkan dan menyelesaikan soal tersebut walaupun belum mengidentifikasi unsur-unsur tertentu, seperti apa yang diketahui pada soal, apa yang ditanyakan pada soal serta kelengkapan data.
Adapun langkah-langkah pada pembelajaran biasa (kelas kontrol) yaitu pendidik memberikan materi pembelajaran yang diajarkan pada saat itu, meminta peserta didik mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), serta mendiskusikan hasilnya secara bersama.
Apabila ditinjau dari tes akhir berdasarkan kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol (73,83 > 68,93) dan (69,53 > 62,43).
89
Berdasarkan peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang berjumlah 30 orang, 9 orang dan 8 orang berturut-turut di antaranya mencapai nilai yang lebih dari atau sama dengan KKM berdasarkan kemampuan pemecahan masalah, sedangkan 7 orang dan 4 orang berturut- turut di antaranya mencapai nilai yang lebih atau sama dengan KKM berdasarkan kemampuan koneksi matematis. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol.
Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis pada kemampuan pemecahan masalah, diperoleh 𝑡hitung = 1,82; sedangkan 𝑡tabel =1,64 dengan 𝛼 = 0,05 dan 𝑑𝑓 = 58. Jika dibandingkan, maka diperoleh 𝑡hitung > 𝑡tabel
(1,82 > 1,64). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas VIII SMP N 28 Padang tahun pelajaran 2017/2018 yang belajar dengan Model Pembelajaran PBL lebih tinggi dari pada pembelajaran biasa.
Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis pada kemampuan koneksi matematis, diperoleh 𝑡hitung = 2,22; sedangkan 𝑡tabel =1,64 dengan 𝛼 = 0,05 dan 𝑑𝑓 = 58. Jika dibandingkan, maka diperoleh 𝑡hitung > 𝑡tabel
(2,22 > 1,64). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas VIII SMP N 28 Padang tahun pelajaran 2017/2018 yang belajar dengan Model Pembelajaran PBL lebih tinggi dari pada pembelajaran biasa.
90 C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang penulis lakukan tentang kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis peserta didik yang belajar dengan Model Pembelajaran PBL pada peserta didik kelas VIII SMP N 28 Padang memiliki beberapa kekurangan, di antaranya:
1. Waktu penelitian terlalu singkat.
2. Materi pembelajaran yang diberikan pada saat penelitian hanya fokus pada satu bab saja.