• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kasus Autisme.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kasus Autisme.pdf"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

 Laporan Kasus  Laporan Kasus

 Autisme

 Autisme

Oleh:

Oleh:

Fidella

Fidella Ayu

Ayu Aldora,

Aldora, S.Ked

S.Ked

04084821820022

04084821820022

Jennifer

Jennifer Finnalia

Finnalia Husin,

Husin, S.Ked

S.Ked

04084821820023

04084821820023

Pembimbing:

Pembimbing:

dr. Yenny Fitrizar 

dr. Yenny Fitrizar 

DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK

DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK

RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

SRIWIJAYA

2018

(2)
(3)

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus Laporan Kasus

 Autisme

 Autisme

Oleh:

Oleh:

Fidella Ayu Aldora, S.Ked 

Fidella Ayu Aldora, S.Ked  0408482182002204084821820022 Jennifer Finnalia Husin, S.Ked 

Jennifer Finnalia Husin, S.Ked  0408482182002304084821820023

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di Bagian Rehabilitasi Medik Fakultas ujian kepaniteraan klinik senior di Bagian Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP Dr. Mohammad Hoesin Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 30 April-15 Mei 2018

Palembang periode 30 April-15 Mei 2018

Palembang, Mei 2018 Palembang, Mei 2018

dr. Yenny Fitrizar dr. Yenny Fitrizar

(4)

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang Latar Belakang

Autisme, merupakan salah satu gangguan perkembangan yang semakin Autisme, merupakan salah satu gangguan perkembangan yang semakin meningkat saat ini, menimbulkan kecemasan yang dalam bagi para orangtua. meningkat saat ini, menimbulkan kecemasan yang dalam bagi para orangtua. Hingga saat ini belum dapat ditemukan penyebab pasti dari gangguan autisme ini, Hingga saat ini belum dapat ditemukan penyebab pasti dari gangguan autisme ini, sehingga belum dapat dikembangkan cara pencegahan dan penanganan yang sehingga belum dapat dikembangkan cara pencegahan dan penanganan yang tepat. Pada

tepat. Pada awalnya autisme dipandanawalnya autisme dipandang sebagai ganggg sebagai gangguan yang uan yang disebabkan olehdisebabkan oleh faktor psikologis yaitu pola pengasuhan orangtua yang tidak hangat secara faktor psikologis yaitu pola pengasuhan orangtua yang tidak hangat secara emosional, tetapi barulah sekitar tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang emosional, tetapi barulah sekitar tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

(Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya, miskin, di Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya, miskin, di desa di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan desa di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan  budaya di

 budaya di dunia. dunia. Jumlah Jumlah anak anak yang tyang terkena erkena autisme autisme semakin semakin meningkat meningkat pesat pesat didi  berbagai

 berbagai belahan belahan dunia, dunia, kondisi kondisi ini ini menyebabkan banyak menyebabkan banyak orangtua orangtua menjadi menjadi was- was-was sehingga sedikit saja anak menunjukkan gejala yang dirasa kurang normal was sehingga sedikit saja anak menunjukkan gejala yang dirasa kurang normal selalu dikaitkan dengan gangguan autisme. Di California pada tahun 2002 selalu dikaitkan dengan gangguan autisme. Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan disimpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 15.000-60.000 anak dibawah 15 tahun. Di Indonesia yang autisme terjadi pada 15.000-60.000 anak dibawah 15 tahun. Di Indonesia yang  berpenduduk

 berpenduduk 200 200 juta juta lebih, lebih, hingga hingga saat saat ini ini belum belum diketahui diketahui berapa berapa persisnyapersisnya  jumlah

 jumlah penderita, penderita, namun namun diperkirakan jumlah diperkirakan jumlah anak anak autisme autisme dapat dapat mencapai mencapai 150- 150-200 ribu orang. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, 200 ribu orang. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

(Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

Autisme termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui Autisme termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui  pemeriksaan

 pemeriksaan yang yang teliti teliti di di rumah rumah sakit, sakit, dokter dokter atau atau sekolah sekolah khusus. khusus. Dewasa Dewasa iniini terdapat kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme terdapat kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantil) yang datang pada praktek neurologi dan praktek dokter lainnya. infantil) yang datang pada praktek neurologi dan praktek dokter lainnya.

(5)

Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan  bicara,

 bicara, perilaku perilaku aneh aneh dan dan acuh acuh tak tak acuh, acuh, atau atau cemas cemas apakah apakah anaknya anaknya tuli tuli (Yeni,(Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

Murni, & Oktora, 2009).

Terapi anak autisme membutuhkan deteksi dini, intervensi edukasi yang Terapi anak autisme membutuhkan deteksi dini, intervensi edukasi yang intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih baik, dan intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih baik, dan  peran

 peran serta serta orang orang tua tua sehingga sehingga melibatkan melibatkan banyak banyak bidang, bidang, baik baik bidangbidang kedokteran, pendidikan, psikologi maupun bidang sosial. Dalam bidang kedokteran, pendidikan, psikologi maupun bidang sosial. Dalam bidang kedokteran, untuk menangani masalah autisme dengan pengobatan khususnya kedokteran, untuk menangani masalah autisme dengan pengobatan khususnya medika mentosa, di bidang pendidikan dapat dilakukan dengan memberikan medika mentosa, di bidang pendidikan dapat dilakukan dengan memberikan latihan pada orang tua penderita. Terapi perkembangan perilaku dapat dilakukan latihan pada orang tua penderita. Terapi perkembangan perilaku dapat dilakukan dalam bidang psikologi, sedangkan mendirikan yayasan autisme sebagai lembaga dalam bidang psikologi, sedangkan mendirikan yayasan autisme sebagai lembaga yang mampu secara profesional menangani masalah autisme adalah salah satu yang mampu secara profesional menangani masalah autisme adalah salah satu contoh yang dilakukan dalam bidang sosial (Yeni,

contoh yang dilakukan dalam bidang sosial (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).Murni, & Oktora, 2009).

Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku otak, autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi. Sejauh ini masih belum dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi. Sejauh ini masih belum terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan faktor risikonya sehingga terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan faktor risikonya sehingga strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat ini tujuan strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat ini tujuan  pencegahan

 pencegahan mungkin hamungkin hanya nya sebatas sebatas untuk untuk mencegah mencegah agar agar gangguan gangguan yang teyang terjadirjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autisme (Yeni, Murni, & tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autisme (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

(6)

BAB II

LAPORAN KASUS

ANAMNESIS

Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L Alamat : Jalan Radial Blok 45 Lt 3 Agama : Islam

Pekerjaan : Belum Bekerja Status perkawinan : Belum Kawin Tanggal pemeriksaan : 08-05-2018 Dokter muda : Jennifer dan Fidella

I. ANAMNESIS

1. KELUHAN UTAMA

Anak belum dapat berbicara dengan jelas pada usia saat ini (3 tahun) 2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien dibawa ke poli Rehabilitasi Medik RSMH dengan keluhan anak belum dapat berbicara dengan jelas pada saat usia saat ini. Hal ini dirasakan oleh ibu sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu. Ibu menyadari jika anaknya tidak sama dengan anak lainnya yang seusia pasien saat ini. Ibu pasien mengatakan kalau anaknya belum bisa berbicara, hanya bicara (mengoceh) tanpa arti. Ibu pasien juga mengatakan, anaknya belum bisa mengucapkan “papa-mama” secara spesifik, bahasa yang diucapkan tidak bisa dimengerti, dipanggil tidak menoleh, diberi  perintah tidak dilakukan, serta bila menginginkan sesuatu tidak meminta dengan mengucapkan namun dengan menarik tangan ibunya. Ibu pasien juga mengaku anaknya sangat senang berlari dan melompat, cenderung suka main sendiri dan sangat aktif serta tidak dapat fokus pada satu hal dan cenderung asik dengan dunianya sendiri. Saat ini anak baru bisa mengoceh tanpa arti dan belum bisa membentuk kalimat.

3. RIWAYAT PENYAKIT / OPERASI DAHULU

• Anak tidak bisa duduk diam dirumah, keluhan ini dirasakan ibu sejak anak mulai bisa

 berjalan dan berlari. Pasien sulit untuk diperintahkan duduk diam sebentar, atau  beristirahat

• Anak selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan, sangat suka berlari dan melompat, susah

 bila diajak bermain dengan orang lain.

• Anak sering mengoceh sendiri, dengan kata kata yang tidak bisa dimengerti orang lain,

suka tersenyum dan tertawa sendiri bila memandangi sesuatu. Pasien hanya bisa membentuk sepatah patah kata, tidak pernah bisa membentuk sebuah kata lengkap atau kalimat. Tidak bisa mengerti perintah jelas dari orang lain. Sulit diajak komunikasi dengan orang lain.

(7)

PEMERIKSAAN FISIK

Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L

4. RIWAYAT PENYAKIT PADA KELUARGA

- Riwayat penyakit sama : tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama

5. RIWAYAT PEKERJAAN

-6.RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

(8)

PEMERIKSAAN FISIK

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L II. PEMERIKSAAN FISIK

A. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : baik

Kesadaran : E4V5M6 (GCS 15)

Tinggi Badan/ Berat Badan : Cara berjalan/Gait

- Antalgik gait : tidak ada - Hemiparesegait : tidak ada - Steppage gait : tidak ada - Parkinson gait : tidak ada - Tredelenburg gait : tidak ada

- Waddle gait : tidak ada

- Lain-lain : tidak ada

Bahasa/ bicara

Komunikasi verbal : buruk Komunikasi non verbal : buruk

Tanda vital

Tekanan Darah : 90/60 mm/Hg

 Nadi : 100x/menit, isi cukup irama teratur Pernafasan : 30 x/menit

Suhu : 36,5oC

Kulit : normal

Status Psikis

Sikap : tidak kooperatif Orientasi : normal Ekspresi wajah : baik Perhatian : buruk

(9)

B. Saraf - saraf otak

 Nervus Kanan Kiri

I.  N. Olfaktorius Tidak dilakukan Tidak dilakukan

II.  N. Opticus Tidak dilakukan Tidak dilakukan

III.  N. Occulomotorius Tidak dilakukan Tidak dilakukan IV.  N. Trochlearis Tidak dilakukan Tidak dilakukan V.  N. Trigeminus Tidak dilakukan Tidak dilakukan

VI.  N. Abducens Tidak dilakukan Tidak dilakukan

VII.  N. Fasialis Tidak dilakukan Tidak dilakukan VIII.  N. Vestibulocochlearis Tidak dilakukan Tidak dilakukan IX.  N. Glossopharyngeus Tidak dilakukan Tidak dilakukan

X.  N. Vagus Tidak dilakukan Tidak dilakukan

XI.  N. Accesorius Tidak dilakukan Tidak dilakukan XII.  N. Hypoglossus Tidak dilakukan Tidak dilakukan

C. Kepala

Bentuk : normal

Ukuran : normo cephali

Posisi

- Mata : normal

- Hidung : normal, simetris

- Telinga : normal, simetris

- Mulut : simetris

(10)

PEMERIKSAAN FISIK

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L

D. Leher

Inspeksi : statis, simetris, struma (-), trakea di tengah Palpasi : tidak teraba pembesaran KGB, kaku kuduk (-),

tumor (-), JVP 5-2cmH2O Luas Gerak Sendi

Ante /retrofleksi(n 65/50) :65/50 Laterofleksi (D/S)(n 40/40) :40/40 Rotasi (D/S) (n 45/45) : 45/45 Tes Provokasi

Lhermitte test/ Spurling : tidak dilakukan Test Valsava: tidak dilakukan Distraksi test : tidak dilakukan Test Nafziger: tidak dilakukan

E. Thorax

Bentuk : simetris

Pemeriksaan Ekspansi Thoraks : Eks. & Ins. Maksimum (tidak dilakukan)

Paru-paru

- Inspeksi : statis dan dinamis simetris, retraksi (-)

- Palpasi : stem fremitus kanan=kiri, pelebaran sela iga (-) - Perkusi : sonor di kedua lapangan paru

- Auskultasi : vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Jantung

- Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat - Palpasi : iktus kordis tidak teraba

- Perkusi : batas-batas jantung normal

- Auskultasi : BJ I & II (+) normal, HR 84x/menit, reguler, murmur (-), gallop (-)

(11)

PEMERIKSAAN FISIK Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276  Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L F. Abdomen

- Inspeksi : datar

- Palpasi : lemas, nyeri tekan (-), hepar & lien tidak teraba - Perkusi : timpani, shifting dullness (-)

- Auskultasi : bising usus (+) normal G. Trunkus

Inspeksi

- Simetris : simetris

- Deformitas : tidak ada

- Lordosis : tidak ada

- Scoliosis : tidak ada

- Gibbus : tidak ada

- Hairy spot : tidak ada

- Pelvic tilt : tidak ada

Palpasi

- Spasme otot-otot para vertebrae: tidak ada

-

 Nyeri tekan (lokasi) : tidak ada Luas gerak sendi lumbosakral

- Ante/retro fleksi (95/35) : 95/35 - Laterofleksi (D/S) (40/40) : 40/40 - Rotasi (D/S) (35/35) : 35/35 H. Test provokasi :

- Valsava test : tidak dilakukan - Tes Laseque : tidak dilakukan - Baragard dan Sicard : tidak dilakukan -  Niffziger test : tidak dilakukan - Test SLR : tidak dilakukan - Test: O’Connell : tidak dilakukan

- FNST : tidak dilakukan

- Test Patrick : tidak dilakukan - Test Kontra Patrick : tidak dilakukan - Tes gaernslen : tidak dilakukan

(12)

PEMERIKSAAN FISIK

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L

- Test Kontra Patrick :

-/-- Tes gaernslen : tidak dilakukan

- Test Thomas : tidak dilakukan

- Test Ober’s : tidak dilakukan

-  Nachalasknee flexion test : tidak dilakukan - Yeoman’s hyprextension : tidak dilakukan - Mc.Bride sitting test : tidak dilakukan - Mc. Bridge toe to mouth sitting test : tidak dilakukan

- Test schober : tidak dilakukan

I. Anggota Gerak Atas

Inspeksi kanan kiri

- Deformitas : tidak ada tidak ada

- Edema : tidak ada tidak ada

- Tremor : tidak ada tidak ada

-  Nodus herbenden : tidak ada tidak ada

(13)

-PEMERIKSAAN FISIK /  NEUROLOGI

Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276  Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L Neurologi

Motorik Dextra Sinistra

Gerakan Luas Luas

Kekuatan

Abduksi lengan 5 5

Fleksi siku 5 5

Ekstensi siku 5 5

Ekstensi wrist 5 5

Fleksi jari-jari tangan 5 5

Abduksi jari tangan 5 5

Tonus Eutoni Eutoni

Tropi Eutropi Eutropi

Refleks Fisiologis

Refleks tendon biseps Normal Normal

Refleks tendon triseps Normal Normal

Refleks Patologis

Hoffman Tidak ada Tidak ada

Tromner Tidak ada Tidak ada

Sensorik

Protopatik Normal

Proprioseptik Normal

Vegetatif Tidak ada kelainan

Penilaian fungsi tangan Kanan Kiri

- Anatomical normal normal

- Grips normal normal

- Spread normal normal

- Palmar abduct normal normal

- Pinch normal normal

(14)

PEMERIKSAAN FISIK / LGS

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L

Luas Gerak Sendi Aktif

Dextra Aktif Sinistra Pasif Dextra Pasif Sinistra Abduksi Bahu 0-180 0-180 0-180 0-180 Adduksi Bahu 180-0 180-0 180-0 180-0 Fleksi bahu 0-180 0-180 0-180 0-180 Extensi bahu 0-60 0-60 0-60 0-60 Endorotasi bahu (f0) 90-0 90-0 90-0 90-0 Eksorotasi bahu (f0) 0-90 0-90 0-90 0-90 Endorotasi bahu (f90) 90-0 90-0 90-0 90-0 Eksorotasi bahu (f90) 0-90 0-90 0-90 0-90 Fleksi siku 0-150 0-150 0-150 0-150 Ekstensi siku 150-0 150-0 150-0 150-0

Ekstensi pergelangan tangan 0-70 0-70 0-70 0-70

Fleksi pergelangan tangan 0-80 0-80 0-80 0-80

Supinasi 0-90 0-90 0-90 0-90

Pronasi 0-90 0-90 0-90 0-90

Fleksi jari-jari tangan 0-90 0-90 0-90 0-90

Test Provokasi kanan kiri

- Yergason test : tidak dilakukan tidak dilakukan - Apley scratch test : tidak dilakukan tidak dilakukan - Moseley test : tidak dilakukan tidak dilakukan - Adson maneuver : tidak dilakukan tidak dilakukan

- Tinel test : tidak dilakukan tidak dilakukan

- Phalen test : tidak dilakukan tidak dilakukan

- Prayer test : tidak dilakukan tidak dilakukan

- Finkelstein : tidak dilakukan tidak dilakukan

(15)

PEMERIKSAAN FISIK Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276  Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L I. Anggota Gerak Bawah

Inspeksi kanan kiri

- Deformitas : tidak ada tidak ada

- Edema : tidak ada tidak ada

- Tremor : tidak ada tidak ada

Palpasi

-  Nyeri tekan (lokasi) : tidak ada tidak ada

- Diskrepansi : tidak ada tidak ada

Neurologi

Motorik Kanan Kiri

Gerakan luas Luas

Kekuatan

Fleksi paha 5 5

Ekstensi paha 5 5

Ekstensi lutut 5 5

Fleksi lutut 5 5

Dorsofleksi pergelangan kaki 5 5

Motorik Kanan Kiri

Dorsofleksi ibu jari kaki 5 5

Plantar fleksi pergelangan kaki 5 5

Tonus Eutoni Eutoni

Tropi Eutropi Eutropi

Refleks Fisiologis

Refleks tendo patella Normal Normal

(16)

PEMERIKSAAN FISIK

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : L

Refleks Patologis

Babinsky Tidak ada Tidak ada

Chaddock Tidak ada Tidak ada

Sensorik

Protopatik Normal

Proprioseptik Normal

Vegetatif Tidak ada Kelainan

Luas Gerak Sendi

Luas Gerak Sendi Aktif

Dextra Aktif Sinistra Pasif Dextra Pasif Sinistra Fleksi paha 0- 30 0-45 0-45 0-45 Ekstensi paha 0-30 0-30 0-30 0-30 Endorotasi paha 0-35 0-35 0-35 0-35 Adduksi paha 0-15 0-15 0-15 0-15 Abduksi paha 0-45 0-45 0-45 0-45 Fleksi lutut 0-110 0-110 0-110 0-110 Ekstensi lutut 0-100 0-120 0-120 0-120

Dorsofleksi pergelangan kaki 0-20 0-20 0-20 0-20 Plantar fleksi pergelangan kaki 0-50 0-50 0-50 0-50

Inversi kaki 0-35 0-35 0-35 0-35

Eversi kaki 0-20 0-20 0-20 0-20

Tes Provokasi Sendi Lutut kanan kiri

Stes test tidak dilakukan tidak dilakukan

Drawer’s test tidak dilakukan tidak dilakukan

Test tunel pada sendi lutut tidak dilakukan tidak dilakukan

Test homan tidak dilakukan tidak dilakukan

(17)

PEMERIKSAAN FISIK Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276  Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L III. Pemeriksaan Pemeriksaan lainnya

Pemeriksaan refleks – 

refleks primitive pada anak – anak dengan gangguan SSP Righting reaction : tidak dilakukan Reaksi keseimbangan : tidak dilakukan Pemeriksaan lainnya : tidak dilakukan

Bowel test / Bladder test

- Sensorik peri anal : tidak dilakukan - Motorik sphincter ani eksternus : tidak dilakukan - BCR ( Bulbocavernosis Refleks : tidak dilakukan Fungsi luhur

- Afasia : tidak ada - Apraksia : tidak ada

- Agrafia : belum dapat dinilai - Alexia : belum dapat dinilai

IV. Pemeriksaan Penunjang

A. Radiologis : tidak dilakukan

B. Laboratorium : tidak dilakukan

(18)

RESUME

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L V. RESUME

Pasien dibawa ke poli Rehabilitasi Medik RSMH dengan keluhan anak belum dapat berbicara dengan jelas pada saat usia saat ini. Hal ini dirasakan oleh ibu sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu. Ibu menyadari jika anaknya tidak sama dengan anak lainnya yang seusia pasien saat ini. Ibu pasien mengatakan kalau anaknya belum bisa berbicara, hanya bicara (mengoceh) tanpa arti. Ibu pasien juga mengatakan, anaknya belum bisa mengucapkan “papa -mama” secara spesifik,  bahasa yang diucapkan tidak bisa dimengerti, dipanggil tidak menoleh, diberi perintah tidak

dilakukan, serta bila menginginkan sesuatu tidak meminta dengan mengucapkan namun dengan menarik tangan ibunya. Ibu pasien juga mengaku anaknya sangat senang berlari dan melompat, cenderung suka main sendiri dan sangat aktif serta tidak dapat fokus pada satu hal dan cenderung asik dengan dunianya sendiri. Saat ini anak baru bisa mengoceh tanpa arti dan belum  bisa membentuk kalimat. Pasien sulit untuk tidur malam, tidur malam selalu diatas jam 22.00.

Pasien juga sulit untuk tidur siang, sangat jarang sekali tidur siang. Hal ini semakin lama semakin sulit bagi anak untuk dapat diam ketika anak mulai dapat aktif bermain sendiri dan  bertambah parah pada satu tahun ini. Anak selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan, sangat

suka berlari tanpa tujuan dan melompat kesana sini, serta susah bila diajak bermain dengan orang lain. Anak sering mengoceh sendiri, dengan kata kata yang tidak bisa dimengerti orang lain, suka tersenyum dan tertawa sendiri bila memandangi sesuatu. Pasien hanya bisa membentuk sepatah patah kata, tidak pernah bisa membentuk sebuah kata lengkap atau kalimat. Tidak bisa mengerti perintah jelas dari orang lain. Sulit diajak komunikasi dengan orang lain,  Nafsu makan pasien berubah-ubah seringkali baik, namun kadang buruk dan hanya mau minum

susu melalui dot saja. Tidak ada keluhan lain yang diderita anak, tidak ada muntah,

Dari pemeriksaan fisik didapatkan sensorium compos mentis dan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pasien tidak kooperatif dan perhatiannya buruk.

(19)

EVALUASI / DIAGNOSIS Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276  Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L VI. EVALUASI

DIAGNOSIS KLINIS

Diagnosis:

Autisme

(20)

PROGRAM REHABILITASI

 Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L VII. PROGRAM REHABILITASI MEDIK

Fisioterapi

Terapi Panas : tidak dilakukan Terapi Dingin : tidak dilakukan Stimulasi Listrik : tidak dilakukan Terapi Latihan : Tidak dilakukan Okupasi Terapi

ROM Exercise : Tidak ada ADL Exercise : Dilakukan Ortotik Prostetik

Ortotic : Tidak ada

Prostetik : Tidak Ada

Alat bantu ambulansi : Tidak ada Terapi Wicara

Afasia : Dilakukan

Disartria : Tidak Dilakukan

Disfagia : Tidak Dilakukan

Social Medik : Memberikan support mental dan memberikan terapi kepada pasien

Edukasi :

❖ Konsul ke dokter spesialis kejiwaan, untuk pertimbangan penggunaan terapi medikamentosa

(21)

TERAPI

PROGNOSA / FOLLOW UP

Ruang : POLIKLINIK No.Rek.Med : 1045276  Nama : ARKAN PUTERA. C Umur / Jenis : 3 TAHUN/ L VIII. TERAPI MEDIKAMENTOSA

-

Risperidon 0,1 mg + Vitamin B kompleks 1 2

⁄ tablet dalam sediaan pulveres. Diminum 2x1 hari.

IX . PROGNOSA

- Medik : Bonam

- Fungsional : Dubia ad bonam

X . FOLLOW UP

Tanggal : 8 Mei 2018

Keluhan :Anak belum dapat berbicara dengan jelas pada usia saat ini (3 tahun)

Pemeriksaan Umum : Tekanan Darah : 90/60 mm/Hg

 Nadi : 100x/menit, isi cukup irama teratur Pernafasan : 30x/menit

Suhu : 36,5oC

VAS Score : 1

(22)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Autisme

Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autism  berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu  penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.

Autisme merupakan salah satu kelompok gangguan pada anak yang ditandai dengan munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya (Sadock, 2007).

B. Epidemiologi

Penyandang autisme pada anak (autisme infantile) dalam kurun waktu 10 sampai 20 tahun terakhir semakin meningkat di dunia. Prevalensi anak autis di dunia pada tahun 1987 diperkirakan 1 berbanding 5.000 kelahiran. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1997, angka itu berubah menjadi 1  berbanding 500 kelahiran. Sedangkan, pada tahun 2000 prevalensi anak autisme meningkat menjadi 1 banding 150 kelahiran dan tahun 2001  perbandingannya berubah menjadi 1:100 kelahiran. Secara global  prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita (lebih kurang 4 kalinya). Sedangkan  penyandang autis di Indonesia diperkirakan lebih dari 400.000 anak (Lubis,

2009). Penelitian yang dilakukan di Brick Township, New Jersey (Bertrand, 2001) melaporkan angka prevalensi autis yaitu 40 per 10.000 untuk anak 3-10 tahun dengan autisme dan 67 per 3-10.000 untuk seluruh spektrum autisme  pada anak-anak. Penelitian terbaru di Canada menyatakan bahwa prevalensi

(23)

autisme mencapai 0,6 sampai 0,7% atau satu berbanding 150 kelahiran (Fombonne, 2009).

C. Etiologi

Etiologi pasti dari autis belum sepenuhnya jelas. Beberapa teori yang menjelaskan tentang aurisme infantil yaitu:

1. Teori psikoanalitik

Teori yang dikemukakan oleh Bruto Bettelheim (1967) menyatakan  bahwa autisme terjadi karena penolakan orangtua terhadap anaknya.

Anak menolak orang tuanya dan mampu merasakan persaan negatif mereka. Anak tersebut meyakini bahwa dia tidak memiliki dampak apapun pada dunia sehingga menciptakan “benteng kekosongan” untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan kekecewaan (Lubis, 2009).

2. Genetik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki 3-4 kali beresiko lebih tinggi dari wanita. Sementara risiko autis jika memiliki saudara kandung yang juga autis sekitar 3% (Kasran, 2003). Kelainan dari gen  pembentuk metalotianin juga berpengaruh pada kejadian autis. Metalotianin adalah kelompok protein yang merupakan mekanisme kontrol tubuh terhadap tembaga dan seng. Fungsi lainnya yaitu  perkembangan sel saraf, detoksifikasi logam berat, pematangan saluran

cerna, dan penguat sistem imun. Disfungsi metalotianin akan menyebabkan penurunan produksi asam lambung, ketidakmampuan tubuh untuk membuang logam berat dan kelainan sisten imun yang sering ditemukan pada orang autis. Teori ini juga dapat menerangkan penyebab lebih berisikonya laki-laki dibanding perempuan. Hal ini disebabkan karena sintesis metalotianin ditingkatkan oleh estrogen dan progesteron (Kasran, 2003).

3. Studi biokimia dan riset neurologis

Pemeriksaan post-mortem otak dari beberapa penderita autistik menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang

(24)

 berkembang yaitu amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini  bertanggung jawab atas emosi, agresi, sensory input, dan belajar. Penelitian ini juga menemukan adanya defisiensi sel Purkinye di serebelum. Dengan menggunakan  Magnetic Resonance Imaging  (MRI), telah ditemukan dua daerah di serebelum, lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih kecil dari pada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang bertanggung jawab atas perhatian. Dari segi biokimia jaringan otak, banyak penderita- penderita autistik menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah dan

cairan serebrospinal dibandingkan dengan orang normal (Kasran,2003).

D. Patogenesis Autisme

Penyebab terjadinya autisme sangat beraneka ragam dan tidak ada satupun yang spesifik sebagai penyebab utama dari autisme. Ada indikasi  bahwa faktor genetik berperan dalam kejadian autisme. Dalam suatu studi yang melibatkan anak kembar terlihat bahwa dua kembar monozygot (kembar identik) kemungkinan 90% akan sama-sama mengalami autisme; kemungkinan pada dua kembar dizygot (kembar fraternal) hanya sekitar 5-10% saja (Kasran, 2003).

Sampai sejauh ini tidak adagen spesifik autisme yang teridentifikasi meskipun baru-baru ini telah dikemukakan terdapat keterkaitan antaragen serotonin-transporter. Selain itu adanya teori opioid yang mengemukakan  bahwa autisme timbul dari beban yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh opioid pada saat usia dini. Opioid kemungkinan besar adalah eksogen dan opioid merupakan perombakan yang tidak lengkap dari gluten dan casein makanan. Meskipun kebenarannya diragukan, teori ini menarik banyak  perhatian. Pada dasarnya, teori ini mengemukakan adanya barrier yang defisien di dalam mukosa usus, di darah-otak(blood-brain) atau oleh karena adanya kegagalan peptida usus dan peptida yang beredar dalam darah untuk mengubah opioid menjadi metabolit yang tidak bersifat racun dan menimbulkan penyakit (Kasran, 2003).  Barrier yang defektif ini mungkin

(25)

diwarisi(inherited ) atau sekunder karena suatu kelainan. Berbagai uraian tentang abnormalitas neural pada autisme telah menimbulkan banyak spekulasi mengenai penyakit ini. Namun, hingga saat ini tidak ada satupun,  baik teori anatomis yang sesuai maupun teori patofisiologi autisme atau tes

diagnostik biologik yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang sebab utama autisme. Beberapa peneliti telah mengamati beberapa abnormalitas  jaringan otak pada individu yang mengalami autisme, tetapi sebab dari abnormalitas ini belum diketahui, demikian juga pengaruhnya terhadap  perilaku (Kasran, 2003).

Kelainan yang dapat dilihat terbagi menjadi dua tipe, disfungsi dalam stuktur neural dari jaringan otak dan abnormalitas biokimia jaringan otak. Dalam kaitannya dengan struktur otak, pemeriksaan post-mortem otak dari  beberapa penderita autistik menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang berkembang yaitu amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini bertanggung jawab atas emosi, agresi, sensory input , dan belajar. Peneliti ini juga menemukan adanya defisiensi sel Purkinye di serebelum. Dengan menggunakan magnetic resonance imaging, telah ditemukan dua daerah di serebelum, lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih kecil daripada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang bertanggung jawab atas perhatian. Didukung oleh studi empiris neurofarmakologis dan neurokimia pada autisme, perhatian banyak dipusatkan pada neurotransmitter dan neuromodulator, pertama sistem dopamine mesolimbik, kemudian sistem opioid endogen danoksitosin, selanjutnya pada serotonin, dan ditemukan adanya hubungan antara autisme dengan kelainan-kelainan pada sistem tersebut (Kasran, 2003).

Sedangkan dari segi biokimia jaringan otak, banyak penderita-penderita autistik menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah dan cairan serebrospinal dibandingkan dengan orang normal. Perlu disinggung bahwa abnormalitas serotonin ini juga tampak pada penderita down syndrome, kelainan hiperaktivirtas, dan depresi unipoler. Juga terbukti bahwa pada individu autistik terdapat kenaikan dari beta-endorphins, suatu substansi di

(26)

dalam badan yang mirip opiat. Diperkirakan adanya ketidakpekaan individu autistik terhadap rasa sakit disebabkan oleh karena peningkatan kadar betaendorphins ini (Kasran, 2003).

E. Karakteristik, Gambaran Klinis, Kriteria Diagnosis, dan Diagnosis Banding Autisme Infantil

1. Karakteristik

a. Kecenderungannya untuk melengkungkan punggungya ke belakang menjauhi pengasuhnya atau yang merawatnya, untuk menghindari kontak fisik. Mereka umumnya digambarkan sebagai bayi-bayi yang  pasif atau kelewat gaduh (overlay agitated ). Bayi yang pasif adalah mereka yang kebanyakan diam sepanjang waktu dan tidak banyak tuntutan pada orangtuanya. Sedangkan bayi yang gaduh adalah yang hampir selalu menangis tidak ada hentinya pada waktu terjaga (Rapin, 1997).

Kira-kira separuh dari anak-anak autistik menunjukkan  perkembangan yang normal sampai pada usia 1,5-3 tahun; kemudian gejala-gejala autisme mulai timbul. Individu demikian ini sering disebut sebagai menderita autisme “regresif”. Dibandingkan teman-teman sebayanya, anak-anak autistik seringkali ketinggalan dalam hal komunikasi, ketrampilan sosial dan kognisi. Di samping itu, perilaku disfungsional mulai tampak, seperti misalnya, aktivitas repetitif dan  perilaku yang tidak bertujuan (non-goal directed behavior ) (mengayun-ayunkan badan tiada hentinya, melipatlipat tangan), mencederai diri sendiri, bermasalah dalam makan dan tidur, tidak  peka terhadap rasa sakit. Perilaku mencederai diri sendiri seperti menggigit diri sendiri dan membenturkan kepala mungkin merupakan  bentuk stereotipi yang berat dan menurut teori yang baru disebabkan

oleh peningkatan endorphin (Rapin, 1997).

 b. Salah satu karakterisitk yang paling umum pada anak-anak autistik adalah perilaku yang  perseverative, kehendak yang kaku untuk

(27)

melakukan atau berada dalam keadaan yang sama terus-menerus. Apabila seseorang berusaha untuk mengubah aktivitasnya, meskipun kecil saja, atau bilamana anak-anak ini merasa terganggu perilaku ritualnya, mereka akan marah sekali (tantrum).Sebagian dari individu yang autistik ada kalanya dapat mengalami kesulitan dalam masa transisinya ke pubertas karena perubahan-perubahan hormonal yang terjadi; masalah gangguan perilaku biasa menjadi lebih sering dan lebih berat pada periode ini. Namun demikian, masih banyak juga anak-anak autistik yang melewati masa pubertasnya dengan tenang. Umumnya gejala autisme berupa suatu gangguan sosiabilitasnya, kelainan komunikasi timbal-balik verbal dan nonverbal serta defisit minat dan aktivitas anak. Meskipun kurangnya dorongan untuk  berkomunikasi atau menahan bicara memegang peranan pada semua

anak yang pendiam, anak-anak dengan autisme benar-benar mengalami gangguan berbahasa. Pemahaman dan penggunaan bahasa untuk komunikasi serta gerak tubuh(gesture) benar-benar defisien. Ketidakmampuan untuk menerjemahkan stimuli akustik menyebabkan anak-anak autistik mengalami agnosia auditorik verbal; mereka tidak mengerti bahasa atau hanya mengerti sedikit sehingga tidak dapat berbicara dan tetap tinggal dalam situasi nonverbal (Rapin, 1997).

c. Anak-anak dengan autisme yang tidak begitu berat, dengan kelainan reseptif-ekspresif, menunjukkan daya pengertian (comprehension) yang lebih baik dari pada kemampuannya untuk berekspresi sehingga  pada mereka itu tampak artikulasinya buruk dan mereka tidak memiliki kepandaian gramatis. Kelompok anak-anak autistik lain yang kepandaian bicaranya terlambat, mungkin dapat berkembang cepat dari keadaan diam menjadi lancar berbicara dengan kalimat-kalimat yang jelas dan tersusun baik, tetapi mereka ini cenderung repetitif, non-komunikatif dan sering pula ditandai dengan echolalia yang berkelebihan (Rapin, 1997).

(28)

d. Sekitar 75% penderita autisme adalah mereka dengan keterbelakangan mental (mentally retarded ). Derajat kognitif individu ini secara bermakna berkaitan dengan beratnya gejala autisme. Tes IQ  pra-sekolah tidak dapat meramalkan hasil yang dapat diandalkan karena beberapa anak dengan program perawatan yang efektif menunjukkan perbaikan yang nyata. Hasil dari uji neuropsikologis secara khas menunjukkan suatu profil kognitif yang tidak merata, di mana keterampilan nonverbal umumnya lebih tinggi dari pada keterampilan verbal (kecuali pada sindrom asperger di mana pola yang sebaliknya terlihat). Pemahaman yang buruk dari apa yang orang lain pikirkan, menetap sepanjang hidup dan kreativitas mereka  biasanya terbatas. Anak-anak autistik dapat menunjukan reaksi yang  paradoksikal terhadap suatu stimuli sensori; kadang-kadang hipersensitif dan kadang-kadang tidak menghiraukan suara atau bunyi tertentu, stimuli taktil atau rasa sakit. Persepsi visual biasanya jauh lebih baik dari pada persepsi auditorik (Rapin, 1997).

2. Gambaran Klinis

Tanda-tanda awal pada pasien autisme berkaitan dengan usia anak. Usia anak dimana sindroma autisme dapat dikenal merupakan kunci untuk segera melakukan intervensi berupa pelatihan dan pendidikan dini.  National Academy of Science USA menganjurkan bahwa pendidikan dini merupakan kunci keberhasilan bagi seorang anak dengan sindroma autisme. Pada umumnya semua peneliti sepakat bahwa sindroma autisme merupakan diagnosis sekelompok anak dengan kekurangan dalam bidang sosialisasi, komunikasi dan afeksi. Mereka juga sepakat bahwa mengenal tanda-tanda awal autisme yaitu sejak usia dini (bayi baru lahir bahkan sebelum lahir) sangat penting untuk upaya penanggulangan.

Gejala autisme infantil dapat timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia satu tahun. Hal yang sangat

(29)

menonjol adalah tidak ada kontak mata dan kurang minat untuk  berinteraksi dengan orang lain.

Menurut Acocella (1996) ada banyak tingkah laku yang tercakup dalam autisme dan ada 4 gejala yang selalu muncul, yaitu:

a. Isolasi sosial

Banyak anak autis yang menarik diri dari segala kontak social ke dalam suatu keadaan yang disebut extreme autistic aloneness. Hal ini akan semakin terlihat pada anak yang lebih besar, dan ia akan  bertingkah laku seakan-akan orang lain tidak pernah ada. Gangguan

dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri.

 b. Kelemahan kognitif

Sebagian besar (± 70%) anak autis mengalami retardasi mental (IQ < 70) tetapi anak autis sedikit lebih baik, contohnya dalam hal yang berkaitan dengan kemampuan sensori montor. Terapi yang dijalankan anak autis meningkatkan hubungan social mereka tapi tidak menunjukkan pengaruh apapun pada retardasi mental yang dialami. Oleh sebab itu, retardasi mental pada anak autis terutama sekali disebabkan oleh masalah kognitif dan bukan pengaruh  penarikan diri dari lingkungan social.

c. Kekurangan dalam bahasa

Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara. Lebih dari setengah anak autis tidak dapat berbicara, yang lainnya hanya mengoceh, merengek, menjerit, atau menunjukkan ekolali, yaitu menirukan apa yang dikatakan orang lain. Beberapa anak autis mengulang potongan lagu, iklan TV, atau  potongan kata yang terdengar olehnya tanpa tujuan. Beberapa anak autis menggunakan kata ganti dengan cara yang aneh. Menyebut diri mereka sebagai orang kedua “kamu” atau orang ketiga “dia”. Intinya

(30)

anak autism tidak dapat berkomunikasi dua arah (resiprok) dan tidak dapat terlibat dalam pembicaraan normal.

d. Tingkah laku stereotip

Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya  perlaku yang berlebih (excessive)  dan kekurangan (deficient)  seperti

impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton. Anak autis sering melakukan gerakan yang berulang-ulang secara terus menerus tanpa tujuan yang jelas. Sering berputar-putar, berjingkat- jingkat, dan lain sebagainya. Gerakan yang dilakukan berulang-ulang ini disebabkan oleh adanya kerusakan fisik. Misalnya karena adanya gangguan neurologis. Anak autis juga mempunyai kebiasaan menarik-narik rambut dan menggigit jari. Walaupun sering menangis kesakitan akibat perbuatannya sendiri, dorongan untuk melakukan tingkah laku yang aneh ini sangat kuat dalam diri mereka. Anak autis juga tertarik  pada hanya bagian-bagian tertentu dari sebuah objek. Misalnya pada roda mainan mobil-mobilannya. Anak autis juga menyukai keadaan lingkungan dan kebiasaan yang monoton.

3. Kriteria Diagnosis Gangguan Autisme

Menurut DSM IV-TR (APA, 2000) kriteria diagnosis gangguan autisme adalah:

A. Sejumlah enam hal atau lebih dari 1, 2, dan 3, paling sedikit dua dari 1 dan satu masing-masing dari 2 dan 3:

1. Secara kualitatif terdapat hendaya dalam interaksi social sebagai manifestasi paling sedikit dua dari yang berikut:

a. Hendaya di dalam perilaku non verbal seperti pandangan mata ke mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, dan gerak terhadap rutinitas dalam interaksi sosial.

 b. Kegagalan dalam membentuk hubungan pertemanan sesuai tingkat perkembangannya.

(31)

c. Kurang kespontanan dalalm membagi kesenangan, daya pikat atau pencapaian akan orang lain, seperti kurang memperlihatkan, mengatakan atau menunjukkan objek yang menarik.

d. Kurang sosialisasi atau emosi yang labil.

2. Secara fluktuatif terdapat hendaya dalam komunikasi sebagai menifestasi paling sedikit satu dari yang berikut:

a. Keterlambatan atau berkurangnya perkembangan berbicara (tidak menyertai usaha mengimbangi cara komunikasi alternatif seperti gerak isyarat atau gerak meniru-niru)

 b. Individu berbicara secara adekuat, hendaya dalam menilai atau meneruskan pembicaraan orang lain.

c. Menggunakan kata berulang kali dan stereotip dan kata-kata aneh.

d. Kurang memvariasikan gerakan spontan yang seolah-olah atau  pura-pura bermain seuai tingkat perkembangan.

3. Tingkah laku berulang dan terbatas, tertarik dan aktif sebagai manifestasi paling sedikit satu dari yang berikut:

a. Keasyikan yang meliputi satu atau lebih stereotip atau kelainan dalam intensitas maupun focus perhatian akan sesuatu yang terbatas.

 b. Ketaatan terhadap hal-hal tertentu tampak kaku, rutinitas atau ritual pun tidak fungsional.

c. Gerakan stereotip dan berulang misalnya memukul, memutar arah jari dan tangannya serta meruwetkan gerakan seluruh tubuhnya.

d. Keasyikan terhadap bagian-bagian objek yang stereotip.

B. Keterlambatan atau kelainan fungsi paling sedikit satu dari yang  berikut ini dengan serangan sebelum sampai usia 3 tahun :

1. Interaksi sosial

(32)

3. Permainan simbol atau imaginatif.

C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan disintegrasi masa anak.

Autisme infantil berdasarkan pedoman diagnostik PPDGJ III, antara lain:

a. Biasanya tidak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi  jika dijumpai, abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun.

 b. Selalu dijumpai hendaya kualitatif dalam interaksi sosialnya. Ini  berbentuk tidak adanya apresiasi adekuat terhadap isyarat sosio

emosional yang tampak bagai kurangnya respon terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat social dan lemah dalam integrasi perilaku sosial, emosional dan komunikatif; dan khususnya, kurangnya respon timbal balik sosial emosional.

c. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini  berbentuk kurangnya penggunaan sosial dari kemampuan bahasa yang ada; hendaya dalam permainan imaginatif dan imitasi sosial;  buruknya keserasian dan kurangnya interaksi timbal balik dalam  percakapan; buruknya fleksibilitas dalam bahasa ekspresif dan relatif kurang dalam kreativitas dan fantasi dalam proses pikir; kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan nonverbal orang lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama atau tekanan modulasi komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau mengartikan komunikasi lisan.

d. Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas, pengulangan dan stereotipik. Ini berbentuk kecendrungan untuk bersikap kaku dan rutin dalam aspek kehidupan sehari-hari; ini  biasanya berlaku untuk kegiatan baru atau kebiasaan sehari-hari yang

rutin dan pola bermain. Terutama sekali dalam masa kanak, terdapat kelekatan yang aneh terhadap benda yang tak lembut. Anak dapat memaksa suatu kegiatan rutin seperti upacara dari kegiatan yang

(33)

sebetulnya tidak perlu; dapat menjadi preokupasi yang stereotipik dengan perhatian pada tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipik motorik; sering menunjukkan perhatian yang khusus terhadap unsur sampingan dari benda (seperti bau dan rasa); dan terdapat penolakan terhadap perubahan dari rutinitas atau dalam tata ruang dari lingkungan pribadi (seperti perpindahan dari hiasan dalam rumah).

e. Anak autisme sering menunjukkan beberapa masalah yang tak khas seperti ketakutan/fobia, gangguan tidur dan makan, mengadat (terpertantrum) dan agresivitas. Mencederai diri sendiri (seperti menggigit tangan) sering kali terjadi, khususnya jika terkait dengan retardasi mental. Kebanyakan individu dengan autis kurang dalam spontanitas, inisiatif dan kreativitas dalam mengatur waktu luang dan mempunyai kesulitan dalam melaksanakan konsep untuk menuliskan sesuatu dalam pekerjaan (meskipun tugas mereka tetap dilaksanakan  baik).

Abnormalitas perkembangan harus tampak dalam usia 3 tahun untuk dapat menegakkan diagnosis, tetapi sindrom ini dapat didiagnosis  pada semua usia.

4. Diagnosis Banding

Beberapa diagnosis banding autisme infantil, antara lain: a. Gangguan perkembangan pervasif yang lainnya

Beberapa kelainan yang dimasukkan dalam kelompok ini adalah anak-anak yang mempunyai ciri-ciri autisme, yaitu gangguan  perkembangan sosial, bahasa, dan perilaku, namun cirri lainnya  berbeda dengan autism infantil. Gangguan ini adalah sebagai berikut:

1) Sindroma Rett

Sindroma Rett adalah penyakit otak yang progresif tapi khusus mengenai anak perempuan. Perkembangan anak sampai usia 5 bulan normal, namun setelah itu mundur. Umumnya

(34)

kemunduran yang terjadi sangat parah meliputi perkembangan  bahasa, interaksi social maupun motoriknya.

2) Sindroma Asperger

Pada sindroma Asperger mempunyai ketiga ciri autism namun masih memiliki intelegensia yang baik dan kemampuan  bahasanya juga hanya terganggu dalam derajat ringan. Oleh karena itu, sindroma Asperger sering disebut sebagai “high  functioning autism”.

Gangguan Asperger berbeda berbeda dengan autism infantil. Onset usia autisme infantile terjadi lebih awal dan tingkat keparahannya lebih parah dibandingkan gangguan Asperger. Pasien autisme infantil menunjukkan penundaan dan  penyimpangan dalam kemahiran berbahasa serta adanya gangguan kognitif. Oral vocabulary test  menunjukkan keadaan yang lebih  baik pada gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih  berat pada autisme. Selain itu ditemukan adanya manerisme motorik sedangkan pada gangguan Asperger yang menonjol adalah perhatian terbatas dan motorik yang canggung, serta gagal mengerti isyarat nonverbal. Lebih sulit membedakan gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambaran IQ yang lebih baik daripada autisme infantil, kecuali autisme infantil high  functioning. Batas antara gangguan Asperger dan high functioning autism  untuk gangguan berbahasa dan gangguan belajar sangat kabur. Gangguan Asperger mempunyai verbal intelligence  yang normal sedangkan autisme infantil mempunyai verbal intelligence yang kurang. Gangguan Asperger mempunyai empati yang lebih  baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun keduanya

mengalami kesulitan berempati 3) Sindroma Disintegratif

(35)

Sindroma ini ditandai dengan kemunduran dari apa yang telah dicapai setelah umur 2 tahun, paling sering sekitar umur 3-4 tahun. Gangguan ini sangat jarang terjadi dan paling sering mengenai anak laki-laki dibanding perempuan.

 b. Gangguan perkembangan bahasa (disfasia)

Disfasia terjadi karena gangguan perkembangan otak hemisfer kiri, sebagai daerah pusat berbahasa. Ada beberapa subtipe gangguan ini yang menyerupai dengan autism infantil khususnya ditinjau dari  perkembangan bahasa wicaranya. Bedanya pada disfasia tidak

terdapat perilaku repetitive maupun obsesif.

Kriteria Autisme Infantil Disfasia Insidensi 2-5 dalam 10.000 5 dalam 10.000 Ratio jenis kelamin

(Laki-laki:Perempuan)

3-4 : 1 sama atau hampir

sama Riwayat keluarga adanya

keterlambatan bicara / gangguan bahasa

25 % kasus 25 % kasus

Ketulian yang berhubungan sangat jarang tidak jarang Komunikasi nonverbal tidak ada/rudimenter  Ada

Kelainan bahasa (misalnya ekolalia, frasa stereotipik di luar konteks)

lebih sering lebih jarang

Gangguan artikulasi lebih jarang lebih sering

Tingkat intelegensia sering terganggu parah walaupun mungkin terganggu, seringkali kurang parah

Pola test IQ tidak rata, rendah pada skor verbal, rendah  pada sub test

 pemahaman

lebih rata, walaupun IQ verbal lebih rendah dari IQ kinerja

Perilaku autistik, gangguan kehuidupan sosial, aktivitas

lebih sering dan lebih  parah

tidak ada atau jika ada, kurang parah

(36)

Permainan imaginative tidak ada/rudimenter   biasanya ada

c. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak

Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental yang lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak autistik.

Kriteria Autisme Infantil Skizofrenia dengan onset masa anak-anak  Usia onset <36 bulan >5 tahun

Insidensi 2-5 dalam 10.000 Tidak diketahui, kemungkinan sama atau bahkan lebih  jarang

Rasio jenis kelamin (Laki-laki:Perempuan)

3-4:1 1,67:1

Status sosioekonomi Lebih sering pada sosioekonomi tinggi

Lebih sering pada sosioekonomi rendah Penyulit prenatal dan

 perinatal dan disfungsi otak 

Lebih sering pada gangguan

autistik 

Lebih jarang pada skizofrenia

Karakteristik perilaku Gagal untuk mengembangkan hubungan : tidak ada  bicara (ekolalia); frasa

stereotipik; tidak ada atau buruknya  pemahaman bahasa; kegigihan atas kesamaan dan stereotipik. Halusinasi dan waham, gangguan  pikiran

(37)

terganggu

Tingkat inteligensi Pada sebagian besar kasus

subnormal, sering terganggu parah (70%)

Dalam rentang normal

Kejang grand mal 4-32% Tidak ada atau insidensi rendah

d. Retardasi Mental (RM)

Hal yang tidak mudah untuk membedakan autisme infantil dengan retardasi mental, sebab autisme juga sering disertai retardasi mental. Kira-kira 40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat, dan anak yang teretardasi mungkin memiliki gejala  perilaku yang termasuk ciri autistik. Pada retardasi mental tidak terdapat 3 ciri pokok autism secara lengkap. Retardasi mental adalah gangguan intelegensi, biasanya diketahui setelah anak sekolah karena ketidaksanggupan anak mengikuti pelajaran formal. Pembagian retardasi mental mental dilihat dari kemampuan  Intelligent Quetient (IQ), retardasi mental ringan IQ 55-70, RM sedang IQ 40-55, RM  berat 25-40, RM sangat berat IQ < 25.

Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi mental adalah:

1) Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau anak-anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.

2) Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain. 3) Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan

fungsi

e. Afasia didapat dengan kejang

Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang sulit dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-anak. Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum kehilangan bahasa reseptif dan

(38)

ekspresifnya selama periode beberapa minggu atau beberapa bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi dengan gangguan bahasa residual yang cukup besar

f. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah

Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak tersebut sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif terhadap bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik mungkin jarang berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh yang relatif normal dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan-1 tahun.

Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau potensial cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak yang tuli. Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat dengan orang tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang digendong.

g. Pemutusan psikososial

Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti  pemisahan dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh) dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing. Keterampilan bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda tersebut hamper selalu membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam lingkungan psikososial yang menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik.

(39)

F. Anamnesis dan Pemeriksaan Psikiatri Autisme Infantil 1. Anamnesis

Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia:

a. Usia 0-6 bulan

1) Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis) 2) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

3) Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi 4) Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu

5) Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan

6) Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal  b. Usia 6-12 bulan

1) Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis) 2) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

3) Gerakan tangan dan kaki berlebihan 4) Sulit bila digendong

5) Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan 6) Tidak ditemukan senyum sosial

7) Tidak ada kontak mata

8) Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal c. Usia 1-2 tahun

1) Kaku bila digendong

2) Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da) 3) Tidak mengeluarkan kata

4) Tidak tertarik pada boneka

5) Memperhatikan tangannya sendiri

6) Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus 7) Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

(40)

1) Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain 2) Melihat orang sebagai “benda”

3) Kontak mata terbatas

4) Tertarik pada benda tertentu 5) Kaku bila digendong

e. Usia 4-5 tahun

1) Sering didapatkan ekolalia (membeo)

2) Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar) 3) Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah

4) Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) 5) Temperamen tantrum atau agresif

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu (Sartika, Dinda. 2011):

a. Interaksi sosial

1) tidak tertarik bermain bersama teman 2) lebih suka menyendiri

3) tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk  bertatapan

4) senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan

 b. Komunikasi

1)  perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada 2) senang meniru atau membeo (ekolali)

3) anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna

4) mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain

5)  bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya

(41)

6) sebagian dari anak ini tidak berbicara (nonverbal) atau sedikit  bicara (kurang verbal) sampai usia dewasa

c. Pola bermain

1) tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya

2) senang akan benda-benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda, gasing.

3) tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik atau rodanya diputar-putar.

4) dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

d. Gangguan sensoris

1)  bila mendengar suara keras langsung menutup telinga

2) sering menggunakan indera pencium dan perasanya, seperti senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.

3) dapat sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.

4) dapat sangat sensitif terhadap rasa takut dan rasa sakit. e. Perkembangan terlambat atau tidak normal

1)  perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam keterampilan sosial, komunikasi, dan kognisi.

2) dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemusian menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat  bicara kemudian hilang.

f. Penampakan gejala

1) gejala di atas dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada.

2)  pada beberapa anak sekitar umur 5-6 tahun, gejala tampak agak  berkurang.

Gejala yang juga sering tampak adalah dalam bidang : a. Perilaku

(42)

1) memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke TV, lari/berjalan bolak-balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang.

2) tidak suka pada perubahan

3) dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong  b. Emosi

1) sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.

2) kadang suka menyerang dan merusak.

3) kadang berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri

4) tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain. 2. Pemeriksaan Psikiatri

a. Kesan Umum : tampak sakit jiwa  b. Kesadaran : compos mentis

c. Sikap : hipoaktif

d. Tingkah laku : senyum sendiri, bicara sendiri, stereotipi e. Orientasi : baik/buruk

f. Bentuk pikir : autistik g. Isi pikir : waham bizarre

h. Progresi pikir : neologisme, ekolali, inkoherensi, irrelevansi i. Roman muka : sedikit mimik

 j. Afek : inappropiate k. Persepsi : halusinasi (+)

l. Perhatian : sulit ditarik, sulit dicantum m. Hubungan jiwa : sulit

n.  Insigth : buruk

G. Penatalaksanaan Autisme

Sampai saat ini tidak ada obat-obatan atau cara lain yang dapat menyembuhkan autisme. Meskipun demikian, obat-obat antidepresan yang

(43)

 bersifat seratogenik dapat mengendalikan gejala-gejala stereotipi dan  perubahan-perubahan iklim perasaan, tetapi masih diperlukan suatu  penelitian klinis lebih lanjut dan lebih terkendali dari obat-obat ini (Kasran,

2003).

Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang  paling penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan  Applied  Behavior Analysis  (ABA). Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui  program ABA dapat dibedakan menjadi enam kemampuan dasar, yaitu:

1. Kemampuan memperhatikan

Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk  bisa memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya

atau disebut dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan atau objek yang ada disekelilingnya.

2. Kemampuan menirukan

Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik kasar dan halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar sederhana atau meniru tindakan yang disertai bunyi-bunyian.

3. Bahasa reseptif

Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.

4. Bahasa ekspresif

Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau berkomunikasi verbal.

5. Kemampuan praakademis

Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan  permainan yang mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan stimulus-stimulus di lingkungannya seperti

(44)

bunyi- bunyian serta melatih anak untuk mengembangkan imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-benda yang ada di sekitarnya. 6. Kemampuan mengurus diri sendiri

Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua, anak dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet traning. Kemudian tahap selanjutnya melatih mengenakan  pakaian, menyisir rambut, dan menggosok gigi.

H. Prognosis

Prognosis anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.

2. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil. 3. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya

4. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda.

5. Terapi yang intensif dan terpadu.

Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.

Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif dengan  berbagai terapi.

(45)

BAB IV

ANALISIS KASUS

Berdasarkan anamnesis diketahui bahwa Arkan Putera. C, 3 tahun dibawa ibunya ke poliklinik rehabilitasi medik RSMH dengan keluhan belum bisa  berbicara. Ibu Arkan mengaku sejak 3 bulan lalu, menyadari jika anaknya tidak

sama dengan anak lainnya yang seusia pasien saat ini. Ibu pasien mengatakan kalau anaknya belum bisa berbicara, hanya bicara (mengoceh) tanpa arti. Ibu  pasien juga mengatakan, anaknya belum bisa mengucapkan “papa-mama” secara

spesifik, bahasa yang diucapkan tidak bisa dimengerti, dipanggil tidak menoleh, diberi perintah tidak dilakukan, serta bila menginginkan sesuatu tidak meminta dengan mengucapkan namun dengan menarik tangan ibunya. Ibu pasien juga mengaku anaknya sangat senang berlari dan melompat, cenderung suka main sendiri dan sangat aktif serta tidak dapat fokus pada satu hal dan cenderung asik dengan dunianya sendiri. Saat ini anak baru bisa mengoceh tanpa arti dan belum  bisa membentuk kalimat.

Pasien sulit untuk tidur malam, tidur malam selalu diatas jam 22.00. Pasien  juga sulit untuk tidur siang, sangat jarang sekali tidur siang. Hal ini semakin lama semakin sulit bagi anak untuk dapat diam ketika anak mulai dapat aktif bermain sendiri dan bertambah parah pada satu tahun ini. Anak selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan, sangat suka berlari tanpa tujuan dan melompat kesana sini, serta susah bila diajak bermain dengan orang lain. Anak sering mengoceh sendiri, dengan kata kata yang tidak bisa dimengerti orang lain, suka tersenyum dan tertawa sendiri bila memandangi sesuatu. Pasien hanya bisa membentuk sepatah  patah kata, tidak pernah bisa membentuk sebuah kata lengkap atau kalimat. Tidak  bisa mengerti perintah jelas dari orang lain. Sulit diajak komunikasi dengan orang lain, Nafsu makan pasien berubah-ubah seringkali baik, namun kadang buruk dan hanya mau minum susu melalui dot saja. Tidak ada keluhan lain yang diderita anak, tidak ada muntah.

(46)

Pada pemeriksaan keadaan umum didapatkan hasil dalam batas normal. Dari  pemeriksaan fisik didapatkan sensorium compos mentis dan tanda-tanda vital

dalam batas normal. Pasien tidak kooperatif dan perhatiannya buruk.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis autisme.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Faktor resiko yang paling umum untuk Postherpetic neuralgia adalah usia lanjut, rasa sakit yang lebih berat ketika terjadinya zoster, ruam yang lebih parah, dan

Pada pasien ini didapatkan tanda tanda kehamilan gemelli yakni: 1.) TFU yang tinggi bila dibandingkan usia kehamilan. 2.) Ukuran uterus lebih besar dari yang diharapkan. 3)

Pada pasien ini didapatkan gangguan dalam proses pikir dan penilaian realitas serta tilikan yang kurang, yaitu didapatkan halusinasi auditorik berupa suara ibunya yang

- Stadium IVS (pada pasien usia &lt;12-18 bulan) : tingkat kesembuhan tinggi 85-92% setelah staging dan reseksi tumor tanpa kemoterapi dan atau radioterapi; bayi

Gangguan bipolar terdiri dari afek yang meningkat, dan juga aktivitas yang berlebih (mania atau hipomania), dan dalam jangka waktu yang berbeda terjadi penurunan afek

Pada pria memiliki ke!endrungan lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan dengan anita, dengan perbandingan :.&lt; alaupun para pria lebih raan dari pada anita pada

Umumnya pasien dengan usia dan paritas yang lebih tinggi, kehamilan kembar, ras kulit hitam, onset lambat gejala (&gt; 2 minggu pasca persailnan), trombus

Tabel 1 Diagnosis Banding Atresia Esofagus Diagnosis Onset muntah Usia Warna muntah Interval muntah setelah minum Respon terhadap insersi orogastric tube Tanda distress nafas