BAB III-
1
BAB III
RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN
KEUANGAN DAERAH
Kerangka ekonomi daerah merupakan gambaran sosok perekonomian yang
ada dan pertumbuhannya ke depan. Termasuk di dalamnya arah perkembangan
serta target yang diinginkan serta kebijakan yang direncanakan. Oleh karena itu
dalam bab ini akan digambarkan tiga hal pokok yaitu: pertama tentang kondisi
ekonomi daerah yang ada saat ini dan prakiraan ke depan; yang kedua yaitu
tantangan yang dihadapi; dan ketiga kebijakan yang direncanakan atau
ditetapkan untuk tahun 2015.
3.1. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH
Perkembangan perekonomian Kabupaten Batang 2015 tidak lepas dari
perkembangan ekonomi wilayah Kabupaten sekitar Batang terutama jalur pantai
utara jawa (Pantura Jawa). Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batang relative
lebih rendah disbanding Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2011 pertumbuhan
perekonomian Kabupaten Batang adalah 5,26%, sementara Provinsi Jawa
Tengah 6,0% dan pertumbuhan ekonomi nasional 6,7%. Pada tahun 2011
pertumbuhan ekonomi kabupaten Batang adalah 5,26% dan pada tahun 2012
menurun menjadi 5,02% (Berita BPS-Kab.Batang 2013). Dengan ditetapkannya
target pertumbuhan ekonomi nasional oleh Bank Indonesia pada tahun 2014
adalah sebesar 5,9%, maka diperkirakan pertumbuhan ekonomi Kabupaten
BAB III-
2
Tabel 3.1
Proyeksi Laju Perkembangan Ekonomi Kabupaten Batang Diukur Berdasar Laju Perkembangan PDRB. (Dinyatakan dalam %)
Sektror Ekonomi / Lapangan
Usaha
Data BPS Data Diolah dengan Trend Proyeksi
Rata-rata
2008 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Pertanian 4.56 2.95 2.38 4.12 2.54 2.92 2.98 3.60 3.20
Pertambangan dan
Penggalian 2.07 4.4 3.51 2.98 4.66 3.85 3.35 3.67 3.66
Industri Pengolahan 2.24 4.83 5.72 1.78 3.68 5.11 4.06 2.42 3.56 Listrik, Gas dan Air
Minum 3.97 5.87 2.96 4.25 4.37 4.84 3.24 4.56 4.19
Bangunan dan
Konstruksi 4.72 4.04 3.92 4.67 4.13 4.04 4.22 4.48 4.29 Perdagangan, Hotel
dan Restoran 2.68 5.33 5.93 3.01 5.25 5.35 4.81 3.78 4.51 Pengakutan dan
Komunikasi 2.88 7.16 7.25 3.80 7.23 6.85 5.95 5.05 5.83 Keuangan dan
Lembaga Keuangan 5.95 5.56 6.69 5.00 4.73 6.12 5.93 4.82 5.43
Jasa-jasa 5.57 8.63 9.17 5.72 8.10 8.66 7.78 6.55 7.46
Pertumbuhan PDRB 3.67 4.97 5.72 3.41 4.48 5.21 4.77 3.75 4.41 Sumber : BPS – PDRB Kab. Batang 2011
Data yang disajikan dalam tabel diatas bahwa laju pertumbuhan sector
perekonomian/ lapangan usaha di Kabupaten Batang bervariasi. Tingkat laju
pertumbuhan tertinggi ada pada sector/ lapangan usaha Jasa-jasa dengan
kisaran laju pertumbuhan 5,72 – 9.17%, atau rata-rata 7,46% selama tahun
amatan 2008-2016. Peringkat kedua adalah sector pengangkutan dan
komunikasi dengan laju pertumbuhan antara 2,88 – 7,25% atau rata-rata 5,83%
selama tahun amatan. Peringkat ketiga adalah sektor/ lapangan usaha keuangan
dan jasa-keuangan yang laju pertumbuhannya berkisar 4,73 – 6,69% atau
rata-rata 5.43%.
Berdasarkan kondisi riel seperti ini maka lapangan usaha atau sector yang
layak dan akan dikembangkan adalah jasa pendukung industry disusul sektor
transportasi dan komunikasi termasuk sarana dan prasarananya; sektor jasa
keuangan untuk mendukung berbagai lapangan usaha dan. Kebijakan ini layak
BAB III-
3
berada di Jalur Pantura, berada dan diapit oleh dua Kabupaten yang tingkat
industrinya sudah padat yaitu Kabupaten Kendal dan Kota Pekalongan.
3.1.1. Produk Domestic Regional Bruto
Product Domestic Regional Brutto (PDRB) adalah jumlah nilai barang dan
jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu wilayah ataupun Negara. PDRB
perhitungannya dibedakan menjadi dua yaitu Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)
atau menurut harga pasar yang berlaku saat itu, yang kedua adalah Atas Dasar
Harga Konstan (ADHK) yaitu dilakukan pendeflasian berdasar harga pedoman
tahun tertentu. PDRB ADHK mencerminkan nilai riel produk barang dan jasa
karena sudah dideflasikan/ dihilangkan faktor inflasinya.
Proporsi dalam PDRB menunjukkan dominasi atau sector penting, makin
besar proporsi sumbangan suatu sektor/ lapangan usaha maka makin penting
sector tersebut dan kebijakan akan diarahkan untuk membangun sector tersebut.
Laju pertumbuhan sebuah sektor dibanding rata-rata pertumbuhan PDRB
menunjukkan sektor/ lapangan usaha yang menjadi andalan untuk
dikembangkan.
Untuk mengetahui laju perkembangan ekonomi berdasarkan PDRB berikut
ini disajikan PDRB berdasar data BPS dan proyeksinya ke tahun 2016.
Tabel 3.2
Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan harga Konstan Tahun 2008 - 2016
Tahun
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku PDRB Atas dasar Harga Konstan
2000
(Rp.000) Laju
Perkembangan (Rp.000)
Laju Perkembangan
2008 4,356,752,720 12.32% 2,169,854,547 3.67%
2009 4,685,020,777 7.53% 2,250,616,829 3.72%
2010 5,268,572,816 12.46% 2,362,482,410 4.97%
2011 5,865,055,466 11.32% 2,486,764,617 5.26%
2012 6,488,052,558 10.62% 2,573,925,868 3.51%
2013 7,089,123,992 9.26% 2,687,658,666 4.42%
2014 7,972,213,324 12.46% 2,823,394,669 5.05%
BAB III-
4
Tahun
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku PDRB Atas dasar Harga Konstan
2000
(Rp.000) Laju
Perkembangan (Rp.000)
Laju Perkembangan
2016 9,723,162,182 10.61% 3,063,712,248 3.82%
Sumber : BPS – PDRB Kabupaten Batang 2011
Keterangan : data tahun 2008 – 2011 bersumber dari BPS; Data tahun 2012 – 2016 adalah data proyeksi
Laju pertumbuhan PDRB-Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) berkisar antara
7,53–12,46% selama tahun amatan dan proyeksi, dan rata-rata pertumbuhannya
diperkirakan sebesar kurang lebih 10,80%. PDRB atas dasar harga konstan
berkisar antara 3,51 – 5,26% selama tahun amatan dan proyeksi, dan rata-rata
pertumbuhannya kurang lebih 4,33%.
A. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
PDRB atas dasar harga berlaku merupakan hasil produksi barang dan jasa
penduduk Kabupaten Batang menurut harga saat berlaku atau harga pasar.
Berikut ini pada table 3.3 disajikan perkembangan PDRB Atas Dasar Harga
Berlaku tahun 2008 – 2011 menurut data BPS dan proyeksinya tahun 2012 –
BAB III-
5
Tabel 3.3
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB-ADHB) Tahun 2008 - 2016
No
SEKTOR EKONOMI / LAPANGAN
USAHA
Data BPS Hasil Proyeksi
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
2 Pertambangan dan Penggalian
6 Perdagangan Hotel dan Restoran
BAB III-
6
Data dalam tabel diatas menunjukkan bahwa PDRB-ADHB Kabupaten
Batang selalu mengalami peningkatan dari tahun 2008 – 2011 dan diproyeksikan
pada tahun 2012–2016. Untuk lebih jelasnya laju perkembangannya dalam
persen (%) akan disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 3.4
Laju Pertumbuhan PDRB-ADHB Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2016 dan Rata-ratanya
No.
Sektor / Lapangan
Usaha
Trend Laju Pertumbuhan
Rata-rata
Katerangan: Tahun 2008 – 2011 adalah data BPS, Tahun 2012 – 2016 adalah data Proyeksi
Perkembangan ekonomi Kabupaten Batang berdasarkan PDRB-ADHB
diprediksi berada antara 7,3 – 12,32%, dan rata-ratanya diprediksi berada pada
level kurang lebih 10,76% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ke depan
potensi perkembangan ekonomi berdasar harga pasar (harga berlaku) laju
perkembangannya dapat mencapai sekurang-kurangnya 7,3%, dan rata-ratanya
10,76%.
Berdasarkan laju perkembangan yang ada, maka laju perkembangan yang
level persentasenya lebih besar dari rata-rata PDRB-ADHB akan dijadikan
BAB III-
7
sector jasa-jasa yang nilai perkembngannya 15,29%; hal ini wajar karena
Kabupaten Batang diapit oleh dua Kabupaten Kota dengan sifat industry dan
jasanya maju pesat, dan Kabupaten Batang sendiri berada di jalur Pantura. Dua
wilayah itu adalah kabupaten Kendal dan Kota Pekalongan.
Prioritas kedua adalah sector Keuangan dan Jasa Lembaga Keuangan
dengan laju perkembangan 11,47%. Sektor lapangan usaha ini perlu didorong
karena akan mendukung dan juga terdorong oleh perkembangan sektor-sektor
industri, transportasi dan sektor lain yang berkembang di jalur pantura.
Prioritas ketiga adalah sektor/ lapangan usaha bangunan dan konstruksi
yang laju perkembangannya berkisar antara 7,79 – 14,99% dan rata-rata
perkembangannya mencapai 10,50%. Laju perkembangan ini wajar mengingat
wilayah kabupaten batang berada di jalur pantura sehingga potensi
pembangunan pabrik, jalan dan jembatan menjadi relative tinggi. Oleh karena itu
kebijakan untuk mendorong investasi dapat dilakukan melalui penyediaan sarana
dan prasarana industry, jalan/ transportasi merupakan kebijakan yang penting
untuk diperhatikan dan diprioritaskan.
Berikut ini pada table dibawah disajikan proporsi sumbangan PDRB-ADHB
Kabupaten Batang tahun 2008–2016. Proporsi sumbangan sector/ lapangan
usaha kepada PRDB-ADHB menunjukkan besarnya potensi produksi barang dan
jasa dalam mendukung kemakmuran wilayah.
Tabel 3.5
Proporsi Sumbangan Sektor / Lapangan Usaha kepada PDRB-ADHB Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2016.
No. Sektor /
Lapangan Usaha
Proporsi Sumbangan Per Lapangan Usaha
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Pertanian 29.36% 29.15% 29.36% 28.38% 28.81% 28.57% 28.42% 27.93% 28.22%
2 Pertambangan dan Penggalian
1.20% 1.21% 7.87% 1.12% 1.11% 1.12% 1.13% 1.13% 1.13%
3 Industri Pengolahan 25.86% 25.12% 25.12% 25.61% 24.84% 24.55% 24.73% 24.71% 24.09%
4 Listrik, Gas dan Air Minum
1.41% 1.38% 1.35% 1.30% 1.28% 1.25% 1.21% 1.18% 1.16%
5 Bangunan dan Konstruksi
6.05% 6.16% 5.98% 5.79% 5.95% 5.90% 5.73% 5.69% 5.77%
6 Perdagangan Hotel dan Restoran
BAB III-
8
No. Sektor /
Lapangan Usaha
Proporsi Sumbangan Per Lapangan Usaha
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
7 Pengangkutan dan Komunikasi
3.89% 4.02% 3.86% 3.78% 3.80% 3.81% 3.67% 3.65% 3.66%
8 Keuangan Persewaan dan Jasa Perush
3.85% 3.85% 3.86% 3.86% 3.92% 3.91% 3.92% 3.95% 3.98%
9 Jasa-jasa 12.39% 13.11% 13.48% 14.28% 14.69% 15.46% 16.01% 16.83% 17.41%
PDRB. ATAS DASAR HARGA BERLAKU
100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00%
Sumber : BPS – PDRB Kabupaten batang 2011
Katerangan: Tahun 2008 – 2011 adalah data BPS, Tahun 2012 – 2016 adalah data Proyeksi
Data dalam table diatas menunjukkan bahwa sector / lapangan usaha yang
dominan sebagai penyumbang produksi barang dan jasa di Kabupaten
Batangadalah sector lapangan usaha pertanian dengan proporsi antara 27,93 –
29.36 dengan rata-rata 28,71%. Ini berarti sector pertanian atau SKPD terkait
dengan urusan pertanian dalam arti luas perlu menyusun program kegiatan
untuk mengembangkan sector tersebut.
Penyumbang terbesar kedua adalah sector industry pengolahan yang besar
sumbangannya 24,09 – 25,86% dengan rata-rata 25,11%. Pengembangan dan
perkembangan industry menengah dan kecil maupun besar akan mendapatkan
perhatian dan diantisipasi dengan berbagai program dan kebijakan untuk
mengembangkannya dan menarik investasi. Program dan kebijakan itu antara
lain pelayanan perijinan, perencanaan dan peninjauan / pemantapan RTRW,
penyediaan fasilitas dan instalasi serta penataan lahan.
Penyumbang terbesar ketiga adalah sector Jasa-jasa yang memberikan
kontribusi sebesar 12,39 - 17,41% dengan rata-rata 15,78%. Berdasarkan data
yang ada maka Pemerintah Kabupaten Batang akan mendorong industry / sector
informal dan lainnya yang memberikan pelayanan jasa bagi berbagai sector.
Program pelatihan dan juga bantuan industry jasa perbengkelan, dan pelatihan
BAB III-
9
B. PDRB Atas Dasar Harga Konstan
PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRB-ADHK) merupakan indicator
perkembangan ekonomi secara riel. Berikut ini disajikan perkembangan nilai
(Rp.) PDRB-ADHK kabupaten Batang tahun 2008 – 2016. Berikut ini pada tabel
BAB III-
10
Tahun 3.6
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan (PDRB-ADHK) Kabupaten Batang Tahun 2000 Tahun 2008 - 2016
No. Sektor / Lapangan
Usaha
Data BPS (Rp.000) Angka Proyeksi (Rp.000)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Pertanian 588,955,823 605,312,846 623,190,592 638,035,758 664,326,336.55 681,197,539.35 701,118,585.42 722,045,448.76 748,008,094.19
2 Pertambangan dan
Penggalian 28,673,082 29,960,040 31,279,582 32,376,861 33,343,747.42 34,896,609.72 36,241,328.03 37,453,653.58 38,828,057.37 3 Industri Pengolahan 606,302,415 619,606,507 649,546,802 686,721,172 698,969,393.88 724,722,675.45 761,779,321.04 792,748,864.80 811,937,583.52
4 Listrik, Gas dan Air Minum 20,503,228 21,258,490 22,506,739 23,171,999 24,156,661.00 25,213,020.79 26,434,065.32 27,289,877.60 28,534,437.63
5 Bangunan dan Konstruksi 133,589,677 139,410,303 145,409,223 150,738,150 157,888,616.53 164,502,480.82 171,271,155.88 178,222,652.46 186,413,464.88
6 Perdagangan Hotel dan
Restoran 357,797,431 373,744,876 393,647,644 416,847,083 429,402,819.85 451,890,658.44 476,016,412.46 498,799,400.17 517,653,525.78
7 Pengangkutan dan
Komunikasi 79,935,441 84,963,216 91,043,732 97,640,883 101,350,607.30 108,678,516.27 116,114,289.07 123,019,215.58 129,227,402.07
8 Keuangan Persewaan dan
Jasa Perush 82,337,537 85,668,569 90,431,711 96,484,207 101,307,033.39 106,094,265.54 112,591,366.34 119,270,531.70 125,013,561.94 9 Jasa-jasa 271,759,913 290,691,983 315,786,384 344,749,504 364,457,113.73 393,990,748.87 428,120,221.24 461,447,952.02 491,683,185.02
PDRB ATAS DASAR HARGA
KONSTAN 2,169,854,547 2,250,616,829 2,362,482,410 2,486,764,617 2,573,925,868.14 2,687,658,666.22 2,823,394,668.70 2,950,906,567.69 3,063,712,248.23
Penduduk 701,260 705,904 708,962 711,515 716,094.47 719,990.98 722,891.24 726,385.49 730,829.49
PDRB Per Kapita Atas Dasar
Harga Konstan 3,094,322 3,188,276 3,332,312 3,495,029 3,594,405.22 3,732,866.54 3,905,679.04 4,062,482.84 4,192,124.82 Sumber : BPS – PDRB Kabupaten batang 2011
BAB III-
11
Data pada table diatas menunjukkan laju perkembangan yang selalu
meningkat pada PDRB-ADHK Kabupaten Batang. Untuk mencermatinya berikut
ini pada table berikut akan disajikan laju perkembangan masing-masing sector
lapangan usaha yang menyumbang pada PDRB.
Table 3.7
Laju Perkembangan Sektor Lapangan Usaha pada PDRB-ADHK Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2016
No Sektor / Lapangan
Usaha
Trend Laju Perkembangan PDRB ADHK
Rata-rata
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Pertanian 4.56% 2.78% 2.95% 2.38% 4.12% 2.54% 2.92% 2.98% 3.60% 3.20%
2 Pertambangan dan
Penggalian 2.07% 4.49% 4.40% 3.51% 2.99% 4.66% 3.85% 3.35% 3.67% 3.67% 3 Industri Pengolahan 2.24% 2.19% 4.83% 5.72% 1.78% 3.68% 5.11% 4.07% 2.42% 3.56%
4 Listrik, Gas dan Air
Minum 3.97% 3.68% 5.87% 2.96% 4.25% 4.37% 4.84% 3.24% 4.56% 4.19%
5 Bangunan dan
Konstruksi 4.72% 4.36% 4.30% 3.66% 4.74% 4.19% 4.11% 4.06% 4.60% 4.31%
6 Perdagangan Hotel
dan Restoran 2.68% 4.46% 5.33% 5.89% 3.01% 5.24% 5.34% 4.79% 3.78% 4.50%
7 Pengangkutan dan
Komunikasi 2.88% 6.29% 7.16% 7.25% 3.80% 7.23% 6.84% 5.95% 5.05% 5.83%
8
Keuangan Persewaan dan Jasa Perush
5.95% 4.05% 5.56% 6.69% 5.00% 4.73% 6.12% 5.93% 4.82% 5.43%
9 Jasa-jasa 5.57% 6.97% 8.63% 9.17% 5.72% 8.10% 8.66% 7.78% 6.55% 7.46% PDRB ATAS DASAR
HARGA KONSTAN 3.67% 3.72% 4.97% 5.26% 3.51% 4.42% 5.05% 4.52% 3.82% 4.33% Penduduk 0.58% 0.66% 0.43% 0.36% 0.64% 0.54% 0.40% 0.48% 0.61% 0.52% PDRB Per Kapita
Atas Dasar Harga Konstan
3.08% 3.04% 4.52% 4.88% 2.84% 3.85% 4.63% 4.01% 3.19% 3.78%
Sumber : BPS – PDRB Kabupaten batang 2011
Katerangan: Tahun 2008 – 2011 adalah data BPS, Tahun 2012 – 2016 adalah data Proyeksi
Data dalam table diatas menunjukkan bahwa laju perkembangan tertinggi
berada pada sektor jasa-jasa dengan laju perkembangan antara 5,57 – 9,17%
selama tahun proyeksi, dan nilai rata-rata laju perkembangannya adalah 7,46%.
Kondisi ini menekankan perlunya perhatian dan prioritas kebijakan untuk
diletakkan pada peningkatan perkembangan sector ini melalui program Diklat
dan juga Bintek bagi SDM yang ada di Kabupaten Batang baik melalui pendidikan
formal maupun non formal, khususnya perbengkelan, UKM-Kop, dan pelatihan
BAB III-
12
Laju perkembangan tertinggi kedua berada pada sector lapangan usaha
transportasi dan komunikasi dengan laju perkembangan 2,88 – 7,25% dengan
rata-rata perkembangan 5,83%. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten
Batang untuk menyusun kebijakan di bidang Perhubungan dan Komunikasi
(Dishub-kominfo) lebih intensif, dan juga kebijakan lain yang mendukung dan
memperlancar perhubungan dan komunikasi. Hal ini wajar dilakukan mengingat
Kabupaten batang berada pada jalur lintas pantura dengan berbagai
problematiknya. SKPD terkait dengan ini antara lain Dishubkominfo – PU Bina
Marga.
Laju pertumbuhan tertinggi pada urutan ketiga adalah sektor keuangan dan
jasa lembaga keuangan. Laju pertumbuhan selama periode amatan adalah
antara 4,05 – 66,69% dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,43%. Kondisi
ini mendorong perlunya kebijakan untuk mendorong perkembangan penyediaan
dana dan mendukung investasi. Terkait dengan ini adalah pengembangan
Koperasi simpan pinjam, lembaga pembiayaan, dan dana perbankan,
pemberdayaan dana mandiri masyarakat.
Selanjutnya untuk menilai dan memprioritaskan sektor /lapangan usaha
manakah yang perlu menjadi perhatian, maka dengan melihat proporsi
sumbangan- sector / lapangan usaha pada PDRB-ADHK hal itu dapat ditentukan.
Berikut ini pada table dibawah disajikan table tentang besar proporsi sumbangan
masing-masing sector lapangan usaha pada PDRB-DHK Kabupaten Batang tahun
BAB III-
13
Table 3.8
Proporsi Sumbangan Masing-Masing Sektor Lapangan Usaha pada PDRB-ADHK Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2016
No. Sektor / Lapangan Usaha Proporsi Sumbangan Lapangan Usaha Terhadap PDRB
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Pertanian 27.14% 26.90% 26.38% 25.66% 25.81% 25.35% 24.83% 24.47% 24.42%
2 Pertambangan dan
Penggalian 1.32% 1.33% 1.32% 1.30% 1.30% 1.30% 1.28% 1.27% 1.27%
3 Industri Pengolahan 27.94% 27.53% 27.49% 27.62% 27.16% 26.96% 26.98% 26.86% 26.50% 4 Listrik, Gas dan Air Minum 0.94% 0.94% 0.95% 0.93% 0.94% 0.94% 0.94% 0.92% 0.93%
5 Bangunan dan Konstruksi 6.16% 6.19% 6.15% 6.06% 6.13% 6.12% 6.07% 6.04% 6.08%
6 Perdagangan Hotel dan
Restoran 16.49% 16.61% 16.66% 16.76% 16.68% 16.81% 16.86% 16.90% 16.90%
7 Pengangkutan dan
Komunikasi 3.68% 3.78% 3.85% 3.93% 3.94% 4.04% 4.11% 4.17% 4.22%
8 Keuangan Persewaan dan
Jasa Perush 3.79% 3.81% 3.83% 3.88% 3.94% 3.95% 3.99% 4.04% 4.08%
9 Jasa-jasa 12.52% 12.92% 13.37% 13.86% 14.16% 14.66% 15.16% 15.64% 16.05%
PDRB ATAS DASAR HARGA
KONSTAN 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% Sumber : BPS – PDRB Kabupaten batang 2011
BAB III-
14
Penyumbang terbesar pada PDRB-ADHK kabupaten Batang ternyata adalah
sektor lapangan usaha industry pengolahan yang besar sumbangannya berkisar
26,50 – 27,94% dengan rata-rata 27,34%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa
industry pengolahan di Kabupaten Batang berkembang mengarah ke wilayah
perindustrian terkait dengan jalur pantura yang akan menarik berkembangnya
industry. Program mendorong investasi merupakan prioritas kebijakan yang akan
mendapat perhatian.
Penyumbang terbesar kedua adalah sektor/ lapangan usaha pertanian
dengan besar sumbangan berkisar antara 24,42 – 27,14% dengan rata-rata
sebesar 25,79%. Hal ini mengindikasikan bahwa program terkait dengan
pertanian dalam arti luas akan diprioritaskan termasuk PU Pengairan, Bintek dan
pemantaban usaha tani.
Penyumbang terbesar ketiga adalah sektor perdagangan, hotel dan
restoran dengan proporsi sumbangan antara 16,49 – 16,90% dengan rata-rata
sebesar 16, 73%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa program mendorong
investasi dan perdagangan akan ditingkatkan melalui penataan ruang, review
RTRW dan BPPT perijinan akan dikembangkan.
C. PDRB Per Kapita
PDRB per kapita baik Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun Atas Dasar
harga Konstan (ADHK) menunjukkan perkembangan kemakmuran penduduk.
Semakin besar laju perkembangannya maka semakin tinggi perkembangan
kemakmuran penduduk/ masyarakat. Berikut ini pada table dibawah disajikan
perkembangannya.
Tabel 3.9
Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita Kabupaten Batang
Atas Dasar harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)
Tahun
PDRB-ADHB PDRB-ADHK
Nilai (Rp.000) Laju
Perkembangan Nilai (Rp.000)
Laju Perkembangan
2008 6,212,750 6.83% 3,094,322 3.67%
2009 6,636,909 11.97% 3,188,276 3.72%
BAB III-
15
Tahun
PDRB-ADHB PDRB-ADHK
Nilai (Rp.000) Laju
Perkembangan Nilai (Rp.000)
Laju Perkembangan
2011 8,243,052 9.92% 3,495,029 5.26%
2012 9,060,400 8.68% 3,594,405 3.51%
2013 9,846,518 12.00% 3,732,867 4.42%
2014 11,028,549 10.08% 3,905,679 5.05%
2015 12,140,053 9.60% 4,062,483 4.52%
2016 14,660,171 10.19% 4,192,125 3.82%
Sumber : BPS – PDRB Kabupaten batang 2011
Katerangan: Tahun 2008 – 2011 adalah data BPS, Tahun 2012 – 2016 adalah data Proyeksi
Data yang ada menunjukkan bahwa PDRB-ADHB dan ADHK mengalami
pertumbuhan. PDRB ADHB diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata
10,12%, sedangkan PDRB-ADHK akan mengalami pertumbuhan sebesar 5.15%
per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan dalam bidang SDM dan
penyerapan lapangan kerja baik melalui sector formal (industrri pengolahan);
jasa-jasa, dan bangunan merupakan kebijakan yang layak diambil. Kebijakan
untuk membuka lapangan kerja dan juga perpindahan/ transportasi (angkutan)
untuk bekerja merupakan kebijakan yang akan diambil. Dalam hal ini kelancaran
lalu-lintas dan prasarana lainnya akan diprioritaskan.
3.1.2 Inflasi
Menurut catatan BPS Kabupaten Batang – inflasi tahun 2013 adalah
sebesar 8,37%. Tingginya inflasi ini terkait dengan tingginya inflasi nasional
karena perkembangan nilai $ yang yang meningkat dari kurang lebih Rp.9.250,-
BAB III-
16
3.2. ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
Arah kebijakan keuangan daerah Kabupaten Batang adalah melanjutkan
kebijakan dan rencana yang sudah dicanangkan pada periode sebelumnya.
Kebijakan itu ialah mampu meningkatkan kemampuannya dalam kemandirian
keuangan daerah, utamanya dalam memenuhi pembiayaan pembangunan
daerah.
3.2.1 Kebijakan Pendapatan Daerah
Kebijakan yang diambil secara garis besar diletakkan pada usaha
intensifikasi pendapatan asli daerah dengan mengoptimalkan potensi
sumberdaya yang ada yang dan dikelola secara lebih efiensi dan efektif.
Selanjutnya, langkah lainnya adalah melalui ekstensifikasi pendapatan asli
daerah dengan mengoptimalkan potensi melalui pembukaan peluang-peluang
pendapatan baru yang mempunyai potensi besar.
Tabel 3.10
Target Pendapatan Dan Penerimaan Pembiayaan Daerah Tahun Anggaran 2015
Pendapatan Dan Penerimaan Pembiayaan Daerah
Target Tahun Anggaran
Berkenaan Proporsi
Pendapatan Asli Daerah 92,488,905,179 8.65%
a. Pajak Daerah 30,412,500,000 2.84%
b. Retribusi Daerah 16,096,102,250 1.51%
c. Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yg dipisahkan 4,897,833,438 0.46%
d. Lain-lain Pendapatan Yang Sah 41,082,469,491 3.84%
Dana Perimbangan 724,152,242,105 67.71%
a. Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil
Bukan Pajak 32,696,172,105 3.06%
b. Dana Alokasi Umum 641,663,630,000 60.00%
c. Dana Alokasi Khusus 49,792,440,000 4.66%
Lain-lain Pendapatan Yang Sah 191,500,956,487 17.91%
a. Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya
40,624,111,115 3.80%
b. Bantuan Keuangan dari Propinsi
atau Pemerintah Daerah Lainnya 0.00%
c. Dana Penyesuaian dan Otonomi
BAB III-
17
Pendapatan Dan Penerimaan Pembiayaan Daerah
Target Tahun Anggaran
Berkenaan Proporsi
d. Bantuan Keuangan dari
Pemerintah Pusat 23,792,896,000 2.22%
Jumlah Pendapatan Daerah 1,008,142,103,771 94.27%
Penerimaan Pembiayaan 0.00%
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
Anggaran Sebelumnya (SILPA) 36,280,014,865 3.39%
Pencairan dana cadangan 25,000,000,000 2.34%
Hasil penjualan kekayaan Daerah yang
dipisahkan 0.00%
Penerimaan pinjaman daerah 0.00%
Penerimaan kembali pemberian pinjaman 0.00%
Penerimaan piutang daerah 0.00%
Jumlah Penerimaan Pembiayaan 61,280,014,865 5.73%
Jumlah Dana Tersedia 1,069,422,118,636 100.00%
Sumber : DPPKAD – kabupaten batang
Kebijakan yang tertuang dalam target anggaran 2015 kiranya dapat
menjadi indicator bahwa periode tahun 2015 kebijakan yang diambil adalah
meningkatkan PAD seraya menekan Dana Perimbangan. Untuk mengganti
pengurangan dana perimbangan dari Pemerintah Pusat, maka selain
meningkatkan PAD Pemerintah Kabupaten Batang juga meningkatkan proporsi
lain-lain pendapatan yang sah.
3.2.2. Kebijakan Belanja Daerah
Beberapa tahun terakhir dan juga menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten
Btang adalah melakukan langkah-langkah pengendalian belanja daerah.
Pengendalian ini tidak berarti mengurangi melainkan optimalisasi melalui
mengendalikan laju peningkatan belanja daerah.
Berikut ini dalam table dibawah disajikan target rencana belanja daerah
BAB III-
18
Tabel 3.11
Jumlah dan Proporsi target Anggaran Belanja Kabupaten Batang 2015
Uraian Jenis Belanja Daerah Plafon Anggaran
Tahun 2015 Persen
Belanja Tidak Langsung 610,825,190,874 57.23%
Belanja Pegawai 521,354,571,374 48.85%
Belanja Bunga 358,236,000 0.03%
Belanja Subsidi
Belanja Hibah 37,721,991,000 3.53%
Belanja Bantuan Sosial 9,069,000,000 0.85%
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa dan Partai Politik
40,321,392,500 3.78%
Belanja Tidak terduga 2,000,000,000 0.19%
Belanja Langsung 456,434,420,762 42.77%
Belanja Pegawai 44,471,955,597 4.17%
Belanja Barang dan Jasa 181,621,635,795 17.02%
Belanja Modal 230,340,829,370 21.58%
Jumlah Belanja Daerah 1,067,259,611,636 100.00%
Sumber : DPKKAD – Kabupaten Batang.
Kebijakan yang diambil oleh Pemerintah kabupaten Batang dalam hal
pengendalian belanja adalah menekan laju pertumbuhan belanja pegawai dalam
batas optimal. Sebagai imbangannya Pemerintah Kabupaten Batang menambah
belanja langsung/ investasi secara proporsional agar masyarakat dan asset
daerah dapat ditingkatkan juga meningkat manfaatnya.
3.2.3. Kebijakan Pembiayaan
Kebijakan pembiayaan yang diambil dan sudah menjadi dasar kebijakan
adalah memperbesar surplus dan atau menekan deficit. Selain itu kebijakan yang
diambil adalah memperbesar pembiayaan netto melalui menekan pembiayaan
neto. Adanya surplus atau deficit yang kecil dan juga adanya pembiayaan netto
BAB III-
19
3.2.4. Kerangka Kebijakan Ekonomi Daerah
Prioritas Anggaran Pendapatan yaitu
1. Intensifikasi pemungutan sumber-sumber PAD
2. Peningkatan kualitas SDM terkait dengan peningkatan PAD
3. Menggali berbagai sumber pendapatan yang sah.
Prioritas yang diambil dalam pengalokasian anggaran belanja daerah
adalah
1. Memberdayakan sector pertanian dan meningkatkan berbagai kondisi dan
kemampuan berbagai sector lapangan usaha yang memiliki laju
perkembangan dan juga sector-sektor yang proporsi sumbangannya besar
bagi perekonomian Kabupaten Batang.
2. Peningkatan Realisasi Investasi, diprioritaskan pada pengembangan
kapasitas dan keterampilan aparatur agar mereka mampu secara kreatif
dan responsif menarik investor serta perlunya promosi potensi daerah
secara intensif.
3. Kebijakan investasi untuk meningkatkan PAD melalui Sektor Pariwisata
dan Kebudayaan, dengan pengembangan destinasi pariwisata,
pemasaran, industri, peningkatan kelembagaan, sarana prasarana serta
perlunya pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan ketujuh
kepariwisataan.
4. Pengembangan infrastruktur baik perhubungan maupun perdagangan,
selain itu juga ditekankan peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur