• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLUKAH PERADILAN TATA USAHA MILITER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERLUKAH PERADILAN TATA USAHA MILITER"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PERADILAN TATA USAHA MILITER

UNTUK KEPENTINGAN MILITER

Oleh: MAYOR SUS FARYATNO SITUMORANG,S.H.,M.H

Pendahuluan

Wacana Peradilan Tata Usaha Militer sudah digagas seiring dengan sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI), di beberapa peraturan perundangan telah memuat tentang Peradilan Tata Usaha Militer namun tidak secara tegas dan tidak terperinci, sebagai contoh Undang-Undang Nomor 2 tahun 1988 tentang Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, tulisan Peradilan Tata Usaha Militer malah ditemukan dalam penjelasan pasal 18, bukan pada pasal-pasalnya.

(2)

Pada masa itu tidak bisa dipungkiri Peradilan Tata Usaha Militer sangat dibutuhkan dalam rangka menjamin dan melindungi hak-hak prajurit dan masyarakat dari kesewenang-wenangan Pejabat Tata Usaha Militer.Seiring berjalannya waktu, terjadi gelombang reformasi di Indonesia dimana eforia reformasi tersebut sangat berpengaruh kepada tata kehidupan militer, TNI telah membulatkan tekad akan kembali kepada fitrah dasar terbentuknya TNI, sebagaimana dituangkan dan dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, dimana salah satunya yang paling mendasar adalah TNI akan menjadikan “Hukum sebagai Panglima” yang dengan kata lain kondisi tata kehidupan TNI sebelum reformasi yang dikuatirkan merugikan hak-hak prajurit dan masyarakat terkait dengan keputusan Tata Usaha Militer kecil kemungkinan terjadi pada era sekarang.

Faktor sosiologis gelombang reformasi tersebut berpengaruh besar bagi pemerintah berbagai upaya dan perbaikan dilakukan, kewajiban melakukan reformasi internal terus dilakukan dengan skala prioritas, dalam jangka panjang prolegnas revisi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 merupakan salah satu agenda dan saat ini sedang berjalan. Reformasi internal di Lingkungan TNI telah berjalan dengan baik sehingga pemerintah telah mengesampingkan pembuat Peraturan Pemerintah sebagaimana diamanatkan oleh pasal 353, dengan pertimbangan reformasi di lingkungan TNI dibidang hukum telah berjalan dengan baik sehingga kecil kemungkinan Pejabat Tata Usaha Militer melakukan kesewenang wenangan melalui keputusannya.Alangkah bijaksananya apabila tenaga, waktu dan pemikiran dialihkan kepada pembuatan dan penyusunan Peraturan Pemerintah yang lebih mendesak untuk kepentingan bangsa dan Negara.

(3)

kontradiktif dengan ketentuan yang terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Mililiter (KUHPM) dan asas-asas serta doktrin TNI yang hidup dalam tata kehidupan militer. Kondisi demikian yang menjadi alasan utama agar ketentuan Peradilan Tata Usaha Militer yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 31 tahun 1997 harus direvisi terlebih dahulu, jika tidak maka Peradilan Tata Usaha Militer akan bertentangan dengan kepentingan Militer, padahal dalam sejarah lahirnya Pengadilan Militer adalah “untuk kepentingan militer”, unsur kepentingan militer tidak boleh dikesampingkan dengan alasan apapun termasuk alasan Demokrasi atau Hak Asasi Manusia.

Pengertian Pengadilan Tata Usaha Militer

Keputusan Tata Usaha Militer merupakan Produk hukum yang bersifat Administrasi di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia dalam rangka pelaksanaan fungsi untuk pembinaan dan penggunaan TNI serta pengelolaan pertahanan keamanan Negara, yang dituangkan dalam bentuk penetapan tertulis oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Militer.Pejabat Tata Usaha Militer dalam menerbitkan suatu keputusan yang termasuk dalam kualifikasi Tata Usaha Militer harus berisikan tindakan hukum yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan harus berkaitan dengan penyelenggaraan pembinaan dan penggunaan TNI atau pengelolaan Pertahanan keamanan Negara, baik itu di bidang personel, materiil, fasilitas dan jasa dan bersifat kongkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi orang atau badan hukum perdata.

(4)

untuk tingkat pertama dan Pengadilan Militer Utama untuk tingkat banding dengan cara orang atau Badan Hukum Perdata yang merasa dirugikan mengajukan Gugatan.

Ketentuan demikian selaras dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara Pasal 2 huruf f secara limitatif dirumuskan“Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata tidak termasuk dalam Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara”, dalam kaitan hal tersebut maka oleh para pembuat undang-undang merumuskan Penyelesaian sengketa Tata Usaha Militer dirumuskan dalam UU Nomor 31 Tahun 1997. Sebelum kita lebih jauh ada baiknya kita melihat siapa saja yang merupakan Pejabat Tata Usaha Militer, berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat 3 UU Nomor 31 Tahun 1997 secara limitatif telah ditentukan siapa saja yang termasuk dalam pejabat Tata Usaha Militer yaitu :

1. Badan atau Pejabat di lingkungan TNI yaitu Institusi TNI yang dijabat oleh seorang Pejabat yang sah berdasarkan peraturan perundangan yang ada yang mempunyai wewenang mengeluarkan Surat Keputusan baik itu berdasarkan Undang-undang maupun Peraturan/keputusan Panglima TNI/Kepala Staf Angkatan.

2. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, yaitu kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pertahanan yang dipimpin oleh seorang Menteri, dengan kata lain Kementerian Pertahanan menjadi bagian dari sub system TNI dalam melaksankan tugas pokok TNI untuk mempertahankan dan menjaga kedaulatan NKRI.

3. Pejabat lain yang berdasarkan ketentuan peraturan perundangan-undangan berwenang mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pembinaan TNI serta pengelolaan pertahanan keamanan Negara, misalnya Kepala Daerah dalam suatu keadaan Darurat Sipil.

(5)

Peradilan Tata Usaha Negara secara umum mempunyai persamaan obyek gugatan dengan Peradilan Tata Usaha Militer yaitu suatu Keputusan atau sering disebut beschikking yaitu suatu Keputusan Pejabat Tata Usaha Militer yang telah merugikan orang atau Badan Hukum Perdata, Suatu keputusan disebut sebagai Keputusan Tata Usaha Militer jika Keputusan tersebut memenuhi unsur sebagai berikut :

1. berupapenetapantertulis,

2. dikeluarkanolehBadanatauPejabat Tata Uasaha Militer, 3. berisitindakanhukum Tata Usaha Militer.

4. berdasarkanperaturanperundang-undangan yang berlaku. 5. bersifatkonkret, individual dan final, dan

6. menimbulkanakibathukumbagiseseorangataubadanhukumperdata.

Rumusan Keputusan Tata Usaha Militer diatas akan kontradiktif dengan ketentuan pasal 3 dan pasal 265 ayat 2 huruf “c” UU Nomor 31 Tahun 1997, dalam pasal tersebut secara tegas disebutkan Pejabat Tata Usaha Militer yang tidak mengeluarkan keputusan yang sudah merupakan kewajibannya, atau tidak mengeluarkan keputusan yang dimohonkan pada tenggang waktu tertentu maka perbuatan tersebut sudah merupakan Keputusan Tata Usaha Militer. Hal ini sangat jelas bertentangan dengan unsur pertama, dan dalam tata kehidupan militer ketentuan pasal ini sangat memungkinkan menciptakan insoliditas dan inloyalitas prajurit kepada atasannya karena tidak semua permohonan Prajurit dijawab atau dikabulkan oleh Atasan.

(6)

digugat maka pelaksanaan Operasi Militer Perang dan Operasi Militer Selain Perang tidak akan terlaksana, katakanlah seorang Prajurit ditugaskan untuk memimpin Operasi Militer Perang di suatu daerah, dimana daerah tersebut merupakan tanah kelahiran atau sang prajurit mempunyai hubungan emosional dengan daerah operasi maka sang prajurit akan mengajukan gugatan ke Peradilan Tata Usaha Militer untuk menolak keputusan tersebut, sikap perbuatan demikian jelas merusak sendi-sendi kehidupan prajurit dan penolakan tersebut dapat dipidana berdasarkan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer.

Pembuat Undang-Undang telah merumuskan beberapa pembatasan yang dicantumkan pada pasal 2 UU Nomor 31 Tahun 1997 yang membuat rumusan yang tidak tegas namun jika kita artikan rumusan tersebut mengamanatkan bahwa tidak semua keputusan Pejabat Tata Usaha Milter dapat diajukan ke Peradilan Tata Usaha Militer yaitu antara lain :

1. Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang merupakan perbuatan Hukum Perdata.

2. Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang digunakan dalam bidang operasi militer

3. Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang digunakan di bidang keuangan dan perbendaharaan

4. Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

5. Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan KUHP atau KUHAP atau ketentuan perauran perundangan yang lain yang bersifat hukum pidana militer dan hukum disiplin prajurit

6. Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang merupakan pengaturan yang bersifat umum

(7)

Dari pembatasan diatas saya berpendapat belum menjamin terciptanya Soliditas, Loyalitas di tubuh TNI karena pembatasan diatas sangat sempit bahkan dari 7 (tujuh) pembatasan diatas pembatasan point 4 sampai 7 tidak perlu dituliskan karena tidak dituliskanpun perbuatan hukum Pejabat Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang berkaitan dengan rumusan tersebut secara otomatis sudah tidak memenuhi unsur-unsur. Menurut pendapat saya pembatasan tersebut harus diperluas dalam rangka upaya membatasi Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang dapat diajukan ke Peradilan Tata Usaha Militer, lebih tepat jika rumusan tersebut dirumuskan secara tegas dengan menyebutkan bahwa Keputusan Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang dapat diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Militer bagi prajurit adalah Keputusan Pejabat Tata Usaha Militer dalam bidang pemberhentian dengan tidak hormat saja. Jika kita perhatikan pembatasan diatas keputusan Pejabat Tata Usaha Militer yang memindah tugaskan prajurit dalam rangka “tour of duty dan tour of area” ,akan dapat diajukan oleh Prajurit ke Peradilan Tata Usaha Militer dengan berbagai alasan jika terjadi demikian maka akan menciptakan kekacauan akan bertentangan dengan azas Kesatuan Komando (unity of command) serta azas-azas lain.

Pembatasan lain dirumuskan dalam pasal 4 UU Nomor 31 tahun 1997 yang selengkapnya berbunyi :

“Pengadilan Militer Tinggi tidak berwenang memeriksa memutus dan menyelesaikan sengketa tata Usaha Angkatan Bersenjata tertentu dalam hal keputusan yang disengketakan itu dikeluarkan :

a. Dalam waktu perang, keadaan luar biasa yang membahayakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

b. Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

(8)

hebohkan degan gugatan yang diajukan Mayor CHK Kantor Kataren karena yang bersangkutan “dicopot dari jabatannya”, karena Peradilan Tata Usaha Militer belum berfungsi yang bersangkutan mengajukan gugatan ke PTUN dan Pengadilan Negeri, tentu kondisi seperti ini akan banyak terjadi dikemudian hari apabila Peradilan Tata Usaha Militer sudah operasional tanpa merevisi UU Nomor 31 Tahun 1997.Berkaitan dengan subyek Hukum diluar Prajurit atau yang dipersamakan dengan Prajurit atau dengan kata lain yang berkaitan dengan masyarakat umum dan badan hukum perdata saya sependapat.

Subyek Hukum Peradilan Tata Usaha Militer

Subyek Peradilan Tata Usaha Militer secara limitatif sudah diatur dalam pasal 265 yaitu: 1. Orang, Yang dimaksud dengan orang disini adalah manusia yang dapat

dibedakan menjadi : a. Prajurit

b. Dipersamkan dengan Prajurit

c. Semua manusia yang mempunyai hak sesuai peraturan perundang-undangan diluar prajurit dan dipersamakan dengan prajurit.

2. Badan Hukum Perdata.

(9)

dipersamakan dengan prajurit dapat mengajukan pemulihan nama baik atau rehabilitasi.

Penggugat dalam mengajukan gugatannya harus memuat alasan yiridis sebagaimana di sebutkan dalam pasal 265 ayat 2 dengan tujuan sebagai dasar bagi hakim untuk menilai apakah Keputusan Tata Usaha Militer yang digugat bersifat melawan hukum atau tidak. Suatu Keputusan Tata Usaha Militer dinyatakan bersifat melawan hukum apabila :

1. Bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersifat prosedur/formal.

Contohnya “sebelum keputusan pemecatan seorang prajurit maka prajurit harus di periksa terlebih dahulu, namun langkah ini tidak dilaksanakan”

2. Bertentangan dengan ketentuan dalam peraturan perundangan yang bersifat materil/substansial

Contohnya “Prajurit diberhentikan dalam hal prajurit melaksankan tugas pokoknya sebagaimana telah diatur dalam perundang – undangan”

3. Keputusan Tata Usaha Militer dikeluarkan oleh pejabat yang tidak berwenang. Contohnya “Seorang Prajurit berpangkat Kapten diberhentikan oleh Komandan Batalyon, dimana seharusnya hal tersebut merupakan wewenang dari Kepala Staf Angkatan.”

(10)

ada sehingga langkah prajurit untuk mengajukan Gugatan ke Peradilan Tata Usaha Militer masih membutuhkan waktu yang panjang dan berliku.

Kewenangan Mengadili

Semua jenis Pengadilan yang ada di Indonesia berada dibawah Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan setiap jenis Pengadilan mempunyai kompentensi Absolut misalnya Pengadilan Tata Usaha Negara mempunyai kewenangan mengadili sengketa tata usaha Negara. Setiap Peradilan berddiri sendiri tidak berada dibawah pengadilan lain. Namun tidak demikian dengan Penyelesaian sengketa Tata Usaha Militer. Dalam UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer Penyelesaian sengketa Tata Usaha Militer secara tegas Undang-undang menunjuk Pengadilan Militer Tinggi sebagai Peradilan tingkat pertama dan Pengadilan Militer Utama untuk tingkat Banding ketentuan ini diatur pada pasal 15 ayat 3 dan 4 pasal 41 ayat 1 huruf b, pasal 42, pasal 265 ayat 1. Setiap orang dan atau Badan Hukum perdata dapat mengajukan gugatan sengketa Tata Usaha Militer dalam tenggang waktu 90 hari sejak saat menerima keputusan tata usaha militer.Khusus bagi Prajurit atau yang dipersamakan dengan prajurit tenggang waktu 90 hari dihitung sejak menerima keputusan dari atasan Pejabat Tata Usaha Militer dalam rangka melaksanakan upaya administrasi.Melihat ketentuan terseebut diatas berarti orang dan atau Badan Hukum Perdata hanya dapat mengajukan Gugatan Tata Usaha Militer di Medan, Jakarta dan Surabaya karena sampai saat ini Pengadilan Militer Tinggi hanya ada tiga yaitu Pengadilan Militer Tinggi I di Medan, Pengadilan Militer Tinggi II di Jakarta dan Pengadilan Militer Tinggi III di Surabaya.

(11)

1. Summary Court Martial. Merupakan Pengadilan yang paling terbatas karena hanya mengadili prajurit dengan pangkat Tantama, perkara yang diadili hanya terbatas pada perkara ringan sehingga apabila prajurit tantama melakukan kejahatan berat tidak diadili di Pengadilan ini.

2. Special Court Martial. Merupakan Pengadilan tingkat menengah dan paling sering dilaksanakan dengan system juri minimal 3 (tiga).

3. General Court Martial. Merupakan Pengadilan paling tinggi yang mempunyai kompetensi mengadili perkara serius (kejahatan berat) baik yang terjadi di Amerika maupun di luar wilayah Amerika. Pada jenis pengadilan inilah Pengadilan Administrasi di laksanakan.

4. Military Commission. Merupakan Pengadilan yang dibentuk khusus untuk mengadili tindak pidana Teroris.

General Court Martial selaku Pengadilan yang memiliki kompentensi absolut terhadap sengketa Tata Usaha Militer mempunyai proses yang hampir sama dengan Perdilan Militer Tinggi di Indonesia naamun terdapat beberapa antara lain :

1. Apabila subyeknya masyarakat sipil (bukan subyek Pengadilan Militer) maka sengketa dibawa ke Pengadilan Federal.

2. Tenggang waktu 90 hari tetapi khusus untuk Angkatan Udara tenggang waktunya adalah 180 hari

3. Tuntutan yang diajukan adalah terbatas hanya pembatalan danganti rugi 4. Diatur dalam PSL 138 UCMJ (UNIFORM CODE OFMILITARY

JUSTICE)setingkat dengan KUHPidana di Indonesia sementara Peradilan Tata Usaha Militer di Indonesia di atur dengan UU tentang Peradilan Militer.

(12)

Dalam sejarah dikenalnya Peradilan Tata Usaha Militer khususnya sejak diundangkannya UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer ada beberapa perkara Tata Usaha Militer didaftarkan di Pengadilan Militer Tinggi, namun oleh karena Peraturan Pemerintah sebagai peraturan pelaksana dari UU 31 tahun 1997 belum ada maka perkara tersebut tidak dapat diproses lebih lanjut. Kondisi demikian mengakibatkan beberapa orang mencoba terobosan baru dengan cara mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Negeri diantaranya :

1. Gugatan Mayor Chk Kantor Kataren, SH diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara namun oleh Pengadilan Tata Usaha Negara menolak gugatan dengan alasan PTUN tidak memiliki wewenang untuk mengadili sengketa Tata Usaha Militer sebagaimana telah diatur secara limitatif pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara Pasal 2 huruf f, selanjutnya yang bersangkutan mendaftarkan kembali gugatan ke Pengadilan Negeri dan Pengadilan Negeri menolak gugatan dengan dasar pertimbangan kewenangan mengadili.

2. Gugatan PNS PDT.DR.B.Y. Killis, MA (ANGGOTA KOHANUDNAS) akibat diberhentikan oleh Menteri Pertahanan. Yang bersangkutan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara dengan Nomor. REG 156 K/TUN/2002, dimana gugatan tersebut dikabulkan. Jika kita kembali keawal makalah ini bukankah Menteri Pertahanan merupakan Pejabat Tata Usaha Miiter sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat 3 UU Nomor 31 Tahun 1997, lalu mengapa PTUN mengabulkan gugatan yang bersangkutan ?kita tidak tahu jawabannya karena saat itu pihak tergugat tidak melakukan upaya hukum sehingga kebenaran keputusan PTUN Jakarta tersebut tidak teruji sampai tingkat Mahkamah Agung RI.

(13)

upaya hukum Banding dan sebelum diputus oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara kedua belah pihak melakukan Perdamaian (dading).

Melihat ketiga perkara tersebut diatas, kita dapat memprediksi jika Pengadilan Tata Usaha Militer sudah difungsikan atau sudah operasional dapat kita bayangkan akan tumbuh dengan subur perlawanan yang bersifat konstitusional dari Prajurit bawahan kepada Prajurit atasan, salahkah mereka jawabnya tidak jika kita melihat dengan kaca mata ketentuan Peradilan Tata Usaha Militer, namun apabila kita melihat dari sudut pandang tata kehidupan Militer upaya tersebut merupakan upaya melawan perintah atasan, karena melanggar Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Kesempatan yang diberikan oleh Peradilan Tata Usaha Militer tersebut akan menciptakan insoliditas dan inloyalitas, sehingga ketika seorang atasan baik itu merangkap sebagai Pejabat Tata Usaha Militer atau tidak dapat meminta prajurit tersebut diperiksa dan diajukan ke Pengadilan Militer dengan tuduhan Melawan Perintah Atasan sebagaimana diatur pada pasal 103 KUHPM.

Presfektif Pengadilan Tata Usaha Militer

Tata kehidupan militer sudah terbentuk saat seorang warga Negara menjadi anggota militer jika kita melihat kondisi real saat ini hanya Institusi Militer yang masih solid dan hal itu tidak perlu diragukan lagi sampai saat ini belum pernah ada prajurit TNI melakukan Demonstrasi kepada atasannya, jiwa dan nafas seorang militer adalah Perintah diatas segalanya. JIka kita menyimak doktrin dan azas-azas yang hidup sebagai nafas seorang prajurit yang tertuang dalam dalam Sapta Marga khususnya marga ke-5 dan 6 dan Sumpah Prajurit khususnya sumpah ke-2,3 dan 4 seperti bawah ini :

SAPTA MARGA

(14)

6. Kami prajurit Tentara Nasional Indonesia setia dan menepati janji serta sumpah prajurit.

SUMPAH PRAJURIT

2.. Bahwa saya akan tunduk kepada hukum dan memegang teguh disiplin keprajuritan.

3. Bahwa saya akan taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan.

4. Bahwa saya akan menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan Negara Republik Indonesia

Sapta Marga dan Sumpah Prajurit tersebut diatas adalah merupakan jiwa dan nafas seorang prajurit dengan kata lain apapun keputusan atasan dalam hal ini Pejabat Tata Usaha Militer tidak ada kata lain selain kata “Siap Dilaksanakan”, kondisi demikian adalah berbanding lurus dengan atasan karena setiap atasan juga pernah menjadi bawahan tidak ada atasan yang tidak melaui bawahan sehingga setiap keputusan atasan atau Pejabat Tata Usaha Militer pastilah sudah berdasarkan pertimbangan hukum yang bijaksana dan tentunya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

(15)

terbatas kepada Keputusan Pemberhentian, saya sependapat seharusnya obyek Sengketa Tata Usaha Militer bagi Prajurit dan dipersamakan dengan prajurit cukuplah tentang Keputusan Pemberhentian, “Keputusan “Tour of Duty dan Tour of Area”, harus ditegaskan bukan merupakan obyek sengketa Peradilan Tata Usaha Militer. Jika itu tidak dilakukan maka akan banyak Prajurit terjerat dengan perkara Pidana Militer. Menggugat Keputusan atasan dalam hal ini Pejabat Tata Usaha Militer sama dengan melawan perintah sebagaimana disebutkan dalam pasal 78 dan 103 KUHPM yang selengkapnya berbunyi

Pasal 78 KUHPM

“Barangsiapa yang dalam waktu perang menolak atau dengan sengaja tidak mentaati suatu perintah atau tuntutan yang diberikan oleh seorang militer yang berhak, atau dengan semaunya melampaui perintah atau tuntutan sedemikian itu atau dengan sengaja mencegat, menghalang-halangi atau meniadakan suatu tindakan (maattregel) yang dilaksanakan atau yang diperintahkan oleh seseorang militer, demi kepentingan Angkatan Perang atau dinas diancam dengan pidana penjara maksimal lima tahun.”

Pasal 103 KUHPM

“Militer, yang menolak atau dengan sengaja tidak mentaati suatu perintah dinas, atau dengan semaunya melampaui perintah sedemikian itu diancam karena ketidak taatan yang disengaja, dengan pidana penjara maksimum dua tahun empat bulan”.

Dari kedua pasal KUHPM tersebut sangat jelas bahwa setiap prajurit diwajibkan patuh dan taat terhadap setiap perintah dan keputusan atasan sesuai dengan jiwa dan nafas prajurit yang terdapat pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

(16)

perintah atau atasan yang memberikan keputusan hal ini dikenal dengan azas Pertanggung Jawaban Komando.

Kesimpulan

PeradilanTata Usaha Militer penting karena Indonesia adalah Negara Hukum dan tidak tertutup kemungkinan seorang Pejabat Tata Usaha Militer keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun Peradilan Tata Usaha Militer yang ideal adalah Peradilan yang bersinergis dengan Peraturan dan perundangan yang lain dan bersinergis dengan jiwa dan nafas serta Doktrin TNI. Sehubungan dengan hal tersebut langkah terbaik menurut saya adalah UU nomor 31 tahun 1997 Tentang Peradilan Militer wajib direvisi khususnya pasal-pasal yang berhubungan dengan Peradilan Tata Usaha Militer.

Penutup

Peradilan Tata Usaha Militer bukan suatu keniscayaan akan diterapkan pada masa yang akan datang, apa yang saya sampaikan ini merupakan suatu pandangan saya untuk perbaikan dan evaluasi semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu sekalian, apabila kita tidak sependapat biarlah perbedaan pandangan kita akan memperkaya dalam pembangunan hukum dimasa yang akan datang khususnya untuk TNI, sekian dan terimakasih.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui dan mendapalkan pengetahuan yang jelas tentang: Peranan Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Dalam

Arman mengerjakan PR matematika selama 45 menit, mulai mengerjakan 15.30, maka selesai jam

Abstrak: Diproyeksikan pada tahun 2025, Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah lansia terbesar di dunia. Gigi memiliki fungsi untuk pengunyahan, berbicara, dan

Penelitian ini berusaha meninjau peraturan atau ketentuan yang mendasari pendanaan pendidikan oleh pemerintah pusat maupun daerah, serta meninjau sistem penyaluran

[r]

pelanggaran kode etik ataupun tata tertib yang telah dilakukan oleh anggota DPRD maka. disinilah peran BK sebagai salah satu alat kelengkapan DPRD untuk menegakan

Dimensi-dimensi teknis pada kapal ikan tipe pole and line yang dibuat di galangan kapal tradisional kelurahan Tandurusa Kota Bitung terdiri dari lunas, linggi