• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN PRODUK

Produk merupakan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhannya. Perusahaan dituntut untuk menciptakan suatu produk yang sesuai dengan permintaan konsumen. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, property, organisasi, informasi dan ide (Kotler, 2002).

3 (Tiga) macam karakteristik produk menurut Philip Kotler [2010], yaitu: a. Daya tahan dan keberwujudan

Produk dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok menurut daya tahan dan wujudnya, yaitu :

1) Barang yang tidak tahan lama (non durable goods), yaitu barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan, misalnya makanan, sabun, minyak tanah, kertas tisu, dan sebagainya.

2) Barang tahan lama (durable goods), yaitu barang berwujud yang biasanya dapat digunakan berkali-kali, contohnya seperti meja, kursi, mobil, mesin, pakaian, dan sebagainya.

3) Jasa (service), jasa bersifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, dan mudah habis, contohnya mencakup potongan rambut, reparasi.

(2)

7 b. Klasifikasi Barang Konsumen

Produk dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) macam :

1) Barang Convinience, adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen, segera dan dengan usaha minimum, contohnya meliputi produk tembakau, surat kabar, sabun.

2) Barang Shopping, merupakan barang-barang yang karakteristiknya dibandingkan, berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga dan gaya dalam proses pemilihan, dan pembelian, contohnya meliputi meja, kursi, pakaian, peralatan rumah tangga.

3) Barang Khusus (Special goods), adalah barang-barang dengan karakteristik unik atau identifikasi merek dimana untuk memperoleh barang-barang itu sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya, contohnya meliputi merek dan jenis barang mewah, mobil, komponen stereo.

4) Barang unsought, adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau diketahui namun secara normal konsumen tidak berfikir untuk membelinya, contohnya detektor asap, pengolah makanan, batu nisan, tanah kuburan, ensiklopedia.

c. Klasifikasi Barang Industri

Barang industri dapat diklasifikasikan berdasarkan cara barang itu memasuki proses produksi dan harga relatifnya, yaitu :

1) Barang baku dan suku cadang (material and part), adalah barang-barang yang sepenuhnya memasuki produk yang dihasilkan. Barang-barang itu terbagi menjadi dua kelas, yaitu :

(3)

8 a) Bahan mentah, yaitu produk pertanian (misalnya gandum, kapas, ternak, buah, dan sayuran) dan produk alam (misalnya ikan, kayu, minyak mentah, biji besi).

b) Bahan baku dan suku cadang hasil manufaktur, yaitu bahan baku komponen (misalnya besi, benang semen, semen, kabel) dan suku cadang komponen (misalnya motor kecil, ban, cetakan).

2) Barang Modal (capital items) adalah barang-barang tahan lama yang memudahkan pengembangan atau pengolahan produk akhir, meliputi instalasi dan peralatan.

3) Perlengkapan dan jasa bisnis, adalah barang dan jasa tidak tahan lama yang membantu pengembangan atau pengolahan produk akhir. Barang-barang itu dibagi dalam dua jenis :

a) Perlengkapan operasi (misalnya pelumas, batu bara, kertas tulis, pensil) atau barang untuk pemeliharaan dan perbaikan (misalnya cat, paku, sapu).

b) Jasa bisnis, meliputi jasa pemeliharaan dan perbaikan (misalnya pembersihan jendela, reparasi mesin) dan jasa konsultasi bisnis (misalnya konsultasi manajemen, hukum, periklanan).

2.1.1 Produk Cacat dan Produk Rusak 1. Produk Cacat

Salah satu tujuan perusahaan dalam kegiatan pengendalian kualitas adalah menekan jumlah produk cacat dan produk rusak sehingga biaya produk yang dikeluarkan dapat diminimalisir. Produk cacat adalah produk yang dihasilkan dari proses produksi yang tidak memenuhi standar namun secara ekonomis bila diperbaiki lebih menguntungkan dibanding langsung dijual. (Halim, 2000). Sedangkan defective merupakan semua unit dengan satu atau lebih cacat.

(4)

9 Produk cacat dapat disebabkan karena hal-hal sebagai berikut :

a. Produk cacat yang disebabkan oleh sulitnya pengerjaan. b. Produk cacat yang sifatnya normal dalam perusahaan.

c. Produk cacat yang disebabkan kurangnya pengendalian dalam perusahaan.

2. Produk Rusak

Produk rusak adalah produk yang dihasilkan dari proses produksi yang tidak memenuhi standar yang ditentukan. Produk rusak mungkin dapat diperbaiki namun biaya perbaikan yang dikeluarkan akan lebih besar dari hasil jualnya setelah diperbaiki (Halim, 2000).

Dari segi dapat atau tidaknya produk rusak dijual, produk rusak dapat digolongkan menjadi dua yaitu :

a. Produk rusak yang laku dijual

Produk rusak yang laku dijual pada umumnya harga jualnya relatif rendah dibanding apabila produk tersebut tidak mengalami kerusakan.

b. Produk rusak yang tidak laku dijual

Produk rusak yang tidak laku dijual dimungkinkan karena tingkat kerusakan produk terlalu tinggi, sehingga produk tersebut sudah kehilangan nilai kegunaan.

Adapun penyebab timbulnya produk rusak adalah :

a. Produk rusak yang disebabkan oleh sulitnya pengerjaan.

b. Produk rusak yang terjadinya bersifat normal dalam perusahaan.

c. Produk rusak karena kesalahan atau kurangnya pengendalian proses produksi.

2.2 KUALITAS PRODUK

2.2.1 Pengertian Kualitas Produk

(5)

10 barang. Kualitas menjadi penentu barang yang dibeli oleh konsumen dapat memberikan kepuasan atau tidak. Kualitas yang diberikan oleh perusahaan yaitu produk yang dibuat sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Kualitas produk adalah produk yang sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan (Crosby, 1979). Produk yang berkualitas merupakan produk yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Kualitas produk merupakan kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar atau konsumen (Deming, 1982). Dalam pembuatan sebuah produk, perusahaan harus memahami apa yang dibutuhkan konsumen. Hal tersebut berguna baik untuk kemajuan perusahaan maupun untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Berdasarkan definisi diatas kualitas produk merupakan produk yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan dibutuhkan oleh konsumen. Selera konsumen yang berubah-ubah menyebabkan perusahaan melakukan inovasi pada saat pembuatan sebuah produk, namun sesuai dengan standar yang telah ditentukan perusahaan.

2.2.2 Dimensi Kualitas Produk

Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat bagi pelanggan (Tjiptono, 2001). Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui dimensi-dimensinya. Dimensi kualitas produk adalah: a. Kinerja (Performance)

Merupakan karakteristik operasi pokok dari produk inti yang dibeli. b. Keistimewaan Tambahan (Features)

Merupakan karakteristik sekunder atau pelengkap. c. Keandalan (Reliability)

(6)

11 d. Kesesuaian Dengan Spesifikasi (Conformance to Specifications)

Merupakan sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

e. Daya Tahan (Durability)

Merupakan daya tahan atau berapa lama produk tersebut dapat digunakan. f. Estetika (Asthethic)

Merupakan daya tarik produk terhadap panca indera.

2.3FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

FMEA merupakan salah satu alat dari Six Sigma untuk mengidentifikasi sumber atau penyebab dari suatu masalah kualitas. Menurut Chrysler (1995), FMEA dapat dilakukan dengan cara :

a. Mengenali dan mengevaluasi kegagalan suatu produk dan efeknya.

b. Mengidentifikasi tindakan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi kegagalan suatu produk.

c. Mencatat setiap kejadian proses produksi suatu produk.

2.3.1 Pengertian Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) harus menjadi panduan untuk pengembangan dalam mengurangi resiko yang terkait dengan sistem, subsistem, dan komponen. FMEA jika dilakukan secara efektif dalam suatu pembuatan suatu produk akan menghasilkan peningkatan yang signifikan untuk kehandalan, keselamatan, kualitas, pengiriman, dan biaya. Analisa tersebut biasa disebut analisa “bottom up”, seperti FMEA adalah analisa teknik yang apabila dilakukan dengan tepat dan waktu yang tepat akan memberikan nilai yang besar dalam membantu proses pembuatan keputusan dari engineer selama perancangan dan pengembangan dilakukan pemeriksaan pada proses produksi tingkat awal dan mempertimbangkan kegagalan sistem yang merupakan hasil dari keseluruhan bentuk kegagalan yang berbeda (Leitch, 1995).

(7)

12 FMEA memiliki manfaat sebagai berikut :

a. Hemat biaya. Penyelesaian yang sistematis sehingga fokus terhadap penyebab suatu kegagalan atau kesalahan.

b. Hemat waktu, lebih tepat pada sasaran.

2.3.2 Tujuan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Tujuan yang dapat dicapai perusahaan apabila menerapkan FMEA:

a. Mengenal dan memprediksi potensial kegagalan dari produk atau proses yang dapat terjadi.

b. Memprediksi dan mengevaluasi pengaruh dari kegagalan pada fungsi dalam sistem yang ada.

c. Menunjukkan prioritas terhadap perbaikan suatu proses atau subsistem melalui daftar peningkatan proses atau subsistem yang harus diperbaiki.

d. Mengidentifikasi dan membangun tindakan perbaikan yang dapat diambil untuk mencegah atau mengurangi terjadinya kegagalan pada sistem.

e. Mendokumentasikan proses secara keseluruhan.

2.3.3 Identifikasi Elemen-Elemen Proses FMEA

a. Fungsi Proses

Merupakan deskripsi mengenai proses pembuatan suatu produk. b. Mode kegagalan

Merupakan suatu kemungkinan kecacatan terhadap setiap proses. c. Efek potensial dari kegagalan

Merupakan suatu efek dari bentuk kegagalan terhadap pelanggan. d. Tingkat Keparahan (Severity)

Penilaian keseriusan efek dari bentuk kegagalan potensial. e. Penyebab Potensial (Potential Cause)

(8)

13 f. Keterjadian (Occurrance)

Mengetahui sesering apakah penyebab kegagalan spesifik dari suatu proyek terjadi.

g. Deteksi (Detection)

Merupakan penilaian dari kemungkinan alat tersebut dapat mendeteksi penyebab potensial terjadinya suatu bentuk kegagalan.

h. Nomor Prioritas Resiko (Risk Priority Number)

Merupakan angka prioritas resiko yang didapatkan dari perkalian Severity, Occurrence, dan Detection

RPN = S x O x D... (1) i. Tindakan yang direkomendasikan

Setelah bentuk kegagalan diatur sesuai peringkat RPNnya, maka tindakan perbaikan harus segera dilakukan terhadap bentuk kegagalan dengan nilai RPN tertinggi.

2.3.4 Langkah Dasar Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Langkah-langkah dasar dalam proses Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) sebagai berikut :

a. Mengidentifikasi fungsi pada proses produksi.

b. Mengidentifikasi potensi failure mode proses produksi. c. Mengidentifikasi potensi efek kegagalan produksi.

d. Mengidentifikasi penyebab-penyebab kegagalan proses produksi. e. Mengidentifikasi mode-mode deteksi proses produksi.

f. Menentukan rating terhadap severity, occurrence, detection, dan Risk Priority (RPN) proses produksi.

(9)

14 Pengukuran tehadap besarnya nilai severity, occurrence, dan detection adalah sebagai berikut :

a. Nilai Severity

Severity adalah langkah untuk menganalisa resiko, yaitu menghitung seberapa besar dampak atau intensitas kejadian mempengaruhi hasil akhir proses.

Tabel 2.1 Nilai Severity

Rating Kriteria

1 Negligible severity (Pengaruh buruk yang dapat diabaikan). 2

3

Mild severity (Pengaruh buruk yang ringan). Akibat yang ditimbulkan masih bersifat ringan.

4 5 6

Moderate severity (Pengaruh buruk yang moderate). Akibat yang ditimbulkan dapat dirasakan dengan adanya penurunan kualitas, namun masih dalam batas toleransi.

7 8

High severity (Pengaruh buruk yang tinggi). Penurunan kualitas yang berada diluar batas toleransi.

9 10

Potential severity (Pengaruh buruk yang sangat tinggi). Akibat yang ditimbulkan sangat berperngaruh terhadap kualitas lain.

Sumber : Gasperz, 2002

b. Nilai Occurance

Setelah penentuan rating pada proses severity, maka tahap selanjutnya menentukan rating terhadap nilai occurance. Occurance merupakan kemungkinan penyebab kegagalan akan terjadi dan menghasilkan kegagalan selama masa produksi produk. Tabel 2.2 dan Tabel 2.3 merupakan tabel nilai occurance.

Tabel 2.2 Nilai Occurance Degree Berdasarkan Frekuensi

Kejadian Rating

Remote 0,01 per 1000 item 1 Low 0,1 per 1000 item

0,5 per 1000 item 2 3 Moderate 1 per 1000 item 2 per 1000 item 5 per 1000 item 4 5 6 Sumber : Gasperz, 2002

(10)

15

Tabel 2.3 Nilai Occurance (Lanjutan) Degree Berdasarkan Frekuensi

Kejadian Rating

High 10 per 1000 item 20 per 1000 item

7 8 Very High 50 per 1000 item

100 per 1000 item

9 10 Sumber : Gasperz, 2002

c. Nilai Detection

Detection berfungsi untuk upaya pencegahan tehadap proses produksi dan mengurangi tingkat kegagalan pada proses produksi.

Tabel 2.4 Nilai Detection

Rating Kriteria

Berdasarkan Frekuensi

Kejadian 1 Metode pencegahan sangat efektif. Tidak ada

kesempatan penyebab mungkin muncul. 0,01 per 1000 item 2

3 Kemungkinan penyebab terjadi sangat rendah

0,1 per 1000 item 0,5 per 1000 item 4

5 6

Kemungkinan penyebab terjadi bersifat moderat. Metode pencegahan kadang memungkinkan penyebab itu terjadi

1 per 1000 item 2 per 1000 item 5 per 1000 item 7

8 Kemungkinan penyebab terjadi masih tinggi

10 per 1000 item 20 per 1000 item 9

10

Kemungkinan penyebab terjadi masih sangat tinggi, penyebab masih berulang kembali.

50 per 1000 item 100 per 1000 item Sumber : Gasperz, 2002

Setelah mendapatkan nilai severity, occurance, dan detection akan diperoleh nilai RPN, dengan cara mengalikan nilai severity, occurance, dan detection. Setelah itu hasilnya diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah dan dapat diketahui nilai yang terbesar harus melakukan perbaikan untuk mengurangi tingkat kecacatan produk.

(11)

16 2.4 FAULT TREE ANALYSIS (FTA)

Fault Tree Analysis (FTA) adalah metode analisis deduktif dengan menggambarkan grafik enumerasi dan analisis bagaimana suatu kerusakan bisa terjadi dan berapa peluang terjadinya kerusakan (Blanchard, 2004). FTA lebih difokuskan pada kerusakan yang memiliki tingkat kepentingan pada level paling tinggi (undesired top-level event). FTA akan menunjukkan hubungan logika (logical connections) antara kerusakan dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada sistem dengan menggunakan simbol-simbol boolean.

Analisis deduktif dilakukan dimulai dengan mendefinisikan kerusakan (undesired event) dan kemudian secara sistematis akan melibatkan semua kemungkinan kejadian (event) dan kesalahan yang dapat menyebabkan munculnya kerusakan (undesired event). Analisis deduktif tersebut akan mengidentifikasi semua kejadian dan penyebabnya, mulai dari kejadian-kejadian yang muncul sampai penyebab paling awal yang mungkin. FTA menggunakan analisis deduktif untuk mencari hubungan sebab dan akibat dari suatu kejadian dalam sistem.

Grafik enumerasi akan menggambarkan bagaimana kerusakan bisa terjadi, penggambaran grafik enumerasi menggunakan simbol-simbol boolean. Grafik enumerasi ini merupakan pohon kesalahan (fault tree) yang akan dianalisis berdasarkan peluang masing-masing penyebab kesalahan. Grafik enumerasi disebut pohon kesalahan (fault tree) karena susunannya seperti pohon, yaitu mengerucut pada satu kejadian serta semakin ke bawah dipecah menjadi cabang-cabang kejadian yang lain. Simbol-simbol dalam FTA (Blanchard, 2004) dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

a. Simbol-simbol hubungan

Simbol hubungan digunakan untuk menunjukkan hubungan antar kejadian dalam sistem. Setiap kejadian dalam sistem dapat secara pribadi atau bersama-sama menyebabkan kejadian lain muncul. Adapun simbol-simbol hubungan yang digunakan dalam FTA, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.5.

(12)

17 Tabel 2.5 Simbol-simbol Hubungan

No Simbol Keterangan

1

Logika And

Logika ini menggambarkan bahwa semua kondisi input harus terjadi jika kondisi output ingin muncul. Jadi output hanya akan muncul jika semua input terjadi secara bersamaan

2

Logika Or

Logika ini menggambarkan bahwa satu kondisi input dapat menyebabkan kondisi output muncul. Jadi output dapat muncul jika salah satu, beberapa dan atau semua kondisi input terjadi.

3

Logika Ordered And

Logika ini menggambarkan bahwa kondisi output hanya akan terjadi jika semua kondisi input terpenuhi dengan ketentuan-ketentuan tertentu.

4

Logika Exclusive Or

Logika ini menggambarkan bahwa kondisi output hanya akan terjadi jika hanya satu kondisi input terpenuhi.

Sumber : Blanchard, 2004

b. Simbol-Simbol Kejadian

Simbol kejadian digunakan untuk menunjukkan sifat dari setiap kejadian dalam sistem. Adapun simbol-simbol kejadian yang digunakan dalam FTA, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.6 dan Tabel 2.7.

Tabel 2.6 Simbol-simbol Kejadian

No Simbol Keterangan

1

Ellipse

Gambar ellipse menunjukkan kejadian pada level

paling atas (top level agent) dalam pohon kesalahan.

(13)

18 Tabel 2.7 Simbol-simbol Kejadian (Lanjutan)

No Simbol Keterangan

2

Rectangel

Gambar Rectangel menunjukkan kejadian pada level

menengah (intermediate fault event) dalam pohon

kesalahan.

3

Circle

Gambar circle menunjukkan kejadian pada level

paling bawah (lowest level failure event) atau disebut

kejadian paling dasar (basic event)

4

Diamond

Gambar diamond menunjukkan kejadian yang tak

terduga (undeveloped event). Kejadian-kejadian tak

terduga dapat dilihat pada pohon kesalahan dan dianggap sebagai kejadian paling awal yang menyebabkan kerusakan.

5

House

Gambar House menunjukkan kejadian input (input

event) dan merupakan kegiatan terkendali (signal). Kejadian ini dapat menyebabkan kerusakan.

Sumber : Blanchard, 2004

FTA menggunakan langkah-langkah terstruktur dalam melakukan analisis deduktif pada sistem. Adapun langkah-langkah FTA (Blanchard, 2004) dalam suatu sistem, sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi kejadian atau peristiwa terpenting dalam sistem (top level event),

Langkah pertama dalam FTA ini merupakan langkah penting karena akan mempengaruhi hasil analisis sistem. Pada tahap ini, dibutuhkan pemahaman tentang sistem dan pengetahuan tentang jenis-jenis kerusakan (undesired event) untuk mengidentifikasi akar permasalahan sistem.

(14)

19 2. Membuat pohon kesalahan (fault tree),

Setelah permasalahan terpenting teridentifikasi, langkah berikutnya adalah menyusun urutan sebab akibat pohon kesalahan (fault tree). Pembuatan pohon kesalahan (fault tree) dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol boolean. Standardisasi simbol-simbol tersebut diperlukan untuk komunikasi dan kekonsistenan pohon kesalahan (fault tree).

3. Menganalisis pohon kesalahan (fault tree),

Analisis pohon kesalahan (fault tree) diperlukan untuk memperoleh informasi yang jelas dari suatu sistem dan perbaikan-perbaikan apa yang harus dilakukan pada sistem. Tahap-tahap analisis pohon kesalahan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

a. Menyederhanakan pohon kesalahan (fault tree), tahap pertama analisis pohon kesalahan adalah menyederhanakan pohon kesalahan dengan menghilangkan cabang-cabang yang memiliki kemiripan karakteristik. Tujuan penyederhanaan ini adalah untuk mempermudah dalam melakukan analisis sistem lebih lanjut.

b. Menentukan peluang munculnya kejadian atau peristiwa terpenting dalam sistem (top level event), setelah pohon kesalahan disederhanakan, tahap berikutnya adalah menentukan peluang kejadian paling penting dalam sistem. Pada langkah ini, peluang semua input dan logika hubungan yang digunakan digunakan sebagai pertimbangan penentuan peluang.

c. Mereview hasil analisis, review hasil analisis dilakukan untuk mengetahui kemungkinan perbaikan yang dapat dilakukan pada sistem.

Output yang diperoleh setelah melakukan Fault Tree Analysis (FTA) adalah peluang munculnya kejadian terpenting dalam sistem dan memperoleh akar permasalahan penyebabnya. Akar permasalahan tersebut kemudian digunakan untuk memperoleh prioritas solusi permasalahan yang tepat pada sistem.

Gambar

Tabel 2.1 Nilai Severity
Tabel 2.4 Nilai Detection
Tabel 2.6 Simbol-simbol Kejadian
Gambar  Rectangel  menunjukkan  kejadian  pada  level  menengah  (intermediate  fault  event)  dalam  pohon  kesalahan

Referensi

Dokumen terkait

Analisa dengan menggunakan Boston Matrix pada tesis ini dilakukan untuk memastikan bahwa strategi bisnis terhadap portfolio produk telah disesuaikan dengan analisa atas 2 (dua)

Evaluasi penilaian penawaran ini dilakukan dengan jalan memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang yang ditawarkan berdasarkan

Sistem FMEA dapat digunakan untuk menganalisa suatu sistem pada tingkata/level mmanapun,dari piece-part level sampai sistem level.Pada tingkat/level terendah,FMEA

Reorder point (ROP) atau sering disebut pemesanan kembali adalah waktu yang terjadi diantara pemesanan dan penerimaan dari suatu pemesanan, waktu tunggu, atau waktu pada

Dynamic Host Configuration Protokol (DHPC) adalah layanan yang secara otomatis memberikan nomor IP kepada komputer yang memintanya. Komputer yang memberikan nomor IP

a) Etika deskriptif adalah etika yang memberikan gambaran dan ilustrasi tentang tingkah laku manusia ditinjau dari nilai baik dan buruk serta hal-hal mana yang boleh

Porter (1985) menjelaskan, analisa rantai nilai merupakan alat analisa stratejik yang digunakan untuk memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif, untuk

Husnan 2001 mengatakan nilai pasar saham dan nilai buku atau disebut dengan Price to Book Value dapat digunakan untuk mengukur nilai perusahaan, semakin besar rasio Price to Book Value