• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1

Profil PT. Syamsir Karya Pertama (PT. SKP)

PT. Syamsir Karya Pertama (PT. SKP) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi yang didirikan pada tahun 1997 oleh sekelompok insinyur yang memiliki pengalaman di bidang konstruksi dan operasional di industri minyak dan gas. Perusahaan ini menawarkan berbagai jasa di bidang konstruksi, seperti engineering, procurement dan construction.

4.1.1 Motto

BERTEKAD TERUS MENJADI YANG TERBAIK DENGAN MENGUTAMAKAN KUALITAS DAN EFISIENSI KERJA

4.1.2 Visi

“Menjadi perusahaan yang terbaik yang bergerak dibidang kontraktor minyak dan gas bumi dengan penyelesaian pekerjaan yang berkualitas tinggi dan tepat waktu dengan

(2)

4.1.3 Misi

Mencapai kepuasan pelanggan dengan memenuhi kebutuhannya. Menerapkan dan mempertahankan sistem mutu ISO 9001:2000.

Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia agar semua karyawan jelas dengan tugas dan tanggung jawabnya serta terus mengevaluasi kemampuan tersebut.

Melakukan tindakan perbaikan yang berkelanjutan serta tindakan pencegahan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian.

Senantiasa meninjau persyaratan-persyaratan manajemen mutu yang telah ditetapkan.

4.1.4 Jasa yang Ditawarkan PT. SKP

Jenis pekerjaan yang ditawarkan, sebagaimana dikutip dari website PT. SKP www.ptskp.com, dapat dilihat pada lampiran 7.

4.1.5 Struktur Organisasi PT. SKP

Struktur organisasi PT. SKP dapat dilihat pada lampiran 8. Struktur organisasi PT. SKP merupakan struktur organisasi jenis matriks, dilihat dari ciri-cirinya yaitu para spesialis tetap bernaung dibawah departemen fungsional sekaligus

(3)

memberikan pelayanan kepada proyek. Karakteristik dari struktur ini yaitu berhubungan dengan organisasi induk dan berhubungan dengan proyek. PT. SKP memutuskan untuk menggunakan struktur matriks karena paling cocok dengan keadaan perusahaan, yaitu karena PT. SKP tidak memiliki banyak tenaga kerja.

4.2

Profil Proyek Ammonium Nitrate Prill Plant (ANPP) ORICA

Penelitian ini mengangkat PT.SKP yang merupakan sub kontraktor dalam proyek ANPP. Berikut adalah profil dari proyek:

Nama proyek : EPC Ammonium Nitrate Prill Plant (ANPP) ORICA

Nilai proyek : Rp. 15.244.556.000

Lokasi : Bontang, Kalimantan Timur. Indonesia

Tujuan : PT. KALTIM NITRATE INDONESIA

merupakan produsen ammonium nitrate, perusahaan ini berencana untuk membangun pabrik ammonium nitrate prill yang lokasinya berada di Bontang, Kalimantan Timur, Indonesia.

(4)

Dalam proyek ANPP, PT. Rekayasa Industri merupakan main contractor yang membawahi PT. SKP. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh PT. SKP, akan dipimpin, dikoordiir, diawasi dan dikontrol oleh PT. Rekayasa Industri.

Sebagai sub kontraktor, PT. SKP harus memahami semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan oleh main contractor, memberikan progress dalam periode tertentu serta melaporkan kendala-kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan proyek. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh sub kontraktor akan dikontrol kualitasnya oleh perwakilan dari pihak main contractor serta dari pihak owner. Kontrak pekerjaan ini adalah “Lump Sum Fixed Price for Indirect Cost” dan “Fixed Unit Price Basis for Direct Work”.

Lingkup pekerjaan yang harus dilakukan oleh PT. SKP dapat dilihat pada

lampiran 9.

4.2.1 Struktur Organisasi Proyek ANPP

Struktur organisasi proyek ANPP dapat dilihat pada lampiran 10. Berdasarkan struktur tersebut, Project Manager untuk proyek ANPP adalah salah satu Operational Director PT. SKP, Beliau menunjuk Site Manager untuk mengendalikan operasional di lapangan dan untuk berkomunikasi dengan main contractor di lapangan.

(5)

4.2.2 Daftar Kontraktor dan Konsultan Proyek ANPP

Konsultan : PT. Petrosea Indonesia

Kontraktor

Pekerjaan Sipil : PT. Murinda Iron Steel Pekerjaan Mekanikal dan Struktur : PT. Guna Teguh Abadi Pekerjaan Piping : PT. Promits

Pekerjaan Instrumen : PT. Syamsir Karya Pertama Pekerjaan Elektrikal : PT. Varia Usaha

Sebagai sub kontraktor, PT. SKP dituntut untuk dapat melakukan koordinasi dengan sub kontraktor lainnya, agar dapat saling bekerja sama demi kelangsungan proyek.

4.3

Tahapan Manajemen Proyek

4.3.1 Perencanaan Proyek

Perencanaan proyek dilakukan oleh pihak main contractor dan owner proyek. Sebagai sub kontraktor, PT. SKP bertugas untuk mengikuti segala perencanaan yang telah ditetapkan oleh pihak main contractor dan owner.

(6)

Sebagai sub kontraktor pekerjaan instrumen, PT. SKP membuat perencanaan yang berkaitan dengan pekerjaan instrumen berlandaskan perencanaan yang telah ditetapkan untuk dapat mencapai tujuan dari proyek tersebut.

Perencanaan Mutu

Perencanaan mutu ditentukan oleh pihak owner, berupa gambar-gambar rencana kerja, spesifikasi material serta persyaratan-persyaratan metode pelaksanaan. Ketentuan mutu ini diberikan kepada para sub kontraktor yang mengikuti tender dalam bentuk dokumen. Setelah dokumen tersebut dipelajari oleh para peserta, diadakan rapat oleh pihak main contractor untuk membicarakan hal-hal yang tidak dimengerti oleh para peserta tender dalam dokumen tersebut. Lalu para peserta diberikan waktu untuk membuat proposal penawaran kepada pihak main contractor, bagi yang memenangkan tender tersebut, wajib untuk mengikuti dan melakukan pekerjaan sesuai dengan standar mutu yang telah disepakati tersebut.

Perencanaan Waktu

Perencanaan waktu penyelesaian proyek ditentukan oleh pihak owner. Perencanaan waktu dibuat dalam bentuk kurva-S dan akan menjadi acuan untuk penyelesaian seluruh item pekerjaan proyek. Sebagai sub kontraktor, PT. SKP sendiri membuat perencanaan waktu yang berkaitan dengan pekerjaan instrumen dan berlandaskan perencanaan waktu yang telah dibuat oleh pihak owner.

(7)

Perencanaan Biaya

Setelah memberikan proposal penawaran, PT. SKP memenangkan tender untuk pekerjaan konstruksi, artinya perencanaan biaya yang ditawarkan oleh PT. SKP telah disetujui oleh pihak main contractor. Kontrak pekerjaan ini adalah “Lump Sum Fixed Price for Indirect Cost” dan “Fixed Unit Price Basis for Direct Work”, artinya selama paket pekerjaan yang diberikan dalam kontrak tidak berubah, maka harga nilai pekerjaannya tetap, kecuali adanya perubahan berupa pekerjaan tambahan. Untuk proses pembayarannya, berdasarkan dari progress pekerjaan yang telah diopname secara bersama-sama.

Perencanaan Sumber Daya

Perencanaan sumber daya yang dilakukan oleh PT. SKP yaitu mencari pekerja-pekerja yang kualifikasinya sesuai dengan yang disyaratkan oleh pihak main contractor. Selain itu melakukan perencanaan alat-alat kerja dan material yang perlu disiapkan.

4.3.2 Pengendalian Proyek

Pengendalian dititikberatkan pada tiga sasaran yaitu biaya, jadwal dan mutu. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah proyek ANPP ini telah berjalan secara efisien dan sefektif dengan optimal atau tidak.

(8)

Pengendalian Biaya

Pengendalian biaya dilakukan oleh Site Manager, sehingga seluruh pengeluaran yang dilakukan akan dipertanggung jawabkan kepada Project Manager dan kepada Finance Director. Laporan harus diberikan secara lengkap dalam periode sebulan sekali. Jika terdapat penambahan kerja, maka Site Manager harus membuat proposal permohonan dana tambahan dan mempresentasikannya kepada Project Manager dan Finance Director.

Pengendalian Jadwal

Pengendalian waktu dilakukan dengan cara menghitung progress actual dan membandingkannya dengan progress yang direncanakan. Hasil tersebut akan diperiksa oleh Construction Control untuk memastikan apakah laporan progress tersebut sudah sesuai atau belum dengan kondisi aktual di lapangan. Hasil pengecekan tersebut dibahas pada rapat koordinasi yang dihadiri oleh seluruh pihak yang terkait dalam proyek ANPP. Jika terdapat kendala-kendala, maka akan dibicarakan dan dicarikan solusinya bersama-sama. Rapat ini diadakan dalam periode seminggu sekali.

Pengendalian Mutu

Pada periode tertentu quality control dari pihak PT. SKP dan pihak main contractor, akan memeriksa pekerjaan-pekerjaan dari para pekerja untuk memastikan apakah hasil pekerjaan tersebut sesuai dengan kualitas yang telah ditetapkan atau tidak.

(9)

4.4

Pembahasan Hasil Kuesioner

Responden diminta untuk memberi penilaian terhadap penerapan seluruh 9 kriteria serta sub kriteria manajemen proyek yang efisien dan efektif dengan kondisi yang sebenarnya di proyek ANPP.

Responden diminta untuk memilih salah satu dari pilihan yang dianggap paling mendekati realisasinya, pilihan tersebut yaitu:

Tidak diterapkan 0% = 1 Sudah diterapkan 25 % = 2 Sudah diterapkan 50% = 3 Sudah diterapkan 75% = 4 Sudah diterapkan 100% = 5

Bentuk penilaian seperti ini bertujuan agar memudahkan responden dalam memberikan penilaian. Hasil kuesioner ini diperoleh dengan cara yaitu merata-ratakan penilaian yang diberikan oleh seluruh responden, hasil rata-rata tersebut dianggap dapat mewakili kondisi real dari penerapan kriteria-krtiteria tersebut di proyek ANPP dan ditampilkan pada lampiran 11.

Seluruh komponen didapat dari hasil kuesioner-kuesioner yang telah dilakukan oleh Peneliti sebelumnya, dipakai untuk menentukan kinerja manajemen proyek ANPP ini sudah optimal atau tidak. Caranya adalah dengan perhitungan seluruh komponen yang ada mulai dari kriteria, sub kriteria, bobot terapan sub kriteria tersebut. Hasil perhitungan dari masing-masing kriteria mulai dari tahap

(10)

pertama hingga tahap ketiga (tahap pertama sampai tahap kedua telah dilakukan oleh Peneliti sebelumnya) dan nilai atau score akhir bagi manajemen proyek ANPP akan dibahas satu persatu.

Skor ideal dari seluruh hasil perhitungan adalah 5, dengan asumsi bahwa setiap responden akan memberikan jawaban tertinggi yaitu 5 atau 100%. Hasil dari seluruh perhitungan akan dibandingkan dengan skor ideal.

4.4.1 Profil Responden

Responden untuk kuesioner tahap ketiga ini merupakan orang-orang yang terlibat dalam proyek ANPP, baik yang berada di lapangan maupun yang berada di kantor pusat. Responden merupakan orang-orang yang menangani dan bertanggung jawab atas pembangunan proyek ini dari tahap awal hingga akhir dan merupakan karyawan tetap PT. SKP. Pemilihan responden adalah berdasarkan struktur organisasi proyek ANPP, sehingga perwakilan dari head office dan site office telah terwakilkan. Dari 116 jumlah karyawan, terdapat 103 karyawan yang merupakan karyawan tidak tetap, sedangkan sisanya merupakan karyawan tetap PT. SKP yaitu sebanyak 13 karyawan.

(11)

Berikut adalah profil responden dari kuesioner tahap ketiga, antara lain :

Tabel 4.1 Profil Responden

NO JABATAN PENGALAMAN KETERANGAN

1 President Director 35 Tahun Kantor Pusat

2 Finance Director 30 Tahun Kantor Pusat

3 Project Manager and Operational

Director 26 Tahun Kantor Pusat

4 Procurement 8 Tahun Kantor Pusat

5 Project Control 10 Tahun Kantor Pusat

6 Site Manager 13 Tahun Lapangan

7 Administration & Cashier 11 Tahun Lapangan

8 Construction Control 5 Tahun Lapangan

9 QA/QC 9 Tahun Lapangan

10 Warehousemen 11 Tahun Lapangan

11 Superintendent 12 Tahun Lapangan

12 Safety Supervisor 12 Tahun Lapangan

13 Field Engineer 13 Tahun Lapangan

14 Quality Control 10 Tahun Main Contractor

Sumber : Hasil pengolahan data Kriteria yang digunakan dalam pemilihan responden adalah pihak-pihak yang dibatasi hingga sampai layer ketujuh, yaitu sampai level supervisor dan merupakan karyawan tetap PT. SKP. Pembatasan ini dikarenakan bahwa para responden ini diyakini memahami konsep manajemen proyek dan terlibat dari mulai perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan hingga penyelesaian proyek ANPP.

Jumlah responden yang memenuhi kriteria tersebut adalah sebanyak 14 responden. Sebagai pihak yang mengawasi pekerjaan dari manajemen proyek PT. SKP pada proyek ANPP, maka terdapat satu perwakilan koresponden dari pihak main contractor yaitu quality control yang akan menjadi salah satu sampel pada penelitian ini.

(12)

4.4.2 Rencana Kerja

Rencana kerja merupakan proses dikeluarkannya suatu work statement dan daftar deliverable yang diikuti oleh pembuatan perkiraan biaya dan sumber daya (material, peralatan dan tenaga kerja).

Tabel 4.2 Nilai Akhir Kriteria Rencana Kerja N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Pemahaman atas scope dari paket pekerjaan yang akan dilaksanakan. Besar kecilnya setiap volume paket pekerjaan harus dapat diukur dan dikontrol dengan baik.

17,04% 4,857142

86 0,82766

2

Kebutuhan atau kualifikasi dari setiap paket pekerjaan harus lengkap dan jelas. Meliputi hal-hal seperti penggunaan scaffolding, genset, ijin-ijin khusus, peralatan konstruksi, material-material prefabrikasi, gambar kerja, spesifikasi, prosedur, dan lain-lain.

12,80% 5 0,64

3 Rencana paket pekerjaan dibuat dengan

mempertimbangkan faktor-faktor keamanan kerja. 12,02% 5 0,601 4

Rencana kerja dan waktu yang diperlukan untuk masing-masing paket pekerjaan harus konsisten dan sejalan dengan schedule proyek sehingga penyelesaian proyek dapat tepat waktu.

11,67% 5 0,5835

5

Menggunakan metode konstruksi yang efektif dan efisien dalam melaksanakan setiap item atau paket pekerjaan.

10,85% 4,714285

71 0,5115 6

Menentukan jumlah dan jenis tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap paket pekerjaan.

9,79% 5 0,4895

7

Pengecekan terhadap jumlah jam kerja yang dihabiskan oleh tukang atau tenaga kerja dalam penyelesaian pekerjaan sehingga produktifitas proyek dapat terukur.

9,40% 4,857142

(13)

N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

8 Adanya Person in Charge dalam setiap paket

pekerjaan. 8.53% 5 0,4265

9

Me-monitoring kemajuan pekerjaan secara periodik dan memastikan tidak ada hambatan yang memperlambat progress pekerjaan. Memberi solusi bagi setiap masalah yang timbul dengan cepat untuk efisiensi pekerjaan.

7.90% 5 0,395

Total Nilai untuk Kriteria Rencana Kerja 4,931228

571

Sumber : Hasil Pengolahan Data Dari tabel diatas, menunjukan bahwa upaya perencanaan kerja oleh PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,93 (dari skala 5) atau 98,63%, terletak pada daerah sangat baik (SB), dimana kriteria ini merupakan kriteria yang paling kritis dalam mencapai kinerja manajemen proyek yang efektif dan efisien.

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 98,63%100% Gambar 4.1 Skala Kriteria Rencana Kerja

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 9 sub kriteria perencanaan kerja, terdapat beberapa sub kriteria yang perlu ditingkatkan lagi. Sub kriteria tersebut antara lain penggunaan metode konstruksi yang efektif dan efisien dalam melaksanakan setiap item atau paket

(14)

pekerjaan (4,71); pemahaman atas scope dari paket pekerjaan yang akan dilaksanakan. Besar kecilnya setiap volume paket pekerjaan harus dapat diukur dan dikontrol dengan baik (4,86); dan pengecekan terhadap jumlah jam kerja yang dihabiskan oleh tukang atau tenaga kerja dalam penyelesaian pekerjaan sehingga produktivitas proyek dapat terukur (4,86).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, menjelaskan bahwa metode yang digunakan sebenarnya sudah cukup efisien karena pemakaian budget lebih sedikit dari yang sudah direncanakan, selain itu secara efektif dapat menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Setiap periode tertentu pihak main contractor melakukan inspeksi quality control untuk pekerjaan yang dilakukan oleh PT. SKP. Tetapi ada beberapa kendala eksternal yang terjadi pada saat pengerjaaan proyek ANPP ini yaitu faktor alam, keterlambatan pengadaan oleh sub kontraktor lain, dan terlambatnya pekerjaan oleh disiplin lain yang berimbas pada pekerjaan instrumen yang dilakukan oleh PT. SKP. Untuk menghadapi kendala-kendala tersebut, Site Manager harus dapat mengatur para pekerja agar selalu produktif.

Kendala cuaca yang sering dihadapi oleh PT. SKP yaitu pada saat hujan sehingga pekerjaan konstruksi yang dilakukan para pekerja di tempat terbuka seperti penarikan kabel, galian, pengelasan dan lainnya harus berhenti sampai hujan mereda. Untuk menghadapi kendala seperti ini, maka para pekerja tersebut langsung dialihkan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan di dalam ruangan. Setelah cuaca kembali cerah, para pekerja tersebut langsung kembali ke pekerjaannya semula sehingga dapat mengejar waktu yang tertinggal. Lembur akan diberlakukan jika diperlukan agar pekerjaan dapat selesai tepat pada waktu yang telah ditentukan.

(15)

Kendala lain yang dihadapi PT. SKP yaitu keterlambatan pengadaan material yang dilakukan oleh sub kontraktor lain sehingga PT. SKP tidak dapat melakukan instalasi instrumen. Material yang sering terlambat antara lain cabel tray dan field instrument equipment. Untuk mengatasi kendala ini, Site Manager menugaskan para pekerja yang seharusnya melakukan instalasi kabel untuk membantu grup lain menginstalasi material-material yang telah tersedia.

Kendala lain yang sering dihadapi PT. SKP yaitu terlambatnya pekerjaan yang dilakukan oleh disiplin lain sehingga PT. SKP tidak dapat memasang instrumen karena area kerja belum siap jika pemasangan pipa belum selesai. Terlambatnya pekerjaan disiplin ini disebabkan perubahan rute pada saat pemasangan pipa karena menabrak pipa lain sehingga harus merubah jalur. Akibat dari perubahan jalur tersebut yaitu terdapat perhitungan material baru yang dibutuhkan tetapi tidak tersedia sehingga harus dipesan terlebih dahulu dan menunggu material tersebut sampai di lapangan. Untuk mengatasi hal ini, para pekerja diusahakan untuk terus bekerja membantu grup lain yang area kerjanya telah siap sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma.

Untuk meningkatkannya, PT. SKP harus lebih belajar dari pengalaman-pengalaman pada proyek sebelumnya, sehingga jika akan mengerjakan proyek-proyek berikutnya yang kurang lebih sama paket pekerjaannya, maka akan mengetahui strategi-strategi apa saja yang dapat dilakukan agar pengerjaan proyek dapat dilakukan dengan lebih efisien dan juga lebih efektif.

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, menjelaskan bahwa terkadang ada job description yang masih abu-abu dan baru jelas pada waktu realisasinya. Ini

(16)

disebabkan karena sub kontraktor tidak di ikut sertakan pada saat survey, sub kontraktor hanya sebagai eksekutor saja, sehingga belum mengetahui secara real keadaaan di lapangan.

Pengecekan jumlah jam kerja dilakukan dengan mengukur progress yang terjadi perharinya bukan perjamnya karena banyaknya tugas yang dilakukan setiap jamnya.

Kebutuhan atau kualifikasi dari setiap paket pekerjaan berdasarkan yang tercantum pada dokumen telah dilengkapi, meliputi hal-hal seperti penggunaan scaffolding, genset, ijin-ijin khusus, peralatan konstruksi, material-material prefabrikasi, gambar kerja, spesifikasi, prosedur, dan lain-lain. Jika pada saat realisasinya terdapat perubahan, maka akan disesuaikan kembali.

Bradley (2005) mengungkapkan bahwa “pemilik dan konsultan secara menyeluruh meninjau jadwal awal dengan kontraktor sehingga asumsi dan urutan sepenuhnya dikomunikasikan. Pemilik juga harus mempertimbangkan apa yang mereka minta saat menyiapkan spesifikasi jadwal dan mencoba untuk membuat pembatasan. Demi yang terbaik untuk proyek dan semua pihak yang terlibat pada jadwal baseline, harus merupakan rencana yang masuk akal untuk durasi dan urutan pekerjaan yang diusulkan dan bahwa rencana ini harus benar sehingga dapat menggabungkan informasi baru dan perubahan proyek secara tepat waktu. Pemilik dan mereka yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan, meninjau, menyetujui dan memantau jadwal proyek harus memiliki spesifikasi penjadwalan” (Bradley, Martin J., 2005, PS111-PS114).

(17)

Rencana untuk pelaksanaan paket pekerjaan telah dibuat dengan mempertimbangkan faktor-faktor keamanan kerja, terbukti pada setiap laporan proyek ANPP bahwa keselamatan kerja dalam kondisi “zero accident”, artinya tidak terjadi kecelakaan kerja.

“Perusahaan dapat melakukan penghematan dengan menerapkan praktek-praktek manajemen keselamatan, pengusaha juga dapat meningkatkan citra keamanan” (Findley, Michael., Smith, Susan., Kress, Tyler., Petty, Gregory., Kim, Enoch, 2004, Vol.49, issue 2, p. 14-21).

Terjadi perubahan pada pelaksanaan paket pekerjaan karena terdapat penambahan kerja yang diminta oleh pihak owner dan main contractor yang berkaitan dengan pekerjaan instrumen dan pengadaan untuk material yang berhubungan dengan pekerjaan tambahan yang akan dilakukan oleh PT. SKP, sehingga jadwal proyek berubah. Walaupun dengan adanya jadwal baru, PT. SKP tetap dapat mengikuti perubahan-perubahan tersebut dan mengerjakan proyek sesuai dengan penambahan waktu yang diberikan.

PT. SKP telah menentukan jumlah dan jenis tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap paket pekerjaan, ini dilakukan pada saat proses pembuatan proposal yang akan diajukan oleh PT. SKP kepada main contractor, sehingga dapat dilihat gambaran person in charge pada setiap paket pekerjaan.

Setiap seminggu sekali diadakan rapat internal maupun eksternal dengan pihak main contractor untuk me-monitoring kemajuan pekerjaan dan memastikan tidak ada hambatan yang memperlambat progress pekerjaan. Tujuan dari rapat

(18)

tersebut adalah untuk memberi solusi bagi setiap masalah yang timbul dengan cepat untuk efisiensi pekerjaan.

4.4.3 Pengaturan Biaya

Salah satu sasaran proyek adalah biaya, yaitu proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran dan seefisien mungkin tetapi juga efektif untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu menghasilkan pekerjaan yang dapat mencapai kepuasan pelanggan.

Tabel 4.3 Nilai Akhir Kriteria Pengaturan Biaya N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Membuat kontrol budget yang dapat mengontrol pengeluaran dan memprediksi biaya yang dibutuhkan secara akurat atau cukup detil sesuai dengan rincian pekerjaan yang telah direncanakan.

23,96% 4,857142

86 1,16377

2

Pengontrolan secara kontinu atau seluruh biaya pengeluaran proyek dibandingkan dengan budget yang sudah ditetapkan.

17,66% 5 0,883

3 Biaya proyek di breakdown atau diperinci sesuai

dengan jenis item pekerjaan sampai level terkecil. 15,20% 5 0,76 4 Prediksi tambahan biaya proyek yang mungkin

harus dikeluarkan untuk penyelesaian proyek. 12,81%

3,357142

86 0,43005

5

Pekerjaan tambah-kurang (variation order) dibuat jelas dan terdokumentasi dengan baik, sehingga memudahkan kontrol budget, memprediksikan final cost dan schedule proyek (tambahan waktu pekerjaan) bila terjadi.

10,92% 4,785714

29 0,5226

6 Update data terhadap kontrol budget berdasarkan

pekerjaan tambah-kurang yang telah disetujui. 10,12%

4,428571

(19)

N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

7

Laporan biaya proyek dibuat lengkap dan dilaporkan secara periodik termasuk biaya-biaya tambahan yang mungkin akan dikeluarkan.

9,32% 5 0,466

Total Nilai untuk Kriteria Pengaturan Biaya 4,673592

857

Sumber : Hasil Pengolahan Data Dari tabel diatas, menunjukan bahwa upaya pengaturan biaya oleh PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,67 atau 93,47%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 93,47%100% Gambar 4.2 Skala Kriteria Pengaturan Biaya

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 7 sub kriteria pengaturan biaya, terdapat beberapa sub kriteria yang perlu ditingkatkan lagi. Sub kriteria tersebut antara lain prediksi tambahan biaya proyek yang mungkin harus dikeluarkan untuk penyelesaian proyek (3,36); update data terhadap control budget berdasarkan pekerjaan tambah-kurang yang telah disetujui (4,43); pekerjaan tambah kurang (variation order) dibuat jelas dan terdokumentasi dengan baik, sehingga memudahkan kontrol budget, memprediksikan final cost dan schedule proyek (tambahan waktu pekerjaan) bila terjadi (4,79); membuat kontrol budget yang dapat mengontrol pengeluaran dan memprediksi biaya yang dibutuhkan

(20)

secara akurat atau cukup detil sesuai dengan rincian pekerjaan yang telah direncanakan (4,86).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, sebelum mengerjakan suatu proyek, Site Manager membuat rincian prediksi budget yang dibutuhkan secara detail sesuai dengan rincian pekerjaan yang telah direncanakan, lalu dipresentasikan kepada Project Manager dan Finance Director. Setelah disetujui, budget dipegang dan dikontrol oleh Cost Controller di head office, untuk di lapangan budget dikontrol oleh Site Manager. Setiap pengeluaran akan dilaporkan kepada Cost Control di head office berupa laporan yang detail oleh Site Manager, sehingga setiap pengeluaran dapat dikontrol dengan baik. Hal ini dilakukakan untuk pengontrolan secara kontinu atau seluruh biaya pengeluaran proyek untuk dibandingkan dengan budget yang sudah ditetapkan.

Dijelaskan juga bahwa prediksi tambahan biaya proyek memang tidak disediakan selama tidak ada penambahan durasi proyek yang menyebabkan penambahan-penambahan biaya. Jika terdapat penambahan biaya, maka Site Manager harus membuat permohonan penambahan budget dan mempresentasikannya kepada Project Manager dan Finance Director. Kontrak dalam proyek ini adalah “Lump Sum Fixed Price for Indirect Cost” dan “Fixed Unit Price Basis for Direct Work”.

Walaupun memang prediksi tambahan biaya tidak disediakan selama tidak ada penambahan durasi atau kerja proyek, tetapi tidak ada salahnya untuk memprediksi tambahan biaya proyek sehingga jika sewaktu-waktu diperlukan biaya

(21)

tambahan, dana tersebut sudah tersedia. Jika dana tersebut tidak digunakan, maka dapat digunakan untuk proyek lainnya.

Pekerjaan tambahan telah dibuat dengan jelas oleh pihak main contractor, dikerjakan oleh PT. SKP sesuai dengan permintaan dan persetujuan main contractor dan terdokumentasi dengan baik, sehingga memudahkan kontrol budget, memprediksikan final cost, schedule proyek tambahan waktu pekerjaan dan update data terhadap kontrol budget berdasarkan pekerjaan tambahan yang telah disetujui. Laporan biaya proyek dibuat dengan lengkap dan dilaporkan secara periodik tertentu.

Tichacek, Robert L. (2005) menjelaskan bahwa cost management yang efektif adalah jika fungsi managementis biaya tidak dianggap sebagai disiplin atau sebagai posisi dalam project structure dan ditugaskan bukan hanya untuk individu, tetapi untuk seluruh tim. Integrasi proses dan informasi mengenai biaya membutuhkan keterlibatan dan interaksi antara banyak individu pada tingkat yang berbeda, memiliki peran yang berbeda dan keterampilan yang berbeda. Biaya dianggap sebagai sumber daya yang terbatas, dengan demikian sebagai project control, project management harus dapat mengeluarkan usaha dan kecerdasan yang diperlukan untuk dapat mengelolanya. Pengaturan biaya yang efektif membutuhkan pelaksanaan metodologi dan langkah-langkah yang berulang dari proyek satu ke proyek lainnya dan dapat diintegrasikan dengan tujuan organisasi.

(22)

4.4.4 Pengaturan Jadwal

Salah satu sasaran proyek adalah jadwal, yaitu proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan.

Tabel 4.4 Nilai Akhir Kriteria Pengaturan Jadwal N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Mengikuti schedule pekerjaan yang lengkap atau master schedule dengan analisa jalur kritis (CPM) dengan mempertimbangkan lamanya pekerjaan konstruksi, pengadaan material dan tenaga kerja yang telah ditetapkan oleh main contractor.

22,87% 4,5 1,02915

2

Dibuatkan schedule rencana kerja bulanan atau 2 mingguan atau mingguan yang harus dilaksanakan secara konsisten dan berdasar atas master schedule yang telah disepakati.

14,30% 5 0,715

3

Rencana kerja mingguan yang menjelaskan secara detil target dan volume pekerjaan yang akan diselesaikan selama seminggu.

14,05% 5 0,7025

4

Dibuatkan monitoring Kurva-S proyek, membandingkan yang terealisasi versus yang direncanakan, sehingga apabila terjadi keterlambatan, tindakan koreksi dapat segera dilakukan.

11,86% 4,857142

86 0,57606

5 Histogram mengenai kebutuhan manpower atau

tenaga kerja yang diperlukan. 10,80%

4,357142 86

0,47057

6

Membuat milestone-milestone untuk mengontrol kelancaran penyelesaian proyek, sehingga proyek dapat diselesaikan tepat waktu.

9,47% 4,357142

86 0,41262

7

Schedule harus ter-update mengikuti progress pekerjaan proyek secara berkala seperti mingguan atau bulanan.

(23)

N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

8

Adanya laporan bulanan proyek kepada manajemen, yang menjelaskan secara umum mengenai kemajuan proyek, waktu tersisa, Kurva-S, administrasi proyek, foto-foto, dan lain-lain.

7,59% 5 0,3795

Total Nilai untuk Kriteria Pengaturan Jadwal 4,7379

Sumber : Hasil Pengolahan Data Dari tabel diatas, menunjukan bahwa upaya pengaturan jadwal oleh PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,74 atau 94,76%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 94,76%100%

Gambar 4.3 Skala Kriteria Pengaturan Jadwal Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 8 sub kriteria pengaturan jadwal, terdapat beberapa sub kriteria yang perlu ditingkatkan lagi. Sub kriteria tersebut antara lain membuat histogram mengenai kebutuhan manpower atau tenaga kerja yang diperlukan (4,36); membuat milestone-milestone untuk mengontrol kelancaran penyelesaian proyek, sehingga proyek dapat diselesaikan tepat waktu (4,36); mengikuti schedule pekerjaan yang lengkap atau master schedule dengan analisa jalur kritis (CPM) dengan mempertimbangkan lamanya pekerjaan konstruksi, pengadaan material dan tenaga kerja yang telah

(24)

ditetapkan oleh main contractor (4,5); dibuatkan monitoring kurva-S proyek, membandingkan yang terealisasi versus yang direncanakan, sehingga apabila terjadi keterlambatan, tindakan koreksi dapat segera dilakukan (4,86).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, dijelaskan bahwa histogram yang telah dibuat oleh manajemen proyek memang kurang tepat karena perkembangan proyek pada saat aktualnya seperti penambahan pekerjaan dan karena kendala-kendala pada saat realisasinya seperti contohnya karena keterlambatan pekerjaan oleh disipilin lain, maka pekerjaan instrumen yang akan dilakukan oleh PT. SKP tertunda, sehingga untuk mengejar waktu yang tertinggal maka PT. SKP menambah tenaga kerja atau mengadakan lembur agar proyek dapat selesai tepat pada waktunya.

Site Manager meng-update milestone-milestone serta jadwal setiap ada perubahan-perubahan yang terjadi (tergantung kondisi). Update dapat terjadi berdasarkan hasil rapat dengan main contractor karena main contractor memiliki milestone dan jadwal sendiri dan sebagai sub kontraktor, PT. SKP menyesuaikan milestone-nya dan jadwalnya dengan main contractor.

Untuk meningkatkan penerapan sub-sub kriteria ini, maka site management dan project management dapat belajar dari pengalaman-pengalaman proyek sebelumnya dalam merencanakan kebutuhan tenaga kerja, dan membuat milestone-milestone harus dilakukan dengan benar dan di-update jika terjadi perubahan-perubahan serta diinformasikan kepada pihak eksternal dan internal.

PT. SKP mengikuti dan menganalisa master schedule yang diberikan oleh main contractor. PT. SKP menganalisa lama pekerjaan yang harus dilakukan dan sumber daya yang harus disediakan guna menyelesaikan proyek sesuai dengan jadwal

(25)

yang telah ditentukan. Seteleh itu dibuat schedule rencana kerja bulanan atau 2 mingguan atau mingguan dengan detail target dan volume yang harus dilaksanakan secara konsisten berdasarkan master schedule yang diberikan oleh main contractor.

Kurva-S dibuat oleh main contractor lalu perbandingannya dibuat oleh PT. SKP untuk mengetahui progress yang telah dicapai, jika progress-nya tidak sesuai atau terlalu jauh dari persentase progress yang seharusnya dicapai, maka akan dilakukan tindakan-tindakan koreksi. Kendala-kendala yang terjadi pada saat pengerjaan proyek ANPP ini adalah faktor cuaca, pengadaan material yang dilakukan oleh sub kontraktor lain terlambat dan pekerjaan dari disiplin lain terlambat sehingga PT. SKP mendapat imbas dengan melakukan lembur atau penambahan tenaga kerja untuk mengejar waktu agar proyek dapat selesai sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Kurva-S dapat dilihat pada lampiran 14.

Terdapat laporan bulanan proyek kepada manajemen, yang menjelaskan secara umum mengenai kemajuan proyek, waktu tersisa, Kurva-S, administrasi proyek, foto-foto, dan lain-lain. Laporan ini bertujuan dalam rangka meningkatkan pemahaman serta pelaksanaan pekerjaan dengan baik, PT. SKP mengharuskan Site Manager untuk memberikan laporan tentang perkembangan pelaksanaan proyek secara keseluruhan yang dilaporkan setiap bulan dan bertujuan agar dapat memperoleh solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul sehingga target yang diberikan dapat tercapai dengan baik. Isi dari laporan bulanan proyek yaitu latar belakang proyek, manfaat dan tujuan pembuatan laporan bulanan, manpower status, maning schedule, equipment schedule, safety record

(26)

manhours, general cash flow project, problem and solving, visual (photo project), penutup dan lampiran yang terkait dengan laporan bulanan proyek.

4.4.5 Organisasi

Membangun suatu tim proyek merupakan satu tindakan yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan sebuah proyek.

Tabel 4.5 Nilai Akhir Kriteria Organisasi N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Ada metode seleksi dan evaluasi karyawan yang objective dan didasarkan atas kebutuhan dan persyaratan pekerjaan.

26,28% 4,071428

57 1,06997

2

Membentuk struktur organisasi yang jelas, sehingga tugas, wewenang, tanggung jawab dan jalur pelaporan menjadi jelas bagi setiap karyawan dan pekerja.

20,68% 4,428571

43 0,91583

3

Kerjasama atau komunikasi yang baik dan cepat antara staf di lapangan dengan staf kantor, sehingga semua informasi selalu update. Meeting kordinasi dilakukan secara reguler antara dua belah pihak.

20,52% 4,785714

29 0,98203

4

Adanya perencanaan terhadap penempatan karyawan yang sesuai dengan skill karyawan dan kebutuhan proyek.

19,61% 5 0,9805

5 Diadakan program pelatihan untuk para karyawan

yang menjadi ujung tombak pekerjaan. 12,91%

2,928571

43 0,37808

Total Nilai untuk Kriteria Organisasi

4,326407 143

(27)

Dari tabel diatas, menunjukan bahwa upaya organisasi PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,33 atau 86,53%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 86,53%100% Gambar 4.4 Skala Kriteria Organisasi

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 5 sub kriteria organisasi, hampir semua sub kriteria perlu ditingkatkan lagi. Sub kriteria tersebut antara lain diadakan program pelatihan untuk para karyawan yang menjadi ujung tombak pekerjaan (2,93); ada metode seleksi dan evaluasi karyawan yang objective dan didasarkan atas kebutuhan dan persyaratan kerja (4,07); membentuk struktur organisasi yang jelas, sehingga tugas, wewenang, tanggung jawab dan jalur pelaporan menjadi jelas bagi setiap karyawan dan pekerja (4,43); kerjasama atau komunikasi yang baik dan cepat antara staf di lapangan dengan staf kantor pusat, sehingga semua informasi selalu update. Meeting kordinasi dilakukan secara reguler antara kedua belah pihak (4,79).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, menjelaskan bahwa Site Manager dan para Supervisor akan diberikan training yang berkaitan dengan pekerjaannya. Untuk beberapa jabatan memang belum diberikan training secara rutin karena faktor biaya, waktu dan lokasi, untuk itu diberikan pelatihan secara internal

(28)

oleh orang dalam kantor yang memiliki pengalaman di bidangnya masing-masing. Pemberian pelatihan tergantung kepada persyaratan kualifikasi pekerja yang diminta oleh pihak main contractor, jika terdapat kualifikasi khusus seperti harus memperkerjakan pekerja yang memiliki sertifikasi maka PT. SKP akan mengadakan program pelatihan demi memenuhi persyaratan yang diberikan. Pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pekerja yang memiliki sertifikasi antara lain calibration dan penyambungan kabel.

Selain Site Manager dan Supervisor, terdapat key person lain yang menjadi ujung tombak perusahaan yang juga membutuhkan program pelatihan. Key person tersebut misalnya, engineer, estimator dan procurement. Ketiga karyawan ini memiliki tanggung jawab yang krusial pada sebuah proyek, diharapkan PT. SKP dapat memberikan pelatihan yang berguna bagi ketiga key person tersebut dan demi kemajuan perusahaan juga.

Metode seleksi dan evaluasi karyawan ditentukan oleh Site Manager, sedangkan pelaksananya adalah administrasi lapangan. Standar ditentukan tergantung dari jenis pekerjaan, seperti misalnya untuk pekerjaan construction control, diperlukan orang yang memiliki pengalaman dengan pendidikan minimal smp, berbeda dengan pekerjaan calibration, diperlukan orang yang berpengalaman dengan pendidikan minimal sma.

Struktur organisasi telah dirancang dengan jelas, sehingga tugas, wewenang, tanggung jawab dan jalur pelaporan menjadi jelas bagi setiap karyawan dan pekerja. Setiap sebulan sekali diadakan rapat antara pihak head office dengan pihak site office, Site Manager dan Construction Control melaporkan seluruh informasi yang berkaitan

(29)

dengan proyek kepada Project Manager. Lalu Project Manager akan menyampaikan informasi tersebut kepada President Director.

4.4.6 Progress dan Produktivitas

Pengukuran progress dan produktivitas suatu proyek sangat penting dilakukan oleh sub kontraktor untuk mengetahui apakah pelaksanaan proyek sesuai dengan yang sudah direncanakan atau berjalan diluar rencana.

Tabel 4.6 Nilai Akhir Kriteria Progress dan Produktivitas N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Opname yang akurat dari progress pekerjaan sehingga didapat % penyelesaian dari item pekerjaan yang dibandingkan dengan progress rencana untuk mengetahui apakah kemajuan proyek diatas rencana atau sudah terlambat.

21,81% 4,428571

43 0,96587

2 Pelaksanaan opname pekerjaan secara rutin

dengan periode tertentu. 18,88% 5 0,944

3

Memprediksi total waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian proyek. Dengan demikian manajemen perlu melakukan re-plan dan reschedule proyek apabila muncul kebutuhan-kebutuhan diluar rencana.

18,58% 4,357142

86 0,80956

4

Mengukur faktor produktivitas dengan membandingkan progress yang dicapai terhadap waktu yang telah dihabiskan. Apabila produktifitas rendah maka tindakan koreksi harus segera dilakukan.

16,31% 4,642857

(30)

N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

5

Pembuatan laporan progress dan produktivitas secara rutin kepada manajemen konstruksi sehingga informasi keterlambatan proyek dapat segera diketahui dan diperbaiki.

13,09% 5 0,6545

6

Pengukuran yang tepat terhadap jumlah jam kerja yang telah dihabiskan oleh tukang-tukang terhadap akitivitas suatu pekerjaan.

11,33% 4,214285

71 0,47748

Total Nilai untuk Kriteria Progress dan Produktivitas 4,608657

143

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dari tabel, menunjukan bahwa upaya progress dan produktivitas oleh PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,61 atau 92,17%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 92,17%100% Gambar 4.5 Skala Kriteria Progress dan Produktivitas

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 6 sub kriteria progress dan produktivitas, terdapat beberapa sub kriteria yang perlu ditingkatkan lagi. Sub kriteria tersebut antara lain pengukuran yang tepat terhadap jumlah jam kerja yang telah dihabiskan oleh tukang-tukang terhadap aktivitas suatu pekerjaan (4,21); opname yang akurat dari progress pekerjaan sehingga didapat % penyelesaian dari item pekerjaan yang dibandingkan dengan

(31)

progress rencana untuk mengetahui apakah kemajuan proyek diatas rencana atau sudah terlambat (4,43); memprediksi total waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian proyek. Dengan demikian manajemen perlu melakukan re-plan dan reschedule proyek apabila muncul kebutuhan-kebutuhan diluar rencana (4,36); dan mengukur faktor produktivitas dengan membandingkan progress yang dicapai terhadap waktu yang telah dihabiskan. Apabila produktivitas rendah maka tindakan koreksi harus segera dilakukan (4, 64).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, untuk mengukur jumlah jam kerja, perlu dibicarakan lebih lanjut dengan main contractor karena harus disesuaikan dengan metode yang digunakan oleh main contractor, ini disebabkan karena kondisi, manpower job description dan jenis pekerjaan tiap proyek berbeda-beda. Di dalam proposal terdapat perhitungan manhour, yaitu perhitungan jumlah waktu dan orang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu unit pekerjaan. Perhitungan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman aktual dari proyek-proyek terdahulu, misalnya untuk pekerjaan penarikan 1 rol kabel (500 m) membutuhkan 20 orang untuk diselesaikan dalam waktu kurang lebih 12,5 jam.

Pelaksanaan re-plan dan re-schedule tergantung dari progress dan hasil meeting dengan main contractor yang dilakukan seminggu sekali dan tiap sebulan sekali, tergantung tingkat critical-nya, jika sangat urgent, bisa dilakukan meeting setiap hari untuk mengetahui perkembangannya.

Opname dilakukan seminggu sekali oleh construction control, setelah itu dilakukan rapat secara internal untuk membahas laporan opname yang dilakukan oleh construction control, rapat ini membahas progress yang telah dicapai dengan

(32)

membandingkan dengan waktu yang telah dihabiskan. Apabila produktivitasnya rendah, maka akan dibicarakan tindakan koreksi yang harus dilakukan untuk memeperbaikinya. Lalu dibuat laporan progress dan produktivitas secara rutin kepada manajemen konstruksi sehingga informasi keterlambatan proyek dapat segera diketahui dan diperbaiki.

Mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah isu-isu kritis yang dihadapi oleh manajer konstruksi. Agar berhasil, perusahaan harus fase affirmative action ke dalam manajemen total produktivitas melalui proses formal yang didokumentasikan. Proses ini harus dimulai dengan analisis produktivitas yang telah tercapai, pengetahuan yang diperoleh dari pencapaian terdahulu maka harus digunakan untuk meramalkan dan mengelola produktivitas masa depan. Supervisor yang terlibat dalam proses harus melaksanakan dan memantau nilai-nilai produktivitas yang telah ditentukan. Kemudian perusahaan dapat lebih kompetitif dan sukses. (Motwani, Jaideep; Kumar, Ashok; Novakoski, Michael, 1995, p.18)

(33)

4.4.7 Manajemen Kualitas

Manajemen kualitas merupakan proses penentuan standar dan kriteria mutu yang akan dipakai oleh proyek, serta usaha untuk dapat memenuhinya. Ketentuan standar mutu ini akan besar pengaruhnya terhadap biaya proyek secara keseluruhan.

Tabel 4.7 Nilai Akhir Kriteria Manajemen Kualitas N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Kualitas pekerjaan sudah ditentukan berdasarkan spesifikasi yang terdapat pada dokumen, baik dalam merencanakan, menentukan spec, menyusun syarat-syarat kerja dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang baik.

19,51% 4,571428

57 0,89189

2

Adanya sistem kontrol material yang baik. Sistem harus dapat mengontrol material sejak purchase order, penerimaan, penyimpanan sampai pada penggunaannya.

13,31% 4,714285

71 0,62747

3

Diperlukan tukang yang ahli, mandor yang dapat mengatur dan mengarahkan pekerja termasuk adanya pelaksana yang kompeten.

11,43% 4,785714

29 0,54701

4

Dukungan dari manajemen terhadap QC yang bertanggung jawab atas kualitas, diberikan wewenang untuk melaksanakan pekerjaan perbaikan yang menjamin tercapainya kualitas terbaik.

11,31% 4,714285

71 0,53319

5 Memberi penghargaan kepada para pekerja yang

menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas. 10,56%

3,785714

29 0,39977

6

Identifikasi sedini mungkin untuk area-area pekerjaan dimana hal kualitas masih dapat dikompromikan.

9,66% 4,571428

(34)

N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

7

Laporan dari hasil inspeksi lapangan harus terdokumentasi dengan baik, dimana bila ada penyimpangan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka harus dikoreksi dan dikompromikan, sejauh kualitas tidak dikorbankan.

8,43%

4,571428

57 0,38537

8

Pekerja dan pengawas mengetahui secara pasti standar kualitas yang ingin dicapai untuk setiap pekerjaan. Informasi mengenai spec dan syarat-syarat pelaksanaan tersedia setiap waktu.

8,18% 4,785714

29 0,39147 9 Monitoring terhadap kualitas pekerjaan. 7,62% 5 0,381

Total Nilai untuk Kriteria Manajemen Kualitas 4,598764

286

Sumber : Hasil Pengolahan Data Dari tabel diatas, menunjukan bahwa upaya manajemen kualitas PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,6 atau 92%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 92% 100% Gambar 4.6 Skala Kriteria Manajemen Kualitas

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 9 sub kriteria manajemen kualitas, hampir semua sub kriteria perlu ditingkatkan lagi. Sub kriteria tersebut antara lain memberi penghargaan kepada para pekerja yang menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas (3,79); kualitas

(35)

pekerjaan sudah ditentukan berdasarkan spesifikasi yang terdapat pada dokumen, baik dalam merencanakan, menentukan spec, menyusun syarat-syarat kerja dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang baik (4,57); identifikasi sedini mungkin untuk area-area pekerjaan dimana hal kualitas masih dapat dikompromikan (4,57); laporan dari hasil inspeksi lapangan harus terdokumentasi dengan baik, dimana bila ada penyimpangan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka harus dikoreksi dan dikompromikan, sejauh kualitas tidak dikorbankan (4,57); adanya sistem kontrol material yang baik. Sistem harus dapat mengontrol material sejak purchase order, penerimaan, penyimpanan sampai pada penggunannya (4,71); Dukungan dari manajemen terhadap QC yang bertanggung jawab atas kualitas, diberikan wewenang untuk melaksanakan pekerjaan perbaikan yang menjamin tercapainya kualitas terbaik (4,71); diperlukan tukang yang ahli, mandor yang dapat mengatur dan mengarahkan pekerja termasuk adanya pelaksana yang kompeten (4,79); pekerja dan pengawas mengetahui secara pasti standar kualitas yang ingin dicapai untuk setiap pekerjaan. Informasi mengenai spec dan syarat-syarat pelaksanaan tersedia setiap waktu (4,79).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, dijelaskan bahwa main contractor dan owner pada periode tertentu mengadakan award untuk para pekerja yang menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas, hadiahnya berbentuk jam tangan atau helm besar dan helm kecil. Hal ini dilakukan agar para pekerja memiliki semangat untuk terus bekerja dengan berkualitas.

Walaupun site manager telah melakukan ajang award dalam rangka untuk memberi penghargaan kepada para pekerja yang berprestasi, tetapi dari hasil

(36)

kuesioner ini para pegawai merasa belum dihargai sepenuhnya. Untuk itu perlu dilakukan ide lain seperti diberikan bonus akhir proyek kepada karyawan yang menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas, misalnya bonus sebesar 50% dari gajinya. Dengan begitu dapat menumbuhkan rasa semangat para karyawan.

Syarat-syarat kerja di lapangan mengikuti SOP yang ada, selain itu sebelum melakukan pekerjaan, PT. SKP memberikan method statement dan dipresentasikan kepada main contractor sehingga jika ada metode yang tidak sesuai dengan standar main contractor, dapat dilakukan penyesuaian. Kualitas pekerjaan sudah ditentukan berdasarkan spesifikasi yang terdapat pada dokumen, baik dalam merencanakan, menentukan spec, menyusun syarat-syarat kerja dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang baik.

Identifikasi untuk area-area pekerjaan dilakukan setiap sebulan sekali. Joint inspection dilakukan bersama-sama oleh main contractor, owner dan juga sub kontraktor. Pengambilan keputusan mengenai area-area pekerjan dimana hal kualitas masih dapat dikompromikan, diputuskan oleh owner proyek.

Kontrol material dilakukan dimulai dari pengambilan barang di gudang milik main contractor sampai barang tersebut sudah terpasang dengan benar. Kontrol material dilakukan oleh kedua belah pihak, main contractor dengan sub kontraktor.

Dukungan terhadap QC selalu diberikan karena salah satu objek dari manajemen PT. SKP yaitu untuk memastikan bahwa dalam pelaksanaan setiap proyek dapat mencapai kepuasan klien. Maka dari itu kualitas pekerjaan selalu dimonitor.

(37)

Tenaga kerja ahli yang diperlukan adalah orang-orang yang berpengalaman, dapat mengatur dan mengarahi pekerja. Jika terdapat pegawai yang tidak kompeten, maka akan dilakukan rotasi ke pekerjaan yang tanggung jawabnya tidak terlalu krusial.

Pekerja dan pengawas telah sama-sama mengetahui secara pasti standar kualitas yang ingin dicapai untuk setiap pekerjaan. Informasi mengenai spec dan syarat-syarat pelaksanaan tersedia setiap waktu walaupun terjadi perubahan, informasi selalu diperbarui.

Hart, John A (2005) menjelaskan bahwa ada tiga fase dari construction quality management, yaitu persiapan awal, kontrol lalu ke fase tindak lanjut. Fase-fase ini memerlukan perencanaan yang cermat dan penjadwalan pekerjaan.

Tahap Persiapan

Rapat pertemuan dilakukan, pesertanya adalah manajer QC, pengawas pekerjaan, mandor, setiap sub kontraktor, dan quality assurance (QA) yang representatif. Pertemuan ini mungkin adalah langkah yang paling penting dalam menetapkan kualitas yang dibutuhkan.

Tahap Kontrol

Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk memastikan bahwa prosedur pengendalian dilakukan secara efektif dan pengerjaan yang sebenarnya sesuai dengan persyaratan kualitas yang telah ditetapkan.

(38)

Tahap Tindak Lanjut

Pada fase ini, cek harian dari pekerjaan yang sedang berlangsung menjamin bahwa prosedur kualitas kontrol berfungsi, pengerjaan dapat diterima, pengujian kontrol saat ini dan semua langkah-langkah keamanan di tempat. Upaya ini setiap hari dicatat dalam laporan QC setiap hari sampai dianggap pekerjaan selesai dan semua kekurangan diperbaiki.

4.4.8 Manajemen Material

Manajemen material merupakan kegiatan identifikasi jenis material, volume material yang akan dibutuhkan pada saat pengerjaan proyek, serta kegiatan untuk mengontrol kapan material tersebut harus tersedia berikut pembelian dan penyimpanannya agar proses pengerjaan proyek dapat berjalan lancar.

Tabel 4.8 Nilai Akhir Kriteria Manajemen Material N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Melakukan perencanaan material meliputi: identifikasi jenis, volume material yang dibutuhkan, kapan dibutuhkannya, proses pembelian, pengiriman, penerimaan, penyimpanan atau pengembalian material apabila berlebihan.

27,19% 4,714285

71 1,28181

2

Purchase order dilakukan tepat waktu, dengan mempertimbangkan lamanya waktu pengiriman. Diberikan kepada supplier-supplier yang bereputasi baik dalam menjamin proses pengiriman sesuai deadline dengan kualitas yang baik dan harga kompetitif.

20,20% 4,214285

(39)

N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

3

Informasi yang jelas dari purchasing ke logistik lapangan mengenai kapan material yang dibeli akan dikirim ke lapangan, berapa volumenya dan spesifikasi yang diisyaratkan. Pada saat material akan digunakan di lapangan harus ada pencatatan yang jelas sehingga status material selalu update.

19,35% 4,571428

57 0,88457

4

Mengatur inventory dengan baik akan memperlancar pekerjaan di lapangan. Yang penting adalah ketersediaan material selalu terjamin untuk pelaksanaan pekerjaan.

17,10% 4,357142

86 0,74507

5

Adanya sistem yang selalu update dan mudah diakses dalam memberikan informasi status material. Menginformasikan status purchase order, volume material yang dibutuhkan, penerimaan dan pengeluaran, inventory level, lokasi penyimpanan masing-masing material, dan prediksi adanya kelebihan atau kekurangan. Dengan demikian inventory level dapat diatur dan diputuskan dengan benar.

16,17% 3,571428

57 0,5775

Total Nilai untuk Kriteria Manajemen Material 4,340242

857

Sumber : Hasil Pengolahan Data Dari tabel diatas, menunjukan bahwa upaya manajemen material PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4,34 atau 86,8%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75% 86,8% 100%

Gambar 4.7 Skala Kriteria Manajemen Material Sumber : Hasil Pengolahan Data

(40)

Dari 5 sub kriteria manajemen material, seluruh sub kriteria perlu ditingkatkan lagi. Kelima sub kriteria tersebut antara lain adanya sistem yang selalu update dan mudah diakses dalam memberikan informasi status material. Menginformasikan status purchase order, volume material yang dibutuhkan, penerimaan dan pengeluaran, inventory level, lokasi penyimpanan masing-masing material, dan prediksi adanya kelebihan atau kekurangan. Dengan demikian inventory level dapat diatur dan diputuskan dengan benar (3,57); purchase order dilakukan tepat waktu, dengan mempertimbangkan lamanya waktu pengiriman. Diberikan kepada supplier-supplier yang bereputasi baik dalam menjamin proses pengiriman sesuai deadline dengan kualitas yang baik dan harga kompetitif (4,21); mengatur inventory dengan baik akan memperlancar pekerjaan di lapangan. Yang penting adalah ketersediaan material selalu terjamin untuk pelaksanaan pekerjaan (4,36); informasi yang jelas dari purchasing ke logistik lapangan mengenai kapan material yang dibeli akan dikirim ke lapangan, berapa volumenya dan spesifikasi yang diisyaratkan. Pada saat material akan digunakan di lapangan harus ada pencatatan yang jelas sehingga status material selalu update (4,57); melakukan perencanaan material meliputi: identifikasi jenis, volume material yang dibutuhkan, kapan dibutuhkannya, proses pembelian, pengiriman, penerimaan, penyimpanan atau pengembalian material apabila berlebihan (4,71).

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, menjelaskan bahwa PT. SKP sebagai sub kontraktor, mengetahui identifikasi jenis, volume material yang dibutuhkan, kapan dibutuhkannya, proses pembelian sebagian material yang dilakukan oleh PT. SKP berikut dengan pengiriman, penerimaan, penyimpanan atau

(41)

pengembalian material apabila berlebihan. Terdapat coordinator gudang yang mengurus peralatan dan material yang dibutuhkan dan digunakan oleh PT. SKP, pencatatan dilakukan secara manual dan di update setiap hari.

Permasalahan yang sering dihadapi oleh PT. SKP yaitu jika ada karyawan yang tidak langsung mengembalikan peralatan yang telah selesai dipakainya dan langsung meminjamkan peralatan tersebut ke teman kerja yang sedang membutuhkan, sedangkan peraturannya adalah harus mengembalikan terlebih dahulu ke gudang lalu baru dapat dipinjam kembali setelah melalui pencatatan.

Untuk meningkatkan penerapan sub kriteria ini, PT. SKP diharapkan dapat mengubah metode manual menjadi metode yang lebih praktis dalam pengontrolan inventory, misalnya dengan menggunakan barcode, sehingga arus keluar-masuk material dapat dengan cepat teridentifikasi. Selain itu, diharapkan pengawas gudang dapat menegur para pekerja yang tidak menaati peraturan yang berlaku.

Untuk pembelian material yang ditugaskan kepada PT. SKP, purchase order dilakukan dengan tepat waktu dan diberikan kepada supplier-supplier yang bereputasi baik dalam menjamin proses pengiriman sesuai deadline dengan kualitas yang baik dan harga kompetitif.

4.4.9 Hubungan Pekerja

Hubungan pekerja merupakan kegiatan perencanaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan proyek serta jumlah tenaga kerja, penciptaan aturan-aturan dalam bekerja, pemberian penghargaan dan pelatihan. Kegiatan ini dilakukan agar proyek

(42)

dapat berjalan dengan baik dan dapat menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dengan menggunakan manpower yang tepat.

Tabel 4.9 Nilai Akhir Kriteria Hubungan Pekerja N

O AKTIVITAS BOBOT SKALA

NILAI (bobot x

skala)

1

Schedule perencanaan manpower yang baik terhadap jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sesuai dengan kegiatan di lapangan. Implikasi dari perencanaan ini menghasilkan pekerjaan yang “sesuai jadwal” dengan jumlah tenaga kerja yang tidak berlebihan, dan biaya yang optimum.

25,04% 4,428571

43 1,10891

2

Memberi penghargaan dan training-training bagi karyawan-karyawan yang qualified, agar skill-nya berkembang menjadi bersemangat dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

22,40% 3,214285

71 0,72

3

Menciptakan aturan-aturan main yang jelas dan diterima oleh pekerja untuk menghindari atau menangani secara efektif terjadinya keluhan para pekerja (mogok kerja).

21,60% 4,571428

57 0,98743

4

Proses rekrutmen karyawan yang baik untuk memastikan hanya orang-orang terbaiklah yang diperkerjakan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

19,71% 4,214285

71 0,83064

5

Ada koordinator pekerja proyek yang dapat mengakomodir keluhan atau masalah para pekerja.

11,25% 3,5 0,39375

Total Nilai untuk Kriteria Hubungan Pekerja 4,040728

571

(43)

Dari tabel tersebut, menunjukan bahwa upaya hubungan pekerja PT. Syamsir Karya Pertama adalah sangat baik dengan hasil yang diperoleh sebesar 4 atau 80,81%, terletak pada daerah sangat baik (SB).

Secara kontinum, dapat digambarkan sebagai berikut:

STB TB CB B SB

0% 25% 50% 75%80,81% 100%

Gambar 4.8 Skala Kriteria Hubungan Pekerja Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari 5 sub kriteria hubungan pekerja, seluruh sub kriteria perlu ditingkatkan lagi. Kelima sub kriteria tersebut antara lain memberi penghargaan dan training-training bagi karyawan-karyawan yang qualified, agar skill-nya berkembang menjadi bersemangat dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi perusahaan. (3,21); ada koordinator pekerja proyek yang dapat mengakomodir keluhan atau masalah para pekerja. (3,5); proses rekrutmen karyawan yang baik untuk memastikan hanya orang-orang terbaiklah yang diperkerjakan sesuai dengan bidangnya masing-masing (4,21); schedule perencanaan manpower yang baik terhadap jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sesuai dengan kegiatan di lapangan. Implikasi dari perencanaan ini menghasilkan pekerjaan yang “sesuai jadwal” dengan jumlah tenaga kerja yang tidak berlebihan, dan biaya yang optimum (4,43); menciptakan aturan-aturan main yang jelas dan diterima oleh pekerja untuk menghindari atau menangani secara efektif terjadinya keluhan para pekerja (mogok kerja) (4,57).

(44)

Dari hasil wawancara dengan Site Manager, dijelaskan bahwa setiap bulan sekali diadakan award, yang bernama “Safety Award”. Kategorinya yaitu karyawan yang paling disiplin, produktivitas kerjanya tinggi, dan karyawan yang paling taat terhadap peraturan dan safety. Untuk karyawan yang dianggap memenuhi ketiga kriteria tersebut, maka akan diberikan hadiah berupa souvenir, uang atau pulsa. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa semangat dalam bekerja.

Pemberian training-training belum diterapkan secara optimal karena alasan biaya yang tinggi dan memakan waktu, karena itu proses belajar dilakukan langsung di lapangan oleh atasan yang sudah berpengalaman.

Kendala yang dihadapi PT. SKP untuk mengadakan program pelatihan salah satunya adalah faktor biaya. Biaya untuk mengadakan program pelatihan cukup besar, misalnya untuk mengikuti electrical calibration training dibutuhkan biaya lebih dari Rp. 5.000.000 per orang. Keadaan keuangan PT. SKP memang belum memungkinkan untuk memberikan program pelatihan kepada para karyawan yang menjadi ujung tombak pekerjaan secara rutin, maka dari itu pemberian training dilakukan jika memang terdapat persyaratan khusus dari pihak main contractor.

Selain faktor biaya, kendala lainnya adalah faktor waktu dan lokasi. Pelatihan-pelatihan biasanya diadakan di Jakarta, sedangkan proyek berada di Kalimantan. Pelatihan biasanya membutuhkan waktu tiga hari sampai seminggu, sedangkan proyek tidak dapat ditinggal karena harus diselesaikan tepat pada waktunya.

Untuk meningkatkan penerapan sub kriteria ini, PT. SKP diharapkan dapat menyisihkan dana untuk membiayai pelatihan-pelatihan yang berguna bagi karyawan dan juga bagi kemajuan perusahaan. Penghargaan dapat diberikan berupa bonus,

(45)

misalnya jika suatu tim proyek dapat menyelesaikan proyek sesuai rencana, efisien dan efektif, maka seluruh tim akan diberikan bonus. Dengan cara ini dapat menyatukan visi dan misi seluruh tim, sehingga dapat saling berkerja sama dengan baik.

Keluhan para pekerja dapat disampaikan langsung kepada admin, sehingga admin dapat menyampaikan langsung kepada Site Manager dan Site Manager dapat meneruskannya ke head office. Setiap ada permasalahan yang terjadi yang berkaitan dengan pekerja, semaksimal mungkin akan diselesaikan dengan cepat oleh Site Manager agar tidak mengganggu jalannya proyek.

Proses rekrutmen dilakukan oleh Project Manager dan Site Manager, hal ini disebabkan karena mereka lebih mengetahui kriteria apa saja yang sesuai dengan kebutuhan untuk menyelesaikan suatu proyek.

Perencanaan manpower telah dilakukan dengan baik, hanya saja pada saat realisasinya terdapat sedikit penyesuaian karena terjadi perubahan-perubahan dan penambahan kerja.

4.4.10 Administrasi Sub Kontrak

Administrasi sub kontrak merupakan proses pengintegrasian informasi antara sub kontraktor dengan main contractor. Kegiatan ini dilakukan agar semua pekerjaan yang dilakukan oleh PT. SKP dapat dikontrol oleh main contractor, agar PT. SKP mengerti mengenai paket pekerjaan yang harus dikerjakan dari awal sampai selesai. Soeharto (1999) Dalam penyelenggaraan suatu proyek, kesepakatan yang dicapai dari

Gambar

Tabel 4.2  Nilai Akhir Kriteria Rencana Kerja  N
Gambar 4.1  Skala Kriteria Rencana Kerja  Sumber : Hasil Pengolahan Data
Tabel 4.3  Nilai Akhir Kriteria Pengaturan Biaya  N
Gambar 4.2  Skala Kriteria Pengaturan Biaya  Sumber : Hasil Pengolahan Data
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk harga material dan upah tenaga kerja didapat dari hasil wawancara dengan pihak pelaksana proyek.. Untuk bobot biaya langsung secara umum sebesar 85% dari RAB,dan biaya tidak

Pada Tabel 4.15 dapat disimpulkan bahwa sub kriteria kemampuan memberikan informasi yang jelas (R3) lebih utama dibandingkan dengan subkriteria kecepatan

Kijang EFI berkapasitas 2.000 cc diluncurkan pada bulan September 2000, dengan mesin bertipe baru, 1RZ-E untuk variant Grand dan Krista, sebagai tambahan tipe K yang selama 20

“X”, Gambar 4.17 menunjukkan total pekerjaan bekesting dan pengecoran berdasarkan jenis aktivitas pada proyek “Y”, Gambar 4.18 menunjukkan grafik diagram batang total

Adapun jenis kontrak yang disepakati antara pemilik dengan kontraktor adalah kontrak harga satuan / unit-price contract (Lampiran C). Proyek konstruksi yang

 Pemanfaatan dari belanja dan membandingkan produk serta mencari saran dan informasi tambahan tentang barang yang akan dibeli. Kuesioner tersebut diuji menggunakan uji

Berdasarkan dari ketiga tabel tersebut yaitu Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5 adalah biaya yang dikeluarkan dalam usaha produksi pemasaran ikan konsumsi antara lain

59 Tabel 4.11 Matriks Normalisasi Sub-Kriteria Mesin / Peralatan Sumber: Olah Data Microsoft Excel Peneliti Dalam perhitungan matriks berpasangan antar indikator terhadap kriteria