• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DALAM... i. HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM... ii. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI... iii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DALAM... i. HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM... ii. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI... iii"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iii

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ... iv

HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... v

HALAMAN KATA PENGANTAR ... vi

HALAMAN DAFTAR ISI ... ix

ABSTRACT ... xii

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 8

1.4 Orisinalitas Penelitian ... 9

(2)

1.5 Tujuan Penelitian ... 10 1.5.1. Tujuan Umum ... 10 1.5.2. Tujuan Khusus ... 11 1.6 Manfaat Penelitian ... 11 1.6.1. Manfaat Teoritis ... 11 1.6.2. Manfaat Praktis ... 12 1.7 Landasan Teoritis ... 12 1.8 Metode Penelitian ... 13 1.8.1. Jenis Penelitian ... 14 1.8.2. Pendekatan penelitian ... 15

1.8.3. Sumber Bahan Hukum ... 16

(3)

1.8.4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 17

1.8.5. Teknik Analisis ... 17

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

BAHAN BAKU PRODUK PANGAN ... 18

2.1. Perlindungan Konsumen ... 18

2.1.1. Pelaku Usaha ... 22

2.1.2. Konsumen ... 23

2.1.3. Tanggung Jawab ... 25

2.2. Bahan Baku Produk Pangan ... 26

2.2.1. Jenis-jenis Bahan Baku Produk Pangan ... 27

2.2.2. Pemalsuan Bahan Baku Produk Pangan ... 28

2.2.3. Pengawasan BPOM Terhadap Pemalsuan Bahan Baku Produk Pangan ... 29

BAB III BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU USAHA DAN AKIBAT HUKUM PEMALSUAN BAHAN BAKU ... 31

3.1. Konsep Pemalsuan Bahan Baku Produk Pangan ... 31

3.2. Ruang Lingkup Tanggung Jawab Pelaku Usaha ... 33

3.3. Akibat Hukum Atas Pemalsuan Bahan Baku Produk Pangan Oleh Pelaku Usaha ... 36

(4)

BAB IV MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN TERHADAP PELAKU USAHA YANG MELAKUKAN

PELANGGARAN ... 39

4.1. Pengaturan Penyelesaian Sengketa Yang Merugikan Konsumen Akibat Pemalsuan Bahan Baku Produk Pangan ... 39

4.2. Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Proses Peradilan ... 40

BAB V PENUTUP ... 51

5.1. Kesimpulan ... 51

5.2. Saran ... 51 DAFTAR PUSTAKA

(5)

ABSTRAK

Peristiwa pemalsuan bahan baku produk pangan cukup marak di Indonesia, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pangan yang dipalsukan tersebut menampakkan tampilan fisik yang lebih memikat. Undang- Undang Perlindungan Konsumen hadir sebagai aturan yang berperan untuk melindungi hak-hak konsumen dan mengendalikan aktivitas pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya. Namun dalam penerapanya masih saja kepentingan konsumen terabaikan, banyak produk-produk pangan palsu yang berbahaya bagi kesehatan beredar di masyarakat. Dalam Undang Undang Perlindungan Konsumen pemalsuan produk pangan tidak diatur dengan tegas. Masalah yang akan diteliti meliputi, Apakah pelaku usaha dapat dimintai pertanggungjawaban atas pemalsuan bahan baku produk pangan yang berakibat kerugian konsumen dan Bagaimanakah tata cara penyelesaian sengketa yang merugikan konsumen akibat pemalsuan bahan baku produk pangan.

Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian normatif, yaitu pendekatan perundang-undangan (the statue approach) dan pendekatan analisa konsep hukum (Analytical & Conceptual Approach), artinya suatu masalah akan dilihat dengan menelaah semua undang-undang dan menganalisa konsep hukum.

Adapun hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah konsep pemalsuan bahan baku produk pangan digunakan sebagai dasar tanggung jawab pelaku usaha. Pemalsuan bahan baku produk pangan erat kaitanya dengan sifat pertanggungjawaban yang dikenakan atau dipikulkan kepada pelaku usaha. Akibat hukum atas pemalsuan bahan baku produk pangan oleh pelaku usaha berupa sanksi pidana penjara dan denda serta dapat dikenai sanksi tambahan dalam bentuk ganti rugi dan lain-lain. Sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha tentang produk konsumen, barang dan/ atau jasa konsumen tertentu khususnya terhadap pemalsuan bahan baku produk pangan dapat dilakukan semua konsumen baik perorangan maupun kelompok (class action) bahkan bisa dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat melalui gugatan legal standing. Penyelesaian sengketa ini dapat ditempuh melalui beberapa cara yaitu negosiasi, litigasi, dan non-litigasi. Undang-undang telah menentukan suatu badan yang bertugas dalam penyelesaian sengketa antara konsumen dan pelaku usaha yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Penyelesaian melalui BPSK dapat ditempuh melalui beberapa cara yaitu Konsiliasi, Mediasi, maupun Arbitrase.

Saran dalam penulisan ini adalah pemerintah membuat peraturan yang spesifik dalam UUPK untuk praktik pemalsuan bahan baku produk pangan, lalu sebaiknya pemerintah memperketat pengawasan terhadap perdagangan bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam praktik pemalsuan bahan-bahan baku produk pangan.

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Manusia terlahir dengan tiga kebutuhan primer dalam hidup, salah satu diantaranya adalah pangan. Manusia tidak dapat hidup jika tidak ditunjang oleh pangan dalam menjalankan aktifitas, baik makanan maupun minuman. Manusia memperoleh energi untuk beraktifitas dari pangan, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolaahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Masyarakat di masa modern memperoleh kebutuhan pangan sehari-harinya dengan membeli di pasar atau swalayan, disini masyarakat berperan sebagai konsumen yang didefenisikan sebagai orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Bahan panganan yang dibeli di pasar atau swalayan berasal dari para pelaku usaha, pelaku usaha adalah orang-perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun

(7)

bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.1 Pelaku usaha disini berperan sebagai yang menyediakan benda-benda konsumsi masyarakat yang salah satunya adalah bahan pangan. Dalam kegiatan perdagangan ini beberapa pelaku usaha melakukan kecurangan salah satunya memalsukan bahan baku daganganya, sebagai contoh kasus pertama, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bali menemukan makanan mengandung bahan berbahaya saat bersama dinas terkait melaksanakan Kampanye Pasar Aman di Pasar Nyanggelan, Jalan Tukad Pakerisan Denpasar, Kamis (6/10/2016). Dalam kegiatan tersebut, BBPOM menguji sampel yang dicurigai mengandung bahan berbahaya. Alhasil, dari 50 sampel makanan yang diambil terdapat dua jenis makanan mengandung Rhodamin B. Dari sejumlah sampel yang dibeli, dua makanan yakni apem dan jaje uli positif mengandung Rhodamin B.

Kasus kedua Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar menemukan bahan makanan berbahaya di Pasar Sindu, Sanur, Denpasar. Kepala BPOM Endang Widowati dan pihaknya melakukan sidak bahan-bahan makanan yang mengandung rhodamin, boraks, formalin, dan metaniyellow. BPOM mengambil sampel 50 produk dan bahan makanan. Dari hasil pengujian terdapat dua makanan ringan yang diduga mengandung bahan pewarna tekstil atau rhodamin. Dia menjelaskan kalau makanan itu hasilnya negatif maka tidak akan berubah warna, sementara makanan yang positif mengandung bahan berbahaya

1 Anonim,____,URL//http://balitribune.co.id/content/bbpom-kembali-temukan-makanan-berzat-kimia, diakses tanggal 15 Maret 2017

(8)

maka akan berwarna.2 Masih banyak kasus-kasus lain seperti susu berbahan melamin, makanan yang mengandung formalin, boraks, pewarna tekstil dan bahan kimia berbahaya lainya. Konsumen semata-mata tergantung pada informasi yang diberikan dan disediakan oleh pelaku usaha, akan tetapi informasi yang diberikan tanpa disertai dengan edukasi akan kurang dirasakan manfaatnya.

Hal ini antara lain dilakukan melalui pemasangan label atau standarisasi mutu. Adanya pemasangan label atau pelabelan ataupun standarisasi mutu produk dirasakan sangat penting, khususnya terhadap produk makanan, karena hal ini sangat berhubungan dengan nyawa manusia.

Label berfungsi sebagai tanda pengenal suatu produk yang didalamnya memuat informasi mengenai produk yang bersangkutan, antara lain seperti nama produk, berat/isi bersih, bahan yang digunakan, nama dan alamat produsen, tanggal kadaluarsa dan harga. Label merupakan sumber informasi yang esensial bagi konsumen sehingga konsumen memiliki kontrol dan pilihan yang efektif terhadap apa yang mereka konsumsi berhubungan dengan alasan-alasan kesehatan, keamanan, dan kepercayaan yang diyakini konsumen (misalnya label halal) oleh karena itu keterangan atau informasi pada label harus jujur, benar, dan tidak menyesatkan. Dalam Pasal 7 huruf (b) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 telah diatur bahwa memberikan informasi yang benar, jelas, jujur, mengenai kondisi

2 Anonim,____,URL://http://news.okezone.com/read/2015/10/06/340/1226780/produk-makanan berbahaya-dijual-bebas-di-bali, diakses tanggal 15 Maret 201

(9)

jaminan barang dan/ atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan adalah salah satu dari kewajiban pelaku usaha.

Konsumen menjadi objek dari aktifitas bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya oleh pelaku usaha melalui cara-cara promosi, cara-cara penjualan serta penerapan standar yang dapat merugikan konsumen, sebagai contoh pelaku usaha obat dan makanan menjanjikan khasiat yang cepat pada produk yang dijual dengan cara mencampurkan bahan berbahaya. Informasi tentang produk obat dan bahan makanan semestinya dapat dilihat pada label yang ada di kemasan dan iklan namun label dan iklan seringkali memuat keterangan yang membingungkan bahkan cenderung menyesatkan konsumen.3

Peristiwa diatas telah melanggar hak-hak dari konsumen, masyarakat dirugikan dengan tidak mendapatkan apa yang mereka bayarkan tidak mendapat kejujuran dari pelaku usaha. Pada zaman yang berkembang pesat ini, kegiatan perdagangan merupakan kegiatan yang terus menerus dan berkesinambungan karena adanya saling ketergantungan antara produsen dan konsumen. Kegiatan dimulai dari produksi yang berdasarkan permintaan pasar, dari proses produksi tersebut maka dihasilkanlah produk-produk yang kemudian dapat dikonsumsi oleh masyarakat setelah sebelumnya melalui pendistribusian.

Masalah perlindungan konsumen semakin gencar dibicarakan, permasalahan ini tidak akan pernah habis dan akan selalu menjadi bahan

(10)

perbincangan masyarakat selama masih banyak konsumen yang dirugikan, oleh karena itu, masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan.4

Menurut Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut UUPK), faktor utama yang menjadi penyebab eksploitasi terhadap konsumen sering terjadi adalah masih rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan haknya. Kenyataan bahwa konsumen yang sangat awam terhadap barang-barang yang dikonsumsinya disebabkan oleh adanya kesulitan untuk meneliti mengenai keamanan dan keselamatan di dalam mengkonsumsi barang tersebut.

Kondisi dan fenomena tersebut dapat mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen selalu berada pada posisi yang lemah. Untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen maka perlu ditingkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuh kembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab, agar kewajiban untuk menjamin keamanan suatu produk tidak menimbulkan kerugian bagi konsumen maka dibebankan kepada produsen dan pelaku usaha, karena pihak produsen dan pelaku usahalah yang mengetahui komposisi dan masalah-masalah yang menyangkut keamanan suatu produk tertentu dan keselamatan dalam mengkonsumsi produk tersebut. Kerugian-kerugian yang diderita oleh konsumen merupakan akibat kurangnya tanggung jawab pelaku usaha dalam menjalankan kewajiban-nya untuk memberikan jaminan

4Happy Susanto, 2008, Hak-hak Konsumen Jika dirugikan, Transmedia Pustaka, Jakarta,

(11)

mutu barang dan/ atau jasa yang diproduksi dan diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/ jasa yang berlaku, yang terdapat pada Pasal 7 UUPK huruf (d).

Konsumen di Indonesia layak mendapatkan perlindungan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan konsumen. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen serta kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen itu antara lain adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat konsumen serta membuka akses informasi tentang barang dan/atau jasa baginya, dalam menumbuhkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab.5

UUPK hadir dan bertujuan untuk menjamin kepastian dan perlindungan terhadap konsumen dan pelaku usaha, khususnya terhadap pelaku usaha agar menjalankan usahanya dengan jujur agar konsumen tidak merasa dirugikan. Peraturan yang mengatur tentang produk pangan untuk saat ini, sebenarnya cukup memadai, tetapi dalam penerapanya produsen pangan masih belum mampu menerapkan atau menindaklanjuti setiap ketentuan itu secara maksimal, maka dibutuhkan peran pemerintah secara efektif dan berkelanjutan untuk melakukan pengawasan terhadap setiap produk pangan tanpa ada laporan dari anggota masyarakat lembaga atau yayasan perlindungan konsumen. Upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen

5Adrian Sutedi, 2008, Tanggung Jawab Produk Dalam Perlindungan Konsumen, Ghalia

(12)

merupakan suatu hal kompleks, kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen mendesak untuk segera dicari solusinya. Permasalahan etika dalam kegiatan usaha sudah cukup luas dan mendalam, bahkan menjadi beban moral yang memberatkan. Etika harus dimasukkan sebagai hal yang wajib dalam melakukan kegiatan usaha dalam upaya perlindungan hak-hak konsumen.

Dalam kelangsungan roda perekonomian, konsumen menduduki posisi cukup penting, namun ironisnya sebagai salah satu pelaku ekonomi, kedudukan konsumen sangat lemah dalam hal perlindungan hukum. Lemahnya posisi konsumen menyebabkan posisi hukum konsumen ikut menjadi lemah. Sebelum diterbitkannya UUPK, penegakan hukum untuk mengawasi produsen sangat sulit dilakukan, terutama dalam kaitannya dengan pengajuan gugatan atas kerugian yang diderita oleh konsumen. Kesulitan dalam melakukan gugatan terhadap pelaku usaha yang telah merugikan konsumen adalah dimana setiap pengugat haruslah dapat membuktikan, bahwa pihak pelaku usaha telah melakukan kesalahan. Dengan demikian, setiap pihak yang mendalilkan adanya suatu kesalahan, maka pihak yang mendalilkan tersebut haruslah dapat membuktikan kesalahannya. Hal ini tentu menyulitkan konsumen untuk membuktikan kesalahan produsen sebagai pihak yang bertindak sebagai pelaku usaha.6 Dalam proses penegakan UUPK, peraturan-peraturan tersebut tertulis sebagai hukum positif namun dalam penyelesaian peristiwa pemalsuan bahan baku produk pangan seperti contoh kasus diatas masih sulit untuk diselesaikan karena dalam UUPK tidak ada diatur dengan jelas tentang

(13)

pemalsuan bahan baku produk pangan, akibatnya terjadi di masyarakat peredaran-peredaran produk pangan yang membahayakan kehidupan manusia, maka dari itu penulis terinspirasi untuk mengangkat dan melakukan penelitian hukum, yang berjudul “TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA DALAM MELAKUKAN PEMALSUAN BAHAN BAKU PRODUK PANGAN TERHADAP KERUGIAN

KONSUMEN MENURUT UU No 8 TAHUN 1999 TENTANG

PERLINDUNGAN KONSUMEN” 1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah pelaku usaha dapat dipertanggungjawabkan atas pemalsuan bahan baku produk pangan yang berakibat kerugian konsumen? 2. Bagaimanakah tata cara penyelesaian sengketa yang merugikan

konsumen akibat pemalsuan bahan baku produk pangan? 1.3. Ruang Lingkup Masalah

Mencegah isi dan uraian tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka perlu diberikan batasan-batasan mengenai ruang lingkup masalah yang akan dibahas.7

1. Pertama akan membahas mengenai Apakah pelaku usaha dapat dipertanggungjawaban atas pemalsuan bahan baku produk pangan yang berakibat kerugian konsumen?

7Bambang Sunggono, 2007, Metedologi Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada,

(14)

2. Kedua akan membahas tentang tata cara penyelesaian sengketa yang merugikan konsumen akibat pemalsuan bahan baku produk pangan 1.4. Orisinalitas Penelitian

Penulisan ini didasarkan kepada ide, gagasan, maupun pemikiran penulis secara pribadi dari awal hingga akhir penyelesaian. Ide maupun gagasan yang timbul karena melihat keadaan yang berkembang mengenai bagaimana perlindungan terhadap konsumen mengenai tanggung jawab pelaku usaha dalam melakukan pemalsuan bahan baku produk pangan. Jika terdapat referensi terhadap karya orang lain atau pihak lain, maka dituliskan sumber dengan jelas.

Nomor Peneliti Judul Rumusan Masalah

1 AGUS FAHMI PRASETYA 1103005181 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA, 2015 Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Yang Mengkonsumsi Makanan Kadaluwarsa 1. Bagaimanakah pengaturan mengenai perlindungan hukum terhadap konsumen yang mengkonsumsi makanan kadaluwarsa?

2. Bagaimanakah

pertanggungjawaban pelaku usaha atas kerugian konsumen yang mengkonsumsi makanan yang telah kadaluwarsa?

(15)

2 PANDE MADE AYU DWI LESTARI 1203005081 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA, 2016 Tanggung Jawab Pelaku Usaha Dalam

Peredaran Produk Kadaluwarsa Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun

1999 Tentang Perlindungan Konsumen

1. Bagaimana ketentuan peredaran produk kadaluwarsa berdasarkan peraturan

perundang-undangan? 2. Bagaimana tanggung jawab pelaku usaha terhadap kerugian yang dialami oleh konsumen akibat

mengkonsumsi produk kadaluwarsa?

1.5. Tujuan Penelitian

Penelitian ini sudah tentu nantinya mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.5.1 Tujuan Umum

Yang menjadi tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami mengenai pertanggung jawaban pelaku usaha dalam melakukan pemalsuan bahan baku produk pangan terhadap kerugian konsumen.

(16)

1.5.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: a. Untuk memahami mengenai pertanggung jawaban

mengenai tanggung jawab pelaku usaha dalam melakukan pemalsuan bahan baku produk pangan terhadap kerugian konsumen .

b. Untuk memahami pengaturan penyelesaian sengketa konsumen yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan berbagai pelanggaran.

1.6. Manfaat Penelitian

1.6.1. Manfaat Teoritis

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat melatih masyarakat untuk mengetahui pengaturan mengenai tanggung jawab pelaku usaha dalam melakukan pemalsuan bahan baku produk pangan terhadap kerugian konsumen

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan hukum khususnya mengetahui tanggung jawab pelaku usaha dalam melakukan pemalsuan bahan baku produk pangan terhadap kerugian konsumen dan pengaturan penyelesaian sengketa konsumen yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan berbagai pelanggaran.

(17)

1.6.2 Manfaat Praktis

1. Melalui penulisan ini maka peneliti dapat mencari jawaban atas permasalahan yang diteliti, sehingga nantinya dapat memberikan kesimpulan dan saran sebagai akhir dari penulisan.

2. Dengan adanya hasil penulisan ini, diharapkan dapat mengembangkan pemikiran, penalaran, pemahaman, tambahan pengetahuan serta pola kritis bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penulisan atau dalam bidang ini.

1.7. Landasan Teoritis

- Peraturan perundang-undangan

Peraturan perundang – undangan yang digunakan dalam penulisan ini adalah Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Dalam mengatur perilaku masyarakat dibutuhkan kaidah-kaidah yang mengikat bagi seluruh lapisan masyarakat demi menghindari kejahatan dan pelanggaran terhadap ketertiban umum agar masyarakat dapat hidup damai, tenteram dan aman. Demikian pula bagi konsumen, sebagai anggota masyarakat tentunya juga memerlukan kaidah-kaidah yang dapat menjaganya dari perbuatan pelaku usaha yang melanggar aturan ketertiban kegiatan wirausaha itu sendiri.

- Pendapat Para Sarjana

Menurut Kholmi & Yuningsih (2009;136), mendefinisikan bahwa, “Produk palsu adalah barang yang dihasilkan tidak dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan.” Menurut Bustami & Nurlela (2007;136), “Produk palsu adalah produk

(18)

yang dihasilkan dalam proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tersebut tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan, tetapi masih bisa diperbaiki dengan mengeluarkan biaya tertentu.”

Hadirnya produk palsu ini disebabkan oleh permintaan pasar yang menginginkan barang yang sama tetapi dengan harga yang lebih murah. Dalam prakteknya proses produksi pangan palsu ini adalah dengan secara sengaja mengganti sebagian atau keseluruhan kandungan bahan baku yang tidak memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Produk palsu adalah barang tiruan dengan kualitas yang lebih rendah, hasil produksi usaha yang mengelabui konsumen untuk mempercayai bahwa barang produksi telah memenuhi standar.

1.8. Metode Penelitian

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini dengan tujuan agar dapat lebih terarah dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, maka metode penulisan yang digunakan antara lain:

1.8.1 Jenis Penelitian

Sebagai suatu penelitian dan untuk mendapatkan jawaban hasil ilmiah sesuai dengan permasalahan yang diajukan, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis penelitian secara yuridis normatif. Yang dimaksud dengan penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum kepustakaan atau penelitian hukum yang didasarkan pada data sekunder.8

8Amiruddin dan Zainal Asikin, 2003, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. Raja

(19)

Penelitian hukum normatif digunakan dalam penulisan ini beranjak dari adanya kekaburanan dalam aspek norma hukum, dimana dalam peraturan perundang-undangan tidak diatur secara spesifik terkait pemalsuan bahan baku produk pangan dalam UUPK.

1.8.2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah jenis pendekatan perundang-undangan (The Statue Approach), pendekatan analisis konsep hukum (Analitical & The Conceptual Approach). Pendekatan perundang-undangan digunakan karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral dalam penelitian ini.9

Pendekatan perundang-undangan digunakan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan, norma-norma hukum yang berhubungan dengan pemalsuan bahan baku produk pangan. Pendekatan perundang-undangan (The Statue Approach), yang oleh Peter Mahmud Marzuki disebut pendekatan Undang-undang (The Statue Approach) dilakukan dengan menelaah semua Undang-undang-Undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.10 Pendekatan ini menggunakan ketentuan UUPK.

Pendekatan analisis konsep hukum (Analitical & The Conseptual Approach) merupakan pendekatan yang digunakan untuk memahami dan

9 Ibrahim Johnny, 2006, Teori Metodologi & Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia

Publishing, Malang, h. 302.

10 Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, h.

(20)

menemukan konsep-konsep hukum, asas-asas hukum yang relevan dengan permasalahan pemalsuan bahan baku produk pangan.

1.8.3 Sumber Bahan Hukum

Bahan hukum pada penelitian hukum ini menggunakan beberapa sumber bahan hukum, yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

1. Bahan Hukum Primer

Sumber bahan hukum primer adalah sumber bahan hukum yang bersifat mengikat yakni berupa norma, kaidah dasar dan peraturan yang berkaitan, yang bersifat mengikat.11 Sumber bahan hukum primer yang

digunakan adalah Undang – undang Nomor 8 Tahun 1999 UUPK 2. Bahan Hukum Sekunder

Sumber bahan hukum sekunder yakni bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Meliputi buku-buku, literature, makalah, skripsi, tesis, dan bahan-bahan hukum tertulis lainnya yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.12 Bahan hukum

sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur-literatur yang relevan dengan pemalsuan bahan baku produk pangan, baik literatur-literatur hukum yang berupa buku-buku hukum (textbook) yang ditulis para ahli hukum, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana (doktrin), skripsi atau makalah hukum yang berkaitan dengan perlindungan konsumen,

11Soerjono Soekanto dan Sri Mahmmudji, 1988, Penulisan Hukum Normatif, Rajawali

Press, Jakarta, h. 34.

(21)

hukum, maupun literatur non hukum dan artikel atau berita yang diperoleh via internet dengan cara mengcopy atau mendownload bahan hukum yang diperlukan.

3. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier, yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus besar bahasa Indonesia dan kamus hukum.13

1.8.4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian ini adalah teknik kepustakaan (study document).14 Mengumpulkan semua peraturan perundang-undangan yang beraitan dengan pemalsuan bahan baku produk pangan. Telaah kepustakaan yaitu dengan cara mencatat dan memahami isi dari masing-masing informasi yang diperoleh dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier yang relevan, kemudian dikelompokkan secara sistematis sesuai dengan permasalahan.

1.8.5. Teknik Analisis Bahan Hukum

Teknik analisis yang digunakan dalam penulisan ini adalah ketika telah mengumpulkan semua bahan-bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder ditambah dengan bahan hukum tersier sebagai tambahan, selanjutnya diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif-analisis dan dengan

13 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Op. cit., h. 15.

(22)

menggunakan teknik argumentatif, yaitu dengan menguraikan serta menghubungkan dengan teori-teori dan literatur-literatur yang berkaitan dengan pengaturan pemalsuan bahan baku produk pangan terkait pengaturan hukum tentang perlindungan konsumen di Indonesia, melakukan penafsiran sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan dalam bentuk argumentasi hukum untuk mendapatkan hasil yang akurat, karena suatu undang-undang pada hakikatnya merupakan bagian dari keseluruhan sistem perundang-undangan yang berlaku sehingga tidak mungkin ada satu undang-undang yang berdiri sendiri tanpa terikat dengan peraturan perundang-undangan lainnya.

(23)

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan fakta (the fact approach). Pendekatan fakta adalah adalah suatu pendekatan yang menelaah kepada fakta – fakta dari pelanggaran hukum yang terjadi. Dalam penelitian

Teknik pengumpulan bahan hukum diperoleh dari bahan-bahan hukum kepustakaan dengan cara mencatat bahan-bahan hukum yang berhubungan dengan akta perjanjian kawin dan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi khususnya untuk mahasiswa dan praktisi hukum internasional dalam memahami status suatu Perusahaan Penanaman

Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan permasalahan (isu hukum) yang sedang ditangani 18 , yaitu untuk

Tulisan ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan analisis konsep hukum dan pendekatan kasus yang akan

Skripsi ini mengangkat masalah tentang tanggung jawab maskapai penerbangan terhadap ganti kerugian atas hilangnya barang bagasi milik penumpang ditinjau

Berdasarkan penelusuran studi skripsi di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Udayana dan Internet, bahwa permasalahan hukum yang akan diteliti yang berjudul

Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat digunakan sebagai bahan kritikan atau masukan untuk memperbaiki kekurangan yang penulis amati di