Putri Mutiara Bena1, Dwi Putri Puspa Sari2, Eldimas Erdiansyah A3
ANALISIS SISTEM DISTRIBUSI LOGISTIK : GERAI INDOMARET DI KOTA SEMARANG
Putri Mutiara Bena, Dwi Putri Puspa Sari, Eldimas Erdiansyah A Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro Jalan Prof. Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah (50275)
Email : [email protected], [email protected]2, [email protected]3
Abstrak
Sistem logistik nasional di Indonesia belum memadai. Indikasi persoalan logistik dapat dilihat dari ketersediaan barang, fluktuasi harga, dan disparitas harga antar wilayah untuk beberapa barang, komoditas pokok dan strategis di Indonesia. Sebelum mengkaji lebih jauh mengenai sistem logistik nasional yang kompleks maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji terlebih dahulu kinerja sistem distribusi logistik yang lebih homogen masalahnya yaitu pada perusahaan ritel jaringan. Kajian ini mengambil lokasi di gerai-gerai Indomaret yang merupakan anak perusahaan Salim Group yang dikelola oleh PT. Indomarco Prismatama di Kota Semarang berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pihak independen mengenai ketepatan waktu pengantaran produk sebagai bahan penelitian. Pembuktian penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kondisi lapangan Indomaret memiliki banyak perbedaan dengan pernyataan resmi mengenai sistem logistika perusahaan tersebut dikarenkanan oleh kelemahan dalam sektor distribusi khususnya dalam hal ketepatan waktu karena kota yang padat.
Kata kunci : sistem distribusi, logistika, transportasi, ketepatan waktu
[Analysis Of Logistic Distribution System: Indomaret Outlets In Semarang City]. The national logistic system in Indonesia is not adequate. The indication of a logistical problem can be seen from the availability of goods, price fluctuation and disparity among regions for several goods, staple and strategic commodities in Indonesia. Before reviewing more about complex national logistical system, then this research aimed to review the performance of a more problem-homogeneous logistical distribution system, that is, in network retail company. This review took as location Indomaret outlets which are subsidiaries of Salim Group Company, in turn managed by PT. Indomarco Prismatama in Semarang City according to the results of a research done by an independent party about the punctuality of product delivery as object of research. Proof of this research used the descriptive analysis method. Results gained include: the field condition of Indomaret has many differences with official claim about the company logistical system because of weakness in distribution sector, especially in the punctuality department due to the city's congestion.
Keyword: distribution system ; logistics ; transportation; punctuality
1.
PENDAHULUAN
Kebutuhan masyarakat akan barang saat ini semakin meningkat dan beragam. Kemudian sesuai dengan hukum dalam ilmu ekonomi maka apabila permintaan akan barang semakin tinggi maka penawaran akan barang tersebut juga meningkat. Hal ini menyebabkan tingkat kompetisi antar penyedia barang atau jasa semakin meningkat. Oleh sebab itu perusahaan pasti telah memiliki strategi tersendiri dalam menyikapi kondisi tersebut agar dapat bersaing dan bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Seiring dengan meningkatkan kecenderungan masyarakat yang konsumtif, perkembangan ritel modern di Indonesia semakin meningkat. Perkembangan ritel tersebut merupakan bentuk respon terhadap kesempatan atau peluang, dimana pihak ritel berlomba-lomba dalam usaha untuk menyediakan barang yang dibutuhkan oleh para konsumennya.
pelayanan yang telah diberi nilai tambah. Produk yang dijual sebagian besar adalah barang-barang kebutuhan rumah tangga dan lain-lain yang dikonsumsi secara reguler khsususnya sembilan bahan pokok.
Industri ritel modern di Indonesia memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan juga telah menyerap tenaga erja dalam jumlah yang besar. Angka pertumbuhan ritel di Indonesia dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, pertambahan jumlah penduduk, dan adanya kebutuhan.
Menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), bisnis ritel atau usaha eceran di Indonesia mulai berkembang pada kisaran tahun 1980 an seiring dengan mulai dikembangkannya perekonomian Indonesia. Hal ini timbul sebagai akibat dari pertumbuhan yang terjadi pada masyarakat kelas menengah, yang menyebabkan timbulnya permintaan terhadap supermarket dan departement store (convenience store) di wilayah perkotaan. Perkembangan ritel modern di Indonesia juga didukung oleh kecenderungan pola belanja masyarakat kelas menengah ke atas yang cenderung berorientasi pada lokasi atau tempat belanja bukan jenis barangnya. Hal ini merupakan pengaruh perubahan gaya hidup demi mendapatkan kepuasan batin karena nilai barang sebanding dengan lokasinya. Hal ini berarti bahwa di mana barang dijual berpengaruh pada daya saing ritel itu sendiri terhadap ritel lain untuk menarik konsumen.
Namun, hal yang paling krusial yaitu penyediaan barang. Perusahaan ritel sejenis berlomba-lomba dalam kemudahan konsumen mendapatkan barang. Namun yang lebih penting dari usaha retail adalah kelengkapan barang. Ritel dengan barang yang lengkap akan lebih menarik bagi konsumen untuk didatangi. Dan sebaliknya, apabila barang yang dicari tidak dapat ditemukan maka konsumen akan cenderung pindah ke ritel yang lain. Apabila ini terjadi maka ritel 1 akan mengalami kerugian dengan kehilangan konsumen tersebut. Adapun untuk menjamin ketersediaan barang, maka dibutuhkan sistem distribusi logistik yang efektif dan efisien.
Logistik menurut Council of Supply Chain Management Professionals (CLM, 2000) adalah bagian dari manajemen rantai pasok (supply chain) dalam perencanaan, pengimplementasian, dan
pengontrolan aliran dan penyimpanan barang, informasi, dan pelayanan yang efektif dan efisien dari titik asal ke titik tujuan sesuai dengan permintaan konsumen. Untuk mengalirkan barang dari titik asal menuju titik tujuan akan membutuhkan beberapa aktivitas yang dikenal dengan ‘aktivitas kunci dalam logistik’ diantaranya: 1) customer service, 2) demand forecasting/ planning, 3) inventory management, 4) logistics communications, 5) material handling, 6) traffic and transportation, dan 7) warehousing and storage (Lambert et al., 1998). Dalam Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Perpres No. 26 Tahun 2012), logistik didefinisikan sebagai bagian dari rantai pasok (supply chain) yang menangani arus barang, informasi, dan uang melalui proses pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing), transportasi (transportation), distribusi (distribution), dan pelayanan pengantaran (deliveryservices). Adapun penyusunan sistem logistik ditujukan untuk meningkatkan keamanan, efisiensi, dan efektfitas pergerakan barang, informasi, dan uang mulai dari titik asal (point of origin) sampai dengan titik tujuan (point of destination) sesuai dengan jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen.
Menurut Ballaou (1985), management logistik adalah manajemen dari seluruh aktivitas pergerakan-penyimpanan (move store) dan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan titik-titik pengumpulan/ asal (point of acquisition) dan titik-titik konsumsi/ tujuan (point of consumption). Adapun dalam arti luas, Bowersox, 1995 menyatakan bahwa ruang lingkup logistik meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan pergerakan (barang) dari produsen ke konsumen. Produsen berfungsi menyediakan barang-barang yang merupakan kebutuhan masyarakat. Agar barang dari produsen dapat sampai pada konsumen maka ada pihak distributor yang menghubungkan keduanya.
persediaan, penanganan barang, struktur fasilitas dan sistem informasi dan komunikasi. Ketujuh kegiatan itu disebut juga sebagai bauran kegiatan logistik (logistics activity mix) dimana semua kegiatan tersebut tidak dapat dihindarkan keberadaannya dalam sebuah sistem rantai pasok (SupplyChain System).
Dalam sistem distribusi ini banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan atau ketidak- berhasilannya. Adapun faktor yang dimaksud yaitu (1) apakah sarana dan prasarana angkutan sudah memadai, dalam rangka mengirim barang ke tujuan secara tepat waktu (transportation), (2) apakah yakin bahwa jumlah barang yang dikirim sudah pasti sesuai DO (Delivery Order) yang dikeluarkan Departemen Sales (inventory), (3) apakah pusat-pusat distribusi (Warehouse) beserta fasilitas pendukungnya sudah siap, sehingga barang sampai ke dealer tak terkendala (facility structutre), (4) apakah sistem penanganan barang-barang sudah memadai, sehingga tidak terjadi kerusakan dan kehilangan dalam distribusi (material handling), (5) apakah sistem informasi dan komunikasi yang dimiliki/digunakansudah sesuai dengan kebutuhan (communication & information). Sistem logistik tersusun atas fasilitas-fasilitas yang terhubung dengan jasa pelayanan transportasi. Terdapat lima komponen yang tergabung dalam membentuk sistem logistik, yaitu struktur lokasi fasilitas, transportasi, pengadaan persediaan, komunikasi, serta penanganan dan penyimpanan.
Dalam komponen struktur lokasi fasilitas, jaringan fasilitas yang dipilih oleh suatu perusahaan adalah fundamental bagi hasil-hasil akhir logistiknya. Jumlah, besar, dan pengaturan geografis dari fasilitas-fasilitas yang digunakan mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan pelayanan terhadap nasabah perusahaan dan terhadap biaya logistiknya. Jaringan fasilitas suatu perusahaan merupakan serangkaian lokasi ke mana dan melalui mana material dan produk-produk diangkut. Adapun untuk tujuan perencanaan, fasilitas-fasilitas tersebut meliputi pabrik, gudang-gudang, dan toko-toko pengecer (ritel). Seleksi lokasi yang unggul (superior) dapat memberikan banyak keuntungan yang kompetitif. Tingkat efisiensi logistik yang dapat dicapai berhubungan langsung dengan dan dibatasi oleh jaringan fasilitas.
Pada umumnya, dilihat dari sudut pandang sistem logistik, terdapat 3 (tiga) faktor yang memegang
peranan utama dalam menentukan kemampuan pelayanan transport, yaitu biaya, kecepatan, dan konsistensi. Dalam merancang suatu sistem logistik, sebaiknya keseimbangan antara biaya transportasi
dengan mutu pelayanannya harus
dipertimbangkan. Mendapatkan keseimbangan transportasi yang tepat merupakan salah satu tujuan utama dari analisa sistem logistik. Ada 3 (tiga) aspek transportasi yang harus diperhatikan dalam hubungannya dengan sistem logistik. Pertama, seleksi fasilitas menetapkan suatu struktur atau jaringan yang membatasi ruang-lingkup alternatif-alternatif transport dan menentukan sifat dari usaha pengangkutan yang hendak diselesaikan. Kedua, biaya dari pengangkutan fisik itu menyangkut lebih daripada ongkos pengangkutan saja diantara 2 lokasi. Ketiga, seluruh usaha untuk mengintegrasikan kemampuan transport ke dalam suatu sistem yang terpadu mungkin akan sia-sia saja jika pelayanan tidak teratur (sporadic) dan tidak konsisten.
informasi yang tepat-waktu merupakan faktor penentu yang utama dari kestabilan sistem.
Penanganan dan penyimpanan langsung berhubungan dengan semua aspek operasi. Penanganan dan penyimpanan (handling and storage) ini meliputi pergerakan (movement), pengepakan, dan containerization (pengemasan). Handling ini menimbulkan banyak sekali biaya logistik dilihat dari pengeluaran untuk operasi dan pengeluaran modal.
Sistem logistik nasional di Indonesia belum memadai. Hal tersebut menjadi batu sandungan bagi para pengusaha dalam menjalani aktivitas bisnis di Indonesia. Kondisi tersebut berdampak negatif bagi daya saing produk dalam negeri. Menurut Pendiri Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, sistem logistik Indonesia belum mampu berperan sebagaimana mestinya meskipun peran utamanya yaitu sebagai pendukung konektivitas antar wilayah demi mencapai kesejahteraan masyarakat. Setijadi menambahkan bahwa indikasi persoalan logistik dapat dilihat dari ketersediaan barang, fluktuasi harga dan disparitas harga antar wilayah untuk beberapa barang, komoditas pokok dan strategis di Indonesia. Imbasnya terhadap biaya dan mempengaruhi daya saing barang baik di dalam maupun luar negeri. Masalah di dalam sistem logistik Indonesia sangat kompleks karena berbagai faktor, seperti keragaman komoditas, luas wilayah dan kondisi geografis, kondisi infrastruktur, dan sebagainya.
Sebelum mengkaji lebih jauh mengenai sistem logistik nasional yang kompleks maka kajian ini bertujuan untuk mengkaji terlebih dahulu kinerja sistem distribusi logistik yang lebih homogen masalahnya yaitu pada perusahaan ritel jaringan. Hal ini dilakukan sebagai bekal pemahaman terhadap bagaimana aliran logistik di suatu wilayah yang lebih kompleks. Pemahaman tersebut sangat penting dimiliki oleh seorang perencana karena logistik merupakan kebutuhan dasar manusia (papan, sandang, dan pangan). Dimana manusia merupakan subjek dan objek perencanaan itu sendiri.
Kata kunci logistik adalah aliran barang atau jasa dengan tujuan menyediakan barang dengan jumlah, waktu, lokasi, dan biaya yang tepat. Kegiatan utama logistik adalah pengadaan, penyimpanan, persediaan, pengangkutan, pergudangan, pengemasan, keamanan, dan penanganan barang
dan jasa baik dalam bentuk bahan baku, barang antara, dan barang jadi. Selain penentuan lokasi yang strategis, sistem logistik menjadi hal yang harus diperhatian dalam pendistribusian barang ke tangan konsumen.
Sistem logistik penting dalam kegiatan transaksi ekonomi yang menawarkan lima kegunaan utama, yaitu lokasi, waktu, jumlah, bentuk, dan kepemilikan. Tiga kegunaan pertama adalah berkaitan dengan fungsi logistik. Kegunaan bentuk adalah fungsi produksi dan kegunaan kepemilikan adalah fungsi pemasaran. Logistik memungkinkan terjadinya proses produksi dengan menyediakan bahan baku yang diperlukan. Logistik juga memungkinkan terjadinya proses pembelian dengan mengantarkan produk ke tangan pengguna. Selain itu sistem logistik juga memegang peranan penting dalam persaingan pasar. Semakin baik sistem logistik suatu perusahaan, maka akan semakin unggul pula pelayanan yang diberikannya kepada konsumen. Indomaret merupakan anak dari perusahaan Salim Group yang dikelola oleh PT. Indomarco Prismatama. Di Semarang sendiri, ada sekitar 20 gerai indomaret yang tersebar dibeberapa wilayah. Indomaret mempunyai motto “murah dan hemat”, dan gerai indomaret memiliki tempat yang strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat sekitarnya. Di Semarang terdapat kurang lebih 200 gerai Indomaret dan hanya satu pusat distribusi dengan lebih dari 500 pemasok. Adapun dengan banyaknya gerai Indomaret yang hanya didukung oleh satu pusat distribusi tentu terdapat permasalahan dalam hal pemasokan ke gerai-gerai Indomaret.
Sistem distribusi Indomaret menerapkan teknologi yang canggih dengan menggunakan digital picking system yang memungkinkan Indomaret menjalankan distribusi dengan andal, canggih, dan efisien. Dengan dukungan sumber daya manusia yang ahli di bidangnya, distribusi ke seluruh gerai Indomaret dapat terlayani dengan baik sehingga Pusat Distribusi Indomaret menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia.
2.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipakai dalam analisis lokasi berkaitan dengan sistem distribusi ke gerai Indomaret ini adalah Metode Penelitian Deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya yang pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa yang terjadi pada saat sekarang atau masalah aktual. Analisis gerai Indomaret ini berfokus pada sistem logistik dan distribusi barang dari pusat distribusi ke gerai-gerai indomaret yang sudah tersebar di beberapa wilayah di Kota Semarang, dengan bahasan bagaimana sistem pendistribusiannya dan apa saja kendala yang dihadapi dalam distribusi barang tersebut.
3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Indomaret adalah jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Indomaret merupakan merk dagang yang dimiliki oleh PT. Indomarco Prismatama. Toko Indomaret yang pertama dibuka pada bulan November 1988 di Kalimantan, sedangkan sistem waralaba baru diterapkan pada tahun 1997 dengan dibukanya toko pertama di Ancol Jakarta Utara. Hal tersebut dikarenakan PT. Indomarco Prismatama menguji terlebih dahulu sistem bisnis waralaba ritel hingga membuahkan sebuah sistem waralaba ritel
pertama di Indonesia yang menjadi acuan bagi sistem waralaba lain di Indonesia. Kantor pusat jaringan ritel Indomaret berlokasi di Jalan Terusan Angkasa B2 Kav-1 Gunung Sahari, Kemayoran, Jakarta.
Pada Mei 2016, Indomaret telah mengoperasikan lebih dari 12.800 gerai, yang terdiri dari 60 % milik sendiri dan 40 % milik masyarakat yang tersebar di Jawa, Bali, Madura, dan Sumatera. Gerai Indomaret dengan mudah dapat ditemukan di berbagai kawasan permukiman, perkantoran, niaga, wisata, apartemen, dan fasilitas umum lainnya. Di mana setiap gerai menyediakan lebih dari 5.000 produk. Sistem distribusi Indomaret menerapkan teknologi digital picking system yang diklaim dapat menjalankan distribusi yang andal, canggil, dan efisien. Sistem pendistribusian logistik Indomaret menggunakan sebuah pusat distribusi sebagai tempat penyimpanan barang sementara sebelum didistribusikan ke gerai-gerai yang masuk dalam cakupan wilayah pendistribusiannya. Berdasarkan informasi tentang perusahaan dalam website resmi Indomaret, terdapat pernyataan bahwa Pusat Distribusi Indomaret menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Hingga saat ini, Indomaret memiliki 22 pusat distribusi yang merupakan sentral pengadaan barang untuk ribuan gerai-gerainya. Pusat distribusi tersebut berada di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Parung, Bandung, Cirebon, Purwakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jember, Malang, Lampung, Palembang, Medan, Samarinda, Pontianak, Pekanbaru, Makassar, dan Denpasar.
Pusat distribusi (distribution center) berfungsi sebagai fasilitas pemilahan dan penampungan
Supplier
Pusat Distribusi
Distribution
Supplier
Gerai
Gerai
Gerai
Gambar 1. Mekanisme Distribusi Logistik ke Gerai Indomaret
barang dari seluruh suplier. Keuntungan adanya DC adalah meminimalisasi kebutuhan warehouse (gudang) dan juga memaksimalkan skala ekonomi distribusi ke gerai untuk selanjutnya barang-barang tersebut terjual ke konsumen. Cross docking dapat digunakan untuk mengkonsolidasi pengiriman untuk mencapai skala ekonomi dengan FTL (Full Truck Loaded/ truk dengan muatan penuh). Kemudian dari Distribution Center, produk dari berbagai pemasok akan disortir dan akan dikirimkan ke setiap gerai sesuai dengan kebutuhan gerai dalam satu kali shipment (pengiriman). Dengan begitu akan mengurangi kemungkinan suplier melakukan pengiriman yang kurang efisien. Ketidak efisienan ini dapat disebabkan karena suplier perlu mengirim barang yang jumlahnya kurang dari kapasitas truk, LTL (less than truckload).
Adapun terdapat salah satu elemen yang sangat diperhatikan dalam sistem distribusi Indomaret yaitu pemilihan lokasi. Penentuan lokasi ini merupakan pertimbangan awal sebelum perusahaan beroperasi. Penentuan lokasi yang tepat akan berpengaruh pada kemampuan pemenuhan logistik ke gerai-gerai Indomaret agar mendapatkan persediaan produk-produk yang cukup, mendapatkan tenaga kerja dengan mudah, serta memungkinkan diadakannya perluasan usaha. Kesalahan pada pemilihan lokasi ini akan berpengaruh pada tingginya biaya transportasi, kekurangan tenaga kerja, sehingga kehilangan kesempatan bersaing karena persediaan barang yang tidak memadai.
Berbagai penghargaan telah diraih oleh Indomaret. Beberapa penghargaan diantaranya yaitu Franchise Top of Mind (2013) dan Excellent Service Experience Award (2014). Raihan penghargaan Excellent Service Experience Award (2014) dapat ditarik menjadi asumsi bahwa daya tarik Indomaret terhadap konsumen besar dan berbanding lurus dengan keinginan konsumen untuk kembali berbelanja.
Namun dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Afridel Chandra mengenai kinerja distribusi logistik gerai Indomaret di Kota Semarang pada tahun 2013, ditemukan bahwa kondisi di lapangan Gambar 2. Efisiensi dari Adanya Distribution Center
Sumber : dokumen.tips/documents/manajemen-logistik-pada-perusahaan-retail-pt.html
Gambar 3. Sistem Logistik dengan Distribution Center
sangat berbeda dengan pernyataan Indomaret sebagai salah satu Pusat Distribusi terbaik di Indonesia dan raihan penghargaan yang pernah didapatnya. Permasalahan dalam pendistribusian ke gerai Indomaret dapat dilihat pada tabel berikut:
No
1-2 hari Kemacetan arus
Maks 1 hari Kemacetan transportasi
1-2 hari Kemacetan (daerah
Maks 1 hari Kemacetan (pusat kota)
1-2 hari Daerah banjir rob
14. Semarang-Boja 1-3 hari Kemacetan
No
1-3 hari Kemacetan
20. Singosari, Pleburan
1-2 hari Kemacetan (di tengah kota)
Sumber : Data primer dalam Skripsi Afridel Chandra, 2013
Data tersebut menunjukkan bahwa kinerja distribusi logistik ke gerai Indomaret di Kota Semarang belum efektif dan efisien. Terjadi keterlambatan rata-rata 1-2 hari untuk semua sampel gerai yang digunakan. Keterlambatan tersebut dapat memicu konsumen untuk beralih berbelanja ke ritel lain sehingga merugikan perusahaan itu sendiri. Penyebab keterlambatan penyediaan pasokan tersebut sebagian besar diakibatkan oleh kendala pada tahap distribusi dalam hal ini khususnya transportasi. Maka dari itu, pemilihan angkutan logistik dan rute untuk menjangkau lokasi dalam sistem distribusi logistik perlu untuk dikaji lebih mendalam lagi.
4.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Sistem distribusi dan logistika suatu perusahaan merupakan bagian penting dalam suatu usaha karena menentukan kinerja perusahaan tersebut secara menyeluruh. Untuk memenuhi kebutuhan distribusi ini, retail Indomaret yang menyediakan berbagai cabang pusat distribusi di seluruh Indonesia memperhatikan pemilihan lokasi serta penggunakan digital picking system untuk mempercepat pemindahan barang dari pusat distribusi ke outlet. Dengan pertimbangan tersebut, Indomaret dapat menyatakan dirinya sebagai outlet paling efisien di seluruh Indonesia. Namun kenyataanya, hasil survei pihak independen mengemukakan kelemahan Indomaret dalam bidang transportasi yang menyebabkan Ketidaktepatan waktu penyampaian barang ke
outlet dapat berpotensi menyebabkan konsumen beralih untuk membeli barang di outlet lain. Oleh karena itu, adanya kekurangan yang cukup fatal ini, perlu diadakan penelitian dan pengkajian kembali sistem distribusi untuk memperbakai masalah ini. Hal-hal yang direkomendasikan kepada peneliti di masa mendatang yang berkaitan dengan penelitian ini adalah dapat memperbanyak hasil survei primer terbaru untuk menghasilkan lebih banyak lagi bukti terkini mengenai masalah tersebut. Selain itu, kajian secara lebih mendalam dalam evaluasi sistem distribusi logistik dengan mempertimbangan perkembangan teknologi khususnya transportasi yang dikaitkan dengan kondisi jalur yang dilewati juga diperlukan pihak perusahaan untuk memperbaiki kinerja perusahaan khususnya dalam bidang penyediaan logistik. Penelitian juga hendaknya dapat menggunakan metode-metode selain metode analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini.
5.
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, A. (2013). Analisis Kinerja Distribusi Logistik Pada Pasokan Barang Dari Pusat Distribusi Ke Gerai Indomaret Di Kota Semarang. Universitas Diponegoro. Dalam http://eprints.undip.ac.id. Diakses pada tanggal 7 September 2016.
Soliha, E. (2008). Analisis Industri Ritel di Indonesia. Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), 15, 128-142. Dalam http://download.portalgaruda.org/. Diakses pada tanggal 11 September 2016. Paramita, E. R. (2014). Manajemen Logistik Pada
Perusahaan Retail PT. Indomarco
Prismatama “Indomaret”. Dalam