• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PROSES PEMBENTUKAN NIAT PEMBELIAN (Studi Laboratorium Eksperimen pada Konsumen Potensial Laptop di UNS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL PROSES PEMBENTUKAN NIAT PEMBELIAN (Studi Laboratorium Eksperimen pada Konsumen Potensial Laptop di UNS)"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PROSES PEMBENTUKAN NIAT PEMBELIAN

(Studi Laboratorium Eksperimen pada Konsumen Potensial Laptop di UNS)

SKRIPSI

Diajukan Guna Melengkapi Tugas – Tugas dan Memenuhi Syarat – Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Manajemen Pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Oleh:

ARIEF TRI PRASETYO NIM : F. 0206031

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

ABSTRAK

MODEL PROSES PEMBENTUKAN NIAT PEMBELIAN

(Studi Laboratorium Eksperimen pada Konsumen Potensial Laptop di UNS) Arief Tri Prasetyo

F. 0206031

Beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan konsumen sebelum membeli sebuah produk adalah country of origin dan harga. Country of origin yang terkenal serta

harga yang kompetitif akan membuat konsumen lebih yakin dan nyaman ketika membeli produk tersebut.

Dalam penelitian ini terdapat rumusan masalah sebagai berikut: apakah country of origin berpengaruh positif pada persepsi kualitas merek, apakah harga berpengaruh

negatif pada persepsi penerimaan harga, apakah persepsi kualitas merek dan persepsi penerimaan harga berpengaruh positif pada persepsian nilai, dan apakah persepsi nilai berpengaruh positif pada niat membeli. Dari perumusan masalah tersebut kemudian dibagi menjadi lima hipotesis, yaitu: country of origin berpengaruh positif pada persepsi

kualitas merek, harga berpengaruh negatif pada persepsi penerimaan harga, persepsi kualitas merek berpengaruh positif pada persepsi nilai, persepsi penerimaan harga berpengaruh positif pada persepsi nilai, persepsi nilai berpengaruh positif pada niat membeli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh country of origin dan harga pada persepsi konsumen mengenai value suatu produk, yang kemudian

hal tersebut berpengaruh pada niat membeli konsumen.

Penelitian ini merupakan penelitian kausal dengan jenis eksperimen yang menggunakan objek produk laptop jenis entry level (konsumen tingkat awal). Populasi

dalam penelitian ini yaitu konsumen / calon konsumen laptop yang berstatus sebagai mahasiswa UNS. Partisipan yang diambil yaitu sejumlah 198 responden dengan metode

convenience sampling.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Structural Equation Modelling (SEM), dengan menggunakan teknik estimasi maximum likehood.

Dari hasil olah data dapat disimpulkan:

1. Berdasarkan hasil analisis model struktural yang menguji hubungan pengaruh antara country of origin pada persepsi kualitas merek, didapatkan hasil bahwa country of origin berpengaruh positif pada persepsi kualitas merek.

2. Berdasarkan hasil analisis model struktural yang menguji hubungan pengaruh antara harga pada persepsi penerimaan harga, didapatkan hasil bahwa harga berpengaruh negatif pada persepsi penerimaan harga.

3. Berdasarkan hasil analisis model struktural yang menguji hubungan pengaruh antara persepsi kualitas merek pada persepsi nilai, didapatkan hasil bahwa persepsi kualitas merek berpengaruh positif pada persepsi nilai.

(3)

5. Berdasarkan hasil analisis model struktural yang menguji hubungan pengaruh antara persepsi nilai pada niat membeli, didapatkan hasil bahwa persepsi nilai berpengaruh positif pada niat membeli.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa niat membeli konsumen laptop dipengaruhi oleh persepsi nilai dan persepsi nilai dipengaruhi dari country of origin dan harga. Hal tersebut disebabkan karena dalam memilih produk laptop yang

akan dibeli, konsumen memilih produk yang berasal dari negara maju. Tetapi produk yang berasal dari negara maju dari sisi harga tidak kompetitif, konsekuensinya konsumen mencari produk dari negara berkembang dengan harga yang pantas.

Dari kesimpulan diatas hendaknya produsen laptop memperhatikan negara mana yang dijadikan basis produksi, karena mayoritas masyarakat Indonesia mempunyai persepsi yang buruk pada beberapa negara, yang mengakibatkan tidak maksimalnya penjualan atau akan terjadi pemboikotan. Harga yang ditawarkan kepada konsumen juga hendaknya harga yang kompetitif, agar bisa terjual secara maksimal. Selain itu dari segi penelitian, peneliti hanya menggunakan satu produk. Akan didapat hasil yang lebih akurat apabila menggunakan lebih dari satu produk.

Kata kunci: country of origin, harga

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul :

(4)

Surakarta, Juni 2010

Disetujui dan diterima oleh

Dosen Pembimbing

Lilik Wahyudi, S.E., M.Si.

NIP. 19800603.200501.1.001

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan diterima oleh tim penguji Skripsi

Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret guna melengkapi

tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen

Surakarta, Juli 2010

(5)

1. Dr, Budhi Haryanto, MM. Sebagai Ketua (… ) NIP. 19600904.198601.1.001

2. Lilik Wahyudi, S.E, M.Si Sebagai Pembimbing ( )

NIP. 19800603.200501.1.001

3. Aminah Sukma Dewi, S.E, M.Sc Sebagai Anggota ( )

NIP. 19771207.200812.2.002

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Apapun yang dapat kau lakukan, atau yang kau harap dapat kau lakukan, mulailah.

Keberanian memiliki kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya.

“Mulailah Sekarang”

(Goethe)

..laisal fata man qola kaana abi, w

(6)

=> Bukanlah seorang pemuda yang selalu mengandalkan ayahnya, namun seoranglah pemuda yang berani dengan lantang mengatakan “ inilah saya!”

Karya sederhana ini kupersembahkan untuk:

· Ayah dan Ibu, Kakak-kakak ku.

· Teman-teman yang sudah membantu dalam kelancaran penyusunan skripsi ini.

· Civitas Akademika FE UNS.

· Dan semua orang yang sedang mengerjakan tugas akhir / skripsi agar selalu bersemangat... Skripsi itu perjuangan dan jangan pernah menyerah teman!

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokatuh

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,

karunia, segala nikmat, dan kekuatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “MODEL PROSES PEMBENTUKAN NIAT PEMBELIAN (Studi

Laboratorium Eksperimen Pada Konsumen Potensial Laptop di UNS)”, sebagai tugas akhir guna memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi

(7)

Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari

dorongan dan bantuan banyak pihak. Oleh karenanya, penulis dengan ini mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret.

2. Dra Endang Suhari, M.Si., selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret.

3. Lilik Wahyudi, S.E., M.Si selaku pembimbing skripsi atas semua kritik, saran,

dan perhatianya yang sangat membantu penulis untuk mencapai hasil yang

terbaik.

4. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen, serta karyawan FE UNS, terimakasih-ku ucapkan

atas semua ilmu yang telah dibagi.

5. Ibu dan Bapak, terima kasih atas segala doa, kasih saying, cinta, dan pengorbanan

yang tak bias ananda balas.

6. Teman-teman yang sudah membantu demi kelancaran penyusunan skripsi ini.

7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik

dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, penulis harapkan demi perbaikan

yang berkelanjutan.

Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

membutuhkan di kemudian hari. Terima kasih.

(8)

Surakarta, Juni 2010

(9)

DAFTAR ISI

(10)

BAB III. METODE PENELITIAN 3.6. Estimasi dan Pengujian Model Struktural………...

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Partisipan………. 4.2. Analisis Instrumen Penelitian………. 4.3. Analisis Data………... 4.4. Analisis Uji Hipotesis dan Pembahasan Hasil Penelitian…...

(11)

DAFTAR TABEL

Deskripsi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin...

Deskripsi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia...

Deskripsi Responden Berdasarkan Pendidikan Saat Ini...

Deskripsi Responden Berdasarkan Treatment Country of Origin…..

Deskripsi Responden Berdasarkan Treatment Harga……….

Uji Validitas………...

Uji Normalitas………

Uji Outlier………..

Hasil Pengujian Goodness of Fit Model………

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

II.1 Model Penelitian………. 20

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Globalisasi menuntut perusahaan untuk bekerja keras agar tetap bisa bertahan di

dalam pasar yang semakin banyak pesaing. Setiap perusahaan melakukan berbagai cara

untuk merebut hati konsumen. Perbaikan kualitas, pengembangan produk, penambahan

fasilitas, pengurangan biaya produksi yang tidak efisien, layanan after sales yang baik

adalah beberapa cara perusahaan agar konsumennya tidak berpindah ke produk yang lain.

Efisien merupakan salah satu kunci utama untuk memenangkan persaingan. Demi

mencapai tingkat efisiensi maksimal, perusahaan besar membangun pabrik di negara

berkembang karena biaya produksinya yang lebih murah, dengan begitu produk yang

dihasilkan mempunyai harga jual kompetitif, sehingga dapat lebih mudah memenangkan

market share. Sebagai konsekuensi, negara asal produk (country of origin) menjadi bahan

evaluasi penting bagi konsumen sebelum melakukan pembelian (Ahmed et al., 2002).

Selain country of origin, harga juga menjadi bahan evaluasi konsumen dalam melakukan

pembelian. Penelitian oleh Hastak dan Hong dalam Teas dan Agarwal

(13)

dibandingkan dengan harga. Sesuai dengan penelitian oleh Peterson dan Jolibert dalam

Speece dan Nguyen (2005), tentang pengaruh country of origin terhadap niat pembelian

menarik untuk dilakukan karena mayoritas penelitian tentang country of origin lebih

banyak dilakukan di Amerika Utara atau Eropa, yang mana negara tersebut adalah negara

maju, sedangkan Indonesia merupakan negara berkembang. Konsekuensinya adalah

terdapat banyak perbedaan (penghasilan, pendidikan, gaya hidup, dan lain-lain) apabila

penelitian tersebut dilakukan di Indonesia. Sesuai dengan penelitian oleh Shapiro dalam

Zeithaml (1988), bahwa harga merupakan sinyal tingkat kualitas produk, maka semakin

tinggi harga konsumen percaya bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang baik.

Tetapi menurut Scitovszky dalam Dodds et al. (1991), harga ditentukan oleh kekuatan supply dan demand, dimana barang berharga murah dan berkualitas paling baik akan

tetap dicari konsumen sehingga membuat harga jualnya semakin tinggi. Peneliti ingin

meniliti kesenjangan diatas terhadap konsumen Indonesia.

Country of origin adalah negara dimana produk tersebut diproduksi atau

kantor pusat perusahaan berlokasi (Ozsomer dan Cavusgil dalam Thanasuta et al., 2008).

Kita dapat mengetahui negara produk tersebut berasal dari tanda atau tulisan yang tertera

pada produk tersebut. Tanda “made in” menunjukkan negara dimana produk tersbut

dirakit (Papadopoulus dalam Thanasuta et al. 2008). Penggunaan country of origin

sebagai bahan evaluasi telah dilakukan pertama kali oleh Schooler dalam Thanasuta et al.

(2008), hasilnya menunjukkan bahwa konsumen menggunakan country of origin untuk

mempertimbangkan kinerja dan kualitas produk, dimana produk yang berasal dari negara

industri maju dipersepsikan lebih baik kualitasnya daripada negara berkembang.

(14)

et al. (2008). Lalu hal ini diperkuat kembali oleh penelitian yang dilakukan oleh Darling

dan Arnold dalam Teas dan Agarwal (2000) yang menyarankan bahwa country of origin

dapat menjadi menjadi lebih penting dibandingkan dengan nama merek sebagai sebuah

pengaruh dari persepsi kualitas.

Country of origin termasuk dalam informasi ekstrinsik, begitu pula dengan harga,

sedangkan yang termasuk dalam informasi intrinsik adalah rasa dan desain. Apabila

seorang konsumen tidak memiliki banyak waktu untuk mencari informasi tambahan pada

sebuah produk, maka konsumen cenderung menggunakan country of origin sebagai

sebuah pertimbangan untuk mengevaluasi sebuah produk. Hal ini sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Speece dan Nguyen (2005), bahwa efek dari country of origin menjadi lebih kuat pada konsumen yang tidak mencari informasi lebih banyak.

Supanvanij dan Amine dalam Ahmed et al. (2002), menjelaskan bahwa konsumen di

seluruh dunia menggunakan country of origin sebagai sebuah atribut dalam evaluasi

produk. Hal ini diperkuat dengan penelitian Thorelli dalam Teas dan Agarwal (2000)

bahwa persepsi konsumen pada country of origin mempengaruhi persepsi dari kualitas,

perilaku dan niat pembelian. Maka tidak salah bila setiap konsumen telah mempunyai

gambaran tersendiri tentang produk yang dihasilkan dari sebuah negara tertentu, apakah

itu baik atau tidak. Karena country of origin adalah bagian dari citra merek,

merek dari negara dengan citra yang baik akan mempunyai kesempatan yang lebih baik

untuk membuat citra produk lebih positif daripada produk dari negara dengan citra yang

(15)

manufacture (Chuch dan Kao, 2004). Menurut konstruk yang ditetapkan oleh Mohamad et al. (2000) dan Li et al. (2000) dalam Chuch dan Kao, (2004), country of design dapat

dijabarkan ke dalam 5 bagian: penampilan, mode, warna, keanekaragaman, dan estetika.

Harga adalah yang diberikan atau

dikorbankan untuk mendapatkan produk (Zeithaml, 1988). Hal ini sesuai dengan Lamb,

Hair, McDaniel dan Athola dalam Zeithaml (1988), bahwa harga sebagai sebuah atribut

tingkat bawah dalam model multiatribut karena harga adalah sebuah komponen

“pemberian”, daripada “menerima”. Definisi lain dari harga sesuai dengan Chapman

dalam Zeithaml (1988), adalah yang sebagai sebuah pengorbanan. Pernyataan ini sesuai

dengan Becker dalam Zeithaml (1988), bahwa harga tidak hanya pengorbanan konsumen

untuk mendapatkan produk, tetapi biaya waktu, mencari, dan tenaga juga termasuk dalam

faktor implisit atau eksplisit dari sebuah pengorbanan. Selain itu, harga dipercaya oleh

konsumen sebagai informasi tentang kualitas produk (Ehrenberg et al. dalam Speece dan

Nguyen, 2005). Tetapi sesuai dengan Scitovszky dalam Dodds et al., (1991) bahwa

penggunaan harga sebagai sebuah indikator dari kualitas produk adalah tidak rasional,

tetapi menunjukkan sebuah kepercayan bahwa harga pada sebuah pasar ditentukan oleh

kekuatan saling mempengaruhi dari suplai kompetitif dan permintaan. Sebagai

konsekuensi, barang dengan harga termurah dengan kualitas yang paling baik akan

dipilih konsumen, yang mengakibatkan harga barang tersebut akan naik sesuai dengan

hukum permintaan. Setiap konsumen mempunyai

reference price, yang dapat membantu untuk menilai apakah harga tersebut pantas untuk

(16)

yaitu standar harga yang konsumen gunakan untuk sebuah harga penawaran produk.

Sedangkan external reference price adalah proses referensi oleh konsumen yang

bersumber dari sebuah komparasi dari harga jual produk, dengan standar harga yang

sudah diingat konsumen. Sesuai dengan kegunaan reference price, maka konsumen dapat

menilai apakah harga sebuah produk mahal, biasa, atau murah. Hal ini diperkuat oleh

penelitian Chao (1993) dalam Teas dan Agarwal (2000) bahwa harga, country of design,

dan country of assembly secara statistik signifikan terhadap persepsi kualitas oleh

responden.

Produk yang sangat dipengaruhi oleh country of origin dan harga yaitu produk

elektronik, laptop merupakan salah satunya. Penelitian terhadap laptop menarik untuk

dilakukan karena menurut data dari IDC (www.idcindonesia.com) diperkirakan ada

sekitar 1,5 juta unit permintaan laptop di Indonesia, bahkan untuk tahun depan akan

bertumbuh sekitar 30%. Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan

laptop bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi makro yang sudah mulai stabil dimana

krisis global sudah mulai recovery.

Toshiba sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi dan memasarkan

berbagai peralatan listrik dan produk elertronik yang canggih. Toshiba Corporation

adalah salah satu perusahaan diversifikasi produsen dan pemasar produk digital,

perangkat elektronik dan komponen, sistem infrastruktur sosial dan Home appliances

(www.bloganugrahpratama.com) . Inovasi Toshiba yang terbaru dalam hal laptop adalah

membuat laptop yang memiliki layar monitor 12 inch LED backlit dengan berat hanya

(17)

7mm. Laptop dengan teknlogi mutakhir yang tersebut dipasarkan dengan nama model

berseri PORTÉGÉ R600. (www.toshibaasia.com).

Saat ini market share penjualan laptop di Indonesia dikuasai oleh Acer. Acer telah

menguasai sekitar 38%, sementara sisa 62% market share tersebut harus berbagi dengan

beberapa merek, yaitu HP, Lenovo, Asus, Dell, NEC, MSI, Sony, IBM, dan Toshiba.

Berdasarkan data dari GFK (www.gfk.com), Toshiba meraih 18% market share

penguasaan pasar laptop di Indonesia, yang berarti bahwa Toshiba ada di urutan kedua

pasar laptop Indonesia setelah Acer. Berbagai langkah telah dilakukan oleh Toshiba

untuk meningkatkan market share, diantaranya dengan lebih serius lagi melakukan

penetrasi pada segmen pasar low end / entry level (laptop dengan harga dibawah 5 juta)

dan mainstream (laptop dengan harga dibawah 10 juta). Selain itu Toshiba juga telah

menunjuk brand ambassador Luna Maya untuk lebih mendekatkan produk ini ke pasar

sehingga image brand lebih dekat lagi dengan konsumen Indonesia.

Dengan strategi pemasaran yang tepat, maka akan diperoleh konsumen yang

loyal. Tingkat loyalitas yang tinggi adalah salah satu asset paling besar yang dapat

dimiliki oleh seorang pemasar. Pengamatan terhadap pandangan konsumen terhadap

country of origin dan tingkat harga yang bermacam-macam harus dijadikan dasar untuk

perencanaan pemasaran yang efektif. Sesuai dengan uraian yang telah dikemukakan di

atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengaruh

country of origin dan harga terhadap pemilihan produk oleh konsumen. Dengan

mengambil judul “MODEL PROSES PEMBENTUKAN NIAT PEMBELIAN”

(18)

Dari latar belakang tentang pengaruh country of origin dan harga yang telah

diuraikan dimuka, maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah country of origin berpengaruh positif pada persepsi kualitas merek?

2. Apakah harga berpengaruh negatif pada persepsi penerimaan harga?

3. Apakah persepsi kualitas merek berpengaruh positif pada persepsi nilai?

4. Apakah persepsi penerimaan harga berpengaruh positif pada persepsi nilai?

5. Apakah persepsi nilai berpengaruh positif pada niat membeli?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis pengaruh country of origin pada persepsi kualitas merek.

2. Untuk menganalisis pengaruh harga pada persepsi penerimaan harga.

3. Untuk menganalisis pengaruh persepsi kualitas merek pada persepsi nilai.

4. Untuk menganalisis pengaruh persepsi penerimaan harga pada persepsi nilai.

5. Untuk menganalisis pengaruh persepsi nilai pada niat membeli.

1.4. Manfaat Penelitian

Apabila tujuan penelitian tercapai diharapkan memiliki manfaat:

1. Bagi akademisi

Penelitian ini memberi bukti empiris mengenai pengaruh country of origin, serta

harga terhadap persepsi nilai dan niat membeli oleh konsumen. Sehingga bisa

menjadi pertimbangan dalam penerapan ilmu pemasaran dalam dunia nyata.

(19)

Penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai salah satu pedoman dalam penentuan

harga produk, membangun citra merek serta segmentasi produk. Sehingga dengan

acuan tersebut perusahaan mampu membuat kebijakan yang tepat untuk bisa

bertahan dalam persaingan usaha yang semakin ketat.

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

Kajian literatur-literatur terdahulu menjelaskan fenomena faktor-faktor yang

mempengaruhi pembentukan niat pembelian. Pembahasan pada bab ini dimaksudkan

untuk memberi penjelasan mengenai posisi studi ini dibandingkan penelitian-penelitian

terdahulu berdasarkan variabel-variabel yang menjadi obyek amatan serta hubungan antar

variabel yang terbentuk. Penjelasan tersebut dimaksudkan untuk memberi rerangka dasar

dalam merumuskan hipotesis dan pengembangan model yang diusulkan.

(20)

Country of origin didefinisikan sebagai negara asal dari perakit atau pembuat

produk (Hans dan Terpstra dalam Ahmed et al. 2002), diidentifikasikan dengan label

made in” atau “manufactured in” (Chasin dan Jaffe dalam Ahmed et al. 2002). Akan

tetapi dengan pesatnya pertumbuhan perusahaan multinasional dan munculnya produk

hybrid dengan komponen yang bersumber dari beberapa Negara telah mengaburkan

keakuratan atau validitas dari label “made in” atau “manufactured in” (Baker dan Michie,

Baughn dan Yaprak dalam Ahmed et al., 2002) sehingga untuk membuat identifikasi dari country of origin seringkali sangat sulit. Misal: konsumen mengenal produk Sony,

Toshiba, Honda sebagai produk dibuat oleh negara Jepang, walaupun sebenarnya produk

itu sendiri tidak diproduksi di Negara tempat perusahaan itu berdomisili.

Maheswaran dalam Ahmed et al. (2002), mengusulkan bahwa country of origin

digunakan dalam suatu evaluasi produk sebagi sebuah proses stereotyping dimana

konsumen dapat memprediksikan atau mengevaluasi bahwa suatu produk lebih

berkualitas jika mempunyai country of origin yang juga berkualitas.

Menurut Han dalam Schaefer (1995), konsumen menggunakan country of origin

sebagai efek ‘halo’ yang akan menyimpulkan atribusi dari produk jika konsumen tidak

familiar dengan produk atau menambah pengetahuan konsumen terkait dengan produk

jika konsumen familiar dengan produk tertentu.

Jadi dapat dikatakan country name bisa digunakan sebagai suatu sinyal, dimana

konsumen akan memiliki persepsi kualitas yang berbeda-beda dari berbagai macam

(21)

Konsumen Indonesia dikenal sebagai konsumen yang menyukai produk impor.

Mereka menganggap produk impor sebagai produk yang lebih berkualitas dibandingkan

produk local. Produk yang berasal dari Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan

Jepang lebih digemari oleh konsumen Indonesia.

2.2. Harga

Harga merupakan sesuatu yang diserahkankan dalam pertukaran untuk

mendapatkan suatu barang maupun jasa (Lamb, Hair, McDaniel, 2001). Harga adalah apa

yang diberikan atau dikorbankan untuk mendapatkan produk (Zeithaml, 1988). Hal ini

sesuai Athola dalam Zithaml (1988), bahwa harga sebagai sebuah atribut tingkat bawah

dalam model multiatribut karena harga adalah sebuah komponen “pemberian”, daripada

“menerima”. Definisi lain dari harga sesuai dengan Chapman dalam Zeithaml (1988),

adalah yang sebagai sebuah pengorbanan. Pernyataan ini sesuai dengan Becker dalam

Zeithaml (1988), bahwa harga tidak hanya pengorbanan konsumen untuk mendapatkan

produk, tetapi biaya waktu, mencari, dan tenaga juga termasuk dalam faktor implisit atau

eksplisit dari sebuah pengorbanan. Selain itu, harga dipercaya oleh konsumen sebagai

informasi tentang kualitas produk (Shapiro dalam Zeithaml , 1988).

Setiap konsumen mempunyai reference price, yang dapat membantu untuk

menilai apakah harga tersebut pantas untuk sebuah produk. Reference price terdiri dari 2

jenis, yaitu internal reference price dan external reference price (Campo dan Yague,

2006). Internal reference price yaitu standar harga yang konsumen gunakan untuk sebuah

harga penawaran produk. Sedangkan external reference price adalah proses referensi

(22)

standar harga yang sudah diingat konsumen. Sesuai dengan kegunaan reference price,

maka konsumen dapat menilai apakah harga sebuah produk terlalu mahal, biasa, atau

terlalu murah.

2.3. Persepsi Penerimaan Harga

Pandangan atau persepsi konsumen tentang kepantasan suatu harga produk yang

memengaruhi konsumen dalam mengevaluasi produk yang akan dibeli disebut dengan

persepsi penerimaan harga (Maxwell, 2001). Pengaruh harga bagi konsumen memiliki

pengaruh langsung terhadap persepsi mereka pada kualitas merek atau frekuensi

pembelian dalam keseharian. Untuk itu perusahaan harus mampun menciptakan strategi

harga secara bijaksana untuk mendapatkan persepsi konsumen yang tepat berkaitan

dengan harga suatu produk. Para konsumen cenderung tergantung pada harga yang tinggi

sebagi suatu alat prediksi dari kualitas produk pada saat tidak ada kepastian yang terlibat

dalam keputusan pembelian (Lamb, 2001). Produk dengan harga yang tinggi akan

dipersepsikan konsumen, bahwa produk tersebut berkualitas tinggi. Namun apabila harga

produk terlalu tinggi, maka hal tersebut akan berpengaruh negatif terhadap persepsi nilai

konsumen pada suatu produk (Stauble, 2000: 292). Karena apabila terlalu tinggi,

konsumen akan membandingkan dengan produk lain yang memiliki harga lebih

terjangkau berdasarkan referensi (referencwe price) yang mereka miliki.

(23)

Persepsi kualitas menurut Chapman dan Wahlers (1999) adalah kepercayaan

konsumen terhadap keseluruhan kualitas suatu produk. Sedangkan persepsi kualitas

merek (brand perceived quality) adalah persepsi pelanggan terhadap kualitas suatu merek

produk (Durianto, Sugiarto, Tony, 2001: 96). Persepsi kualitas produk akan berpengaruh

secara langsung kepada keputusan pembelian konsumen dan loyalitas mereka terhadap

merek. Karena perceived quality merupakan persepsi konsumen maka dapat diramalkan

jika perceived quality pelanggan negatif, produk tidak akan disukai dan tidak akan

bertahan lama di pasar. Sebaliknya, jika perceived quality positif, produk akan disukai.

Karena perceived quality merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat

ditentukan secara objektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi

pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap

suatu produk.

Mengacu pada pendapat David A. Garvin, dimensi perceived quality dibagi

menjadi tujuh (dalam Durianto, Sugiarto, Tony, 2001), yaitu:

1. Kinerja

Melibatkan berbagai karakteristik operasional utama, misalnya karakteristik

operasional mobil adalah kecepatan, akselerasi, sistem kemudi, serta kenyamanan.

Karena faktor kepentingan pelanggan berbeda satu sama lain, seringkali

pelanggan mempunyai sifat yang berbeda dalam menilai atribut-atribt kinerja ini.

Kecepatan akan diberi nilai tinggi oleh sebagian pelanggan, namun dianggap

tidak relevan atau dinilai rendah oleh sebagian pelanggan lain yang lebih

mementingkan atribut kenyamanan.

(24)

Mencerminkan kemampunann memberikan pelayanan kepada produk tersebut.,

misalnya mobil merek tertentu meyediakan pelayanan kerusakan atau service

mobil 24 jam diseluruh dunia.

3. Ketahanan

Mencerminkan umur ekonomis dari produk mobil tersebut. Misalnya mobil merek

tertentu yang memposisikan dirinya sebagi mobil tahan lama walau telah berumur

12 tahun, tetapi masih berfungsi dengan baik.

4. Keandalan

Konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu pembelian ke

pembelian berikutnya.

5. Karakteristik Produk

Bagian-bagian tambhana dari produk (features), seperti remote control sebuah

video, tape deck, system WAP untuk ponsel. Penambah ini biasanya digunakan

sebagai pembeda yang penting ketika dua merek terlihat hampir sama.

Bagian-bagian tambahan ini memberikan penekanan bahwa perusahaan memahamai

kebutuhan pelanggan yang dinamis sesuai perkembangan.

6. Kesesuaian dengan spesfifikasi

Merupakan pandangan mengenasi kualitas proses manufaktur (tidak ada cacat

produk) sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan teruji. Misalnya

sebuah mobil pada kelas tertentu dengan spesfifikasi yang telah ditentukan seperti

jenis dan kekuatan mesin, pintu, material untuk pintu mobil, ban, system

pengapian dan lainnya.

(25)

Mengarah kepada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam dimensi

sebelumnya. Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan “hasil akhir” produk yang

baik maka kemiungkinan produk tersebut tidak akan mempunyai atribut kualitas

lain yang penting.

2.5. Persepsi Nilai

Suatu produk akan sukses penjualannya apabila mampu memberikan suatu nilai

dan kepuasan kepada konsumennya. Biasanya konsumen akan memilih suatu produk

yang dipersepsikan mempunyai suatu nilai lebih dalam benak konsumen. Gambar

dibawah ini menunjukkan aspek apa saja yang dipersepsikan konsumen sebagai

keuntungan yang diperoleh (Total Consumer Value) dan biaya yang dikeluarkan (Total Consumer Cost).

Nilai suatu produk menurut Kotler (2000) yaitu rasio antara yang konsumen

dapatkan, meliputi keuntungan fungsional dan keuntungan emosional dengan apa yang

konsumen berikan untuk mendapatkan produk tersebut atau sering disebut biaya

pembelian produk.

Persepsi konsumen tentang nilai suatu produk yang mereka dapatkan disebut

dengan perceived value. Perceived value adalah nilai yang diterima konsumen terhadap

suatu produk atau jasa yang merupakan trade-off antara benefit yang diterima dan

pengorbanan yang harus dilakukan untuk memperoleh barang tersebut (Chapman dan

Wahlers, 1999). Perceived value suatu produk akan menjadi pertimbangan konsumen

dalam menentukan pilihan produk mana yang akan dibeli. Jika perceived value suatu

(26)

menghasilkan perceived value yang tepat bagi konsumen, perusahaan hendaknya

memperhatikan kriteria evaluasi kualitas produk atau jasa yang ditawarkan.

2.6. Niat Membeli

Menurut Chapman dan Wahlers (1999) niat membeli didefinisikan sebagai

keinginan konsumen untuk membeli suatu produk. Konsumen akan memutuskan produk

yang akan dibeli berdasarkan persepsi mereka terhadap produk tersebut berkaitan dengan

kemampuan produk tersebut dalam memenuhi kebutuhannya. Semakin tinggi atau

semakin bagus persepsi konsumen terhadap nilai suatu produk, maka niat membeli

terhadap suatu produk tersebut juga semakin tinggi (Maxwell, 2001). Hal ini karena pada

saat ini banyak sekali pilihan produk yang ada di pasar, sehingga konsumen cenderung

akan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memberikan

kepuasan.

Menutut Kotler (2000) konsumen dalam melakukan keputusan pembelian ada

lima tahapan yaitu: 1) pengenalan masalah, 2) pencarian informasi, 3) evaluasi alternatif,

4) keputusan pembelian, 5) perilaku pasca pembelian. Secara rinci tahap-tahap tersebut

dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pengenalan masalah

Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli

menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dengan kondisi yang

diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan internal dari

(27)

tertentu dan berubah menjadi dorongan. atau suatu kebutuhan dapat timbul karena

disebabkan rangsangan eksternal.

2. Pencarian informasi

Salah satu kunci bagi pemasar adalah sumber-sumber informasi utama yang

dipertimbangkan oleh konsumen dan pengaruh relatif dari masing-masing sumber

terhadap keputusan-keputusan membeli. Sumber-sumber informasi konsumen dapat

dikelompokkan menjadi empat kelompok:

ü Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan

ü Sumber komersil : iklan, tenaga penjualan, penyalur, kemasan dan pameran

ü Sumber umum : media massa, organisasi konsumen

ü Sumber pengalaman : pernah menangani, menguji, menggunakan produk

3. Evaluasi alternatif

Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu

mereka memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk

terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional. Konsumen

mungkin mengembangkan seperangkat merek tentang dimana setiap merek berada

pada ciri masing-masing. Kepercayaan merek menimbulkan citra merek.

4. Keputusan membeli

Terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi tujuan membeli dan kepuasan

membeli. Faktor yang pertama adalah sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain

akan mengurangi alternatif pilihan seseorang alan tergantung pada dua hal:

a. Intensitas sikap negatif orang lain tersebut terhadap alternatif pilihan konsumen

(28)

Tujuan pembelian juga akan dipengaruhi oleh faktor-fakor keadaan yang tidak

terduga. Konsumen membentuk tujuan pembelian berdasarkan faktor-faktor seperti:

pendapatan keluarga yang diharapkan, harga yang diharapkan, dan manfaat produk

yang diharapkan.

5. Perilaku sesudah pembelian

Sesudah pembelian terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami

beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Konsumen tersebut juga akan terlibat

dalam tindakan-tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang menarik

minat pemasar..

2.7. Penelitian Terdahulu

Ahmed et al. (2002), meneliti tentang pengaruh country of origin, harga dan

merek terhadap evaluasi dan minat membeli produk low involvement. Dalam penelitian

ini Ahmed dan Johnson mengemukakan bahwa dimensi yang melingkupi country of origin terdiri dari ras/aroma, prestis, dan kualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa country of origin berpengaruh ketika konsumen mengevaluasi produk low-inolvement,

tetapi bila terdapat extrinsic cues (harga dan merek), pengaruh dari country of origin

menjadi lemah dan merek menjadi faktor evaluasi yang menentukan.

Chapman dan Wahlers (1999), meneliti tentang pengaruh harga sebagai indikator

kualitas produk serta persepsi pengorbanan terhadap minat membeli dengan

menggunakan persepsi nilai sebagai variabel mediator. Penelitian tersebut mereplikasi

dari model yang telah diuji oleh Dodds dan Monroe (1991). Hasil dari penelitian tersebut

(29)

persepsi kualitas berpengaruh positif terhadap persepsi nilai, namun persepsi

pengorbanan berpengaruh negatif terhadap persepsi nilai. Kemudian persepsi nilai

berpengaruh positif terhadap minat membeli.

Maxwell (2001), menerapkan pengujian price/brand effect model yang berisi

tentang pengaruh harga dan kualitas merek terhadap minat membeli, dengan perceived value sebagai variabel mediator. Selain itu Maxwell juga menambahkan sikap ekonomis

yang mempengaruhi persepsi konsumen terkait dengan penerimaan mereka terhadap

harga suatu produk. Penelitian tersebut dilakukan pada konsumen kelas menengah dari

dua negara, yaitu: India dan Amerika Serikat, untuk membandingkan perilaku konsumen

dua negara yang berbeda. Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa konsumen

India memiliki persepsi yang rendah tentang merek daripada konsumen Amerika Serikat.

Tetapi konsumen India memiliki sikap ekonomis yang lebih tinggi, karena hal tersebut

dipengaruhi pemdapatan rata-rata konsumen India yang tergolog rendah.

2.8. Model Penelitian

Penelitian ini berdasarkan dari model yang dikembangkan oleh Sarah Maxwell,

yaitu price/brand effect model. Dalam melakukan pembelian, biasanya konsumen

mempertimbangkan persepsi nilai (perceived value) suatu produk. Persepsi nilai

dipengaruhi oleh dua komponen, yaitu persepsi kualitas merek dan persepsi penerimaan

(30)

Gambar II.1. Model Penelitian

Country of Origin dan Persepsi Kualitas Merek

Penelitian oleh Yaprak dalam Thanasuta et al. (2008) membuktikan bahwa negara

asal memberikan dampak positif terhadap kualitas merek. Yaprak (1978) menguji

eksekutif bisnis dari Amerika dan Turki memiliki niat membeli merek mobil, kamera dan

kalkulator tertentu yang terbuat dari negara Jerman, Jepang dan Italia. Sehingga bisa

disimpulkan bahwa konsumen akan memilih produk dengan negara asal yang

berkompeten, dengan begitu nama mereknya juga akan terangkat. Sesuai dengan produk

laptop, konsumen akan memiliki persepsi positif terhadap merek yang dibuat di negara

maju dibandingan dengan negara berkembang. Dengan mayoritas responden adalah

mahasiswa, mereka lebih mengerti kualitas merek yang berasal dari negara maju dan

yang tidak. Berdasarkan pemaparan di atas maka ditarik suatu hipotesis sebagai berikut :

H1: Country of origin berpengaruh positif pada persepsi kualitas merek.

(31)

Harga dan Persepsi Penerimaan Harga

Dodds et al. dalam Maxwell (2001), membuktikan hubungan logis antara harga

dan persepsi penerimaan harga. Hubungannya yaitu terbalik, bahwa semakin tinggi harga

sebenarnya, semakin rendah persepsi penerimaan harga. Hal ini didukung oleh menurut

Scitovszky dalam Dodds et al. (1991), yaitu harga ditentukan oleh kekuatan supply dan demand, dimana barang berharga murah dan berkualitas paling baik akan tetap dicari

konsumen, sehingga membuat harga jualnya semakin tinggi. Konsumen akan cenderung

ke produk yang berharga lebih murah daripada yang mahal. Berdasarkan pemaparan di

atas maka ditarik suatu hipotesis sebagai berikut :

H2: Harga berpengaruh negatif pada persepsi penerimaan harga.

Persepsi Kualitas Merek dan Persepsi Nilai

Berdasarkan Chapman dan Wahlers (1999), Agarwal dan Teas (2001) dan Sarah

Maxwell (2001), bahwa suatu produk yang dipersepsikan memiliki kualitas baik dalam

benak konsumen maka akan dianggap bahwa produk tersebut mampu memberi kepuasan

kepada konsumen. Karena terkadang konsumen kurang memahami secara rinci

karakteristik suatu produk yang akan dibelinya, sehingga seringkali konsumen

menggunakan merek sebagi indikator kualitas produk yang kemudian dijadikan acuan

dalam mengukur value suatu produk. Berdasarkan pemaparan di atas maka ditarik suatu

hipotesis sebagai berikut :

(32)

Persepsi Penerimaan Harga dan Persepsi nilai

Berdasarkan Chapman dan Wahlers (1999) dan Sarah Maxwell (2001), bahwa

selain menggunakan persepsi kualitas merek sebagai indikator dalam mengukur persepsi

nilai, harga juga sering dijadikan sebagai indikator dalam mengukur persepsi nilai oleh

konsumen. Biasanya konsumen beranggapan bahwa produk yang mahal memiliki

kualitas yang bagus juga, dengan catatan apabila harga tersebut masih dalam batas

kewajaran. Berdasarkan pemaparan di atas maka ditarik suatu hipotesis sebagai berikut :

H4: Persepsi penerimaan harga berpengaruh positif pada persepsi nilai.

Persepsi nilai dan Niat Membeli

Penelitian yang dilakukan Chapman dan Wahlers (1999). Menurut mereka

persepsi nilai adalah nilai yang diterima konsumen terhadap suatu produk atau jasa yang

merupakan trade-off antara benefit yang diterima dan pengorbanan yang harus dilakukan

untuk memperoleh barang tersebut. Persepsi nilai suatu produk akan menjadi

pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan produk mana yang akan dibeli. Jika

persepsi nilai suatu produk tinggi maka konsumen akan tertarik untuk membeli produk

tersebut. Untuk menghasilkan persepsi nilai yang tepat bagi konsumen laptop, perusahaan

hendaknya memperhatikan kriteria evaluasi kualitas laptop yang ditawarkan. Berdasarkan

pemaparan di atas maka ditarik suatu hipotesis sebagai berikut :

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

Tujuan bab ini adalah untuk memberikan suatu dasar yang valid dan reliabel

untuk menghasilkan data yang dapat diyakini kebenarannya, sehingga informasi yang

diperoleh dari penelitian ini dapat dipercaya dari segi metode dan prosedur pengujiannya.

Untuk mendukung upaya tersebut, beberapa pembahasan diungkap dalam bab ini antara

lain: ruang lingkup penelitian, pembahasan hasil studi ekploratori, prosedur eksperimen

laboratorium, definisi operasional, dan desain pengujian statistik.

Berikut ini adalah beberapa sub bab yang dikemukakan.

3.1Ruang Lingkup Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode diskusi kelompok fokus (focus group discussion) untuk mengidentifikasi tingkat persepsi kualitas dari country of origin dan

(34)

laboratorium eksperimen untuk menguji hubungan kausalitas antar-variabel yang

teridentifikasi tersebut, sehingga diharapkan hasilnya dapat digunakan untuk menjelaskan

permasalahan yang diajukan..

Penelitian ini bersifat cross sectional yang pengujiannya bertumpu pada data yang

terjadi pada suatu titik tertentu (one point in time), sehingga model penelitian yang

dikonstruksi tidak didesain untuk menangkap perubahan yang terjadi karena pergeseran

waktu. Fenomena ini kemungkinan berdampak pada ketidakmampuan model untuk

digunakan sebagai alat prediksi jika asumsi dasar berubah seiring pergeseran waktu yang

terjadi. Oleh karenanya, untuk menggeneralisasi penelitian ini pada waktu yang berbeda

diperuan ketelitian dan kehati-hatian untuk mencermati faktor-faktor eksternal yang

berubah yang dapat menginflasi model.

Hal lain yang perlu dicermati adalah teknik pengumpulan data yang digunakan.

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah eksperimen

laboratorium (laboratorium experiment), sebab teknik ini memberikan keleluasaan

kepada peneliti untuk melakukan menipulasi untuk memberikan penjelasan yang rasional

terhadap konsep dasar yang diuji.

3.2 Studi Eksploratori

Focus group discussion yang dilakukan pada studi ini merupakan bagian dari

studi eksploratori. Studi ekploratori merupakan bentuk dari studi pendahuluan (pilot study) yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara jelas ide-ide penelitian. Studi

ini dilakukan untuk memahami perkembangan fenomena yang terjadi pada setting,

(35)

dapat diidentifikasi dengan jelas, pertanyaan dan hipotesis dapat dirumuskan dengan

baik, dan variabel-variabel amatan dapat diidentifikasi dengan benar.

Diskusi kelompok fokus (focus group discussion) terdiri dari satu kelompok yang

terdiri dari 5 partisipan yang bertujuan untuk mendiskusikan topik permasalahan tertentu.

Dalam studi ini, yang menjadi partisipan adalah mahasiswa dari fakultas ekonomi jurusan

manajemen yang dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut: (1) dari jumlah yang

ditentukan harus bervariasi berdasarkan usia, (2) bervariasi berdasarkan gender, (3)

bervariasi berdasarkan sekolah menengah asal yaitu umum dan kejuruan, (4) bervariasi

berdasarkan uang saku perbulan. Hal ini dimaksudkan agar aspek keperilakuan konsumen

riil dapat terwakili oleh partisipan yang dipilih dalam focus group discussion.

Dalam pelaksanaan diskusi, peneliti berperan sebagai moderator yang bertindak

sebagai berikut: memberikan pertanyaan-pertanyaan diskusi, mengarahkan jawaban, serta

memberikan kesimpulan terhadap hasil-hasil diskusi. Ruang tempat diskusi dikondisikan

seperti ruang rapat formal yang akan mengambil keputusan-keputusan penting, sehingga

melalui cara ini, keseriusan diskusi dapat terbangun untuk mencapai hasil yang

maksimal. Selama diskusi, dinamika, ekspresi, dan gesture dari masing-masing partisipan

terekspresi melalui jawaban yang diberikan dalam menjawab setiap pertanyaan diskusi.

Studi ekploratori yang dilakukan terdiri dari dua tahapan yang didasarkan pada

topik permasalahan yang didiskusikan. Pertama, topik permasalahan yang bertujuan

untuk mengidentifikasi tingkat persepsi kualitas dari country of origin dan tingkat harga

yang sesuai yang menjadi obyek amatan studi. Pada tahapan ini, kelompok

mendiskusikan nama negara dan harga yang pantas, sehingga dalam pelaksanaan

(36)

terhadap produk laptop yang menjadi obyek studi. Kedua, topik permasalahan yang

bertujuan untuk mengkonfirmasi konsep-konsep yang teridentifikasi melalui proses

deduktif, sehingga melalui cara ini diharapkan konsep-konsep yang teridentifikasi

mempunyai relevansi yang tinggi dengan setting risetnya.

Berikut ini adalah penjelasan terhadap hasil-hasil diskusi yang diawali dengan

diskusi tahapan pertama.

3.2.1. Diskusi Tahapan Pertama

Diskusi tahapan pertama terdiri tiga alur. Alur pertama, mendiskusikan kebutuhan

partisipan yang paling penting. Alur kedua, mendiskusikan tingkat harga yang termasuk

dalam sebuah produk. Berikut ini adalah hasil-hasil yang diperoleh pada tiap-tiap alur

diskusinya.

Alur pertama, diskusi tentang kebutuhan yang paling penting bagi partisipan, yang dilanjutkan dengan diskusi tentang county of origin yang diperkirakan sesuai

dengan kebutuhan tersebut. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang harus

didiskusikan.

Apa kebutuhan yang paling penting bagi anda saat ini?

Apa negara asal yang sangat anda kenal (familiar) yang sesuai dengan kebutuhan tersebut?

Alur pertama mengindikasikan koherensi hasil diskusi sebagai berikut: (1) laptop

merupakan kebutuhan yang dirasakan paling penting di antara kebutuhan-kebutuhan yang

lainnya, antara lain: layanan internet, televisi, dan radio, (2) atribut-atribut yang

(37)

pengevaluasian atribut mengindikasi bahwa Jepang merupakan country of origin yang

dipersepsikan sebagai country of origin tinggi, Cina dipersepsi sebagai country of origin

menengah, sedangkan Malaysia dipersepsi sebagai country of origin rendah.

Dari hasil diskusi alur pertama yang selanjutnya digunakan untuk

mengidentifikasi country of origin yang termasuk dalam tiga kategori kualitas, yaitu

kualitas tinggi, kualitas menengah, dan kualitas rendah.

Alur kedua, diskusi tentang tingkat harga yang sesuai dengan produk laptop. Peneliti memberikan informasi spesifikasi laptop yang akan diujikan kepada partisipan,

kemudian partisipan diminta untuk mendiskusikan harga yang pantas untuk laptop

tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi untuk harga tinggi dan harga rendah dari

laptop tersebut. Berikut adalah pertanyaan diskusi yang dikembangkan untuk

mengeksplorasi tingkat harga tersebut.

Berapa tingkat harga yang sesuai untuk produk laptop dengan spesifikasi seperti ini?

Alur kedua menghasilkan jawaban diskusi sebagai berikut: harga yang sesuai

dengan spesifikasi tersebut yaitu Rp 7.160.000 untuk harga tinggi, Rp 6.100.000 untuk

harga menengah, dan Rp 5.180.000 untuk harga rendah.

3.2.2. Diskusi Tahapan Kedua

Diskusi jenjang kedua terdiri dari dua alur yang merupakan alur lanjutan dari

diskusi jenjang pertama. Alur ketiga, mendiskusikan hubungan antara country of origin

dengan persepsi kualitas merek. Alur keempat, mendiskusikan hubungan antara harga

(38)

kualitas merek dengan persepsi nilai. Alur keenam, mendiskusikan hubungan antara

persepsi penerimaan harga dengan persepsi nilai. Alur ketujuh, mendiskusikan hubungan

antara persepsi nilai dengan niat membeli. Berikut ini adalah penjelasam secara rinci

tentang masing-masing alurnya.

Alur ketiga, diskusi tentang hubungan kausalitas antara country of origin dengan

persepsi kualitas merek. Berikut ini adalah pertanyaan pemandu yang digunakan untuk

mendiskusikan topik tersebut.

Apakah country of origin berpengaruh pada persepsi kualitas yang anda terima?

Alur ketiga mengindikasi koherensi jawaban sebagai berikut: semakin tinggi

persepsi kualitas dari country of origin semakin tinggi persepsi kualitas yang diterima.

Fenomena ini didukung oleh Yaprak dalam Thanasuta et al. (2008).

Alur keempat, diskusi mengenai hubungan kausalitas antara harga dengan persepsi penerimaan harga. Berikut ini adalah pertanyaan pemandu yang digunakan

untuk mendiskusikan topik tersebut.

Apakah harga berpengaruh pada persepsi penerimaan harga yang anda terima?

Alur keempat mengindikasi koherensi jawaban sebagai berikut: semakin tinggi

persepsi harga semakin rendah persepsi penerimaan harga yang diterima. Fenomena ini

didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Dodds et al. dalam Maxwell (2001).

Alur kelima, diskusi mengenai hubungan kausalitas antara persepsi kualitas merek dengan persepsi nilai. Berikut ini adalah pertanyaan pemandu yang digunakan

untuk mendiskusikan topik tersebut.

(39)

Alur kelima mengindikasi koherensi jawaban sebagai berikut: semakin tinggi

persepsi kualitas merek semakin semakin tinggi persepsi nilai yang diterima. Fenomena

ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Chapman dan Wahlers (1999) dan

Maxwell (2001).

Alur keenam, diskusi mengenai hubungan kausalitas antara persepsi penerimaan harga dengan persepsi nilai. Berikut ini adalah pertanyaan pemandu yang digunakan

untuk mendiskusikan topik tersebut.

Apakah persepsi penerimaan harga berpengaruh pada persepsi nilai yang anda terima?

Alur keenam mengindikasi koherensi jawaban sebagai berikut: semakin tinggi

persepsi penerimaan harga semakin semakin tinggi persepsi nilai yang diterima.

Fenomena ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Maxwell (2001).

Alur ketujuh, diskusi mengenai hubungan kausalitas antara persepsi nilai dengan niat membeli. Berikut ini adalah pertanyaan pemandu yang digunakan untuk

mendiskusikan topik tersebut.

Apakah persepsi nilai berpengaruh pada niat membeli anda?

Alur ketujuh mengindikasi koherensi jawaban sebagai berikut: semakin tinggi

persepsi nilai semakin semakin tinggi minat membeli. Fenomena ini didukung oleh

penelitian yang dilakukan oleh Chapman dan Wahlers (1999).

3.2.3. Simpulan Hasil Studi Eksploratori

Hasil diskusi jenjang pertama mengindikasi dua hal. Pertama, Jepang, Cina, dan

(40)

memanipulasi persepsi kualitas tinggi, menengah dan rendah terhadap sebuah produk.

Kedua, harga Rp 7.160.000, Rp 6.100.000, dan Rp 5.180.000 merupakan tingkat harga

yang digunakan sebagai stimulus untuk memanipulasi persepsi harga tinggi, menengah,

dan rendah.

Hasil studi jenjang kedua mengindikasikan 1 jenis hubungan kausalitas yaitu

hubungan kausalitas sederhana (simple effect) yang menjelaskan efek utama antara country of origin dan harga mempengaruhi persepsi nilai, yang selanjutnya akan

mempengaruhi pada niat pembelian.

Setelah hasil-hasil studi eksploratori, pembahasan berikutnya adalah prosedur eksperimen laboratorium.

3.3. Studi Eksperimen Laboratorium

Persiapan awal yang dilakukan dalam eksperimen adalah pendefinisian variabel amatan, yang selanjutnya diikuti dengan penentuan partisipan, pendesainan kelompok

eksperimen, materi stimulus, pengujian manipulasi, prosedur eksperimen, dan pengujian

statistik. Pendefinisian variabel bertujuan untuk memberikan kerangka konseptual tentang

pengertian dan operasionalisasi variabel-variabel penelitian beserta cara pengukurannya.

Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penentuan variabel-variabel yang memerlukan

manipulasi dan yang tidak. Penentuan partisipan bertujuan untuk memilih partisipan

berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan

kualitas data yang digunakan untuk mendukung hasil pengujian hipotesisnya.

Pembentukkan kelompok eksperimen bertujuan untuk mempermudah pelaksanaan

(41)

Pendesainan materi stimulus bertujuan untuk menghasilkan instrumen-instrumen yang

digunakan untuk memanipulasi partisipan sesuai dengan kelompok eksperimen yang

didesain. Pengujian manipulasi bertujuan untuk menjelaskan keefektifan materi stimulus

eksperimen. Prosedur eksperimen bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan eksperimen

laboratorium yang dilakukan. Berikut ini adalah pembahasannya.

3.3.1. Definisi Operasional Variabel

Dalam suatu penelitian dibutuhkan instrumen penelitian yang valid dan reliabel.

Instrumen tersebut dapat dikembangkan sendiri oleh peneliti atau diadopsi dari peneliti

sebelumnya. Penelitian ini mengadopsi instrumen penelitian yang telah dikembangkan

oleh peneliti sebelumnya. Adapun instrumen pengukuran terdiri empat konstruk yang

dioperasionalisasikan, yaitu: persepsi kualitas, persepsi penerimaan harga, persepsi nilai

dan niat membeli.

Persepsi kualitas Merek

Persepsi kualitas merek adalah estimasi tentang keunggulan suatu produk.

Konstruk ini mengukur bagaimana persepsi konsumen terkait dengan kualitas produk

yang dijadikan objek penelitian. Konstruk ini diukur dengan menggunakan tiga butir

pertanyaan (Maxwell, 2001). Skala diukur dengan menggunakan skala likert interval 5

point, dengan angka 5 mewakili sangat setuju sampai dengan angka 1 yang mewakili

sangat tidak setuju. Contoh pertanyaan yang digunakan untuk mengukur konstruk ini

yaitu: kualitas dari laptop ini akan baik sekali.

(42)

Persepsi penerimaan harga adalah rentang harga yang masih bisa diterima oleh

konsumen. Konstruk ini mengukur apakah harga suatu produk masih bisa diterima oleh

konsumen, atau masih dalam batas yang wajar. Konstruk ini diukur dengan menggunakan

tiga butir pertanyaan (Maxwell, 2001). Skala diukur dengan menggunakan skala likert

interval 5 point, dengan angka 5 mewakili sangat setuju sampai dengan angka 1 yang

mewakili sangat tidak setuju. Contoh pertanyaan yang digunakan untuk mengukur

konstruk ini yaitu: ini adalah harga yang sangat bagus untuk laptop ini.

Persepsi Nilai

Persepsi nilai adalah nilai yang diterima konsumen terhadap suatu produk/jasa

yang merupakan trade off antara benefit yang diterima suatu produk yang diwujudkan

dalam kualitas persepsian. Konstruk ini mengukur bagaimana tentang value produk objek

penelitian. Apakah produk yang ditawarkan cukup memberi kepuasan atau keuntungan

bagi konsumen. Konstruk ini diukur dengan menggunakan dua butir pertanyaan

(Maxwell, 2001). Skala diukur dengan menggunakan skala likert interval 5 point, dengan

angka 5 mewakili sangat setuju sampai dengan angka 1 yang mewakili sangat tidak

setuju. Contoh pertanyaan yang digunakan untuk mengukur konstruk ini yaitu: produk ini

mempunyai nilai yang baik.

Niat membeli

Niat membeli adalah peluang seseorang untuk membeli suatu produk. Konstruk

ini mengukur bagaimana minat membeli konsumen terhadap produk objek penelitian

(43)

menggunakan dua butir pertanyaan (Maxwell, 2001). Skala diukur dengan menggunakan

skala likert interval 5 point, dengan angka 5 mewakili sangat setuju sampai dengan angka

1 yang mewakili sangat tidak setuju. Contoh pertanyaan yang digunakan untuk mengukur

konstruk ini yaitu: kesediaan saya untuk membeli laptop ini adalah sangat tinggi

3.3.2. Penentuan Partisipan

Partisipan diambil dari mahasiswa ekonomi jurusan manajemen. Hal ini

didasarkan pada pertimbangan bahwa mahasiswa yang terpilih sebagai partisipan riset

dapat mewakili perilaku konsumen riil dalam memutuskan pembelian terhadap produk

laptop. Dengan demikian, hasil-hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat

digunakan untuk menjelaskan fenomena yang sesungguhnya (Assael, 1998).

Obyektivitas studi diupayakan melalui kebebasan mahasiswa untuk menerima

atau menolak eksperimen sehingga dalam pelaksanaannya tidak ada unsur intimidasi,

pemanfaatan ikatan informal antara teman, atau hal-hal lain yang bersifat pemaksaan

yang berpotensi menurunkan derajad keyakinan terhadap kualitas data penelitian. Oleh

karena itu, partisipan yang terpilih harus memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan

secara rigid. Pertama, mahasiswa yang tidak mengerti tentang tiga country of origin

produk laptop yaitu Jepang, Cina, dan Malaysia, yang dimaksudkan untuk memunculkan

jawaban yang tidak terinflasi oleh pengetahuan partisipan dalam pengisian kuesioner

tentang persepsi kualitas dari country of origin. Kedua, mahasiswa yang tidak mengerti

tentang harga produk laptop, yang dimaksudkan untuk memunculkan jawaban yang tidak

(44)

Pembahasan berikutnya adalah pembentukan kelompok eksperimen yang

bertujuan untuk memudahkan penentuan stimulus sesuai dengan kelompok pasrtisipan.

3.3.3. Pembentukan Kelompok Eksperimen

Kelompok eksperimen laboratorium yang dikembangkan dalam studi ini terdiri

dari kombinasi: 3 (persepsi kualitas country of origin: tinggi, menengah, rendah) x 3

(persepsi harga: tinggi, menengah, rendah). Dengan demikian, dalam eksperimen terdapat

9 kelompok desain faktorial yang mendeskripsikan kelompok berdasarkan kombinasi

stimulus yang didesain.

Tabel III.1. Kelompok Desain Faktorial

Kelompok Kombinasi Kode Persepsi country of origin – persepsi harga

1. tinggi (Jepang) – tinggi (Rp 7.160.000) A 2. tinggi (Jepang) – menengah (Rp 6.100.000) B 3. tinggi (Jepang) – rendah (Rp 5.180.000) C 4. menengah (Cina) – tinggi (Rp 7.160.000) D 5. menengah (Cina) – menengah (Rp 6.100.000) E 6. menengah (Cina) – rendah (Rp 5.180.000) F 7. rendah (Malaysia) – tinggi (Rp 7.160.000) G 8. rendah (Malaysia) – menengah (Rp 6.100.000) H 9. rendah (Malaysia) – rendah (Rp 5.180.000) I

Sumber: Hasil desainan Peneliti

(45)

tidak memerlukan karakteristik kelompok yang harus disesuaikan antara profil

partisipannya dengan treatment seperti yang terjadi pada teknik matching assignment.

Dari kelompok terbentuk, data diambil melalui teknik between-subject experimental design yaitu setiap individu hanya diberi kesempatan sekali untuk mengikuti program

eksperimen. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan bias respon yang dikarenakan

oleh faktor pengalaman yaitu pengalaman pengisian kuesioner yang dilakukan pada

eksperimen pertama diperkirakan membiaskan pengisian kuesioner pada eksperimen

berikutnya.

Partisipan yang direncanakan sebanyak 198 mahasiswa dari fakultas ekonomi

jurusan manajemen. Penentuan jumlah ini lebih ditekankan pada pertimbangan kualitas

daripada kuantitas partisipan dan selebihnya adalah untuk memenuhi aspek kecukupan

dalam penganalisisan data berdasarkan metode statistik yang dipilih. Dengan demikian,

data yang diperoleh diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap hasil pengujian

yang robust. Jumlah partisipan seluruhnya terdistribusi di Universitas Sebelas Maret

(UNS) Surakarta.

Pembahasan berikutnya adalah materi stimulus yang bertujuan untuk mendukung

pencapaian kualitas data penelitian yang baik.

3.3.4. Materi Stimulus

Pendesainan materi stimulus bertujuan untuk mengembangkan suatu kondisi atau

suasana agar dalam bereksperimen menjadi blind (blind experiment) yaitu menciptakan

(46)

mereka bereaksi seperti dalam keadaan yang sesungguhnya. Untuk mencapai upaya

tersebut, berikut ini adalah materi stimulus yang disesain.

Iklan. Iklan merupakan materi stimulus yang digunakan untuk menstimuli persepsi country of origin. Ada satu gambar yang dikemas dalam bentuk iklan, yaitu

produk laptop yang mempunyai country of origin dari Jepang, Cina, dan Malaysia yang

didesain untuk menstimuli persepsi kualitas country of origin., (2) Harga produk laptop

yang terdiri dari Rp 7.160.000, Rp 6.100.000, dan Rp 5.180.000 yang digunakan untuk

menstimuli persepi harga.

Untuk menguji keefektifan materi stimulus, berikut ini adalah pembahasan

terhadap hasil-hasil yang diperoleh dalam cek manipulasi (manipulation check).

3.3.5. Cek Manipulasi

Cek manipulasi bertujuan untuk mengetahui apakah stimulus yang dipersepsi oleh

partisipan sama seperti yang dipersepsi oleh peneliti, sebab perbedaan persepsi

mengindikasikan kegagalan dalam pendesainan instrumen-instrumen stimulus (Purdue

dan Summers, 1986). Dengan demikian, kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam

stimulus dapat terdeteksi secara dini, sehingga tindakan perbaikan dapat segara dilakukan

sebelum digunakan dalam eksperimen laboratorium.

Dalam studi ini, ada dua variabel atau treatment yag diuji variasinya: (1) persepsi country of origin, (2) persepsi harga. Partisipannya adalah mahasiswa ekonomi jurusan

manajemen yang berjumlah 27 orang yang didasarkan pada aspek pengujian ANOVA.

Partisipan dipilih berdasarkan kriteria yang sama seperti dalam eksperimennya, antara

(47)

Malaysia, (2) partisipan yang tidak mengerti tentang harga laptop. Melalui prosedur ini

diharapkan dapat memperoleh partisipan yang mempunyai jawaban yang bervariasi

terhadap instrumen-instrumen stimulus yang didesain.

Berikut ini adalah permasalahan yang dirumuskan:

(1) Apakah country of origin produk dari Jepang, Cina, dan Malaysia menghasilkan persepsi kualitas tinggi, menengah, dan rendah?

(2) Apakah harga Rp7.160.000, Rp 6.100.000, dan Rp 5.180.000 menghasilkan persepsi harga tinggi, menengah, dan rendah?

Tabel 3.3 menyajikan hasil cek manipulasi untuk menjawab permasalahan yang

dirumuskan.

Tabel III.2. Hasil Cek Manipulasi

Variabel Jumlah item Uji F

pertanyaan

country of origin 1 8,241* harga 1 21,490*

Keterangan: * signifikan < 0.05; N = 27

Sumber: Hasil desainan Peneliti

Permasalahan pertama diuji dengan menggunakan 5 item pertanyaan riset yang

mendeskripsikan 3 tingkat persepsi kualitas country of origin: kualitas tinggi, kualitas

menengah, dan kualitas rendah. Item-item tersebut diukur dengan menggunakan 5 poin

(48)

statistik mengindikasikan bahwa Jepang, Cina, dan Malaysia merupakan country of origin yang mampu menghasilkan persepsi kualitas tinggi, menengah, dan rendah (F test = 8,241, p < 0,05).

Permasalahan kedua diuji dengan menggunakan 5 item pertanyaan riset yang

mendeskripsikan 3 tingkat persepsi harga: harga tinggi, harga menengah, dan harga

rendah. Item-item tersebut diukur dengan menggunakan 5 poin skala Likert dari sangat

tidak setuju sampai dengan sangat setuju. Hasil pengujian statistik mengindikasikan

bahwa 7.160.000, Rp 6.100.000, dan Rp 5.180.000 merupakan harga yang mampu

menghasilkan persepsi harga tinggi, menengah, dan rendah (F test = 21,490, p < 0,05).

Dengan demikian, cek manipulasi mengindikasi bahwa instrumen-instrumen

stimulus yang didesain mampu menghasilkan keragaman pada variabel yang di treatment

sehingga dapat digunakan dalam eksperimen laboratorium. Berikutnya adalah

pembahasan prosedur eksperimen yang bertujuan untuk memberikan pemahaman

terhadap prosedur yang dilakukan untuk memperoleh data penelitian.

3.3.6. Prosedur Eksperimen

Eksperimen diawali dengan menciptakan suatu rasa atau suasana seperti kondisi

riil (blind experiment), sehingga partisipan bereaksi seperti dalam kondisi yang

sesungguhnya. Hal ini bertujuan untuk mengeliminasi reaksi negatif yang muncul pada

saat pelaksanaan eksperimen yang dikarenakan partisipan mempersepsi eksperimen yang

dilakukan sebagai bentuk pengeksploitasian yang bertujuan untuk kepentingan komersial

peneliti (Barbara dan Summers, 1986). Untuk mengeliminasi munculnya fenomena

(49)

ini diharapkan dapat memunculkan interest partisipan terhadap poduk yang menjadi

obyek studi, sehingga suasana riil dapat terbangun.

Berikut ini adalah kata pengantar yang didesain untuk memunculkan interest

partisipan terhadap produk laptop.

Kata pengantar

Partisipan yang terhormat, Toshiba telah menguasai teknologi elektronik digital yang dikembangkan untuk membuat produk-produk elektronik, salah satu diantaranya adalah laptop.

Kami telah melakukan survey kepada para pembeli laptop. Hasilnya mengindikasi bahwa niat untuk membeli laptop muncul pertama kali, setelah mereka menginginkan komputer yang bisa digunakan di luar ruangan, yang dapat memaksimalkan produktivitas mereka.

Gambar

Tabel III.1
Gambar II.1. Model Penelitian
Tabel III.2. Hasil Cek Manipulasi
Tabel IV.1.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Depdiknas (2008) mengemukakan tujuan penyusunan bahan ajar bahan adalah: a) menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan

Skripsi dengan judul “Hukuman Mati pada Tindak Pidana Narkotika (Tinjauan Hukum Positif dan Hukum Islam)” yang ditulis oleh Widhi bagus Nugroho ini telah

[r]

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Gumilang Paramitha (2013) dalam penelitian yang berjudul hubungan aktivitas fisik

Berdasarkan hasil analisis mengenai Implementasi Desa Adat Osing Dalam Mengembangkan Potensi Pariwisata di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi dari

Berdasarkan Berita Acara Evaluasi Kelompok Kerja Pengadaan Jasa Konstruksi Fasum dan Gedung Kantor Polres Bima Kota Unit Layanan Pengadaan (ULP) Polda NTB terhadap Dokumen

Yessy (2003) berpendapat bahwa kelekatan adalah ikatan emosional sebagai bentuk perilaku yang ditujukan oleh individu dalam mencapai atau menjaga kedekatan dengan

heterosexual men yang ditampilkan tokoh Raditya Dika dalam film “Marmut Merah Jambu”.