• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI PENGGUNA LAYANAN DIGITAL PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TENTANG OPEN ACCESS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERSEPSI PENGGUNA LAYANAN DIGITAL PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TENTANG OPEN ACCESS"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI PENGGUNA LAYANAN DIGITAL PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

TENTANG OPEN ACCESS

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu prasyarat dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

dalam bidang studi perpustakaan dan informasi

OLEH:

YURIKE GRACE SINTHA (090709022)

DEPARTEMEN STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2013

(2)

i ABSTRAK

Sembiring,Yurike Grace Sintha. 2013. Persepsi Pengguna Layanan Digital Tentang Open Access. Medan : Program Studi Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengguna layanan digital tentang open access.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa pascasarjana di layanan digital Perpustakaan USU. Penentuan kriteria sampel menggunakan teori Sampling Aksidental. Jumlah populasi yaitu 40 orang. Teknik pengumpulan data adalah kuesioner. Data ditafsirkan dengan rumus persentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 37 orang (92,5%) menjawab setuju terhadap open access dan 3 orang (7,5%) menjawab tidak setuju terhadap open access. Dari jawaban responden tersebut, dinyatakan bahwa pada umumnya responden memiliki persepsi positif dengan diadakannya open access karya ilmiah di Perpustakaan USU. Hasil penelitian juga menunjukkan yang memiliki persepsi positif terhadap gold access sejumlah 50%, berarti setengah dari jumlah responden.

Sedangkan yang memiliki persepsi postif pada green access berjumlah 80%, berarti pada umumnya responden memilih green access sebagai tipe untuk melakukan open access.

Penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak perpustakaan dalam mengambil kebijakan dalam menyediakan open access dan pada pengguna ataupun pemegang hak publisitas untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah secara open access di internet.

Kata kunci: open access

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan pada Allah Yehuwa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Persepsi Pengguna Layanan Digital Perpustakaan Universitas Sumatera Utara tentang Open Acces”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kelengkapan studi untuk menyelesaikan Program Sarjana Departemen Studi Perpustakaan dan Informasi pada Fakultas Ilmu Budaya Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda Simson Sembiring dan Ibunda tercinta Ninta Susana Ketaren yang telah memberikan kasih sayang yang tiada akhir serta dukungan do‟a, sehingga penulis memiliki semangat untuk menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Irawaty, A. Kahar, M,Pd. Selaku Ketua Departemen Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi.

3. Bapak Jonner Hasugian, M. Si, selaku Dosen Pembimbing I yang senantiasa sabar membimbing dan memberikan semangat kepada penulis.

4. Ibu Hotlan Siahaan, S. Sos., M. Ikom, selaku Dosen Pembimbing II yang telah berbaik hati membantu dan memberikan pengarahan kepada penulis.

5. Seluruh Staff Pengajar Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya USU.

6. Kepada Adelina, Lentina, Kak Dewi, Ani, Esilia, Habibi, Fahmi, Deni yang selalu membantu dalam pembuatan skripsi ini.

7. Kepada semua teman-teman stambuk 2009 Melati, Khalida, Astika, Lentina, aisyah, tyodora, Jhonson, Pargo, Heroplin, Indra, Rumi, Fahmi, Ramson, Andi, Samuel yang telah bersama-sama selama masa perkuliahan.

(4)

iii

8. Kepada seluruh kakanda beserta adik-adik Jurusan Ilmu perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara, yang telah berbagi dengan Penulis selama ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

9. Kepada paman dan bibi, Adikku serta sepupuku yang selalu memberi dukungan dan bertanya tentang kapan aku wisuda, ini memotivasiku untuk semangat dalam mengurus semua hal yang berhubungan dengan skripsi.

Akhir kata Penulis berharap agar skripsi ini dapat kiranya menambah khazanah ilmu dan bermanfaat bagi semua.

Medan, 24 Oktober 2013 Penulis

Yurike Grace Sintha 090709022

(5)

iv DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iv

DAFTAR TABEL... ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Ruang Lingkup ... 4

BAB II KAJIAN TEORITIS ... 4

2.1 Pengertian Perpustakaan Digital... 5

2.1.1 Layanan Digital... 7

2.1.2 Perpustakaan Digital Mendukung Open Access ... 9

2.2 Open Access ... 9

2.2.1 Pengertian Open Access ... 10

2.2.2 Jenis-jenis Open Access ... 12

2.2.3 Manfaat Open Access ... 13

2.2.4 Perkembangan Open Access Di Indonesia ... 14

2.3 Literatur dalam Open Access...14

2.3.1 Institutional Repositori ... 16

2.3.2 Perguruan Tinggi di Indonesia yang Mempunyai Institutional Repositori ... 16

2.4 Open Access dan Plagiarisme ...17

2.5 Open Access dan Hak Cipta ...18

2.6 Masyarakat Informasi ...19

2.6.1 Pengertian Informasi ... 19

2.6.2 Manfaat dan Tujuan Informasi ... 20

2.6.3 Open Access dan Masyarakat Informasi ... 21

2.7 Persepsi ...22

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

3.1 Jenis Penelitian ...24

3.2 Lokasi Penelitian ...24

3.3 Populasi dan Sampel ...25

(6)

v

3.3.1 Populasi ... 25

3.3.2 Sampel ... 25

3.4 Teknik Pengumpulan Data ...25

3.4.1 Kuesioner... 26

3.4.2 Kisi-Kisi Kuesioner ... 26

3.5 Analisis Data ...27

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

4.1 Open Access ...28

4.1.1Prinsip Akses... 28

4.1.2Gold access ... 33

4.1.3 Green access ... 34

4.2 Sumber Daya Informasi ...36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 39

5.1 Kesimpulan ...39

5.2 Saran ...39

DAFTAR PUSTAKA ... 40

Lampiran ... 43

(7)

vi DAFTAR TABEL

Tabel 1: Kisi-Kisi Kuesioner ...27

Tabel 2: Prinsip Akses...29

Tabel 3: Mengunggah/Uploading Karya Ilmiah...30

Tabel 4: Karya yang Tersedia di Internet Hanya Dapat Diakses Sebagian...31

Tabel 5: Karya yang Tersedia di Internet Dapat Diakses Full-text...32

Tabel 6: Open Access Terhadap Karya-Karya Ilmiah...32

Tabel 7: Publisitas Karya Ilmiah Secara Gold Access...33

Tabel 8: Beban Biaya Dari Penerbit Jurnal di Internet...34

Tabel 9: Penerbit Jurnal dengan Jasa Publish Karya Ilmiah Dengan Gratis ...35

Tabel 10: Mengakses USU Repositori...36

Tabel 11: E-book yang open access...37

Tabel 12: E-journal yang open access...37

Tabel 13: Artikel Lepas di internet...38

Tabel 14: Open access terhadap karya-karya akademik...39

(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Informasi adalah kebutuhan hidup manusia. Di era globalisasi ini, informasi berkembang dengan cepat. Penyebaran informasi begitu cepat dengan adanya perangkat teknologi elektronik. Informasi elektronik yang disebarkan tidak mengenal batas waktu dan tempat. Sehingga informasi tersebut dapat dibaca, dilihat, dan didengar. Fakta yang tidak terhindarkan adanya akses lebih besar terhadap berbagai jenis informasi, kecepatan perolehan akses informasi, kompleksitas temuan informasi, analisis dan hubungan informasi, teknologi yang berubah secara konstan dan terus- menerus, investasi dana untuk teknologi informasi mendorong banyak orang untuk membangun situs-situs di internet sebagai media informasi dan komunikasi. Banyak diantara situs-situs tersebut bersifat komersial. Seperti yang dikatakan oleh Aaron Swartz dalam suratnya,

“Information is power. But like all power, there are those who want to keep it for themselves. The world‟s entire scientific and cultural heritage, published over centuries in books and journals, is increasingly being digitized and locked up by a handful of private corporations. Want to read the papers featuring the most famous results of the sciences? You‟ll need to send enormous amounts to publishers like Reed Elsevier”.

Hal ini membuktikan mahalnya informasi ilmiah. Sehingga mendorong kelompok pemikir untuk melakukan gerakan yang disebut open access. Setiap literatur yang didigitalkan dan diunggah pada situs diberikan pada masyarakat pengguna internet.

Pengguna dapat memanfaatkan literatur tersebut secara gratis. Gerakan ini mendatangkan manfaat yang besar bagi kaum peneliti. Perpustakaan juga mendapatkan manfaat dengan adanya gerakan ini. Perpustakaan adalah organisasi nirlaba atau nonprofit yang menyediakan informasi kepada pengguna.

Perpustakaan adalah tempat yang menyediakan literatur kepada masyarakat.

Pepustakaan sebagai tempat penyedia informasi juga berkembang dengan penyediaan informasi yang dapat diakses secara full-text melalui internet. Kemajuan teknologi

(9)

2

telah menyaingi perpustakaan konvensional. Beberapa perpustakaan akademik telah mengubah format literatur menjadi format digital kemudian diunggah pada wadah yang disebut repository sehingga dapat ditelusuri dengan perangkat elektronik.

Contohnya adalah repository akademik yang dapat diakses secara on line oleh para peneliti sebagai khazanah ilmu untuk penelitian mereka. Sehingga pemanfaatan literatur tersebut lebih menyebar. Untuk itu, Perpustakaan digital hadir sebagai sarana pengembangan informasi agar para pengguna perpustakaan mengoptimalkan segala pencarian informasi pada perpustakaan tidak terbatas ruang dan waktu. Oleh karena itu, pelayanan digital untuk koleksi format digital diperlukan internet.

Layanan digital memiliki keunikan. Perpustakaan yang memberikan layanan digital memberikan kemudahan bagi penggunanya, kemudahannya adalah akses literatur baik di dalam dan juga diluar perpustakaan tanpa batas waktu. Literatur yang disediakan adalah skripsi/tesis/disertasi mahasiswa, hasil penelitian dosen, makalah presentasi sivitas akademika, prosiding, jurnal dan terbitan lokal lainnya.

Perpustakaan Universitas Sumatera Utara menyedikan layanan digital yang dibuka pada awal tahun 1995. Hal ini bersamaan dengan keterhubungan perpustakaan dengan jaringan kampus (USUnet). Layanan digital Perpustakaan Universitas Sumatera Utara memberikan pelayanan internet kepada penggunanya sistem layanannya adalah terbuka (open service). Penggunaan Perpustakaan USU dalam memanfaatkan layanan digital pada mulanya hanya untuk pengiriman dan penerimaan e-mail. Layanan digital kemudian digunakan oleh pengguna sebagai temu balik informasi terutama artikel-artikel untuk keperluan penelitian. WiFi (wireless internet) yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2004 diperpustakaan, penggunaanya baru pada satu titik yaitu Layanan Digital saja, sejak 21 Januari 2006 telah ditambah sehingga menjadi 9 titik yang dapat menjangkau seluruh gedung dan luar gedung Perpustakaan hingga radius ± 50 meter. Hal ini memungkinkan siapapun dilingkungan WiFi dapat mengakses situs akademik perpustakaan. Namun, situs akademik juga dapat diakses diluar perpustakaan yang menyediakan internet. Layanan digital Perpustakaan USU menyediakan Open Access terhadap katalog perpustakaan, Scientific ejournals, Scientific ebooks, USU Institutional Repository, WB-ADB Corner, USU Press dan web link dengan perpustakaan lain. Untuk mengolah layanan digital pada perpustakaan perlu infrastruktur yang bagus sehingga layanan digital perpustakaan USU tetap berjalan lancar untuk mendukung gerakan suatu gerakan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan yaitu gerakan open access.

(10)

3

Literatur yang open access oleh perpustakaan dapat diunduh full-text.

Berdasarkan pengamatan penulis dari mengikuti Seminar Nasional Open Access:The Future of Repositories and Scholarly Publishing yang diadakan oleh Perpustakaan Universitas Sumatera Utara bekerjasama dengan Gothe-Institut pada tanggal 30 Januari di Medan. Penulis mendapati adanya pernyataan yang terlontar dari beberapa peserta yang hadir tentang ketidaksetujuan dari pengguna dengan penayangan karya penelitiannya pada internet secara full-text. Sebagian peserta antusias terhadap open access. Jadi, adanya pro-kontra tentang gerakan. Gerakan open access yang baru hangat-hangatnya untuk dikembangkan belum diketahui apakah akan membawa keuntungan ataupun kerugian bagi pemegang hak publisitas dan pengguna. Meskipun demikian, open access sangat membantu dalam studi kepustakaan karena pengguna tidak perlu membeli artikel-artikel ilmiah elektronik dengan harga yang sangat mahal.

Walaupun open access tersedia pada Perpustakaan USU, beberapa pengguna mengeluhkan karena ada beberapa file yang tersedia di USU Repositori yang tidak dapat diakses keseluruhan. Perpustakaan USU harus melakukan analisis untuk mengetahui, mengukur, menggambarkan bagaimana persepsi pengguna terhadap open access selama ini. Pengguna akan memiliki persepsi baik terhadap open access jika pengguna merasa bahwa informasi yang dibutuhkan dapat dipenuhi dan tidak merugikan pemilik karya ilmiah sebagai pihak yang memberi hak publisitas. Namun, sebaliknya pengguna akan memiliki persepsi yang buruk jika perpustakaan dianggap tidak mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan pengguna dan merugikan pemilik karya ilmiah itu sendiri. Dengan adanya penilaian pengguna terhadap open access akan memberikan hal yang positif terhadap kebijakan Perpustakaan USU kedepannya dalam melayani pengguna.

Bertolak dari paparan di atas untuk menggali bagaimanakah open access menurut pengguna maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan menjadikan judul „Persepsi Pengguna Layanan Digital Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Tentang Open Access‟.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka yang jadi permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Bagaimanakah persepsi Pengguna Layanan Digital Perpustakaan USU tentang Open Access?”

(11)

4 1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah Mengetahui persepsi Pengguna Layanan Digital Perpustakaan USU tentang Open Access.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi :

1. Perpustakaan USU, untuk megetahui seberapa besar nilai kegunaan dan pemanfaatan open access bagi pengguna Perpustakaan USU.

2. Peneliti, agar dapat dijadikan bahan masukan dalam melakukan penelitian lanjutan mengenai Open Access

3. Pengembangan ilmu pengetahuan dalam kajian budaya informasi khususnya dibidang layanan digital yang melakukan Open Access .

1.5 Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Persepsi Pengguna Layanan Digital Perpustakaan USU tentang open access yang dilihat dari prinsip akses, Gold Access, Green Access dan sumber daya informasi yang meliputi:

e-book, e-journal, skripsi, tesis, disertasi, dan prosiding.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

(12)

5 2.1 Pengertian Perpustakaan Digital

Istilah perpustakaan digital sudah tidak asing lagi didengar. Istilah ini sudah populer dikalangan akademisi. Banyak perpustakaan perguruan tinggi telah menyediakan layanan digital untuk pengunjungnya. Lahirnya perpustakaan digital didasari atas perkembangan standar dan teknologi internet, perkembangan sumber daya informasi baru, perkembangan sistem akses dan temu balik dan beraneka- ragamnya sumber daya informasi terkomputerisasi.

Digital Federation (DLF:1998) memberikan definisi untuk perpustakaan digital yaitu, “Perpustakaan digital adalah organisasi-organisasi yang memakai dan menampilkan berbagai jenis sumber informasi, khususnya mewujudkan sumber- sumber intelektual dimana tidak perlu diatur seperti pada model perpustakaan tradisional, mereka, dalam banyak hal berbeda jenisnya. Sebagai contoh, untuk menyimpan dan temu kembali informasi perpustakaan digital lebih bergantung hanya kepada komputer dan sistem jaringan elektronik dan keterampilan teknis, dari pada keahliaan kataloger tradisional dan pustakawan”. Berdasarkan pendapat tersebut perpustakaan digital tidak seperti perpustakaan tradisional yang manual dalam pengaturannya tetapi diatur oleh perangkat komputer dan program komputer beserta adanya jaringan elektronik sehingga pustakawan yang mengoperasikannya membutuhkan keterampilan teknis.

Fahmi disitir oleh Lutriani (2011) menyatakan, “Perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat hardware dan software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja serta layanan dengan memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi”. Berdasarkan pendapat Fahmi di atas, perpustakaan digital juga mencakup sistem yang juga meliputi koleksi elektronik, perangkat elektronik untuk mengelolah koleksi, adanya pengguna dan organisasi.

Pendapat lain, Zainal disitir oleh Lutriani (2011) menyatakan, “Perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan”. Pendapat Zainal, memperjelas bahwa pelaksanaan manajemen perpustakaan pada layanan digital tidak hanya membutuhkan teknologi komputer tetapi juga internet.

Hasugian (2009 : 182) memberi definisi, “Perpustakaan elektronik atau digital adalah suatu lingkungan perpustakaan dimana berbagai objek informasi (dokumen, images, suara dan video-clips) disimpan dan diakses dalam bentuk elektronik”. Jadi,

(13)

6

perpustakaan digital memiliki koleksi yaitu berupa objek informasi berupa dokumen, gambar, suara, dan video-clip dalam bentuk elektronik yang disimpan dan diakses dengan menggunakan perangkat elektronik.

Lutriani (2011) menyatakan bahwa “Perpustakaan digital adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku/tulisan, gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Berdasarkan pendapat Lutriani, perpustakaan digital memiliki koleksi elektronik yang didistribusikan dengan menggunakan jaringan komputer kepada penggunanya”.

Ada lagi pendapat lain tentang definisi perpustakaan digital diantaranya dikemukakan oleh Siregar (2004 : 41) yaitu,“Perpustakaan digital juga dapat dilihat dari beberapa sisi. Dari perspektif database atau temu balik informasi, dari berbagai data base. Dari perspektif hypertext, perpustakaan digital dapat dipandang sebagai aplikasi khusus dari teknolgi hypertext. Dari perspektif layanan wide area, perpustakaan digital dapat dilihat sebagai penggunaan world wide web. Dari perspektif ilmu perpustakaan, perpustakaan digital bisa dipandang sebagai kelanjutan dari trend automasi perpustakaan”. Berdasarkan pendapat Siregar dapat diketahui bahwa perpustakaan digital merupakan kompilasi dari database (temu balik informasi) di design melalui hypertext yang terhubung dalam jaringan internet world wide web sebagai media utama penyalur informasi. Maka perpustakaan digital merupakan hasil teknologi yang bermanfaat dalam penyebaran informasi.

Perlunya pengorganisasian koleksi digital sedemikian rupa sehingga informasi yang terkandung dalam koleksi digital dapat diakses seperti halnya yang pernah dinyatakan :

“Digital Libraries are organized, Focused collections of information. They consentrate on a particular topic or theme- and good digital libraries will articulate the principles governing what is included. They are organized to make information accessible in particular, well-defined, ways- and good ones will include a description of how the information is organized” (Lesk, 2005).

Jadi, berdasarkan pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa perpustakaan digital adalah integrasi dan keterkaitan antar berbagai jenis format data elektronik yang merupakan koleksi perpustakaan digital dalam bentuk teks, gambar, suara maupun video-clips dalam jumlah besar kemudian disimpan, diolah secara digital. Kemudian koleksi tersebut disebarkan melalui jaringan internet sehingga bersifat global.

Pengoperasiannya dilakukan oleh institusi yang bekerjasama dengan pustakawan

(14)

7

yang mempunyai keterampilan teknis dan berbagai lembaga informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Pengorganisasiaan koleksi digital tersebut digunakan untuk memudahkan akses temu kembali.

2.1.1 Layanan Digital

Perpustakaan digital dipastikan akan memberikan layanan digital kepada penggunanya. “Sebenarnya, perpustakaan digital bukan merupakan salah satu jenis perpustakaan tersendiri. Akan tetapi merupakan pengembangan dalam sistem layanan”(Supsiloani, 2000 : 32). Untuk dapat menyediakan layanan digital diperlukan beberapa persyaratan. Persyaratan yang dibutuhkan tergantung kepada bentuk dan jenis layanan digital yang disediakan. Adapun persyaratan utama yang diperlukan menurut Hasugian (2009 : 192) adalah, “Menyangkut dokumen elektronik dan infrastruktur layanan”.

a) “Dokumen Elektronik

Salah satu syarat untuk dapat menyediakan layanan digital adalah tersedianya dokumen elektronik dapat berupa buku elektronik (e-book), jurnal elektronik (e-journal), atau dokumen lain dalam format elektronik. Pada prinsipnya muatan isi buku elektronik sama dengan verrsi cetaknya hanya karena formatnya berbeda maka cara penggunaanya pun berbeda. Buku elektronik dapat dibeli secara utuh seperti halnya buku biasa, terutama yang tersedia terekam dalam CD atau media rekam elektronik lainnya, tetapi ada yang dilanggan secara online.

Jurnal elektronik (e-journal) pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan buku elektronik, muatan isi dalam jurnal elektronik sama dengan versi cetaknya.

Akan tetapi pada umumnya jurnal elektonik dilanggan secara online perjudul ataupun dalam bentuk paket. Biasanya bila perpustakaan melanggan jurnal elektronik selalu disertai back issue. Dokumen lain yang tersedia dalam format elektronik adalah seperti kamus elektronik, ensiklopedia elektronik dan sebagainya.

b) Infrastruktur Layanan Digital

Untuk melakukan layanan elektronik diperpustakaan dibutuhkan ketersediaan infrastruktur layanan. Adapun infrastruktur yang dibutuhkan untuk layanan elektronuk pada dasarnya mencakup komputer server, komputer personal, program aplikasi dan jaringan. Ketersediaan infrastruktur ini juga ditentukan oleh bentuk /sifat dan jenis layanan elektronik yang disediakan.

(1) Layanan digital yang off-line

Layanan elektronika yang sifatnya tidak terhubung dengan komputer lain memerlukan infrastruktur yang tidak terlalu rumit. Layanan elektronik ini dapat dilakukan apabila tersedia komputer personal dan dokumen elektronik.

(2) Layanan digital yang online

Layanan elektronik yang sifatnya terhubung dengan komputer lain dapat dikategorikan atas dua bentuk yaitu Intranet dan Internet. Untuk layanan elektronik yang bersifat online-intranet diperlukan infrastruktur berupa komputer server, komputer personal, jaringan lokal, software dan dokumen

(15)

8

elektronik. Sedangkan untuk layanan elektronik secara online internet diperlukan infrastruktur berupa komputer server, komputer personal, jaringan internet yang terhubung dengan jasa salah satu provider dan dokumen elektronik.

Ketersediaan infrastruktur layanan elektronik tersebut masih ditentukan oleh jenis layanan elektronik yang disediakan. Jenis layanan elektronik pada dasarnya terdiri atas: layanan dengan menyediakan dokumen elektronik, layanan dengan berlangganan, layanan dengan hanya menyediakan fasilitas akses dan kombinasi.

(a) Layanan dengan menyediakan dokumen elektronik

Layanan elektonik dalam bentuk ini dilakukan dimana perpustakaan menyediakan infrastruktur berupa komputer personal dan dokumen elektronik.

Dokumen elektronik yang disediakan dapat berupa CR-ROM atau dapat berupa dokumen elektronik yang dibuat sendiri oleh perpustakaan. Saat ini banyak perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia mengalih media dokumen yang tercetak menjadi dokumen elektronik, khususnya dokumen berupa karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, tulisan ilmiah dsb) yang belum dipublikasi dengan cara men-scan. Ada juga yang melakukannya dengan mengeluarkan kebijakan melalui SK Rektor agar setiap penyerahan dokumen berupa karya ilmiah ke Perpustakaan harus menyertakan file elektroniknya. Dengan kebijakan ini, penyediaan dokumen elektronik dipermudah.

(b) Layanan dengan hanya menyediakan akses

Apabila perpustakaan belum atau tidak memiliki dokumen elektronik atau belum melanggan salah satu dokumen elektronik, bukan berarti tidak boleh menyediakan layanan elektronik. Perpustakaan yang tidak memiliki atau tidak melanggan dokumen elektronik dapat menyediakan layanan elektronik.

Sebab dokumen elektronik yang terdiri dari berbagai tipe, apakah informasi ilmiah atau non ilmiah banyak tersedia secara gratis pada berbagai situs web.

Untuk hal ini, perpustakaan cukup menjadi penyedia layanan elektronik berupa akses atau menjadi penyedia layanan elektronik berupa akses atau menyediakan fasilitas akses terhadap informasi elektronik. Untuk layanan ini, internet menjadi fokus utama untuk melakukan pencarian informasi. Akses ke internet menjadi sangant penting. Untuk menjadi perpustakaan penyedia akses ke informasi elektronik diperlukan infrastruktur berupa komputer personal (PC), Modem, Wifi, langganan ke salah satu provider seperti Indosatnet, Idolanet, atau tidak berlangganan melainkan menggunakan sambungan yang sudah tersedia seperti menggunakan Telkomnet instant.

(c) Layanan dengan melanggan dokumen elektronik

Layanan elektronik dengan cara ini dilakukan dengan melanggan salah satu atau beberapa atau paket dokumen elktronuk yang dimiliki vendor tertentu. Perpustakaan mengikat perjanjian berlangganan dengan salah satu vendor dokumen elektronik apakah e-book atau e-journal. Langganan biasanya pertahun. Misalnya, Kluwer Academik Publisher menawarkan langganan e-book secara online. Perpustakaan dapat memilih judul buku yang akan dilanggan dari ribuan judul buku yang tersedia dalam data base mereka.

Infrastruktur yang diperlukan untuk layanan elektronik ini adalah berupa komputer server, komputer personal (PC), jaringan internet yang terhubung kesalah satu provider (Telkom, Indosat, dsb) dan kontrak dengan vendor penyedia dokumen elktronik tertentu”.

(16)

9

2.1.2 Perpustakaan Digital Mendukung Open Access

Perpustakaan digital mendukung suatu gerakan yang disebut dengan open access. Dengan adanya perpustakaan digital, koleksi dalam format digital dapat diunduh dan diunggah menggunakan jaringan telekomunikasi yang disebut internet.

Seperti halnya yang sebelumnya didefinisikan oleh Digital Federation (DLF : 1998), perpustakaan digital adalah organisasi-organisasi yang memakai dan menampilkan berbagai jenis sumber informasi, khususnya mewujudkan sumber sumber intelektual dimana tidak perlu diatur seperti pada model perpustakaan tradisional, mereka, dalam banyak hal berbeda jenisnya. Sebagai contoh, untuk menyimpan dan temu kembali informasi perpustakaan digital lebih bergantung hanya kepada komputer dan sistem jaringan elektronik dan keterampilan teknis, dari pada keahliaan kataloger tradisional dan pustakawan.

Jadi, semua koleksi digital baik berupa database yang dimiliki perpustakaan maupun yang dilanggan perpustakaan dapat diakses dengan menggunakan jaringan dan terbuka kepada pengguna adalah merupakan dukungan terhadap Open Access.

Dokumen ataupun file yang dipampang dilayar dapat berupa fulltext ataupun sebagian data saja juga merupakan dukungan terhadap Open Access. Dokumen tersebut tersedia karena diunggah oleh perpustakaan dan dapat diunduh oleh pengguna sesuai dengan izin perpustakaan. Sehingga dapat dinyatakan bahwa perpustakaan digital mendukung terjadinya Open Access, artinya tanpa perpustakaan digital Open Access tidak dapat dilaksanakan.

2.2 Open Access

Istilah Open Access pertama kali didefinisikan pada pertemuan di Budapest dengan berbagai pendapat untuk membuat istilah yang tepat untuk jurnal yang terbuka bagi masyarakat pengguna informasi. Kemudian istilah yang tepat muncul dengan penyatuan oleh Open Society Institute di awal Desember 2001.

Kampanye gerakan Open Access internasional tercetus pada bulan Februari 2002, yang dikenal dengan nama Budapest Open Access Initiative (BOAI). Kemudian berikutnya disusul dengan Bethesda Statement On Open Access Publishing pada bulan Juni 2003, dan Berlin Declaration On Open Access To Knowledge In The Sciences And Humanities pada bulan oktober 2003. Pada tahun 2007, MIT

(17)

10

meluncurkan OpenCourseWare (OCW) yang memuat materi kuliah secara online.

(Siregar, 2013)

Munculnya gerakan Open Access ini menunjukkan bahwa semakin banyak literatur penelitian dengan akses terbuka, akan memberi manfaat lebih besar bagi umat manusia. Hal ini menjadikan gerakan Open Access penting bagi banyak negara termasuk negara berkembang seperti Indonesia. Gerakan ini menjadi penting karena dua hal seperti yang dijelaskan oleh Siregar (2013) menyatakan, “Pertama, Ketimpangan terhadap akses artikel jurnal lebih besar di negara berkembang dibandingkan di negara maju. Harga jurnal berlangganan misalnya terasa sangat mahal bagi negara berkembang karena perbedaan daya beli. Open Access dapat berarti pemerataan akses antara negara maju dan berkembang. Kedua, literatur Open Access dari negara berkembang yang sebelumnya kurang dikenal akan mendunia dan membuka peluang untuk berkolaborasi”. Jadi, disebabkan literatur jurnal Open Access penting maka gerakan Open Access juga menjadi penting. Dari pendapat Siregar dapat juga diketahui bahwa Open Access akan menjadi sumbangsih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Gerakan ini pun, menembus perkonomian negara- negara yang minim.

2.2.1 Pengertian Open Access

Beberapa pengertian Open Access didefinisikan dari pertemuan ilmiah seperti halnya Budapest Open Access Initiative memberikan definisi sebagai berikut:

“By „Open Access‟ to this literature [primarily peer-reviewed journal articles, as mentioned earlier in the Initiative], we mean its free availability on the public internet,permitting any users to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the fulltexts of these articles, crawl them for indexing, pass them as data to software, or use them for any other lawful purpose, without financial, legal, or technical barriers other than those inseparable from gaining access to the internet itself. The only constraint on reproduction and distribution, and the only role for copyright in this domain, should be to give authors control over the integrity of their work and the right to be properly acknowledged and cited” (Johannes, 2005 : 4).

Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa gerakan ini menyediakan secara gratis di internet peer-reviewed jurnal artikel kepada masyarakat umum. Sehingga hal ini memungkinkan setiap pengguna untuk membaca, mengunduh, menyalin, mendistribusikan, mencetak, mencari, atau link penuh pada teks artikel yang pengguna inginkan, mengutip indeks atau menggunakan artikel untuk tujuan lain yang sah, tanpa keuangan, hukum, atau hambatan teknis lainnya.

(18)

11

Pada reproduksi dan distribusi artikelnya ada hal yang perlu diingat yaitu peran hak cipta. Maka pengguna informasi yang mengutip, perlu memberikan cantuman nama penulis sebagai hak atas integritas bagi pekerjaan mereka yaitu hasil penelitian mereka.

Definisi Open Access diperingkas oleh Suber (2007) dalam Nick yaitu, “OA removes price barriers such as subscriptions, licensing fees, pay-per-view fees, and permission barriers such as copyright and licensing restrictions.” Pendapat yang dikemukan oleh Suber menunjukkan adanya kebebasan biaya dan izin dari penulis ataupun surat penyerahan izin kepada pengguna dalam mengakses informasi. Jadi, bahan-bahan yang diterbitkan melalui model Open Access, memungkin konsumen ataupun pengguna informasi mengaksesnya dan mengunggah karya elektronik tanpa harus membayar biaya berlangganan dan dapat mendistribusikan bahan bebas tanpa perlu mencari izin dari pemegang hak cipta.

Pada bulan Oktober 2003, Max Planck Society di Jerman mengadakan pertemuan “Open Access to Knowledge in the Sciences and Humanities”. Pertemuan ini menghasilkan Deklarasi Berlin Open Access 4. Deklarasi Berlin mendefinisikan Open Access seperti:

“Open Access contributions must satisfy two conditions:

1. The author(s) and right holder(s) of such contributions grant(s) to all users a free,irrevocable, worldwide, right of access to, and a license to copy, use, distribute, transmit and display the work publicly and to make and distribute derivative works, in any digital medium for any responsible purpose, subject to proper attribution of authorship (community standards will continue to provide the mechanism for enforcement of proper attribution and responsible use of the published work, as they do now), as well as the right to make small numbers of printed copies for their personal use.

2. A complete version of the work and all supplemental materials, including a copy of the permission as stated above, in an appropriate standard electronic format is deposited (and thus published) in at least one online repository using suitable technical standards (such as the Open Archive definitions) that is supported and maintained by an academic institution, scholarly society, government agency, or other well-established organization that seeks to enable Open Access, unrestricted distribution, inter operability, and long-term archiving” (Johannes, 2005 : 6).

Ada tiga hal penting utama yang dapat diketahui dari pernyataan di atas yaitu:

aksesibilitas bebas, penyebaran lebih lanjut, dan pengarsipan yang tepat. Open Access akan disebut gerakan akses yang terbuka jika memenuhi beberapa hal berikut : 1). Artikelnya bersifat universal dan bebas diakses tanpa biaya kepada pembaca melalui internet ataupun sebaliknya penulis dengan pembaca serta bebas embargo.

(19)

12

2). Pemilik hak cipta yaitu penulis memberikan hibah kepada pihak ketiga dimuka dan selama-lamanya, hak untuk menggunakan, menyalin atau menyebarkan artikel asalkan pengguna memberikan perincian pengutipannya dan mencantumkan nama pemilik ciptaan tersebut.

3). Artikel segera disimpan, secara penuh dan dalam bentuk elektronik yang sesuai, setidaknya diakui secara internasional kedalam bentuk repositori yang menyediakan akses terbuka dan berkomitmen untuk membuka akses dan pelestarian jangka panjang untuk generasi berikutnya.

2.2.2 Jenis-jenis Open Access

Terdapat 2 jenis Open Access yang diketahui yaitu model Gold dan Green.

Schoeplin (2013) memberikan penjelasan tentang masing-masing jenis yaitu:

“1.Green Open Access is self archiving of preprint e.g. on a publication repository to make it open available.

2.Gold Open Access is making a work published with a scholarly publisher openly available e.g. by paying an Open Access fee”.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa jenis Green adalah penyediaan informasi yang dapat diakses secara nonkomersial sedangkan jenis Gold penyediaan informasi yang dibayar oleh penerbit untuk dapat diakses pengguna secara gratis, hal ini sifatnya komersial. Suber (2012) menjelaskan

“for gold OA Some OA journal publishers are non-profit (e.g. Public Library of Science or PLoS) and some are for-profit (e.g. BioMed Central or BMC).

In fact, most OA journals (70%) charge no author-side fees at all. Moreover, most conventional or non-OA journals (75%) do charge author-side fees.

When OA journals do charge fees, the fees are usually (88%) paid by author- sponsors (employers or funders) or waived, not paid by authors out of pocket”.

Dari penjelasan Suber dapat diketahui bahwa ada penerbit jurnal yang komersil dan non komersil. Jenis gold open access ternyata tidak sepenuhnya membebankan biaya kepada pengarang atau penulis pada jurnal karya yang sudah selesai yang akan diterbitkan. Sedangkan untuk jenis green open access disimpan pada reposirory institusi ataupun organisasi meskipun karya tersebut belum sepenuhnya selesai. Hal ini dijelaskan oleh SAGE yang berasosiasi dengan perpustakaan British,

“The OA picture is divided into two broad areas. One of these is gold OA, where payment for publication is made by the author, the author‟s

(20)

13

institution, research funder or another source of author-side funding so that the resulting paper can be read by anyone, anywhere, without the requirement to pay for access or wait for an embargo period. Papers can be published under a gold OA model in gold OA journals, where every paper is made freely available under the same model. They can also be published in a hybrid journal, where some authors have paid to make their papers OA but other papers are published under a traditional subscription model (where payment takes place on the reader side). Publishers of hybrid journals tend to commit to some reduction in subscription fees as the proportion of OA papers increases. Published gold OA papers can generally be deposited in institutional and/or subject repositories. The other approach to OA is green OA, where accepted authors‟ manuscripts or other pre-publication versions are deposited in institutional and/or subject repositories. This approach works with traditional subscription publishing but many publishers impose embargo periods and particular conditions on publication in such a way”

(SAGE Library OA Report : 2012).

Jadi maksudnya bagi negara yang berkembang ataupun miskin untuk literatur yang berbayar tentu terasa sangat berat. Sehingga model green Open Access adalah tipe yang ideal dibandingkan dengan gold access.

2.2.3 Manfaat Open Access

Open Access bermanfaat bagi pengguna. Hal ini disebabkan literatur yang selama ini terpendam ataupun tidak ditunjukkan kepada masyarakat dan digunakan oleh masyarakat dapat dimiliki dan digunakan . Literatur-literatur ilmu pengetahuan tentunya seperti harta karun yang sangat berguna bagi setiap umat manusia.

Adapun manfaatnya dijelaskan menurut Suber (2012) jika diterjemahkan yaitu:

1. “Penulis/Pengarang : open access menambah jumlah peminat mereka di seluruh dunia lebih besar dari setiap jurnal berbasis langganan, tidak peduli seberapa bergengsi atau populer karya ilmiahnya, dan terbukti meningkatkan visibilitas dan dampak dari pekerjaan mereka.

2. Pembaca : open access memberi mereka akses bebas hambatan bagi literatur yang dbutuhkan untuk penelitian pengguna , tidak dibatasi oleh anggaran perpustakaan di mana mereka dapat memiliki hak akses. open access meningkatkan jangkauan pembaca dan kekuasaan pengunduhan .

3. Guru dan siswa : open access meruntuhkan kesenjangan antara kaya dan miskin serta menghilangkan kebutuhan untuk pembayaran atau izin untuk mereproduksi dan mendistribusikan konten .

4. Perpustakaan : open access memecahkan krisis harga untuk jurnal ilmiah.

5. Universitas : open access meningkatkan visibilitas fakultas dan penelitian, mengurangi biaya untuk jurnal , dan kemajuan misi untuk berbagi pengetahuan .

6. Jurnal dan penerbit : open access membuat artikel lebih terlihat , ditemukan , dapat , dan berguna .

(21)

14

7. Organisasi penyandang dana : open access meningkatkan laba atas investasi dalam penelitian , membuat hasil penelitian yang didanai lebih banyak tersedia , lebih mudah ditemukan, dan lebih berguna.

8. Pemerintah : Sebagai penyandang dana penelitian , pemerintah mendapatkan keuntungan dari open access dalam semua cara yang dilakukan lembaga pendanaan dan open access juga mempromosikan demokrasi dengan berbagi informasi pemerintah non - diklasifikasikan seluas mungkin .

9. Warga : open access memberi akses ke penelitian, yang sebagian besar tidak tersedia di perpustakaan umum, dan memberikan akses ke penelitian yang sudah dibayar melalui pajak warga. open access mempercepat penelitian dan juga penjabaran penelitian obat-obatan baru , teknologi yang berguna , masalah diselesaikan , dan keputusan yang menguntungkan semua orang”.

Pada dasarnya, manfaat Open Access terletak pada beberapa hal yaitu kemudahan akses informasi, penghematan uang/biaya, memperluas wawasan dan membantu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun komunikasi informasi, juga menciptakan banyak literatur-literatur ilmiah lain dalam masyarakat informasi. Seperti yang dinyatakan oleh Mark dan Shearer (2006) menyatakan,

“Removing existing economic barriers can increase the amount of information available to the global scientific community”.

2.2.4 Perkembangan Open Access Di Indonesia

Open Access di Indonesia mengalami perkembangan yang bagus.

Perkembangannya tidak spesifik untuk jurnal penelitian. Perkembangan utamanya dalam bentuk repositori institusi yang dikenal dengan IR. Selain dalam bentuk IR, penerbit jurnal di Indonesia, yang pada umumnya adalah PT juga mendaftarkan jurnalnya pada Directory Of Open Access Journals (DOAJ).

“Berdasarkan statistik DOAJ, Indonesia berada pada peringkat 35 dari 121 negara, dengan jumlah jurnal sebanyak 45 dari total 8604 judul dari seluruh dunia pada bulan Januari 2013. DOAJ diluncurkan sejak tahun 2002 dan jurnal Indonesia mulai terdaftar sejak tahun 2009. Jumlah ini memang masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah jurnal yang terbit di Indonesia. Dalam Indonesian Scientific Journals database (ISJD) yang dikembangkan oleh LIPI dan kementrian pendidikan dan kebudayaan (Dikbud) saja terdaftar 245 judul jurnal, dan diperkirakan masih banyak lagi yang diterbitkan tetapi tidak bisa ditemukan googling. Karya penulis Indonesia juga tersedia pada beberapa situs layanan konten dan blog perorangan”(Siregar, 2013).

2.3 Literatur dalam Open Access

Open Access sebagai jalan menyebarkan Informasi. Berbagai bentuk literatur yang dapat diakses. Peter Suber (2012) menyebutkan bahwa “literatur Open Access

(22)

15

adalah dalam bentuk digital, bebas biaya, dan bebas dari rintangan hak cipta dan lisensi”. Jadi, dapat diketahui setiap literatur yang Open Access adalah dalam bentuk format digital dan bebas diakses.

Meskipun demikian tidak semua literatur yang Open Access. Siregar (2013) menjelaskan “literatur yang dimaksud adalah artikel jurnal bertinjauan sejawat (peer reviewed) yang disetujui untuk akses bebas dan tersedia bagi siapa saja. Dia juga menambahkan bahwa literatur Open Access dapat disajikan dengan dua cara yaitu: (a) dimuat pada jurnal Open Access atau (b) dimuat dalam arsip atau repository Open Access”.

Pada kesepakatan Budapest Open Access Initiative (Februari 2002) ada ketentuan Bethesda yang dibuat untuk mendefinisikan publikasi yang Open Access yaitu bergantung pada 2 kondisi yaitu:

“An Open Access Publication is one that meets the following two conditions:

1. The author(s) and copyright holder(s) grant(s) to all users a free, irrevocable,worldwide, perpetual right of access to, and a license to copy, use, distribute,transmit and display the work publicly and to make and distribute derivative works,in any digital medium for any responsible purpose, subject to proper attribution of authorship, as well as the right to make small numbers of printed copies for their personal use.

2. A complete version of the work and all supplemental materials, including a copy of the permission as stated above, in a suitable standard electronic format is deposited immediately upon initial publication in at least one online repository that is supported by an academic institution, scholarly society, government agency, or other well-established organization that seeks to enable Open Access, unrestricted distribution, interoperability, and long-term archiving (for the biomedical sciences, PubMed Central is such a repository)”.

Ketetapan yang dibuat diatas menunjukan bahwa publikasi yang open access adalah terdiri atas dua jenis yaitu: Pertama, karya ilmiah ataupun hasil penelitian dari peneliti ataupun ilmuan maupun penulis sebagai pemilik hak cipta yang menyediakan karya ilmiah ataupun hasil penelitiannya untuk disebarkan, digunakan dan dipaparkan pada media umum berupa jurnal online untuk penggunaan pribadi oleh pengguna tersebut secara gratis, tetapi diberi batasan bahwa penggunaannya bukan untuk komersil kepada pengguna lain. Publikasi yang kedua adalah kumpulan bahan material yang dimiliki suatu institusi akademik, oraganisasi ilmiah, instansi pemerintah ataupun organisasi yang mapan untuk diakses secara terbuka untuk didistribusikan kepada pengguna. Bahan material ini disimpan dalam suatu database yang disebut repositori. Jadi, dapat diketahui bahwa sumber daya informasi berupa e-

(23)

16

journal, e-skripsi, e-tesis, e-disertasi, e-prosiding, dan karya ilmiah lain berupa artikel lepas yang terpampang di internet.

2.3.1 Institutional Repositori

Open Access juga menggerakkan institusi membuka karya ilmiah yang mereka simpan untuk diakses. Sehingga institutional repositori dapat diakses. Institutional Repositori juga dikenal dengan jenis green access. Menurut Crow disitir oleh Siregar (2004) mendefinisikan Institutional Repositori sebagai “Digital collection that preserve and provide access the intellectual otu put of an institution”.

Sementara menurut pandangan Reitz Institutional Repository adalah “Satu set layanan yang ditawarkan oleh universitas atau kelompok perguruan tinggi untuk anggota komunitas untuk pengelolahan dan penyebaran materi ilmiah dalam format digital yang diciptkan oleh institusi dan anggota masyarakat seperti e-prints, laporan teknis, tesis dan disertasi,data set serta bahan ajar”.

Dua batasan seperti dikemukankan oleh Crow dan Reitz menunjukkan bahwa Instituional repositori merupakan karya yang dihasilkan oleh masyarakat universitas yang berupa laporan teknis, skripsi, tesis, sidertasi, bahan ajar. Batasan diatas juga mensyaratkan satu lagi unsur yang ada dalam layanan Instituional repositori yaitu dikases secara midah karena terpasang online.

Adapun manfaat institutional repositori atau disingkat dengan IR seperti dikemukakan Crow disitir oleh Siregar (2004) mencatat beberapa manfaat yang bisa diambil dari IR, yaitu: “adanya perluasan penyebaran karya ilmiah sehingga memungkinkan untuk disitir oleh pihak lain; penyebaran bisa dilakukan dengan cepat; nilai tambah layanan informasi”. Di luar kemanfaatan yang bisa diambil, ada kemanfaatn lain dengan adanya IR yaitu untuk kepentingan pribadi penyumbang IR dan untuk kepentingan lembaga. Untuk kepentingan pribadi, seorang penyumbang bisa menerbitkan hasil penelitian atau karya tulisnya melalui IR perguruan tingginya.

Mengingat IR memungkinkan semua orang membaca karya orang lain, maka secara potensial seseorang tersebut akan mendapat pengesahan dari pembaca bahwa dia otoritatif dalam bidangnya.

2.3.2 Perguruan Tinggi di Indonesia yang Mempunyai Institutional Repositori Situs yang menyediakan secara spesifik institut di Indonesia yang mempunyai Institutional Repository adalah webometric yang dapat diakses pada

(24)

17

http://repositories.webometrics.info/en/Asia/Indonesia. Perankingan yang diambil untuk bulan Januari 2012 lalu. Berdasarkan perangkingan dapat diketahui ada 32 institut yang mempunyai repository diantaranya 31 repository dari universitas dan 1 organisasi atau lembaga. Hasil pemeringkatan dunia, yang menduduki peringkat 19 hingga 30 dunia berasal dari 4 perguruan tinggi di Indonesia yaitu ITS, USU, UNAnd dan UNDip pada edisi Juli 2012 lalu. Hal ini cukup mengesankan.

2.4 Open Access dan Plagiarisme

Prokontra yang timbul dalam melakukan gerakan Open Access terletak pada kekhawatiran bahwa memungkinkan akses terbuka untuk seseorang akan meningkatkan plagiarisme. Menurut kamus arti kata plagiat adalah, “pengambilan karangan (pendapat) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri;

jiplakan” . Sedangkan menurut Wikipedia dikutip oleh Bandi (2011), “Plagiat (Plagiarisme) adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat,dan hasil karya orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain”.

Menurut Utorodewo dikutip oleh Bandi (2011) hal-hal berikut sebagai

“tindakan plagiarisme :

1. Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.

2. Mengakui gagasan orang lain sebagai gagasan sendiri 3. Mengakui temuan orang lain sebagai temuannya sendiri.

4. Mengakui karya kelompok sebagai karya sendiri.

5. Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya dan menunjukkan bahwa hal tersebut milik penulis sebelumnya.

6. Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya.

7. Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya”.

Plagiarisme terjadi karena pelanggaran hak cipta. Adapun ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2002 Bagian Kelima Pasal 15 Tentang Pembatasan Hak Cipta yang berbunyi,

“Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta : (a) penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kriti atau tinjauan suatau masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta...”.

(25)

18

Jadi, pelanggaran hak cipta ataupun menjadi plagiat jika menggunakan karya orang lain seluruhnya ataupun sebagian tanpa seizin Pencipta karya tersebut dan tidak mencantumkan ataupun menyebutkan secara lengkap sumber karya tersebut. Dalam pasal yang sama juga dijelaskan bahwa penggunaan karya ilmiah orang lain dengan tujuan komersil tidak dibenarkan.

Open Access akses dapat dijadikan sebagai bentuk kontrol kualitas yang lebih besar karena bahan yang merupakan literatur akan menerakan pada koleksi digital yang diakses berupa tanggal cap diaksesnya. Jadi, tidak dapat disembunyikan jika seseorang yang mengunduh karya orang lain. Oleh karena tanggal aksesnya dalam menemukan atau mengakses jurnal dapat terlihat pada riwayat pengaksesan,sehingga membuat plagiarisme lebih mudah dideteksi daripada literatur tersebut hanya disimpan atau tidak Open Access, tidak diketahui umum pengaksesannya sehingga sulit untuk dideteksi penjiplakannya.

2.5 Open Access dan Hak Cipta

Open Access bukanlah membuat tidak adanya hak cipta yang melekat pada dokumen terbuka. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Bab I Pasal 1 berbunyi, “Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Jadi, hak cipta dimiliki oleh dua pihak yaitu Pencipta dan Penerima hak yang telah diberi izin. Ciptaan yang dibuat dapat disebarkan, diumumkan dan digunakan setelah diberi izin Penciptanya.

Hak cipta terdiri dari hak ekonomi dan hak moral. Secara umum (terlepas dari isi perundang-undangan suatu negara), hak ekonomi adalah hak eksklusif pencipta untuk memperoleh manfaat ekonomi dari karya ciptanya dan produk-produk terkait.

Hak ekonomi meliputi hak untuk memperbanyak, mendistribusi, menterjemahkan, membuat adaptasi, membuat pertunjukan, dan memperagakan (display) suatu karya cipta. Hak moral terdiri dari paternity right (hak untuk diidentifikasi sebagai pengarang atau direktur suatu karya), integrity right (hak untuk menolak perubahan atas suatu karya), dan privacy right (hak pemanfaatan foto dan film)1. Hak ekonomi dapat dipindahtangankan ke pihak lain yang dapat juga memindahkannya ke pihak yang lain lagi. Hak ekonomi ada masa berlakunya, yaitu sampai sekian tahun

(26)

19

(misalnya 50 tahun) sesudah penciptanya meninggal dunia. Hak moral tidak dapat dipisahkan dari pengarangnya dan ahli warisnya, dan hal ini berlaku selamanya.

Namun, dengan gerakan Open Access jalur penyebaran informasi bisa lebih dipersingkat dengan memindahkan kendali penyebaran karya ilmiah dari penerbit ke penulis dan masyarakat, dan mengurangi proses publikasi yang lama dan biaya yang mahal. Monopoli hak cipta pun terhindari. Hak cipta jenis ini sudah diberlakukan oleh gerakan Open Access (OA). Definisi OA menurut Budapest Open Access Initiative dan Public Library of Science adalah :

“the free availability of literature on the public Internet, permitting any users to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of these articles, crawl them for indexing, pass them as data to software, or use them for any other lawful purpose, without financial, legal, or technical barriers other than those inseparable from gaining access to the internet itself” (Birdsall, 2005).

Di dalam konsep OA tersebut terkandung copyleft, yaitu sekumpulan lisensi yang diberikan pada setiap orang yang memiliki duplikat suatu karya ilmiah untuk menjamin agar orang tersebut dapat menjalankan hak ekonomi atas karya tersebut (menggandakan, menyebarluaskan, memodifikasi) dengan syarat karya tersebut dan turunannya disebarkan dengan lisensi yang sama dan membuat referensi kutipannya.

Dengan cara demikian, hak cipta yang terkandung dalam karya elektronik menguntungkan pengguna maupun pemegang hak publisitas dan meningkatkan kontribusi banyak orang terhadap penciptaan suatu karya.

2.6 Masyarakat Informasi

Masyarakat informasi juga sering disebut information society. Masyarakat informasi melahirkan para pemikir dan ilmuan yang hebat. Maka, adanya kemajuan teknologi yang membantu kehidupan praktisi kita berawal dari masyarakat informasi.

Istilah masyarakat informasi juga digunakan untuk mendeskripsikan sebuah masyarakat dan sebuah ekonomi yang dapat membuat kemungkinan terbaik dalam menggunakan informasi dan teknologi komunikasi baru. Masyarakat informasi juga menciptakan informasi.

2.6.1 Pengertian Informasi

Definisi informasi harus dipahami dari karakteristik data dari sebuah peristiwa yang selanjutnya diteruskan menjadi pengetahuan. Informasi dapat disediakan sebagai

(27)

20

data yang maknanya mudah dimengerti sehingga membantu dalam konteks penggunaannya.

Ada beberapa pendapat yang menyatakan tentang definisi informasi yang di antaranya dikemukakan oleh Hasugian (2009 : 91) yaitu, "Informasi adalah susunan data dalam bentuk yang mudah dipahami dan informasi adalah data yang sudah diolah".

Ada juga definisi mengenai informasi yang dikemukan oleh Davis dikutip Kadir (2003: 28) bahwa, "Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan saat ini atau saat mendatang". Stevenson disitir oleh Sulistyo-Basuki (2006 : 16) menyatakan bahwa "Informasi sebagai kata benda bermakna pengetahuan yang diberikan pada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang lain". Kristanto juga mendefinisikan tentang informasi (2003: 6) Tidak jauh berbeda dengan pendapat diatas informasi juga dapat dideskripsikan sebagai kumpulan data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerima.

Dari beberapa pendapat di atas dapat dipahami bahwa definisi informasi sangat bergantung kepada ilmu yang mengkajinya asalkan makna dari informasi itu sendiri dapat dengan mudah dimengerti yang mana dapat mewakili seluruh fakta, kesimpulan, ide-ide serta karya intelektual yang telah dikomunikasikan secara formal maupun informal. Namun, dapat diketahui bahwa informasi memiliki bentuk, dapat diolah, dapat diterima dan dipahami si penerimanya serta berguna bagi penggunanya dalam mengambil keputusan.

2.6.2 Manfaat dan Tujuan Informasi

Informasi bermanfaat bagi penggunanya. Menurut Notoatmodjo (2008 : 34) bahwa semakin banyak informasi dapat mempengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dari pendapat di atas dapat dilihat bahwa informasi bermanfaat untuk menambah pengetahuan seseorang yang nantinya akan membentuk cara pandang dan wawasannya. Informasi juga berfungsi dalam mengurangi rasa cemas seseorang.

Ahli lain yakni Terry disitir oleh Togaranta (2011 : 6) menjelaskan berguna atau tidaknya informasi tergantung pada beberapa aspek, “yaitu:

1. Tujuan si penerima

(28)

21

Apabila informasi itu tujuannya untuk memberikan bantuan maka informasi itu harus membantu si penerima dalam usahanya untuk mendapatkannya.

2. Ketelitian penyampaian dan pengolahan data

Penyampaian dan mengolah data, inti dan pentingnya info harus dipertahankan.

3. Waktu

Informasi yang disajikan harus sesuai dengan perkembangan informasi itu sendiri.

4. Ruang dan tempat

Informasi yang didapat harus tersedia dalam ruangan atau tempat yang tepat agar penggunaannya lebih terarah bagi si pemakai.

5. Bentuk

Dalam hubungannya bentuk informasi harus disadari oleh penggunaannya secara efektif, hubungan-hubungan yang diperlukan, kecenderungan- kecenderungan dan bidang-bidang yang memerlukan perhatian manjemenserta menekankan informasi tersebut ke situasi-situasi yang ada hubungannya.

6. Semantik

Agar informasi efektif informasi harus ada hubungannya antara kata-kata dan arti yang cukup jelas dan menghindari kemungkinan salah tafsir”.

Dari paparan keenam aspek di atas dapat dilihat bahwa informasi bermanfaat untuk penerimanya, bila sesuai dengan pola penyampaian, waktu yang tepat, ruang dan tempat serta bentuk dan semantik dari informasi itu sendiri. Manfaat informasi tersebut dapat dilihat hasil tindakan yang dilakukan oleh pengguna informasi tersebut.

2.6.3 Open Access dan Masyarakat Informasi

Mayarakat yang membutuhkan informasi tentu sangat menyambut gerakan Open Access. Gerakan ini menyediakan akses terbuka bagi penggunanya untuk mengakses fulltext ataupun peerreview suatu dokumen. Gerakan ini membantu masyarakat untuk semakin berpengetahuan dan memiliki wawasan yang luas seperti halnya yang dipaparkan oleh Johannes (2005),

“A society serious about furthering the science and practice in its chosen field is bound to consider these benefits and to look for ways of using them wherever possible for the attainment of its goals. By switching to Open Access publishing they will do much to further the widespread dissemination of knowledge in the area of science that they foster and promote.”

Setiap pengguna informasi dapat menggunakan informasi yang dia dapatkan untuk tujuannya masing-masing dengan memanfaatkan akses terbuka dari penerbitan karya ilmiah. Akses yang tebuka memungkinkan penyebaran pengetahuan.

Penyebaran pengetahuan mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga banyak pengetahuan lain yang terbit dapat dipromosikan.

(29)

22

Siregar (2013) juga mengatakan bahwa “Akses bebas adalah sebuah fenomena masa kini yang berkaitan dengan dua hal yaitu: keberadaan teknologi digital dan akses ke artikel jurnal ilmiah dalam bentuk digital”. Jadi, internet dan pembuatan artikel jurnal secara digital telah memungkinkan perluasan dan kemudahan akses dan kenyataan inilah yang ikut membuat adanya gerakan Open Accesss. Oleh karena itu, masyarakat informasi yang menciptakan informasi dan teknologi yang mendorong terbentuknya gerakan Open Access.

2.7 Persepsi

Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dan situasi lingkungannya. Dengan kata lain, tingkah laku sesorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh persepsinya.“Persepsi adalah kesan seseorang terhadap objek prestasi tertentu yang dipengaruhi faktor internal, yakni prilaku yang berada dibawah kendali pribadi dan faktor eksternal, yakni prilaku yang dipengaruhi oleh situsi diluarnya”(Depdiknas,2003).

Persepsi juga muncul dari pengalaman indrawi individu. Pada waktu individu berinteraksi dengan suatu objek, timbullah persepsi, seperti halnya yang dituturkan oleh Goldstein (2002), persepsi adalah pengalaman indrawi yang terjadi karena sinyal-sinyal yang mempresentasikan objek tersebut yang kemudian diubah oleh otak individu dengan menggunakan pengalamannya melihat objek itu.

Sarwono juga menambahkan (Sarwono,1976) bahwa persepsi adalah kemampuan untuk membeda-bedakan, pengelompokan, memfokuskan dan sebagainya itu, disebut sebagai kemampuan untuk mengorganisasikan pemangatan atau persepsi. Dari pengertian tersebut bisa dikaitkan bahwa persepsi merupakan proses pemberian makna terhadap informasi dari lingkungan (melihat dan mengingat) dan hal tersebut sesuai dengan pendapat sekuler bahwa (Sekuler, 2002),

“Perception the final production a chain of event stretching from events in the physical world external to perceiver, through the translation of those events info patterns of activity within the preceiver‟s nervous system, culminating int the preceiver‟s experiental and behavioral reactions to those events”.

Dengan demikian, secara sederhana persepsi merupakan suatu proses penangkapan pesan atau informasi dari indra manusiawi kepada otak, kemudian otak memberikan pesan dan makna yang telah terorganisir oleh pengalaman individu terhadap benda tersebut. Pesan yang disampaikan juga dipengaruhi oleh beberapa

(30)

23

faktor. Milton disitir Arisandy (2004: 26) mengemukakan, “adanya beberapa faktor yang berpengaruh dalam persepsi. Faktor tersebut meliputi objek yang dipersepsi, situasi, individu yang mempersepsi (preceiver), persepsi diri, dan pengamatan terhadap orang lain”.

Selanjutnya, Pareek disitir Arisandy (2004 : 26) mengemukakan ada empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi.

1).”Perhatian

Terjadinya pesepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada disekitar kita dapat kita tangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian kita hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita.

2). Kebutuhan

Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan menetap maupun kebutuhan yang sesaat.

3). Kesediaan

Adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dulu.

4). Sistem nilai

Sistem nilai yang berlaku dalam diri seseorang atau masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi seseorang”.

Dari uraian di atas dapat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi persepsi individu yaitu faktor internal yang berasal dari diri sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari objek yang diperhatikan. Sehingga persepsi tentang suatu objek dapat berbeda-beda setiap individu bergantung terhadap faktor yang mempengaruhi individu tersebut.

Selain itu, Rakhmat yang dikutip oleh Sobur (2003 : 23) menyebutkan, faktor- faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut yaitu,

1. “Faktor fungsional, dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seorang individu .

2. Faktor struktural, berarti bahwa faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu.

3. Faktor situasional. Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa non verbal.

4. Faktor personal, yang terdiri atas pengalaman, motivasi, kepribadian”.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor dan faktor-faktor tersebut yang membuat persepsi setiap individu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

(31)

24 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini memiliki variabel mandiri yaitu Open Access dan dilakukan pada satu unit sebagai sampel. Mengambil sampel dari populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat bantu pengumpulan data. Oleh karena itu, penelitian ini disebut dengan penelitian deskriptif. Sugiyono (1998 : 6 ) menyatakan bahwa, “Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Narbuko (1997 : 44) menyatakan bahwa, “Penelitian Deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis data dan menginterprestasikan”.

Adapun ciri-ciri penelitian deskriptif seperti halnya yang dinyatakan oleh Hadari Nawawi disitir oleh Soejono (1999 : 23), penelitian deskriptif mempunyai dua ciri pokok, yaitu:

(1) Memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah-masalah yang bersifat aktual.

(2) Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi rasional.

Dikatakan juga bahwa metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian(seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada layanan digital Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang beralamat di Jl. Perpustakaan No.1, Kampus USU, Medan. Penelitian ini dimulai sejak bulan februari sampai dengan bulan oktober tanggal 20.

Gambar

Tabel 1:  Kisi-Kisi Kuesioner
Tabel 2:  Prinsip Akses
Tabel 3: Mengunggah/Uploading Karya Ilmiah  No. Pertanyaan   Pilihan Jawaban   Frekuensi  Persen  Pertanyaan   Butir   Kedua   Sering sekali Sering  0 9  0  22.5  Jarang  16  40.0  Tidak Pernah  15  37.5  Total  (n) 40  100.0
Tabel  4:  Karya  yang  Tersedia  di  Internet  Hanya  Dapat  Diakses Sebagian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan nilai rata-rata jawaban responden atas variabel efficiency diketahui bahwa nilai rata- rata menyatakan setuju bahwa responden merasa- kan efisiensi penggunaan situs

Terdapat sebagian kecil dari responden (10%) yang menyatakan sering mengalami kesulitan dalam menggunakan dan mengakses Database Science Direct , namun pada umumnya

Berdasarkan persentase jawaban di atas dapat diinterpretasikan bahwa pada umumnya (91%) responden menjawab sistem layanan terbuka yang digunakan di layanan referensi Perpustakaan

Pada umumnya responden menyatakan dapat memanfaatkan search engine google untuk melakukan penelusuran informasi, bahwa pada umumnya responden menyatakan memiliki

Presepsi pengguna perpustakaan terhadap layanan open access di Perpustakaan STIE Tri Bhakti yaitu terkait dengan layanan open access yang memudahkan mahasiswa

Gambar 4.4 Tanggapan jika Responden Mengunggah Karya Ilmiah pada Situs yang Berbasis Open Access

Presepsi pengguna perpustakaan terhadap layanan open access di Perpustakaan STIE Tri Bhakti yaitu terkait dengan layanan open access yang memudahkan mahasiswa

Koleksi  atau  karya  ilmiah  pada  Perguruan  Tinggi  pada  umumnya  berhubungan