LAPORAN HASIL PENELITIAN KLUSTER PEMBINAAN/KAPASITAS
Analisis Indeks Keluarga Sehat pada Wilayah Pengalaman Belajar Lapangan Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar
Diajukan oleh :
Lilis Widiastuty (NIP.198612152019032011)
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2021
DAFTAR ISI
Halaman Sampul Daftar Isi
Daftar Tabel
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan Penelitian 3
D. Manfaat Penelitian 3
E. Kajian Terdahulu yang Relevan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6
A. Indikator Keluarga Sehat 6
B. Desa Sehat 20
C. Kerangka atau Teori yang Relevan 22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian 24
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 24
C. Populasi dan Sampel Penelitian 24
D. Pengumpulan Data 24
E. Pengolahan dan Analisis Data 25
F. Penyajian Data 25
G. Waktu Penelitian 25
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 26 A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 26
B. Hasil Penelitian 30
C. Pembahasan 38
D. Hambatan dalam Penelitian 66
BAB V PENUTUP 68
A. Kesimpulan 68
B. Saran 69
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel IV.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
30
Tabel IV.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten MarosTahun 2021
30
Tabel IV.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
31
Tabel IV.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
31
Tabel IV.5 Distribusi Berdasarkan Indikator Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
32
Tabel IV.6 Distribusi Berdasarkan Indikator Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
32
Tabel IV.7 Distribusi Berdasarkan Indikator Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
33
Tabel IV.8 Distribusi Berdasarkan Indikator Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
33
Tabel IV.9 Distribusi Berdasarkan Indikator Tumbuh Kembang Bayi dan Balita di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun
34
2021
Tabel IV.10 Distribusi Berdasarkan Penderita Hipertensi di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
35
Tabel IV.11 Distribusi Berdasarkan Indikator Penderita Hipertensi Berobat Teratur di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
35
Tabel IV.12 Distribusi Berdasarkan Indikator Seluruh Keluarga Bebas Asap Rokok di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
36
Tabel IV.13 Distribusi Berdasarkan Indikator Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
37
Tabel IV.14 Distribusi Berdasarkan Indikator Memiliki Akses Terhadap Air Bersih di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
37
Tabel IV.15 Distribusi Berdasarkan Indikator Jamban Sehat di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
37
Tabel IV.16 Distribusi Berdasarkan Indeks Keluarga Sehat di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
38
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan investasi pembangunan ekonomi suatu bangsa dan sangat penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Upaya pembangunan kesehatan Indonesia dilakukan oleh semua komponen bangsa dengan tujuan untuk memupuk kesadaran, keinginan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Dalam upaya pencapaian prioritas pembangunan dalam bidang kesehatan tahun 2015-2019, Program menuju Indonesia Sehat, pelaksanaannya dengan memberdayakan segala potensi dan aset yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, baik dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, maupun masyarakat. Upaya pembangunan kesehatan diawali dari unit paling kecil yaitu keluarga.
Peraturan undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 terkait Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Presiden RI 2009), serta peraturan undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintan Daerah, menyebutkan bahwa pembangunan keluarga (Presiden RI, 2014) merupakan bentuk upaya untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas dan sejahtera dan hidup dalam kondisi lingkungan yang aman dan sehat.
Dalam penetapan kebijakan bidang pembangunan keluarga Peran pemerintah pusat sangat diperlukan selain dari peran pemerintah daerah yaitu menetapkan aturan dan kebijakan pembanguna keluarga melalui aspek pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga dalam mewujudkan keluarga yang mampu melakukan fungsinya secara maksimal. Untuk dapat menerapkan dan menjalankan Undang-undang tersebut, Kementerian Kesehatan menerapkan strategi operasional dalam Pembangunan Kesehatan dengan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2016).
Stuart (2001) dalam Efendi & Makhfudli (2009) menjabarkan lima sifat keluarga yaitu: Keluarga adalah unit paling kecil dari sitem. Dalam melakukan fungsinya secara konsisten dan menyeluruh dalam memberikan perlindungan, konsumsi makanan dan kegiatan sosialisasi anggota keluarga.
Semua anggota dalam keluarga mampu atau tidak mampu saling berhubungan dan mampu atau tidak mampu untuk tinggal dalam satu lingkungan atau satu atap. Keluarga bisa mempunyai anak ataupun tidak.
Terdapat tiga fungsi pokok dari keluarga terhadap anggota keluarganya, yaitu: mengasihi, mengasuh, mengasah.
Asih merupakan pemberian kasih sayang, memperhatikan, rasa yang aman, kehangatan dari anggota dan kepada anggota keluarga sehingga mendorong anggota keluarga tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya. Asuh merupakan kebutuhan dalam memelihara dan merawat anak agar kesehatan dari anak selalu terpelihara, sehingga harapannya dapat menjadikan anak-anak yang tumbuh secara sehat baik fisik, mental, social dan spiritual. Asah merupakan pemenuhan kebutuhan seperti pendidikan, sehingga anak akan tumbuh menjadi dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan kehidupannya dimasa yang akan datang (Effendy 1998).
Indikator pendataan keluarga sehat menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017), yaitu: 1) Program KB diikuti oleh keluarga, 2) persalinan ibu dilakukan di fasilitas kesehatan, 3) imunisasi dasar diberikan kepada bayi, 4) Air Susu Ibu (ASI) eksklusif diperoleh bayi 5) Pemantauan pertumbuhan didapatkan oleh Balita, 6) Pengobatan sesuai standar di dapatkan oleh Penderita TB paru, 7) Pengobatan secara teratur dilakukan oleh penderita Penderita hipertensi, 8) Pengobatan didapatkan oleh penderita gangguan jiwa serta tidak ditelantarkan, 9) Tidak ada yanga merokok dalam anggota keluarga, 10) Keluarga terdaftar sebagai anggota JKN, 11) Keluarga memiliki akses sarana air bersih, dan 12) Keluarga memiliki akses/menggunakan jamban sehat.
Desa Limapoccoe merupakan sebuah Desa yang berada di Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros, dengan luas wilayah kurang lebih 23,37 km² dan jumlah penduduknya 1012 KK dengan jumlah individu sebanyak 3584 jiwa. Desa ini menjadi wilayah Pengalaman Belajar Lapangan Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar. Kecamatan Cendrana merupakan salah satu Kecamatan dari 14 kecamatan di Kabupaten Maros dengan Ibu kota kecamatan ini berpusat di Bengo dengan luas wilayahnya 362,33 km². Kecamatan Cendrana merupakan kecamatan yang terletak di kawasan hutan dan wilayah pegunungan. Penduduk di Kecamatan Cendrana sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.
Berdasarkan pentingnya peran keluarga sehat dalam Program Indonesia Sehat, maka peneliti merasa sangat penting melakukan penelitian untuk menganalisis indeks keluarga sehat pada wilayah Pengalaman Belajar Lapangan Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana capaian indeks keluarga sehat pada wilayah Pengalaman Belajar Lapangan Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui capaian indeks keluarga sehat pada wilayah Pengalaman Belajar Lapangan Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Ilmiah
Penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya terkait indikator keluarga sehat. Hasil penelitian ini juga dapat dipublikasikan pada jurnal yang terakreditasi nasional.
2. Universitas
Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar untuk menentukan program pengabdian masyarakat sesuai dengan masalah kesehatan yang terdapat dalam Desa Limapoccoe berdasarkan pencapaian indikator keluarga sehat
3. Pemerintah Desa
Penelitian ini dapat memberikan gambaran masalah kesehatan yang ada di Desa Limapoccoe berdasarkan pencapaian indikator keluarga sehat. Selain itu, pemerintah Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana juga akan dapat menggali potensi yang dimiliki Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana untuk menjadi desa sehat. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi rujukan untuk menentukan Anggaran Dana Desa (ADD) dalam hal peningkatan derajat
kesehatan masyarakat di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
E. Kajian Terdahulu yang Relevan 1. Indeks Keluarga Sehat
Penelitian yang dilaksanakan di Gampong Lintasan Hauling PT Mifa Bersaudara Kabupaten Aceh Barat mengenai analisis indeks keluarga sehat menunjukkan jumlah keluarga yang tergolong pra sehat adalah 54,90% dan tidak sehat 1,75%. Keluarga yang tergolong pra sehat merupakan sebagian besar penyebabnya yaitu masih yang merokok pada anggota keluarga (38,11%) dan memberikan dampak pada menderita TB (1,40%). Indeks Keluarga Sehat (IKS) di Desa Peunaga Cut Ujong yang menjadi lokasi penelitian berada pada kategori indeks keluarga pra-sehat, dalam meningkatkan IKS dipandang perlu adanya sinergitas dengan petugas terkait di Gampong, Puskesmas Meureubo (Farisni and Reynaldi 2019).
Penelitian yang dilakukan oleh Marsanti (2017) menunjukkan 3 prioritas masalah utama berdasarkan indikator keluarga sehat yaitu keikutsertaan dalam program KB, pemberian ASI eksklusif, dan masih adanya anggota keluarga yang merokok. Dalam rangka mengatasi masalah tersebut maka perlu diadakannya kolaborasi antara desa, peningkatan pelayanan kesehatan, kordinasi tenaga kesehatan dan lintas sektoral dalam rangka pencapaian program keluarga sehat.
Tercapainya indikator keluarga sehat akan meningkatkan potensi terwujudnya desa sehat. Oleh karena itu diperlukan pemetaan potensi desa dalam membangun sebuah desa sehat berdasarkan indikator keluarga sehat.
Penelitian yang dilakukan oleh Suci-Dharmayanti et al (2019) menunjukan bahwa keseluruhan wilayah di Desa Bandilan memiliki potensi/aset yang merupakan kearifan lokal di berbagai bidang/sektor. Desa yang sehat dan mandiri di Desa Bandilan dapat terlaksana dengan adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mampu diterapkan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya alam dan sumber daya manusia di desa tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Sakti and Rosdiana (2014) memperlihatkan adanya sosialisasi yang tidak optimal dilakukan oleh pihak terkait dalam hal ini pelaksana kepada masyarakat menyangkut standard an tujuan serta sasaran dari
program Gerakan Desa Sehat, sumber daya yang kurang memadai merupakan masalah sehingga dalam pelaksanaannya sangat menghambat terealisasinya program. Kurangnya tenaga pada sumber daya manusia di bidang kesehatan dan sekaligus operator dalam menginput data, tingkat pendidikan pada masyarakat dan cara berpikir yang masih mempercayai dengan pengobatan secara alternatif, ekonomi yang masih tergolong rendah karena masyarakat kebanyakan hanya berprofesi sebagai buruh/pekerja tani.
2. Gap Analysis
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sampel penelitian di Desa Desa Peunaga Cut Ujong masih menunjukkan rendahnya indikator pencapaian indikator keluarga sehat di desa tersebut. Namun sampel dalam penelitian tersebut masih termasuk rendah yaitu 286 sampel.
Pada studi ini, dilakukan total sampling dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebesar 960 KK. Besarnya sampel penelitian memungkinkan hasil yang didapatkan dapat mewakili populasi penelitian.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Marsanti (2017) tidak mengategorikan capaian indikator keluarga sehat di desa yang menjadi lokasi penelitian. Studi tersebut hanya memetakan masalah yang menjadi bahan pertimbangan oleh pihak desa dalam rangka peningkatan indeks indikator keluarga sehat. Sedangkan dalam studi ini akan dilakukan perhitungan capaian indikator keluarga sehat di desa yang menjadi lokasi penelitian.
Selain itu, penelitian lainnya mengenai desa sehat menggunakan metode kualitatif dalam memetakan potensi desa untuk menjadi desa sehat. Sedangkan dalam studi ini, akan dilakukan perhitungan capaian indikator keluarga sehat yang akan menjadi dasar dilaksanakannya beberapa program untuk mewujudkan desa sehat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Indikator Keluarga Sehat
Keluarga merupakan satu kesatuan sebagai keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, sebagaimana yang tertera di dalam kartu keluarga. Pada keluarga yang di dalamnya terdapat individu lainnya dalam suatu rumah tangga, maka rumah tangga itu masih dianggap terdiri lebih dari satu kesatuan keluarga.
Dalam keluarga dikatakan sehat dan sejahtera dapat dilihat dari beberapa penanda atau indikator. Pelaksanaan program Indonesia sehat telah menyepakati adanya dua belas indikator utama dalam menilai status kesehatan sebuah keluarga. Kedua belas indikator utama tersebut yaitu:
1. Keluarga menerapkan program Keluarga Berencana (KB) a. Defenisi KB
Konsep keluarga berencana telah banyak dikemukakan para ahli. Menurut Hartanto (2004), Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu, yaitu: (1) menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, (2) mendapat kelahiran yang diingikan, (3) mengatur interval dintara kehamilan, (4) menentukan jumlah anak dalam keluarga
Sesuai dengan (BKKBN,2015) keluarga berencana adalah upaya untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas melalui promosi, perlindungan, dan bantuan dalam mewujudkan hak-hak reproduksi serta penyelenggaraan pelayanan, pengaturan dan dukungan yang diperlukan untuk membentuk keluarga dengan usia kawin yang ideal, mengatur jumlah, jarak, dan usi ideal melahirkan anak, mengatur kehamilan dan membina ketahanan serta kesejahteraan anak. Selanjutnya Mukti (2000) menyatakan keluarga berencana adalah sebagai upaya ikhtiar untuk memberikan jaminan kesehatan, untuk sang anak maupun ibu, jaminan pendidikan merupakan bekal yang sangat berharga untuk kehidupan kelak dalam masyarakat, untuk memenuhi kesejahtraan dan kemakmuran keluarga lahir dan batin.
Selanjutnya Marjo (1998) mengatakan keluarga berencana adalah menjarangkan/ mengatur kehamilan dengan harapan perhitungan keseimbangan ekonomi,
baik untuk pendidikan anak-anak dan lain-lain, dan hal ini dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Selanjtnya Hartanto (2004) mengemukakan keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu, yaitu : (1) menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, (2) mendapatkan kelahiran yang diinginkan, (3) mengatur interval diantara kehamilan, (4) menentukan jumlah anak dalam keluarga. Berdasarkan UU No 52 Tahun 2009, keluarga berencana adalah suatu program masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
b. Tujuan dan Sasaran gerakan KB
Tujuan gerakan keluarga berencana secara umum adalah mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk. Menurut Aputra (2004) Tujuan Gerakan Keluarga Berencana (KB) adalah menurunkan tingkat kelahiran dengan mengikut sertakan seluruh lapisan potensi yang ada, mengembangkan usaha-usaha untuk membantu meningkatkan kesejahtraan ibu dan anak, memperpanjang harapan hidup, menurunkan tingkat kematian bayi dan anak balita serta memperkecil kematian ibu karena resiko kehamilan dan persalinan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap maslah kependudukan yang menjurus ke arah penerimaan, penghayatan dan pengalaman NKKBS sebagai cara hidup yang layak dan bertanggung jawab.
Berdasarkan Undang-Undang No. 52 tahun 2009 tujuan gerakan KB mencakup 2 hal, antara lain:
Mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan kebijakan kependudukan guna mendorong terlaksananya pembangunan nasional dan
daerah yang berwawasan kependudukan mewujudkan peduduk tumbuh seimbang melalui pelembagaan keluarga kecil bahagaia sejahtera.
Sasaran KB adalah orang yang dapat berperan sebagai objek maupun subjek dalam gerakan keluarga berencana terutama pasangan usia subur yang berusia 15-49 tahun. Menururt Handayani (2010) sasaran KB yaitu sasaran langsung dan tidak langsung.
Sasaran langsung yakni pasanga usia subur yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan, dan sasaran tidak langsung ya kni pelaksana dan pengelola KB dengan cara menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang bekualitas, keluarga sejahtera.
Dari segi kesehatan, usia terbaik bagi seorang ibu untuk melahirkan adalah 20 tahun – 30 tahun. Bila seorang malahirkan sebelum 20 tahun atau sesudah tiga puluh tahun, maka resiko kematian ibu melahirkan jauh lebih tinggi dari pada persalinan yang terjadi pada 20 – 30 tahun. Berdasarkan pertimbangan kependudukan dan kesehatan dapat dikatakan bahwa jumlah anak yang dilahirkan paling ideal adalah 2 (dua) (Aputra, 2004). Untuk mencapai NKKB bukanlah hal yang mudah karena daerah dan suku-suku tertentu di Indonesia berlaku aturan yang mengikat atau mempunyai nilai-nilai yang harus dilakukan atau dijalankan sehingga berpengaruh terhadap penerimaan ide-ide baru yang berasal dari luar kebiasaan, misalnya dalam arti nilai anak. Penilaian yang berbeda-beda akan berpengaruh kepada jumlah anak yang diinginkan. Bila sebuah keluarga mempunyai anak laki-laki dianggap mempunyai nilai tambah, penerimaan ide dengan mempunyai anak cukup dengan dua orang saja akan sulit diterima sehingga menghambat tercapainya NKKBS (http://bkkbn.go.id/default.aspx, di akses 05 september 2021).
Faktor ketidak berhasilan gerakan keluarga berencana dipengaruhi oleh faktor, umur pasangan usia subur (15- 49 tahun), pendidikan (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi), pekerjaan (pertanian dan non
pertanian), budaya ( faktor keturunan, banyak anak banyak rejeki, anak sebagai faktor ekonomi, kualitas pelayanan akseptor KB (pilihan metode kontrasepsi, kualitas pemberian informasi, kemampuan teknis petugas, hubungan interpersonal, mekanisme pelayanan ketetapan konstelasi pelayanan akseptor KB, strategi penerapan pelaksanaan gerakan keluarga berencana). (BKKBN, 2016).
2. Persalinan dilakukan oleh ibu di fasilitas kesehatan
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah penggunaan fasilitas pelayanan yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada ketersediaan dan kesinambungan pelayanan, penerimaan masyarakat, dan kewajaran, mudah dicapai oleh masyarakat, terjangkau serta bermutu (Azwar, A., 2010).
Fasilitas Kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat (Perpres No.71 Tahun 2013). Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) wajib memberikan pelayanan primer yang komprehensif sebagai gate keeper dengan kualitas pelayanan kesehatan menjadi prioritas (Davi, M., 2016)
Menurut Lavey dan Loomba (1973) yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Davi, M., 2016).
Pelayanan kesehatan masyarakat (public health service) adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah mayarakat. Pelayanan kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya dilakukan secara bersam-sama dalam suatu organisasi (Davi, M.,
2016). Pelayanan kesehatan harus meiliki syarat pokok.
Syarat pokok yang dimaksud yaitu : a. Tersedia dan berkesinambungan
Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan tersebut harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya di masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan b. Dapat diterima dan wajar
Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah yang dapat diterima (acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate), artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar, bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.
c. Mudah dicapai
Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai (accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting. Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di daerah perkotaan saja, dan sementara itu tidak ditemukan di daerah pedesaan, bukan pelayanan kesehatan yang bai
d. Mudah dijangkau
Syarat pokok keempat pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dijangkau (affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan yang dimaksudkan yaitu dari sudut biaya. Untuk dapat mewujudkan keadaan seperti ini harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal dan karena itu hanya mungkin dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja, bukan pelayanan kesehatan yang baik
e. Bermutu
Pelayanan kesehatan yang baik adalah yang bermutu (quality). Pengertian mutu yang dimaksud disini adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan dipihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan.
3. Imunisasi dasar lengkap didapatkan oleh bayi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Permenkes RI 12, 2017).
Tujuan imunisasi terutama untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Menurut Permenkes RI (2017), program imunisasi di Indonesia memiliki tujuan umum untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Sedangkan, tujuan khusus dari imunisasi ini diantaranya, tercapainya cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) pada bayi sesuai target RPJMN (target tahun 2019 yaitu 93%), tercapainya Universal Child Immunization/UCI (prosentase minimal 80% bayi yang mendapat IDL disuatu desa/kelurahan) di seluruh desa/kelurahan, dan tercapainya reduksi, eliminasi, dan eradikasi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dengan menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, tetapi dapat dirasakan oleh :
a. Anak, yaitu mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.
b. Keluarga, yaitu menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit, mendorong pembentukan keluarga apabila orangtua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
c. Negara, yaitu memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk
melanjutkan pembangunan negara (Proverawati, 2010 : 5-6).
Imunisasi program adalah Imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi. Imunisasi program terdiri dari imunisasi rutin, imunisasi tambahan, dan imunisasi khusus (Permenkes RI 12, 2017).
a. Imunisasi Rutin
Imunisasi rutin merupakan imunisasi yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan yang terdiri dari imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan (Permenkes RI 12, 2017)
1) Imunisasi Dasar
Imunisasi dasar merupakan imunisasi awal yang diberikan kepada bayi sebelum berusia satu tahun.
Pada kondisi ini, diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara optimal. Setiap bayi (usia 0-11 bulan) diwajibkan untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari 1 dosis Hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-HiB, 4 dosis polio tetes, dan 1 dosis campak/MR (Kemenkes RI, 2018)
2) Imunisasi lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menjamin terjaganya tingkat imunitas pada anak baduta, anak usia sekolah, dan wanita usia subur (Permenkes RI 12, 2017).
b. Imunisasi Tambahan
Imunisasi tambahan merupakan jenis Imunisasi tertentu yang diberikan pada kelompok umur tertentu yang paling berisiko terkena penyakit sesuai dengan kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu (Kemenkes RI, 2018)
c. Imunisasi khusus
Imunisasi khusus dilaksanakan untuk melindungi seseorang dan masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu seperti persiapan keberangkatan calon jemaah haji/umroh, persiapan perjalanan menuju atau dari negara endemis penyakit tertentu kondisi
kejadian luar biasa/wabah penyakit tertentu (Kemenkes RI, 2018).
4. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif didapatkan oleh bayi
ASI eksklusif adalah tidak memberikan bayi makanan atau minuman lain, termasuk air putih, kecuali obat-obatan, dan vitamin atau mineral tetes sejak bayi lahir sampai bayi berusia 6 bulan.3 United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan anak hanya disusui air susu ibu (ASI) selama paling sedikit enam bulan.
Pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan dan dapat dilanjutkan sampai usia 2 tahun juga mendapat perhatian serius dari pemerintah dan kembali dituangkan dalam Kepmenkes RI. No. 450/ MENKES/ IV/ 2004. ASI adalah hadiah terindah dari ibu kepada bayi yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu berupa makanan alamiah atau susu terbaik bernutrisi dan berenergi tinggi yang mudah dicerna dan mengandung komposisi nutrisi yang seimbang dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi setiap saat, siap disajikan dalam suhu kamar dan bebas dari kontaminasi 5. Pemantauan pertumbuhan didapatkan oleh Balita
6. Pengobatan sesuai standar diperoleh Penderita tuberkulosis paru
Bakteri penyebab penyakit Tuberkulosis ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882. Penyakit tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronik jaringan paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, penyakit TB Paru pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP) (Nizar, 2010).
Sumber penularan penyakit adalah penderita TB Paru positif, pada waktu batuk atau bersin, bakteri menyebar ke udara lewat percikan sputum (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan gelap dan lembab (Anton, 2008).
Masa penyembuhan TB Paru berbeda-beda pada setiap penderita, hal ini bergantung pada kondisi kesehatan penderita TB serta tingkat keparahan TB yang dialami.
Kondisi pasien TB biasanya akan mulai membaik dan TB
berhenti menular setelah mengonsumsi obat TBC selama 2 minggu. Tetapi untuk memastikan kesembuhan total, pasien TB harus menggunakan obat TB atau antibiotik yang diberikan dokter selama 6-9 bulan. Pengobatan TB biasanya memakan waktu cukup lama karena sifat infeksinya yang mudah menular dan cukup serius. Jika tidak disiplin minum obat, ada peluang besar untuk berbagai efek samping dan komplikasi TB yang mungkin muncul, misalnya bakteri yang kebal terhadap antibiotik sehingga gejala malah makin parah dan makin sulit untuk diobati (Quamila, 2018)
Sumber penyebaran tuberkulosis adalah penderita tuberkulosis itu sendiri, maka perlu pengontrolan secara efektif penderita tuberkulosis untuk mengurangi pasien tuberkulisis. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita tuberkulosis saat ini, yaitu terapi dan imunisasi (Zulkoni, 2011).
Terdapat 5 jenis anibiotik yang dapat digunakan bagi penderita TB. Infeksi tuberkulosis pulmoner aktif seringkali mengandung 1 miliar atau lebih bakteri, sehingga jika hanya diberikan satu macam obat, maka akan menyisakan ribuan bakteri yang resisten terhadap obat tersebut. Oleh karena itu, paling tidak diberikan 2 macam obat yang memiliki mekanisme kerja yang berlainan (Humaira, 2013).
Antibiotik yang sering digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pirazinamid, streptomisin, dan etambutol.
Isoniazid, rifampicin, dan pirazinamid dapat digabungkan dalam satu kapsul. Ketiga obat tersebut dapat menyebabkan mual dan muntah sebagai akibat dari efeknya terhadap hati (Mahdiana, 2010).
7. Pengobatan secara teratur dilakukan oleh penderita hipertensi
Hipertensi merupakan tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Seseorang dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 mmHg (Elizabeth dalam Ardiansyah M., 2012)
Menurut Price (dalam Nurarif A.H., & Kusuma H.
(2016), Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau
tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya.
Hipertensi bisa diatasi dengan menjalani pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, menghentikan kebiasaan merokok, dan mengurangi konsumsi minuman berkafein. Namun, jika tekanan darah sudah cukup tinggi, pasien juga diharuskan mengonsumsi obat penurun tekanan darah. Untuk mencegah tekanan darah tinggi, lakukan olahraga secara rutin dan jaga berat badan agar tetap ideal.
Periksakan juga tekanan darah secara berkala ke dokter, terlebih jika Anda memiliki faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.
8. Pengobatan didapatkan oleh Penderita gangguan jiwa dan dipelihara serta dijaga dengan baik
9. Tidak ada yang merokok dalam anggota keluarga
Perilaku merokok merupakan segala bentuk kegiatan individu dalam membakar rokok kemudian menghisap dan menghembuskannya keluar sehingga menimbulkan asap yang dapat terhirup oleh orang disekitarnya (Nasution, 2007). Sedangkan menurut Sitepoe (dalam Sanjiwani &
Budisetyani, 2014), perilaku merokok adalah suatu perilaku yang melibatkan proses membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baik menggunakan rokok ataupun pipa.
Kemudian tokoh lain, Shiffman (dalam Astuti, 2012) menjelaskan bahwa merokok adalah menghirup atau menghisap asap rokok yang dapat diamati atau diukur dengan melihat volume atau frekuensi merokok. Berdasarkan uraian-uraian pengertian perilaku merokok menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok adalah segala bentuk aktivitas individu dalam membakar tembakau yang kemudian dihisap dan dihembuskan kembali asapnya, yang dapat diamati atau diukur dengan melihat volume atau frekuensi merokok.
10. Keluarga telah terdaftar sebagai anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
11. Keluarga memiliki fasilitas dalam mengakses sarana air bersih
Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi adalah air dengan kualitas tertentu yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari yang kualitasnya berbeda dengan air minum (Permenkes RI No. 32 Tahun 2017). Akhir- akhir ini sulit medapatkan air bersih. Penyebab susah mendapatkan air bersih adalah adanya pencemaran air yang disebabkan oleh limbah industri, rumah tangga, limbah pertanian.
Selain itu adanya pembangunan dan penjarahan hutan merupakan penyebab berkurangnya kualitas mata air dari pegunungan karena banyak tercampur dengan lumpur yang terkikis terbawa aliran air sungai. Akibatnya, air bersih terkadang menjadi barang langka (Asmadi, Khayan and Kasjono, 2011)
Kebutuhan air bersih yaitu banyaknya air yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak, menyiram tanaman dan lain sebagainya. Sumber air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari secara umum harus memenuhi standar kuantitas dan kualitas (Asmadi, Khayan and Kasjono, 2011)
Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena penyediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat Volume rata-rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat (Chandra, 2012).
Menurut (Chandra, 2012) air yang diperuntukan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasa-batasan sumber air yang bersih dan aman tersebut, antara lain :
a. Bebas dari kontaminan atau bibit penyakit
b. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun c. Tidak berasa dan berbau
d. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga.
e. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI.
Air dinyatakan tercemar bila mengandung bibit penyakit, parasit, bahan-bahan kimia berbahaya, dan sampah atau limbah industri. Air yang berada dari permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak
sumbernya, air dapat dibagi menjadi air angkasa (hujan), air permukaan, dan air tanah (Chandra, 2012).
Sifat fisik air dapat dianalisa secara visual dengan pancaindra. Misalnya, air keruh atau berwarna dapat dilihat, air berbau dapat dicium. Penilaian tersebut tentunya bersifat kualitatif. Misalnya, bila tercium bau berbeda, rasa air pun akan berbeda, rasa air pun berbeda atau bila air berwarna merah, bau yang akan tercium pun pasti sudah dapat ditebak. Cara ini dapat digunakan untuk menganalisis air secara sederhana karena sifat-sifat air saling berkaitan (Kusnaedi, 2010).
Ada beberapa persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam sistem penyediaan air bersih. Persyaratan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut (Kusnaedi, 2010).
a. Syarat Kuantitatif
Persyaratan kuantitatif dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jumlah penduduk yang akan dilayani. Selain itu, jumlah air yang dibutuhkan sangat tergantung pada tingkat kemajuan teknologi dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negri Nomor 23 tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum, standar kebutuhan pokok air sebesar 60 liter/orang/hari.
b. Syarat kualitatif
Menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku air bersih. Persyaratan ini meliputi syarat fisik, kimia, bioligis dan radiologis.
1) Syarat Fisik
Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa(tawar).
Warna dipersyaratankan dalam air bersih untuk masyarakat karena pertimbangan estetika. Rasa asin, manis, pahit, asam dan sebagainya tidak boleh terdapat dalam air bersih untuk masyarakat.
Bau yang bisa terdapat pada air adalah bau busuk, amis, dan sebagainya. Bau dan rasa biasanya terdapat bersama-sama dalam air. Suhu air sebaiknya sama dengan suhu udaraatau
kurang lebih 25o
C. Sedangkan untuk jernih atau tidaknya air dikarenakan adanya butiran-butiran koloid daribahan tanah liat. Semakin banyak mengandung koloid maka air semakin keruh.
2) Syarat Kimia
Air bersih tidak boleh mengandung bahan- bahan kimia dalam jumlah yang melampaui batas.
Secara kimia, air bersih tidak boleh terdapat zat-zat yang beracun, tidak boleh ada zat-zat yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, tidak mengandung zat- zat yang melebihi kadar tertentu sehingga menimbulkan gangguan teknis, dan tidak boleh mengandung zat kimia tertentu sehingga dapat menimbulkan gangguan ekonomis.
Salah satu peralatan kimia air bersih adalah kesadahan. Menurut (Chandra, 2006), air untuk keperluan air minum dan masak hanya diperbolehkan dengan batasan kesadahan 50-150 mg/L. Kadar kesadahan diatas 300 mg/L sudah termasuk air sangat keras
3) Syarat bakteriologis
Air bersih tidak boleh mengandung kuman-kuman patogen dan parasitik seperti kuman-kuman typus, kolera, dysentri dan gastroenteris. Karena apabila bakteri patogen dijumpai pada air minum maka akan menganggu kesehatan atau timbul penyakit.
Untuk mengetahui adanya bakteri patogen dapat dilakukan dengan pengamatan terhadap ada tidaknya bakteri E. Coli yang merupakan bakteri indikator pencemaran air. Secara bakteriologis, total Coliform yang diperbolehkan pada air bersih yaitu 0 koloni per 100 ml air bersih. Air bersih yang mengandung golongan Coli lebih dari kadar tersebut dianggap terkontaminasi oleh kotoran manusia.
4) Syarat radioaktif
Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung radioaktif seperti sinar alfa, gamma, dan beta
12. Keluarga memiliki akses atau menggunakan jamban sehat Praktek buang air besar adalah perilaku-perilaku seseorang yang berkaitan dengan kegiatan pembuangan tinja, merupakan tempat pembuangan tinja dan pengelolaan tinja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan bagaimana cara buang air besar yang sehat sehingga tidak berdampak bagi kesehatan. jenis-jenis jamban dibedakan berdasarkan jenis konstruksi dan cara penggunaanya.
a. Jamban cemplung
Bentuk jamban ini adalah yang paling sederhana.
Jamban cemplung ini hanya terdiri atas sebuah galian yang diatasnya diberi lantai dan tempat jongkok. Lantai jamban ini dapat dibuat dari bambu atau kayu,tetapi dapat juga terbuat dari batu bata atau beton. Jamban semacam ini masih menimbulkan gangguan karena baunya
b. Jamban pelngssengan
Jamban semacam ini memiliki lubang tempat jongkok yang dihubungkan oleh satu saluran miring ketempat pembuangan kotoran. Jadi tempat jongkok dari jamban ini tidak dibuat persis diatas penampungan, tetapi agak jauh. Jamban semacam ini sedikit lebih baik dan menguntungkan dibanding jamban cemplung, karena baunya agak berkurang dan keamanan bagi pemakai lebih terjamin
c. Angsatrine
Di bawah tempat jongkok jamban ini ditempatkan atau dipasang suatu alat yang berbentuk seperti leher angsa yang disebut bowl. Bowl ini berfungsi mencegah timbulnya bau. Kotoran yang berada di tempat penampungan tidak tercium baunya, karena terhalang oleh air yang selalu terdapat dalam bagian yang melengkung. Dengan demikian dapat mencegah hubungan lalat dengan kotoran
d. Jamban septic tank
Septic tank berasal dari kata septic, yang berarti pembusukan secara anaerobic. Nama septic tank digunakan dalam pembuangan kotoran terjadi proses pembusukan oleh kuman-kuman pembusuk yang sifatnya anaerob. Septic tank dapat terdiri dari dua bak atau lebih serta dapat pula terdiri dari satu bak saja denga mengatur sedemikian rupa, sehingga dapat
memperlambat pengaliran air kotor di dalam bak tersebut. Dalam bak bagian pertama akan terjadi proses penghancuran, pembusukan dan pengendapan. Dalam bak terdapat tiga macam lapisan yaitu: a) Lapisan yang terapung, yang terdiri atas kotoran-kotoran padat b) Lapisan cair c) Lapisan endap.
Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1) Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjark 10-15 meter dari sumber air minum 2) Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus 3) Cukup luas dan landai/ miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah disekitarnya 4) Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya 5) Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna 6) Cukup penerangan dan ventilasi cukup baik 7) Lantai kedap air 8) Tersedia air dan alat pembersih (Mufidah,2017) Ke dua belas indicator tersebut, penghitungan terhadap Indeks Keluarga Sehat (IKS) dilakukan dari setiap keluarga, sedangkan keadaan dari masing-masing indikator menunjukkan kondisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dari keluarga yang bersangkutan. Penerapan pendekatan keluarga ini mempunyai tiga hal yang harus dilaksanakan atau dikembangkan, yaitu (Kementrian Kesehatan RI 2016) :
1. Instrumen yang dipergunakan di tingkat keluarga.
2. Forum komunikasi yang dikembangkan untuk kontak dengan keluarga.
3. Keterlibatan tenaga dari masyarakat sebagai mitra Puskesmas
B. Desa sehat
Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Wahyuni 2015).
Desa menjadi salah satu tonggak perubahan dari paradigma pengaturan desa yang tidak lagi dipandang sebagai objek dalam pembangunan, melainkan diposisikan menjadi subjek dan
merupakan ujung tombak pembangunan dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa diberikan kewenangan dalam mengatur dan mengurus perihal pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa yang pengaturannya berpedoman pada rekognisi, kebersamaan, solidaritas, keberagaman, kegotong-royongan, kekeluargan, musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan, dan keberlanjutan (Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2017).
Dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa, maka desa mengalokasikan anggaran untuk kesehatan. Adapun bidang pelayanan dasar yang mendapatkan alokasi dana yaitu (Kementrian Kesehatan RI 2013) :
1. Mengembangkan pos kesehatan Desa dan Polindes 2. Mengembangkan tenaga kesehatan di Desa
3. Mengelola dan membina Posyandu melalui:
a. Pelayanan gizi kepada balita;
b. Pemeriksaan oleh ibu hamil;
c. Memberikan makanan tambahan;
d. Melakukan penyuluhan di bidang kesehatan;
e. Menggalakkan gerakan hidup bersih dan sehat;
f. Melakukan penimbangan terhadap bayi; dan
g. Melaksanakan gerakan sehat untuk lanjut usia (lansia) 4. Membina dan mengawasi upaya kesehatan tradisional
5. Memantau dan mencegah penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif di Desa
6. Membina dan mengelola pendidikan anak usia dini
Desa sehat diartikan sebagai suatu keadaan dalam masyarakat dimana dapat diartikan sebagai bentuk kebahagian dan kesejahteran yang ditunjukkan pada aspek derajat kesehatan dan pendidikan yang berbudaya, menerapkan tata kelola pemerintah yang bersih dan lingkungan sehat sehingga masyarakat menjadi produktif dan berdaya saing serta mandiri (Sakti and Rosdiana 2014).
C. Kerangka atau Teori yang Relevan 1. Kerangka Konsep Penelitian
Indikator Keluarga Sehat (IKS) :
1. Keluarga Berpartisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencana (KB) 2. Melakukan Persalinan di Fasilitas
Kesehatan Resmi
3. Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap
4. Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif 5. Tumbuh Kembang Bayi dan Balita 6. Penderita TB melakukan pengobatan
sesuai Ketentuan
7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan Teratur
8. Seluruh Anggota Keluarga Bebas Asap Rokok
9. Seluruh Keluarga menjadi Anggota JKN
10. Memiliki Akses terhadap Air Bersih 11. Menggunakan Jamban Sehat
12. Keluarga dengan Gangguan Jiwa Tidak Ditelantarkan
Capaian
IKS
di Desa
2. Bagan Alir Penelitian
Survey Lokasi
Penentuan Sampel
Pengumpulan Data
Analisis Data
Indikator Keluarga Sehat (IKS) sebagai Acuan
Capaian IKS di Desa
Pemetaan Masalah Kesehatan di Desa berdasarkan IKS
Potensi Desa yang Mendukung Terwujudnya Desa Sehat
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui capaian indikator keluarga sehat di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan juli sampai dengan agustus Tahun 2021.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini yaitu semua kepala keluarga (KK) yang menetap di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros. Sedangkan sampel penelitian ini adalah seluruh penduduk yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk menjadi sampel penelitian.
1) Kriteria Inklusi
a) Keluarga yang menetap > 6 bulan di Desa Limapoccoe b) Terdaftar sebagai KK di Desa Limapoccoe
c) Keluarga memiliki bayi dan atau balita d) Bersedia menjadi responden
2) Kriteria Eksklusi
Tidak berada di lokasi penelitian selama periode penelitian berlangsung
D. Pengumpulan Data
Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data mentah yang diperoleh peneliti menggunakan instrumen dari sumber utama guna kepentingan penelitiannya dimana data tersebut belum ada sebelumnya (Juliandi, Irfan, and Manurung 2014). Data primer dalam penelitian ini terdiri dari data anggota keluarga serta data mengenai 12 indikator keluarga sehat, yang meliputi data penggunaan KB, persalinan difasilitas kesehatan resmi, imunisasi, ASI eksklusif, pemantauan pertumbuhan balita, pengobatan penderita TB paru dan hipertensi, status merokok
dalam satu KK, kepemilikian asuransi (JKN), sarana air bersih, penggunaan jamban, dan keluarga dengan gangguan jiwa. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data mengenai jumlah dan daftar kepala keluarga (KK) di Desa Limapoccoe.
E. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data hasil penelitian secara elektronik menggunakan programsoftware SPSS 25 menggunakan analisis deskriptif frekuensi untuk mengetahui capaian indikator keluarga sehat di Desa Limapoccoe.
Adapun perhitungan capaian indikator keluarga sehat dapat ditentukan menggunakan formula sebagai berikut :
Keterangan :
1) Nilai indeks > 0,800 keluarga sehat
2) Nilai indeks 0,500 – 0,800 keluarga pra-sehat 3) Nilai indeks < 0,500 keluarga tidak sehat F. Penyajian Data
Data yang telah dianalisis disajikan dengan deskriptif dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi untuk membahas hasil penelitian
G. Waktu Penelitian
No Jenis Kegiatan
Bulan ke- (2021)
4 5 6 7 8 9 10
1 Revisi Proposal
2 Persiapan pelaksanaan
penelitian
3 Penelitian
4 Pengolahan Data 5 Penulisan laporan dan
draft publikasi 6 Diseminasi hasil
penelitian
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Keadaan Geografis
Keadaan geografis merupakan bentuk bentang alam yang meliputi batas wilayah, luas wilayah, dan kondisi topografi wilayah. Sedangkan demografi merupakan aspek kependudukan masyarakat setempat yang terdiri dari jumlah, komposisi, distribusi, dan perubahan-perubahan penduduk sepanjang masa akibat kerjanya lima komponen demografi yakni fertilitas, mortalitas, migrasi, perkawinan, dan mobilitas sosial (Boby, 2013).
Desa Limapoccoe merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Cenrana, yang letaknya dikelilingi oleh pegunungan yang berjarak kurang lebih 2,5 jam dari kota Makassar. Desa Limapoccoe adalah salah satu desa dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Cenrana.
Desa ini memiliki luas wilayah kurang lebih 23,37 km2. Pusat pemerintahan Desa Limapoccoe terletak di Dusun Wt.
Bengo. Desa Limapoccoe terbagi dalam 7 Dusun yaitu WT Bengo, Jambua, Kaluku, Mappasaile, Kampala, Samata dan Bonto Panno. Adapun batas-batas desa Limapoccoe sebagai berikut:
1) Sebelah Utara : Desa Rompegading
2) Sebelah Selatan : Desa Labuaja dan Desa Lebbotengngae 3) Sebelah Barat : Desa Labuaja dan Kecamatan
Bantimurung
4) Sebelah Timur : Desa Cenrana Baru dan Desa Laiya Berdasarkan letak geografisnya Desa Limapoccoe merupakan desa di wilayah ibukota Kecamatan Cenrana yang mempunyai iklim penghujan dan kemarau. Hal tersebut berpengaruh langsung pada pola tanam masyarakat Desa Limapoccoe yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Masyarakat di desa Limapoccoe dalam memenuhi kebutuhan seperti bercocok tanam mengandalkan air hujan, berdasarkan informasi yang telah didapatkan bahwa
keberhasilan dalam bercocok tanam tergantung dari curah hujan. Secara klimatologi desa Limapoccoe memiliki suhu 22- 26 oC
2. Keadaan Demografis
Pertumbuhan penduduk adalah perbandingan antara banyaknya pertambahan penduduk dengan jumlah penduduk pada tahun yang dibandingkan. Pertambahan penduduk merupakan perubahan populasi sewaktu-waktu dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu pada sebuah populasi menggunakan ―per waktu unit‖ untuk mengukur. Angka pertumbuhan penduduk adalah tingkat pertambahan di suatu wilayah atau negara dalam suatu jangka waktu tertentu.
Berdasarkan data pemerintahan Desa Limapoccoe pada mei 2021 terdapat 1012 KK dengan jumlah individu sebanyak 3584 jiwa
3. Pekerjaan
Sebagian besar masyarakat di Desa Limapoccoe berprofesi sebagai petani dan peternak. Karena di dusun ini dikelilingi oleh lahan pertanian dan perkebunan. Namun demilkian adapula masyarakat Desa Limapoccoe ini berprofesi lain seperti pedagang, PNS, TNI/Polri dan sebagian juga hanya sebagai ibu rumah tangga atau tidak bekerja
4. Pendidikan
Pendidikan adalah salah satu hal penting dalam memajukan tingkat kesejahteraan pada umumnya tingkat perekonomian pada khususnya, dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendukung pula tingkat kemampuan seseorang. Tingkat kemampuan ini yang akan mendorong tumbuhnya keterampilan kewirausahaan sehingga dapat membuat lapangan pekerjaan baru Hal ini juga sejalanan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi akan menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan terampil sehingga dapat mengurasi tingkat kemiskinan dan pengangguran
5. Aspek Sosial Budaya
Aspek kebudayaan merupakan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap derajat kesehatan, baik dari kondisi sosial yang meliputi tingkat pendidikan, pekerjaan, maupun adat istiadat atau adat budaya setempat.
Perilaku ataupun kebiasaan serta budaya dan adat istiadat pun masih sangat kental di daerah ini. Dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. Salah
satu kebiasaan masyarakat yang masih melekat ialah kebiasaan menggunakan obat herbal alami ataupun tanaman obat ramuan buatan sendiri yang sampai sekarang masih ada beberapa masyarakat yang menggunakan kebiasaan tersebut sebagai pengganti obat dari dokter.
Sedangkan pada proses melahirkan di Desa Limapoccoe sudah tidak menggunakan atau memanfaatkan jasa tradisional seperti dukun dan sudah diwajibkan bagi setiap masyarakat Desa Limapoccoe untuk memanfaatkan jasa bidan ataupun dokter.
Dari latar belakang budaya kita dapat juga melihat bahwa aspek sosial dan budaya yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Misalnya, hubungan dengan agama yang dianut sebagai agama yang mayoritasnya sangat kental dengan tradisi budaya yang ada di Maros.
Selain dari aspek keagamaan, di Desa Limapoccoe mempunyai keunikan budaya sendiri terutama hal yang berkaitan dengan pengerjaan sawah. Penanaman padi yang hanya dilakukan 1 kali setahun memilki tradisi pengikutnya seperti depa pitu (kue tujuh) yang dibuat sebelum membajak sawah, dan beberapa tradisi lainnya yang berkaian dengan pengerjaan sawah.
Masyarakat di Desa Limapoccoe memiliki unsur kekeluargaan yang sangat erat, saling bekerja sama dalam melakukan aktivitas kemasyarakatan. Selain itu, sikap ramah warga Desa Limapoccoe menjadi faktor yang menunjang kelancaran pengumpulan data.
Beberapa warga Desa Limapoccoe tidak fasih dalam menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga hanya dapat menggunakan bahasa daerah setempat, namun sebagian besar mengerti Bahasa Indonesia. Meskipun demikian, hal tersebutlah yang menjaga kearifan lokal daerah tersebut.
Berdasarkan profil Desa Limapoccoe yang mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Dentong (Makassar).
6. Sarana Transportasi
Penduduk Dusun Kaluku dan Dusun Mappasaile rata-rata mempunyai motor pribadi bahkan ada yang memiliki mobil sehingga masuk dalam kategori sangat mudah diakses.
Namun yang menjadi masalah adalah jarangnya melintas angkutan umum seperti pete’-pete’ atau ojek di dusun ini.
Adapun jenis angkutan yang ada di dusun ini adalah mobil
pribadi, motor, mobil truck, mobil pick up dan sepeda.
Desa Limapoccoe memiliki akses jalan yang baik.
7. Kesehatan
Desa Limapoccoe merupakan desa yang memiliki asset kesehatan yaitu berupa posyandu yang dimilki beberapa dusun, selain itu adapula puskedes yang berada di dusun Mappasaile yang buka tiap hari. Apabila masalah kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat tidak dapat diselesaikan di puskesdes maka akan dirujuk ke puskesmas Cenrana yang jaraknya juga cukup dekat.
Dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Desa Limapoccoe tersedia fasilitas posyandu yang akan dilakukan pada setiap bulan di tanggal 15. Untuk menjangkau pelayanan kesehatan baik berupa puskesmas atau poskesdes sebagian masyarkat menggunakan kendaraan pribadi
Distribusi 10 Penyakit Tertinggi di Puskesmas Cenrana Kec. Cenrana, Kab. Maros, Prov. Sulawesi Selatan
Tahun 2021
No Jenis Penyakit Jumlah
1 Hipertensi esensial (primer) 54 2 Gastritis, tidak terinfeksi 486 3 3
Infeksi pernafasan akut,
tidak terspesifikasi 32
1 4
Diabetes Mellitus tak terspesifikasi
tanpa komplkasi 23
3 5
Dermatitis kontak alergi, penyebab
tidak terspesifikasi 10
6 Mialgia 108
7 Gout, tidak terspesifikasi 3 9 8 Artritis rematoid, tidak terspesifikasi 7 8 9 Hiperlipidemia, tidak terspesifikasi 8 7 10 Asma, tidak terspesfikasi 3 7
Total 2121
Sumber : Data Sekunder Puskesmas Cenrana Tahun 2020 3
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden a. Umur
Tabel IV.1
Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021 Umur
(Tahun)
Frekuensi (n)
Persentase (%)
20-30 57 24,56
31-40 97 41,82
41-50 78 33,62
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.1 menunjukkan bahwa berdasarkan umur paling banyak pada kategori umur 31-40 tahun yaitu 97 responden (41,82%) dan paling sedikit pada kategori 20-30 tahun yaitu 57 responden (24,56%).
b. Jenis Kelamin
Tabel IV.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021 Jenis
Kelamin
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Laki-Laki 67 28,9
Perempuan 165 71,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.2 menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin paling banyak perempuan yaitu 165 responden (71,1%) dibandingkan laki-laki yaitu 67 responden (28,9%)
c. Pendidikan
Tabel IV.3
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Pendidikan Frekuensi (n)
Persentase (%)
SD 55 23,7
SMP 25 10,8
SMA 112 48,3
PT 40 17,2
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.3 menunjukkan bahwa berdasarkan pendidikan paling banyak dengan pendidikan SMA yaitu 112 responden (48,3%) dan paling sedikit dengan pendidikan SMP yaitu 25 responden (10,8 %)
d. Pekerjaan
Tabel IV.4
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Pekerjaan Frekuensi
(n)
Persentase (%)
Petani 61 26,3
Wiraswasta 37 15,9
Peternak 20 8,6
PNS 14 6,0
IRT 100 43,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.4 menunjukkan bahwa berdasarkan pekerjaan paling banyak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga yaitu 100 responden (43,1%) dan paling sedikit PNS yaitu 14 responden (6,0 %)
2. Analisis Univariat
a. Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencana Tabel IV.5
Distribusi Berdasarkan Indikator Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan di Desa Limapoccoe
Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 119 51,3
Tidak 113 48,7
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.5 berdasarkan indikator Partisipasi Aktif dalam Program Keluarga Berencan menunjukkan bahwa paling banyak yang berpartisipasi yaitu 119 KK (51,3%) dan tidak berpartisipasi yaitu 94 KK (40,5%)
b. Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi Tabel IV.6
Distribusi Berdasarkan Indikator Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Persalinan di Fasilitas Kesehatan
Resmi
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 232 100
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.6 menunjukkan bahwa semua KK melakukan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Resmi (100%)
c. Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap Tabel IV.7
Distribusi Berdasarkan Indikator Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap di Desa Limapoccoe Kecamatan
Cendrana Kabupaten Maros Tahun 2021
Bayi Memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 192 82,8
Tidak 40 17,2
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.7 berdasarkan indikator bayi memperoleh imunisasi dasar lengkap menunjukkan bahwa paling banyak bayi yang memperoleh imunisasi dasar lengkap yaitu 192 bayi (82,8%) sedangkan yang tidak sebanyak 40 bayi (17,2%)
d. Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif Tabel IV.8
Distribusi Berdasarkan Indikator Bayi Mendapatkan ASI Eksklusif di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Bayi Mendapatkan ASI
Eksklusif
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 125 53,9
Tidak 107 46,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.8 menunjukkan bahwa paling banyak bayi yang memperoleh ASI Eksklusif yaitu 125 bayi (53,9%) sedangkan yang tidak sebanyak 107 bayi (46,1%).
e. Tumbuh Kembang Bayi dan Balita Tabel IV.9
Distribusi Berdasarkan Indikator Tumbuh Kembang Bayi dan Balita di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Tumbuh Kembang Bayi dan
Balita
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 95 40,9
Tidak 137 59,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.9 berdasarkan indikator tumbuh kembang bayi dan balita menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak memantau yaitu sebanyak 137 bayi/balita (59,1%) sedangkan yang memantau sebanyak 95 bayi/balita (40,9%)
f. Penderita TB berobat sesuai dengan ketentuan
Pada saat dilakukan pengumpulan data tidak ditemukan adanya penderita TB di Desa Limapoccoe sehingga dikategorikan bahwa semua KK yang menjadi sampel memenuhi kriteria sehat untuk indicator penderita TB berobat sesuai dengan ketentuan
g. Penderita Hipertensi Berobat Teratur
Berdasarkan tabel IV.10 berdasarkan penderita hipertensi menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak hipertensi yaitu sebanyak 172 KK (40,9%) sedangkan yang hipertensi sebanyak 60 KK (59,1%)
Tabel IV.10
Distribusi Berdasarkan Penderita Hipertensi di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana Kabupaten Maros
Tahun 2021
Penderita Hipertensi Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tidak hipertensi 172 40,9
Hipertensi 60 59,1
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Tabel IV.11
Distribusi Berdasarkan Indikator Penderita Hipertensi Berobat Teratur di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Penderita Hipertensi Berobat
Teratur
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 19 31,7
Tidak 41 68,3
Total 60 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.11 berdasarkan indikator penderita hipertensi berobat teratur menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak yaitu sebanyak 41 KK (68,3%) sedangkan yang berobat teratur sebanyak 19 KK (31,7%) h. Seluruh Keluarga Bebas Asap Rokok
Berdasarkan tabel IV.12 berdasarkan indikator seluruh keluarga bebas asap rokok menunjukkan bahwa paling banyak yang tidak yaitu sebanyak 176 KK (75,9%) sedangkan yang bebas asap rokok sebanyak 56 KK (24,1%)
Tabel IV.12
Distribusi Berdasarkan Indikator Seluruh Keluarga Bebas Asap Rokok di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Seluruh Keluarga Bebas Asap
Rokok
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 56 24,1
Tidak 176 75,9
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
i. Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN Tabel IV.13
Distribusi Berdasarkan Indikator Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN di Desa Limapoccoe Kecamatan Cendrana
Kabupaten Maros Tahun 2021 Seluruh Keluarga Menjadi
Anggota JKN
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Ya 131 56,5
Tidak 101 43,5
Total 232 100
Sumber : Data Primer, 2021
Berdasarkan tabel IV.13 berdasarkan indikator Seluruh Keluarga Menjadi Anggota JKN menunjukkan bahwa paling banyak yang Ya yaitu sebanyak 131 KK (56,5%) sedangkan yang tidak sebanyak 101 KK (43,5%) j. Memiliki Akses Terhadap Air Bersih
Berdasarkan tabel IV.14 berdasarkan indikator memiliki akses terhadap air bersih menunjukkan bahwa paling banyak yang memiliki akses yaitu sebanyak 133 KK