• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI DAN ANAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI DAN ANAK"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 1

PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI DAN ANAK

A. SASARAN BELAJAR

1. Mahasiswa mampu memahami prosedur pemeriksaan fisik

2. Mahasiswa mampu melakukan persiapan untuk prosedur pemeriksaan fisik 3. Mahasiswa mampu melakukan skill prosedur pemeriksaan fisik secara mandiri

B. RENCANA PEMBELAJARAN

Waktu praktikum : 1 x 100 menit

Panduan instrukstur : 1. 10 menit : persiapan dan pre test materi 2. 30 menit : mendemonstrasikan skill

pemeriksaan fisik

3. 30 menit : membimbing mahasiswa dalam melatih kemampuan melakukan skill pemeriksaan fisik

4. 10 menit : memberikan umpan balik 5. 20 menit : mengobservasi dan mengevaluasi

skill mandiri mahasiswa

Panduan Mahasiswa : 1. 10 menit : persiapan dan mengerjakan soal pre test

2. 30 menit : mahasiswa mengamati demonstrasi yang dilakukan oleh instruktur 3. 30 menit : mahasiswa melatih kemampuan dalam

melakukan skill pemeriksaan fisik dibawah bimbingan instruktur 4. 10 menit : mahasiwa merespon umpan balik dari

instrukstur

5. 20 menit : mahasiswa melakukan skill

pemeriksaan fisik secara mandiri

dengan diobservasi dan dievaluasi oleh

instruktur

(3)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 2 C. PERALATAN DAN BAHAN

1. Handscoen 2. Metline

3. Air dingin/hangat 4. Kapas

5. Kartu snellen/kartu E 6. Pen light

7. Speculum hidung 8. Tongue spatel 9. Hammer reflect 10. Lidi kapas 11. Lap dan tissue 12. Bantalan dispossibel 13. Tirai

14. Pakaian untuk anak 15. Sarung tangan, 16. Lubrikan 17. Timbangan BB

18. Alat pengukur tinggi badan 19. Pita ukur ( kertas)

20. Stetoskop

21. Sfigmomanometer 22. Manset anak 23. Termometer 24. Otoskop 25. Oftalmoskop 26. Penera waktu 27. Format pengkajian

D. DASAR TEORI

PEDOMAN UMUM PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK

1. Lakukan pemeriksaan dalam ruang yang menyenangkan dan tidak mengancam

(4)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 3 a. Penerangan, dekorasi dg warna netral

b. Suhu

c. Penempatan alat

d. Gunakan mainan & permainan

e. Bila mungkin, dekorasi ruangan sesuai tingkat usia f. Privasi

2. Berikan waktu bermain dan saling mengenal a. Berbicara pada perawat

b. Kontak mata

c. Menerima peralatan yang ditawarkan d. Touching

e. Duduk diatas meja pemeriksaan 3. Jika anak tidak siap

a. Bicara pada orang tua dulu, bertahap pada anak atau objek favorit b. Beri anak pujian

c. Cerita lucu atau sulap sederhana

d. Berikan “teman” yang tidak mengancam (mis. Boneka tangan/jari ) untuk

“bicara”dengan anak 4. Bila anak menolak bekerjasama

a. Kaji alasan perilaku menolak bekerjasama

b. Hindari penjelasan yang panjang tentang prosedur pemeriksaan c. Lakukan pemeriksaan secepat mungkin

d. Restrain

e. Minimalkan adanya gangguan/stimulasi

5. Mulailah dengan cara yang tidak mengancam,terutama untuk anak kecil atau yang takut

a. Aktivitas bermain b. Pendekatan “Simon say”

c. Teknik boneka kertas

6. Libatkan anak dan orangtua dalam proses pemeriksaan a. Beri pilihan posisi duduk

b. Izinkan untuk memegang atau memainkan alat

c. Anjurkan untuk menggunakan alat tersebut pada boneka, keluarga atau perawat

(5)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 4 d. Bila ada beberapa anak dalam keluarga yang akan diperiksa , mulailah dengan

anak yang paling kooperatif e. Posisi aman dan nyaman

f. Lakukan pemeriksaan secara sistematis berdasarkan head to toe g. Tenangkan anak sepanjang pemeriksaan

h. Diskusikan hasil temuan dg keluarga.

i. Puji anak untuk kerjasama selama pemeriksaan

j. Lakukan dengan pendekatan informal. contoh dengan menanyakan kegemaran anak, memuji penampilan anak dll

k. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan secara sistematik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi) dapat juga dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi.

Pada bayi dan anak kecil diajurkan setelah inspeksi dilakukan auskultasi karena bila menangis bising usus akan meningkat sehingga bising jantung akan sulit untuk dinilai

l. Pemeriksaan yang menggunakan peralatan atau yang menyakiti anak sebaiknya dilakukan terakhir.

INSPEKSI

- Bentuk, warna, kesimetrisan, bau

Bau Makna

Aseton / buah-buahan Asidosis diabetic

Ammonia Infeksi saluran perkemihan

Feses (nafas/area popok) Popok kotor, inkontinensia feses, obstruksi usus Feses busuk Gastroenteritis, kistik fobrosis, sindrom malabsorbsi Halitosis Hygiene mulut buruk, karies, abses gigi, sinusitis, infeksi

tenggorok

Bau apak Infeksi bawah balutan atau gips Bau manis menyengat Infeksi pseudomonas

PALPASI

1. Dilakukan dengan jari dan telapak tangan untuk menentukan suhu, hidrasi, tekstur, bentuk, gerakan, dan area nyeri tekan.

2. Hangatkan tangan sebelum memuliai palpasi

3. Jaga kuku tetap pendek

(6)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 5 4. Daerah yang lunak dipalpasi terakhir.

5. Lakukan palpasi degnan ujung jari untuk pulsasi, ukuran, bnetuk, tekstur, dan hidrasi.

6. Lakukan palpasi dengan telapak tangan untuk vibrasi 7. Lakukan palpasi dengan pungung tangan untuk suhu

8. Gunakan percakapan atau permainan untuk membuat anak rileks, selama palpasi.

9. Anak yang mudah geli, diminta untuk menempatkan telapak tangannya di area yang akan diperiksa, baru kemudian disusuil dengan menyelipkan tangan perawat di bawahnya.

PERKUSI

Hasil : gelombang bunyi: intensitas, nada, durasi, dan kiualitas.

Dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.

Kuku pemeriksa harus pendek.

AUSKULTASI

Dengan menggunakan stetoskop

Bell, digunakan untuk mendengarkan bunyi dengan nada rendah.

Diafragma digunakan untuk mendengarkan bunyi dengan nada tinggi A. PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI

Pemeriksaan fisik pada bayi dapat dilakukan untuk menilai status kesehatannya. Waktu pemeriksaan fisik dapat dilakukan saat bayi baru lahir, 24 jam setelah lahir, dan akan pulang dari rumah sakit. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

a. Bayi sebaiknya dalam keadaan telanjang di bawah lampu terang sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas, atau lepaskan pakaian hanya pada daerah yang diperiksa.

b. Lakukan prosedur secara berurutan dari kepala ke kaki atau lakukan prosedur yang memerlukan observasi ketat lebih dahulu, seperti paru, jantung dan abdomen.

c. Lakukan prosedur yang mengganggu bayi, seperti pemeriksaan refleks pada tahap akhir.

d. Bicara lembut, pegang tangan bayi di atas dadanya atau lainnya 1. Keadaan Umum

Pemeriksaan fisik harus selalu dimulai dengan penilaian keadaan umum yang mencakup :

a. Postur

Fleksi kepala dan ekstremitas, dengan istirahat terlentang dan tengkurap

(7)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 6 b. Kesadaran

1) Komposmentis : Pasien sadar sepenuhnya dan memberi respon adekuat terhadap semua stimulus yang diberikan

2) Apatik : Pasien dalam keadaan sadar, tetapi acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya. Ia akan memberikan respon yang adekuat bila diberikan stimulus 3) Somnolen : Yakni takut kesadaran dimana pasien tampak mengantuk. Selalu

ingin tidur, ia tidak respon terhadap stimulus ringan, tetapi memberikan respon terhadap stimulus yang agak keras, kemudian tertidur lagi

4) Sopor : Pasien tidak memberikan respon ringan ataupun sedang. Tetapi masih memberi sedikit respon terhadap stimulus yang kuat. Reflek pupil terhadap cahaya masih (+)

5) Koma : Pasien tidak dapat bereaksi terhadap stimulus apapun, refleks pupil terhadap cahaya (-). Ini adalah takut kesadaran yang paling rendah

6) Delirium : Keadaan kesadaran yang menurun serta kacau, biasanya disertai disorientasi. Iritatif & halusinasi.

c. Kesan status gizi

1) Secara klinis : Dengan inspeksi dan palpasi, inspeksi lihat proporsi tubhnya kurus/gemuk. Palpasi dengan cara cubit tebal jaringan lemak subcutan 2) Dengan pemeriksaan fisik & antropometris (BB, TB, Lingkaran lengan atas,

tebal lipatan kulit, lingkar kepala, dada & perut).

2. Apgar Score

Pemeriksaan ini bertujuan menilai kemampuan laju jantung, kemampuan bernapas, kekuatan tonus otot, kemampuan refieks dan warna kulit.

Cara:

1. Lakukan penilaian Apgar score dengan cara jumlahkan hasil penilaian tanda, seperti laju jantung, kemampuan bernapas, kekuatan tonus otot, kemampuan refleks dan warna kulit.

2. Tentukan hasil penilaian, sebagai berikut:

a. Adaptasi baik : skor 7-10

b. Asfiksia ringan-sedang : skor 4-6

c. Asfiksia berat : skor 0-3

(8)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 7

3. Gestasional Age

(9)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 8 4. Refleks

Refleks Rangsangan Reaksi bayi Perkembangan

Berkedip Cahaya, tiupan udara

Menutup kedua mata Permanen

Babinski Telapak kaki ditepuk

Jari kaki meregang, menarik kaki ke dalam

Menghilang setelah 9 bulan-1 tahun Menggenggam Telapak tangan

disentuh

Menggenggam erat Melemah setelah 3 bulan

Menghilang stlah 1 tahun

Moro (kejut) Suara keras/benda jatuh

Kaget, melengkungkan puggung, meletakkan kepala, mengepakkan lengan dan kaki, kemudian menutup kembali lengan dan kaki dengan cepat ke pusat tubuh

Menghilang setelah 3 atau 4 bulan

Ujung saraf Pipi ditepuk/tepi mulut disentuh

Menoleh, membuka mulut, mulai menghisap

Menghilang setelah 3 atau 4 bulan

Melangkah Bayi diangkat diatas permukaan tanah dan kaki direndahkan menyentuh tanah

Menggerakkan kaki seperti akan berjalan

Menghilang setelah 3 atau 4 bulan

Menghisap Objek menyentuh mulut

Menghisap secara otomatis

Menghilang setelah 3 atau 4 bulan

Berenang Bayi meletakkan wajah di air

Membuat gerakan berenang yang terkoordinasi

Menghilang setelah 6

atau 7 bulan

(10)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 9 5. Tanda vital

Suhu : Aksila – 36,50C sampai 370C; menangis dapat sedikit meningkatkan suhu tubuh

HR : Apikal – 120 sampai 140 denyut/menit; menangis akan meningkatkan frekuensi jantung, tidur akan menurunkan frekuensi jantung

RR : 30 – 60 kali/menit; menangis akan meningkatkan frekuensi pernafasan, tidur akan menurunkan frekuensi pernafasan

6. Antropometri Tinggi badan

- Posisi recumben: < 24 s/d 36 bulan dihitung dari vertek s/d tumit - Posisi berdiri: > 24-36 bulan

- new born: 48-53 cm => Normal - 1 tahun= 1.5 X PB lahir

- selanjutnya 80+ 5N => N= umur

- referensi lain: 2-12 tahun: usia X 2,5 + 30 inc Berat Badan

- Timbang bayi- anak dalam keadaan telanjang => lindungi bayi agar tidak jatuh - hitung sampai 10 gr terdekat utk bayi dan 100 gr terdekat utk anak

- Rule of thumb:

> new born : 2500-4000 gr

> 4-5 bulan : 2 X BBL

> 12 bulan : 3 X BBL

> selanjutnya: 8 + 2N => N: umur Lingkar kepala

- Ukur diatas alis dan pinna (telinga) melingkari oksipital kranium - new born : 33-35 cm

- lingkar kepala > 2-3 cm = lingkar dada

- anak-anak: lingkar dada > 5-7 cm = lingkar dada Tonic neck Bayi diletakkan

di punggung

Membentuk kepalan dengan dua tangan dan biasanya menoleh ke kanan (kadang disebut pose pekelahi)

Menghilang setelah 2

bulan

(11)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 10

=> maksimal pengukuran lingkar kepala s/d anak berusia 2 tahun - 6-18 bulan : ubun-ubun besar menutup

- 2-3 bulan : ubun-ubun kecil menutup Lingkar dada

Hitung keliling dada melalui garis putting saat ekspirasi- inspirasi diambil rata-rata Lingkar Lengan

7. Kepala Rambut

Distribusi, warna, tekstur dan kualitas rambut.

Kering, rapuh, kurang pigmen Kurang gizi Batas tumbuh rambut memanjang hingga

tengah dahi

Kretinisme

Alopesia Tinea kapitis, posisi menetap pada

satu sisi Berkas rambut pada tulang belakang Spina bifida Putih telur yang menempel dengan kuat pada

tangkai rambut

Kutu kepala

Tengkorak Kepala

Lakukan penilaian pada bagian tersebut, diantaranya:

a. Maulage yaitu tulang tengkorak yang saling menumpuk pada saat lahir asimetri atau tidak.

b. Ada tidaknya caput succedaneum, yaitu edema pada kulit kepala, lunak dan tidak berfluktuasi, batasnya tidak tegas, dan menyeberangi sutura dan akan hilang dalam beberapa hari.

c. Ada tidaknya cephal haematum, yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tanpak pada hari pertama karena tertutup oleh caput succedaneum. Cirinya konsistensi lunak, berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi tulang tengkorak, tidak menyeberangi sutura dan apabila menyeberangi sutura kemungkinan mengalami fraktur tulang tengkorak. Cephal haematum dapat hilang sempurna dalam waktu 2-6 bulan

d. Ada tidaknya perdarahan, yang terjadi karena pecahnya vena yang

menghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak. Batasnya tidak tegas

(12)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 11 sehingga bentuk kepala tanpak asimetris, scring diraba terjadi fiuktuasi dan edema.

e. Adanya fontanel dengan cara palpasi dengan menggunakan jari tangan. Fontanel posterior akan dilihat proses penutupan setelah umur 2 bulan dan fontanel anterior menutup saat usia 12-18 bulan. ukur lebar dan panjang fontanel ant.

Terbuka. Umur 9 – 12 bulan mempunyai ukuran panjang dan lebar dari 1 sampai 5 cm.

Temuan klinik

Lebih besar secara abnormal Hidrocephallus

Lebih kecil Dilahirkan oleh ibu yang mengkonsumsi kokain

Asimetris minor Molding

Oksiput datar Meletakkan anak pada posisi telentang terus menerus Kepala tidak simetris Penutupan garis-garis sutura yang premature.

Fontanel menonjol Peningkatan TIK, oleh karena meningitis, trauma kepala.

Fontanel yang kecil

8. Mata

Tentukan penilaian ada tidaknya kelainan, seperti:

a. Strabismus (koordinasi gerakan mata yang belum sempurna), dengan cara menggoyang kepala secara perlahan-lahan sehingga mata bayi akan terbuka.

b. Kebutaan, seperti jarang berkedip atau sensitifitas terhadap cahaya berkurang.

c. Sindrom Down, ditemukan epicanthus melebar.

d. Glaukoma kongenital, terlihat pembesaran dan terjadi kekeruhan pada kornea.

f. Katarak kongenital, apabila terlihat pupil yang berwarna putih Periksa pelupuk mata bagian bawah, dan minta klien melihat ke atas Periksa warna konjungtiva

Periksa warna sclera

Periksa warna, bentuk, dan ukuran iris

Periksa ukuran kesamaan, dan respon pupil terhadap cahaya

(13)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 12 Temuan

Konjungtiva berwarna merah Infeksi Konjungtiva bengkak Reaksi alergi Konjungtiva pucat Anemia (anemis) Sklera normal putih

Sklera kuning Ikterik (hpetitis, hiperbilirubinemia) Sclera kebiru – biruan Osteogenesis imperfekta, glaucoma.

9. Hidung

a. Amati pola pernapasan, apabila bayi bernapas melalui mulut maka kemungkinan bayi mengalami obstruksi jalan napas karena adanya atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung, atau ensefalokel yang menojol ke nasofaring. Sedangkan pernapasan cuping hidung akan menujukkan gangguan pada paru.

b. Amati mukosa lubang hidung, apabila terdapat sekret mukopurulen dan berdarah perlu, dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain.

10. Mulut

a. Lakukan inspeksi adanya kista yang ada pada mukosa mulut.

b. Amati warna, kemampuan refieks menghisap. Apabila lidah menjulur keluar dapat dinilai adanya kecacatan kongenital.

c. Amati adanya bercak pada mukosa mulut, palatum dan pipi bisanya disebut sebagai Monilia albicans.

d. Amati gusi dan gigi, untuk menilai adanya pigmen.

e. Rooting refleks : bayi akan mencari benda yang diletakkan disekitar mulut dan kemudian akan mengisapnya.

f. Dengan memakai sarung tangan, masukkan jari kelingking kedalam mulut, raba palatum keras dan lunak apabila ada lubang berarti labio palato shizis, kemudian taruh jari kelingking diatas lidah, hasil positif jika ada refleks mengisap (Sucking Refleks).

11. Telinga

Bunyikan bel atau suara, apabila terjadi reflek terkejut maka pendengarannya baik,

kemudian apabila tidak terjadi refleks maka kemungkinan akan terjadi gangguan

pendengaran.

(14)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 13 12. Leher

a. Letakkan bayi posisi duduk ketika mengamati kontrol kepala.

b. Gerakkan kepala dan leher anak dengan ROM yang penuh dan anak yang lebih tua diminta untuk menggerakkan kepala ke atas, samping, bawah.

c. Periksa leher akan adanya pembengkakan, lipatan kulit tabahan, distensi vena.

d. Palpasi area trakea : dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.

e. Palpasi area kelenjar tiroid : pemeriksa di belakang pasien, letakkan jari-jari anda diatas kelenjar. Palpasi kelenjar tiroid saat anak menelan.

f. Amati pergerakan leher apabila terjadi keterbatasan dalam pergerakannya maka kemungkinan terjadi kelainan pada tulang leher, seperti kelainan tiroid, hemangioma, dan lain-lain.

1. Tonic neck refleks : kedua tangan ditarik, kepala akan mengimbangi.

2. Neck rigting refleks : posisi terlentang, ke mud ian t angan ditarik

kebelakang, pertama badan ikut berbalik diikuti dengan kepala.

(15)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 14 13. Dada, jantung, paru-paru

a. Lakukan inspeksi bentuk dada:

1) Apabila tidak simetris, kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika.

2) Pernapasan bayi normal pada umumnya dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan. Frekuensi pernapasan bayi normal antara 40-60 kali per menit, perhitungannya harus satu menit penuh karena terdapat periodic breathing di mana pola pernapasan pada neonatus terutama pada prematur ada henti napas yang berlangsung 20 detik dan terjadi secara berkala.

b. Lakukan palpasi daerah dada, untuk menentukan ada tidaknya fraktur klavikula dengan cara meraba ictus kordis dengan menentukan posisi jantung.

c. Lakukan auskultasi paru dan jantung dcngan menggunakan stetoskop untuk menilai frekuensi, dan suara napas/jantung. Secara normal frekuensi denyut jantung antara 120-160 kali per menit. Suara bising sering ditemukan pada bayi, apabila ada suara bising usus pada daerah dada menunjukkan adanya hernia diafragmatika.

14. Abdomen

a. Lakukan inspeksi bentuk abdomen. Apabila abdomen membuncit kemungkinan disebabkan hepatosplenomegali atau cairan di dalam rongga perut, dan adanya kembung.

b. Lakukan auskultasi adanya bising usus.

c. Lakukan perabaan hati. Umumnya teraba 2-3 cm di bawah arkus kosta kanan.

Limpa teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri.

d. Lakukan palpasi ginjal, dengan cara atur posisi telentang dan tungkai bayi dilipat

agar otot-otot dinding perut dalam keadaan relaksasi. Batas bawah ginjal dapat

diraba setinggi umbilikus diantara garis tengah dan tepi perut. Bagian ginjal

dapat diraba sekitar 2-3 cm, adanya pembesaran pada ginjal dapat disebabkan

oleh neoplasma, kelainan bawaan atau trombosis vena renalis.

(16)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 15 15. Punggung, pelvis dan ekstremitas

a. Punggung

1) Letakkan bayi dalam posisi tengkurap, raba sepanjang tulang bclakang untuk mencari ada tidaknya kelainan, seperti skoliosis, meningokel, spina bifida, dan lain-lain.

2) Susuri tulang belakang , apakah ada spina bivida okulta : ada lekukan pada lumbo sacral, tanpa herniasi dan distribusi lanugo lebih banyak.

3) Spina bivida sistika : dengan herniasi, meningokel (berisi meningen dan CSF-cerebrospinal fluid) dan mielomeningokel (meningen + CSF + saraf spinal).

4) Dalam posisi bungkuk jika tulang belakang rata/simetris (scoliosis postueral) sedangkan jika asimetris atau bahu tinggi sebelah dan vertebra bengkok (scoliosis structural)

5) Amati pergerakan ekstremitas. Untuk mengetahui adanya kelemahan, kelumpuhan, dan kelainan bentuk jari.

6) Grasping refleks : meletakkan jari pada tangan bayi, maka refleks aka n mengge nga m.

7) Palmar refleks : tekan pada telapak tangan, akan mengge nga m

8) CDH Congenital Dislocation of the Hip (CDH) at au dis lo kas i panggu l

ko ngenit a l ada lah sat u fase dari berbagai ketidakstabilan pinggul pada

bayi : test gluteal, lipatan paha simetris kiri kanan.

(17)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 16

b. Pelvis

1) Ortholani test : lutut ditekuk sama tinggi/tidak

2) Barlow test : kedua lutut ditekuk dan regangkan ke samping akan

terdengar bunyi klik

(18)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 17

c. Kaki

1) Talipes : kaki bengkok ke dalam.

2) Clubfoot : otot-otot kaki tidak sama panjang, kaki jatuh ke depan.

3) Refleks babinsky

(19)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 18 4) Refleks Chaddok

5) Staping Refleks

Bayi diangkat diatas permukaan tanah dan kaki direndahkan menyentuh tanah, bayi akan menggerakkan kaki seperti akan berjalan.

16. Genitalia

a. Lakukan inspeksi pada genitalia wanita, seperti keadaan labio minora, labio mayora, lubang uretra dan lubang vagina.

b. Lakukan inspeksi pada genitalia laki-laki, seperti keadaan penis, ada tidaknya hipospadia (defek di bagian ventral ujung penis atau defek sepanjang penis), dan epispadia (defek pada dorsum penis).

17. Anus dan rektum

a. Lakukan inspeksi pada anus dan rektum, untuk menilai adanya kelainan atresia ani atau posisi anus.

b. Lakukan inspeksi ada tidaknya mekonium (umumnya keluar pada 24 jam) apabila ditemukan dalam waktu 48 jam belum keluar maka kemungkinan adanya mekonium plug syndrome, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan.

18. Kulit

a. Lakukan inspeksi ada tidaknya verniks kaseosa (zat yang bersifat seperti lemak

berfungsi sebagai pelumas atau sebagai isolasi panas yang akan menutupi bayi

yang cukup bulan).

(20)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 19

b. Lakukan inspeksi ada tidaknya lanugo (rambut halus yang terdapat pada punggung bayi). Lanugo ini jumlahnya lebih banyak pada bayi kurang bulan dari pada bayi cukup bulan. (Corry S Matondang dkk, 2000).

B. PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK 1. KEPALA

a. Bentuk kepala ; makrosefali atau mikrosefali b. Tulang tengkorak :

1) Anencefali : tidak ada tulang tengkorak

2) Encefalokel : tidak menutupnya fontanel occipital c. Fontanel anterior menutup : 18 bulan

d. Fontanel posterior : menutup 2 – 6 bulan

e. Caput succedeneum : berisi serosa, muncul 24 jam pertama dan hilang dalam 2 hari.

f. Cepal hematoma : berisi darah, muncul 24 – 48 jam dan hilang 2 – 3 minggu.

g. Distribusi rambut dan warna.

h. Jika rambut berwarna / kuning dan gampang tercabut merupakan indikasi adanya gangguan nutrisi.

i. Ukuran lingkar kepala 33 – 34 atau < 49 dan diukur dari bagian frontal kebagian occipital.

2. MUKA

a. Simetris kiri kanan b. Tes nervus 7 ( facialis )

1) Sensoris : Menyentuhkan air dingin atau air hangat daerah maksilla, mandibula dan menyebutkan apa yang dirasakan.

2) Motorik : pasien diminta mengerutkan dahi,kemudian menutupmata kuat- kuat sementara jari-jari pemeriksa menahan kedua kelopak mata agar tetap terbuka.

c. Tes nervus 5 (trigeminus)

1) Sensorik : menyentuhkan kapas pada daerah wajah dan apakah ia merasakan sentuh tersebut

2) Motorik : menganjurkan klien untuk mengunyah dan pemeriksa meraba otot

masenter dan mandibula.

(21)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 20 d. Amati bentuk dan roman muka

e. Amati ekspresi muka, khususnya sekitar mata dan mulut

f. Amati kesimetrisan lipatan-lipatan nasolabial ketika anak menangis dan tertawa g. Amati ukuran dan bentuk hidung

h. Amati nares eksternal terhadap pelebaran pengelupasan dan bau

i. Uji kepatenan nares dengan meletakkan diafragma statetoskop di bawah salah satu lubang hidung sementara salah satu lubang yang lain ditutup.

j. Lakukan palpasi pada alis mata dan setiap sisi hidung

Temuan Klinik

Roman muka kasar, batas tumbuh rambut rendah Kretinisme

Dahi yang besar Hidrosephallus

Ketidaksimetrisan lipatan nasolabial Bell’s palsy Pelebaran nares eksternal Distress pernapasan Nyeri tekan daerah alis, dan sisi hidugn Sinusitis

Rongga Mulut

BIBIR: Warna, kesimetrisan, kelembaban, pembengkakan, lesi, fisura Temuan

Kebiruan Sianosis

Pucat Anemia

Merah cerry Asidosis

Pecah-pecah Iklim, tergigit, pernapasan mulut, demam Fisura pada sudut mulut Defisiensi riboflavin, niacin

Jatuh pada salah satu sisi Kerusakan nervus

Periksa batas tepi bukal, gusi, lidah dan palatum terhadap kelembaban, keutuhan, dan perdarahan

Temuan

Lesi ulserasi warna putih Sariawan, trauma ringan, infeksi virus atau iritasi local

Area keabu-abuan kecil dikelilingi garis merah pada bagian pipi dalam berhadapan

Awal penyakit campak

(22)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 21 dengan molar keduanya bintik koplik

Bercak seperti dadih putih pada tepi gusi Sariawan, oleh karena proses pengobatan dengan antibiotic

Pembengkakan gusi Terapi anticonvulsant

Lidah berwarna merah Defisiensi vitamin Lidah berwarna abu-abu dan beralur Normal, alergi, demam

GIGI

a. Jumlah, jenis, keadaan, dan oklusi (gigi bertemu)

b. Untuk memperkirakan jumlha gigi yang harus ada pada anak berumur 2 tahun atau lebih muda, kurangi umur anak dengan 6 bulan. Tanyakan pada anak diatas 5 tahun atau lebih apakah giginya tanggal.

Temuan

Anak umur 30 bulan 20 gigi susu

Anak dengan gigi permanent lengkap 32 gigi Bintik-bintik coklat/ hitam Karies Tonsil kemerahan ditutupi eksudat Infeksi Eksudat kental, berwarna abu-abu Difteri

Visualisasi adenoid Pembesaran tonsil

Deviasi uvula / tidak adanya gerakan Kerusakan nervus glassofaringeus

3. MATA

a. Simetris kanan kiri

b. Alis tumbuh umur 2-3 bulan c. Kelopak mata :

1) Oedema

2) Ptosis : celah kelopak mata menyempit karena ke lo pak mat a atas turun.

(23)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 22 3) Enof : kelopak mata mnyempit karena kelopak mata atas dan bawah tertarik

ke belakang.

4) Exoptalmus : pelebaran celah kelopak mata, karena kelopak mata atas dan bawah tertarik ke belakang.

d. Pemeriksaan nervus II (optikus), test konfrontasi dan ketajaman penglihatan.

e. Sebagai objek mempergunakan jari

f. Pemeriksa dan pasaien duduk berhadapan, mata yang akan diperiksa berhadapan dengan mata pemeriksa, yang biasanya berlawanan, mata kiri dengan mata kanan, pada garis ketinggian yang sama.

g. Jarak antara keduanya berkisar 60 - 100 cm.

Mata yang lain ditutup, o byek mu la i d igerakkkan o le h pe mer iksa mu la i dari sa mp ing telinga, apabila obyek sudah tidak terlihat oleh pemeriksa maka secara normal obyek tersebut dapat dillihat oleh pasien.

h. Anak dapat disuruh membaca atau diberikan Snellen Chart.

i. Pemeriksaan nervus III (Occulomotoris refleks cahaya)

1) Pen light dinyalakan mulai dari samping) atau, kemudian cahaya diarahkan pada salah satu pupil yang akan diperiksa, maka akan ada rekasi miosis.

2) Apakah pupil isokor kiri atau kanan.

j. Pemeriksaan Nervus IV (Troclearis) pergerakan bola mata Menganjurkan klie n unt uk me lihat ke at as dan ke bawah.

k. Pemeriksaan nervus VI (Abdusen)

Menganjurkan klie n unt uk me lihat ke kanan dan kekiri.

l. Pemeriksaan nervus V( Trigeminus) Refleks kornea 1) Tutup mata yang satu dengan penutup

2) Minta klien untuk melirik kearah laterosuperior (mata yang tidak diperiksa) 3) Sentuhkan pilinan kapas pada kornea, respon refleks berupa kedipan kedua

mata secara cepat.

4) Glaberal refleks: mengetuk dahi diantara kedua mata, hasil positif bila tiap ketukan mengakibatkan kedua mata klien berkedip.

5) Doll eye refleks : bayi dipalingkan dan mata akan ikut ,tapi hanya berfokus pada satu titik.

m. Periksa pelupuk mata bagian bawah, dan minta klien melihat ke atas

n. Periksa warna konjungtiva

(24)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 23 o. Periksa warna sclera

p. Periksa warna, bentuk, dan ukuran iris

q. Periksa ukuran kesamaan, dan respon pupil terhadap cahaya

Temuan

Konjungtiva berwarna merah Infeksi Konjungtiva bengkak Reaksi alergi Konjungtiva pucat Anemia (anemis) Sklera normal putih

Sklera kuning Ikterik (hpetitis, hiperbilirubinemia) Sclera kebiru – biruan Osteogenesis imperfekta, glaucoma.

4. HIDUNG

a. Posisi hidung apakah simetris kiri kanan

b. Jembatan hidung apakah ada atau tidak ada, jika tidak ada diduga down syndrome.

c. Cuping hidung masih keras pada umur < 40 hari

d. Pasase udara : gunakan kapas da n letakkan di depan hidung, dan apabila bulu kapas bergerak, berarti bayi bernafas.

e. Gunakan speculum hidung untuk melihat pembuluh darah mukosa, secret, polip,atau deviasi septum

f. Pemeriksaan nervus I ( Olfaktoris)

g. Tutup salah satu lubang hidung klien ,berikan bau bauan, lalu klien diminta

untuk menyebutkan bau apa. Tiap hidung diuji secara terpisah.

(25)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 24 5. MULUT

a. Bibir kering atau pecah – pecah b. Periksa labio schizis

c. Periksa gigi dan gusi apakah ada perdarahan atau pembengkakan.

d. Tekan pangkal lida h de ngan menggunaka n spat el,has il po s it if bila adarefleks muntah (Gags refleks)

e. Perhatikan uvula apakah simetris kiri dan kanan

f. Pemeriksaan nervus X ( VAGUS )

Tekan lidah dengan menggunakan spatel, dan anjurkan klien u n t u k mengatakan “ AH “ dan perhatikan uvula apakah terangkat.

g. Pemeriksaan nervus VII ( facialis) sensoris

Tetesi bagian 2/3 anterior lidah dengan rasa asin, manis dan pahit,kemudian menentukan zat apa yang dirasakan dan 1/3 bagian belakang lidah untuk pemeriksaan Nervus IX.

h. Pemeriksaan Nervus XI Hipoglosus

M e n y u r u h pasien u nt uk menju lurkan lid ah lurus lurus kemud ia n menarik dengan cepat dan disuruh menggerakkan lidah ke kiri dan kekana n dan se ment ara it u pe mer iksa me lakukan pa lpa s i pada kedua pipi untuk merasakan kekuatan lidah.

6. TELINGA

a. Simetris kiri dan kanan

b. Daun telinga dilipat, dan lama baru kembali ke posisi semula menunjukkan tulang rawan masih lunak.

c. Canalis auditorious ditarik ke bawah kemudian ke belakang, untuk melihat

apakah ada serumen atau cairan.

(26)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 25 d. Pemeriksaan tes nervus VIII (Acustikus):

1) menggesekkan rambut, atau tes bisik.

2) Mendengarkan garpu tala (Tes Rinne,Weber)

3) Starter refleks : tepuk tangan dekat telinga, mata akan berkedip.

7. LEHER

a. Lipatan leher 2-3 kali lipat lebih pendek dari orang dewasa.

b. Periksa arteri karotis c. Vena Jugularis

1) posisi pasien semifowler 45 dan dimiringkan, tekan daerah nodus krokoideus maka akan tampak adanya vena.

2) Taruh mistar pada awal dan akhir pembesaran vena tersebut kemudian tarik garis imajiner untuk menentukan panjangnya.

d. Raba tiroid : daerah tiroid ditekan,dan pasien disuruh untuk menelan, apakah ada pembesaran atau tidak.

e. Pemeriksaan nervus XII (Asesoris)

Menganjurkan klien memalingkan kepala, lalu disuruh untuk menghadap kedepa n, pemeriksa memberi tahanan terhadap kepala. Sambil meraba otot sternokleidomasatodeus.

8. DADA

a. Bentuk dada apakah simetris kiri dan kanan

b. Bentuk dada barrel anterior – posterior dan tranversal hampir sama 1:1 dan dewasa 1: 2

c. Suara tracheal : pada daerah trachea, intensitas tinggi, ICS 2

(27)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 26 d. Suara bronchial : pada percabangan bronchus, pada saat udara masuk,

intensitas keras pada ICS 4-5

e. Suara broncho vesikuler : pada bronchus sebelum alveolus, intensitas sedang ICS 5.

f. Suara vesikuler : pada seluruh bagian lateral paru, intensitas rendah g. Wheezing terdengar pada saat inspirasi dan rales pada saat ekspirasi h. Perkusi pada daerah paru suara yang ditimbulkan adalah sonor i. Apeks jantung pada mid klavikula kiri intercostal 5

j. Batas jantung pada sternal kanan ICS 2 (bunyi katup aorta),sternal kiri ICS 2 (bunyi katup pulmonal), sternal kiri ICS 3-4 (bunyi katup tricuspid), sternal kiri mid klavikula ICS 5 (bunyi katup mitral).

k. Perkusi pada daerah jantung adalah pekak.

9. ABDOMEN

a. Observasi adanya pembengkakan atau perdarahan.

b. Observasi distensi abdomen.

c. Terdengar suara peristaltic usus.

d. Palpasi pada daerah hati, teraba 1 – 2 cm dibawah costa, panjangnya pada garis media clavikula 6 – 12 cm.

e. Palpasi pada daerah limpa pada kuadran kiri atas Perkusi pada daerah hati suara yang ditimbulkan adakah pekak. Perkusi pada daerah lambung suara yang ditimbulkan adalah timpani

10. PUNGGUNG

a. Periksa apakah ada skoliosis, lordosis, kifosis

11. TANGAN

a. Jumlah jari – jari polidaktil (> dari 5), sindaktil (jari – jari bersatu)

b. Pada anak kuku dikebawakan, dan tidak patah, kalau patah diduga kelainan nutrisi.

c. Ujung jari halus

(28)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 27 d. Kuku klubbing finger < 180 ,bila lebih 180 diduga kelainan system pernafasan

12. PELVIS

a. Tredelenburg test : berdiri angkat satu kaki, lihat posisi pelvis apaka h simetris kiri dan kanan.

b. Waddling gait : jalan seperti bebek.

(29)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 28 c. Tho mas t est : lut ut kanan d it ekuk dan d ir apat kan ke dada,sakit dan

lut ut kiri akan terangkat

13. LUTUT

a. Ballotemen patella : tekan mendorong kuat akan menimbulkan bunyi klik jika ada cairan diantaranya

b. Mengurut kantong supra patella kebawah akan timbul tonjolan pada kedua sisi tibia jika ada cairan diduga ada atritis.

c. Reflek patella, dan hamstring.

(30)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 29 14. KULIT

Inspeksi

warna dan pigmentasi

Coklat Menunjukkan penyakit Addison

Biru kemerahan Polisitemia

Merah Terpapar dingin, hipertermia, alcohol, inflamasi Biru Sianosis perifer / sentral ( bibir, mulut, ujuang jari

/ kuku, badan sacara keseluruhan)

Kuning Ikterus ( hiperbilirubinemia)

Hepatitis, obstruksi saluran empedu.

Area kulit terbuka yang berwarna kuning

Penyakit ginjal kronik

Kekurangan warna, kulit, rambut, mata

Albinisme

Pucat Sinkop, demam, syok, anemia,

Palpasi

- hipertemi / hipotermi

Palpasi dan inspeksi untuk menentukan lesi - lesi primer (muncul dari kulit normal)

macula (<1cm & rata), papula (<1cm, padat & menonjol), nodul (1-2 cm, masam padat & lebih dalam dari nodul), tumor, wheal (bentol), vasikel (< 1cm, berisi cairan), bula (lebih besar dari vesikel), pustule (vesikel yg berisi cairan eksudat) - Lesi Sekunder ( perubahan dari primer)

Sisik, Krusta (residu serum, darah, eksudat yg mengering), Erosi (lesi basah), Ulkus,

fisura (retakan contoh pada kaki), Striae, petekia, ekimosis,

(31)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 30 E. CHECK LIST PENILAIAN (TOOLS)

NO ASPEK YANG DINILAI BOBOT Skore

0 1 2

A. FASE ORIENTASI

1 Mengucapkan salam 1

2 Memperkenalkan diri 1

3 Menjelaskan tujuan 1

4 Menjelaskan prosedur 1

5 Mananyakan kesiapan pasien dan keluarga 1

B. FASE KERJA

1 Mencuci tangan 1

2

Mengajak pasien dan keluarga membaca

Basmalah/berdo'a 1

3 Menutup sampiran/ jendela 1

4 Memakai sarung tangan (Tergantung situasi/kasus) 1

5 Melakukan pemeriksaan KEPALA 2

6 Melakukan pemeriksaan MUKA 2

7 Melakukan pemeriksaan MATA 2

8 Melakukan pemeriksaan HIDUNG 2

9 Melakukan pemeriksaan MULUT 2

10 Melakukan pemeriksaan TELINGA 2

11 Melakukan pemeriksaan LEHER 2

12 Melakukan pemeriksaan DADA 2

13 Melakukan pemeriksaan ABDOMEN 2

14 Melakukan pemeriksaan PUNGGUNG 2

15 Melakukan pemeriksaan TANGAN 2

16 Melakukan pemeriksaan PELVIS 2

17 Melakukan pemeriksaan LUTUT 2

18 Melakukan pemeriksaan KAKI 2

19 Merapikan kembali alat-alat 1

20 Melepaskan sarung tangan 1

21 Merapikan pasien 1

22 Mencuci tangan 1

C. FASE TERMINASI

1 Melakukan evaluasi 1

2

Mengajak pasien dan keluarga membaca

hamdalah/berdo'a 1

3 Menyampaikan rencana tindak lanjut 1 4

Berpamitan dan berterimakasih atas kerjasamanya

serta menyampaikan kontrak yang akan datang 1

(32)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 31

5 Dokumentasi 1

D. PENAMPILAN SELAMA TINDAKAN

1 Ketenangan selama melakukan tindakan 1

2 Melakukan komunikasi terapeutik 1

3 Menjaga keamanan pasien 1

4 Menjaga keamanan perawat 1

TOTAL SKORE

(33)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 32

Pemeriksaan Antopometri

A. SASARAN BELAJAR

1. Mahasiswa mampu memahami prosedur tindakan Pemeriksaan Antropometri 2. Mahasiswa mampu melakukan persiapan untuk tindakan pemeriksaan Antropometri 3. Mahasiswa mampu melakukan skill pemeriksaan Antropometri

B. RENCANA PEMBELAJARAN

Waktu praktikum : 1 x 100 menit

Panduan instrukstur : 1. 10 menit : persiapan dan pre test materi

6. 30 menit : mendemonstrasikan skill Anamnesa dan pemeriksaan fisik kehamilan

7. 30 menit : membimbing mahasiswa dalam melatih kemampuan melakukan skill Anamnesa dan pemeriksaan fisik kehamilan 8. 10 menit : memberikan umpan balik

9. 20 menit : mengobservasi dan mengevaluasi skill mandiri mahasiswa

Panduan Mahasiswa : 1. 10 menit : persiapan dan mengerjakan soal pre test 6. 30 menit : mahasiswa mengamati demonstrasi

yang dilakukan oleh instruktur 7. 30 menit : mahasiswa melatih kemampuan dalam

melakukan skill Anamnesa dan pemeriksaan fisik kehamilan dibawah bimbingan instruktur

8. 10 menit : mahasiwa merespon umpan balik dari instrukstur

9. 20 menit : mahasiswa melakukan skill anamnesa

dan pemeriksaan fisik kehamilan secara

mandiri dengan diobservasi dan

dievaluasi oleh instruktur

(34)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 33 C. DASAR TEORI

Pemeriksaan yang dilakukan pada bayi atau anak meliputi pemeriksaan lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan, tinggi badan dan berat badan dengan tujuan:

1. Mengetahui tingkat pertumbuhan anak atau bayi 2. Mengetahui status gizi anak atau bayi

3. Mendeteksi jika ada kelainan tumbuh kembang sejak dini.

D. PERALATAN DAN BAHAN 1. Timbangan badan 2. Metline

3. Pengukur tinggi badan 4. Pita ukur

5. Bolpoint 6. Kertas

E. PROSEDUR PELAKSANAAN 1. Tahap Pra Interaksi

a. Mengecek program terapi / verifikasi data bila ada

b. Mencuci tangan dengan sabun (usahakan sabun anti septik) c. Menyiapkan alat

2. Tahap Orientasi

a. Memberi salam kepada pasien,sapa nama pasien, menanyakan keadaan dan memperkenalkan diri

b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan

c. Menanyakan persetujuan atau kesiapan pasien / keluarga 3. Tahap Kerja

a. Menjaga privacy

b.Mengajak pasien / keluarga berdo’a

c. Mengukur tinggi badan / panjang badan dengan posisi lutut tidak menekuk, dengan posisi:

1) Recumben : < 24 s/d 36 bulan dihitung mulai dari vertex sampai dengan tumit 2) Berdiri : > 24 – 36 bulan

Dengan nilai normal :

1) New born : 48 – 53 cm

2) 1 tahun : 1,5 X PB lahir

3) > 1 tahun : 80 X 5N ⇒ (N : umur)

(35)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 34 Refrensi lain

a) 2 – 12 tahun : usia X 2,5 + 30 inc b) 4 tahun : 2 X PB lahir

c) > 4 tahun : bertambah 5 cm / th, dan berhenti 17 – 19 th d) 13 tahun : 3 X PB lahir

d.Mengukur lingkar kepala dengan cara di ukur mulai dari atas alis dan pinna melingkari oksipital kranium, dengan nilai normal :

1) New born : 33 – 35 cm 2) Lingkar kepala > 2-3 cm : lingkar dada 3) Anak-anak : lingkar dada > 5-7 : lingkar dada e.Melepaskan pakaian anak

f. Mengukur lingkar dada dengan teknik menghitung keliling dada yaitu melalui garis putting pada saat inspirasi dan ekspirasi kemudian ambil rata-ratanya

g.Mengukur lingkar lengan dengan teknik mengukur panjang lengan atas kemudian membagi dua hasil pengukuran, dari hasil tersebut letakkan metline mengelilingi lengan. (pada anak usia 1 -5 tahun pengukuran lingkar lengan juga menunjukkan status gizi)

1) <12,5 cm : gizi buruk (merah) 2) 12,5 -13,5cm : gizi kurang (kuning) 3) > 13,5 : gizi baik (hijau) h.Menimbang anak

1) Timbang bayi atau anak dalam keadaan telanjang (lindungi bayi agar tidak jatuh) 2) Hitung sampai 10 gr terdekat untuk bayi dan 100 gr terdekat untuk anak

3) Rule of thumb:

a) New born : 2500 – 4000 gr b) 4 – 5 bulan : 2 X BBL c) 12 bulan : 3 X BBL

d) selanjutnya : 8 + 2N ⇒ (N : umur) 4. Tahap Terminasi

a. Merapikan pasien / bayi

b. Mengevaluasi tindakan yang baru dilakukan c. Mengajak pasien / keluarga berdo’a

d. Merapikan alat

e. Menyampaikan Rencana Tindak Lanjut

(36)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 35 f. Berpamitan dengan pasien / keluarga

g. Mencuci tangan

h. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

F. CEKLIST PENILAIAN (TOOLS)

NO ASPEK YANG DINILAI BOBOT SKORE

0 1 2 A FASE ORIENTASI

Mengucapkan Salam/menyapa nama pasien 1

Memperkenalka diri 1

Menjelaskan Tujuan 1

Menjelaskan Prosedur Tindakan 1

Meminta Ijin Pada Anak dan Orang Tua 1 B FASE KERJA

Mencuci Tangan 1

Menutup Sampiran dan Jendela 1

Mengajak Pasien dan Keluarga berdoa/ membaca Basmalah

1 Mengukur Panjang / tinggi Badan Anak dengan

posisi lutut tidak menekuk

5

Mengukur lingkar kepala Anak 5

Melepaskan Pakaian Anak 2

Mengukur Lingkar Dada Anak 5

Mengukur Lingkar Lengan Atas Anak 5

Menimbang Anak 5

Memakaikan kembali pakaian Anak 2

Mencuci tangan 1

C FASE TERMINASI

Melakukan evaluasi 2

Mengaja pasien dan keluarga berdoa / membaca hamdalah

1 Menyampaikan rencana Tindak lanjut 2 Berpamitan pada Pasien dan menyampaikan

kontrak yang akan datang

1

Dokumentasi 1

D PENAMPILAN SELAMA TINDAKAN

Ketenangan Selama Melakukan tindakan 1

Melakukan komunikasi terapiutik 1

Menjaga keamanan pasien 1

Menjaga keamanan perawat 1

TOTAL SKORE

(37)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 36

Pemasangan Dan Pemberian Makan Melalui Naso Gastric Tube (NGT) Pada Bayi

A. SASARAN BELAJAR

1. Mahasiswa mampu memahami prosedur tindakan pemasangan dan pemberian makan melalui NGT pada bayi

2. Mahasiswa mampu melakukan persiapan untuk tindakan pemasangan dan pemberian makan melalui NGT pada bayi

3. Mahasiswa mampu melakukan skill pemasangan dan pemberian makan melalui NGT pada bayi secara mandiri

B. RENCANA PEMBELAJARAN

Waktu praktikum : 1 x 100 menit

Panduan instrukstur : 1. 10 menit : persiapan dan pre test materi

2. 30 menit : mendemonstrasikan skill pemasangan dan pemberian makan melalui NGT pada bayi

3. 30 menit : membimbing mahasiswa dalam melatih kemampuan melakukan

skillpemasangan dan pemberian makan melalui NGT pada bayi

4. 10 menit : memberikan umpan balik

5. 20 menit : mengobservasi dan mengevaluasi skill mandiri mahasiswa

Panduan Mahasiswa : 1. 10 menit : persiapan dan mengerjakan soal pre test 2. 30 menit : mahasiswa mengamati demonstrasi

yang dilakukan oleh instruktur 3. 30 menit : mahasiswa melatih kemampuan dalam

melakukan skill pemasangan dan pemberian makan melalui NGT pada bayi dibawah bimbingan instruktur 4. 10 menit : mahasiwa merespon umpan balik dari

instrukstur

5. 20 menit : mahasiswa melakukan skill pemasangan

dan pemberian makan melalui NGT

pada bayi secara mandiri dengan

diobservasi dan dievaluasi oleh

instruktur

(38)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 37 C. PERALATAN DAN BAHAN

Memasang NGT

1. Selang NGT sesuai ukuran 2. Klem

3. Spuit 3 cc/5 cc 4. Stetoskop

5. Gelas berisi air matang 6. Plaster dan gunting 7. Kain kassa

8. Pelumas (jelly) 9. Perlak dan pengalas 10. Bengkok

11. Sarung tangan steril

12. Tongue spatel dan senter (jika diperlukan ) Memberi Makan Melalui NGT

1. Air matang

2. Makanan cair / obat 3. Corong/barel spuit 4. Spuit 5cc /10 cc 5. Klem

6. Tissue

7. Perlak dan Pengalas 8. Bengkok

9. Sarung tangan

(39)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 38 D. DASAR TEORI

6.

7.

pH 5,5 atau

1. Periksa tanda dari posisi tube yang tidak tepat dan ukur posisi tube

2. Reposisi tube jika diperlukan

3. Aspirasi cairan lambung menggunakan syringe ukuran 20 ml secara lembut

Tes menggunakan kertas pH

JANGAN DIBERIKAN MAKANAN 1. Jika memungkinkan posisikan

pasien miring.

2. Menggunakan syringe 20 atau 50 ml, masukan udara 1-5 ml dan aspirasi lagi.

3. Jika tidak ada aspirasi, tunggu 15 – 30 menit dengan keadaan drainase tube terbuka dan letaknya lebih rendah dari pasien

4. Aspirasi kembali

5. Juika tidak ada ada aspirasi, tarik tube 1 – 2 cm, lalu aspirasi lagi.

JANGAN DIBERIKAN MAKANAN 1. Tunggu 30 – 60 menit 2. Aspirasi kembali

Dapat diberikan makanan

JANGAN DIBERIKAN MAKANAN

1. Konsultasikan dengan perawat ruangan yang lebih berpengalaman atau tim medis.

2. Pertimbangkan reposisi NGT dan atau periksa posisi NGT menggunakan X-ray

Jika didapatkan aspirasi sebanyak 0,5 – 1 ml

Jika pH 5,5 atau dibawahnya Jika didapatkan aspirasi

sebanyak 0,5 – 1 ml

PENGGUNAAN KERTAS PH UNTUK MENENTUKAN POSISI NGT &

KESIAPAN LAMBUNG UNTUK MENERIMA MAKANAN

YA TIDAK

pH 5,5 atau dibawahnya YA YA

TIDAK

YA

TIDAK

TIDAK

(40)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 39 E. Sumber:

National Patient Safety Agency in Patient Safety Alert (2005) dalam Davies, J.H., & Hassell, L.L. (2007). Children in Intensive Care, a Survival Guide. Elsevier. Churchill Livingston.

Philadelphia.

F. PROSEDUR KETRAMPILAN Memasang NGT/ OGT

1. Tahap Pra Interaksi

a. Mengecek program terapi.

b. Mencuci tangan.

c. Mengidentifikasi pasien dengan benar.

d. Menyiapkan dan mendekatkan alat ke dekat pasien.

2. Tahap Orientasi

a. Mengucapkan salam, menyapa nama pasien, memperkenalkan diri.

b. Melakukan kontrak untuk tindakan yang akan dilakukan.

c. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.

d. Menanyakan kesiapan dan meminta kerja sama pasien.

3. Tahap Kerja

a. Menjaga privacy.

b. Mengajak pasien membaca Basmalah dan berdoa.

c. Tempatkan anak dalam posisi terlentang dengan kepala sedikit hiperfleksi d. Memasang pengalas di atas dada.

e. Memakai sarung tangan.

f. Ukur selang Untuk memeperkirakan panjang pemasangan dan tandai titik dengan plester kecil. Dengan metode pengukuran sebagai berikut:

1) Mengukur dari hidung ke daun telinga dan kemudian ke ujung prosesus xifoidius atau

2) Mengukur dari hidung ke daun telinga dan kemudian ke titik tengah antara prosesus xifoidius dan umbilicus (perhatikan jangan sampai selang menyentuh permukaan terkontaminasi).

Berat badan Panjang insersi (cm)

> 750 13

750 - 999 15

1000 - 1249 15

1250 - 1499 17

g. Menutup pangkal selang dengan spuit/klem (mencegah masuknya udara ke dalam lambung karena dapat mengakibatkan pasien menjadi kembung).

h. Mengolesi ujung slang dengan pelumas larut air / air steril.

i. Melalui salah satu lubang hidung atau mulut sesuai ukuran panjang NGT/OGT yang akan dipasang ditentukan:

Tabel :

panjang insersi

minimum yang

dianjurkan untuk

selang orogastrik

pada bayi dengan

BBLR

(41)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 40 1) Jika menggunakan hidung, masukan selang di sepanjang dasar hidung dan arahkan

lurus ke belakang oksiput (untuk NGT).

2) Jika memasukkan selang melalui mulut (OGT) arahkan selang ke arah belakang tenggorok

3) Jika anak mampu menelan sesuai perintah, sesuaikan pemasukan selang dengan penelanan.

4) Jika bayi atau anak menunjukan tanda-tanda distress seperti gasping, batuk, atau cyanosis, tarik selang secepatnya.

j. Memeriksa posisi selang dengan cara :

1) Periksa posisi NGT untuk memastikan berada di lambung dengan mengaspirasi cairan lambung. Aspirasi sampel cairan lambung (>2 ml) bukan saja residu dari selang. Teteskan cairan pada kertas pH, lihat reaksi keasaman cairan (pH 5,5 atau dibawahnya) dan tulis pada catatan cairan. Jika cairan aspirasi lambung memiliki pH diatas 5,5 atau tidak didapatkan cairan aspirasi lambung maka lakukan tindakan sesuai flowchart (materi).

2) Jika ada keraguan terhadap letak selang NGT, konsultasikan hal tersebut dan mungkin akan dilakukan radiografi. (tidak direkomendasikan untuk memasukkan ujung NGT ke dalam gelas berisi air).

k. Menutup ujung NGT dengan spuit / klem atau disesuaikan dengan tujuan pemasangan.

l. Stabilkan selang dengan menahannya atau memfiksasi menggunakan plester hypoallergenic ke pipi, bukan ke dahi karena kemungkinan terjadi kerusakan pada lubang hidung, ukur dan catat jumlah panjang selang yang di masukan dari hidung atau mulut ke lubang bagian distal saat selang dipasang Untuk pertama kalinya, periksa ulang pengukuran ini tiap kali sebelum pemberian makanan.

4. Tahap terminasi

a. Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan.

b. Menyampaikan rencana tindak lanjut / RTL c. Merapikan pasien dan lingkungan.

d. Mengajak pasien membaca Hamdalah dan berdoa kepada Allah.

e. Berpamitan dengan pasien dan menyampaikan kontrak yang akan datang.

f. Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula.

g. Mencuci tangan.

h. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

(42)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 41 Memberi Makan Melalui NGT/ OGT

1. Tahap Pra Interaksi

a. Mengecek program terapi.

b. Mencuci tangan.

c. Mengidentifikasi pasien dengan benar.

d. Menyiapkan dan mendekatkan alat ke dekat pasien.

2. Tahap Orientasi

a. Mengucapkan salam, menyapa nama pasien, memperkenalkan diri.

b. Melakukan kontrak untuk tindakan yang akan dilakukan.

c. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.

d. Menanyakan kesiapan dan meminta kerja sama pasien.

3. Tahap Kerja

a. Menjaga privacy.

b. Mengajak pasien membaca Basmalah dan berdoa.

c. Memastikan kehangatan makanan cair/susu

d. Mengukur jumlah makanan cair yang akan diberikan sesuai kebutuhan pasien e. Memasang pengalas di atas dada.

f. Memakai sarung tangan.

g. Jika mungkin gendong bayi / anak selama pemberian makan (untuk memberikan kenyamanan kontak fisik selama prosedur) bila hal ini tidak mungkin, tempatkan bayi atau anak pada posisi terlentang atau sedikit miring ke kanan dengan kepala dan dada agak di tinggikan

1) Gunakan lipatan selimut di bawah kepala dan bahu untuk bayi dan bantal untuk anak kecil.

2) Tinggikan kepel tempat tidur untuk anak yang lebih besar

3) Bila memungkin biarkan anak mengisap empeng selama pemberian makan untuk memberikan hisapan dan kepuasan.

h. Memeriksa ulang ukuran panjang NGT/ OGT yang masuk pada bayi / anak

i. Memastikan letak NGT/ OGT dengan cara mengaspirasi isi lambung menggunakan spuit. Jika posisi tidak tepat segera laporkan pada perawat yang bertanggung jawab untuk dilepas.

j. Memasang klem pada selang NGT/ OGT.

k. Memasang corong/barel spuit pada pangkal NGT/ OGT dan memposisikan corong

diantara pasien dan perawat.

(43)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 42 l. Menuangkan air matang/steril (1-2 ml untuk selang kecil, 5-15 ml untuk selang yang

besar) ke corong/barel secara perlahan.

m. Buka klem untuk mengalirkan cairan ke dalam lambung, biarkan air mengalir ke dalam lambung berdasarkan gravitasi.

n. Tutup kembali selang dengan klem sebelum air habis untuk mencegah masuknya udara ke lambung.

o. Tuangkan makanan cair/susu yang telah diukur ke dalam corong/barel spuit.

p. Buka klem dan biarkan susu mengalir ke dalam lambung berdasarkan gravitasi.

Kecepatan aliran tidak boleh lebih dari 5 ml setiap 5 – 10 menit pada bayi prematur dan bayi yang sangat kecil dan 10 ml/menit pada bayi yang lebih besar dan anak- anak, untuk mencegah mual dan regurgitasi

q. Klem selang untuk mencegah hilangnya makanan.

r. Bilas selang dengan menuangkan air matang/steril (1-2 ml untuk selang kecil, 5-15 ml atau lebih untuk selang yang besar).

s. Tutup kembali selang dengan klem sebelum air habis untuk mencegah masuknya udara ke lambung.

t. Tempatkan anak pada posisi miring ke kanan atau tengkurap selama sedikitnya 1 jam dengan cara yang sama pada pemberian makan (untuk meminimalkan kemungkinan regurgitasi dan aspirasi) dan bila kondisi anak memungkinkan, sendawakan anak setelah pemberian makan.

u. Membersihkan sisa makanan pada selang.

4. Tahap terminasi

a. Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan.

b. Menyampaikan rencana tindak lanjut / RTL c. Merapikan pasien dan lingkungan.

d. Mengajak pasien membaca Hamdalah dan berdoa kepada Allah.

e. Berpamitan dengan pasien dan menyampaikan kontrak yang akan datang.

f. Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula.

g. Mencuci tangan.

h. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

(44)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 43 G. CHECK LIST PENILAIAN (TOOLS)

TOOLS PEMASANGAN NGT

NO ASPEK YANG DINILAI BOBOT SKORE

0 1 2 Tahap Pra Interaksi

1. Mengecek program terapi 1

2. Mencuci tangan 1

3. Mengidentifikasi pasien dengan benar 1 4. Menyiapkan dan mendekatkan alat ke pasien 1 Tahap Orientasi

1. Salam, sapa, perkenalkan diri 1

2. Melakukan kontrak 1

3. Menjelaskan tujuan 1

4. Menjelaskan prosedur 1

5. Menanyakan kesiapan dan kerjasama pasien 1 Tahap Kerja

1. Menjaga privacy 1

2. Mengajak pasien membaca Basmalah 1

3. Memposisikan anak terlentang dengan kepala

sedikit hiperfleksi 2

4. Memasang pengalas di atas dada. 1

5. Memakai sarung tangan. 2

6.

Mengukur selang (dari hidung ke daun telinga dan kemudian ke ujung prosesus xifoidius atau dari hidung ke daun telinga dan kemudian ke titik tengah antara prosesus xifoidius dan umbilicus) dan tandai titik dengan plester kecil

4

7. Menutup pangkal selang dengan spuit/klem 3 8. Mengolesi ujung NGT/ OGT dengan pelumas

berbahan dasar air/air steril 2

9.

Memasukkan selang : Jika menggunakan salah satu lubang hidung, masukan selang di sepanjang dasar hidung dan arahkan lurus ke belakang oksiput; Jika memasukkan selang melalui mulut

3

(45)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 44 arahkan selang ke arah belakang tenggorok

10. Minta anak menelan (jika mampu), masukkan

perlahan sesuaikan dengan penelanan anak 2

11.

Periksa posisi NGT/ OGT untuk memastikan berada di lambung dengan mengaspirasi cairan lambung (>2 ml) bukan saja residu dari selang.

Teteskan cairan pada kertas pH, lihat reaksi keasaman cairan (pH 5,5 atau dibawahnya). Jika cairan aspirasi lambung memiliki pH diatas 5,5 atau tidak didapatkan cairan aspirasi

lambung,lakukan tindakan sesuai flowchart (materi).

3

12. Menutup ujung NGT/ OGT dengan spuit / klem 3 13. Melakukan fiksasi NGT/ OGT di depan hidung /

pipi 2

14.

Ukur dan catat jumlah panjang selang yang di masukkan dari hidung atau mulut ke lubang bagian distal

2

Tahap Terminasi

1. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan 1 2. Menyampaikan rencana tindak lanjut / RTL 1

3. Mengajak pasien membaca Hamdalah 1

4. Berpamitan dan menyampaikan kontrak yg akan

datang 1

5. Membereskan dan mengembalikan alat 1

6. Mencuci tangan 1

7. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan

keperawatan 1

Penampilan selama tindakan

1. Ketenangan 1

2. Menjaga keamanan dan kenyamanan pasien 1 3. Menggunakan tehnik komunikasi terapeutik 1

TOTAL SCORE

(46)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 45 TOOLS MEMBERIKAN MAKAN MELALUI NGT

NO ASPEK YANG DINILAI BOBOT SKORE

0 1 2 Tahap Pra Interaksi

1. Mengecek program terapi 1

2. Mencuci tangan 1

3. Mengidentifikasi pasien dengan benar 1 4. Menyiapkan dan mendekatkan alat ke pasien 1 Tahap Orientasi

1. Salam, sapa, perkenalkan diri 1

2. Melakukan kontrak 1

3. Menjelaskan tujuan 1

4. Menjelaskan prosedur 1

5. Menanyakan kesiapan dan kerjasama pasien 1 Tahap Kerja

1. Menjaga privacy 1

2. Mengajak pasien membaca Basmalah 1

3. Memastikan kehangatan makanan cair/susu 1 4. Mengukur jumlah makanan cair yang akan

diberikan 2

5. Memasang pengalas di atas dada. 1

6. Memakai sarung tangan. 1

7.

Gendong bayi / anak, atau posisikan terlentang atau sedikit miring ke kanan dengan kepala dan dada agak di tinggikan

2

8. Memeriksa ulang ukuran panjang NGT/ OGT

yang masuk pada bayi / anak 1

9. Memastikan letak NGT/ OGT dengan cara

mengaspirasi isi lambung menggunakan spuit 2 10. Memasang klem pada selang NGT/ OGT 2

11.

Memasang corong/barel spuit pada NGT/ OGT dan memposisikan corong diantara pasien dan perawat

2

12. Menuangkan air matang/steril (1-2 ml untuk 2

(47)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 46 selang kecil, 5-15 ml untuk selang yang besar)

13.

Buka klem untuk mengalirkan cairan ke dalam lambung, biarkan alir mengalir sesuai gravitasi dan tutup kembali sebelum air habis

2

14. Menuangkan makanan cair/susu ke dalam

corong/barel 2

15. Buka klem dan tutup kembali sebelum susu habis 2 16. Bilas selang dengan air matang/steril 2 17. Tutup atau klem selang sebelum air habis 2

18.

Tempatkan anak pada posisi miring ke kanan atau tengkurap selama sedikitnya 1 jam, sendawakan anak setelah pemberian makan

2

19. Membersihkan sisa makanan pada selang 1 Tahap Terminasi

1. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan 1 2. Menyampaikan rencana tindak lanjut / RTL 1

3. Mengajak pasien membaca Hamdalah 1

4. Berpamitan dengan pasien dan menyampaikan

kontrak yang akan dating 1

5. Membereskan dan mengembalikan alat 1

6. Mencuci tangan 1

7. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan

keperawatan 1

Penampilan selama tindakan

1. Ketenangan 1

2. Menjaga keamanan dan kenyamanan pasien 1 3. Menggunakan tehnik komunikasi terapeutik 1

TOTAL SCORE

(48)

Buku Panduan Praktikum Keperawatan Anak 47

Pemberian Foto Terapi

A. SASARAN BELAJAR

1. Mahasiswa mampu memahami prosedur tindakan pemberian fototerapi 2. Mahasiswa mampu melakukan persiapan untuk tindakan pemberian fototerapi 3. Mahasiswa mampu melakukan skill pemberian fototerapi secara mandiri

B. RENCANA PEMBELAJARAN

Waktu praktikum : 1 x 100 menit

Panduan instrukstur : 1. 10 menit : persiapan dan pre test materi 2. 30 menit : mendemonstrasikan skill pemberian

fototerapi

3. 30 menit : membimbing mahasiswa dalam melatih kemampuan melakukan skillpemberian fototerapi 4. 10 menit : memberikan umpan balik 5. 20 menit : mengobservasi dan mengevaluasi

skill mandiri mahasiswa

Panduan Mahasiswa : 1. 10 menit : persiapan dan mengerjakan soal pre test

2. 30 menit : mahasiswa mengamati demonstrasi yang dilakukan oleh instruktur 3. 30 menit : mahasiswa melatih kemampuan

dalam melakukan skill pemberian fototerapi dibawah bimbingan instruktur

4. 10 menit : mahasiwa merespon umpan balik dari instrukstur

5. 20 menit : mahasiswa melakukan skill

pemberian fototerapi secara mandiri

dengan diobservasi oleh instruktur

Gambar

Tabel :  panjang insersi  minimum yang  dianjurkan untuk  selang orogastrik  pada bayi dengan  BBLR

Referensi

Dokumen terkait

Adalah angkutan dari satu kota ke kota lain yang melalui antar daerah kabupaten atau kota dalam suatu daerah provinsi dengan menggunakan mobil bus umum yang

Dengan data di atas dapat disimpulkan bahwa pengunjung terbanyak adalah responden yang baru pertama kali mengunjungi daya tarik wisata Panorama Pabangbon sebanyak

Hasil temu kembali dari masing-masing ukuran koefisien kesamaan akan dibandingkan berdasarkan 3 hal yaitu recall dan average precision, waktu komputasi dan

Menjelaskan konsep strategi pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai utama karakter pada pendidikan anak usia dini yang dikembangkan secara terinci dan

Setelah melakukan wawancara terhadap beberapa siswa yang memperoleh nilai tinggi maupun rendah di dalam kelas, guru mengetahui bahwa tingkat motivasi dan

Pemanfaatan limbah dari sisa pengolahan tepung aren yang berupa kulit kayu dan ampas (serat) kayu aren, serta karet ban bekas diperkirakan dapat meningkatkan kualitas

Obyek wisata tersebut adalah Pantai Karangbata dan Pantai Manganti, Pantai Puring, Pantai Ambal dan Pantai Rowo Mirit; (2) Kabupaten Kebumen yang memiliki banyak sekali obyek

Kriteria seleksi untuk ketahanan terhadap bercak daun digunakan karakter persentase panjang batang utama berdaun hijau, sedangkan untuk kriteria daya hasil digunakan