• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KERANGKA TEORI"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

13 A. Landasan Teori

1. Bank Syariah

a. Pengertian Bank Syariah

Bank Islam atau bank syariah, adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga, bank syariah juga dapat diartikan sebagai lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.17 Secara konsep, bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah islam, yaitu mengedepankan keadilan, kemitraan, keterbukaan dan universalitas bagi seluruh kalangan.18

Keberadaan bank syariah ditengah - tengah perbankan konvensional adalah untuk menawarkan sistem perbankan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan layanan jasa perbankan tanpa harus khawatir atas persoalan bunga (riba). Bank syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip islam dan tradisinya kedalam transaksi keuangan dan

17 Zainul Arifin. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah (Jakarta; Pustaka Alvabet, 2005).

Hlm 1

18Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah (Yogyakarta: Ekonisia, 2004) hlm. 1

(2)

perbankan serta bisnis yang terkait. Prinsip utama yang diikuti oleh bank syariah adalah: Larangan riba (bunga) dalam bentuk berbagai tradisi dan Melakukan kegiatan usaha dan perdagaangan berdasarkan perolehan pendapatan dan keuntungan yang sah (revenue sharing atau profit sharing).19

Setiap lembaga keuangan syariah mempunyai falsafah mencari keridhoan Allah untuk memperoleh kebajikan didunia dan akhirat.

Oleh karena itu, setiap keinginan lembaga keuangan dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama dan harus dihindari.20

b. Prinsip Dasar Bank Syariah

Adapun prinsip-prinsip dasar perbankan syariah diantaranya adalah sebagai berikut.21

1) Prinsip Titpan

Prinsip titipan atau biasa disebut Al wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.

19 Zainul arifin, Dasar-dasar manajemen bank syariah (Jakarta: alvabet, 2002). hlm.3

20 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah (Yogyakarta: Ekonisia, 2004). hlm. 2

21 M. Sultan dan Ely Siswanto, Manajemen bank (konvensional & syariah), (Malang : UIN Malang Press, 2008), hlm 131-138.

(3)

2) Prinsip Bagi Hasil

Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana.

3) Prinsip Jual Beli

Sistem jual beli dalam perbankan syariah merupakan suatu sistem yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank untuk melakukan pembelian barang atas nama bank, kemuddian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan sejumlah harga beli ditambah keuntungan tertentu (margin).

4) Prinsip Sewa

Prinsip sewa adalah akad pemindahan hak guna atas barang atas jasa melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan hak barang itu sendiri.

5) Prinsip Jasa

Prinsip ini meliputi seluruh layanan non pembiayaan yang diberikan bank.

(4)

c. Fungsi Dan Peran Bank Syariah

Fungsi dan peran Bank Syariah dijabarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institusions) adalah sebagai berikut.22

1) Manajer investasi yaitu Bank Syariah dapat mengelola investasi dana nasabah.

2) Investor yaitu Bank Syariah dapat menginvestasikan dana yang dimiliki maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.23 3) Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran Bank Syariah

dapat melakukan kegiatan-kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya.

4) Pelaksana kegiatan sosial sebagai ciri yang melekat pada entitas keuangan syariah, Bank Syariah juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministarikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya. 24

22 Rifki Muhammad, 2010. Akuntansi Keuangan Syariah : Konsep dan Implementasi PSAK Syariah (Yogyakarta : P3EI, 2010), hlm 44.

23 Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar’iyyah Modern (Yogyakarta:

CV. Andi Offset, 2011)

24 Ikatan Akuntansi Indonesia, Pedoman akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia, 2003). hlm 1

(5)

2. Ketetapan Waktu

Ketepatan waktu (Timeliness) penyampaian laporan keuangan dapat mempengaruhi kualitas laporan keuangan karena ketepatan waktu menunjukkan bahwa informasi yang diberikan bersifat baru dan informasi tersebut menunjukkan bahwa kualitas dari laporan keuangan tersebut baik.

Kerelevanan suatu laporan keuangan dapat diperoleh apabila laporan keuangan tersebut dapat disajikan dengan tepat waktu. Tepat waktu diartikan bahwa informasi harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.25Ketepatan waktu dalam penyampaian laporan keuangan dapat berpengaruh bagi kualitas laporan keuangan hal ini dikarenakan ketepatan waktu tersebut menunjukkan bahwa informasi yang diberikan bersifat baru. Informasi yang baru tersebut menunjukkan bahwa kualitas dari laporan keuangan tersebut baik. Ketepatan waktu tidak menjamin relevansi tetapi relevansi tidaklah mungkin tanpa ketepatan waktu.

Ketepatan waktu merupakan batasan penting pada publikasi laporan keuangan. Akumulasi, peringkasan, dan penyajian selanjutnya informasi akuntansi harus dilakukan secepat mungkin untuk menjamin tersedianya informasi sekarang di tangan pemakai. Ketepatan waktu juga menunjukkan bahwa laporan keuangan harus disajikan pada kurun waktu teratur untuk memperlihatkan perubahan keadaan perusahaan pada

25Rachmawati. 2008. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan pada BEI”. Hlm. 34

(6)

gilirannya mungkin akan mempengaruhi prediksi dan keputusan pemakai.26 Batas waktu penyampaian Laporan Tahunan paling lama 5 (lima) bulan setelah tahun buku terakhir.

Contoh Bank BNI Syariah, pada tahun 2010 menyampaikan laporan keuangannya pada tanggal 21 Februari 2011 sedangkan pada tahun 2011 menyampaikan laporan keuangannya pada tanggal 28 Februari 2012. Maka ketepatan Bank BNI Syariah yaitu:

Tahun 2010 = 21 Februari 2011 = 52 hari Tahun 2011 = 28 Februari 2012 = 59 hari

Laporan keuangan yang tepat waktu akan lebih berguna dari pada yang tidak tepat waktu. Setelah informasi yang relevan tersedia lebih cepat, mampu meningkatkan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan, dan kurangnya ketepatan waktu dapat mengurangi informasi dari kegunaannya.

Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Untuk menyediakan informasi tepat waktu seringkali perlu melaporkan sebelum seluruh aspek transaksi atau peristiwa lainnya diketahui sehingga mengurangi keandalan informasi. Sebaliknya, jika pelaporan ditunda sampai seluruh aspek diketahui, informasi yang dihasilkan mungkin sangat andal, tetapi kurang bermanfaat bagi pengambil keputusan. Dalam usaha

26Harmono.Manajemen Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara. 2011. Hlm 51

(7)

mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambilan keputusan merupakan pertimbangan yang menentukan.27

Ketika keterlambatan pelaporan keuangan terjadi maka informasi yang diberikan sudah tidak relevan sehingga tidak dapat bermanfaat bagi para penggunanya. Dalam PSAK 1 paragraf 10 tahun 2012 tertera tujuan laporan keuangan, tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

3. Debt To equity Ratio

Rasio ini menggambarkan perbandingan hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemapuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya.28Debt to Equity Ratio (DER), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh hutang- hutangnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Rasio hutang terhadap ekuitas adalah suatu upaya untuk memperlihatkan, dalam format lain, proporsi relative dari klaim pemberi pinjaman terhadap hak kepemilikan dan digunakan sebagai ukuran peranan hutang.29 Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana

27Harmono, Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 20.

28Fahmi, Irham. Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta. 2012. Hlm 128

29 Erich A Helfert, Teknik Analisis Keuangan (Jakarta : Erlangga, 1997), hlm 98

(8)

yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.

Bagi bank (kreditor), semakin besar rasio ini, akan semakin tidak menguntungkan karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan. Namun, bagi perusahaan justru semakin besar rasio akan semakin baik. Sebaliknya, dengan rasio yang rendah, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam jika terjadi kerugian atau penyusutan terhadap nilai aktiva. Rasio ini juga memberikan petunjuk umum tentang kelayakan dan risiko keuangan perusahaan.

Debt to equiry ratio untuk perusahaan tentu berbeda-beda, tergantung karakteristik bisnis dan keberagaman arus kasnya. Perusahaan dengan arus kas yang stabil biasanya memiliki rasio yang lebih tinggi dari rasio kas yang kurang stabil. Tingginya resiko ini menunjukkan adanya kemungkinan bahwa perusahaan tersebut tidak bisa melunasi kewajiban atau hutangnya baik berupa pokok ataupun bunganya. Risiko perusahaan yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Sedangkan kesulitan keuangan dianggap berita buruk yang akan mempengaruhi kondisi perusahaan dimata publik.

(9)

Dalam penelitian ini, debt to equity ratio yang dimaksud adalah perbandingan antara total hutang (Total Debt) dengan ekuitas (Total Shareholder’s Equity), dapat dirumuskan sebagai berikut :30

4. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.31

Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi.32Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi.

Tujuannya agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut.

30 Moeljadi, Manajemen keuangan : Pendekatan kualitatif dan kuantitatif (Malang:Anggota Ikapi Jatim), Hlm. 16

31 Dr. Kasmir, Analisi Laporan Keuangan, Jakarta : PT Grafindo Persada. 2008, hlm. 196

32Dr. Kasmir,Analisi Laporan Keuangan, Jakarta : PT Grafindo Persada. 2008, hlm 197

X 100%

(10)

Rasio ini mengukur efektifitas manajemen secara keseluruhan yang diajukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.33Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut.

Hasil pengukuran tersebut dapat dijadikan alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara efektif atau tidak. Jika berhasil mencapai target yang telah ditentukan, mereka dikatakan telah berhasil mencapai target untuk periode atau beberapa periode. Namun, sebaliknya jika gagal atau tidak berhasil mencapai target yang telah ditentukan, ini akan menjadi pelajaran bagi manajemen untuk periode kedepan.34 Kegagalan ini harus diselidiki di mana letak kesalahan dan kelemahannya sehingga kejadian tersebut tidak terulang. Kemudian, kegagalan atau keberhasilan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk perencanaa laba kedepan, sekaligus kemungkinan untuk menggantikan manajemen yang baru terutama setelah manajemen lama mengalami

33Irham fahmi, Analisis Laporan Keuangan, hlm. 135

34 Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, (Jakarta : PT Grafindo Persada. 2008), hlm 196

(11)

kegagalan. Oleh karena itu, rasio ini sering disebut sebagai salah satu alat ukur kinerja manajemen.35

Jenis-jenis Rasio Profitabilitas

Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, terdapat beberapa jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan. Masing-masing jenis rasio profitabilitas digunakan untuk menilai serta mengukur posisi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu atau untuk beberapa periode.

Penggunaan seluruh atau sebagian rasio profitabilitas tergantung dari kebijakan manajemen. Jelasnya, semakin lengkap jenis rasio yang digunakan, semakin sempurna hasil yang akan dicapai. Artinya pengetahuan tentang kondisi dan posisi profitabilitas perusahaan dapat diketahui secara sempurna.36 Dalam praktiknya, jenis-jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah:37

a. Return on asset (ROA)

Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh profitabilitas dan mengelola tingkat efisiensi usaha bank secara keseluruhan. Semakin besar nilai rasio ini menunjukkan tingkat rentabilitas usaha bank semakin baik atau sehat.Return On Assets

35Kasmir. Analisis Laporan Keuangan, (Jakarta : PT Grafindo Persada, 2008). Hlm. 197

36Kasmir. Analisis Laporan Keuangan, (Jakarta : PT Grafindo Persada, 2008). hlm 190

37 Harmono, Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard Pendekatan Teori, kasus, dan Riset Bisnis, (Jakarta: Pt Bumi Aksara, 2011). hlm. 110

(12)

adalah pengembalian atas aset-aset yang menentukan jumlah pendapatan bersih yang dihasilkan dari asset-aset perusahaan dengan menghubungkan pendapatan bersih ke total asset.38

Semakin besar Return On assets (ROA) menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena return semakin besar. Sehingga dalam penelitian ini menggunakan Return On Assets (ROA) sebagai indicator pengukur kinerja keuangan perusahaan perbankan.

Return On Asset (ROA) dipilih sebagai indicator pengukur kinerja keuangan perbankan karena Return On asset (ROA) digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Return On Assets (ROA) merupakan rasio antara laba bersih terhadap total asset.

Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar. Apabila Return On assets meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat.Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :

38Arthur J, Keown, et al., Manajemen Keuangan : Prinsip dan penerapan, alih bahasa Marcus PW (Jakarta : PT Macanan Jaya Cemerlang, 2008). hlm 80

(13)

5. Capital Adequacy ratio

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank. Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal bank didasarkan kepada rasio atau perbandingan antara modal yang dimiliki bank dan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut risiko (ATMR).39

CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain.

Dengan kata lain, CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan.40

Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal bank (CAR) didasarkan kepada rasio atau perbandingan antara modal yang dimiliki bank dan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

CAR dapat dirumuskan sebagai berikut :

39 Zainul arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, Hlm. 147

40 Lukman Dendawijaya. Manajemen Perbankan. Hlm. 121

(14)

Aktiva dalam perhitungan ini mencakup aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administrative sebagaimana tercermin dalam kewajiban yang masih bersifat kontingen dan atau komitmen yang disediakan bagi pihak ketiga.41

Dalam menelaah CAR bank syariah terlebih dahulu harus dipertimbangkan, bahwa aktiva bank syariah dapat dibagi atas:42

a. Aktiva yang didanai oleh modal sendiri dan kewajiban atau hutang (wadiah atau qard dan sejenisnya)

b. Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil (Profit and Loss Sharing Investment Account) yaitu mudarabah (Generak Investment account/

mudharabah mutlaqah, Restricted Investment Account/ Mudharabah muqayyadah)

Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)43

Aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) merupakan penjumlahan ATMR aktiva neraca (aktiva yang tercantum dalam neraca) dan ATMR aktiva administratif (aktiva yang bersifat administratif).

Langkah-langkah perhitungan modal minimum bank adalah sebagai berikut :

41 Fauzan Adhim. “Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Perbankan Syariah”, hlm.

12

42 Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, hlm.146

43Lukman Dendawijaya, Manjemen Perbankan., hlm.41

(15)

a. ATMR aktiva neraca dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal masing-masing aktiva yang bersangkutan dengan bobot risiko dari masing-masing pos aktiva neraca tersebut.44

b. ATMR aktiva administrative dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal rekening administrative yang bersangkutan dengan bobot risiko dari masing-masing pos rekening tersebut.45

c. Total ATMR = ATMR aktiva neraca + ATMR aktiva administrative.46

d. Rasio modal bank dihitung dengan cara membandingkan antara modal bank (modal inti dan modal pelengkap) dari total ATMR47 e. Hasil perhitungan rasio diatas kemudian dibandingkan dengan

kewajiban penyediaan modal minimum (yakni 8%).

CAR (KPMM) yang didasarkan pada pada standar Banks for Internasional Settlements (BIS) besarnya (8%) adalah salah satu cara untuk menghitung apakah modal yang ada pada suatu bank telah memadai atau belum. Ketetapan CAR sebesar 8% bertujuan untuk:

(1) Menjaga kepercayaan masyarakat kepada perbankan (2) Melindungi pihak ketiga pada bank yang bersangkutan

44Fauzan Adhim, “Analisis Perbandingan Kinerja KeuanganPerbankan Syariah”, hlm 13

45 Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, hlm. 121

46 Malayu S.P Hasibuan, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: PT bumi aksara, 2009), hlm.

58

47Malayu S.P Hasibuan, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: PT bumi aksara, 2009), hlm.

59

(16)

(3) Untuk memenuhi ketetapan standar BIS Perbankan International dengan formula sebagai berikut:4% modal inti yang terdiri shareholder’s equity, preferred stock dan freereserves, serta 4%

modal sekunder yang terdiri dari subordinate debt, loan loss provision, hybrid securities dan revaluation reserves.

Sanksi bagi bank yang tidak memenuhi CAR 8% di samping diperhitungkan dalam penilaian tingkat kesehatan bank, juga akan dikenakan sanksi dalam rangka pengawasan dan pembinaan bank. Bank yang memiliki tingkat kecukupan modal baik menunjukkan indicator sebagai bank yang sehat, sebab bank menunjukkan keadaan yang dinyatakan dengan rasio tertentu yang disebut rasio kecukupan modal atau CAR.

6. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala, dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain : total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi menjadi 3 kategori yang didasarkan kepada total asset perusahaan yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium firm), dan perusahaan kecil (small firm).

Pada perusahaan perbankan, ukuran (size) juga ditentukan dengan cara yang serupa dengan perusahaan pada umumnya. Ukuran bank bisa

(17)

diukur dengan beberapa cara, yakni:48Total asset, Total Deposits dan Total Capital.

Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah ukuran aktiva dari perusahaan tersebut. Pada perusahaan perbankan, ukuran aktiva dipakai sebagai wakil pengukur (proxy) besarnya bank. Bank yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa bank tersebut telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relative lama, selain itu juga mencerminkan bahwa bank relative lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding bank dengan total asset yang kecil. Ukuran perusahaan memiliki alokasi dana yang lebih besar untuk membayar biaya audit (audit fees), hal ini menyebabkan perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan lebih besar cenderung tepat waktu.49

Bagi perusahaan yang stabil biasanya dapat memprediksi jumlah keuntungan ditahun-tahun mendatang karena tingkat kepastian laba sangat tinggi.Sebaliknya bagi perusahaan yang belum mapan, besar kemungkinan laba yang diperoleh juga belum stabil karena kepastian laba lebih rendah.

48Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah (Yogyakarta : Ekonisia, 2004), hlm.150

49Agus Sukoco, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Perusahaan”, Skripsi, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2013), hlm. 28

(18)

Secara teoritis perusahaan yang lebih besar mempunyai kepastian (certainty) yang lebih besar daripada perusahaan kecil sehingga akan mengurangi tingkat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan ke depan. Hal tersebut dapat membantu investor memprediksi risiko yang mungkin terjadi jika ia berinvestasi pada perusahaan itu.

B. Tinjauan Pustaka

Beberapa penelitian telah dilakukan oleh para peneliti dan akademisi sebelumnya mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa variabel. Seperti berikut:

Astrid Kurniawati melakukan penelitian yang berjudul “Faktor-faktor Ketepatan waktu Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Publik di Indonesia (studi empiris di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012)”, menggunakan analisis regresi logistic, menyatakan bahwa : der, age, size dan kepemilikan pihak luar (outsider ownership) berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan sedangkan profitabilitas dan kepemilikan pihak dalam (insider ownership) secara signifikan tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.50

50Astrid Kurniawati, “Faktor-faktor Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Go Publik di Indonesia (Studi Empiris di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012”, Jurnal (Semarang : Universitas Dian Nuswantoro Semarang, 2014), hlm. 1.

(19)

Agus Sukoco melakukan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Perusahaan”.

Dengan uji analisis regresi logistik untuk meneliti setiap variabelnya, variabel bebas yang digunakan diantaranya profitabilitas, kepemilikan public, opini audit dan ukuran perusahaan. Profitabilitas, opini audit dan ukuran perusahaan secara signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, sedangkan kepemilikan publik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.51

Sofia Prima Dewi dan Jusia melakukan penelitian yang bejudul Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Real Estate dan property Yang Terdaftar Di BEI.

Hasil penelitian hal ini menunjukkan bahwa ROA Dan DER berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan, sedangkan ukuran perusahaan, opini audit dan ukuran perusahaan publik akuntansi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.52

Munthe meneliti tentang factor-faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan pada Bank yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2009-2011.Sampel yang dipakai adalah bank umum.Ada 27 bank umum yang terdaftar di bursa efek 2009-2011.Pengambilan sampel salah satu

51Agus Sukoco, “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Perusahaan”, Skripsi, (Universitas Islam Negeri Syarif hidayatullah, 2013), hlm. 28

52Sofia Prima Dewi dan Jusia, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Real Estate Dan Property yang Terdaftar Di BEI”, Jurnal Akuntansi/Volume XVII, No. 03 (Jakarta: Universitas Tarumanagara, 2013), hlm.

381.

(20)

syaratnya adalah bank yang sudah terdaftar di Bursa Efek sebelum tanggal 31 Desember 2008. Semua variabel independen berpengaruh simultan terhadap ketepatan waktu itu. Hanya LDR dan nilai perusahaan yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu. LDR berpengaruh negatif signifikan, sedangkan nilai perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan bank.53

Ekky menguji penelitian dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan perbankan Go Publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Setelah dilakukan pengujian hipotesis (multivariate) secara simultan bahwa hanya variabel rasio gearing, umur perusahaan dan Struktur Kepemilikan sajalah yang mempengaruhi Ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan, hal ini berarti bahwa rasio Gearing, Umur Perusahaan dan Struktur Kepemilikan diterima. Dan sebagai saran sebaiknya perusahaan menganalisis Ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan untuk mengantisipasi terjadinya teguran atau sanksi dari Bapepam jika perusahaan mengabaikan hal tersebut.Ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan kondisi dimana perusahaan memiliki kepatuhan dalam melaporkan laporan keuangannya secara tepat waktu sesuai aturan yang telah ditetapkan.54

53Inge Lengga sari Munthe, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Pada Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2011.

Hlm. 1

54 Ekky Anandika Irawan. 2012. “Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Perusahaan Perbankan Go Public Di Bursa Efek Indonesia”. Skripsi jurusan akuntansi universitas semarang.hal. 62

(21)

Dewi meneliti analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu dan audit delay penyampaian laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil pengujian hipotesis secara parsial menunjukkan bahwa solvabilitas, opini audit, dan ukuran kantor akuntan publik berpengaruh signifikan terhadap audit delay, dan ukuran perusahaan dan opini audit yang berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu. Hasil korelasi yaitu terdapat hubungan signifikan antara audit delay dan ketepatan waktu.55

Wahyu Adhy Noor Sulistyo melakukan penelitian yang berjudul

“Analisis Faktor-faktot Yang berpengaruh Terhadap Ketepatan waktu Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Yang listing Di bursa efek Indonesia Periode 2006-2008”. Profitabilitas, ukuran perusahaan, kompleksitas operasi perusahaan, kepemilikan public dan kantor akuntan public berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan, sedangkan likuiditas, leverage, dan opini auditor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.56

Zusma Widawaty A. Wahab, Muhammad Arfan, dan Usman Bakar melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, dan Kinerja perusahaan Terhadap Ketepatan Waktu Atas

55 Karina Mutiara Dewi. 2013. analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu dan Audit Delay Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Hal 18

56Wahyu Adhy Noor sulistyo. “Analisis Faktor-faktot Yang berpengaruh Terhadap Ketepatan waktu Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Yang listing Di bursa efek Indonesia Periode 2006-2008”skripsi (Universitas Diponegoro semarang, 2010), hlm. 4.

(22)

Penyajian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Tidak terdapat pengaruh ukuran perusahaan, umur perusahaan, dan kinerja perusahaan baik secara simultan maupun secara parsial, terhadap ketepatan waktu atas penyajian laporan keuangan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.57

Perbedaan hasil penelitian pada beberapa peneliti pada objek penelitiannya adalah Bank umum Syariah periode tahun 2010-2014. Untuk variabel penelitian yang sama, mendorong untuk melakukan pengujian kembali mengenai analisis faktor-faktor profitabilitas dan struktur kepemilikan yang mempunyai pengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan perbankan di Indonesia. Adapun faktor-faktor yang akan diuji kembali dalam penelitian ini adalah debt to equty ratio, profitabilitas, capital adequacy ratio, dan ukuran perusahaan.

C. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya serta permasalahan yang dikemukakan, maka sebagai acuan untuk merumuskan hipotesis, berikut disajikan kerangka pemikiran dalam penelitian ini:

57Zusma Widawaty A. wahab, Muhammad Arfan dan Usman Bakar. “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, dan Kinerja perusahaan Terhadap Ketepatan Waktu Atas Penyajian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi/ISSN 2302-0164 pp. 151-160

(23)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan suatu model konseptual tentang bagaimana teori yang berhubungan dengan faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah riset.58Pengembangan alur pemikiran selanjutnya adalah faktor yang mempengaruhi Ketepatan Waktu pelaporan keuangan. Kerangka pemikiran di atas menggambarkan pengaruh antara variabel independen (X) yaitu Debt To Equity Ratio, Profitabilitas, Capital Adequacy Ratio, dan Ukuran Perusahaan terhadap variabel dependen (Y) yaitu Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan.

58 Husein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 23.

Debt to Equity Ratio (X1)

Profitabilitas (X2)

Capital Adequacy Ratio (X3)

Ukuran Perusahaan (X4)

Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan (Y)

X5

(24)

D. Hubungan Antar Variabel

1. Hubungan Debt to Equity Ratio Terhadap Ketepatan Waktu

Menurut teori Horne dan Wachowicz, semakin tinggi rasio debt to equity ratio semakin besar risiko keuangannya, yang dimaksudkan dengan terjadinya peningkatan risiko adalah kemungkinan terjadinya default karena perusahaan terlalu banyak melakukan pendanaan aktiva dari hutang. Adanya risiko gagal bayar, maka biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengatasi masalah ini semakin besar.59Meskipun perusahaan sedang dalam kondisi ini tetapi tidak menutup kemungkinan perusahaan menyampaikan laporan keuangannya secara tepat waktu guna pengambilan keputusan baik bagi investor maupun kreditor.

2. Hubungan Profitabilitas terhadap Ketepatan Waktu

Profitabilitas menunjukkan keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan. Dengan semakin besar rasio profitabilitas maka semakin baik pula kinerja perusahaan sehingga perusahaan akan cenderung untuk memberikan informasi tersebut padapihak lain yang berkepentingan. Sehingga dapat dikatakan bahwa profit merupakan berita baik bagi perusahaan.60 Perusahaan yang memiliki berita baik tidak akan menunda penyampaian informasi. Jadi profitabilitas berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

59Horne dan Wachowicz, Principle Financial Manajemen: Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan (Jakarta: Salemba Empat, 2009), hlm. 323.

60Djarwanto. 2007. Pokok-pokok Analisis Laporan Keuangan. Jakarta ; Raja Grafindo, persada. Hlm 45

(25)

3. Hubungan Capital adequacy Ratio Terhadap Ketepatan waktu

Bila perusahaan ingin menyampaikan berita baik, maka perusahaan itu akan berusaha menyajikan laporan keuangan sesegera mungkin setelah tanggal tutup buku. CAR termasuk rasio solvabilitas di perbankan.Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuidasi bank.61 Rasio CAR mulai diperhatikan ketika terjadi krisis moneter tahun 1997 sehingga nasabah dan pihak ketiga lainnya ini merasa laporan keuangan lama di published, tentu saja dia akan was-was dengan bank tersebut. Apalagi bila dia membaca nilai CAR. Bila di anggap CAR nya tinggi, maka nasabah- nasabah tidak perlu menarik dana dari bank, karena yakin bank tersebut tidak akan dilikuidasi.Jadi Capital Adequacy Ratio berpengaruh terhadap ketepatan waktupelaporan keuangan bank.

4. Hubungan Ukuran Perusahaan terhadap Ketepatan Waktu

Ukuran perusahaan (Size) merupakan ukuran atau besarnyaasset yang dimiliki perusahaan.Size menentukan kekuatan tawar menawar dalam kontrak keuangan. Perusahaan besar biasanya dapat memilih pendanaan dari berbagai bentuk utang, termasuk penawaran spesial yang lebih menguntungkan dibandingkan yang ditawarkan oleh perusahaan kecil, semakin besar jumlah uang yang terlibat, semakin besar kemungkinan

61Santoso, Rudy, Tri. 1995. Prinsip DasarAkunatnsi Perbankan. Andi OffsetYogyakarta.

(26)

pembuatan kontrak yang dirancang sesuai dengan preferensi kedua pihak sebagai ganti dari penggunaan kontrak standar utang.62

Perusahaan besar lebih banyak di sorot oleh masyarakat, karenanya perusahaan besar cenderung menjaga image perusahaan dimata masyarakat dengan menyampaikan laporan keuangan dengantepat waktu.

Ukuran perusahaan memiliki alokasi dana yang lebih besar untuk membayar biaya audit (audit fees), hal ini menyebabkan perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan lebih besar cenderung tepat waktu

E. Hipotesis

a. H01: Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Ha1: Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

b. H02:Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Ha2: Profitabilitas berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

c. H03: Capital Adequacy Ratio tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Ha3: Capital Adequacy Ratio berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

62Agnes Sawir, Kebijakan Pendanaan dan Restrukturisasi Perusahaan (Jakarta:

Gramedia, 2004), hlm. 102.

(27)

d. H04: Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Ha4: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

e. H05: Debt to Equity Ratio, profitabilitas, Capital Adequacy Ratio dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Ha5: Debt to Equity Ratio, profitabilitas, Capital Adequacy Ratio dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

(1) Subbagian Perencanaan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan penyusunan rencana, program, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di lingkungan

Karena tidak semua iklan dapat menyebabkan harga-harga menjadi berlebihan atau mengalami penurunan yang drastis, tetapi ada juga produk yang menekan biaya

[r]

Sehubungan dengan pelaksanaan pelelangan PENGA DA A N PERA LATA N PRA KTEK DA N PERA GA SISWA SD pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Bima Tahun

BE memiliki distribusi yang tidak lengkap, kecuali fonem vokal; (2) masing-masing fonem tersebut merupakan fonem asal yang dapat membentuk morfem pangkal secara fonetis; (3)

Untuk mendapatkan teknik permainan yang ada pada instrumen gambus, penulis melakukan penelitian dengan melihat dan mengamati permainan oleh informan kunci yaitu Nasri Effas

Hasil analisis asam lemak dari VCO pada 35 aksesi kelapa koleksi Balitka Manado diperoleh bahwa total kandungan MCFA pada kelapa Dalam lebih tinggi dari kelapa Genjah.. Dari 35

Kesan yang akan dibangun dalam melayani pelanggan adalah ” Comfortable and High Quality Service ” sehingga pelanggan merasa nyaman berada di tempat pelayanan kami