• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LATIHAN RILEKSASI SECARA PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN : Studi Eksperimen Atlet Cabang Olahraga Futsal pada Divisi Sepak Bola di UKM UPI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH LATIHAN RILEKSASI SECARA PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN : Studi Eksperimen Atlet Cabang Olahraga Futsal pada Divisi Sepak Bola di UKM UPI."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LATIHAN RILEKSASI SECARA PROGRESIF

TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN

(Studi Eksperimen Atlet Cabang Olahraga Futsal pada Divisi Sepak Bola di UKM UPI)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Satu Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

Oleh:

YUSUP MAULANA MUHAMAD 0800526

PRODI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

NAMA NIM

: :

YUSUP MAULANA MUHAMAD 0800526

JUDUL : PENGARUH LATIHAN RILEKSASI SECARA

PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN

Disetujui dan Disahkan Oleh:

Pembimbing I

Dr. Komarudin, M.Pd. NIP.197204031999031003

Pembimbing II

Drs. Abdul Kadir AA, M.Sc. NIP.194805191973061001

Mengetahui;

Ketua Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Pengaruh Latihan Rileksasi Secara Progresif Terhadap Penurunan Kecemasan” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak

melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas

pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya

ini.

Bandung, Januari 2013

(4)

ABSTRAK

PENGARUH LATIHAN RILEKSASI SECARA PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN

(Studi Eksperimen Atlet Cabang Olahraga Futsal pada Divisi Sepak Bola di UKM UPI)

Pembimbing 1. Dr. Komarudin, M.Pd. 2. Drs. Abdul Kadir AA, M.Sc.

Yusup Maulana Muhamad

1. Dalam latihan cabang olahraga prestasi, atlet khususnya cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI, tidak cukup hanya latihan fisik, teknik, dan taktik untuk mencapai prestasi maksimal, tetapi perlu diperhatikan aspek latihan lainnya yaitu latihan mental. Atlet yang baik dalam komponen fisik, teknik dan taktik belum tentu bisa menghasilkan prestasi maksimal. Oleh karena itu atlet harus dilatih mentalnya agar terjadi keseimbangan dengan aspek-aspek latihan lainnya. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan sampel atlet cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI sebanyak 30 orang, yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan rileksasi secara progresif memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kecemasan atlet cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI. Saran peneliti bahwa: a) Pelatih dalam program latihannya harus menerapkan latihan mental berupa latihan rileksasi secara progresif, karena latihan ini sangat penting bagi setiap atlet untuk mencapai prestasi maksimal, b) Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi lembaga-lembaga terkait seperti KONI, PSSI, PENGCAB, PENGPROV dan PPLP untuk dapat memperhatikan aspek mental bagi atlet-atlet binaannya, c) Kepada para Pembina khusunya yang ada di FPOK untuk lebih meningkatkan pembinaan mental kepada para atletnya, sehingga atlet tersebut dapat berkembang dengan baik sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK………... i

KATA PENGANTAR……….. ii

UCAPAN TERIMA KASIH………... iv

DAFTAR ISI………... viii

C. Tujuan Penelitian……… 5

D. Manfaat Penelitian………... 5

E. Batasan Masalah………... 6

F. Definisi Operasional………... 6

G. Aumsi Dasar………... 7

H. Hipotesis ……… 8

I. Lokasi dan Sampel………... 9

J. Metode Penelitian………... 10

BAB II TINJAUAN TEORITIS………... 11

A. Hakekat Latihan Mental……….. 11

1. Pengertian Latihan Mental……… 11

2. Pentingnya Latihan Mental………... 11

3. Metode Latihan Rileksasi………... 12

B. Hakekat Kecemasan………. 14

1. Pengertian Kecemasan………... 14

2. Proses Terjadinya Anxiety dan Ketegangan……….. 16

(6)

4. Hubungan Kecemasan, Motif Berprestasi, dan

Penampilan………... 19

5. Anxiety dan Umur………. 20

6. Anxiety dan Pertandingan………. 21

7. Gangguan Kecemasan Sebagai Akibat Gannguan Kesehatan……….. 22

8. Hubungan Kecemasan dengan Gairah………. 23

C. Pelaksanaan Latihan Rileksasi……… 23

BAB III PROSEDUR PENELITIAN………... 36

A. Metode Penelitian………... 36

B. Populasi dan Sampel………... 37

C. Tempat dan Waktu Penelitian………. 37

D. Desain Penelitian……… 38

E. Intrumen Penelitian………. 40

1. Membuat Kisi-kisi Angket………... 42

2. Pengujian Validitas Instrumen Angket………. 43

3. Menguji Validitas dan Reabilitas Instrumen Angket………… 44

4. Pengujian Reabilitas Instrumen……… 48

F. Teknik Analisis Data……….. 51

1. Data Reduction………. 51

2. Data Display………. 52

3. Conclusing Drawing………. 53

4. Menghitung Skor Rata-rata Dari Setiap Kelompok………….. 54

5. Menghitung Simpangan Baku……….. 54

6. Menguji Variansi……….. 54

7. Menguji Normalitas Data Menggunakan Uji Kenormalan Liliefors………. 54

8. Uji Homogenitas………... 55

9. Uji Signifikasi Hasil Latihan dan Pembedanya……… 55

(7)

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA……… 56

A. Hasil Pengolahan dan Analisis Data………... 56

B. Pengujian Hipotesis……… 58

C. Diskusi Penemuan……….. 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………... 62

A. Kesimpulan………. 62

B. Saran ……….. 62

DAFTAR PUSTAKA……….... 63

LAMPIRAN-LAMPIRAN………... 65

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1. Kelompok Otot, Instruksi, dan Lokasi Otot yang dilatih……... 25

3.1. Kisi-kisi Angket……….. 42

3.2. Hasil Pengujian Validitas Butir Soal Angket………. 47

3.3. Perhitungan Korelasi Rumus Produck Moment………. 49

3.4. Kriteria Pengolahan……….... 53

4.1. Hasil Perhitungan Rata-rata dan Simpangan Baku Tes Awal… 57 4.2. Hasil Perhitungan Rata-rata dan Simpangan Baku Tes Akhir... 57

4.3. Hasil Pengujian Normalitas Tes Awal……… 57

4.4. Hasil Pengujian Normalitas Tes Akhir………... 57

4.5. Hasil Pengujian Homogenitas………. 58

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 3.1.

Hubungan Kecemasan, Motif Berprestasi, dan Penampilan…….... Fluktasi Anxiety pada Umur-umur Tertentu……….... Tingkat Anxiety Sebelum, Selama, Seusai Pertandingan………… Sikap Duduk pada Latihan Rileksasi……….. Desain Penelitian………

(10)

DAFTAR BAGAN

Bagan Halaman

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Data Mentah Uji Validitas Angket……….. Uji Validitas Kelompok Atas dan Kelompok Bawah Angket………. Uji Validitas Keseluruhan Angket………... Data Hasil Pre-test Latihan Mental Progressive Muscle Relaxation.. Data Hasil Post-test Latihan Mental Progressive Muscle Relaxation. Perhitungan Rata-rata dan Simpangan Baku………... Perhitungan Variansi………... Perhitungan Uji Normalitas Lilliefors Awal……… Perhitungan Uji Normalitas Lilliefors Akhir………... Perhitungan Uji Homogenitas……….. Uji Signifikasi Latihan Rileksasi Secara Progresif terhadap

(12)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Untuk meningkatkan suatu prestasi maksimal tidak hanya diperlukan

latihan fisik, teknik, taktik yang baik tetapi juga latihan mental. Perkembangan latihan mental baru memasuki era baru pada tahun 1980-an. Para ahli psikologi mulai lebih memfokuskan terhadap pelatihan-pelatihan psikologis ketimbang

hanya mendiagnosis gejala-gejala psikologis yang banyak dilakukan sebelumnya. Perkembangan pelatihan mental lebih terarah kepada tindakan atau perlakuan

untuk membina mental para atlet. Karena itu, para ahli psikologi olahraga dan para ahli pendidikan mulai mempelajari berbagai cara perlakuan psikologis, seperti penggunaan teknik-teknik bimbingan dan konseling, teknik-teknik

meningkatkan motivasi, dan teknik-teknik pelatihan mental lainnya. Menurut beberapa sumber bahwa perkembangan pelatihan mental tidak terlepas dari

perkembangan psikologi olahraga. Khusus mengenai pelatihan mental lebih terarah kepada tindakan atau perlakuan untuk pembinaan kondisi psikologis para atlet. Menurut Satria dkk, (2007: 50) bahwa:

(13)

2

Manusia adalah dwi tunggal dari fisik dan psikologis (phychosomatic unity) yang bagian satu dengan bagian lainnya selalu akan saling pengaruh

mempengaruhi. Pengaruh yang dirasakan oleh jiwa kita akan pula berpengaruh terhadap raga kita. Maka dengan itu setiap orang yang melakukan

gerakan-gerakan fisik tidak akan dapat menghindari diri dari pengaruh-pengaruh mental emosional yang timbul dalam berolahraga. Oleh karena itu setiap orang yang melakukan aktivitas berolahraga akan mengalami suatu gejala kecemasan, karena

adanya situasi-situasi yang dapat menimbulkan kecemasan terutama dalam olahraga kompetitif.

Semua orang pasti pernah mengalami stres, takut dimarahi oleh pelatih, takut tidak lulus, takut tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan, takut kehilangan sesuatu, dan lain sebagainya. Menurut Komarudin (2012: 1) bahwa: “Manusia adalah makhluk yang memiliki energi, baik energi positif maupun

energi negatif.” Kedua energi tersebut memiliki pengaruh terhadap penampilan

seseorang yang ditunjukkan oleh sikapnya. Energi positif terlihat dalam penampilannya selalu penuh dengan kesenangan, kegembiraan, cinta, keteguhan, optimis kenikmatan, kebanggaan, memiliki tantangan diri, spirit tim, motivasi diri.

sedangkan energi negatif terlihat dalam penampilannya yang menunjukkan kemarahan, dendam, kecemasan, kebencian, ketakutan, ketegangan, bersikap

negatif, mengancam, dan frustasi.

Berdasarkan pendapat di atas, penulis akan melakukan penelitian terhadap atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI yang cenderung memiliki energi

(14)

(2012: 4) kecemasan adalah: “Reaksi situasional terhadap berbagai rangsang stress”. Sedangkan menurut Ayub Sani (2012: 19) anxietas adalah: “Perasaan

yang menetap berupa kekuatan atau kecemasan (was-was, khawatir, dan cemas) yang merupakan respon terhadap ancaman yang akan datang.” Berdasarkan hal

tersebut penulis menyimpulkan bahwa kecemasan merupakan sikap yang timbul akibat adanya situasi-situasi yang membangkitkan ketegangan, kondisi tersebut mengakibatkan mental atlet terganggu seperti adanya ketegangan otot, cepat

marah, kepala pusing, keluar keringat berlebihan, jantung berdebar, dan sering buang air kecil sehingga dampak terhadap penampilan menjadi buruk atau tidak

maksimal.

Keadaan tersebut harus segera diatasi dengan menggunakan teknik atau metode latihan yang tepat agar hal tersebut tidak mengganggu penampilan atlet

tersebut. Teknik yang dapat mengatasi keadaan cemas salah satunya dengan menggunakan latihan rileksasi secara progresif. Latihan rileksasi secara progresif

atau lebih dikenal dengan istilah PMR (Progressive Muscle Relaxation) yaitu melatih otot yang satu ke otot yang lainnya dengan dua kali pengulangan setiap anggota otot yang dilatih. Menurut Davies (2005: 80) dalam Komarudin (2012: 2) rileksasi adalah: “…a state of controlled and relatively stable level of arousal

which is lower than that of the normal.” Atlet yang bimbang atau takut biasanya

otot-ototnya menjadi tegang (tensed).

Jacobson (1930) dalam Komarudin (2012: 2) berpendapat bahwa: “Ketegangan dan kecemasan tidak akan terjadi apabila semua otot dalam keadaan

(15)

4

menurut Setyobroto (2001: 132) dalam Komarudin (2012: 3) latihan rileksasi secara progresif merupakan: “Metode latihan yang dilakukan dengan cara

menegangkan otot-otot pada seluruh tubuh sebelum membuat otot-otot tersebut relaks.” Maka dengan itu penulis melakukan penelitian kepada atlet futsal pada

divisi sepak bola di UKM UPI, yaitu para atlet futsal tersebut berada dalam keadaan cemas ketika menghadapi pertandingan, keadaan tersebut ditandai dengan gejala prilaku seperti: 1) saling menyalahkan sesama teman satu timnya

bila salah satu temannya melakukan kesalahan, 2) mengeluh ketika bermainnya kurang maksimal, 3) tidak konsisten dalam pola permainan, 4) menunjukkan

ekspresi penyesalan, menggelengkan kepala, memegang rambut, mengeluarkan kata-kata yang kurang wajar, 5) melakukan kesalahan sendiri, salah mengoper, mengontrol bola, 6) dan menurunnya semangat bermain ketika tertinggal poin.

Berkenaan dengan kondisi tersebut, tentu tidak boleh dibiarkan tetapi harus diatasi dengan menerapkan teknik atau metode yang dapat menurunkan tingkat

kecemasannya, salah satunya yang paling tepat diberikan kepada atlet tersebut yaitu latihan relaksasi secara progresif. Dalam latihan rileksasi secara progresif yang meliputi rangkaian latihan menegangkan dan merileksasikan kelompok otot

dalam tubuh, pada setiap kelompok otot saat kontraksi dilakukan sebanyak 2 (dua) repetisi (ulangan), pada saat kontraksi ditahan selam 5 detik, sedangkan pada saat

(16)

B. Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini penulis uraikan dalam bentuk pertanyaan

yaitu: Apakah latihan relaksasi secara progresif memberi pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tingkat kecemasan atlet futsal pada divisi sepak

bola di UKM UPI? C. Tujuan Penelitian

Dari permasalahan tersebut, penulis merumuskan tujuan dalam penelitian

ini yaitu: “Untuk mengetahui pengaruh latihan rileksasi secara progresif atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI dalam menghadapi situasi-situasi

pertandingan yang penuh ketegangan.” D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang serta tujuan penelitian, maka manfaat yang

diharapkan oleh penulis melalui penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat secara teoritis.

a. Dapat memberikan informasi dan masukan kepada pelatih mengenai pemberian latihan rileksasi.

b. Sebagai masukan bagi para pelatih olahraga mengenai konsep dan

pengaruhnya latihan rileksasi secara progresif terhadap penurunan kecemasan atlet futsal.

(17)

6

2. Manfaat secara praktis .

a. Dapat dijadikan sebagai rekomendasi untuk pelatih mengenai pemberian

latihan rileksasi secara progresif.

b. Diharapkan penelitian ini dapat menurunkan tingkat kecemasan atlet sehingga

meningkatnya prestasi atlet.

c. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi lembaga-lembaga terkait untuk dapat memperhatikan masalah perkembangan psikologis

atlet-atlet di Indonesia.

E. Batasan Masalah

Agar penelitian tidak menyimpang dari pemasalahan yang akan dibahas dan untuk memperoleh keakuratan dalam pengumpulan data, maka penulis membatasi permasalahan sebagai berikut :

1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan relaksasi secara progresif. 2. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penurunan kecemasan.

3. Sasaran dalam penelitian ini adalah atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.

F. Definisi operasional

Untuk memudahkan pembaca memahami isi dari penelitian, maka penulis membuat batasan istilah agar terhindar dari kesimpangsiuran istilah-istilah dalam

judul penelitian ini. Batasan istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

(18)

2. Rileksasi secara progresif. Menurut Setyobroto (2001: 132) dalam Komarudin (2012: 3) latihan rileksasi secara progresif merupakan: “Metode latihan yang

dilakukan dengan cara menegangkan otot-otot pada seluruh tubuh sebelum membuat otot-otot tersebut relaks.”

3. Kecemasan. Menurut Straub (1978, dalam Husdarta, 2011: 80) kecemasan adalah: “Reaksi situasional terhadap berbagai rangsang stress.”

4. Futsal. Menurut Rakhmat (2008: 10) futsal adalah: “Permainan bola yang

dimainkan dua regu, masing-masing beranggotakan lima orang.”

G. Asumsi dasar

Anggapan dasar dapat diartikan sebagai suatu pendapat yang telah diyakini kebenarannya dan dijadikan titik tolak penelitian dalam memecahkan suatu masalah. Arikunto (2010: 63) berpendapat bahwa anggapan dasar adalah: “Suatu

hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitiannya.”

Berdasarkan pemahaman di atas, penulis merumuskan anggapan dasar yang menjadi titik tolak dalam penelitian bahwa: a) Latihan rileksasi secara

progresif menurut Setyobroto (2001: 132) dalam Komarudin (2012: 3) adalah: “ Metode latihan yang dilakukan dengan cara menegangkan otot-otot pada seluruh

tubuh sebelum membuat otot-otot tersebut relaks”. Jadi dalam metode ini harus disusun secara sistematis mulai dari mulai anggota tubuh bagian atas sampai anggota tubuh bagian bawah, b) Manfaat latihan relaksasi secara progresif

(19)

8

Progressive Muscle Relaxation is a relaxation technique which has been widely

found to be most effective in the reduction of stress and anxiety.” Sedangkan

menurut Rushall (2008: 61) dalam Komarudin (2012: 7) yaitu: “(1) The removal of general anxiety symptoms (nervousness, jumpinnes, butterflies in the stomach)

away from the competition site; (2) The facilitate of rest; (3) The promotion of

sleep; (4) The removal of accumulated competitive tension; (5) The acceleration

of recovery.” c) Energi negatif dan energi positif akan memberikan pengaruh

terhadap penampilan atlet. Atlet yang memiliki energi negatif dalam penampilannya menunjukkan kemarahan, dendam, kecemasan, ketakutan,

ketegangan, bersikap negatif, mengancam, dan frustasi. Sedangkan atlet yang memiliki energi positif dalam penampilannya menunjukkan kesenangan, kegembiraan, cinta, keteguhan, optimis, kenikmatan, kebanggaan, memiliki

tantangan diri, spirit tim, motivasi diri. (Komarudin, 2012: 1).

Oleh karena itu untuk menghadapi itu semua, seorang atlet harus dilatih

merileksasikan otot-ototnya yang tegang akibat faktor-faktor tersebut. Seorang atlet yang memiliki kemampuan fisiologis dan psikologis yang prima, maka atlet tersebut akan mendapatkan hasil pertandingan yang memuaskan (menjadi juara).

H. Hipotesis

Pengertian hipotesis, menurut Arikunto (2010: 64) hipotesis merupakan: “

Kebenaran sementara yang ditentukan oleh peneliti, tetapi masih harus dibuktikan, di tes, atau di uji kebenarannya.” Suatu hipotesis memegang peranan penting dalam proses penelitian, yaitu untuk menjelaskan suatu permasalahan yang harus

(20)

“Latihan relaksasi secara progresif memberi pengaruh yang signifikan terhadap

penurunan kecemasan atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.”

I. Lokasi dan populasi penelitian

a. Lokasi penelitian dilaksanakan di Gymnasium UPI. Untuk memperoleh data

dalam penelitian ini diperlukan sumber data, dan pada umumnya disebut populasi dan sampel penelitian.

b. Populasi dan sampel penelitian. Menurut Arikunto (2010: 173) populasi

adalah: ”Keseluruhan subjek penelitian.” Sedangkan menurut Sugiyono (2012: 117) populasi adalah: “Wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.” Maka populasi dari penelitian ini adalah atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.

Teknik sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono (2012: 124) purposive sampling adalah: “Teknik penentuan sampel

dengan pertimbangan tertentu.” Artinya setiap unit/individu yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu, yaitu: 1) Atlet yang sering latihan, 2) Jumlah sampelnya banyak, 3) Mengikuti latihan dengan

sungguh-sungguh, 4) Mengikuti latihan sesuai dengan instrumen. Berdasarkan penjelasan diatas peneliti mengambil sampel atlet futsal pada divisi sepak bola di

(21)

10

J. Metode Penelitian

Pada dasarnya penelitian merupakan langkah tindak lanjut dari rasa

keingintahuan penulis dalam masalah ilmu pengetahuan. Dengan kata lain penelitian merupakan kegiatan yang berorientasi mencari pemecahan suatu

permasalahan dengan benar.

Dalam setiap melakukan penelitian diperlukan suatu metode penggunaan metode dalam penelitian disesuaikan dengan masalah serta tujuan penelitian

tersebut. Dalam hal ini metode penelitian sangat penting dalam pelaksanaan, pengumpulan dan analisis data. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam

penelitian ini adalah metode eksperimen. Tentang metode eksperimen dijelaskan oleh Sugiyono (2012: 11) metode eksperimen adalah: “Metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu.”

Metode eksperimen merupakan rangkaian kegiatan percobaan dengan tujuan untuk menyelidiki suatu hal atau masalah sehingga diperoleh hasil. Jadi

dalam metode eksperimen harus ada faktor yang dicobakan, dalam hal ini faktor yang dicobakan dan merupakan variabel bebas adalah latihan relaksasi secara progresif sedangkan variabel terikatnya adalah penurunan kecemasan atlet futsal

(22)

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian

Pada dasarnya penelitian merupakan langkah tindak lanjut dari rasa

keingintahuan penulis dalam masalah ilmu pengetahuan. Dengan kata lain penelitian merupakan kegiatan yang berorientasi mencari pemecahan suatu permasalahan dengan benar.

Dalam setiap melakukan penelitian diperlukan suatu metode. Penggunaan metode dalam penelitian disesuaikan dengan masalah serta tujuan penelitian

tersebut. Dalam hal ini metode penelitian sangat penting dalam pelaksanaan, pengumpulan dan analisis data. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Tentang metode eksperimen dijelaskan oleh Sugiyono (2012 : 11) metode eksperimen adalah: “Metode penelitian yang

digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu.”

Metode eksperimen merupakan rangkaian kegiatan percobaan dengan tujuan untuk menyelidiki suatu hal atau masalah sehingga diperoleh hasil. Jadi dalam metode eksperimen harus ada faktor yang dicobakan, dalam hal ini faktor

yang dicobakan dan merupakan variabel bebas adalah latihan rileksasi secara progresif sedangkan variabel terikatnya adalah penurunan kecemasan atlet cabang

olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.

(23)

37

cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI yang selalu membawa nama baik UPI.

B. Populasi dan Sampel

Untuk memperoleh data dalam penelitian ini diperlukan sumber data, dan

pada umumnya disebut populasi dan sampel penelitian. Berdasarkan kutipan populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010: 173). Maka populasi dari penelitian ini adalah atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.

Sedangkan tentang jumlah sampel penelitian, penulis menggunakan purposive sampling. Menurut Sugiyono (2012:124) purposive sampling yaitu:

“Pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.” Artinya setiap unit/individu

yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu. yaitu: 1) Atlet yang sering latihan 2) Jumlah sampelnya banyak 3)

Mengikuti latihan dengan sungguh-sungguh 4) Mengikuti latihan sesuai dengan instrument. Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti mengambil sampel atlet

futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI 30 orang. C. Tempat dan Waktu Penelitian

Mengenai penyusunan tempat dan waktu dalam penelitian ini, penulis

menjabarkan sebagai berikut:

1. Observasi beberapa atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI yang

berkecimpung dalam UKM.

(24)

3. Melakukan pendekatan secara personal dan mengurus proses administrasi dan perizinanan secara formal.

4. Melakukan penerapan latihan rileksasi secara progresif berulang-ulang.

Setelah peneliti menemukan dan menentukan tempat dan sampel

penelitian, yaitu atlet futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI. Kemudian peneliti mengadakan penelitian atau pengambilan data secara personal melalui observasi pada tanggal 5-10 september 2012, dan mengadakan penelitian yang

intensif, mendalam dan formal dengan melampirkan perizinan administratif pada tanggal 1-2 september 2012. Penelitian dilakukan pada setiap atlet futsal divisi

sepak bola di UKM UPI melakukan latihan rutin pada hari senin, rabu di Gymnasium UPI.

D. Desain Penelitian

Menurut pola atau desain untuk melaksanankan penelitian ini merupakan hal yang penting. Hal ini untuk mempermudah langkah-langkah yang harus

dilakukan dalam suatu penelitian, sehingga terdapat alur yang menjadi pegangan agar penelitian tidak keluar dari ketentuan yang sudah ditetapkan, sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan

desain eksperimen, dimana sampel seluruhnya sebagai obyek penelitian. Oleh karena itu peneliti menyusun desain dari Arikunto (2010: 124) Pre-test and

(25)

39

Gambar 3.1. Desain Penelitian (Sugiyono, 2012: 111) Keterangan:

OІ : Pre-test sebelum penerapan latihan mental

OЇ : Pos-test sesudah penerapan latihan mental

Untuk memperoleh suatu penelitian yang sistematis dan terstruktur alur penelitian dari awal sampai akhir sehingga penelitian ini mencapai suatu tujuan yang akurat dan merupakan sebuah kesimpulan. Maka dari itu penulis gambarkan

suatu proses penelitian dari awal observasi hingga mencapai suatu kesimpulan yang diharapkan oleh peneliti. Gambar proses penelitian ini seperti terlihat pada

Bagan 3.1.

Bagan 3.1. Sampel

Tes Awal (Pre-tes)

Penerapan Latihan Mental Progressive Muscle

Relaxation

Tes Akhir (Pos-test)

Analisis Data

(26)

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kusioner).

Menurut Sugiyono (2012: 199) bahwa: “Kusioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan

atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.” Angket dalam penelitian ini digunakan peneliti untuk mengumpulkan data variabel, pengaruh

latihan rileksasi secara progresif terhadap penurunan kecemasan studi eksperimen pada atlet cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup

maksud angket tertutup adalah responden diberi alternatif jawaban dan cukup memilih jawaban yang dianggap paling cocok dengan pendapatnya dalam angket

yang telah ditetapkan oleh peneliti.

Untuk menjawab dan mendeskripsikan suatu masalah yang telah dirumuskan, diperlukan data yang benar, cermat, serta akurat karena keabsahan

suatu hasil jawaban tergantung kepada kebenaran dan ketetapan data yang diperoleh.

Hasil dari pengolahan data ini kemudian akan dijadikan sebagai sebuah kesimpulan dari hasil penelitian, dan akan menjawab permasalahan yang ada. Berkaitan dengan penelitian ini, Adapun petunjuk pelaksanaan penelitian tersebut

adalah sebagai berikut:

Tujuan : Mengukur tingkat penurunan kecemasan atlet, mengontrol emosi,

(27)

41

1. Alat yang digunakan: 1) Ruangan Gymnasium UPI

2) Kursi 3) Stop watch

2. Petunjuk pelaksanaan:

1) Mula-mula atlet disuruh duduk dengan relaks di kursi.

2) Melonggarkan bagian yang sempit, seperti ikat pinggang, jam tangan, dan

asesoris lainnya.

3) Konsentrasi pada instrumen yang diberikan.

4) Secara bergantian anggota tubuh diberi giliran untuk dilatih rileksasi.

5) Anggota tubuh tersebut secara bergantian ditegangkan dengan tegangan isometrik selama 10 detik atau lebih, kemudian dirileksasikan kembali selama

5 detik.

3. Gerakan dinyatakan gagal bila:

1) Tidak serius mengikuti latihan mentalnya, seperti berbicara, tidak konsentrasi. 2) Melakukan gerakan yang tidak sesuai dengan instrumen yang di berikan. 4. Cara penilaian:

1) Di lihat dari keseriusan mengikuti latihan rileksasi secara progresif yang di berikan.

(28)

1. Membuat Kisi-kisi Angket

Kisi-kisi instrumen yang diperlukan untuk mengukur tingkat kecemasan

atlet cabang olahraga divisi futsal UPI seperti terlihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1.

Kisi-kisi Angket (Dadang Hawari, 2006: 80)

Variabel penelitian Indikator No. item intrumen

Kelompok gejala

Berdasarkan pada teori-teori para ahli mengenai psikologis, diterimalah

setiap komponen yang disesuaikan dengan variabel penelitian yang hendak diteliti, dalam intrumen ini peneliti menggunakan skala sikap model skala likert.

Menurut Sugiyono (2012: 134) bahwa: “Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomenal sosial.” Sedangkan menurut Istijanto Oei (2010: 87) bahwa: “Skala

(29)

43

Dalam pembobotan skor yang mengacu kepada skala likert, yang penulis

kutip dalam Sugiyono (2012: 135) maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:

1. Sangat Setuju (SS) 5 2. Setuju (S) 4

3. Ragu-ragu (R) 3 4. Tidak Setuju (TS) 2 5. Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Setelah membuat butir-butir pernyataaan, selanjutnya penulis melakukan uji coba angket untuk menguji kadar validitas dan reabilitas intrumen.

Dalam hal ini maka perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang valid dan reliabel. Hasil penelitian yang valid dimana terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang

sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Menurut Sugiyono (2012: 173) bahwa: “Valid berarti

instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.” Sedangkan instrumen yang relibel menurut Sugiyono (2012: 173) bahwa: ”Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila mana digunakan beberapa

kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkna data yang sama.”

2. Pengujian Validitas Instrumen Angket

(30)

1. Mengumpulkan data dan memberikan skor pada masing-masing butir pernyataan yang terdapat dalam kusioner yang sesuai dengan pernyataan

responden.

2. Menjumlahkan seluruh skor yang sudah diberi skor dari responden.

3. Menyusun skor yang telah diperoleh dari seluruh responden dari mulai skor yang tinggi sampai skor yang paling rendah.

4. Mencari nilai rata-rata dari hasil setiap butir pernyataan yang telah diberi skor

dari responden.

5. Menyimpulkan hasil keseluruhan nilai rata-rata dari butir pernyataan.

3. Menguji validitas dan Reabilitas Instrumen Angket

Untuk mengetahui kesahihan dan keterandalan instrumen, peneliti menguji dengan uji validitas dan reabilitas tes.

̅

=

Keterangan :

̅ = Nilai rata-rata yang dicari

∑ = Jumlah skor

= Jumlah sampel

a. Mencari simpangan baku (S) setiap butir pernyataan dengan rumus yang dikutip oleh penulis dalam Sudjana (2005: 93) sebagai berikut:

Rumus yang digunakan untuk mencari rata-rata adalah sebagai berikut:

S =

(31)

45

Keterangan Rumus :

S = Simpangan baku

∑(XІ-XЇ) ² = Jumlah skor yang dikurangi rata-rata dikuadratkan

n = Jumlah responden

b. Mencari simpangan baku kuadrat atau vaiansi (S²) setiap butir soal baik

kelompok atas maupun kelompok bawah, yaitu hasil kuadrat dari simpangan baku.

c. Mencari t-hitung untuk setiap butir soal baik kelompok atas maupun kelompok

bawah dengan rumus yang dikutip oleh penulis dalam Sugiyono (2012: 273) adalah sebagai berikut:

t =

Keterangan Rumus:

t = Nilai t hitung yang dicari

XІ = Nilai rata-rata kelompok atas

XЇ = Nilai rata-rata kelompok bawah

S² = Simpangan baku kuadrat

nІ = Jumlah responden

nЇ = Jumlah responden kelompok bawah

Sebelum mencari t-hitung terlebih dahulu mencari variansi gabungan (S²) antara kelompok atas dengan kelompok bawah melalui rumus yang dikutip oleh

penulis dalam Sugiyono (2012: 181) sebagai berikut:

(32)

Keterangan Rumus:

S² = Variansi gabungan yang dicari

nІ = Jumlah responden kelompok atas

nЇ = Jumlah responden kelompok bawah

SІ² = Variansi kelompok atas

SЇ² = Variansi kelompok bawah

d. .Mencari nilai t-tabel dengan tingkat kepercayaan ( dan derajat

kebebasannya = nІ-nЇ = 15+15-2 = 28 atau nilai t-tabel 1,70 (dalam

daftar nilai persentil untuk distribusi t).

e. Membandingkan nilai t-hitung (1,87) dengan nilai t-tabel (1,70) dan ternyata

nilai t-hitung (1,87) lebih besar dari nilai t-tabel (1,70), dengan demikian butir soal nomor satu valid dan dapat dikatakan bahwa butir soal nomor satu dapat mengukur yang seharusnya diukur atau dijadikan sebagai alat pengumpul data.

(33)

47

Tabel 3.2.

Hasil Pengujian Validitas Butir Soal Angket

No. Soal t-hitung t-tabel (alfa=0,05,dk 7) keterangan

(34)

Tabel 3.2 (Lanjutan)

38 2.48 1.70 Valid

39 4.33 1.70 Valid

40 2.72 1.70 Valid

Berdasarkan Tabel 3.3, tampak bahwa butir soal yang valid berjumlah 34 soal dan butir soal yang tidak valid 6 butir. Butir soal yang tidak valid karena nilai

t-hitung lebih kecil daripada nilai t-tabel (1,70 pada tingkat kepercayaan ( 0,05

dan derajat kebebasan = 40. Butir soal yang tidak valid berjumlah 6 butir oleh penulis dibuang, sedangkan butir soal yang valid berjumlah 34 butir soal

digunakan sebagai alat pengumpul data psikologis atlet cabang olahraga divisi futsal di UKM sepak bola UPI.

4. Pengujian Reabilitas Instrumen

Setelah diketahui butir soal yang valid, maka langkah selanjutnya ialah menguji reabilitas instrumen. Menurut Arikunto (2010: 221) mengatakan bahwa: “Reabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu.” Reliabel artinya, dapat

dipercaya, jadi dapat diandalkan.

Dalam pengujian reliabilitas terhadap item tes yang digunakan dalam

penelitian ini, penulis menggunakan metode tes belah dua ganjil-genap. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Membagi butir soal yang valid menjadi dua antara butir soal yang ganjil sebagi variabel X dan butir soal genap sebagai variabel Y. dalam instrumen terdapat 34 pernyataan yang valid sehingga terdapat butir soal yang ganjil (variabel X)

(35)

49

b. Mengkorelasikan skor total variabel X dengan skor total variabel Y melalui rumus korelasi produck moment ( Arikunto, 2010: 22) sebagai berikut:

=

√ ∑ ∑ ∑ ∑

Keterangan Rumus:

= Koefisiensi korelasi yang dicari

n = Jumlah responden

∑X = Jumlah skor variabel X (skor total butir soal)

∑Y = Jumlah skor variabel Y (skor total butir) ∑XY = Jumlah skor variabel X dikalikan dengan Y

∑X² = Jumlah hasil kuadrat skor variabel X ∑Y² = Jumlah hasil kuadrat skor variabel Y

Perhitungan korelasi rumus produck moment seperti terlihat pada Tabel 3.3.

(36)

Tabel 3.3 (Lanjutan)

(37)

51

=

=

0,955782186

Menguji signifikan, yaitu membandingkan antara r-tabel produck moment.

Dari r-tabel produck moment dengan tingkat kepercayaan n = 30 didapat nilai r = 0,361. Ternyata nilai r-hitung (0,913) lebih besar dari nilai r -tabel (0,955) yang artinya instrumen memiliki tingkat reabilitas yang signifikan.

F. Teknik Analisis Data

Dalam Sugiyono (2012: 334) Bogdan menyatakan bahwa:

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Langkah-langkah dalam menganalisa data dalam penelitian ini terbagi pada bebrapa tahapan sebagai berikut:

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu peneliti perlu mencatat secara teliti dan terinci dengan baik. Seperti telah

dikemukakan, makin lama peneliti kelapangan, maka jumlah data akan makin banyak, komplek dan rumit. Untuk itu maka peneliti perlu segera mereduksi data yang berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan kepada

(38)

Reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan kecerdasan, keluasaan dan kedalaman wawasan yang tinggi.reduksi dilakukan

selama proses pengumpulan data berlangsung, adapun data-data yang direduksi terdiri dari data hasil dokumentasi (perhitungan angket).

2. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data penelitian direduksi, maka langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti mendisplaykan data. yaitu mengelompokkan dan

menggolongkan data dengan tujuan untuk mempermudah dan memperlancar pengolahan data. Untuk mengetahui hasil pengolahan data sehingga dapat

menggambarkan masalah yang diungkap, maka penulis menggunakan teknik perhitungan data sebagai berikut:

a. Mencari rata-rata jawaban keseluruhan sampel dengan cara menjumlahkan

rata-rata keseluruhan soal semua sampel, kemudian dibagi jumlah soal. b. Mencari rata-rata jawaban tiap atlet sampel penelitian.

Untuk mengetahui dan memperoleh hasil pengolahan data yang dilakukan peneliti agar dapat menggambarkan masalah yang diungkapkan, yaitu mengetahui pengaruh latihan rileksasi secara progresif terhadap penurunan kecemasan studi

eksperimen atlet cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI. Adapun hasil kriteria yang penulis susun menggunakan kriteria pengolahannya

(39)

53

Tabel 3.4. Kriteria Pengolahan

Skala Likert Skor Skala Psikologis

Sangat Setuju 5 Gejala Berat sekali

Setuju 4 Gejala Berat

Ragu-ragu 3 Gejala Sedang

Tidak Setuju 2 Gejala Ringan

Sangat Tidak Setuju 1 Tidak Ada Gejala

3. Conclusion Drawing /Verification

Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and

Huberman dalam Sugiyono (2012: 345) adalah: ”Penarikan kesimpulan dan verifikasi.” Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan

akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat

menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah

dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada dilapangan. pada akhir penelitian, penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara menggabungkan data yang diperoleh setiap penelitian

(40)

4. Menghitung skor rata-rata dari setiap kelompok, digunakan rumus:

̅

=

Keterangan :

̅ : Nilai rata-rata yang dicari

∑ : Jumlah skor

: Jumlah sampel

5. Menghitung simpangan baku (S) dengan rumus sebagai berikut:

S =√∑

Keterangan Rumus :

S : Simpangan baku yang dicari

∑(XІ-XЇ) ² : Jumlah skor yang dikurangi rata-rata dikuadratkan

n -1 : Jumlah responden dikurangi satu

6. Menguji variansi dengan rumus:

S² = ∑ ∑

Keterangan Rumus:

S² : Variansi yang dicari

XІ : Skor yang diperoleh

n : Jumlah responden

n – 1 : Jumlah responden dikurangi satu

(41)

55

Z1 =

S (Zi) =

8. Uji homogenitas dengan yang digunakan menurut Nurhasan et al. (2008: 125):

F =

9. Uji signifikan ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara hasil tes awal dan hasil tes akhir latihan dengan menggunakan rumus t menurut Sudjana (2005: 242):

t = ̅

√ ⁄

Keterangan rumus:

t : Nilai kritis untuk uji signifikasi beda

̅ : Rata-rata beda

SB : Simpangan baku beda n : Jumlah responden

10. Pengujian hipotesis

Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

HЅ : μІ< μЇ, Latihan rileksasi secara progresif tidak memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap penurunan kecemasan atlet cabang olahraga pada

divisi sepak bola di UKM UPI.

HІ : μІ > μЇ, Latihan rileksasi secara progresif memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap penurunan kecemasan atlet cabang olahraga

(42)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang peneliti peroleh dari hasil instrumen penelitian dan pengolahan data, maka dapat penulis simpulkan bahwa: “Latihan rileksasi secara

progresif memberi pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tingkat kecemasan atlet cabang olahraga futsal pada divisi sepak bola di UKM UPI.”

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan, penulis ingin menyampaikan beberapa saran sebagi berikut:

1. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi lembaga-lembaga terkait seperti KONI, PSSI, PENGCAB, PENGPROV dan PPLP untuk dapat memperhatikan masalah perkembangan mental atlet-atlet

binaannya.

2. Kepada para pembina khusunya yang ada di FPOK untuk lebih meningkatkan

(43)

DAFTAR PUSTAKA

Abrahamsen, et al. (2008). Achievement goals and gender effects on multidimensional anxiety in national elite sport.” Pshychology of sport and exercise: Norwegian University of Sport Sciences.

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-aspek Psikologis dalam Coaching. Jakarta: C.V. Tambak Kusuma.

Husdarta. (2010). Psikologi Olahraga. Bandung: Alfabeta.

Hawari, Dadang, (2006). Manajemen Stres,Cemas, dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Ibrahim, Rusli. dan Komarudin (2008). Modul Psikologi Olahraga. Bandung: FPOK UPI.

Ibrahim, Rusli. dan Komarudin (2007). Modul Psikologi Kepelatihan Olahraga. Bandung: FPOK UPI.

Ibrahim, Sani,A. (2012). Panik Neurosis dan Gangguan Cemas. Tangerang: Jelajah Nusa.

Komarudin. (2012). Latihan Rileksasi. Bandung: Makalah disampaikan pada

Pentaran Pelatih Bola Basket Lisensi C. di Tasikmalaya. Margajaya, Rakhmat. (2008). Futsal. Jakarta: Ganesa Exact.

Nurhasan. (2008) Statistika. Bandung:FPOK UPI.

Satria, et al. (2007). Modul Metodologi Kepelatihan Olahraga. Bandung: FPOK UPI.

Setyobroto, Sudibyo. (1993). Psikologi Olahraga. Jakarta: UNJ.

Setyobroto, Sudibyo. (2002). Psikologi Kepelatihan Olahraga. Jakarta: CV Jaya Sakti.

(44)

Sugiyono. (2012) Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Mcmorris, Teryy. (2006). Coaching Science. Wes Sussex: John Wiley & Sons ltd. Oei, Istijanto. (2010). Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Gambar

Tabel
Gambar
Gambar 3.1.
Tabel 3.1.
+6

Referensi

Dokumen terkait

DAMPAK LATIHAN KELINCAHAN TERHADAP PENINGKATAN SERANGAN TENDANGAN TEKNIK MAWASHI GERI PADA CABANG OLAHRAGA KARATE.. ( Studi Eksperimen pada Atlet UKM Karate

diketahui bahwa cedera olahraga atlet sepak bola usia di bawah 12 tahun dengan hasil terbanyak adalah pada cedera pergelangan kaki yang banyak terjadi pada atlet usia 11

Pengaruh Bentuk Latihan Untuk Mengurangi Kecemasan Terhadap Hasil Free Throw (Tembakan Bebas) Cabang Olahraga Bola Basket Pada Atlet SMA Negeri 9 Bandung.. Universitas

Tujuan penelitian ini untuk: 1) Mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan kemampuan mengendalikan emosi pada pemain futsal puteri UKM UPI 2) Mengetahui

JUDUL : DAMPAK PENERAPAN PELATIHAN TABATA TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN DAYA TAHAN KECEPATAN ( SPEED ENDURANCE) (Studi Eksperimen Atlet Futsal Puteri UPI

Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Latihan foot speed ladder drill terhadap peningkatan kelincahan menggiring bola pada cabang olahraga sepak

Alat ukur yang digunakan untuk melihat hubungan social support dengan emotional Intelligence pada mahasiswa atlet UKM sepak bola adalah skala social support dan

Maka, tidak hanya inteligensi hasil belajar yang mempengaruhi prestasi atlet Peltda PON ke XV cabang olahraga sepak takraw di Provinsi Gorontalo Tahun 2016, namun banyak faktor diluar