PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) PADA MATERI REAKSI REDOKS

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA N 10 KOTA JAMBI

KARYA ILMIAH

OLEH

LISA ANWAR FARNANDA NIM A1C110008

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI

(2)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) PADA MATERI REAKSI REDOKS

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA N 10 KOTA JAMBI

Oleh:

Lisa Anwar Farnanda

Jurusan PMIPA Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas jambi

E-mail: lisaanwarfarnanda@yahoo.co.id

ABSTRAK

Konsep kimia yang bersifat abstrak menjadikan ilmu kimia salah satu mata pelajaran sulit bagi siswa. Pada materi reaksi redoks terdapat berbagai konsep-konsep penting yang harus dikuasai oleh siswa seperti oksidasi, reduksi, oksidator dan reduktor. Untuk itu perlu diterapkan suatu model pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS) yaitu model yang memberikan kesempatan kepada siswa

untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada materi reaksi redoks terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA N 10 Kota Jambi dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X SMA N 10 Kota Jambi setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada materi reaksi redoks. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Quasi-Eksperimental. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonrandomized Control Group Pretest-Posttest Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Sampling Purposive, diperoleh 2 kelas sampel yaitu kelas X2 sebagai kelas eksperimen sedangkan kelas X1 sebagai kelas kontrol. Adapun instrumen yang digunakan adalah dokumentasi, observasi dan tes. Data diuji kenormalan dengan uji Liliefors dan diuji homogenitas dengan uji Fischer kemudian menguji hipotesis menggunakan uji kesamaan dua rata-rata, uji satu pihak yaitu uji pihak kanan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa rata nilai pretest kelas eksperimen yaitu 23,77 dan rata-rata nilai pretest kelas kontrol yaitu 20,57. Sedangkan rata-rata-rata-rata nilai posttest hasil belajar kelas eksperimen yaitu 73,49 dan rata-rata nilai posttest hasil belajar kelas kontrol yaitu 66,63. Pada uji hipotesis nilai posttest diperoleh thitung = 3,112 dan

ttabel = 1,661.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh

yang signifikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada materi reaksi redoks terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA N 10 Kota Jambi.

Kata kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share dan Hasil Belajar

(3)

PENDAHULUAN

Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. Sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik (Slameto, 2010: 1). Dalam hal ini guru mempunyai peran yang sangat penting untuk menciptakan proses belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan siswa. Dimana siswa dituntut untuk memahami mata pelajaran dan dapat mengaplikasikan mata pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Banyaknya konsep kimia yang bersifat abstrak yang harus diserap siswa dalam waktu relatif terbatas menjadikan ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran sulit bagi siswa sehingga banyak siswa gagal dalam belajar kimia. Pada umumnya siswa cenderung belajar dengan hafalan daripada secara aktif mencari untuk membangun pemahaman mereka sendiri terhadap konsep kimia. Ada juga sebagian siswa yang sangat paham pada konsep-konsep kimia, namun tidak mampu mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Suyanti, 2010: 42).

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia di SMA N 10 Kota Jambi bahwa guru masih menggunakan model penyampaian langsung yang

dilanjutkan dengan memberikan soal latihan sehingga siswa tidak hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh guru melainkan dapat mengembangkan pengetahuan yang diperoleh. Namun dalam kegiatan pembelajaran hanya sebagian siswa yang berpartisipasi aktif, sehingga saat mengerjakan soal latihan ada sebagian siswa yang mengalami kesulitan. Siswa yang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran bisa mengerjakan soal tersebut. Sedangkan siswa yang kurang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran kurang bisa mengerjakan soal tersebut. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar untuk sebagian siswa khususnya pada materi reaksi redoks dimana rata-rata hasil belajar siswa tahun ajaran 2012/2013 pada materi reaksi redoks yaitu 67,92. Nilai tersebut masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dimana KKM yang ditetapkan oleh guru kimia kelas X SMA N 10 Kota Jambi pada materi redoks yaitu 69. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), dimana model pembelajaran tersebut tidak pernah diterapkan pada materi reaksi redoks.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dimana siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lainnya. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya (Trianto, 2007: 42).

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang bernaung dalam teori belajar konstruktivisme. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya (Trianto, 2007: 41). Menurut teori belajar

(4)

konstruktivisme guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka (Baharudin dan Wahyuni, 2010:115). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Sagala, 2013: 88).

Untuk membangun pengetahuan siswa agar lebih mudah memahami konsep sebaiknya siswa terlibat secara langsung dalam mempelajari pengetahuan baru. Proses mengingat akan lebih bermakna setelah memahami suatu konsep, siswa dapat mengingat lebih lama konsep tersebut karena terlibat secara aktif dalam mengaitkan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan yang ada untuk memahami pengetahuan baru. Menurut Ibrahim dkk (2000: 16) teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompetitif.

Model pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS) adalah model ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah terciptanya optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2007: 57). Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TPS

dalam pembelajaran, yaitu: Think

(berpikir), pembelajaran diawali dengan guru memberikan suatu pertanyaan kepada siswa dan meminta siswa untuk berpikir secara individu. Kemudian Pair

(berpasangan), pada langkah ini guru meminta siswa untuk berpasangan mendiskusikan pertanyaan yang telah diberikan, dengan berpasangan siswa lebih mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu pertanyaan dimana salah satu prinsip pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab perseorangan.

Selanjutnya yang terakhir yaitu Share

(berbagi), dimana pada langkah ini pasangan menyampaikan hasil diskusi.

Pada materi reaksi redoks terdapat berbagai konsep-konsep penting yang harus dikuasai oleh siswa seperti oksidasi, reduksi, oksidator dan reduktor yang ditinjau dari pengikatan dan pelepasan oksigen, pelepasan dan penerimaan elektron serta dari pertambahan dan penurunan bilangan oksidasi kemudian menentukan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa dan ion. Siswa dituntut untuk mampu menguasai konsep tersebut agar dapat memahami mana yang termasuk reaksi redoks dan bukan reaksi redoks serta dapat mengaplikasikan reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS,

siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang penting apabila mereka saling mendiskusikan masalah dengan temannya. Melalui diskusi dapat memberi siswa lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu sehingga dapat meningkatkan pemahaman belajar siswa dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)

Pada Materi Reaksi Redoks Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA N 10 Kota Jambi”

KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran

Belajar secara psikologis adalah suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010: 2).

(5)

Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman (Baharudin dan Wahyuni, 2010: 11). Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami (Hamalik, 2011: 27).

Menurut Sagala (2013: 61) pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 297) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

B. Model Pembelajaran

Menurut Aunurrahman (2009: 146) model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Model pembelajaran juga dapat dimaknai sebagai perangkat rencana atau pola yang dapat dipergunakan untuk merancang bahan-bahan pembelajaran serta membimbing aktivitas pembelajaran dikelas atau di tempat-tempat lain yang melaksanakan aktivitas-aktivitas pembelajaran.

C. Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Think Pair Share (TPS) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola

interaksi peserta didik. Pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan teman-temannya di Universitas Maryland, menyatakan bahwa Think Pair Share

merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran kooperatif tipe TPS ini memberi peserta didik kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain (Lie, 2007: 57).

Menurut Trianto (2007: 61), langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS) sebagai berikut: 1) Langkah 1: Berpikir (Thinking)

Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. 2) Langkah 2: Berpasangan (Pairing)

Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

3) Langkah 3: Berbagi (Sharing)

Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan.

D. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relative menetap dalam diri seseorang sebagai akibat interaksi seseorang dengan lingkungannya. Hasil belajar memiliki beberapa ranah atau kategori dan secara umum merujuk kepada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hasil belajar siswa yang tampak dalam sejumlah kemampuan atau kompetensi setelah melewati kegiatan

(6)

belajar mengajar sering hanya dinilai dari aspek kognitif saja. Padahal dalam kenyataannya siswa yang belajar pengetahuan tertentu sebenarnya tidak hanya memperoleh keterampilan kognitif saja, tetapi pada saat yang sama juga memperoleh keterampilan lain seperti keterampilan psikomotorik. Jadi, tampak bahwa antara ranah kognitif dan ranah psikomotorik sebenarnya saling melengkapi, bahkan disertai oleh hasil belajar dalam ranah afektif (sikap). Begitu juga sebaliknya, siswa yang belajar keterampilan psikomotorik sebenarnya juga belajar secara kognitif dan pembentukkan sikap (Uno, 2007: 213).

E. Reaksi Redoks

1. Oksidasi–Reduksi sebagai Pengikatan dan Pelepasan Oksigen Larutan Elektrolit

Oksidasi adalah pengikatan oksigen. Reduksi adalah pelepasan oksigen. 2. Oksidasi – Reduksi sebagai Pelepasan

dan Penerimaan Elektron

Oksidasi adalah pelepasan elektron. Reduksi adalah penyerapan elektron. 3. Oksidasi – reduksi sebagai

Pertambahan dan Penurunan Bilangan Oksidasi

Oksidasi adalah pertambahan bilangan oksidasi.

Reduksi adalah penurunan bilangan oksidasi.

Bilangan oksidasi adalah besarnya muatan yang diemban oleh suatu atom dalam suatu senyawa, jika semua elektron ikatan didistribusikan kepada unsur yang lebih elektronegatif.

Contoh Rumus Lewis H2O:

Oleh karena O lebih elektronegatif daripada H, maka elektron ikatan didistribusikan pada atom O. Jadi, bilangan

oksidasi O = -2, sedangkan H masing-masing = +1.

Reaksi disproporsionasi adalah reaksi redoks yang oksidator dan reduktornya merupakan zat yang sama. Jadi, sebagian dari zat itu mengalami oksidasi, dan sebagian lagi mengalami reduksi. Reaksi konproporsionasi merupakan kebalikan dari reaksi disproporsionasi, yaitu reaksi redoks yang mana hasil reduksi dan oksidasinya sama.

Tata Nama IUPAC a. Senyawa ion

Cu2S : tembaga(I) sulfida

CuS : tembaga(II) sulfida FeSO4 : besi (II) sulfat

Fe2(SO4)3 : besi(III) sulfat

b. Senyawa kovalen N2O : nitrogen(I) oksida N2O3 : nitrogen(III) oksida P2O5 : fosforus(V) oksida P2O3 : fosforus(III) oksida METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan adalah Quasi-Eksperimental yaitu penelitian yang mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Nonrandomized Control Group Pretest-Posttest Design.

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Sampling Purposive. Pada penelitian ini digunakan 2 kelas sampel, X2 sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan kelas X1 sebagai kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran Direct Instruction (Penyampaian Langsung).

Adapun instrumen yang digunakan adalah dokumentasi, observasi dan tes. Data diuji kenormalan dengan uji Liliefors dan diuji homogenitas dengan uji Fischer kemudian menguji hipotesis menggunakan uji kesamaan dua rata-rata, uji satu pihak yaitu uji pihak kanan.

(7)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebelum diberikan perlakuan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka masing-masing kelas terlebih dahulu diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Berdasarkan data hasil analisis statistik terhadap kemampuan awal siswa, diperoleh rata-rata hasil pretest kelas eksperimen = 23,77 sedangkan rata-rata hasil pretest kelas kontrol = 20,57. Setelah selesai diberikan perlakuan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka masing-masing kelas diberikan posttest untuk mengetahui hasil belajar siswa. Berdasarkan data hasil analisis statistik terhadap hasil belajar siswa, dapat diketahui bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen = 73,49 sedangkan rata-rata hasil belajar pada kelas kontrol = 66,63.

Setelah dilakukan pengolahan data secara statistik yaitu uji normalitas dan uji homogenitas ternyata kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Kemudian dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t satu pihak yaitu pihak kanan dan diperoleh hasil thitung = 3,112

sedangkan ttabel = 1,661. Karena thitung > dari

ttabel maka dapat disimpulkan bahwa H1

diterima, berarti terdapat pengaruh yang signifikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS )

pada materi reaksi redoks terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA N 10 Kota Jambi.

Pembelajaran pada kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Siswa dikelompokkan berpasangan dengan teman sebangkunya, mengerjakan tugas secara individu kemudian berdiskusi

dengan pasangannya dan

mempresentasikan hasil diskusi. Pada kegiatan awal pembelajaran guru memberikan apersepsi dan motivasi untuk menarik perhatian siswa, kemudian guru mengemukakan tujuan pembelajaran serta gambaran mengenai reaksi redoks.

Pada kegiatan inti guru menjelaskan point-point penting materi reaksi redoks. Berdasarkan hasil observasi pada aspek memperhatikan penjelasan guru dengan persentase 72%, lalu siswa mencatat materi yang sudah dijelaskan oleh guru dengan persentase 70%. Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara individu dengan persentase 71%. Selanjutnya siswa berdiskusi dengan cara berpasangan bersama teman sebangkunya atau bekerjasama dalam kelompok dengan persentase 71%, pada tahap ini siswa saling belajar dengan teman sebangkunya, karena siswa akan lebih mudah mengerti apabila belajar dari temannya serta melatih siswa yang berbeda kemampuan akademiknya untuk dapat bekerja sama serta menghargai pendapat orang lain.

Setelah siswa berdiskusi dengan pasangannya lalu tiap-tiap pasangan mempresentasikan hasil diskusi, bagi siswa lain yang mempunyai pendapat yang berbeda dapat mengemukakan pendapatnya dengan persentase 70% dan mendengarkan pendapat kelompok lain dengan persentase 71%. Melalui diskusi ini siswa dapat memahami lebih jauh mengenai reaksi redoks. Setelah selesai diskusi tugas tersebut dikumpulkan, dari hasil observasi menunjukkan bahwa siswa mengikuti pembelajaran dengan baik yaitu 72%.

Pada kegiatan akhir, guru memberikan tugas rumah kepada siswa agar dapat mengulangi dan memahami dengan baik pelajaran yang sudah dipelajari. Pada model pembelajaran ini, siswa yang harus aktif untuk memahami pelajaran dan peran guru disini tidak mendominasi dalam pembelajaran.

Menurut Slavin (dalam isjoni, 2009: 17) menyebutkan pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan model pembelajaran yang telah dikenal sejak lama, dimana pada saat itu guru mendorong para siswa untuk melakukan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti diskusi atau pengajaran oleh teman sebaya (peer teaching). Dalam

(8)

melakukan proses belajar mengajar guru tidak lagi mendominasi seperti lazimnya pada saat ini, sehingga siswa dituntut untuk berbagi informasi dengan siswa yang lainnya dan saling belajar mengajar sesama mereka.

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang bernaung dalam teori belajar konstruktivisme, dimana siswa secara aktif mengkonstruksi atau membangun pengetahuannya dengan cara mengaitkan pengetahuan lama dengan yang baru dipelajari melalui diskusi. Menurut Isjoni (2009: 33) proses mengingat akan lebih bermakna setelah memahami suatu konsep, siswa akan dapat mengingat lebih lama konsep tersebut karena terlibat secara aktif dalam mengaitkan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan yang ada untuk membina pengetahuan baru.

Proses konstruksi atau membangun pengetahun siswa dalam pembelajaran pada kelas eksperimen dengan cara memberikan contoh reaksi sebagai berikut Zn(s) + PbO(aq)  ZnO(aq) + Pb(s). Berdasarkan contoh tersebut, siswa diminta untuk dapat menentukan apakah reaksi tersebut termasuk reaksi redoks atau bukan, jika reaksi tersebut merupakan reaksi redoks, termasuk pada konsep perkembangan reaksi redoks yang bagaimana. Sebelum diberikan contoh guru telah menjelaskan konsep-konsep perkembangan reaksi redoks.

Pembelajaran pada kelas kontrol dengan menerapkan model pembelajaran

Direct Instruction (Penyampaian

Langsung). Pada kegiatan awal pembelajaran guru memberikan apersepsi dan motivasi untuk menarik perhatian siswa, kemudian guru mengemukakan tujuan pembelajaran serta gambaran mengenai reaksi redoks. Selanjutnya pada kegiatan inti guru menjelaskan materi reaksi redoks. Berdasarkan hasil observasi pada aspek memperhatikan penjelasan guru dengan persentase 68%, lalu siswa mencatat materi yang sudah dijelaskan oleh guru dengan persentase 68% . Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa untuk

mengecek pamahaman siswa dan setelah itu dikumpulkan. Berdasarkan hasil observasi pada aspek mengerjakan tugas secara individu dengan persentase 66% dan untuk mengerjakan tugas secara kelompok dengan persentase 65%. Selanjutnya guru dan siswa membahas tugas tersebut, hasil observasi pada aspek mengemukakan pendapat yaitu 65% dan mendengarkan pendapat yaitu 69%. Dari hasil observasi menunjukkan bahwa siswa mengikuti pembelajaran dengan baik yaitu 70%. Pada kegiatan akhir, guru memberikan tugas rumah agar siswa memahami materi yang sudah dipelajari.

Pemilihan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Materi reaksi redoks merupakan materi yang berisi konsep-konsep penting diantaranya reduksi, oksidasi, oksidator dan reduktor, bilangan oksidasi serta tata nama IUPAC. Siswa dituntut untuk mampu memahami pengertian reduksi dan oksidasi berdasarkan teori perkembangan reaksi redoks, cara menentukan bilangan oksidasi dan hubungannya dengan tata nama IUPAC. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair

Share (TPS ), memberikan kesempatan

kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan dapat membangun pengetahuan terhadap reaksi redoks serta dapat bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain.

Adapun kendala saat melaksanakan pembelajaran di kelas menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yaitu pada tahap Think, dimana siswa harus berpikir secara individu. Pada pertemuan pertama siswa belum terbiasa untuk mengerjakan tugas secara individu. Kemudian tahap Pair,

dimana siswa berpasangan dengan teman sebangkunya untuk saling berdiskusi terhadap hasil yang diperoleh secara individu. Pada pertemuan pertama masih terlihat siswa yang kurang serius dalam berdiskusi. Terakhir yaitu tahap Share,

(9)

banyak kelompok yang akan melaporkan tugasnya pada guru, guru harus memonitor banyak kelompok dan banyak waktu yang digunakan. Untuk mengatasi hal tersebut guru harus membagi kelompok berdasarkan kemampuan berpikir siswa sehingga siswa dengan kemampuan tinggi bisa membantu siswa yang kemampuannya rendah, dimana tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui kerjasama dalam kelompok serta sering memonitor tugas kelompok.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa:

1. Hasil pengujian hipotesis menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS) pada materi reaksi redoks terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA N 10 Kota Jambi, yang ditunjukkan dengan thitung > ttabel.

2. Hasil perhitungan normalized gain <g> menyimpulkan bahwa rata-rata

normalized gain <g> pada kelas eksperimen yaitu 0,652 dengan kriteria sedang dan rata-rata

normalized gain <g> pada kelas kontrol yaitu 0,580 dengan kriteria sedang.

DAFTAR RUJUKAN

Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. 2010. Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran dan Asesmen. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian

Suatu Pendekatan Praktik,

Jakarta: Rineka Cipta

Arti, E. B. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Menggunakan Peta Pikiran

Terhadap Pemahaman Dan

Aktivitas Siswa Kelas X Pada Materi Gerak SMA Negeri 1

Tahunan Jepara. Semarang: IKIP PGRI Semarang

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Baharudin dan Wahyuni E.N. 2010. Teori

Belajar dan Pembelajaran.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Darmadi, H. 2011. Metode Penelitian

Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Rineka

Cipta

Hamalik, O. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara Ibrahim, M., Rachmadiarti, F., Nur, M., dan

Ismono, 2000. Pembelajaran

Kooperatif. Surabaya: UNESA

University Press

Jihad, A., dan Haris, A. 2008. Evaluasi

Pembelajaran. Jakarta: Multi

Pressindo

Isjoni. 2009. Cooperative Learning.

Bandung: Alfabeta

Lie, A. 2007. Cooperative Learning

Mempraktikkan Cooperative

Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo

Mutoharoh, S. 2011. Pengaruh Model

Guided Discovery Learning

Terhadap Hasil Belajar Siswa

Pada Konsep Laju Reaksi.

Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Purba, M. 2007. Kimia SMA Untuk Kelas X

Semester 2. Jakarta: Erlangga Riduwan. 2012. Belajar Mudah Penelitian.

Bandung: Alfabeta

Sagala, S. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

(10)

Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran

Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Kencana Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor

Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning

Teori Riset dan Praktek.

Bandung: Nusa Media

Sudjana, N. 2005. Metode Statistika.

Bandung: Tarsito

Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta . 2013. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung: Alfabeta Sukardi. 2011. Evaluasi Pendidikan Prinsip

& Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara

Suyanti, D.R. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu Syah, M. 2012. Psikologi Pendidikan

dengan Pendekatan Baru.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran

Inovatif Berorientasi

Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Uno, H.B. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Wahyuni, S. 2014. Pengaruh Permainan Bingo Terhadap Hasil Belajar Pada Materi Larutan Elektrolit Dan Non-Elektrolit Di Kelas X

Madrasah Aliyah Laboratorium

Kota Jambi. Jambi: UNJA

Warsita, B. 2008. Teknologi Pembelajaran

Landasan dan Aplikasinya.

Jakarta: Rineka Cipta

Yamin, M. 2007. Desain Pembelajaran

Berbasis Tingkat Satuan

Pendidikan. Jakarta: Gaung

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...