• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengambilan Keputusan

2.1.1 Pengertian pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan adalah proses memilih altenatif-alternatif bagaimana cara bertindak efisien sesuai dengan situasi. Definisi tersebut sejalan dengan Terry (Syamsi, 1995) yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih, tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang memungkinkan.

Shull, dkk (dalam taylor, 1994) mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai suatu kesadaran dalam proses manusia, menyangkut individu dan fenomena sosial berdasarkan hal-hal yang fakta dan aktual yang menghasilkan pilihan dari satu aktivitas perilaku yang berasal dari satu atau lebih pilihan. Definisi di atas senada dengan pernyataan morgan (1986) bahwa pengambilan keputusan merupakan salah satu jalan dari penyelesaian masalah dimana kita dihadapkan dengan berbagai pilihan yang harus kita pilih.

Janis dan Mann (1987) menyebutkan bahwa pengambilan keputusan merupakan pemecahan masalah dan terhindar dari faktor situsional.

“decision making as a matter of conflict resolution and avoidance behaviors due to situasional factor”

(2)

Pengertian pengambilan keputusan yang digunakan dalam penelitian adalah pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh Janis dan Mann (1987) bahwa pengambilan keputusan merupakan pemecahan dari masalah agar terhindar dari faktor-faktor situasional.

2.1.2 Pertimbangan dalam pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan melibatkan pertimbangan-pertimbangan. Janis dan Mann (1987) mengelompokkan pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan menjadi dua kelompok, yaitu :

a. Pertimbangan utilitarian, yaitu segala pertimbangan yang berhubungan dengan instrumental dari suatu keputusan. Pertimbangan utilitarian meliputi:

1) Pertimbangan keuntungan dan kerugian bagi diri sendiri, meliputi antisipasi pengaruh keputusan terhadap kesejahteraan pribadi dalam pengambilan keputusan.

2) Pertimbangan keuntungan dan kerugian bagi orang lain, termasuk hal-hal yang diantisipasikan akan berpengaruh terhadap pihak lain.

b. Pertimbangan nonutilitarian, yaitu pertimbangan-pertimbangan lain diluar efek instrumental dari suatu keputusan. Pertimbangan nonutilitarian meliputi:

1) Penerimaan dan penolakan dari diri sendiri, yang melibatkan emosi atau perasaan dan harga diri seseorang.

(3)

2) Penerimaan dan penolakan dari orang lain, yang melibatkan kritik atau penghargaan dari orang lain yang mempengaruhi alternatif yang dipilih.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan serta alternatif yang akan dipilih oleh pengambilan keputusan. Selain pertimbangan-pertimbangan diatas, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan (Terry dalam Hendrian, 2012) yaitu :

1. Fisik

Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

2. Emosional

Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan beraksi pada suatu situasi secara subjektif.

3. Rasional

Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.

4. Praktikal

Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakannya. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak.

(4)

5. Interpersonal

Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

6. Lingkungan

Didasarkan pada lingkup sosial dimana lingkungan dapat memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu 2.1.3 Fungsi Keputusan

Mengapa “Pengambilan Keputusan” itu merupakan masalah yang sangat penting?

Masalah intinya ada dua yakni:

1) Keputusan itu merupakan pangkal atau permulaan dari semua macam aktifitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individuil maupun berkelompok, secara institusionil atau organisasionil. Jadi, barang siapa yang menghendaki adanya aktivitas-aktivitas yang tertentu maka dia harus mampu dan berani mengambil keputusan-keputusannya yang bersangkutan dengan jitu, dengan secepat-cepatnya.

2) Keputusan itu bersifat futuristik, artinya: mengenai hari kemudian, efeknya akan berlangsung atau bergema dihari-hari yang akan datang. Padahal hari kemudian itu hanya terdiri atas ketidakpastian-ketidakpastian (uncertainties, onzekerheden). Para pemimpin Agama berkata, bahwa yang pasti didunia ini hanya ada dua, yakni mati (kita

(5)

semua bakal mati) dan hari kiamat (kita semua akan diminta pertanggung jawaban oleh tuhan).

2.1.4 Gaya Pengambilan Keputusan pada Individu

Menurut Rowe dan Boulgarides (1992), cara orang mengambil keputusan dapat digambarkan melalui gaya pengambilan keputusannya. Ada beberapa faktor yang menentukan, yaitu 1) cara seseorang menerima dan memahami tanda isyarat isyarat tertentu; 2) suatu yang penting penting menurut penilaian seseorang; 3) faktor konteks atau situasional saat pengambilan keputusan dilakukan. Bagaimana ia menginterprestasi atau memahami, bagaimana merespon, dan apa yang dipercaya oleh seseorang sebagai sesuatu yang lebih penting mengartikan bahwa gaya pengambilan keputusan merefleksikan cara seseorang bereaksi terhadap situasi yang dihadapinya.

Terdapat dua dimensi yang berbeda di dalam gaya pengambilan keputusan, yaitu orientasi nilai dan toleransi terhadap ambiguitas. Tipe pengambilan keputusan yang fokusnya pada tugas dan masalah teknis atau fokus terhadap orang lain dan masalah sosial adalah pengambil keputusan yang berorientasi nilai. Toleransi terhadap ambiguitas mengindikasikan tingkat dimana seseorang memiliki kebutuhan yang sangat tinggi terhadap struktur atau kendali dalam hidupnya. Dua dimensi ini, ketika dikombinasikan, akan menghasilkan empat gaya pengambilan keputusan, yaitu: direktif, analitis, konseptual, dan behavioral.

(6)

1) Direktif

Individu dengan gaya direktif adalah orang yang memiliki hasrat tinggi terhadap kekuasaan dan cenderung bersifat autokratik. Orientasi pengambilan keputusannya lebih menitikberatkan pada keyakinan pribadi dan cenderung focus pada hal-hal yang teknis. Individu dengan gaya ini bersifat cepat dalam penyelesaian masalah. Toleransi terhadap ambiguitas dan kompleksitas kognitif mereka sangat rendah. Hal ini juga berarti mereka lebih menyukai hal-hal yang terstruktur dan informasi spesifik yang diberikan secara verbal. Individu dengan gaya ini merupakan individu yang fokus terhadap sesuatu dan sering kali agresif. Pengendalian yang ketat dan kecenderungan mendominasi orang lain serta memfokuskan pada keadaan internal didalam organisasi termasuk salah satu karakter gaya direktif.

1) Analitis

Individu dengan gaya pengambilan keputusan analitis memiliki focus terhadap keputusan yang bersifat teknis dan kebutuhan akan kendali. Cenderung bersifat autokratik. Individu dengan gaya ini menyukai pemecahan masalah dan berusaha sekuat tenaga dalam mencapai hasil yang paling maksimal dalam situasi yang dihadapinya. Posisi dan ego merupakan karakteristik yang penting dan mereka sering kali mencapai posisi puncak dalam organisasi atau memulai suatu usaha sendiri. Mereka tidak cepat dalam pengambilan keputusan, mereka menikmati keberagaman dan lebih menyukai laporan tertulis. Mereka menyukai tantangan dan memperhatikan setiap detail situasi.

(7)

2) Konseptual

Individu dengan gaya pengambilan keputusan konseptual memiliki tingkat kompleksitas kognitif dan orientasi pada manusia yang tinggi. Mereka cenderung menggunakan data dari berbagai sumber dan mempertimbangkan berbagai alternatif. Pada gaya ini cenderung idealis, menekankan pada etika dan nilai. Mereka secara umum merupakan individu yang kreatif dan dapat dengan cepat memahami hubungan yang kompleks. Focus mereka pada jangka panjang dengan komitmen organisasi yang tinggi. Mereka memiliki orientasi pada prestasi dan penghargaan, pengakuan, dan kemandirian. Mereka lebih menyukai kendali yang longgar terhadap kekuasaan dan lebih sering menggunakan partisipasi. Mereka, pada umumnya, adalah seorang pemikir dari pada pelaksana.

3) Behavioral

Individu dengan gaya pengambilan keputusan behavioral memiliki tingkat kompleksitas kognitif yang rendah, namun mereka memiliki perhatian yang mendalam terhadap organisasi dan perkembangan orang lain. Individu dengan gaya ini cenderung suportif dan memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Mereka memberikan konseling, terbuka dalam menerima saran-saran, mudah berkomunikasi, menunjukkan sikap yang hangat, empati, persuasive, memiliki keinginan untuk kompromi, dan menerima kelonggran kendali. Oleh karena penggunaan data yang kurang, gaya ini cenderung fokus pada jangka pendek dan menggunakan pertemuan dalam berkomunikasi. Individu dengan gaya ini menghindari gaya konflik, mencari penerimaan, dan sangat berorientasi pada manusia, namun kadang kala merasa tidak aman.

(8)

2.1.5

Proses pengambilan keputusan

Janis (1997) menyebutkan bahwa terdapat lima tahap yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Tahap-tahap tersebut mencakup beberapa perubahan bertahap bertahap dalam pertimbangan insentif dalam diri pembuat keputusan, dimana mencakup juga perubahan dalam keterbukaan terhadap informasi baru mengenai alternative tingkah laku yang mungkin. Tahap-tahap tersebut adalah:

1) Penilaian Terhadap Masalah

Sampai seseorang tertantang dengan informasi yang menggangu atau kejadian yang menyadarkan mengenai kehilangan yang akan dihadapinya, maka seseorang mempertahankan sikap puas terhadap apa yang telah dikerjakannya. Saat seseorang dihadapkan dengan informasi mengenai ancaman atau kesempatan yang menantang tingkah laku saat ini menandakan dimulainya proses pengambilan keputusan. Informasi yang menantang tersebut menghasilkan krisis personal yang bersifat sementara saat seseorang mulai meragukan kebijakan untuk melanjutkan tingkah laku saat ini. Saat seseorang dihadapkan pada informasi baru yang menunjukkan mengenai konsekuensi negatif dari tingkah laku saat ini, maka ia akan memeriksanya dengan cepat apakah ia dapat mengabaikannya dengan menganggapnya tidak benar, tidak relevan, atau tidak dapat diaplikasikan dalam kondisi tertentu. Jika ia menerima tantangan tersebut sebagai sesuatu yang benar-benar mengancam dan dapat diaplikasikan pada dirinya, hal tersebut terjadi karena ia menerima tingkah lakunya saat ini sebagai sesuatu yang menyebabkan kehilangan yang berarti dimana ia tidak sepenuhnya berperan sebelumnya.

(9)

2) Mencari Alternatif

Setelah kepercayaan diri terhadap apa yang dilakukan sesrorang sebelumnya digoyahkan dengan informasi yang menantang, maka seseorang akan mulai focus terhadap satu atau lebih alternatif. Pembuat keputusan akan mulai mencari alternatif yang bisa dilakukan dan mencari saran dan informasi dari orang lain mengenai cara menangani ancaman tersebut. Selama mencari alternatif dalam tahap kedua ini, pembuat keputusan akan mengabaikan alternatif yang terlihat tidak efektif atau terlalu memakan banyak pengorbanan. Di akhir tahap dua ini, pembuat keputusan akan menyempitkan beberapa alternatif yang ada menjadi alternatif yang hanya memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk mencegah ancaman kehilangan tanpa memasukkan resiko atau pengorbanan yang tidak bisa ditolerir.

3) Menimbang Alternatif yang Ada

Pembuat keputusan ini memproses lebih banyak evaluasi dan pencairan, focus pada kelebihan kekurangan dari tiap alternatif yang telah disempitkan sebelumnya untuk memilih tingkah laku yang paling baik. Saat menyadari kemungkinan adanya penyesalan pada masa pendatang, pembuat keputusan menjadi sangat berhati-hati terhadap penilaian pada alternatif yang ada, ia akan mencari lebih banyak informasi untuk memastikan kelebihan dan kekurangan yang telah diperkirakan pada tiap alternatif yang ada. Tingkah laku saat ini menjadi dasar bagi perbandingan untuk tiap alternatif yang ada. Terkadang, setelah merencanakan tiap alternatif satu persatu, pembuat keputusan menjadi

(10)

tidak puas dengan semua alternatif tersebut bahkan dengan tingkah lakunya saat ini.

4) Membuat Komitmen

Setelah memiliki keputusan, maka seseorang akan memberitahu dirinya bahwa ia akan memiliki rencana baru dan pembuat keputusan akan merencanakan implementasinya dan mengkomunikasikannya kepada orang lain.

5) Menanggapi Umpan Balik Negatif

Tahap lima ini menjadi setara dengan satu dalam hal dimana kejadian yang tidak menyenangkan atau komunikasi yang membawa umpan balik negatif menjadi tantangan yang potensial untuk mengadaptasi cara baru. Tetapi tahap lima ini berbeda dengan tahap satu yaitu meskipun tantangan tersebut cukup kuat untuk menggoyahkan respon positif terhadap pertanyaan utama ( apakah ada resiko yang buruk bila saya tidak berubah?), memperhatikan apakah resiko bertambah buruk bila tidak ada perubahan, pembuat keputusan hanya tergoyahkan sementara saja dan akan segera memutuskan untuk bertahan dengan keputusan yang telah dibuatnya. Untuk memperoleh keyakinan akan rasa aman pada keputusannya, ia akan menguatkannya dengan rasionalisasi baru yang dapat membantunya untuk menekankan pada keuntungan dan mengesampingkan kekurangannya.

(11)

2.2 Pekerja Seks Komersial

2.2.1 Pengertian pekerja seks komersial

Pekerja seks komersial adalah wanita yang kelakuannya tidak pantas dan tidak bisa mendatangkan mala/celaka dan penyakit, baik kepada diri sendiri. Pekerja seks komersial merupakan profesi yang berupa tingkah laku bebas lepas tanpa kendali dan cabul, karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan (kartono, 2009).

Sebelum adanya istilah pekerja seks komersial, istilah lain yang juga mengacu kepada pelayanan seks komersial adalah pelacur, prostitusi, wanita tuna susila (WTS).

Dalam bukunya, patologi sosial, kartono (2009) menuliskan bahwa pekerja seks komersial merupakan peristiwa penjualan diri baik perempuan maupun laki-laki dengan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran. Hal ini didukung oleh pernyataan Mudjijiono (2005), pekerja seks komersial adalah wanita yang pekerjaan utamanya sehari-hari memuaskan nafsu seksual laki-laki atau siapa saja yang sanggup memberikan imbalan tertentu yang biasa berupa uang atau benda berharga lainnya.

Menurut Fieldmen dan Mac Cullah (dalam Koentjoro, 2004) pekerja seks komersial adalah seseorang yang menggunakan tubuhnya sebagai komoditas untuk menjual seks dalam satuan harga tertentu. Mukherji dan Hantrakul (dalam Koentjoro, 2004) mendefinisikan seorang pekerja seks komersial sebagai seorang perempuan yang menjual dirinya untuk kepentingan seks pada beberapa pria

(12)

berturut-turut yang dirinya sendiri tidak memiliki kesempatan untuk memilih pria mana yang menjadi langganannya. Definisi tersebut sejalan dengan Koentjoro (2004) yang menjelaskan bahwa pekerja seks komersial merupakan bagian dari kegiatan seks diluar nikah yang ditandai oleh kepuasaan dari bermacam-macam orang yang melibatkan beberapa pria dilakukan demi uang dan dijadikan sebagai sumber pendapatan.

Pengertian pekerja seks komersial yang digunakan dalam penelitian ini adalah pekerja seks komersial yang dikemukakan oleh Koentjoro (2004) yaitu bahwa pekerja seks komersial adalah bagian dari kegiatan seks diluar nikah yang ditandai oleh kepuasan dari bermacam-macam orang yang melibatkan beberapa pria, dilakukan demi uang dan dijadikan sebagai sumber pendapatan.

2.2.2 Klasifikasi Pekerja Seks Komersial

Berdasarkan modus operasinya, pekerja seks komersial dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu (Subadara, 2007).

a. Terorganisasi

Yaitu mereka yang terorganisasi dengan adanya pimpinan, pengelola atau mucikari, dan para pekerjanya mengikuti aturan yang mereka tetapkan. Dalam kelompok ini adalah mereka yang bekerja dilokalisasi, panti pijat, salon kecantikan.

b. Tidak Terorganisasi

Yaitu mereka yang beroperasi secara tidak tetap, serta tidak terorganisasi secara jelas. Misalnya pekerja seks dijalanan, klub malam, diskotik.

(13)

2.2.3 Faktor-faktor yang melatarbelakangi seseorang menjadi pekerja seks komersial

Koentjoro (2004) menjelaskan ada lima faktor yang melatarbelakangi seseorang menjadi pekerja seks komersial, yaitu :

a. Materialisme

Materialisme yaitu aspirasi untuk mengumpulkan kekayaan merupakan sebuah orientasi yang mengutamakan hal-hal fisik dalam kehidupan. Orang yang hidupnya berorientasi materi akan menjadikan banyak nya jumlah uang yang bisa dikumpulkan dan kepemilikan materi yang dapat mereka miliki sebagai tolak ukur keberhasilan hidup

b. Modeling

Modeling adalah salah satu cara sosialisasi pelacuran yang mudah dilakukan dan efektif. Terdapat banyak pelacur yang telah berhasil mengumpulkan kekayaan dikomunitas yang menghasilkan pelacur sehingga masyarakat dapat dengan mudah menemukan model.

c. Dukungan orang tua

Dalam beberapa kasus, orang tua atau suami menggunakan anak perempuan/istri mereka sebagai sarana untuk mencapai aspirasi mereka akan materi.

d. Lingkungan yang permisif

Jika sebuah lingkungan sosial bersikap permisif terhadap pelacuran berarti control tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya dan jika suatu

(14)

komunitas sudah lemah kontrol lingkungannya maka pelacuran akan berkembang dalam komunitas tersebut.

e. Faktor ekonomi

Lebih menekankan pada uang dan uang memotivasi seseorang menjadi pekerja seks komersial. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan, adanya pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya dalam usaha mendapatkan status sosial yang lebih baik.

Menurut penelitiannya, Hutabarat dkk (2004) menambahkan dua faktor yang melatarbelakangi seseorang menjadi pekerja seks komersial, yaitu :

a. Faktor pendorong internal

Faktor yang berasal dari individu, seperti rasa sakit hati, marah, dikhianati atau dikecewakan pasangan.

b. Faktor pendorong eksternal

Faktor yang berasal dari luar individu, seperti faktor ekonomi, dan ajakan teman.

2.2.4. Konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi

Konsekuensi-konsekuensi yang akan dihadapi antara lain dapat berupa : a. Perlakuan yang diterima dari pelanggan

Seperti tidak dibayar setelah melakukan hubungan seksual, menghadapi kekerasan seksual yang bisa sampai mengancam nyawanya, melakukan bentuk hubungan seksual yang tidak wajar.

(15)

Posisi tawar yang lemah membuat pelacur sering tidak berhasil membujuk pelanggannya untuk menggunakan kondom sebagai alat proteksi. Akibatnya, pelacur dapat tertular penyakit menular seksual (PMS) atau bahkan HIV/AIDS tanpa ia mampu melindungi tubuhnya. Banyak jenis PMS dapat merusak organ reproduksi secara permanen (Parker & Gagnon, 1995; sedyaningsih, 1999).

c. Kehamilan yang tidak diinginkan

Bila tidak menggunakan alat kontrasepsi, pelacur beresiko mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Kebanyakan dari mereka cenderung melakukan pengguguran kandungan yang dapat mengancam nyawa nya (Sedyaningsih, 1999).

d. Perlakuan dari Masyarakat dan Lingkungannya

Masyarakat seringkali bersifat menghakimi, mengutuk dan mengucilkan. Pelacur tidak hanya mempunyai stigma sebagai bukan perempuan baik-baik, tetapi dalam bentuk yang lebih ekstrim, mereka dipandang sebagai sampah masyarakat, tidak bermoral, sumber penyakit kotor, manusia penuh dosa dan lain-lain. Bila mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang lebih bermartabat, masyarakat tidak begitu saja menerimanya.

2.2.5. Jenis-jenis pelacuran

Menurut, Hull, dkk (1997), pelacuran dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu pelacuran yang terorganisir dan pelacuran yang tidak terorganisir. Dalam kegiatan pelacuran yang tidak terorganisir, pelacur mencari langganannya sendiri tanpa melalui mediator. Termasuk dalam kelompok ini adalah perempuan jalanan

(16)

dan perempuan lainnya yang beroperasi secara gelap ditempat-tempat umum; juga wanita-wanita panggilan yang bekerja mandiri seperti diskotik, pub, coffe shop hotel dan sebagainya. Mereka mengadakan transaksi langsung dengan pelanggannya. Biasanya para pelacur dari kelompok ini berada dalam posisi yang sangat lemah jika menghadapi pelecehan yang dilakukan oleh para pelanggan, para penguasa setempat ataupun polisi yang merazianya. Tetapi pada sisi lain, mereka tidak perlu berbagi penghasilan dengan para mediatornya. Dalam kegiatan pelacuran terorganisir, pelacur berada dibawah pengawasan langsung para mediatornya seperti mucikari, germo, mamasan atau mami. Termasuk dalam kelompok ini adalah para pelacur di kompleks pelacuran, panti pijat dan tempat-tempat yang mengusahakan wanita panggilan. aktivitas mereka tergantung pada mucikari, penjaga keamanan dan agen lainnya yang membantu mereka untuk berhubungan dengan calon pelanggan serta melindungi dalam kondisi berbahaya. 2.3. Remaja

2.3.1. Pengertian remaja

istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata Belanda, alolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Piaget mengatakan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak langsung merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama (Hurlock, 2004).

Hurlock (2004) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Peralihan tidak berarti terputus

(17)

dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah penelitian dari satu tahap perkembangan ketahap berikutnya. Hurlock (2004), menjelaskan masa remaja berlangsung antara usia 13tahun sampai dengan 18 tahun dengan pembagian: 13-16 atau 17 tahun sebagai masa remaja awal: 16 atau 17 tahun- 18 tahun sebagai masa remaja akhir.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa remaja berlangsung pada usia 13-18 tahun dan merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa yang tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah penelitian dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya.

2.3.2. Aspek-aspek perkembangan remaja

Hurlock (2004) mengemukakan bahwa pada masa remaja memiliki empat jenis perkembangan yaitu :

a. Perkembangan fisik

Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan keterampilan motorik (Papalia & Olds, 2008). Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja terlihat nampak pada saat pubertas yaitu meningkatnya berat badan serta kematangan sosial (Santrock, 2002). Diantara perubahan fisik, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya mulai berfungsi alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2010).

(18)

Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masa remaja dipengaruhi oleh berfungsinya hormon-hormon seksual (testoteron untuk laki-laki dan progesteron dan estogren untuk wanita). Hormon-hormon inilah yang berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja. Dorongan seksual ini mengakibatkan perilaku seksual pada remaja baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk dari tingkah laku ini bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2010).

b. Perkembangan kognitif

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka dimana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja kedalam skema kognitif mereka. Perkembangan kognitif remaja ini dikenal dengan tahap operasional formal (Santrock, 2002).

Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Dengan kemampuan tersebut maka remaja semakin yakin akan kemampuannya dalam mengambil keputusan sendiri dan tidak lagi terlalu tergantung kepada orang lain.

(19)

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan dimasa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis (Santrock, 2002).

Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, diaman mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan dimasa depan (Santrock, 2002). Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2008). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain”.

c. Pada umumnya remaja bersifat emosional. Emosinya berubah menjadi labil, sehingga sering kali menimbulkan kegundahan diri pada remaja. Hal ini yang kemudian menjadikan kehidupan remaja dipenuhi dengan gejolak kehidupan. Hurlock (2004) menyebut gejolak tersebut dengan istilah „badai dan tekanan‟ atau dikenal dengan periode storm and stress yang terjadi sebagai akibat dari perubahan fisik, kelenjar, serta munculnya tekanan sosial dan kondisi-kondisi baru yang harus dihadapi remaja. Tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun sebagian remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru (Hurlock, 2004).

(20)

Remaja mengalami masa pergolakan remaja yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam-macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sosial remaja umumnya berada pada kelompok teman sebaya, diaman remaja menghabiskan lebih banyak waktu dengan kelompok teman sebaya dari pada dengan keluarganya (Monks dkk, 2002). Hal ini dikarenakan remaja lebih banyak melakukan kegiatan diluar rumah dengan teman sebaya. Dengan demikian, teman sebaya memberikan pengaruh yang kuat pada diri remaja seperti sikap, pembicaraan, minat dan perilaku.

Kelompok teman sebaya tidak menjadi hal yang berbahaya, jika remaja dapat mengarahkannya. Dengan adanya kelompok teman sebaya, remaja merasa kebutuhannya dipenuhi, seperti kebutuhan akan pengalaman baru, kebutuhan berprestasi, kebutuhsn diperhatikan, kebutuhan harga diri dan kebutuhan rasa aman yang belum tentu diperoleh remaja dirumah maupun disekolah (Zulkifli, 2005). Namun, kelompok teman sebaya dapat memberikan pengaruh yang tidak baik pada remaja seperti meminum minuman keras, merokok, maupun melakukan seks bebas (Hurlock, 2004). Hal ini disebabkan karena kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seseorang dalam berprilaku (Papalia & Olds, 2008)

2.4. Proses Pengambilan Keputusan Menjadi Pekerja Seks komersial pada remaja putri

Dewasa ini, banyak remaja yang menjadi pekerja seks komersial. Hal ini disebabkan karena banyak faktor yang melatarbelakanginya, seperti materialisme,

(21)

modeling, dan dukungan orang tua, lingkungan yang permisif, dan faktor ekonomi (Koentjoro, 2004). Dalam penelitiannya, Hutabarat dkk (2004) menambahkan dua faktor seseorang menjadi pekerja seks komersial yaitu faktor pendorong internal seperti rasa sakit hati dan kecewa dari pasangan dan faktor pendorong eksternal termasuk faktor ekonomi dan ajakan teman.

Mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah, apalagi yang menyangkut kehidupan pribadi. Sama hal nya mengambil sebuah keputusan menjadi pekerja seks komersial yang dilakukan oleh seorang remaja putri yang memerlukan banyak waktu serta memilih satu alternatif-alternatif yang ada. Perkembangan remaja juga turut mengambil bagian dalam sebuah keputusan. Remaja yang memiliki emosional yang tinggi yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan remaja itu sendiri. Remaja yang sudah mampu memiliki pemikiran yang abstrak, idealistis, dan logis membuat remaja sudah mampu mengambil sebuah keputusan sendiri dan tidak tergantung lagi pada orang lain (Santrock, 2002).

Janis dan Mann (1987) mengemukakan ada lima tahapan dalam pengambilan keputusan yaitu menilai masalah, menilai alternatif-alternatif yang ada, mempertimbangkan alternatif, membuat komitmen, bertahan meskipun ada feedback negatif. Kelima tahapan tersebut tidak selamanya berlangsung secara optimal. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan proses pemebelajaran dan pengalaman yang ikut mempengaruhi.

Tahap pertama pengambilan keputusan ini diawali oleh adanya informasi atau kejadian baru yang menarik perhatiannya (Jannis dan Mann, 1987). Terkait

(22)

dengan pekerja seks komersial, seorang wanita memperoleh informasi atau kejadian baru tersebut dapat mempengaruhi prinsip yang mereka anut sebelumnya. Informasi yang diperoleh berupa cara mudah dalam mendapatkan uang. Akibatnya adanya informasi yang menarik ini, akan membuat individu merasa kurang nyaman karena ia menyadari adanya kesempatan dan tantangan untuk berubah. Pada seorang wanita, informasi mengenai pekerja seks komersial ini tidak lepas dari lingkungan disekitar itu sendiri seperti teman-teman terdekat. Papalia & Olds (2008), mengemukakan bahwa kelompok teman terdekat merupakan sumber referensi utama mengenai banyak hal terutama informasi mengenai pekerja seks komersial.

Ketika individu yakin pada informasi yang diperolehnya maka, ia akan menentukan pilihannya dan mulai memfokuskan perhatian pada satu atau lebih pilihan. Individu akan mulai mencari informasi dari orang lain yang berhubungan dengan masalahnya (Janis dan Mann, 1987). Individu yang mendapatkan informasi mengenai pekerja seks komersial akan mencari informasi lainnya, dan biasanya individu akan mencari informasi dari teman-teman dilingkungannya.

Setelah melihat alternatif selanjutnya individu akan memasuki tahapan ketiga yaitu mempertimbangkan alternatif. Individu akan memilih alternatif yang terbaik diantara yang tersedia baginya mulai mepertimbangkan keuntungan dan kerugian dari tiap-tiap alternatif. Setelah ia merasa cukup yakin untuk memilih satu alternatif yang menurutnya paling baik dalam mencapai tujuan tertentu (Janis dan Mann, 1987). Individu sebelum mengambil keputusan menjadi pekerja seks komersial, akan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian akan keputusannya.

(23)

Janis dan Mann (1987) mengelompokkan pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan menjadi dua kelompok, yaitu: pertimbangan utilitarian, yaitu segala pertimbangan yang melibatkan efek instrumental atau efek yang dirasakan secara langsung dari suatu keputusan. Selanjutnya pertimbangan non-utilitarian yaitu pertimbangan-pertimbangan lain dari suatu keputusan. Pertimbangan-pertimbangan ini meliputi keuntungan dan kerugian yang akan dirasakan oleh diri sendiri dan orang-orang yang ada disekitar individu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Setelah melakukan pertimbangan-pertimbangan, individu ada yang mulai merasa yakin dan ada yang kembali ragu-ragu dengan informasi-informasi yang telah dikumpulkannya pada tahap kedua. Keragu-raguan ini membuat individu kembali ke tahap kedua. Individu akan mengumpulkan informasi lebih lanjut untuk meyakinkan individu dalam mengambil suatu keputusan.

Individu yang telah yakin dengan keputusannya, akan mengambil sebuah perencanaan tindakan tertentu untuk dilaksanakan. Pengambil keputusan mulai memikirkan cara untuk mengimplementasikannya dan menyampaikan keinginannya tersebut kepada orang lain. Individu yang memutuskan menjadi pekerja seks komersial akan memberitahu keputusannya pada teman-teman nya, biasanya pada teman yang juga sebagai pekerja seks komersial karena mereka tidak akan menentang keputusan yang telah diambil oleh individu tersebut (Janis dan Mann, 1987). Namun individu juga mempersiapkan argument-argumen yang akan mendukung pilihannya tersebut dikarenakan pengambilan keputusan menyadari bahwa cepat atau lambat orang-orang pada jaringan sosialnya yang

(24)

tidak secara langsung terkena dampaknya seperti keluarga atau teman akan mengetahui tentang keputusan tersebut. Perencanaan dan persiapan ini merupakan tahapan keempat dari pengambilan keputusan yaitu membuat komitmen ( Janis dan Mann, 1987). Namun individu juga mempersiapkan argumen-argumen yang akan mendukung pilihannya tersebut khususnya bila ia berhadapan dengan orang-orang yang menentang keputusannya tersebut dikarenakan pengambil keputusan menyadari bahwa cepat atau lambat orang-orang pada jaringan sosialnya yang tidak secara langsung terkena dampaknya seperti keluarga atau teman akan mengetahui tentang keputusan tersebut. Perencanaan dan persiapan ini merupakan tahapan keempat dari pengambilan keputusan yaitu membuat komitmen (Janis dan Mann, 1987).

Setelah mengambil sebuah keputusan, individu memasuki tahap honeymoon, dimana ia merasa bahagia dengan keputusannya tanpa ada rasa cemas. Individu yang menjadi pekerja seks komersial akan merasa senang dengan keputusannya dimana mereka umumnya bahagia karena uang yang mereka peroleh. Namun pandangan negatif orang lain mengenai pekerja seks komersial ataupun hal-hal yang menjadi hambatan pada keputusannya, tidak menjadi halangan baginya. Hal ini dikarenakan kebahagiaan yang diperoleh remaja dengan keputusannya yang mengakibatkan individu tetap bertahan dengan keputusannya yang diambilnya

Referensi

Dokumen terkait

Teknik konservasi tanah teras bangku dan penanaman pada guludan searah kontur menghasilkan nilai kini bersih (NPV) yang lebih tinggi dibandingkan penanaman pada guludan

Pemetaan lokasi potensi desa wisata di kabupaten Sleman tahun 2015 bertujuan untuk memetakan daerah-daerah wisata dalam hal ini adalah desa wisata yang terletak di

Abdullah bin Mubarok berkata, “Sungguh mengembalikan satu dirham yang berasal dari harta yang syubhat lebih baik bagiku daripada bersedeqah dengan seratus ribu dirham”..

¾ Determinasi/identifikasi Æ cabang ilmu taksonomi yang mempelajari tentang penetapan suatu jenis tumbuhan yang sama atau segolongan dengan tumbuh- tumbuhan yang telah diketahui

(PHBS) melalui strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yang meliputi: tidak buang air besar sembarangan; membiasakan cuci tangan pakai sabun; pengelolaan

Pada tabel 3 terlihat kecendrungan bahwa semakin berat kondisi kehamilan maka semakin memendek nilai rerata PT; namun secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna

Di njau dari manajemen satuan pendidikan, maka penyusunan model inspirasi diversifi kasi kurikulum esensi dan muaranya adalah terwujudnya Kurikulum ngkat satuan