• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pasar Modal - Analisis Pengaruh EPS, PER dan M/B terhadap Return Saham pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pasar Modal - Analisis Pengaruh EPS, PER dan M/B terhadap Return Saham pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pasar Modal

Secara umum, pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya permintaan dan penawaran atas instrumen keuangan jangka panjang yang dapat diperjualbelikan yang umumnya berjangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun. Tandelilin (2001:13) menyatakan “pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjuabelikan sekuritas”. Bentuk instrumen di pasar modal disebut efek, yaitu surat berharga yang berupa saham, obligasi, right, dan waran.

1. Saham

(2)

namanya sudah diregistrasi oleh perusahaan (emiten) atau belum.

2. Obligasi (bonds)

Menurut Samsul (2006:45), “obligasi adalah tanda bukti perusahaan memiliki utang jangka panjang kepada masyarakat yaitu di atas 3 tahun di mana pihak yang membeli obligasi disebut sebagai pemegang obligasi (bondholder).” Pendapatan yang didapat dari investasi obligasi berupa kupon yang dibayarkan setiap 3 atau 6 bulan sekali dan pada saat pelunasan obligasi oleh perusahaan, pemegang obligasi akan menerima kupon dan pokok obligasi.

3. Right

Right adalah hak untuk membeli saham pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu dan hak membeli tersebut hanya dimiliki oleh pemegang saham lama. Harga tertentu berarti bahwa harganya telah ditetapkan terlebih dahulu dan disebut sebagai harga pelaksanaan atau harga tebusan (strike price

atau exercise price). Strike price dari right berada di bawah harga pasar pada saat diterbitkan dan jangka waktu tertentu berarti bahwa kurang dari 6 bulan sejak diterbitkan right

tersebut sudah harus digunakan. Right dapat dijual di Bursa Efek melalui broker efek dalam kurun waktu di mana right

(3)

4. Waran

Waran adalah hak untuk membeli saham pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu. Waran tidak hanya diberikan kepada pemegang saham lama, tetapi juga sering diberikan kepada pemegang obligasi sebagai pemanis (sweetener) pada saat penerbitan obligasi perusahaan. Waran hampir mirip dengan right, hanya saja dalam jangka waktu tertentu dalam waran berbeda dengan right yang harus dilaksanakan kurang dari 6 bulan sejak diterbitkan, waran dapat digunakan setelah 6 bulan, atau setelah 3 tahun, 5 tahun, atau 10 tahun.

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006:3), pasar modal memberikan banyak manfaat, di antaranya:

a) menyediakan sumber pendanaan atau pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal,

b) memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya diversifikasi,

c) menyediakan indikator utama (leading indicator) bagi tren ekonomi negara,

d) memungkinkan penyebaran kepemilkikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah,

e) menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik,

f) memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dengan prospek yang baik,

g) alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan risiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi investasi,

h) membina iklim keterbukaan bagi dunia usaha dan memberikan akses kontrol sosial,

(4)

2.1.2 Investasi

Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang (Tandelilin, 2001:3). Orang melakukan investasi umumnya untuk memperoleh sejumlah keuntungan atau return yang semaksimal mungkin yang dapat dihasilkan dari investasi tersebut, akan tetapi dalam proses untuk memperoleh return tersebut, investor juga tidak selamanya selalu mendapatkan apa yang diharapkannya, terkadang para investor juga dihadapkan pada risiko-risiko yang timbul dari penanaman investasi tersebut sehingga para investor dituntut untuk jeli dan teliti dalam menanamkan modalnya dan memahami kondisi pasar modal. Kita sering mendengar istilah “High Risk, High Gain“ yang memiliki arti jika kita mengharapkan return yang besar, tentu kita akan dihadapkan pada risiko yang besar pula.

Menurut Samsul (2006:285), “jenis risiko investasi dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu risiko sistematis atau disebut systematic risk atau undiversifiable risk, dan risiko tidak sistematis atau disebut unsystematic risk atau specific risk atau

(5)

menanamkan investasinya di beberapa jenis saham dengan harapan dapat mengurangi kerugian, strategi ini tidak tepat digunakan karena risiko sistematis memberikan dampak secara global dan bukan hanya pada satu jenis saham saja.

(6)

Gambar 2.1 Risiko Investasi Sumber: Samsul (2006:286)

Menurut Widoatmodjo (2009:144), “risiko investasi dikelompokkan menjadi dua yaitu risiko domestik (domestic risk) dan risiko internasional (international risk)”. Risiko domestik merupakan risiko yang ditimbulkan oleh isu-isu dalam negeri seperti inflasi dan kenaikan suku bunga oleh pemerintah, sedangkan risiko internasional ditimbulkan oleh hubungan ekonomi nasional dengan ekonomi internasional seperti kenaikan harga minyak dunia yang menyebabkan naiknya harga BBM dalam negeri, perubahan ekonomi Amerika Serikat yang juga menyebabkan perubahan ekonomi dalam negeri dan lain sebagainya.

Risiko

Risiko Tidak Sistematis

Risiko Sistematis

(7)

2.1.3 Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan gambaran atas kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu dan merupakan daftar ikhtisar dari hasil akhir proses akuntansi yang disusun dan disajikan sedemikian rupa untuk kepentingan manajemen perusahaan dan publik (untuk perusahaan yang go public) yang terdiri dari laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan biasanya disajikan per akhir tahun aktivitas perusahaan. Menurut Djarwanto (2004:5), “laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan”. Fess (2006:24) menyatakan, “laporan keuangan merupakan laporan akuntansi yang menghasilkan informasi bagi pemakai yang diperoleh dari transaksi yang dicatat dan diikhtisarkan”.

Menurut Harahap (2013:7), pengguna laporan keuangan terdiri dari pemilik perusahaan, manajemen perusahaan, investor, kreditur atau banker, pemerintahan dan regulator, dan analis, akademis, pusat data bisnis.

1. Pemilik perusahaan

Bagi pemilik perusahaan, laporan keuangan dimaksudkan untuk:

a) menilai prestasi atau hasil yang diperoleh manajemen, b) mengetahui hasil dividen yang akan diterima,

c) menilai posisi keuangan perusahaan dan pertumbuhannya,

d) mengetahui nilai saham dan laba perlembar saham, e) sebagai dasar untuk memprediksi kondisi perusahaan di

(8)

f) sebagai dasar untuk mempertimbangkan menambah atau mengurangi investasi.

2. Manajemen perusahaan

Bagi manajemen perusahaan, laporan keuangan ini digunakan untuk:

a) alat untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik,

b) mengukur tingkat biaya dari setiap kegiatan operasi perusahaan, divisi, bagian, atau segmen tertentu,

c) mengukur tingkat efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan, divisi,bagian, atau segmen,

d) menilai hasil kerja individu yang diberi tugas dan tanggung jawab,

e) menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlu tidaknya diambil kebijaksanaan baru,

f) memenuhi ketentuan dalam UU, peraturan, AD (Anggaran Dasar), Pasar Modal, dan lembaga regulator lainnya.

3. Investor

Bagi investor, laporan keuangan dimaksudkan untuk: a) menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan, b) menilai kemungkinan menanamkan dana dalam

perusahaan,

c) menilai kemungkinan menanamkan divestasi (menarik investasi) dari perusahaan,

d) menjadi dasar memprediksi kondisi perusahaan di masa datang.

4. Kreditur atau banker

Bagi kreditur, banker, atau supplier laporan keuangan digunakan untuk:

a) menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang,

b) menilai kualitas jaminan kredit/investasi untuk menopang kredit yang akan diberikan,

c) melihat dan memprediksi prospek keuntungan yang mungkin diperoleh dari perusahaan atau menilai rate of return perusahaan,

d) menilai kemampuan likuiditas, solvabilitas, rentabilitas perusahaan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusan kredit,

e) menilai sejauhmana perusahaan mengikuti perjanjian kredit yang sudah disepakati.

5. Pemerintahan dan regulator

(9)

a) menghitung dan menetapkan jumlah pajak yang harus dibayar,

b) sebagai dasar dalam penetapan-penetapan kebijaksanaan baru,

c) menilai apakah perusahaan memerlukan bantuan atau tindakan lain,

d) menilai kepatuhan perusahaan terhadap aturan yang ditetapkan,

e) bagi lembaga pemerintahan lainnya bisa menjadi bahan penyusunan data dan statistik.

6. Analis, akademis, pusat data bisnis

Bagi para analis, akademis, dan juga lembaga-lembaga pengumpulan data bisnis seperti PDBI, Moody’s, Brunstreet, Standard & Poor, Perfindo, laporan keuangan ini penting sebagai bahan atau sumber informasi primer yang akan diolah sehingga menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi analisis, ilmu pengetahuan, dan komoditi informasi.

2.1.4 Analisis Laporan Keuangan

Sebelum menanamkan investasinya, seorang investor hendaknya menganalisis laporan keuangan perusahaan dimana ia akan menanamkan modalnya agar mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut agar dapat meminimalkan risiko-risiko investasi yang mungkin timbul dan dapat memperhitungkan return

semaksimal mungkin yang akan diperoleh dengan investasi tersebut. Analisis laporan keuangan meliputi penelaahan tentang hubungan dan kecenderungan atau trend untuk mengetahui apakah keadaan keuangan, hasil usaha, dan kemajuan keuangan perusahaan memuaskan atau tidak memuaskan (Djarwanto, 2004:59). Harahap (2013:190) menyatakan analisis laporan keuangan adalah

(10)

yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.

Menurut Bernstein (1983:3), “analisis laporan keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analitis atas laporan keuangan dan data lainnya untuk melihat dari laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan tertentu yang sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan”.

Harahap (2013:195) mengemukakan, kegunaan analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:

1. dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat dari laporan keuangan biasa,

2. dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit),

3. dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan,

4. dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan,

5. mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan (rating),

6. dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan yang dengan perkataan lain apa yang dimaksudkan dari suatu laporan keuangan merupakan tujuan analisis laporan keuangan juga antara lain:

a) dapat menilai prestasi perusahaan,

b) dapat memproyeksi keuangan perusahaan,

c) dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek waktu tertentu:

i. posisi keuangan (Aset, Neraca, dan Modal), ii. hasil usaha perusahaan (Hasil dan Biaya), iii. likuiditas,

(11)

v. aktivitas,

vi. rentabilitas atau profitabilitas, vii. indikator pasar modal.

d) menilai perkembangan dari waktu ke waktu, e) melihat komposisi struktur keuangan, aris dana.

7. dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis,

8. dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal,

9. dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya,

10. bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang.

Di dalam melakukan analisis laporan keuangan, alat yang paling populer dan banyak digunakan adalah analisis rasio keuangan. Rasio keuangan merupakan angka-angka yang diperoleh dari hasil perhitungan dan perbandingan dari pos-pos yang mempunyai hubungan relevan dan signifikan di dalam laporan keuangan.

Djarwanto (2004:146) mengelompokkan rasio menjadi 3 kelompok berdasarkan sumber datanya, yaitu rasio-rasio neraca, rasio-rasio laporan laba rugi, dan rasio-rasio antarlaporan.

1. Rasio-rasio neraca (balance sheet ratios)

Rasio-rasio neraca yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, misalnya rasio lancar (current ratio), rasio tunai (quick ratio), rasio modal sendiri dengan total aktiva, rasio aktiva tetap dengan utang jangka panjang, dan lain sebagainya.

2. Rasio-rasio laporan laba-rugi (income statement ratios)

Rasio-rasio laporan laba-rugi yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari laporan perhitungan laba-rugi, misalnya rasio laba bruto dengan penjualan neto, rasio laba usaha dengan penjualan neto, operationg ratio, dan lain sebagainya.

(12)

Rasio-rasio antarlaporan yaitu rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan laporan laba-rugi, misalnya rasio penjualan neto dengan aktiva usaha, rasio penjualan kredit dengan piutang rata-rata, rasio harga pokok penjualan dengan persediaan rata-rata, dan lain sebagainya.

Menurut Harahap (2013:301), adapun rasio keuangan yang sering digunakan adalah rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas/rentabilitas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio pertumbuhan, market based, dan rasio produktivitas.

1. Rasio likuiditas

Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.

2. Rasio solvabilitas

Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi.

3. Rasio profitabilitas/rentabilitas

Rasio profitabilitas/rentabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya.

4. Rasio leverage

Rasio leverage menggambarkan hubungan antara utang perusahaan terhadap modal maupun aset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh utang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal (equity).

5. Rasio aktivitas

Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya.

6. Rasio pertumbuhan

Rasio pertumbuhan menggambarkan persentase pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke tahun,

7. Market based (Penilaian Pasar)

Market based ratio merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan di pasar modal yang menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal.

(13)

Rasio produktivitas menunjukkan tingkat produktivitas dari unit atau kegiatan yang dinilai.

2.1.5 Return Saham

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006:7), ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas saham biasa dan saham preferen.

1. Saham biasa (common stock)

Saham biasa adalah saham yang menempatkan pemiliknya pada posisi paling junior dalam pembagian dividen dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

2. Saham preferen (preferred stock)

Saham preferen adalah saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor.

(14)

tersebut akan dibayar pada tahun perusahaan mengalami keuntungan, sehingga saham preferen akan menerima laba dua kali (kumulatif dari laba tahun perusahaan mengalami kerugian).

Darmadji dan Fakhruddin (2006:8) menyatakan bahwa dilihat dari cara pengalihannya, saham dapat dibedakan atas saham atas unjuk dan saham atas nama.

1. Saham atas unjuk (bearer stock)

Saham atas unjuk artinya pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah yang diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

2. Saham atas nama (registered stock)

Saham atas nama merupakan saham dengan nama pemilik yang ditulis secara jelas dan cara pengalihannya harus melalui prosedur tertentu.

Dalam pasar modal, para investor tentunya mengharapkan

return yang semaksimal mungkin dari investasi yang ditanamkannya. Jogiyanto (2003) menyatakan, “return adalah hasil yang diperoleh dari investasi”. Jogiyanto (2003) membagi return

menjadi dua, yaitu return realisasi dan return ekspektasi. 1. Return realisasi (realized return)

Return realisasi adalah return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan bisa digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan serta sebagai penentuan return

ekspektasi dan resiko masa datang. 2. Return ekspektasi (expected return)

(15)

Di dalam melakukan investasi dalam bentuk saham, umumnya investor akan menerima return saham (keuntungan) dalam 2 bentuk, yaitu dividen dan capital gain.

1. Dividen

(16)

2. Capital gain

Capital gain merupakan keuntungan atas selisih antara harga beli per lembar saham sebelumnya yang lebih rendah dengan harga jual per lembar saham sekarang. Berbeda dengan dividen yang pemegang sahamnya memiliki orientasi jangka panjang, pemegang saham yang mengharapkan capital gain

umumnya berorientasi jangka pendek karena mungkin saja saham yang dibeli hari ini akan dijual keesokan harinya ketika terjadi kenaikan harga saham tersebut, jadi pemegang saham yang mengejar keuntungan melalui capital gain

umumnya tidak akan memegang saham dalam kurun waktu yang lama.

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006:12), “pemegang saham juga dimungkinkan untuk mendapatkan saham bonus (jika ada), yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham”. Pada saat perusahaan melakukan penawaran umum saham yang diterbitkannya di pasar perdana, perusahaan akan memperoleh keuntungan dari selisih antara harga jual per lembar saham dengan harga nominalnya, inilah yang dimaksud dengan agio saham.

(17)

real estate yang terdaftar di BEI selama periode penelitian tidak menerbitkan nilai dividennya. Rumus untuk menghitung return

sahammenurut Ross et al. (2003:238) antara lain:

𝑅𝑅𝑖𝑖 = 𝑃𝑃𝑡𝑡𝑃𝑃− 𝑃𝑃𝑡𝑡−1 𝑡𝑡−1

Di mana:

𝑅𝑅𝑖𝑖 = return saham

𝑃𝑃𝑡𝑡 = harga saham pada periode t

𝑃𝑃𝑡𝑡−1 = harga saham pada periode t-1

2.1.6 Earning Per Share (EPS)

(18)

mungkin pastilah menanamkan modalnya pada perusahaan dengan

earning per share yang tinggi.

Rumus yang digunakan untuk menghitung earning per share

(EPS):

EPS = Laba bersih setelah pajak Jumlah lembar saham yang beredar

2.1.7 Market Based Ratio (Rasio Penilaian Pasar)

Market Based Ratio merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan di pasar modal yang menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal. Rasio ini terdiri atas 2 rasio lainnya yaitu price earning ratio (PER) dan market-to-book ratio (M/B).

1. Price Earning Ratio (PER)

(19)

harga pasarnya sehingga menghasilkan payback-period

(periode pengembalian pokok modal) yang lebih singkat. Menurut Subramanyam dan Wild (2012:45), rumus untuk menghitung price earning ratio (PER) adalah:

PER =harga pasar per lembar saham laba per saham

2. Market-to-Book Ratio (M/B)

Market-to-Book Ratio (M/B) atau yang lebih dikenal dengan istilah Price-to-Book Value (PBV) merupakan rasio perbandingan harga pasar saham dengan nilai buku per lembar saham perusahaan. “The price-to-book ratio, or P/B ratio, is a

current market price to its

known as a Market-to-Book ratio

(http://en.wikipedia.org/wiki/P/B_ratio). Ang (1997) menyatakan, “rasio ini menunjukkan seberapa jauh sebuah perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan”. Semakin tinggi

Market-to-Book Ratio (M/B), maka semakin berhasil pula perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang sahamnya. Rumus untuk menghitung market-to-book ratio (M/B) yaitu:

(20)

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian terdahulu akan digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini, seperti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2.1

berpengaruh terhadap return

saham, sementara PER berpengaruh signifikan terhadap

return saham.

PER dan EPS tidak berpengaruh

terhadap return saham, sementara

PBV memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap return saham.

3 Rosdiana (2008)

Variabel Independen:

Arus Kas Operasi, Arus Kas Investasi,

Arus Kas berpengaruh positif terhadap

return saham.

PBV dan ROE tidak berpengaruh

signifikan terhadap return

(21)

No Nama

Hanya PBVyang berpengaruh secara signifikan terhadap return

saham.

Sumber: Penelitian Terdahulu (diolah penulis, 2014)

Penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Marisa (2010) menunjukkan bahwa Price Earning Ratio (PER) berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap return saham. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Harianja (2013) yang menyatakan bahwa variabel Price Earning Ratio (PER) dan Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap return saham, akan tetapi variabel Price to Book Value (PBV) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rosdiana (2008) menunjukkan bahwa

(22)

saham, sedangkan PBV memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

return saham.

Hasil penelitian yang masih sangat beragam dan inkonsisten mengenai pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio

(PER), dan Price to Book Value (PBV) terhadap return saham sehingga belum dapat disimpulkan apakah variabel-variabel independen tersebut berpengaruh secara positif atau negatif terhadap return saham mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh EPS, PER, dan M/B terhadap return saham. Hasil penelitian yang berbeda-beda tersebut mungkin disebabkan oleh perbedaan kriteria sampel penelitian, periode tahun penelitian ataupun jenis perusahaan yang digunakan dalam penelitian sehingga peneliti menggunakan jenis perusahaan dan periode tahun penelitian yang berbeda untuk melihat perbedaan hasil penelitian yang mungkin diperoleh sehingga dapat disimpulkan apakah EPS, PER, dan M/B berpengaruh terhadap return saham.

2.3 Kerangka Konseptual

(23)

maupun negatif) dalam variabel dependen. Sementara variabel dependen merupakan fokus utama dalam sebuah penelitian, di mana variabel dependen dipengaruhi oleh dan merupakan konsekuensi dari adanya variabel independen. Berikut merupakan gambaran kerangka konseptual dari penelitian ini:

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

Berdasarkan kerangka konseptual di atas, dapat dilihat bahwa di dalam penelitian ini Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Market-to-Book Ratio (M/B) merupakan variabel independen, yang akan mempengaruhi Return Saham sebagai variabel dependennya.

1. Earning Per Share (EPS) berpengaruh secara positif terhadap

Return Saham.

Earning Per Share (EPS) digunakan untuk mengukur seberapa besar laba bersih yang dapat diperoleh dari setiap lembar saham yang beredar. Semakin besar tingkat kemampuan dalam menghasilkan keuntungan per lembar saham bagi pemiliknya,

Earning Per Share (EPS) X1

Price Earning Ratio (PER) X2

Market-to-Book Ratio (M/B) X3

(24)

maka semakin menguntungkan investasi pada perusahaan tersebut. Semakin tinggi EPS, semakin tinggi pula return saham sehingga dapat dikatakan bahwa EPS berpengaruh secara positif terhadap return saham.

2. Price Earning Ratio (PER) berpengaruh secara positif terhadap

Return Saham.

Price Earning Ratio (PER) merupakan perbandingan antara harga pasar per lembar saham dengan laba bersih per lembar saham perusahaan yang menunjukkan kemampuan laba yang dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan harga pasar sahamnya. Semakin tinggi PER suatu perusahaan berarti semakin tinggi pasar menghargai nilai saham perusahaan tersebut sehingga semakin tinggi pula return yang diperoleh oleh investor. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PER berpengaruh secara positif terhadap

return saham.

3. Market-to-Book Ratio (M/B) berpengaruh secara positif terhadap

Return Saham.

(25)

tinggi M/B maka semakin tinggi pula return yang dihasilkan (M/B berpengaruh secara positif terhadap return saham).

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pada latar belakang, perumusan masalah dan kerangka konseptual seperti yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis penelitian yang diajukan adalah Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio

Gambar

Gambar 2.1 Risiko Investasi
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi berjudul Analisis Pengaruh Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), Return On Equity (ROE) Dan Current Ratio (CR) Terhadap Harga Saham Perusahaan Property

Populasi penelitian ini terdiri dari 44 perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2010-2012, dengan 27 perusahaan yang digunakan

Semakin tinggi return saham maka semakin baik investasi yang dilakukan karena dapat menghasilkan keuntungan, sebaliknya semakin rendah return saham atau bahkan

Kenaikan tingkat bunga menyebabkan return yang diperoleh dari investasi beresiko rendah (deposito) lebih tinggi daripada return investasi yang beresiko tinggi (saham),

Semakin tinggi return on equity memberikan kesan yang baik terhadap perusahaan real estate dan properti yang mampu menghasilkan laba dari pemanfaatan ekuitasnya,

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variabel yang diduga memiliki pengaruh terhadap return saham pada perusahaan real estate dan properti di

Persamaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu adalah menggunakan variabel pengukuran Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER), Return On Assets

Skripsi Pengaruh Variabel ROI, DER,PER, CR Dan WCTO Terhadap Return... ADLN Perpustakaan