PENERAPAN METODE BERCAKAP CAKAP DENGAN M

10 

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE BERCAKAP-CAKAP DENGAN

MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN BERBICARA ANAK

I Gede Dody Setia Dharma

1

, I Nyoman Wirya

2

, Nice Maylani Asril

3

1.2.3

Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

email: dodydharma25@yahoo.com., Wiryanyoman14@gmail.com.,

nice.asril@gmail.com.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan bicara setelah diterapkan metode bercakap-cakap dengan media gambar pada anak di kelompok B semester genap di TK Prawidya Dharma Cabang Batur Tengah Tahun Pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dan subjek sebanyak 15 anak kelompok B semester genap di TK Prawidya Dharma Cabang Batur Tengah Tahun Pelajaran 2014/2015. Data penelitian tentang keterampilan berbicara dikumpulkan dengan metode observasi dengan instrumen berupa lembar format observasi. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis data menunjukan bahwa terjadi peningkatan rata-rata skor keterampilan berbicara pada anak kelompok B setelah diterapkan metode bercakap-cakap berbantuan media gambar pada siklus I sebesar 69,12% yaitu kategori sedang kemudian pada siklus II menjadi 80,8% yang berada pada kategori tinggi. Jadi terjadi peningkatan keterampilan berbicara anak setelah diterapkan metode bercakap-cakap berbantuan media gambar sebesar 11,68%.

Kata-kata kunci: anak usia dini, keterampilan berbicara, metode bercakap-cakap, media gambar.

Abstract

The purpose of this research was to know the advance of speaking skill after applied the method of picture media at the even semester kindegarden group B of Prawidya Dharma branch of Middle Batur school year 2014/2015. The reseach was classroom action research which held in two cycles with the subject 15 students group B even semester of kindegarden Prawidya Dharma branch of Middle Batur school year 2014/2015. The research data about speaking skill was collected by observation method with instrument in the form of observation format sheet. The result of the data was analysed by using descriptive statistical analysis method and descriptive analysis qualitative. The result of the data analysis showed, there was the speaking skill advance at the group B children after applied the speaking method using picture media at cycle one equal to 69,12% with medium category, at cycle two there was speaking skill advance 80,8% it was high category. So, there was the speaking skill advance of the children after applied with the method of picture media equal to 11,68%.

(2)

PENDAHULUAN

Anak usia dini merupakan ujung tombak dan generasi baru yang nantinya akan berperan dalam memajukan kehidupan bangsa. Hal ini dikarenakan pendidikan anak usia dini sangat penting dilaksanakan sebagai dasar pembentukan kepribadian dan karakter. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, pasal 1 ayat(14) menyatakan bahwa, pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang di tujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan agar anak memasuki pendidikan lebih lanjut.

Peraturan Menteri Pedidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2009 “tujuan pendidikan taman kanak-kanak adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi perkembangan nilai agama dan moral, fisik atau motorik, kognitif , bahasa, serta sosial emosional”. Salah satu aspek yang secara umum dapat dilatih dan dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini adalah melatih perkembangan bahasa anak yang meliputi berbicara, mendengarkan, menulis, dan membaca. Melatih perkembagan bahasa dapat dilalukan berdasarkan tahap perkembangan anak karena tiap tahapan perkembangan memiliki tugas yang berbeda-beda. Hal ini berlaku juga pada kemampuan berbahasa, sehingga anak dapat berkomunikasi serta berinteraksi secara lisan maupun tertulis.

Keterampilan berbahasa anak dapat mengungkapkan perasaan atau pikirannya dalam berinteraksi dengan orang lain. Bahasa merupakan alat yang penting bagi setiap orang. Melalui bahasa anak akan dapat mengembangkan kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain. Penguasaan keterampilan dalam berteman dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan keterampilan berbahasa berbicara maupun mendengarkan. Tanpa bahasa seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Anak dapat mengekspresikan

pikirannya menggunakan bahasa, sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak. Komunikasi dapat terjalin dengan baik melalui bahasa sehingga anak dapat membangun hubungan. Anak mulai berani mengemukakan suatu hal melalui kemampuan berbahasanya dapat dikatakan mulai menemukan kepercayaan diri dan memulai proses peningkatan keterampilan berbahasanya.

Banyak sekali metode yang dapat dilakukan dalam proses peningkatan dan pengembangan keterampilan bahasa seorang anak baik dengan metode ceramah maupun metode lainnya. Metode lain yang dapat digunakan yaitu metode bercakap-cakap. Metode bercakap-cakap merupakan suatu proses belajar dimana anak dapat saling mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara verbal (Hildebrand dalam Latif, 2013) atau mewujudkan kemampuan bahasa resentif dan bahasa ekspresif. Metode pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) untuk mewujudkan keterampilan bahasa yang efektif adalah dengan berbantuan media gambar. Melalui metode ini anak akan termotivasi dalam menstimulasi minat belajar. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan hasil belajar kemampuan berpikir anak serta memunculkan kemampuan kreativitas anak sehingga anak mau menunjukan keterampilan bahasa, menyampaikan apa yang dilihat dan dipikirkannya dengan berbahasa.

(3)

akan termotivasi dalam menstimulasi minat belajar. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan hasil belajar kemampuan berpikir anak serta memunculkan kemampuan kreativitas anak sehingga anak mau menunjukan keterampilan bahasa, menyampaikan apa yang dilihat dan dipikirkannya dengan berbahasa.

Rendahnya keterampilan bahasa merupakan hal yang sangat menantang bagi para pendidik di (TK). Situasi ini disebabkan karena anak usia dini belum terbiasa belajar dengan tertib, disiplin sehingga memerlukan perhatian, cara, metode dalam peroses pembelajaran. Hal ini dialami oleh kelompok di TK Prawidya Dharma cabang Batur Tengah. Masalah yang dialami oleh para guru dalam proses belajar mengajar ialah ditemukannya keterampilan bahasa anak yang masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dari hasil observasi dan wawancara pada tanggal 10 Februari 2015 terhadap beberapa guru TK Prawidya Dharma cabang Batur Tengah yang mengatakan bahwa kualitas keterampilan bahasa anak-anak TK Prawidya Dharma cabang Batur Tengah masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan dari data yang didapat pada kelompok B semester I tahun 2014/2015 bahwa keterampilan bahasa anak khususnya pada keterampilan berbicara dapat dikatakan masih kurang. Dari hasil refleksi awal dieroleh presentase keterampilan berbicara pada anak sebesar 60% yang berada pada kategori rendah.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan ada beberapa faktor penyebab rendahnya keterampilan bahasa khususnya pada keterampilan berbicara baik faktor internal maupun faktor eksternal yang sangat dapat berpengaruh pada minat anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah satu cara untuk mengembangkan semangat dan minat anak untuk belajar dalam aspek keterampilan berbicara sebaiknya keterlibatkan anak perlu diatur sebaik mungkin agar pembelajaran berjalan secara efektif. Perlu adanya jalan keluar dalam mengatasi masalah tersebut dengan mengunakan metode yang tepat yaitu metode bercakap-cakap melalui

media gambar. Dengan demikian semangat anak akan datang untuk belajar dan bermain. Hal tersebut juga tidak kalah penting dengan upaya guru dalam mengajar agar pembelajaran yang selama ini kurang mendapat perhatian dari anak sehingga tujuan meningkatkan keterampilan berbicara anak tercapai secara optimal.

Bercakap-cakap berarti saling mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara verbal (Hildebrand dalam Latif, 2013) atau mewujudkan kemampuan bahasa resensif dan bahasa ekspresif. Bercakap-cakap dapat diartikan sebagai dialog atau sebagai perwujudan bahasa resensif dan bahasa ekspresif dalam suatu situasi (Gordon dalam Latif, 2013).

Bercakap-cakap mempunyai makna penting bagi perkembangan anak TK karena bercakap-cakap dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain, meningkatkan keterampilan dalam melakukan kegiatan bersama. Juga meningkatkan keterampilan menyatakan perasaan serta menyatakan gagasan atau pendapat secara verbal. Oleh karena itu, penggunaan metode bercakap-cakap bagi anak TK terutama anak membantu perkembangan dimensi sosial, emosi, dan kognitif dan terutama bahasa.

(4)

kemampuan menanggapi pembicaraan orang lain secara lisan“.

Dhieni (2009: 7.7), kelebihan dan kelemahan metode bercakap-cakap adalah: Kelebihannya: pertama, Anak dapat kesempatan untuk mengemukakan ide-ide dan pendapatnya; kedua, Anak dapat kesempatan untuk menyumbangkan gagasannya; tiga, Hasil belajar dengan metode bercakap-cakap bersifat fungsional karena topik/tema yang menjadi bahan percakapan terdapat dalam keseharian dan lingkungan anak; empat, Anak dapat mengembangkan cara berfikir kritis dan sikap hormat atau menghargai pendapat orang lain; lima, Anak dapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan belajarnya pada taraf yang lebih tinggi. Sedangkan Kelemahannya: pertama, Membutuhkan waktu yang cukup lama; kedua, Memerlukan ketajaman dalam menangkap inti pembicaran; ketiga, Dalam prakteknya, percakapan akan selalu didominasi oleh beberapa orang saja.

Muhadi (2008:89) media visual (gambar) yang penting dan mudah didapat. Dikatakan penting sebab ia dapat menggantikan kata verbal, mengkongkritkan yang abstrak dan membatasi pengamatan manusia. Gambar membuat orang dapat menangkap ide atau informasi yang terkandung di dalamnya dengan jelas, lebih jelas dari pada yang diungkapkan dengan kata-kata. Walaupun hanya menekankan kekuatan indra penglihatan kekuatan gambar terletak pada kenyataan bahwa sebagian besar orang pada dasarnya memiliki visual.

Sadiman (2002) menyatakan bahwa media gambar merupakan” sesuatu media yang mengkombinasikan fakta, gagasan secara jelas dan kuat melalui suatu pengungkapan kata dan gambar”. Soelarko (1980:3) juga menjelaskan bahwa media gambar merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa serta ukuranya relatif terhadap lingkungan. Eliyawati (2005) ada beberapa ciri-ciri media gambar adalah: pertama, Harus autentik artinya dapat menggembangkan objek atau peristiwa apabila anak melihat

langsung. Kedua, Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukan bagian-bagian pokok dalam gambar tersebut. Ketiga, Ukuran gambar proposional sehingga anak mudah membayangkan ukuran yang sesungguhnya benda atau objek yang digambar. Keempat, Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai pembelajaran. Kelima, Gambar harus massage, sebagai media yang baik gambar hendaknya bagus dari sudut seni dan sesuai dengan pembelajaran yang ingin dicapai.

Beberapa kelebihan media gambar menurut Sadiman (2002) adalah: satu, Sifatnya konkrit gambar lebih realistis menunjukan pokok masalah dibanding dengan media verbal semata. Dua, Gambar dapat mengatasi masalah batasan ruang dan waktu, tidak semua benda dapat dibawa kekelas, dan tidak selalu bisa anak-anak dibawa ke objek tersebut untuk itu gambar dapat mengatasinya. Tiga, Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sel atau penampang daun yang tak mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan dengan jelas dengan bentuk gambar. Empat, Dapat menperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalah pahaman. Lima, Murah harganya, mudah didapat serta dapat digunakan untuk perseorangan atau kelompok.

Hamalik (2008) manfaat media gambar yaitu secara garis besar manfaat utama penggunaan media meliputi manfaat manfaat edukatif, yaitu mendidik dan memberikan pengaruh positif pada pendidikan. Manfaat sosial,yaitu memberikan informasi yang autentik dan pengalaman di berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama pada setiap orang. Manfaat lainya adalah ekonomis, yaitu memberikan produksi melalui pembinaan hasil kerja secara maksimal.

(5)

ini dikarenakan dengan sesama manusia, menyatakan pendapat, menyampaikan maksud dan pesan, mengungkapkan perasaan dan segala kondisi emosional, dan lain sebagainya.

Nasution (1992: 28) “Keterampilan adalah kemampuan untuk mengerjakan atau melaksanakan sesuatu dengan baik”. Keterampilan yang dipelajari dengan baik akan berkembang menjadi kebiasaan. Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara keterampilan dengan perkembangan kemampuan keseluruhan anak.

Tarigan dalam Suhartono (2005:20) mengemukakan bicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mereproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan pada orang lain. Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara, sehingga dapat menghilangkan rasa malu, berat lidah, dan rendah diri (Iskandarwassid, 2008: 45) Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pendapat para ahli bahwa keterampilan berbicara merupakan alat komunikasi antara individu satu dengan individu yang lainnya untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan, karena berbicara mempengaruhi penyesuaian pribadi anak untuk sosialisasi.

Suhartono (2005: 43) mengatakan pada waktu anak masuk Taman Kanak-Kanak, anak telah memiliki sejumlah besar kosakata. Mereka sudah dapat membuat pertanyaan negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Mereka memahami kosakata lebih banyak. Mereka dapat bergurau, bertengkar dengan teman-temannya dan berbicara sopan dengan orang tua dan guru mereka. Kematangan bicara anak ada hubungannya dengan latar belakang orang tua anak dan perkembangannya di taman kanak-kanak.

Selanjutnya, Jamaris (Susanto, 2011: 78) perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun adalah sudah dapat mengucapkan lebih dari 2.500 kosakata, lingkup kosakata yang dapat diucapkan anak menyangkut warna, ukuran, bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan, jarak, dan permukaan (kasar-halus), anak usia 5-6 tahun sudah Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut. Percakapan yang dilakukan oleh anak 5-6 tahun telah menyangkut berbagai komentarnya terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain, serta apa yang dilihatnya.

Ernawulan (2005: 49) perkembangan berbicara anak usia 5-6 tahun adalah anak sudah dapat mengucapkan kata dengan jelas dan lancar, dapat menyusun kalimat yang terdiri dari enam sampai delapan kata, dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dapat menggunakan kata hubung, kata depan dan kata sandang. Pada masa akhir usia taman kanak-kanak umumnya anak sudah mampu berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan berbahasa.

Hasil penelitian Loban, Hunt, dan Cazda yang dimuat dalam Ellies (Mustakim, 2005: 129) mengemukakan tentang keterampilan berbicara anak usia 5 dan 6 tahun sebagai berikut: Suka berbicara dan umumnya berbicara kepada seseorang, tertarik menggunakan kata-kata baru dan luas, banyak bertanya, tata bahasa akurat dan beralasan, menggunakan bahasa yang sesuai, dapat mendefinisikan dengan bahasa yang sederhana, menggunakan bahasa dengan agresi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sangat aktif berbicara.

(6)

berurutan dengan benar, tiga. Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, empat. Menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya, lima. Menggunakan kata sambung seperti: dan, karena, tetapi, enam. Menggunakan kata tanya seperti bagaimana, apa, mengapa, kapan, tujuh. Membandingkan dua hal, delapan. Memahami konsep timbal balik, semilan. Menyusun kalimat, sepuluh. Mengucapkan lebih dari tiga kalimat, sebelas. Mengenal tulisan sederhana

Secara umum tujuan

pengembangan berbicara anak usia dini yaitu agar anak mampu mengungkapkan isi hatinya (pendapat, sikap) secara lisan dengan lafal yang tepat untuk dapat berkomunikasi. Selain itu anak dapat melafalkan bunyi bahasa yang digunakan secara tepat, anak mempunyai perbendaharaan kata yang memadai untuk keperluan berkonunikasi dan agar anak mampu menggunakan kalimat secara baik untuk berkomunikasi secara lisan.

Hartono (Suhartono, 2005:123) tujuan umum dalam pengembangan berbicara anak, yaitu:

Pertama Memiliki perbendaharaan kata yang cukup yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari. Kedua, Mau mendengarkan dan memahami kata-kata serta kalimat. Ketiga, Mampu mengungkapkan pendapat dan sikap dengan lafal yang tepat. Keempat Berminat menggunakan bahasa yang baik. Kelima, Berminat untuk menghubungkan antara bahasa lisan dan tulisan

Dari uraian di atas maka tujuan pengembangan berbicara anak usia dini yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah anak dapat mengungkapkan isi hatinya (pendapat atau sikap) secara lisan, anak mampu mengungkapkan pendapat dan sikap dengan lafal yang tepat dan anak berminat menggunakan bahasa yang baik.

Dari beberapa pandangan di atas, maka indikator anak yang terampil berbicara dalam penelitian ini adalah anak dapat berbicara dengan lancar dan dapat dipahami orang lain, berani

mengemukakan ide kepada orang lain, berani bertanya dan menjawab pertanyaan, berani menyampaikan kegiatan yang telah dilakukan dan dapat menyusun kalimat dengan baik dan benar.

Jika metode bercakap-cakap berbantuan media gambar dilaksanakan dengan baik maka keterampilan berbicara anak Kelompok B Semester II TK Prawidya Dharma cabang Batur tengah tahun pelajaran 2014/2015 meningkat.

METODE

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu Action Research yang dilakukan di kelas secara singkat penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan memperbaiki kinerja sebagi guru sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardhani, 2007:2). Penelitian ini dipergunakan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan mengembangkan suatu cara-cara baru, sehingga permasalahan dalam proses pembelajaran dapat dipecahkan. Penelitian tindakan kelas merupakan penggabungan dari kegiatan penelitian, tindakan, dan kelas. Tindakan yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan pemecahan masalah dalam proses pembelajaran (Tegeh,2011:15). Variabel merupakan suatu yang akan menjadi objek pengamatan dalam penelitian ini. Penelitian ini hanya melibatkan satu variabel bebas (indipendent variable) dan satu variabel terikat (dependent variable).

Menurut Agung (2012:43), variabel bebas yaitu satu atau lebih dari variabel-variabel yang sengaja dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat.

(7)

berbantuan media gambar Variabel terikat : keterampilan berbicara

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui media gambar. Penelitian ini direncanakan sebanyak dua siklus namun tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan siklus berikutnya jika tidak memenuhi target yang telah ditentukan. Model penelitian yang dilakukan adalah model daur (siklus) yaitu dua siklus masing-masing mencakup empat komponen yaitu, rencana (planning), observasi (observation), tindakan (action) dan refleksi (reflection)..

Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam pengumpulan data adalah dengan metode observasi terhadap anak TK Prawidya Dharma. Menurut Agung (2012) menyatakan bahwa metode observasi ialah suatu cara memperoleh data dengan jalan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang suatu objek tertentu. Metode observasi dilakukan secara langsung dan alamiah untuk mendapat data dalam berbagai situasi dan kejadian yang dilakukan.

Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang meningkatkan keterampilan berbicara pada anak, yang dilaksanakan pada saat proses belajar berlangsung dengan menggunakan metode bercakap-cakap berbantuan media gambar. Dalam penelitian ini, observasidilakukan pada saat pelaksanaan tindakan pada masing-masing siklus dengan menggunakan instrument penelitian berupa lembar observasi. Setiap kegiatan diobservasi dikategorikan kedalam kualitas yang berpedoman pada Permendiknas No.50 tahun 2009 yaitu, satu bintang (*) belum berkembang, (**) mulai berkembang, (***) berkembang sesuai harapan, (****) berkembang sangat baik.

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua metode analisis data yaitu, metode analisis statistik deskriptif dan metode deskriptif kuantitatif. Menurut Agung (2012) menyatakan bahwa metode analisis statistik deskriptif ialah suatu cara

pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus statistik desktiptif. Rumus-rumus yang digunakan yaitu distribusi frekuensi, grafik, angka rata-rata, median, modus, mean dan standar deviasi

Metode analisis deskriptif kuantitatif ialah “suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematis dalam bentuk angka-angka dan atau presentase, mengenai objek yang diteliti, sehingga diperoleh kesimpulan umum” (Agung, 2012:67). Metode analisis deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya kemampuan bahasa lisan anak yang dikonversikan kedalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Hasil penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 6 april sampai tanggal 2 juni 2015. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dimana dalam siklus I terdiri dari 16 kali pertemuan yaitu 12 kali pembelajaran dan 4 kali evaluasi, dan siklus II terdiri dari 16 kali pertemuan yaitu 12 kali pembelajaran dan empat kali evaluasi. Data yang dikumpulkan adalah mengenai peningkatan keterampilan berbicara melalui metode bercakap-cakap berbantuan media gambar akan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi, menghitung Modus (Mo), Median (Me),

Mean (M), grafik polygon, serta membandingkan rata-rata atau mean

dengan model PAP skala lima.

(8)

0 1 2 3 4 5 6 7

10 11 12 13

East

Line  2

Line  3

Me=11 M=11,06

Mo=11

Gambar 1. Grafik keterampilan berbicara Siklus I

Grafik polygon di atas menunjukan bahwa harga statistik : Mo = Me < M (11 = 11 < 11,06). Berdasarkan gambar tersebut dapat dapat di interpretasikan bahwa kebanyakan data hasil belajar keterampilan berbicara pada siklus I cenderung sedang dan kurva juling positif.

Dari hasil pengamatan dan temuan yang dilakukan selama siklus I terdapat beberapa kendala dalam penerapan metode bercakap-cakap berbantuan media gambar untuk meningkatkan keterampilan bahasa anak. Kendala yang ditemukan tersebut menyebabkan hasil keterampilan berbicara anak Kelompok B di TK Prawidya Dharma cabang Batur Tengah berada pada kriteria sedang, sehingga masih perlu ditingkatkan pada siklus II.

Melalui perbaikan proses pembelajaran dan pelaksanaan tindakan pada siklus I, maka nampak terjadi peningkatan proses pembelajaran siklus II. Proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang direncanakan oleh peneliti, sehingga keterampilan berbicara anak dapat meningkat. Peningkatan keterampilan berbicara anak dapat dilihat melalui grafik berikut.

Grafik polygon pada Siklus II menunjukan bahwa bahwa Mo = Me < M (13 = 13 < 12,93). Berdasarkan gambar tersebut dapat diinterpretasikan bahwa kebanyakan data hasil belajar

perkembangan kognitif pada siklus II cenderung tinggi dan kurva juling negatif.

0 1 2 3 4 5 6 7

12 13 14 15

East West North

M=12,93 Mo=Me=13

Gambar 2. Grafik keterampilan berbicara Siklus I

Nilai M% = 80,8 yang dikonversikan kedalam PAP skala lima berada pada tingkat penguasaan 80 – 89 % yang berarti bahwa hasil keterampilan berbicara pada siklus II berada pada kriteria tinggi.

Pembahasan

Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa metode bercakap-cakap berbantuan media gambar berpengaruh positif terhadap keterampilan berbicara anak. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada keterampilan berbicara anak setelah diterapkanya metode bercakap-cakap berbantuan media gambar pada anak kelompok B di TK Prawidya Dharma Cabang Batur Tengah.

(9)

Media gambar dapat membantu anak mengekspresikan imajinasinya. Penggunaan berbagai bermacam-macam gambar dapat mendorong dan menarik minat anak untuk mau mengungkapkan pendapatnya. Media gambar sangat membantu anak-anak khususnya dalam keterampilan berbicara, ini terlihat saat anak mengambil gambar sebuah peristiwa atau kejadian anak asik bercakap-cakap dengan temannya tentang gambar tersebut (Dhieni, dkk 2007:6.54). Hal ini terlihat saat seorang anak mengambil gambar yang bergambarkan api dan temamnya mengambil gambar yang bergambar air, anak yang membawa gambar air bertanya apa fungsinya lalu temannya yang membawa gambar api menjawab untuk mematikan api, anak akan asik bercakap-cakap tentang gambar yang mereka bawa. Ketika percakapan berlangsung secara tidak langsung keterampilan berbicara anak akan meningkat.

Vygotsky ( dalam Dhieni 2007:3.8) menjelaskan tiga tahap keterampilan berbicara anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu tahap eksternal, terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak. Hal ini terlihat saat anak memegang gambar, guru bertanya: “gambar apa ini nak?” anak menjawab gambar “api ibu guru” kemudian guru mengambil satu gambar lagi dan bertanya “nah kalau yang ini gambar ya anak?” anak menjawab peristiwa kebakaran bu guru” dan seterusnya. Sumber berpikir anak berasal dari orang dewasa yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan tanya jawab dengan anak. Tahap kedua adalah tahap egosentris dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikiranya dan pembicaraan orang dewasa bukan lagi menjadi persyaratan. Hal ini nampak saat anak-anak mulai berpendapat dan berbicara sendiri dengan memberikan pendapat terhadap gambaryang diambil anak. Anak berbicara sesuai dengan apa yang dipikirkan, seperti “api sangat berbahaya, api dapat membakar apa saja, api dapat dipadamkan dengan air”. Tahap ketiga adalah berbicara internal dimana

dalam proses berpikir, anak telah memiliki penghayatan sepenuhnya. Situasi ini terlihat ketika anak mulai bercakap-cakap dengan teman di kelompoknya tentang gambar yang dipegangnya. Anak menggunakan pikirannya sendiri untuk berbicara atau mengungkapkan apa yang ingin anak sampaikan atau ditanyakan kepada temanya. Sebagai contoh “ ini gambar air, warnanya bening, apa fungsi air?” Kemudian temannya menjawab “untuk diminum dan mandi”.

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian berdasarkan teori diatas maka ini berarti bahwa dengan penerapan metode bercakap-cakap berbantuan media gambar dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak kelompok B semester II tahun pelajaran 2014/2015 di TK Prawidya Dharma Cabang Batur Tengah.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan berbicara dalam kegiatan pembelajaran pada anak kelompok B semester II di TK Prawidya Dharma cabang Batur Tengahtahun pelajaran 2014/2015 setelah diterapkannya metode Bercakap-cakap berbantuan media gambar sebesar 11,68%. Ini terlihat dari peningkatan rata-rata persentase keterampian berbicara anak pada siklus I sebesar 69,12% yaitu kategori sedang dan mengalami peningkatan menjadi 80,8% pada siklus II yang berada pada kategori tinggi. Peningkatan kemampuan berbicara pada anak dapat didukung oleh pemanfaatan media sederhana dengan benar dan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti faktor sosial, linguistik, kematangan, biologis, dan kognitif yang saling mempengaruhi keterampilan berbicara anak.

Saran

(10)

mampu meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak khususnya pada keterampilan berbicara. Kepada peneliti lain hendaknya dapat melaksanakan PTK dengan berbagai metode dan media, khususnya untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak dengan menerapkan metode bercakap-cakap. Media pembelajaran yang digunakan dapat dibuat lebih menarik, kreatif dan disesuaikan dengan tema dan topik pembelajaran. Keterbatasan waktu membuat penelitian ini sampai pada siklus I dan II yaitu pada kreteria tinggi, maka diharapkan kepada peneliti lain agar bisa meneruskan penelitian ini sehingga mencapai hasil yang optimal atau mencapai kretria sangat tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2012. Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Agung, A. A. Gede. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Fakultas Ilmu Pendidikan. Undiksha: Singaraja.

Arief, S. Sadiman. 1984. Media

Pembelajaran, Pengertian,

Pengembangan, Penempatan.

Jakarta: Rajawali.

Dhieni, Nurbiana. 2009. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Eliyawati, Cucu. 2005. Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Departement Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Ketenagaan.

Ernawulan. 2005. Bimbingan di Taman

Kanak-Kanak. Jakarta:

Depdiknas.

Iskandarwassid. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya

Latif, Mukhtar. 2013. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Muhadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada.

Mustakim, M.N. 2005. Peranana Cerita

dalam Pembentukan

Perkembangan Anak TK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Nasution, Noehi. 1992. Psikologi Pendidikan. Jakarta:Depdikbud.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009, Tentang Setandar Pendidikan Anak Usia Dini.

Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional RI.

Sadiman, A.S, dkk. 2002. Media Pendidikan, Cetakan Kelima. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Suhartono.2005. Pengembangan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.

Susanto, Ahmad. 2001. Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar dalam

Berbagai Aspeknya. Jambi:

Kencana

Tarigan, Henry Guntur. 2009.

Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.

Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2003,

Figur

Gambar 1. Grafik keterampilan berbicara
Gambar 1 Grafik keterampilan berbicara . View in document p.8
Gambar 2. Grafik keterampilan berbicara
Gambar 2 Grafik keterampilan berbicara . View in document p.8

Referensi

Memperbarui...