3. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipakai oleh penulis adalah kualitatif eksploratif dan kuantitatif deskripstif. Penelitian kualitatif eksploratif ditujukan sebagai identifikasi awal terhadap situasi yang dihadapi dalam bentuk gagasan, wawasan, pengetahuan dan pemahaman akan situasi yang dihadapi untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang lebih mendalam. Penelitian eksploratif, yaitu penelitian yang merupakan kombinasi antara penelitian deskriptif dan penelitian menguji. Dalam penelitian eksploratif, peneliti mencoba menjelaskan gejala-gejala yang terjadi, yang jika mungkin mengembangkan hipotesis-hipotesis tertentu. penelitian eksploratif menekankan penjelasan dan interpretasi. Dikatakan penelitian kualitatif karena sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati ( Bogdan & Taylor, 1975)
Penelitan kualitatif eksploratif akan mendahului penelitian kuantitatif deskriptif. Pendekatan kuantitatif deskriptif hanya diperuntukkan dalam tahapan akhir penelitian untuk mendapatkan gambaran mengenai potensi dari masing-masing gedung bersejarah yang terdapat di kawasan kota bawah Surabaya. Sedangkan penulisan yang diterapkan menggunakan eksploraty deskriptif atau deskriptif eksploratif dengan metode in-depth interview. Definisi penelitian eksploratory menurut Parasuraman ( 1991, p.128 ) adalah ”research intended to develop initial hunches or insight and to provide direction for any further research needed”. Penulis memilih metode ini dikarenakan penulis menganalisa karakteristik dan potensi dari bangunan tua bersejarah yang berada di kawasan kota bawah Surabaya dimana pada penelitian ini mengacu pada karakterisitik bangunan serta faktor – faktor lain yang telah ditentukan berdasar teori pada bab II.
3.2. Gambaran Populasi dan Sampel
Untuk melakukan suatu penelitian dibutuhkan suatu objek penelitian yang memiliki ciri – ciri atau karakteristik tertentu yang biasa disebut populasi. Definisi populasi adalah sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan secara jelas sebelum penelitian dilakukan. Untuk membatasi jumlah dari objek yang akan diteliti, maka diperlukan beberapa bagian anggota populasi yang dapat mewakili keadaan dari populasi itu sendiri yang disebut dengan sampel.
Populasi dalam penelitian ini adalah bangunan-bangunan bersejarah berstatus Cagar Budaya berdasarkan Direktori Cagar Budaya Surabaya tahun 2010. Daftar bangunan terdapat di bab I.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 12 bangunan terpilih yaitu House of Sampoerna, Hotel Ibis, Gedung Cerutu, Gedung Internatio, Pabrik Siropen Telasih, Gedung BII Jembatan Merah, Polrestabes Surabaya, Gedung Bank Mandiri Jembatan Merah, Kantor Pos Besar, Gereja Santa Perawan Maria, PTPN XI dan Masjid Ampel.
3.3. Definisi Operasional Variabel
Untuk mengetahui tingkat perkembangan suatu objek wisata diperlukan suatu alat ukur yang menjadi tolak ukur apakah objek wisata tersebut dapat dikembangkan atau tidak. Tolak ukur pengembangan objek wisata tersebut diukur berdasarkan hal – hal yang mendasar seperti, something to see, something to do, dan something to buy. Di samping itu terdapat tolak ukur pendukung seperti sarana dan prasarana, atraksi – atraksi wisata serta fasilitas – fasilitas pendukung lainnya.
Penulis akan menjelaskan indikator pengukuran potensi terhadap bangunan tua bersejarah di kawasan kota bawah Surabaya. Indikator pengukuran potensi telah ditentukan berdasar teori yang disusun di bab Landasan Teori.
a. Something to see
Artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain. Daerah itu harus mempunyai daya tarik khusus dan atraksi budaya yang dijadikan “entertainment” bagi wisatawan. Dalam penelitian ini something to see adalah sejarah dan keunikan bangunan.
b. Something to do
Artinya ditempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan berbagai fasilitas yang dapat membuat wisatawan betah tinggal lebih lama di tempat itu.
c. Something to buy
Artinya di tempat tujuan wisata harus tersedia fasilitas untuk belanja (shopping) terutama barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal.
f. Aksesibilitas
Aksesbilitas ini menyangkut kemudahan untuk menjangkau tempat wisata tersebut. Kemudahan ini memberikan andil untuk menciptakan keberhasilan dan sebuah tempat wisata. Teori lain tentang aksesibilitas objek wisata dikemukakan oleh Dr. James Joseph dalam bukunya Ekonomi Pariwisata (1990) yaitu kapasitas lalu lintas, kecepatan yang dapat ditempuh pada jalan, konstruksi jalan, pemeliharaannya, volume lalu-lintas, peraturan – peraturan lalu lintas dan area parkir.
g. Kebersihan
Kebersihan dari sebuah tempat wisata juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi pengunjung. Ketika seseorang mendapatkan suasana yang bersih saat mengunjungi sebuah tempat wisata, maka dapat memberikan arahan untuk mengunjungi tempat wisata tersebut. Kebersihan sebuah tempat wisata juga menjadi idaman wisatawan karena menyangkut kenikmatan secara natural yang dirasakan oleh pengunjung.
i. on-site guide
Setiap objek wisata idealnya mempunyai on-site guide yang bertugas memberikan informasi kepada wisatawan yang berkunjung. On site guide sebaiknya
mampu berkomunikasi dengan baik dalam hal ini berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing ( bahasa Inggris ).
j. Sarana
Yang dimaksud dengan sarana penunjang adalah kegiatan para wisatawan bisa mengeluarkan uangnya atau berbelanja di tempat yang dikunjunginya maupun di sekitar objek wisata , seperti toko souvenir dan rumah makan yang terdapat di dalam atau di sekitar objek kawasan Pecinan.
3.4. Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah : 1. Data Primer
Data primer adalah data yang didapat dari sumber informan, yang merupakan hasil dari wawancara, pengamatan langsung dalam bentuk catatan situasi beserta kejadian-kejadian yang ada di lapangan dan data-data mengenai informan (Husein Umar, 2005, p.99).
1. Staff Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya 2. guide Bus Surabaya Heritage Track ( HoS )
3. Penjaga Gedung Internatio
4. Penjaga Gereja Santa Perawan Maria 5. Penjaga Gedung PTPN XI
6. Staff Bidang Humas Hotel Ibis 7. Staff Pabrik Siropen Telasih 8. Karyawan Kantor Pos Besar
9. Staff Humas Bank BII Jembatan Merah 10. Staff Humas Bank Mandiri Jembatan Merah
11. Staff Pelayanan dan Informasi Polrestabes Surabaya 2. Data Sekunder
Data yang sudah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain, misalnya daalm bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram, data ini digunakan untuk mendukung informasi primer yang diperoleh (Husein Umar,
2005, p.100). Data sekunder yang didapat berupa buku, dokumentasi, brosur, majalah dan artikel yang berkaitan dengan tempat wisata yang ada di kawasan kota bawah Surabaya.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis sendirilah yang menjadi instrumen utama yang terjun ke lapangan berusaha mengumpulkan informasi.
Metode pengumpulan data penelitian dilakukan dengan : a. Studi Pustaka
Dalam tahap ini, studi pustaka diperoleh dari teori - teori yang berkaitan dengan faktor – faktor potensi suatu objek menjadi destinasi wisata dan berkembang. b. Dokumentasi
Dalam tahap dokumentasi ini penulis melakukan prosedur dengan terjun dan mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan objek yang diteliti seperti kondisi bangunan, akses menuju lokasi, sarana dan prasarana di sekitar objek dan sebagainya.
c. Observasi
Observasi dilakukan setelah tahapan studi pustaka diselesaikan penulis agar memperoleh dan memahami gambaran mengenai potensi yang bangunan tua bersejarah yang ada di kawsan kota bawah Surabaya.
d. Wawancara Mendalam / in-depth interview
Dikatakan in-depth interview karena dalam mengambil informasi subjek yang diteliti dalam jumlah yang kecil. Dalam melakukan wawancara dilakukan dengan membuat checklist topik yang ditanyakan. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai jumlah kunjungan wisatawan, promosi, aksesibilitas bangunan serta informasi lain. Berikut adalah pertanyaan yang diajukan kepada narasumber : 1. Staff Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya a. Perkembangan wisata di kawasan kota bawah Surabaya saat ini
b. Potensi dari bangunan – bangunan di kawasan kota bawah c. Kendala dalam pengembangan wisata di kawasan kota bawah
d. Bangunan berpotensi yang tidak berstatus cagar budaya
e. Langkah yang ditempuh dalam megatasi kendala pengembangan 2. guide
a. Perkembangan wisata di kawasan kota bawah Surabaya saat ini b. Potensi dari bangunan – bangunan di kawasan kota bawah c. Kendala dalam pengembangan wisata di kawasan kota bawah d. Bangunan berpotensi yang tidak berstatus cagar budaya 3. Penjaga dan Staff Humas gedung
a. Jumlah wisatawan yang berkunjung b. Promosi yang dilakukan
c. Aksesibiltas ( parkir area, akses masuk objek ) d. Sarana
3.6 Teknik Analisis Data
Menurut Nasution (2003, p.129-130) data-data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi nantinya akan diolah dengan cara mengikuti langkah-langkah berikut ini,yaitu :
a. Reduksi data
Data yang diperoleh dari wawancara, obeservasi, dan dokumentasi akan disingkat, direduksi, disusun lebih sistematis ditonjolkan pokok-pokok yang penting dan diberi susunan yang lebih sistematis sehingga lebih mudah diolah. Cara ini lebih memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti mencari kembali data yang diperoleh apabila diperlukan. b. Display data
Data yang bertumpuk-tumpuk sulit dilihat hubungannya untuk mengambil kesimpulan yang tepat, untuk itu agar dilihat gambaran keseluruhannya penulis membuat matriks atau table untuk display data.
c. Interpretasi data
Interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan. Pembahasan
penelitian yang sedang dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kristis dengan teori yang relevan dan informasi akurat yang diperoleh dari lapangan.
d. Analisa deskriptif
Analisa ini digunakan untuk menyajikan data kualitatif dalam bentuk narasi dan dilakukan setelah mengklasifikasi dan menginterpretasi data.Analisa data penelitian ini juga menggunakan deskriptif kuantitatif.
3.6.1 Teknik Analisis Kuantitatif Deskriptif
Deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengetahui seberapa besar potensi yang terdapat di objek-objek wisata yang berada di kawasan Pecinan Surabaya dengan melihat beberapa indikator – indikator. Perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan rumus :
K = a – b ………...
n
Dimana : K = klasifikasi b = jumlah nilai terendah a = jumlah nilai tertinggi n = jumlah indikator penilaian
K = a – b / n = 53 – 19 / 3
= 12
Hasil skoring diperoleh berdasarkan observasi lapangan serta hasil wawancara dengan narasumber. Wawancara yang penulis lakukan disesuaikan dengan tabel indikator yang meliputi aspek promosi, aksesibilitas, jumlah kunjugan wisatawan dan sarana.