• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

3

LANDASAN TEORI

1.1 Tinjauan Umum

Dalam perancangan komunikasi visual film pendek animasi ini, penulis melakukan riset untuk memperoleh data yang mendukung dan referensi visual yang sesuai. Beberapa metode yang telah dilakukan diantaranya adalah : literatur buku, literatur artikel dan survey.

1.1.1 Teori Animasi

Animasi adalah tampilan cepat dari urutan gambar 2D atau 3D untuk membuat ilusi gerakan. Terdapat pula prinsip – prinsip animasi yang digunakan para animator sebagai pegangan dalam membuat gerakan animasi sehoingga karakter yang diciptakan dapat terlihat hidup dan wajar dan menarik dan dapat diterima baik oleh audiens walaupun karakter tersebut merupakan imajinasi atau benda mati. Dalam buku “Art of Animation” Disney menetapkan 12 prinsip dasar animasi, yaitu :

1. Straight ahead and pose to pose

Straight ahead adalah cara dimana seorang animator membuat gerakan secara langsung dari awal hingga akhir tanpa jeda. Sedangakan Pose to Pose adalah cara dimana animator membuat gerakan dengan `Blocking`(keyframe) adegan terlebih dahulu lalu mengisi antarnya kemudian. Didalam animasi 3D computer kecenderungan yang dipakai adalah Pose to Pose.

2. Timing

Kemampuan timing adalah salah satu kemampuan yang harus dikuasai animator, karena peran timing dalam animasi sangatlah penting. Dengan timing seorang animator akan dapat membuat objeknya terlihat sedih, gembira, berat, ringan, dan sebagainya dengan mengatur lamanya waktu sebuah benda bergerak.

(2)

3. Anticipation

Suatu adegan atau gerakan yang ditampilkan sebelum adegan/gerakan utama. Hal ini diperlukan agar penonton mempunyai `kesiapan` untuk dapat mengerti jalan cerita.

4. Staging

Pengaturan sebuah adegan/gerakan sehingga menghasilkan visualisasi yang jelas.

5. Appeal

Sebuah animasi karakter harus mempunyai daya tarik yang jelas, yang diwakili oleh pembuatan bentuk dan gerak karakter/tokoh cerita animasi tersebut.

6. Personality

Sebuah karakter haruslah mempunyai kejelasan `sifat` sesuai dengan yang diinginkan. Tidak ada satu karakter mempunyai sifat yang sama dengan karakter yang lain, sehingga akan terlihat bahwa karakter itu seperti mempunyai jiwanya sendiri.

1.1.2 Teori Warna

Warna memiliki banyak kegunaan, yaitu selain dapat mengubah rasa, bisa juga mempengaruhi cara pandang, dan bisa menutupi ketidaksempurnaan serta bisa membangun suasana atau kenyamanan. Warna adalah satu hal yang sangat penting dalam menentukan respons dari orang lain. Warna merupakan hal yang pertama di lihat seseorang, setiap warna memberi kesan dan identitas tertentu.

Pada awalnya teori warna dikembangkan dengan warna dasar merah, kuning dan biru, kemudian juga hijau. Teori warna sudah dikembangkan oleh Alberti (1435) dan diikuti oleh Leonardo da Vinci (1490). Teori warna mulai mendapat perhatian serius setelah dikembangkan oleh Sir Isaac Newton yang juga ahli fisika melalui tulisannya “Opticks” pada tahun 1704.

(3)

Warna adalah salah satu inspirasi paling berharga yang paling mudah di dapati. Warna diartikan sebagai spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya yang sempurna (berwarna putih).

Identitas suatu warna ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Sebagai contoh, warna biru memiliki panjang gelombang sekitar 460 nanometer, warna kuning sekitar 650 nanometer ( Pengenalan Teori Warna, Eko Nugroho, 2008 ).

1.1.3 Teori Komunikasi

Komunikasi diambil dari kata communication, yang dalam bahasa latin “Communicatio”, dari kata communis yang berarti “sama ( Teori Komunikasi ,karya Stephen W. Littlejohn, Karen A. Foss ).

Lambang – lambang komunikasi yaitu : a. Bentuk / Gambar

b. Suara ( Bunyi atau Bahasa )

c. Mimik ( Memberikan suatu kesan ) d. Gerak Gerik ( Gesture )

1.1.4 Teori Kamera Framing

Framing dalam kamera menentukan ukuran dan jarak objek dalam sebuah frame, beberapa jenis frame adalah ( Memahami Film, karya Himawan Pratista ) :

a. ECU : Extreme Close Up ( detail shot )

b. VCU : Very Close Up, dari atas kepala hingga dagu c. CU : Close Up, dari kepala hingga pundak

d. MCU : Medium Close Up, menampilkan seluruh permukaan wajah hingga setengah badan

e. FLS : Full Lenght Shot, seluruh badan tampak dalam frame

1.1.5 Teori Dasar Pembuatan Cerita

Dalam membuat cerita, Cerita dibagi menjadi 2 kategori utama : a. Fakta

Yaitu cerita yang berhubungan dengan kejadian sebenarnya, atau biasanya diangkat dari kejadian sebenarnya.

(4)

b. Fiksi

Berhubungan dengan kejadian yang dibangun atau dibuat berdasarkan imajinasi.

Dalam membuat ide cerita hal – hal yang perlu dilakukan yaitu : - Mengumpulkan data : mengenal latar belakang kejadian - Menyusun : mengkategorikan situasi dan karakter - Menganalisis : memperhatikan kejadian dan karakter - Sintesis : membangun sequence dari blok informasi

1.1.6 Analisis SWOT

- Strength, animasi yang mengangkat cerita Banyuwangi ini sudah banyak peminatnya dan beraneka macam alur penceritaan yang disajikan oleh tiap orang.

- Weakness, karena terlalu banyak peminatnya cerita ini terkadang membuat orang cepat bosan, dan dengan waktu pembuatan yang singkat, animasi ini kurang memiliki detail yang baik.

- Opportunity, cerita ini diangkat sangat berbeda dengan cerita – cerita legenda yang sudah ada karena ditambahkan twist di awal dan akhir cerita.

- Threat, masyarakat lebih menyukai cerita komedi yang lebih ringan dan entertaint, karena mayoritas cerita legenda juga sudah sangat banyak.

1.2 Tinjauan Khusus 1.2.1 Survey

Untuk memperoleh gambaran situasi yang sesungguhnya, penulis melakukan survey lapangan dengan metode pengamatan. Lokasi yang dikunjungi selama perancangan visual film pendek ini adalah sebagai berikut : Sumur Sritanjung, Museum Blambangan, Sumur Surati, Taman Blambangan, Petilasan Prabu Tawang Alun Macan Putih, Pendopo Bupati Shabha.

1.2.1.1 Sumur Wangi

Sumur wangi yang dimaksud adalah sungai yang dahulu tempat Dewi Sritanjung menhempaskan tubuhnya untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah kepada suaminya. Karena banyaknya pemukiman penduduk,

(5)

membuat sungai tersebut kian menyempit, hingga akhirnya menjadi sebuah sumur yang dipercayai akan menimbulkan bau harum yang semerbak dari dalamnya.

Dalam legenda banyuwangi, terdapat 2 versi cerita yaitu Surati – Banterang dan Sritanjung – Sidapaksa. Legenda Surati – Banterang lebih terkenal di daerah Bali, sedangkan legenda Sritanjung – Sidapaksa lebih terkenal di daerah Jawa. Dengan adanya perbedaan versi cerita, maka sumur yang terdapat di Banyuwangi ini pun ada 2 yaitu Sumur Sritanjung dan Sumur Surati.

Sumur Sritanjung terdapat di dalam sebuah rumah milik warga Banyuwangi, sedangkan Sumur Surati terdapat di belakang Pendopo Bupati Shabha. Sumur Sritanjung dipercayai oleh warga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan dapat menimbulkan bau harum yang semerbak dari dalam nya saat terdapat berbagai peristiwa penting, seperti saat mantan presiden Indonesia Ir.Soekarno meninggal, sumur tersebut mengeluarkan buih dan berwarna putih seperti air taji serta berbau harum semerbak. Maka dari itu Sumur Sritanjung dirawat dengan baik oleh warga yang tinggal disana, diberi sesajen dan umbul – umbul. Lain halnya dengan Sumur Surati, sumur tersebut lebih terlihat mistis dan kurang terawat dan sedikit orang yang datang kesana untuk meminta air sumur tersebut.

Gambar 2.1 Sumur Surati Sumber Gambar : Data Pribadi

(6)

Gambar 2.2 Keadaan disekitar Sumur Surati Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.3 Sumur Sritanjung Sumber Gambar : Data Pribadi

(7)

1.2.1.2 Penduduk Banyuwangi

Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai "wong Blambangan" dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing merupakan sub suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010.

Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Osing) dan Bali.Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu.

Kata "Osing" dalam bahasa Osing sendiri bisa diartikan "tidak", sehingga ada anekdot yang mengkisahkan tentang keberadaan orang Osing itu sendiri, ketika orang asing bertanya kepada orang banyuwangi bahwa kalian orang Bali atau orang Jawa? mereka menjawab dengan kata "Osing" yang artinya tidak keduanya.

Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang

Gambar 2.4 Keadaan di sekitar Sumur Sritanjung Sumber Gambar : Data Pribadi

(8)

cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terlihat dari kesenian tradisionalGandrung yang mempunyai kemiripan ,dan mempunyai sejarah sendiri-sendiri.

Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Osing juga merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker (1923:1031), orangorang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927). sebagai kelompok budaya yang keberadaannya tidak ingin dicampuri budaya lain. Penilaian masyarakat luar terhadap orang Osing menunjukkan bahwa orang Osing dengan budayanya belum banyak dikenal dan selalu mengaitkan orang Osing dengan pengetahuan ilmu gaib yang sangat kuat. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Sejarah Perang Bayu ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah juga ingin menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan

(9)

kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan

(10)

Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Osing atau sisa-sisa wong blambangan.

1.2.2 Data Survey

Penulis mengunjungi berbagai tempat yang mendukung sebagai bahan film animasi pendek ini yang dapat mempresentasikan keadaan yang terdapat di dalam film animasi pendek Legenda Banyuwangi. Berikut adalah beberapa image yang dapat menunjukkan suasana serta alat – alat yang terdapat di Banyuwangi :

Gambar 2.5 Pendopo Bupati Shabha Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.6 Museum Blambangan Sumber Gambar : Data Pribadi

(11)

Gambar 2.7 Peninggalan Kerajaan Blambangan Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.8 Miniatur rumah adat di Banyuwangi Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.9 Keris Peninggalan Kerajaan Blambangan Sumber Gambar : Data Pribadi

(12)

Gambar 2.10 Taman Sritanjung Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.11 Taman Tirta Wangi Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.12 Taman Blambangan Sumber Gambar : Data Pribadi

(13)

Gambar 2.13 Petilasan Prabu Tawang Alun Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.14 Orang Osing dan topi khas Banyuwangi Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar 2.15 Baju Adat Banyuwangi Sumber Gambar : Data Pribadi

Gambar

Gambar 2.1 Sumur Surati  Sumber Gambar : Data Pribadi
Gambar 2.2 Keadaan disekitar Sumur Surati  Sumber Gambar : Data Pribadi
Gambar 2.4 Keadaan di sekitar Sumur Sritanjung  Sumber Gambar : Data Pribadi
Gambar 2.5 Pendopo Bupati Shabha  Sumber Gambar : Data Pribadi
+4

Referensi

Dokumen terkait

Daya tarik merupakan faktor utama yang menarik wisatawan mengadakan perjalanan mengunjungi suatu tempat, baik suatu tempat primer yang menjadi tujuan utamanya,

Animasi 2D, jenis animasi yang lebih dikenal dengan film kartun pembuatannya menggunakan teknik animasi hand draw atau animasi sel, penggambaran langsung pada

Film animasi pendek umumnya lebih menekankan pada alur cerita yang cepat dan cerita yang memiliki plot ringan, agar dalam durasi waktu yang singkat penonton

Radiografi adalah gambaran suatu bahan (objek) pada film photografis yang dihasilkan dengan melewatkan sinar-X melalui bahan tersebut.. Jadi dasar radiografi

Pengetahuan yang didapat perusahaan adalah tentang nilai pelanggan, yang dapat mendukung channel pelayanan interaksi dengan lebih baik dan mendukung berbagai keputusan

Film animasi pendek karya David Scharf yang bercerita tentang khayalan seorang anak perempuan yang ingin lari dari permasalahan dunia nyata dan bersembunyi di

Berbagai protes juga mulai dilakukan karyawan yang ingin pindah dari tempat perusahaannya yang sekarang ke tempat lain. Karyawan sudah merasa tempat bekerja yang sekarang

Taman menjadi environment utama di dalam animasi ini, dimana Livia dan Tobi bermain dan juga tempat Livia mengajari anjing nya berbagai macam trik dan tempat