337
KATA SAJA DALAM BAHASA INDONESIA
B.B.Dwijatmoko [email protected]
Universitas Sanata Dharma
1. PENDAHULUAN
Sebagai alat komunikasi, bahasa Indonesia mempunyai satuan-satuan yang lengkap untuk menyampakan ide-ide penuturnya sesuai dengan kebutuhannya. Satuan itu berupa satuan fonetis, gramatikal, leksikal, dan semantis. Bila kebutuhan meningkat atau berubah, satuan-satuan itupun juga berubah.
Kata saja merupakan satuan leksikal yang sering muncul dalam komunikasi sehari-hari. Dengan fitur fonetis, gramatikal, dan semantis yang dimilikinya, saja dipergunakan dalam situasi formal maupun informal dalam berbagai tindak tutur. Saja dipergunakan dalam upacara resmi, doa, ruang kuliah, perbincangan di rumah, dan pembicaraan di warung kopi.
Secara kategori, kata saja merupakan adverbia. Alwi dkk. (2003) memasukkan saja ke dalam kelompok adverbia dasar. Lebih jauh lagi, dari segi semantis Alwi dkk. (2003) menggolongkan saja sebagai adverbia limitatif.
Namun berbeda dengan kata tugas lain seperti preposisi dan interjeksi, adverbia saja menunjukkan arti yang berbeda-beda. Perbedaan arti itu nampak pada kalimat (1) – (4).
(1) Saya minum teh tanpa gula saja. (2) Saya buang saja buku itu.
(3) Masih kecil saja sudah bertingkah. (4) Kamu dapat datang kapan saja.
Dalam keempat kalimat itu, saja muncul berturut-turut dengan nomina gula, verba buang, adjektiva kecil, dan pronomina penanya kapan. Arti adverbia saja juga berbeda pada masing-masing kalimat. Pada kalimat (3), misalnya, terdapat arti pertentangan. Arti kecil dipertentangkan dengan lawan katanya.
Selain kategori kata, letak kata yang diterangkan oleh adverbia saja juga dapat menimbulkan arti kalimat yang berbeda meskipun kata lain yang menyusun kalimat itu sama. Kalimat (5) a – d berikut mempunyai arti yang berbeda-beda.
(5) a. Buku itu saja tidak dipahami (oleh) Hardi. b. Buku itu tidak saja dipahami (oleh) Hardi. c. Buku itu tidak dipahami saja oleh Hardi. d. Buku itu tidak dipahami (oleh) Hardi saja.
Pada kalimat (5a), saja menerangkan subjek kalimat buku itu, pada kalimat (5b) menerangkan kata tidak, pada (5c) menerangkan verba dipahami, dan pada kalimat (5d) menerangkan nomina
Hardi.
Sneddon (1996) menyebutkan dua arti adverbia saja yaitu penekanan (emphasis) dan tambahan (addition) seperti pada kalimat (6) dan (7).
(6) Ia tidak sakit, tetapi malas saja. (penekanan)
(7) Di daerah itu, bukan tanamannya saja yang kering-kering tetapi juga orangnya. (tambahan) Selain itu, Sneddon juga menyebutkan arti saja yang sama dengan any atau ever apabila saja muncul dengan pronomina tanya seperti pada kapan saja, apa saja, di mana saja, dan siapa saja.
Penelitian tentang arti dan penggunaan adverbia saja belum pernah dilakukan atau tidak mudah ditemukan. Oleh karenanya, penelitian tentang adverbia itu kiranya diperlukan. Dengan penelitian adverbia itu yang komprehensif, fitur leksikal dan gramatikal kata itu dapat diketahui dengan lebih baik sehingga, dengan memanfaatkan hasil penelitian itu, pemahaman dan penggunaan tentang adverbia itu dapat pula meningkat pula.
Penelitian tentang adverbia saja ini mempergunakan korpus yang disediakan oleh situs www.bahasaku.net. Korpus yang tersedia berasalah dari cerita-pendek dan novel bahasa Indonesia
yang tersedia di internet. Data pada korpus itu mencakup 564.659 kata dengan jumlah kalimat 44.185. Dari korpus itu dapat diperoleh kalimat-kalimat yang menggunakan adverbia saja.
2. DISTRIBUSI ADVERBIA SAJA
Kalimat yang mengandung adverbia saja dalam korpus sebanyak 1578 atau 3.57% dari jumlah seluruh kalimat dalam korpus (44.185). Angka 3.57% tidak dapat dikatakan rendah atau tinggi untuk suatu kata tugas karena perbandingan dengan kata lain tidak tersedia.
Adverbia saja muncul dengan kata nomina, verba, adjectiva, adverbia, pronomina penanya, pronomina penunjuk, numeralia, konjungsi, modal, dan pronomina. Frekuensi pemunculan adverbia
saja dengan kesepuluh kategori dapat disampaikan pada tabel 1 berikut.
Tabel 1: Frekuensi Pemunculan Adverbia Saja
NO KATEGORI JML % 1 Adverbia 497 31.6 2 Verba 288 18.3 3 Adjectiva 199 12.6 4 Nomina 162 10.3 5 Pronomina Penanya 131 8.33 6 Pronomina Penunjuk 123 7.82 7 Numeralia 58 3.68 8 Konjuntor 51 3.24 9 Modal 49 3.11 10 Pronomina 14 0.89 Jumlah 1572 100
Berikut contoh kalimat dengan empat kategori yang berbeda.
(8) Akhirnya, pada saat matahari baru saja mau terbenam, dia datang ke rumah kecil. (9) Entahlah… Sudah, tidur saja.
(10) Atau pasrah saja jika ada orang yang melamarku.
(11) Abang Sardi saja biasa beli dari Mama sekarung sepuluh ribu.
Adverbia saja merupakan keterangan adverbia baru pada kalimat (8), verba tidur pada kalimat (9), adjektiva pasrah pada kalimat (10), dan nomina Abang Sardi pada kalimat (11).
3. ARTI ADVERBIA SAJA
Dari analisis, ditemukan 4 (empat) arti adverbia saja yaitu penekanan, pertentangan, pemilihan, dan
keluasan. Dalam penekankan, saja dipergunakan untuk memberi tekanan arti kata yang diterangkan di
depannya seperti pada kalimat (12a) – (13a). (12) a. Aku diam saja. (SJ-422) (adjektiva) b. Aku diam.
(13) a. Semua biasa saja, kecuali barbeque itu. (SJ-685) (adjectiva) b. Semua biasa, kecuali barbeque itu.
Saja pada kedua kalimat (12a) dan (13a) itu tidak menambah arti baru kata diam dan biasa.
Oleh karenanya, bila kata saja dihilangkan seperti pada kalimat (12b) dan (13b), arti kalimat tidak berubah.
Arti pertentangan menunjukkan pertentangan antara arti kata yang diterangkan kata saja dengan kondisi atau tindakan lain. Keadaan lain itu dapat ditampilkan secara tersurat atau cukup tersirat. (14) Abang Sardi saja biasa beli dari Mama sekarung sepuluh ribu. (SJ-100)
339
(16) Jangankan kasih khotbah, kamu ngaji saja enggak benar, kata ibuku. (SJ-388)
Pada kalimat (14), Abang Sardi dipertentangkan dengan orang lain yang kondisinya berbeda dengannya, pada kalimat (15) hewan dipertentangkan dengan kita, dan pada kalimat (16) tindakan mengaji dipertentangkan dengan tindakan memberi khotbah.
Arti pemilihan menunjukkan pilihan atas objek, keadaan, atau tindakan yang diambil dari kemungkinan yang ada. Arti itu muncul seperti dalam kalimat (17) – (18).
(17) Ibu saja yang menjaga adik-adik. (SJ-688). (18) Kita pulang saja, ujarnya pelan. (SJ-669)
Kalimat (17) menunjukkan pilihan pada ibu untuk menjaga adik, dan kalimat (18) menunjukkan pilihan untuk pulang dari kemungkinan tindakan lain yang dapat diambil.
Arti keluasan menunjuk pada keluasan pilihan jenis, orang, atau objek. Arti keluasan muncul dengan pronomina penanya, seperti pada kalimat berikut.
(19) Aku akan bertanya, ke mana saja kamu selama ini? (SJ-66) (20) Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. (SJ-320).
Adverbia saja pada kalimat (19) menunjukkan pada keluasan tempat yang mungkin dikunjungi, dan pada kalimat (20) menunjuk pada keluasan tindakan yang mungkin terjadi di tempat tidur.
Arti adverbia saja pada kalimat (19) dan (20) sebenarnya sedikit berbeda. Saja pada kalimat (19) dapat saja dikatakan mempunyai arti penekanan, tetapi pemberian arti penekanan tidak menunjukkan keluasan. Selain itu, adverbia saja pada kalimat itu juga dapat dihilangkan dengan akibat arti keluasan hilang, sedangkan pada kalimat (20) adverbia itu tidak dapat dihilangkan. Pada kalimat (20) itu, bila saja dihilangkan, kalimat itu kehilangan artinya.
Untuk membedakan ketiga arti adverbia saja dapat digunakan tes (21). (21) a. Penekanan: Jika X, maka saja = 0 juga.
b. Pertentangan: (i) Kalau X = A, maka pasti Y = A juga. c. Pemilihan: Daripada Y, X saja.
d. Keluasan: Pronomina penanya + saja
Adverbia saja menunjukkan arti penekanan bila adverbia itu dapat dihilangkan dan arti kalimat tetap sama. Adverbia saja menunjukkan pertentangan (i) jika seseorang atau suatu objek mempunyai karakteristik atau mampu melakukan tindakan tertentu, maka orang lain atau objek lain pasti juga dapat melakukannya, atau (ii) jika orang atau objek (tidak) mempunyai karakteristik tertentu atau (tidak) melakukan tindakan tertentu, maka ia tentu juga (tidak) mempunyai suatu karakteristik lainnya atau (tidak) melakukan suatu tindakan lainnya. Arti pertentangan, misalnya, menunjuk pada arti yang muncul pada kalimat (14), yakni kalau abang Sardi saja biasa beli dari Mama sekarung sepuluh ribu, tentu orang lain pasti bisa atau malah lebih, dan pada kalimat (15), yakni kalau hewan saja bisa berpura-pura, manusia pasti juga bisa. Adverbia saja menunjukkan arti pemilihan bila akhirnya satu pilihan diambil dari kemungkinan pilihan lain yang tersedia. Akhirnya, arti keluasan hanya muncul dengan pronomina penanya.
Dengan menggunakan tes (21), diperoleh distribusi ketiga arti dari korpus yang dianalisis. Hasil analisis yang ditampilkan dalam tabel 2.
Tabel 2: Distribusi Arti Adverbia Saja
NO ARTI JML % CONTOH
1 Penekanan 473 70.94
-Serupa orang bodoh saja bicara pada angin. (SJ-37) -Dia hanya menyisakan rumah saja, yang telah lama
kami jual. (SJ-109)
-Jadi aku cuma bisa menebak-nebak saja. (SJ-284)
2 Pertentangan 31 4.67
-Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! (SJ-615)
-Bahkan untuk marah saja Dinaya tahu ia tidak memiliki tempat. (SJ-302)
-Baru lahir saja sudah minum laut, seloroh mereka. (SJ-728)
3 Pemilihan 90 18.37
-Sesekali aku capek, aku duduk saja atau aku beralih tempat berdiri. (SJ-479)
-Kapan harus merasa sedih untuk itu dan berapa lama juga tidak jelas, kenapa tidak tenang saja! (SJ-740)
-Bungkus saja rapat-rapat! (SJ-334)
4. Keluasan 40 6.02
-Jagai ratu, dan jangan biarkan siapa saja masuk. (SJ-2)
Aku akan bertanya, ke mana saja kamu selama ini? (SJ-66)
Kau dapat mencari apa saja yang kau inginkan sepanjang malam. (SJ-152)
Jumlah 634 100
Jumlah kalimat yang dianalisis hanya 648 dari seluruh jumlah kalimat yang mengandung adverbia saja. Hal itu dilakukan karena analisis kalimat dari masing-masing kategori dikerjakan secara siklus. Dalam setiap siklus diidentifikasi arti 10 kalimat. Sesuai dengan prinsip pengolahan data Harris (1963), apabila analisis untuk siklus berikutnya diyakini tidak menghasilkan temuan baru atau analisis telah mencapai titik jenuh, maka analisis dapat dihentikan. Analisis lebih lanjut, bila tetap dilakukan, tidak akan mengungkap arti baru dan, oleh karenanya, hanya membuang waktu saja. Titik jenuh dan distribusi arti adverbia saja dengan 10 kategori kata yang muncul dengan adverbia itu ditampilkanpada tabel 3.
Tabel 3: Distribusi Arti
NO KATEGORI ARTI TJ PNK PTT PLH KLSN Jml % Jml % Jml % Jml % 1 Adverbia 100 100 0 0 0 0 0 0 100 2 Konjungsi 30 100 0 0 0 0 0 0 30 3 Numeralia 30 100 0 0 0 0 0 0 30 4 Modal 40 100 0 0 0 0 0 0 40 5 Pronomina Penunjuk 28 93,3 0 0 2 6,66 0 0 30 6 Adjektiva 89 72,5 1 0,83 0 0 0 0 90 7 Nomina 77 64,1 19 15,8 24 20 0 0 120 8 Verba 79 56,4 9 6,42 52 37,1 0 0 140
341
9 Pronomina 0 0 2 14,2 12 85,7 0 0 14
10 Pronomina Penanya 0 0 0 0 0 0 40 100 40
Jumlah 473 31 90 40 634
Catatan: PNK: Penekanan, PTT: Pertentangan, PLH: Pemilihan, KLSN: Keluasan, TJ: Titik Jenuh Dari tabel terlihat bahwa adverbia saja muncul dengan 10 kategori kata. Bila muncul dengan adverbia lain, konjunktor, numeralia, dan modal, adverbia saja hanya menunjukkan arti penekanan. Dengan pronomina penanya, saja hanya menunjukkan arti keluasan. Namun, bila muncul dengan adjektiva, pronomina penunjuk, nomina, verba, dan pronomina, adverbia saja menunjukkan arti yang berbeda-beda. Kiranya banyak faktor menentukan distribusi arti adverbia saja itu.
Arti adverbia saja yang muncul dengan dengan adverbia lain, konjunktor, numeralia, modal, dan pronomina penanya kiranya tidak perlu dibahas secara panjang lebar. Adverbia itu hanya menunjukkan satu arti bila muncul dengan kelima kategori kata itu. Akan tetapi, arti advebia itu bila muncul dengan adjektiva, pronomina penunjuk, nomina, verba, dan pronomina perlu dibahas. Adverbia saja menunjukkan arti yang berbeda bila muncul dengan kelima kategori terakhir itu.
Dari analisis pemunculan adverbia saja ditemukan bahwa selain berkaitan dengan kategori kata arti saja yang bermacam-macam berkaitan dengan struktur kalimat. Arti saja yang muncul dengan nomina, misalnya, berkaitan dengan struktur kalimat. Arti pertentangan, pemilihan, dan penekanan dengan nomina muncul seperti kalimat (22) – (27).
(22) Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! (SJ-615)
(23) Hewan saja bisa bermain pura-pura, masa kita, menusia, tidak bisa? (SJ-988) (24) Ah, aku istirahat di kamar Jimmi saja, kata Markum gelagapan. (SJ-896) (25) Menginap di rumah saya saja, kata Pak Hermanu. (SJ-1167)
(26) Bagi kami lebih aman menjadi pengasong saja. (SJ-646)
(27) Hanya demi kesopanan saja biasanya aku menindas rasa bosan dalam hati untuk menuruti imbauan interpreter. (SJ-833)
Adverbia saja pada kalimat (22) dan (23) menunjukkan arti pertentangan. Adverbia itu muncul pada kalimat atau anak kalimat yang memang menunjukkan pertentangan. Pada kalimat (22) saja muncul pada predikat yang mengalami inversi dan menunjukkan pertentangan 'kalau ia tidak bisa membohongi anaknya sendiri, bagaimana ia bisa membohongi orang lain?' Pada kalimat (23) saja muncul dengan nomina yang berfungsi sebagai subjek dalam anak kalimat dan menunjukkan pertentangan 'jika hewan saja bisa berpura-pura, tentunya manusia juga bisa berpura-pura.' Penggunaan adverbia saja dalam anak kalimat yang berarti 'jika' atau 'kalau' merupakan satuan leksiko-gramatikal untu menunjukkan pertentangan.
Adverbia saja pada kalimat (24) dan (25) menunjukkan arti pemilihan. Kedua kalimat itu menunjukkan tindakan yang belum terlaksana. Kalimat (24) menunjukkan tindakan yang akan dilakukan orang pertama, dan kalimat (25) menunjukkan tindakan yang diharapkan dilakukan orang kedua, atau kedua kalimat itu menunjukkan modalitas optatif (Palmer 1984). Modalitas optatif dan adverbia saja dapat dikatakan merupakan satuan leksiko-gramatikal untuk menunjukkan arti pemilihan.
Adverbia saja yang muncul dengan nomina juga menunjukkan arti penekanan. Arti penekanan itu muncul dengan nomina yang berfungsi sebagai pelengkap verba atau pelengkap preposisi. Bentuk kalimat dapat merupakan kalimat pernyataan seperti pada kalimat (26) dan (27) pertanyaan.
4. KESIMPULAN
Adverbia saja dapat muncul dengan nomina, verba, adjectiva, adverbia, pronomina penanya, pronomina penunjuk, numeralia, konjungsi, modal, dan pronomina. Saja berfungsi sebagai pewatas kata yang diikutinya. Struktur frasa dengan adverbia saja secara umum mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonsia. Akan tetapi bila adverbia saja menjadi pewatas verba, pelanggaran
kaidah dapat terjadi. Saja dapat ditempat setelah verba dan memisahknya dengan objek atau pelengkapnya.
Dari penelitian tentang arti saja dengan berbagai kategori kata dan berbagai struktur kalimat, ditemukan bahwa arti penekanan merupakan arti utama adverbia itu. Arti pemilihan dan pertentangan juga menunjukkan arti penekanan, dan arti penekanan serta pemilihan muncul karena struktur kalimat yang berbeda. Demikian juga pada arti keluasan yang muncul dengan pronomina penanya. Arti keluasan merupakan penekanan dari ketaktentuan yang ditunjukkan pronomina penanya.
Dari pembahasan di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa (i) arti utama adverbia saja adalah penekanan dan arti lain merupakan arti leksiko-gramatikal dan (ii) adverbia saja dapat dihilangkan dengan arti kalimat yang tidak berbeda jauh. Arti kalimat dengan dan tanpa saja sesudah kata tertentu, kecuali pronomina penanya (yang memang tidak dapat muncul tanpa saja untuk fungsi yang sama), mungkin berbeda, tetapi apabila penghilangan itu diganti dengan tekanan kalimat (sentence stress) arti kedua kalimat sama.
REFERENSI
Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapliwa, Anton M. Moelinono. 2003. Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Palmer, Frank. 1984. Grammar (Edisi Kedua). Middlesex: Penguin Books.
Sneddon, James Neil. 1996. Indonesian: A Comprehensive Grammar. London dan New York: Routledge.