• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

7 LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Internet

Menurut Chaffey (2009: 109), Internet adalah jaringan fisik yang menghubungkan komputer ke penjuru dunia. Internet terdiri dari jaringan server yang terinfrastruktur dan communication links diantara jaringan server tersebut yang digunakan untuk memegang dan mengirim informasi diantara para client computer dan web servers.

Strauss dan Frost (2012: 28) menyebutkan bahwa ada tiga jenis hubungan internet, yaitu:

1. Public internet, yaitu jaringan global yang dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.

2. Intranet, yaitu sebuah jaringan yang berjalan secara internal dalam sebuah perusahaan tetapi menggunakan standar internet seperti HTML dan browser. Bisa dibilang intranet adalah sebuah space kecil yang dihubungkan secara LAN (local area network).

3. .Extranet, yaitu dua atau lebih jaringan eksklusif yang digabungkan dengan tujuan untuk berbagi informasi.

Dibawah ini adalah beberapa istilah yang di berubungan dengan internet. Diantaranya adalah :

2.1.1. Website

Menurut Chaffey (2009: 124) website merupakan teknik umum untuk menerbitkan informasi melalu internet. Pada umumnya website diakses melalui web browser yang akan menampilkan halaman web beserta dengan grafis serta HTML dan XML.

(2)

2.1.2. Browser

Menurut Chaffey (2009: 125), browser atau disebut sebagai web browser aplikasi yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, dan mensuplai informasi pada World Wide Web.

2.1.3. HTML

Menurut Chaffey (2009:687), HTML merupakan standarisasi yang paling sering digunakan dalam memproduksi static web content. HTML dapat ditulis menggunakan text editor biasa maupun menggunakan alat khusus.

2.2. Konsep Sistem

Menurut O’Brien (O'Brien & Marakas, 2014, : 25), Sistem adalah sekumpulan komponen yang saling terkait, dengan batasan yang didefinisikan dengan jelas, bekerja bersama untuk mencapai sekumpulan tujuan yang sama dengan menerima masukan (input) dan mengeluarkan sebuah hasil (output) dalam sebuah proses transformasi yang terorganisasi. Banyak contoh sistem dapat kita temukan dalam ilmu fisika, ilmu biologi, dalam teknologi modern, dan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita dapat membicarakan tentang sistem fisik antara matahari dan planet-planetnya, sistem biologis dalam tubuh manusia, sistem teknologi kilang minyak, sistem sosial ekonomi dalam sebuah organisasi bisnis. Pada dasarnya, sebuah sistem memiliki tiga fungsi dasar yaitu :

1. Input

Fungsi input mencakup penangkapan dan penyusunan elemen-elemen yang masuk ke sistem untuk di proses. Misalnya, bahan baku, energi, data, dan usaha manusia harus di amankan serta diorganisasi untuk pemrosesan.

(3)

2. Processing

Fungsi processing mencakup proses transformasi yang mengubah input menjadi output. Misalnya, proses manufaktur, proses pernafasan manusia, atau perhitungan matematika.

3. Output

Fungsi output mencakup memindahkan elemen-elemen yang telah dihasilkan oleh sebuah proses transformasi ke destinasi terakhirnya. Misalnya, produk jadi, layanan manusia, dan informasi manajemen harus dikirimkan ke pengguna manusianya.

Konsep sistem dapat menjadi lebih berguna dengan menambahkan dua elemen tambahan yaitu: feedback dan control. Sebuah sistem yang dilengkapi dengan fungsi feedback dan control sering disebut sebagai sebuah sistem cybernetic, yaitu sebuah sistem yang dapat memantau diri dan mengatur diri. (O'Brien & Marakas, 2014)

1. Feedback

Feedback adalah data tentang performa dari sistem. Misalnya, data tentang performa penjualan adalah feedback untuk seorang manajer penjualan. Data tentang kecepatan, ketinggian, sifat, dan arah sebuah pesawat adalah feedback bagi pilot maupun auto-pilot dari pesawat tersebut. mencakup penangkapan dan penyusunan elemen-elemen yang masuk ke sistem untuk di proses. Misalnya, bahan baku, energi, data, dan usaha manusia harus di amankan serta diorganisasi untuk pemrosesan.

2. Control

Fungsi control mencakup memantau dan mengevaluasi feedback untuk menentukan apakah sistem bergerak ke arah pencapaian tujuannya. Fungsi control kemudian melakukan pengaturan seperlunya kepada input dari sistem dan komponen pemrosesan untuk memastikan bahwa ia menghasilkan output yang sesuai. Misalnya, seorang manajer penjualan melaksanakan kontrol saat memindahkan seorang pramuniaga ke kawasan penjualan baru setelah mengevaluasi feedback terhadap performa penjualannya. Seorang pilot pesawat atau auto-pilot pesawat membuat penyesuaian konfigurasi pesawat setelah mengevaluasi feedback dari

(4)

peralatan untuk memastikan pesawat berada tepat pada tempat dimana pilot ingin pesawat itu berada.

2.3. Konsep Sistem Informasi

Menurut Rainer, Turban, Potter (2007: 6), Sistem Informasi adalah “Sistem yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisa, dan menyebarkan informasi untuk suatu tujuan tertentu.” Sistem Informasi berbasis komputer adalah suatu sistem informasi yang menggunakan teknologi komputer untuk melakukan tugas-tugasnya.

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2012: 4), Sistem Informasi adalah “Suatu kumpulan dari komponen yang saling berhubungan yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan output dari suatu informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas bisnis.”

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2012: 5), Systems analysis atau analisis sistem adalah “aktivitas yang memungkinkan seseorang untuk dapat mengerti dan menspesifikasikan apa yang dapat dicapai dari suatu sistem.”

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2012: 5), Systems design atau perancangan sistem adalah “aktivitas yang memungkinkan seseorang untuk mendefinisikan dan mendeskripsikan secara detail akan suatu sistem yang memenuhi kebutuhan.”

Dalam jurnal yang berjudul “Penelitian Bidang Sistem Informasi Manajemen Di Indonesia” yang ditulis oleh Rahmat M. Samik (2015) menyebutkan bahwa Sistem Informasi adalah “Sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi)

2.4. Pengertian Data, Informasi dan Knowledge

Menurut Rainer, Turban, Potter (2007: 5) “Data adalah sebuah deskripsi dasar akan sebuah benda, kejadian, aktivitas, dan transaksi yang terekam, terklasifikasikan dan tersimpan, namun tidak terorganisir untuk menyampaikan suatu maksud tertentu.” Data dapat berupa huruf, angka, suara, atau gambar. Contoh

(5)

dari data adalah misalnya nilai dari seorang murid atau jumlah jam kerja seorang karyawan pada minggu tertentu.

Menurut Rainer, Turban, Potter (2007: 5), “Informasi adalah data yang telah diolah maka mereka menjadi memiliki arti, dan nilai tertentu bagi yang menerimanya.”

Menurut Rainer, Turban, Potter (2007: 5), Knowledge atau pengetahuan adalah “Data dan atau informasi yang telah dikumpulkan secara terorganisir dan diproses untuk menyampaikan suatu pengertian, pengalaman, pembelajaran yang terakumulasi, dan dapat digunakan untuk memecahkan masalah tertentu.”

2.5. Pengertian Database

Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2012: 373) database adalah “kumpulan dari data yang tersimpan secara terintegrasi, di-manage dan dikontrol secara terpusat.”

Menurut Rainer, Turban dan Potter (2007: 6) Database adalah “kumpulan file yang berhubungan atau tabel yang berisi data.”

Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2012: 373) database terdiri dari dua bagian yang berhubungan; yaitu physical data store dan schema. Physical data store menampung data bit dan byte mentah yang dibuat dan digunakan oleh sistem informasi (misalnya nama, harga, saldo). Sedangkan schema menampung informasi deskriptif tentang data yang ditampung dalam physical data store, yang mencakup:

• Organisasi akan data individual yang tersimpan dalam tabel.

Asosiasi antara tabel atau class.

Detail akan organisasi physical data store, mencakup type, lengths, location, dan indexing dari data tersebut.

• Pengendalian akan akses dan konten, mencakup nilai data yang diperbolehkan untuk suatu data, ketergantungan nilai antar data, dan daftar pengguna yang diperbolehkan untuk melakukan read atau write terhadap suatu data tertentu.

(6)

2.6. Pengertian E-Commerce

Menurut Rainer, Turban dan Potter (2007: 177), E-commerce adalah “proses membeli, menjual, mentransfer, atau bertukar barang, ataupun informasi, melalui jaringan komputer, termasuk internet.”

2.6.1. Jenis-Jenis E-commerce

Menurut Rainer, Turban dan Potter (2007: 179), ada beberapa tipe dari E-Commerce:

Business to Consumers (B2C), yaitu tipe e-commerce dimana perusahaan menjual produk atau layanan yang ditawarkanya kepada pembeli.

Business to Business (B2B), yaitu tipe e-commerce dimana penjual dan pembelinya adalah perusahaan.

Consumers to Consumers (C2C), yaitu tipe e-commerce dimana konsumen yang menjual secara langsung ke konsumen. Contoh: ebay.com. www.800webmall.com. www.auctionanything.com.

Business to Employee (B2E), tipe e-commerce dimana perusahaan menggunakannya untuk menyediakan informasi dan layanan kepada karyawan-nya. Perusahaan mengizinkan karyawan untuk mengelola tunjangan dan mengambil kelas pelatihan secara elektronik. Selain itu, karyawan dapat membeli asuransi berdiskon, paket wisata, dan tiket event pada intranet perusahaan.

E-Government, yaitu pemerintah menggunakan teknologi internet, e-commerce, khususnya, untuk menyampaikan informasi tentang layanan publik kepada masyarakat, dan juga melayani transaksi dengan partner bisnis.

(7)

Mobile commerce (m-commerce), yaitu tipe e-commerce dimana transaksi dilakukan pada lingkungan yang wireless. Misalnya penggunaan telepon seluler untuk membeli barang melalui internet.

2.6.2. Dampak Positif Kemunculan Ecommerce

Menurut Dewi (2011) ada beberapa dampak positif yang muncul bersamaan dengan kemunculan E-Commerce. Dampak-dampak tersebut adalah :

• Memudahkan promosi produk dan jasa secara interaktif dan real time melalui saluran komunikasi langsung via internet.

• Menciptakan saluran distribusi baru yang bisa menjangkau lebih banyak pelanggan di hampir semua belahan dunia.

• Memberikan penghematan signifikan dalam hal biaya pengirima informasi dan produk terdigitalisasi (contoh perangkat lunak dan musik)

• Menekan waktu siklus dan tugas–tugas administratif (terutama untuk pemasaran internasional) mulai dari pemesanan hingga pengiriman produk.

• Layanan pelanggan yang lebih responsif dan memuaskan, karena pelanggan bisa mendapatkan informasi lebih rinci dan merespon cepat secara online.

• Memfasilitasi mass customization yang telah diterapkan pada sejumlah produk seperti kosmetik, mobil, rumah, komputer, kartu ucapan, dan berbagai macam produk lainnya.

• Memudahkan aplikasi one-to-one atau direct advertising yang lebih efektif dibandingkan mass advertising.

• Menghemat biaya dan waktu dalam menangani pemesanan, karena sistem pemesanan elektronik memungkinkan pemrosesan yang lebih cepat dan akurat.

• Menghadirkan pasar maya/virtual (markespace) sebagai komplemen pasa tradisional (marketplace).

(8)

Selain itu, Siti (2013) menyatakan bahwa E-commerce juga dapat menyebabkan adanya sebuah pengefisienan secara materil dan non-materil. Dimana secara materil, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan akan berkurang dikarenakan penggunaan internet secara penuh sebagai media promosi dan penawaran barang atau jasa.

2.7. Analytic Hierarchy Process

Chang-Shu (2010: 409-410) mengatakan bahwa AHP merupakan metode pendekatan keputusan sistematis yang dikembangkan oleh Saaty pada tahun 1971, dimana metode ini adalah suatu alat yang digunakan untuk memecahkan masalah yang rumit dan untuk membantu pembuat keputusan dalam memilih alternatif. Metode AHP meliputi perhitungan bobot prioritas fungsi, definisi faktor evaluasi dan atribut penting lainnya dari proses pilihan, dan perhitungan prioritas global berbagai atribut penilaian.

Tabel 2.1. Skala Dasar Angka Absolut

Tingkat Kepentingan Definisi

1 Equal importance 2 Weak or slight 3 Moderate importance 4 Moderate plus 5 Strong importance 6 Strong plus

7 Very strong or demonstrated

importance

8 Very, very strong

9 Extreme importance

2.8. Analisa SWOT

Menurut Chaffey (2009: 274), analisa SWOT adalah sebuah alat yang dapat membantu organisasi menganalisa sumber daya internal mereka dalam hal kekuatan dan kelemahan kemudian dicocokan dengan lingkungan eksternal dalam hal peluang dan ancaman yang ada.

(9)

Dalam jurnal yang berjudul “SWOT Analysis : The Annual Check-Up For a Business”, Simoneaux & Stroud (2011) berkata bahwa terdapat beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa SWOT, diantaranya:

1. Budaya Perusahaan 2. Tim Manajemen

3. Pengalaman/kemampuan karyawan 4. Efisiensi kerja

5. Kemampuan untuk tumbuh 6. Kualitas kerja

7. Layanan pelanggan

8. Biaya/keuntungan dari produk dan jasa 9. Jalur pemasaran

10. Kestabilan keuangan

2.9. Kerangka Tahap Perumusan Analisis

Berikut adalah 3 tahap yang akan dilakukan dalam perumusan analisis menurut David (David, 2011:176) :

1. Tahap Masukan 2. Tahap Pencocokan 3. Tahap Keputusan

Gambar 2.1. Kerangka Tahap Perumusan Analisis Sumber: (David, 2011: 177)

(10)

2.9.1. Tahap Masukan - Matriks EFE (External Factor Evaluation) Matriks EFE digunakan untuk menyimpulkan dan mengevaluasi keadaan ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan persaingan informasi. Matriks EFE dapat dikembangkan dalam 5 langkah (David, 2011: 80), yaitu:

1. Menentukan daftar kunci faktor eksternal berdasarkan prosess audit eksternal. Rangkum 15-20 faktor, termasuk peluang dan ancaman yang dapat mempengaruhi perusahaan dan industrinya. Buat daftar dari peluang terlebih dahulu dan kemudian ancaman. Berusalah sedetil mungkin, menggunakan persentase, rasio, dan angka yang komparatif.

2. Menetapkan nilai pada setiap faktor yang ada diantara 0.0 (tidak penting) sampai 1.0 (sangat penting). Nilai ini mengindikasikan seberapa penting faktor tersebut terhadap kesuksesan di industri perusahaan tersebut. Peluang biasanya mendapat nilai lebih besar dari ancaman, tetapi ancaman dapat mendapat nilai lebih besar jika sangat berbahaya. Nilai yang sesuai dapat ditentukan dengan membandingkan perusahaan kompetitor yang sukses atau dengan perusahaan kompetitor yang tidak sukses. Jumlah dari semua nilai yang diberikan harus sama dengan 1.0.

3. Menetapkan peringkat antara 1 sampai 4 pada setiap faktor eksternal untuk mengindikasikan seberapa efektif faktor – faktor tersebut terhadap strategi perusahaan sekarang, dimana 4 = Sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup baik, 1 = tidak baik.

4. Kalikan nilai setiap faktor dengan ratingnya untuk mendapatkan total nilai.

5. Jumlahkan semua nilai untuk setiap variabel untuk mendapatkan total nilai pada organisasi.

(11)

Matriks IFE merangkum dan mengevaluasi kekuatan serta kelemahan utama pada area fungsional bisnis, dan juga menyediakan dasar untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi hubungan antara setiap bagian di area tersebut. Matriks IFE dapat dikembangkan dalam 5 langkah (David, 2011: 122), yaitu:

1. Menentukan daftar kunci faktor internal berdasarkan prosess audit internal.. Buat daftar dari kekuatan terlebih dahulu dan kemudian kelemahan. Berusahalah sedetail mungkin, menggunakan persentase, rasio, dan angka yang komparatif. 2. Menetapkan nilai kepada setiap faktor yang ada diantara 0.0

(tidak penting) sampai 1.0 (sangat penting). Nilainya mengindikasikan seberapa penting faktor tersebut terhadap kesuksesan di industri perusahaan tersebut. Tanpa memperdulikan apakah faktor kunci tersebut merupakan kekuatan atau kelemahan internal, faktor yang dianggap memiliki pengaruh terbesar terhadap performa perusahaan harus diberikan nilai terbesar. Nilai yang sesuai dapat ditentukan dengan membandingkan perusahaan kompetitor yang sukses atau dengan perusahaan kompetitor yang tidak sukses. Jumlah dari semua nilai yang diberikan harus sama dengan 1.0.

3. Menetapkan peringkat antara 1 sampai 4 pada setiap faktor untuk mengindikasikan apakah faktor tersebut menunjukkan kekuatan utama = 4, kekuatan sekunder = 3, kelemahan sekunder =2, kelemahan utama = 1. Perhatikan bahwa kekuatan harus mendapat peringkat 3 atau 4, sedangkan kelemahan harus mendapat peringkat 1 atau 2.

4. Kalikan nilai setiap faktor dengan ratingnya untuk mendapatkan total nilai.

5. Jumlahkan semua nilai untuk setiap variabel untuk mendapatkan total nilai pada organisasi.

(12)

Matriks SWOT merupakan sebuah alat pencocokan yang membantu manajer dalam mengembangkan 4 (empat) tipe strategi (David, 2011: 178), yaitu:

1. Strategi SO (Strength – Opportunities)

Strategi dengan menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk mengambil peluang eksternal.

2. Strategi WO (Weakness – Opportunities)

Strategi dengan meningkatkan kelemahan internal dengan mengambil peluang eksternal.

3. Strategi ST (Strength – Threats)

Strategi dengan menggunakan kekuatan internal untuk menghindari atau mengurangi ancaman dari luar eksternal.

4. Strategi WT (Weakness – Opportunities)

Strategi untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.

Gambar 2.2. Matriks SWOT Sumber: http://ctb.ku.edu/en

Terdapat 8 (delapan) langkah yang perlu dilakukan dalam membangun matriks SWOT (David, 2011: hal. 179), yaitu:

(13)

1. Tentukan kesempatan perusahan yang berasal dari luar. 2. Tentukan ancaman perusahaan yang berasal dari luar. 3. Tentukan kelemahan perusahaan yang berasal dari dalam. 4. Tentukan kelemahan perusahaan yang berasal dari dalam. 5. Cocokan kekuatan dari dalam dengan kesempatan dari luar, dan

catat hasilnya pada kolom strategi SO.

6. Cocokan kelemahan dari dalam dengan kesempatan dari luar, dan catat hasilnya pada kolom strategi WO.

7. Cocokan kekuatan dari dalam dengan ancaman dari luar, dan catat hasilnya pada kolom strategi ST.

8. Cocokan kelemahan dari dalam dengan ancaman dari luar, dan catat hasilnya pada kolom strategi WT.

2.9.4. Tahap Pencocokan - Matriks IE

Matriks IE (Internal – Eksternal) dibuat berdasarkan pada dua dimensi: total nilai pada matriks IFE sebagai garis X, dan total nilai pada matriks EFE sebagai garis Y. Matriks IE dapat dibagi menjadi 3 bidang utama yang memiliki strategi-strategi berbeda. Pertama, bagian yang berada dalam kolom I, II, dan IV dapat digolongkan sebagai tumbuh (grow) dan berkembang (build). Strategi intensif dan integrative sangat sesuai untuk bidang ini. Kedua, bagian yang berada dalam kolom III, V, dan VII dapat dikelola dengan baik menggunakan strategi pegang (hold) dan pertahankan (maintain). Ketiga, bagian yang berada pada kolom VI, VIII, dan IX dapat digolongkan sebagai hasil (harvest) dan melepaskan / membuang (divest). Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang berada pada posisi kolom I pada matriks IE (David, 2011: 189).

(14)

Gambar 2.3. Matriks IE Sumber: (David, 2011, p. 189)

2.9.5. Tahap Pengambilan Keputusan - Matriks QSPM

QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) bertujuan untuk menentukan alternatif strategi terbaik yang dapat dipilih. QSPM menggunakan data analisis dari tahap masukan dan tahap pencocokan. QSPM membantu manajer untuk mengevaluasi strategi altenatif secara objektif.

Gambar 2.4. Quantitative Strategic Planning Matrix – QSPM Sumber: (David, 2011: 193)

(15)

Terdapat 6 (enam) langkah yang perlu dilakukan untuk membangun QSPM (David, 2011, hal. 193), yaitu:

1. Buat daftar kunci peluang/ancaman eksternal dan kekuatan/kelemahan internal dari perusahaan pada kolom sebelah kiri QSPM.

2. Tentukan nilai dari setiap faktor kunci eksternal dan internal. 3. Uji matriks dari tahap 2 (pencocokan) dan temukan strategi

alternatif yang perusahaan rasa perlu untuk diterapkan.

4. Tentukan nilai daya tarik (Attractiveness Scores – AS) dengan angka yang menyatakan daya tarik sementara untuk setiap strategi pada satu alternatif, dimana 4 = sangat menarik, 3 = cukup menarik, 2 = menarik, 1 = tidak menarik. Jika faktor kunci tidak berpengaruh terhadap pilihan yang dibuat, gunakan tanda garis (-). Jika tidak ada nilai pada AS, maka TAS juga harus dikosongkan. 5. Hitung total nilai daya tarik (Total Attractiveness Scores – TAS)

pada setiap baris dengan cara mengkalikan nilai dari langkah 2 dengan nilai daya tarik dari langkah 4.

6. Hitung hasil akhir dari TAS pada setiap strategi alternatif yang dilakukan. Nilai yang lebih besar menunjukkan strategi yang lebih menarik.

2.10. Object-Oriented Analysis and Design (OOAD)

Sebelum kita membahas analisa dan perancangan berorientasi objek (object-oriented analysis and design), kita harus mengetahui dua hal terlebih dahulu, analisa sistem dan perancangan sistem. Analisa sistem (system analysis) mencakup kegiatan-kegiatan yang memungkinkan seseorang untuk mengerti dan menentukan apa yang harus dicapai oleh sebuah sistem. Analisa sistem menjelaskan secara detail “apa” yang harus dilakukan oleh sistem untuk memenuhi sebuah kebutuhan yang dihadapi atau menyelesaikan masalah yang dihadapi. Perancangan sistem (system design) mencakup kegiatan-kegiatan yang memungkinkan seseorang untuk mendeskripsikan secara mendetail sistem yang menyelesaikan sebuah kebutuhan. Sedangkan

(16)

perancangan sistem menjelaskan “bagaimana” sebuah sistem harus bekerja. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 5)

Pendekatan berorientasi objek (object-oriented approach) adalah sebuah pendekatan pengembangan sistem yang berbasis pada pandangan bahwa sebuah sistem adalah serangkaian objek yang saling berinteraksi dan bekerja sama. Objek (dalam pendekatan berorientasi objek) adalah sesuatu benda dalam sistem informasi yang memberikan reaksi terhadap pesan-pesan dengan melakukan fungsi-fungsi atau metode-metode. Berdasarkan penjelasan itu, Satzinger kemudian mendefinisikan analisis berorientasi objek sebagai objek-objek yang melakukan pekerjaan dan menentukan apa interaksi pengguna (user interaction yang disebut use case) apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah tugas. Perancangan berorientasi objek mendefinisikan semua jenis objek tambahan yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dan perangkat-perangkat dalam sistem, ia menunjukkan bagaimana objek-objek berinteraksi untuk menyelesaikan tugas, dan ia memurnikan definisi setiap jenis objek supaya dapat diimplementasikan pada bahasa pemrograman atau lingkungan pengembangan tertentu. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 241)

2.10.1. Unified Modelling Language

Bahasa pemodelan terpadu (Unified Modelling Language / UML) adalah sekumpulan standar untuk gagasan model dan notasi yang didefinisikan oleh Object Management Group (OMG), sebuah organisasi untuk pengembangan sistem. Dengan menggunakan UML, analis dan pengguna akhir dapat menggambarkan dan mengerti berbagai jenis diagram spesifik yang digunakan dalam sebuah proyek pengembangan sistem. Sebelum adanya UML, tidak ada sebuah standar sehingga diagram dapat sangat membingungkan dan berbeda-beda antara perusahaan dengan perusahaan (maupun antara buku dengan buku lain). (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 46)

(17)

Sebuah activity diagram mendeskripsikan berbagai kegiatan pengguna (atau sistem), siapa yang melakukan setiap kegiatan, dan aliran berurutan dari kegiatan-kegiatan tersebut. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 57)

Simbol-simbol yang terdapat pada activity diagram dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.5. Simbol pada Activity Diagram Sumber: (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 58) 2.10.3. Use Case Diagram

Use Case Diagram adalah sebuah model UML yang digunakan untuk menunjukkan secara grafik use case - use case dan hubungannya kepada pengguna-pengguna. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 78) Sedangkan use case adalah sebuah aktivitas yang dilakukan oleh sistem, biasanya sebagai balasan terhadap sebuah permintaan yang dilakukan oleh pengguna. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 69)

Simbol-simbol yang terdapat pada use case diagram dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

(18)

Gambar 2.6. Simbol pada Use Case Diagram Sumber: (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 81)

2.10.4. Domain Model Class Diagram

Class adalah sebuah kategori atau klasifikasi dari serangkaian objek atau benda. Domain Class adalah class-class yang mendeskripsikan objek dalam sebuah wilayah permasalahan. Class Diagram adalah sebuah diagram yang terdiri dari class-class (contoh, serangkaian objek) dan hubungan antara class-class-class-class tersebut. Domain Model Class Diagram adalah sebuah class diagram yang hanya berisi class-class dari wilayah permasalahan yang dibahas. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 101)

(19)

Gambar 2.7. Contoh Domain Class Diagram Sumber: (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 103)

2.10.5. User Interface

Antarmuka pengguna (user interface) adalah input dan output yang lebih langsung melibatkan seorang pengguna sistem. Sebuah user interface bisa untuk pengguna internal maupun eksternal. Rancangannya sangat bervariasi bergantung pada berbagai faktor seperti tujuan antarmuka, karakteristik pengguna, dan karakteristik dari perangkat antarmuka tertentu. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012, hal. 189)

Gambar 2.8. Contoh User Interface

(20)

2.11. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.9. Kerangka Pemikiran Sumber : Olahan Penulis

(21)

Gambar

Tabel 2.1. Skala Dasar Angka Absolut
Gambar 2.1. Kerangka Tahap Perumusan Analisis  Sumber: (David, 2011: 177)
Gambar 2.2. Matriks SWOT  Sumber: http://ctb.ku.edu/en
Gambar 2.3. Matriks IE  Sumber: (David, 2011, p. 189)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe, Sistem informasi adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan dan

Jadi berdasarkan kutipan tersebut dapat diartikan bahwa sistem informasi merupakan suatu kumpulan dari kompenen yang saling berhubungan yang mengumpulkan, memproses,

Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2010:59) object adalah “sesuatu yang di dalam sistem komputer yang mampu menanggapi pesan”. Jadi object secara umum adalah suatu entitas

Berdasarkan Satzinger, Jackson& Burd (2009,p.11) ERP merupakan proses di mana organisasi berkomitmen untuk menggunakan sekumpulan package software yang

Sedangkan menurut pendapat Satzinger et al (2005: p7), sistem informasi adalah suatu koleksi atau sekumpulan dari komponen yang tidak berkaitan yang mengumpulkan,

Menurut Satzinger, Jackson, & Burd (2005, p. 185), domain class diagram merepresentasikan objek-objek yang terdapat pada sebuah sistem ke dalam sebuah kelas. Kelas tersebut

Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, System & Analysis Design In a Changing World, 2010) System Development Life Cycle (SDLC) merupakan seluruh proses menggunakan,

Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, sistem informasi adalah kombinasi dari komponen-komponen terkait, yang dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan,