BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Data
Menurut (Laudon & Laudon, 2009), data adalah aliran fakta-fakta yang belum diolah yang mewakili suatu peristiwa yang terjadi di lingkungan fisik atau organisasi sebelum mereka diolah kedalam bentuk lain yang dapat dipahami dan digunakan.
(Oz, 2009) berpendapat bahwa data berasal dari bahasa Latin “datum”, yang berarti merupakan suatu fakta yang mungkin berasal dari pernyataan, angka, atau gambar, dan merupakan material utama untuk menghasilkan suatu informasi.
Menurut (Balmelli, Brown, Cantor, & Mott, 2006) dalam jurnal Model-driven systems development, sistem merupakan suatu kumpulan sumber daya yang diorganisasikan untuk menyediakan layanan.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa data adalah suatu fakta yang belum diolah dan dapat berupa angka, pernyataan, atau gambar yang berpotensi menjadi sesuatu yang berguna jika telah diolah menjadi informasi.
2.2 Pengertian Informasi
Menurut (Oz, 2009), informasi merupakan suatu fakta atau kesimpulan yang mempunyai makna dalam suatu konteks tertentu. Untuk menjadi informasi, data harus diolah melalui proses tabulasi, analisis statistik, atau kegiatan lain yang dapat mengarah ke pemahaman yang lebih baik.
Menurut (Tuan & Huy, 2008) dalam jurnal Information-As-System in Information Systems: A Systems Thinking Perspective, informasi merupakan pusat dari objek-objek dalam beberapa ruang pada studi informasi yang saling terhubung mencukup sistem informasi.
Menurut pendapat (Stair & Reynolds, 2006), informasi adalah sekumpulan fakta-fakta yang diolah dengan berbagai macam cara
sehingga memiliki nilai tambah di balik nilai dari fakta individu tersebut.
Menurut pendapat (Rainer Jr. & Cegielski, 2007), data merupakan deskripsi dasar suatu benda, kejadian, aktivitas dan transaksi yang direkam, dikelompokkan, dan disimpan, tetapi belum disusun untuk mengungkapkan arti tertentu.
2.3 Pengertian Sistem
Mengacu pada pendapat (Oz, 2009), sistem merupakan susunan dari beberapa komponen yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan utama atau beberapa tujuan tertentu dengan cara menerima input dan memproses input tersebut sehingga menghasilkan suatu output.
Mengacu pada pendapat (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), sistem merupakan kumpulan dari komponen-komponen terpisah yang saling terkait satu sama lain, dan bekerja bersama-sama untuk mencapai satu atau lebih tujuan tertentu.
Dari beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suatu sistem terdiri dari beberapa komponen berbeda yang saling terintegrasi dan memiliki satu atau lebih tujuan yang sama.
2.4 Pengertian Sistem Informasi
(O'Brien, 2005) menyebutkan bahwa sistem informasi dapat berupa kombinasi dari orang, hardware, software, jaringan komunikasi, sumber daya data, kebijakan dan prosedur yang terorganisir, yang menyimpan, mengambil, mengubah dan menyebarkan informasi di dalam organisasi.
(Satzinger, Jackson, & Burd, 2010) menyebutkan bahwa sistem informasi merupakan kumpulan dari komponen-komponen berbeda yang saling berkaitan yang bekerja dengan mengumpulkan, memproses dan menyediakan output berupa informasi yang dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas bisnis.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah proses yang merupakan gabungan dari komponen-komponen sistem berbeda yang saling terkait dan memiliki
tujuan yang sama, yang menghasilkan output berupa informasi sebagai hasil atas proses yang dilakukan.
Output berupa informasi tersebut nantinya akan digunakan dalam membantu untuk pengambilan keputusan di dalam organisasi, dan juga membantu untuk menyelesaikan tugas-tugas bisnis baik yang umum maupun spesifik.
Gambar 2.1 A Framework That Outlines the Major Areas of Information Systems
Sumber: (O'Brien, 2005, hal. 7) 2.5 Pengertian Proses Bisnis
Menurut pendapat (Wagner & Monk, 2009), proses bisnis adalah sekumpulan kegiatan yang membutuhkan satu atau lebih jenis input dan akan menghasilkan suatu output tertentu seperti seperti laporan atau forecast yang memiliki nilai bagi pelanggan.
(Laudon & Laudon, 2009) menyatakan bahwa sebuah proses bisnis adalah serangkaian logika, terkait kegiatan yang menentukan bagaimana tugas-tugas bisnis tertentu harus dilakukan. Tingkat efesiensi sebuah perusahaan dapat dinilai dari seberapa baik proses bisnis yang dirancang dan dikoordinasikan di dalam perusahaan tersebut.
2.6 Teknik Pengumpulan Data
Menurut (Sanusi, 2011), teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan melakukan teknik observasi. (Sanusi, 2011) berpendapat bahwa observasi merupakan cara pengumpulan data melalui proses pencatatan perilaku subjek (orang), objek (benda) atau kejadian sistematik tanpa perlu adanya interaksi dan komunikasi dengan subjek dan objek yang diteliti.
Teknik observasi (Sanusi, 2011) dibagi menjadi 2 jenis, salah satunya adalah observasi non perilaku yang terdiri atas:
1) Observasi catatan (record)
Observasi terhadap catatan dilakukan dengan cara mengamati catatan-catatan (record) yang berkaitan dengan data yang ingin didapatkan.
2) Observasi kondisi fisik (physical condition)
Observasi terhadap kondisi fisik dilakukan dengan cara mengamati secara sistematis kondisi fisik dari subjek atau objek yang terkait dengan data yang ingin dikumpulkan.
3) Observasi proses fisik (physical process)
4) Observasi terhadap proses fisik dilakukan dengan cara mengamati sebuah proses dari suatu kejadian atau peristiwa yang terkait dengan data yang ingin dikumpulkan.
2.7 Activity Diagram
Activity diagram merupakan tipe dari dari workflow diagram yang menjelaskan aktivitas penggunan dan alur secara berurutan. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010)
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), simbol Activity Diagram meliputi:
1. Sinkronisasi bar
Merupakan simbol yang digunakan didalam activity diagram untuk mengontrol bagian-bagian yang terkoneksi
2. Swimlane
Kotak persegi panjang didalam activity diagram yang merepresentasikan aktivitas yang dilakukan oleh single agent.
Gambar 2.2 Activity Diagram
Sumber: (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, hal. 143)
2.8 Use Case
Use Case merupakan diagram yang menggambarkan berbagai peran user dan bagaimana cara user untuk berinteraksi dengan sistem tersebut. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010)
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), Analis mendefinisikan kasus penggunaan pada dua tingkat, tingkat ikhtisar dan tingkat rinci. Event table dan diagram use case memberikan gambaran dari semua kasus digunakan untuk sistem. Informasi rinci tentang setiap kasus penggunaan digambarkan dengan use case description, activity diagram, system sequence diagram atau kombinasi dari model-model tersebut.
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), di dalam use case diagram terdapat beberapa komponen didalamnya, sebagai berikut :
1. An Actor
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), actor adalah seseorang atau sesuatu yang benar-benar menyentuh atau berinteraksi dengan sistem. An actor selalu diluar automation boundary system tetapi dapat menjadi bagian dari bagian manual sistem. Sebaliknya, an actor dalam analisis use case adalah orang yang benar-benar berinteraksi dengan sistem komputer itu sendiri.
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), Simple stick figure digunakan untuk mewakili an actor.
2. Automation Boundary
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), the boundary adalah the automation boundary. Itu menandakan batas antara lingkungan, antara pelaku dan komponen internal dari sistem komputer.
3. Use case
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), use case dilambangkan dengan simbol oval dimana nama kasus digunakan didalamnya.
4. << Includes >> Relationship
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), hubungan antara use case dilambangkan dengan connecting line yang ditandai dengan tanda panah. Arah panah menunjukkan use case yang disertakan sebagai bagian dari use case utama. Kadang-kadang hubungan ini disebut sebagai <uses> relationship.
5. Connecting lines
Menurut (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010), connecting lines adalah penghubung yang berada diantara actor dan use case yang menandakan actor mana yang memanfaatkan use case.
Gambar 2.3 : Use Case
Sumber: (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, hal. 215)
2.9 Testing
Testing (pengujian) merupakan salah satu cara untuk menilai fungsionalitas daripada sebuah software. Testing merupakan sebuah proses, atau sekumpulan daripada proses, yang didesain untuk memastikan kode komputer bekerja sesuai dengan apa yang telah didesain untuk dilakukan, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan (Myers, Badgett, & Sandler, 2012). Testing juga dapat didefinisikan sebagai proses dari mengeksekusi sebuah program dengan tujuan menemukan error (Jovanovic, 2009: 30).
2.9.1 Behavioral (Black-Box) Test
Berfokus untuk mencari bugs pada operasi tingkat tinggi, seperti fitur fitur utama, profil operasional, dan skenario pelanggan. Testers dapat membuat black-box test berdasarkan apa yang sistem harus lakukan. (Black, 2009)
beberapa kategori, diantaranya :
1) Kesalahan performa suatu produk. 2) Kesalahan user interface,
3) Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal.
4) Kesalahan inisialisasi dan terminasi. 5) Fungsi-fungsi yang salah atau hilang. 2.9.2 Test phase
Ada beberapa test phase yang biasanya digunakan (Black, 2009), antara lain :
a) Unit Testing
Unit testing berfokus pada sebuah bagian individu dari kode.
b) Component or Subsystem Testing
Tester berfokus kepada bagian utama dari sebuah sistem selama component / subsystem testing.
c) Integration or Product Testing
Integration / product testing berfokus kepada hubungan dan interface antara sepasang komponen dan kelompok dari komponen di dalam sistem yang sedang diuji.
d) String Testing
String testing berfokus kepada permasalahan dalam penggunaan script tipikal dan operasional pelanggan. e) System Testing
System testing mencakup keseluruhan sistem, yang telah terintegrasi secara utuh.
f) Acceptance or User-Acceptance Testing
Testing untuk menunjukkan sejauh mana sistem telah memenuhi persyaratan yang diminta. Fase pengujian ini biasanya dilakukan dalam perjanjian dimana keberhasilan pengujian mewajibkan pembeli untuk menerima sistem yang ada. Pengujian ini melibatkan data-data yang dibutuhkan untuk go live, lingkungan sistem, dan user scenario.
g) Pilot Testing
Pilot testing mendemonstrasikan sistem dengan segala operasi yang diperlukan di dalam sebuah lingkungan yang nyata kepada sejumlah pelanggan yang nyata.
2.9.3 Test Object
Dalam melakukan pengujian dibutuhkan berbagai macam test objects, antara lain adalah :
a. Test Configurations and Environments
Test configurations and environments meliputi jenis dari hardware, software, jaringan yang digunakan pada saat menjalankan testing (Black, 2009).
b. Test Execution
Dalam rangka menjalankan testing, kita membutuhkan data yang harus dilacak, dianalisa, dan dilaporkan kepada tim, rekan, dan manager (Black, 2009).
c. Test Case
Test case menyediakan langkah-langkah spesifik yang akan dijalankan tester selama test execution (Black, 2009). d. Test Suite
Test suite menyediakan framework dari eksekusi test case, yang memungkinkan kombinasi antar test case untuk membuat suatu kondisi testing yang unik (Black, 2009). e. Test Cycle
Test cycle menggambarkan satu, beberapa, atau keseluruhan test suite yang telah direncanakan di dalam sebuah fase (Black, 2009).
2.9.4 Testing Process
Proses pengujian mendasar terdiri dari lima bagian yang mencakup semua aspek testing adalah sebagai berikut:
Gambar 2.4 Fundamental Test Process Sumber: (Hambling & Goethem, 2013, hal. 22) 1) Test planning and control
Test planning menjelaskan bagaimana membuat uji kriteria penyelesaian. Kriteria penyelesaian yang dimaksud adalah kapan proses testing akan berakhir. Control merupakan apa yang akan dilakukan jika tidak sesuai dengan rencana seperti yang dijabarkan pada test planning setelah itu dilakukan penyesuaian (Hambling & Goethem, 2013). 2) Test analysis and design
Test analysis and design berfokus pada detil dari apa yang akan diuji dan bagaimana menggabungkannya dengan test case. Test analysis and design merupakan jembatan yang menghubungkan antara planning dan test execution (Hambling & Goethem, 2013).
3) Test implementation and execution
Pelaksanaan pengujian dan kegiatan pelaksanaan melibatkan running test, dan ini akan mencakup di mana diperlukan persiapan sebelum pengujian (Hambling & Goethem, 2013).
Pada tahap ini akan dilakukan evaluasi terhadap hasil dari test execution, selanjutnya akan ditentukan apakah testing berakhir atau dilanjutkan (Hambling & Goethem, 2013). 5) Test closure activities
Test closure activities berkonsentrasi pada memastikan bahwa semuanya telah rapi, laporan tertulis, cacat ditutup, dan orang-orang cacat ditangguhkan untuk fase lain jelas terlihat untuk menjadi seperti itu (Hambling & Goethem, 2013).
2.10 UAT Process
UAT adalah tahap terakhir pengujian dalam pengembangan aplikasi perangkat lonak (software). Saat hasil pengujian memenuhi kriteria penerimaan, sistem perangkat lunak dapat dirilis untuk penggunaan operasional. (Leung & Wong, 1997)
Proses daripada UAT terbagi menjadi 7 (Hambling & Goethem, 2013), yaitu :
Gambar 2.5 The Process of UAT Sumber: (Hambling & Goethem, 2013, hal. 22)
i. Recruit/Train UAT Team: Memilih dan melatih anggota yang dibentuk menjadi suatu tim untuk menguji berdasarkan UAT. ii. Set Up plan : Melakukan perancangan proses bisnis
berdasarkan requirement user.
iii. Design Test : Merancang desain test berdasarkan requirement user.
iv. Implements Test : Pelaksanaan pengujian berdasarkan desain test.
v. Report / evaluate : Membuat report dan mengevaluasi hasil dari testing.
vi. Decision Making: Membuat keputusan berdasarkan hasil dari testing.
vii. Follow Up: Melakukan tindakan lebih lanjut setelah pengambilan keputusan seperti membuat user manual, end-user training, support ,dll.
2.11 Pengertian Bank
Pengertian Bank menurut UU No. 10 /1998 tentang Perbankan Pasal 1, yaitu : Bank adalah Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan / atau bentuk- bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Fungsi Bank adalah:
• Penerima Kredit
Bank menerima uang serta dana lainnya dari masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, atau giro (rekening koran). Bank melaksanakan operasi perkreditan secara ’pasif’ dengan menghimpun uang dari pihak ketiga.
• Pemberi Kredit
Bank akan melempar dana ke masyarakat yang membutuhkan, baik untuk pengembangan usaha atau konsumsi. Dana yang dilemparkan ke masyarakat diperoleh dari modal sendiri, dana (simpanan) masyarakat, maupun melalui penciptaan uang bank. Bank melaksanakan operasi perkreditan secara ’aktif’
• Pemberi Jasa
Bank melakukan pelayanan jasa secara luas, yang meliputi pelayanan dalam mekanisme pembayaran (transfer of funds), dalam fasilitas pembiayaan perdagangan luar negeri, penyimpanan barang-barang berharga, dan trust services (contoh: bank berfungsi sebagai pengelola dana yang dikumpulkan pemerintah atau perusahaan sehubungan dengan penerbitan dan penebusan saham-saham dan obligasi).
2.12 Definisi Ilmu Ekonomi
Menurut Alfred Marshall, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam aktivitas hidupnya sehari-hari. Sedangkan menurut Richard G. Lipsey & Paul N. Courant, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari penggunaan sumber daya–sumber daya yang terbatas untuk memuaskan keinginan manusia yang tak terbatas. Menurut Paul A. Samuelson & William D. Nordhaus, ilmu ekonomi adalah
studi tentang bagaimana masyarakat menggunakan sumber daya yang terbatas untuk memproduksi komoditas yang diperlukan dan mendistribusikannya kepada orang-orang yang berbeda.
2.13 Kurs
Kurs Adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya Contoh:
1 USD = Rp. 8.950,- artinya 1 USD berharga Rp. 8.950,-
2.14 Remmitance
Terdapat 2 jenis remmitance, yaitu :
• OUTWARD REMITTANCE
Jasa yang diberikan oleh bank untuk mengirim dana valas/rupiah ke bank koresponden luar negeri atau valas ke dalam negeri.
• INWARD REMITTANCE
Kiriman uang dalam mata uang valas dari bank koresponden dalam dan luar negeri maupun kiriman mata uang Rupiah dari bank koresponden luar negeri.
2.15 Valuta Asing (Foreign Exchange – Forex)
Pengertian Valuta Asing (valas) atau foreign exchange (forex) ataupun foreign currency adalah mata uang asing yang difungsikan sebagai alat pembayaran untuk membiayai transaksi ekonomi keuangan internasional dan juga mempunyai catatan kurs resmi pada bank sentral. (Hady, 1997)
2.16 Kerangka Pikir
Untuk mempermudah pemahaman tentang penulisan ini akan digambarkan sebuah kerangka pikir yang terdapat pada diagram di bawah ini.
Untuk tahap awal penulisan ini akan berfokus kepada penjelasan proses settlement transaksi forex, dan juga proses excess balance sebelum otomasi dan sesudah otomasi.
Kemudian setelah itu dibuat rencana pengujian sebelum diberikan kepada user, pengujian dilakukan dengan cara pembuatan test case dan penyusunan problem yang diuji.
Setelah melaksanakan proses pengujian akan dilakukan evaluasi mengenai hasil pengujian tersebut. Hasil pengujian akan menentukan apakah sistem pengembangan telah layak untuk digunakan oleh user atau tidak.
Yang terakhir adalah membuat kesimpulan dari pengujian yang dilakukan dan memberikan saran untuk kedepannya agar lebih baik lagi.
Gambar 2.6 The Process of UAT Menjelaskan proses settlement
transaksi forex ke rekening vostro dan proses excess balance
yang sedang berjalan
Menjelaskan secara detil tentang pengembangan aplikasi
Membuat perencanaan pengujian Menentukan test case Melakukan test execution
Mengevaluasi hasil testing
Membuat kesimpulan dan saran