• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUDUL PEMBELAJARAN DEDUKTIF PADA PEMBELAJARAN ALKANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JUDUL PEMBELAJARAN DEDUKTIF PADA PEMBELAJARAN ALKANA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH:

M.BUSRAH

PEMBELAJARAN ALKANA

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP)

SULAWESI SELATAN

(2)

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ... i I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Deskripsi Singkat ... 1

C. Manfaat Bahan Ajar bagi Peserta ... 1

D. Tujuan Pembelajaran ... 2

II.PENDEKATAN DEDUKTIF ... 3

A. Konsep Pendekatan deduktif ... 3

B. Prinsip deduktif... 5

III. PENDEKATAN DEDUKTIF DALAM PEMBELAJARAN ALKANA... 7

A. Prosedur pendekatan deduktif ... 7

B. Langkah-langkah Pelaksanaan deduktif ... 8

C. Pengembangan Pendekatan deduktif pada pembelajaran alkana 11

(3)

PEMBELAJARAN DEDUKTIF PADA

PEMBELAJARAN ALKANA

OLEH M. BUSRAH

(WIDYAISWARA LPMP SUL-SEL)

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Alkana merupakan bagian dari senyawa karbon yang mempelajari, tatanama, sifat-sifat, isomeri dan kegunaanya. Dalam pembelajaran alkana dibahas tatanama alkana dan sifat-sifatnya.

Ada dua cara pendekatan dalam pengajaran alkana yaitu pendekatan induktif dan pendekatan deduktif. Pendekatan pembelajaran alkana secara deduktif ini menjadi masalah bagi guru kimia, karena pada kurikulum 1984 pada umumnya menggunakan pendekatan induktif.

Dalam kurikulum 1994 memuat beberapa pokok bahasan yang menghendaki pendekatan deduktif, ini dimaksudkan agar siswa memiliki pengetahuan tentang alkana yang lengkap, baik secara induktif maupun secara deduktif sehingga siswa kita dapat bersaing dalam olimpiade Kimia Internasional ( Icho )

B. Deskripsi Singkat

Mata diklat pendekatan deduktif dalam pembelajaran alkana membahas, pengertian deduktif dan tatanama alkana dan sifat-sifat alkana dengan menggunakan pendekatan deduktif.

(4)

Bahan ajar pendekatan deduktif dalam pembelajaran alkana ini membekali peserta diklat fungsional Pendidikan Kimia tentang pendekatan deduktif terhadap alkana yang pada akhirnya diharapkan mampu membelajarkan siswatentang alkana dengan menggunakan pendekatan deduktif

D. Tujuan Pembelajaran.

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan memahami pendekatan deduktif dalam pembelajaran alkana.

E. Standar kompetensi Dasar

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu

1. menjelaskan pengertian berpikir deduktif dalam pembelajaran alkana 2. menjelaskan pengertian alkana

3. menjelaskan tatanama alkana

(5)

II. PENDEKATAN DEDUKTIF

A. Konsep Pendekatan Deduktif

Banyak usaha telah dijalankan selama ini untuk mendobrak tembok dalam pendekatan bidang studi. Deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari kenyataan yang bersifat umum menarik kesimpulan yang bersifat khusus.

1. Pengertian pendekatan Deduktif

Pendekatan deduktif adalah salah satu pendekatan berdasarkan aturan – aturan yang disepakati. Deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Keuntungan yang bersifat adalah dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor.

2. Ciri- ciri pendekatan deduktif

Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penelaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Contoh kita dapat membuat silogisme berikut: Alkana mempunyai rumus umum C n H 2n+2 ( Premis mayor ),

propana adalah bagian dari alkana ( premis minor ). Dengan demikian propana mempunyai rumus umum C n H 2n+2 ( kesimpulan ).

(6)

Kesimpulan yang diambil yakni propana mempunyai rumus umum

C n H 2n+2 adalah syah menurut menurut penelaran deduktif, sebab kesimpulan

ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya.

Kalau ditanyakan apakah kesimpulan itu benar, maka hal ini harus dikembalikan kepada kebenaran premis yang mendahuluinya. Jika kedua premis itu mendukungnya benar, maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditarik juga benar. Jadi kebenaran suatu kesimpulan bergantung dari tiga (3) hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan kebenaran pengambilan keputusan. Sekiranya salah satu dari tiga unsur tersebut adalah salah maka kesimpulannya sudah pasti akan salah. Kimia alkana adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif. Argementasi matematika seperti a sama dengan b dan b sama dengan c ,maka a sama denga c, merupakan suatu penalaran deduktif. Kesimpulan yang berupa pengetahuan baru bahwa a sama dengan c pada hakekatnya bukan pengetahuan baru dalam arti yang sebenarnya, melainkan sekedar kensekwensi dari dua pengetahuan yang diketahui sebelumnya yakni a sama dengan b dan b sama dengan c. Kebenaran baru yang didapatkan lewat penalaran deduktif dinamakan kebenaran tautologis.

Ternyata rumus molekul dari senyawa yang berurutan berbeda sebesar CH 2 . Selain itu perbandinagan jumalah atom C dengan atom H dalam alkana

sama dengan n : ( 2n + 2 ). Oleh karena itu alkana dapat dinyatakan dengan suatu rumus umum C n H 2n+2 .

(7)

Jadi tertib urutan dan aturan yang jelas.

(1). Status pernyataan jelas ( aturan IUPAC )

(2). Urutan benar

(3). Lengkap, dalam arti sesuai dengan tujuan

(4). Tidak ada kerancuan atau kontradiksi

B. Prinsip pendekatan deduktif 1. Prinsip pelaksanaan

Sebelum melaksanakan atau menerapkan proses mengajar perlu dipahami istilah-istilah yang berhubungan dengan alkana . Alkana formal adalah alkana yang bersifat deduktif aksiomatik.

Aksiomatik yang dimaksud berpangkal dari kebenaran yang disepakati.

1.1. Definisi ( batasan / kesepakatan )

Adalah pernyataan tentang sesuatu atau aturan main yang disepakati. Contoh : alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan karbon – karbon merupakan ikatan tunggal.

1.2. Unsur pangkal

Unsur pangkal adalah unsur yang sering digunakan tetapi tidak pernah dapat didefinisikan secara tepat. Contoh : bilangan

(8)

1.3. Sifat –sifat

Sifat adalah suatu pernyataan yang dibuktikan kebenarannya langsung dengan definisi. Contoh : alkana zat yang sukar bereaksi sehingga disebut juga parafin yang berarti afinitas kecil.

1.4. Dalil/ teorema

Dalil adalah pernyataan yang dibuktikan kebenarannya berdasarkan kebenaran-kebenaran terdahulu yang diterima. Kebenaran terdahulu yang telah diterima tersebut dapat berupa sifat-sifat atau teorema yang telah dibuktikan sebelumnya.

1.5. penerapan dalam kehidupan sehari-hari

Peranan dalam kehidupan sehari-hari yang dimaksud adalah penerapan semua kaidah atau unsur mulai dari urutan 1 sampai 5 tersebut di atas.

Pola berfikir formal berdasarkan ke lima urutan di atas disebut pola pikir deduktif.

2. Prinsip kemanfaatan

Pendekatan yang bersifat deduktif dalam pengajaran sesuai dengan tuntutan tujuan dan bahan pelajaran. Instruksi kegiatan PMB sangant dominan dalam menentukan keberhasilan pengajaran alkana.

(9)

III. PENDEKATAN DEDUKTIF DALAMPEMBELAJARAN ALKANA

Dalam pembelajaran alkana dengan pendekatan deduktif minimal ada dua aturan yang digunakan. Yaitu prosedur pendekatan deduktif dan langkah-langkah pelaksanaan deduktif.

A. Prosedur Pendekatan deduktif

Aturan dalam tatanama alkana adalah suatu kesepakatan tertentu yang dibuat oleh suatu organisasi misalnya IUPAC. Alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan karbon – karbon merupakan ikatan tunggal.

Rumus molekul dan nama dari alkana dengan jumlah atom karbon 1 sampai 10 yang bersifat deduktif artinya berdasarkan aturan yang disepakati. Rumus molekul dan nama alkana dengan jumlah atom karbon C 1 sampai dengan 10 sebagai berikut :

Jumlah atom C Rumus molekul Nama

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 CH4 C2H6 C3H8 C4H10 C5H12 C6H14 C7H16 C8H18 C9H20 C10H22 Metana Etana Propana Butana Pentana Heksana Heptana Oktana Nonana Dekana

(10)

Berdasarkan posisinya, atom karbon dalam alkana dibedakan atas atom karbon primer (1), sekunder (2), tersier (3) dan kuarterner (4). Atom karbon primer adalah yang terikat langsung pada satu atom karbon lainnya, atom karbon primer mengikat tiga atom hidrogen. Atom karbon sekunder adalah atom karbon yang terikat langsung pada dua atom karbon lainnya, atom karbon sekunder mengikat dua atom hidrogen. Atom karbon tersier adalah atom karbon yang terikat langsung pada tiga atom karbon lainnya, atom karbon tersier mengikat satu atom hidrogen. Atom karbon kuarterner adalah atom karbon yang terikat langsung pada empat atom karbon lainnya dan tidak mengikat atom hidrogen. Perhatikan contoh berikut:

CH3 -CH2 – CH – CH2 – C- (CH3 )3 Jumlah atom karbon

Primer sekunder tersier kuartner CH2 – CH3 5 3 1 1

B. Langkah-langkah pelaksanaan pendekatan deduktif 1. Subsitusi pengembangan alkana

Anggota paling sederhana dari alkana adalah metana, CH4. suku

berikutnya, yaitu etana, CH3-CH3, dapat dibentuk dari metana dengan mengganti

1 atom H metana itu dengan gugus-CH3. Selanjutnya, dengan cara yang sama,

propana dapat dibentuk dari etana.

H H H H H H H H

H - C - H H - C - C - H H - C - C - H H - C - C - C – H

(11)

Ada dua kemungkinan struktur yang diperoleh pada penggantian satu atom propana dangan gugus CH3. bergantung pada atom H yang mana yang

diganti, yang pinggir atau tengah. Dengan perkataan lain, ada dua jenis struktur untuk butana, C4H10, satu dengan rantai lurus dan satu lagi dengan rantai

bercabang. H H H H H – C – C – C – C – H H H H H H H H n- Butana (t.d = -0,50 C) H – C – C – C – H H H H H H H H – C – C – C – H H H H – C – H H Isobutana (t.d = -100 C)

Kedua jenis C4H10 tersebut ada pada kenyatng satu disebut normal

butana atau n-butana yang mempunyai titik didh (t.d)-0,5o C, sedangkan yang

(12)

eksis, masing-masing diberi nama n-pentana (t.d = 36o C), isopetana (t.d = 28o C), dan neopetana (t.d = 9o C). H H - C - H H H H H H H H H H H H H - C - C - C - C - C - H H - C - C - C - C - H H - C - C - C - H H H H H H H H H H H n- pentana H - C - H H – C – H H H isopentana neopentana

Senyawa yang mempunyai rumus molekul sama, tetapi berbeda struktur tau rumus bangunannya disebut isomer (Yunani : iso = sama, meros = bagian). Jadi, butana mempunyai isomer dan pentana mempunyai 3 isomer. Berapakah kemungkinan isomer heksana ?

Keisomeran pada alkana disebut koisomeran kerangka, karena perbedaan struktur terletak pada perbedaan kerangka atom karbonnya. Makin panjang rantai karbon makin banyak pula kemungkinan isomernya. Pertambahan jumlah isomer ini tidak ada aturannya. Selain itu, juga perlu disebutkan bahwa tidaklah bararti semua kemungkinan isomer itu eksis (ada pada kenyataannya). Sebagai

(13)

senyawa dengan rumus molekul C8H18. Demikian juga, ada 75 kemungkinan

isomer dekana, tetapi tidak berarti semua itu eksis.

2. Efektifitas pendekatan deduktif

Konsep pengajaran efektif mencakup beberapa aspek seperti :

a. Fasilitator memiliki control pengetahuan yang mendasari seni pengajaran b. Fasilitator yang efektif memiliki gudang pengalaman mengajar yang baik c. Fasilitator yang efektif memiliki sikap dan kemampuan yang dibutuhkan

untuk merefleksi pengajaran dan pemcahan masalah pembelajaran.

d. Fasilitator yang baik menilai proses belajar mengajar sebagai proses berkelanjutan.

3. Efektifitas proses

Keunggulan proses ini adalah mempunyai urutan atau prosedur tertentu sehingga kesalahan konsep sehingga kesalahan konsep sangat kecil kemungkinannya. Teknik pemberian instruksi sesuai dengan tujuan.

4. Efektifitas hasil

Hasil pembelajaran dengan cara deduktif dikembangkan sesuai dengan turunan alkana itu sendiri. Turunan alkana bertambah sesuai dengan isomernya.

C. Pengembangan pendekatan deduktif pada pembelajaran alkana 1. Tahapan pembelajaran alkana.

(14)

nama tersebut menjadi tidak cukup karena setiap isomer harus mendapat nama khusus. Kedua isomer butana dibedakan dengan awalan normal dan iso. Awalan normal digunakan untuk rantai lurus; awalan iso untuk isomer yang mempunyai satu cabang CH3 yang terikat pada atom karbon nomor dua. Ketiga isomer

pentana deibedakan dengan awlan normal, iso, dan neo. Bagaimanakah untuk dekana yang mempunyai 75 kemungkinan isomer ? Tentunya kita menyadari bahwa sangat sulit untuk membedakan isomer sebanyak itu hanya dengan awalan. Oleh karena itu, perhimpunan kimiawan internasional pada pertemuan di Jenewa tahun 1892 telah merumuskan antara penamaan senyawa kimia. Tatanama yang mereka rumuskan itu terkenal dengan Tatanama IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Nama yang diturunkan dengan aturan ini disebut nama sistematik atau nama IUPAC. Nama yangudah biasa digunakan sebelum tatanama IUPAC atau nama yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia perdagangan tetap digunakan dan disebut nama biasa atau nama tivial.

Aturan IUPAC untuk penamaan alkana bercabang adalah sebagai berikut :

1). Nama alkana bercabang terdiri dari dua bagian

Bagian pertama, di bagian depan, yaitu nama cabang ( cabang-cabang )

Bagian ke dua, di bagian belakang, yaitu nama rantai induk.

Contoh : CH3 – CH2 – CH – CH3 induk 2-Metilbutana

(15)

2). Rantai induk adalah rantai terpanjang dalam melekul. Bila terdapat dua atau lebih rantai terpanjang maka harus dipilih yang mempunyai cabang terbanyak. Induk diberi nama alkana bergantung pada panjang rantai.

Contoh :

CH3 – CH2 – CH2 – CH – CH3 2- metil pentana

CH3

3). Cabang diberi nama alkil, yaitu nama yang sesuai dengan mengganti akhiran

ana menjadi il. Rumus dan nama beberapa gugus alkil diberikan pada Tabel 9.4 berikut. Gugus alkil mempunyai rumus umum CnH2n+1 dan dinyatakan dengan

lambang R.

Tabel . Struktur dan nama dinyatakan beberapa gugus alkil.

Gugus Alkil Nama

CH3 – CH3 – CH2 – CH3 – CH2 – CH2 – CH3 H3C – CH – Metil Etil Propil Isopropil

4). Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Untuk itu rantai induk perlu dinomori. Penomoran dimulai dari salah atu ujung rantai induk sedemikian rupa sehingga posisi cabang mendapat nomor terkecil.

(16)

Contoh : CH3 - CH – CH2 - CH2 - CH2 - CH3

CH3

5). Jika terdapat 2 atau lebih cabang yang sama, hal ini dinyatakan dengan awalan di, tri, tetra, penta dan seterusnya.

Contoh : CH3 - CH – CH - CH2 - CH3

CH3 CH3

6). Cabang-cabang yang berbeda disusun sesuai aturan abjad dari nama cabang itu. Misalnya : Etil ditulis lebih dahulu daripada metil

Isopropil ditulis libih dahulu daripada metil.

Contoh : CH3

CH3 – CH2 – CH2 – C - CH - CH3 3 etil-2,3 dimetilheksana

C2H5 CH3

7). Jika penomoran ekivalen dari kedua ujung rantai induk, maka harus dipilih sehingga cabang yang harus ditulis terlebih dahulu mendapat nomor terkecil

Contoh : CH3 – CH2 – CH - CH – CH2 –CH3

CH3 C 2 H5

(17)

2. Menarik kesimpulan

Berdasarkan aturan tersebut diatas, penamaan alkana dapat dilakukan mengikuti tiga langkah sebagai berikut.

1. Memilih rantai induk, yaiu rantai terpanjang yang mempunyai cabang terbanyak.

2. Memberi penomoran dimulai dari salah satu ujung, sehingga cabang mendapat nomor terkecil.

3. Menulis nama dimulai dengan nama cabang yang disusun menurut abjad, kemudian diakhiri dengan nama rantai induk. Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Antara angka dengan angka dipisahkan dengan tanda koma ( ,), antara angka dengan huruf dipisahkan tanda jadda (-).

Rangkuman

1. Pendekatan deduktif adalah salah satu pendekatan yang berdasarkan aturan-aturan yang disepakati.

2. Prinsip pendekatan deduktif terdiri dari prinsip pelaksanaan yang mengikuti kesepakatan, unsur pangkal dan dalil.

3. prosedur pendekatan deduktif terdiri dari aturan yang umum yaitu menurut IUPAC serta langkah-langkah pengembangan dari alkana berdasarkan aturan tersebut.

(18)

4. Efektifitas pendekatan deduktif yaitu efektif proses karena mempunyai instruksi yang jelas. Demikian pula efektifitas pada hasil karena alkana dapat dikembangkan sesuai dengan isomernya.

5. Pendekatan deduktif pada pembelajaran alkana mempunyai tahapan untuk menarik kesimpulan. Kesimpulan tahapan tatanama alkana.

Daftar pustaka

. 1. DEPDIKBUD, Kimia Jilik I . Jakarta.

2. D. Mapati Syrifuddin, Kima untuk SMA, Penerbit Erlangga

3. Marpaung.P.M, Komunikasi dan presentasi Efektif dalam pengajaran; Lembaga. Administrasi negara R.I , 2003

4. Michael Purba, Kimia 2000; I B, Penerbit Erlangga

5. Nana Sutrisna, Kimia Untuk SMA ; Penerbit Grafindo Media Pratama. 6. Nasution.S; Kurikulum dan pengjaran. Penerbit . Erlangga

Gambar

Tabel . Struktur dan nama dinyatakan beberapa gugus alkil.

Referensi

Dokumen terkait

PT AACS 3 Mencatat Presensi Pulang 4 Revisi Presensi 1 Mengelola Data Pegawai 2 Mencatat Presensi Masuk 7 Penilaian kinerja 5 Ijin Pegawai 6 Cuti Pegawai 1 Mengelola Data

Informasi tentang pewarisan suatu karakter mem- punyai arti penting dalam menentukan strategi pe- muliaan tanaman agar program pemuliaan untuk per- baikan karakter yang

Serangga–serangga Fitofagus ( Herbivor ) merupakan serangga yang memakan jenis tanaman, serangga fitofagus jumlahnya melebihi serangga yang makan lainnya.

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Tahapan pelaksanaan pemungutan pajak kendaraan bermotor di kantor Dispenda Provinsi Sulawesi Selatan, 2)

Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa skor tertinggi untuk perhitungan tingkat keberhasilan adalah pada Kelurahan Kampungdalem yaitu skor 507, dilanjutkan

Klien mengatakan luka masih terasa nyeri (perih), terdapat nyeri tekan  pada luka, saat luka klien disentuh klien tampak meringis kesakitan, nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan indeks subjek yang terdapat pada tiap artikel journal education for library and information science tahun 2011

The WIVACE 2016 volume is divided into two more sections: “ Evolutionary Computation and Genetic Algorithms, ” which collects selected theoretical and com- putational