• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi Teknik Sputtering Untuk Deposisi Katalis Pada Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Aplikasi Teknik Sputtering Untuk Deposisi Katalis Pada Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Aplikasi Teknik Sputtering Untuk Deposisi Katalis Pada Polymer

Electrolyte Membrane Fuel Cell

M. Nadrul Jamal1, Widodo W. Purwanto1, Bono Pranoto2, Verina J. Wargadalam2

1

Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424. Telp: 021-7863516. Fax: 021-7863515

Email: [email protected]; [email protected]

2

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tenaga Kelistrikan dan Energi Baru Terbarukan Jl. Ciledug Raya Kav.109 Cipulir Kebayoran Lama, Jakarta 12230

Abstrak

Saat ini salah satu permasalahan yang dihadapi oleh dunia adalah krisis energi dimana bahan bakar fosil yang tidak terbarukan sebagai sumber energi utama, dan penggunaannya dapat mencemari lingkungan. Fuel cell diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini. Fuel cell adalah alat yang dapat mengkonversi energi dari bahan bakar menjadi energi listrik secara langsung, sehingga penggunaannya lebih bersih dan sedikit emisi. Agar fuel cell ini dapat dikomersialkan, maka biaya fabrikasinya harus serendah mungkin. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan biaya adalah dengan mengurangi kandungan atau loading katalis pada Membrane Electrode Assembly (MEA) fuel cell tanpa mengurangi kinerjanya.

Penelitian menganai penggunaan teknik sputtering untuk menggantikan teknik brush coating dalam melapiskan katalis pada MEA memberikan hasil yang baik pada PEMFC (Proton Exchange Membrane Fuel Cell). MEA dengan teknik sputtering menghasilkan power density maksimum 138,6 mW/cm2 dengan loading katalis 0,08 mg/cm2, sedangkan MEA konvensional dengan loading 0,2 mg/cm2 hanya menghasilkan 93,7 mW/cm2.

Kata kunci: Fuel Cell, PEMFC, MEA, Sputtering

1. Pendahuluan

Saat ini salah satu permasalahan yang dihadapi oleh dunia adalah energi. Energi utama selama ini adalah energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar yang tidak tebarukan, dan penggunaannya dapat mencemari lingkungan. Sel bahan bakar (fuel cell) diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini. Fuel cell adalah alat yang dapat mengkonversi energi dari bahan bakar menjadi energi listrik secara langsung, sehingga penggunaannya lebih bersih dan sedikit emisi (Lath, 2003).

Fuel cell menggunakan bahan bakar yang dapat diperbarui, seperti alkohol atau hidrogen. Dibandingkan

dengan mesin konvensional saat ini, secara teoritis fuel cell mempunyai efisiensi yang jauh lebih baik karena tidak adanya komponen bergerak di dalamnya. Fuel cell juga mempunyai tingkat emisi yang lebih rendah daripada mesin konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil (Thomas, 1999).

Saat ini, fuel cell yang mengalami kemajuan cukup signifikan adalah sel yang dapat beroperasi pada suhu rendah dan dapat digunakan pada peralatan sehari-hari, yaitu fuel cell yang bertipe PEM (Polymer Electrolyte

Membrane). Tipe ini dapat menggunakan hidrogen (PEMFC, Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell) atau

alkohol (DAFC, Direct Alcohol Fuel Cell) sebagai bahan bakarnya (Carrette, 2001).

Agar fuel cell ini dapat dikomersialkan, maka biaya fabrikasinya harus serendah mungkin. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan biaya adalah dengan mengurangi kandungan atau loading katalis pada Membrane Electrode Assembly (MEA) fuel cell tanpa mengurangi kinerjanya. Sputtering adalah teknik

coating katalis yang diharapkan dapat menurunkan loading hingga ke tingkat yang sangat rendah. Sebagai

perbandingan, loading katalis sebesar 0,014 mg/cm2 menggunakan teknik sputtering setara dengan kinerja MEA konvensional dengan loading 0,4 mg/cm2 (O’Hayre, 2002).

(2)

2. Metodologi

2.1 Rancangan Penelitian

Pada PEMFC akan dideposisikan katalis Pt pada anoda dan katoda. Deposisi divariasikan pada ketebalan deposisi, 40 dan 100 nm pada deposisi Ru, serta 20, 40, dan 60 nm pada deposisi Pt. Jenis substrat sputtering terdiri dari membran dan elektroda (Gas Diffusion Layer, GDL) dengan nafion, dan elektroda dengan teflon. MEA sputtering akan dibandingkan dengan MEA konvensional, yaitu MEA dengan coating katalis menggunakan brush coating.

Untuk tiap variasi, dilakukan fabrikasi dan pengujian MEA untuk fuel cell. Fabrikasi MEA sendiri terdiri dari beberapa tahap, yaitu pencucian membran, pembuatan tinta nafion karbon (Nafion Carbon Ink, NCI),

coating tinta katalis atau tinta nafion karbon, sputtering katalis, serta hot pressing. Sedangkan pengujian MEA

terdiri dari uji kebocoran serta pengambilan data kinerja fuel cell.

2.2 Pencucian Membran

Membran direndam berturut-turut dalam akuades pertama, H2O2 3%, H2SO4 3%, akuades kedua, dan

akuades ketiga. Masing-masing dilakukan selama 1 jam pada suhu 80°C.

2.3 Pembuatan NCI

Tinta katalis dibuat dengan mencampurkan semua bahan dalam beker glass 50 ml dengan urutan katalis-air-nafion3% (1:8:3,5) kemudian mengaduknya dengan magnetic stirrer selama 5 menit. NCI dibuat dengan mencampurkan Carbon Vulcan dengan larutan nafion.

2.4 Brush Coating NCI

Tinta dikuaskan secara manual menggunakan kuas kecil. Kontrol loading dilakukan dengan metode penambahan berat atau dengan menghabiskan sejumlah tertentu campuran bahan. Permukaan kuasan diratakan menggunakan doctor blade.

2.5 Sputtering Katalis

Sputtering dilakukan dengan 100 Watt DC atau RF/AC pada tekanan chamber 10 mTorr. Suhu target

dijaga pada 20°C. Target sputtering adalah logam Platinum untuk PEMFC dan Rutenium untuk DMFC.

2.6 Hot Pressing

Susunan elektroda anoda – membran – elektroda katoda ditekan pada 70 kg/cm2 dan pemanasan pada suhu 140ºC selama 5 menit.

2.7 Pengujian Fuel Cell

Sel dioperasikan pada suhu ruang. Hidrogen diumpankan ke anoda dan udara murni ke katoda, masing-masing dijaga pada 10 psig. Sel dijalankan selama 1-2 jam sebelum kinerjanya diukur.

3. Hasil dan Diskusi

3.1 Pengaruh Ketebalan Deposisi

Ketebalan deposisi katalis berbanding lurus dengan loading. Sehingga akan dibahas pengaruh penambahan loading katalis terhadap kinerja fuel cell.

Pada Gambar 1 ditunjukkan bahwa peningkatan ketebalan dari 20 nm menjadi 40 nm membuat kinerja

fuel cell meingkat. Hal ini karena jumlah katalis yang mengoksidasi H2 semakin banyak. Tetapi peningkatan

ketebalan atau loading tidak selalu diiringi oleh kinerja yang baik. Peningkatan deposisi dari 20 nm menjadi 40 nm membuat kinerja fuel cell meningkat, tetapi peningkatan menjadi 60 nm justru membuat kinerja turun. Plot

(3)

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 0 200 400 600

Current density (mA/cm2)

V o lt ag e ( V ) 20 nm 40 nm 60 nm

Gambar 1. Pengaruh ketebalan katalis terhadap kinerja PEMFC (Pranoto, 2008)

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 20 40 60 80 100 120 Ketebalan deposisi (nm) P o wer d en si ty m aks im u m (m W /cm 2)

Gambar 2. Pengaruh ketebalan katalis terhadap kinerja maksimum PEMFC

Dari plot pada Gambar 2 dapat diketahui bahwa loading optimal diperolah pada ketebalan katalis 40-50 nm. Fenomena ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada loading rendah, jumlah katalis yang diperlukan untuk mengoksidasi hidrogen masih belum cukup. Dengan menaikkan loading atau ketebalan maka kinerja akan meningkat karena makin banyak katalis yang mengoksidasi hidrogen. Tetapi dengan bertambahnya ketebalan, maka makin banyak jumlah katalis yang tidak aktif karena tertutupi oleh lapisan katalis di atasnya sehingga kinerja tidak akan naik lagi. Deposisi lebih lanjut menyebabkan struktur katalis menjadi semakin tidak aktif. Ini berhubungan dengan struktur pada level nano (Haug, 2002).

3.2 Pengaruh Jenis Substrat Sputtering

Gambar 3 menunjukkan bahwa sputtering ke membran mempunyai kinerja yang jauh lebih rendah daripada ke GDL.

Permukaan membran jauh lebih halus dari permukaan GDL, sehingga deposisi katalis pada membran menghasilkan struktur yang kompak dengan sedikit celah. Hal ini menyebabkan penyebaran katalis menjadi kurang. Sebaliknya pada sputtering katalis ke GDL ter-coating menghasilkan deposisi yang berbutir banyak karena kekasaran permukaan lapisan difusi gas.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 0 100 200 300 400 500 600

Current density (m A/cm 2)

V o lt ag e ( V ) on membrane; GDL+PTFE on electrode; GDL+PTFE on electrode; GDL+Nafion

Gambar 3. Pengaruh sustrat sputtering terhadap kinerja PEMFC (Pranoto, 2008)

Selain itu, dalam fabrikasi MEA yang berperan penting adalah nafion dan ionomernya yang nantinya membentuk jaringan ikat (crosslink) sehingga membran dengan GDL dapat menempel dengan baik. Kualitas MEA yang baik ditandai dengan terekatnya katalis dengan baik antara lapisan membran dan GDL. Pada

sputtering ke membran, polimer nafion membran yang diharapkan dapat bertemu dengan ionomer nafion untuk

(4)

membran dengan GDL menjadi terhalangi dan hasilnya kurang baik yang ditandai dengan kurang terekatnya GDL pada membran.

Dampak dari peristiwa ini adalah besarnya resistensi elektron dan ionik antara membran dengan GDL. Resistensi elektron yang tinggi menghambat transfer elektron dari lapisan katalis ke luar, sedangkan resistensi ionik menghambat transfer H+ yang terbentuk pada lapisan katalis ke membran. Resistensi ionik juga diperparah dengan adanya lapisan katalis pada membran.

Penambahan nafion pada GDL lebih baik daripada teflon. Hal ini karena nafion membantu terbentuknya ikatan antara GDL dengan membran, sehingga meningkatkan kualitas MEA.

3.3 Perbandingan dengan Metode Konvensional

Pada Gambar 4 ditunjukkan bahwa aplikasi teknik sputtering pada PEMFC memberikan kinerja yang lebih baik daripada teknik konvensional. Sputtering menghasilkan lapisan yang tipis dan seragam, sehingga memperkecil resistensi protonik maupun ionik pada MEA.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 0 100 200 300 400 500 600

Current density (m A/cm 2)

Vo lt ag e ( V ) 0 20 40 60 80 100 120 140 160 P o w e r d en s it y ( m W/ cm 2)

konvensional 0,2mg/cm2 (pow er) sputtering GDL 0,08mg/cm2 (pow er) konvensional 0,2mg/cm2 (volt) sputtering GDL 0,08mg/cm2 (volt)

Gambar 4. Pengaruh teknik sputtering pada kinerja PEMFC (Pranoto, 2008) 4. Kesimpulan

Pada fuel cell berbahan bakar hidrogen PEMFC, penggunaan sputtering untuk coating katalis Pt menghasilkan kinerja yang lebih tinggi daripada teknik coating konvensional. MEA dengan teknik sputtering menghasilkan power density maksimum 138,6 mW/cm2 dengan loading katalis 0,08 mg/cm2, sedangkan MEA konvensional dengan loading 0,2 mg/cm2 hanya menghasilkan power density maksimum 93,7 mW/cm2.

Pada teknik sputtering, ketebalan deposisi sangat mempengaruhi kinerja fuel cell karena berhubungan langsung dengan loading katalis. Pada ketebalan deposisi rendah, kenaikan loading katalis dapat meningkatkan kinerja fuel cell. Tetapi kenaikan kinerja fuel cell karena naiknya loading katalis tidak poporsional. Ada titik dimana penambahan loading katalis tidak lagi berpengaruh pada kinerja fuel cell, yaitu pada loading optimal. Penambahan loading di atas nilai optimal dapat menurunkan kinerja fuel cell karena pada lapisan katalis yang tebal katalis justru banyak yang tidak aktif. Pada PEMFC, deposisi katalis Pt dengan ketebalan 40-50 nm atau setara dengan loading 0,08-0,1 mg/cm2 memberikan kinerja yang paling tinggi.

Kinerja MEA dengan teknik sputtering dipengaruhi juga oleh substrat deposisi. Teknik sputtering untuk

coating katalis lebih efektif dilakukan ke GDL daripada ke membran. Hal ini berhubungan dengan sifat

permukaan membran yang sangat halus jika dibandingkan dengan GDL. Sputtering ke membran menyebabkan tingginya resistensi ionik dan elektronik pada MEA. Pada PEMFC, sputtering katalis ke GDL dengan nafion menghasilkan kinerja yang lebih tinggi daripada ke GDL dengan PTFE karena nafion mempunyai sifat yang lebih baik dalam menghantarkan proton.

Daftar Pustaka

1. Lath, A., (2003), “Energy Consumption and Sources of Renewable Energy. Department of Physics and

Astronomy Rutgers”. The State University of New Jersey.

2. Thomas, S., et.al. (1999), “Fuel Cell-Green Power”. Los Alamos National Laboratory.

3. Carrette, L., Friedrich, K. A., and Stimming, U., (2001), “Fuel Cells – Fundamentals and Applications”.

Fuel Cells, 1: 5-39. 2001.

4. O’Hayre, R., et.al. (2002), “A Sharp Peak in The Performance of Sputtered Platinum Fuel Cells at Ultra Low Platinum Loading”, Journal of Power Sources, 109: 483-493.

(5)

5. Pranoto, B., (2008). Laporan Triwulan Kegiatan “Perancangan dan Pembuatan Sel Tunam Berbahan Dasar Polimer (PEMFC)”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan (P3TKEBT). Jakarta.

6. Haug, At.T., et.al., (2002), “Increasing Proton Exchange Membrane Fuel Cell Catalyst Effectiveness Through Sputter Deposition”. Journal of The Electrochemical Society, 149(3): A280-A287.

Gambar

Gambar 1. Pengaruh ketebalan katalis terhadap kinerja PEMFC (Pranoto, 2008)
Gambar 4. Pengaruh teknik sputtering pada kinerja PEMFC (Pranoto, 2008)  4. Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulannya adalah tingkat pengetahuan gejala klinis malaria masyarakat Bayah tergolong kurang dan tidak berhubungan dengan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,

Tabel 4.9 Rekapitulasi hasil survey occupancy pada hari aktif Senin 10 April 2017, rute pulang Landungsari – Dinoyo – Arjosari

Pengelasan yang terjadi pada konstruksi dapat mengakibatkan permukan pelat menjadi tidak datar, hal ini diakibatkan terjadinya deformasi akibat pemanasan dari pengelasan. Untuk

SUAKA melibatkan para pakar dari berbagai lembaga yang memiliki pengetahuan dan       pengalaman yang memadai sebagai narasumber dalam kegiatan Upgrading Session sehingga      

Bila tombol copy ini berada pada tabulasi kegiatan, maka tombol ini berfungsi untuk meng-copy data pada tabel kegiatan dan tabel turunannya.. Demikian juga bila tombol copy ini

“Pengaruh Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan, dan Struktur Kepemilikan Terhadap Praktik Perataan Laba ( Income Smoothing ) Pada Perusahaan Manufaktur

Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dengan model pedagoge genre, saintifik, dan Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dengan model

Sensor infra merah kanan2 kanan1 dan kiri2 kiri1 berfungsi untuk mendeteksi burung walet dari dalam sarang yaitu apabila ada burung walet yang keluar maka