• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan DPRD Terhadap Kinerja Pemerintah Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengawasan DPRD Terhadap Kinerja Pemerintah Kota Medan"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai sebuah negara yang besar, Indonesia memiliki kondisi sosial masyarakat

yang heterogen sudah barang tentu harus ada rambu-rambu yang mampu mengatur

kehidupan berbangsa dan bernegara agar tidak terjadi gesekan antar kelompok dan

saling merugikan satu sama lain. Sebuah negara demokrasi harus di kelola dengan

peraturan dan perundang-undangan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan

nasional. Hal ini juga sering kita kenal dengan kebijakan publik, yaitu suatu tindakan

yang akan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi sesuatu

masalah.

Indonesia adalah negara kesatuan yang pemerintahannya tersusun dari dua

tingkat yaitu pemerintah pusat dan daerah. Penggunaan asas desentralisasi membawa

akibat terselengaranya pemerintahan otonom dan tugas pembantuan di daerah yang

bersifat otonom di daerah terdapat pilar pemerintah yang bersifat administratif.

Berdasarkan undang-undang dasar negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal

18 ayat (1) bahwa negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah

provinsi dan daerah provinsi terbagi atas kabupaten dan kota yang mempunyai

pemerintah daerah, yang diatur dalam undang-undang1. Kemudian dalam pasal 18

ayat (2) menegaskan bahwa: pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas

pembantuan.

1

(2)

Penyelenggaraan pemerintah di daerah, dilaksanakan dengan asas desentralisasi,

yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonomi

untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem negara Kesatuan

Republik Indonesia. Disamping itu, juga melaksanakan dekonsentralisasi yaitu

pelimpahan wewenang pemerintah oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil

pemerintah dan atau kepada instansi vertikal, dan serta melaksanakan tugas

pembantuan, yaitu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan atau desa dari

pemerintah provinsi kepada kabupaten atau kepada desa untuk melaksanakan tugas

tertentu.

Dalam penyelenggaraan otonomi daerah terdapat dua macam produk kebijakan

yang dihasilkan oleh suatu daerah yaitu: pertama, Peraturan daerah (Perda) yang

ditetapkan oleh kepala daerah yang setelah mendapatkan persetujuan bersama Dewan

perwakilan rakyat daerah (DPRD). Kedua, Peraturan kepala daerah merupakan

kewenangan kepala daerah yang dibuat dengan tujuan untuk melaksanakan peraturan

daerah dan DPRD yang memegang peranan penting dalam sistem demokrasi, yang

mana perwakilan tersebut erat kaitannya dengan otonomi daerah. Otonomi daerah

menempatkan DPRD sebagai institusi atau lembaga perwakilan rakyat yang paling

berperan dalam menentukan proses demokratisasi diberbagai daerah.

Pelaksanaan fungsi DPRD diwujudkan dengan berlakunya undang-undang

Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, yang menempatkan DPRD

sebagai bagian dari sistem pemerintahan daerah. Optimalisasi peran DPRD sebagai

penyalur aspirasi masyarakat dan fungsi legislasi didaerah diharapkan dapat

dilaksanakan lebih baik dengan ditetapkannya undang-undang Nomor 23 Tahun 2014

yang mengatur pelaksanaan fungsi DPRD. Keberadaan dan fungsinya lembaga

(3)

menyatakan diri sebagai ukuran dari kadar demokrasi yang dilaksanakan dalam

Negara tersebut.2

Undang-undang No. 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah menyebutkan

bahwa DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan

sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang merupakan salah satu unsur

pemerintah daerah disamping pemerintah daerah. Dengan demikian DPRD memiliki

fungsi utama yaitu: Sebagai fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi

pengawasan.3

Salah satu fungsi dari DPRD yaitu pengawasan, pengawasan terhadap jalannya

pemerintahan dan peraturan perundang-undangan yang dilakukan DPRD beberapa

tahun ini muncul kepermukaan dan diberitakan media massa, khususnya setelah era

reformasi bergulir. Selain itu pengawasan juga berguna untuk melakukan penindakan

dan penertiban secara umum yang diperlukan terhadap perbuatan korupsi,

penyalahgunaan kewenangan, keborosan dan pemborosan kekayaan negara.4

Berkaitan dengan pengawasan, di dalam pasal 217 undang-undang Nomor 23

Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah diatur pengawasan dilakukan dengan

pembinaan. Namun, Pengawasan yang dikehendaki lebih ditekankan pada

pengawasan efektif dengan tujuan untuk lebih memberikan kebebasan pada daerah

otonom dalam mengambil keputusan, serta memberikan peran pada DPRD untuk

mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap kebijakan pelaksanaan

otonomi daerah. Sementara itu, pembinaan lebih ditekankan upaya memfasilitasi

2Ni‟matul Huda

.2015.Otonomi Daerah Filosofi Sejarah dan Perkembangan dan Problematika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal 123

3

Ibid.

4

(4)

pemberdayaan daerah otonom berupa pemberian pedoman standar, arahan, pelatihan,

dan supervisi.5

Adapun fungsi pengawasan yang dilakukan DPRD adalah dengan melakukan

penilaian terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan daerah (Perda) yang di jalankan

oleh eksekutif. Fungsi pengawasan dioperasionalisasikan secara berbeda dengan

lembaga pengawasan fungsional. DPRD sebagai lembaga politik juga melakukan

pengawasan yang bersifat politis.

Tugas dan wewenang pengawasan yang dilakukan oleh DPRD berada dalam

dimensi politik. Hal ini berarti tugas pengawasan yang dilakukan DPRD lebih

menekankan pada segi hubungan antara penggunaan kekuasaan oleh eksekutif dengan

kondisi kehidupan rakyat didaerah. Misalnya apakah rakyat benar-benar telah

memperoleh pelayanan dan perlindungan sebagaimana mestinya, apakah peraturan

daerah yang diberlakukan pemerintah telah sesuai dengan kehendak rakyat, dan

sebagainya.

Jika ternyata dari hasil pengawasan diperoleh indikasi adanya kecendrungan

yang negatif atau merugikan kepentingan rakyat dan negara, DPRD berwewenang

menanyakan dan menyatakan keberatannya kepada pemerintah daerah (eksekutif).

DPRD boleh meminta kepala daerah untuk menunda atau mencabut kebijakannya

jika benar-benar merugikan rakyat banyak. Bahkan jika berkategori pelanggaran

hukum, DPRD sewaktu waktu dapat menindak lanjuti dengan meminta

pertanggungjawaban kepala daerah. Sedangkan pengawasan yang dilakukan

perangkat pengawas pusat maupun daerah seperti kota Medan didalam fungsionalnya

itu bersifat administrasi dalam memprosesnya.

5

(5)

Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara terbesar di Indonesia

setelah Jakarta dan Surabaya. Jumlah penduduk kota Medan menurut Badan Pusat

Statistik 2015 sebanyak 2.210.624 jiwa.6 Kota Medan juga merupakan salah satu

daerah yang otonom terus berkembang pesat menjadi kota metropolitan, dengan

kondisi sosial masyarakat yang multikultural dan heterogen, sudah barang tentu ada

suatu kebijakan atau peraturan daerah yang secara stematis untuk mengatur, agar

tidak terjadi gesekan antara individu maupun kelompok yang saling merugikan satu

sama lain. selain itu masyarakat kota Medan memiliki dinamika sosial, ekonomi dan

politik yang harus stabil dikendalikan oleh DPRD dan pemerintah kota Medan

melalui peraturan daerah yang bersifat netral.

DPRD kota Medan dalam fungsinya sama halnya dengan DPRD pada umumnya,

yaitu fungsinya menentukan anggaran belanja daerah, membuat peraturan daerah dan

melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kinerja pemerintah yang tidak sesuai

dengan undang-undang dan peraturan daerah yang telah disepakati. DPRD kota

Medan berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemerintah yang mempunyai

hubungan sangat erat, dan saling menunjang pelaksanaan pemerintah dalam

pembangunan daerah, salah satunya bersama-sama merancang peraturan daerah untuk

dijadikan suatu kebijakan.

Rancangan peraturan daerah (Ranperda) menurut undang-undang No. 12 tahun

2011 tentang pembentukan perundang-undangan, Bahwa ranperda dapat berasal dari

DPRD atau kepala daerah (Gubernur, bupati, atau walikota). Ranperda yang

disiapkan oleh kepala daerah disampaikan kepada DPRD. Sedangkan ranperda DPRD

disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada gubernur atau bupati/walikota untuk

disahkan menjadi perda.7

6

https://id.wikipedia.org/wiki/kota_Medan. (diakses tanggal 18 maret 2017, pukul 10: 02 WIB)

7

(6)

DPRD kota Medan priode 2009-2014 telah mengeluarkan 24 perda salah satunya

Perda No.3 tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok dikota Medan.8 Perda ini di

usulkan oleh pemerintah kota Medan pada tahun 2012 kepada DPRD kota Medan

berdasarkan undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, Peraturan Menteri

kesehatan Nomor 7 Tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok

dan Peraturan pemerintah (PP) nomor 109 tahun 2012 pasal 52 tentang pengamanan

bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, serta

perda KTR kota Medan berasaskan pada kepentingan kualitas kesehatan manusia,

kelestarian dan keberlanjutan ekologi, perlindungan hukum, kesimbangan antara hak

dan kewajiban, keterpaduan, keadilan, kepentingan bersama dan bertujuan agar

terciptanya ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat, memberikan perlindungan

kepada masyarakat dari dampak buruk rokok baik langsung maupun tidak langsung

dan menciptakan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.9

Kesehatan merupakan sesuatu yang amat mahal untuk didapat. Sering sekali

didengar bahwa kesehatan bukan segalanya, tetapi segalanya menjadi tidak berarti

tanpa kesehatan. Menjaga kesehatan organ-organ tubuh merupakan sesuatu yang

amat penting dalam memelihara tubuh untuk tetap sehat. Jantung merupakan salah

satu organ yang sangat vital dan mempunyai peran yang sangat penting dalam segi

kehidupan manusia. Jantung bertugas untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan

hal itu membutuhkan oksigen sebagai bahan bakarnya.

Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dibakar dan dihisap mengandung

nikotin, Tar dan zat adiktif yang menyebabkan adiksi atau ketergantungan yang

membahayakan bagi kesehatan manusia dengan ditandai perubahan perilaku,

kognitif, dan fenomena fisikologis, keinginan kuat untuk mengkonsumsi bahan

tersebut, kesulitan dalam mengendalikan penggunaanya, memberi prioritas pada

8

http://medan.bpk.go.id/?cat=47 (diakses pada 25 maret 2017 pukul 07.35 wib)

9

(7)

penggunaan bahan tersebut dari pada kegiatan lain, meningkatnya toleransi dan dapat

menyebabkan keadaan putus zat.10

Pengkonsumsian produk tembakau pada suatu sisi adalah hak pribadi

masing-masing warga negara. Namun disisi lain, ada ruang publik yang mesti dihormati. Hak

masyarakat untuk menghirup udara segar bebas dari rokok, harus mendapatkan

perhatian. Ketika penggunaan produk tembakau telah menggangu ketertiban dan

meresahkan orang lain, maka saat itu hak seseorang akan udara bersih yang sehat

mulai terabaikan. Walaupun sudah jelas dalam pasal 2 ayat 1 dan 2 PP No. 109 tahun

2012 di atur tentang penyelenggaaran pengamanan penggunaan produk tembakau

agar tidak membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan

lingkungan.

Mengingat efek bahaya bagi perokok sangatlah besar, mulai dari penyakit

pernapasan, kerugian ekonomi, dampak sosial sampai merenggut kematian. Menurut

data World Health Organization (WHO) tahun 2014, Epidemi tembakau telah

membunuh sekitar 6 juta orang pertahun, dan berdampak 600 ribu orang diantaranya

merupakan perokok pasif.11 Sedangkan menurut di Data Indonesia Global Adult

Tobacco Survei pada tahun 2016 merokok merenggut nyawa setidaknya 244.000

orang setiap tahunnya, 21% kematian laki-laki dan 8% kematian perempuan dewasa

setiap tahunnya. Dan dapat disimpulkan 50% dari orang yang terkena efek dari rokok

mengalami kematian.12 Untuk provinsi Sumatera Utara perokok yang merokok setiap

hari berjumlah 29,7. Sedangkan perokok saat ini di Sumatera Utara menurut riskesdas

35,7 persen. Oleh sebab itu, dengan adanya perda nomor 3 tahun 2014 tentang

kawasan tanpa rokok ini tentu menjadi payung hukum yang kuat untuk menindak

10

Ibid,. Bab 1, Tentang Ketentuan umum,.pasal 10 , 11, 12 dan 13.

11

http://www.aura.co.id/articles/Kesehatan/238-hasil-riset-who-rokok-bunuh-6-juta-orang-per-tahun (diakses minggu, 19 Maret 2017 pukul 13:09 wib).

12

(8)

siapa saja yang merokok di sembarangan tempat. Dan dengan adanya perda KTR ini

kesehatan masyarakat akan semakin lebih baik karena pencemaran lingkungan dan

udara akan semakin diminimalisasikan. Karena kita ketahui kesehatan masyarakat

merupakan jaminan penunjang keberlangsungan hidup masyarakat disuatu daerah

untuk upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia guna mendukung

pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Penerapan kawasan tanpa rokok di Indonesia masih jauh dari harapan. Sebagai

bukti menurut kementerian kesehatan pada bulan februari 2015 hanya 30% (166

kabupaten/kota) yang menerapkan kawasan tanpa rokok, dari 403 kabupaten dan 98

kota Indonesia, termasuk kota Medan.13 Padahal pembentukan peraturan kawasan

tanpa rokok oleh pemerintah daerah melalui undang-undang Republik Indonesia

Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pada bagian ketujuh belas pasal 115 telah

tujuh tahun diberlakukan, tetapi tidak menunjukan hasil yang signifikan.14

Pada tanggal 20 januari tahun 2014 ditetapkannya perda KTR dikota Medan

merupakan salah satu bukti komitmen pemerintah kota Medan untuk ikut

berkerjasama dengan dinas kesehatan kota medan dalam menciptakan ruang dan

lingkungan yang bersih dan sehat, memberikan perlindungan kepada masyarakat dari

dampak buruk rokok, baik langsung maupun tidak langsung, serta menciptakan

kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Sebab permasalahan rokok bukan hanya

tanggung jawab dinas kesehatan atau pemerintah saja, tetapi juga membutuhkan

partisipasi masyarakat untuk mengawasi perokok agar tidak merokok sembarangan

tempat.

13

kementerian Kesehatan republic Indonesia,. Pedoman pengembangan kawasan tanpa rokok. Promkes. Jakarta 2011.

14

(9)

Adapun tempat-tempat KTR yang telah ditentukan didalam perda kota Medan

Nomor 3 Tahun 2014 tersebut diantaranya adalah tempat fasilitas pelayanan

kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat beribadah,

angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum. Kawasan tanpa rokok adalah area

atau lingkungan yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan

memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau memproduksi tembakau.15

Kebijakan publik yang diciptakan untuk kegiatan mengatasi masalah yang timbul

ditengah masayarakat yaitu masalah rokok adalah Perda KTR. Masalah tentang rokok

menjadi sebuah dilema bagi pemerintah kota Medan, karena pemerintah berupaya

untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan membuat aturan yang

ketat tentang rokok, namun dilain pihak terdapat kelompok masyarakat yang

terancam keberlangsungan hidupnya apabila aturan tersebut tetap dijalankan, karena

ada ratusan ribu orang yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan rokok

tersebut, seperti para pekerja di PT HM Sampoerna dijalan Gatot Subroto No. 152

Medan dengan berbagai macam posisi pekerja, mulai dari SPG rokok sampai dengan

distributor rokok. Dalam hal ini seharusnya pemerintah selain mempunyai

tanggungjawab untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan pada masyarakat,

tetapi pemerintah juga harus memperhatikan lapangan pekerjaan para buruh rokok

tersebut.

Berdasarkan permasalahan itu, pemerintah kota Medan bersifat netral dalam

menyelesaikan permasalahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat kota Medan

dengan mengeluarkan Perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok.

Dengan adanya Perda tersebut tidak bermaksud untuk melarang orang merokok dan

menjual rokok, hanya saja untuk mengatur agar orang tidak merokok disembarangan

tempat. Seseorang dapat merokok asalkan ditempat yang disediakan oleh pimpinan

15

(10)

atau penanggungjawab kawasan tersebut. Pimpinan atau penanggungjawab dari KTR

tersebut adalah orang yang karena jabatannya, memimpin atau bertanggungjawab atas

kegitan dan/atau usaha dikawasan yang ditetapkan sebagai area KTR.16

Perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok diperkuat dengan

Peraturan Walikota Nomor 35 Tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok. Peraturan

Walikota (Perwal) yang merupakan peraturan yang dibuat atau yang ditetapkan oleh

walikota medan sebagai petunjuk teknis berjalannya Perda Nomor 3 Tahun 2014

tentang KTR tersebut. Yang mana dalam Perda ini sudah lengkap dengan aturan

maupun larangan dan sanksi yang melanggar Perda ini seharusnya dikenakan Pasal

44 ayat 1 yaitu kurungan paling lama 3 hari atau denda sebesar Rp. 50.000,-.

Sementara ayat 2 untuk pelaku yang mempromosikan, mengiklankan, menjual

dan/atau membeli rokok diarea kawasan tanpa rokok dikenakan pidana kurungan

paling lama 7 hari atau denda sebesar Rp. 5.000.000,- serta ayat 3 untuk pengelola,

pimpinan, penanggungjawab tempat yang menjadi KTR apabila membiarkan orang

merokok maka dikenakan pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda sebesar

Rp. 10.000.000,-.

Adapun tugas pokok dan fungsi pemerintah sebagai pengawasan KTR ini adalah

berkerja sama dengan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang sesuai

dengan bidangnya masing-masing. Seperti SKPD dibidang kesehatan melakukan

pengawasan terhadap KTR fasilitas pelayanan kesehatan, SKPD dibidang pendidikan

melakukan pengawasan ditempat proses belajar mengajar dan tempat anak-anak

bermain, SKPD dibidang sosial melakukan pengawasan KTR ditempat ibadah, SKPD

dibidang perhubungan melakukan pengawasan terhadap KTR angkutan umum,

SKPD dibidang olahraga melakukan pengawasan KTR fasilitas olahraga, SKPD

dibidang ketenagakerjaan melakukan pengawasan KTR ditempat kerja, SKPD

16

(11)

dibidang pariwisata dan bidang perhubungan melakukan pengawasan KTR ditempat

umum, SKPD dibidang ketertiban umum melakukan pengawasan seluruh KTR,

SKPD dibidang pertamanan melakukan pengawasan KTR di kawasan pertamanan

atau tempat lain yang menjadi tanggungjawabnya. Hasil dari pengawasan

sebagaimana ayat 1 dilaporkan oleh masing-masing instansi sesuai dengan tugas dan

fungsi masing-masing kepada walikota melalui sekretaris daerah paling lambat enam

bulan.17

Adapun bentuk kinerja pemerintah daerah kota Medan yang telah dilaksanaan

dengan melibatkan seluruh SKPD yang bersangkutan, seperti mengadakan sosialisasi

kepada insitusi, kepada masyarakat, seminar kepada mahasiswa dan promosi bahaya

merokok dan asap rokok serta area yang menjadi KTR dikota Medan. Setelah itu

penempelan stiker di tempat-tempat yang telah diatur KTR tersebut.18

Terciptanya suatu perda KTR di kota Medan, merupakan salah satu jawaban

solusi untuk masyarakat kota medan agar hidup sehat dari pencemaran lingkungan

dan berwawasan lingkungan. Karena kesehatan lingkungan atau pembangunan kota

Medan berwawasan lingkungan adalah tanggungjawab bersama. Sekecil apapun yang

dilakukan sangat berguna untuk pembangunan kota Medan yang berwawasan

lingkungan. Dengan demikian semua warga kota Medan akan tunduk pada Perda

KTR Nomor 3 Tahun 2014 yang merupakan kebijakan publik demi kebijakan

bersama.

Namun pada implementasinya perda KTR ini masih belum maksimal dilihat dari

fasilitas-fasilitas KTR yang tidak mendukung, contohnya saja di tempat belajar

mengajar kampus Universitas Sumatera Utara di 15 fakultas di bagian

administrasinya hampir seluruh ruangan KTR belum tersedia, ditambah lagi kurang

17

Ibid, Bab XI, Tentang Pembinaan dan Pengawasan, pasal 33 dan 34, hal 20.

18

(12)

maksimalnya bentuk-bentuk sosialisasi KTR dari pemerintah kota Medan kepada

masyarakat seperti, belum terlaksananya pemasangan spanduk, stiker/ larangan

merokok di tempat-tempat KTR, Hanya saja yang terlaksana dari bentuk sosialisasi

pemerintah kota Medan yaitu pemasangan brosur/larangan merokok ditempat-tempat

yang telah dinyatakan KTR.

Selain itu, kurang maksimalnya dalam implementasi perda No. 3 tahun 2014

tentang KTR yaitu kurangnya penegasan sanksi terhadap pelanggar, sehingga masih

banyak perokok yang melanggar sembarangan tempat contohnya saja didalam

angkutan umum, tempat belajar mengajar, rumah ibadah, tempat kerja dan tempat

umum, dan juga ditempat kerja anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara sendiri yang

ikut melanggar Perda KTR tersebut serta Pergub Sumatera Utara No. 35 tahun 2012

tentang KTR pada Perkatoran di lingkungan pemerintahan Provinsi Sumatara Utara

merokok saat membahas agenda penting ketika rapat. Yang jadi pertanyaanya

bagaimana implementasi dilingkungan masayarakat, Sedangkan dipemerintahannya

saja sebagai percontohan yang melanggar hal tersebut.19

Maka dalam hal ini saya tertarik untuk menganalisis pengawasan dan ketegasan

DPRD kota Medan sebagai lembaga mengawasi dan juga pelaksanaan Perda dari

keputusan pemerintah daerah. Meninjau setelah peraturan daerah itu telah dibuat dan

dilaksanakan sekitar 4 tahun yang lalu bersama DPRD dan pemerintah daerah kota

Medan, maka dalam hal ini DPRD kota Medan wajib mengawasi atas berlakunya

Perda tersebut. Karena pengawasan adalah merupakan salah satu fungsi DPRD dalam

bermitra dengan pemerintahan daerah untuk mengwujudkan Perda Nomor 3 tahun

2014 tentang kawasan tanpa rokok kota medan dapat berjalan dengan semestinya.

19

(13)

Bedasarkan uraian diatas saya tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan

judul Pengawasan DPRD terhadap kinerja pemerintah kota Medan dalam

implementasi Perda Nomor 3 tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok dikota

Medan.

B. Rumusan Masalah

Dari penelitian ini penulis mengambil garis besar rumusan masalahnya yaitu: “Bagaimana Pengawasan DPRD terhadap Kinerja Pemerintah Kota Medan (Studi Kasus: Implementasi Perda No 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok)?

C. Pembatasan Masalah

Batasan masalah berfungsi untuk membatasi penelitian ini agar tidak

melebar dan tetap fokus pada permasalahan yang akan diteliti. Adapun batasan

masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana implementasi Perda No. 3 tahun 2014 tentang kawasan tanpa

rokok di kantor DPRD kota Medan dan lingkungan Dinas Pendidikan kota

Medan.

2. Bagaimana bentuk-bentuk pengawasan DPRD kota medan terhadap kinerja

pemerintah kota Medan dalam imlementasi perda Nomor 3 tahun 2014

tentang pelaksanaan KTR.

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Untuk mendeskripsikan Implementasi dari Perda No. 3 tahun 2014 tentang

(14)

Pendidikan kota medan.

2. Untuk menganalisis bentuk-bentuk fungsi dari Pengawasan anggota DPRD

kota Medan terhadap kinerja pemerintah daerah kota Medan dalam Perda

nomor 3 tahun 2014 tentang KTR ini.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang berarti bagi peneliti,

pengembangan ilmu pengetahuan, maupun masyarakat di sekitarnya;

1. Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu menerapkan beberapa teori

yang digunakan penulis sebagai pisau analisis. Diantaranya teori trias

politika, teori perwakilan politik dan teori kebijakan publik.

2. Secara kelembagaan, penelitian ini dapat menambah perbendaharaan

referensi penelitian sosial tentang pengawasan DPRD terhadap kinerja

pemerintah kota Medan dalam melaksanakan implementasi Perda nomor 3

tahun 2014 tentang KTR bagi Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik, serta Universitas Sumatera Utara.

3. Bagi masyarakat umum, khususnya masayarakat kota Medan dalam

penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pengetahuan tentang kawasan

tanpa rokok kota medan dan berharap masyarakat terus meningkatkan

partisipasinya dalam melaksanakan implementasi Perda tentang kawasan

tanpa rokok.

F. Kerangka Teori

Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruksi, definisi untuk

menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan

hubungan antara konsep.20 Dalam hal ini penulis akan mengambil teori-teori yang

20

(15)

berkaitan dengan fungsi pengawasan DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah

serta partisipasi masyarakat dalam melaksanakan perda KTR kota Medan.

F.1. Teori Trias Politika

Teori Trias Politika merupakan bagian dari perkembangan dari teori

kekuasaan. Yang mana kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu

kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau sekelompok lain sesuai dari

keinginan dari perilaku.21 Adapun teori dari Trias Politika adalah sebuah ide bahwa

sebuah pemerintahan bedaulat harus dipisahkan antara dua atau lebih kesatuan yang

kuat yang bebas, mencegah satu orang atau kelompok mendapatkan kuasa yang

terlalu banyak. Pemisahan kekuasaan juga merupakan suatu perinsip normatif

bahwa kekuasaan-kekuasaan itu sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang

sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa.22

Trias politika yang kini banyak diterapkan adalah, pemisahan kekuasaan

kepada tiga lembaga berbeda: Legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Legislatif adalah

lembaga untuk membuat undang-undang, sedangkan eksekutif adalah lembaga yang

menjalankan undang-undang tersebut dan yudikatif adalah lembaga yang

mengawasi jalannya pemerintahan (eksekutif). Menginterpretasikan undang-undang

atau perda jika ada sengketa, serta menjatuhkan sanksi bagi lembaga ataupun

perseorangan manapun yang melanggar undang-undang atau perda tersebut.23

Menurut Jhon Locke (1632-17755) Trias Politika adalah adanya pemisahan

kekuasaan (separation of powers) menjadi tiga bagian yang memiliki tugas

masing-masing. Kekuasaan lembaga tersebut secara langsung maupun tidak langsung harus

berdiri sendiri yaitu lembaga eksekutif (eksekutif Power), lembaga legislatif

(legislative power) dan federatif (federatif power).

21

Miriam Budiardjo,. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,. hal. 10.

22

Ibid,.hal. 282.

23

(16)

Pemisahan kekuasaan (separation of powers) yang dikemukakan oleh Jhon

Locke tersebut memiliki 3 fungsi lembaga yaitu lembaga legislatif, lembaga

eksekutif dan lembaga federative yaitu:24

1. Lembaga legislatif yang berfungsi sebagai pembuat undang-undang maupun

peraturan fundamental negara yang menjadi dasar pelaksanaan kinerja

lembaga eksekutif. Bidang legislatif tidak dapat dialihkan kepada siapa pun

atau lembaga apapun, sebab kekuasaan legislative adalah manifestasi

pendelegasian rakyat kepada negara. Legislatif sebagai lembaga perwakilan

rakyat diyakini sebagai lembaga yang memiliki wewenang untuk menyusun

aturan-aturan pemerintah sebagai wujud kedaulatan tertinggi berada ditangan

rakyat. Undang-undang yang telah dibuat selanjutnya akan menjadi landasan

lembaga eksekutif dalam melakukan tugasnya sebagai lembaga yang

menjalankan roda pemerintahan. Oleh sebab itu, lembaga legislative harus

benar-benar melakukan tugasnya dengan mengatasnamakan rakyat dan

diharapkan tidak ikut serta menekan kepentingan rakyat. Dimana lembaga

legislatif dapat dikatakan sebagai penghubung antara kepentingan rakyat

dengan penguasa.

2. Lembaga eksekutif yang berfungsi sebagai pelaksana undang-undang yang

telah dibentuk oleh lembaga legislatif. Dalam pemahaman Jhon Locke

sebagai pelaksana undang-undang dan peraturan yang dibentuk lembaga

legislatif, eksekutif secara langsung memiliki fungsi sebagai badan

peradilan. Locke memandang mengadili itu sebagai uitvoering, termasuk

pelaksana undang-undang. Lembaga eksekutif dapat dikatakan sebagai

lembaga yang sangat sentral posisinya dalam roda pemerintahan. Meskipun

lembaga ini diawasi oleh lembaga lain. Lembaga eksekutif masih memiliki

wewenang (authority) untuk memutuskan langkah apa yang akan dilakukan

24

(17)

dalam menjalankan pemerintahan.

3. Lembaga federatif, yakni kekuasaan yang terkait dengan masalah hubungan

luar negeri, menentukan perang, perdamaian, liga dan aliansi antar Negara

serta transaksi dengan Negara asing. Locke tidak memasukan kekuasaan

federatif kedalam kekuasaan eksekutif dengan alasan praktis. Untuk menjaga

agar kekuasaan dapat berjalan dengan baik maka masing-masing lembaga

atau institusi negara harus dipegang oleh orang-orang yang berbeda.

Kekuasaan federative ini dirasakan penting karena dipengaruhi oleh keadaan

politik antar bangsa yang sanagat rawan akan peperangan. Panasnya

hubungan antar negara mempengaruhi pemikiran Jhon Lucke untuk

membagi kekuasaan federative sebagai sutu lembaga yang fokus mengurus

hubungan negara dengan negara lain baik itu dalam hal kerjasama maupun

perperangan.

Sedangkan menurut Charles Louis de Secondant Baron de Montesquieu

(1689-1755) yang merupakan tokoh yang mengembangkan teori Trias Politika yang

sebelumnya dikemuakan oleh Jhon Locke. Meskipun tetap membagi kekuasaan

menjadi tiga lembaga yang terpisah, Jhon dan Montesquieu tetap memiliki

pandangan yang berbeda. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Jhon Locke,

pemisahan kekuasaan versi Montesquieu yakni kekuasaan legislatif dan eksekutif

tetap ada. Namun yang menjadi pembeda yakni penggantian kekuasaan federatif

menjadi yudikatif. Montesquieu sendiri mengemukakan bahwa pembagian

kekuasaan bukan berarti pemisahan secara mutlak. Sebab masih adanya saling

pengaruh antar badan-badan yang mengendalikan masing-masing pilar suprastruktur

politik tersebut.25

25

(18)

Menurut pandangan Montesquieu ada 3 konsep dan fungsi Trias Politica

diantaranya yaitu lembaga legislatif, lembaga eksekutif dan lembaga yudikatif

sebagai berikut:26

1. Lembaga legislatif merupakan lembaga yang menjadi lembaga keterlibatan

rakyat dalam suatu Negara. Untuk menjaga kekuasaan yang sifatnya absolut

dan hanya menguntungkan pihak penguasa, dibutuhkan suatu lembaga yang

berperan sebagai mediator rakyat dengan penguasa. Sebagai komunikator

serta aggregator aspirasi dari kepentingan orang banyak. Lembaga legislatif

ini diyakini akan menjadi sebagai dewan rakyat yang masing-masing

memiliki veto atas lainya. Mereka bukanlah wakil-wakil rakyat sebagaimana

yang kita pahami pada masa sekarang ini.

2. Lembaga eksekutif, merupakan lembaga yang menjalankan roda

pemerintahan. Kekuasaan eksekutif yakni kekuasaan yang bertugas untuk

melaksanakan undang-undang dan peraturan perundang lainya. Dalam

menyelengarakan administrasi negara. Sebagaimana konsep pembagian

kekuasaan (distribution of powers). Lembaga ini sewaktu-waktu harus

berkerjasama dengan lembaga lainya terutama bagi lembaga legislative.

Meskipun sebagai lembaga pelaksana undang-undang, eksekutif masih diberi

porsi untuk memberikan rancangan terhadap lembaga eksekutif. Dalam hal

ini, kebijakan luar negeri berada dalam wewenang kekuasaan eksekutif.

3. Lembaga yudikatif, merupakan lembaga yang memegang wewenang sebagai

fungsi peradilan atas pelanggaran undang-undang. Terutama adanya lembaga

yudikatif yang ditekankan oleh Montisquieu, karena disinilah letaknya

kemerdekan individu dan hak asasi manusia dijamin dan dipertaruhakan.

Kekuasaan yudikatif penting dan harus dipisahkan dari dua kekuasaan lainya

juga untuk menghindar adanya kesewenangan-wewenang pengguasa.

26

(19)

Kekuasaan ini lah yang selanjutnya akan bertugas untuk menegakkan hukum

yang telah disepakati.

F.2. Teori Perwakilan Politik

Teori perwakilan politik pertama kali dicetuskan oleh Alfred de Gazio,

mengemukakan bahwa perwakilan politik merupakan hubungan antara dua pihak

yaitu wakil dengan yang terwakili dimana wakil memiliki kewenangan untuk

melakukan berbagai tindakan yang berkenaan dengan kesepakatan yang dibuatnya.27

Dengan demikian keterwakilan politik hanya akan terwujud apabila kepentingan

anggota masyarakat telah diwakili sepenuhnya oleh wakil-wakil mereka didalam

lembaga perlemen.

Dalam perkembangannya rakyat menyelenggarakan kedaulatan yang

dimilikinya melalui wakilnya. Para wakil rakyat inilah yang kemudian mewakili

mayoritas rakyat. Oleh karenanya masyarakat memberikan mandat kepada para

wakilnya untuk mewakili kepentingannya dalam proses politik dan pemerintahan.28

Secara teoritis setiap wakil tentunya melihat dirinya merupakan wakil yang

mewakili warga negara yang berada dalam batas lingkup perwakilannya. Namun

dalam implementasinya hal ini sangatlah sulit dilakukan hal ini dikarenakan tidaklah

mungkin seorang wakil memberikan seluruh perhatian terhadap rakyat yang

diwakilinya. Oleh karenanya para wakil biasanya melakukan pemusatan perhatian

yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yang memberikan perhatian kepada

kelompok, memperhatikan partai, dan memperhatikan wilayah dan daerah yang

diwakili.29 Melalui teori ini kemudian akan memudahkan para wakil untuk

memperjuangkan kepentingan keseluruhan rakyat yang diwakilinya.

Dengan berkembangnya gagasan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat.

27

Arbi Sanit,. 1985. Perwakilan Politik Indonesia. Jakarta: CV Rajawali. hal 1.

28

Ibid,. hal 37.

29

(20)

Maka badan legislatif menjadi badan yang berhak menyelenggarakan kedaulatan itu

dengan jalan menentukan kebijakan umum dan menuangkannya dalam

undang-undang. Sehingga badan eksekutif hanya berperan sebagai penyelenggara dari

kebijakan umum.

Salah satu pemikir yang merupakan pelopor dari gagasan kedaulatan rakyat

Rousseau menolak adanya badan perwakilan, tetapi mencita-citakan bentuk

demokrasi langsung, dimana rakyat secara langsung merundingkan serta

memutuskan soal-soal kenegaraan dan politik. Akan tetapi apa yang dinantikan oleh

Rousseau sangatlah tidak praktis, dan hanya diprtahankan dalam bentuk khusus dan

terbatas seperti pada referendum. Boleh dikatakan bahwa dalam Negara modern

dewasa ini rakyat menyelenggarakan kedaulatan yang dimilikinya melalui

wakil-wakil yang dipilihnya secara berkala.

Dalam negara demokratis sekarang ini selain menjalankan kedaulatan rakyat

lembaga legislatif juga dituntut untuk bisa melakukan fungsi pengawasan terhadap

pemerintah atau eksekutif. Jika melihat fungsi legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Dalam menjelaskan hal ini maka akan memunculkan dua opsi terhadap hubungan

antara legislatif dan eksekutif saling memperlemah atau saling searah atau

mendukung sesuai dengan fungsi legislatif. Sebagaimana yang diatur dalam

undang-undang setiap negara, lembaga legislatif memiliki peranan dan fungsi.Namun

diantara fungsi badan legislatif yang paling penting yaitu membentuk

undang-undang (legislasi), mengontrol eksekutif, dan menentukan aggaran.30

Sedangakan menurut Alfred de Gazio perwakilan politik memiliki tiga

fungsi yaitu Fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan sebagai

berikut:31

30

Ibid,. hal, 49.

31

(21)

a. Fungsi Legislasi

Fungsi ini merupakan wewenang badan legislatif untuk merumuskan

perundang-undangan. Dimana dalam membahasa badan legislatif sering membentuk

panitia-panitia untuk memanggil menteri atau pejabat lain untuk dimintai keterangan

seperlunya. Namun dewasa ini wewenang ini kemudian mulai bergeser kebadan

eksekutif. Mayoritas undang-undang dirumuskan dan dibahas oleh eksekutif dan

selanjutnya legislatif hanya tinggal mengesahkan dan mengamandemennya. Hal ini

dilatarbelakangi oleh banyaknya Negara modern sekarang yang memberikan

tanggungjawab kesejahteraan rakyat kepada eksekutif karena itu harus mengatur

semua aspek kehidupan masyarakat.

b. Fungsi Anggaran

Fungsi aggaran menentukan pemasukan dan pengeluaran uang Negara yang

pada hakikatnya adalah uang rakyat. Baik pembelanjaan Negara yang diambil dari

pajak sebagai sumbernya, maupun yang berasal dari bantuan atau pinjaman luar

negeri. Fungsi anggaran ini dilaksanakan untuk membahas dan memberikan

persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan peraturan daerah

tentang APBD yang diajuakan pemerintah.

c. Fungsi pengawasan

Dalam kualifikasinya sebagai wakil rakyat sesungguhnya pengawasan yang

dilakukan oleh badan perwakilan pertama kali berkenaan dengan keputusan yang

telah dikeluarkannya dalam bentuk undang-undang. Eksekutif dan yudikatif yang

bertindak sebagai pelaksana perlu dinilai apakah cukup tepat melaksanakan

keputusan tersebut. Kedua pengawasan itu merupakan konsekuensi dari kekuasaan

rakyat yang dioperasikannya. Sebagai pemegang mandat kekuasaan badan

perwakilan bertanggungjawab atas pemamfaatan mandat tersebut kepada

pemberinya. Seiring semakin berkurangnya fungsi legislasi yang dimiliki badan

(22)

karenanya badan legislatif senantiasa mengawasi kebijakan-kebijakan yang

dilaksanakan eksekutif. Dimana legislatif memiliki tiga hak dalam pengawasan

diantaranya hak interpelasi, hak petisi, dan hak angket.32

1. Hak interpelasi merupakan hak untuk meminta keterangan kepada

pemerintah mengenai kebijakannya didalam suatu bidang. Dalam

melaksanakannya hak interpelasi, eksekutif wajib memberikan penjelasan

dalam sidang pleno yang mana dibahas oleh anggota-anggota dan diakhiri

dengan pemungutan suara mengenai apakah memuasakan atau tidak. Apabila

kebijakannya kurang memuaskan maka hal ini menunjukkan kebiajakan

eksekutif diragukan untuk dilaksanakan.

2. Hak petisi hampir sama dengan hak interpelasi yaitu untuk memintai

keterangan eksekutif mengenai suatu kebijakan akan tetapi dalam hak ini

tidak diikuti dengan perdebatan terbuka karena sifatnya hanya meminta

jawaban sesuai materi jawabannya. Pertanyaan dabat diberikan secara lisan

ataupun tulisan serta dapat dijawab secara lisan maupun tulisan.

3. Hak angket merupakan hak badan legislatif untuk mengadakan suatu

penyelidikan terhadap suatu kebijakan pemerintah yang dianggap gagal.

Dalam hal ini badan legislatif akan membentuk panitia angket dan

melaporkan hasil penyelidikan kepada anggota DPR lainnya.

F.3. Teori Kebijakan Publik

Menurut Rudi Sinaga Kebijakan Publik adalah sebuah keputusan yang

mencerminkan sikap pemerintah terhadap suatu persoalan yang telah, sedang atau

akan dihadapi oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara yang bertugas

menjaga kelangsungan hidup dan ketertiban warga Negara.33

32

Ibid

33

(23)

Menurut Thomas R. Dye (1981), Kebijakan Publik dikatakan sebagai apa

yang tidak dilakukan maupun apa yang dilakukan oleh pemerintah. Dapat

diklasifikasikan sebagai decision making, dimana pemerintah mempunyai

wewenang untuk menggunakan keputusan otoritatif. Termasuk keputusan untuk

membiarkan sesuatu terjadi, demi teratasinya suatu persoalan publik.34

Menurut Anderson kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai

maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu masalah atau

suatu persoalan.35

Sedangkan menurut Mustopadidjaja kebijakan publik Adalah suatu

keputusan yang dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan tertentu, untuk

melakukan kegiatan tertentu, atau untuk mencapai tujuan tertentu, yang dilakukan

oleh instansi yang berwenang dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan

Negara dan pembangunan.

Sistem kebijakan adalah tatanan kelembagaan yang berperan atau merupakan “wahana” dalam penyelenggaraan sebahagian atau keseluruhan “Proses Kebijakan” (formulasi, imlementasi, pengendalian, dan akuntabilitas kinerja kebijakan) yang

mengakomodasikan kegiatan teknis (Technical process) maupun sosiopolitis

(sosiopolitical process) serta lingkungan hubungan atau interaksi antar empat faktor

dinamik, yaitu: lingkungan kebijakan, pembuat dan pelaksana kebijakan, kebijakan

itu sendiri dan kelompok sasaran kebijakan.36 Kebijakan yang telah dibuat tidak

akan memiliki arti apapun ketika dalam penerapan kebijakan menemukan hambatan

yang menjadikan kebijakan tersebut hanyalah sebuah teks tanpa tindakan .

George C. Edwarsd menyampaikan ada empat variabel yang mempengaruhi

proses penerapan kebijakan yakni:

34

Hasel Nogi S. Tangkilisan. 2003. Teori dan Konsep Kebijakan Publik dalam Kebijakan Publik yang Membumi, konsep, Strategi dan Kasus. Yogyakarta: Lukman Offset dan YPAPI.hal.1.

35

Inu kencana Syafiie. Ilmu Politik, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 74.

36

(24)

1. Komunikasi, memegang peranan penting karena pelaksana harus mengetahui

apa yang mereka kerjakan. Dalam artian Perintah untuk menerapakan

kebijakan harus diteruskan kepada aparat, dan perintah harus jelas, tepat dan

konsisten.

2. Sumber daya, sangat diperlukan karna kurangnya sumber daya akan

mengakibatkan ketidak efektifan penerapan kebijakan.

3. Disposisi atau sikap pelaksana diartikan sebagai keinginan atau kesepakatan

dikalangan pelaksana untuk menerapkan kebijakan secara efektif, bukan

hanya harus mengetahui apa yang harus mereka kerjakan dan memiliki

kemampuan untuk menerapkan. Tetapi mereka juga harus mempunyai

keinginan untuk menerapkan kebijakan tersebut.

4. Struktur birokrasi, mempunyai dampak atas penerapan kebijakan dalam arti

bahwa penerapan tidak akan berhasil jika terdapat kekurangan dalam struktur

birokrasi tersebut. Dalam hal ini difokuskan perhatian dua karateristik

birokrasi yang umum yaitu penggunaan sikap dan prosedur yang rutin, serta

fragmentasi dalam pertanggungjawaban di antara berbagai unit organisasi.

Mengutip pernyataan Presiden Carter, Edward menulis: “Terlampau banyak

instansi, mengerjakan terlampau banyak hal, terlampau sering overlapping,

sukar melakukan kordinasi, membelanjakan terlampau banyak uang, dan

berkerja terlampau sedikit untuk mengatasi berbagai masalah.”37

Menurut Wilaim Dunn (1999) kebijakan publik dibagi menjadi beberapa

tahap-tahap yaitu:38

1. Penyusunan Agenda

Para pengambil kebijakan (Eksekutif, Legislatif) menginventarisir

37

Amir Santoso. Analisis Kebijakan Publik: Masalah dan Pendekatan, Jurnal Ilmu Politik 4, Jakarta: AIPI,LIVI dengan PT. Gramedia, hlm.8.

38

(25)

persoalan yang sedang dihadapi. Dari berbagai persoalan yang telah

diinventarisir maka akan dilihat mana persoalan yang dapat ditempatkan

sebagai prioritas untuk diselesaikan. Sehingga tidak semua persoalan yang

ada (telah diinventarisir) dapat dijadikan sebagai sebuah persoalan yang akan

ditindaklanjuti melainkan akan ditunda, dan mendahulukan persoalan yang

dianggap prioritas.

2. Formulasi Kebijakan

Pada tahap ini, persoalan yang telah disepakati sebagai perioritas yang harus

diselesaikan kemudian dibahas bersamaan dengan pencarian pemecahan

masalah. Dalam situasi ini banyak alternaif pemecahan masalah di paparkan

dan bisa dikatakan berbagai alternatif pemecahan masalah saling

berkompetisi agar dapat diterima menjadi pemecahan masalah yang terbaik.

3. Adopsi Kebijakan

Dari berbagai alternatif pemecahan masalah (solusi) yang ditawarkan pada

tahap formulasi kebijakan maka dalam tahap ini pengambilan kebijakan

harus memilih sutu alternatif pemecahan masalah dari yang tersedia. Dan

alternatif inilah satu-satunya sebagai alternatif yang akan diadopsi sebagai

alternatif pemecahan masalah berupa kebijakan.

4. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan akan menjadi efektif kepada warga negara apabila

kebijakan tersebut di sosialisasikan terlebih dahulu kepada waraga negara

sehingga warganegara mengetahui secara pasti bahwa kebijakan tersebut

sungguh benar atau sah keberadaanya. Catatan yang penting untuk

diperhatikan disini adalah bagaimana membuat sosialisasi tersebut secara

efektif dan efisien sehingga tidak memboroskan anggaran keuangan daerah.

Bisa disarankan penggunaan media masa seperti koran local secara periodik.

(26)

seperti halnya pada kegiatan sosialisasi-sosialisasi yang bisa dilakukan oleh

pemerintahan daerah atau lembaga Negara lainya.

5. Evaluasi kebijakan

Setelah kebijakan diimplementasikan, pada tahap ini terus diikuti dengan

tahap monitoring agar perkembangan kebijakan dapat diketahui, dalam arti

kebijakan tersebut bisa diterima oleh mayoritas warga Negara atau tidak

diterima oleh mayoritas warga negara. Monitoring memiliki peran yang

penting agar memudahkan untuk mengumpulkan informasi terkait

perkembangan kebijakan setelah diimlementasikan dan hasil monitoring

sebagai bahan bagi tahap evaluasi kebijakan. Evaluasi kebijakan memerlukan

sederetan informasi yang berkenaan dengan perkembangan kebijakan setelah

diimplementasikan, disinilah peran monitoring kebijakan akan sangat

bermamfaat bagi tahap evaluasi kebijakan. Jika kebijakan mendapatkan

resistensi dari mayoritas warga Negara maka kebijakan tersebut akan di

analisis sehingga diketahui solusinya seperti memformulasikan kebijakan

merivisi atau membatalkan kebijakan yang telah diimplementasikan.

Selanjutnya Dunn mengemukakan studi kebijakan publik mempelajari

keputusan-keputusan pemerintah dalam mengatasi suatu masalah yang terjadi

perhatian publik. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah menurut

Dunn sebagian disebabkan oleh kegagalan birokrasi dalam memberikan pelayanan

dan menyelesaikan persoalan publik. Kegagalan tersebut adalah Information failures,

complex side effects, motivation failures, renstseeking, second best theory,

implementation failures. Berdasarkan stratifikasinya, kebijakan public dapat dilihat

dari tiga tingkatan, yaitu kebijakan umum (strategi), kebijakan menajerial, dan

(27)

kebijakan publik dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang meliputi:39

1. Pembuatan Kebijakan

2. Pelaksanaan dan pengendalian

3. Evaluasi kebijakan

Carl fredrich memandang kebijakan publik adalah suatu arah tindakan yang

disusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan

tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap

kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dalam rangka mencapai suatu tujuan

tertentu.40

G. Definisi Konsep

G.1. Pengawasan

Pengawasan merupakan hal penting dalam upaya untuk menjamin

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan tujuan dapat tercapai.

Langkah awal dari pengawasan adalah dimulai dari perencanaan, penetapan tujuan,

penetapan standart dan penetapan sasaran dari pelaksanaan suatu kegitan.

Pengawasan membantu penilaian, apakah perencanaan, pengorganisasian,

penyusunan personalia, dan pengarah telah dilaksanakan secara efektif.41

Menurut George R. Tery (2006) mengartikan pengawasan sebagai

mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, artinya mengevaluasi prestasi kerja

dan apabila perlu, dengan menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil

pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Sementara menurut

39

Ibid,.hal 24.

40

Budi Winarno,. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: media Pressindo. hal 16.

41

(28)

Donnelly (1996) yang mengelompokan pengawasan menjadi 3 tipe pengawasan

yaitu:42

1. Pengawasan Pendahuluan (Preliminary Control)

Pengawasan pendahuluan (preliminary control), yakni pengawasan yang

terjadi sebelum kerja dilakukan. Dimana pengawasan pendahuluan bisa

menghilangkan penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan pendahuluan juga

mencakup segala upaya menajerial untuk memperbesar kemungkinan hasil actual

akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.

Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi

pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada

organisasi-organisasi. Sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang

ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan. Diharapkan dengan

management akan menciptakan kebijakan dan prosedur serta aturan yang ditujukan

untuk menghilangkan perilaku Yang menyebabkan hasil kerja yang tidak

diinginkan. Dengan demikian, maka kebijakan merupakan pedoman yang baik untuk

tindakan masa mendatang. Pengawasan pendahuluan meliputi: pengawasan

pendahuluan sumber daya manusia, pengawasan pendahuluan bahan-bahan,

pengawasan pendahuluan modal dan pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya

finansial.

2. Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)

Pengawasan pada saat kerja berlangsung adalah pengawasan yang terjadi

ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang berlangsung untuk

memastikan bahwa sasaran telah dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari

tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka.

Direction berhubungan dengan tindakan-tindakan para manager sewaktu mereka

berupaya untuk mengajarkan kepada para bawahan mereka sebagaimana cara

42

(29)

penerapan metode serta prosedur yang tepat dan mengawasi pekerjaan mereka agar

pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

3. Pengawasan Feed Back( feed back control)

Pengawasan feed back yaitu pengawasan yang mengukur hasil dari suatu

kegiatan yang telah dilaksanakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin

terjadi atau tidak sesuai dengan standar. Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja

organisasional dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan kearah proses pembelian

sumber daya atau operasi actual. Sifat khas dari metode pengawasan feed back

(umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historical, sebagai

landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.

Dalam melakukan pengawasan kinerja dapat diukur kinerja dengan

melakukan penelitian terhadap pelaksanaan pekerjaan atau kinerja seorang pegawai

harus memiliki pedoman dan dasar-dasar penilaian tersebut dapat dibuat dalam

aspek-aspek penilaian. Untuk dapat mengetahui kinerja suatu organisasi, harus

diketahui ukuran keberhasilan untuk dapat dinilai kinerja tersebut. Ada indikator

atau ukuran yang jelas untuk dapat merefleksikan tujuan dan misi dari organisasi

yang bersangkutan. Levine (Dwiyanto) dalam mengukur kinerja organisasi publik

ada tiga konsep yaitu responsivitas, akuntabilitas dan efektivitas.43

Sedangkan menurut Yeremias T. Keban untuk mengukur kinerja DPRD

dapat dilihat dari pendekatan kebijakan, yaitu seberapa jauh pendekatan kebijakan

telah secara efektif memecahkan masalah publik. Artinya apakah kebijakan yang

dihasilakan DPRD dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan memecahkan

masalah publik dengan tepat. Pendapat itu menggambarkan ukuran kinerja DPRD

dalam menyelenggarakan pemerintahan lebih pada “policy making”.44

43

Agus Dwiyanto. Penilaian Kinerja Organisasi Publik, Makalah Dalam Seminar Sehari: Kinerja Organisasi Sektor Publik, Kebijakan dan Penerapanya, hal: 15

44

(30)

Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas, baik mengenai konsep-konsep

atau pengertian tentang kinerja, pengukuran kinerja dan bagaimana mengukur

kinerja yang disesuaikan dengan tujuan dan misi organisasi yaitu: Akuntabilitas,

Responsitas dan efektifitas sebagai indikator-indikator dalam penelitian ini yaitu:

1. Akuntabilitas

Menurut Affan Gafar bahwa akuntabilitas adalah setiap pemegang jabatan

yang dipilih oleh rakyat harus dapat mempertanggung jawabkan kata-katanya dan

yang tidak kalah pentingnya adalah prilaku dalam kehidupan yang pernah sedang

dan bahkan yang akan dijalaninya.45

Sedangkan menurut Agus Dwiyantoro bahwa konsep akuntabilitas publik

dapat digunakan untuk melihat seberapa besar kebijaksanaan dan kegiatan

organisasi publik sendiri dapat konsisten dengan kehendak masyarakat yang ada.

Kinerja organisasi publik tidak hanya dilihat dari ukuran internal yang

dikembangkan oleh organisasi publik atau pemerintah, seperti pencapaian target.

Kinerja sebaliknya harus dinilai dari ukuran eksternal seperti nilai-nilai dan

norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Suatu kegiatan organisasi memiliki

akuntabilitasnya yang tinggi kalau kebijakan yang dibuat oleh organisasi itu benar

dan sesuai dengan nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat.46

2. Responsivitas

Suatu organisasi yang mempunyai peran pelayanan publik dituntut harus

peka terhadap apa yang menjadi kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Responsivitas

menurut S.P. Siagian adalah kemampuan aparatur dalam mengantisipasi dan

menghadapi aturan baru, perkembangan baru, tuntutan baru dan pengetahuan baru,

birokrasi harus segera merespon secara cepat agar tidak tertinggal dalam

45

Affan Gaffar. 2000. Politik Indonesia: Transisi menuju Demokrasi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. hal: 7

46

(31)

menjalankan tugas dan fungsinya.47

3. Efektivitas

Menurut Kumorotomo efektifitas adalah menyangkut apakah tujuan dari

didirikanya organisasi pelayanan publik tersebut tercapai. Hal ini ada kaitanya

dengan teknis, nilai, misi dan tujuan organisasi serta fungsi yang diharapkan.48

H. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan suatu cara yang digunakan untuk

memecahkan suatu permasalahan yang ada pada masa sekarang dan akan datang

berdasarkan fakta dan data-data yang ada. Dengan menggunanakan penelitian

deskriptif ini nantinya dapat membantu penulis dalam menjawab sebuah atau

beberapa pertanyaan mengenai keadaan objek atau subjek tertentu secara rinci.49

Penelitian ini juga adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji

kebenaran suatu pengetahuan, usaha yang dilakukan dengan melakukan

metode-metode ilmiah.50

H.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif.

Metode deskriptif kualitatif dianggap paling sesuai dengan penelitian ini. Penelitian

deskriptif kualitatif meliputi dari pengumpulan data untuk diuji hipotesis atau

menjawab pertanyaan mengenai status terakhir dari subjek penelitian. Penelitian

deskriptif kualitatif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial. Dengan kata lain

47

P. Sondang Siagian. 2000. Organisasi, Kepemimpinan dan Prilaku Administrasi. Jakarta. PT Gunung Agung. hal: 165

48

Wahyudi Kumoroto, Dkk. 2009. Sistem informasi management dalam organisasi public.Yogyakarta. Gadjah Mada Univescity Perss. hal: 2

49

Hadari Nawawi. 1987. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajahmada University Press. hal. 63.

50

(32)

penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah

berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang

lengkap sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih

banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah. Metode penyelidikan deskriptif

tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang.51

Selain itu, penelitian deskriptif ini meliputi pengumpulan data melalui

pertanyaan. Tipe yang paling umum dari penelitian ini adalah penilaian sikap atau

pendapat individu, organisasi, keaadaan ataupun prosedur yang dikumpulkan

melalui daftar pertanyaan dalam wawancara.52

H.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini bertempat dilingkungan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah (DPRD) kota Medan, Kantor walikota Medan Jl. Kapten Maulana Lubis

No.1 Petisah Tengah, Medan Petisah, kota Medan, Sumatera Utara, Kantor Dinas

Kesehatan Kota Medan Jl. Rotan, Komp. Petisah, Medan, Sumut dan Kantor Dinas

Pendidikan kota Medan Kp. Durian Jl. Pelita IV No. 77, Sidorame Bar. II, kota

Medan, Sumatera Utara.

H.3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan sumber data yang terdiri dari data primer dan

skunder.

1. Data Primer

Data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari lapangan melalui:

wawancara mendalam (Depth-Interview) yaitu teknik pengumpulan data dengan

mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan

51

Hadari Nawawi. 1987. Metodologi penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajahmada University Press. hal.63

52

(33)

kunci atau pihak yang berhubungan dan memiliki relevansi terhadap masalah yang

berhubungan dengan topik penelitian.

Informan bagi menjadi tiga macam yaitu (1) informan kunci, yaitu mereka

yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian,

(2) Informasi biasa, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi

sosial yang diteliti, (3) Informan tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan

informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang sedang

diteliti.53

Dalam penelitian ini, Peneliti menentukan langsung responden yang akan di

wawancarai, guna fokus memberikan keterangan dan informasi yang jelas dan

sesuai terkait Pengawasan DPRD terhadap kinerja pemerintah kota Medan dalam

implementasi Perda Nomor 3 tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok dikota

Medan, yakni ada dua jenis informan yang telah difokuskan peneliti yaitu;

Pertama, informan Kunci yang terdiri dari : Wakil DPRD Kota Medan Bapak

Burhanudin Sitepu, SH, Kasubag Hukum DPRD Kota Medan Bapak Hasan, Ketua

Komisi B DPRD Kota Medan Bapak Drs. S. Maruli Tua Tarigan, Anggota Bamus

DPRD Kota Medan Bapak Rajudin Sagala, S.Pd.I, Kasubag Hukum Pemerintah

Kota Medan Bapak Sulaiman Harahap, SH. MSP, Kepala Seksi P2P Kesehatan Kota

Medan Ibu dr. Pocut Fatimah Fitri, MARS dan Kepala Bidang Dasar Dinas

Pendidikan kota Medan Bapak Masrul Badri .

Kedua, Informan biasa terdiri dari; Satu orang responden dari pegawai kantor

DPRD kota Medan Bapak Jimi Sinaga S.IP dan dua orang responden dari Pegawai

dinas pendidikan kota medan Ibu Dra. Risma Zaria dan Bapak David Manurung.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh baik yang belum diolah maupun yang

53

(34)

telah diolah, baik dalam bentuk angka maupun uraian, Dalam penelitian ini data-data

skunder yang diperlukan antara literature yang relevan dengan judul penelitian seperti

buku-buku yang termaktub dalam daftar pustaka, Perda No. 3 tahun 2014 tentang

KTR, Naskah Akadaemik terkait, situs internet dalam bentuk web, serta transkrip

wawancara.

H.4. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisa data deskriptif

kualitatif yang berusaha menjelaskan yang berhubungan dengan objek penelitian.

Data hasil wawancara akan diuraikan melalui petikan wawancara dengan tokoh yang

dijadikan narasumber.54

54

(35)

I. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini terbagi kedalam beberapa bab

untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci mengenai permasalahan yang diteliti,

yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,

batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian,

dan sistematika penulisan.

BAB II PROFIL KOTA MEDAN DAN DPRD KOTA MEDAN

Pada bab ini penulis akan menjelaskan secara umum tentang profil Kota

Medan dan DPRD kota Medan, serta gambaran umum tentang Perda

KTR.

BAB III PENGAWASAN DPRD TERHADAP KINERJA PEMERINTAH

KOTA MEDAN DALAM IMPLEMENTASI PERDA NOMOR 3

TAHUN 2014 TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK.

Pada bab ini akan dilakukan pendeskripsian dan penjelasan tentang

bentuk pengawasan DPRD terhadap kinerja Pemerintah Kota Medan

dalam Implementasi Perda Nomor 3 tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa

Rokok serta analisis teoritis.

BAB IV PENUTUP

Dalam bab ini akan dipaparkan kesimpulan dan saran yang diperoleh dari

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Peran Fungsi Pengawasan DPRD Terhadap Implementasi Perda Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah penelitian ini terbatas pada pengkajian peran DPRD kota medan sebagai lembaga legislatif dalam mewujudkan pendidikan yang baik

Tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan bagaimana mekanisme DPRD Kota Medan dalam mengawasi kinerja pemerintah Kota Medan dalam bidang pendidikan tahun 2012.. Serta

Bab ini nantinya akan membahas secara garis besar hasil penelitian sekaligus menganalisis data yang diperoleh untuk mendapatkan hasil dari rumusan permasalahan serta analisis

Dinamika Fungsi Pengawasan DPRD Terhadap Penganggaran Publik (Studi Kasus Pengawasan DPRD Terhadap Laporan Pertanggung jawaban Kepala Daerah Atas Pelaksanaan

Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD Provinsi Sumatera Selatan dari hasil implementasi kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, terdapat beberapa kasus diantaranya

{ melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang- undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan

Penilaian Kinerja Organisasi Publik, Makalah Dalam Seminar Sehari: Kinerja Organisasi Sektor Publik, Kebijakan dan Penerapanya.. Organisasi, prilaku, Struktur,